Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Otan Tiba di Sumatera Utara

Medan, 20 Juli 2018. Satu Orangutan Sumatera (Pongo abelii) yang bernama ‘Otan’ tiba dari Jakarta ke Pusat Karantina dan Rehabilitasi Orangutan yang dikelola oleh Balai Besar KSDA Sumatera Utara dan YEL-SOCP di Sibolangit, Deliserdang – Sumatera utara. ‘Otan ‘merupakan satwa yang dilindungi yang dititip-rawatkan oleh Penyidik Reskrimsus Polda Metro Jaya ke Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tegal Alur, Jakarta Barat sejak April 2017, setelah disita dari pemilik sebelumnya yang membelinya dari perdagangan satwa online. Otan berhasil disita berkat kerjasama Balai KSDA DKI Jakarta, Polda Metro Jaya, dan Jakarta Animal Aid Network (JAAN). Orangutan Sumatera dan Orangutan Tapanuli tercantum dalam daftar yang dikeluarkan oleh Badan Internasional Untuk Konservasi Alam (The World Conservation Union – IUCN) dalam kategori Hampir Punah (Critically Endangered). Diperkirakan terdapat sekitar 14.000 Orangutan Sumatera dan hanya sekitar 800 Orangutan Tapanuli yang tersisa di alam liar. Sementara itu, Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc.For, mengatakan, “Orangutan dilindungi oleh Undang-Undang No. 5, tahun 1990, yang melarang pembunuhan, penangkapan, pemeliharaan dan perdagangannya. Untuk itu kami menghimbau kepada para pihak agar tidak memelihara TSL dilindungi karena melanggar hukum”. Lebih lanjut Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara juga menghimbau kepada seluruh lapisan masyarakat untuk menyerahkan satwa-satwa liar yang dilindungi undang-undang kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara untuk kemudian akan direhabilitasi sebelum dilepasliarakan ke habitat alaminya. Ketua Yayasan Ekosistem Lestari, dr. Sofyan Tan mengungkapkan, “Dengan kerjasama yang baik dari berbagai pihak, ‘Otan’ tiba di Sumatera Utara dan dalam kondisi sehat. Selanjutnya tim SOCP akan melakukan proses karantina dan rehabilitasi terhadap Otan, sampai dia siap untuk dilepasliarkan ke habitat asalnya di hutan tropis Sumatera”. Ungkap drh. Citrakasih Nente “Karantina dan rehabilitasi orangutan dimaksudkan untuk memeriksa secara intens kondisi kesehatan orangutan dan merehabilitasi mereka baik secara fisik maupun mental, sekaligus melatih mereka untuk beradaptasi dengan kehidupan di alam bebas nantinya”. (Supervisor Rehabilitasi dan Reintroduksi untuk YEL-SOCP). Harapannya Otan akan dapat direhabilitasi dan direlease ke habitat alaminya. Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Menebar Virus Peduli Alam Melalui Kemah Konservasi

Pangkep, 25 Juli 2018. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung gelar kemah konservasi di Desa Bontomasunggu, Tellu Limpoe, Bone pada 20 – 22 Juli 2018 di alam terbuka yang rupawan. Kegiatan penyadartahuan ini melibatkan beberapa komunitas yang berada di Pangkep, Maros, dan Makassar. Sedikitnya 100 peserta kemah yang terlibat, dengan peserta terdiri dari 30 siswa Pramuka, 10 anggota Forum Kader Konservasi TN Bantimurung Bulusaraung, 55 Mahasiswa dari komunitas Mapala dan 5 orang masyarakat sekitar kawasan. Melalui kemah konservasi peserta diajak menggali potensi taman nasional melalui kunjungan lapangan dan sejumah materi. Ada beberapa materi yang disampaikan oleh narasumber yang kompeten di bidangnya. Etika pecinta alam, Mountaineering, teknik penelusuran gua, dasar-dasar fotografi, dan potensi taman nasional adalah materi yang tersaji selama perkemahan. “Saya mendukung kegiatan semacam ini, membuat desa kami lebih dikenal. Terima kasih kepada pihak TN Bantimurung Bulusaraung memilih desa kami sebagai lokasi pelaksanaan kemah konservasi tahun ini,” imbuh Ahmad Saleh, Sekertaris Desa Bontomasunggu. SPTN Wilayah I selaku panitia sengaja memilih desa penyangga taman nasional ini sebagai media mempromosikan potensi wisata desa tersebut. Selain suguhan pemandangan alam yang menawan, potensi air terjunnya tak kalah menariknya. "Kegiatan kemah konservasi ini sengaja kami fokuskan di desa ini untuk mengenalkan potensi ekowisata tersembunyi berupa air terjun. Ini seirama dengan tema yang kami usung ‘The Hidden Paradise’,” ujar Iqbal Abadi Rasjid, selaku ketua panita kemah konservasi. Kegiatan ini juga sebagai media penyuluhan kepada generasi muda dan masyarakat tentang pentingnya konservasi alam. Dengan pengetahuan tersebut diharapkan sikap mereka akan mencintai dan peduli akan kelestarian alam. Sumber: Ramli – PEH Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

Global Tiger Day : Kepala BBKSDA Sumut Ikut Aksi Mural

Medan, 25 Juli 2018. Global Tiger Day (GTD) atau Peringatan Hari Harimau Sedunia merupakan peringatan tahunan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap konservasi harimau di dunia. Peringatan ini disepakati pada pertemuan tingkat tinggi di Saint Petersburg dalam Tiger Summit tanggal 29 Juli 2010, dilatarbelakangi oleh kondisi populasi harimau yang mendekati kepunahan. Global Tiger Day 2018 akan diselenggarakan di 10 kota, yaitu : Banda Aceh, Medan, Padang, Palembang, Pekanbaru, Bengkulu, Jambi, Bandar Lampung, Jakarta dan Purwokerto. Rangkaian kegiatan Global Tiger Day di Medan 2018, dimulai dengan kegiatan mural (melukis tembok) yang mengangkat tema “Kearifan Lokal Untuk Harimau Sumatera”. Kegiatan ini bertujuan untuk kampanye konservasi harimau kepada masyarakat (publik). “Aksi mural ini mengingatkan publik agar bisa berperanserta dalam upaya konservasi sumber daya alam hayati, khususnya Harimau Sumatera,” pesan Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Dr.Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc.For. Harapannya masyarakat aktif menjaga dan melindungi keanekaragaman hayati di Sumatera Utara, khususnya satwa yang terancam punah seperti Harimau Sumatera, lanjut Hotmauli. Aksi mural, dilaksanakan pada Rabu, 25 Juli 2018, bertempat di dinding (tembok) kantor Dinas Kehutanan Propinsi Sumatera Utara, yang dihadiri : Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Sumatera Utara, Plh. Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, Kepala Balai Pengamanan dan Penegakkan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah Sumatera, dan para pejabat eselon III dan IV lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Dinas Kehutanan Propinsi Sumatera Utara. (Evan) Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

BBKSDA Jatim Menyapa Pendengar Setia RRI Pro 1 Surabaya

Surabaya, 25 Juli 2018. RRI Pro 1 Surabaya menyiarkan secara langsung Dialog Interaktif terkait Peredaran Satwa Liar yang diikuti Kepala Bidang Wilayah III Gresik dan Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) Surabaya Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim). Selama siaran berlangsung, pendengar setia RRI Pro 1 Surabaya disuguhkan infomasi terkait tupoksi konservasi sumber daya alam (KSDA), permasalahan peredaran, tumbuhan dan satwa liar serta info kontak Call Center BBKSDA Jatim (082232115200). Siaran radio berlangsung selama 1 jam diselingi 3 pertanyaan dari pendengar RRI Pro 1 Surabaya mengenai peredaran satwa liar di Jawa Timur. Sebagai penutup siaran, Tim BBKSDA Jatim menyampaikan bahwa mencintai tumbuhan dan satwa liar tidak harus memilikinya tapi dengan kepedulian untuk membiarkan mereka hidup bebas di alam sebagai warisan anak cucu kita. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

PEH Balai TN BBBR Belajar Teknik Inventarisasi Tepat, Efektif dan Valid

Sintang 24 Juli 2018. Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (BTNBBBR) bersama WWF Indonesia Landscape Muller Schwaner – TNBBBR Program mengadakan Bimbingan Teknis “Teknik Inventarisasi” pada tanggal 23 - 25 Juli 2018. Kegiatan tersebut diadakan di ruang rapat kantor Balai TNBBBR dengan maksud dan tujuan untuk meningkatkan kemampuan Pejabat Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) TNBBBR. Pejabat Fungsional PEH merupakan ujung tombak di bidang pengawetan sumber daya alam, diharapkan dengan BIMTEK Teknik Inventarisasi ini mampu memahami dan menggunakan metode teknik inventarisasi dengan tepat, efektif dan valid, untuk menjalankan tugasnya dalam melaksanakan inventarisasi potensi keanekaragaman ekosistem, inventarisasi potensi lingkungan, dan inventarisasi potensi tumbuhan dan satwa liar. Kegiatan BIMTEK tersebut diikuti oleh seluruh Pejabat Fungsional PEH TNBBBR, serta beberapa perwakilan stakeholder yang berperan serta dalam bidang konservasi di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya seperti Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (IAR), Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (BOSF), dan WWF Indonesia, dan Perwakilan PEH Seksi Wilayah II BKSDA Sintang Kalbar. Untuk pelaksanaan BIMTEK “Teknis Inventarsasi” ini, Balai TNBBBR mengundang narasumber utama yaitu Dr. Yaya Rayadin (Universitas Mulawarman, Ecositrop) dan Yokyok Hadiprakarsa (Rangkong Indonesia). Materi yang dibahas dalam tiga hari Bimtek meliputi Inventarisasi Hutan, Inventarisasi Mamalia, Inventarisasi Primata, Penggunaan Camera Trap, Pengolahan data dengan Camera Trap, Metode Inventarisasi Burung Enggang, Pegunaan Aplikasi Kobo Collect untuk pengambilan Data Inventarisasi Satwa, Pengolahan Data Inventarisasi Burung Enggang, Perumusan Pelaporan Inventarisasi; dan Sosialisasi Spesialisasi Keahlian Pejabat Fungsional PEH Lingkup TNBBBR. Pelaksanaan Inventarisasi merupakan hal penting sebagai salah satu acuan dalam pengelolaan kawasan konservasi. Beragam jenis dan metode inventarisasi telah dikembangkan, sehingga pemilihan teknik inventarisasi yang tepat sasaran, efektif dan valid merupakan hal yang diharapkan. Melalui PERDIRJEN KSDAE Nomor : 10/KSDAE/SET/KSA.0/ 9/2016 tentang Pedoman Pelaksanaan Inventarisasi Potensi Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam telah dibuat sebagai acuan/pedoman/garis panduan dalam pelaksanaan kegiatan inventarisasi potensi kawasan di Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam termasuk di dalamnya untuk kawasan Taman Nasional. Selengkapnya dapat di download sbb : Bimtek Bukit Baka Bukit Raya Sumber : Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya
Baca Berita

Ayo Peduli Satwa Endemik Papua

Jayapura, 25 Juli 2018. 25 Juli 2018 merupakan hari yang sangat penting bagi masyarakat Kota jayapura khususnya dan masyarakat Papua pada umumnya dalam rangka mengajak kepedulian semua pihak dalam pelestarian tumbuhan dan satwa liar (TSL). Tepat pukul 09.00 Wita, Kepala Balai Besar KSDA Papua (BBKSDA Papua) melakukan press release bersama dengan media elektronik maupun cetak yang berkedudukan di Kota dan Kabupaten Jayapura. Pers yang meliput terdiri atas Cenderawasih Post, Wone, RRI, INews, Warta plus dan Antara. “Tak mudah mengembalikan sifat liar pada satwa yang sudah terlanjur jinak dengan manusia. Perubahan perilaku yang terjadi pada satwa-satwa tersebut membutuhkan ”waktu yang lama dan biaya yang besar”. untuk mengembalikan mereka ke kondisi semula" tegas Kepala Balai Besar KSDA Papua, Ir. Timbul Batubara., M.Si kepada sejumlah wartawan di lokasi kandang transit Buper Waena. Saat ini jumlah satwa yang ditampung di kandang transit mencapai 81 ekor, yang terdiri dari 1 jenis mamalia, 11 jenis avest dan 8 jenis reptil. Perolehan satwa-satwa ini bukan hanya saja berasal dari hasil sitaan, melainkan juga berasal dari kesadaran masyarakat dengan penyerahan secara sukarela. Jika dibandingkan antara kondisi Kandang Transit dengan jumlah satwa memang masih jauh dari kata memadai, sebab salah satu syarat kandang transit harus berada di daerah minim interaksi manusia, agar perilaku satwa tersebut bisa pulih dan bisa segera dilepasliarkan ke alam bebas sesuai dengan jenis dan sebarannya. Selain itu, perhatian BBKSDA Papua lainnya adalah mengupayakan konservasi di luar habitat alami (konservasi ek-situ) yang sebenarnya bisa melibatkan pihak ketiga sesuai dengan peraturan Menteri Kehutanan RI Nomor P. 31/Menhut/II/2012 tentang Lembaga Konservasi, dimana dimaksudkan bahwa Lembaga konservasi itu ada dua (2), yaitu lembaga konservasi peruntukan umum dan lembaga konservasi peruntukan khusus. Disini kami mendorong pengelolaannya agar bisa dilakukan oleh pihak ketiga. Lebih lanjut dikatakan bahwa Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) adalah milik bersama, sehingga semua pihak termasuk didalamnya yaitu anggota masyarakat harus berpartisipasi dalam upaya pelestariannya. Bahwa dalam hal pengelolaan kawasan konservasi perlu menerapkan keseimbangan antara perlindungan alam dengan budaya daerah setempat, agar terciptanya keharmonisan. Masyarakat perlu diedukasi mengenai pentingnya menjaga kelestarian alam agar upaya konservasi berjalan secara sukarela dan partisipatif. Mengingat akan potensi kehati di Provinsi Papua sangat tinggi, maka perlunya keberadaan lembaga konservasi seperti kebun binatang, taman safari, maupun sanctuary untuk keperluan edukasi serta pelestarian Tumbuhan Satwa Liar (TSL) untuk kemudian akan dikoordinasikan kepada pemda setempat. Penegakan hukum terhadap peredaran TSL menjadi pilihan terakhir setelah upaya persuasif dilakukan. Ditambahkan oleh kepala Bidang Teknis BBKSDA Papua Askhari Dg. Masikki, S.Hut kepada para pihak agar lebih peduli dan menyadari bahwa satwa-satwa endemik sudah semakin langka, dan rusaknya habitat alami mereka serta perburuan liar menjadi penyebab utama menurunnya populasi mereka di alam. Jadi, jika kita memang peduli, kita harus terlibat secara aktif untuk menjaganya, bagaimanapun mereka lebih indah saat hidup bebas di alam liar. Saat ini BBKSDA Papua juga sudah memiliki Call Center dengan nomor telepon/ HP 082398029978 yang bisa dihubungi setiap waktu bila ada informasi yang berkaitan dengan peredaran TSL secara illegal. Sumber : Ir. Timbul Batubara., M.Si - Kepala Balai Besar KSDA Papua
Baca Berita

TNBTS menyelenggarakan Workshop Peningkatan Kapasitas Kelompok Wisata Desa Edelweiss

Wonokitri, 25 Juli 2018. Bertempat di hotel Nadia, Selasa-Rabu (24-25 Juli 2018), Balai Besar Taman Nasional Bromo Tenger Semeru mengadakan peningkatan kapasitas Kelompok Tani Desa Edelweiss. Peningkatan kapasitas kelompok ini mengambil tema Workshop Pengemasan Wisata Desa Edelweiss TNBTS. Tujuan dari workshop ini yaitu meningkatkan kapasitas Kelompok Tani Desa Edelweiss dalam pengemasan wisata desa edelweiss sekaligus strategi pemasarannya hingga peningkatan keterampilan dalam pembuatan souvenir berbasis bunga edelweiss. Peserta kegiatan workshop ini tidak hanya berasal dari Kelompok Tani Desa Edelweiss Hulun Hyang Desa Wonokitri yang mewakili wilayah Kabupaten Pasuruan dan Keleompok Tani Desa Edelweiss Kembang Tana Layu Desa Ngadisari yang mewakili wilayah Kabupaten Probolinggo, tetapi juga dihari perwakilan Pemuda Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang. Hari pertama, workshop ini diisi sambutan dan materi oleh Kepala Balai Besar TNBTS, John Kenedie menyampaikan tema “Berkunjung ke Desa Edelweiss TNBTS”. Pemateri berikutnya yaitu Nurdin Rozak, seorang Akademisi, Praktisi, sekaligus Konsultan Ekowisata yang menyampaikan materi “Pengemasan Ekowisata dan Interpretasi Desa Edelweiss”. Hari kedua, peserta mendapat materi “Pemasaran Desa Edelweiss melalui Jaringan Perhotelan di sekitar TNBTS” yang disampaikan oleh Bagas Indyatmono, Manajer Jiwa Jawa Hotel. Materi berikutnya yaitu “Pemasaran Desa Edelweiss melalui Media Sosial” yang disampaikan oleh Achmad Maulana, travel bolger www.alannobita.com. Materi terakhir yaitu “Pembuatan Souvenir Berbasis Bunga Edelweiss” yang disampaikan oleh Ika Nurul Febrianti, Bungaya Florist serta Bhagas Artha dari Program Studi Seni Rupa, Universitas Brawijaya. Tidak hanya penyampaian materi dan diskusi, pada kesempatan workshop ini peserta juga langsung praktek didampingi oleh pemateri dan instruktur sesuai keahlian masing-masing. Diharapkan Kelompok Tani Desa Edelweiss dari kedua desa setelah ini semakin siap menjelang launching Desa Edelweiss yang akan dikemas menjadi Festival Land of Edelweiss. Sumber : Birama Terang Radityo - Penyuluh Balai Besar TN Bromo Tengger Semeru
Baca Berita

PEH BBKSDA NTT Monitoring Penangkar Rusa

Kupang, 25 Juli 2018. Rusa Timor (Rusa timorensis) adalah satwa dengan persebaran cukup luas di Indonesia, salah satunya di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Sebagai satwa asli Indonesia, Rusa Timor ditetapkan sebagai satwa dilindungi menurut Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999. Balai Besar KSDA NTT sebagai Unit Pelaksana Teknis Konservasi Sumber Daya Alam di Provinsi Nusa Tenggara Timur mempunyai tugas penyelenggaraan konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya di cagar alam, suaka margasatwa, taman wisata alam, dan taman buru serta koordinasi teknis pengelolaan taman hutan raya dan kawasan ekosistem esensial. Dalam pelaksanaan tugas dan fungsi pengelolaan tumbuhan dan satwa liar, perlu dilakukan kegiatan pendataan, monitoring dan evaluasi terhadap penangkar rusa timor. Tujuannya adalah untuk memperoleh data perkembangan Rusa Timor dari setiap penangkar agar berjalan sesuai petunjuk teknis yang telah ditentukan. Selain itu kegiatan ini merupakan wadah sosialisasi serta pembinaan teknis dan administrasi terhadap para penangkar yang ada. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara berkala dalam 1 (satu) tahun yang dimaksudkan agar diperoleh data yang berkesinambungan. Di Provinsi Nusa Tenggara Timur terdapat 27 penangkar (perseorangan maupun koperasi), yang berada di beberapa wilayah Kabupaten/ Kota. Penangkaran ini menjadi upaya pelestarian ex-situ terhadap jenis Rusa Timor. Pada tanggal 24 Juli 2018, tim dari Balai Besar KSDA NTT telah melakukan pendataan, monitoring, dan evaluasi pada 8 unit penangkaran Rusa Timor di wilayah Kota Kupang. Hasil dari kegiatan tersebut adalah diperoleh data perkembangan biakan satwa dari setiap penangkar baik kelahiran maupun kematian, kondisi satwa rusa umumnya sehat, sarana prasarana pendukung penangkar sangat baik (pakan, kandang, pagar, tempat makan, tempat minum). Sumber : Kristina Maria Rapeliga - Balai Besar KSDA NTT
Baca Berita

Aksi TULUS di Taman Nasional Tesso Nilo

Pelalawan, 25 Juli 2018. Penyanyi kondang tanah air yang dikenal dengan nama Tulus kunjungi Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN). Ini kali pertama Tulus kunjungi TNTN membawa misi publikasi mengenai pelestarian lingkungan di Taman Nasional Tesso Nilo Indonesia. Tulus dan tim selama tiga hari penuh (23 - 25 Juli 2018) melakukan kegiatan di TNTN. Kegiatan ini merupakan kerjasama Balai TN. Tesso Nilo dengan WWF Indonesia. Hari pertama kunjungan (23 Juli 2018), seluruh rombongan Tim WWF Indonesia beserta Tim Tulus tiba di Pekanbaru melalui Bandara SSK II pada Pukul 08.00 Wib dan langsung menuju ke Kantor Balai TN. Tesso Nilo di Pangkalan Kerinci yang disambut Kepala Sub Bagian Balai Taman Nasional Tesso Nilo, Bapak Delfi Andra, SP dan Kepala Seksi Pengelolaan Wilayah (SPW) I Lubuk Kembang Bunga (LKB) Bapak Taufiq Haryadi, SP beserta staf. Setelah dari kantor Balai TN. Tesso Nilo, tim WWF dan Tulus langsung menuju ke kawasan TN. Tesso Nilo tepatnya di wilayah SPW I Lubuk Kembang Bunga pada pukul 14.00 Wib. Saat tiba di kawasan TN. Tesso Nilo, Tulus dan tim diberikan penyematan kalung bunga oleh Gajah Sumatera yang bernama Imbo. Selepas penyematan, seluruh Tim melakukan kegiatan pengambilan gambar mengenai simulasi pemasangan GPS Collar dan lainnya. Tulus merasakan paket wisata mahout wanna be atau menjadi pawang gajah. Kegiatan wisata mahout wannabe tersebut berupa kegiatan memandikan gajah, memberi makan gajah serta ikut berpatroli dengan gajah. Dalam kunjungannya di kawasan TN. Tesso Nilo, Tulus dan tim didampingi petugas dari TNTN sambangi fasilitas wisata yang disuguhkan seperti seperti titian nila, guest house bergaya Melayu, serta melakukan penanaman bibit pohon tanaman kehutanan secara bersama-sama. Kunjungan Penyanyi Tulus dan tim merupakan salah satu bagian promosi untuk kawasan TN. Tesso Nilo baik sebagai kawasan konservasi bagi satwa terancam punah harimau sumatera dan gajah sumatera dan juga tempat wisata potensial di provinsi Riau. “Besar harapan TN. Tesso Nilo semoga kunjungan Tim dari artis penyanyi Tulus dapat meningkatkan kunjungan turis dalam negeri ke TN. Tesso Nilo”, Ungkap Kepala SPW I Taufiq Haryadi, SP. Sumber : Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Berita

Si Cantik Kolibri Kembali Diamankan

Jambi, 25 Juli 2018. Tim Gabungan yang melibatkan Balai Gakkum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Wilayah Sumatera dan Balai KSDA Jambi, berhasil menggagalkan upaya perdagangan burung dilindungi. Ada 3 jenis burung yang diamankan pada operasi kali ini yaitu Kolibri Ninja (Leptocoma sperata), Sepah Raja (Aethopyga siparaja) dan Gelatik Wingku (Parus Major) sejumlah 1380 ekor, terdiri dari 1080 ekor Kolibri dan 300 ekor Gelatik. Bus dan supir bus sendiri telah diamankan tim gabungan ke Mako SPORC Brigade harimau Jambi. Penyidik terkait sedang meminta keterangan supir bus guna mengetahui pemilik ribuan burung tersebut dan jaringan perdagangan nya. Nanti nya pelaku akan dikenakan pasal 21 ayat (2) huruf D juncto Pasal 40 ayat (2) UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan acaman sanksi pidana penjara maksimal 5 (lima) tahun dan denda maksimal Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). Burung Kolibri Ninja (Leptocoma sperata), Sepah Raja (Aethopyga siparaja), dan Gelatik Wingku (Parus Major) masuk dalam resiko rendah menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature) yang arti nya burung-burung ini populasi nya tidak terancam di alam liar, meski begitu jika dilakukan perburuan terus menerus bukan tidak mungkin burung-burung ini masuk kedalam resiko tinggi karena populasi nya yang berkurang. Burung-burung ini sejati nya memiliki peran tersendiri bagi alam. Burung Kolibri misal nya, secara alami membantu penyerbukan tanaman karena kebiasaan nya yang berpindah pindah menghisap nectar tanaman. Walaupun burung burung ini dilindungi namun sejati nya dapat dilakukan penangkaran. Penangkaran yang dilakukan dapat bernilai ekonomi sehingga bisa membuka peluang usaha bagi masyarakat yang berminat. Penangkaran burung sendiri harus memperhatikan jenis burung apa yang akan ditangkarkan, ketersediaan pakan, pangsa pasar, dan sebagai nya. Untuk melakukan penangkaran ada baik nya mempelajari jenis burung yang akan ditangkarkan terlebih dahulu dan mencari info tentang burung tersebut, dan yang paling utama adalah perijinan yang harus diperoleh dari BKSDA setempat. Dalam keterangan nya, Ka. Balai KSDA Jambi, Rahmad Saleh menuturkan bahwa “Operasi ini dilakukan oleh tim gabungan pada pukul 03.30 WIB di Jalan Lintas Timur Sumatera dan BKSDA Jambi akan siap siaga selama 24 jam jika diperlukan demi memberantas praktek praktek perdagangan satwa liar yang dilindungi. Mereka ini bukan hanya merugikan negara tapi juga mengancam kelestarian sumber daya hayati.” Beliau menghimbau kepada masyarakat agar dapat melestarikan dan memanfaatkan sumber daya alam yang ada namun jangan berlebihan dalam mengeksploitasi sumber daya tersebut. “Burung-burung ini kan punya fungsi sendiri di alam, jadi ada baik nya kita biarkan mereka bebas melakukan fungsi mereka sendiri.” Ujar Rahmad. Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Duta Asian Games Diajak Ke Taman Nasional Teluk Cenderawasih

Manokwari, 25 Juli 2018. Hajatan Asian Games tidak lama lagi dilaksanakan di Indonesia, tepatnya tanggal 18 Agustus 2018 di dua kota yakni Jakarta dan Palembang. Duta-duta olahraga dari berbagai negara Asia akan hadir di Indonesia. Sebanyak empat puluh lima negara akan berpartisipasi pada pesta olahraga se-Asia ini. Selama enam belas hari mereka akan berlaga dalam empat puluh cabang olah raga. Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih (BBNTC) mengajak para duta Asean Games menyiapkan waktu untuk berkunjung ke kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC). "Banyak spot wisata yang dapat dikunjungi di taman Nasional yang terletak di Provinsi Papua dan Papua Barat", kata Ben G. Saroy, Kepala Balai Besar TNTC. Walaupun letaknya jauh dari Jakarta dan Palembang, TNTC sangat layak untuk menjadi tujuan berwisata para tamu Asian Games. Whale shark di Kwatisore, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua menjadi andalan destinasi wisata TNTC. "Hiu paus bisa dilihat sepanjang waktu di sini, Kita bisa berenang sama-sama dengan mereka," kata Ben. Selain itu ada banyak Spot diving dan snorkeling di TNTC, salah satunya di kepulauan Auri, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, lanjutnya. Untuk masuk ke kawasan TNTC bisa melalui tiga pintu, Soa di Nabire, Aisandami di Teluk Wondama dan Gunung Botak di Manokwari Selatan. Perhelatan Asian Games yang kedua ini setelah tahun 1962 diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan di Indonesia. Diperkirakan ada sekitar 1.500 atlet yang akan hadir. Menjadi peluang bagi daerah-daerah untuk mempromosikan pariwisatanya. Sumber : Balai Besar TN Teluk Cenderawasih
Baca Berita

Media Kompas Ikut Kegiatan Kelompok Masyarakat Di Pajaten

Kuningan, 25 Juli 2018. Monitoring areal rawan kebakaran menjadi agenda kami, Polisi Kehutanan pada Senin, 23 Juli 2018 mengingat sudah masuk musim kemarau. Tahun sebelumnya pada minggu ketiga bulan Juli telah terjadi kebakaran hutan di Blok Pajaten, Batu Saheng, Talaga Remis dengan luas kebakaran kurang lebih 118 hektar maka kegiatan patroli dan monitoring areal rawan kebakaran semakin ditingkatkan. Salah satu areal rawan kebakaran hutan yaitu wilayah Pajaten. Wilayah ini berada di lereng sebelah utara Gunung Ciremai. Dominasi batuan, semak belukar kering dan suhu yang ekstrim menjadikan wilayah ini sangat rawan terjadi kebakaran hutan. Sejak tahun 2015 di wilayah Pajaten ada kegiatan restorasi kerjasama antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan Japan International Cooperation System (JICS). Keseluruhan kegiatan di lapangan melibatkan masyarakat sekitar kawasan yaitu masyarakat Desa Padabeunghar dan Desa Kaduela, Pasawahan, Kuningan serta Desa Cikalahang, Dukupuntang, Cirebon. Ada hal yang spesial pada hari itu, karena kegiatan masyarakat di wilayah Pajaten diikuti rekan wartawan media Kompas Abdulah Fikri Ashari untuk mengetahui lebih jauh upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan yang dilakukam bersama antara Balai TNGC dan masyarakat. Kegiatan yang dilaksanakan yaitu pemeliharaan sekat bakar. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mencegah dan mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan. Hal yang disampaikan oleh Sidik selaku ketua kelompok masyarakat Jaya Pakuan mengatakan “Semakin meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap hutan dan pemeliharaan sekat bakar ini menjadi pembuktian peran serta kelompok masyarakat untuk pencegahan kebakaran hutan, tak hanya masyarakat penyangga saja yang ikut berperan melakukan pencegahan kebakaran hutan namun juga lapisan masyarakat lainnya dengan berbagai latar belakang seperti wartawan yang ikut kegiatan hari ini". Fikri, mengaku senang dan bangga mengikuti kegiatan pemeliharaan sekat bakar. "Ternyata seperti ini ya perjuangan rekan-rekan di lapangan dalam mengantisipasi kebakaran hutan, salut", ucapnya. Bukan hal yang mudah bagi petugas untuk melakukan kegiatan ini sendirian, harus bekerjasama dan bergandengan tangan bersama masyarakat. Sobat Ciremai, saat ini kesadaran masyarakat penyangga akan pentingnya menjaga hutan dengan mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan sudah mulai meningkat, diantaranya dengan ikut patroli pencegahan, pemeliharaan sekat bakar dan pengawasan lokasi rawan kebakaran di Gunung Ciremai. Kita pun juga bisa ikut berpartisipasi mencegah kebakaran hutan loh, dengan tidak membuang puntung rokok sembarangan di kawasan dan memastikan api mati apabila membuat api unggun saat berkemah. Terjadinya kebakaran hutan di kawasan Gunung Ciremai bukan disebabkan oleh faktor alam, namun oleh manusia. Yuk Sobat Ciremai, kita selamatkan hutan dari ancaman kebakaran hutan untuk keberlanjutan kehidupan manusia yang lebih baik. [teks & foto © Oman DP - BTNGC | 072018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Balai TN Ujung Kulon Bentuk Kader Konservasi Tingkat Pemula Tahun 2018

Labuan, 25 Juli 2018. Pembentukan dan kegiatan pelatihan kader konservasi Tingkat Pemula Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) tahun 2018 telah berlangsung pada hari Selasa dan Rabu 24 – 25 Juli di Hotel Karisma Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten. Kegiatan pelatihan diikuti oleh 30 orang peserta berasal dari Desa Rancapinang, Cibadak, Tugu, Mangku Alam, Pada Suka, Waringin Kurung, dan Cimanggu Kecamatan Cimanggu. Desa Kerta Jaya, Kerta Mukti, Tunggal Jaya, Cigorondong, Taman Jaya dan Ujung Jaya Kecamatan Sumur. Desa-desa dan kecamatan tersebut adalah desa-desa dan kecamatan penyanggah kawasan TNUK, juga 2 orang dari Mahasiswa Perguruan Tinggi Mathla’ul Anwar Pandeglang dan 2 orang Mahasiswa dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Serang, kegiataan dibuka langsung oleh Kepala Balai TNUK U. Mamat Rahmat. Pelaksanaan pembentukan kader konservasi tingkat pemula ini diharapkan membawa perubahan terhadap tingkah laku, sikap, dan cara berpikir ke arah yang lebih positif mengenai kegiatan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya sehingga mau berperan aktif di dalamnya. Kepala Balai TNUK U.Mamat Rahmat menyatakan peserta pelatihan calon kader konservasi Taman Nasional Ujung Kulon tahun 2018 dinyatakan lulus semuanya dan berhak mendapatkan Kartu Anggota Kader Konservasi (KTA) dan sertifikat kelulusan. Hal itu disampaikan Kepala Balai dalam acara penutupan kegiatan hari Rabu 25 Juli 2018. “Semuanya peserta didik ternyata layak untuk menjadi kader konservasi, dinyatakan lulus dan berhak untuk mendapatkan kartu anggota kader konservasi dan sertifikat pelatihan, selamat kepada para peserta, juga disampaikan terima kasih kepada panitia yang sudah letih melaksanakan, memotori kegiatan pelatihan ini, kepada semuanya yang telah turut membantu terselenggaranya kegiatan dengan baik dan lancar. Semoga peserta kader konservasi dapat menyampaikan pesan-pesan konservasi dengan baik kepada masyarakat di lingkungannya masing-masing,” kata Kepala Balai menutup acara kegiatan. Sumber : Balai Taman Nasional Ujung Kulon
Baca Berita

Pro Aktif Resort Coban Trisula (RCT) TN Bromo Tengger Semeru Menghadapi Musim Kemarau

Malang, 24 Juli 2018. Sabtu dan Minggu 21-22 Juli 2018 Resort PTN Coban Trisula Seksi PTN II Tumpang Bidang PTN I Pasuruan melaksanakan aktivitas dalam rangka menghadapi musim kemarau dan kegiatan aksi sosial lainnya. Bambang Rudi atau lebih akrab di sapa BR menyampaikan bahwa menghadapi musim kemarau 2018 ini RCT melakukan kegiatan proaktif antisipatif berupa pengecekan dan uji coba mesin semprot air agar pada saat diperlukan mendadak tidak mengalami hambatan atau berfungsi efektif. "Alhamdulillah mesin masih berfungsi dengan baik dan mudah-mudahan bisa efektif saat di butuhkan", demikian sambung BR. Lebih lanjut BR menyampaikan selain pengecekan alat kita melakukan koordinasi dengan Polsek Poncokusumo untuk mengaktifkan kembali peran posko Dalkarhutla yang sudah diresmikan oleh Kapolres Malang pada tahun 2017 lalu. Koordinasi ini mendapat respon positif dari Polsek Poncokusumo yang prinsipnya siap mengaktifkan kembali poskodalkarhutla yang ada di Jemplang RCT tersebut. Tatag Hari Rudhata menambahkan, "kegiatan tanggal 21 dan 22 Juli 2018 tidak hanya persiapan menghadapi kemarau namun juga melaksanakan aktivitas pendukung kegiatan RCT lainnya, diantaranya : Pemasangan dan pengecatan bak sampah di 5 titik yang berpotensi menimbulkan masalah sampah diantaranya di shelter perisitirahatan; pembersihan jalan jarak ijo sebagai jalan masuk kampung jarak ijo sekaligus dapat difungsikan sebagai jalan alternatif menuju jemplang jika terjadi kemacetan di jalur utama; pengukuran dan pemasangan 81 patok areal budidaya terong belanda dalam rangka pemberdayaan masyarakat di zona tradisional; dan pemasangan tiang untuk spanduk informasi di Jemplang. "Kegiatan tersebut kita laksanakan secara partisipatif dengan personil RCT dan masyarakat sebagai bentuk sinergitas antara TNBTS dengan masyarakat sekitar RCT. sinergitas ini akan terus di upayakan dalam bentuk kegiatan yang lebih luas dan lebih bermanfaat untuk TNBTS dan masyarakat sehingga mutualisme antara keduanya dapat memberikan dampak nyata bagi kelestarian TNBTS dan kesejahteraan masyarakat," demikian pungkas Tatag. Sumber : Balai Besar TN Bromo Tengger Semeru
Baca Berita

Polres Aceh Selatan Ringkus Penadah Kulit Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae)

Tapaktuan, 24 Juli 2018. Kepolisian Resort Aceh Selatan berhasil meringkus dua orang penadah kulit Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). Keduanya telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan pihak Polres Aceh Selatan. Sementara 1 orang lagi masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) dan sedang dalam pengejaran. Penangkapan terhadap kedua orang tersangka dilakukan di Kandang, Kecamatan Kluet Selatan, Aceh Selatan Sabtu, (14/7/18). Konferensi pers perkembangan terhadap kasus pembunuhan Harimau Sumatera berlangsung di Aula Mapolres Aceh Selatan Senin, (23/7/18) siang. Agenda dipimpin Kapolres Aceh Selatan AKBP Dedy Sadsono, ST. Kepala SPTN Wilayah II Kluet Utara Teuku Irmansyah, S.Hut.T juga ikut hadir bersama LSM Lingkungan dan awak media. Dalam kesempatan tersebut Kapolres menyampaikan bahwa 2 orang yang ditetapkan sebagai tersangka berinisial SB dan SK, merupakan warga Desa Mendilam, Kecamatan Rundeng, Pemerintahan Kota Subullussalam, Aceh. Sedangkan 1 orang lagi belum diketahui inisialnya (masih dalam pengembangan kasus). Barang bukti yang diamankan yaitu Kulit Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) dalam kondisi utuh. Diperkirakan kulit berasal dari Harimau Sumatera tersebut berjenis kelamin jantan dengan usia ± 10 tahun. Panjang badan mencapai ± 2,5 Meter dan tinggi ± 1 meter. Kepala SPTN Wilayah II Kluet Utara, Teuku Irmansyah, S.Hut, menyampaikan, "kasus pembunuhan Harimau Sumatera ini perlu perhatian dari berbagai pihak, terlepas dari hal itu KLHK berkewajiban menyelesaikan kasus itu sampai tuntas". "Harimau Sumatera adalah salah satu hewan liar yang dilindungi Undang – undang Nomor : 5 Tahun 1990 tentang KSDAE. Bahkan daripada itu satwa lindung ini masuk didalam daftar list appendix 1 CITES artinya status konservasinya terancam punah", pungkasnya. Penangganan kasus perdagangan satwa harimau ini bisa dianggap kado dari polres Aceh Selatan dalam rangka menyambut Hari Harimau sedunia (Global Tiger Day). Bentuk kepedulian, perhatian dan komitmen ini layak disambut hangat. Tentu saja akan lebih spesial jika satwa kharismatik ini bisa hidup aman di hutan tanpa gangguan. Semoga. Sumber : Balai Besar TN Gunung Leuser Penulis : Efa Wahyuni (Petugas BPTN Wil I Tapaktuan) Foto : Ulul Azmi (Petugas BPTN Wil I Tapaktuan)
Baca Berita

Tim Ekspedisi SPW II Baserah TN tesso Nilo Pasang Plang dan Musnahkan Pondok Perambahan

Baserah, 22 Juli 2018. Tim Ekspedisi SPW II Baserah TN. Tesso Nilo menemukan 1 buah pondok illegal logging baru yang diduga sebagai tempat beristirahat pelaku illegal logging saat tengah melaksanakan ekspedisi menggunakan sepeda motor pada hari Minggu, 22 Juli 2018 Pukul 18.00 WIB. Dari temuan pondok yang ditemukan oleh tim, pelaku tidak ditemukan berada di TKP penemuan. Tim ekspedisi SPW II Baserah TN. Tesso Nilo melakukan tindakan pemusnahan pondok tersebut. Pada hari yang sama saat ekspedisi, Tim SPW II Baserah Melakukan penindakan atas dan sosialisasi terhadap masyarakat dusun onangan yang sedang melakukan aktivitas di dalam kawasan TN. Tesso Nilo. Tim lakukan pembinaan kepada warga tersebut dan membuat surat penyataan yang menyatakan tidak boleh melaksanakan kegiatan illegal di dalam kawasan TN. Tesso Nilo. Kegaitan dilanjutkan dengan memasang 2 buah plang pemberitahuan di kawasan hutan tersisa TN. Tesso Nilo. Plang pemberitahuan tersebut berisi tulisan "Anda berada didalam kawasan hutan negara Taman Nasional Tesso Nilo". Pemasangan plang pemberitahuan ini bertujuan untuk memberitahukan kepada masyarakat bahwa mereka berada di dalam kawasan hutan konservasi dan tidak boleh melakukan tindakan-tindakan illegal seperti perambahan dan pembakaran kawasan hutan. “Plang sudah tim pasang sebanyak dua buah semoga menjadi pemberitahuan dan pencegah bagi para pelaku illegal loging dan perambah hutan untuk melancarkan aksinya kembali”, jelas ketua tim ekspedisi SPW II Baserah, Bapak Joni Putra Siregar. Sumber : Balai Taman Nasional tesso Nilo

Menampilkan 7.425–7.440 dari 11.140 publikasi