Senin, 20 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Cerita Penanganan Warga Diganggu Monyet Ekor Panjang

Garut, 25 Juni 2018. Pada hari Jum’at tanggal 22 Juni 2018 sekira pukul 18.54 WIB, Call Center Seksi Konservasi Wilayah V Garut menerima laporan warga masyarakat melalui WA yang berbunyi : “Saya S dari Pataruman mau melaporkan adanya seekor monyet yang berkeliaran di belakang rumah Ibu T d.a. Jalan Raya Bandrek RT 02 RW 01 Desa Sukamerang Kecamatan Kersamanah Kabupaten Garut. Apa bisa dibantu solusinya untuk ditangkap? Karena khawatir masuk ke rumah”. Selanjutnya yang bersangkutan mengirimkan nomor HP keluarga a.n. I di tempat kejadian tersebut. Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan TSL SKW V Garut selanjutnya menghubungi nomor tersebut guna memastikan keberadaan monyet tersebut berikut alamat rumah dimaksud. Menurut pengakuannya monyet tersebut sudah ada sejak tanggal 21 Juni 2018 dan kemungkinan dilepaskan oleh seseorang yang pernah memeliharanya. Keberadaannya sangat mengganggu dan mengkhawatirkan keluarga di rumah tersebut, selain itu monyet tersebut sangat agresif dan berusaha menyerang bila melihat anak kecil dan wanita yang berlalu di sekitar tempat monyet berada. Malam itu juga, Tim Gugus Tugas menuju lokasi dimaksud dan mendapati rumah yang menjadi tempat berdiam monyet tersebut. Identitas pemilik rumah tersebut bernama EM umur 75 tahun pekerjaan pedagang yang beralamat di Jalan Raya Bandrek RT 02 RW 01 Desa Sukamerang Kecamatan Kersamanah Kabupaten Garut. Pada saat di lokasi Tim Gugus Tugas mendapati monyet dimaksud teridentifikasi jenis kera abu-abu/monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) berjenis kelamin jantan seberat 3 - 4 kg sebanyak 1 (satu) ekor yang sedang berkeliaran di atas genting dan pagar rumah Sdr. EM karena kerumunan beberapa orang yang datang. Namun demikian hingga jam 23.00 WIB, monyet tersebut belum berhasil ditangkap. Akhirnya diputuskan untuk dilanjutkan keesokan harinya dengan meminta bantuan ke pihak Taman Satwa Cikembulan dengan harapan apabila sulit ditangkap akan dipergunakan obat bius untuk melumpuhkannya sementara waktu. Pada keesokan harinya sejak pagi hari, Tim Gugus Tugas bersama dengan dokter hewan Cikembulan melanjutkan usaha untuk menangkap monyet tersebut di lokasi. Usaha untuk menangkap dengan memasang kandang jebak dan jaring tangkap, serta penggunaan jarum suntik obat bius dengan sumpit belum membuahkan hasil. Monyet malah menjauh dari lokasi karena takut akan ditangkap. Pada pukul 11.15 WIB akhirnya Tim Gugus Tugas memutuskan untuk bergantian melakukan pemantauan sambil menunggu perkembangan lebih lanjut. Kandang jebak tetap dipasang dengan memindahkan dan menempatkannya di atas genteng tempat biasa monyet tersebut berlalu lalang agar monyet lebih mudah mendekati kandang jebak. Selang 30 menit kemudian saat Tim pemantau berhasil menangkap monyet yang terperangkap dalam kandang jebak dan selanjutnya melakukan evakuasi serta mengamankan monyet tersebut dari lokasi ke Kantor Seksi Konservasi Wilayah V Garut. Pada kesempatan itu juga Tim Gugus Tugas menyampaikan sosialisasi dan menghimbau kepada masyarakat agar tidak melepas begitu saja hewan/satwa yang pernah dipeliharanya, namun hendaknya dapat diserahkan ke pihak yang berwenang dalam hal ini BBKSDA Jabar (Kantor Seksi Konservasi Wilayah V Garut apabila lokasinya berada dalam lingkup wilayah kerja Seksi Konservasi Wilayah V Garut). Lebih lanjut terhadap satwa/hewan serahan dari masyarakat akan dilakukan habituasi terlebih dahulu sebelum dilepasliarkan ke habitatnya. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

Halal bihalal, Memupuk Kekompakan dan Meningkatkan Semangat Pegawai TN Matalawa

Waingapu, 25 Juni 2018. Durasi cuti bersama hari raya Idul Fitri tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena jumlah hari libur yang cukup banyak. Demi menjaga kekompakan para pegawai serta meningkatkan kembali semangat bekerja para pegawai, Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) mengadakan halal bihalal di Kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Waibakul pada tanggal 25 Juni 2018. Kepala Balai TN Matalawa, Maman Surahman, S.Hut, M.Si, sebagai pembuka menyampaikan permohonan maaf lahir batin kepada seluruh pegawai. Beliau sangat mengapresiasi kerja keras para pegawai yang melakukan piket harian selama libur hari raya. Kerjasama antar seksi wilayah maupun resort juga terlihat dalam pelaksanaan piket sehingga kejadian bencana kebakaran hutan dan ladang dapat diminimalisir. Beliau juga mengungkapkan, kekompakan dan semangat yang sudah ada, jangan sampai luntur karena hari libur yang terlalu lama. Dalam bulan-bulan kedepan, pekerjaan akan semakin berat karena puncak musim kemarau akan segera datang sehingga perlu kewaspadaan tinggi dalam mengatasi bahaya kebakaran hutan dan ladang.(dpn/mtlw) Sumber: Balai TN Matalawa
Baca Berita

Ekspedisi Menjemput Harimau Jawa Di Taman Nasional Ujung Kulon

Pandeglang, 25 Juli 2018. Pembukaan ekspedisi “Menjemput Harimau Jawa” di TN. Ujung Kulon dilakukan secara resmi oleh Dr. Ir. Moh. Haryono, M.Si., Kepala Sub Direktorat Sumberdaya Genetik, Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati Direktorat Jenderal Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem, bertempat kantor SPTN Wilayah II Pulau Handeuleum, TN Ujung Kulon, di Desa Tamanjaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Ekspedisi harimau jawa di TN Ujung Kulon bertujuan untuk meningkatkan peran pencinta alam dalam pengelolaan kawasan konservasi sebagai habitat berbagai satwa, plasma nutfah dan sumber penghidupan masyarakat; serta untuk membuktikan keberadaan harimau jawa (Panthera tigris sondaica) di kawasan TN Ujung Kulon. Ekspedisi ini merupakan kegiatan yang diinisiasi bersama oleh Yayasan Astacala, Kappala Indonesia, Peduli Karnivor Jawa (KPJ), PMPA – Astacala Telkom Universitas Bandung, Perhimpunanan Sanggabuana, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), Mapaalaska UIN Sunan Kalijaga, KPLH Ranita UIN Syarif Hidayatullah, BIngkai Indonesia, Leksa Ganesha Yogyakarta, Kedai Jatam, dan Ikatan Alumni Sabhawana. Peserta dalam kegiatan ini adalah anggota pecinta alam yang berasal dari berbagai institusi perguruan tinggi, total peserta berjumlah kurang lebih 34 orang. Pelaksanaan ekspedisi di TN Ujung Kulon bukanlah yang pertama terkait upaya pembuktian keberadaan harimau jawa. Tahun 1997, telah dilakukan ekspedisi di TN Meru Betiri yang mengindikasikan bahwa harimau jawa belum punah. Berbagai temuan terdokumentasikan memperkuat bebagai data dan informasi keberadaan harimau jawa. Baik yang bersumber dari masyarakat pinggiran hutan, petugas pemerintah pengawas hutan, TNI, peneliti maupun pemburu binatang liar yang juga menemukan bukti-bukti keberadaan Lodaya atau Gembong. Ekspedisi harimau jawa di tahun 1997 telah menorehkan kesan dan kesadaran para pencinta alam akan peran strategisnya dalam melestarikan spesies dan habitatnya sebagai bagian dari sistem kehidupan yang berkeadilan. Paska ekspedisi, proses pembuktian terus dikembangkan di banyak wilayah. Berbagai informasi dari berbagai sumber menjadi dasar ekspedisi lanjutan, baik skala kecil maupun besar. Tahun 1999 dilakukan ekspedisi lanjutan di kawasan gunung Slamet dan 2005 di Gunung Ungaran. Ekpedisi mandiri dilakukan di Kawasan Gunung Raung tahun 2012 dan Perbukitan Pembarisan Jawa Barat 2013. Berbagai temuan perjalan selama lebih dari 20 tahun memperkuat keberadaan Harimau Jawa. Temuan-temuan tersebut terdokumentasikan melalui foto, cetak jejak memalui media gips, data rambut, fases maupun catatan-catatan lapang, buku dll. Foto dari video petugas TN Ujung Kulon pada 25 Agustus 2017 kembali mengangkat isu keberadaan harimau jawa, meskipun foto tersebut kemudian diindikasikan sebagai macan tutul dari ciri yang ada, namun masih menyisakan hipotesis lain tentang keberadaan harimau jawa. Berbagai data dan informasi menempatkan TN Ujung Kulon sebagai salah satu habitat harimau jawa, antara lain dengan ditemukannya jejak kaki dengan ukuran 14 x 16 cm dan seorang anggota TNI menyatakan telah bertemu dengan harimau jawa dengan yang dikuatkan dengan sumpah. Rangkaian ekspedisi harimau jawa di TN Ujung Kulon akan dilakukan selama 10 (sepuluh) hari, mulai dari tanggal 27 Juni hingga 08 Juli 2018 di Blok Gunung Payung, Semenanjung Ujung Kulon. Sebelum pelaksanaan penelitian lapangan, didahului dengan kegiatan pembekalan peserta ekspedisi mulai dari tanggal 24 hingga 26 Juni 2018 di kantor SPTN II Pulau Handeuleum. Materi yang disampaikan dalam pembekalan meliputi pengenalan konsep pengelolaan kawasan konservasi secara umum, dan secara khusus terhadap kawasan TN Ujung Kulon; pengenalan karnivor besar dan satwa terancam punah; pengamatan sosial; fotografi alam bebas; jurnalistik lingkungan; strategi kampanye dan manajemen ekspedisi. Ekspedisi Pencinta Alam “Menjemput Harimau Jawa” adalah bentuk kongkrit peran aktif pencinta alam dalam kontek mandiri melakukan upaya perlindungan dan penyelamatan lingkungan. Ekspedisi yang akan dikemas dalam manajemen kolaborasi; pemerintah melalui KLHK – TN Ujung Kulon, pencinta alam dan masyarakat sekitar. Ekspedisi, selain sebagai cara memperkuat data dan informasi lapang mengenai keberadaan harimau jawa, juga menjadi bagian dari proses belajar, membangun kesadaran kritis serta memperkuat komitmen para pihak dalam melindungi berbagai aset penghidupan secara adil dan berkelanjutan. Sumber : Balai Taman Nasional Ujung Kulon
Baca Berita

Komitmen PT. Pertamina untuk Lingkungan dengan Menyerahkan 3 Ekor Rusa Hasil Penangkaran kepada BKSDA NTB

Lombok Tengah, 25 Juni 2018. PT. Pertamina (Persero) pada hari Minggu, tanggal 24 Juni 2018 melalui Perwakilan Kantor Terminal BBM Ampenan mengadakan Acara CSR (Corporate Social Responsibility) "Dukungan Pelestarian Rusa Timor (Cervus timorensis)" dengan menyerahkan 3 ekor Rusa Hasil Penangkaran kepada pihak BKSDA NTB di TWA Gunung Tunak, Desa Mertak Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Acara yg berlangsung dari pagi hari ini dihadiri oleh Kepala BKSDA NTB, Kepala SKW I, Kepala Desa Pujut, Head OperationTerminal BBM Ampenan dan staff. Dalam sambutannya, Kepala BKSDA NTB Ir. Ari Subiantoro, M.P. mengatakan, "Dukungan Pelestarian Satwa seperti ini kami sambut dengan sangat suka cita. PT Pertamina (Persero) melalui Perwakilan Kantor Terminal BBM Ampenan merupakan contoh Penangkar Rusa teladan yang harus diikuti oleh Penangkar Rusa se-NTB. Memang untuk secara individu jumlah rusa tidak seberapa, tetapi jika dilakukan rutin dan dilakukan sesuai pedoman oleh seluruh Penangkar Rusa di NTB, Insya Allah akan mendorong jumlah Rusa di Alam Liar dan Rusa akan kembali berjaya menjadi ikon Provinsi NTB. Monitoring dan evaluasi akan terus dilakukan oleh BKSDA NTB." Selanjutnya dalam sambutan Kepala Desa Pujut - Lombok Tengah menyampaikan, "Tiga Ekor Rusa ini merupakan hadiah yang luar biasa, khususnya bagi Masyarakat Lombok Tengah. Kami ucapkan Terima kasih yang tak hentinya kepada BKSDA NTB dan PT Pertamina." Bapak La Imbo, Head Operation Terminal BBM Ampenan, "Ini adalah komitmen PT Pertamina untuk menjaga lingkungan. Semoga banyak Penangkar Rusa NTB dan Perusahaan lain yang mengikuti jejak kami ini." Ia juga menambahkan, "Dan Insya Allah Program CSR PT Pertamina tidak berhenti sampai disini, kedepan telah direncanakan Dukungan Pelestarian Lingkungan lain yang diantaranya untuk Flora Endemik serta Pelestarian Penyu." Untuk sementara, 3 ekor Rusa (1 Jantan dan 2 Betina) ini akan ditempatkan di dalam kandang Sanctuary terpisah untuk penyesuaian habitat di TWA Gunung Tunak sebelum nanti dilepas ke alam liar. Sumber : Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

Lembah Cilengkrang : Air Panas Alami Gunung Ciremai

Kuningan, 24 Juni 2018. Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) memiliki sejuta pesona alam yang menakjubkan, hal ini menjadi daya tarik bagi para pengunjung khususnya yang berada di luar Kabupaten Kuningan dan Majalengka yang kondisi alamnya berbeda. Satu-satunya obyek wisata yang menyediakan air panas alami, penutupan tajuk yang rapat dan sumberdaya alam hayati yang beraneka ragam (flora fauna) adalah Lembah Cilengkrang. Lokasi ini merupakan salah satu wisata yang sudah lama dikelola oleh masyarakat sejak tahun 2002. Lokasi wisata Lembah Cilengkrang sangat cocok bagi usia remaja dan paruh baya (15-35 tahun) karena memiliki tantangan tersendiri. Menuju lokasi ini harus dilalui dengan tracking selama kurang lebih 3 km (45 menit-1 jam) dengan jalur yang menanjak. Selama perjalanan, pengunjung akan disuguhkan dengan pemandangan alam yang indah, suara kicauan burung dan hamparan pohon pinus yang menjulang tinggi. Lembah cilengkrang berada di kawasan TNGC yang berbatasan dengan Desa Pejambon, Jalaksana, kabupaten Kuningan. Bagi pengunjung yang suka kemah, sudah disiapkan oleh pengelola untuk areal berkemah. Tentu sesuai dengan standar berkemah di kawasan konservasi yang bebas sampah. Menuju ke Lembah Cilengkrang dapat melalui dari pasar krucuk - Desa KramatMulya - Desa Pajambon. Ayo berwisata ke lembah cilengkrang, kenali alam di negerimu dengan baik dan benar. Salam dari air panas Lembah Cilengkrang. [Teks & foto ©? Dina Jayanti - BTNGC | 062018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Kunjungan Kerja Kepala BBKSDA Papua ke Hutan Adat di Rhepang Muaif dan Lokasi Pengembangan Gaharu di Bonggoa

Nimbokrang, 23 Juni 2018. Salah satu dari rangkaian Kunjungan kerja lapang Kepala Balai Besar KSDA Papua antara lain memonitoring lokasi pengembangan tanaman Gaharu Papua yang dikembangkan oleh anak negeri/Papua, pada tanggal 23 sampai dengan 24 Juni 2018.Lokasi pertama yang dikunjungi yaitu hutan adat/ Rhepang Muaif dengan kepemilikan atas nama pak Alex Waisimon, sebagai penerima Kalpataru 2017 dan Asian Hero 2017 yang berlokasi di Bonggo Kab. Sarmi. Tim yang mendampingi Kepala Balai Besar KSDA Papua (Ir. Timbul Batubara., M.Si) terdiri dari Kepala Bidang Teknis Konservasi (Askhari Dg. Masikki, S.Hut), KBTU (Pupung Purnawan, S.Hut.,M.Sc), POLHUT (Eddy Sam Lau, La Ode Irianto Subu), dan staf (Herman So, Ferdinand Boseren, Pandu, Irwan) Balai Besar KSDA Papua dengan total 8 orang. Tim melanjutkan perjalanan kunjungan kerja ke lokasi Pengembangan Potensi Gaharu Papua di Kampung Armopa Distrik Bonggo Kab. Sarmi bertemu dengan Kepala Keret Maban (Bapak Rudolf Maban). Kepala Keret Maban menyambut baik kedatangan tim untuk Pengembangan Gaharu Papua di Kampung Armopa dan di sekitarnya, sebab hasil dari pengembangan gaharu tersebut akan sangat membantu kehidupan perekonomian masyarakat setempat, khususnya di Kampung Armopa. Maksud dan tujuan pelaksanaan kegiatan kunjungan kerja ini, antara lain untuk meninjau lokasi dan melakukan wawancara atau diskusi ringan bersama pak Alex Waisimon. Adapun beberapa poin yang dapat ditarik sebagai hasil wawancara tersebut antara lain : Bahwasanya pengelolaan hutan adat yang dimaksud dilakukan dengan menggunakan konsep berbasis wisata alam secara partisipatif; Beberapa kelompok masyarakat adat di sekitar kawasan konservasi sudah dibentuk dalam rangka membantu pengelolaan hutan adat/wisata; Sarana wisata telah dibantu untuk dibangun oleh pak Alex dengan biaya mandiri berupa guest house, jalur trail wisata pengamatan burung (bird watching) dan kandang sementara/karantina kasuari; Beberapa potensi yang dikembangkan antara lain Spot pengamatan cenderawasih, kasuari, mambruk (bird watching), dan penangkaran anggrek (wisata edukasi dengan pengenalan jenis anggrek); Lokasi ini juga difungsikan sebagai tempat pendidikan konservasi oleh mahasiswa dan pelajar; Lokasi ini umumnya dikunjungi wisatawan mancanegara yang telah dikelola dengan penarikan tarif perpaket 1.5 jt / orang. Menjadi satu bagian dari suatu kelompok masyarakat adat tertentu di wilayah kerja, khususnya Balai Besar KSDA Papua yang memiliki lingkup wilayah kerja di keseluruhan wilayah Provinsi Papua adalah suatu keuntungan. Selain agar menjadi lebih mengeratkan ikatan persaudaraan, dikemudian hari akan bermanfaat saat membutuhkan dukungan dari masyarakat. Sebagai apresiasi kunjungan Kepala Balai Besar KSDA Papua, Bapak Rudolf Maban menganugerahkan Marga kepada Bapak Ir. Timbul Batubara Yaitu WendeyWendeynai (Resmi sebagai anak adat kampung Armopa sejak Hari Sabtu tanggal 23 Juni 2018 pukul 15:00 WIT). Pada akhirnya terdapat beberapa hal yang perlu mendapat dorongan / support oleh BBKSDA Papua dengan memegang peran sebagai pemerintah pusat/ mitra antara lain : Pengembangan/ pengelolaan bersama dalam bentuk PKS (segera), Peningkatan pengamanan/ pengawasan terhadap peredaran jenis Tumbuhan dan Satwa Liar, Pengembangan sarana TSL berupa kandang transit satwa permanen dan sarana wisata, Pelibatan jejaring kerja/mitra kerja NGO yang bergerak dibidang lingkungan hidup dan kehutanan, salah satu contohnya WWF dan Penguatan kelembagaan kelompok. Sumber : Balai Besar KSDA Papua
Baca Berita

Begini Peran Camera Trap dalam Pengamatan Satwa Liar

Kuningan, 23 Juni 2018. Di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), kamera jebak telah digunakan sejak tahun 2010 hingga saat ini pada kegiatan inventarisasi dan monitoring macan tutul Jawa. Memang inovasi teknologi dalam konservasi ini telah banyak digunakan dalam pengamatan satwa liar. Di kawasan TNGC sendiri terdapat 20 jenis satwa liar, diantaranya macan tutul Jawa, trenggiling, kijang, musang rase, musang leher kuning, landak Jawa dan babi hutan. Kamera jebak digunakan untuk mengetahui keberadaan maupun populasi satwa liar di alam. Penggunaannya sangat fleksibel, efisien dan data yang diperoleh relatif akurat. Sehingga sangat membantu dalam usaha konservasi satwa liar. Ada beberapa keuntungan yang akan didapatkan dari penggunaan kamera jebak ini. Diantaranya, dapat melakukan pengamatan terus menerus. Gambar yang terdokumentasi dapat menjadi bukti kuat keberadaan satwa liar yang diamati di alam. Selain itu ukurannya yang relatif kecil tidak akan mengganggu keberadaan dan aktifitas satwa liar di habitatnya. “Camera Trap” atau kamera jebak, merupakan jenis kamera yang dilengkapi sensor gerak dan sensor panas dan atau termal. Sensor ini akan aktif ketika ada objek bergerak dan atau yang memiliki suhu berbeda dengan lingkungan area cakupan sensor. [Teks & foto ©? Robi Gumilang - BTNGC | 062018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Balai TN Matalawa Hijaukan Sumba Bersama Pemkab Sumba Timur

Waingapu, 22 Juni 2018. Pemerintah Kabupaten Sumba Timur melalui Dinas Lingkungan Hidup ternyata menaruh kepedulian yang sangat tinggi pada lingkungan. Hal ini tercermin dari semaraknya Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang telah dilaksanakan dalam bentuk pameran, bakti sosial, dan pemutaran film bertema lingkungan pada 5 Juni 2018. Peringatan kegiatan masih berlanjut pada hari ini dengan melakukan penanaman di mata air Howreni, Desa Maubakul, Kecamatan Pandawai, Kabupaten Sumba Timur. Dengan mengusung tema Hidup Harmonis Bersama dengan Alam, penanaman ini turut dihadiri oleh Wakil Bupati, Ketua DPRD, Asisten Bupati, Sekretaris Daerah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kepala Balai TN Matalawa, Komandan Pos Angkatan Laut, Komandan Kodim 1601 Sumba Timur, KPH Sumba Timur, Tokoh Masyarakat, Tokoh Adat dan masyarakat setempat berjumlah 300 orang. Dalam sambutannya, Wakil Bupati, Ketua DPRD, dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup, sama-sama menyoroti persoalan kebakaran padang dan sampah yang kerap menjadi masalah serta perlunya meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga kelestarian alam. Keindahan pulau Sumba harus dimanfaatkan secara lestari untuk kesejahteraan masyarakat.(two&hsu/mtlw) Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa)
Baca Berita

18 Tahun Dipelihara, Warga Serahkan Reptil Besarnya

Cianjur, 22 Juni 2018. Kembali Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan Tumbuhan Satwa Liar (TSL) Balai Besar KSDA Jawa Barat (BBKSDA Jabar) melakukan evakuasi satwa liar yang dilindungi Undang-undang. Kali ini Tim Gugus Tugas Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Bogor yang melakukan evakuasi satu ekor Buaya muara (Crocodylus porosus) berjenis kelamin jantan dengan panjang 4,5 meter dengan lebar perut 60 cm (22/6). Buaya ini diserahkan masyarakat Kampung Cileueur RT 05/01 Desa Cibarengkok Kec. Bojong Picung Kab. Cianjur berinisial S. Menurut pengakuan yang bersangkutan buaya ini telah dipelihara lebih kurang 18 tahun, hasil pemberian rekan kerjanya dan selanjutnya dipelihara dengan diberi pakan berupa ayam. Dalam proses evakuasi reptil besar tersebut, Tim Gugus Tugas dibantu oleh Staf Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan Taman Safari Indonesia serta masyarakat setempat. Untuk pengamanan selanjutnya buaya rawa tersebut di titiprawat di Taman Safari Indonesia, Cisarua, Kab.Bogor. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

Kelahiran Anak Gajah Fitri

Barumun, 22 Juni 2018. Berita menggembirakan diterima dari Barumun Nagari Wildlife Sanctuary (BNWS) di Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara, tentang kelahiran satu individu gajah dari induk yang bernama Dini. Anak gajah berkelamin betina ini mempunyai berat badan 77,44 kg, lahir pada Sabtu, 16 Juni 2018, sekitar pukul 05.00 Wib. Kondisi anak gajah saat ini dalam keadaan sehat dan sudah bisa berdiri serta berjalan. Team medis dari BNWS dan tenaga mahout terus memantau perkembangan dan kondisinya. Dalam pemberitaan di Harian Kompas, edisi Kamis 21 Juni 2018, pada halaman 10, diberitakan bahwa Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc., telah memberikan nama Fitri pada bayi gajah, karena bertepatan dengan momen Idul Fitri. Perlu di informasikan, bahwa induk gajah Dini, yang berumur sekitar 30 tahun, sebelumnya adalah gajah jinak penghuni Pusat Latihan Gajah (PLG) Holiday Resort, Aek Raso, Kabupaten Labuhan Batu Selatan. Baru pada bulan Mei 2015 resmi pindah ke BNWS. Dengan kelahiran anak gajah Fitri, maka bertambahlah populasi gajah di BNWS yang semula 12 ekor menjadi 13 ekor. (Gunawan Alza). Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Dengan Berlinang Air Mata “Si Bujang” Buaya Peliharaan Diserahkan

Cianjur, 22 Juni 2018. Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP), berhasil memfasilitasi penyerahan seekor buaya muara (Crocodylus porosus) dari H. Suntana (74 tahun) kepada Balai Besar KSDA Jawa Barat. Warga Kampung Cileueur, Desa Cibarengkok, Kecamatan Bojongpicung, Kabupaten Cianjur ini, mengaku telah memelihara “Bujang” (buaya peliharaannya) selama 18 tahun. Dengan mata berkaca-kaca, karena sedih akan ditinggal “Bujang”, H. Suntana menuturkan bahwa buaya tersebut pemberian teman dari Kalimantan pada tahun 2000. Sejak saat itu dia memelihara dan merawatnya, mulai dari anakan hingga berumur 18 tahun. “Saya rawat, beri makan, dan ditempatkan di dalam bak semen yang sengaja dibuat agar Bujang merasa nyaman,” ujar Suntana sambil menitikan air matanya. Sementara itu, Kepala Bidang PTN Wilayah I Cianjur, Ir. Diah Qurani Kristina, M.Si. sebagai fasilitator penyerahan buaya muara tersebut mengatakan, “tanggal 21 Juni 2018 setelah mendapat laporan bahwa H. Suntana mau menyerahkan buaya muara peliharaannya, kami langsung berkoordinasi dengan Balai Besar KSDA Jawa Barat dan Taman Safari Indonesia (TSI) – Cisarua”. Oyok Herlan, Kepala Resor Wilayah VI Cianjur Balai Besar KSDA Jawa Barat, mengatakan bahwa buaya muara (Crocodylus porosus) termasuk salah satu jenis satwa dilindungi berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta PP Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar. “Selanjutnya buaya muara akan kami titiprawatkan ke Taman Safari Indonesia – Cisarua,” ujarnya. Berkat kerjasama yang baik antara Balai Besar TNGGP, Balai Besar KSDA Jawa Barat, Taman Safari Indonesia (TSI) – Cisarua, dan masyarakat setempat evakuasi “Bujang” berjalan lancar. Ketua tim evakuasi, Ropandi dari TSI - Cisarua menjelaskan "Pengangkutan buaya muara ini dilakukan dengan cara standar yang biasa dilakukan yaitu dengan mengikat bagian mulut dan menariknya masuk ke dalam peti yang sudah disediakan. Bagian kepalanya yang ditarik lebih dahulu agar tidak membuat buaya tersebut stress. Buaya akan dibawa ke TSI - Cisarua, ditempatkan terlebih dahulu di kandang karantina selama 2 (dua) sampai 3 (tiga) bulan untuk penyesuaian agar tidak stress. Kalau buaya sudah stress bisa tidak mau makan”. Proses evakuasi buaya jantan sepanjang 4 meter dengan bobot 300 Kg ini memakan waktu sekitar 2 jam mulai pengkapan sampai naik di atas truk. Pengangkutan "Bujang" lebih lancar dengan bantuan warga setempat. Selanjutnya satwa peliharaan H. Suntana ini dibawa ke lembaga konservasi (TSI - Cisarua), dititiprawatkan untuk indukan konservasi ex situ (penangkaran). Antara "Bujang" dan pemiliknya H. Suntana berserta istrinya sudah mempunyai ikatan batin yang kuat karena buaya muara ini dipelihara sejak kecil sampai 18 tahun. Diberinya makan ayam dan diberi minum susu cair. Terkadang pada malam hari "Bujang" terdengar seperti menangis layaknya anak kecil yang merengek pada induknya. Ketika pemiliknya memanggil dengan sebutan "Bujang" buaya tersebut kembali tenang. Saat "Bujang" diangkut ke truk TSI - Cisarua, Suntana beserta istrinya tidak kuat menahan tetesan air mata yang berlinang di kedua sudut matanya. Sunata meminta ke TSI - Cisarua untuk dapat menjenguk "Bujang" ke TSI - Cisarua. "Bujang" sudah seperti anak kami," pungkas Suntana dan istrinya. Lina (32 tahun) yang bertetangga dengan Suntana di Desa Cibarengkok menuturkan, "Alhamdulillah Bujang sudah dibawa ke TSI - Cisarua, karena kami khawatir dia semakin besar takutnya kabur dari kandangnya dan di sini banyak anak-anak kecil yang bermain". Namun ada juga beberapa tetangga lainnya, Kohar (57 tahun) menceritakan, "Kami warga sini sudah tidak asing lagi dengan keberadaan Bujang. Kalau ada bangkai ayam biasanya warga suka kasih makan ke Bujang. Dan ternyata buaya muara itu dilindungi, kami warga sini baru mengetahuinya kalau buaya tersebut dilindungi". Menanggapi penyerahan satwa dilindungi ini, Kepala Balai Besar TNGGP, Wahju Rudianto, S.Pi. M.Si. yang juga sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Balai Besar KSDA Jawa Barat memberikan apresiasi kepada H. Suntana yang dengan sukarela telah menyerahkan buaya tersebut. Lebih lanjut Beliau mengatakan bahwa satwa liar bukan pet animal atau hewan peliharaan. Pada saat satwa tersebut besar maka hewan ini akan tetap menunjukkan keliarannya karena bukan hewan domestikasi. Jadi kami menghimbau masyarakat agar tidak memelihara satwa liar sebagai pet animal (hewan peliharaan). Satwa liar bisa dimanfaatkan dengan cara memperoleh ijin penangkaran atau lembaga konservasi yang mengelola satwa secara profesional sesuai aturan berlaku. Sumber: Balai Besar TNGGP
Baca Berita

Pengalaman Berbagai Negara di CITES Tree Species Programme Regional Meeting for Asia

Jakarta, 22 Juni 2018. Pemerintah Indonesia (dalam hal ini Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati-Ditjen KSDAE, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) berkolaborasi dengan Sekretariat CITES dan ITTO dengan pendanaan dari Uni Eropa akan menyelenggarakan kegiatan CITES Tree Species Programme Regional Meeting for Asia and The Second Regional Workshop on the Management of Wild and Planted Agarwood Taxa di Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta pada tanggal 25-29 Juni 2018. Pertemuan CITES Tree Species Programme Regional Meeting for Asia ini bertujuan untuk meninjau perkembangan pelaksanaan CITES Tree Species Programme di regional Asia dan pelaksanaan proyek masing-masing negara selanjutnya. Pertemuan akan dilanjutkan dengan Second Regional Workshop on the Management of Wild and Planted Agarwood Taxa yang bertujuan untuk berbagi pengalaman dari berbagai negara dalam pengelolaan populasi gaharu di alam dan hutan tanaman serta mencegah eksploitasi berlebihan dan memastikan perdagangan legal gaharu tidak melebihi tingkat keberlanjutannya. Hasil dari kedua pertemuan ini diharapkan dapat meningkatkan jejaring dan kerjasama antar negara anggota CITES terutama dalam hal pertukaran informasi dan teknologi serta meningkatkan kapasitas identifikasi dan sistem monitoring untuk mewujudkan perdagangan spesies yang sustainable, legal, dan traceable. . Hasil dari workshop ini akan dilaporkan kepada Plants Committee dan Standing Committee sebelum CoP 18 di Srilanka. Dua pertemuan yang akan dilaksanakan selama 5 hari tersebut akan dihadiri oleh 40 orang perwakilan CITES Asia Range States yaitu Indonesia, Malaysia, Tiongkok, India, Thailand, Vietnam, Kamboja, Myanmar, Bangladesh, dan Nepal; Sekretariat CITES; ITTO; dan Perwakilan dari Uni Eropa. Selain kegiatan lokakarya, peserta juga akan diajak mengelilingi berbagai daerah wisata di sekitar Yogyakarta. Sumber : Direktorat KKH
Baca Berita

Info Melalui Call Center, BBKSDA Jabar Amankan Dua Kakatua Besar Jambul Kuning

Serang, 22 Juni 2018. Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan Tumbuhan Satwa Liar (TSL) Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Serang Balai Besar KSDA Jawa Barat (BBKSDA Jabar) menindaklanjuti adanya informasi dari masyarakat melalui call center SKW I Serang bahwa ada seorang warga yang memiliki/memelihara satwa dilindungi Undang-undang berupa burung Kakaktua besar jambul kuning di wilayah kota Cilegon (22/6). Berbekal informasi dan alamat yang diberikan pelapor, Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan TSL SKW I Serang bergerak menuju alamat yang di maksud untuk memastikan kebenaran informasi tersebut. Sesampai di lokasi Tim Gugus Tugas di terima pemilik rumah dan benar di rumah tersebut dijumpai adanya 2 ekor burung Kakatua besar jambul kuning. Setelah di beri pemahaman dan pendekatan secara persuasif bahwa satwa tersebut adalah dilindungi dan ada konsekuensi hukum apabila memelihara tanpa adanya dokumen legalitas, maka kemudian pemilik mau menyerahkan secara sukarela satwa tersebut kepada Negara melalui SKW I Serang. Adapuni dentitas pemilik berinisial IS (43 th), pekerjaan wiraswasta dengan alamat di Jl. Pagebangan Kota Cilegon. Satwa yang berhasil diamankan berupa 2 ekor burung Kakatua besar jambul kuning (Cacatua galerita), jenis kelamin jantan dan betina, sehat serta umur sekitar 2,4 th (menurut pengakuan pemilik). Selanjutnya satwa tersebut kami evakuasi dan diamankan di kantor SKW I Serang, yang selanjutnya rencananya besok akan dititip rawatkan di Lembaga Konservasi Animal Sanctuary Trust Indonesia (ASTI) Gadog - Bogor. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

BKSDA Kalteng Bersama Polair dan Babinkamtibmas Polda Kalteng Terima Serahan Buaya dan Beruang dari Masyarakat

Palangka Raya, 22 Juni 2018. Warga Desa Belanti, Kec. Mentawa Baru Ketapang, Kab. Kotawaringin Timur menyerahkan 1 ekor buaya muara (Crocodylus porosus). Buaya muara jantan dengan panjang 1,7 meter tersebut diserahkan pada hari Selasa, 19 Juni 2018. Berawal dari laporan Kepala Polair Polda Kalteng, Kombes Pol Bahrudin, tentang penyerahan 1 ekor buaya muara ke Pos Penjagaan Polair oleh warga bernama Ibas. Dimana sebelumnya pada Senin, 18 Juni 2018 Pukul 23.00 WIB saat sedang mencari ikan, Ibas mengetahui ada buaya yang sedang mendekat di sekitar lokasi pencarian ikan. Dikhawatirkan dapat membahayakan keselamatan, warga mencoba menangkapnya dengan menggunakan kail, dan usaha itu berhasil. Mengetahui bahwa Buaya muara adalah satwa yang dilindungi, warga kemudian menyerahkan buaya tersebut ke Pos Jaga Polair Polda Kalteng yang berjarak kurang lebih 800 meter dari lokasi ditangkapnya buaya tersebut. Selanjutnya buaya tersebut diserahkan kepada Polisi Kehutanan BKSDA Kalteng yang berada di Sampit disaksikan oleh media cetak dan elektronik. Saat ini buaya tersebut sudah dievakuasi ke Pangkalan Bun untuk selanjutnya dilepasliarkan. Dua hari kemudian, pada hari Kamis tanggal 21 Juni 2018 warga Desa Sungai Pulau, Kec. Pangkalan Banteng, Kab. Kotawaringin Barat menyerahkan satu ekor beruang madu (Helarctus malayanus) berumur 4 bulan dengan jenis kelamin betina. Bersama-sama Babinkamtibmas Desa Sungau Pulau, petugas BKSDA Kalteng menuju rumah Andi yang memelihara beruang tersebut sejak 2 bulan yang lalu. Beruang madu tersebut didapatkan oleh pamannya disemak belukar sekitar desa. Setelah mengetahui bahwa beruang madu adalah satwa dilindungi, maka Andi menyerahkannya kepada BKSDA Kalimantan Tengah. Saat ini beruang madu tersebut dititipkan di OCCQ OFI. Sumber : Balai KSDA Kalimantan Tengah
Baca Berita

Piket Lebaran, Petugas SPW I Dan II TN Tesso Nilo Siagakan Patroli Kawasan

Baserah, 21 Juni 2018 . Libur lebaran, Tim patroli TN Tesso Nilo tetap siagakan patroli dikawasan. Kegiatan patroli ini dilaksanakan untuk mengantisipasi kejadian kebakaran hutan di kawasan TN Tesso Nilo karena mulai memasuki bulan-bulan kemarau. Kegiatan patroli dilaksanakan di daerah rawan kejadian karhutla baik di SPW I LKB dan SPW II Baserah. Kegiatan patroli merupakan upaya pencegahan awal kejadian karhutla. Kegiatan dimulai dari beberapa hari sebelum lebaran tanggal 12 Juni 2018, Tim SPW I LKB laksanakan patroli kebakaran hutan dan lahan di kawasan Resort Lancang Kuning. Kegiatan patroli dilaksanakan oleh 4 (empat) orang personil dari TNTN, 1 (Satu) orang TNI, serta 1 (Satu) orang Polri. Tim patroli kebakaran dari SPW I melakukan ground check yang berada di 2 tempat yang sehari sebelumnya sudah ditinjau oleh tim. Satu minggu setelah patroli kebakaran oleh Tim SPW I LKB, pada Senin tanggal 18 Juni 2018 patroli kembali dilaksanakan oleh Tim SPW II Baserah di Kawasan Resort Onangan Nilo. Kali ini pada patroli yang dilaksanakan, Tim menemukan bekas lokasi kebakaran seluas 0,5 Ha. Tim menemukan plang nama yang dipasang oleh TNTN dirobohkan. “Saat pelaksanaan patroil kawasan hutan kita menemukan sebuah alat berat tidak jauh dari lokasi kebakaran, hal ini akan kita koordinasikan dan serahkan kepada Penegakan Hukum untuk ditindak tegas”, ungkap Salah satu Tim patroli Anton Yus Jenri Simamora. Sehari setelahnya, pada Selasa tanggal 19 Juni 2018, Tim SPW I LKB kembali laksakan patroli namun di kawasan yang berbeda. Patroli dilaksanakan di Kawasan SPW I LKB Resort Air Hitam. Tim melakukan patroli menyisir daerah yg di anggap Rawan terbakar. Berdasarkan keterangan dari Dansat Brigdalkar TN Tesso Nilo, Killer Silaban, S.Hut, sehari sebelumnya tim sudah mencek ke lokasi tersebut dan tim menemukan pondok, tetapi penghuni tidak ditemukan dilokasi temuan. “Sehari setelah patroli hari pertama, di hari Rabu pagi kami dari Tim kembali patroli ke daerah resort air hitam dan menemukan masyarakat di sekitar lokasi. Tim melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan mengimbau agar tidak membakar areal perladangan/ bukaan lahan yg sudah di buka. Masyarakat pun menerima, dan mendengar himbauan dari Tim akan dampak dan bahaya dari kebakaran hutan", jelas Killer Silaban, S.Hut. Sumber : Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Berita

Hari Pertama Kerja Usai Lebaran Idul Fitri 2018, Kepala Balai TNTN Pimpin Apel

Pangkalan Kerinci, 21 Juni 2018. Hari Pertama masuk kerja usai libur lebaran, Kamis pagi, tanggal 21 Juni 2018 Kepala Balai TNTN Supartono, S.Hut, MP mengajak seluruh pegawai TNTN untuk laksanakan apel pagi. Pada kesempatan apel, Beliau mengucapkan mohon maaf lahir dan batin kepada seluruh pegawai. Kepala Balai juga memberi apresiasi untuk pegawai yang masuk kerja tepat waktu sesuai peraturan yang telah ditetapkan. “Terima kasih saya ucapkan kepada seluruh pegawai dan staf yang hadir pada hari ini karna sudah disiplin masuk kerja tepat waktu, saya berharap seluruh yang hadir pada hari ini sudah aktif dan melaksanakan tugas sebagaimana mestinya." Dalam wejangannya, Kepala Balai juga meminta Kepala Sub Bag TU untuk mendata siapa saja pegawai yang tidak hadir tanpa keterangan dan diperintahkan untuk ditindak lanjuti. Tidak hanya memberi wejangan usai libur lebaran, Kepala Balai TNTN juga mengajak seluruh pegawai dan staf untuk bersalaman dan saling memaafkan. Dipandu dahulu oleh Kepala Balai TNTN, Kepala Sub Bag TU dan staf mengikuti dengan berbaris dan bersalaman secara bergantian. Usai bersalam-salaman apel pagi ditutup dengan seluruh pegawai berfoto bersama di depan kantor Balai TNTN. “Masih dalam suasana lebaran, sebelum aktif kembali bekerja saya sengaja mengajak seluruh pegawai dan staf untuk bersalam-salaman dan saling mamaafkan saling memaafkan serta mulai aktif bekerja dengan hati yang bersih”, ujar Kabalai TNTN. Sumber : Balai Taman Nasional Tesso Nilo

Menampilkan 7.665–7.680 dari 11.140 publikasi