Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Masyarakat Nelayan Mandiri, TN Taka Bonerate Lestari

Rajuni - Taka Bonerate, Kepulauan Selayar, 7 Juli 2018. Penyuluh Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Tarupa Balai Taman Nasional Taka Bonerate (TNTBR) terus melakukan peningkatan pemberdayaan dan kapasitas kelompok masyarakat di dalam kawasan TNTBR mulai dari pemanfaatan potensi wisata sampai ke perikanannya. Adalah Kelompok Pengelolaan Akses Area Perikanan (PAAP) - Forum Peduli Laut Rajuni - Latondu yang dilatih bagaimana transplantasi dan monitoring terumbu karang dengan metoda rangka spider pada tanggal 28 s.d 29 Juni 2018 silam. Kegiatan ini diikuti 25 orang peserta dari Desa Rajuni dan Desa Latondu. Forum Peduli Laut Rajuni-Latondu adalah kelompok masyarakat nelayan binaan Balai TNTBR yang dalam proses inisiasinya dilakukan bersama-sama dengan mitra RARE Indonesia. Forum ini telah melakukan PKS (Perjanjian Kerja Sama) dengan Balai TNTBR tentang Penguatan Fungsi KPA berupa Pemberdayaan Masyarakat melalui Pemberian Akses Area Perikanan di Zona Tradisional di TNTBR. Lokasi pada zona dimaksud berada di perairan Taka Dangka - Taka Silebu dengan luas sekira 640 Ha. Lima bidang/divisi dimiliki Kelompok Forum Peduli Laut melalui FGD (Focus Group Discussion) berupa Monitoring, Dakwah (Sosialisasi), Pengawasan, Organisasi, Sosial Ekonomi. Inilah salah bentuk konkrit peningkatan kapasitas kelompok nelayan oleh Balai TNTBR, yang menjadi salah satu poin pelaksanaan kerjasama sebagaimana tercantum dalam PKS. Selama ini, upaya peningkatan kapasitas kelompok terus menerus dilakukan bekerjasama dengan mitra RARE, WWF dan WCS. "Diharapkan melalui pelatihan ini, kelompok masyarakat nelayan dapat meningkat kemampuannya dalam melakukan transplantasi dan monitoring terumbu karang secara mandiri" ucap Faat Rudhianto, Kepala Balai TNTBR. Sumber : Asep Pranajaya - Penyuluh Kehutanan Balai TN Taka Bonerate Foto : Irfandy Aznur - Penyuluh Kehutanan Balai TN Taka Bonerate Editor : Asri - PEH Balai TN Taka Bonerate
Baca Berita

Cerita Beautiful of Tesso Nilo di Festival TN dan TWA 2018

Yogyakarta, 6 Juli 2018. Pelataran Shiwa Candi Prambanan menjadi tempat talkshow Festival Taman Nasional dan Taman Wisata Alam (FTN&TWA) tahun 2018. Kepala Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) Supartono, S.Hut, MP mengisi talkshow dengan tema "Konservasi Satwa Liar, Lingkungan Hidup dan Kemanusiaan" pada tanggal 6 Juli 2018. Supartono menerangkan potensi yang terdapat di TNTN seperti Paket wisata panen madu sialang, panen madu ternak, dan Mahout Wanna Be. Khusus paket wisata unggulan Mahout Wanna Be, Supartono menerangkan bahwa wisata ini berupa kegiatan sehari menjadi pawang gajah, seperti mengangon gajah, memberi makan gajah, memandikan gajah dan mengamati perilaku gajah. “Nanti tamu akan tahu menjadi SUPIR gajah, menjadi supir gajah sama dengan bersama dengan pacar, harus dengan hati” ungkap Supartono sambil tertawa. Inilah kesempatan untuk benar - benar dekat dengan gajah tambahnya. Selain menonjolkan wisata Mahout Wanna Be, Supartono juga menerangkan potensi wisata lainnya seperti susur sungai, bersepeda di hutan, tracking di hutan serta tubing dan mandi balimau potang mogang bersama gajah, yang merupakan event wisata memadukan budaya dengan potensi gajah yang dilakukan untuk menyambut bulan Ramadhan. Inilah Beautiful of Tesso Nilo National Park Sumber : Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Berita

Hari ke-2 Festival TN dan TWA : Live Talkshow Balai TN Gunung Ciremai

Yogyakarta, 7 Juli 2018. Hari kedua perhelatan Festival Taman Nasional & Taman Wisata Alam (FTN & TWA) 2018 menjadi ajang Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) menjadi salah satu narasumber dalam dua live talkshow. Live talkshow dengan tema pengelolaan lestari gunung ciremai untuk kesejahteraan masyarakat dan kelestarian budaya luhur menjadi perhatian pengunjung karena juga dihadiri Direktur Jenderal Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekosistem, Bupati Kuningan, Bupati Majalengka yang di wakili Disparbud, Direktur utama BIJB kertajati, Dekan fakultas UNIKU dan mitra masyarakat pengelola gunung ciremai. Diceritakan pada talkshow awal mula respon negatif terhadap perubahan status Gunung Ciremai, proses membangun pemahaman masyarakat penyangga mengenai fungsi dan manfaat taman nasional baik secara ekologi, ekonomi dan sosial budaya serta proses perjalanan 11 tahun untuk perbaikan dalam pengelolaan kawasan taman nasional yang saat ini sudah menjadi peluang usaha yang menjanjikan bagi masyarakat penyangga. Balai TNGC juga mengadakan soft launching buku yang telah disusun Balai TNGC bersama dengan penulis buku Harley B. Sasta sebagai panduan pendakian Gunung Ciremai. Sebagai informasi, pengunjung yang hadir pada stand TNGC berjumlah 200 orang yang tak hanya berasal dari dalam negeri, juga dikunjungi turis mancanegara yang berasal dari Singapura, Italia dan Kolombia. Tidak ketinggalan beberapa agen travel juga menyambangi stand TNGC agar kedepannya dapat menjalin kerjasama dalam pengembangan wisata alam di Gunung Ciremai. Stand TNGC menampilkan informasi tentang Gunung Ciremai melalui leaflet, audiovisual, banner bahkan terdapat welcome food berupa Tape Kuningan dan aneka produk makanan khas Kuningan Majalengka. Selain informasi mengenai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), beberapa produk masyarakat binaan dan Dharma Wanita Persatuan (DWP) TNGC juga meramaikan stand. Bahkan beberapa produk seperti boneka macan tutul Jawa, kaos macan tutul Jawa, Topi Ciremai, madu dan tape kuningan habis terjual. Pengunjung semakin padat pada saat penyelenggaraan kuis grand door prize satu unit sepeda gunung, delapan voucher tiket gratis pendakian Gunung Ciremai, satu voucher menginap gratis di homestay desa wisata Cibuntu, dan 10 paket merchandise menarik lainnya. [teks ©? Mendry dan Gandi Mulyawan | foto ©? BTNGC | 072018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

SALAMLAHI (Satu Langkah Menuju Lantigiang Hijau)

Taka Bonerate Kepulauan Selayar, 7 Juli 2018. Pulau Lantigiang adalah salah satu pulau tak berpenghuni di kawasan TN.TBR yang sangat gersang dan tidak memiliki air tawar namun memiliki pemandangan lanskap yang cantik, pasir putih yang menyilaukan mata, air laut yang jernih dan melihat sunset disatu titik berdiri. Pulau tersebut rencananya dikembangkan sebagai spot destinasi wisata baru. SALAMLAHI ini dilaksanakan secara swadaya (06/07) oleh Kelompok MDK (Model Desa Konservasi) Jinato Marennu dan Komunitas Pemuda Jinato yang dibina kawan-kawan Resor Jinato dan SPTN II Jinato. Rangkaian kegiatan SALAMLAHI meliputi penyiapan bibit Ketapang, penanaman, dan bersih pantai. Kelompok MDK ini memiliki beberapa divisi/seksi diantaranya kepemanduan, homestay, transportasi, konsumsi-souvenir, pengamanan kawasan, dan rehabilitasi. "Mereka sudah siap menerima dan mengelola wisatawan serta melakukan pemulihan ekosistem", jelas Faat Rudhianto Kepala Balai TN. Taka Bonerate. Rencananya pihak TN. Taka Bonerate buat Perjanjian Kerjasama dengan mereka. Peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) kelompok masyarakat ini juga dibantu oleh mitra WWF dan WCS melalui pelatihan-pelatihan. Salam HIJAU, Salam LESTARI... Sumber : Asri PEH - Balai TN. Taka Bonerate
Baca Berita

Penerapan Scientific Based Balai TN Bali Barat Bersama Universitas Udayana

Denpasar, 7 Juli 2018. Cara baru pengelolaan kawasan konservasi berupa Scientific Based Decision Support System mulai diterapkan Balai Taman Nasional Bali Barat (BTNBB) bersama Universitas Udayana (UNUD). Inilah upaya kerjasama dua pihak dengan melaksanakan workshop internasional di Gedung Pascasarjana UNUD. Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof.Dr.Ir. I Nyoman Gde Antara, M.Eng. membuka workshop dengan peserta akademisi di lingkungan UNUD serta perwakilan dari instansi terkait. Turut hadir narasumber Josie Carwardine, Ph.D (CSIRO, Australia), Jennifer Firn, Ph.D (QUT, Australia) dan Drh. Agus Ngurah Krisna Kepakisan, M.Si (Kepala Balai TNBB, Indonesia). Workshop kali ini merupakan kelanjutan dari workshop sebelumnya yang diadakan pada tahun 2016 untuk menggalang dukungan masyarakat, khususnya akademisi, dalam rangka pengelolaan Taman Nasional Bali Barat. Terdapat 9 values (nilai) prioritas yang dianalisis dari workshop yaitu : species, ecosystem function, spiritual, ecotourism, habitat, scientific research, tradisional fishing, dan community prosperity. Dari nilai tersebut terdapat 10 strategi yang dirumuskan pada workshop. Peserta workshop memberi masukan agar menyusun rencana kegiatan dan biaya nilai penting yang dikaitkan antara value terhadap 10 strategi prioritas dalam menghadapi ancaman dan tantangan pengelolaan. Hal ini dimaksudkan dalam pengambilan kebijakan dapat dimulai dengan suatu kajian/riset/penelitian dan menerapkan teknologi yang ramah lingkungan serta berkelanjutan. Sumber : Balai Taman Nasional Bali Barat
Baca Berita

Aksiku untuk Bumiku

Jakarta, 7 Juli 2018. Lobi utama Gedung Manggala Wanabakti kedatangan 86 peserta finalis Olimpiade Sains Kuark (OSK) 2018 yang merupakan perwakilan dari sekolah dasar seluruh Indonesia. Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM) yang mewakili Menteri LHK menerima adik - adik finalis dan tidak lupa memberikan pesan khusus. “Calon penerus bangsa ini harus mampu membuktikan Aksiku Untuk Bumiku untuk mengurangi penggunaan plastik, karena generasi jaman now harus bisa mencintai lingkungan, tidak ada plastik makin cantik”, tegas Helmi. Mewakili Ketua Yayasan Bumi Indonesia, Ananda Latif menyampaikan terimakasih kepada Kemenlhk yang di wakili Bapak Helmi, karena program dengan tema “Aksiku Untuk Bumiku” menghasilkan research berkualitas dari siswa sekolah dasar terkait lingkungan hidup dan kehutanan. Salah satu finalis yang mempresentasikan kompor hybrid membuktikan bahwa sumber daya alam terbarukan dapat dikombinasi dengan sumber daya alam yang tidak terbarukan. Sumber : Datin Setditjen KSDAE
Baca Berita

Buaya Muara (Crocodylus porosus) Jambi Kembali Membuat Konflik dengan Manusia

Tanjabtim, 7 Juli 2018. Sekitar jam 22.00 WIB seorang anak kecil yang sedang menyiram tanaman hias bersama dengan teman-temannya di depan rumahnya telah disambar, digigit dan diseret buaya sampai ke tengah sungai. Informasi ini diperoleh dari orangtua sang anak. Kejadian ini tepatnya terjadi di Kelurahan Teluk Dawan RT 04 Kec. Dendang Kabupaten Tanjabtim. Korban diselamatkan dari seretan buaya oleh ibu dan ayah kandungnya sendiri beserta dibantu 2 (dua) orang warga masyarakat sekitar. Kondisi korban saat ini, telah kembali pulang ke rumahnya setelah dirawat di Rumah Sakit Nurdin Hamzah Muara Sabak. Melihat kejadian seperti ini Tim Balai KSDA Jambi (Faried,SP/Ka.SKW III Muara Sabak) segera mengirimkan petugas untuk melakukan pengecekan di tempat kejadian dan melakukan penanganan lebih lanjut. BKSDA Jambi juga sudah pernah membuat papan larangan di wilayah sekitar Kel. Teluk Dawan untuk berhati-hati terhadap serangan buaya dikarenakan daerah tersebut memang merupakan habitat buaya dan sudah ada 1 (satu) kali kejadian dengan tewasnya korban di lokasi tersebut pada tahun 2010. Buaya Muara masuk dalam kategori Appendiks I berdasarkan CITES yang artinya spesies tersebut dilarang dalam segala bentuk perdagangan internasional. Buaya mampu bertahan hidup melewati perubahan di alam sedangkan pemanfaatannya dapat dilakukan melalui penangkaran yang bisa bernilai ekonomi dan padat karya. Balai KSDA Jambi dalam upaya pencegahan dan meminimalisasi konflik akan melakukan pemindahan buaya muara ke tempat lain yang aman dan jauh dari pemukiman penduduk. Himbauan kepada masyarakat yang berdampingan dengan habitat buaya, “untuk berhati-hati dan waspada terhadap buaya ketika beraktifitas di pinggir sungai.” Sumber: Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Lokakarya Sinkronisasi Dokumen Zona/Blok Tahun 2018 Lingkup TAHURA

Jakarta, 7 Juli 2018. Direktorat Pemolaan dan Informasi Konservasi Alam telah melaksanakan kegiatan Lokakarya Sinkronisasi terkait Dokumen Zona/Blok Tahun 2018 Lingkup TAHURA pada tanggal 7 s.d 10 Mei 2018 di Grand Mega Resort dan Spa Bali. Lokakarya ini meliputi penyusunan dokumen pembelajaran tentang proses pembuatan blok, dokumen penataan blok dan peningkatan kapasitas staf UPTD TAHURA dalam menyusun dokumen penataan blok. Pelaksanaan kegiatan Lokakarya Sinkronisasi terkait Dokumen Zona/Blok Tahun 2018 Lingkup TAHURA diawali dengan laporan kegiatan oleh Kepala Sub Direktorat Penataan Kawasan Konservasi dan arahan dari Direktur Pemolaan dan Informasi Konservasi Alam sekaligus pembukaan yang diwakilkan Kepala Balai KSDA Bali. Lokakarya dihadiri beberapa pengelola Taman Hutan Raya seluruh Indonesia sebanyak 22 UPTD. Dalam kesempatan tersebut disampaikan beberapa materi dari narasumber dan praktek penyusunan dokumen blok lingkup TAHURA. Berdasarkan materi yang disampaikan narasumber, diskusi dan masukan dari peserta dan hasil praktek teknik penyusunan dokumen penataan kawasan konservasi pada Kegiatan Lokakarya Sinkronisasi terkait Dokumen Zona/Blok Tahun 2018 Lingkup TAHURA diperoleh hasil kesepatakan sebelum Kepala Unit Pelaksana Pengelola TAHURA membentuk tim penyusun blok pengelolaan, peserta lokakarya merupakan kontak person bagi Tim Subdit Penataan Kawasan Konservasi untuk memonitor percepatan penyelesaian dokumen penataan blok pengelolaan kawasan konservasi. Fasilitasi pembelajaran dan percepatan penataan kawasan pasca Lokakarya ini dilakukan melalui group whatsapp “Percepatan Penataan”. Di dalamnya tergabung praktisi di bidang hukum, penanganan konflik tenurial, konservasi spesies dan Penyusunan atau revisi dokumen blok yang siap untuk dilakukan konsultasi publik, diselesaikan sebelum bulan Agustus 2018. Sumber : Mugiharto HP, S.Hut, M.Si. - PEH Muda Direktorat PIKA
Baca Berita

Balai KSDA Aceh Lepasliarkan Kukang dan Siamang

Aceh Jaya, 6 Juli 2018. Balai Konservasi Sumber Daya Aceh (BKSDA Aceh) melepas 3 ekor primata ke kawasan hutan di Aceh Jaya sekitar pukul 17.15 WIB (6/7/18). Ketiga primata tersebut seekor siamang (Symphalangus sundactylus) dan 2 ekor kukang (Nycticebus coucang) terdiri dari seekor induk dan seekor anaknya yang diserahkan masyarakat secara sukarela. Hal ini menandakan masyarakat semakin peduli dan berpartisipasi akan kelangsungan kehidupan satwa liar yang dilindungi undang-undang. Tiga primata tersebut mendapat rehabilitasi dikandang sementara BKSDA Aceh sekitar 1 bulan sebelum dilakukan pelepasliaran dan dalam pengawasan Dokter Hewan BKSDA Aceh drh. Taing Lubis, M.M. serta mitra. “Satwa yang dilindungi tersebut sehat dan tidak cacat hingga sangat layak untuk dilepas liarkan” ungkap drh. Taing. Beliau juga mengungkapkan bahwa faktor suara yang ditimbulkan siamang sangat menganggu sekelilingnya, tidak baik berada lama dalam kandang yang nantinya ada resiko penyakit zoonosis. Tiga primata sudah dilatih memakan daun sehingga tidak tergantung buah dialam dan jenis kukang sangat mudah beradaptasi di alam. Sumber : Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh
Baca Berita

Rangkul Masyarakat, Bogani Nani Wartabone Siapkan Paket Wisata Unggulan

Tambun, 7 Juli 2018. Sanctuary Maleo Tambun adalah habitat peneluran burung maleo yang menjadi salah satu objek wisata Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW). Dalam upaya meningkatkan kunjungan wisatawan di TNBNW, maka dilaksanakan pertemuan dan diskusi dengan kelompok masyarakat Desa Pinonobatuan yang berada di sekitar lokasi Sanctuary Maleo Tambun (6/7/18). Anggota kelompok masyarakt desa, beberapa staf TNBNW seperti Kepala Resort Dumoga Timur Lolayan, Pejabat PEH serta Penyuluh hadir dalam pertemuan. Merancang paket wisata alam di TNBNW yang dikelola masyarakat khususnya di lokasi yang menjadi habitat maleo menjadi menu utama untuk dibahas. Kelompok masyarakat Desa Pinonobatuan yang diberi nama Kelompok Maleo Leosan ini merupakan mitra dan sekaligus menjadi kelompok binaan TNBNW yang rencananya akan bekerjasama dalam mengelola wisata di Sanctuary Maleo Tambun ini. Foster Parent salah satu paket wisata unggulan yang dihasilkan berupa aktivitas diantaranya pengamatan maleo, mencari dan menggali telur maleo, memindahkan dan menanam telur maleo di bak penetasan (hatchery), serta melepasliarkan anakan maleo. Wisatawan yang mengambil paket ini nantinya akan mendapatkan sertifikat dan pin sebagai orang tua asuh maleo, dan pada saat telur maleo tersebut menetas dan siap dilepasliarkan, wisatawan yang menjadi orang tua asuh ini akan dikabari dan berhak untuk ikut melepasliarkannya. Namun jika tidak sempat untuk bersama melepasliarkannya, maka orang tua asuh maleo berhak mendapatkan video pelepasliarannya. Adanya paket - paket wisata yang dikelola masyarakat, masyarakat terlibat aktif dalam penjagaan kawasan sehingga kunjungan wisatawan di TNBNW semakin meningkat, serta pendapatan masyarakat sekitar dan pendapatan negara bukan pajak (PNBP) juga lebih meningkat. Sumber : Nuraini – Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone
Baca Berita

“Aku Ciremai” Raih Prestasi, Dirjen KSDAE Beri Usapan Sayang

Yogyakarta, 7 Juli 2018. Dengan persiapan pembuatan film yang cukup singkat yakni sekitar sebulan, Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) raih juara 2 lomba film pendek pada Festival Taman Nasional dan Taman Wisata Alam (FTN-TWA) 2018. Inilah pertama kalinya keikutsertaan Balai TNGC dalam lomba film pendek, sementara itu juara 1 diraih Balai Besar Taman Nasional Teluk Cendrawasih dan juara 3 diraih Balai Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa). “Aku Ciremai” sendiri adalah sebuah film pendek yang menggambarkan ikatan ekologi dalam ekosistem Gunung Ciremai yang tak terpisahkan. Kekayaan sosial dan keluhuran budaya masyarakat yang tumbuh dan berkembang di ekosistem tersebut. Keberadaan Gunung Ciremai dengan potensi wisata alam yang begitu indah, memberikan banyak manfaat dan pemicu pertumbuhan ekonomi rakyat di sekitar kawasan. Ada yang unik dalam penyerahan piala kepada para juara yang diserahkan Direktur Jenderal Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), yaitu setiap pemenang mendapat "usapan" sayang dari Pak Dirjen. Tak terkecuali Kepala Balai TNGC, Kuswandono. "Ini merupakan kerja tim, terima kasih atas kerja keras dan kekompakanya" ujar Kuswandono. Bravo TN Gunung Ciremai, selamat untuk selalu berkarya yang terbaik di manapun kita berada tambahnya. Balai TNGC menghimbau bagi Sobat Ciremai yang ingin melihat seperti apa film tersebut, selalu ikuti medsos TNGC yang akan segera menerbitkan beberapa cuplikan film “Aku Ciremai”. [teks ©? Agus Yuda; foto ©? BTNGC | 072018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

FORKOPIMDA Situbondo Ajak BBKSDA Jatim Ngobrol Pintar dan Ngopi

Situbondo, 6 Juli 2018. Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) yang diwakili Kepala Bidang KSDA Wilayah III Jember dan Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) V Banyuwangi memenuhi undangan dari FORKOPIMDA Kab. Situbondo dengan tema ngopi bareng (6/7/18). Ngopi bareng di Polsek Sumbermalang - Polres Situbondo, BBKSDA Jatim menyampaikan ke jajaran FORKOPIMDA Situbondo khususnya Kapolres Situbondo dan Komandan Kodim Situbondo tentang pentingya Suaka Margasatwa (SM) Dataran Tinggi Yang sebagai kawasan konservasi. Kawasan ini menjadi habitat bagi sejumlah satwa liar seperti Macan Tutul (Panthera pardus), Lutung Jawa (Tracypithecus auratus), Rusa Timor (Cervus timorensis), Babi Hutan (Sus scrofa), Kijang (Muntiacus muntjak), Kucing Hutan (Felis bengalensis). Tidak lupa juga disampaikan bahwa pemanfaatan wisata yang bisa dilakukan di SM hanya izin usaha pengusahaan jasa wisata alam (IUPJWA). Kapolres Situbondo mengajak pihak BBKSDA Jatim dan masyarakat Sumbermalang untuk mengantisipasi adanya teroris yang mulai melakukan pelatihan-pelatihan di berbagai tempat dan mewaspadai agar kawasan pegunungan khususnya SM Dataran Tinggi Yang dipergunakan untuk tempat pelatihan oleh para teroris maupun kelompok radikal. Sumber : Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur
Baca Berita

Antisipasi Kebakaran Hutan, BBKSDA Jatim Aktif Berikan Penyuluhan

Situbondo, 6 Juli 2018. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melakukan penyuluhan kebakaran hutan agar masyarakat menambah informasi, pengetahuan dan pemahaman untuk ikut serta mencegah dan menanggulangi terjadinya kebakaran hutan, dan memahami cara-cara antisipasi kebakaran hutan baik yang disebabkan oleh manusia maupun dari alam. Kegiatan di motori Resort Konservasi Wilayah (RKW) 23 Argopuro di Desa Baderan, Kecamatan Sumber Malang Kabupaten Situbondo (6/7/18). 40 (empat puluh) peserta penyuluhan hadir yang teridiri dari Muspika, Masyarakat Peduli Api Rengganis Timur, Sumbermalang, Masyarakat Desa Baderan, MMP RKW 23 Argopuro, Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHK) Dataran Tinggi Yang. Kepala BBKSDA Jatim yang diwakili Kepala Bidang Wilayah (Kabidwil) 3 menjelaskan tentang kebakaran hutan di Indonesia pada umumnya dan khususnya di Suaka Margasata (SM) Dataran Tinggi Yang. Kebakaran hutan sebagian besar disebabkan ulah manusia (yang disengaja atau karena lalai) juga karena kondisi yang sangat kering sebagai pengaruh terjadinya perubahan iklim yang melanda wilayah Indonesia. Kebakaran hutan dan lahan telah menimbulkan dampak yang besar, bukan hanya terhadap manusia, polusi udara, ekonomi, tetapi juga kelestarian lingkungan dan punahnya keanekaragaman hayati yang ada di dalam kawasan konservasi khususnya SM Dataran Tinggi Yang. Tentunya semua pihak siaga untuk mencegah kebakaran hutan. Sumber : Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur
Baca Berita

Konflik Manusia Dengan Gajah Di Hutan Lindung yang Berbatasan Dengan Kawasan TNBBS

Kotaagung, 5 Juli 2018. Pemerintah Provinsi Lampung akan menyelenggarakan Rapat Koordinasi (Rakor) Penanganan Konflik Manusia dan Gajah tanggal 6 Juli 2018 bertempat di Sekretariat Daerah Provinsi Lampung. Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Ditjen KSDAE direncanakan akan hadir dalam acara ini. Kepala Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (BBTNBBS) Ir. Agus Wahyudiyono saat berada di Kantor Balai Besar TNBBS Kotaagung, kamis 5 Juli 2018, mengatakan bahwa Balai Besar TNBBS merupakan salah satu undangan dalam Rakor tersebut. “Kita telah mendapatkan informasi bahwa telah terjadi insiden konflik gajah dan manusia tanggal 3 Juli kemarin, yang menelan korban 1 orang, dan kita telah mengirim Tim ke lokasi kejadian”, ujar Agus. Berdasarkan hasil laporan Tim Balai Besar TNBBS yang telah meninjau lokasi kejadian, diperoleh informasi bahwa pada Hari Senin tanggal 3 Juli 2018 sekelompok gajah yang diperkirakan berjumlah ± 12 ekor memasuki Talang Sumarno Blok 6 Hutan Lindung Register 39 Kota Agung Utara Kecamatan Bandar Begeri Semoung. Kelompok gajah merusak 5 rumah dan ± 50 batang pohon pisang, serta 1 korban jiwa meninggal berjenis kelamin perempuan atas nama Suriptini (70 tahun). “Kejadian ini berada di Register 39 Kotaagung Utara yang dikelola oleh Kesatuan Pemangkuan Hutan Lindung (KPHL) Kotaagung Utara, dan kawasan hutan ini berbatasan langsung dengan kawasan TNBBS. Kita siap membantu dan bekerja sama dalam upaya mitigasi konflik ini serta mengikuti perkembangannya, untuk itu rapat yang akan diselenggarakan besok merupakan agenda penting dalam mencari solusi permasalahan ini” tambah Agus. (mari berbagi ruang dan hidup berdampingan dengan harmoni, selaras dan berimbang) Sumber : Humas Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan
Baca Berita

Pemda Kab. Pasuruan Kunjungi Desa Edelweis Wonokitri

Wonokitri, 5 Juli 2018. Pemda Kab. Pasuruan kunjungi Desa Wonokitri untuk melihat secara langsung pengembangan Desa Edelweis, Rabu 4 Juli 2018. Rombongan terdiri dari Kelompok Kerja (POKJA) Sinkronisasi Pengembangan Agropolitan dan Minapolitan Kabupaten Pasuruan yang terdiri dari BAPPEDA, Dinas Pariwisata, Dinas Perikanan, Dinas Perindustrian, Dinas Koperasi dan UMKM, Dinas Perhubungan serta Stakeholder terkait meliputi Camat Tosari, Kepala Desa Wonokitri, Kelompok Tani Desa Edelweiss Hulun Hyang, Kelompok Konservasi Bala Daun, Kepala Resort PTN Gunung Penanjakan, dan Penyuluh Kehutanan BBTNBTS. “Teguh” yang merupakan ketua kelompok tani Hulun Hyang Wonokitri menyampaikan kepada Pemda Kabupaten Pasuruan, “kami mengucapkan banyak terimakasih kepada Pemda Kab. Pasuruan yang telah sudi mengunjungi kami, pada kesempatan ini ada beberapa hal yang ingin kami sampaikan mewakili Kelompok yaitu terkait dukungan dari Pemda Kab. Pasuruan untuk kebutuhan Tempat Pembuangan Sampah untuk Desa Wonokitri, Rekayasa Lalulintas Jalur Wisata di Desa Wonokitri, Bangunan Fisik Pendukung Desa Edelweiss, hingga pelatihan-pelatihan pendukung wisata Desa Edelweiss sehingga mimpi kami mewujudkan wisata Desa Edelweis bisa dilakukan tahun ini." "Ekaning" yang merupakan ketua rombongan Pemda Kab. Pasuruan sangat mengapresiasi pengembangan wisata Desa Edelweis mengungkapkan, “saya selaku perwakilan Pemda Kab. Pasuruan sangat mengapresiasi kelompok tani Hulun Hyang yang telah bekerja keras mewujudkan wisata Desa Edelweis, dalam kunjungan ini kami ingin memastikan kondisi eksisting lingkungan dan masyarakat Kecamatan Tosari khususnya Desa Wonokitri dalam mewujudkan desanya menjadi Desa Edelweiss. “Konsep besar Desa Edelweiss yang ditujukan untuk destinasi wisata baru memerlukan dukungan dari dinas-dinas terkait untuk menyempurnakan pendampingan yang telah dilakukan oleh TNBTS sejak tahun 2017 di Desa Wonokitri", ujar ”Nursidik”, Kepala Resort Penanjakan menambahkan. Pada Kesempatan tersebut, tim POKJA juga mendapat pendampingan edukasi budidaya edelweiss dari Kelompok Tani Desa Edelweiss Hulun Hyang Desa Wonokitri hingga kesempatan eksklusif penanaman bibit edelweiss. Acara diakhiri dengan berkeliling menyusuri Desa Wonokitri yang mulai banyak ditumbuhi Edelweiss hasil budidaya masyarakat. Sumber: Birama - Balai Besar TN Bromo Tengger Semeru
Baca Berita

Pemulihan Ekosistem Melalui SIMPULKK

Yogyakarta, 5 Juli 2018. Sub Direktorat Pemulihan Ekosistem Direktorat Kawasan Konservasi melakukan kegiatan rekonsiliasi data monitoring pemulihan ekosistem pada regional UPT KSDAE regional Jawa, Bali dan Nusa Tenggara pada tanggal 5 Juli 2018 di hotel Grand Keisha, Yogyakarta. Peserta terdiri dari 26 UPT KSDA dan TN guna mengsinergikan data dan informasi pemulihan ekosistem kawasan konservasi untuk membangun base line data pemulihan ekosistem kawasan konservasi di Indonesia yang dapat dipantau setiap saat (up date). Output dari kegiatan rekonsiliasi ini bahwa UPT dapat melakukan pelaporan data dan informasi melalui Sistem Infomasi Monitoring Pemulihan Ekosistem Kawasan Konservasi atau disingkat SIMPULKK secara periodik. Data yang diinput akan direkapitulasi secara nasional dan disajikan sebagai data capaian pemulihan ekosistem. Kegiatan dipimpin langsung oleh Bapak Sahdin Zunaidi selaku Kepala Sub Direktorat Pemulihan Ekosistem Kawasan Konservasi. Ibu Ami Nurwati, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi selaku tuan rumah pelaksanaan kegiatan memberikan sambutan. Pengisian data pada SIMPULKK dipandu tim SUBDIT Pemulihan Ekosistem Kawasan Konservasi, yaitu Gunawan, Resi D, R. Agus Sulistiyo dan Luki Turniajaya. Hasil pelaksanaan kegiatan dirumuskan dalam rumusan hasil pelaksanaan kegiatan yang ditandatangai oleh seluruh peserta serta rumusan selanjutnya dipergunakan sebagai bahan penyempurnaan aplikasi/sistem ke depannya sehingga menjadi lebih baik. Sumber : Gunawan, S.Hut., M.Sc - Sub Direktorat Pemulihan Ekosistem Kawasan Konservasi Direktorat Kawasan Konservasi

Menampilkan 7.585–7.600 dari 11.140 publikasi