Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Tim Ekspedisi SPW I TN Tesso Nilo Lakukan Pertemuan Dan Sosialisasi Dengan Warga Dusun Toro

Pelalawan, 24 Juli 2018. Kegiatan ekspedisi TN. Tesso Nilo oleh SPW I LKB sampai kepada pertemuan dan sosialisasi kepada masyarakat. Pada ekspedisi kali ini tim temui dan beri sosialisasi pada masyarakat Dusun Toro, desa Lubuk Kembang Bunga. Pertemuan dan sosialisasi dihadiri oleh Kepala Dusun Toro, Ketua RT, Ketua RW, tokoh masyarakat dan masyarakat setempat. Kepada masyarakat Toro tim ekspedisi TN. Tesso Nilo SPW I lakukan kegiatan sosialisasi dan pertemuan mengenai pengelolaan hutan, larangan perambahan hutan serta penanganan lahan terbakar. Usai sosialisasi, tim ekspedisi TN. Tesso Nilo SPW I dan masyarakat Toro gunakan waktu luang untuk saling mengakrabkan diri dengan minum bersama serta berdiskusi ringan dengan sesama undangan pertemuan yang hadir. Dari keterangan ketua tim ekspedisi TN. Tesso Nilo SPW I, Bapak Ashari, S.Hut dalam pertemuan dan sosialisasi yang dilaksanakan oleh tim ekspedisi bersama masyarakat, didapati beberapa kesepakatan yakni : (1) Kembali sepakat meniadakan Karlahut di kawasan dusun toro dan lahan-lahan yg terbakar dipasang garis polisi agar pemilik lahan menunjukkan diri, perangkat dusun siap mengawasinya; (2) Kembali sepakat untuk mempertahankan hutan tersisa dan jika ada yang ditangkap masyarakat tidak akan menghalangi petugas; (3) Hubungan antara TN. Tesso Nilo dengan masyarakat dusun Toro harus dijaga, saling menghormati dan menghargai, jangan ada paradigma musuh terhadap TN. Tesso Nilo utamanya petugas lapangan. “Pertemuan dan sosialisasi yang kita laksanakan berjalan sesuai dengan harapan awal, masyarakat dusun Toro yang dulunya kontra dan berseberangan dengan TN. Tesso Nilo kini sepenuhnya sudah dapat kita ajak bekerja sama untuk mengelola hutan tersisa” ungkap Ashari, S.Hut. Sumber : Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Berita

Upaya Balai TN Aketajawe Lolobata Selesaikan Konflik Tenurial di Desa Pintatu dan Tomares

Sofifi, 24 Juli 2018. Balai TN Aketajawe Lolobata (TNAL) kembali adakan pertemuan dengan warga desa pintatu-tomares dalam upaya penyelesaian konflik tenurial di TNAL. Pertemuan berlangsung di Desa Pintatu Kecamatan Wasile Selatan Kabupaten Halmahera Timur di hadiri Kepala Balai TN Aketajawe Lokobata (24/7). Turut hadir Camat Wasile Selatan dan Kapolsek Wasile Selatan, Kepala Desa Pintatu dan Kepala Desa Tomares serta kelompok masyarakat. Akhirnya masing-masing pihak bersepakat untuk membangun kerjasama lebih baik kedepannya, dan melupakan masa lalu setelah melalui diskusi yang panjang. Disepakati juga pemetaan lapangan bersama dengan masyarakat adat serta pola kemitraan konservasi yang di tawarkan Balai TNAL menjadi opsi untuk bisa dikerjasamakan. "Harapan kami, konflik yang telah lama ini bisa berakhir, masyarakat pintatu dan tomares bisa mengusahakan kebun nya di tanah nya sendiri tanpa kawatir oleh petugas TNAL. Terima kasih buat Camat dan Kapolsek Wasile Selatan yang sudah banyak membantu kami untuk mengakhiri konflik ini” tutup Muhammad Wahyudi kepala Balai TNAL. Sumber : Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Antisipasi Karhutla, Menteri LHK lakukan Kunjungan Kerja ke Kalimantan Barat

Pontianak 24 Juli 2018. Menteri LHK Ibu Siti Nurbaya mengadakan kunjungan kerja ke Provinsi Kalimantan Barat guna memastikan kesiapan Kalimantan Barat menghadapi musim kemarau. Kalimantan Barat merupakan salah satu provinsi yang menjadi perhatian pemerintah dalam kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Memasuki musim kemarau, kejadian kebakaran hutan dan lahan akan mudah dijumpai di berbagai tempat di Kalimantan Barat. Akibat dari kebakaran ini tentu saja adanya asap yang dapat menimbulkan gangguan tidak hanya pernafasan tapi juga pandangan dan penerbangan. Mengantisipasi hal tersebut, menteri LHK melakukan pertemuan di Balai Petitih kantor Gubernur Kalimantan Barat dengan berbagai pihak terkait mulai dari BPBD Provinsi Kalimantan Barat, TNI, POLDA Kalimantan Barat, Dinas Kehutanan Kalimantan Barat, UPT lingkup Kementeriank LHK dan Instansi terkait lainnya. Dalam acara ini disampaikan kondisi titik panas (hotspot) yang ada di seluruh Kalimantan Barat serta kesiapan tim, baik Gugus Tugas Kebakaran Hutan dan Lahan Kalimantan Barat, Manggala Agni serta seluruh pihak terkait menghadapi musim kemarau dan kejadian karhutla. Dalam sambutannya, menteri LHK menyampaikan perintah presiden terkait karhutla, 1. Waspada Kabut Asap; 2. Padamkan Api Sebelum Membesar; 3. Bertanggung Jawab di Wilayah Masing-masing; 4. Pelibatan Masyarakat; dan 5. Penegakan Hukum. Selain itu, beliau juga mengatakan bahwa sinergi dengan pihak lain perlu dilakukan, seperti praktek penyiapan lahan, dimana masyarakat memerlukan pendampingan termasuk resiko dan dampak yang akan ditimbulkan jika terjadi kebakaran. Menanggapi perintah presiden tersebut, Sadtata Noor Adirahmanta mengungkapkan bahwa, “Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat telah melakukan 4 (empat) kali penyuluhan di desa rawan kebakaran dan patroli pencegahan di desa sekitar kawasan konservasi sebanyak 25 kali dalam kurun waktu Januari hingga Juli 2018.” Kegiatan ini merupakan salah satu antisipasi mengingat pada bulan Agustus 2018, Indonesia akan menggelar ajang olahraga se-ASEAN yang akan dilaksanakan di Jakarta dan Palembang. Kejadian karhutla tentu akan berpengaruh terhadap kelancaran ajang olahraga tersebut. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Relawan MPA Proaktif Lakukan Pencegahan Dini Kebakaran Hutan di Kawasan TNUK

Pandeglang, 24 Juli 2018. Relawan Masyarakat Peduli Api (MPA) Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten telah proaktif melakukan pencegahan dini kebakaran hutan di kawasan Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Demikian dikatakan Samsudin ketua MPA kepada wartawan, Senin 23 Juli 2018 di Cibayoni, Sumur. “Kami komunitas MPA (Masyarakat Peduli Api) telah melakukan usaha penyadaran masyarakat, mengenai pentingnya menjaga api. Supaya masyarakat harus selalu hati-hati dengan api sekecil apapun. Karena api sekecil bara dari kuntung rokok saja bisa-bisa membakar hutan pada musim kemarau, jika dibuang sembarangan begitu saja di hutan,” kata Samsudin. Usaha penyadaran masyarakat mengenai peduli api, masih kata Samsudin, adalah sama dengan upaya deteksi dini terhadap titik api (Hot Spot) yang dapat menyebabkan kebakaran hutan kawasan TNUK. “Menumbuhkan kesadaran peduli api pada masyarakat sekitar kawasan ini sangat penting, karena jika terjadi kebakaran hutan, kemungkinannya cukup besar karena kelalaian manusia itu sendiri terhadap api. Karena kecerobohan menyalakan api dan mungkin kemudian meninggalkannya begitu saja, tanpa mematikan api terlebih dahulu, apipun menjalar hingga menimbulkan kebakaran hutan,” papar Samsudin. Menurut Kepala Balai TNUK U. Mamat Rahmat, keberhasilan MPA perlu diapresiasi. Hal ini sangat penting sebagai perwujudan partisipasi masyarakat sekitar kawasan TNUK menjaga kelestarian kawasan hutan. MPA adalah komunitas masyarakat sekitar kawasan hutan TNUK yang mendapat pembinaan langsung secara teknisnya dalam mengatasi kebakaran hutan, bekerja bersama-sama dengan petugas TNUK jika ada kebakaran hutan nantinya. “Komunitas MPA itu sifatnya relawan, kami yang membentuknya, dibina dan diadakan pelatihan keterampilan mengatasi masalah kebakaran hutan, tidak ada dana alokasi khusus untuk kegiatan MPA yang dianggarkan dari pemerintah, kami mencarikan donatur dari luar (pihak swasta-Ed.) untuk membiayai itu,” terang Kepala Balai TNUK. Diketahui latar belakang dibentuknya MPA berdasarkan Surat Keputusan Bersama Kepala Balai TNUK dan Camat Sumur Nomor: SK.37/T.12/TU/Pdg/02017 dan Nomor: 117-Kec.SMR/V/2017. Jumlah anggotanya 30 orang yang dihimpun dari masyarakat 2 desa, ialah Desa Kertajaya dan Desa Kertamukti. Pembentukan permulaan MPA ini cukup strategis karena masyarakat dua desa tersebut memiliki aksesbilitas yang tinggi terhadap hutan, dapat lebih mudah dan cepat untuk melakukan pemadaman api jika terjadi kebakaran hutan. Menurut Mamat Rahmat (Kepala Balai TNUK) pembentukan MPA di desa-desa lain yang berstatus penyangga kawasan TNUK pun akan dilakukan kemudian, mengingat pentingnya keterlibatan atau partisipasi masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan, khususnya di kawasan TNUK. (Red) Sumber : Balai Taman Nasional Ujung Kulon
Baca Berita

Satwa Legenda Tatar Sunda Diserahkan Masyarakat

Garut, 24 Juli 2108. Hari Senin tanggal 23 Juli 2018, Call Center Seksi Konservasi Wilayah V Garut mendapat informasi tentang keberadaan satwa liar dilindungi jenis Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) yang merupakan salah satu legenda tatar sunda. Menindaklanjuti informasi tersebut, Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan TSL Seksi Konservasi Wilayah V Garut bergerak menuju lokasi dimaksud yaitu di kediaman Sdr. CI yang beralamat di Kp. Pinggirjati RT/RW 003/002, Kelurahan Karangmulya, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut. sebanyak 1 (satu) ekor berjenis kelamin jantan (diberi nama Si Onet) diperkirakan berumur 4 tahun yang telah kami terima dalam keadaan hidup, bersama ini dengan hormat disampaikan hal-hal sebagai berikut: Tim Gugus Tugas melakukan dialog dan mensosialisasikan jenis satwa tersebut untuk lebih memberikan pemahaman dan kesadaran bagi masyarakat agar tidak memeliharanya serta menyerahkan secara sukarela kepada Tim Gugus Tugas. Akhirnya sekira pukul 17.50 WIB disaksikan warga sekitar sdr. CI yang berumur 63 tahun, pekerjaan Buruh Tani/ Perkebunan menyerahkan Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) diperkirakan berumur 4 tahun sebanyak 1 (satu) ekor yang berjenis kelamin jantan dan diberi nama Si Onet, kepada Tim Gugus Tugas. Menurut pengakuan Sdr. CI satwa tersebut baru dipeliharanya sejak 1 (satu) bulan lalu yang diperoleh dari hasil tangkapan milik orang yang terlepas di kampungnya. Menyadari satwa tersebut merupakan satwa dilindungi pemerintah dan berbekal informasi yang diperoleh dari media, akhirnya oleh yang bersangkutan dilaporkan dan diserahkan kepada BBKSDA Jawa Barat. Penyerahan secara sukarela dari masyarakat kepada BBKSDA Jawa Barat (Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan TSL SKW V Garut) ini mengindikasikan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pelestarian satwa liar dan tingginya kesadaran hukum masyarakat atas upaya yang sudah dilakukan selama ini, khususnya bagi jenis-jenis satwa dilindungi. Lutung Jawa tersebut dievakuasi dan amankan ke Kantor Seksi Konservasi Wilayah V Garut untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut kondisi kesehatannya oleh Dokter Hewan dan akan dititiprawatkan di Lembaga Konservasi untuk direhabilitasi. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

Monitoring Harimau Sumatera dengan Pemasangan Kamera Trap di Plot Non Permanen Desa Alahan Kae

Panyabungan, 24 Juli 2018. Balai Taman Nasional Batang Gadis telah melakukan monitoring dan evaluasi mengenai lokasi potensi satwa dan diperlukan lokasi baru yang merupakan jalur satwa. Monitoring kamer ini nantinya dapat menambah data baru dan lokasi baru temuan satwa yang tersebar di Desa Alahan Kae Kecamatan Ulu Pungkut. Kegiatan monitoring atau identifikasi Harimau plot non permanen ini dapat menjadi reverensi baru jika dirasa lokasi tersebut merupakan lintasan satwa kunci. Pada bulan Juni sampai dengan Juli 2018, tim SPTN Wilayah II Kotanopan melaksanakan pemasangan camera trap di wilayah Resort 4 yaitu Desa Alahan Kae Kecamatan Ulu Pungkut. Pencarian lokasi potensi yang baru diharapkan dapat menambah dan mendukung untuk kegiatan lainnya di bidang keanekaragaman hayati yang ada di Taman Nasional Batang Gadis dan selanjutnya data-data yang ada nantinya akan berguna bagi Balai Taman Nasional Batang Gadis. Tujuan kegiatan ini adalah Mendapatkan data hasil monitoring atau identifikasi Harimau plot non permanen dan menganalisis hasil dari pemasangan camera trap sebagai data keanekaragaman hayati berupa fauna. Sumber : Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Berita

Gebrakan untuk Kelestarian Mangrove Indonesia

Garut, 24 Juli 2018. Cagar Alam Leuwung Sancang adalah salah satu kawasan konservasi di wilayah kerja Seksi Konservasi Wilayah V Garut, Bidang KSDA Wilayah III Ciamis Balai Besar KSDA Jawa Barat yang terletak di pantai selatan Kabupaten Garut. Vegetasi berupa hutan pantai dan mangrove yang masih alami sering dijadikan ajang kuliah lapangan bagi para pelajar dan mahasiswa. Pada hari Kamis s/d Minggu, tanggal 19 – 22 Juli 2018, telah diselenggarakan kegiatan Sancang Conservation Service Camp oleh Kelompok Pecinta Alam (KPA) Biocita Formica, Departemen Pendidikan Biologi-FMIPA, Universitas Pendidikan Indonesia dengan tema “Gebrakan untuk Kelestarian Mangrove Indonesia”. Kegiatan ini bertujuan Memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang konservasi daerah pesisir pantai, mewujudkan kerja nyata untuk mengatasi permasalahan lingkungan pesisir pantai saat ini, melakukan penanaman mangrove, mencetak kader-kader konservasi yang berkualitas. Adapun yang menjadi sasaran kegiatan adalah masyarakat umum, kalangan pelajar, penggiat alam, pakar lingkungan dan lembaga yang bergerak di bidang konservasi. Rangkian kegiatan yang dilakukan yaitu berupa penyampaian materi dengan topik antara lain : Kehutanan Umum, Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Kader Konservasi, Flora dan Fauna Indonesia, Ekosistem Mangrove, Analisis Karbon dan Air, Peran Masyarakat terhadap Kelestarian alam, Global warming, Analisis Vegetasi, Jurnalistik Lingkungan dan Advokasi Lingkungan dengan narasumber Kabid KSDA Wilayah III Ciamis, Kepala SKW V Garut, Penyuluh Kehutanan SKW V Garut dan narasumber lainnya yang kompeten di bidangnya. Sebelumnya kegiatan ini dibuka oleh Kepala Bidang KSDA Wilayah III Ciamis diikuti penyerahan bibit mangrove secara simbolis dari Ketua Panitia Pelaksana. Dalam kesempatan ini juga dilakukan penanaman mangrove dengan menanam bibit Bakau Hitam (Rhizopora mucronata) sebanyak 210 batang di sekitar muara Cipakayuhan, Resor KSDA Wilayah Leuweung Sancang. Kegiatan ini mengikusertakan sebanyak 91 orang yang terdiri dari 26 orang peserta, 22 orang panitia, 33 orang masyarakat setempat, 4 orang dari Ditjen PSKL dan 6 orang petugas Resor KSDA Wilayah Leuweung Sancang. Kegiatan ini diharapkan dapat diselenggarakan rutin setiap tahun dan menjadi perintis sebagai upaya dalam mencetak kader-kader konservasi di masa yang akan datang. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

FGD Siapkan Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Taman Nasional Bunaken Yang Lestari, Terpadu dan Berkelanjutan

Manado, 24 Juli 2018. Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di ruang sidang Fakulatas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Sam Ratulangi Manado adalah tindaklanjut dari penelitian Efektivitas Kawasan Konservasi Pulau Kecil Taman Nasional Bunaken Menuju Pengelolaan Yang Lestari, Terpadu, Dan Berkelanjutan Berbasis Status Lingkungan Perairan Dan Kesehatan Ekosistem Pesisir. Suatu penelitian terpadu dari COREMAP-CTI, LIPI dan Universitas Sam Ratulangi. Tujuan penelitian untuk untuk mengetahui efektivitas kawasan konservasi pulau kecil Taman Nasional Bunaken melalui status kondisi perairan dan kesehatan ekosistem pesisir pulau-pulau kecil yakni terumbu karang, lamun, dan mangrove. Adapun sasarannya menciptakan strategi pengelolaan ekosistem pesisir pulau-pulau kecil yang dapat mengurangi degradasi ekosistem pesisir, terjaganya keseimbangan alam, dan pemanfaatan yang bersifat lestari dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan dan terpadu dibidang kelautan dan perikanan. Hal ini diharapkan akan mampu meningkatkan kapasitas lingkungan pesisir dan kapasitas masyarakat yang tinggal dipulau kecil, yakni kawasan Taman Nasional Bunaken. Dr. Jhosias N.W Schadow selaku ketua tim peneliti menyampaikan, Taman Nasional Bunaken adalah kawasan konservasi laut pertama di Sulawesi Utara, terlahir sejak tahun 1991 yang terkenal dengan biodiversitas terumbu karang dan ikan yang tinggi, dan TN Bunaken juga merupakan ikon pariwisata di Provinsi Sulawesi Utara. Pulau-pulau kecil dalam kawasan ini, memiliki nilai strategis seperti Pulau Mantehage Pulau terdepan dan pulau terluas ekosistem mangrove; Pulau Bunaken dan Siladen sebagai pulau tujuan wisata; dan Pulau Nain sebagai sentra rumput laut; serta Pulau Manado Tua eks pulau Vulkanik dengan potensi wisata yang besar. Kegiatan antropogenik dan climate change adalah ancaman terbesar kelestarian fungsi Taman Nasional Bunaken, saat ini telah terindikasi adanya penurunan kualitas lingkungan perairan dan ekosistem pesisir, terdapat 3 dimensi utama yang menjadi fokus penelitian kami yakni Ekologi, Sosial dan Ekonomi serta Kelembagaan. Kajian efektifitas kawasan konservasi pulau kecil berbasis kondisi kesehatan ekosistem pesisir dapat meminimalkan degradasi ekosistem, total sebanyak 20 stasiun pengamatan terumbu karang, lamun dan kualitas air serta 12 stasiun pengamatan mangrove pada 11 di pulau-pulau kawasan Taman Nasional Bunaken sebagai sampel dilapangan. Analisis Drive – Pressure – State – Impact Response (DPISR) menunjukan bahwa dorongan pada kebutuhan rumah tangga, peningkatan populasi penduduk dan wisatawan menekan pada peningkatan kerentanan, pencemaran dan degardasi ekosistem (karang, lamun dan mangrove), sehingga dapat menyebabkan penurunan persentase tutupan karang mangrove dan lamun serta polusi, implikasinya adalah menurunnya daya lenting, daya dukung dan fungsi ekologis, untuk itu diperlukan kajian dan monitoring sumber daya tersebut secara kontinyu, paska peneltian dan pengambilan data lapangan, kami mengumpulkan pihak-pihak yang kami identifikasi sebagai penerima manfaat untuk dapat terlibat dalam FGD, tambah Niko sapaan akrabnya. Kepala Balai TN Bunaken Dr. Farianna Prabandari dalam sambutannya menyampaikan, hasil-hasil penelitian yang seperti disampaikan oleh tim, memberikan arti penting dalam pengambilan kebijakan pengelolaan Taman Nasional Bunaken. Kami memahami peran penting Universitas sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian kepada masyarakat. Oleh karenanya output hasil penelitian memberikan gambaran pengambilan kebijakan pengelolaan. Kegiatan FGD dibuka langsung oleh Dekan FPIK – Universitas Sam Ratulangi, Prof. Dr. Ir. Grevo S. Gerung, M.Sc, dengan dihadiri oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Daerah Sulawesi Utara, Dinas Pariwisata Daerah Sulawesi Utara, LSM Yapeka, LSM Pelang dan mahasiswa dan tim penelitian. Sumber : Eko Wahyu Handoyo - PEH Balai Taman Nasional Bunaken
Baca Berita

Kunjungan 14 siswa SMK N 1 Tualang ke Balai TN Tesso Nilo

Pangkalan Kerinci, 24 Juli 2018. Sebanyak 14 (empat belas) siswa dari Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Tualang, Siak laksanakan kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Balai TN. Tesso Nilo. sebelum melaksanakan kegiatan praktek kerja lapangan siswa-siswa dan guru pendamping dan kepala sekolah SMK Tualang memaparkan rencana kegiatan praktek di kantor Balai TN. Tesso Nilo pada Senin 9 Juli 2018. Pemaparan rencana PKL di pimpin oleh Kepala Sub Bag TU Delfi Andra, SP. Kegiatan praktek kerja lapangan ke 14 siswa SMKN 1 Tualang tersebut akan laksanakan dari bulan Juli hingga September 2018 mendatang. Kegiatan praktek kerja lapangan akan mempelajari administrasi perkantoran Balai TN. Tesso Nilo di kantor Balai dan praktek bidang kehutanan di kawasan TN. Tesso Nilo di Seksi Pengelolalan Wilayah I di Lubuk Kembang Bunga dan II di Baserah. Kegiatan praktek ini akan mengaplikasikan ilmu dan pelajaran yang telah didapatkan di lingkungan sekolah. Ilmu dan pelajaran yang akan di pelajari dan diaplikasikan siswa-siswa ini diantaranya dalam keahlian Silvika, Silvikultur, Dendrologi, Pengukuran dan pemetaan hutan, serta ilmu ukur kayu. Selain itu peserta juga diajak terlibat langsung dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh Balai TN. Tesso Nilo seperti kegiatan patroli, survei, monitoring, sosialisasi, penyuluhan dan penanganan kebakaran hutan. Kepala Sub TU TN. Tesso Nilo Delfi Andra, SP mendukung penuh serta berharap para siswa tersebut dapat memperoleh ilmu serta mentransfer ilmu baru untuk pengelolaan kawasan TNTN. Sumber : Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Berita

Koordinasi Pengamanan Ke Desa Huta Namale dan Desa Huta Baringin Julu Kec. Puncak Sorik Marapi SPTN Wilayah III Muarasoma

Panyabungan, 24 Juli 2018. Sesuai laporan masyarakat masyarakat desa Hutanamale tentang dugaan terjadinya Penebangan pohon dan penjualan kayu/ Illegal Logging dalam kawasan Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) melalui telepon/ secara lisan pada tanggal 3 Juni 2018 kepada Kepala Resort 5 (Hermansah) ditindaklanjuti dengan menyampaikan dan mendiskusikannya ke Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah (SPTNW) III Muarasoma Balai Taman Nasional Batang Gadis pada tanggal 4 Juni 2018. Hasil diskusi diputuskan untuk mencari informasi lebih lanjut kepada masyarakat di Hutabaringin Julu yang menjadi personil Masyarakat Mitra Polhut (MMP) binaan TNBG. Hasil penelusuran secara lisan di duga bahwa lokus kejadian berada di luar kawasan TNBG (masih di Hutan Lindung). Laporan masyarakat Hutanamale menyampaikan bahwa kondisinya sudah semakin parah dan memintak agar TNBG membantu untuk menyelesaikan masalah tersebut sehingga pada tanggal 5 Juni 2018 malam hari melaporkan melalui telepon kepada Kepala STNW III dan memintak bantuan guna menyelesaikan masalah tersebut. Disampaikan bahwa kemungkinan besar lokus yang disampaikan berada di luar kawasan TNBG, namun pelapor merasa kurang yakin karena masyarakat Desa Hutanamale belum menyaksikan pengecekan ke lapangan. Untuk itu Tim diturunkan dengan membawa peralatan berupa GPS dan aplikasi Avenza Map pada android guna mencegah timbulnya perselisihan antar masyarakat dan memelihara trust masyarakat kepada TNBG. Koordinasi tingkat kecamatan dalam rangka pengamanan kawasan ini maksudnya adalah melaksanakan koordinasi dengan Kepala Desa Hutanamale (pelapor) dan Kepala Desa Hutabaringin Julu (Lokus) dalam rangka merespon laporan masyarakat, Tujuannya adalah untuk bersama-sama melakukan pengecekan serta mengetahui batas kawasan TNBG. Tindakan yang dilakukan : Mencatat informasi, menganalisa dan melaporkan ke kantor Balai Taman Nasional Batang Gadis; Mendiskusikan rencana tindak lanjut petugas dan pelapor dan masyarakan; Menyerahkan peta Kawasan Taman Nasional Batang Gadis sebagai bahan informasi di tingkat Desa (Desa Hutabaringin Julu dan Desa Huta Namale). Sumber : Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Berita

Akhirnya Si Hitam Kembali Dilepasliarkan

Pekanbaru, 24 Juli 2018. Tim Rescue Bidang KSDA Wilayah I melakukan pelepasliaran Beruang madu (Helarctos malayanus) di salah satu kawasan konservasi Balai Besar KSDA Riau yang jauh dari pemukiman penduduk dan merupakan habitat satwa dilindungi tersebut. Kegiatan pelepasliaran didahului dengan pemindahan Beruang madu dari kandang Klinik Transit Balai Besar KSDA Riau, dimana sebelumnya satwa langka dimaksud mendapat perawatan akibat jerat selama kurang lebih 47 hari. Setelah sembuh dari lukanya, Tim medis Balai Besar KSDA Riau menyatakan bahwa Beruang madu telah siap untuk dilepasliarkan kembali mengingat kesehatan yang sudah baik dan sifat keliarannya yang masih kuat melekat. Dengan keahliannya Tim Rescue yang dikomandoi langsung oleh Kepala Bidang KSDA Wilayah I, Mulyo Hutomo tanpa kesulitan memindahkan satwa tersebut dari kandang perawatan ke kandang evakuasi. Kemudian Perawat satwa dengan tangkas memberi pakan satwa serta melakukan pengendalian trauma. Tepat pukul 17.45 Wib, Tim meluncur ke lokasi pelepasliaran dipimpin oleh Ketua Tim Zulkifli. Perjalanan panjang bagi seekor Beruang madu akhirnya berujung. Pada pukul 20.00 Wib, Kepala Resort (Ar Azmi) menyambut kedatangan Beruang madu dan Tim yang langsung menuju lokasi pelepasliaran. Sekitar Pukul 21.30 Wib proses pelepasliaran dilakukan dan berjalan dengan baik tanpa kendala apapun. Si hitam Beruang madu berjalan gagah dan seolah kegirangan keluar dari kandang menikmati kemerdekaannya. Tim segera kembali ke kantor Resort untuk penandatangan Berita Acara Pelepasliaran. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Mencari Penawar di Sigogor

Ponorogo, 24 Juli 2018. Cagar Alam (CA) Gunung Sigogor sebagai kawasan konservasi di wilayah Balai Besar KSDA Jawa Timur elah ditetapkan sejak September 1936 memiliki banyak kekayaan dan rahasia yang belum terungkap. Salah satunya berupa tumbuhan obat. Dan pada 16-19 Juli 2018 yang lalu Bidang KSDA Wilayah I melaksanakan inventarisasi tumbuhan obat di cagar alam yang terletak di ketinggian 1200-1700 mdpl tersebut. Kegiatan ini menjadi sangat menarik selain karena topografi kawasan yang berbukit-bukit juga memiliki medan yang berlereng curam. Selain itu, 2 ahli tumbuhan obat Dr. Djoko Santoso, S.Si, M.Si dari Fakultas Farmasi UGM dan Dr.Ir.Yuli Widyastuti, MP dari Balai Besar Tanaman Obat (BBTO) Tawangmangu, ikut hadir dalam eksplorasi ini. Tak tanggung, Dr. Yuli membawa serta 4 stafnya untuk ikut dalam inventarisasi tersebut. Perjalanan dimulai dari Desa Pupus menembus hutan lindung kawasan Perum Perhutani BKPH Wilis Barat, KPH Lawu DS. Pak Kasno, seorang Mitra Polhut yang juga penduduk setempat menjadi penunjuk jalannya. Selain sangat mengenal medan, juga pengetahuannya tentang kearifan lokal tanaman obat yang digunakan masyarakat desa penyangga. Salah satu jalur yang kami lalui adalah jalur patroli lereng diatas papan nama kawasan. Jalurnya tergolong curam dan sangat menanjak, sehingga begitu menguras tenaga kami. Selama 4 hari kami menjumpai kurang lebih 186 jenis tumbuhan obat, padahal baru sebagian kecil wilayah di barat daya kawasan yang terinventarisasi. Untuk mengenali tumbuhan obat, para pakar terkadang hanya melihat morfologinya saja untuk jenis yang telah diketahui namanya. Jika belum, maka identifikasi awalnya dengan melihat warna tumbuhan, karena itu salah satu tanda bahwa suatu tumbuhan memiliki aktivitas anti kanker/ antioksidan, selain kandungan kimia lainnya. Pada tumbuhan obat yang menghasilkan minyak atsiri dikenali dengan meremas daunnya dan mencium aroma yang dihasilkan. Tak jarang juga para ahli menggunakan indera perasanya dengan mencicipi tumbuhan yang dijumpai. Melihat semangat Pak Wahyu staf BBTO mencicipi tumbuhan obat, Tri Wahyu, anggota tim berseloroh “Pak, saya catat jamnya bapak makan tumbuhan tadi, ini untuk keperluan kronologis kalau-kalau bapak meninggal keracunan.” Selain warna, aroma dan rasa, ternyata ada juga jenis tumbuhan obat yang dikenali dari efek yang ditimbulkan pada kulit. Contohnya, jenis tumbuhan yang selama ini wajib kami hindari karena akan menimbulkan sensasi gatal dan pedih di kulit. Ternyata menurut Pak Wahyu merupakan obat rematik, Kemaduh namanya. Jika sudah terkena daun ini, Pak Wahyu dengan kalem memberi saran “dinikmati saja ... mbak.” Kegiatan berlangsung serius namun santai, setiap mendapati tumbuhan obat yang telah diketahui jenisnya, Pak Djoko dan Bu Yuli akan menjelaskan nama dan manfaat tumbuhan obat tersebut. Selanjutnya tim akan mencatat di papan akrilik nama jenis, nama kolektor, koordinat geografis, tempat dan tanggal ditemukannya. Jika keduanya belum mengetahui jenis tumbuhan obat yang dijumpai, maka di papan akrilik, tumbuhan tersebut akan disebut dengan istilah NN. Kemudian diambil contoh daun, bunga dan buahnya untuk diidentifikasi lebih lanjut di BBTO. Tim juga menjumpai banyak sekali anggrek tanah jenis Calanthe triplicata yang menyejukkan pandangan dengan rumpun bunga putihnya. Anggrek ini dapat dijumpai setiap beberapa meter, tumbuh subur dibawah tegakan Wesen (Dodoneca viscosa). Semakin tinggi lokasinya, semakin banyak dibawah tegakan Pasang (Querqus sondaica) yang memang dominan di sisi barat daya bagian selatan cagar alam dengan ketinggian 1200-1300 mdpl. Tidak hanya Calanthe, tim juga dibuat takjub saat menemukan salah satu “jewel orchid” yang menawan, Macodes petola. Salah satu jenis anggrek yang memiliki daun yang indah, sehingga termasuk kedalam anggrek yang disebut “jewel orchids”. Daunnya berwarna hijau sedikit ungu gelap, memiliki urat-urat longitudinal berwarna emas yang berkilau (inflorescence) dan permukaan yang menyerupai beludru, sangat indah. Meski luas kawasan hanya 190,5 ha saja, namun waktu 4 hari ternyata baru cukup untuk menjelajahi sedikit di wilayah barat daya. Meski demikian, hasil yang didapat cukup menggambarkan kekayaan tumbuhan obat dikandungnya. Dan, masih diperlukan inventarisasi lanjutan untuk mengetahui jenis tumbuhan obat disisi lain Gunung Sigogor. . Sumber : Siti Nurlaili, PEH Pertama - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Tiga Usulan Cagar Biosfer di Sidang ke-30 MAB-ICC UNESCO

Palembang, 24 Juli 2018. Indonesia menyodorkan tiga wilayah kepada UNESCO guna mendapat pengakuan sebagai cagar biosfer baru. Berbak Sembilang (Sumatera Selatan-Jambi), Betung Kerihun Danau Sentarum - Kapuas Hulu dan Rinjani - Lombok merupakan tiga usulan cagar biosfer baru. Usulan tiga cagar biosfer baru ini dikemukaan saat penyelenggaraan sidang ke-30 “The Man and Biosphere International Co-ordinating Council (MAB-ICC) UNESCO. Sidang ke-30 MAB-ICC UNESCO sendiri berlangsung di Palembang, Sumatera Selatan pada 23-28 Juli 2018. Tak hanya sidang, terdapat kegiatan seminar internasional bertajuk “Biodiversity and Biosphere reserve: Engaging Stakeholders towards Community Empowerment - The Role of Stakeholder in Mainstreaming Natural Resouces Related to Agenda 2030”. Ada pula pameran yang diikuti berbagai Cagar Biosfer di Indonesia, Kementerian/Lembaga, pemerintah daerah, serta pihak swasta. Acara akan ditutup dengan field trip ke kawasan Berbak-Sembilang yang diusulkan menjadi cagar biosfer baru. Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Wiratno selaku keynote speaker dan mewakili Menteri Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyampaikan bahwa dengan konsep cagar biosfer, yang berpedoman pada Seville Strategy, Madrid Declaration and Action Plan, serta Lima Action Plan, sejalan degan prinsip-prinsip pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia dalam rangka pencapaian Aichi Biodiversity Targets serta Sustainable Development Goals. Pengelolaan Cagar Biosfer berbasis kultur, kearifan lokal, multipihak,multidisipliner, lintas sektoral dan berbasis sains, teknologi, dan inovasi, serta peran aktif para pihak, terutama pemerintah daerah, masyarakat, swasta, aktivis lingkungan, CSOs, perguruan tinggi dan lembaga penelitian diharapkan dapat mendorong kesadaan dan aksi kolektif dalam upaya pelestarian lingkungan sekaligus peningkatan kemandirian dan kesejahteran masyarakat. Wiratno juga menegaskan semakin pentingnya mengawal kebijakan yang memberikan akses kelola bagi masyarakat desa-desa di pinggir hutan serta masyarakat hukum adat di dalam Cagar Biosfer dalam bentuk program perhutanan sosial termasuk kemitraan konservasi, sebagaimana telah ditetapkan dalam Nawa Cita oleh Presiden Joko Widodo. Intisari utama yang diusung dalam pertemuan ini adalah usaha yang perlu dilakukan untuk mengoptimalkan dan menguatkan peran dari berbagai pemangku kepentingan: pemerintah, sektor swasta, publik, universitas, lembaga swadaya masyarakat (LSM) untuk membangun rencana pengelolaan cagar biosfer dalam rangka wewujudkan pembangunan berkelanjutan. Pada pertemuan ini juga akan ditetapkan beberapa cagar biosfer baru yang telah diajukan oleh negara-negara peserta WNBR. Sumber : Datin Setditjen KSDAE, Biro Humas KLHK dan LIPI
Baca Berita

Visit to School SMP Negeri 3 Muara

Pematang Siantar, 24 Juli 2018. Banyak jalan menuju Roma, banyak cara juga untuk lebih menanamkan semangat cinta konservasi di kalangan generasi muda. Mengawali tahun ajaran baru 2018/2019 tepatnya tanggal 21 Juli 2018, Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar Balai Besar KSDA Sumatera Utara (BBKSDA Sumut) melaksanakan gelaran Visit to School ke SMP Negeri 3 Muara. SMP Negeri 3 Muara merupakan salah satu sekolah yang berbatasan langsung dengan Kawasan Konservasi Taman Wisata Alam (TWA) Sijaba Hutaginjang. Kegiatan serupa sebelumnya dilaksanakan tanggal 23 Maret 2018. Visit to School merupakan konsep sederhana untuk mengenalkan konservasi keanekaragaman hayati yang mudah dimengerti sesuai dengan tingkatan pendidikan. Melalui kegiatan ini diharapkan generasi muda khususnya para pelajar dapat lebih mencintai alam dan lingkungannya sedini mungkin. Kegiatan ini juga upaya untuk memberikan tambahan pengetahuan dan keterampilan tentang konservasi sumber daya alam hayati dan lingkungan hidup sehingga mereka dapat berperilaku selaras dengan alam lingkungannya. Progress yang utama bagi para pelajar ini adalah adanya perubahan sikap dan perilaku yang ditunjukkan untuk lebih mencintai alam dan lingkungan sekitarnya. Materi yang disampaikan berupa Kenekaragaman Hayati/Hewan langka di Sumatera dalam bentuk slide show dan film tentang konservasi. Kuis dan door prize yang variatif menjadi pemicu semangat para siswa meliputi perlengkapan sekolah yang sudah distempel slogan ajakan melestarikan hewan langka, pensil, pulpen dan lain sebagainya. Di akhir acara diadakan lomba menulis diselembar kertas tentang apa saja yang berhubungan dengan materi yang baru saja dijelaskan. Hasil dari lomba menulis terpilih 6 (enam) siswa/siswi terbaik dan berkesempatan membacakan hasil karyanya di depan peserta lainnya. Terbaik satu sampai dengan tiga mendapatkan paper bag yang berisikan perlengkapan sekolah, booklet, dan stiker sementara terbaik empat sampai enam hanya mendapatkan perlengkapan sekolah. Respon positif datang dari para peserta dan pihak sekolah yang terlihat dari kerjasama sekolah dalam pelaksanaan kegiatan. Hal ini diakui Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Muara Ibu Dra. Lamria Silitonga, M.Pd yang melihat antusiasme para siswanya selama mengikuti kegiatan Visit to School. Beliau berharap kegiatan ini berkelanjutan dalam menanamkan jiwa konservasi dan kepedulian terhadap alam dan lingkugan sejak dini di lingkungan sekolah khususnya SMP Negeri 3 Muara.(lisbet/penyuluh) Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Dugaan Kembalinya Sang Garuda

Garut, 24 Juli 2018. Pada hari Jum’at tanggal 20 Juli 2018 petugas Resort Konservasi Wilayah Leuweung Sancang melakukan monitoring dan patroli pengamanan kawasan di Blok Cikajayan, Cagar Alam Leuweung Sancang, pada saat di perjalanan petugas mendapati seekor burung Elang hinggap dan bertengger pada sebuah pohon. Sekira pukul 10.20 WIB tim membidik burung tersebut dengan Kamera DSLR dengan jarak sejauh kurang lebih 50 m dari obyek untuk mendapatkan gambarnya, namun hasil yang diperoleh tidak maksimal karena keterbatasan kamera yang digunakan. Namun dari hasil bidikan tersebut terdapat hal yang menarik yaitu terdapatnya ciri-ciri fisik yang spesifik dari satwa elang tersebut tersebut yaitu terlihat adanya jambul yang khas seperti yang dimiliki Elang Jawa dan.berbeda dengan jenis elang yang lain. Kesimpulan sementara petugas berdasarkan pengamatan gambar dan dari beberapa narasumber yang berasal dari Pusat Konservasi Elang Kamojang (PKEK), bahwa foto elang tersebut adalah Elang jawa. Keyakinan itu berdasar kepada gambar atau foto yang memperlihatkan seperti ada jambul serta kepakan sayap pada sat terbang yang menjadi ciri khas burung tersebut. Berdasarkan informasi dari pengelola PKEK (Sdr. M. Zaini), mengatakan bahwa Elang Jawa terakhir kali terlihat di Cagar Alam Leuweung Sancang pada tahun 1998. Dengan demikian, apabila benar Elang yang tertangkap kamera tersebut adalah jenis Elang jawa, ini mengindikasikan keberadaan Elang Jawa kembali ditemukan di Cagar Alam Leuweung Sancang setelah 20 tahun menghilang. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

Sosialisasi Zonasi Dan Batas Kawasan TN Kutai Pasca Enclave

Teluk Pandan, 24 Juli 2018. Balai Taman Nasional Kutai kembali melakukan sosialisasi di Desa Teluk Pandan, Kecamatan Teluk Pandan Kabupaten Kutai Timur. Desa Teluk Pandan merupakan salah satu desa penyangga kawasan Taman Nasional yang berpotensi untuk melakukan aktivitas di kawasan sehingga perlu untuk dilakukan sosialisasi terkait batas kawasan TN Kutai. Kegiatan ini diikuti oleh kepala Dusun, Kelompok Tani, Kepala RT, Mahasiswa KKN dari Universitas Mulawarman dan dihadiri oleh Kepala Desa Teluk Pandan dan Kepala Balai TN Kutai. Materi yang disampaikan dalam sosialisasi ini antara lain pengelolaan kawasan TN Kutai, perundangan terkait pengelolaan kawasan TN Kutai, batas dan zonasi pasca enclave, kebijakan polres Kutai Timur dalam penegakan hukum pengelolaan TN Kutai oleh Polres Kutai Timur serta Undang-undang agraria dan peraturan agraria oleh BPN Kabupaten Kutai Timur. Kepala Desa Teluk Pandan dalam sambutannya menyampaikan agar setiap anggota masyarakat yang hadir dalam sosialisasi ini dapat menyebarluaskan informasi yang didapat hari ini dan undang-undang yang dibuat serta disosialisasikan bisa dijalankan dengan baik. Kerjasama telah dibangun dengan Desa Teluk Pandan, Desa Martadinata dan Desa Kandolo dengan TN Kutai melalui pengelolaan mangrove. Harapannya agar masyarakat dapat bekerjasama dengan baik dalam pengelolaan kawasan konservasi sehingga dengan adanya kawasan konservasi dapat memberi keuntungan kepada semua pihak. Masyarakat memperoleh manfaat dan lingkungan terjaga kelestariannya. Jangan sampai masyarakat mati di lumbung sendiri, ungkap kepala Balai TN Kutai Bapak Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc. saat memberikan sambutan sekaligus membuka acara sosialisasi. Sumber : Balai Taman Nasional Kutai

Menampilkan 7.441–7.456 dari 11.140 publikasi