Senin, 20 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Keberadaan Beruang Madu di SM Isau Isau Terungkap

Lahat, 28 Juni 2018. Telah lama diketahui bahwa kawasan Suaka Margasatwa (SM) Isau-Isau merupakan habitat bagi satwa endemik Sumatera salah satunya adalah Beruang Madu (Helarctos malayanus). Dengan bantuan kamera trap akhirnya keberadaan Beruang Madu (Helarctos malayanus) dapat terabadikan sedang beraktivitas pada habitatnya di kawasan SM Isau-Isau untuk pertama kalinya. Beruang madu merupakan hewan omnivora namun sebagian besar dari mereka juga mengkonsumsi buah buahan serta madu dan serangga untuk asupan protein yang tinggi. Dengan kulit yang tebal dan cakar kuat Beruang Madu (Helarctos malayanus) dapat dengan mudah menghancurkan sarang lebah atau mengambil rayap dengan lidah yang sangat panjang. Sebagai informasi beruang madu mempunyai lidah yang terpanjang diantara semua jenis beruang di dunia. Dengan segala keunikannya ternyata Beruang Madu (Helarctos malayanus) masih kurang mendapatkan perhatian. Kerusakan habitat dan perburuan menjadi ancaman utama akan keberadaan Beruang Madu (Helarctos malayanus). Namun masih ada harapan bagi kita untuk melakukan perlindungan bagi satwa unik ini apabila kita selalu bekerjasama untuk megupayakan upaya perlindungan terhadap Beruang Madu (Helarctos malayanus). Sumber : Pungky Nanda Pratama - Kader Konservasi Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Evaluasi Kunjungan di Hutan Madapi Pasca Libur Lebaran

Rejang Lebong, 26 Juni 2018. Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah VI Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BBTNKS) bersama petugas resort dan kader konservasi SPTN Wilayah VI melakukan evaluasi pemantauan pengunjung selama libur panjang lebaran 2018 di objek wisata alam Hutan Madapi (26/6). Hutan Madapi terletak di desa Pal VIII, Kecamatan Bermani Ulu Raya, Kabupaten Rejang Lebong-Bengkulu. Setelah evaluasi pemantauan selesai, dilanjutkan dengan aksi pembersihan sampah di sekitar objek wisata alam Hutan Madapi sebagai upaya menjaga kebersihan objek wisata alam dan menjaga kenyamanan pengunjung yang akan datang. Foto by: Zainuddin Sumber : Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat
Baca Berita

Kenapa sih Keanekaragaman Hayati di Taman Nasional Gunung Ciremai Mesti Dilestarikan?

Kuningan, 28 Juni 2018. Potensi keanekaragaman hayati (kehati) di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) memang sangat luar biasa. Tersebar mulai dari ketinggian 300 hingga 3078 mdpl. Dengan potensi kehati yang sangat luar biasa ini, tentu memerlukan upaya pengamanan. Polisi Kehutanan (Polhut) yang mempunyai tugas pokok dan fungsi melaksanakan pengamanan, harus bekerja dengan maksimal setiap harinya untuk melaksanakan patroli. Kegiatan patroli pengamanan kehati ini bertujuan untuk menjaga fungsi kawasan hutan dan lingkungan secara optimal dan lestari serta dapat memberikan manfaat untuk kesejahteraan masyarakat. Pelaksanaan patroli pengamanan kehati dirancang dengan sasaran kegiatan secara tematik pada obyek kekayaan hutan yang lebih spesifik. Seperti kegiatan patroli habitat satwa, patroli ekosistem rawan kebakaran, patroli pengamanan habitat flora mengandung atsiri (Kilemo, Huru Sintok, dan tumbuhan berkhasiat lainnya). Sobat Ciremai, khusus untuk sebaran kehati yang ada di obyek wisata alam yang ada di TNGC seperti kodok merah yang ada di lokasi Obyek Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) Ipukan, Kuningan. Dalam rangka pengamanan habitat kodok merah, Polhut tidak mungkin melakukan pengawasan selama 24 jam. Maka dari itu Polhut bekerja sama dengan masyarakat sekitar kawasan sebagai pengelola obyek wisata alam, untuk bersama-sama melakukan pengamanan dan pengawasan kodok merah tersebut. Tidak semata melindungi jenis ini, masyarakat pelaku wisata alam juga sekaligus mendapatkan nilai manfaat langsung dengan pengembangan program interpretasi berbasis kodok merah. Ayo Sobat Ciremai, kita jaga kehati yang ada di Taman Nasional Gunung Ciremai untuk kehidupan masa depan yang lebih baik.[teks & foto © Oman DP - BTNGC | 062018] Sumber : Balai TN Gunung Ciremai
Baca Berita

Mistis dan Kearifan Lokal Situ Sangiang

Kuningan, 27 Juni 2018 - Situ Sangiang di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) terletak di desa Sangiang, Banjaran, Majalengka, Jawa Barat. Berjarak kurang lebih 27 Km dari pusat ibu kota kabupaten. Saat ini obyek wisata ini kelola oleh Mitra Pengelola Wisata Gunung Ciremai (MPGC) Sunan Parung yang merupakan kelompok masyarakat setempat. Sobat Ciremai, Situ Sangiang merupakan danau alami. Menurut legenda, danau atau situ ini diyakini sebagai tempat "ngahiang" (moksa) Sunan Talaga Manggung dan Keratonnya ketika dikhianati menantunya, Patih Palembang Gunung pada abad ke 15. Sejak itu, tempat ini raib dan baru ditemukan kembali pada masa penjajahan Belanda. Riak air mengalir, rimbun pepohonan tambun dan aneka satwa liar seperti ular, elang dan primata masih banyak berkeliaran disekitarnya, menciptakan hutan hujan tropis yang kaya akan potensi sumber daya alam. Tak heran bila saat ini Situ Sangiang menjadi primadona wisata Majalengka. Namun dibalik keindahannya, Situ Sangiang menyimpan aura mistis. Suasana sunyi dan lembab serta udara sejuk langsung terasa saat memasukinya yang sering membuat bulu kuduk bergidik. Keberadaan makam Sunan Parung yang dipercaya sebagai Raja ternama dari Kerajaan Talaga Manggung semakin melengkapi aura mistis tempat ini. Sobat Ciremai, masyarakat setempat percaya keberadaan pohon Nunuk dan ikan di Situ Sangiang harus terus dijaga. Pohon Nunuk dipercaya sebagai gerbang kerajaan Talaga Manggung. Sedangkan Ikan merupakan jelmaan prajurit kerajaan. Bila ada ikan yang mati, maka harus dikuburkan layaknya manusia. Pamali ini tidak boleh dilanggar, karena akan mengakibatkan malapetaka. Peziarah ramai mengunjungi makam Sunan Parung pada 1 Syura dan waktu tertentu lainnya. Mereka melakukan serangkaian ritual yang diakhiri dengan memberi makan ikan dan mandi di bibir situ. Setiap rombongan peziarah biasanya dipandu oleh seorang Kuncen. Oleh masyarakat setempat, Situ Sangiang juga menjadi "alat" prakiraan musim. Permukaan airnya sering dijadikan tanda datangnya musim kemarau dan penghujan. Menjelang kemarau, ketinggian air akan bertambah hingga memenuhi situ. Sementara jelang penghujan tiba, permukaaan air justru surut. Walaupun diluar nalar, mistis dan kearifan lokal masyarakat setempat turut melestarikan Situ Sangiang sehingga terhindar dari tangan-tangan jahil. Sobat Ciremai, ayo lestarikan alam Gunung Ciremai dengan budaya dan kearifan lokal kita. [teks © Gandi Mulyawan | foto © MPGC Sunan Parung - BTNGC | 062018] Sumber: Balai TN Gunung Ciremai
Baca Berita

Riungan Pengelola Wisata Gunung Ciremai

Kuningan, 28 Juni 2018. Masyarakat Mitra Pengelola Wisata Gunung Ciremai (MPGC) berkumpul memenuhi ruang rapat Kantor Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) pada Senin, 25 Juni kemarin. MPGC ini berasal dari dua wilayah Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN), yakni Kuningan dan Majalengka yang dikoordinasikan oleh Forum Ciremai. Mereka datang atas undangan “inohong” (pimpinan, red) Balai TNGC untuk mendiskusikan hal-hal penting. Pertama, silaturahmi dan perkenalan dengan “inohong anyar” yang memang belum sempat menjamah semua wilayah TNGC. "Sampurasun, salam kenal semuanya," kata Kepala Balai TNGC, Kuswandono dalam sambutannya. Kemudian diskusi membahas pelayanan pengunjung pada libur lebaran kemarin. Sesi ini banyak menyita perhatian hadirin karena menyangkut monitoring dan evaluasi manajemen pelayanan. Hadirin menyampaikan keluh kesahnya seperti yang diutarakan Marta Atmaja, "Akses jalan yang relatif sempit menuju Curug Cipeuteuy membuat kemacetan yang dikeluhkan warga." Selain macet, membludaknya pengunjung juga menyebabkan banyaknya sampah yang membuat pengelola kewalahan. Sementara di jalur pendakian didapati ulah pendaki yang melanggar aturan. Namun semua itu sudah diatasi dengan baik oleh Balai TNGC bersama masyarakat yang berkelompok dalam MPGC pada masing-masing lokasi wisata. Dalam sesi pamungkas, hadirin membahas rencana keikutsertaan dalam Festival Taman Nasional (FTN) dan Taman Wisata Alam di Jogja pada minggu awal Juli nanti. Hadirin sepakat untuk menyumbangkan konten bagi “booth” Balai TNGC sesuai produk khas masing-masing. Bila memungkinkan, mereka juga siap hadir langsung ke lokasi FTN guna mencari pengalaman dan menjual produk wisatanya. Tidak menutup kemungkinan, suatu saat nanti Gunung Ciremai menjadi tuan rumah FTN. Event besar itu diyakini mampu membawa wisata TNGC ke kancah nasional dan yang lebih tinggi lagi. Senyum sumringah para “inohong” Balai TNGC mendengar pernyataan itu. Sobat Ciremai, ayo kita ikuti informasi terkait FTN dan hadiri untuk memeriahkan acaranya. Kalau bukan kita, siapa lagi? [teks dan foto © Sirod - BTNGC | 062018] Sumber : Balai TN Gunung Ciremai
Baca Berita

Selamatkan Gunung Ciremai : Waspada Kebakaran

Kuningan, 28 Juni 2018. Paska kegiatan pengamanan dan pengawasan pengunjung libur Idul Fitri, Polisi Kehutanan (Polhut) Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Majalengka kembali bersiaga menghadapi musim kemarau tahun ini. Hal ini dilaksanakan untuk menghadapi ancaman kebakaran hutan di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Sobat Ciremai, saat ini diperkirakan mulai masuk musim kemarau yang ditandai dengan suhu panas dan diiringi dengan angin kencang yang mengakibatkan semak belukar menjadi cepat kering. Untuk mengantisipasi hal tersebut, langkah preemtif dan prefentif mulai dilakukan dengan cara antara lain, pertama yaitu kesiapsiagaan Polhut dengan melakukan patroli pada area rawan kebakaran. Kedua, melakukan koordinasi dengan pihak desa sekitar kawasan dan instansi terkait. Ketiga, melakukan sosialisai dan penyuluhan kepada masyarakat yang memiliki lahan berbatasan langsung dengan kawasan agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Keempat, menyiagakan Masyarakat Peduli Api (MPA) dan Masyarakat Mitra Polhut (MMP) selaku mitra Balai TNGC dengan membentuk Posko Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta "Camp Fire Care" yakni wisata edukasi minat khusus terkait upaya pengendalian Karhutla. Kelima, menyiapkan dan menginventarisasi sarana dan prasarana seperti kendaraan, alat komunikasi dan alat pemadam. Dengan melakukan langkah-langkah diatas, diharapkan mencapai "Zero Fire" yakni tidak ada Karhutla di Gunung Ciremai atau setidaknya bisa meminimalisir kejadiannya. Sobat Ciremai, dampak Karhutla sangat merugikan bagi lingkungan hidup seperti pencemaran udara, turunnya debit air, kematian tumbuhan dan satwa liar hingga korban manusia. Jadi, mari kita antisipasi Karhutla dengan mematuhi peraturan yang berlaku di TNGC karena mencegah jauh lebih penting daripada memadamkan.[teks & foto © Yaya Sutirya - BTNGC | 062018] Sumber : Balai TN Gunung Ciremai
Baca Berita

Tiga CPNS Balai TNTBR Siap Habituasi Ke Lapangan

Benteng - Kepulauan Selayar, 28 Juni 2018. Latihan Dasar Calon PNS Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan 2018 Gelombang II dilaksanakan pada tanggal 28 April – 31 Mei 2018 dengan istilah on campus dan 2 Juni - 27 Agustus 2018 dilanjutkan habituasi atau penyesuaian lapangan. Saat ini, peserta pelatihan dasar CPNS 2018 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sedang melaksanakan habituasi di unit pelaksana tugas (UPT) masing-masing. Bertempat di ruang pertemuan Balai TN. Taka Bonerate, Calon PNS yang bertugas di Balai Taman Nasional Taka Bonerate mengawali habituasi dengan mempresentasikan rancangan aktualisasi yang telah dibuat selama masa on campus. Ada tiga isu aktualisasi yang dipresentasikan yaitu : Pengelolaan Ekowisata Berbasis Masyarakat, Perlindungan dan Pencegahan TSL dan Optimalisasi Fungsi Sistem Data Online SiMata Taka. Presentasi ini dihadiri oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha Nur Aisyah Amnur, Kepala Seksi SPTN I Tarupa Muhammad Hasan, Kepala Seksi SPTN II Jinato Abdul Rajab dan staf fungsional Taman Nasional Taka Bonerate. Kegiatan ini bermaksud untuk memberitahukan kepada unit pelaksana tugas mengenai aktualisasi yang akan edilakukan oleh CPNS selama masa habituasi dan menerima masukan-masukan dari staf fungsional Balai Taman Nasional Taka Bonerate. “Sesuaikan jadwal aktualisasi ke kawasan dengan kegiatan yang telah direncanakan oleh balai serta persiapkan data-data yang perlu diambil di kawasan”, ujar Abdul Rajab disela-sela presentasi. Presentasi yang dilakukan sangat interaktif dan berlangsung lancar. Sehingga diperoleh banyak saran dan masukan untuk memaksimalkan rancangan dan pelaksanaan aktualisasi kedepannya. “Mengingat pentingnya kegiatan aktualisasi ini, kami memohon bantuan dan dukungan dari segenap staf demi kelancaran aktualisasi yang akan kami laksanakan”, ujar Khoirul Anam, Calon PNS Taman Nasional Taka Bonerate. Sumber: Dewanda Sekar Putri - Calon PNS Balai TN. Taka Bonerate Editor : Asri - PEH Balai TN. Taka Bonerate
Baca Berita

Akfar Muhammadiyah Kuningan Jajaki Kerjasama di Arboretum TN Gunung Ciremai

Kuningan, 28 Juni 2018. Suasana sejak berada di ketinggian ± 1.100 Mdpl berjejer deretan koleksi tanaman asli Gunung Ciremai, setidaknya terdapat 195 spesies koleksi tanaman. Koleksi tanaman tersebut dalam kesatuan arboretum di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Lokasi arboretum yang terletak di Blok Erpah SPTN Wilayah I Kuningan ini secara administrasi masuk ke wilayah Dusun Palutungan Desa Cisantana, Cigugur, Kabupaten Kuningan merupakan perpustakaan dan herbarium alami tentang jenis-jenis tumbuhan khas Gunung Ciremai. Terdapat 95 koleksi tumbuhan di arboretum atau 34% dari jumlah jenis tumbuhan tingkat pohon yang ada di Gunung Ciremai. Adapun berdasarkan data dari berbagai penelitian, tumbuhan tingkat pohon di TNGC tercatat sebanyak 279 spesies (data PEH BTNGC 2017). Arboretum di blok Erpah ini dibangun tahun 2010 sebagai tempat mengkoleksi berbagai jenis pohon asli dari Gunung Ciremai untuk kepentingan penelitian dan pendidikan. Arboretum ini juga dirancang untuk memiliki fungsi yang lain, diantaranya : a. Sebagai tempat koleksi contoh hidup jenis-jenis pohon; b. Sebagai tempat praktek pengenalan jenis pohon; c. Sebagai tempat sumber benih dalam jumlah terbatas; d. Sebagai tempat wisata ilmiah atau minat khusus. e. Sebagai tempat untuk kepentingan konservasi keanekaragaman hayati, mitigasi perubahan iklim f. Sebagai tempat pembelajaran mengenai lingkungan dan keanekaragaman hayati untuk berbagai jenjang pendidikan dan umum; g. Tempat laboratorium lapangan sumber plasma nutfah (bank genetik) yang menyimpan berbagai koleksi jenis tanaman langka dan kehidupan satwaliar lain di dalamnya h. Tempat diskusi, praktikum dan penelitian bagi beberapa pengunjung; Melihat potensi dan fungsi arboretum tersebut, Akademi Farmasi (Akfar) Muhamadiyah Kuningan berminat melakukan kerjasama pengembangan tumbuhan obat dan pangan pada arboretum Palutungan. Keseriusan dari pihak Akfar Muhammadiyah ditunjukkan dengan dilakukannya kunjungan pada Jumat pagi tanggal 22 Juni 2018 oleh DR. Wawang Anwarudin, M.Sc. Apt selaku Direktur Akfar bersama rombongan ke Arboretum Palutungan. Wawang selanjutnya menyampaikan minat untuk melakukan kerjasama bantuan teknis serta penelitian dan pengembangan tumbuhan obat dan pangan berupa penempatan tenaga ahli farmasi yang profesional, bantuan sarana prasarana pengelolaan berteknologi baru antara lain identifikasi deoxyribonucleic acid (DNA), pemuliaan jenis, pengembangan teknologi penangkaran, pembesaran, tumbuhan obat dan pangan, eksploitasi/inventarisasi potensi dan koleksi specimen, dan pengembangan bioprospecting. Selanjutnya berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor : P.85/Menhut-II/2014 tentang Tata Cara Kerjasama Penyelenggaraan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam, maka minat kerjasama tersebut dituangkan dalam bentuk proposal permohonan kerjasama dan akan disampaikan kepada pihak Balai TNGC. [Teks & foto © Idin Abidin - BTNGC | 062018] Sumber : Balai TN Gunung Ciremai
Baca Berita

Kader Konservasi BKSDA Sumsel Edukasi Kelas Serangga dan Pohon Rumah Binatang

Lahat, 28 Juni 2018. Kelas Serangga dan Pohon Rumah Binatang merupakan salah satu bagian dari program edukasi yang dilakukan Pungky Nanda Pratama, salah satu kader konservasi SKW II Lahat, BKSDA Sumsel. Sasaran edukasi diprioritaskan pada daerah penyangga kawasan Suaka Margasatwa (SM) Isau-isau yang memiliki tekanan kawasan yang tinggi yang dilakukan oleh masyarakat setempat. Edukasi dilakukan pada sembilan sekolah dasar yang terletak di desa penyangga kawasan SM Isau-isau di wilayah Kecamatan Pagar Gunung Kabupaten Lahat. Kelas Serangga merupakan kesatuan dari materi Hutan Hujan Tropis. Pembelajaran menggunakan alat pengamatan Insect loops (kaca pembesar serangga) untuk memberikan pemahaman lebih mengenai Serangga. Pembelajaran dilakukan diluar ruangan dengan tujuan siswa bisa mengamati perilaku Serangga dihabitatnya. Siswa akan diajak untuk menangkap Serangga yang mereka lihat dan kemudian mereka harus menuliskan setiap bagian tubuh Serangga mulai dari sayap, kaki, antena, perut, kepala, warna dan dimana dia ditemukan. Setelah itu siswa diberikan penjelasan akan peran Serangga yang merupakan makhluk hidup yang memiliki fungsi penting di alam sebagai sumber makanan dari mahkluk hidup lain seperti burung dan Trenggiling. Apabila Serangga musnah maka makhluk lain juga akan musnah dan diharapkan siswa memahami peran penting setiap makhluk di alam. Sedangkan Kelas Pohon Rumah Binatang fokus mengajarkan siswa tentang pentingnya pohon. Pembelajaran dilakukan dengan mengajak siswa keluar kelas untuk memilih pohon lalu mengamati dan mencari berbagai jenis binatang yang hidup di akar, batang, ranting dan daun. Setelah itu siswa mencatat nama binatang, dimana ditemukan dan berapa jumlahnya. Setelah kelas outdoor berakhir barulah diberikan pesan bahwa tidak boleh sembarangan menebang pohon karena menebang satu pohon akan membunuh banyak binatang yang hidup bergantung padanya. Seperti halnya tidak boleh menebang hutan karena hutan tempat tinggal binatang. Dengan pemahaman ini semoga anak-anak akan lebih mengerti dengan keberadaan hutan dan fungsinya sehingga kelak saat dewasa dapat berperan aktif dalam konservasi terutama pada perlindungan dan rehabilitasi kawasan SM Isau-isau. Sumber : Pungky Nanda Pratama - Kader Konservasi Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Buaya Pun Nongol di Kali Grogol, Jakarta Barat

Jakarta Barat, Rabu, 27 Juni 2018. Di tengah-tengah merayakan PILKADA di beberapa daerah di Negara ini, masyarakat Jakarta Barat dihebohkan dengan munculnya seekor buaya muara (Crocodylus porosus) yang diperkirakan memiliki panjang sekitar 2 meter di Kali Grogol, Jakarta Barat. Kejadian ini mendapat respon yang cepat dari Team of Wildlife Rescue Balai KSDA Jakarta bahkan turut serta hadir di lokasi Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati (Dr. Indra Eksploitasia). Pertama kali muncul buaya ini terlihat oleh warga pada hari ini (27/6) dan sempat merekam penampakan buaya tersebut yang sempat viral di media lokasi. Bahkan di lokasi kejadian pun dipenuhi oleh masyarakat yang ingin menyaksikan kemunculan buaya tersebut. Respon cepat langsung dilakukan oleh Team of Wildlife Rescue Balai KSDA Jakarta dengan bergerak ke lokasi pemunculan buaya tersebut. Penanganan evakuasi ini dilakukan bersama dengan Damkar dan Kepolisian. Metode yang dilakukan dalam proses evakuasi buaya ini dengan memasang jebakan berupa umpan seekor ayam di pintu air Kali Grogol. Nasum salah satu anggota dari Team of Wildlife Rescue Balai KSDA Jakarta turun langsung mengamati umpan yang dipasang dengan harapan buaya tersebut dapat segera memangsanya dan tim dapat segera menangkap untuk proses evakuasi dibawa ke PPS Tegal Alur. Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati (Dr. Indra Eksploitasia) menyampaikan dalam konferensi persnya bahwa tim evakuasi buaya ini akan tetap menunggu dan menghimbau masyarakat yang menonton untuk mengosongkan lokasi. Terlalu banyak masyarakat yang memadati TKP untuk menonton diduga menyulitkan tim dalam proses pemantauan posisi kemunculan buaya untuk proses evakuasi. Tiga hari berturut-turut ini, Team Team of Wildlife Rescue Balai KSDA Jakarta disibukkan dengan proses evakuasi buaya. Pada malam senin (24/6), tim mengevakuasi buaya muara dari daerah tangerang selatan (ciledug) yang berasal dari tangkapan warga dari Sungai Cisadane. Kemarin (26/6) berdasarkan informasi dari Call Center Balai KSDA Jakarta terdapat warga yang ingin menyerahkan buaya muara yang telah dipelihara sekitar 4 tahun yang kemudian telah dievakuasi untuk dibawa di PPS Tegal Alur. Sampai saat ini belum dapat diketahui apakah buaya yang sering muncul di sungai Cisadane ataupun yang akhir-akhir di sekitar ibukota Jakarta (termasuk yang di sekitar Kali Angke dan Kali Grogol) berasal dari alam ataupun dari penangkaran yang lepas ataupun milik masyarakat yang sengaja dilepaskan. Tentunya hal ini perlu dilakukan kajian lebih lanjut agar dapat dilakukan upaya penanganan yang tepat mengingat area yang menjadi kemunculan buaya adalah area padat pemukiman. Selain itu, perlu dilakukan upaya penyadartahuan bagi masyarakat agar tidak memelihara satwa yang dilindungi. Proses evakuasi sampai saat ini masih berlangsung. Semoga segera dapat ditangkap sehingga keresahan masyarakat akibat kemunculan buaya ini dapat reda. Sumber : Balai KSDA Jakarta
Baca Berita

Efektifitas Pengelolaan Kawasan TN Matalawa Hingga Tahun 2018 Terus Mengalami Peningkatan

Waingapu, 26 Juni 2018. Penilaian kawasan konservasi yang didasarkan pada Peraturan Direktur Jenderal KSDAE Nomor: P.15/KSDAE-SET/2015 tentang Pedoman Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi di Indonesia atau biasa disebut dengan Management Effectiveness Tracking Tools (METT) telah sepenuhnya dilaksanakan Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa). Setelah tahun lalu menilai kawasan Manupeu Tanah Daru, penilaian kawasan Laiwangi Wanggameti telah terlaksana pada hari Selasa, 26 Juni 2018 di Aula Kantor Balai TN Matalawa. Proses penilaian dipandu oleh fasilitator internal serta dihadiri oleh 20 orang yang terdiri dari pegawai TN Matalawa dan perwakilan tokoh masyarakat. Penilaian dilakukan secara objektif serta menghasilkan nilai efektifitas pengelolaan kawasan Laiwangi Wanggameti sebesar 70%. Hasil tersebut menunjukan adanya perbaikan dan peningkatan kualitas sistem pengelolaan kawasan Laiwangi Wanggameti yang sebelumnya hanya 63%. Kepala Balai TN MaTaLaWa menyampaikan bahwa METT merupakan nilai raport suatu kawasan, dari nilai pada masing bagian itulah kita bisa melihat faktor apa yg harus ditingkatkan atau kekurangan apa yang harus diperbaiki/dipenuhi dalam rangka efektifitas kelola kawasan. Walaupun nilai pada kedua kawasan yaitu Manupeu Tanah Daru dan kawasan Laiwangi Wanggameti sudah mencapai diatas 70% tidak berarti pengelolaan kawasan tersebut sudah baik, dinamisasi proses ekologis dialam dan tekanan masyarakat setiap saat mengancam terhadap kondisi ekosistem, sehingga efektifitas kelola kawasan harus terus ditingkatkan. (lry/mtlw) Sumber: Balai TN Matalawa
Baca Berita

Terperangkap di Ruang Kelas, Kangkareng Putih di Selamatkan Tim Wildlife Rescue Unit BKSDA Kalbar

Ketapang, 26 Juni 2018. Seekor kangkareng putih (Anthracoceros albirostris) diketahui terperangkap di dalam ruang kelas SMP 4 Ketapang. Menurut Sarianto warga Jalan Pangeran Kusuma Jaya Ketapang, Kangkareng tersebut masuk melalui celah ventilasi yang sedikit rusak dan kemudian tidak dapat keluar kembali. Mengetahui satwa tersebut dilindungi, beliau langsung menghubungi tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang. Tim WRU kemudian melakukan penyelamatan tehadap satwa tersebut dan membawanya ke kantor SKW I Ketapang untuk dilakukan pengecekan oleh Dokter hewan. Kangkareng tersebut rencananya akan dilepaskan di habitatnya yang jauh dari pemukiman warga setelah proses pemulihan karena diduga satwa tersebut mengalami stres. Adanya degradasi habitat satwaliar akibat perubahan pola ruang membuat banyaknya satwa yang mendekati permukiman warga. Konflik manusia dan satwaliar menjadi hal umum dan banyak terjadi dibeberapa tempat, tidak terkecuali di Kalimantan Barat. Peduli terhadap konservasi oleh seluruh pihak mulai dari masyarakat umum hingga pemerintah diperlukan demi tetap lestarinya tumbuhan dan satwaliar serta habitatnya. Sumber : Tim WRU SKW I Ketapang, Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Kembali BBKSDA Jawa Barat Terima Penyerahan Elang

Bandung, 25 Juni 2018. Sekitar pukul 15.40 WIB Call Center Seksi Konservasi Wilayah III Soreang menerima laporan dari masyarakat bahwa telah ditemukan satwa dilindungi jenis Elang Ular Bido (Spilornis cheela) sebanyak 1 (satu) ekor di kolam pemancingan ikan di wilayah Kawaluyaan Kota Bandung dalam keadaan lemas. Sebagai bentuk pelayanan prima pada pukul 16.20 WIB Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan TSL SKW III bersama dokter hewan BBKSDA Jawa Barat tiba di lokasi sesuai alamat tersebut di atas untuk melakukan proses evakuasi. Tim menerima penyerahan secara sukarela 1(satu) ekor Elang Ular Bido (Spilornis cheela) dari saudara EL (masyarakat yang melaporkan penemuan Elang ke call center BBKSDA Jawa Barat) dengan alamat Jalan A. Yani Kota Bandung, dan pekerjaan Wiraswasta. Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter hewan dan mengingat kondisi satwa dalam keadaan lemas serta butuh penanganan secepatnya, maka tim memutuskan untuk menitiprawatkan ke Lembaga Konservasi terdekat yaitu Kebun Bintang Bandung. Penyerahan sukarela ini menunjukan bahwa semakin meningkatnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang Tumbuhan dan Satwa dilindungi serta tehadap pentingnya kelestarian satwa di alamnya dan sekaligus mencerminkan hasil upaya kegiatan konservasi baik prevemtif maupun persuasif yang dilakukan oleh petugas BBKSDA Jabar. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

Sadar Pelihara Satwa Dilindungi, Warga Serahkan Elang Brontok ke BKSDA Kalbar

Ketapang, 26 Juni 2018. Seekor Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus) diserahkan Marnali, warga Jalan Gajah Mada, Kali Nilam Ketapang kepada tim wildlife rescue unit (WRU) Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang. Menurut pengakuan Marnali, satwa tersebut ia dapatkan dengan membeli kepada seorang penjual seharga Rp.800.000,-. Elang tersebut kemudian dirawat selama dua tahun sebelum akhirnya ia mengetahui bahwa satwa tersebut dilindungi. Setelah mengetahuinya, ia kemudian menghubungi tim WRU SKW I Ketapang untuk menyerahkan elang tersebut. Tim WRU kemudian mendatangi rumah Marnali untuk mengevakuasi elang tersebut. Elang tersebut kemudian di bawa ke kantor SKW I Ketapang untuk dilakukan pemeriksaan oleh Dokter Hewan, mengingat satwa telah dipelihara selama dua tahun. Setelah dilakukan pengecekan satwa, rencananya satwa tersebut akan dilepasliarkan di habitatnya yang berjauhan dengan pemukiman warga. Tingginya kesadaran masyarakat terhadap konservasi perlu terus didukung dan terus ditingkatkan, mengingat semakin banyaknya habitat satwa terdegradasi serta perburuan yang masih banyak terjadi. (ds) Sumber : Tim WRU SKW I Ketapang - Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Balai TNTBR Menyusun SOP Pelayanan Pengunjung Wisata

Kepulauan Selayar, 25 Juni 2018. Semakin kedepan minat wisata yang ingin menikmati indahnya Atol ke-3 Terbesar Dunia makin meningkat. Sehingga pihak Balai TN. Taka Bonerate menganggap perlu untuk menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) Pelayanan Pengunjung Wisata Bahari TN. Taka Bonerate. Dengan tentunya berpedoman pada prinsip dan kriteria : Kelestarian Fungsi Ekosistem; Kelestarian Obyek Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA); Kelestarian Sosial Budaya; Kepuasan, Kenyamanan, dan Keselamatan Pengunjung; Prinsip Manfaat Ekonomi (Masyarakat, Pengusaha dan Pemerintah). "Seiring meningkatnya pengunjung ke TN. Taka Bonerate, dengan SOP Pelayanan Pengunjung Wisata Bahari ini, pihak Balai ingin agar wisatawan mendapatkan pelayanan prima dan mendorong partisipasi aktif masyarakat setempat dalam pelayanan wisata di sekitar pulau masing-masing", jelas Faat Rudhianto Kepala Balai TN.Taka Bonerate. Bertempat di ruangan Fungsional Balai TN. Taka Bonerate, rapat penyusunan ini dihadiri Kepala SPTN Wil. I Tarupa Muh. Hasan, Kepala SPTN Wil. II Jinato Abdul Rajab, dan para Koordinator Fungsional PEH, POLHUT dan PENYULUH serta staf fungsional lainnya. "Setelah rapat penyusunan SOP ini rampung, maka pihak operator jasa wisata dan pihak kelompok Model Desa Konservasi binaan balai akan diundang duduk bersama membahas ini", ucap Abdul Rajab. Sumber : Asri - Balai TN. Taka Bonerate
Baca Berita

Balai KSDA NTB Kembali Mengamankan Puluhan Keranjang Berisi TSL tanpa Dokumen

Lombok Barat, 25 Juni 2018. Balai KSDA NTB yang berkoordinasi dengan POLRES LOBAR dalam menindaklanjuti laporan masyarakat yang melihat kendaraan jenis bus menuju Bali yang melakukan bongkar muat di daerah Bengkel, Lombok Barat. BKSDA NTB, POLRES LOBAR dan KP3 Pelabuhan Lembar pun langsung melakukan pengamanan dan pemeriksaan terhadap bus yang dimaksud setibanya di Pelabuhan Lembar. Setelah pemeriksaan bagasi Bus, berhasil ditemukan 20 keranjang lebih berisi TSL dan supir tidak bisa menunjukkan surat atau dokumen sah pengangkutan TSL. Perkiraan sementara total lebih dari 1000 ekor burung. Rincian adalah sebagai berikut: Kecial kombo: 300 ekor/ 6 keranjang, Kecial kuning: 620 ekor/18 keranjang, Gelantik: 45 ekor/ 3 keranjang, Srigunting: 30 ekor/ 3 keranjang, Kepodang: 40 ekor/ 4 dus, Cendet: 10 ekor/ 1 keranjang, dan Perenjak gunung: 30 ekor/ 1 keranjang. Hingga berita ini diturunkan kendaraan Bus pun diamankan di POLRES LOBAR untuk tindakan lebih lanjut dan TSL yang diamankan telah di evakuasi ke Kantor BKSDA NTB. Sumber : Balai KSDA Nusa Tenggara Barat

Menampilkan 7.649–7.664 dari 11.140 publikasi