Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Wisata Keanekaragaman Hayati Bumi Perkemahan Ipukan

Kuningan, 3 Juni 2018. Bumi Perkemahan (buper) Ipukan merupakan salah satu obyek wisata di destinasi utama Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Dengan pesona alam pegunungan dan lembah yang hijau, udara yang segar dan gemericik Curug Cisurian menjadi pemikat hati para pengunjung. Pada umumnya pengunjung mengenal Ipukan hanya sebagai tempat untuk camping, menikmati air terjun dan berfoto. Namun ada potensi menarik lainnya, yaitu “keanekaragaman hayati”. Tanggal 1 Juni 2018 menjadi momen baik, karena mendapat kesempatan melihat sekelompok primata, surili. Mereka adalah penghuni di buper Ipukan yang tak malu untuk menunjukkan dirinya. Surili adalah primata khas Jawa Barat. Potensi keanekaragaman hayati ini dapat menjadi pembelajaran dan sarana edukasi bagi pengunjung untuk mengetahui kehidupan alam liar yang ada di Ipukan. Wisata ini bersifat terbatas atau minat khusus karena hanya dapat dilakukan dalam jumlah pengunjung yang tidak banyak. Ipukan sebagai rumah atau habitat dari beberapa satwa yang statusnya dilindungi undang-undang. Satwa tersebut merupakan satwa kunci (key species) yang menjadi indikator kualitas ekosistem. Diantaranya adalah macan tutul Jawa (Panthera pardus melas), elang Jawa (Nisaetus bartelsi) dan Surili (Presbytis comata). Untuk melihat satwa tersebut, para pengunjung tidak perlu jauh-jauh masuk ke dalam hutan. Di buper Ipukan, pengunjung dapat juga melihat lutung Jawa dan katak merah (Leptophryne cruentata). Status katak merah terancam punah (critically endangered) dari lembaga dunia IUCN. Dengan adanya potensi wisata kehati dapat memberikan nilai penting akan kelestarian alam di buper Ipukan. Jangan sampai wisata komersial meningkat tetapi potensi kehati yang ada malah menjadi rusak. [teks dan foto ©?Azis - BTNGC | 062018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Suasana Kebersamaan Forum Ciremai

Kuningan, 3 Juni 2018. Menjelang sore, waktu berbuka puasa sudah mulai dekat, obrolan ringan diselingi humor menambah keakraban. Kali ini bukan pegawai TN Gunung Ciremai (TNGC), namun para mitra yang sedang bersilaturahmi. Mereka adalah masyarakat pengelola wisata dan pemanfaat jasa lingkungan air yang tergabung dalam Forum Ciremai. Sore itu, 31 Mei 2018 di bumi perkemahan Ipukan mereka berkumpul untuk membahas keterlibatan dalam perayaan HKAN yang akan dilaksanakan pada Bulan Agustus 2018 nanti. Bagi TNGC, keterlibatan Forum Ciremai sebagai keterwakilan dari mitra dalam setiap kegiatan eksternal maupun internal merupakan bagian yang tidak terpisahkan. "Masyarakat adalah subyek, bukan obyek" begitulah kira-kira makna kedaulatan rakyat yang didengungkan TNGC. Bukan berarti tidak tanpa kontrol, namun dengan memberikan kepercayaan bahwa alam yang ada di sekitar dapat bermanfaat tanpa merusaknya itu yang penting. Secara perlahan, Forum Ciremai menjadi perpanjangan tangan TNGC yang ikut serta memberikan informasi mengenai pentingnya menjaga hutan, fungsi dan manfaat taman nasional dan mengapa taman nasional harus dilestarikan. Tak jarang pula, jajaran pejabat pemerintah daerah yang mengerti apa itu konservasi sehingga terkadang memutuskan kebijakan yang tidak tepat. Dengan latar belakang profesi yang ada di Forum Ciremai seperti perusahaan swasta dan lembaga pendidikan dapat memberikan pemahaman, setidaknya bagi lingkungan yang ada di sekitarnya. Dengan semangat hari lahir Pancasila, dengan kebhinekaan mari bersama-sama kita menjaga kelestarian ekosistem Taman Nasional Gunung Ciremai, untuk generasi kini dan yang akan datang. [teks©?Nisa, foto ©? Forum Ciremai - BTNGC | 062018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Penyerahan Barang Bukti Sitaan Ditpolair Polda Malut

Ternate, 02 Juni 2018. bertempat di Kantor SKW I Ternate telah dilakukan penyerahan barang bukti sitaan satwa liar sebanyak 78 ekor dalam keadaan hidup, dari Direktorat POLAIR POLDA Maluku Utara yang diwakili oleh Direktur POLAIR POLDA Maluku Utara, KOMBES. Pol. Arief Budi Winofa, dan diterima langsung oleh Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Maluku, Abas Hurasan, S.Hut. Barang bukti yang diserahkan berupa Kera Hitam Sulawesi/Yaki (Macaca nigra) sebanyak 28 ekor dalam keadaan hidup yang diletakkan dalam 4 buah peti kayu, Kakatua Putih (Cacatua alba) sebanyak 18 ekor dalam keadaan hidup yang diletakkan dalam 3 kandang kawat, Nuri Bayan (Eclectus roratus) sebanyak 12 ekor dalam keadaan hidup dan 1 ekor dalam keadaan mati yang dimasukkan dalam 3 buah kandang kawat serta Kura-kura Air Tawar (Freshwater terrapins) sebanyak 20 ekor dalam keadaan hidup, 1 ekor dalam keadaan mati yang dimasukkan dalam bak air plastik ukuran 50cm x 1m. Adapun kronologis satwa yang dijelaskan KOMBES. Pol. Arief Budi Winofa pada saat pressconference pada Sabtu siang, penyelundupan satwa liar ini terjadi pada hari Kamis, 30 Mei 2018 pada pukul 22.30 WIT, di perairan Bori, Kab. Halmahera Selatan. Informasi diperoleh dari masyarakat yang mengatakan bahwa telah terjadi kegiatan pengangkutan satwa liar di lokasi tersebut, kemudian anggota DITPOLAIR langsung melakukan patroli malam itu juga. Dalam patroli ditemukan 1 Tugboat yang sedang mengangkut satwa-satwa tersebut beserta 4 orang pelaku dengan inisial AK, YK, NY dan S. Dari keterangan awal yang diambil, para pelaku mengaku bahwa mereka berasal dari Pulau Tahuna, Sangir dan satwa-satwa tersebut diambil dari beberapa daerah di Halmahera Selatan, untuk diselundupkan ke Filipina. Satwa jenis burung diambil dari Desa Papaceda, Kecamatan Gane Barat, sedangkan Kura-Kura dan Kera Yaki diambil dari Desa Yaba Kecamatan Bacan Utara. Selebihnya kasus ini masih dalam pengembangan dan penyidikan lebih lanjut oleh penyidik Direktorat Polair Polda Maluku Utara. Sejak diserahkan barang bukti telah berada di Kandang Transit SKW I Ternate untuk dilakukan penanganan lebih lanjut oleh Dokter Hewan SKW I Ternate yang dibantu oleh World Parrot Trust (WPT). Kepala SKW I Ternate, Abas Hurasan, dalam pernyataannya menyampaikan bahwa, “Kami mengapresiasi kinerja sekaligus berterima kasih kepada DITPOLAIR POLDA Malut yang sejak tahun 2016 telah bersedia bekerjasama dengan kami untuk mendukung pelaksanaan tupoksi kami di Maluku Utara. Selama tahun 2018 (Januari-Juni) ini pengungkapan kasus dan proses hukum penyelundupan TSL di Propinsi Maluku Utara, telah dilakukan sebanyak 2 (dua) kali.” Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang harus dipertahankan. Kerja bersama untuk penyelamatan Tumbuhan dan Satwa Liar merupakan hal mutlak yang perlu dilakukan. Salam Konservasi dari Maluku Utara! Sumber : Dominggas Aduari - BKSDA Maluku
Baca Berita

Menariknya Mengamati Elang Jawa di TN Gunung Ciremai

Kuningan, 2 Juni 2018. Sobat Ciremai, untuk tahun ini, kegiatan monitoring elang Jawa dilaksanakan pada tanggal 30 Mei hingga 3 Juni 2018. Meskipun pada bulan puasa Ramadhan, monitoring dilakukan kelompok jabatan fungsional Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) bersama masyarakat yang berada di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) serta Raptor Indonesia (RAIN). Kegiatan ini dilaksanakan di enam lokasi yaitu: Argalingga, Argamukti, Bantaragung, Sangiang, dan Payung. Lokasi-lokasi tersebut berada di wiilayah kerja Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Majalengka, Balai TNGC. Kegiatan ini dilakukan untuk pendataan kembali ukuran populasi dan sebaran elang Jawa di kawasan TNGC. Dari perbandingan data tahun sebelumnya dapat dianalisis dinamika pertumbuhan populasi, struktur kelas umur dan jenis kelamin serta pola penggunaan ruang dan waktu dari elang Jawa. Informasi tersebut sangat bermanfaat sebagai bahan dalam penentuan kebijakan pengelolaan spesies dan habitat, diantaranya untuk strategi perencanaan penelitian dan pengembangan wisata minat khusus, seperti pengamatan satwa liar (birdwatching). Dari pelaksanaan kegiatan ini, diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap ekologi, ekonomi dan sosial masyarakat. Dampak positif terhadap ekologi dapat tercapai dengan terjaminnya pertumbuhan populasi elang jawa dan kelestarian habitat alaminya di TNGC. Sedangkan dampak positif terhadap ekonomi dapat dilihat melalui peningkatan pendapatan masyarakat melalui kegiatan wisata alam berbasis elang Jawa. Dampak positif terhadap sosial diindikasikan dengan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya keberadaan elang Jawa. Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) adalah salah satu satwa kunci dan prioritas di TNGC. Jenis ini termasuk dalam Keputusan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Nomor: SK. 180/IV-KKH/2015 tentang penetapan dua puluh lima satwa terancam punah prioritas untuk ditingkatkan populasinya sebesar 10% pada tahun 2015-2019. Setiap tahun Balai TNGC melakukan kegiatan monitoring populasi dan sebaran elang Jawa yang berada di kawasan TNGC. Kegiatan ini dilaksanakan untuk optimalisasi pengawetan keanekaragaman hayati dan ekosistem dalam pengelolaan populasi dan habitatnya. [teks & foto ©? Asep Uus Tim Monitoring Elang Jawa - BTNGC | 052018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Pengamanan Ular Sanca Kembang di Batu Nyongclo, Gunung Ciremai

Majalengka, 1 Juni 2018. Sobat Ciremai, baru baru ini resor perlindungan Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) wilayah II Majalengka Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) mendapatkan laporan dari masyarakat adanya ular sanca kembang (Python reticulatus), yang berkeliaran di Batu Nyongclo merupakan salah satu obyek data tarik wisata alam (ODTWA) yang berbatasan dengan kampung Badak Dua desa Payung. Hal ini tentu cukup meresahkan warga sekitar kampung, terutama bagi para wisatawan yang berkunjung ke lokasi tersebut. Tim resor perlindungan yang mendapat laporan langsung berkoordinasi dengan Kepala SPTN Wialayah II Majalengka dan bersama masyarakat segera menuju lokasi untuk melakukan evakusi yang dipimpin langsung oleh kepala resor perlindungan, Tata Sutari. Tiba dilokasi ular sanca telah diamankan oleh masyarakat. Ular sanca tersebut mempunyai panjang 3 meter dan berat 12 kg. Setelah diperiksa dan dibuat berita serah terima dari masyarakat ke petugas, ular dievakusi untuk selanjutnya dilepasliarkan kembali ke wilayah yang lebih aman di blok Goang Warsiti yang juga merupakan habitat ular sanca. Taman Nasional Gunung Ciremai mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang telah berpartisipasi dalam pengamanan kawasan baik flora maupun fauna, dan ini merupakan indikator bahwa kesadaran masyarakat terhadap kawasan TN Gunung Ciremai cukup tinggi. Mari kenali dan cintai negerimu dengan cara yang baik dan benar. [Teks & foto ©Tata Sutari - BTNGC | 052018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Peringatan Hari Lahir Pancasila dari Batas Ujung Negeri

Putussibau, 1 Juni 2018. Hari ini 73 tahun lalu para pendiri bangsa melahirkan landasan ideologi bagi bangsa Indonesia bernama Pancasila. Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNaBentarum) menggelar Upacara memperingati hari lahirPancasila. Peringatan Hari lahir Pancasila pada tahun 2018 inimengangkat tema “Kita Pancasila: Bersatu, Berbagi, Berprestasi”. Peringatan hari lahir Pancasila juga dimaksudkanuntuk menampilkan prestasi-prestasi yang muncul karenadidukung oleh semangat kebersamaan dan saling menunjang. Dengan demikian masyarakat dapat melihat bahwa Pancasila juga telah menjadi inspirasi untuk berprestasi terutama bagi atletIndonesia yang akan bertanding dalam ASIAN Games. Dalam sambutannya, Kepala Balai Besar yang menjadi inspektur upacara mengutip pidato Presiden RI mengatakan bahwa kemajemukan sebuah bangsa adalah keniscayaan. Namun hal itu dapat menjadi modal dasar pembangunan dengan adanya pancasila sebagai pemersatu. “Negara manapun di dunia iniakan selalu berproses menjadi masyarakat yang bhineka dan majemuk. Sering kali kemajemukan ini juga dibayang-bayangi oleh resiko intoleransi, ketidak-bersatuan dan ketidak-gotongroyongan”, tegasnya. Kepala Balai Besar menambahkanbahwa saat ini merupakan waktu yang tepat untuk berbagi pengalaman dalam berbhinneka tunggal ika, dalam bertoleransi serta dalam membangun persatuan dan kebersamaan. Saatnya kita berbagi pengalaman dalam mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilansosial. “Merayakan hari Pancasila berarti kita menguatkanfondasi berbangsa, dan merasakan indahnya bersatu, berbagi danberprestasi untuk mencapai cita-cita bangsa”, tuturnya di depan peserta upacara. Upacara digelar di halaman depan kantor Balai Besar TaNaBentarum dimulai pukul 08.00 WIB. Pada peringatan yang bertepatan bulan ramadhan ini, bangsa ini diharapkan dapat menghayati dengan mendalam makna kesatuan dan persatuan, dimana warganya dengan latar belakang yang majemuk dapat bertemu, saling memahami dan bersepakat. Merayakan hari Pancasila berarti kita menguatkan fondasi berbangsa, dan merasakan indahnya bersatu, berbagi dan berprestasi untukmencapai cita-cita bangsa. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Patroli Fungsional antar Resort di TN Bromo Tengger Semeru

Malang, 1 Juni 2018. Kegiatan perlindungan dan pengamanan kawasan merupakan salah satu hal yang penting dalam pengelolaan Taman Nasional. Kegiatan perlindungan dan pengamanan kawasan tersebut dapat dilakukan dalam berbagai strategi baik yang bersifat preemtif, preventif dan represif yustisif. Salah satu bentuk kegiatan preventif pengamanan kawasan adalah patroli yang dilakukan secara rutin dan terencana. Bentuk kongkrit kegiatan patroli pengamanan kawasan yang rutin dan terencana di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru adalah Kegiatan Patroli Fungsional di Seksi PTN Wilayah IV Pronojiwo Bidang PTN II Lumajang yang dilakukan selama 4 hari dari tanggal 28 s/d 31 Mei 2018. Kepala Seksi PTN IV Pronojiwo Joko Priyono menyatakan bahwa patroli yang kami laksanakan merupakan patroli fungsional gabungan semua personil resort yang ada di wilayah Seksi PTN IV Pronojiwo. Tujuan kegiatan ini selain semakin meningkatkan jiwa corsa dan kebersamaan dalam menjaga kawasan juga untuk mengantisipasi setiap ancaman dan gangguan kawasan yang ada di wilayah Seksi PTN IV Pronojiwo. Lebih lanjut Joko menyampaikan selama 4 hari kegiatan patroli di laksanakan ada beberapa hal yang ditemukan, di wilayah Resort PTN Pasrujambe, tepatnya di Blok Gresik, tim menangkap seorang pelaku pencurian bambu yg berdasarkan keterangan bambu akan dipergunakan sebagai bahan tusuk sate dan dijual. Terhadap pelaku tim menerapkan upaya pembinaan yang dilengkapi dengan pernyataan pelaku tidak melakukan hal serupa didalam kawasan Taman Nasional. Sementara 2 alat belah bambu, 1 parang dan 2 gergaji tangan diamankan tim sebagai alat bukti tindak pelanggaran pelaku. Di wilayah Resort PTN Candipuro tepatnya di Blok Cengkehan, tim kembali memergoki seorang warga sekitar desa di RPTN Candipuro pelaku pencurian bambu yg rencananya akan dipergunakan sebagai bahan pembuatan sesek/pagar. Atas dasar pertimbangan masih dapat merubah perilakunya oleh tim pelaku hanya dilakukan upaya pembinaan agar tidak mengulangi lagi perbuatanya menganggu kawasan Taman Nasional. Hari berikutnya tim melanjutkan patroli ke wilayah perbatasan antara Resort PTN Candipuro dan Resort PTN Ranu Darungan tepatnya di Blok Curah kobo'an, dengan target perburuan satwa burung. Namun sampai dengan penulusuran Blok Watu Kobong tim tidak menemukan adanya pelanggaran yang menjadi target sebelumnya. Di hari terakahir kegiatan tim melanjutkan patroli ke Blok Penanggungan untuk antisipasi adanya perburuan liar. Namun sampai dengan sore hari setelah tim melakukan penjelajahan dari blok ke blok yang lainnya, tidak menemukan adanya pelanggaran. Hanya diluar kawasan yang berbatasan langsung dengan kawasan TN di temui beberapa orang yang sedang melakukan aktivitas. Dalam kesempatan tersebut tim menghimbau kepada orang tersebut agar ikut membantu menjaga dan melestarikan kawasan TN dalam bentuk tidak melakukan pencurian kayu dan hasil hutan lainnya, perburuan dan perambahan serta membantu menginformasikan kepada petugas terdekat apabila menemukan hal yang mencurigakan terjadi di mawasan TN Bromo Tengger Semeru. Hasil dari 4 hari kegiatan tersebut menurut Joko akan di jadikan sebagai bahan evaluasi sekaligus penyusunan strategi pengaman hutan berikutnya mengingat karakteristik tindak gangguan kawasan yang berbeda di setiap Blok atau Resort perlu strategi penanganan yang berbeda pula. Intinya kami akan terus melakukan upaya perlindungan dan pengamanan kawasan dengan mengedapankan pendekatan humanis namun tegas sehingga tidak menimbulkan gejolak di masyarakat, demikian penjelasan Joko. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru
Baca Berita

Melihat Bibit Kelukup Hidup di Zona Tradisional TN Bukit Tigapuluh

Rengat, 31 Mei 2018. Pasca diserahkannya bantuan bibit rotan Kelukup sebanyak 3.000 batang pada 18 Desember 2017 dan supervisi yang dilakukan Kepala Balai Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) Darmanto, SP.,M.AP pada Februari 2018, Balai TNBT lakukan monitoring dan evaluasi bantuan bibit tersebut. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memastikan apakah bibit sudah tertanam seluruhnya dan bagaimana kondisi bibit yang telah ditanam di lapangan.Pemerintah desa setempat mendukung program kegiatan ini dan bersedia untuk turut memantau kegiatan Kelompok Tani Hutan (KTH) Tualang Sejahtera. Hasil monitoring lapangan menyatakan bahwa persentase hidup tanaman kelukup yaitu 95% dan persentase kematian tanaman yaitu sebesar 5 %. Faktor penyebab kematian antara lain disebabkan oleh gangguan dari satwa liar seperti babi hutan dan atau satwa liar lainnya dan terkena paparan sinar matahari penuh sehingga bibit menjadi layu dan kering. Pertumbuhan tanaman kelukup selama 3 bulan ini sangat baik dengan tinggi mencapai 20 cm - 80 cm. Seluruh bibit rotan Kelukup telah ditanam seluruhnya oleh kelompok Tualang Sejahtera di lokasi zona tradisional yang telah ditetapkan sebelumnya. Pendampingan kelompok harus selalu dilakukan secara intensif, khususnya untuk mendorong agar kelompok secara rutin memantau perkembangan bibit rotan Kelukup tersebut dan penyulaman harus dilakukan pada bibit yang mati. Kunci keberhasilan kegiatan ini adalah pendampingan yang intensif dan dukungan yang kuat dari berbagai pihak. Pengelolaan zona tradisional suku talang mamak merupakan tema yang diusung dalam Role Model TNBT Tahun 2018. Komoditas Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) rotan Kelukup menjadi obyek yang dikembangkan dan masyarakat suku talang mamak yang hidup di dalam kawasan TNBT menjadi subyek pengelolaan zona tradisional tersebut. Sebuah tantangan tersendiri bagi petugas penyuluh mengingat suku talang mamak ini relatif memiliki tingkat pengetahuan yang cukup rendah, akan tetapi dalam pelaksanaan program Role Model ini mereka cukup baik dalam bekerja sama dan berkomunikasi. Adalah Kelompok Tani Hutan (KTH) "Tualang Sejahtera" yang beranggotakan masyarakat suku talang mamak dan berasal dari Dusun Tualang. Secara administratif, dusun ini berada di Desa Siambul, Kecamatan Batang Gansal, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Dusun ini berada di wilayah kerja Seksi Pengelolaan Wilayah II Belilas Riau. KTH ini telah dibina sejak tahun 2017 oleh petugas penyuluh selaku pendamping kelompok. Sumber : Balai Taman Nasional Bukit Tigapuluh
Baca Berita

Obyek Wisata Alam di Kawasan TN Gunung Merapi Kembali Ditutup

Sleman, 1 Juni 2018. Terkait letusan 1 Juni 2018 pukul 08.20 WIB bahwa Obyek Wisata Alam di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) yakni Jurang Jero, Tlogo Muncar, Tlogo Nirmolo, Kalikuning Park, Pluyon, Deles dan termasuk Jalur Pendakian Selo dan Sapuangin kembali ditutup setelah sebelumnya sempat dibuka per tanggal 31 Mei 2018. Menanggapi berita adanya titik api pasca letusan teramati terdapat 2 titik api (di wilayah Barat Laut) tepatnya di dusun Stabelan desa Tlogolele Kecamatan Selo dan 3 titik api di wilayah (selatan tenggara) tepatnya di kecamatan Cangkringan. Berdasarkan hasil pengamatan lapangan dan koordinasi dengan relawan (TRC, BPBD Klaten, Masyarakat Tlogolele dan Cangkringan) diperoleh informasi bahwa titik api (indikasi ada vegetasi yang terbakar) hal ini terjadi akibat material jatuhan (balistik) dan saat ini sampai dengan pukul 13.00 WIB pengamatan visual tidak lagi mengeluarkan asap dan dapat dipastikan sudah padam. Perkiraan terbakarnya vegetasi akibat lontaran api tersebut, saat ini belum dapat diinformasikan secara detail mengingat lokasi berada di radius kurang dari 3 km yang direkomendasikan untuk steril dari aktivitas manusia. Terkait pergerakan satwa, sampai saat ini tidak ada pantauan yang mengindikasikan satwa turun, sehingga dapat dinyatakan masih normal. Balai TNGM tetap melakukan koordinasi dengan BPPTKG, BPBD DIY dan SAR DIY untuk menyikapi semua kondisi pasca letusan (1/6) dan upaya yang dilakukan berupa monitor dan pengumpulan informasi dari lapangan. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Merapi Foto : Sukirman Lokasi : Deles, Kemalang, kabupaten Klaten. call center +6281327691368
Baca Berita

BBKSDA Jatim Rayakan Hari Lahir Pancasila ke 73

Sidoarjo, 1 Juni 2018. Upacara Merayakan hari Lahir Pancasila bertujuan menguatkan kembali komitmen kita bersama untuk mengutamakan Pancasila sebagai panduan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Upacara dipimpin Inspektur Upacara Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur Dr. Nandang Prihadi, S.Hut, M.Sc yang diikuti Seluruh UPT Kehutanan Jawa Timur Pancasila merupakan Hasil dari satu kesatuan proses yang dimulai dengan rumusan Pancasila tanggal 1 juni 1945 yang dipidatokan Ir. Soekarno, Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945, dan rumusan final Pancasila tanggal 18 Agustus 1945. Adalah Jiwa besar Pancasila Founding Fathers, para ulama dan pejuang kemerdekaan dari seluruh pelosok Nusantara sehingga kita bisa membangun kesepakatan bangsa yang mempersatukan kita. Komitmen pemerintah untuk penguatan Pancasila sudah jelas dan sangat kuat tidak ada pilihan lain kecuali kita harus bahu membahu cita-cita bangsa sesuai dengan Pancasila dan tidak ada pilihan lain kecuali seluruh anak bangsa harus menyatukan hati, pikiran dan tenaga untuk persatuan dan persaudaraan, serta perdamaian. Dalam Peringatan Upacara Hari lahir Pancasila ke 73 tahun sambutan Presiden Republik Indonesia menyerukan supaya kiata saling bersikap santun, saling menghormati, saling toleran, dan saling membantu untuk kepentingan bangsa, saling bahu membahu, bergotong royong demi kemajuan Indonesia. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Momentum Pelepasliaran Beberapa Satwa Liar di Hari Keanekaragaman Hayati BBKSDA Papua

Jayapura, 31 Mei 2018. Pasir 6, kawasan penyangga Cagar Alam Pegunungan Cycloop bagian timur laut, sederetan acara digelar (26/5). Pihak-pihak yang berkepentingan diundang hadir. Inilah rangkaian pertama dari deretan kegiatan yang dicanangkan guna memperingati Hari Keanekaragaman Hayati dan menuju Festival Cycloop 2018. Ada empat hal yang terlaksana pada hari itu. Pertama adalah pelepasliaran satwa. Balai Besar KSDA Papua (BBKSDA Papua) melepaskan tiga ekor nuri bayan (Eclectus roratus), dua ekor kakatua jambul kuning (Cacatua galerita), dua ekor kakatua raja (Probociger atterimus), satu ekor elang bondol (Haliastur indus), satu ekor nuri kepala hitam (Lorius lorry), dan tiga ekor ular sanca permata (Morelia amethistina). Selain itu, Komunitas Pencinta Reptile Mania, Jayapura, mendukung pelepasliaran satwa ini dengan cara turut serta melepaskan koleksi ular mereka, yaitu satu ekor sanca olive (Apodora papuana) dan satu ekor sanca permata (Morelia Amethistina). Semua satwa yang dilepasliarkan hari itu telah dinyatakan sehat oleh drh. Cintya Sihombing, dan dipastikan siap kembali ke habitatnya di hutan. Menurut drh. Cintya, sebenarnya masih ada beberapa satwa di kandang transit milik BBKSDA Papua. Tetapi pelepasliaran memiliki aturan-aturan tertentu, misalnya satwa harus dilepasliarkan di habitat aslinya, tidak boleh dilepaskan di habitat yang bukan merupakan tempat asal satwa tersebut. Kepala BBKSDA membenarkan hal itu. “Tidak bisa sembarangan melepas satwa. Termasuk, satwa itu jangan dibiarkan kesepian. Kalau melepaskan satwa sendirian, bukan sepasang, harus diperkirakan bahwa habitat tempatnya dilepas itu ada pasangan yang nantinya bisa dia temukan,” ungkapnya. Dengan berbagai pertimbangan ini, beberapa jenis satwa di kandang transit BBKSDA belum dapat dipelasliarkan di Pasir 6, karena habitat aslinya di Biak. Menurut keluarga tokoh adat Suku Imbi Numbay, Daniel Toto, di hutan Pasir 6 masih dijumpai berbagai jenis burung. Bila bermalam di pantai, sejak subuh kawanan burung sudah bermain di beberapa titik pohon dengan kicaunya yang riang. Mempertimbangkan berbagai keadaan ini, hutan Pasir 6 dengan luasan kira-kira 250 ha tampaknya merupakan habitat yang representatif bagi pelepasliaran satwa jenis burung, juga ular, sebagaimana yang dilakukan BBKSDA Papua. Sumber : Dzikry el Han - Balai Besar KSDA Papua
Baca Berita

SIMPUL KK, Bantu Pantau Pemulihan Ekosistem di Kawasan Konservasi

Medan 31 Mei 2018. Untuk pertama kalinya sistem informasi pemulihan ekosistem kawasan konservasi (SIMPUL KK) disosialisasikan Direktorat Kawasan Konservasi (KK) di Medan, Sumatera Utara (31/5). Sosialisasi direncanakan di 4 Regional, salah satunya adalah Regional Sumatera dengan peserta lebih kurang 20 orang. Acara dibuka Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc, For. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa saat ini monitoring terkait pemulihan ekosistem di kawasan konservasi diakui belum maksimal, disamping itu di beberapa wilayah sudah banyak dilakukan pemulihan ekosistem namun kurang terekspose. Sehingga diharapkan pertemuan ini menjadi ajang untuk sharing data dan informasi, menyeragamkan database serta sinkronisasi data khususnya pemulihan ekosistem di kawasan konservasi. Sistem informasi ini dibangun guna memantau progres pelaksanaan pemulihan ekosistem di kawasan konservasi. Rancang bangun sistem aplikasi ini telah dilaksanakan pada tahun 2017 dalam bentuk aplikasi web yang dapat diakses melalui simpulkk.menlhk.go.id yang memuat informasi-informasi pemulihan ekosistem di kawasan konservasi, seperti lokasi, luas, kategori kerusakan, metode, jenis tanaman, luas areal tanam, peta spasial dan sebagainya. Setiap UPT sebagai pelaksana pemulihan ekosistem di lapanganmemiliki akun tersendiri untuk menginput data rencana, hasil pelaksanaan dan monitoring serta evaluasi pelaksanaan pemulihan ekosistem di masing-masing wilayah kerjanya. Data yang diinput tersebut dapat dipantau langsung oleh Direktorat Kawasan Konservasi yang selanjutkan diintegrasikan dengan data kawasan konservasi di seluruh Indonesia. Melalui sistem informasi ini UPT maupun pusat dapat secara bersama-sama melakukan updating data pemulihan ekosistem secara berkala baik spasial maupun non spasial, disamping itu SIMPUL KK ini dikembangkan untuk instrument dokumentasi kegiatan pemulihan ekosistem di kawasan konservasi serta sebagai alat untuk melakukan evaluasi dan monitoring kegiatan pemulihan ekosistem. Sumber : Resi Diniyanti - Direktorat Kawasan Konservasi, Ditjen KSDAE
Baca Berita

Menghadirkan Eksistensi Negara di Kawasan Konservasi melalui Kegiatan Patroli Pengamanan Hutan TN Bromo Tengger Semeru

Malang, 31 Mei 2018. Meskipun bulan Ramadahan TN Bromo Tengger Semeru tetap melaksanakan kegiatan rutin patroli pengamanan hutan berkala terutama pada kawasan yang rawan gangguan. Patroli tersebut dilakukan SPTN III Senduro Bidang PTN II Lumajang TN Bromo Tengger Semeru yang melaksanakan kegiatan Patroli Fungsional pada tanggal 21-24 Mei 2018, dengan target wilayah pengamanan di Blok Pasang Kenceng Wilayah Kerja Resort PTN Gucialit, Blok Pusung Duwur, Blok Jantur, blok Bantengan, dan Blok Mlambing Wilayah Kerja RPTN Senduro, Blok Ledok Ngamprong dan Krepelan Wilayah Kerja RPTN Ranu Pani. Menurut Kepala Seksi SPTN Wilayah III Senduro, Bidhin Lintang A, Patroli Fungsional bertujuan untuk melakukan tindakan preventif dari segala tindak gangguan keamanan yang akan mengancam eksitensi kawasan Taman Nasional khususnya di Seksi PTN Wilayah III Senduro. Sementara itu lokasi tersebut menjadi target pengamanan karena selama ini lokasi tersebut diindikasikan rawan dengan kegiatan illegal berupa Pembuatan Arang, Perburuan Burung, Pencurian Kayu Bakar, dan Pencurian Bambu. Selama kegiatan berlangsung ditemukan tindakan pelanggaran sebagai berikut : 1. Ditemukan barang bukti berupa Sepeda Motor yang ditemukan di Blok Pusung Duwur sementara pemilik melarikan diri. Saat ini Sepeda Motor diamankan di kantor RPTN Senduro dengan tujuan agar pemilik kendaraan datang dan menjelaskan motif berada didalam kawasan hutan tersebut. 2. Patroli di Blok Jantur yang merupakan blok dengan medan ekstrem dimana jalur patroli beralur dalam dan berada di sisi luar punggungan bukit yang berjurang dalam, Tim Patroli menemukan 2 org yang mencuri kayu bakar. Oleh Tim 2 orang tersebut dilakukan upaya pembinaan dengan dibuatkan pernyataan, mengamankan Barang Bukti berupa 1 buah Kapak dan 1 buah Parang. 3. Patroli di Blok Ledok Ngamprong, tim hanya menemukan bekas-bekas pembuatan arang yang diduga dilakukan oleh orang Ranu Pani. 4. Patroli di Blok Mlambing dengan target pencurian bambu tim memergoki 4 (empat) orang pelaku pencurian bamboo, yang kemudian diberikan pembinaan dan pengarahan dan dibuatkan surat pernyataan agar pelaku tidak mengulangi perbuatannya, tim selanjutnya menghancurkan Barang Bukti ditempat berupa ikatan bambu dan mengamankan alat yang diduga digunakan untuk pencurian bambu berupa 4 buah parang. Lebih lanjut Lintang menjelaskan, "Patroli Fungsional dilaksanakan juga sebagai bagian dari upaya menghadirkan negara dalam kawasan konservasi, kewaspadaan pada potensi gangguan dalam kawasan dan penyadartahuan pada masyarakat yang melakukan kegiatan illegal sekecil apapun untuk tidak mengulang perbuatan yang merugikan negara",pungkasnya. Sumber : Balai Besar TN Bromo Tengger Semeru
Baca Berita

Bimtek Kelompok Binaan Balai TN Gunung Ciremai di Tiga Desa

Kuningan, 31 Mei 2018. Upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia, termasuk masyarakat di sekitar taman nasional, Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) melaksanakan bimbingan teknis (bimtek), pendampingan dan supervisi kelompok binaan. Salah satunya dilaksanakan tanggal 28 Mei hingga 1 Juni 2018 di tiga desa, yaitu Bantaragung, kecamatan Sindangwangi ; Payung, Rajagaluh dan Argalingga, Argapura, Majalengka, Jawa Barat. Peserta yang terlibat adalah Mitra Pariwisata Gunung Ciremai (MPGC). Setelah kegiatan ini, MPGC diharapkan dapat meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat di sekitar TNGC. Lebih dari itu, juga diharapkan ikut berpartisipasi menjaga kelestarian alam TNGC, agar nilai manfaatnya juga bisa dinikmati secara berkesinambungan. Kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) sebagai salah satu kawasan strategis nasional memiliki peran penting dalam ekologi, ekonomi dan sosial budaya. Ditinjau dari sisi ekologi, TNGC adalah habitat bagi kehidupan satwa liar, dari sisi ekonomi, kawasan ini juga berfungsi sebagai sumber plasma nutfah yang dapat dibudidayakan di luar kawasan, serta pemanfaatan jasa lingkungan air dan wisata alam. Jasa lingkingan ini dapat dimanfaatkan untuk masyarakat dalam meningkatkan perekonomiannya. Dari sisi sosial budaya, keberadaan masyarakat di sekitar kawasan menjadi faktor utama terwujudnya perlindungan dan pengamanan kawasan. [teks & foto © Gandi Mulyawan -BTNGC | 31052018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Cerdas Cermat, Penutup Semarak Hari Keanekaragaman Hayati BBKSDA Papua

Jayapura, 31 Mei 2018. Sebagai rangkaian terakhir memperingati Hari Keanekaragaman Hayati dan menuju Festival Cycloop 2018, Balai Besar KSDA Papua (BBKSDA Papua) adakan sosialisasi tumbuhan dan satwa liar, meningkatkan pengetahuan tentang keanekaragaman hayati melalui cerdas cermat. Kali ini sasaran kegiatan adalah siswa-siswa tingkat SMA. Kegiatan ini berlangsung Kamis, (31/5) di Aula BBKSDA Papua, dihadiri lima sekolah yang diundang, masing-masing mengirimkan lima siswa beserta satu guru pendamping. Berdasarkan diskusi di forum, semua siswa menyatakan ini kali pertama kegiatan penyuluhan keanekaragaman hayati dan cerdas cermat bertema senada mereka ikuti. Cerdas cermat keanekaragaman hayati dimenangkan tiga tim dari sekolah yang berbeda. Juara pertama diraih tim dari SMAN 1 Jayapura. Sementara juara dua dan tiga diraih tim dari SMAN 4 dan SMAN 3 Jayapura. Usai kegiatan, guru pendamping dari SMAN 4 Jayapura, Ibu Rosa, menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi siswa maupun guru. Banyak wawasan baru, terutama mengenai keanekaragaman hayati dan konservasi yang mereka dapatkan. “Ternyata pengetahuan tentang konservasi itu sangat luas, dan Papua sungguh kaya,” ungkapnya. Bagian pamungkas dari seluruh rangkaian kegiatan adalah dialog interaktif di radio Rock FM 101.1 MHz. Narasumber berasal dari BBKSDA Papua bersama Dinas Kehutanan Provinsi Papua serta USAID Lestari. Hal-hal yang dibincangkan dalam dialog interaktif antara lain mengenai layanan call center melalui Quick Respon di nomor 0823-9802-9978. Pada layanan tersebut BBKSDA Papua menerima pengaduan dari masyarakat terkait perburuan dan perdagangan TSL, juga mengenai gangguan di dalam kawasan konservasi. Selain itu dialog interkatif juga membincang Festival Cycloop yang digelar dengan berbagai kegiatan sepanjang tahun, dan puncaknya pada bulan November 2018. Sumber : Dzikry el Han - Balai Besar KSDA Papua
Baca Berita

Balai TN Kayan Mentarang Bina MMP di Dua Wilayah Adat Besar

Nunukan, 23 Mei 2018. Kegiatan Pembinaan Masyarakat Mitra Polhut (MMP) di SPTN I Long Bawan Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) diikuti 40 orang peserta yang berasal dari 6 Desa pada 2 wilayah adat besar, yakni Wilayah Adat Besar Krayan Hulu dengan lokasi Desa Long Layu dan Tang Laa, dan Wilayah Adat Besar Krayan Tengah dengan lokasi desa Long Rungan, Long Padi, Binuang dan Ba' Liku. Berlangsung pada tanggal 21-22 Mei 2018, kegiatan pembinaan bagi anggota MMP ini di pusatkan pada Resort Long Layu SPTN I Long Bawan Kecamatan Krayan Selatan Kabupaten Nunukan. Para peserta dibekali berbagai materi teori dan praktek antara lain : Organisasi dan Pengelolaan Kolaboratif TNKM; Dasar-dasar Konservasi; Teknik Sosialisasi dan Penyebaran Informasi; Teknik Pengamanan Hutan; Pelajaran Baris Berbaris dan Bela Negara; Penyusunan Laporan; Pembacaan Peta; serta Pengenalan GPS. Kegiatan ini tidak hanya memberikan wawasan baru bagi anggota MMP, tetapi juga menambah keakraban dan kekompakan antara para anggota MMP dan personil Polisi Kehutanan sebagai Pembina. “Saya mengharapkan keterlibatan masyarakat adat dalam monitoring kawasan sejatinya menjadi ruang untuk mengaktualisasikan peran-peran masyarakat adat tersebut serta dalam rangka membantu pihak Balai TNKM dalam menjaga, melindungi dan melestarikan ekosistem beserta keanekaragaman hayati yang ada di kawasan TNKM” ujar Kepala Balai TN Kayan Mentarang Johnny Lagawurin “Kita berharap teman-teman dari masyarakat adat terus terlibat dan proaktif dalam menjaga dan memonitoring segala bentuk ancaman di sekitar kawasan. Dengan demikian skema pengelolaan kolaboratif dalam pengelolaan kawasan TNKM ini dapat berjalan dengan baik dan menuai manfaat positif bagi pemangku kepentingan terkait, terutama bagi masyarakat adat di sekitar kawasan penyangga TNKM.” Johnny menambahkan. Pembentukan MMP sendiri dimulai sejak tahun 2008 oleh Balai TN Kayan Mentarang, dengan menyadari kurangnya petugas lapangan (Polisi Kehutanan) pada Balai TN Kayan Mentarang. Masyarakat adat yang proaktif dalam perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan keanekaragaman hayati berdasarkan pengetahuan dan kearifan lokalnya, dan beban cakupan wilayah kelola TNKM yang sangat luas yakni 1.271.698,56 Ha sehingga perlu adanya mitra yang membantu memaksimalkan fungsi pengawasan dan pengamanan di kawasan tersebut. Disamping itu Lewi Gala Paru, Kepala Adat Besar Krayan Hulu selaku juga pengurus Forum Musyawarah Masyarakat Adat (FoMMA) TNKM dalam sambutannya menjelaskan sejarah dan konsep dasar FoMMA TNKM sejak pertama kali terbentuk adalah kolaboratif, yang berarti kerja sama semua pihak untuk berbagi peran, berbagi tanggung jawab, dan berbagi manfaat. "Masyarakat Mitra Polhut (MMP) merupakan salah satu wujud konkret berbagi tanggung jawab antara pemerintah dan masyarakat dalam mengelola TNKM” tutupnya. Sumber : Balai Taman Nasional Kayan Mentarang

Menampilkan 7.777–7.792 dari 11.140 publikasi