Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Berpetualang ke Bumi Perkemahan Mercury Sayang Kaak, Gunung Ciremai

Kuningan, 27 Juli 2018. Bumi perkemahan Mercury Sayang Kaak terletak di Blok Cibuluh, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Gunung Ciremai. Lokasi yang berbatasan dengan Desa Tejamulya, Argapura, Majalengka. Untuk menuju lokasi ini akses jalan cukup bagus, dengan pemandangan hamparan terasering bawang dan sayuran lain. Tempat ini akan menyenangkan sekali untuk penyuka kegiatan “outdoor” dan kegiatan di alam terbuka. Bukit Mercury Sayang Kaak ini akan menjadi salah satu tempat favorit untuk liburan dengan suasana alam, diselimuti angin sejuk, dan pemandangan bukit serta pohon pinus. Momen tidak terlupakan bersama teman, sahabat bahkan keluarga dan sekaligus dapat menghilangkan rasa bosan. Untuk yang hobi gowes, di sini juga bisa menjadi salah satu tempat yang paling asik untuk kegiatan gowes. Lokasi bumi perkemahan ini berada di ketinggian 1600 mdpl menyuguhkan pemandangan Eksotik yang memanjakan mata. Pengelola sudah mempersiapkan paket ekowisata, salah satunya adalah "kemah ala suku indian". Mengenal dan menikmati alam sembari mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal sebagai pelaku pengelola wisata alam di Taman Nasional Gunung Ciremai. [teks © Gandi – BTNGC & foto © MPGC - Bukit Mercury Sayang Kaak| 072018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Aksi Sapta Pesona di Dermaga Kereng Bangkirai

Palangkaraya, 27 Juli 2018. Pada tanggal 26 Juli 2018, di Dermaga Kereng Bangkirai yang merupakan pintu utama memasuki kawasan TN Sebangau digelar Aksi Sapta Pesona pada tanggal 26 Juli 2018. Aksi merupakan salah satu program prioritas dari Kementerian Pariwisata yang ditindaklanjuti oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalteng sebagai salah satu mitra Balai TN Sebangau dalam mengembangkan wisata alam. Dalam sambutan nya pada acara pembukaan , Bapak Drs. Yuel Tanggara selaku Staf Ahli Gubernur Bidang Kemasyarakatan SDM menyampaikan bahwa dengan adanya Aksi Sapta Pesona diharapkan meningkatkan kesadaran masyarakat sekitar maupun pengunjung untuk menjaga kebersihan, kenyamanan, ketertiban dan keamanan di sekitar Dermaga Kereng Bangkirai. Aksi Sapta Pesona ini diikuti sekitar 200 orang yang berasal dari berbagai elemen masyarakat antara lain Kelompok Sadar Wisata, Dewan Adat Dayak, ASITA, HPI, Masyarakat dan Pedagang sekitar dermaga Kereng Bangkirai, Struktur Organisasi Perangkat Daerah seperti Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Perhubungan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Perdagangan dan Peindustrian. Aksi Sapta Pesona dimulai dengan pembagian peralatan seperti sapu lidi, tong sampah, gerobak sampah dan kantong sampah kemudian dilanjutkan dengan pembersihan sampah di sekitar Dermaga Kereng Bangkirai. Cuaca panas tidak menyurutkan semangat peserta untuk mengambil sampah plastik yang bertebaran di sekitar dermaga. Aksi Sapta Pesona berakhir kurang lebih pada pukul 12.00, namun dalam pidato dalam pada saat penutupan acara, Kepala Bidang Pengembangan Destinasi dan Kelembagaan Pariwisata berpesan bahwa sapta pesona merupakan elemen penting pengembangan wisata alam sehingga kegiatan menjaga ketertiban dan kebersihan dermaga Kereng Bangkirai harus terus menerus dilakukan agar dimasa mendatang Dermaga Kereng Bangkirai yang saat ini jumlah pengunjungnya sudah meningkat secara signifikan bisa menjadi destinasi wisata unggulan di Provinsi Kalteng. Sumber : Balai Taman Nasional Sebangau
Baca Berita

Inventarisasi Kekayaan Alam Taman Nasional Batang Gadis Di Seksi PTN Wilayah II Kotanopan

Hutan memiliki manfaat ekonomi yang sangat tinggi, hal ini dapat dibuktikan dengan hasil hutan yang beraneka ragam sehingga kebutuhan akan hasil hutan sangatlah diperlukan oleh masyarakat disekitar kawasan hutan terutama di dunia usaha dan wisata. Tanpa adanya kontrol oleh pemerintah dalam hal ini Balai Taman Nasional Batang Gadis sebagai Unit Pelaksana Teknis di daerah menjadi garda terdepan dalam melaksanakan pengamanan hutan. Desa Pastap Julu berada di Kecamatan Tambangan dengan ketinggian > 700 mdpl dengan jenis hutan hujan tropis. Desa Pastap Julu berdekatan dengan Hutan Lindung dan Taman Nasional Batang Gadis, mayoritas warga sebagai petani baik pertanian dan perkebunan Kopi , dengan pemanfaatan potensi yang ada baik dari segi keanekaragaman hayati, fauna dan flora , pastap julu dipilih sebagai lokasi inventarisasi kekayaan alam . lokasi ini juga dipilih untuk mendukung eksowisata desa Pastap julu. Selain melaksanakan kegiatan Inventarisasi ke dalam kawasan hutan Taman Nasional Batang Gadis tim melakukan sosialisasi dengan masyarakat desa penyangga dengan maksud melakukan pendekatan dan memberikan pemahaman tentang arti penting dari fungsi hutan dan satwa. Inventarisasi kekayaan alam dilaksanakan bersama dengan Mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara. Metode pelaksanaan kegiatan Inventarisasi dilakukan berdasarkan rencana kerja, baik dari peralatan seperti peta kerja dan alat tekhnis. Tim berjalan kaki menyusuri Kawasan Hutan Taman Nasional Batang Gadis, mencatat segala bentuk pengamatan dan pengambilan track dan waypoint dengan Plot pengambilan data untuk Jernang 10m Space 10m Invent dan Untuk Bambu 20m Space 20m Invent sedangkan Untuk Aren Dan Anggrek Hanya Mengambil titik Koordinat Saja. Tujuan dari kegiatan Inventarisasi kekayaan Alam di Kawasan Taman Nasional Batang Gadis adalah kegiatan pendataan keaneka ragaman tumbuhan Jenis Bambu, Anggrek dan Aren begitu juga dengan Hamparan Jernang, yang ditujukan guna mendapatkan data tentang kekayaan dan keragaman Tumbuhan di Kawasan tradisional, Taman Nasional Batang Gadis. Sumber : Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Berita

Forum Ciremai dan Pengelola Wisata Cegah Kebakaran Hutan

Kuningan, 27 Juli 2018. Bukit Seribu Bintang pada Kamis 26 Juli 2018 kedatangan Forum Ciremai dan kelompok pengelola wisata yang ada di TN Gunung Ciremai seperti Lambosir, Ipukan, Jalur Pendakian Palutungan (Kuningan) dan Situ Sangian dan Cidewata (Majalengka). Kepala Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) turut hadir bersama Polisi Kehutanan TNGC, Satuan Polhut Reaksi Cepat(SPORC) dari Ditjen PPH (Pengamanan dan Penegakan Hukum) seksi wilayah I Jakarta, Kabid Pariwisata Kab. Majalengka, mahasiswa praktek kerja lapang dari Institut Pertanian Bogor dan Universitas Sumatera Utara. Kegiatan berupa diskusi, penjagaan dan patroli pencegahan kebakaran hutan di areal sekitar kawasan TNGC yang rawan kebakaran hutan diiringi musik kecapi dari Situ Sangiang. Walau dingin tidak menyurutkan semangat untuk melakukan penjagaan dan patroli di sekitar Bukit Seribu Bintang, sebagai bukti kepedulian dan tanggung jawab dari para pengelola dalam menjaga kawasan dari kebakaran hutan dikarenakan musim kemarau sudah tiba. "Inilah yang dimaksud bahwa kawasan adalah milik semua orang, bukan hanya milik petugas" tegas Kuswandono, Kepala Balai TNGC sembari tersenyum. Pertemuan Ini adalah awal dari kegiatan pencegahan kebakaran hutan, kemudian dilanjutkan dengan patroli. Lokasi patroli diawali dari Bukit Seribu Bintang. Tim SPORC yang hadir sebanyak 10 orang mengungkapkan kekaguman akan peran aktif masyarakat penyangga kawasan. "Sangat positif, tanpa dikomando masyarakat sudah beraksi secara sukarela, patut dicontoh" ucap Sadrah selaku pimpinan regu SPORC. Pertemuan ini akan dilakukan rutin setiap minggu nya dan akan bergiliran dilakukan di setiap tempat di objek wisata yang ada di TNGC, terutama utk daerah-daerah yang rawan kebakaran hutan [teks & foto © mendry-BTNGC | 072018]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Perdana!!! Ditemukan Bukti Pendaratan Si Tuntong Langka

Syaban, Mulyadi dan Arief, staf outsourcing yang setia bertugas di salah satu resort terjauh di Taman Nasional Tanjung Puting ini dengan semangat merunut jejak yang berserak dipantai malam itu. Penanda pendaratan yang ditemukan malam ini sangat lain dari biasanya, Tak ada bekas seretan perut yang mengarah ke bibir pantai, jejaknya cenderung seperti gerakan acak hewan berkuku, dan yang pasti tidak sejelas tanda-tanda gerakan pendaratan penyu sisik. Mereka segera bereaksi berdasarkan prosedur yang telah dipahami, Data, Catat, Dokumentasi, Pindahkan, laporkan. Resort Sungai Cabang, kembali menambahkan catatan penemuan yang membanggakan bagi reputasi Taman Nasional Tanjung Puting sebagai habitat ideal bagi beragam hidupan liar langka. Rabu (25/7/2018) lalu, petugas resort menemukan sarang Tuntong Laut (Batagur borneoensis). Setelah sebelumnya hanya membaca bahwa wilayah ini juga ideal bagi habitat satwa Tuntong Laut serta beberapa kali melihat tanda-tanda serupa, akhirnya ditemukan bukti shahih keberadaannya di Resort Sungai Cabang. Hampir delapan tahun bergiat di konservasi penyu, baru kali ini Resort Sungai Cabang menemukan sarang aktif Tuntong Laut berisi sekitar lima belas butir telur. Status Tuntong Laut secara global diakui oleh IUCN Redlist (Critically Endangered), Wildlife Conservation Society dan Turtle Conservation Coalition, (salah satu dari 25 Penyu dan Kura-kura Paling Terancam Punah di dunia), CITES (Appendix II). Di negara kita sendiri, satwa ini juga dilindungi berdasarkan PP. No. 7 Tahun 1999 dan Peraturan Menteri LHK P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018. Dalam Arahan Strategis Konservasi Spesies Nasional 2008-2018, satwa Tuntong Laut menjadi salah satu prioritas untuk dikonservasi dan diteliti lebih jauh. Bukti pendaratan dan bersarangnya satwa langka ini kian menambah alasan Taman Nasional Tanjung Puting menjadi Kawasan bernilai penting bagi kelangsungan hidupan liar di Indonesia dan di dunia, sehingga pengelolaan keanekaragaman hayati semestinya dapat ditingkatkan di masa yang akan datang. Telur Tuntong telah dipindahkan dengan baik ke fasilitas penetasan demi keamanan dari ancaman pemburu dan pemangsa, semoga 76-82 hari kedepan bermunculan tukik-tukik lucu ke permukaan dan memperkaya hidupan liar di Taman Nasional Tanjung Puting. Sumber : Penulis: Androw Mikho Sion. Editor: Efan Ekananda, Balai Taman Nasional Tanjung Puting
Baca Berita

Kolaboratiif Preemtif Sistem Taman Nasional Batang Gadis

Mandailing Natal – 26 Juli 2018, Seperti yang kita ketahui kegiatan preemtif yaitu "kegiatan yang ditujukan guna mencegah, menghilamgkan, mengurangi, menutup niat seseorang atau kelompok untuk melakukan tindak pidana kehutanan". kegiatan ini merupakan hal yang wajib bagi Balai Taman Nasional Batang Gadis didalam melakukan perlindungan dan pengamanan hutan. Peranan dalam melakukan kegiatan preemtif sudah menjadi culture dan passion bagi setiap individu petugas BTNBG. Sudah menjadi kewajiban petugas baik dalam kegiatan apapun yang bersentuhan dengan masyarakat selalu mengkampanyekan kegiatan preemtif seperti lokakarya, musrembang, diskusi kelompok masyarakat dan bahkan ke sekolah-sekolah yang ada di kabupaten Mandailing Natal. Setiap pintu masuk kawasan Taman Nasional Batang Gadis terdapat plang dan spanduk berisikan larangan dan ancaman pidana tindak pidana kehutanan. Preemtif sistem ini berjalan dengan baik sehingga aktivitas tindak pidana kehutan di Balai Taman Nasional Batang Gadis sangat minim. Preemtif sistem ini berhasil dilaksanakan dan menular ke beberapa desa seperti Desa Pagar Gunung dan Desa Alaha Kae yang membuat peraturan desa mengenai larangan menembak burung dan berburu satwa pada kawasan hutan. komitmen desa untuk menjaga kawasan hutan sudah menjadi culture dan menjadi peraturan kearifan lokal masyarakat. Kolaboratif preemtif sistem antara BTNBG dan Desa menjadi dasar untuk membuat Tugu Preemtif yang insya allah akan dilaksanakan tahun 2019. Sumber: BTN Batang Gadis
Baca Berita

Suncheon City Korea Tawarkan Kerjasama Balai TN Berbak Sembilang

Palembang, 26 Juli 2018. Disela kegiatan 30th session of the International Co-ordinating Council of the Man and Biosphere Programe 23-28 Juli 2018 di Palembang, Balai Taman Nasional Berbak dan Sembilang mendapatkan kehormatan tawaran dalam rangka kerjasama pengelolaan kawasan dengan pihak Suncheon City Korea. Hal ini dilatarbelakangi adanya kesamaan sebagai Ramsar Site dan Biosphere Reserve Site yang baru saja dideklarasikan pada sidang ke 30 ICC MAB di Palembang. Pertemuan dilaksanakan pada tanggal 25 Juli 2018 di Novotel Hotel Palembang yang dihadiri Vice Mayor of Suncheon City Korea, Direktur Bina Pengelolaan Ekosistem Essensial Direktorat Jenderal KSDAE, Kepala Balai Taman Nasional Berbak dan Sembilang dan Kepala Balai KSDA Provinsi Sumatera Selatan. Dari pertemuan ini diharapkan adanya kerjasama pengelolaan kawasan lahan basah baik sebagai Ramsar Site dan Biosphere Reserve. Pada kesempatan ini juga pihak Suncheon City Korea mengundang Direktur Bina Pengelolaan Ekosistem Essensial Direktorat Jenderal KSDAE dan Kepala Balai Taman Nasional Berbak dan Sembilang, untuk hadir pada acara Simposium Lahan Basah yang direncanakan pada bulan November 2018 di Suncheon City korea. Sumber : Balai Taman Nasional Berbak dan Sembilang
Baca Berita

Budidaya Lebah Madu Desa Embawang

Embawang, 26 Juli 2018. Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Lahat Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan (BKSDA Sumsel) terus berupaya mendorong masyarakat desa penyangga untuk mengembangkan usaha ekonomi produktif. Upaya tersebut selain untuk meningkatkan kemauan masyarakat mengembangkan perekonomian desa juga sebagai strategi untuk mengurangi aktivitas masyarakat dalam kawasan konservasi yang cenderung menurunkan kualitas dan fungsi kawasan. Pertimbangan tersebut yang mendasari SKW II Lahat BKSDA Sumsel menjadikan Desa Embawang sebagai target pengembangan budidaya lebah madu dengan dialog bersama perangkat desa,tokoh masyarakat,pembina karang taruna, dan masyarakat desa untuk menggali minat dan kemauan masyarakat juga melakukan pengecekan lokasi yang memenuhi kriteria untuk pengembagan budidaya lebah madu (25/7). Masyarakat Desa Embawang sangat antusias menyambut rencana pengembangan budidaya lebah madu tersebut dan berkomitmen apabila berpotensi meningkatkan perekonomian desa maka perangkat desa,tokoh masyarakat,dan pembina karang taruna akan mendorong kemandirian desa melalui dana desa untuk lebih mengembangkan budidaya lebah madu dengan harapan kedepan desa penyangga kawasan SM Isau-Isau tersebut menjadi salah satu sentra penghasil madu. Desa Embawang terletak di Kecamatan Tanjung Agung Kabupaten Muara Enim merupakan desa yang berbatasan langsung dengan kawasan Suaka Margasatwa (SM) Isau-Isau. Desa penyangga dengan jumlah penduduk sebanyak 1.200 jiwa dari 350 kk memiliki potensi untuk didorong kemauannya dalam mengembangkan ekonomi produktif mengingat mayoritas pendapatan masyarakatnya dari sektor pertanian yang menggantungkan kebutuhan akan air dari kawasan SM Isau-Isau. Sebuah kondisi yang menempatkan upaya penyadartahuan akan peran penting kawasan dan menjadikan masyarakat sebagai mitra dalam perlindungan SM Isau-Isau menjadi strategis. Sumber : Wahid Nurrudin - Pengendali Ekosistem Hutan Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

BBKSDA NTT Menerima Pau Rewong Terima Kasi Masyarakat Adat Gendang Ndilek

Kupang - 26 Juli 2018, Setelah menempuh perjalanan ± 70 Km, perwakilan dari Masyarakat Adat Gendang Ndilek (Damianus Mantut dan Remigius Nurdin) bersama Kepala Desa Wejang Mawe (Raimundus Sali) dan Ketua Kelompok Tani Lestari (Alfons Jitang) berkunjung ke kantor Bidang KSDA Wilayah II untuk menyampaikan Pau Rewong Terima Kasi dengan menyerahkan Manuk (ayam jantan) dan Tuak (bir) sebagai ungkapan syukur dan ucapan terima kasih secara adat kepada pihak Balai Besar KSDA NTT atas kegiatan pemberdayaan dan pendampingan kepada masyarakat yang telah dilaksanakan selama ini. Dalam kehidupan masyarakat Manggarai, penyerahan tuak atau disebut sebagai tuak curu jika diterjemahkan secara harfiah adalah simbol penjemputan atau penerimaan secara ikhlas atas persetujuan arwah nenek moyang. Dalam penerimaan adat tersebut, dari Bidang KSDA Wilayah II menyampaikan bahwa pendampingan akan terus dilakukan oleh BBKSDA NTT, baik oleh tenaga fungsional. Personil RKW TWA Ruteng Wilayah II, Bakti Rimbawan KPHK Ruteng. Keberhasilan pemberdayaan masyarakat tidak terlepas dari keterlibatan berbagai pihak dalam posisi yang seimbang, saling memperkuat, dan saling menghargai antara satu sama lainnya. Disamping itu, besar harapan BBKSDA NTT pemberdayaan masyarakat yang dilakukan dapat meningkatkan keterampilan dan kesejahteraan masyarakat Desa Wejang Mawe, khususnya Kelompok Tani Sadar Lestari. Untuk diketahui bahwa melalui Surat Keputusan Dirjen KSDAE No. SK.80/KSDAE/SET/KSA.1/2/2017, tanggal 20 Februari 2017, Desa Wejang Mawe merupakan salah satu Desa Binaan di Daerah Penyangga Kawasan Konservasi TWA Ruteng. Jenis kegiatan yang dilakukan adalah pengolahan hasil pertanian, yaitu pengolahan kacang kedelai dan pembuatan sale pisang. Selain pendampingan, BBKSDA NTT telah menyerahkan bantuan peralatan pada tahun 2017. Saat ini hasil kelompok yaitu berupa tahu dan tempe berjalan baik dan dalam tahap pemasaran. #Juna_Mardani Sumber : BBKSDA NTT
Baca Berita

Bayi Otan Lahir di Sungai Pengian

Tebo - Seekor Orangutan (Pongo abelii) bernama Suro berumur 11 tahun asal Bukit Lawang Sumatera Utara, berhasil melahirkan bayi jantan pada pukul 7 pagi (2/7). Orangutan Suro tersebut melahirkan didalam kandang karantina SORC Sungai Pengian. Setelah 1 jam pasca melahirkan Orangutan Suro terlihat masih belum melepaskan ari ari, pada saat sore hari ari ari baru terlepas dan Orangutan sudah mulai menggendong anak nya. Saat ini Orangutan Suro masih dalam pantauan intensif hingga keadaan nya cukup pulih dan memungkinkan untuk dilepas kembali ke habitat nya. Pada 13 Juli 2018, Orangutan Suro dimasukkan ke kandang untuk dilakukan operasi pengangkatan (infeksi nanah akibat pecah nya chip transmitter), operasi baru bisa dilakukan setelah melihat kondisi Orangutan lebih lanjut, menunggu masa pemulihan pasca operasi. Dalam habitat nya di alam liar, Orangutan memiliki fungsi sebagai penebar benih tumbuhan secara alami. Kebiasaan Orangutan yang suka membuang biji biji tumbuhan di sembarang tempat di hutan membuat biji biji tersebut dapat tumbuh menjadi pohon pohon baru. Keberadaan Orangutan saat ini sangat terancam, Orangutan masuk dalam Appendix I dalam CITES yang arti nya dilarang untuk perdagangan komersial internasional karena sangat rentan terhadap kepunahan), menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature) Orangutan sendiri masuk dalam kategori kritis (Critically Endangered). IUCN sendiri menyatakan bahwa dalam 75 tahun terakhir populasi Orangutan berkurang sebanyak 80%. Kepala Seksi Wilayah II, Wawan Gunawan menuturkan “Kelahiran Orangutan ini merupakan kejadian positif yang kita nantikan, ditengah menurun nya populasi Orangutan. Kita harus terus melakukan pelestarian alam, dalam bentuk apapun agar kelangsungan hidup satwa maupun tumbuhan terus terjaga kedepan nya.” Beliau menambahkan “Tim BKSDA Jambi akan terus siap siaga jika sewaktu waktu dibutuhkan.” Sumber: BKSDA Jambi
Baca Berita

Semangat Sosialisasi E-Kinerja BBKSDA Sumut

Medan, 26 Juli 2018. Penilaian kinerja PNS, setiap PNS wajib mengisi E-Kinerja berupa kegiatan-kegiatan harian yang menjadi dasar pembayaran tunjangan kinerja (tunkin). Berdasarkan surat edaran Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan No : SE.12/SETJEN/ROPEG/PEG.3/6/2018 tanggal 29 Juni 2018 tentang penerapan aplikasi E-Kinerja dilingkungan Kementerian LHK berlaku secara efektif mulai bulan Juli 2018. Balai Besar KSDA Sumatera Utara mengundang kepala Sub Bagian Administrasi Kepegawaian Setditjen KSDAE sosialisasi terkait e-kinerja. Bertempat di ruang rapat Balai Besar KSDA Sumatera Utara di hadiri Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, dan Balai Taman Nasional Batang Gadis. Acara dibuka secara resmi Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara Dr. Ir. Hotmauli Sianturi,M.Sc.For. “Berdasarkan Surat Edaran Setjen bahwa pembayaran tunkin harus berdasarkan hasil dari E-Kinerja, mengingat di balai tidak ada yang mengerti tatacara pengisian dari aplikasi E-Kinerja tersebut maka saya meminta Sekditjen untuk dapat menjelaskan atau semacam coaching (mengajari) agar teman-teman tidak kewalahan untuk mengisi aplikasi tersebut”. Ujar Hotmauli. Agenda berikutnya pemaparan E-Kinerja oleh Joko Prastio,A.Md selaku kepala Sub Bagian Administrasi Kepegawaian yang menjelaskan tentang syarat dan ketentuan penggunaan aplikasi E-Kinerja.(ade) Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Hari Mangrove Sedunia : Restorasi Mangrove Tanggung Jawab Semua Pihak

Jakarta, 26 Juli 2018. Salah satu ekosistem mangrove yang masih tersisa di Ibukota Negara Indonesia adalah Kelompok Hutan Angke Kapuk terdiri dari Suaka Margasatwa Muara Angke, Taman Wisata Alam Angke Kapuk, dan Hutan Lindung. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Balai KSDA Jakarta fokus untuk melestarikan dan memanfaatkan potensi mangrove dengan mengajak keterlibatan berbagai pihak, salah satunya Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN). YKAN telah bekerjasama dengan para pemangku kepentingan lainnya menginisiasi dan memprakarsai aliansi dengan nama Mangrove Ecosystem Restoration Alliances (MERA). Memperingati Hari Mangrove Sedunia yang jatuh pada tanggal 26 Juli 2018, Balai KSDA Jakarta bersama dengan YKAN melaksanakan serangkaian kegiatan guna mendukung kelestarian ekosistem mangrove di Indonesia yang dilaksanakan di Taman Wisata ALam Angke Kapuk antara lain Diskusi interaktif yang mengahadirkan Narasumber dari pemerintah, akademis, pakar, praktisi dan perwakilan sektor swasta; Penandatanganan perjanjian kerjasama Balai KSDA Jakarta dengan YKAN; Penandatanganan dukungan pihak swasta kepada program MERA; Penganugerahan penghargaan kepada pelestari mangrove dan Penanaman mangrove secara simbolik dimulainya kemitraan MERA yang dilakukan oleh Dirjen KSDAE, Kepala Balai KSDA Jakarta, YKAN serta pihak swasta Poin penting hasil dikusi interaktif dalam peringatan Mangrove Sedunia ini adalah pentingnya Kolaborasi, dimana untuk untuk bisa berjalannya kolaborasi perlu adanya mutualisme dari semua stakeholder. Hutan Mangrove memiliki tugas fungsi ekologis yang signifikan, baik bagi manusia maupun alam. Ekosistem ini membantu mencegah erosi dengan menstabilkan garis pantai, melindungi masyarakat dari badan dan banjir untuk mengatasi perubahan iklim serta menyimpan sejumlah besar karbon. Sumber : Dadang Edi Rochaedi, S.P - Sub Direktorat Pemulihan Ekosistem Kawasan Konservasi
Baca Berita

Menebar Pesona TN Bantimurung Bulusarauang Melalui Pameran

Maros, 25 Juli 2018. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung turut berpartisipasi pada pameran Pekan Lingkungan Hidup dan Kehutanan ke-22 di Jakarta Convention Center yang digelar pada tanggal 19 – 21 Juli 2018 silam. Pameran ini sebagai sarana promosi dan publikasi berbagai produk dan jasa di bidang lingkungan dan kehutanan serta sebagai sarana edukasi kepada masyarakat akan pentingnya menjaga alam. Sebanyak 48 peserta pameran terlibat dari berbagai instansi pemerintahan, lembaga non pemerintahan, dan sejumlah perusahaan swasta. Sekertaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) membuka pekan event kali ini secara resmi. “Mari satukan tekad menjaga lingkungan tetap bersih untuk alam yang lebih baik,” ajakan Bambang Hendroyono, Sekjen Kementerian LHK dalam sambutannya. Tak hanya pameran, kegiatan lain seperti seminar, talkshow, eco driving, dan aneka lomba untuk anak-anak turut digelar. Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung menampilkan pesona alam yang terkemas apik dalam The Seven Wonders. Tujuh site wisata unggulan taman nasional yang menyajikan keragaman flora fauna berpadu keunikan alam yang memesona. Booth Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung menarik perhatian pengunjung. Mereka tertarik mengetahui lebih jauh potensi wisatanya. Tak jarang dari mereka berswafoto seolah-olah berada di atas Helena Sky Bridge. Pengunjung begitu terkesan dengan keindahan alam yang ditampilkan, berharap suatu saat bisa berkunjung ke taman nasional ini. Ibu Menteri LHK menyempatkan diri mengunjungi booth Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Di lain waktu DR. Dewi Motik juga bertandang ke stan. Ini adalah hadiah bagi personil yang sedang bertugas. Semoga melalui event ini informasi keindahan alam taman nasional terus terngiang khususnya visi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung menjadi ekowisata karst dunia kelak terwujud. Sumber : Puteri Cenderawasih – PEH Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

Beruang Madu yang Terjerat Berhasil Dibebaskan Oleh Tim Rescue Balai Besar KSDA Riau

Pekanbaru, 25 juli 2018. Sabtu (21/7) pukul 13.00 WIB, Reskrimsus Polres Indragiri Hilir melaporkan tentang adanya satwa liar Beruang madu (Helarctos malayanus) yang terjerat. Kepala Bidang KSDA Wilayah l meneruskan laporan tersebut kepada Kepala Balai Besar KSDA Riau yang selanjutnya Kepala Balai Besar memerintahkan segera menurunkan Tim Rescue menuju TKP. Jarak ke TKP ditempuh dalam waktu sekitar 8 jam melalui jalan darat dan 1 jam menggunakan perahu. Dengan dipimpin oleh Kepala Seksi Wilayah l, Laskar Jaya Permana dan anggota Polhut senior Putrapper, Pirmansyah, Suslamat, dan Fadly Rafdiansyah Tim Rescue bergerak cepat ke Tembilahan. Minggu, sekitar pukul 05.00 WIB Tim tiba di Tembilahan dan langsung berkoordinasi dengan Polres Indragiri Hilir. TKP masih berada pada jarak 1 jam dengan menggunakan perahu, tepatnya di Parit 10 Mogok, Desa Sungai Junjangan Kec. Batang Tuaka Kab. Indragiri Hilir. Dari kronologis kejadian diketahui bahwa seorang warga bernama Giatman Sinaga pada hari Sabtu, pukul 06.30 WIB menemukan seekor Beruang madu terkena jerat di daerah Parit 10 Mogok RT 10 di depan pekarangan Sdr. Bejo di Desa Sungai Junjangan Kec. Batang Tuaka. Karena Giatman Sinaga mengetahui bahwa satwa tersebut adalah salah satu satwa yang dilindungi, maka Giatman Sinaga melapor ke Polres Indragiri Hilir. Tiba di TKP, Tim Rescue segera bekerja dengan cermat membebaskan satwa tersebut dari jeratan. Selanjutnya Tim dibantu warga mengevakuasi beruang tersebut ke perahu. Karena hari sudah mulai gelap maka Tim bergerak cepat membawa Beruang madu berwarna hitam, berkelamin betina, berumur kurang lebih 4 tahun tersebut ke kandang evakuasi di Tembilahan. Akhirnya pada hari Senin, 23 Juli 2018 pukul 05.00 WIB, Beruang madu telah tiba di Klinik Transit dan diserahkan kepada perwakilan Tim Medis Drh. Danang Estu Bagio bersama perawat satwa. Pasca pengobatan dan pemulihan trauma oleh Tim Medis Balai Besar KSDA Riau, satwa akan segera dilepasliarkan kembali ke habitatnya sebagaimana satwa yang lain yang telah ditangani sebelumnya. Kepala Balai Besar KSDA Riau, Suharyono mengucapkan terima kasih atas kesadaran masyarakat dan jajaran Polres Indragiri Hilir yang merespon cepat dalam Tim Rescue satwa terpadu ini. Tidak lupa beliau juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada para awak media yang secara langsung maupun tidak langsung ikut mensosialisasikan tentang satwa yang dilindungi berdasarkan Undang undang Nomor 5 Tahun 1990 dan PP Nomor 7 Tahun 1999 tersebut. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Betung Kerihun Danau Sentarum Kapuas Hulu, Resmi Dikukuhkan menjadi Cagar Biosfer Baru

Palembang, 25 Juli 2018. Hari ini merupakan hari yang cukup bersejarah bagi Masyarakat Kabupaten Kapuas Hulu dimana pada sidang ke 30 International Coordinating Council (ICC) Man and Biosphere (MAB) Unesco di Palembang, Taman Nasional Betung Kerihun dan Taman Nasional Danau Sentarum serta Kabupaten Kapuas Hulu dikukuhkan menjadi Cagar Biosfer baru dengan nama Cagar Biosfer Betung Kerihun Danau Sentrum Kapuas Hulu. Tepat pukul 16.30 WIB. Bapak Bupati Kapuas Hulu A.M Nasir membacakan pernyataan sebagai penerima sertifikat cagar biosfer dari Man and Biosphere UNESCO. Bapak Bupati menegaskan, “ini merupakan bukti komitment Kabupaten Kapuas Hulu menjaga kelestarian alam sehingga mendapatkan dukungan dan pengakuan internasional. Semoga kedepaan dengan status baru memberikan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat Kabupaten Kapuas Hulu”. “Atas nama Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu, saya sangat mendukung dan bangga bahwa Kabupaten Kapuas Hulu telah dinobatkan menjadi salah satu cagar biosfer yakni Cagar Biosfer Betung Kerihun Danau Sentarum Kapuas Hulu”. Ditetapkannya Betung Kerihun Danau Sentarum Kapuas Hulu sebagai Cagar Biosfer bersamaan dengan 23 Cagar Biosfer lainnya dari 19 Negara. Prof. Dr. Ir. Y Purwanto., DEA sebagai Direktur MAB-Indonesia menyambut baik atas pengukuhan, “ini merupakan langkah baik bagi Kabupaten Kapuas Hulu dan Taman Nasional Betung Kerihun dan Taman Nasional Danau Sentarum, diharapkan dengan status baru menjadikan “Branding Baru” untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, kualitas hidup dan kondisi lingkungan yang lebih baik juga mendukung status Kapuas Hulu sebagai Kabupaten Konservasi”. Sebagai mana diketahui bahwa Kabupaten Kapuas Hulu berada di Propinsi Kalimantan Barat Indonesia, telah ditetapkan sebagai Kabupaten Konservasi pada tahun 2003 dimana memiliki areal kurang lebih 65% adalah hutan baik hutan konservasi, lindung maupun hutan produksi. Ratusan ribu penduduk di Kapuas Hulu sangat menggantungkan kehidupannya terhadap kelestarian hutan, baik pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK) seperti gaharu, madu, maupun potensi satwanya seperti ikan awana, hingga potensi airnya serta wisata. Keterpaduan hidup antara masyarakat Kapuas Hulu dengan Taman Nasional baik Betung Kerihun maupun Danau Sentarum sebagai Zona Inti Cagar Biosfer, Hutan Lindung dan Hutan produksi sebagai Zona Penyangga, serta kawasan Areal Pengunaan Lainnya sebagai Zona Transisi sangatlah harmonis, dimana masyarakat dapat memanfaatkan dan mengelola hutan konservasi tersebut sesuai kaidah konservasi sehingga lestari. Keharmonisan ini patut diapresiasi oleh berbagai kalangan baik nasional maupun internasional dan kedepannya Kabupaten Kapuas Hulu dapat dijadikan contoh bagi kabupaten lain untuk keterpaduan pembangunan ini. Status cagar biosfer menegaskan pengakuan dunia internasional dan penyemangat bagi kami untuk terus melestarikan dan menjaga Bumi Uncak Kapuas dari kerusakan akibat ulah manusia. Ditambahkan oleh Kepala Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum Ir. Arief Mahmud M.Si yang turut mendampingi Bupati Kapus Hulu, “Kami berharap dengan status tersebut akan melestarikan dua Taman Nasional Betung Kerihun dan Taman Nasional Danau Sentarum, dan memastikan keharmoniasan hubungan masyarakat Kapuas Hulu dalam memanfaatkan Taman Nasional sesuai sistem zonasi yang ada. Keharmonisan ini dapat berdampak baik bagi kesejahteraan masyarakat di sekitar Taman Nasional.” Bapak Bupati juga mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada semua pihak yang terus bekerja sama dalam melakukan upaya konservasi dan memberikan sumbangsih terbaik bagi Kabupaten Kapuas Hulu, Kabupaten di batas ujung negeri. Sumber : Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Amputasi Gajah Indro

Pelalawan, 25 Juli 2018 – Berita duka datang dari Gajah jinak bernama Indro yang berada di camp flying squad, Seksi Pengelolaan Wilayah (SPW) I Lubuk Kembang Bunga, TN. Tesso Nilo. Ekor gajah Indro terpaksa di amputasi pada hari Selasa Tanggal 17 Juli 2018. Ekor tersebut terluka akibat gigitan oleh gajah liar ketika indro bertugas di kawasan hutan TN. Tesso Nilo. Gajah Indro dirawat dan dipantau lebih kurang dua minggu oleh Dokter hewan WWF, Drh. Whanda, Mahout dan petugas dari TN. Tesso Nilo. Berdasarkan hasil pantauan dan perawatan tersebut diputuskan untuk dilakukan tindakan lanjut berupa amputasi. Keputusan amputasi ini diambil akibat luka di ekor gajah Indro yang parah dan dikhawatirkan jika tidak diamputasi akan membahayakan kesehatan gajah Indro. Setelah amputasi ekor gajah Indro, Dokter Hewan, Mahout dan petugas dari TNTN melakukan pemantauan dan pengobatan intensif hingga luka di ekor gajah Indro sembuh total. “Semoga setelah diamputasi ini luka ekor dari gajah Indro lekas pulih kembali dan dapat beraktifitas seperti sediakala”, Unggap kepala SPW I, Bapak Taufiq Haryadi, SP. Sumber : Balai Taman Nasional Tesso Nilo

Menampilkan 7.409–7.424 dari 11.140 publikasi