Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Implementasi Program Role Model, Balai TN Bali Barat Ajak Masyarakat Desa Penyangga Belajar Pengelolaan Sampah ke Surabaya

Surabaya, 22 Juli 2018. Balai Taman Nasional Bali Barat (TNBB) melaksanakan kegiatan peningkatan kapasitas SDM masyarakat pengelola sampah anorganik di Kecamatan Jambangan, Kota Surabaya pada tanggal 20-22 Juli 2018. Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka mendukung implementasi Role Model pengendalian sampah anorganik di Taman Nasional Bali Barat. Peserta kegiatan merupakan perwakilan masyarakat di daerah penyangga TNBB yang terdiri atas perbekel (kepala desa), bendesa (kepala desa adat), pengelola pura, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Kelompok Masyarakat Penyedia Jasa Wisata (Pokmasta), kelompok pemandu wisata, kepala lingkungan, pengelola bank sampah dan petugas kebersihan lingkungan di Kawasan TNBB. Agenda hari pertama, sambil menuju ke kantor Lurah Jambangan, peserta diajak berjalan menyusuri lorong menuju kantor kelurahan untuk melihat dan belajar penataan lingkungan yang hijau dan tentunya bersih sesuai julukan Kelurahan Jambangan sebagai Kampung Green and Clean. Kegiatan dipandu oleh kader-kader lingkungan Kelurahan Jambangan yang menjelaskan bagaimana menjadikan lingkungan bersih dan dapat memanfaatkan lahan sempit yang difungsikan untuk berbagai macam tujuan, seperti kolam ikan, kebun sayur serta tanaman obat dan sebagai taman hijau. Peserta juga diajarkan bagaimana cara memanfaatkan berbagai macam sampah plastik untuk dijadikan hiasan yang dapat memperindah lingkungan. Agenda kegiatan dilanjutkan dengan penyambutan oleh Camat Jambangan dan Lurah Jambangan bersama fasilitator dan para kader lingkungan. Dalam sambutannya, Camat Jambangan, Anna Fajriatin, AP, MM, mengucapkan terima kasih dan merasa terhormat atas kunjungan masyarakat yang difasilitasi oleh Balai TNBB. Selain itu, Camat Jambangan juga menyatakan pentingnya keterlibatan pemerintah desa/kelurahan, kecamatan hingga pemerintah kota, serta partisipasi masyarakat dan para pihak (LSM & swasta) dalam mewujudkan lingkungan yang hijau dan bersih dari sampah. Selesai seremonial penyambutan, peserta diarahkan menuju Pusat Daur Ulang (PDU) Jambangan untuk melakukan simulasi dan praktek memilah sampah serta pembuatan kompos. Peserta belajar secara langsung cara memilah sampah organik dan anorganik hingga memilah berbagai jenis sampah anorganik (plastik, kaca, karet). Selain itu, peserta juga mendapatkan materi tambahan tentang pengolahan sampah organik menjadi kompos dengan menggunakan lalat hitam ( _black fly soldier_) untuk menghasilkan belatung yang dapat digunakan sebagai pakan ternak dengan kandungan protein tinggi. Hari kedua pelatihan diawali dengan penyampaian materi oleh Adi Candra, S.Si, M.Si, selaku fasilitator lingkungan Dinas Kebersihan dan RTH Kota Surabaya dengan materi pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Mas Adi juga berdiskusi dengan peserta mengenai permasalahan sampah di daerahnya masing-masing, sehingga diharapkan dapat menemukan solusi yang nantinya dapat diterapkan. Setelah penyampaian materi, peserta mengikuti simulasi dan praktek membuat kerajinan tangan yang berbahan baku sampah plastik. Peserta mendapat keterampilan untuk mengubah sampah plastik menjadi hasil kerajinan yang memiliki nilai ekonomi. Kegiatan peningkatan kapasitas SDM pengelola sampah anorganik diakhiri dengan Focus Group Discussion (FGD) dan reviu pasca pelatihan yang dipimpin oleh Hendra Gunawan, SP, MP, Kepala SPTN Wilayah III Labuan Lalang selaku ketua rombongan dan Rossa Bjork (Volunter Friends of Menjangan-Biosphere Foundation). Dalam FGD tersebut, peserta dibagi menjadi tiga kelompok sesuai dengan clusternya yang didampingi oleh fasilitator Balai TNBB untuk berdiskusi dan berkoordinasi mengenai rencana aksi penanganan sampah anorganik yang akan dilaksanakan setelah mereka tiba di daerahnya masing-masing. Hasil diskusi dipaparkan di depan peserta lainnya dengan suasana santai dalam perjalanan pulang menuju Bali. Salah satu peserta, I Made Putera Astawa (Perbekel Desa Pejarakan) dalam paparannya menerangkan bahwa cluster Banyumandi-Pejarakan telah merancang rencana aksi pengelolaan sampah, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam jangka pendek, kegiatan yang akan dilaksanakan sosialisasi penanganan sampah, mulai dari pengumpulan, pengangkutan, pemilahan dan pendaur ulangan di setiap banjar. Sementara dalam jangka panjang, desa dinas akan membangun Tempat Penampungan Sampah Terpadu (TPST) untuk mengoptimalkan proses pemilahan dan daur ulang sehingga dapat meningkatkan nilai ekonominya. Pada kesempatan tersebut, Made Astawa juga menyampaikan apresiasiasinya kepada Balai TNBB yang telah memfasilitasi dilaksanakannya kegiatan pelatihan, sehingga masyarakat termasuk perbekel mendapat pengetahuan, keterampilan dan inspirasi dalam pengelolaan sampah di wilayahnya masing-masing. Pelaksanaan kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dan kolaborasi para pihak dalam pengendalian sampah di TNBB. Hal ini sesuai dengan arahan Kepala Balai TNBB, Drh. Agus Ngurah Krisna, M.Si, dalam monitoring dan evaluasi role model pengendalian sampah di TNBB, yaitu hendaknya implementasi program role model diawali dengan tahapan kordinasi, komunikasi dan kolaborasi dengan masyarakat dan para pihak terkait. Sumber : Balai TN Bali Barat
Baca Berita

Mbah Surat, Father’s of Green Peacock

Memelihara satwa pun harus dengan hati. Mungkin itu pesan yang dapat kita ambil dari sosok sederhana penangkar Merak Hijau (Pavo muticus) bernama Surat Wiyoto atau yang lebih akrab disapa dengan Mbah Surat. Berdomisili di Dusun Soko, Desa Tawangrejo Kecamatan Gemarang Kabupaten Madiun. Cerita berawal ketika pada tahun 2007 Mbah Surat yang bermata pencaharian sebagai petani dan pedagang bakso keliling sedang bertani ke hutan. Mbah Surat menemukan telur Merak Hijau di pinggir hutan jati wilayah KPH Madiun sebayak 4 (empat) butir. Telur tersebut kemudian ditetaskan dengan bantuan indukan ayam. 10 (sepuluh) hari kemudian telur Merak Hijau menetas dan hidup hingga dewasa. Informasi pemeliharaan Merak Hijau oleh Surat Wiyoto tersebut diketahui oleh petugas KSDA Bidang wilayah I Madiun. Selanjutnya Surat Wiyoto dibimbing dan diarahkan secara administrasi dan teknis untuk melakukan kegiatan penangkaran Merak Hijau secara legal. Sebagai pemilik izin resmi penangkaran Merak Hijau, sejak tahun 2014 Mbah Surat juga sudah mengantongi izin pengedar satwa dalam negeri. Ketekunan Mbah Surat dalam memelihara Merak Hijau membuahkan hasil. Dalam merawat satwa, Mbah Surat mampu memadukan teknis pemeliharaan secara modern dan tradisional. Untuk menjaga kesehatan Merak, sesekali Mbah Surat menambahkan cabai untuk pakan Merak. Sesekali pula Mbah Surat memberikan pijatan dan mengoles minyak gosok pada Merak yang kurang sehat. Jika sudah sakit parah, baru Mbah Surat membawa Meraknya ke Dokter Hewan terdekat. Sebagai salah satu penyedia indukan yang legal, saat ini penangkaran Mbah Surat telah memiliki 6 (enam) pasang indukan. Sedangkan Merak Hijau generasi F2 dan F3 hasil penangkaran yang telah dipasarkan sebanyak 15 (lima belas) pasang dengan harga pasaran berkisar antara Rp 25.000.000,- s/d 30.000.000,-. Penangkaran Merak Hijau dirasakan mampu memberikan peningkatan ekonomi. Mbah Surat sudah tidak perlu lagi menjual bakso keliling kampung. Bahkan hasil anakan Merak Hijau yang dijual dan ditangkarkan kembali di Semarang dan di Malang telah berhasil pula berkembang biak. Sehingga keberhasilan dan peningkatan ekonomi dirasakan juga oleh pihak lain. Keberhasilan penangkaran Merak Hijau Mbah Surat juga turut mendukung upaya pelestarian budaya Reog Ponorogo. Bulu Merak Hijau yang telah tanggal merupakan salah satu bahan baku Barongan (Dadak Merak) pada seni Reog Ponorogo. Penangkaran Merak Hijau Mbah Surat sudah sering dijadikan lokasi liputan oleh wartawan media massa maupun televisi. Diantaranya acara Merajut Asa Trans 7, Seputar Indonesaia Pagi RCTI dan Si Otan Trans 7. Beberapa kali lokasi penangkaran juga didatangi oleh pelajar dan mahasiswa untuk kegiatan edukasi maupun penelitian. Gaung penangkaran Merak Mbah Surat pun sudah menjadi daya tarik bagi wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Madiun. Diantaranya berasal dari Selandia Baru, Paris dan Mexico yang tertarik untuk melihat keseharian Mbah Surat dalam memelihara Merak-meraknya. Mereka mengaku senang dapat melihat keelokan Merak Hijau secara langsung. Keberhasilan penangkaran Merak Hijau di Madiun mulai menarik perhatian stakeholder terkait. Dinas Pariwisata Kabupaten Madiun ingin manjadikan lokasi penangkaran Merak Hijau milik Mbah Surat sebagai salah satu destinasi wisata di Kabupaten Madiun. Diperlukan dukungan dari multipihak agar penangkaran Mbah Surat dapat diperhitungkan sebagai salah satu destinasi wisata edukasi, konservasi dan budaya di Madiun dan sekitarnya. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Peduli Pemberdayaan Perempuan, Balai TN Matalawa Hadirkan Itik Petelur

Waingapu, 21 Juli 2018. Akhirnya yang ditunggu datang juga, sebagai bagian dari rangkaian Role Model integrasi Issue Gender dalam pengembangan pemberdayaan masyarakat desa penyangga Desa Padiratana, tim pemberdayaan Role Model Balai Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti (BTN Matalawa) telah menyerahkan bantuan pengembangan usaha ekonomi yaitu itik sebanyak 1.500 ekor DOD (day old duck) kepada kelompok Rambu Langgaliru di Desa Padiratana. Kegiatan ini diawali dengan penguatan kelompok yang dihadiri pemerintah desa bersama jajarannya berupa penjagaan piket itik per masing-masing sub kelompok serta uraian tugas penjagaan piket tersebut dalam bentuk mengisi format laporan harian. Pukul 18.30 wita itik tiba di Desa Padiratana, tim bersama pemerintah desa melakukan serah terima itik di kandang Dusun II, dalam hal ini dilakukan Diecky Arif (penyuluh kehutanan BTN Matalawa) kepada ketua kelompok Rambu Langgaliru yang disaksikan Kepala Desa Padiratana dan pengurus kelompok beserta anggota. Pelepasan itik - itik ke kandang ini disambut antusias masyarakat yang hadir, pelepasan itik terdistribusi pada 3 kandang dengan masing-masing kandang berjumlah 500 ekor dan langsung diberikan vitamin dan makanan. Berdasarkan hasil pemantauan dilaporkan dari 1500 ekor itik terdapat 10 ekor yang mati atau 0,67 persen. Kepala Balai TN Matalawa, Maman Surahman, S.Hut., M.Si menyampaikan bahwa kegiatan pemberdayaan masyarakat ini bertujuan untuk mendongkrak perekonomian masyarakat sehingga masyarakat lebih mandiri, maju dan dapat meminimalisir tingkat ketergantungan masyarakat kedalam kawasan dengan demikian kawasan menjadi lestari. Sumber : Balai Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa)
Baca Berita

Bersama Musnahkan Akses Illegal di TN Gunung Leuser

Tapaktuan, 21 Juli 2018. Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Tapaktuan Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) aktif bekerjasama dengan TNI, POLRI dan LSM lingkungan melakukan pemusnahan jalan illegal dikawasan hutan konservasi TN. Gunung Leuser, Desa Ujung Mangki, Kecamatan Bakongan, Kabupaten Aceh Selatan Sabtu, (14/7/18). Pemusnahan ruas jalan illegal tersebut dikerjakan bersamaan dengan pembuatan kanal blocking dan parit tanda batas kawasan TNGL dengan masyarakat sekitarnya. Hal tersebut sebagai upaya perlindungan terhadap kawasan konservasi dari tindak pidana kehutanan seperti illegal logging, perburuan satwa lindung dan perambahan. Kanal blocking yang dibuat diharapkan dapat mencegah terjadinya KARHUTLA (kebakaran hutan dan lahan) di masa mendatang. Kanal blocking selain sebagai sekat bakar juga dapat mengembalikan fungsi kawasan gambut sebagai daerah resapan air, pengendalian banjir di musim hujan dan menjadi sumber air disaat terjadinya kebakaran hutan dan lahan (KARHUTLA) di musim kemarau. Sebagai informasi, pekerjaan lapangan dilakukan dengan menggunakan alat berat berupa 1 unit alat berat/beko. Tahap awal pekerjaan adalah pemusnahan jalan illegal dengan ukuran panjang ± 700 meter dengan lebar ± 5 meter dengan cara menggali dan atau membuat lubang jalan sebanyak 4 titik dengan lebar dan kedalaman parit antara 3 sd 5 m. Selanjutnya pekerjaan pembuatan kanal blocking sepanjang ± 700 meter mengitari kawasan lindung yang terdiri dari 4 titik, masing–masing titik diperkirakan jaraknya yaitu sekitar ± 200 meter dengan lebar 5 meter. Sedangkan tahap akhir kegiatan adalah pembuatan parit tanda batas TN. Gunung Leuser sepanjang ± 700 meter. Kendala capaian kerja alat berat, di karenakan kondisi lapangan berupa rawa gambut dan minimnya pendanaan Jum’at (19/7). Secara terpisah Ka. BPTN Wilayah I Tapaktuan Buana Darmansyah, S. Hut. T menyatakan bahwa dengan adanya kegiatan tersebut kegiatan Tipihut dalam kawasan TNGL dapat berkurang dan mudah-mudahan terhenti, karena dengan adanya parit yang di buat sebagai batas diharapkan dapat berdampak langsung terhadap kelestarian kawasan hutan konservasi di wilayah kerjanya. Sementara disisi lain dengan dibuatnya tanda batas TNGL mampu menjawab persoalan batas antara kawasan TNGL dengan masyarakat tutupnya. Sumber : Efa Wahyuni - Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser Foto : Tim BPTN Wilayah I Tapaktuan
Baca Berita

Dicari Orangtua Asuh Maleo di Bogani Nani Wartabone

Kotamobagu, 20 Juli 2018. Program orang tua asuh maleo atau foster parent di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW) diluncurkan secara resmi oleh Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Eksosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, di lokasi peneluran Tambun, Resort Dumoga Timur dan Lolayan TNBNW, Jum’at (20/7). Dirjen KSDAE, Wiratno dalam sambutannya menekankan bahwa “pengembangan ekowisata di taman nasional, yang diserahkan kepada masyarakat desa penyangga merupakan wujud nyata komitmen Kementerian LHK untuk menjadikan masyarakat sebagai subyek yang terlibat aktif dalam pengelolaan sebuah kawasan konservasi”. Program ini merupakan hasil kerjasama Balai TNBNW dengan kelompok masyarakat Maleoleosan di Desa Pinonobatuan, Bolaang Mongondow, yang merupakan desa penyangga kawasan taman nasional. Kelompok Maleoleosan secara khusus mengembangkan program-program ekowisata, baik potensi wisata yang berada di desa maupun di dalam kawasan TNBNW. Program orang tua asuh maleo ini ditujukan untuk mengajak masyarakat luas berpartisipasi dalam konservasi maleo, khususnya di lokasi-lokasi peneluran maleo. Pengunjung dengan kriteria khusus akan mengikuti rangkaian kegiatan berupa pengamatan maleo saat bertelur, menggali telurnya untuk ditanam kembali dalam bak penetasan semi alami agar aman, serta akan dikabarkan kembali jika telur telah menetas dan anak maleo siap untuk dilepasliarkan. Kepala Balai TNBNW, Lukita Awang Nistyantara menekankan bahwa Balai siap berperan sebagai regulator dalam mendukung program program-program ekowisata yang dikembangkan oleh kelompok masyarakat desa penyangga kawasan taman nasional. Sementara itu, Youber Waleleng, ketua kelompok Maleoleosan menyatakan “kami berkomitmen ikut melestarikan maleo dan taman nasioanal, sekaligus mencoba memberi contoh kepada masyarakat luas bahwa keberadaan taman nasional juga dapat membawa manfaat bagi desa sekitarnya”. Dalam peluncuran program orangtua asuh maleo ini, juga dihadiri oleh Bupati Bolaang Mongondow, Kepolisian Resort Bolaang Mongondow, Dandim 1303 Bolaang Mongondow, serta unsur Muspika Kecamatan Dumoga Timur dan Kepala Desa Pinonobatuan. Program orangtua asuh maleo ini juga difasilitasi oleh EPASS Project dan Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia Program. Maleo (Macrocephalon maleo) adalah salah satu burung endemik Sulawesi dengan status Genting dalam kriteria badan konservasi dunia (IUCN). TN Bogani Nani Wartabone menjadi lokasi terpenting dalam upaya konservsi maleo, karena memiliki delapan lokasi peneluran aktif di dalamnya. Informasi lebih lanjut: Dini Rahmanita Balai TN Bogani Nani Wartabone 0813-1402-3025 Sumber : Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone
Baca Berita

Sosialisasi Batas Kawasan dan Zonasi TN Bukit Tigapuluh di Desa Pejangki

Rengat, 20 Juli 2018. Sosialisasi Batas Kawasan dan Zonasi Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) dilaksanakan di Desa Pejangki pada Kamis, 19 Juli 2018. Desa Pejangki merupakan salah satu desa yang berbatasan langsung dengan kawasan TNBT. Tim menyampaikan kepada masyarakat terkait peraturan terkait pengelolaan TNBT dan batas kawasan serta zonasi sesuai dengan SK. Penetapan Zonasi terbaru. Kepala Desa Atan Puji mengapresiasi kegiatan tersebut dan sangat berterima kasih kepada pihak TNBT. Beliau mengatakan bahwa hutan TNBT harus dijaga bersama-sama karena merupakan hulu mata air sungai yang ada di Pejangki, serta sumber mata air di lokasi wisata Air Terjun Tembulun Berasap Pejangki. Mereka juga setuju jika hutan di kawasan TNBT dan penyangga yang masuk Desa Pejangki agar disterilkan dari kegiatan pembukaan lahan untuk perkebunan maupun lainnya. "Kedepannya masyarakat Desa Pejangki dan Balai TNBT dapat bersinergi dan bekerjasama mengembangkan Air Terjun Tembulun Berasap menjadi ikon wisata di Kecamatan Batang Cenaku dan salah satu destinasi wisata favorit di Kabupaten Indragiri Hulu" ujar Lukman Hery, Kepala Seksi Pengelolaan Wilayah II Belilas Riau mewakili Kepala Balai TNBT. Lukman juga mengapresiasi masyarakat Desa Pejangki yang telah berperan serta dalam menjaga kelestarian TNBT. Sumber : Balai Taman Nasional Bukit Tigapuluh
Baca Berita

Field Trip Heart of Borneo ke TWA Gunung Tunak

Gunung Tunak, 20 Juli 2018. Taman Wisata Alam Gunung Tunak kembali mendapat kunjungan, kali ini field trip dari rombongan "The 3rd Heart of Borneo Technical Committe Meeting" yang akan melihat dan belajar bagaimana pelaksanaan Ekowisata berbasis Masyarakat (Community based Eco-tourism) di Taman Wisata Alam Gunung Tunak. Rombongan terdiri dari beberapa stakeholder terkait diantaranya dari Perwakilan 3 Negara dari Anggota Heart of Borneo (HoB), Kementerian Keuangan Indonesia, Kepala Bidang Pengelolaan Kawasan Hutan, Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Rombongan didampingi PEH dan Kehumasan Balai KSDA Nusa Tenggara Barat (BKSDA NTB) beserta staf dengan agenda meliputu pemaparan materi oleh PEH BKSDA NTB, Ibu Kurniasih Nurafifah, S.Hut., M.Si. mengenai potensi TWA Gunung Tunak, Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika, pemberdayaan ke masyarakat serta pendampingan masyarakat untuk menjalankan Program Ekowisata di Taman Wisata Alam Gunung Tunak. Selain itu, rombongan juga diajak untuk melihat sarana dan prasana wisata yang telah dibangun (Kerjasama Korea Forest Service dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan), Sanctuary kupu-kupu dan rusa sebelumnya akhirnya melanjutkan agenda field trip ke lokasi selanjutnya. Sebagai Informasi, Heart of Borneo (HoB) adalah inisiatif tiga negara yaitu Indonesia, Brunei Darussalam dan Malaysia untuk mengelola kawasan hutan tropis dataran tinggi di borneo yang didasarkan pada prinsip konservasi dan pembangunan berkelanjutan. Tujuan The 3rd Heart of Borneo Technical Committe Meeting di Lombok adalah untuk membahas dan memfinalisasi proposal dan kegiatan dalam kerangka kerjasama HoB untuk dapat dipertimbangkan dalam Trilateral Meeting HoB ke-12 yang akan dilaksanakan di Malaysia. Sumber : Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

ASEAN, EU, open Zooming in on Biodiversity Photo Contest

To promote appreciation to the biodiversity richness of the ASEAN region through the art of photography, the ASEAN Centre for Biodiversity (ACB), with support from the European Union (EU), calls on all photography and nature enthusiasts to join this year’s staging of the Zooming in on Biodiversity, an ASEAN-wide photo competition. In commemoration of the 2018 International Day for Biological Diversity with the theme, “Celebrating 25 Years of Action for Biodiversity,” hopes to capture photographs related to the following biodiversity areas: Coastal and Marine Biodiversity; Agrobiodiversity; Wildlife Species; Urban Biodiversity; and Wetlands and Peatlands. The Zooming in on Biodiversity Photo Contest is also a dedicated activity in celebration of the 2018 International Year of the Reef (IYOR). With this, the Centre is in search of powerful images that showcase the bounty of seas, reef areas and coastal ecosystem in the ASEAN. These photographs will then serve as visual components of various communication, education and public awareness materials and activities of ACB in promoting conservation initiatives for the coastal and marine ecosystem. This year’s contest, which is a major initiative under the ACB and EU’s Biodiversity Conservation and Management of Protected Areas in ASEAN (BCAMP) Project, has the overall theme “Capturing the richness of biological resources in the ASEAN region.” The initial leg of the contest, held in 2009 and with the theme “Biodiversity and Me,” generated close to 1,000 entries from youth, amateur, and professional photographers from the 10 ASEAN Member States. The impressive selection of photographs captured not only various plant and animal species, but also photographs featuring the relationship of biodiversity with issues such as climate change, food security, livelihood, and health. These powerful images helped boost the promotion of the values of biodiversity among various audiences. “Biodiversity and Climate Change” was the theme for the second staging of the event. The contest helped draw public attention to the challenge of climate change, and to the need for both global and local action to address this issue. The third staging in 2015 had the theme “Biodiversity for Sustainable Development” to communicate ways on how to achieve the balance between development and biodiversity conservation. The contest is in line with the Convention on Biological Diversity’s Aichi Target 1, which states that: By 2020, at the latest, people are aware of the values of biodiversity and the steps they can take to conserve and use it sustainably. Cash prizes and opportunities for their photos to get published in major ACB publications and exhibits await the winners. Registration to the contest is free of charge and is open to all citizens of the ASEAN region—Brunei Darussalam, Cambodia, Indonesia, Lao PDR, Malaysia, Myanmar, the Philippines, Singapore, Thailand, and Viet Nam. The ACB was established in 2005 by the ASEAN Member States as an answer to biodiversity loss in the region. The Centre supports and coordinates the implementation of activities in the ASEAN leading to the conservation and sustainable use of biological diversity, for the benefit of the region and the AMS. Deadline : 30 September 2018. For those who wish to join, visit www.aseanbiodiversity.org/zoomingin. Sumber : Direktorat KKH
Baca Berita

Penanganan Konflik Buaya Senyulong di Desa Sipare - Pare

Labuhan Batu Utara, 20 Juli 2018. Konflik buaya dengan manusia kembali terjadi, kali ini di Desa Sipare-Pare Hilir Kecamatan Marbau Kabupaten Labuhan Batu Utara. Bermula pada hari Minggu 15 Juli 2018, Kepala Bidang KSDA Wilayah II Pemantangsiantar Balai Besar KSDA Sumatera Utara (BBKSDA Sumut) mendapat informasi dari Kapolsek Marbau tentang satu individu buaya yang meresahkan masyarakat. Selanjutnya Kepala Bidang KSDA Wilayah II langsung memerintahkan kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) III Kisaran untuk menangani permasalahan tersebut. Pada hari Senin tanggal 16 Juli 2018 pukul 10.30 wib, tim Seksi Konservasi Wilayah III Kisaran, Kepala Resort Pelabuhan Tanjung Balai beserta anggota TPHL Resort berkoordinasi dengan Kanit Intelkam Polsek Marbau. Tim juga mendapat informasi dari Kepala Desa dan Muspida bahwa buaya sedang berada di aliran sungai Marbau yang melintasi Desa Sipare-Pare Hilir tepatnya di Dusun V. Sungai Marbau merupakan jalur penyebrangan masyarakat desa menuju ladang mereka, sehingga keberadaan buaya tersebut membuat masyarakat takut. Atas kesepakatan bersama tim dengan Kepala Desa, Muspida dan masyarakat disepakatilah melakukan penagkapan buaya dengan menjeratnya menggunakan tali. Upaya ini membuahkan hasil dimana buaya berhasil di jerat pada pukul 15.20 Wib. Selanjutnya, Buaya jenis senyulong (Tomistoma schlegelii) ukuran panjang ± 3,5 m, berat badan 150 kg dan diperkirakan umurnya mencapai 20 tahun, pada Selasa 17 Juli 2018 sekitar pukul 02.05 Wib di titipkan ke Medan Zoo untuk perawatan dan pemeliharaannya. (lisbeth) Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Langkah Bersama Pelestarian Burung Di Matalawa

Waingapu, 20 Juli 2018. Tanah humba merupakan salah satu pulau di propinsi nusa tenggara timur yg kaya akan ragam hayati baik flora fauna bentang alam maupun gejala alam. Keragaman hayati ini yang mendasari pemerintah melalui departemen kehutanan (saat itu-red) di declared sebagai taman nasiona yaitu Taman Nasional Manupeu Tanah Daru Dan Laiwangi Wanggameti. Ada sekitar 215 jenis burung dengan 12 jenis burung katagori endemik Sumba sehingga sumba ditetapkan sebagai Important Bird Area (IBA) dan Endemic Bird Area (EBA), 115 jenis kupu kupu, 31 jenis reptilia, 35 jenis herpetofauna, dan 23 jenis mamalia. Upaya pelestarian dan perlindungan jenis-jenis penting di sumba mustahil bisa dilakukan oleh hanya satu pengelola saja, perlu sebuah kerjasama antar lembaga yang saling bahu membahu mendukung demi mewujudkan pelestarian sumber daya alam serta tercapainya kehidupan yang selaras dengan alam dan berkelanjutan sebagai perwujudan amanah Peraturan Pemerintah No 28 Tahun 2011 tentang pengelolaan kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam dan permenhut nomor 85 tahun 2014 tentang tata cara kerjasama penyelenggaraan kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam. Perwujudan atas amanah peraturan dan perundangan tersebut, pada tanggal 18 Juli 2018 di kantor Burung Indonesia, Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (MaTaLaWa) bersepakat dengan Burung Indonesia melakukan kerjasama penguatan fungsi pelestarian burung. Sumber : Balai TN Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti
Baca Berita

Kamera Trap Babi Rusa di CA Gunung Tinombala BKSDA Sulteng

Palu, 20 Juli 2018. Babi rusa (Babyrousa babyrussa) merupakan salah satu satwa prioritas yang berada wilayah kerja Balai KSDA Sulawesi Tengah. Dalam upaya menjaga kelestarian satwa prioritas tersebut, Balai KSDA Sulawesi Tengah melakukan kegiatan monitoring pemantauan kamera trap di kawasan hutan Cagar Alam (CA) Gunung Tinombala Kabupaten Parigi Moutong tahun 2018. Kegiatan monitoring pemantauan kamera trap babi rusa ini merupakan kegiatan lanjutan dari tahun 2017. Jumlah kamera trap yang dipasang di CA Gunung Tinombala sebanyak 3 buah yang tersebar di beberapa lokasi. Dari hasil pemantauan tersebut diperoleh adanya babirusa yang terekam oleh kamera trap. Babirusa terekam pada kamera trap 1 dan kamera trap 3. Babirusa yang terekam pada kamera trap 1 berjenis kelamin jantan, betina dan anakannya yang terekam pada tanggal 28 Mei 2018, 25 Juni 2018 dan tanggal 17 Juli 2018. Sedangkan pada kamera trap 3 babi rusa yang terekam yaitu berjenis kelamin betina dan anakannya pada tanggal 22 Mei 2018. Babi rusajantan mempunyai ciri-ciri adanya taring sedangkan babirusa betina tidak mempunyai taring. Dokumentasi dari pemantauan kamera trap babi rusa ini berupa foto dan video. Selain babi rusa, dalam pemantauan kamera trap ini ada beberapa jenis hewan lain yang terekam diantaranya kuskus, ayam hutan, kera hitam, tupai, babi hutan dan berbagai jenisburung. Sumber :Balai KSDA Sulawesi Tengah
Baca Berita

Bupati Bolmong Menjadi Orangtua Asuh Maleo

Kotamobagu, 20 Juli 2018. Bupati Bolaang Mongondow, Yasti Soepredjo Mokoagow secara resmi menjadi orangtuaasuh maleo atau foster parent di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW). Program orangtua asuh ini merupakan kerjasama antara Balai TNBNW dan kelompok masyarakat Maleoleosan di Desa Pinonobatuan, Dumoga Timur. “Saya sangat bangga dapat menjadi salah satu orangtua asuh bagi maleo, satwa yang paling kita banggakan di Bolaang Mongondow. Mudah-mudahan program orangtua asuh maleo ini dapat menjadi pemicu agar masyarakat secara luas turut mendukung kelestarian maleo, tidak hanya yang berada di Desa Pinonobatuan TNBNW, namun juga di lokasi-lokasi lainnya secara luas”, demikian disampaikan Yasti dalam sambutannya. Program orangtua asuh maleo ini diluncurkan secara resmi oleh Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Eksosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, di lokasi peneluran Tambun, Resort Dumoga Timur dan Lolayan TNBNW, Jum’at (20/7). Dirjen KSDAE, Wiratno menekankan bahwa “pengembangan ekowisata di taman nasional, yang diserahkan kepada masyarakat desa penyangga merupakan wujud nyata komitmen Kementerian LHK untuk menjadikan masyarakat sebagai subyek yang terlibat aktif dalam pengelolaan sebuah kawasan konservasi”. Program ini merupakan hasil kerjasama Balai TNBNW dengan kelompok masyarakat Maleoleosan di Desa Pinonobatuan, Bolaang Mongondow, yang merupakan desa penyangga kawasan taman nasional. Kelompok Maleoleosan secara khusus mengembangkan program-program ekowisata, baik potensi wisata yang berada di desa maupun di dalam kawasan TNBNW. Program orang tua asuh maleo ini ditujukan untuk mengajak masyarakat luas berpartisipasi dalam konservasi maleo, khususnya di lokasi-lokasi peneluran maleo. Pengunjung dengan kriteria khusus akan mengikuti rangkaian kegiatan berupa pengamatan maleo saat bertelur, menggali telurnya untuk ditanam kembali dalam bak penetasan semi alami agar aman, serta akan dikabarkan kembali jika telur telah menetas dan anak maleo siap untuk dilepasliarkan. Kepala Balai TNBNW, Lukita Awang Nistyantara menekankan bahwa Balai siap berperan sebagai regulator dalam mendukung program program-program ekowisata yang dikembangkan oleh kelompok masyarakat desa penyangga kawasan taman nasional. Sementara itu, Youber Waleleng, ketua kelompok Maleoleosan menyatakan, “kami berkomitmen ikut melestarikan maleo dan taman nasioanal, sekaligus mencoba memberi contoh kepada masyarakat luas bahwa keberadaan taman nasional juga dapat membawa manfaat bagi desa sekitarnya”. Dalam peluncuran program orangtua asuh maleo ini, selain dihadiri oleh Bupati Bolaang Mongondow, juga Kepala Kepolisian Resort Bolaang Mongondow, Dandim 1303 Bolaang Mongondow, serta unsur Muspika Kecamatan Dumoga Timur dan Kepala Desa Pinonobatuan. Program orangtua asuh maleo ini juga difasilitasi oleh EPASS Project dan Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia Program. Maleo (Macrocephalon maleo) adalah salah satu burung endemik Sulawesi dengan status Genting dalam kriteria badan konservasi dunia (IUCN). TN Bogani Nani Wartabone menjadi lokasi terpenting dalam upaya konservsi maleo, karena memiliki delapan lokasi peneluran aktif di dalamnya. # Informasi lebih lanjut: Dini Rahmanita Balai TN Bogani Nani Wartabone +62 813-1402-3025BUPATI BOLMONG MENJADI ORANGTUA ASUH MALEO Sumber : Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone
Baca Berita

Beragam Kerjasama Untuk TN Bogani Nani Wartabone

Kotamobagu, 20 Juli 2018. Beberapa kelompok masyarakat di desa-desa penyangga Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW) menandatangani perjanjian kerjasama dengan Balai TNBNW, Jum’at (20/7) di Tambun, Desa Pinonobatuan, Bolaang Mongondow. Perjanjian kerjasama ini meliputi enam kelompok masyarakat, yaitu kelompok Tinggabu dan Malahu di Desa Tunggulo dan kelompok Maleo di Desa Tulabolo, yang ketiganya merupakan kelompok dari Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo. Selain itu dua kelompok lain berasal dari Kabupaten Bolaang Mongondow, yaitu kelompok Itundud Muara Pusian di Desa Pusian Barat dan kelompok Maleoleosan di Desa Pinonobatuan. Satu kelompok lagi, Modaga no Suangge merupakan kelompok masyarakat di Desa Molibagu, Bolaang Mongondow Selatan. Lingkup kerjasama ini meliputi bidang pemberdayaan masyarakat dan pemulihan ekosistem. Beberapa kelompok mendorong pengembangan ekowisata sedangkan beberapa kelompok lain secara swadaya akan membantu meningkatkan kelestarian maleo sebagai satwa penting taman nasional dalam bentuk pemulihan ekosistem hutan sebagai koridor maleo. Kepala Balai TNBNW, Lukita Awang Nistyantara menyatakan bahwa “masyarakat merupakan bagian terpenting dalam pengelolaan kawasan taman nasional, dan kelompok masyarakat yang berkomitmen mendukung kelestarian taman nasional merupakan wujud nyata dari kontribusi masyarakat dalam ikut menjaga kelestarian kawasan”. Penandatangan perjanjian kerjasama ini disaksikan langsung oleh Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Dalam amanatnya, Dirjen KSDAE, Wiratno menekankan kepada Balai TNBNW untuk terus menjaga komitmen dalam penerapan cara baru pengelolaan kawasan konservasi, yang salah satunya menjadikan masyarakat sebagai subyek dalam pengelolaan kawasan konservasi. Kegiatan ini juga dihadiri langsung oleh Bupati Bolaang Mongondow, Kepala Kepolisian Resort Bolaang Mongondow, Dandim 1303 Bolaang Mongondow, serta unsur Muspika Kecamatan Dumoga Timur dan Kepala Desa Pinonobatuan. Proses kesepakatan dan kerjasama kelompok masyarakat ini difasilitasi oleh EPASS Project dan beberapa lembaga swadaya masyarakat lokal, Suara Bobato, Yayasan Rimbawan, dan Japesda Gorontalo. Kawasan TNBNW (282.008,757 ha) merupakan kawasan konservasi terluas di Sulawesi yang mewakili ekosistem hutan dataran tinggi dan dataran rendah. Kawasan ini menjadi habitat terbaik bagi beragam satwa khas Sulawesi, seperti maleo (Macrocephalon maleo), anoa (Bubalus spp.), babirusa (Babyrousa celebensis), tarsius (Tarsius tarsier), monyet sulawesi (Macaca nigra dan Macaca nigrescens), dan sebagainya. # Informasi lebih lanjut: Nuraini Balai TN Bogani Nani Wartabone 081-342-088000 Sumber : Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone
Baca Berita

Anis, Sang Pendamping Pendaki Di Argopuro

Sidoarjo, 20 Juli 2018. Siapa yang sering mendaki gunung? Mungkin sudah tak asing dengan burung satu ini saat mendaki gunung. Ya, ia menjadi pendamping atau penunjuk arah saat menuju puncak. Pun sudah terkenal diantara para pendaki, juga mudah dijumpai hampir di seluruh gunung Pulau Jawa. Siapakah gerangan? Pendaki menyebutnya dengan nama berbeda. dia adalah Anis Gunung (Turdus poliocephalus). Anis Gunung menjadi burung yang umum dijumpai di jalur pendakian Gunung Argopuro, Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang. Terutama pada area yang memiliki ketinggian 2000 meter diatas permukaan laut atau lebih. Biasanya burung ini terlihat di sekitar Gunung Jambangan, Sikasur, dan Sabana Lonceng. Jenis Anis Gunung yang terdapat di Dataran Tinggi Yang merupakan jenis T. p. Whiteheadi, satu diantara 4 sub-spesies Anis Gunung yang dijumpai di Pulau Jawa. Jenis ini memiliki ciri-ciri yang dapat dibedakan dengan anak jenis lain dan banyak dijumpai di Jawa bagian timur. Ia memiliki ciri perut berwarna (merah) karat dengan bagian bawah putih, meluas agak lebih jauh hingga dada bagian bawah. Kepala, terutama mahkota, sisi kepala, dan tenggorokan berwarna kelabu terang. Begitu pula pada bagian punggung yang berwarna kelabu terang. Paruh dan kaki serta lingkar mata berwarna kuning. Anis mudah dikenali, karena ia tidak terlalu terganggu oleh kehadiran manusia. Karenanya ia sering mencari makan di jalur pendakian yang cukup terbuka, dan Anis sering dianggap sebagai petunjuk arah oleh pendaki. Jadi, bagaimana denganmu? Pasti kalian punya kesan mendalam dengan si Anis saat mendaki gunung. Sumber: Balai Besar KSDA Jawa Timur (Samsul Maarif, Bakti Rimbawan Pada RKW. Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang)
Baca Berita

Rimba Bacan Bernyanyi

Labuhan, 20 Juli 2018. Dengan didampingi oleh tim dari Wallacea Nature dan Wildlife Crime Society (WCS), tim SKW I BKSDA Maluku melakukan pelepasliaran satwa di Pulau Bacan, Halmahera Selatan. Pelepasliaran dipimpin langsung oleh Kepala SKW I Ternate, Abas Hurasan, S.Hut, dengan melibatkan pihak Kesultanan Bacan, POLAIR POLDA Maluku Utara, POLRES Halmahera Selatan, perwakilan Kebun Percobaan Bacan, perwakilan Burung Indonesia dan seluruh personil SKW I Ternate. Pelepasliaran dilaksanakan di dua (2) lokasi yang berbeda dengan rincian yaitu sebanyak 27 ekor Kera Bacan dan 20 ekor Kura-Kura Air Tawar dilepasliarkan di Desa Sayoang, Kecamatan Bacan Utara, Kabupaten Halmahera Selatan. Sedangkan 30 ekor Kakatua Putih, 9 ekor Nuri Bayan, 10 ekor Kasturi Ternate dan 1 ekor Nuri Kalung Ungu dilepasliarkan di sekitar kawasan CA Gunung Sibela. “Sebanyak 27 ekor Kera Bacan, 18 ekor Kakatua Putih, 9 ekor Nuri Bayan, dan 20 ekor Kura-kura Air Tawar merupakan penyerahan hasil sitaan dari POLAIR POLDA Malut pada bulan Juni lalu, dimana pihak POLAIR telah menggagalkan penyelundupan satwa-satwa, dan kasusnya sedang ditangani, sedangkan satwa lainnya merupakan hasil sitaan dari POLRES Halsel dan hasil temuan dalam kegiatan patrol yang petugas laksanakan”, terang Abas Hurasan kepada hadirin. Pelepasliaran dilaksanakan secara soft release, dilanjutkan dengan penandatangan Berita Acara dan kemudian peserta beranjak dari lokasi pelepasliaran agar satwa yang dilepasliarkan dapat beradaptasi dengan lingkungannya, terutama Kera Bacan. Dalam keterangan yang diberikan, Koordinator Resort Bacan-Obi, Arga Christyan mengatakan, “Pulau Bacan merupakan habitat dari semua satwa yang dilepasliarkan sehingga setelah menjalani masa rehabilitasi dan satwa diperiksa layak untuk dilepasliarkan maka, satwa yang diangkut dari Ternate menuju Pulau Bacan dan dilanjutkan dengan pelepasliaran. Pelepasliaran dilaksanakan dengan harapan dapat mempengaruhi populasi satwa di alam sesuai dengan habitatnya. Penyelundupan satwa menjadi ancaman besar bagi keberadaan suatu jenis satwa di alam. Maluku Utara sebagai daerah kepulauan memerlukan kerjasama seluruh pihak untuk mempertahankan keberadaan satwa-satwa endemic yang menjadi kekayaan keanekaragaman hayati. Sumber : Dominggas Aduari - Penyuluh Kehutanan Pertama Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Maluku, 2018
Baca Berita

Dialog Intensif dan Interaktif BKSDA Sumatera Selatan Bersama Masyarakat Peladang Kopi SM Isau-Isau

Lahat, 20 Juli 2018. Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Lahat Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan (BKSDA Sumsel) melakukan komunikasi interaktif dan intensif dengan para pihak dalam upaya pengelolaan kolaboratif kawasan Suaka Margasatwa (SM) Isau-Isau dengan penekanan pada penguatan komitmen para pihak dalam perlindungan dan rehabilitasi kawasan. Sebuah strategi dan model pengelolaan yang menempatkan masyarakat sebagai bagian dalam pengelolaan kawasan dengan mengelola masyarakat untuk menekan tekanan terhadap kawasan dan merehabilitasi kawasan. Melalui dialog interaktif di Desa Padang Kecamatan Pagar Gunung Kabupaten Lahat bersama Kepala Desa Padang, Perangkat Desa,Tokoh Masyarakat, dan Pengguna Kawasan Secara Non Prosedural (85 orang) diharapkan akan diperoleh solusi dan model perlindungan dan rehabilitasi kawasan SM Isau-Isau yang melibatkan peran aktif masyarakat atas dasar kesadaran akan nilai penting kawasan. Materi kegiatan berupa paparan tingkat kerusakan kawasan, tipologi tekanan kawasan oleh aktivitas non prosedural yang dilakukan masyarakat, kerentanan desa-desa sekitar kawasan akan dampak kerusakan kawasan, upaya penyadartahuan pengguna kawasan secara non prosedural untuk secara sadar dan mandiri menertibkan bangunan (pondok) dalam kawasan serta secara bertahap meninggalkan aktivitas pembukaan lahan dalam kawasan, dan mengajak semua elemen masyarakat dari desa-desa penyangga, pengguna kawasan secara non prosedural, dan pihak terkait lain untuk terlibat aktif dalam upaya perlindungan dan rehabilitasi kawasan. Penyadartahuan ditekankan pada upaya perlindungan dari aktivitas pembukaan lahan dalam kawasan dan rehabilitasi kawasan yang terbuka. Peran yang lebih diharapkan kepada pengguna kawasan secara non prosedural melalui gerakan bersama untuk sadar, peduli dan berperan aktif terhadap rehabilitasi kawasan karena kerusakan yang terjadi akibat pemanfaatan yang memberi hasil finansial kepada mereka tetapi mengakibatkan degradasi kawasan. Hasil kegiatan berupa kesepakatan tertulis terkait komitmen bersama antara SKW II Lahat BKSDA Sumsel dengan para pihak yang terdiri dari Kepala Desa Padang, Perangkat Desa,Tokoh Masyarakat, dan Perwakilan Pengguna Kawasan Secara Non Prosedural dari Ataran Aur Ribang, Ataran Resam Kecik, Ataran Saihip, Ataran Ujung Rembung,Talang Lipik, Ataran Bukit Lucuk, dan Talang Bungkuk. Komitmen tertulis tersebut pada prinsipnya merupakan upaya bersama dalam mengupayakan rehabilitasi kawasan yang selain berfungsi ekologis juga bermanfaat bagi masyarakat (jenis-jenis tanaman MPTS), peran aktif masyarakat dalam upaya menurunkan tingkat kerusakan dengan tidak melakukan pembukaan lahan dalam kawasan, keterlibatan para pihak dalam perlindungan kawasan terutama menahan laju tekanan dan gangguan kawasan, dan bagi masyarakat yang mengunakan kawasan secara non prosedural untuk tidak melakukan pembukaan lahan dalam kawasan, aktivitas mandiri untuk membongkar pondok (batas waktu sampai dengan bulan desember 2018 dimana akan dilakukan evaluasi capaian pelaksanaannya) dan merehabilitasi kawasan,terlibat aktif dalam perlindungan kawasan,serta secara bertahap meninggalkan aktivitasnya dalam kawasan. Sumber : Wahid Nurrudin - PEH Balai KSDA Sumatera Selatan

Menampilkan 7.473–7.488 dari 11.140 publikasi