Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Ngabuburit Pramuka Saka Wanabakti Binaan Balai TN Taka Bonerate

Benteng - Kepulauan Selayar, 12 Juni 2018. Beberapa orang ngabuburit dengan berburu takjil, berolahraga dan lain-lain. Beda halnya dengan Pramuka Saka Wanabakti Kepulauan Selayar binaan Balai Taman Nasional Taka Bonerate (TNTBR), ngabuburit kali ini diisi dengan kegiatan bakti sosial sekaligus bakti alam yaitu membersihkan pantai di Kelurahan Batangmata, Kec. Bontomatene, Sulawesi Selatan (12/6). "Kegiatan ini dilaksanakan selain untuk bakti sosial dan bakti alam juga agar dapat mempererat tali silaturahmi antar anggota Pramuka Saka Wanabakti" kata Marwan Pamong Saka. "Kegiatan spontanitas dan bermanfaat semacam ini kami sangat apresiasi ke adik-adik pramuka binaan TN. Taka Bonerate" ucap Faat Rudhianto, Kepala Balai Taman Nasional Taka Bonerate, Faat Rudhianto. Sekadar informasi, bahwa bulan Agustus nanti Saka Wanabakti Kepulauan Selayar akan ikut-serta dalam kegiatan Perkemahan Saka Wanabakti dan Saka Kalpataru tingkat regional Sulawesi Maluku di Kabupaten Pangkep Provinsi Sulawesi Selatan. Sumber : Asri - PEH Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Berita

Buaya Pak Tasman Dievakuasi BKSDA Sulteng

Palu, 10 Juni 2018. Berdasarkan informasi dari masyarakat, di Desa Balukang 1 kecamatan Sojol terdapat buaya muara yang ditangkap masyarakat dengan jenis kelamin betina dengan panjang 2.88 meter (10/6). Lokasi penangkapan disekitar empang/tambak masyarakat. Mendapat info tersebut, Tim Satgas penanganan satwa liar Balai KSDA Sulawesi Tengah (BKSDA Sulteng) menuju lokasi kejadian untuk melakukan evakuasi. Setibanya di lokasi, Tim menemui Pemilik/penangkap buaya bernama Pak Tasman. Setelah diberikan penjelasan, buaya tersebut diserahkan Pak Tasman kepada pihak Balai KSDA Sulawesi Tengah yang di wakili Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Pangi, Haruna, SP, M.Sc dengan disaksikan Masyarakat Desa Balukang I yang datang melihat proses evakuasi Tim satgas penanganan konflik satwa liar. Saat ini, sang buaya dibawa ke kandang transit milik Balai KSDA Sulawesi Tengah. Sumber : Balai KSDA Sulawesi Tengah
Baca Berita

Membangun Kebersamaan Mitra Pengelola Wisata Alam Gunung Ciremai

Kuningan, 11 Juni 2018. Peluang yang diberikan Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) kepada masyarakat sekitar untuk mengakses potensi jasa lingkungan wisata alam di dalam kawasan secara berkelanjutan dalam rangka meningkatkan pendapatan secara bertahap mendapat respon baik. Sebelumnya sebagian besar menganggap menjadi pengelola wisata alam bukan masa depan yang menjanjikan. Namun saat ini perkembangan sangat pesat, dari 23 lokasi wisata alam di dalam TNGC pada tahun 2011 menjadi 64 lokasi wisata alam lingkup Kuningan dan Majalengka. Tak hanya masyarakat, namun pemerintah daerah melalui badan usaha milik daerah dan swasta juga ikut berkontribusi. Pada awal Mei lalu, telah dilaksanakan peningkatan kapasitas manajerial kelompok pengelola wisata alam lingkup Kuningan sebanyak 30 orang yang merupakan perwakilan setiap pengelola wisata alam. Kegiatan dilaksanakan di Waduk Darma, lokasi yang dikelola Perusahaan Daerah Aneka Usaha (PDAU) Kabupaten Kuningan di luar kawasan TNGC. Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengelolaan dan pelayanan wisata alam. Kekompakan dan kebersamaan internal kelompok menjadi titik utama sebagai modal awal suksesnya pengelolaan dan pelayanan. Sebagian besar, setiap kelompok akan mengalami masa-masa kritis internal kelompok karena perbedaan pendapat, kurang komunikasi dan keterbukaan. Melalui kegiatan ini diharap masing-masing kelompok dapat melakukan manajemen internal kelompok lebih baik lagi, mengingat kemungkinan peningkatan kunjungan setelah diresmikannya bandara internasional Kertajati di Majalengka oleh Presiden RI beberapa saat berselang. Selain membangun kebersamaan internal kelompok, kerjasama antar kelompok sangat diperlukan agar tidak terjadi persaingan yang tidak sehat satu sama. Sedari awal masing-masing lokasi wisata alam di TNGC memiliki tema yang memiliki ciri khas. Pengunjungpun dapat memilih lokasi mana yang akan dikunjungi, bahkan setiap kelompok pengelola wisata alam dapat merekomendasikan lokasi lain sesuai dengan kebutuhan pengunjung. [teks& foto©?Sirod - BTNGC | 062018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

TaNa Bentarum Pastikan Layanan Terbaik Libur Lebaran

Putussibau, 11 Juni 2018. Mengantisipasi melonjaknya jumlah pengunjung yang ingin menghabiskan masa libur lebarannya di Bukit Tekenang Kawasan TN Danau Sentarum, Balai Besar TN Bentarum selaku pengelola telah mensiagakan sejumlah petugas layanan wisata. Ini menunjukkan komitmen TaNa Bentarum dalam memberikan layanan terbaik bagi pengunjung meskipun pada kondisi libur cuti bersama. Hal ini ditegaskan Kepala Balai Besar TN Bentarum Arief Mahmud saat memberikan pernyataan terkait layanan wisata di kawasan TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum selama masa cuti bersama. “Kami telah mensiagakan petugas layanan wisata khususnya di Bukit Tekenang yang menjadi primadona bagi masyarakat menghabiskan masa libur lebarannya”, jelasnya. Ditambahkan Arief, tidak hanya dari segi petugas, namun fasilitas dan akomodasi bagi pengunjung yang ingin menginap juga telah dipersiapkan berikut dengan layanan medis jika terjadi kecelakaan pengunjung. “Akomodasi seperti guesthouse telah kami siapkan berikut kesiagaan jika terjadi kecelakaan pengunjung”, tuturnya. Menurutnya kecelakaan bisa tidak terjadi asalkan pengunjung bisa tertib dan mau mengikuti arahan petugas. Bukit Tekenang selama ini masih menjadi primadona bagi wisatawan domestik utamanya dari kawasan sekitar Danau Sentarum seperti dari Sintang, Selimbau, Semitau, Badau, dan Lanjak. Libur tahun baru 2018 sebanyak seribu lebih pengunjung mengunjungi kawasan yang terkenal dengan pemandangan alam 360 derajat dari puncak bukit. Selain meningkatkan penerimaaan Negara bukan pajak dari pungutan tiket pengunjung, utamanya adalah sektor ini mampu meningkatkan juga perekonomian lokal baik melalui jasa penyewaaan perahu maupun penginapan sekitar lokasi. Namun demikian, permasalahan sampah pengunjung masih menjadi momok bagi pengelolaan wisata Bukit Tekenang. Menurut Arief pihaknya telah mengantisipasi hal ini dengan melaukan pemeriksaan tas pengunjung, mengawasi perilaku pengunjung serta memastikan bahwa pengunjung tidak membuang sampah sembarangan dan kembali membawa sampah yang dibawanya. “Sesuai arahan Menteri LHK baru-baru ini, kita harus pastikan bahwa tidak ada sampah plastic yang berserakan dan mengurangi pemakaian plastik”, pungkasnya. Jadi bagi pengunjung wisata di Bukit Tekenang, siapkan botol plastik anda dan kemas makanan anda di wadah daur ulang sehingga kita berkontribusi juga dalam menjaga lingkungan. #liburannasyiktanpasampahplastik Sumber : Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Petugas BBTN Bromo Tengger Semeru Siaga Pelayanan Wisata Lebaran

Malang, 11 Juni 2018. Balai Besar Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS) selama cuti bersama Lebaran 1439 H tetap melakukan pelayanan terhadap pengunjung wisata G. Bromo dan Pendakian G. Semeru. Penjadwalan piket petugas telah dilakukan selama cuti bersama dari tanggal 9 s.d 20 Juni 2018 agar pelayanan pengunjung tetap berjalan. Berdasarkan data dari aplikasi booking online dari tanggal 17 s.d 23 Juni pendakian G. Semeru sudah mencapai full kuota. Selain penjadwalan petugas piket, BBTNBTS juga melakukan antisipasi terhadap hal-hal yang mungkin terjadi selama berwisata di TNBTS dengan pemasanngan papan-papan himbauan dan larangan agar tidak terjadi kecelakaan maupun hal lain yang tidak diinginkan. Pemasangan papan himbauan dan larang diletakkan di pintu masuk dan lokasi-lokasi wisata di TNBTS (Coban Trisula, Cemoro Lawang, Wonokitri, view point Penanjakan, Ranupani). Operasional kendaraan Roda 2/4 juga disiagakan ditempat-tempat strategis untuk evakuasi jika terjadi kecelakaan didalam kawasan wisata TNBTS. Mitra terutama Polisi, TNI serta para pelaku wisata (jeep, ojek, PKL, Hotel, kuda) juga diikutsertakan dalam pengamanan terhadap pengunjung selama libur lebaran tahun ini. “Saya harap seluruh pengunjung mematuhi semua yang tidak boleh dilakukan selama berwisata di TNBTS, utamanya dilarang merokok karena kondisi saat ini yang sudah masuk musim kemarau sehingga rawan terjadi kebakaran” tegas John Kenedie, Kepala BBTNBTS. John Kenedie juga menambahkan “Sampah terutama sampah plastik untuk dibuang di tempat sampah yang telah disediakan, selain itu untuk pendakian G.Semeru sampah yang dibawa oleh pendaki wajib dibawa kembali turun”. Kepadatan pengunjung terutama di G.Bromo biasanya terjadi sehari setelah hari Lebaran, seperti yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru
Baca Berita

Silaturahmi dan Koordinasi dengan Plt. Bupati Kuningan

Kuningan, 10 Juni 2018. Kepala Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Kuswandono menyempatkan diri mengajak pejabat strukturalnya bersilaturahmi dengan Plt.Bupati Kuningan, Dede Sembada disela-sela aktifitasnya (30/5). Kuswandono menyampaikan beberapa terobosan guna menyelaraskan program pengelolaan kawasan dan paradigma pengelolaan kawasan konservasi yang lebih progresif dan selaras dengan program pemerintah daerah. Dengan terjalinnya sinergitas yang baik antara pengelola kawasan dengan Pemerintah daerah dan stakeholder lainnya tidak sulit untuk mewujudkan hutan lestari untuk kedaulatan rakyat. Selanjutnya, Kuswandono mengajak pemerintah daerah Kabupaten Kuningan untuk ikut serta dalam pameran nasional Festival Taman Nasional dan Taman Wisata Alam (FTN-TWA) 2018 di Yogyakarta yang melibatkan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. Bahkan ke depan bisa bersama-sama untuk menyelenggarakan Festival Ciremai, yang mempromosikan semua potensi wisata dan budaya yang ada di dalam kawasan TNGC maupun di luarnya. Baik yang di wilayah kabupaten Kuningan, Majalengka dan Cirebon. Niat baik ini disambut positif dan antusias oleh Dede Sembada. “Saya akan tugaskan SKPD terkait untuk menindaklanjutinya, bersama-sama Balai TNGC. Semoga semakin menyemarakkan wisata di Kuningan dan semakin siap menerima limpahan kunjungan setelah diresmikannya Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati oleh Presiden Jokowi beberapa hari lalu.” Salah satu suksesnya pengelolaan kawasan konservasi, selain partisipasi aktif masyarakat sekitar diperlukan juga dukungan pemerintah daerah. Tanpa dukungan pemerintah daerah, pengelolaan kawasan konservasi tidak akan pernah berjalan mulus terutama dalam hal pengambilan keputusan yang berhubungan dengan kehutanan. Terkadang perlu memberikan pemahaman kepada pejabat daerah mengenai jangka panjang manfaat hutan konservasi, yang tidak hanya dilihat dari sisi ekonomi sesaat namun ekonomi, ekologi dan sosial yang berkelanjutan. Pengalaman menunjukan bahwa kesuksesan TNGC menggandeng masyarakat dalam pengelolaan kawasan tidak lepas dari peran aktif dan dukungan pemerintah daerah. [teks©?Nisa - BTNGC | foto©? Humas Kab Kuningan | 062018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Belajar Memahami Pemanfaatan Jasa Lingkungan Karbon

Kuningan, 10 Juni 2018. Bimbingan teknis (bimtek) pemanfaatan jasa lingkungan karbon digelar di ruang rapat kantor Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Peserta yang terdiri dari pejabat struktural, pejabat fungsional dan perwakilan staf lingkup Balai TNGC tampak antusias. Agenda bimtek diawali paparan Kepala Seksi Kawasan Suaka Alam dan Taman Buru, Sub Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Panas Bumi dan Karbon, Anton Eko Satrio. Diskusi dimoderasi langsung Kepala Balai TNGC, Kuswandono. Diskusi menarik membahas Potensi Stok Karbon di Taman Nasional, termasuk TNGC. Pertanyaan terkait bagaimana potensi karbon dengan jasa lingkungan wisata alam, bagaimana perhitungan karbon, dan sebagainya disampaikan peserta. Terdapat saran terkait perengkingan karbon di Taman Nasional jangan berdasarkan luasan Taman Nasional, namun berdasarkan satuan stok karbon per hektar untuk masing-masing taman nasional. “Untuk saat ini perhitungan karbon baru mencakup minimal luasan per hektar saja belum pada tegakan pohon itu sendiri”, ujar Anton, Kepala Seksi KSA dan Taman Buru mengakhiri paparannya. Sobat ciremai, hal menarik kegiatan bimtek ini adalah peserta dapat mengetahui pentingnya stok karbon. Perubahan iklim merupakan dampak langsung dari adanya pemanasan global. Pemanasan global adalah peristiwa meningkatnya suhu bumi yang terkait langsung dengan gas-gas rumah kaca (GRK) yang dihasilkan dari aktifitas manusia. Solusi mengatasi perubahan iklim akibat pemanasan global salah satunya adalah dengan meningkatkan cadangan karbon. Upaya bentuk partisifasi yang dilakukan dalam rangka menjaga stok karbon adalah mengurangi emisi, menjaga simpanan karbon dan meningkatkan simpanan karbon. Menurut hasil penelitian bahwa cadangan karbon terbesar yaitu ada pada hutan yang bagus. Taman Nasional sebagai benteng terakhir yang keberadaan hutannya masih bagus perlu dijaga kelestariannya. Upaya yang harus dilakukan yaitu, mencegah penebangan pohon secara liar, stop perambahan hutan dan kebakaran hutan. [ teks & foto ©? BTNGC - Oman DP | 062018 ] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Interaksi Positif Bandara Kertajati dengan Taman Nasional Gunung Ciremai

Kuningan, 9 Juni 2018. Sebagai upaya mendukung eco airport serta adanya identitas unik sebagai jati diri Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) melakukan silaturahmi dan menawarkan ide konsep reboisasi kawasan bandara dengan ciri khas tanaman asli gunung Ciremai. Hal tersebut juga sebagai wujud pelestarian tanaman lokal Jawa Barat. Kepala Balai TNGC, Kuswandono pada tanggal 5 Juni 2018 mengajak pejabat strukturalnya membicarakan ide ini ke pihak management BIJB dan bertemu langsung dengan Direktur Utama BIJB kertajati Virda Dimas Ekaputra yang didampingi bagian Humas Widodo, dan menyambut baik gagasan tersebut. Sebelumnya Widodo mengajak berkeliling melihat beberapa lokasi yang memerlukan penanaman di area bandara yang mempunyai luas 1.800 ha ini. Dimulai dari ruang muka sebagai “show window” bandara, hingga ke bagian lain bandara sebagai lokasi yang bisa diproyeksikan untuk rencana ini. Sebagai Informasi, Virda mengutarakan sebagai bandara terbesar kedua setelah Soekarno Hatta, bandara Kertajati siap mensukseskan target kunjungan 17 juta jiwa wisatawan mancanegara ke Indonesia sebagaimana program Kementerian Pariwisata RI. Pada tanggal 8 Juni 2018 akan dilakukan uji coba penerbangan perdana rute Kertajati - Surabaya menggunakan maskapai City Link, yang disusul rute ke beberapa kota besar lainnya di Indonesia dan mancanegara. Keberadaan bandara ini juga diharapkan dapat menggenjot perekonomian masyarakat lokal dan pemerintah daerah dari ”multiplier effect” yang dihasilkan melalui kunjungan wisata yang ditawarkan dan dikemas dalam bentuk paket-paket wisata menarik. Kuswandono menawarkan 64 titik destinasi wisata alam yang dapat menjadi alternatif tujuan kunjungan. Kesemuanya menawarkan konsep berwawasan lingkungan, nyaman, aman dan yang pasti lokasinya tidak terlalu sulit dicapai dari BIJB Kertajati. Satu hal yang penting, pada semua lokasi yang ditawarkan tersebut, wisata alam dikembangkan dan dikelola bersama masyarakat lokal. Yang berarti pula masyarakat menjadi pelaku wisata. Ajakan untuk berpartisipasi pada booth Balai TNGC dan sesi “talkshow” pada acara Festival Taman Nasional dan Taman Wisata Alam (FTN-TWA) 2018 juga disambut baik Virda. Sedianya acara tersebut akan diadakan di Yogyakarta yang melibatkan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan KLHK). [teks © Rizal | foto©Kus & Rizal - BTNGC | 062018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Letter From Ternate : Perjalanan Wallace di Maluku Utara

Sofifi, 9 Juni 2018. Untuk mengenang kembali perjalanan Sosok Alfred Russel Wallace di Maluku Utara. Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) kembali menggarap sebuah film dokumenter tentang napak tilas perjalanan sang Naturalis dan penjelajah asal Inggris Alfred Russel Wallace. Sebelumnya Balai TNAL pernah memproduksi film yang sama pada tahun 2017 dan sukses menyabet juara 3 di lomba film pendek Taman Nasional dan Taman Wisata Alam di Hari Konservasi Nasional dan Festival TN dan TWA 2017 di Banyuwangi. Merasa bahwa cerita Wallace di Ternate dan halmahera sangat menarik, Balai TNAL mengangap perlu untuk membuat kembali film dokumenter ini yang melanjutkan film dokumenter sebelumnya. Yang berbeda dalam film dokumenter ini adalah narasumbernya. Beberapa narasumber berasal dari ahli dibidangnya seperti Prof. Jatna Supriatna dari Akademisi dan ketua yayasan Wallace Indonesia, Mr. Mehd Halaouate dari Birding Indonesia and World Parrot Trust USA, Mr. Simon G Purser Direktur Wallacea Nature Conservation dan Iskandar, Pemerhati lingkungan dan pencinta Burung tutur Muhammad Wahyudi, Kepala Balai TNAL. Film dokumenter ini mengisahkan tentang perjalanan Wallace selama berada di Maluku Utara. Film yang berjudul “Letter From Ternate” (Surat dari Ternate) adalah murni di produksi oleh Balai TNAL. Mulai dari konsep awal sampai dengan penyusunan naskah, bahkan kameraman sampai editor pun semuanya staf (ASN) Balai TNAL. Lokasi shooting pun dilakukan di kawasan TNAL dan Kota Ternate. kata Wahyudi. Tujuan pembuatan film dokumenter ini selain untuk di ikut sertakan dalam lomba Film Pendek di Festival Taman Nasonal dan Taman Wisata Alam di Candi Prambanan Yogyakarta pada bulan Juli mendatang juga sebagai bahan promosi wisata sejarah dan minat khusus tentang napak tilas jejak perjalanan Alfred Russel Wallace di TNAL serta untuk mengingat kembali kepada generasi muda tentang perjalanan penting Wallace di Maluku Utara sehingga tercetusnya teori “Evolusi” yang saat ini perlahan lahan mulai terlupakan oleh masyarakat Indonesia khususnya di Maluku Utara. Sumber : M. Sofyan Ansar - Polhut Balai Taman Nasional AketajaweLolobata
Baca Berita

BBKSDA Jabar Menerima Penyerahan 2 Raptor Dari Lokasi Yang Berbeda

Kuningan, 8 Juni 2018. Tim Gugus Tugas Penyelamatan dan Evakuasi TSL SKW VI Tasikmalaya menerima informasi adanya kepemilikan Elang Jawa (Nizaetus bartelsi) di wilayah Kab. Kuningan (7/6). Menindaklanjuti informasi tersebut, Tim Gugus Tugas langsung melakukan pengumpulan bahan keterangan, dimana sebelumnya melakukan koordinasi terlebih dahulu dengan Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC) sebagai UPT Ditjen KSDAE yang lokasi kantornya berada di Kab. Kuningan (7/6). Berdasarkan hasil kegiatan pulbaket bersama antara Tim Gugus Tugas dengan petugas BTNGC tersebut, diperoleh informasi A1 (benar) mengenai keberadaan satwa Elang Jawa tersebut. Selanjutnya, pada tanggal 8 Juni 2018, Tim Gugus Tugas dibantu beberapa petugas BTNGC segera melakukan upaya-upaya persuasif untuk melakukan penyelamatan terhadap satwa tersebut. Setelah dilakukan upaya-upaya secara persuasif dan sosialisasi dengan memberikan penjelasan UU No. 5 Tahun 1990 dan PP No, 7 Tahun 1999, yang bersangkutan dapat memahami dan bersedia menyerahkan secara sukarela kepada Tim Gugus Tugas dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. Adapun nama pemilik satwa Elang jawa tersebut berinisial DS yang tinggal di Komplek Perum Panorama Bandorasa Cilimus, Kuningan dan merupakan karyawan swasta. Menurut keterangan yang bersangkutan, bahwa satwa berasal dari pembelian dari temannya yang menurut keterangannya asal satwa dari hasil temuannya yang berlokasi di sekitaran Desa Trijaya Kab, Kuningan yang masih berdekatan dengan kawasan BTNGC. Penyerahan satwa ini disaksikan langsung Kepala Balai TNGC. Untuk penanganan lebih lanjut dan untuk kepentingan pelepasliaran kembali ke habitatnya, Elang jawa berumur sekitar 8 bulan tersebut dititiprawatkan di Pusat Konservasi Elang Kamojang-Garut. Pada hari yang sama (8/6), diujung barat wilayah kerja BBKSDA Jabar, tepatnya di Seksi Konservasi Wilayah I Serang, Tim Gugus Tugas Evakuasi TSL SKW I Serang telah menerima penyerahan satwa yang dilindungi dari SATKRIMSUS POLRES SERANG KOTA yg merupakan hasil operasi dari penjualan secara online oleh seorang warga kota Serang, satwa tersebut adalah Elang ular bido (Spilornis cheela) sebanyak satu ekor dalam keadaan sehat, jenis kelamin jantan dan umur sekitar 2 tahun, saat ini satwa tersebut masih diamankan di kantor SKW I Serang untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

Setahun Program Desa Binaan di Kampung Tablasupa

Jayapura, 8 Juni 2018. Kampung Tablasupa berada di Resort Tepera, salah satu dari lima resort di kawasan C.A. Pegunungan Cycloop, Papua. Sejak tahun 2017 telah dibentuk Desa Binaan Kena Nembey sebagai salah satu program yang dicanangkan oleh kepala resort, Chandra Marbun. Peserta Desa Binaan berjumlah 30 orang, yang mayoriras adalah mama-mama. Mereka terbagi dalam kelompok olahan sagu, olahan ikan, dan souvenir. Kamis, (7/5) mereka berkumpul di Balai Kampung Tablasupa untuk melakukan evaluasi program yang berlangsung satu tahun. Berbagai persoalan yang mereka hadapi selama satu tahun dituangkan dalam cerita-cerita hangat bernuansa kekeluargaan. Ketiga kelompok, melalui perwakilan masing-masing menyatakan rasa terima kasih kepada BBKSDA Papua, atas dukungan berupa pemberian peralatan yang diperlukan. Kelompok olahan ikan telah memproduksi abon dari ikan laut. Demikian pula kelompok olahan sagu, telah memproduksi beberapa macam kue kering dari bahan sagu. Di sisi lain kelompok souvenir menyatakan adanya kendala, salah satunya adalah belum maksimalnya kemampuan mereka mengoperasikan mesin pembuat souvenir yang tersedia. Selain itu, masalah pemasaran juga diungkapkan dalam pertemuan evaluasi. Produk-produk yang mereka hasilkan selama ini hanya dijual di kalangan warga Kampung Tablasupa. Mereka berharap suatu saat bisa memasarkan produk-produk olahan itu dapat dipasarkan dalam skala yang lebih luas. Chandra Marbun selaku penanggung jawab Desa Binaan Kena Nembey memberikan kesempatan kepada semua anggota untuk menyampaikan apa yang mereka harapkan. “Kami rasa perlu diadakan pelatihan, baik itu mengolah sagu, mengolah ikan, juga membuat souvenir. Supaya kami punya hasil itu bisa lebih baik lagi,” ungkap salah satu peserta dari kelompok souvenir. (Dzikry) Sumber : Balai Besar KSDA Papua
Baca Berita

Apel Sore Terakhir BKSDA Sulteng di Bulan Ramadhan

Palu, 8 Juni 2018. Balai KSDA Sulawesi Tengah (BKSDA Sulteng) mengadakan apel sore terakhir di bulan Ramadhan tahun ini. Apel sore dipimpin langsung Kepala Balai BKSDA Sulteng. Dalam himbauannya, Kepala Balai menegaskan agar semua staf sesudah cuti bersama hari raya Idul fitri agar tidak menambah hari liburnya lagi. Hal ini sesuai dengan edaran dari Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, bahwa akan dilakukan pemantauan kehadiran aparatur negara sesudah cuti bersama yaitu pada tanggal 21 Juni 2018 dan melaporkannya pada hari yang sama kepada Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Kepala Balai KSDA Sulteng sendiri juga akan berkantor kembali pada tanggal 21 Juni 2018. Selain itu dalam penyampaian apel sore tadi (8/6), Kepala Balai juga mengucapkan selamat berpuasa bagi yang menjalankan ibadah puasa dan selamat Idul fitri 1439 H, mohon maaf lahir dan batin. Sumber : Balai KSDA Sulawesi Tengah
Baca Berita

Ruyung, Elang Jawa yang Segera Menjalani Rehabilitasi

Kuningan, 8 Juni 2018. Untuk kesekian kalinya, Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) menerima laporan dari masyarakat adanya elang Jawa yang dipelihara di salah satu rumah warga. Tepatnya di Bandorasa, Cilimus, Kuningan. Setelah mendapat informasi pada 7 Juni 2018, Balai TNGC berkoordinasi dengan Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam (BBKSDA) Jawa Barat yang berwenang dalam penanganan peredaran satwa terutama satwa dilindungi. Kepala Balai BBKSDA Jawa Barat langsung menginstruksikan Kepala Bidang Wilayah KSDA setempat untuk berkoordinasi dengan Polisi Hutan (Polhut) BTNGC untuk melakukan penelusuran dan pendekatan kepada yang bersangkutan. Tanggal 8 Juni 2018, tim dari BBKSDA Jabar bersama dengan Polisi Kehutanan TNGC melakukan pendekatan persuasif. Yang bersangkutan mengaku mendapat elang Jawa yang ditawarkan oleh temannya yang berkediaman di wilayah Trijaya, Mandirancan. Menurut temannya, burung yang diperkirakan berumur 2 bulanan tersebut jatuh dan diambil untuk dipelihara. Kemudian burung berpindah tangan dan dipelihara yang bersangkutan sejak enam bulan lalu. Setiap harinya diberi makan daging ayam dan burung gereja. Tim BBKSDA Jawa Barat memberikan pemahaman dan informasi bahwa tidak sembarang satwa dapat dipelihara apalagi statusnya dilindungi undang-undang dan meminta yang bersangkutan untuk menyerahkan burung tersebut. Akhirnya dengan suka rela pemilik menyerahkan langsung burung elang Jawa kepada petugas Balai BBKSDA Jawa Barat yang disaksikan oleh petugas dari BTNGC. Selanjutnya elang Jawa bernama Ruyung ini akan direhabilitasi hingga pada saatnya nanti elang Jawa siap dilepasliarkan di tempat tinggalnya yaitu TNGC. Kondisi elang Jawa pada saat diserahkan dalam kondisi sehat dan tidak ada cacat pada anggota tubuhnya. Burung elang Jawa sebagai lambang Negara Republik Indonesia nampak gagah dan elok rupawan. Warna bulu dominan coklat kekuningan, jambul yang tinggi dan sorot mata tajam membuat siapapun terkesima. Elang Jawa merupakan salah satu satwa kunci Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) yang statusnya berdasarkan IUCN terancam punah dan dilindungi undang-undang. Hidupnya yang soliter dan bereproduksi paling banyak 1 kali dalam setahun membuat satwa ini rentan punah di alam. Keberadaannya di alam sebagai “top predator” juga mengalami ancaman ketika hutannya hilang dan perburuan oleh manusia. Sobat ciremai, kita boleh saja mencintai satwa yang ada di sekitar kita. Namun kita juga harus mengetahui apakah satwa tersebut merupakan jenis satwa peliharaan atau dilindungi. Bahkan ketika mendapatkannya dari kawasan hutan konservasi, apapun status satwanya, kegiatan tersebut dilarang. Apabila terbukti bersalah maka akan dikenakan pidana sesuai yang tertuang pada undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Lagipula mereka adalah satwaliar yang membutuhkan ruang untuk bergerak dan hidup alami. Apabila kita memang menyayangi satwa, lebih baik kita ikut menjaga agar mereka dapat hidup dengan baik di habitatnya, di alam bebas. Cintailah satwa yang ada di hutan TNGC dengan bijak tanpa harus memilikinya. [teks © Nisa, foto © Kuswandono- BTNGC | 062018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Sang Penjaga Gunung Ciremai

Kuningan, 8 Juni 2018. Sobat Ciremai, untuk mendukung tugasnya, Polisi Kehutanan (Polhut) dilengkapi dengan sarana mobilisasi dan alat-alat kepolisian khusus seperti senjata api. Dalam struktur organisasi Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Polhut tergabung dalam Resor PPH di Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Kuningan dan SPTN Wilayah II Majalengka dikoordinasikan oleh Kepala Satuan Tugas. Sobat Ciremai, pengumpulan data dan informasi PPH merupakan langkah penting dalam tugas Polhut. Oleh karenanya perlu konsolidasi internal Polhut dan koordinasi eksternal dengan Polri. Kedua kegiatan itu mesti dilakukan secara rutin dan intens. Pada 14 April lalu telah dilaksanakan pertemuan Polhut yang bertempat di Bumi Perkemahan Leles di Desa Padaherang, Sindangwangi, Majalengka, Jawa Barat. Selain konsolidasi, koordinasi dan sharing pengalaman juga dilakukan latihan kesamaptaan sebagai unjuk kekuatan Polhut. Hadir pula Kapolsek Sindangwangi yang memberikan arahan terkait pelaksanaan tugas di lapangan. Polisi Kehutanan (Polhut) adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang bertugas untuk melakukan perlindungan dan pengamanan hutan (PPH). Penegakan hukum lingkungan hidup dan kehutanan seperti "illegal logging", perburuan tumbuhan dan satwa liar serta pengendalian kebakaran hutan adalah beberapa tugas Polhut. Sobat Ciremai, ayo kita ringankan tugas Polhut dengan mematuhi peraturan yang berlaku ketika berada dalam kawasan hutan konservasi TNGC.[teks dan foto ©? BTNGC - Maman Durahman|062018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Dua Ekor Elang Predator Direlease BKSDA Aceh

Banda Aceh, 7 Juni 2018. Balai KSDA Aceh kembali melepasliarkan 2 (dua) ekor burung elang yaitu 1 (satu) ekor burung elang brontok (Nisaetus cirrhatus) berumur 3 tahun dengan jenis kelamin betina dan 1(satu) ekor burung elang ular bido (Spilornis cheela) yang berumur 3 tahun dengan jenis kelamin betina dalam kondisi baik dan sehat. Kedua elang tersebut berasal dari Kabupaten Aceh Utara dan Kabupaten Aceh Besar yang diserahkan oleh masyarakat secara sukarela dan telah di rawat dikandang rehabilitasi Balai KSDA Aceh selama 1 bulan. Kedua ekor satwa dilindungi tersebut sudah dewasa dan menunjukkan tanda liar, hal ini diketahui dari sering bersuara, sehat, lincah aktif serta tidak cacat sehingga dinilai layak untuk dilakukan pelepasliaran dengan pertimbangan satwa jenis aves tidak baik berada dikandang terlalu lama karena mempengaharui faktor psikis satwa yang terbiasa diberi pakan dan akan kesulitan terbang di alam. Setelah dilepasliarkan satwa elang tersebut tetap dalam pemantauan sampai beberapa hari. Sumber : Balai KSDA Aceh
Baca Berita

Panda Melahirkan Tapir Di Batu

Probolinggo, 7 Juni 2018. Setelah berhasil mengembangbiakkan Gajah Sumatera dan Orangutan Kalimantan pada Juli 2017 yang lalu, Lembaga Konservasi PT. Bunga Wangsa Sejati berhasil lagi dalam mengembangbiakkan salah satu jenis satwa yang dilindungi undang-undang. Adalah seekor Tapir (Tapirus indicus) berjenis kelamin betina yang lahir di Batu Secret Zoo pada 2 Juni 2018 sekitar pukul 05.00 WIB. Anak Tapir tersebut lahir secara normal setelah sekitar 13 bulan dalam kandungan induknya. Ia hasil dari perkawinan indukan bernama Mogi (jantan) dan Panda (betina). Indukan Tapir tersebut sebelumnya merupakan satwa koleksi Lembaga konservasi Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan (TMSBK), Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Melalui kerjasama antar Lembaga konservasi, Tapir tersebut dihibahkan kepada PT. Bunga Wangsa Sejati, Kota Batu pada 20 April 2015. Dalam IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) Redlist, saat ini Tapir masuk dalam kategori Endangered atau terancam punah. Di habitatnya, Sumatera, lebih dari 50% hutan yang tersisa berada di luar habitat Tapir. Adanya pembalakan liar dan perambahan hutan akan mengakibatkan hilangnya hampir semua habitat Tapir di luar kawasan konservasi pada tahun 2005. Tak ada data yang akurat mengenai estimasi populasi Tapir saat ini, namun diperkirakan jumlahnya antara 400-500 ekor individu dewasa. (Mohamad Sukron Makmun, PEH SKW VI Probolinggo) Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 7.713–7.728 dari 11.140 publikasi