Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Tamu dari Singapura di Suaka Paruh Bengkok TN Aketajawe Lolobata

Sofifi, 16 Juli 2018. Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) kedatangan tamu spesial dari beberapa lembaga konservasi paruh bengkok di Singapura dan Konservasi Kakatua Indonesia dari Seram. Didampingi oleh Simon Purser dari Wallacea Nature, mereka diajak berkeliling kantor Balai TNAL sebelum menuju Gedung Pusat Informasi untuk berdiskusi tetang konservasi burung paruh bengkok. Pertemuan yang dipimpin Kepala Balai tersebut dihadiri oleh seluruh Kepala SPTN masing-masing wilayah, Kepala SBTU dan Koordinator Suaka Paruh Bengkok (SPB). Sebagai perantara, Simon Purser ikut memberi dukungan penuh bagi pengembangan SPB untuk konservasi burung Paruh Bengkok. Para tamu yang ahli dalam penanganan parrot sangat antusias dengan konsep pengelolaan SPB, yaitu Konservasi, Edukasi dan Rekreasi. Terbukti mereka benar-benar mencatat, memberi masukan dan banyak bertanya detail tentang SPB. “Pusat konservasi ini (Suaka Paruh Bengkok) berpotensi menjadi world class conservation centre, jadi kita harus turut mendukung terbangunnya SPB ini”, Kata Pak Simon. Ketertarikan akan pengembangan konservasi paruh bengkok juga datang dari Ibu Bonnie Zimmerman (Indonesian Parrot Project). beliau mengatakan bahwa “Kami bukan lembaga yang memiliki banyak uang, tetapi kami memiliki tenaga ahli yang berpengalaman”. Bisa disimpulkan bahwa pengembangan SPB kedepannya akan mendapat dukungan dari berbagai pihak. Dr. Jessica Lee dari Wildlife Reserves Singapore menanyakan adakah keterlibatan masyarakat atau komunitas masyarakat dalam kegiata di SPB nantinya. Dengan semangat, Ibu Lilian, Kepala SBTU menjelaskan bahwa masyarakat akan dilibatkan seperti pemberian pakan dari kebun masyarakat, pelatihan penangkaran dan saat ini terdapat program dari Burung Indonesia yang terkait dengan pemberdayaan masyarakat di Desa Kosa. Setelah diskusi di kantor Balai, para tamu dari berbagai lembaga tersebut diantar menuju Suaka Paruh Bengkok di Desa Koli. Pemanduan oleh Koordinator SPB dilakukan mulai dari gedung pusat informasi sampai menuju kandang besar. Saat berada di kandang kecil, Dr. Jessica beserta tim mengapresiasi bentuk kandang dan banyak memberi masukan, salah satunya adalah memperkecil celah pada atap agar reptil seperti ular tidak masuk dan memangsa burung. Perjalanan dilanjutkan menuju kandang besar. Para tamu juga dibuat kagum dengan kandang tersebut. Tidak sedikit saran yang diberikan untuk pengelolaan dan penempatan satwa di dua kandang besar ini. Penempatan air minum, pohon-pohon, tempat makan sampai jenis burung yang sebaiknya diletakkan disini turut menjadi perhatian Dr. Jessica Lee. “Kandang besar ini sebaiknya hanya di isi dengan burung-burung yang sudah jinak, selain sebagai sarana wisata foto bersama burung, juga dikarenakan kandang tersebut akan dilalui banyak pengunjung”, saran Dokter Hewan yang bisa bahasa Indonesia ini. “Burung yang liar dipisahkan di kandang tersendiri dan burung yang sakit diletakkan di kandang karantina”, imbuhnya. “Nanti kita akan kirimkan personil Suaka Paruh Bengkok ke Jurong Bird Park di Singapura untuk belajar”, tutup Wahyudi, Kepala Balai TNAL. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra - Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata http://aketajawe.com
Baca Berita

Pembinaan Pegawai & Purna Tugas Pegawai Balai TN Bunaken

Manado, 16 Juli 2018. Pembinaan pegawai oleh Kepala Balai Taman Nasional Bunaken, Dr. Farianna Prabandari, S.Hut, M.Si kepada seluruh karyawan dan karyawati Balai Taman Nasional Bunaken, beliau mengingatkan untuk terus meningkatkan kinerja dan pelayanan, baik pelayanan kepada pengunjung maupun kepada para pihak yang terkait dengan Taman Nasional Bunaken. "Sebagai aparatur kita harus menunjukan sikap yang baik, berikan pelayanan maksimal kepada masyarakat dan para pihak yang terkait dengan Taman Nasional Bunaken. Kehadiran kita sebagai apartur sipil negara harus mampu ditunjukan sebagai birokrat yang profesional dan memiliki integritas" tutur Kepala Balai. Dalam kesempatan ini sekaligus dirangkaikan dengan pelepasan Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II, Bapak Made Sana serta Ibu Selfie Supit yang telah memasuki purna tugas. Sambutan singkat Pak Made menyampaikan bahwa hidup ini adalah pelayanan, untuk itu agar kita semua sebagai manusia jalani terus hidup ini dan tetaplah belajar. Pak Made memberikan suatu nasehat dalam bentuk cerita antara ayah, anak dan seekor kuda. Ketika sang ayah dan anak naik kuda akan ada orang yang mengatakan akan mati kuda itu karena terlalu berat menopang ayah dan anak, lalu sang ayah turun dari kuda kemudian menuntunnya dan hanya anak yang duduk di kuda tersebut, kemudian orang akan mengatakan masak hanya anak yang naik kuda dan ayah jalan kaki, selanjutnya ketika hanya sang ayah yang naik kuda dan anak yang menuntun kuda itu, akan muncul pendapat lagi begitu tega ayah membiarkan anaknya jalan kaki, dan terakhir saat sang ayah dan anak tidak naik kuda, maka orang akan mengatakan ada kuda kenapa tidak dinaiki. Itulah sudut pandang dalam kehidupan ini dan selalu muncul kritik dari siapa saja, untuk itu terus jalani hidup ini dengan syukur. Kegiatan pelepasan purna tugas Kepala SPTN II dan Ibu Selfi Supit juga diramaikan oleh ibu-ibu Dharma Wanita Persatuan Kementerian LHK, Balai Taman Nasional Bunaken. Sumber : Balai Taman Nasional Bunaken
Baca Berita

Bimtek Pencegahan dan Pengendalian Karhut Lingkup Kab. Semarang dan Boyolali

Salatiga, 16 Juli 2018. Upaya meningkatkan pemahaman Sumber Daya Manusia (SDM) Masyarakat Mitra Polhut (MMP) dan Masyarakat Peduli Api (MPA) khususnya dalam pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan, maka Balai Pengelolaan Hutan (BPH) Wilayah III, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah menyelenggarakan Bimbingan Teknis Pencegahan dan Penanganan Kebakaran Hutan yang dilaksanakan pada tanggal 16 - 17 Juli 2018, bertempat di Tlogo Resort dan Goa Rong View, Tuntang, Salatiga. Bimbingan teknis ini dihadiri oleh enam puluh (60) orang dari MMP dan MPA dari Kabupaten Semarang dan Kabupaten Boyolali. Dalam kesempatan ini, disampaikan beberapa materi selama 2 (dua) hari, yaitu hari pertama disampaikan oleh Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jawa Tengah, tentang Prakiraan Cuaca dan Perkembangan Iklim Jawa Tengah Tahun 2018. Kemudian dilanjutkan paparan oleh Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah, Kepala BTN Gunung Merbabu, Kepala Perum Perhutani Divreg Jateng (cq. Kepala KPH Telawah), Kepala Perum Perhutani Divreg Jateng (cq. Kepala KPH Telawah), serta Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi (cq Kepala SPTN II Boyolali Klaten) yang masing-masing menyampaikan mengenai Kesiapsiagaan dan Pengendalian Kebakaran Hutan di wilayahnya masing-masing, dan dilanjutkan dengan diskusi. Selanjutnya pada hari kedua, Ketua MMP dan MPA Kabupaten Boyolali memaparkan mengenai Kesiapan MMP dan MPA dalam Pencegahan dan Pengendalian Kebakaran Hutan, dilanjutkan dengan Praktek Pencegahan dan Pengendalian Kebakaran Hutan oleh Ketua MMP/MPA Kabupaten Semarang. Selama ini para Unit Pelaksana Teknis (UPT) maupun Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang mempunyai tugas pokok dan fungsi untuk perlindungan dan pengamanan hutan, selalu bekerja sama dengan masyarakat sekitar kawasan. Terkait dengan pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan, UPT serta SKPD bekerja sama dengan Masyarakat Mitra Polhut (MMP) dan Masyarakat Peduli Api (MPA). Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Merapi
Baca Berita

Wanita Wanita Tangguh Balai Besar KSDA Riau

Pekanbaru, 17 Juli 2018. Balai Besar KSDA Riau cukup berbesar hati, melihat kenyataan pegawai wanitanya turun ke lapangan dalam upaya perlindungan dan pengamanan kawasan konservasi dari gangguan perambahan. Merekapun melakukan pemadaman kebakaran hutan di TWA Sungai Dumai (14/7). Penuh sigap dan tanpa aba - aba perintah, para wanita tangguh ini langsung turut berjibaku seolah tak mau ketinggalan dari kaum pria. Dengan semangat kesetaraan gender langsung terjun ke lapangan dalam upaya penguasaan kembali kawasan konservasi yang telah diokupasi oleh warga masyarakat sebagai kebun dengan cara membersihkan kawasan secara bersama-sama, mencabuti tanaman non kehutanan yang baru ditanam. Tak ketinggalan merekapun melibatkan dirinya dalam upaya pemadaman api kebakaran hutan kawasan konservasi. Menarik selang, bahkan menyandang nozzle mengarahkan semprotan air ke titik api untuk memadamkan api yang berkobar. Pantang beranjak sebelum api padam. Di tengah aktivitas patroli pengamanan hutan dan pemadaman kebakaran hutan, terkadang ada selipan senda gurau dan teriakan khas para wanita tangguh ini yang menjadi penyemangat bagi para anggota Manggala Agni dan petugas lainnya dalam melakukan pemadaman kebakaran hutan. Salut dan bangga atas korsa dan kepedulian mereka..."para wanita tangguh Balai Besar KSDA Riau." Sumber : Humas Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Menyingkap Potensi Wisata Gua di Kawasan Karst Taman Nasional Matalawa

Waingapu, 17 Juli 2018. Balai Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) menerjunkan tim ekspedisi yang berpengalaman untuk mengexplore potensi gua di Blok Hutan Mahaniwa, adapun tim terdiri dari Tomy Nggimu Tara sebagai ketua tim, Suyatno dan Umbu Palanggarimu sebagai tenaga ahli gua. Dari hasil penelusuran tim ekspedisi selama lima hari diperoleh tiga gua, yaitu gua liang bakul (vertical), gua hibu karik (horizontal) dan gua Lawuala (horizontal) dengan ragam lebar mulut gua dari 2 meter hingga 14 meter dengan panjang gua 70 s.d 100 meter. Hasil penelusuran, ketiga gua tersebut sangat potensial dikembangkan menjadi wisata minat khusus. Disepanjang penelusuran gua dijumpai jenis binatang Troglopile yaitu binatang yang menyukai kegelapan dan mencari makan di gua tersebut seperti walet dan kelelawar, juga dapat dijumpai draperi/korden, flowstone, stalaktit dan stalakmit yang ujung-ujungnya menyatu menyatu menyerupai pilar/tiang, dan juga ditemukan fosil tikus besar yang sangat potensial untuk dikaji lebih jauh. Besarnya potensi gua di kawasan Taman Nasional Matalawa yang diperkirakan masih terdapat ratusan gua yang belum di eksplorasi merupakan suatu tantangan besar bagi TN Matalawa untuk melakukan eksplorasi lanjutan. Secara geomorfologi Pulau sumba di dominasi oleh bentuk lahan berupa kawasan Karst, tak terkecuali di Taman Nasional Matalawa hampir separuh dari luasan kawasan terbentang dari wilayah timur hingga ke barat adalah wilayah karst, potensi yang ada pada kawasan karst ini adalah potensi Gua. Gua-gua ini bagaikan laboratorium alam yang memiliki arti penting dalam pengendalian keseimbangan ekosistem, pemanfaatan sumber daya air, sekaligus sebagai objek wisata alam (ekowisata). Sumber : Balai Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa)
Baca Berita

Kelompok Tani Hulun Hyang TN Bromo Kerja Bakti Pembibitan Edelweis

Wonokitri, 16 Juli 2018. Kelompok Tani Desa Edelweis Wonokitri “Hulun Hyang” kerjabakti membersihkan dan melakukan pembibitan di lahan milik Desa Wonokitri, Sabtu 14 Juli 2018. Anggota kelompok yang sebagian besar muda-mudi Desa Wonokitri penuh semangat mencangkul dan menyiangi lahan Desa sebagai tempat pembibitan, juga sebagai tempat lokasi penanaman edelweiss hasil budidaya kelompok. Hamparan edelweiss tersebut direncanakan dijadikan destinasi wisata baru baik wisata selfie, wisata budidaya dan wisata pendidikan. Desa Wonokitri merupakan salah satu Desa Penyangga di sekitar kawasan TN Bromo Tengger Semeru (TNBTS) “Teguh” selaku ketua kelompok Desa Edelweis Hulun Hyang menyebutkan "Sekitar 6000 bibit hasil pembibitan dari biji dan cabutan edelweiss dipersiapkan kelompok, diharapkan lokasi ini akan tumbuh dan menjadi hamparan edelweiss, sehingga selain dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhan dalam upacara adat juga dijadikan destinasi wisata selain G. Bromo”. “Sukaris” salah satu anggota Resort PTN Penanjakan menjelaskan “Dari TNBTS sedikit memberi bantuan untuk pembelian bahan dan peralatan pembibitan, dan oleh kelompok sudah dibelanjakan untuk mencukupi kebutuhan seperti polybag, bambu, cangkul, paranet dan peralatan pembibitan lainnya”. Kelompok tani Desa Edelweis Hulun Hyang memang sangat antusias dan aktif dalam mewujudkan wisata Desa Edelweis, bulan kemarin Bappeda Kab. Pasuruan sudah berkunjung untuk melakukan pengecekan ke Desa wonokitri serta melihat langsung progres Desa Edelweis yang dibina oleh TNBTS. "Bappeda sangat mendukung dalam mewujudkan wisata Desa Edelweis, dan masuk dalam program wisata Kab. Pasuruan”, jelas John Kenedie, Kepala Balai Besar TN Bromo Tengger Semeru menambahkan. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru
Baca Berita

Penanaman Sejuta Pohon HUT Adhyaksa ke-58

Merangin, 16 Juli 2018. Bertepatan dalam rangka HUT Adhyaksa yang ke-58 diwilayah hukum Kejaksaan Negeri Kabupaten Merangin, diselenggarakan kegiatan penanaman sejuta pohon untuk penghijauan hutan di Taman Batu Merangin. Kegiatan ini sendiri merupakan bentuk kerjasama yang baik antara Kejaksaan Negeri Kabupaten Merangin, BPDSHL Batanghari Jambi, dan Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Jambi serta didukung oleh pemerintah daerah setempat. Kegiatan ini sendiri dihadiri oleh Bupati Kabupaten Merangin Bpk. DR. Alharis, S.Sos, M.Hum dan seluruh SKPD serta masyarakat sekitar Taman Batu Desa Mudo Kecamatan Bangko. Beragam jenis pohon yang ditanam diacara ini antara lain Bulian, Meranti, Pulai, dan buah-buahan yang bernilai ekonomi tinggi. ”Saya harap semua yang hadir disini terus melakukan gerakan penanaman dilahan tidak produktif milik masyarakat maupun di kawasan hutan konservasi dan produksi yang mengalami degradasi di wilayah Merangin, Jambi”, ujar Bupati dalam arahan nya pada acara tersebut kepada seluruh jajaran dan masyarakat yang hadir. Diharapkan semua pohon yang ditanam akan dapat menghasilkan dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat Kabupaten Merangin, khususnya masyarakat Dusun Mudo. Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Pembukaan Kegiatan Kuliah Lapangan di Stasiun Riset Cabang Panti Taman Nasional Gunung Palung

Ketapang, 16 Juli 2018. Balai Taman Nasional Gunung Palung melaksanakan kegiatan pembukaan Kuliah Lapangan pada hari Senin, 16 Juli 2018. Pembukaan ini dilaksanakan di ruang rapat Balai Taman Nasional Gunung Palung. Kegiatan kuliah lapangan ini akan dilaksanakan dari tanggal 16 – 27 Juli 2018 di Stasiun Riset Cabang Panti. Adapun peserta kegiatan kuliah lapangan ini berjumlah 12 orang yang berasal dari berbagai instansi diantaranya Balai Taman Nasional Gunung Palung, KPH Ketapang Utara, KPH Ketapang Selatan, Yayasan ASRI, Yayasan IAR Indonesia, Yayasan Palung dan BKSDA Kalimantan Barat. Pembukaan ini juga dihadiri oleh Profesor Andrew J. Marshall dari University of Michigan sebagai salah satu narasumber dan pemateri selama kuliah lapangan ini berlangsung. Narasumber dan pemateri yang lain adalah Profesor Cheryl D. Knott dari Boston University. Kegiatan pembukaan kuliah lapangan diawali dengan kata sambutan dari Kepala Balai Taman Nasional Gunung Palung yang diwakili oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha Bapak Suparto AS, S.E sekaligus membuka kegiatan kuliah lapangan ini secara resmi. Dalam sambutannya, Bapak Suparto menyampaikan kepada para peserta bahwa kesempatan kuliah lapangan ini harus digunakan sebaik mungkin oleh para peserta untuk belajar mengenai keanekaragaman hayati dan ekosistem yang ada di Stasiun Riset Cabang Panti Taman Nasional Gunung Palung. Beliau juga berpesan kepada para peserta untuk mempersiapkan fisik dan mental selama mengikuti kegiatan kuliah lapangan ini. Setelah dibuka secara resmi, kegiatan pembukaan kuliah lapangan dilanjutkan dengan kuliah umum dari Profesor Andrew J. Marshall dengan judul materi “Pengenalan Hutan Hujan Tropis”. Adapun pokok bahasan yang dibahas pada kuliah umum ini yaitu tipe-tipe hutan di kawasan Taman Nasional Gunung Palung. Peserta terlihat sangat antusias dan banyak bertanya terkait materi yang diberikan oleh Profesor Andrew J. Marshall. Materi berikutnya disampaikan oleh staff PEH Balai Taman Nasional Gunung Palung Bapak Endro Setiawan, S.PKP dengan materi pokok “Photographic Tour of Gunung Palung Biodiversity”. Materi ini berisikan foto dan video tipe ekosistem dan keanekaragaman hayati yang ada di Taman Nasional Gunung Palung. Melalui kuliah lapangan ini diharapkan dapat meningkatkan semangat konservasi dan pengetahuan para peserta mengenai keanekaragaman hayati di Taman Nasional Gunung Palung. Kegiatan pembukaan diakhiri dengan sesi foto bersama para peserta dan Profesor Andrew J. Marshall. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Palung
Baca Berita

BKSDA Jambi Mengembalikan Kolibri (Leptocoma calcostheta) ke Habitatnya

Jambi, 16 Juli 2018. Tim BKSDA Jambi kembali mendapat laporan dari masyarakat melalui Operator call center bahwa ada beberapa oknum masyarakat telah membawa satwa yang dilindungi di sekitar Terminal Bus Pulau Tujuh Merangin. Kepala BKSDA Jambi bersama dengan Tim Seksi Konservasi Wilayah I Bangko langsung melakukan pengecekan ke lokasi bersama dengan KPHP Merangin, Dinas Perhubungan Merangin, SPTN Wil. I Balai Besar TNKS dan Mitra FFI. Ka.SKW I Bangko (Udin Ikhwanuddin) mengungkapkan bahwa telah ditemukan sejumlah tumpukan kotak plastik sejumlah 38 kotak yang berisikan burung kolibri (Leptocoma calcostheta) sejumlah 792 ekor (3 ekor mati) dan burung gelatik 512 ekor (34 ekor mati) dengan tidak ada status pemilik. Burung kollibri yang telah ditemukan segera dibawa ke Kantor Seksi Konservasi Wilayah I Bangko untuk dilakukan perawatan sementara, ungkap Udin Ikhwanuddin selaku Ka.SKW I Bangko. Setelah beberapa hari tepatnya tanggal 6 Juli 2018 burung-burung tersebut telah dilepasliarkan ke habitatnya di kawasan hutan TNKS wilayah resort Kerinci Utara Muara Emat dengan melibatkan unsur anggota Kodim Sarko, Polres Merangin, BBTNKS, BTN Berbak Sembilang, BTN, Bukit 12, Kades Muara Emat, Mitra FFI dan wartawan Trans TV Merangin. Burung kolibri jenis ini menyukai makanan madu dan makanan lainnya yang memiliki rasa manis. Sedangkan di alam dapat berfungsi untuk membantu proses penyerbukan bunga-bunga yang sedang bermekaran. Burung-burung ini adalah pemakan nektar atau cairan manis yang biasa terdapat di dalam madu ataupun di bagian dalam bunga yang sering dihisap oleh serangga seperti lebah. Jenis burung ini berdasarkan CITES termasuk Appendiks II. "Burung kolibri jenis madu merupakan satwa yang dilindungi yang tidak boleh dipelihara atau diperdagangkan secara ilegal, oleh karena itu pemanfaatan untuk satwa burung yang dilindungi dapat dilakukan melalui budidaya penangkaran dengan memperoleh izin dari Balai KSDA setempat”, ungkap Kepala Balai KSDA Jambi. Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Pembentukan Pejuang - Pejuang Konservasi Provinsi Maluku

Ambon, 14 Juli 2018. Upaya meningkatkan peran serta aktif masyarakat dalam kegiatan konservasi sumber daya alam bersama pemerintah dalam mewujudkan manusia yang sadar konservasi, maka Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Maluku menyelenggarakan kegiatan Pembentukan Kader Konservasi dan Musyawarah Daerah Forum FK3I Provinsi Maluku yang dilaksanakan pada tanggal 13-14 juli 2018, bertempat di Hotel Everbright Ambon Jl. Cendrawasih No 20. Kel Rijali Kec. Sirimau, Kota Ambon. Kegiatan ini dihadiri oleh 30 peserta dari berbagai kota kabupaten dan KPA se-Provinsi Maluku dan acara ini dibuka langsung Kepala Balai KSDA Maluku (Bpk. Mukhtar Amin Ahmadi, SH,M.Si). Dalam kesempatan ini disampaikan beberapa materi oleh Kepala Balai KSDA Maluku tentang profil BKSDA Maluku (Mukhtar Amin Ahmadi, SH, M.Si), Kepala Balai Perhutanan Sosial cq. Kepala Seksi Kemitraan Lingkungan (bpk. Sem Sirang) tentang program perhutanan dan kemitraan lingkungan di propinsi Maluku, Kepala SKW II BKSDA Maluku(ibu Meaty Pattipawaej, S.Hut) tentang Bina Cinta Alam dan KSDAE, Bpk Tri Kuswoyo, S.Hut tentang Pengelolaan Keanekaragaman Hayati dan Lingkungan Hidup serta Bpk Ali Roho (Selaku Pembina FK3I Propinsi Maluku sekaligus akademisi Universitas Darusallam Ambon) tentang Peranan Kader Konservasi dalam pelestraian lingkungan serta dilanjutkan dengan kegiatan diskusi Selanjutnya pada hari kedua dilakukan kegiatan Musyawarah Daerah Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (pemilihan pengurus FK3I Propinsi Maluku Periode Tahun 2018-2022) dan pembentukan kader konservasi pemula. Dalam acara penutupan dilakukan pelantikan pengurus FK3I Terpilih periode 2018-2022 yang dilantik Kepala Balai KSDA Maluku serta dihadiri Kepala Sub Bagian Tata Usaha KSDA Maluku, Pembina FK3I Propinsi Maluku dan Koordinator wilayah FK3I wilayah Timur. Dengan bertambahnya 30 orang Kader Konservasi ini diharapkan mampu menambah pejuang-pejuang konservasi di Maluku, serta meningkatkan pemahaman dan peran serta masyarakat terhadap konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem. Janji, harapan dan komitmen konservasi yang telah dibangun bersama pun semoga dapat segera terwujud. Sumber : Sendian Anugerah Rupilu - Calon PEH Balai KSDA Maluku
Baca Berita

Rescue 2 Individu Orangutan dari Kebun Masyarakat

Ketapang, 15 Juli 2018. Tim Wild Rescue Unit Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang Balai KSDA Kalimantan Barat bersama dengan Seksi Pengeloaan Taman Nasional I Sukadana Balai TN. Gn. Palung, YIARI dan PT. KAL yang merupakan mitra Balai KSDA Kalimantan Barat melakukan kegiatan rescue dan translokasi orangutan yang berasal dari kebun masyarakat Desa Kuala Satong Kec. Matan Hilir utara Kab. Kayong utara. Sebelumnya sudah dilakukan pemantauan keberadaan sejak bulan April 2018 yang diketahui terdapat 5 individu orangutan, namun saat ini yang termonitoring merusak kebun masyarakat hanya 2 individu orangutan dengan kondisi satwa masih agresif dan liar. Gerak cepat tim Rescue untuk menyelamatkan 2 individu orangutan diakukan dengan cara metode pembiusan (sesuai SOP) terhadap satwa yang masih liar dan agresif Sebagai upaya animal welfare maka translokasi dilakukan dikawasan TN. Gunung Palung Desa teluk bayur Kec. Laur Kab. Kayong utara yang merupakan habitat asli orangutan. Lokasi ini dipilih sebagai tempat pelepasliaran setelah melalui survey kondisi habitat dan ketersediaan pakan. Jenis satwa Orangutan sendiri merupakan hasil rescue dan translokasi yang ke -1 di habitat aslinya dalam kurun waktu tahun 2018. Kesadaran dan kepedulian terhadap keberadaan satwa yang terancam punah merupakan pekerjaan rumah bagi kita semua untuk tetap menjaga dan melestarikan keberadaan di habitat aslinya. (pr) Sumber dan Dokumentasi : Tim WRU SKW I Ketapang, Balai KSDA Kalimantan Barat Call Center BKSDA KALBAR (Mita) : 08115776767
Baca Berita

Blue Communities : Pengembangan Gojang Utara Menjadi Kampung Kenari

Benteng - Kepulauan Selayar, 16 Juli 2018. Semenjak ditetapkan sebagai jaringan Cagar Biosfer Dunia tahun 2015, Kepulauan Selayar makin dilirik oleh lembaga-lembaga untuk membantu pengembangan di berbagai sektor. Blue Communities yang bergerak di bidang Sains dan Pemberdayaan Masyarakat ini melirik Dusun Gojang Utara Desa Bontomarannu Kecamatan Bontomanai Kab. Kepulauan Selayar sebagai pilot project pengembangan Ekowisata Kampung Kenari di wilayah Cagar Biosfer Taka Bonerate - Kepulauan Selayar. Rombongan Tim Blue Communities kali ini bersama Pembantu Rektor IV UNAS Prof. Dr. Ernawati Sinaga, Blue Community Dr. Sugardjito dan didampingi langsung oleh Kepala Balai Faat Rudhianto ke dusun tersebut. Diharapkan kedepan dengan pengembangan ekowisata ini selain masyarakat mendapatkan hasil dari kebun kenari juga mendapatkan sesuatu dari kemasan wisata yang dikembangkan. Sumber : Asri - Balai TN Taka Bonerate
Baca Berita

Konflik Mamalia Darat Terbesar di Tanggamus Masih Terus Berlanjut

Bengkulu, 16 Juli 2018. Terhitung sejak Juni 2017 sampai dengan saat ini penanggulangan konflik satwa liar gajah sumatera dengan manusia di Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung masih berlanjut. Beberapa desa di Kecamatan Semaka antara lain Way Kerep, Parda Waras, Srikaton, Karang Agung, Sidomulyo dan Tulung Asahan merupakan desa-desa yang terdampak konflik. Track record selama 10 tahun terakhir keluarnya mamalia darat terbesar tersebut dari kawasan hutan lindung register 31 dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan merupakan peristiwa yang jarang terjadi di Kecamatan Semaka. Dimana tercatat pada tahun 2005 terdapat 3 – 4 ekor gajah pernah memasuki daerah pemukiman di Semaka, namun hanya dalam durasi 1 malam saja dan pada Tahun 2010 juga tercatat 1 ekor yang melewati areal persawahan itupun juga dalam durasi 1 malam. Sedangkan saat ini durasi konflik yang terjadi dapat berlangsung sampai 1 minggu secara bergiliran pada 6 desa tersebut. Teridentifikasi kawanan gajah pada kelompok tersebut sebanyak 12 ekor, termasuk 2 anakan di dalamnya yang secara alami akan berdampak terhadap indukan gajah yang akan cenderung lebih agresif dari biasanya. Terganggunya habitat menjadi penyebab utama satwa liar berbelalai tersebut keluar dan menimbulkan konflik, selain faktor penyebab lainnya. Upaya penanggulangan konflik telah dilakukan berupa penjagaan bersama secara bergiliran yang terdiri dari Tim Satgas Desa/Pekon, Balai Besar TNBBS, BKSDA, KPHL Kotaagung Utara, Pemda Kabupaten Tanggamus dan para mitra. Dan untuk memudahkan tim dalam memantau pergerakannya, pada tanggal 4 April 2018 pada salah satu gajah telah dipasang GPS Collar. Sehingga kawanan gajah dapat terdeteksi pergerakannya secara online dan kontinyu setiap 4 jam sekali. Proses adaptasi terhadap kejadian dan dampak konflik, serta kapasitas masyarakat dan pihak terkait dalam melakukan mitigasi (pencegahan – penanganan – monitoring) menjadi tantangan yang harus disadari dan dibangun bersama oleh parapihak. Penanggulangan konflik tidak dapat dilakukan secara sendiri sendiri, namun perlu adanya kontribusi dan sinergitas para pihak dalam merumuskan upaya yang akan dilakukan serta aksi nyata di tingkat lapang. Sumber : Balai KSDA Bengkulu
Baca Berita

Soft Release 10 ekor Jalak Bali Bersama Dirjen KSDAE dan Teten Masduki

Labuan Lalang, 14 Juli 2018. Balai Taman Nasional Bali Barat (TNBB) kembali melepasliarkan burung Jalak Bali (Leucopsar rothschildi), sebanyak 10 (sepuluh) ekor burung Jalak Bali bersama Koordinator Staf Khusus Presiden RI, Drs. Teten Masduki dan Direktur Jenderal KSDAE, Ir. Wiratno, M.Sc. Pelepasliaran di lakukan di daerah Labuan Lalang, kawasan TNBB, menggunakan metode soft release. Sebelum dilepasliarkan, 10 ekor burung Curik Bali yang telah dilakukan proses habituasi di kandang pra pelepasliaran ini didahului dengan penandatanganan berita acara pelepasliaran. Acara ini juga dihadiri oleh Kepala Balai KSDA Bali, komunitas pecinta burung Ronggolawe, perbekel (kepala desa) dan bendesa adat sekitar TNBB, bendesa adat serta perwakilan kelompok masyarakat sekitar TNBB. Dalam sambutannya, Koordinator Staf Khusus Presiden RI menyampaikan apresiasi dan dukungannya terhadap upaya pelestarian yang dilakukan oleh Balai TNBB. Pada kesempatan yang sama, Dirjen KSDAE juga menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu upaya komservasi burung Jalak Bali, sehingga populasinya dapat tumbuh dan berkembang dengan sangat baik. Wiratno menambahkan, untuk mengelola kawasan konservasi saat ini kita harus memakai paradigma baru dan cara baru mengelola kawasan. Diantaranya adalah menempatkan masyarakat sebagai subyek dan penghargaan terhadap budaya serta adat masyarakat sekitar. Sehingga peran masyarakat menjadi sangat penting untuk mendukung keberhasilan pengelolaan kawasan konservasi, termasuk salah satunya konservasi burung Jalak Bali. Hal ini sejalan dengan nawacita Presiden Jokowi untuk menghadirkan negara di masyarakat. Setelah dilepasliarkan, petugas Balai TNBB dibantu masyarakat akan melakukan monitoring intensif guna memastikan burung Jalak Bali dapat bertahan hidup dan berkembangbiak dengan baik. Selain itu, dilakukan juga pengisian kembali kandang habituasi dengan burung Curik Bali baru sebagai pengikat. Sebagai rangkaian acara, dilakukan penanaman jenis pohon penghasil pakan dan pohon langka, yaitu Pilang (Acacia leucophloea), Cendana (Santalum album) dan Sawo Kecik (Manilkara kauki). Pada kesempatan ini juga dilakukan secara simbolis penandatanganan prasasti pembangunan sarpras di TNBB berupa sarpras monumen/gapura Curik Bali. Dalam kunjungan tersebut, rombongan juga menyempatkan untuk mengunjungi Sanctuary Curik Bali di UPKPJB Tegal Bunder serta kunjungan ke area Ijin Pengusahaan Pariwisata Alam (IPPA) PT Trimbawan Swastama Sejati. Burung Jalak Bali di habitat alaminya ‎semakin bertambah. Hal itu dapat diketahui dari data pengamatan time series yang dilakukan Balai TNBB. Kepala Balai TNBB, Agus Ngurah Krisna menjelaskan, selama kurun waktu lima tahun terakhir, ukuran populasi burung Jalak Bali di alam terus meningkat. Pada tahun 2013, hasil inventarisasi mendapatkan data 32 ekor saja di alam. Namun seiring upaya konservasi yang dilakukan, ukuran populasinya bertambah setiap tahun hingga pada tahun 2018 teramati sebanyak 141 ekor burung Jalak Bali hidup bebas di habitatnya dalam kawasan TNBB. Ratusan burung yang oleh masyarakat Bali disebut curik itu menyebar di 6 (enam) titik dalam kawasan TNBB, yaitu Cekik, Tegal Bunder, Lampu Merah, Teluk Brumbun, Labuan Lalang, dan Tanjung Gelap. Burung dengan nama latin Leucopsar rohtscildi ini mendapat perhatian besar dari Balai TNBB. Selain burung yang ada di alam, saat ini terdapat 336 ekor burung Jalak Bali di kandang pembiakan Unit Pengelolaan Khusus Pembinaan Jalak Bali (UPKPJB).‎‎ Burung di UPKPJB nantinya digunakan untuk menambah stok di alam dengan cara dilepasliarkan. Menurut catatan, sejak dilepasliarkan di site Labuan Lalang pertama kali pada tahun 2015, spesies burung endemik Bali ini sudah terpantau sebanyak 65 ekor hanya di satu area pelepasliaran yaitu di Labuan Lalang. Burung yang berhasil diamati saat ini banyak yang tidak menggunakan cincin sebagai penanda hasil pelepasliaran. Artinya, burung Jalak Bali tersebut merupakan anakan yang berhasil menetas di habitat alaminya. Mari terus bekerja untuk memulihkan populasi burung Curik Bali. Sumber : Balai Taman Nasional Bali Barat
Baca Berita

Balai TN Tambora Ikuti Gelaran Festival Rimpu Bima Dompu dan Launching Sail Moyo Tambora

Jakarta, 15 Juli 2018. Bertempat di Monumen Nasional (Monas) dan Balai Kartini Jakarta, Balai Taman Nasional Tambora mengikuti gelaran Festival Rimpu Bima Dompu dan Launching Sail Moyo Tambora. Festival Rimpu Bima Dompu sendiri merupakan acara yang di adakan oleh komunitas warga Bima Dompu yang berada di Jakarta yang acaranya didukung oleh Dinas Pariwisata Provinsi NTB. Acara yang digelar di Monas ini cukup menyedot animo masyarakat yang ingin menyaksikan rangkaian acara yang ada di dalamnya seperti pawai baju adat Bima Dompu, Tarian Tembe (sarung) dan lain lain. Dalam gelaran acara ini Balai Taman Nasional Tambora mengisi stand pameran yang disediakan oleh panitia. Berlanjut pada malam harinya di Balai Kartini. Balai Taman Nasional Tambora juga ikut serta dalam acara launching "Sail Moyo Tambora". Acara yang dibuka langsung oleh Sekretaris Kemenko Bidang Kemaritiman tersebut merupakan peluncuran acara "Sail Moyo Tambora" yang akan di gelar pada 9 september 2018 sampai dengan 23 September 2018. Dalam kesempatan ini Balai Taman Nasional Tambora juga mengisi stand pameran yang disediakan oleh panitia, berbagai macam informasi yang disediakan oleh Balai Taman Nasional Tambora mengundang banyak tamu yang mengunjungi stand pada saat acara berlangsung. "The Sound From Caldera" Sumber : Balai Taman Nasional Tambora
Baca Berita

Meriahnya Nonton Bareng “Aku Ciremai”

Kuningan, 14 Juli 2018. Gedung KNPI Kuningan pada Sabtu sore 14 Juli 2018 menjadi tempat berkumpulnya lebih dari 500 pemuda pemudi pada acara yang bertajuk nonton bareng film pendek “Aku Ciremai”. Film pendek yang diputar di layar “nobar” sebagai pembuka adalah “Wonderful Kuningan”, “Sumpah Pemuda” dan “Bukit Seribu Bintang”. Sebagai pengisi antar film juga ada berbagai penampilan musik dari musisi dan kelompok band dari Kuningan, diantaranya sanggar Lokananta, Klopediakustic dan Sofie. Juga kuis oleh pembawa acara dengan berbagai hadiah, diantaranya voucher muncak ke Gunung Ciremai dari 4 pintu masuk pendakian, buku Pariwisata Alam 54 Taman Nasional dan hadiah lainnya dari para pendukung acara. Kepala Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Kuswandono, memberikan perkenalan terkait trilogi film pendek yang salah satunya mendapatkan penghargaan juara 2 pada Festival Film Pendek Konservasi pada Festival Taman Nasional dan Taman Wisata Alam (FTN-TWA) 2018. “Sejatinya kita menyiapkan 3 judul film pendek, sebuah trilogi yang tak terpisahkan. Menggambarkan keunikan pengelolaan TNGC. Kenapa unik? Tak lain adalah karena keunikan sejarah terbentuknya TNGC. Untuk mencapai pengelolaan lestari ekosistem gunung Ciremai harus didukung oleh pengelolaan ekonomi rakyat yang berdiam di kawasan penyangga, khususnya melalui pemanfaatan jasa wisata alam. Juga mesti memperhatikan kelestarian budaya luhur,” lanjut Kuswandono. Film “Aku Ciremai” merepresentasikan pengelolaan ekologi TNGC, menggambarkan ikatan ekologi dalam ekosistem Gunung Ciremai yang tak terpisahkan. Sedangkan “Alunan Ciremai” menggambarkan kekayaan sosial dan keluhuran budaya masyarakat yang tumbuh dalam ekosistem Gunung Ciremai. Melengkali trilogi adalah “Pendaki 10 Langkah”, menggambarkan potensi ekonomi rakyat yang dibangkitkan dari Gunung Ciremai, salah satunya melalui kegiatan pendakian Gunung Ciremai. Meski ketiganya siap, namun sayang, ternyata yang diperbolehkan diikutkan dalam festival hanya satu judul untuk masing-masing peserta lomba. Film “Aku Ciremai”-lah yang dianggap paling merepresentasikan gabungan dari trilogi tadi. Asep Dheny, seniman-pelukis dari Kuningan berkesempatan memberikan semangat kepada pemuda-pemudi yang hadir. “Apresiasi untuk Kuningan Kreatif dengan terselenggaranya acara ini. Juga untuk Aruna Cinemapro yang telah berkontribusi dalam Festival Film Pendek Konservasi dan meraih juara ke-2. Namun ini bukan akhir perjuangan, kita tidak boleh puas sampai di sini, harus menjadi penyemangat untuk berkarya lebih baik lagi,” lanjut Asep Dheny. Pemuda-pemudi yang hadir dan memenuhi gedung KNPI Kuningan bukan hanya dari Kuningan, namun juga dari Majalengka dan Cirebon. Diantaranya adalah komunitas: Cirebon Travelling, fotografer amatir Kuningan, pelajar dan tentunya para pecinta alam. Semangat dan antusias sangat terlihat dari riuhnya tepuk tangan berkali-kali ketika film “Alunan Ciremai” diputar, menyusul berikutnya “Aku Ciremai” dan diakhiri “Pendaki 10 Langkah”, yang sangat “gue” banget sebagai anak muda pecinta alam. Acara “nobar” ini diinisiasi oleh Kuningan Kreatif dan Aruna Cinemapro. Acara ini didukung oleh berbagai pihak, antara lain Balai TNGC, Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan, Sangkan Resort Aqua Park, PDAU Kuningan, Orijiman, Waja Kopi Kuningan, Denurran Food, Bareng Bidadari, Villa Kampung Gunung, RM Saung Ema’, Bima X Production, Kuningan Repost dan Grage Hotel & Spa. Nino, dari Kuningan Kreatif dan juga dari Aruna Cinemapro yang menggagas acara ini menyampaikan bahwa pemuda-pemudi Kuningan banyak memiliki potensi dan mengukir prestasi. “Kuningan sudah memiliki alam yang cantik luar biasa. Potensi sumberdaya manusianya juga tidak kalah. Tinggal kita sekarang harus mau untuk maju, bersama-sama bersemangat untuk selalu berkreasi. Kita sudah mengawali membuktikan, kalau kita mau kita bisa,” tutup Nino. Pada acara ini juga disampaikan banyak pesan konservasi, terutama berwisata tanpa sampah plastik dan tanggung jawab kita khususnya generasi muda terhadap lingkungan. Acara menjadi semakin menarik dibawakan oleh Regitha Nur Indah Paulani atau biasa dipanggil Rere, yang merupakan Grand Finalis Miss Earth Indonesia 2018 dari Kabupaten Kuningan. [teks © Idin & Koeszky, foto © BTNGC | 072018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai

Menampilkan 7.537–7.552 dari 11.140 publikasi