Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Joy Kembali Masuk Sekolah Orangutan

Sintang, 3 Juli 2018. Sintang Orangutan Center (SOC) bersama Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa bentarum) dan Balai KSDA Kalimantan Barat membawa kembali satu spesies orangutan dari dalam kawasan bernama Joy (3/7). Joy merupakan salah satu dari tiga spesies betina orangutan (Joy, Molly dan Bembi) yang dilepasliarkan pada tanggal 17 April 2018 di kawasan Taman Nasional Betung Kerihun tepatnya di sungai rungun DAS Mendalam. Menurut salah satu staf SOC, Joy belum siap beradaptasi dengan alam atau habitat aslinya. Joy memberikan perilaku seperti masih berada di rehabilitasi yaitu selalu ingin dekat dengan manusia dan tidak mau mencari pakan serta tempat tinggal sendiri. Salah satu bukti ketidaksiapan Joy di habitat aslinya, Joy tidak mau menjauh dari titik lokasi pelepasliaran tersebut serta Joy telah melakukan pengrusakkan pada salah satu camp staf SOC yang berada di kawasan. Untuk itu SOC memutuskan membawa kembali Joy ke rehabilitasi untuk diberikan perawatan dan pendampingan sehingga nantinya JOY benar-benar siap untuk dilepasliarkan kembali ke habitat aslinya di kawasan Taman Nasional Betung Kerihun. Pihak Balai Besar TaNa Bentarum sangat mendukung dengan dibawanya kembali Joy ke rehabilitasi untuk dilakukan rehabilitasi lebih lanjut, karena akan membahayakan masyarakat setempat maupun pengunjung yang masuk ke kawasan dan nyawa Joy sendiri. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Pembentukan Polisi Kehutanan Tahun 2018: Bangkitkan Kembali Semangat Baru Pada Calon Polhut

Jayapura, 3 Juli 2018. Salah satu persyaratan untuk menjadi Pejabat Fungsional Polisi Kehutanan selain mengikuti Prajabatan adalah diwajibkan untuk mengikuti proses Pembentukan. Diklat Pembentukan khusus untuk jabatan Polisi Kehutanan merupakan kerjasama antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama Kepolisian Republik Indonesia. Dengan semakin pesatnya proses pembangunan jaman sekarang menuntut agar para aparatur negara yang dibentuk menghasilkan output atau kualitas yang semakin tinggi pula. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut Panitia penyelenggara Diklat Pembentukan Polisi Kehutanan senantiasa melakukan perbaikan dengan menggunakan berbagai metode pembelajaran dan lokasi penyelenggaraannya pun tidak selalu sama dalam setiap angkatan. Tahun angkatan 1 2018 dibagi menjadi 2 fase, yaitu fase pertama lokasi Diklat Pembentukan di Setukpa Lemdiklat POLRI, Kota Sukabumi Provinsi Jawa Barat dimulai tanggal 17 Maret hingga 2 Mei 2018. Adapun fase kedua berlokasi di BDLHK Bogor, Rumpin, Kab. Bogor, Provinsi Jawa Barat pada tanggal 3 sampai dengan 17 Mei 2018. Dengan demikian diharapkan dapat menimbulkan semangat baru bagi calon Polhut tahun angkatan 2018 ini. Tujuan dari proses pembentukan ini antara lain adalah membentuk mental dan fisik aparatur negara khususnya pejabat fungsional polisi kehutanan yang berkualitas dan dapat menyelesaikan masalah di lapangan sesuai dengan tugas dan fungsi pokoknya. Salah satunya yaitu dengan aktifitas fisik (lari) yang dijadwalkan dilakukan setiap hari. Aktifitas pembentukan fisik lainnya bukan hanya saja berupa lari, melainkan pula terdapat aktifitas latihan kemampuan khusus lainnya yaitu beladiri, SAR, Kesamaptaan dan latihan menembak. Selain pembinaan fisik tersebut, peserta diklat pun dibekali dengan berbagai macam materi, baik untuk membantu mengembangkan mentalnya maupun materi pembelajaran bagaimana pelayanan prima, pengetahuan dasar mengenai KUHAP/ KUHP, pengetahuan mengenai KORWASBIN Polsus, Teknik dan praktek penjagaan, Pengetahuan dasar mengenai kepolisian khusus, pengetahuan mengenai penyuluhan KAMTIBMAS, pengetahuan dan latihan patroli, penanganan negosiasi, navigasi dan pengetahuan mengenai HAM. Jumlah jam pelajaran sebanyak 100 jpl dengan jumlah jam praktek lebih banyak dari pada teori.Dengan jumlah total peserta diklat sebanyak 74 orang yang terdiri dari 63 orang pria dan 11 orang wanita ini, diharapkan dapat menghasilkan calon polhut yang trengginas dan tangguh. Selain itu, peserta juga secara tidak langsung dituntut agar beretika dan religius dalam menjalankan kehidupan sehari-hari dimana akan sangat berguna di tempat kerja nanti. Hasil dari kegiatan pembentukan Polisi Kehutanan angkatan 1 tahun 2018 yaitu seluruh peserta yang berjumlah 74 orang tersebut dinyatakan lulus. Sumber : Balai Besar KSDA Papua
Baca Berita

BBKSDA Jatim Jebak Oknum PNS Penjual Janin Kijang

Kediri, 2 Juli 2018. Berawal dari informasi masyarakat tentang jual beli online janin satwa liar melalui facebook (FB), petugas Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Kediri menyusun strategi penjebakan. Seorang oknum PNS guru SD di Jegu Blitar menawarkan janin Kijang dibeberapa grup jual beli online. Petugas BBKSDA Jatim segera berkoordinasi dengan Polres Blitar menyusun rencana penangkapan. Untuk memancing pelaku, Kepala SKW 1 berpura pura sebagai pembeli. Skenario disusun sealamiah mungkin dengan proses menawar harga hingga pelaku setuju diajak COD. Akhirnya pada Minggu, 1 Juli 2018 pukul 18.30 wib, tim yang terdiri dari petugas SKW 1, Resort Konservasi Wilayah (RKW) 02, Polres Blitar dan LSM (Profauna) berhasil mengamankan pelaku. Awal mula aksi ini, Kepala SKW I menemui pelaku seorang diri, saat dipastikan pelaku membawa barang bukti, tim segera menyusul. Bersama pelaku juga diamankan janin yang diduga janin Kijang 2 ekor, sebilah senjata tajam berupa golok dan sebuah sepeda motor. Pengembangan dilakukan dengan menggeledah rumah tersangka, dan didapati seekor janin Kijang dan bekas bungkus paket ekspedisi yang beralamat asal dari Madura. Perbuatan tersangka yang berinisial A (31) melanggar pasal 40 ayat (2) Jo. Pasal 21 ayat (2) huruf a UU RI No.5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dengan ancaman kurungan maksimal 5 tahun dan denda Rp 100.000.000. Untuk identifikasi lebih lanjut, janin yang diduga kuat sebagai janin Kijang tersebut dibawa ke laboratorium bagian Zoologi Universitas Brawijaya Malang untuk memastikan bahwa barang bukti tersebut adalah janin Kijang (Muntiacus muntjak) Sumber : Siti Nurlaili - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Bupati Majalengka Memberikan Teladan Dalam Upaya Penyelamatan Satwa Liar Dilindungi

Majalengka - 2 Juli 2018, Telah dilakukan penyerahan secara simbolis satwa liar dilindungi dari masyarakat Kabupaten Majalengka dan sekitarnya yang diwakili langsung oleh Bupati Majalengka, DR. H.Soetrisno, SE,M.Si kepada Balai Besar KSDA Jawa Barat yang diwakili Kepala Bidang KSDA Wilayah III Ciamis dan disaksikan oleh Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan Ditjen Gakkum LHK beserta Sekda Kab.Majalengka serta segenap kepala dinas, kepala kantor, kepala UPTD lingkup Kabupaten Majalengka bertempat di Pendopo Kabupaten Majalengka. Penyerahan satwa secara simbolis oleh Bupati Majalengka ini merupakan bentuk dukungan seorang Kepala Daerah terhadap penyelamatan satwa liar Dilindungi Undang-undang yang semakin marak di masyarakat. Pada kesempatan itu pula, Bupati Majalengka menghimbau kepada seluruh masyarakat yang memelihara satwa yang satwa liar yang dilindungi Undang-undang secara tidak sah agar menyerahkannya secara sukarela kepada pemerintah cq. BBKSDA Jawa Barat bahkan sekaligus menginstruksikan kepada jajaran pegawai pemerintah daerah Kabupaten Majalengka agar mendukung kegiatan penyelamatan satwa ini. Adapun satwa liar dilindungi yang berhasil dievakuasi sebanyak 15 ekor dari berbagai jenis, yaitu: Buaya Muara (Crocodylus porosus) sebanyak 4 ekor, Kasuari (Casuarius casuarius) sebanyak 1 ekor, Soa layar (Hydrosaurus amboinensis) sebanyak 4 ekor, Elang ular bido (Spilornis cheela) sebanyak 2 ekor, Julang emas (Aceros undulates) sebanyak 1 ekor, Alap alap jambul (Accipiter trivirgatus) sebanyak 1 ekor, Elang bondol (Haliastur indus) sebanyak 1 ekor dan Merak hijau (Pavo muticus) sebanyak 1 ekor. Satwa-satwa tersebut telah dititiprawatkan di Lembaga Konservasi Keberhasilan evakuasi satwa diatas, merupakan hasil dari kegiatan pengumpulan bahan keterangan (pulbaket) yang telah dilaksanakan selama 2 (dua) minggu secara mandiri oleh Resor KSDA Wilayah Cirebon, Seksi Konservasi Wilayah VI Tasikmalaya. Selanjutnya hasil pulbaket dimaksud diolah dan dilakukan analisis yang meliputi, lokus, modus, kekuatan dan resiko yang akan dihadapi untuk kemudian dilakukan langkah-langkah sosialisasi/penyadartahuan secara berkala untuk meminimalisir munculnya perlawanan oleh para pemilik/pemelihara satwa liar dilindungi di wilayah Kabupaten Majalengka dan sekitarnya. Kegiatan pulbaket ini ternyata gayung bersambut dengan Direktorat Pencegahan dan Pengamanan Hutan Ditjen Gakkum LHK, bahwa ditengarai terdapat aktifitas pemeliharaan satwa dilindungi di wilayah Majalengka dan maka segera dilaksanakan updating, sinkronisasi dan telaah data bersama-sama personil untuk menentukan langkah-langkah penanganan terpadu. Dengan mempelajari fenomena merebaknya kemunculan dan gangguan satwa liar yang tergolong buas (buaya) di wilayah perairan dekat dengan pemukiman warga, seperti di Bandung dan Jakarta yang mendapat perhatian dari media dan untuk mencegah viral serta memicu tindakan tidak prosedural dari warga maupun pihak-pihak yang merasa terganggu/terancam dengan fenomena kemunculan satwa liar tersebut, sehingga diputuskan untuk segera mengevakuasi satwa-satwa dilindungi termasuk buaya di wilayah Majalengka dan sekitarnya. Dengan telah diserahkannya satwa dilindungi secara simbolis oleh Bupati Majalengka yang mewakili warga masyarakat Kabupaten Majalengka dan sekitarnya ini, diharapkan menjadi momentum penting dalam membangun kesadaran kolektif (collective awareness) berbagai pihak baik pusat maupun daerah serta masyarakat, juga dapat menjadi contoh bagi daerah lainnya dalam memberikan teladan dan kepeloporan sebagai pemimpin daerah dalam upaya penyelamatan satwa liar dilindungi. Sumber: BBKSDA Jawa Barat
Baca Berita

8 Kasuari Gelambir Ganda Siap Direlease ke Habitat Asalnya

Surabaya, 3 Juli 2018. Sebanyak 8 ekor Kasuari Gelambir Ganda (Casuarius casuarius) yang berada di kandang transit milik Balai Besar KSDA Jawa Timur, siap direlease ke habitat asalnya. Kedelapan Kasuari tersebut hasil operasi penertiban peredaran tumbuhan dan satwa liar di Bandara Juanda Surabaya pada 11 November 2017 yang lalu. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, pada Pasal 19 disebutkan bahwa penyelamatan jenis tumbuhan dan satwa antara lain dapat dilakukan dengan mengembalikan ke habitatnya. Sebagai tahap awal, telah dilakukan Proses pengambilan sampel PCR AI dari burung Kasuari oleh Balai Karantina Pertanian Surabaya pada 29 Juni yang lalu. Hal ini untuk memenuhi syarat bebas Avian Influenza atau flu burung untuk memasuki Provinsi Papua. Kegiatan release burung Kasuari ini difasilitasi oleh sebuah lembaga bernama Jakarta Animal Aid Network atau JAAN. Dari hasil koordinasi yang intensif dengan pihak JAAN, kegiatan release direncanakan di hutan lindung yang dikelola oleh Mr. Alex Waisimon dan masuk wilayah kerja Balai Besar KSDA Papua di Jayapura. Besar harapan kami kedelapan Kasuari yang saat ini berumur 10 bulan dapat kembali ke habitatnya dan berkembangbiak dengan baik di sana. (Agus Irwanto) Sebanyak 8 ekor Kasuari Gelambir Ganda (Casuarius casuarius) yang berada di kandang transit milik Balai Besar KSDA Jawa Timur, siap direlease ke habitat asalnya. Kedelapan Kasuari tersebut hasil operasi penertiban peredaran tumbuhan dan satwa liar di Bandara Juanda Surabaya pada 11 November 2017 yang lalu. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, pada Pasal 19 disebutkan bahwa penyelamatan jenis tumbuhan dan satwa antara lain dapat dilakukan dengan mengembalikan ke habitatnya. Sebagai tahap awal, telah dilakukan Proses pengambilan sampel PCR AI dari burung Kasuari oleh Balai Karantina Pertanian Surabaya pada 29 Juni yang lalu. Hal ini untuk memenuhi syarat bebas Avian Influenza atau flu burung untuk memasuki Provinsi Papua. Kegiatan release burung Kasuari ini difasilitasi oleh sebuah lembaga bernama Jakarta Animal Aid Network atau JAAN. Dari hasil koordinasi yang intensif dengan pihak JAAN, kegiatan release direncanakan di hutan lindung yang dikelola oleh Mr. Alex Waisimon dan masuk wilayah kerja Balai Besar KSDA Papua di Jayapura. Besar harapan kami kedelapan Kasuari yang saat ini berumur 10 bulan dapat kembali ke habitatnya dan berkembangbiak dengan baik di sana. Sumber : Agus Irwanto - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Senapan Angin Bukan Untukmu

Mempawah, 1 Juli 2018. Tim Wildlife Rescue Unit BKSDA Kalimantan Barat kembali mengusut proses evakuasi dramatis oleh warga terkait kemunculan satu individu jantan di Wajok Hilir. Jantan dewasa ini berhasil ditangkap oleh warga pada Minggu, 1 Juli 2018. Warga dan aparat desa setempat memaparkan bahwa sejumlah 10 orang laki laki dewasa mengepung pohon Albasia tempat bernaungnya seekor satwa dilindungi Orangutan. Dipancing dengan berbagai cara tanpa menyakiti satwa, warga berhasil membuat satwa ini turun dari pohon. Saat itu masih pukul 08.00 jam sarapannya Si Orangutan. Kesempatan ini tidak disia-siakan. Warga menangkapnya dan mengikatnya pada sebilah batang kayu yang mudah dijumpai di lokasi kebun Ibu Sabie. Bapak Sudaryo, ketua RT 02/04 dan Bapak Hairul petugas dari Kepolisian Sektor Siantan. Beliau menuturkan bahwa masyarakat disana biasa membawa senapan angin jika bekerja di kebun atau di ladangnya masing-masing. Kesadaran warga dan kesaksian Petugas Kepolisian Sektor Siantan ini menunjukkan bahwa pemahaman perlakuan terhadap satwa dilindungi telah dimengerti bersama. Menyakiti satwa dilindungi akan berurusan dengan hukum. Oleh karena itu proses ini dilakukan dengan meminimalkan luka yang mungkin terjadi. BRAVO KONSERVASI! (er) Sumber : Tim WRU Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Kolaborasi Bersih Sampah Kawasan Wisata Pasca Eksotika Bromo dan Yadnya Kasada

Cemoro Lawang, 2 Juli 2018. Kegiatan bersih sampah kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru pasca Eksotika Bromo dan Yadnya Kasada di laksanakan mulai hari minggu 1 Juli 2018 diikuti lebih kurang 315 personil yang merupakan gabungan dari seluruh stakeholders TNBTS, Forum Sahabat Gunung, Bromo Lovers, polsek sukapura, Koramil Sukapura, PHRI Probolinggo, Disbudpora Probolinggo, Komunitas Jeep, Ojek, PKL, Asongan, Kuda serta masyarakat pecinta dan peduli Lestari TN Bromo Tengger Semeru. "Pasca Upacara Yadnya Kasada dan Eksotika Bromo kita lakukan pembersihan sampah pengunjung yang datang di acara tersebut. Alhamdulillah tahun ini kegiatan bersih sampah tersebut di lakukan secara kolaborasi dan swadaya seluruh komponen masyarakat yang peduli kelestarian TN Bromo. Kita hanya menghimbau dan mengajak dan mereka dengan antusias menyambut baik himbauan dan ajakan TNBTS dan FSG untuk secara bersama-sama dan mandiri membersihkan sampah pasca upacara kasada dan festival eksotika bromo. Lokasi yang dibersihkan seputar Bromo dari mulai Penanjakan, Bukit kaki jenggot (telletubies), Laut Pasir, sekkitar Pura Poten, Tangga Bromo dan sekitar Gunung Batok", ucap Kepala Seksi PTN I Cemorolawang. Kepala Balai Besar TN Bromo Tenngger Semeru Ir. John Kennedie MM, mengapresiasi dan memyambut baik kegiatan bersih sampah tersebut dan berharap kegiatan ini di pertahankan tidak hanya dilakukan pada event pasca kasada atau festival eksotika Bromo saja. Wisata Bromo dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat khususnya masyarakat sekitar TNBTS dan mampu meningkatkan kesejahteraan dan ekonomi masyarakat sehingga sudah sewajarnya juga kebersihan, kelestarian, keamanan dan kenyamanan wisata TNBTS juga menjadi tanggung jawab bersama seluruh masyarakat yang menikmati dampak dari wisata tersebut. Pada kesempatan bersih sampah ini berhasil di angkut sampah berbagai jenis lebih kurang 4000 kg, selanjutnya sampah tersebut akan diangkut ke Tempat Pembuangan Sampah Akhir Sukapura di Probolinggo. Sumber : Balai Besar TN Bromo Tengger Semeru
Baca Berita

Belajar Interpretasi Lingkungan di Taman Nasional Gunung Ciremai

Belajar Interpretasi Lingkungan di Taman Nasional Gunung Ciremai Kuningan, 2 Juli 2018. “Indonesia Writing Edu Center” IWEC melaksanakan kegiatan “Eco Intrepreting Camp” di Curug Palengseran Situs Lingga Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) pada tanggal 30 Juni 2018 sampai dengan 2 Juli 2018. Peserta yang mengikuti kegiatan sebanyak 32 orang yang terdiri dari 21 orang siswa lingkup DKI Jakarta usia 9-15 tahun (Labschool, Sekolah Cikal, “Homeschooled student”, SD Mizamia Andalusia, SD Al Azkar, Gemala Ananda, ABC Kidz, Sekolah Teturn Bunaya, Madrasah Tekno Natura, Sekolah Citra Alam, Al Ikhlas Cipete, dan Al-Azhar pusat Kebayoran), tiga orang tua peserta, dan delapan orang pendamping/ fasilitator. “Indonesia Writing Edu Center” (IWEC) merupakan lembaga pendidikan non formal untuk memfasilitasi bakat atau minat atau kreatifitas anak dalam membaca dan menulis sebagai suatu kegiatan yang menyenangkan. Bahkan membiasakan anak untuk menceritakan apa yang dilihat dan apa yang dirasakan, yang biasa disebut dengan interpretasi. Dalam kelas membaca, menulis dan interpretasi, peserta tidak hanya dilatih di dalam kelas namun juga di luar kelas (outdoor). Pada kegiatan tersebut, peserta akan diberikan materi mengenai konservasi dan TNGC, interpretasi lingkungan (menulis dan bercerita), pengamatan satwa (Kupu-kupu) dan sejaran budaya Situs Lingga. Curug Palengseran Situs Lingga yang berada di sebelah selatan Gunung Ciremai memberikan ruang bagi peserta untuk bereksplorasi secara langsung. Kelimpahan air, ekosistem hutan pegunungan, flora fauna dan sejarah budaya merupakan obyek yang menarik untuk ditulis dan diceritakan. Usia remaja adalah usia yang tanggap dengan perkembangan jaman. Pada era digital saat ini, apabila tidak disikapi dengan bijak oleh orang tua, maka akan memberikan dampak negatif pada perkembangan anak. Tidak jarang usia muda, seperti pelajar SD atau SLTP sudah rentan dengan penyakit organ dalam maupun psikologis akibat penggunaan digital yang berlebihan. Sekolah sebagai sarana pembelajaran atau pendidikan formal terkadang belum maksimal memfasilitasi kebutuhan anak yang memiliki kelebihan/ bakat/ minat/ kreatifitas tertentu dalam kurikulum yang telah ditentukan. Hanya sebatas bagaimana menghasilkan angka akademik yang bagus pada anak, padahal pendidikan moral dan sosial sangat penting bagi perkembangan anak sebagai bekal masa depan. [teks © Nisa Syachera, foto © Indra Permana - BTNGC |072018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Kepala Balai Besar KSDA Papua Road to TWA Teluk Youtefa

Jayapura, 2 Juli 2018. Kepala Balai Besar KSDA Papua, Ir. Timbul Batubara, M.Si, bersama tim lapangan melakukan kunjungan ke Resort Teluk Youtefa pada Sabtu, (30/6). Tim lapangan terdiri atas sembilan orang, termasuk kepala bidang teknis, Askhari Dg. Masikki, S.Hut. dan Kepala Resort Teluk Youtefa, Ernest Itaar. Beberapa agenda ditetapkan dalam kunjungan tersebut, terutama bertemu para tokoh adat dan kepala suku untuk duduk bersama di para-para, mencetuskan rencana-rencana ke depan. Salah satu program yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat adalah penanaman bakau di Entrop, Jayapura. Perjalanan ke TWA Teluk Youtefa ditempuh menggunakan kendaraan VIAR Cross 200 cc dan KLX Kawasaki 150 cc. Rute dimulai dari kediaman Kepala Balai Besar KSDA Papua menuju titik pertama, hutan bakau di belakang Kampung Tobati, Jayapura. Setelah melakukan pengamatan di lokasi tersebut, perjalanan dilanjutkan menuju kawasan Entrop, Jayapura, tepatnya di lokasi hutan bakau yang mengalami kerusakan. Area inilah yang akan menjadi titik penanaman bakau. Menurut kepala Resort Teluk Youtefa, Ernest Itaar, kerusakan hutan bakau di Entrop merupakan akibat dari penebangan tak terkendali. Ada pihak-pihak yang menyalahi aturan, menimbun area bakau untuk dijadikan permukiman dengan luasan puluhan hektar. Selain itu, aktivitas penebangan bakau untuk kayu bakar juga menyumbangkan kerusakan hutan bakau di lokasi tersebut. “Dulu waktu saya kecil, pantai di sekitar Entrop sangat bening, jernih. Semua yang di dasar laut bisa kita lihat dari permukaan. Bakau masih utuh. Ikan-ikan juga banyak. Tetapi sekarang keadaannya sangat buruk. Air sangat keruh karena tidak ada filter sama sekali. Ikan-ikan jugabmungkin sudah tidak ada di situ. Masyarakat kalau memancing bukannya mendapat ikan, tetapi malah mendapatkan sampah. Kondisi itu membuat saya merasa harus melakukan tindakan, supaya keadaan hutan bakau di Entrop bisa kembali seperti dulu,” ungkap Ernest Itaar. Mengenai penanaman bakau di area tersebut, BBKSDA Papua telah mendapatkan dukungan dari BPDAS Memberamo, berupa penyediaan bibit bakau. Setelah melakukan survei lokasi penanaman bakau, Kepala Balai Besar KSDA Papua bersama tim lapangan kemudian melanjutkan perjalanan ke kawasan Hutan Bakau di Pantai Hamadi. Di tempat ini rencananya akan dibangun jalur wisata bakau. Selain lokasi-lokasi bakau, mereka juga mengunjungi satu titik yang direncanakan menjadi area diving di Ring Road, dan lokasi kapal Jepang yang kandas di Pantai Menduk, Jayapura. Dari sana, tim lapangan menuju Debi dan Tanjung Marine, atau yang dikenal juga dengan nama Tanjung Kaswari. Perjalanan dilanjutkan ke Pantai Hamadi untuk makan siang bersama para tokoh adat dan kepala suku. Dalam kesempatan itu banyak tokoh adat yang hadir dari suku-suku di sekitar TWA Teluk Yutefa, antara lain Kalep Hamadi, Aser Hamadi, Heri Dawir, dan Markus Haay. Mereka secara tegas menyampaikan dukungan terhadap rencana-rencana program BBKSDA Papua ke depan. Kalep Hamadi menyatakan, pertemuan-pertemuan semacam inilah yang memang diharapkan oleh masyarakat dan para tokoh adat. Duduk bersama di para-para, dalam tradisi masyarakat Papua merupakan musyawarah adat tertinggi untuk memutuskan ataupun merencanakan berbagai hal. Melihat masyarakat Papua, khususnya di kawasan TWA Teluk Youtefa yang mayoritas condong kepada gereja, kepala Balai Besar KSDA Papua berencana melibatkan gereja secara lebih terbuka di dalam berbagai program konservasi. Ide-de yang dicetuskan Kelapa Balai Besar KSDA Papua merupakan langkah yang tepat dalam melakukan sinergi menuju harmoni alam, manusia, adat, dan agama. Hal ini terbukti dari sikap masyarakat berbagai kalangan, yang terus memberikan dukungan dalam kerja-kerja konservasi BBKSDA Papua ke depan. Sumber : Balai Besar KSDA Papua
Baca Berita

2 Ekor Penyu Sisik Diserahkan Masyarakat

Banten, 2 Juli 2018. Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan TSL Seksi Konservasi Wilayah I Serang telah menerima penyerahan secara sukarela satwa dilindungi Undang-Undang berupa 1 ekor Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) jenis kelamin jantan, sehat dan kurang lebih umur 1 th, dari masyarakat berinisial E (40 th) pekerjaan Wiraswasta yg beralamat di Komplek PU Kejaksaan, Serang, Banten. Menurut pengakuannya satwa tersebut terdampar dan diselamatkan dari Pulau Tunda dan selanjutnya di serahkan ke kantor SKW I Serang dan selanjutnya akan di rehabilitasi di Pulau Sangiang dimana terdapat penangkaran Penyu semi alami. Sehari kemudian, yaitu hari Selasa tanggal 3 Juli 2018 ditempat yang berbeda Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan TSL Seksi Konservasi Wilayah VI Tasikmalaya telah menerima penyerahan satwa yang sama yaitu Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) sebanyak 1 ekor berukuran panjang 63 cm dan lebar 41 cm dengan berat + 30 kg dari masyarakat berinisial RF yang beralamat di Jl. Kapuan Jaya RT. 15 RW. 04 Ds. Dukuh Kec, Indramayu Kab, Indramayu. Proses penyerahan satwa tersebut diawali dari laporan yang bersangkutan ke Instagram BBKSDA Jabar (@Bbksda_jabar) dan Call Center Seksi Konservasi Wilayah VI Tasikmalaya yang selanjutnya ditindaklanjuti oleh Tim Resor KSDA Cirebon. Menurut pengakuannya satwa tersebut ditemukan dari kebun/empang di depan rumahnya selanjutnya diselamatkan dan diamankan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Setelah melihat berita-berita dari media TV, media cetak dan media online akhir-akhir ini bahwa dengan memiliki, memelihara dan memperdagangkan satwa dilindungi tanpa izin dapat dikenakan sanksi. Penyerahan kedua satwa tersebut di atas membuktikan bahwa sosialisasi konservasi TSL melalui media massa cukup efektif untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat terhadap konservasi dan tertib kepemilikan TSL yang Dilindungi Undang-Undang. Sumber: Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

Pelepasan Orangutan Hasil Penyelamatan ke Pusat Rehabilitasi Orangutan

Pontianak, 2 Juli 2018. Malam dengan kondisi kota Pontianak hujan tak menyurutkan langkah tim WRU Balai KSDA Kalbar untuk melakukan pelepasan pemberangkatan 1 individu orangutan yang berasal dari Jalan Parit Yakob Desa Wajok Hilir Kecamatan Siantan, Kabupaten Mempawah. Secara kronologis sebelum dilakukan penyelamatan oleh tim WRU, disampaikan Ketua RT 02/04 Desa Parit Yakob Bp. Sudaryo, bahwa orangutan tersebut telah berkeliaran selama 3 hari di salah satu kebun milik Ibu Sabie, orangutan tersebut telah memakan tanaman di kebun milik bu Sabie. Kebun tersebut berjarak 2 km dari pemukiman warga terdekat. Warga berusaha menangkap satwa tersebut dengan menggunakan tali tambang. Saat dilakukan penangkapan oleh warga, orangutan tersebut sedang turun dari pohon Albasia. Orangutan ditangkap warga dengan mengikat dan membawanya menuju pemukiman dengan pengawalan Tim Kepolisian Sektor Siantan serta melaporkan kejadian ini kepada pihak BKSDA Kalimantan Barat. Tidak berapa lama petugas Tim Gugus Tugas TSL Balai KSDA Kalbar sampai ke lokasi dan langsung melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap satwa tersebut. Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat sebagai pembina Wildlife Rescue Unit Balai KSDA Kalimantan Barat mengapresiasi dan berterimakasih atas reaksi positif warga dan instansi terkait untuk usaha penyelamatan satwa liar tersebut. usaha penyelamatan satwa oleh masyarakat, pemerintah daerah setempat dan kepolisian setempat dapat berlangsung sangat efektif sehingga orangutan dapat terselamatkan. Selanjutnya orangutan tersebut pada malam hari (2/7/2018) diberangkatkan ke Sintang Orangutan Center (SOC) untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap kesehatan satwa tersebut dan akan dilepasliarkan ke habitatnya, mengingat satwa tersebut masih memiliki sifat liar. Mengingat beberapa kejadian ditemukannya orangutan di Wajok Hilir dan sekitarnya, dalam waktu dekat Balai KSDA Kalbar bersama beberapa pihak akan melakukan identifikasi guna memastikan keberadaan orangutan di daerah tersebut serta sosialisasi kepada masyarakat terkait penanganannya bila menjumpai satwa tersebut di areal kebun. Dalam jangka menengah dan jangka panjang Balai KSDA bersama para pihak bersepakat akan melakukan survey dan kajian menyeluruh di areal tersebut sebagai bahan masukan bagi pengambilan kebijakan. (ys) Sumber : Tim WRU Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Tagging Microchip Tiga Anak Harimau di Bali Zoo

Gianyar, 2 Juli 2018. Berita gembira datang dari Bali Zoo, telah lahir anak Harimau Sumatera (Panthera tigis sumatrae) sebanyak 3 (tiga) ekor. Induk Harimau Sumatera yang bernama Sean (betina) berumur 5 tahun dan Pendeka (jantan) berumur 3,5 tahun adalah hibah dari Lembaga Konservasi Bukittinggi kepada Bali Zoo pada tanggal 16 Desember 2017. Pada saat masa karantina dan adaptasi lingkungan kandang di Bali Zoo, dari tanggal 16 Desember 2017 hingga 22 Januari 2018 kedua harimau tersebut kawin dan hamil. Setelah masa karantina, Harimau tersebut kemudian dilepas di kandang exibit di Bali Zoo. Sore hari pada pada tanggal 3 mei 2018 harimau betina Sean melahirkan dengan jumlah anak 3 ekor. Saat ini anaknya telah berusia 1,5 bln dalam dalam kontrol ketat tenaga medis. Sebagai informasi, Pada hari ini tanggal 2 juli 2018, oleh Balai KSDA Bali dan tenaga medis Dokter Hewan dari Bali Zoo, telah memasang tagging microchip di ketiga anak harimau dengan no chip sbb : anak jantan no chip 000769CID2, anak jantan no chip 000769CICA dan anak betina no chip 000769BEEA. Sampai saat ini kondisi kesehatan yang terpantau sehat dan cukup baik. Sumber : Balai KSDA Bali
Baca Berita

Sempat Viral, Berita Tentang Penyu Mati Di Pantai Sisik Ketapang Tidak Ditemukan

Pontianak, 2 Juli 2018. Belum lama ini media sosial dihebohkan dengan berita ditemukannya seekor penyu mati yang sudah diambil cangkangnya, di pantai Sisik Kabupaten Ketapang (27/6/2018). Berita ini pertama kali viral setelah akun @informasiketapang mempostingnya di media sosial Instagram. Berdasarkan berita tersebut, tim dari Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang Balai KSDA Kalimantan Barat, langsung turun ke Pantai Sisik untuk mengetahui kebenaran berita tersebut. Setelah menyusuri pantai dan memperoleh keterangan baik dari masyarakat setempat maupun nelayan yang biasa memukat, tidak ditemukan adanya penyu mati. Tim SKW I tidak berhenti pada hari itu saja, hari berikutnya (28/6/2018) tim kembali menanyakan perihal penyu mati kepada masyarakat sekitar pantai Sisik. Warga menuturkan bahwa tidak ada penyu mati disepanjang pantai Sisik. Berita tentang penyu mati ini tentu saja telah membuat para netizen bersimpati dan mengutuk perbuatan tersebut. @priyadiramadhan “kasihan penyunya”; @_kartana21 “tega sekali pembunuhan sadis”; @amad_shancezz378 “ kasihan tuh.. kaya gk ada kerjaan lain aja bunuh hewan”. (ds) Sumber : Tim WRU SKW I Ketapang Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Kepala Bidang PTN Wil I TN Bromo Semangat Ikuti Clean Up Pasca Kasada

Cemoro Lawang, 2 Juli 2018. Murdiono Kepala Bidang PTN Wil I TN Bromo Tengger Semeru (TNBTS) yang biasa dipanggil “Pak Mur” penuh semangat mengikut kegiatan “Clean Up Bromo”. Pembersihan kawasan G, Bromo setelah perayaan Yadnya Kasada 2018. Dengan cekatan “Pak Mur” memunguti sampah yang bertebaran akibat kurang sadarnya pengunjung saat menyaksikan Eksotika Bromo dan Yadnya Kasada. “Tak kurang dari 4.000 kg sampah berhasil kami kumpulkan, padahal tidak kurang kami memberi himbauan kepada pengunjung untuk membuang sampah pada tempat yang disediakan, saya sangat berterimakasih kepada seluruh masyarakat dan mitra yang telah swadaya bersama-sama membersihkan sampah”, ucap ‘Pak Mur’ usai kegiatan Clean Up Bromo. “Alhamdulillah sekitar 300 an orang hadir mengikuti kegiatan ini sehingga kawasan G. Bromo bisa bersih dari tumpukan sampah, mulai dari Penanjakan, Bukit Kaki Jenggot Kaki Pasir, Sekitar Pura Poten, sampai dengan tangga Bromo kami bersihkan”, pungkas ‘Pak Mur’ menambahkan. Kegiatan Eksotika Bromo Dan Nyadnya Kasada diselenggarakan tanggal 29/30 Juni 2018, kegiatan tersebut merupakan perayaan masyarakat Tengger setiap tanggal 14 bulan ke sepuluh sesuai Kalender Jawa dengan memberikan sesajen berupa hasil bumi dan hewan ternak di Kawah G. Bromo sebagai persembahan kepada Sang Hyang Widi dan Leluhur. Sumber : Balai Besar TN Bromo Tengger Semeru
Baca Berita

Suku Togutil dan Paruh Bengkok Jadi Tema Liputan JP Trans7

Sofifi, 1 Juli 2018. Setelah bertemu di acara pameran Deep and Extreme 2018 bulan Maret lalu, akhirnya tim Jejak Petualang (JP) Trans7 melakukan peliputan di kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) di Resort Tayawi. Peliputan itu dilakukan selama 5 hari, mulai tanggal 25 s.d 29 Juni 2018. Sebelum melakukan peliputan, tim Trans7 yang terdiri dari 4 orang termasuk host-nya terlebih dahulu berdiskusi dengan Kepala Balai dan beberapa staf Balai TNAL serta menyeselaikan administrasi SIMAKSI. Dalam diskusi tersebut disepakati bahwa Trans7 akan meliput Masyarakat Tobelo Dalam atau Suku Togutil dan burung paruh bengkok. Kegiatan tersebut didampingi oleh staf dari Balai TNAL. Tim Trans7 juga melakukan peliputan tentang pelepasliaran burung paruh bengkok dan bangunan Suaka Paruh Bengkok. Penasaran bagaimana hasilnya nanti? Pastikan tonton terus jadwal Jejak Petualang di Trans7. Sumber: Akhmad David Kurnia Putra - Balai TN Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Evakuasi Si May di Kabupaten Sekadau

Sintang, 1 Juli 2018. Berawal dari informasi dan laporan Yayasan Planet Indonesia mengenai keberadaan orangutan di Kabupaten Sekadau. Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Seksi Konservasi Wilayah II Sintang Balai KSDA Kalimantan Barat (BKSDA Kalbar) melakukan pengecekan ke lokasi yang berjarak ± 2,5 jam dari Sintang bersama dengan tim dari Yayasan Penyelamatan Orangutan Sintang (YPOS). Tim tiba dilokasi langsung melakukan negoisasi serta memberikan pemahaman mengenai arti penting keberadaan dan pelestarian orangutan dengan sang pemiilk yang bernama Bp. Sanusi. Menurut pengakuan Sanusi, satwa tersebut ditemukan ketika sedang mencari lokasi kebun dan orangutan tesebut kemudian diberi nama “MAY”. Melalui Berita Acara Penyerahan satwa, May kemudian diserahkan untuk diperiksa oleh tim dokter hewan. Saat ini si May dititiprawatkan di pusat rehabilitasi YPOS sebelum dilepasliarkan kembali ke alam. Kerusakan habitat dan perburuan merupakan ancaman berkurangnya jumlah populasi Orangutan saat ini, konflik antara manusia dan satwa menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua untuk tetap dapat melestarikan satwa demi tercapainya tujuan konservasi. Mari kita semua mulai menyadari pentingnya kelestarian satwa dimulai dari diri sendiri. (PR) Sumber dan Dokumentasi : Tim WRU SKW II Sintang Balai KSDA Kalimantan Barat

Menampilkan 7.617–7.632 dari 11.140 publikasi