Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Berkunjung ke Bumi Perkemahan Panten, Gunung Ciremai

Kuningan, 7 Juni 2018. Bumi perkemahan (buper) Panten di hutan konservasi Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) teletak di desa Argalingga, Argapura, Majalengka, Jawa Barat. Keunggulan yang dimiliki buper Panten adalah iklim yang sejuk, suasana yang sunyi dan jenis pohon pinus yang berada didalamnya. Terletak pada ketinggian 1200 mdpl, menjadikan buper Panten beriklim sejuk, mampu menghilangkan kepenatan wisatawan yang dalam kesehariaannya terbiasa dengan suasana hiruk pikuk perkotaan. Selain itu, suasana yang sunyi juga dapat membantu menenangkan dan menyegarkan kembali pikiran wisatawan. Tema buper Panten yaitu “Fun Education Camp”. Buper Panten memiliki unsur yang menyenangkan sekaligus terdapat unsur pendidikan untuk wisata. Wisatawan yang berwisata tidak hanya berlibur atau menginap tetapi juga dapat mendapatkan edukasi seperti pengenalan jenis anggrek, persemain dan koleksi tanaman obat. Buper Panten tidak hanya memiliki kawasan yang hanya dijadikan sebagai areal perkemahan, namun juga terdapat atraksi wisata lain seperti arena “outbond”. Arena “outbond” dapat digunakan oleh wisatawan untuk melakukan aktivitas edukasi konservasi sekaligus memacu adrenalin. Atraksi yang berada di arena outbond meliputi “flyingfox” dan tujuh jenis halang rintang yang terbuat dari tali tambang dan bambu dengan berbagai tingkat kesulitan. Arena “outbond” tersebut memiliki ketinggian ± 1m sehingga aman digunakan oleh anak-anak dan orang dewasa. Kebun koleksi anggrek memiliki tanaman ±71 jenis anggrek yang diambil langsung dari hutan Gunung Ciremai. Kebun koleksi anggrek tersebut difungsikan sebagai tempat koleksi anggrek sekaligus sarana pendidikan lingkungan. Ayo berwisata sekaligus mengenal dan memahami konservasi alam lingkungan di TNGC. [teks & foto © Gandi Mulyawan - BTNGC | 062018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Jejak Harimau di Pungut Mudik, Batu Belekuk

Sungaipenuh, 7 Juni 2018. Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) mendapat informasi dari masyarakat tentang keberadaan seekor Harimau di daerah Pungut Mudik, Batu Belekuk (7/6). Hal ini menimbulkan keresahan bagi masyarakat, bergegas Tim mitigasi konflik langsung bergerak cepat merespons informasi tersebut menuju lokasi kejadian. Tim terdiri dari Seksi Konservasi Wilayah 1, Balai KSDA Jambi (2 org), FFI (3 org), KPHP kerinci (4 org), MHS-SPTN I dan pihak Balai Besar TNKS sebanyak 3 orang. Tim kemudian melakukan penembakan meriam untuk menghalau harimau dari lokasi. Lepas penembakan meriam, tim baru mendekat ke lokasi dan hanya menemukan jejak harimau dimaksud karena harimau telah meninggalkan lokasi kejadian. Sampai berita ini diturunkan, tidak ada korban dan situasi dan kondisi sekitar lokasi kejadian sudah kondusif. Masyarakat sangat berterima kasih dan mengapresiasi tim yang tanggap dan responsif terhadap laporan mereka. Meski demikian, Tim dari SPTN 1 dan PHSKS tetap melakukan monitoring untuk melakukan patroli disekitar lokasi. Sumber : Tim Mitigasi Konflik Satwa; SPTN I Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat dan PHSKS
Baca Berita

Sekolah Alam Suku Adat Wana Posangke di CA Morowali

Palu, 7 Juni 2018. Sekolah alam yang digagas Balai KSDA Sulawesi Tengah di Cagar Alam Morowali yang ditujukan untuk suku adat Wana Posangke sebagai bagian dari Role Model telah berjalan. Sekolah alam tersebut berada di Lipu Sunbol yang merupakan bagian dari wilayah hukum adat wana posangke dalam kawasan CA Morowali. Lipu ini secara administrasi berada di Desa Toronggo Kec. Bungku Utara Kab. Morowali Utara. Akses kesana hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki dan dibutuhkan waktu sekitar 3 jam dari Desa Taronggo. Selain itu juga harus melewati Sungai Salato dengar lebar sungai sekitar 20 m. Sepanjang jalan menuju lokasi sekolah alam ini, kita akan disuguhi dengan pemandangan gunung dan lebatnya hutan serta Savana. Jumlah KK suku adat wana posangke yang ada saat ini sekitar 15 KK sedang jumlah anak usia sekolah ( 7- 15 tahun) berjumlah ± 30 orang. Suku wana posangke hidup berpindah-pindah dan jarak antara pemukiman yang dengan satu dengan yang lain saling berjauhan, antara 200 m - 1 km. Untuk mengumpulkan anak didik tenaga pendamping harus memukul kentongan yang terbuat dari kayu dengan bunyi khusus. Metode pengajaran yang dilakukan dengan cara poster abjad dimana selain mempelajari abjad, juga memberi contoh nama-nama benda sesuai huruf abjad. Untuk membawa misi konservasi, nama benda yang digunakan mengambil nama satwa atau tumbuhan dan sesekali nama bahasa setempat sekaligus dijelaskan fungsi konservasinya. Diharapkan dengan adanya kegiatan tersebut, anak-anak suku adat wana posangke bisa membaca dan kemudian mengasah kemampuannya sehingga bisa menjadi agen-agen konservasi di wilayah adat mereka sendiri. Sumber : Balai KSDA Sulawesi Tengah
Baca Berita

Bayi Bekantan Terpantau di TWA Pulau Kembang

Banjarbaru, 7 Juni 2018 – Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Kembang merupakan salah satu kawasan konservasi di Kalsel dengan tipe ekosistem mangrove yang menjadi site monitoring populasi bekantan diantara 4 (empat) site monitoring yang lain berdasarkan SK Dirjen KSDAE Nomor : SK.180/IV-KKH/2015. Konsekuensi dari SK tersebut adalah perlu adanya upaya untuk meningkatkan populasinya baik dengan pembinaan habitat maupun pembinaan populasi. Sejak Tahun 2015 telah dilakukan monitoring bekantan secara berkala di kawasan ini. Walaupun kawasan ini tidak terlalu luas (±83 ha) jika dibandingkan dengan kawasan konservasi yang lain, namun untuk bisa ketemu bekantan disini ini cukup sulit. Vegetasi yang cukup rapat membuat sulit untuk memantau keberadaan bekantan. Selain itu persaingan daerah jelajah dengan monyet ekor panjang yang mendominasi kawasan juga menjadi salah satu faktor susahnya memonitor bekantan disini. Namun kami yakin, bekantan berkembang cukup baik di kawasan ini karena potensi pakan yang cukup melimpah. Hal ini terjawab dengan dijumpainya satu ekor bayi bekantan dan banyak anakan bekantan. Populasi bekantan di TWA Pulau Kembang terpantau sebanyak 48 ekor, dengan jumlah jantan 6 ekor, betina 23 ekor, anak 16 ekor, dan bayi 1 ekor. Melihat komposisi populasi yang didominasi betina, membuat semakin optimis akan perkembangan bekantan di kawasan ini. Selain pucuk daun rambai (Sonneratia caseloaris), sumber pakan di kawasan ini adalah pucuk daun panggang (Ficus retusa), dungun (Haritiera littoralis), jingah (Gluta renghas), dan waru (Hibiscus tiliaceus). (jrz) Sumber : Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Balai KSDA Bali Release 21 Penyu

Jembrana, 7 Juni 2018. Berselang 2 hari sejak ditemukannya 27 Ekor Penyu Hijau (Chelonia mydas) di rumah penduduk di Kecamatan Melaya, Kab. Jembrana hasil Operasi Pengamanan TSL Reskrim Jembrana, pada hari Kamis, 7 Juni 2018 dilaksanakan Release/Pelepasliaran satwa-penyu tersebut di pantai areal Kelompok Pelestari Penyu Kurma Asih. Undangan yang hadir antara lain Bupati Jembrana, Kapolres Jembrana, Kepala Kejaksaan Negeri Negara, Wakil Ketua Pengadilan Negeri Jembrana, Kepala Balai TN Bali Barat, Kepala Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut, Perwakilan Dishut Prov Bali, Perwakilan P3E Bali Nusra, Perwakilan Balai Riset dan Observasi Laut, Perwakilan Balai Karantina Pertanian, FKH Univ Udayana, serta beberapa Volunteer asing dibawah kordinasi Turtle Conservation Education Center (TCEC), relawan dari Kelompok Pelestari Penyu Kurma Asih dan masyarakat umum. Balai KSDA Bali menyatakan bahwa terdapat 3 aspek yang perlu di-paduserasikan dalam kegiatan pelepasliaran ini, yakni dari sisi Konservasi, Penegakan Hukum, dan Publikasi. Hal ini menyebabkan kegiatan release baru bisa dilaksanakan 2 hari pasca temuan. Dari aspek Konservasi, lebih baik cepat dilaksanakan release dengan catatan sebelum dilakukan release terlebih dahulu pemeriksaan kesehatan. Pemeriksaan kesehatan disamping dilaksanakan BKSDA Bali juga melibatkan BPSPL Denpasar, FKH Univ Udayana, dan sejumlah relawan dari Indonesia Aquatic Megafauna (IAM) Flying Vet yang merupakan koalisi dokter hewan penanganan satwa laut terdampar. Dari hasil pemeriksaan kesehatan didapat hasil penyu-penyu ini terdiri dari 2 ekor jantan dan 25 ekor betina. Rentang panjang lengkung karapas (CCL) yakni 55-102 cm dan lebar lengkung karapas (CCW) yakni 51-90,5 cm. Temuan abnormal yang didapat dari hasil pemeriksaan fisik awal di antaranya luka tusuk pada flipper depan seluruh penyu akibat ikatan benang nylon monofilamen 2-4mm. Abrasi pada kulit yang sifatnya ringan pada 8 ekor penyu. Prolapsus rektum pada 6 ekor penyu, yang mungkin diakibatkan oleh penempatan penyu di luar air dalam waktu lama, atau obstruksi usus. 4 ekor terdapat masa solid eksternal (kemungkinan eksternal papiloma) semacam Tumor yang letaknya pada mata, flipper, dan ventral kloaka. Sebanyak 23 ekor penyu dalam keadaan sehat, dengan tingkat dehridrasi yang relatif ringan-sedang dan dapat direkomendasikan untuk direlease, namun dalam rangka keperluan penegakan hukum 2 ekor disisihkan sebagai barang bukti sedangkan 21 ekor bisa dilepasliarkan. Terhadap penyu yang diindikasikan terdapat tumor di tubuhnya secepatnya akan dilaksanakan operasi medis oleh BKSDA Bali bekerjasama FKH Univ Udayana dan TCEC. Balai KSDA Bali dibantu relawan dari Kelompok Pelestari Penyu Kurma Asih melakukan pemasangan Tagging sebagai identitas dari penyu-penyu tersebut serta alat penanda sekaligus kontrol/monitoring terhadap jelajah dan kemungkinan identifikasi nesting area terhadap penyu-penyu tersebut. Tagging berbahan titanium anti karat dipasang pada sisi belakang flipper depan. Masing-masing tagging memiliki nomor seri yang berbeda dan terdapat grafir alamat E-mail BKSDA Bali. Mengingat barang bukti satwa penyu ini, penegakan hukumnya dilakukan Polres Jembrana masih diproses, tentu release barang bukti haruslah mendapat restu / ijin juga dari Kejaksaan Negeri maupun Pengadilan Negeri yang akan menindaklanjuti proses hukum kasus penyu ini. Setelah ijin release didapat barulah kemudian release ini bisa dilaksanakan. Pihak Balai KSDA Bali ingin menjadikan momen pelepasliaran ini sebagai ajang kampanye untuk memerangi kejahatan pemanfaatan secara illegal satwa dilindungi bersama-sama dengan instansi pemerintah lainnya dan juga stake holder. Dengan mengundang media massa, baik cetak maupun elektronik, gaung untuk mengkonservasi satwa liar dilindungi bisa menyebar luas dan harapannya setiap lapisan masyarakat pun dapat “menangkap” pesan konservasi dari kegiatan ini. Pada akhirnya kolaborasi kampanye multi-pihak yang dilakukan berbagai institusi meskipun belum maksimal hasilnya menghentikan aktivitas illegal ini, minimal terlebih dahulu intensitasnya secara substansial bisa diturunkan dan harapannnya kelestarian sumberdaya alam dapat tercapai. Sumber : Balai KSDA Bali
Baca Berita

Tim Monitoring Balai TN Meru Betiri Temukan Rafflesia zollingeriana Kds. Mekar

Sukamade - Banyuwangi, 7 Juni 2018. Padmosari (Rafflesia zollingeriana Kds.) merupakan flora langka dan endemik Balai TN Meru Betiri. Pertama kali di jumpai oleh Kooders tahun 1902 di Puger, Jember. Rafflesia zollingeriana Kds. Termasuk jenis yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Berstatus genting (endangered) menurut IUCN tahun 1997. Upaya yang telah dilakukan Balai TNMB dalam rangka konservasi rafflesia yaitu membangun plot permanen di Blok Parangkulon SPTN Wilayah I Sarongan dan Blok Krecek SPTN Wilayah II Ambulu dan melakukan monitoring populasi. Tim monitoring rafflesia pada Jumat, 1 Juni 2018 menemukan satu Rafflesia zollingeriana Kds. yang sedang mekar dengan keliling 67 cm di Blok Parangkulon. Dan pada tanggal 6 Juni 2018 ditemukan sudah menghitam dan busuk setelah mekar. Masa mekar bunga ini rata-rata hanya 3 hari. Selain menemukan rafflesia mekar juga ada 8 knop Rafflesia zollingeriana Kds. dan dua diantaranya siap mekar dalam waktu dekat ini. Satu knop dengan keliling 48 cm diperkirakan akan mekar 1-2 hari lagi dan knop berkeliling 37 cm akan mekar 1-2 minggu ke depan. Sumber: Balai TN Meru Betiri
Baca Berita

Bekerjasama Menghidupkan Pariwisata TWA Gunung Kelam

Pontianak, 07 Juni 2018. Menjadi tonggak awal dalam pengembangan pariwisata alam secara bersama antara Balai KSDA Kalimantan Barat dan Pemerintah Kabupaten Sintang untuk pengelolaan TWA Gunung Kelam, hal ini di tandai dengan penandatanganan dokumen Perjanjian Kerjasama. Dalam sambutannya, Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat Sadtata Noor Adirahmanta, S.Hut., M.T mengatakan bahwa pengelolaan pariwisata di TWA Gunung Kelam memegang prinsip pengelolaan berbasis masyarakat, alam lestari masyarakat sejahtera. Hal tersebut juga di amini oleh Bupati Sintang dr. H. Jarot Winarno, M. Med. Ph, dalam sambutannya. Beliau menambahkan bahwa TWA Gunung Kelam diharapkan bisa menjadi branding untuk Kabupaten Sintang, dimana orang-orang akan tahu ketika menyebutkan Gunung Kelam maka itu adalah Kabupaten Sintang begitu juga sebaliknya. Setelah ditandatangani PKS ini maka diharapkan dapat meningkatkan sinergi pelaksanaan tugas dan fungsi para pihak dalam rangka percepatan pengembangan pariwisata alam di TWA Gunung Kelam untuk mewujudkan target peningkatan jumlah wisatawan baik lokal, nusantara maupun mancanegara serta penyediaan alternatif mata pencaharian bagi masyarakat sekitar. (gs) Sumber : Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Balai KSDA NTB Kembali Menerima Penyerahan Sukarela Satwa Dilindung

Lombok, 6 Juni 2018. Pendidikan dan pemberian informasi mengenai satwa yang dilindungi kepada masyarakat harus terus dilakukan secara berkelanjutan. Seperti yang terjadi kepada seorang warga Dusun Mekar Indah Desa Lebuak, Kec. Narmada Kab. Lombok Barat ini. Berawal dari laporan yang masuk melalui Call Center Balai KSDA Nusa Tenggara Barat mengenai seorang warga yang memelihara seekor Burung Kakatua di daerah Narmada. Laporan tersebut ditindaklanjuti dengan mengirimkan 2 (dua) orang Polisi hutan Balai KSDA NTB. Dan benar saja sesuai dengan laporan, di TKP dijumpai satu ekor Burung Kakatua Jenis Burung Kakatua Besar Jambul Kuning (Cacatua gallerita) yang habitatnya di daerah Maluku. Sang pemilik mengaku tidak mengetahui bahwa satwa tersebut dilindungi dan dia mendapatkan satwa ini dari seorang temannya empat tahun lalu. Polisi Hutan BKSDA NTB menjelaskan bahwa satwa ini dilindungi Undang-undang dan Sang pemilik dengan itikad baik akhirnya menyerahkan secara Sukarela kepada Balai KSDA NTB. Hingga berita ini diturunkan, satwa yang dilindungi tersebut telah diamankan di Kantor Balai KSDA NTB. Diucapkan terima kasih atas kerjasama dan partisipasi masyarakat terhadap kepeduliaanya. Call Center Balai KSDA NTB diperuntukan sebagai Pelayanan aduan masyarakat terkait penyerahan satwa liar, kasus konflik satwa, perdagangan tumbuhan dan satwa liar, dan permasalahan d idalam kawasan konservasi lingkup wilayah kerja Balai KSDA NTB di Provinsi NTB, melalui nomor : +6287882030720 via WhatsApp, telepon, dan sms. Sumber : Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

Balai TN Bogani Nani Wartabone Menuju Pengelolaan Maleo Lebih Baik

Kotamobagu, 6 Juni 2018. Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW) bersama mitra merumuskan prosedur tata kelola lokasi-lokasi peneluran maleo yang berada di dalam kawasan TNBNW, dalam lokakarya yang dilaksanakan di kantor Balai, Rabu (5/6/2018). Kepala Balai TNBNW, Lukita Awang Nistyantara menegaskan, “Pedoman ini merupakan salah satu wujud pengelolaan berbasis data ilmiah, karena disusun berdasarkan referensi ilmiah dan pengalaman empiris lapangan para petugas pengelola di tingkat tapak”. Lokakarya ini difasilitasi EPASS-BNW yang diikuti 23 peserta, terdiri dari para staf Balai, WCS-IP dan PPS Tasikoki. Perumusan tata kelola ini juga menghimpun masukan langsung dari para petugas pengelola lokasi peneluran maleo di dalam kawasan, yaitu di Tambun, Muara Pusian, Hungayono, dan Pohulongo. Dalam lokakarya ini juga dihadirkan perwakilan dari Direktorat KKH-KLHK, Agus Sutito dan praktisi kesehatan dan kesejahteraan satwa, Drh. Whisnu Wardhana. Dalam paparannya, Whisnu Wardhana menekankan bahwa segala bentuk pengelolaan harus dengan prinsip seminimal mungkin intervensi manusia secara langsung ke maleo, agar perilaku asli dan kesehatan satwa tersebut tetap terjaga. # Sumber : Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone
Baca Berita

TN Tesso Nilo Buka Bersama Wartawan Se-Kabupaten Pelalawan

Pangkalan Kerinci, 06 Juni 2018. Petang Rabu, tanggal 06 Juni 2018 Kantor Balai TN. Tesso Nilo ramai dipenuhi oleh para wartawan se-Kabupaten Pelalawan. Kedatangan para wartawan ini adalah dalam rangka memenuhi undangan dari Kepala Balai TN. Tesso Nilo untuk melaksanakan buka bersama dengan Balai TN. Tesso Nilo. Wartawan yang diundang merupakan wartawan yang tergabung dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pelalawan, Ikatan Wartawan Online (IWO) Pelalawan, Persatuan Jurnalis Indonesia (PJI) Pelalawan. Buka bersama yang dilaksanakan tersebut merupakan bentuk dari upaya Balai TN. Tesso Nilo dalam mempererat silaturahmi dengan para wartawan se-Kabupaten Pelalawan. Lebih kurang 40 orang wartawan berkumpul untuk menghadiri undangan buka puasa bersama dari BTNTN. Dalam buka puasa bersama yang dilaksanakan TNTN bersama para wartawan, acara diisi dengan kegiatan-kegiatan bermanfaat seperti diskusi bersama dan mendengarkan tausiah. Tausiah diberikan oleh ustad yang diundang langsung oleh Kepala Balai TNTN yakni ust. Kiaumiddin dari Kota Pangkalan Kerinci. Dalam tausiahnya ustad menyampaikan kepada seluruh wartawan dan staf TNTN yang hadir akan pentingnya menjaga silaturahmi antar sesama manusia, terlebih umat muslim. "Sengaja kita undang dan adakan buka bersama antar Balai TNTN dengan wartawan se-Pelalawan ini untuk menjaga selalu hubungan baik TNTN dengan para wartawan, harapannya pihak TNTN dan para wartawan dapat selalu bekerja sama dengan baik dalam hal mempromosikan Taman Nasional maupun kerja sama yang lainnya", ungkap Kepala Balai TNTN Supartono, S.Hut, M.P. Sumber: Balai TN Tesso Nilo
Baca Berita

World Environment Day 2018 : BBKSDA Sumut Lepas 7 Elang Bondol di SM. Karanggading

Selotong, 5 Juni 2018. Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang pertama kali dideklarasikan pada tanggal 5 Juni 1972 dalam Konfrensi PBB tentang Lingkungan Hidup, di Stockholm, menjadi agenda tetap yang diperingati/dirayakan oleh seluruh masyarakat internasional. Khusus untuk Indonesia, sesuai dengan arahan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, peringatan Hari Lingkungan Hidup tahun 2018 mengusung tema “Kendalikan Sampah Plastik”. Tema ini diangkat sebagai perwujudan komitmen bersama seluruh pihak dalam upaya mengatasi bahaya sampah plastik diberbagai belahan dunia, juga di Indonesia. Dampak bahaya plastik, bukan hanya dirasakan oleh masyarakat perkotaan, melainkan juga kawasan konservasi yang ada di Propinsi Sumatera Utara, khususnya kawasan SM. Karanggading/Langkat Timur Laut. Kawasan hutan bakau (mangrove) ini yang luasnya 15.765 ha, terletak di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Langkat, kerap juga ditemukan tumpukan sampah plastik, yang berasal dari pembuangan sampah masyarakat sekitar kawasan. Pembuangan sampah plastik sembarangan oleh masyarakat tentunya sangat berdampak bukan hanya kepada kehidupan biota laut yang hidup disekitar kawasan, melainkan juga ekosistem kawasan, karena sampah plastik merupakan benda yang tidak dapat terurai dalam waktu sangat lama hingga jutaan tahun, dan dapat pula mengakibatkan pencemaran tanah, air dan laut. Atas pemikiran inilah, Balai Besar KSDA Sumatera Utara memfokuskan kegiatan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2018 di kawasan SM. Karanggading/Langkat Timur Laut tepatnya di Desa Selotong, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, pada Selasa 5 Juni 2018. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai media kampanye dan edukasi kepada masyarakat untuk bijak dalam mengelola sampah rumah tangga, khususnya berbahan dasar plastik. Disamping itu juga untuk mensosialisasikan perlunya tetap menjaga dan melestarikan keberadaan kawasan SM. Karanggading/Langkat Timur Laut. Rangkaian kegiatan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2018 ini, juga dilakukan pelepasliaran (release) Elang Bondol (Heliastur indus) sebanyak 7 (tujuh) individu (6 individu berkelamin jantan dan 1 individu berkelamin betina) oleh Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc.For, dalam penjelasannya kepada sejumlah wartawan baik media cetak maupun media elektronik, yang meliput kegiatan tersebut, menguraikan bahwa tujuan dari release ini adalah untuk melestarikan Elang Bondol di habitatnya, mengingat kawasan SM. Karanggading/Langkat Timur Laut juga merupakan habitat dari berbagai jenis satwa burung, termasuk Elang Bondol. Ke-7 individu Elang Bondol ini, sebelumnya telah dirawat di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Taman Wisata Alam (TWA). Sibolangit dan sudah dilakukan medical chek-up oleh Tim Medis Balai Besar KSDA Sumatera. Kemudian atas rekomendasi Tim Medis, satwa ini dinyatakan layak untuk direlease. Sedangkan asal usul satwa ini, menurut Hotmauli, diperoleh dari hasil kegiatan patroli tumbuhan dan satwa liar (TSL) Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum (Gakkum) Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah Sumatera dengan Balai Besar KSDA Sumatera Utara, serta hasil penyerahan dari masyarakat kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara tahun 2016-2017. “Harapannya kegiatan ini menjadi contoh dan proses pembelajaran bagi warga masyarakat lainnya, agar satwa liar yang dimiliki atau dipelihara segera diserahkan secara sukarela kepada instansi yang berwenang, yaitu Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Nantinya satwa-satwa tersebut akan melalui proses evakuasi, perawatan, pemeliharaan, adaptasi dan release ke habitat alaminya.” Ujar Hotmauli mengakhiri keterangannya. (Andoko Hidayat) Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Wati dan Ratna Melahirkan Secara Alami di TN Gunung Leuser

Bohorok, 6 Juni 2018. Dua induk orangutan (Wati dan Ratna) melahirkan secara alami di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Tepatnya di Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera dan berbatasan langsung dengan Resort Bukit Lawang Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah V – Bohorok Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser. Kejadian kelahiran ini diduga terjadi 2 (dua) hari yang lalu (4/6). Jenis kelamin 2 bayi orangutan belum dapat teridentifikasi, karena sang induk masih sangat protektif. Pusat Pengamatan Orang Utan Sumatera (PPOS) yang berbatasan langsung dengan Resort Bukit Lawang merupakan bagian dari wilayah zona pemanfaatan yang digunakan untuk ekowisata. Sehari-hari rutin dikunjungi turis lokal dan mancanegara. Sumber : Palber Turnip, S.P. – Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah V – Bohorok, Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser
Baca Berita

Sepuluh Hari terakhir Ramadhan, TN Way Kambas melakukan Pembinaan Pegawai dan Buka Bersama

Labuhan Ratu, 6 Juni 2018. Bulan Ramadhan merupakan momentum peningkatan kebaikan bagi orang-orang yang bertaqwa dan ladang amal bagi orang-orang shaleh. Terutama, sepuluh hari terakhir Ramadhan. Taman Nasional Way Kambas pada 10 hari terakhir ini mengadakan acara Pembinaan Pegawai dan sekaligus Peresmian Mushola Attaubah yang dibangun secara swadaya oleh pegawai TN Way Kambas. Kegiatan pembinaan pegawai ini diikuti oleh seluruh rimbawan Taman Nasional Way Kambas, baik yang di kantor Balai, Seksi I, II, III, Seluruh Resort-resort maupun yang ada di Pusat Latihan Gajah. Dalam kesempatan ini Kabalai TNWK, Subakir, SH. MH. mengajak seluruh pegawai untuk lebih mendekatkan diri kepada sang maha Pencipta dan bekerja lebih baik lagi. Kita hendaknya dapat memaknai bahwa Sepuluh hari terakhir Ramadhan merupakan pamungkas bulan Ramadhan, sehingga hendaknya setiap manusia mengakhiri Ramadhan dengan kebaikan, yaitu dengan mencurahkan daya dan upaya untuk meningkatkan amaliyah ibadahnya. Ibadah tidaklah hanya sebatas menjalankan rutinitas keagamaan seperti sholat dan lainnya. Bekerja dengan baik dengan dibarengi niat yang baik juga ibadah. Kepala Balai juga menyampaikan bahwa bulan ini terdapat 63 pegawai yang naik pangkat, 1 orang pensiun, dan 1 orang mutasi. Selama masa cuti bersama ini yang mendapat tugas piket untuk selalu waspada dengan kemungkinan terjadinya Perburuan Liar dan Kebakaran Hutan. “Saya minta kepada rekan-rekan yang mendapat tugas piket selama masa cuti bersama agar meningkatkan kewaspadaannya terhadap kemungkinan terjadinya perburuan liar, mengingat menjelang Hari Raya Idul Fitri biasanya kebutuhan daging meningkat dan pelaku-pelaku perburuan akan beraksi. Selain itu dimohon juga agar dapat mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan”, ucap Kepala Balai. Selain pegawai Taman Nasional Way Kambas, panitiai juga mengundang Uspika Labuhan Ratu antara lain: Camat Labuhan Ratu, Kapolsek Labuhan Ratu, Danramil Way Jepara, para pensiunan Rimbawan Way Kambas, dan juga para tokoh masyarakat sekitar. Kepada para senior, Pensiunan Rimbawan, Way Kambas beliau berpesan agar selalu memberikan masukan dan saran untuk kemajuan TNWK. Untuk menambah keakraban para rimbawan, pertemuan ini diakhiri dengan acara buka puasa bersama. Nilai terbesar dari buka puasa bersama ini sebenarnya bukan pada acara makan-makannya. Ini hanya menjadi sarana untuk bertemu. Di sela-sela makan inilah para rimbawan bisa dengan santai membicarakan banyak hal, mulai menanyakan kabar keluarga, kesehatan, karier, atau persoalan keseharian yang dihadapi masing-masing pihak. Sumber: Humas Balai TN Way Kambas
Baca Berita

Temuan Rangka Manusia Purbakala di TN Bantimurung Bulusaraung

Bantimurung, 6 Juni 2018. Baru-baru ini heboh temuan rangka manusia di sebuah gua di Desa Samangki, Simbang, Maros. Rangka itu ditemukan di Leang Jarie yang letaknya tak jauh dari rumah warga. Leang dalam bahasa lokal (Makassar) yang berarti gua. Leang Jarie berada kaki bukit karst kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Berada di wilayah Resort Bantimurung dalam tata kelola taman nasional. Di kawasan taman nasional ini sedikitnya terdapat 41 gua prasejarah, dari 440 gua yang telah teridentifikasi. Gua-gua prasejarah ini umumnya masuk dalam zona religi dan budaya kawasan konservasi ini. Oleh Balai Purbakala Cagar Budaya (BPCB) Sulawesi Selatan sendiri telah dipagari sebagai tanda bahwa gua tersebut merupakan gua prasejarah. Bagaimana asal usul nama gua ini? Saat kami bertandang ke Leang Jarie pada Selasa (5/6), bertemu dengan sang penjaga situs, Irfan (45 tahun). “Nama gua ini berasal dari ciri khas dimiliki yakni banyaknya spot panel lukisan tapak tangan yang ditemukan. Karenanya diberi nama jarie (Bugis) atau jaria (Makassar) yang berarti jari. Lukisan berupa gambar tapak tangan berwarna merah ini adalah lukisan manusia purbakala,” terangnya. Dengan begitu Leang Jarie berarti gua dengan lukisan jari (tapak) tangan. Ia menambahkan bahwa sejak tahun 1992 Leang Jarie telah diberi pagar kawat oleh BPCB Sulawesi Selatan. Tak lama berselang, hujan turun saat kami telah berada di teras gua. Kami tak kehujanan karena atap teras Leang Jarie yang menjorok keluar. Melindungi kami dari terpaan air hujan. Menambah keyakinan kami jika manusia pra-austronesia memanfaatkan gua sebagai tempat berteduh. Bahkan bisa jadi sebagai tempat tinggal mereka. Kami membayangkan. Temuan rangka manusia yang berada di teras Leang Jarie ini merupakan bagian dari penelitian Situs Gua Prasejarah di Wilayah Maros dan Pangkep. Penelitian dilaksanakan selama 40 hari yang terbagi dalam dua tim. Untuk wilayah Maros sendiri dilaksanakan sejak tanggal 3 Mei 2018 lalu. “Untuk wilayah Kabupaten Maros kami menemukan 26 situs yang tersebar di tiga kecamatan, termasuk Leang Jarie. Hanya saja kondisi beberapa gua sudah memprihatinkan. Pada beberapa situs gua ditemukan di sekitarnya bekas batu gamping terbakar. Hal ini bertanda adanya aktivitas tambang batu pondasi yang dilakukan masyarakat sekitar,” terang Budianto Hakim, selaku ketua tim peneliti situs gua prasejarah Balai Arkeologi Sulawesi Selatan. “Tersisa 40 persen yang kondisinya masih baik dan perlu dijaga,” tambahnya. Pada Rabu (23/5) Balai Arkeologi Sulawesi Selatan menggelar focus discussion grup hasil penelitian sementara. Juga sebagai wadah mengumpulkan data dan informasi untuk mendukung hasil temuan awal di Kabupaten Maros. Hasil yang cukup mencengangkan adalah temuan sisa aktivitas manusia prasejarah di Leang Jarie. “Temuan awal di Leang Jarie berupa gigi manusia. Kemudian kami lanjutkan eskavasi hingga menemukan artefak, kerang laut, dan rangka manusia. Temuan ini terbagi dalam beberapa lapisan. Bukti temuan ini menerangkan tingginya pemanfaatan gua oleh manusia prasejarah yang berkelanjutan dari masa 40.000 tahun yang lalu hingga 2.500 tahun yang lalu,” ujar Budianto. Rangka manusia yang ditemukan hampir utuh ini adalah temuan pertama kali di wilayah Maros. “Rangka yang kami temukan di Leang Jarie berusia 4.000 tahun yang lalu. Rangkanya masih utuh, hanya batok kepala yang sedikit hancur, namun bagian lain seperti dada hingga kaki masih utuh. Ini adalah temuan besar bagi kami,” pungkas Budianto. Kita tunggu saja kabar terbaru dari tim peneliti gua parasejarah ini. “Saat ini kami sedang mengamankan temuan rangka manusia ini. Setelah lebaran akan kami koordinasikan lebih lanjut dengan para ahli baik ahli arkeologi, ahli bioantropology, dan tidak menutup kemungkinan keahlian ilmu lainnya untuk penanganan selanjutnya,” ujar Laode Muhammad Aska, Kepala BPCB Sulawesi Selatan saat mengunjungi Leang Jarie, Kamis (30/5). “Ke depan kami juga akan lebih intens menyampaikan kepada masyarakat tentang keberadaan gua-gua prasejarah ini. Termasuk nilai penting dan perlunya keterlibatan mereka turut serta menjaga laboratorium alam ini,” tambah Laode Aska. Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung saat kami temui, angkat bicara akan temuan rangka manusia ini. “Temuan ini menambah arti pentingnya ekosistem karst. Begitu juga dengan ekosistem karst yang berada di luar kawasan taman nasional merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dari Kawasan Karst Maros Pangkep (KKMP). Saat ini telah disatukan melalui penetapan wilayah ini sebagai geopark nasional beberapa waktu lalu,” ujar Yusak Mangetan, Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung saat kami temui di kantornya, Rabu (6/6). Sumber : Taufiq Ismail – PEH Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

Si Mungil dengan Suara Merdu

Kuningan, 6 Juni 2018. Jenis burung yang satu ini meski bertubuh mungil tetapi memiliki tampilan yang cantik dan suara yang merdu, Cikrak Muda kebanyakan orang menyebutnya. Mungkin saja orang memberikan nama kepada si mungil ini ada kaitannya dengan tampilannya. Secara visual, burung ini memiliki bentuk dan wajah yang selalu muda (baby face) dengan ukuran tubuh yang relatif kecil, panjang tubuh hanya sekitar 10 cm saja. Cikrak Muda memiliki nama latin Seicercus Grammiceps, dari suku Sylviidae. Burung kicauan yang bertubuh kecil dan mungil ini sebenarnya jumlahnya cukup banyak di alam Indonesia. Namun dari jenis burung kicauan tersebut, hanya sedikit masyarakat yang mengenalnya sebagai burung peliharaan maupun disertakan dalam kontes burung ocehan. Padahal suara kicauan jenis burung ini tak kalah merdu dibanding jenis burung ocehan yang umum dipelihara. Sobat Ciremai, selain memiliki suara yang merdu, ternyata ciri-ciri fisik Cikrak Muda juga cukup menarik. Warna bulu Cikrak Muda terdiri dari empat jenis warna yaitu hijau zaitun, cokelat berangan, putih dan kuning. Warna hijau zaitun tampak menutupi tubuh di bagian atas mulai dari sayap, punggung dan ekornya. Warna cokelat berangan terlihat di bagian seluruh kepala mulai dari atas kepala, pipi, tengkuk dan tenggorokannya. Warna putih terlihat jelas di bagian bawah tubuhnya mulai dari dada, perut dan tunggirnya. Sedangkan warna kuning tampak sedikit di bagian tengah sayap yang membentuk pola garis yang agak panjang. Ciri lainnya yang bisa dikenali dari burung Cikrak Muda adalah tubuh bagian bawahnya yang tampak agak menggelembung. Selain itu, bulu di bagian atas kepalanya dapat berdiri saat hendak mengeluarkan kicauan atau sewaktu ingin terbang. Bola matanya berukuran cukup besar dengan warna hitam pekat dan iris yang mengitari matanya terlihat berwarna putih. Paruhnya berukuran pendek dan agak tebal atau besar dengan warna kuning tua. Perjumpaan burung Cikrak Muda saat survey potensi kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai bulan Mei lalu lebih banyak mendiami hutan alam dengan pepohonan yang lebat. Habitat jenis burung ini biasanya jauh dari pemukiman masyarakat pada ketinggian 1300 – 2500 mdpl. Perjumpaan langsung atau dengan mengenali suaranya yang khas terdengar seperti “cii...cii...ciii” dengan bunyi desirannya berupa “trrrr”. Nada kicauan tersebut dibunyikan secara terus menerus secara bergantian dan terdengar tidak terlalu monoton jika ingin melakukan pengamatan (Bird watching). Ayo kenali dan cintai negerimu dengan cara yang baik dan benar. [teks & foto © BTNGC – Iwan Sunandi | 062018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Piton Raksasa dari Lampaseh

Banda Aceh, 5 Juni 2018. Balai KSDA Aceh menerima laporan melalui call center dari Kapolsek Ulee Lheue Akp. EL Putri dan Danramil Meuraxa Kapten Nanang bahwa ditemukan seekor piton oleh masyarakat lampaseh kecamatan Meuraxa Kota Madya Banda Aceh. Mendapat pengaduan, bergegas petugas Balai KSDA Aceh meluncur ke lokasi. Dari pengamatan petugas, piton tersebut panjangnya diperkirakan 7 meter dengan diameter badan 20cm dan berat 60 kg yang berjenis kelamin betina. Setelah diperiksa Dokter hewan Balai KSDA Aceh dr. Taing lubis, MM direkomendasi untuk segera dilepasliarkan kembali kehabitatnya. Perlu diketahui bahwa satwa ular piton (Python reticulatus) dalam undang-undang belum dilindungi, tetapi dalam CITES (Convention on International Trade in Endangered Species or Wild Fauna and Flaura) dimasukkan dalam Apendiks II. Sumber : Balai KSDA Aceh

Menampilkan 7.729–7.744 dari 11.140 publikasi