Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Terjerat Jaring, Nelayan Di Penyangga Bagian Selatan TN Bunaken Sukarela Melepasliarkan Penyu Ke Alam

Manado, 23 Juli 2018. Tim patroli pemantauan aktifitas pengunjung bagian selatan Taman Nasional Bunaken menemukan penyu yang terjerat dalam jaring ikan milik nelayan. Bermula dari terlihat perahu nelayan sedang mencari ikan diperairan yang diperuntukkan untuk wisata penyelaman di area Tanjung Kelapa Desa Poopoh, Resort Poopoh - SPTNW II, ketika aktivitas nelayan tersebut dilakukan pemeriksaan petugas bermaksud untuk mengarahkan agar berpindah ke lokasi lain di zona tradisional. Dari tim patroli melihat bahwa terdapat penyu terjerat dalam jaring nelayan, selanjutnya bersama nelayan tersebut dan penyu di bawa ke darat untuk identifikasi jenis penyunya serta menyampaikan sosialisasi kepada nelayan tentang peran penting satwa diperiaran dan perlindungannya. Alex panggilan nelayan yang menangkap penyu, mengungkapkan ketika kami menemukan bahwa penyu tersebut terjerat di jaring, kami sudah berencana akan langsung melepasliarkan kembali ke alam namun keburu tim patroli datang. Tim patroli selanjutnya menyampaikan bahwa ketika dilain waktu menemukan kejadian serupa saat jaringnya menjerat penyu agar langsung melepasliarkan kembali ke alam, atau dapat menghubungi petugas jika ditemukan unsur kesengajaan menangkap penyu untuk dikonsumsi atau diperjual belikan. Setelah penyu tersebut terlepas dari jaring, bersama nelayan secara sukarela dikembalikan ke habitatnya di alam. Hasan Sahri ketua tim patroli mengatakan dari hasil identifikasi penyu yang terjerat jaring nelayan berjenis penyu hijau (celonia mydas) dengan ukuran panjang 50 cm lebar 40 cm, penyu merupakan satwa dilindungi berdasarkan undang-undang nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan Peraturan Pemerintah nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Selama tahun 2018 ini diperairan wilayah bagian selatan Taman Nasional Bunaken - SPTN Wilayah II, tercatat 5 ekor penyu yang dilepasliarkan kembali ke alam akibat terperangkap dalam jaring nelayan dan itu atas inisiatif sendiri masyarakat melaporkan ke petugas, demikian pula pada temuan kali ini pengakuan dari nelayan akan melepasliarkan begitu mengetahui ada penyu yang terjerat pada jaring. Jika kami lihat, hal ini menunjukan ada pemahaman dan kesadaran masyarakat untuk tidak menangkap satwa dilindungi seperti penyu. Namun bukan berarti sudah tidak ada lagi penangkapan penyu, untuk itu patroli pemantauan harus tetap dilakukan untuk meminimalisir kegiatan penangkapan satwa dilindungi di kawasan TN Bunaken, tutup Hasan. Sumber : Eko Wahyu Handoyo - PEH pada Balai Taman Nasional Bunaken
Baca Berita

Sosialisasi Role Model Pengembangan Daerah Penyangga Berbasis Tumbuhan Obat TN Meru Betiri

Jember, 23 Juli 2018. Bertempat di Aula Balai Taman Nasional Meru Betiri telah dilaksanakan sosialisasi Role Model Pengembangan Daerah Penyangga Berbasis Tumbuhan Obat kepada para pihak. Peserta sosialisasi berasal dari berbagai stakeholder yaitu Bappeda Kab. Jember, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kab. Jember, Dinas Kesehatan Kab. Jember, Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kab. Jember, Dinas Pariwisata Kab. Jember, Camat Tempurejo, UNEJ, Kepala Desa Andongrejo dan Kelompok King Betiri. Tujuan penyelenggaraan sosialisasi yaitu untuk menyebarkan informasi serta membangun jejaring kerja dalam rangka pencapaian role model ini. Sasarannya adalah Kelompok TOGA King Betiri di Desa Andongrejo. Kelompok yang berdiri tahun 2015 ini telah memiliki legalitas berdasarkan akta notaris Nurul Kusuma Wardhani, S.H, M.Kn Nomor: 5.- tanggal 9 Oktober 2017 tentang perkumpulan kelompok home industri jamu tradisional King Betiri. Role model ini direncanakan akan berlangsung selama 3 tahun, yang pada pelaksanaan akan dibagi dalam tiga tahap yaitu tahap I 2018, tahap II 2019, dan tahap III 2020. Hasil sosialisasi ini diperoleh komitmen para pihak untuk mendukung dan berperan dalam mengembangkan daerah penyangga berbasis tumbuhan obat. Sumber: Balai Taman Nasional Meru Betiri
Baca Berita

Si Jibi Sang Jalak Bali Sambut Obor ASIAN Games

Gilimanuk, 23 Juli 2018. Torch Relay atau Kirab Obor Api Asian Games tiba di Teluk Gilimanuk pukul 07.00 Wita. Teluk Gilimanuk, tepatnya di Waterbay, dipenuhi rombongan pelajar, instansi pemerintah, swasta, dan juga penari lengkap bersama penabuh kesenian jegog yang merupakan salah satu kesenian khas Jembrana. Ditengah kerumunan, terlihat sosok putih menyerupai burung jalak Bali, yang merupakan burung endemik asli Bali. Dialah Si Jibi, maskot burung jalak Bali milik Balai Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Pada kesempatan yang sangat langka ini, segenap karyawan Balai TNBB turut meramaikan penyambutan obor api Asian Games yang dikomando langsung Kepala Balai TNBB, Drh. Agus Ngurah Krisna K, M.Si. Memasuki area pelabuhan Gilimanuk, rombongan kirab obor api Asian games disambut kesenian beleganjur yang dimainkan oleh pelajar di Gilimanuk. Masuk area Waterbay, obor api Asian Games diiring oleh rombongan pelajar yang dibawa Bupati Banyuwangi, Azwar Anas dan diserahkan ke Bupati Jembrana, Putu Artha. Si Jibi "Jalak Bali" mendapat kehormatan mendampingi Bupati Jembrana dalam menerima obor dari Bupati Banyuwangi untuk diarak keliling pulau Bali pada tanggal 23-25 Juli 2018. Dari Teluk Gilimanuk, obor api Asian Games dibawa oleh pelari menuju gerbang selamat datang Taman Nasional Bali Barat di Cekik yang selanjutnya dibawa oleh panitia melintasi kawasan Taman Nasional Bali Barat menuju Denpasar. Pesan konservasi yang dibawa Si Jibi, selain dukungan terhadap penyelenggaraan Asian Games 2018, juga himbauan untuk memerangi sampah plastik di Indonesia, khususnya di arena Asian Games. Si Jibi juga membawa misi untuk promosi konservasi dan wisata di TNBB. Salah satu kunci sukses keberhasilan konservasi jalak bali di TNBB, yaitu kuatnya dukungan masyarakat sekitar TNBB dan Pemda setempat. Bahkan desa-desa di Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana dan Kecamatan Gerokgak, kabupaten Buleleng yg merupakan desa penyangga TNBB telah menyatakan deklarasi untuk pelestarian si cantik burung jalak Bali. Jalak bali merupakan fauna maskot provinsi Bali dan satwa endemik yg habitat alami terakhirnya berada di Bali bagian barat, tepatnya di Taman Nasional Bali Barat. Sejak berstatus terancam punah oleh IUCN tahun 1970an dan termasuk satwa dilindungi dalam PP no 7/1999, populasi burung jalak Bali menunjukkan pertumbuhan yang fluktuatif. Namun dalam 3 tahun terakhir, dengan adanya grand design pelestarian Jalak Bali di alam, berangsur populasi Jalak bali di alam membaik. Data terakhir jumlah burung jalak Bali yg hidup liar di TNBB sebanyak 141 ekor dan burung yg berada di kandang kurang lebih 350. Sumber : Balai Taman Nasional Bali Barat
Baca Berita

Respon Cepat Balai Besar KSDA Riau Dalam Penanganan Konflik Satwa Yang Dilindungi

Pekanbaru, 23 Juli 2018. Pada tanggal 20 Juli 2018 pukul 10.15 WIB, warga Kel. Rengat Kec. Rengat Kab. Indragiri Hulu melaporkan adanya Macan dahan (Neofelis nebulosa) yang terjebak di bawah kolong rumah warga. Tim Rescue Bidang KSDA Wilayah l Balai Besar KSDA Riau yang terdekat dengan lokasi kejadian merespon dengan cepat dan melakukan check TKP. Pukul 11.00 wib Tim evakuasi tiba di lokasi dan segera melakukan koordinasi dengan aparat terkait dan Pusat Konservasi Hariamau Sumatera (PKHS) untuk mengambil tindakan yang diperlukan demi keselamatan bersama termasuk keselamatan satwa yang dilindungi berdasarkan UU No. 5 Tahun 1990 tersebut. Pengamanan lokasi serta pengendalian massa adalah langkah awal yang dilakukan Tim bersama dengan PKHS dan aparat setempat termasuk Polsek Rengat, Camat Rengat serta Koramil. Selanjutnya Tim bersama sama melakukan pemantauan situasi satwa. Untuk mengantisipasi satwa tersebut panik dan lari tim melakukan penutupan kolong rumah serta memasang kandang perangkap. Tim evakuasi juga menghubungi tim bius Balai Besar KSDA Riau, untuk mengantisipasi bila sampai dengan malam Macan dahan tersebut belum bergerak dari posisinya. Setelah menunggu sekian lama, akhirnya pada pukul 19.00 WIB, Macan dahan masuk ke kandang jebakan yang di pasang oleh tim. Segera Tim membawa satwa langka tersebut untuk diamankan di kantor Bidang Wilayah l sebelum akhirnya diangkut untuk di lakukan observasi lebih lanjut di kandang Transit Satwa Balai Besar KSDA Riau. Setelah dilakukan observasi rencananya akan diambil tindakan konservasi selanjutnya demi kelestarian satwa langka tersebut. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Kembali Mahasiswa Kehutanan IPB Belajar Langsung di Alam

Kuningan, 23 Juli 2018. Kawasan taman nasional sebagai sarana pendidikan, penelitian dan ilmu pengetahuan kerap kali mendapat kunjungan pelajar dan mahasiswa. Mahasiswa yang datang tak hanya yang berlatar belakang kehutanan, namun juga dari berbagai akademika diantaranya biologi, sosial, ekonomi lingkungan, pariwisata, pertanian dan manajemen. Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) dengan icon gunung tertinggi di Jawa Barat tetap menjadi primadona kunjungan pendidikan mahasiswa. Dalam setahunnya, mahasiswa yang berkunjung untuk belajar langsung di alam mencapai 15-20 universitas lokal maupun nasional. Salah satu universitas nasional yang rutin setiap tahunnya belajar adalah mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB. Mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB yang melakukan pembelajaran di Gunung Ciremai selama satu bulan sebanyak sepuluh orang. Lokasi studi mulai dari wilayah Kuningan hingga Majalengka sesuai dengan target kurikulum kampus. Tanggal 16 hingga 19 Juli 2018, sebanyak lima orang mahasiswa melakukan observasi lapangan pengamatan satwa dan pengunjung wisata alam di bumi perkemahan Ipukan. Observasi pengamatan satwa yang meliputi primata dan herpetofauna menggunakan metode transek. Berdasarkan hasil pengamatan ditemukan jenis primata surili (Presbytis comata) sebanyak satu kelompok yang terdiri dari 9 ekor dewasa dan 1 anakan. Jenis herpetofauna yaitu kodok merah (Leptophyne cruentata), pada pengamatan pertama berjumlah 12 ekor dan pengamatan kedua sebanyak 23 ekor. Selain itu juga menemukan katak bertanduk (Megophrys montana), ular picung (Rhabdophis subminiatus), kodok buduk (Duttaphynus melanosticus), kongkang racun (Odorrana hosii), dan bangkong batu (Limnonectes macrodon). Untuk observasi pengunjung, mahasiswa melakukan wawancara guna mengetahui tingkat kepuasan pengunjung. Atas dasar potensi alam dan keanekaragaman hayati serta kemudahan aksesibilitas, bumi perkemahan Ipukan kerap menjadi alternatif dan pilihan bagi para wisatawan. Pengunjung puas dengan pelayanan yang diberikan pengelola. . Sobat Ciremai, hutan pasti akan memberikan manfaat berlimpah bagi makhluk hidup yang ada di dalam dan sekitarnya, termasuk dunia pendidikan. Banyak hal yang dapat kita pelajari dari proses kehidupan di hutan yang juga menciptakan hubungan sinergis antara manusia dan alamnya. Bukan sebagai manusia penguasa alam namun menjadi manusia yang amanah menjaga alam dan isinya.[teks © azis, foto © pklpfahutanipb2018 - BTNGC | 072018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Staf Khusus Menteri Kunjungi Personil Manggala Agni Tana Bentarum yang Tertimpa Musibah

Putussibau, 23 Juli 2018. Balai Besar Tana Bentarum kedatangan tamu Staf Khusus Menteri LHK bidang Jaringan LSM dan AMDAL, Hanni Adiyati Hadi dan Kepala Biro Humas KLHK Djati Witjaksono Hadi beserta rombongan. Tujuan Kunjungan beliau secara khusus di utus oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, menjenguk 7 orang staf Manggala Agni Daops Semitau yang mengalami musibah kecelakan lalu lintas dalam perjalanan pulang dari lokasi pemadaman kebakaran lahan di desa Lanjak Deras pada tanggal 18 Juli 2018. Rombongan datang menggunakan pesawat Nam Air langsung menuju Mess Balai Besar Tana Bentarum. Hanni di depan anggota Daops dan staf Balai Besar menyerahkan langsung bantuan Tali Kasih kepada Kepala Daops Semitau, 7 orang Anggota Daops yang cidera serta anggota Manggala Agni lainnya secara sekeluruhan. Beliau juga menegaskan dana tersebut berasal dari Operasional ibu Menteri LHK bukan dari APBN. “Semoga dana tersebut dapat meringankan beban teman-teman yang terkena musibah”,imbuh Hanni. Kabiro Humas KLHK menambahkan bantuan tersebut merupakan bentuk perhatian ibu Menteri kepada Daops Manggala Agni, ”Harapan saya musibah ini jangan membuat kita Lemah, tapi menjadi semakin bersemangat” tegas Djati. Dalam kesempatan kunjungan ke Putussibau, tim dari Kementerian LHK Jakartga juga mengunjungi salah satu desa yang menerapkan aturan dan sanksi adat apabila terjadi pengolahan lahan yg mengakibatkan kebakaran. Bertempat di Rumah Betang Bali Gundi, pertemuan tersebut dilaksankan dan dihadiri oleh Kades Sibau Hulu, Temenggung, Kadus Sibau Hulu dan Kadus Sibau Hilir, tokoh masyarakat lainnya dan beberapa keluarga yang tinggal di rumah betang. Pada kesempatan tersebut Hanni menyampaikan apresiasi atas kearifan lokal yang masih dipegang kuat oleh masyarakat dalam mengelola lahan secara bijaksana, melindungi kampung sendiri yang pada akhirnya melindungi lingkungan yang lebih besar. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Weekend List : Periksa Kesehatan Gajah di PKG Seblat

Bengkulu, 23 Juli 2018. Untuk menjamin kesehatan gajah binaan, pemeriksaan kesehatan rutin dilakukan tiap bulannya, sekaligus pengobatan atau pencegahan terhadap terjangkitnya parasit cacing yang rutin juga dilakukan per tiga bulan. Hal inilah yang mendorong drh. Erni Suyanti untuk berakhir pekam sambil bekerja pada Sabtu, 21 Juli 2018 dengan melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap 9 ekor gajah. Kesembilan gajah tersebut bernama Nelson, Dino, Bona, Ucok, Desi, Devi, Fatma, Mega dan Anggraeni, sedangkan 3 ekor gajah lagi (Robi, Sari, Darmi) masih membantu petugas patroli Conservation Response Unit (CRU). Selain untuk wisata pendidikan, gajah-gajah yang ada juga berperan untuk mendukung petugas dalam melakukan patroli kawasan melalui tim CRU yang dilakukan secara bergiliran. Pemeriksaan rutin kesehatan yang dilakukan meliputi Morfometri untuk estimasi berat badan; Body Condition Index (BCI) untuk mengkategorikan kondisi gajah tergolong kurus, sedang dan gemuk; Pemeriksaan kuku dan telapak kaki; Pemeriksaan fisik lainnya; dan Melakukan pengobatan terhadap gajah yang didiagnosa sakit atau ada kelainan medis. Terjaminnya kesehatan gajah binaan di PKG Seblat dapat terpenuhinya animal welfare yang dapat menunjukkan kualitas pengelolaan satwa gajah sebagai salah satu upaya konservasi terhadap satwa prioritas terancam punah lingkup BKSDA Bengkulu-Lampung. Sebagai informasi, upaya perlindungan dan pelestarian gajah sumatera di Taman Wisata Alam Seblat juga berfungsi ganda sebagai Pusat Konservasi Gajah (PKG). Sampai saat ini PKG Seblat sudah merawat dan melatih 12 ekor gajah, terdiri dari 8 ekor betina dan 4 ekor jantan. PKG Seblat bisa dicapai dari Kota Bengkulu kurang lebih lima jam melalui jalan lintas barat Sumatera ke arah utara dan akan sampai di tepi Sungai Seblat. Dan di seberang sungai itulah camp PKG Seblat berada, dengan kondisi saat ini untuk menyebranginya dapatmenggunakan perahu kayu atau menaiki gajah binaan setelah jembatan penghubungnya sudah lama terputus. Sumber : Balai KSDA Bengkulu
Baca Berita

Inventarisasi Anggrek TN Batang Gadis di Kawasan Hutan Desa Roburan Dolok SPTN Wilayah 1 Siabu

Panyabungan, 23 Juli 2018. Potensi tumbuhan anggrek yang masih ada di kawasan hutan Taman Nasional Batang Gadis jika tidak dilestarikan dengan baik maka akan terjadi hilangnya keanekaragaman hayati yang memiliki Tumbuhan hias yang indah. Secara umum, informasi mengenai keberadaan Tumbuhan anggrek hutan yang ada di Kawasan Taman Nasional Batang Gadis masih kurang Untuk mengetahui dan menggali potensi anggrek alam di Taman Nasional Batang Gadis maka Balai Taman Nasional Batang Gadis selaku pengelola kawasan akan melaksanakan kegiatan Inventarisasi/ Monitoring flora non prioritas (Anggrek hutan) dengan harapan data yang didapat nantinya dapat dikembangkan dengan baik sebagai sarana informasi bahwa jenis anggrek tertentu tumbuh liar dikawasan Taman Nasional Batang Gadis. Kegiatan Inventarisasi/ Monitoring flora non prioritas (Anggrek hutan) ini adalah untuk mencari jenis-jenis anggrek hutan yang ada dikawasan Taman Nasional Batang Gadis. Kegiatan Inventarisasi/Monitoring flora non prioritas (Anggrek hutan) bertujuan agar data-data terkait anggrek hutan, menjadi database dan informasi yang akurat yang bermanfaat khususnya tentang keberadaan anggrek hutan dikawasan Taman Nasional Batang Gadis. Metode Jelajah adalah metode dilakukan dengan cara menyelusuri jalur/ track pada lokasi yang telah ditetapkan di peta kerja dan mencatat data/ informasi tentang tumbuhan anggrek hutan yang dijumpai serta mendokumentasikannya sepanjang jalur jelajah serta mendeskripsikan tumbuhan tersebut. Sasaran kegiatan Inventarisasi/ Monitoring flora non prioritas (Anggrek hutan) adalah pada kawasan hutan Taman Nasional Batang Gadis tepatnya dikawasan hutan desa Sopotinjak yang menurut informasi potensi anggrek hutan berada di sekitar kawasan tersebut namun bila ada potensi di tempat yang lain tidak menutup kemungkinan tim akan berada ketempat dimaksud. Kegiatan ini sebatas untuk mengidentifikasi jenis anggrek hutan tertentu agar mengetahui jenisnya dikawasan Taman Nasional Batang Gadis. Sumber : Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Berita

Renewable Energy Resources di Dua Desa Penyangga TN Matalawa

Waingapu, 23 Juli 2018. Pada tahun ini pihak Balai Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) bekerjasama dengan Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidupdan Kehutanan (BP2LHK) Makasar membangun infrastruktur Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hydro (PLTMH) di dua lokasi. Desa Wanggameti dan Desa Mahaniwa dua lokasi sumber energi terbaharukan ini, dihasilkan dengan cara memanfaatkan terjunan aliran sungai tersebut dan hasil kajian para tenaga ahli menyebutkan bahwa keberadaan aliran sungai tersebut dapat menghasilkan potensi energi listrik masing-masing pada Desa Wanggameti sekitar 5000 Watt yang dapat mengaliri ± 30 rumah penduduk, sedangkan pada Desa Mahaniwa 45.000 watt untuk mengaliri ± 70 rumah penduduk. Kondisi keterisoliran di kedua Desa menjadi dasar TN Matalawa untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat pedalaman, sebagai kawasan penyangga TN Matalawa. Dengan adanya manfaat secara langsung yang dirasakan masyarakat, berupa energi listrik yang bersumber dari kelestarian kawasan hutan, maka masyarakat akan bahu-membahu untuk terus menjaga hutan dan cita-cita bersama akan kesejahteraan masyarakat dan hutan lestari dapat kita capai bersama. Sebagai informasi, Taman Nasional Matalawa merupakan kawasan penyangga kehidupan masyarakat Pulau Sumba, keberadaannya menjadi sangat vital dalam penyuplai sumber air bagi kehidupan masyarakat di hilir, tercatat tidak kurang dari 16 Daerah Aliran Sungai (DAS) yang hulunya berada pada kawasan TN Matalawa. Setali dua uang, upaya yang dapat dilakukan TN Matalawa agar keberadaan hutan dapat dirasakan manfaat langsung oleh masyarakat, baik di Hulu maupun di Hilir salah satunya adalah melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hydro (PLTMH). Sumber : Balai Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa)
Baca Berita

Tana Bentarum Gelar Ekpose Strategi Dalkarhut

Putussibau, 23 Juli 2018. Balai Besar Tana Bentarum menerima kunjungan rombongan Pj Gubernur yaitu Asisten 1 Bidang Pemerintahan Provinsi Kalimantan Barat, Alexander Rombonang serta Asisten 1 Bidang Pemerintahan, Pemkab Kapuas Hulu, Frans Leonardus. Kehadiran Alexander dan rombongan dalam rangka memberikan arahan terkait Strategi dan Upaya Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Kapuas Hulu yang dipaparkan oleh Balai Besar Tana Bentarum sebagai UPT Kementerian LHK di Kapuas Hulu. Dalam arahannya, Alexander menyampaikan concern Pemerintah dalam menangani masalah kabut asap, yaitu melakukan upaya yustisi dalam kasus pembukaan lahan dengan membakar lahan terutama yang dilakukan oleh pihak korporasi secara besar-besaran. Beliau juga menyebutkan kebanggaannya bahwa Kabupaten Kapus Hulu sudah membentuk Satgas DalKarhutla dan kesigapan Brigade Dalkarhut di Tana Bentarum. “Dalam luas wilayah Kalimantan Barat lebih dari 1 juta hektar ini merupakan tantangan bagi kita semua untuk bekerja bersinergi menggalakkan pencegahan Karhutla”, jelasnya. Acara yang juga dihadiri oleh Forkominda di Kabupaten Kapuas Hulu ini, salah satu agendanya adalah presentasi Kepala Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum yg diwakili Kabid Wilayah III Lanjak, Gunawan Budi Hartono, yang menyampaikan antara lain sebaran dan kerawanan hotspot di Kawasan Kapuas Hulu dan khususnya TaNa Bentarum juga aktivitas yang dilakukan oleh Daops Manggala Agni seperti Pemetaan Wilayah rawan hotspot , pelatihan Masyarakat Peduli Api (MPA), Patroli Terpadu bersama TNI, Polri dan MPA Ini merupakan upaya Tana Bentarum untuk menjaga kawasan Tana Bentarum dan Kabupaten Kapuas Hulu umumnya dari kerawanan kebakaran hutan dan lahan pada musim kemarau seperti saat ini bersama dengan elemen pemerintah lainnya dan juga masyarakat. Sumber : Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Serunya Bersepeda di Gunung Ciremai

Kuningan, 23 Juli 2018. Sobat Ciremai, Masyarakat kita dewasa ini semakin sadar akan pentingnya kesehatan untuk diri mereka. Olahraga adalah salah satu hal yang dapat membuat manusia tetap sehat dan bugar. Olahraga yang saat ini sedang menjadi tren di masyarakat adalah bersepeda gunung. Olahraga sepeda gunung menjadi tren di masyarakat karena melalui olahraga ini kita bisa sekaligus berwisata mengunjungi tempat-tempat yang mempunyai pemandangan indah dan refreshing dari kepenatan aktifitas sehari-hari. Sepeda gunung biasa juga disebut MTB (Multi Terrain Bike) atau lebih dikenal juga dengan sebutan gowes. Olahraga ini juga lebih dipilih dibanding hanya berolahraga di pusat-pusat kebugaran atau fitness yang juga menjamur di berbagai kota besar di Indonesia, karena dianggap lebih menantang adrenalin. Sepeda gunung juga lebih ramah lingkungan dan lebih sesuai dilakukan di kawasan konservasi, dibandingkan olahraga lain seperti motocross maupun mobil off road. Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) menangkap sinyalemen itu melalui potensi wisata alamnya yang beragam, buat kamu para goweser atau newbe ajaklah teman dan komunitas sepeda di sekitarmu untuk merasakan dekapan alam menyusup bulu nadi sejenak hilangkan penat. Sembari nikmati keindahan alam TNGC. Sepeda gunung tidak hanya dapat sebagai hobi. Tetapi, bisa juga menjadi pekerjaan sampingan. Ini sering disebut sebagai marshall atau bisa diartilainkan sebagai pemandu wisata sepeda, dengan modal utama faham trek yang akan dilalui, dan kuat memimpin perjalanan. Marilah kita bersama memajukan pariwisata Indonesia dengan bersepeda dan mengunjungi berbagai belahan negeri kita tercinta serta menjalin silaturahim dengan semua. Kita kenali dan cintai negeri kita dengan cara yang baik dan benar. Tidak ada sesuatu yang tidak bisa dilakukan asal kita berusaha dan tekun menjalaninya. [teks © Hamdan - BTNGC; foto © Hamdan & Dwi Bahari | 072018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Menanam Edelweiss, Menuai Cinta Abadi

Wonokitri, 23 Juli 2018. Desa Edelweiss Wonokitri dikunjungi oleh Nurdin Rozak, akademisi, pakar, dan praktisi sekaligus konsultan ekowisata nasional. Turut hadir pada kesempatan tersebut yaitu Achmad Maulana, seorang travelbloger yang lebih dikenal sebagai Alan (www.catatannobi.com), serta Ika Nurul Febrianti dan Lisa Zumrotul Hasanah owner Bungaya Florist. Setelah menyeberangi Lautan Pasir Gunung Bromo, keempatnya langsung menuju Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Sesampai di Desa Wonokitri, tempat yang dituju pertama kali yaitu Rumah Bapak Wartono. Keempatnya langsung disambut hangat oleh Pak Inggi-sebutan Masyarakat Tengger untuk Kepala Desa- dan Kelompok Tani Desa Edelweiss Hulun Hyang yang kompak berseragam hitam-hitam dengan udeng(penutup kepala) khas pakaian Adat Tengger. Bledus, minuman khas Tengger dan aron jajanan khas Tengger yang disajikan hangat terasa begitu nikmat menemani suasana hangat tema perbincangan Desa Tengger yang sejuk khas pegunungan. Tak terasa 30 menit berlalu, waktunya berkeliling menikmati Desa Edelweiss yang diawali dengan atraksi belajar budidaya edelweiss bersama pemuda-pemuda Tengger. Dengan lihai, Mas Ribut dan Mas Kulik menerangkan proses budidaya edelweiss mulai dari pemilihan biji hingga praktek menyemai edelweiss. Ditemani pemuda dan pemudi Tengger, tour kemudian dilanjutkan mengelilingi desa menyaksikan bunga edelweiss yang tumbuh di pekarangan rumah warga maupun kiri kanan sepanjang jalan desa. Sesekali warga menyapa ramah keempatnya. 45 menit berkeliling desa, sampailah rombongan di halaman Balai Desa Wonokitri. Kendaraan roda empat sudah siap mengantar menuju Taman Edelweiss Desa Wonokitri. Tak sampai 10 menit, rombongan sudah tiba di lokasi utama pembudidayaan edelweiss. Meski terhitung baru ditanam hitungan bulan, beberapa tumbuhan edelweiss sudah mulai berbunga, sudah cukup untuk sekedar berfoto mengabadikan moment yang jarang dijumpai kecuali di puncak-puncak gunung. Sebagai bentuk rasa syukur dan kepedulian terhadap tumbuhan edelweiss yang disakralkan oleh Masyarakat Tengger, rombongan mendapat kehormatan menanam bibit edelweiss. Kesempatan yang hanya bisa dijumpai di Desa Edelweiss TNBTS. Acara diakhiri dengan bersantap siang dengan menu tradisional Tengger, lengkap dengan sambal klandingan dan keningar yang menggugah rasa. “Suatu kehormatan, Desa Wonokitri bisa dikunjungi Pak Nurdin Rozak dan rombongan hanya untuk menikmati Desa Edelweiss pertama di Indonesia”, ungkap Teguh Wibowo, Ketua Kelompok Tani Desa Edelweiss Hulun Hyang. Mengutip kesan Nurdin Rozak sesaat setelah meninggalkan Desa Wonokitri, “Konsep konsevasi tumbuhan dilindungi melalui Desa Edelweiss ini unik dan menarik karena dipadukan dengan kearifan lokal Adat dan Budaya Tengger yang sudah mendunia." Yuk kunjungi Desa Edelweiss Wonokitri. Menanam Edelweiss, menuai cinta abadi. Sumber : Birama Terang Radityo - Penyuluh Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru
Baca Berita

Balai Besar KSDA NTT Selamatkan Biawak Komodo di Desa Bari

Labuan Bajo, 23 Juli 2018. Sehubungan dengan adanya informasi dari masyarakat pengguna media sosial pada hari Sabtu, 21 Juli 2018 mengenai penangkapan satwa diduga biawak komodo (Varanus komodoensis Ouwens), tim terpadu dari Balai Besar KSDA NTT, Balai TN Komodo, dan Seksi III Wilayah Jawa-Bali-Nusa Tenggara Balai Penegakan Hukum LHK telah melakukan tindakan penanganan penyelamatan. Informasi awal yang diterima pada hari Sabtu 21 Juli 2018 sekitar pukul 11.30 WITA menyebutkan bahwa seorang warga Desa Bari, Kecamatan Macang Pacar, Kabupaten Manggarai Barat, NTT telah menangkap seekor satwa yang diduga biawak komodo dan diunggah di media sosial. Penangkapan ini dilakukan karena masyarakat khawatir atas kehadiran satwa tersebut di sekitar perkampungan. Unggahan itu pun kemudian menyebar, hingga diterima oleh Balai TN Komodo dan diteruskan kepada Balai Besar KSDA NTT. Atas arahan unsur pimpinan pada Balai Besar KSDA NTT, personil pada RKW CA Wae Wuul bersama personil Balai TN Komodo dan Seksi Wilayah III Balai Penegakan Hukum LHK menuju lokasi dan tiba pada hari Minggu, 22 Juli 2018 sekitar pukul 02.00 WITA. Tim kemudian melakukan identifikasi dan memastikan bahwa satwa tersebut memang benar biawak komodo, dan mendapati dalam kondisi hidup dan terikat, serta terdapat bekas luka pada paha kanan, leher kiri, dan bahu kiri. Dari pemeriksaan fisik yang dilakukan oleh tim diketahui bahwa biawak komodo yang berjenis kelamin betina memiliki panjang seluruh badan 233,60 cm; panjang total badan bagian atas 234,20 cm; SVL 120,05 cm; lingkar ekor 44,60 cm; panjang kepala 18,50 cm; lebar kepala 9,20 cm; dan lebar moncong 9,00 cm. Berdasarkan koordinasi antara tim dengan pihak Pemerintah Desa Bari, Muspika (Kecamatan, Kepolisian Sektor, dan Komando Rayon Militer) Macang Pacar disepakati biawak komodo akan dilepasliarkan di area Watu Bari. Pelepasliaran biawak komodo telah dilakukan pada pukul 11.45 WITA dengan disaksikan Kepala Desa Bari, Muspika Macang Pacar, dan masyarakat Desa Bari. Kepala Desa Bari dan Camat Macang Pacar menyampaikan pernyataan bahwa biawak komodo adalah anugerah luar biasa bagi masyarakat Bari dan berkomitmen untuk menjaga, melindungi, dan memanfaatkan potensi tersebut sebagai daya tarik pariwisata di Desa Bari. Dalam kesempatan tersebut masyarakat juga menyampaikan permohonan agar dapat ditempatkan personil Balai Besar KSDA NTT dan dilakukan pembangunan pos jaga di Desa Bari dan Longos. Sebagaimana diketahui, biawak komodo adalah satwa asli Indonesia dan endemik Nusa Tenggara Timur. Habitat satwa ini adalah TN Komodo dan Pulau Flores (CA Wae Wuul, Tanjung Karita Mese, Pulau Longos, CA Riung, dan TWAL 17 Pulau). Keberadaan satwa ini telah menjadi magnet kegiatan wisata alam khususnya di wilayah Manggarai Barat. Ancaman utama terhadap populasi biawak komodo adalah perburuan liar terhadap satwa mangsanya (mamalia besar). Sebagai upaya perlindungan terhadap biawak komodo, Balai Besar KSDA NTT telah menginisiasi Kawasan Ekosistem Esensial Hutan Lindung Pota yang ditetapkan melalui Surat Keputusan Bupati Manggarai Timur Nomor: HK/83.A/2013 tanggal 4 September 2013 tentang Pembentukan Forum Kolaboratif Pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial Hutan Lindung Pota, Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur. KEE Hutan Lindung Pota seluas 16.715,07 Ha merupakan habitat dari Satwa Purba Komodo (Varanus komodoensis) dan sebagai penyangga kehidupan bagi masyarakat sekitar berupa sumber air bersih untuk kebutuhan rumah tangga dan pertanian. Sumber : Sahudin & Dewi Indriasari - Balai Besar KSDA Nusa Tenggara Timur
Baca Berita

Diskusi Perlindungan dan Pengamanan Hutan di TN Bromo Tengger Semeru dengan Mahasiswa Universitas Brawijaya

Malang, 23 Juli 2018. Bertempat di Aula Desa Ngadas, Kec. Poncokusumo, Kab. Malang, Kepala Resort Coban Trisula, Bambang Rudiyanto beserta staf berkesempatan melakukan diskusi dengan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (UB) Malang yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata di desa tersebut. BR sapaan akrab Kepala Resort Coban Trisula menyampaikan diskusi sengaja dilakukan dengan mahasiswa UB untuk memperluas jaringan dan komunikasi TN Bromo Tengger Semeru dengan dunia pendidikan khususnya Perguruan Tinggi di Kota Malang sekaligus memperoleh dukungan UB melalui mahasiswa KKN di Desa Ngadas mengenai pengelolaan TN Bromo Tengger Semeru khususnya di Bidang Perlindungan dan Pengamanan Hutan (Linpamhut). Pada kesempatan ini BR menyampaikan mengenai 3 pola pendekatan dalam Linpamhut TNBTS yaitu Preemtif, Preventif, dan Represif yustisif. Salah satu topik yang banyak menarik antusias mahasiswa untuk diskusi adalag terkait pola penanggulangan kebakaran hutan dan partisipasi (pelibatan) masyarakat sekitar dalam kegiatan perlindungan dan pengamanan hutan. Menurut BR kuncinya adalah kordinasi baik dalam momen formal dan informal. "Seringnya kita melakukan kordinasi formal dan informal dengan masyarakat dan instansi lain berarti kita banyak peluang memberikan pemahaman tentang TNBTS kepada masyarakat luas sekaligus kita dapat menyerap kembali aspirasi / persepsi masyarakat tentang pengelolaan TNBTS. Sehingga dengan pola tersebut kita selalu melakukan pembenahan dan inovasi untuk manajemen pengelolaan yang lebih baik dan bisa diterima masyarakat sekaligus masih dalam koridor hukum yang berlaku", ujarnya. Haris selaku ketua kelompok menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada tim RCT karena sudah berbagi pengetahuan dan ilmu dibidang perlindungan dan pengamanan hutan. "Ini menjadi tambahan ilmu berharga bagi mahasiswa UB yang melakukan KKN di Desa Ngadas", ujarnya. Pengalaman diskusi tersebut tentunya akan di masukan dalam laporan KKN dan kita akan dorong UB untuk lebih intensif ikut berpartisipasi memberikan dukungan kepada TN Bromo Tengger Semeru dalam berbagai disiplin ilmu yang ada untuk pengelolaan TN Bromo Tengger Semeru yang lebih baik sekaligus kesejahteraan masyarakat yang ada di sekitarnya. Diskusi diakhiri dengan foto bersama dan ramah tamah antara petugas RCT dan Mahasiswa UB, yang menandakan komunikasi yang di bangun RCT memberikan kesan bagi Mahasiswa UB yang melaksnakan KKN di Desa Ngadas. Sumber : Balai Besar TN Bromo Tengger Semeru
Baca Berita

Implementasi PKS, PT Alno Agro Utama Serah Terimakan Sarpras Monitoring Satwa Liar

Bengkulu, 22 Juli 2018. Bertempat di aula kantor Balai KSDA Bengkulu, pada selasa 17 Juli 2018 yang lalu PT. Alno Agro Utama telah melakukan serah terima atas hibah sarana dan prasarana berupa Camera Trap Bushnell sebanyak 6 unit beserta perangkat pengamannya dan Camera Panasonic Lumix DMC FZ 2500 kepada Balai KSDA Bengkulu. Beberapa peralatan tersebut sebagai bentuk realisasi dari pelaksanaan kegiatan Perjanjian Kerjasama antara BKSDA Bengkulu dengan PT. Alno Agro Utama nomor: PKS.160/BKSDA.BKL-I/2014 dan nomor: 014/GM-5/I/2014 tanggal 29 Januari 2014 dalam rangka Optimalisasi Pengelolaan Taman Wisata Alam Seblat. Selain menjadi rumah bagi satwa gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus), kawasan TWA Seblat seluas 7.732,8 hektare juga merupakan habitat satwa langka lainnya antara lain harimau sumatra (Phantera tigris sumatrae), tapir (Tapirus indicus), beruang madu (Helarctos malayanus), dll. Dengan dihibahkannya beberapa peralatan pendukung monitoring satwa liar dimaksud, potensi dan keberadaan satwa liar khususnya yang dilindungi dapat terpantau populasinya. Sehingga kedepannya pengelolaan kawasan dan upaya pelestarian satwa liar dilindungi di dalamnya dapat lebih efektif dan maksimal. Sumber : Balai KSDA Bengkulu-Lampung
Baca Berita

Kulit Si Belang Berhasil Diamankan BKSDA Jambi

Jambi, 22 Juli 2018. Balai KSDA Jambi bersama Direktorat Jendral Penegakan Hukum Lingkungan dan Kehutanan, Balai PHLHK Wilayah II Sumatera, dan Kepolisian Daerah Jambi telah berhasil menggagalkan perdagangan 1 ekor Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) melalui Operasi Tangkap Tangan (OTT). “Dua orang berhasil diamankan beserta barang bukti antara lain 1 buah kulit harimau sumatera dalam kondisi lengkap (kepala,badan,kaki dan ekor) sepanjang 105 cm serta tulang-belulang seberat 6,4 kg”, ungkap Yoan dinata ZSL. Operasi ini sendiri dilakukan berkat adanya laporan dari masyrakat. Setelah menerima laporan masyarakat, tim langsung bergerak untuk memeriksa kebenaran laporan dan hasilnya berhasil menggagalkan upaya perdagangan salah satu satwa yang dilindungi. Pelaku yang berjumlah 2 orang kini telah diamankan dan dikenai Pasal 40 ayat 2 Undang Undang nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam dan ekosistem pasal 21 ayat 2 huruf (D) yang berbunyi “Setiap orang dilarang untuk memperniagakan, menyimpan, atau memiliki kulit, tubuh atau barang yang dibuat dari bagian tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia”, dengan ancaman pidana kurungan paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp 100.000.000,-. Harimau Sumatera sendiri masuk kedalam Appendix 1 dalam CITES yang berarti bahwa dilarang untuk diperdagangkan secara internasional dan komersial, mengingat populasi harimau sumatera yang terus menurun. Harimau Sumatera sendiri merupakan sub species terkecil dari harimau yang ada saat ini. Harimau Sumatera sendiri menempati posisi paling atas dalam rantai makanan di hutan, kurang nya populasi Harimau sendiri dapat berakibat buruk bagi ekosistem sendiri karena rantai makanan tidak stabil. Kepala Balai KSDA Jambi, Rahmat Saleh mengutarakan bahwa “Perdagangan satwa yang dilindungi sangat dilarang dan dapat dikenakan hukuman yang berat, tidak hanya harimau saja. Dengan adanya OTT ini diharapkan dapat menyadarkan pihak pihak yang masih berupaya melakukan tindakan serupa untuk berhenti.” Sumber : Balai KSDA Jambi

Menampilkan 7.457–7.472 dari 11.140 publikasi