Senin, 20 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

BBKSDA Jabar Kembalikan Macan Tutul Yang Tersesat Kembali Ke Habitatnya

Bandung, 21 Juni 2018. Seperti telah diinformasikan sebelumnya bahwa Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat (BBKSDA Jabar), pada hari Minggu tanggal 3 Juni 2018 telah melalukan evakuasi terhadap seekor Macan Tutul (Panthera pardus melas) muda yang terperangkap di kandang unggas warga Kampung Ciruntah, Desa Cihideung, Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung. Berkat kerjasama yang dilakukan antara Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan TSL BBKSDA Jabar dengan petugas Kebun Binatang Bandung dan masyarakat, Macan Tutul yang terperangkap berhasil dilumpuhkan dengan senjata bius pada Senin tanggal 4 Juni 2018 dinihari yang lalu. Macan Tutul dengan jenis kelamin jantan yang diperkirakan berumur 1,5 tahun dengan berat ± 25 kg tersebut diduga berasal dari Cagar Alam Gunung Tilu. Pasca dilumpuhkan selanjutnya dilakukan dievakuasi ke Kebun Binantang Bandung untuk dilakukan pemeriksaan kesehatan dan pemulihan. Sesuai laporan dari Kepala Kesehatan dan Penelitian Kebun Binatang Bandung, Drh. Dedi Trisasongko, melalui surat yang ditujukan kepada Kepala Balai Besar KSDA Jawa Barat, dijelaskan berdasarkan hasil pemeriksaan secara fisik yang dlakukan pada tanggal 20 Juni 2018 terhadap Macan Tutul (Panthera pardus melas), bahwa makanan yang diberikan berupa campuran daging ayam sebanyak 2 kg dan daging sapi sebanyak 1 kg setiap harinya habis termakan, telah diberikan multivitamin untuk mempertahankan daya tahan tubuh, kondisi kesehatan secara umum baik dicirikan oleh satwa yang aktif dan respon yang baik serta nafsu makan baik, juga kondisi feses yang berbentuk. Setelah menjalani pemulihan selama ± 17 hari dengan hasil seperti dijelaskan diatas, maka dinyatakan bahwa Macan Tutul (Panthera pardus melas) tersebut layak untuk dikembalikan ke “Rumah” nya. Berdasarkan laporan tersebut, maka hari ini, Kamis tanggal 21 Juni 2018, Balai Besar KSDA Jawa Barat memutuskan untuk melepasliarkan Macan Tutul (Panthera pardus melas) di habitat asalnya yaitu kawasan Cagar Alam Gunung Tilu tepatnya di blok Cikakapa Pangalengan Kab. Bandung. Dimana sebelumnya pada lokasi tersebut telah dilakukan survey oleh tim BBKSDA Jabar dan dianggap cocok untuk lokasi pelepasliaran dan didukung oleh data dan informasi sebelumnya bahwa lokasi tersebut merupakan habitat Macan Tutul. Pada kesempatan pelepasliaran ini, Balai Besar KSDA Jawa Barat diwakili oleh Kepala Bidang KSDA Wilayah II Soreang dan Seksi Konservasi Wilayah III Bandung serta jajarannya, sedangkan dari pihak Kebun Binatang Bandung diwakili oleh Kepala Kesehatan dan Penelitian Kebun Binatang Bandung dan Marketing Komunikasi Kebun Binatang Bandung. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

Asyiknya Tamasya ke Curug Cipeuteuy di Kaki Gunung Ciremai

Majalengka, 21 Juni 2018. Curug Cipeuteuy di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) terletak di desa Bantaragung, Sindangwangi, Majalengka, Jawa Barat. Obyek wisata ini dikelola Koperasi Agung Lestari yang beranggotakan masyarakat setempat. Saat ini Curug Cipeuteuy sedang “hits” dan digandrungi semua kalangan dari yang muda hingga orang tua pada saat "weekend" dan libur panjang. Pada liburan Idul Fitri kemarin, jumlah pengunjung berkisar 500 sampai 1000 orang per hari. Jumlah tersebut cukup banyak untuk kunjungan wisata di Majalengka. Sobat Ciremai, kesegaran dan kesejukan udara khas Gunung Ciremai menjadi hal yang paling menarik untuk dinikmati oleh pengunjung di Curug Cipeuteuy. Dinginnya kolam Curug Cipeuteuy menjadi "spot" berikutnya yang mampu memanjakan pengunjung. Nilai tambahnya, kolam ini dipercaya memiliki khasiat untuk kesehatan seperti membantu menyembuhkan rematik, encok dan pegel linu. Atraksi "Animal Watching", "Hiking", Arboretum, "Spot Selfie" dan kedai suvenir khas Bantaragung seperti gantungan kunci menjadikan Curug Cipeuteuy sebagai destinasi komplit yang mesti dikunjungi. Sobat Ciremai, jangan ketinggalan “kekinian” untuk “update status” di Curug Cipeteuy, ayo tamasya ke TNGC. [teks dan foto©?Gandi Mulyawan-BTNGC|062018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Ki Pait “Tumbuhan Insulin”

Kuningan, 21 Juni 2018. Tumbuhan ini banyak tumbuh di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) terutama ditempat terbuka, keberadaanya tumbuh liar dan cepat tumbuh sulit dikendalikan. Dua hari yang lalu ketika melakukan kegiatan Monitoring Elang Jawa diblok Sayana tumbuhan tersebut menarik perhatian hanya dengan melihat bunganya. Warna bunga tumbuhan ini berwarna kuning mirip dengan bunga matahari. Jika diperhatikan dengan seksama daun-daun tumbuhan ini mulus dan tidak ada ulat atau serangga yang memakannya lalu mencari tahu lebih jauh tentang khasiat dan manfaatnya dimbah google ternyata sungguh diluar dugaan banyak sekali kegunaannya. Tumbuhan dengan bunga warna kuning tersebut disebut oleh masyarakat setempat dengan nama Ki Pait (Tithonia diversifolia) dari suku Asteraceae. Tumbuhan Ki Pait mempunyai banyak manfaat diantaranya sebagai pestisida nabati, Tumbuhan ini sangat tahan serangan hama dan penyakit. Tumbuhannya tidak dimakan serangga atau ulat. Daunnya mulus tidak ada lubang-lubang. Selama pengamatan tidak ada penyakit yang menyerang tumbuhan Ki Pait ini. Mungkin kemampuan ini dikarenakan Ki Pait memiliki kandungan senyawa yang tidak disukai penyakit atau beracun bagi hama serangga, sehingga tidak ada hama dan penyakit yang bisa menyerangnya. Senyawa ini bisa diekstrak dan dimanfaatkan sebagai bahan untuk pestisida nabati. Tidak hanya sebagai pestisida nabati, Ki Pait juga bisa digunakan untuk mengatasi penyakit kencing manis atau diabetes. Oleh karena itu, Ki Pait juga dikenal sebagai tumbuhan insulin. Ki Pait bisa mengendalikan kandungan gula darah selayaknya insulin. Berikut ini resep pemanfaatan daun Ki Pait untuk mengatasi kencing manis berdasarkan beberapa sumber di Google. 1. 10 lembar daun Ki Pait 2. Rebus dengan 4 gelas air hingga tinggal satu gelas. 3. Minum 1 gelas x 3 kali sehari. Jadi sisa airnya diminum pagi hari, siang hari, dan sore hari. Untuk pengobatan diminum 3 kali sehari. Jika sudah mulai membaik dapat diturunkan sekali atau dua kali sehari. [teks & foto ©? BTNGC – Iwan Sunandi | 062018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

KSDA NTB dan Polres KP3 Pelabuhan Lembar Amankan 7 box berisi Satwa Liar

Lombok, 20 Juni 2018. Memasuki hari terakhir libur Cuti Lebaran Tahun 2018, Balai KSDA NTB yang berkoordinasi dengan Anggota Polres KP3 Pelabuhan Lembar mengamankan 7 box yang berisi Satwa Liar berupa burung yang sama sekali tidak disertai dokumen sahdi Pelabuhan Lembar, Lembar, Lombok Barat. Berawal dari laporan masyarakat yang melihat dan mencurigai Bus yang melakukan bongkat muat 7 box diatas kapal Ferry yang berangkat dari Pelabuhan Padang Bai Bali menuju Pelabuhan Lembar Lombok. Balai KSDA NTB melalui Polhut Petugas Pos Pelabuhan Lembar yang berkoordinasi dengan Anggota Polres KP3 Pelabuhan Lembar pun langsung menunggu kedatangan bus yang dimaksud untuk dilakukan pemeriksaan. Dan benar saja, dengan didampingi aparat Kepolisian yang sedang berjaga di Pelabuhan Lembar, Pemeriksaan pun dilakukan dan didapati 7 box di dalam bagasi bus yang berisi satwa dilindugi berupa Burung Beo Nias sebanyak 4 ekor dan satwa yang tidak dilindungi (burung) termasuk Jalak 15 ekor, Teledekan Dara 9 ekor, Poksai 2 Ekor, Pelatuk 1 ekor, Cicak Ranting 1 Ekor, Gagak 4 Ekor, dan Perkutut 8 Ekor. Dengan pertimbangan ada penumpang bus yang harus antar, Petugas mengamankan KTP Supir Bus dan Kernet serta nomor polisi bus untuk besok hadir di Kantor BKSDA NTB guna dimintai keterangan. Hingga berita ini diturunkan satwa-satwa telah diamankan untuk penyelidikan lebih lanjut. Sumber : Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

Band Slank Nikmati Liburan di TN Matalawa

Waingapu, 20 Juni 2018. Pulau Sumba yang namanya mulai menanjak sebagai salah satu destinasi wisata di Indonesia mulai banyak dikunjungi oleh selebritis-selebritis tanah air. Meningkatnya kunjungan ke Pulau Sumba juga meningkatkan kunjungan ke salah satu objek wisata Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) yaitu air terjun Lapopu. Pada masa libur lebaran, air terjun ini dikunjungi oleh salah satu band papan atas Indonesia yaitu Slank. Kaka dan Bimbim Slank mengunjungi air terjun Lapopu pada tanggal 20 Juni 2018 beserta para kerabat dan keluarganya. Mereka terlihat sangat menikmati keindahan air terjun Lapopu dengan menghabiskan waktu berenang di air terjun tersebut.(dpn/mtlw) Sumber: Balai TN Matalawa
Baca Berita

Demi Kehidupan Seekor Anak Kucing Hutan

Sukabumi, 20 Juni 2018. Menindaklanjuti pengaduan masyarakat di media social Facebook, mengenai keberadaan seekor anak Kucing Hutang yang tidak terurus di sebuah Villa daerah Warung Kiara Sukabumi, maka pada tanggal 19 Juni 2018, Tim Gugus Tugas Penyelamatan dan Evakuasi TSL Seksi Konservasi Wilayah II Bogor Resort Sukabumi segera menindaklanjuti pengaduan tersebut. Dalam upaya penanganan yang lebih baik dari aspek animal welfare dan ketersediaan kandang evakuasi, maka Tim Gugus Tugas berkoordinasi dengan Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga (PPSC) yang berkedudukan di Nyalindung Sukabumi. Berdasarkan informasi dari masyarakat setempat bahwa posisi villa Pasir Cabe berada di punggung bukit dengan jarak tempuh lebih kurang 2 km. Tim Gugus Tugas melakukan pendekatan persuasif dengan menyampaikan infromasi tentang peraturan yang berkenaan dengan perlindungan dan pengawetan satwa liar yang dilindungi UU yaitu UU No. 5/1990 dan PP No. 7/1999, akhirnya dengan penuh kesadaran pemilik menyerahkan satwa tersebut kepada petugas. Berdasarkan pengakuan pemilik berinisial IR yang tinggal di Kampung Pasir Cabe Desa Sirnajaya Kec. Warung Kiara Kab. Sukabumi, bahwa asal usul satwa kucing hutan tersebut ditemukan di kebun dan selanjutnya dipelihara dengan diberi makan pisang, pepaya serta susu. Dengan informasi tersebut akhirnya, Tim Gugus Tugas memutuskan bahwa satwa tersebut perlu dirawat dan diperiksa kesehatannya terlebih dahulu sebelum dilepasliarkan. Akhirnya satwa tersebut dibawa ke PPSC untuk dilakukan pemeriksaan kesehatan fisik dan selanjutnya dilakukan rehabilitasi. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

Intip Pengamanan Objek Wisata Alam di TN Gunung Ciremai Saat Lebaran

Kuningan, 20 Juni 2018. Selama libur, termasuk saat hari raya keagamaan, di setiap obyek wisata alam yang ada di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) biasanya ramai dikunjungi wisatawan dari dalam kota maupun luar kota. Saat ini TNGC dengan luas kawasan 14.841,3 hektar, mempunyai obyek daya tarik wisata alam (ODTWA) sebanyak 64 obyek, yang tersebar di 2 wilayah kabupaten. Di Kuningan terdapat sebanyak 45 obyek dan di Majalengka terdapat sebanyak 19 obyek. TNGC sebagai pengelola kawasan melakukan pengawasan di lokasi objek wisata alam, khususnya pada saat libur hari raya. Pengawasan dilakukan bersama-sama Polisi Kehutanan (Polhut), petugas fungsional Pengendali Ekosistem Hutan (PEH), petugas Penyuluh dan masyarakat mitra wisata serta pihak terkait lainnya. Pengawasan saat liburan hari raya Idul Fitri dilakukan dari tanggal 16 hingga 20 Juni 2018. Pelayanan pengaduan melalui “call center” selama libur tetap dilayani setiap hari. Dengan adanya pengawasan pengunjung pada saat libur hari raya, diharapkan pengunjung tetap merasa aman dan nyaman pada saat melakukan kunjungan wisata di TNGC. [teks & foto ©? Syarifudin-BTNGC | 062018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Tak Mampu Berkelit, Pemilik Kios Angkut Kembali Tumpukan Sampah Dari Kawasan TN Matalawa

Waingapu, 20 Juni 2018. Sampah sampai saat ini menjadi sebuah permasalahan yang sangat pelik karena berhubungan dengan kesadaran masing-masing individu dalam menjaga kebersihan. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya pun sampai turun tangan menangani sampah di jalur mudik lebaran. Tak hanya di jalur mudik, kawasan Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) yang sebagian letak kawasannya berada di pinggir jalan utama, menjadi lokasi pembuangan sampah para individu maupun korporasi yang tidak bertanggung jawab. Seperti yang ditemukan petugas pada hari Selasa (19/6), sampah bertumpuk pada pinggir kawasan yang terdiri dari sampah organik dan anorganik. Setelah diidentifikasi, tumpukan sampah tersebut adalah milik sebuah kios di Kecamatan Lewa, Kabupaten Sumba Timur. Petugas kemudian mendatangi pemilik kios dan melakukan pendekatan persuasif agar ia mau bertanggungjawab dan memungut sampahnya kembali. Pemilik kios bersedia bertanggungjawab untuk membersihkan sampah dengan mengerahkan armada truk miliknya. Selain menuntut pertanggungjawaban memungut sampah, petugas juga memberikan pemahaman kepada pemilik kios untuk mengelola dan membuang sampahnya pada tempat yang telah disediakan.(omy/mtlw) Sumber: BTN Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti
Baca Berita

Legenda Situs 1001 Tangga Manguntapa, Gunung Ciremai

Ada pepatah yang menyebutkan “tanpa cerita semua tak bermakna”. Pepatah tersebut sangat pas dengan lokasi wisata Alam di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Semua lokasi memiliki cerita tersendiri, termasuk di 1001 Tangga Manguntapa. Lokasi wisata alam ini dikembangkan sejak tahun 2017. Dikelola oleh kelompok Benda Langit, masyarakat Desa Singkup, Pasawahan, Kuningan. Dari lokasi berbukit batu ini disuguhkan panorama alam kota Majalengka, Cirebon, Kuningan dan Gunung Ciremai dari kejauhan. Lokasi 1001 Tangga Manguntapa memiliki situs dan legenda tersendiri yang cukup menarik. Situs Ki Buyut Manguntapa, yang konon merupakan keturunan para wali yang menyebarkan agama Islam di tataran wilayah utara Gunung Ciremai. Juga terdapat air Kahuripan yang dikeramatkan dan dijaga oleh masyarakat sekitar desa Singkup. Beberapa orang yang berasal dari berbagai daerah terlihat sering berkunjung ke lokasi ini khususnya pada malam 1 Suro atau 1 Muharram. Cerita legenda yang beredar di masyarakat adalah tentang kepala singa. Berdasarkan cerita masyarakat, dahulu ada seorang yang gagah perkasa sakti mandraguna, “saciduh metu saucap nyata” (ucapannya mujarab). Namun karena kesombongannya merusak hutan yang ada di lokasi tersebut, ia kena petaka menjadi batu yang menyerupai kepala singa. Keberadaan situs Ki Buyut Manguntapa dan kepala singa berada pada satu hamparan dengan 1001 Tangga Manguntapa. Lokasi dengan ketinggian 345-400 mdpl dapat membangkitkan sensasi tersendiri bagi pengunjung yang berkunjung. Tak jarang pengunjung datang untuk menikmati suasana sore, hingga munculnya bulan dan bintang, terkadang ada juga yang bermalam. Situs dan legenda mengingatkan kita bahwa sejak lama alam ini mencoba menjaga keseimbangan diri dan bertahan dari gangguan apapun. Keberadaan manusia seharusnya bukan menjadi pengganggu, namun menjadi bagian dalam menjaga keseimbangan alam secara berkelanjutan. [teks ©? Dadan - BTNGC & foto ©? Kelompok Benda Langit | 062018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Tim Himakova IPB Eksplorasi TN Aketajawe Lolobata di Agustus 2018

Sofifi, 19 Juni 2018. Tahun ini Tim SURILI akan mengeksplorasi Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL). Sukses dengan ekspedisi yang pernah dilakukan oleh Tim SURILI 2014 di Blok Aketajawe, kali ini Tim SURILI 2018 akan menjelajah Blok Lolobata. Potensi keanekaragaman hayati, keindahan lanskap, dan kehidupan sosial budaya masyarakat di sekitar TNAL merupakan kekayaan nusantara yang patut digali dan dikaji. Pada tanggal 18 Oktober 2017 HIMAKOVA telah melakukan Audiensi Studi Konservasi Lingkungan dengan pihak Balai TNAL di Ruang Sidang Komodo Fakultas Kehutanan IPB untuk mempersiapkan ekspedisi ilmiah ini. Mengusung tema “Menyingkap Keeksotisan Potensi Hayati di Bumi Halmahera dalam Balutan Budaya Masyarakat Suku Tobelo Dalam”, sebanyak 68 anggota Tim SURILI 2018 akan diberangkatkan pada tanggal 15 Agustus 2018. Selama sepuluh hari Tim SURILI 2018 akan menggali potensi flora, fauna, ekowisata, dan sosial budaya masyarakat di TNAL. Tim SURILI 2018 didampingi para pengelola Balai TNAL akan dibagi ke dalam 9 tim,yaitu Kelompok Pemerhati (KP) Mamalia, KPBurung, KP Herpetofauna, KP Kupu-Kupu, KP Flora, KP Gua, KP Ekowisata, Tim Fotografi Konservasi, dan Tim Sosial Budaya. Aksi nyata kepedulian HIMAKOVA terhadap kekayaan alam Indonesia diwujudkan melalui ekspedisi ini. Sudah saatnya generasi penerus bangsa bergerak menjadi agen konservasi Indonesia. Dengan adanya ekspedisi ini, diharapkan dapat hmendukung upaya konservasi sumber daya alam hayati, beserta pengelolaannya. Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata (HIMAKOVA) Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) menggelar ekspedisi ilmiah, dengan nama SURILI (studi konservasi lingkungan). SURILI merupakan kegiatan tahunan HIMAKOVA yang telah terlaksana selama 14 kali sejak tahun 2004 di beberapa kawasan konservasi. Pada tahun 2016 kegiatan SURILI HIMAKOVA tercatat di dalam Rekor MURI sebagai kegiatan ekspedisi terlama dan berkelanjutan yang dilakukan oleh mahasiswa. Tercatat sebanyak 13 taman nasional dan 1 suaka margasatwa telah dijelajahi oleh Tim SURILI. Sumber : Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata dan Humas Surili Himakova 2018
Baca Berita

Petugas Balai TN Bantimurung Bulusaraung Tetap Setia Layani Pengunjung

Bantimurung, 19 Juni 2018. Berkah tak hanya bagi mereka yang merayakan hari kemenangan. Kawasan Wisata Bantimurung juga merasakan keberkahan tersendiri. Hari libur yang cukup panjang tak hanya dimanfaatkan untuk saling bersilaturrahim, namun juga bertamasya. Kunjungan ke kawasan wisata legendaris ini membludak. Dipadati wisatawan lokal dari wilayah Makassar dan kabupaten sekitarnya. Mereka mengunjungi Air Terjun Bantimurung dan Helena Sky Bridge. “Wisatawan yang berkunjung ke Kawasan Wisata Bantimurung sebanyak lebih dari 900 orang pada hari lebaran, Jumat (15/6),” terang Amiruddin, Kepala Resort Bantimurung. Puncak kunjungan wisatawan ke Kawasan Wisata Bantimurung berlangsung pada hari Minggu (17/6). Karenanya Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung bersama mitra menggelar minggu ceria. Minggu ceria semacam pos koordinasi (posko), melibatkan personil dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Maros, Kepolisian Sektor Bantimurung, Koramil Bantimurung, Puskesmas Simbang, Dinas Kebersihan Maros, dan Basarnas. Sedikitnya 150 orang bertugas saat minggu ceria. “Tak kurang dari 13 ribu orang wisatawan berkunjung saat minggu ceria,” tambah Amiruddin. Selama libur lebaran Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung membentuk posko penjagaan melayani wisatawan. Jadwal jaga kemudian dibuat untuk mengatur waktu jaga setiap personil yang terlibat. Selama libur lebaran mereka berjaga di pos yang telah ditentukan. Berjaga mulai dari tanggal 11 Juni hingga 20 juni 2018. Posko memiliki tugas untuk menertibkan wisatawan, memantau aktivitas wisata dan siaga jika terjadi kecelakaan.“Personil ini juga bertugas menjaga agar wisatawan tak berperilaku membuang sampah sembarang tempat,” ujar Yusak Mangetan, Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Tak hanya berdiam di satu tempat, mereka kemudian berjaga pada titik strategis. Berjaga di pintu masuk, menara pengawas, sekitar air terjun hingga di Telaga Kassi Kebo. Di sanctuary Kupu-kupu sendiri para personil posko berjaga di pintu masuk, display room, dan sekitar dua menara yang dihubungkan oleh jembatan gantung. Debit air di kawasan wisata ini juga cukup kondusif. Dengan begitu wisatawan tampak asyik mandi di bawah guyuran air terjun. Cuaca bersahabat juga mendukung aktivitas berwisata di alam bebas. Tak hanya di Bantimurung, personil taman nasional juga melakukan pelayanan wisatawan di dua site wisata berbeda, Kawasan Pendakian Bulusaraung dan Gua Kalibbong Aloa. Kedua site wisata ini berada di Kabupaten Pangkep. “Kami menugaskan teman-teman di beberapa site wisata agar wisatawan tertib dan merasa nyaman selama berlibur,” tambah Yusak. Sumber : Taufiq Ismail – Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

Sejarah dan Budaya Lokal Gunung Ciremai

Kuningan, 18 Juni 2018. Sejak lama, Gunung Ciremai dikenal dengan misteri, mitos dan legenda mistis, diantaranya legenda Nini Pelet. Konon menurut cerita, Nini Pelet merupakan tokoh yang memiliki kesaktian hebat. Dia adalah tokoh yang merebut kitab "Mantra Asmara" ciptaan tokoh sakti bernama Ki Buyut Mangun Tapa. Salah satu isi dari ajian dalam kitab tersebut adalah ilmu "Jaran Goyang" yang dikenal ampuh mengikat hati lawan jenis. Uniknya, ilmu itu sampai kini masih dipelajari oleh kebanyakan orang, terutama oleh paranormal. Sementara itu, Ki Buyut Mangun Tapa, si pencipta ilmu "Jaran Goyang” meninggal dan dimakamkan di Desa Mangun Jaya, Blok Karang Jaya, Indramayu, Jawa Barat. Masyarakat di sekitar makam meyakini munculnya harimau siluman yang dipercaya sebagai peliharaan ki buyut pada tengah malam Jumat Kliwon dan Selasa Legi. Sobat Ciremai, ada lagi cerita pengembaraan Wali Songo di jalur pendakian Linggajati yang dipandu oleh kakeknya Sunan Gunung Jati, yaitu Satria Kawirangan. Nama pos yang ada sekarang berdasarkan perjalanan yang dilakukan para Wali Songo seperti Batu Lingga yang merupakan tempat “berkhalwat” Satria Kawirangan, Puncak Pangasinan tempat para Wali Songo makan bekal terakhir yaitu nasi dan garam. Hal lain yang tak kalah menariknya adalah aura mistis pada lokasi tetirahan atau pertapaan Raja terkenal di Jabar, Prabu Siliwangi. Dari tempat pertapaan sang Prabu muncul ikan-ikan berukuran besar di kawasan Cigugur yang saat ini dikenal dengan nama ikan dewa. Adapula cerita mengenai kerajaan Kuningan yang sebagian berada di Kaki Gunung Ciremai. Dari legenda dan cerita rakyat tersebut, sampai saat ini ada beberapa budaya yang masih terus dilakukan masyarakat. Diantaranya Seren Taun, Kawin Cai, Babarit, Sedekah Bumi, Pareresan, Hajat Bumi, dan Bongkar Bumi. Seren Taun adalah upacara adat panen padi masyarakat desa Cigugur yang dilakukan setiap tahun, biasanya pada bulan September setelah panen dilakukan. Kawin Cai merupakan upacara adat memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk diberikan kesuburan terutama kesuburan air dan turun hujan untuk mengairi lahan pertanian serta kebutuhan hidup lainnya dan tradisi Kawin Cai ini biasanya dilaksakan dalam musim-musim kemarau. Kawin Cai menyatukan air dari mata air Cikembulan sekitar kolam renang Cibulan desa Maniskidul Jalaksana dengan sumber air Balong Dalem dengan berbagai macam prosesi lainnya. Kawin Cai dilaksanakan pada bulan Oktober. Budaya lokal lainnya seperti Babarit, Sedekah Bumi, Pareresan merupakan upacara syukuran hasil panen oleh masyarakat setempat. Upacara Babarit dilaksanakan di Desa Sagarahiang pada bulan November, upacara Sedekah Bumi dilaksanakan di desa Cibuntu pada bulan September dan upacara Pareresan dilaksanakan di desa lingkup Kabupaten Majalengka yang pelaksanaannya sekitar bulan September-November. Beraneka ragam sejarah dan budaya lokal Gunung Ciremai dapat menjadi daya tarik bagi pengunjung, terutama yang senang dengan sejarah, budaya atau legenda/ mitos. Setiap sudut di Gunung Ciremai sarat makna yang mempunyai cerita dan kisah. Banyak juga yang datang dari berbagai penjuru untuk bertapa dan melakukan ritual, namun kembali kepada kepercayaan masing-masing. Saat ini yang harus kita lakukan bersama bagaimana Gunung Ciremai tetap lestari sebagai penyangga kehidupan manusia yang berkelanjutan yang berdampingan dengan kearifan budaya lokal di sekelilingnya. Sobat Ciremai, ayo kenali, pelajari dan lestarikan budaya lokal kita untuk melengkapi pengelolaan Gunung Ciremai yang lebih baik. [teks ©? Nisa - BTNGC & foto ©? BTNGC | 062018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Libur Lebaran, Balai TN Gunung Palung Tetap Siaga Kahutla

Sukadana, 18 Juni 2018. Balai Taman Nasional Gunung Palung melakukan siap siaga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama libur lebaran tahun 2018 karena sudah memasuki musim kemarau. Siaga karhutla dilaksanakan dengan mensiagakan petugas selama libur cuti lebaran tahun 2018. Kegiatan siaga karhutla diarahkan untuk melakukan upaya pencegahan secara dini kejadian kebakaran hutan dan lahan. Kegiatan yang dilaksanakan dalam Siaga Karhutla selama cuti lebaran meliputi: pantuan laporan melalui call centre Balai TNGP, pemantaun titik hotspot harian via satellite LAPAN(laporan BMKG), patroli pencegahan karhutla, penyuluhan kepada masyarakat serta koordinasi dengan para pihak terkait. Patroli pencegahan dini kebakaran hutan dan lahan dilakukan oleh tim Balai TN Gunung Palung pada titik-titik rawan karhutla. Petugas melakukan pemantauan langsung ke titik-titik rawan kebakaran dan juga melakukan pemantauan melaluimenara pengawas kebakaran. Komandan tim patroli karhutla SPTN I Sukadana, Ranto Sihotang menyampaikan bahwa selama libur lebaran tim patroli pengamanan rutin melakukan ground check ke lapangan. Tim patroli beranggotakan 2-3 orang personil dimana selama kegiatan tim patroli juga menjalinkoordinasi intensif dengan tim penanggulangan karhutla PT Kayung Agro Lestari (perusahaan perkebunan sawit di sekitarkawasan TN Gunung Palung). Selama melaksanakan kegiatanperalatan pendukung tim meliputi kendaraan roda empat, pompamesin pemadam kebakaran shibaura ukuran selang 3 inch,selang penyedot, gepyok, jet shooter, dan nozzle. Berdasarkan pemantauan tim patroli selama libur lebaran, kondisi karhutla di kawasan TNGP masih aman terkendali. Sumber : Balai TN Gunung Palung
Baca Berita

Ayo liburan ke Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang

H+3 libur lebaran kemana aja? Ayo hilangkan penat sejenak, nikmati kesunyian Argopuro. Argopuro merupakan salah satu puncak dari rangkaian pegunungan hyang. Puncak ini mungkin sudah tidak asing lagi bagi pendaki. Jalur pendakian Gunung Argopuro merupakan salah satu jalur pendakian terpanajng di Indonesia dan terpanjang di pulau Jawa. Jalur pendakian yang menawarkan berbagai atraksi menarik di dalamnya. Mulai dari Pesona alam seperti hutan hujan, savana, dan hutan cemara, Danau, peninggalan zaman kerajaan, peninggalan kolonial, hingga perjumpaan dengan satwa ikonik seperti Merak yang tidak dapat dijumpai di gunung lain dapat dinikmati dalam perjalanan ke Argopuro. Argopuro dapat diakses dari dua Pintu, yaitu via Bermi di Kabupaten Probolinggo dan via Baderan di Kabupaten Situbondo. Pintu masuk bermi dapat diakses melalui jalan pantura kearah selatan dari Pertigaan Pajarakan dengan menggunakan Kendaraan roda dua atau roda empat sampai di Pos Perizinan di Desa Krucil, lalu dilanjutkan dengan tracking dari batas desa terakhir. Sedangkan Pintu masuk Baderan dapat, diakses melalui jalur panturakearah selatan terminal besuki. Pos Perizinan dapat diakses menggunakan roda dua dan roda empat, lalu perjalanan dilanjutkan dengan tracking dari Pos Perizinan. Untuk menyelesaikan Pendakian Argopuro dari Baderan-Puncak Argopuro-Bermi dan sebaliknya membutuhkan waktu 4-5 hari, memang membutuhkan waktu yang lama, maklum jalur terpanjang di Jawa. Tapi jangan Khawatir, semua akan terbayarkan dengan pengalaman dan kesan yang mendalam selama perjalanan, bahkan setelah sampai rumah pasti kepikiran kembali lagi ke Argopuro. Jika belum ada waktu yang cukup, ada alternatif lain. Pendakian Argopuro Bermi-Puncak-Bermi. Pendakian ini hanya butuh waktu 3 hari, namun siapkan fisik dan mental yang kuat karena medan yang cukup menantang. Masih terlalu lama? Tenang, masih ada yang lain. Camp di Danau Taman Hidup saja, hanya butuh waktu 2 hari untuk menikmati sunyi, senyap, dan mistisnya Danau Taman Hidup, apalagi saat matahari terbit, terbaik. Masih kurang pendek, yasudah, Bolak-balik taman hidup saja, hanya butuh waktu sehari, tapi berangkatnya pagi ya, karena perjalanan ke Danau Taman Hidup butuh waktu 4-5 Jam. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Kepala BBKSDA Jatim Pantau TWA Gunung Baung H+3 Lebaran

Gunung Baung, 18 Juni 2018. Suasana libur lebaran juga berdampak dengan peningkatan wisatawan ke TWA Gunung Baung yang dipantau secara langsung oleh Nandang Prihadi, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim). Nandang melakukan kunjungan kerja ke TWA gunung baung pada H+3 pasca lebaran. Pengunjung rerata rombongan keluarga untuk menikmati suasana alam di TWA Gunung Baung sekaligus menjalin silaturahmi keluarga. Kepada petugas yang piket, Nandang mengucapkan terima kasih atas kerja kerasnya. Meminta mereka untuk tetap fokus dalam melayani pengunjung, bergembira dalam bertugas, mengedukasi pengunjung agar berhati-hati sekaligus menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah sembarangan. Petugas juga menyapa dan menyambut pengunjung dengan senyum tulus dan ikhlas yang merupakan ciri khas bekerja di konservasi alam. Bekerja sambil berlibur dan/atau berlibur sambil bekerja. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Balai TN Matalawa Siaga Karhutla di Libur Lebaran

Waingapu, 18 Juni 2018. Bencana tidak pernah mengenal waktu dan tempat, begitu pun juga dengan kebakaran hutan dan lahan. Puncak musim kebakaran yang bertepatan dengan libur Hari Raya Idul Fitri tidak membuat petugas Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) lengah, mereka tetap siaga terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan. Pada musim kemarau ini, resiko kebakaran pada kawasan TN Matalawa menjadi sangat tinggi karena bahan bakar berupa padang savanna yang begitu luas ditambah dengan pembakaran yang dilakukan oleh oknum masyarakat seakan sudah menjadi budaya turun temurun. Kekurangan personil karena libur Hari Raya tidak menyurutkan semangat petugas lain dalam melakukan pengamanan kawasan terhadap ancaman kebakaran. Berbagai upaya yang telah dilakukan yakni: patroli lapangan, pemantauan titik api dari menara pandang, dan pembuatan sekat bakar serta pemadaman juga dilakukan apabila ada lokasi yang telah terbakar. Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa)

Menampilkan 7.681–7.696 dari 11.140 publikasi