Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Stop Kekang Kukang

Kabandungan, 19 Juli 2018. Petugas Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) bersama International Animal Rescue (IAR) berhasil mengevakuasi seekor kukang (Nycticebus javanicus) di Kampung Sukagalih, Sukabumi setelah sebelumnya menerima pengaduan dari masyarakat. Primata diurnal ini ditemukan dalam keadaan terluka. Petugas mengidentifikasi bahwa satwa ini adalah salah satu kukang yang dilepasliarkan di tahun 2015. Hal ini menunjukan keberhasilan program rehabilitasi yang dilaksanakan Balai TNGHS bersama IAR. Sebagai informasi, kemampuan sang kukang bertahan hidup menjadi bukti bahwa hutan Taman Nasional Halimun Salak merupakan habitat yang baik bagi satwa liar ini dan banyak jenis lainnya. Selamatkan hutan sebagai habitat satwa liar. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak
Baca Berita

Primata Asli Jawa Barat Diserahkan Masyarakat

Bandung - 19 Juli 2019, Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan TSL Seksi Konservasi Wilayah III Bandung, 2 (dua) hari berturut-turut telah menerima penyerahan satwa liar yang Dilindungi Undang-undang yang berbeda jenis. Senin, 16 Juli 2018, masyarakat berinisial I yang berasal dari daerah Kampung Babakan Muncang 02/03, Desa Padaasih Kec. Cisarua Kab. Bandung Barat Barat telah menyerahkan kukang (Nycticebus coucang) dimana penampakan secara fisik sehat. Menurut pengakuan I, Kukang tersebut baru dipelihara selama 2 hari yang didapat dari temannya yang membawanya dari daerah Cililin Kabupaten Bandung Barat, saat ini Kukang tersebut masih dirawat dikandang transit kantor Bidang KSDA Wilayah II Soreang; Keesokan harinya, tepatnya pada hari Selasa, 17 Juli 2018, seekor satwa endemi Jawa Barat yaitu Surili (Presbytis comata) diserahkan oleh perwakilam PLN unit Cisokan, Kabupaten Bandung Barat, yang diwakili oleh Bapak Heri (Asmen Area PLN), berdasarkan informasi dari pihak PLN unit Cisokan Surili tersebut berasal dari masyarakat sekitar lokasi proyek Cisokan, Kabupaten Bandung Barat yang kemudian dipelihara oleh PLN unit Cisokan selama kurang lebih 2 (dua) bulan. Dari hasil pemeriksaan sementara, Surili tersebut berjenis kelamin jantan dan dalam keadaan sehat dicirikan dengan pergerakan lincah. Satwa tersebut saat ini dititip rawat di The Aspinall Foundation untuk direhabilitasi. Sumber: BBKSDA Jawa Barat
Baca Berita

Si Belang Melenggang, Kamera Trap Siap Siaga

Pekanbaru, 19 Juli 2018. Tanggal 4 Juli 2018 warga Desa Kuto Tuo dikejutkan adanya jejak yang diperkirakan adalah jejak tapak Harimau. Wargapun menyatakan adanya perjumpaan langsung dengan satwa yang dilindungi tersebut. Kepala Desa/wali Koto Tuo Kec. XIII Koto Kampar, Kab. Kampar melaporkan temuan dimaksud kepada Balai Besar KSDA Riau. Tim Penanggulangan Konflik Balai Besar KSDA Riau segera turun untuk melakukan identifikasi serta berkoordinasi dengan aparat setempat. Hasil identifikasi menyatakan bahwa memang benar, jejak tapak yang ditemukan adalah jejak tapak Harimau. Tim segera melakukan sosialisasi bagaimana cara menghadapi satwa liar dan diskusi dengan aparat desa serta tokoh masyarakat untuk melakukan pemasangan umpan. Jika pemasangan umpan tidak berhasil, maka akan dilakukan pemasangan kamera trap di lokasi perjumpaan warga dengan si raja hutan. Ternyata hingga hari ketiga pemasangan umpan, umpan tetap aman ditempatnya. Sebagaimana rencana awal, Tim memutuskan untuk melakukan pemasangan kamera trap. Dengan pemasangan kamera trap diharapkan Harimau dapat terpotret sehingga dapat diketahui jenis kelamin dan perkiraan umurnya. Keadaan lokasi pemasangan berada di perkebunan karet warga di mana di sekitarnya terdapat danau, rimba, dan semak belukar. Sebelum pemasangan kamera trap, kembali Tim melakukan sosialisasi dan koordinasi dengan aparat desa serta tokoh masyarakat. Tim segera melakukan identifikasi di tiga titik perjumpaan masyarakat dengan Harimau pada koordinat 0°19'03.6", 100°40'57.5" dan 0°17'55.6" , 100°39' 28.2" serta 0°16'10.8", 100°41'27.8". Dari ketiga titik tersebut, tim mempertimbangkan peluang paling besar Harimau terpotret yaitu pada koordinat 0°16'10.8", 100°41'27.8". Lokasi ini merupakan kebun karet dan tim memasang sebanyak 2 buah kamera trap. Pemilihan lokasi tersebut dengan mempertimbangkan daerah jelajah/home range Harimau, keberadaan jejak kaki, perjumpaan langsung, dan keamanan kamera dari gangguan oknum yang tidak bertangungjawab. Setelah pemasangan kamera, tim juga melakukan penyisiran di sekitar lokasi untuk melihat tanda-tanda keberadaan Harimau, namun dalam penyisiran tersebut tidak ditemukan tanda tanda yang baru terkait keberadaan Harimau. Masyarakat setempat sangat mendukung kegiatan tersebut karena sudah beberapa hari mereka merasa cemas dan takut untuk melakukan aktifitas di kebun mereka. Keberadaan petugas di lokasi menciptakan rasa tenang dan nyaman bagi warga masyarakat. Apabila kamera trap berhasil mendokumentasikan Harimau maka akan diambil tindakan lebih lanjut misalnya penghalauan atau penggiringan ke habitatnya yang paling memungkinkan untuk menjauhi pemukiman warga, demikian ungkap Heru Sutmantoro lebih lanjut. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Lintas Propinsi Demi Zilong

Ketapang, 17 Juli 2018. Tim Wildlife Rescue Unit Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang Balai KSDA Kalimantan Barat (BKSDA Kalbar) bersama Drh. Wahyu bergerak memulai perjalanan panjang lintas propinsi untuk mengantarkan seekor satwa Owa (Hylobates Sp) jantan ke Balai KSDA Kalimantan Tengah (BKSDA Kalteng) (17/7). Selanjutnya Owa jantan tersebut akan direhab dan dititiprawatkan ke Yayasan Kalaweit. Owa tersebut berasal dari penyerahan warga Desa Titi baru sejak 18 desember 2017, saat itu satwa masih berumur ± 4 bulan. Melihat kondisi satwa yang masih bayi dan sangat rentan, maka tim melakukan pengecekan pemeriksaan kesehatan ke Yayasan IAR Ketapang dan menitipkan sementara sampai menunggu kesiapan satwa maupun tempat rehabilitasi selanjutnya. Setelah dirawat dan dinyatakan siap oleh Yayasan IAR Ketapang, Owa tersebut selanjutnya akan direhabilitasi ke Yayasan Kalaweit di Muara Teweh Kalimantan Tengah dengan perjalanan yang ditempuh ± 20 jam. Selanjutnya satwa tersebut langsung diserahkan kepada Balai KSDA Kalimantan Tengah melalui Berita Acara penitipan satwa untuk selanjutnya akan dititiprawatkan dan direhabilitasi di Yayasan Kalaweit. Sadtata Adirahmanta selaku Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat menyatakan bahwa penitipan satwa Owa ini merupakan yang ke-4 kalinya untuk dititiprawatkan di Yayasan Kalaweit Kalimantan tengah. Memang perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan tapi tidak menyurutkan langkah Balai KSDA Kalbar mewujudkan upaya penyelamatan satwa dilindungi. Kesadaran tinggi masyarakat terhadap pentingnya kehidupan satwa liar merupakan langkah maju yang harus kita lakukan bersama baik melalui media sosial maupun penyuluhan yang diberikan sedini mungkin sehingga anak cucu kita masih bisa melihat satwa-satwa endemik masih ada dan lestari di daerahnya ditengah banyaknya degradasi lahan saat ini. (PR) Sumber & Dokumentasi : Tim WRU Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang, Balai KSDA Kalimantan Barat Call Center Balai KSDA Kalbar (Mita) : 08115776767
Baca Berita

Perwakilan TN Bromo Tengger Semeru Menjadi Peserta Terbaik Diklat Pencegahan Kebakaran Hutan 2018

Malang, 18 Juli 2018. Petugas Balai Besar TN Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menjadi juara 1 dalam Diklat Pencegahan Kebakaran Hutan yang diselenggarakan Balai Diklat Kadipaten 3 s.d 12 Juli 2018. 'Haryono' demikian sapaan Polhut TNBTS berprestasi tersebut diantara 30 peserta lainya yang berasal dari seluruh UPT Kemen-LHK, Dinas Kehutanan se jawa. Pelatihan pencegahan kebakaran hutan itu sendiri bertujuan untukn meningkatkan kompetensi para petugas dalam melakukan pencegahan terjadinya kebakaran serta bila diperlukan melakukan penanggulangan/ pemadaman kebakaran hutan secara dini. Materi yang diberikan terdiri dari teori dan praktek. Adapun teori yang disampaikan antara lain : Kebijakan dan Peraturan Perundang-undangan Bidang Kebakaran Hutan; Dasar-dasar Kebakaran Hutan dan Lahan; Penyadartahuan Pencegahan Karhutla; Pencegahan Karhutla Secara Teknis; dan Patroli Pencegahan Karhutla. Untuk mengasah kemampuan dan implementasi teori maka dilakukan juga praktek yang di laksanakan di hutan diklat sawala dan Desa Pasawahan yang merupakan Desa Penyangga TN Ciremai. Novita Kusuma Wardani selaku Kepala Bagian Tata Usaha menyampaikan terima kasih dan bangga atas prestasi yang di capai oleh sdr. Haryono, semoga ilmu yang didapat bisa menjadi bekal dan diimplementasikan dalam melaksanakan tugas dilapangan dan di sebarluaskan kepada personil TNBTS lainnya. Sumber : Balai Besar TN Bromo Tengger Semeru
Baca Berita

4 Buaya Muara di Jambi Kembali ke Habitatnya

Jambi, 17 Juli 2018. Balai KSDA Jambi bersama Balai Taman Nasional Berbak dan Sembilang, ZSL Indonesia Program, serta PT. SHP melepasliarkan 4 ekor buaya muara (crocodylus porosus) ke habitatnya yang jauh dari pemukiman masyarakat yaitu di sungai sekitar Resort Sembilang Balai Taman Nasional Berbak dan Sembilang. “Buaya yang kita lepaskan ini terdiri dari 1 ekor betina dewasa usia 3-4 tahun dengan panjang mencapai 3,1 meter dan bobot 100 kg, dan tiga ekor anakan buaya muara usia 1 bulan dengan panjang 40 cm.” ungkap Kepala SKW III Muara Sabak (Faried,SP). Buaya muara termasuk dalam Appendix 1 CITES yang berarti keberadaannya saat ini sedang terancam atau mengalami penurunan populasi yang signifikan. Habitat buaya muara pada umum nya berada di air tawar dan sesekali ke air asin atau laut. Buaya ini aktif pada siang dan malam hari, memangsa apapun yang memasuki wilayahnya. Buaya muara biasanya menyukai bersarang di dekat pohon bakau, untuk mengetahui ada tidaknya buaya caranya cukup mudah yaitu bermodalkan senter. Jika keluar pada malam hari bawalah senter dengan sinar terang yang kuat, jika terlihat sinar mata berwarna merah muda itu adalah buaya. Tim BKSDA Jambi menghimbau bahwa buaya muara sendiri cukup berbahaya bagi manusia, jadi sebaiknya jauhi tempat-tempat yang dimana buaya muara berada terutama malam hari. Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Terjerat Jaring Nelayan, Penyu Hijau Dilepasliarkan Kembali

Lombok Barat, 18 Juli 2018. Sekitar pukul 12.30 WITA bertempat di Pantai Teluk Mekaki Desa Pelangan, Kec. Sekotong Kab. Lombok Barat guna menindaklanjuti informasi dari Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) mengenai adanya 1 ekor Penyu yang diserahkan ke Balai Perikanan Budidaya Laut Lombok (BPBL Lombok) oleh masyarakat. Tim pun segera menuju ke lokasi untuk segera dilakukan evakuasi di kolam penampungan. Menurut informasi, Penyu Hijau ini di amankan sejak sehari sebelumnya dari seorang nelayan di Dusun pemekaran Nambung, Desa Buwun Mas, Kec. Sekotong Lombok Barat. Penyu di temukan oleh nelayan ketika sedang menjaring ikan, penyu tersangkut di jaring nelayan dan langsung di laporkan ke Kepala Dusun setempat. Penyu Hijau pun sempat diamankan di kantor BPBL Lombok untuk diukur panjang dan lebar lengkung karapas penyu serta pemasangan tagging satwa oleh Tim dari BPSPL, BKSDA NTB, Binmaspol serta Drh. IB Windia Adnyana, PhD. Pemerhati Penyu/ Dosen Universitas Udayana. Proses Evakuasi Penyu Hijau pun dilanjutkan pukul 12:30 WITA ke pantai Teluk Mekaki dengan baik tanpa halangan. Sumber : Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

Rekonsiliasi Data dan Sosialisasi Penyusunan SIMPULKK Region Kalimantan

Jakarta – 18 Juli 2018, Sub Direktorat Pemulihan ekosistem kawasan konservasi, Direktorat Kawasan Konservasi melakukan rekonsiliasi data dan sosialisasi penyusunan Sistem Informasi Monitoring Pemulihan Ekosistem Kawasan Konservasi (SIMPULKK) Regional Kalimantan di Palangkaraya pada tanggal 17 Juli 2018. Rekonsiliasi data dilakukan sebagai wujud membangun sinergisitas dan integrasi data- informasi terkait pemulihan ekosistem secara nasional. Hal ini sebagai bagian dari input proses pencapaian indikator kinerja Direktorat Kawasan Konservasi dalam rangka menekan tingkat kerusakan/degradasi kawasan konservasi yang telah terjadi. Sedangkan penyusunan SIMPULKK sebagai bagian dari strategi pengumpulan data secara terintegrasi dan real time sebagai bahan keputusan pengambilan keputusan program pemulihan ekosistem kawasan konservasi tingkat nasional. Kegiatan rekonsiliasi diikuti oleh UPT KSDAE regional Kalimantan yaitu 4 UPT BKSDA yaitu Balai KSDA Kalimantan Barat, Balai KSDA Kalimantan Selatan, Balai KSDA Kalimantan Timur, dan Balai KSDA Kalimantan Tengah; serta 7 UPT BTN/BBTN yaitu Balai TN Sebangau, Balai TN Betung Kerihun Danau Sentarum, Balai TN Kutai, Balai TN Bukit Baka Bukit Raya, Balai TN Gunung Palung, Balai TN Tanjung Puting, dan Balai TN Kayan Mentarang. Pada kesempatan ini, kegiatan dibuka oleh Kepala Subdit Pemulihan Ekosistem yaitu Bapak Sahdin Zunaidi dan didampingi oleh Bapak Anggodo, Kepala Balai TN Sebangau dan Bapak Nur Patria, Kepala Balai TN Kutai. Garis besar arahan pembukaan adalah pentingnya dibangun sistem terintegrasi yang dapat menyajikan data dan informasi secara real time sekaligus mekanisme pengumpulan data dan informasi pemulihan ekosistem secara terpadu. Pelaksanaan sosialisasi SIMPULKK dilakukan dengan praktek pengisian aplikasi berbasis website yang dipandu oleh tim Pemulihan Ekosistem, yaitu Gunawan, Luki Turniajaya, dan Rini Rismayani. Pada akhir sesi dilakukan diskusi dan perumusan hasil pelaksanaan kegiatan dalam berita acara rumusan hasil. Rumusan selanjutnya akan dikompilasikan dengan hasil rumusan pelaksanaan kegiatan serupa yang dilakukan pada Regional Sumatera di Medan, Regional Jawa, Bali dan Nusa Tenggara di Yogyakarta, serta Regional Sumatera, Maluku dan Papua di Makasar. Hasil rumusan kompilasi akan menjadi bahan penyempurnaan SIMPULKK ke depannya agar lebih baik lagi. (Teks:Gunawan, S.Hut., M.Sc. - Dit Kawasan Konservasi)
Baca Berita

Balai TN Bali Barat Gelar Apel Siaga Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan

Gilimanuk, 18 Juli 2018. Balai Taman Nasional Bali Barat (TNBB) menyelenggarakan Apel Siaga Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhutla) di lapangan kantor Balai TNBB sebagai persiapan untuk antisipasi kejadian kebakaran hutan saat memasuki musim kemarau tahun 2018. Peserta apel siaga adalah petugas TNBB, para anggota regu pengendalian kebakaran hutan, dan stakeholder terkait antara lain dari unsur TNI, Polri, BPBD Jembrana, Kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA), Masyarakat Mitra Polhut (MMP), dan karyawan perusahaan pariwisata alam (PPA) yang berada di dalam kawasan TNBB. Total jumlah peserta apel siaga pengendalian karhutla adalah 105 orang. Hadir sebagai tamu undangan para pimpinan instansi terkait seperti Balai PPI Karhutla, Kapolsek Gilimanuk, KPH Bali Barat, BPBD Jembrana, dan para tokoh masyarakat. Kepala Balai TNBB, Drh. Agus Ngurah Krisna K. M.Si. sebagai pembina apel menyampaikan akan pentingnya peran serta masyarakat sebagai subyek dalam pengelolaan kawasan konservasi dan kerjasama lintas sektoral sebagaimana diamanatkan Dirjen KSDAE melalui 10 cara baru mengelola kawasan konservasi. Selain itu juga disampaikan bahwa apel siaga ini bertujuan untuk mengetahui kesiapsiagaan personil dan dukungan stakeholder, serta untuk menyatukan langkah dalam upaya mengantisipasi kemungkinan terjadinya kebakaran hutan di kawasan TNBB yang saat ini telah memasuki musim kemarau. Kebakaran bisa terjadi tidak hanya di kawasan hutan TNBB, namun bisa juga terjadi kawasan lahan pertanian dan perkebunan di sekitarnya. Hal ini harus di antisipasi juga agar jika terjadi kejadian kebakaran lahan tidak berimbas ke kawasan TNBB. Kebakaran hutan yang terjadi di kawasan TNBB dari tahun ke tahun sudah mengalami penurunan. Namun begitu, TNBB sebagai pengelola harus selalu siap siaga dalam menghadapi kemungkinan kejadian kebakaran hutan. Hal itu sangat disadari melihat karakteristik hutan TNBB yang sebagian besar merupakan hutan musim yang kondisinya sangat kering pada saat musim kemarau. Ditambah lagi dengan adanya isu pemanasan global dan perubahan iklim yg diindikasikan dengan meningkatnya suhu udara dan kejadian musim yang tidak dapat diprediksi. Selain gelar pasukan, dalam apel siaga ini juga di pamerkan beberapa sarana dalkarhutla yang dimiliki TNBB berupa mobil slip on unit, motor patroli dalkarhut, mesin pompa, jet shooter, dan berbagai macam peralatan penunjang. Apel siaga dalkarhutla diakhiri dengan pertunjukan simulasi pengendalian kebakaran hutan di depan para tamu undangan. Simulasi yang dipimpin langsung oleh Komandan Regu Pengendalian Kebakaran Hutan TNBB, I Wayan Grudug, S.Pi. ini diisi dengan praktek penggunaan alat dan cara memadamkan kebakaran di kawasan hutan. Dengan selesainya simulasi, berakhir pula rangkaian acara apel siaga pengendalian kebakaran hutan dan lahan di lapangan kantor TNBB. Dengan dilaksanakannya apel siaga, diharapkan Balai TNBB dan seluruh stakeholder semakin siap dalam antisipasi kemungkinan terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Sumber : Balai Taman Nasional Bali Barat
Baca Berita

Rekon Data Pemulihan Ekosistem Kawasan Konservasi Regional Sulawesi, Maluku dan Papua

Makassar, 15 Juli 2018. Upaya mengsinergikan data dan informasi pemulihan ekosistem kawasan konservasi, Sub Direktorat Pemulihan Ekosistem kembali melakukan kegiatan rekonsiliasi data monitoring pemulihan ekosistem pada regional UPT KSDAE (Balai Besar/Balai KSDA dan Balai Besar/Balai Taman Nasional) regional Sulawesi, Maluku dan Papua pada tanggal 12 Juli 2018 di Hotel Harper, Makassar. Peserta diharapkan mampu membangun base line data pemulihan ekosistem kawasan konservasi di Indonesia yang dapat dipantau setiap saat (up date) agar tercapai rekapitulasi data pemulihan ekosistem dan penyajian informasi pemulihan ekosistem secara up date. Output dari kegiatan rekonsiliasi adalah UPT dapat melakukan pelaporan data dan informasi melalui Sistem Infomasi Monitoring Pemulihan Ekosistem Kawasan Konservasi atau disingkat SIMPULKK secara periodik. Data yang diinput akan direkapitulasi secara nasional dan disajikan sebagai data capaian pemulihan ekosistem. Kegiatan dipimpin langsung oleh Bapak Sahdin Zunaidi selaku Kepala Sub Direktorat Pemulihan Ekosistem Kawasan Konservasi. Dalam kesempatan pertama disampaikan sambutan pembukaan oleh Kepala P3E Sulawesi dan Maluku (Darhamsyah), Kepala Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan (Thomas Nifinluri) selaku tuan rumah pelaksanaan kegiatan. Pengisian data pada SIMPULKK dipandu tim SUBDIT Pemulihan Ekosistem Kawasan Konservasi, yaitu, R. Agus Sulistiyo, dadang Edi R dan Budy Suryanto. Hasil pelaksanaan kegiatan dirumuskan dalam rumusan hasil pelaksanaan kegiatan yang ditandatangai oleh seluruh peserta. Rumusan selanjutnya dipergunakan sebagai bahan penyempurnaan aplikasi/sistem ke depannya sehingga menjadi lebih baik. Sumber : Dadang Edi Rochaedi, S.P - Sub Direktorat Pemulihan Ekosistem Kawasan Konservasi
Baca Berita

Dirjen KSDAE Sambangi Kantor BBTN Kerinci Seblat

Sungai Penuh, 18 Juli 2018. Dirjen KSDAE (Ir. Wiratno, M. Sc) berkunjung ke Kantor Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat di kota Sungai Penuh pada hari Selasa, 17 Juli 2018. Pada kunjungan ini, Dirjen didampingi oleh Direktur Penanganan Konflik Tenurial dan Hutan Adat, Kepala Pusat Keteknikan Kehutanan dan Lingkungan dan Direktur PIKA, serta dihadiri oleh perwakilan pemerintah daerah (Kepala Dinas Kehutanan Kab. Kerinci, asisten II Pemda Kabupaten Kerinci, asisten II Pemda Kota Sungai Penuh). Sebelum melakukan kunjungan kerja ke lapangan, Dirjen KSDAE menyempatkan diri memberikan arahan terkait dengan objek wisata yang berada didalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat, baik potensi, aksesibilitas, fasilitas, maupun paket wisata untuk tujuan pengembangan manfaat adanya taman nasional dan pariwisata yang bisa dikembangkan bersama-sama dengan mitra maupun pemerintah daerah Kabupaten Kerinci dan kota Sungai Penuh. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat
Baca Berita

Sigap Dan Cepat Akhirnya Kukang Terselamatkan

Sintang, 18 Juli 2018. Berawal dari info mengenai keberadaan satwa kukang pukul 20.30 WIB di bangunan TNI yang sedang dibangun, tim wildlife Rescue Unit Seksi Konservasi Wilayah II sintang segera merespon dan menindaklanjuti laporan tesebut. Tanpa menunda Tim bergegas menyiapkan kandang berserta administrasinya langsung menuju lokasi dan mengamankan satwa kukang ke Kantor Seksi Konservasi wilayah II Sintang. Sosial Media dan call center sebagai bahan informasi berperan penting saat ini sebagai wadah Quick & respon terhadap laporan masyarakat. Mayarakat sendiri mulai paham kemana mereka harus melapor dan bertindak ketika mengetahui adanya keberadaan satwa liar yang dilindungi undang- undang. (PR) Sumber : Tim WRU SKW II Sintang, Balai KSDA Kalimantan Barat Call center BKSDA Kalbar (MIta) : 08115776767
Baca Berita

Translokasi Otan kembali ke Habitatnya

Jakarta, 18 Juli 2018. Balai KSDA Jakarta kembali melaksanakan Konferensi Pers (Press Conference) berkaitan rencana translokasi satwa dilindungi Undang-undang, bertempat di Media Centre Kantor Seksi Wilayah II Tegal Alur Jalan Benda Raya No. 1 Jakarta Barat. Konferensi Pers dilakukan terkait rencana Translokasi 1 (satu) ekor orangutan Sumatera (Pongo abelii) bernama “OTAN” ke Yayasan Ekosistem Lestari – Sumatran Orangutan Conservation Programme (YEL – SOCP) di Batu Mbelin Medan Sumatera Utara. Acara press conference disampaikan oleh Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati drh. Indra Exploitasia didampingi Kepala Balai KSDA Jakarta (Ahmad Munawir, S.Hut, M. Si), Kasubdit Pemanfaatan Jenis (Nunu Anugerah, S.Hut, M.Sc) serta LSM pemerhati Satwa Jakarta Animal Aid Network (JAAN) yang diwakili oleh Mutia. Dalam penjelasannya Direktur KKH menyampaikan “Satwa liar bukan binatang peliharaan maka biarkan mereka hidup dan berkembang di habitat aslinya” begitu tandasnya mengakhiri sambutannya. Sementara itu Kepala Balai KSDA Jakarta menjelaskan bahwa OTAN itu merupakan satwa yang semula dititip-rawatkan oleh Penyidik Subdit III Sumdaling Dit Reskrimsus Polda Metro Jaya sejak tanggal 04 April 2017. Translokasi satwa ini merupakan tahapan dalam rangka pelepasliaran OTAN ke habitat aslinya. Secara keseluruhan rencana translokasi OTAN telah dipersiapkan dengan baik sesuai dengan ketentuan dan perundang-undangan, mulai dari hasil pemeriksaan kesehatan, kesediaan Balai Besar KSDA Sumatera Utara untuk menerima penyerahan OTAN dari Balai KSDA Jakarta, Persetujuan Direktur Jenderal KSDAE serta penerbitan Surat Angkut Tumbuhan dan Satwa Dalam Negeri (SATS-DN), selanjutnya akan diserahterimakan ke Yayasan Ekosistem Lestari – Sumatran Orangutan Conservation Programme (YEL – SOCP) di Batu Mbelin Medan Sumatera Utara. Ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah bekerja sama dengan baik dalam mengupayakan OTAN untuk dapat dilakukan translokasi ke Yayasan Ekosistem Lestari – Sumatran Orangutan Conservation Programme (YEL – SOCP) di Batu Mbelin Medan Sumatera Utara dengan menggunakan pesawat Sriwijaya pada hari Jumat, 20 Juli 2018 pukul 06.05 WIB dan direncanakan tiba dilokasi sekitar pukul 11.30 WIB. Sumber : Balai KSDA Jakarta
Baca Berita

Faat Rudhianto : SOP Jasa Wisata Segera Disosialisasikan

Benteng - Kepulauan Selayar, 18 Juli 2018. Setiap kegiatan diperlukan sebuah norma atau aturan sebagai panduan atau pedoman untuk melaksanakannya. Seperti halnya dengan pelayanan jasa wisata dan penggunaan peralatan selam yang sudah dibagikan ke sebuah kelompok. Hari ini bertempat di aula Balai TN Taka Bonerate dilaksanakan rapat membahas Standar Operasional Prosedur (SOP) Pelayanan Jasa wisata dan SOP Pengawasan dan pengendalian Penggunaan Alat Selam Bantuan Kepada Kelompok Masyarakat Pengelola Wisata. Dipimpin langsung oleh Kepala Balai @Faatrudhianto dan dihadiri oleh para pejabat struktural dan para koordinator Fungsional lingkup Balai TN Taka Bonerate beserta staf fungsional. Kepala Balai berharap SOP ini mengatur secara tegas dan jelas terkait dua hal tersebut, pun nantinya jika ingin dituangkan secara detail maka akan dibuat juknis (petunjuk teknis). Setelah SOP tersebut rampung, pihak Balai akan segera mengundang semua jasa operator wisata yang sering beroperasi dalam kawasan taman nasional guna mensosilisasikan dan melaksanakannya. Sumber : Asri - PEH Balai TN Taka Bonerate
Baca Berita

Penangkapan Buaya di Sungai Deli

Medan, 18 Juli 2018. Penangkapan buaya jenis buaya muara (Crocodylus porosus) dengan ukuran panjang 1 (satu) meter, berat 20 kg jenis kelamin betina di sungai Deli Kelurahan Sei Mati Medan Sumatera Utara, pada hari Selasa tanggal 17 Juli 2018. Pada tanggal 7 Juli 2018 tim dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara telah turun ke lokasi untuk menangkap buaya semenjak isu adanya buaya di sungai Deli, dan pada saat itu buaya belum tertangkap. Pada tanggal 8 Juli 2018 tim kembali ke lokasi dan belum tertangkap juga, berlanjut sampai tanggal 16-17 Juli 2018, kali ini tim dan masyarakat melakukan penangkapan dengan menggunakan bebek. Umpan bebek dikaitkan dengan tali jerat dan dijaga oleh tim bersama masyarakat sekitar. Beberapa umpan bebek yang telah disiapkan dipantau telah dimakan, tetapi buaya belum dapat terjerat. Pada tanggal 17 Juli tepatnya pukul 13.20 wib buaya sudah memakan umpan bebek lagi dan sudah terbelit dengan tali jerat. Salah satu masyarakat yang bernama Pak Ishak segera mengamankan tali jerat dan menangkap buaya yang sudah terjerat. Kemudian Pak Ishak menghubungi petugas dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara yaitu Joni Pasaribu mengabarkan tertangkapnya buaya tersebut, dan tim dari Seksi Konservasi Wilayah II Stabat langsung menuju ke lokasi dan berkoordinasi dengan Pak Ishak, Babinsa dan Kepling bapak Rama untuk mengevakuasi buaya tersebut. Saat ini buaya telah dievakuasi oleh tim dan dititipkan ke Kebun Binatang Medan Zoo. Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Bajing Raksasa Itu Bernama Jelarang

Kuningan, 18 Juli 2018. Seminggu yang lalu ketika melakukan survei ke blok Kirisik, wilayah Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), dengan tujuan pemantauan satwa primata endemik Jawa Barat yaitu Surili (Presbytis comata), tiba-tiba di perjalanan tepatnya di blok Leumah Neundeut melihat satwa memanjat pohon Akasia (Acasia decurens) bolak-balik. Setelah sejenak diperhatikan di atas pohon tersebut ada gundukan ranting rupanya sedang membuat sarang. Satwa tersebut sekilas mirip luwak, tapi warna rambutnya belum cukup kenal karena posisinya jauh di atas pohon yang tinggi besar. Untuk memastikan jenis yang sesungguhnya akhirnya diputuskan untuk mengambil gambarnya. Kebetulan membawa kamera DSLR beserta lensa telenya. Momen langka tersebut berhasil diabadikan dalam beberapa gambar foto, meski sulit dilakukan karena berada di atas pohon yang cukup tinggi. Setelah diidentifikasi ternyata seekor bajing raksasa atau lebih dikenal dengan sebutan “Jelarang”. Jelarang dengan nama latin Ratufa bicolor atau dalam bahasa Inggris “Black Giant Squirrel” dari suku Viverridae termasuk anggota bajing pohon (“tree squirrel”) yang mempunyai ukuran besar. Panjang tubuhnya antara 35- 60 cm. Sobat Ciremai, secara umum keberadaan jelarang saat ini sangat menghawatirkan sepeti yang dilansir surat kabar Jawa Barat “Pikiran Rakyat” edisi Selasa, 17 Juli 2018. Bahwa diduga populasi jelarang (Ratufa bicolor) telah mengalami penurunan yang signifikan. Selama 10 tahun terakhir mengalami penurunan populasi sekitar 30%. Bahkan dalam IUCN Redlist , jelarang dikategorikan dalam status “Hampir Terancam” (NT) karena laju penurunan populasi yang terus terjadi dan perdagangannya pun diatur oleh CITES *dan masuk dalam daftar dalam Apendiks II. Keberadaan jelarang di Taman Nasional Gunung Ciremai sendiri sudah tidak mudah untuk dijumpai hanya di beberapa tempat saja. Ini bisa jadi karena gangguan langsung terhadap populasi, seperti perburuan, maupun gangguan terhadap habitatnya. Perlu kita teliti lebih lanjut. Ayo kita selalu berpartisipasi dalam konservasi alam melalui bentuk sekecil apapun. Karena disadari atau tidak, partisipasi tersebut akan selalu membantu menjaga keseimbangan alam, dan akan berdampak terhadap kehidupan di muka bumi yang lebih luas. [teks & foto © Iwan Sunandi - BTNGC | 072018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai

Menampilkan 7.505–7.520 dari 11.140 publikasi