Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Semarak Global Tiger Day di Banda Aceh

Banda Aceh, 29 Juli 2018. Car Free Day Kota Banda Aceh di Jl. Daud Beureueh menjadi tempat gelaran peringatan Global Tiger Day (GTH) 2018 (29/7). Walikota Banda Aceh Aminullah Usman bersama Balai KSDA Aceh dan Komunitas Tiger Heart serta dukungan dari BCA Cabang Utama Banda Aceh hadir di peringatan GTH dengan tema "Kearifan Lokal Untuk Konservasi Harimau Sumatera". Ratusan orang pengunjung Car Free Day turut meramaikan disertai berbagai aksi seperti Lukis Wajah (Face Painting), Orasi Pelestarian Harimau Sumatera, Lomba Mewarnai, Pertunjukan Barongsai serta Pameran Foto dan Bazaar. Walikota Banda Aceh menyampaikan pentingnya upaya pelestarian harimau sumatera yang sudah terancam punah. Kegiatan penyadartahuan kepada masyarakat seperti kampanye di arena Car Free Day harus lebih digalakkan agar masyarakat luas lainnya peduli terhadap kelestarian harimau sumatera. Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan satu sub spesies harimau dari tiga sub harimau yang dimiliki Indonesia selain Harimau Jawa dan Harimau Bali, yang sudah dinyatakan punah. Di seluruh dunia, diketahui ada 9 sub spesies harimau, dan 3 diantaranya telah dinyatakan punah. Harimau sumatera sendiri saat ini sudah sangat terancam punah akibat habitatnya yang semakin menyempit, serta masih maraknya perburuan dan perdagangan harimau sumatera. Di Provinsi Aceh sendiri, populasi harimau sumatera diperkirakan tidak lebih dari 200 individu, sedangkan populasi di seluruh sumatera diperkirakan kurang dari 500 individu. Upaya-upaya pengamanan habitat baik di dalan kawasan konservasi maupun di luar kawasan konservasi terus dilakukan disamping upaya untuk terus memerangi perburuan dan perdagangan harimau sumatera dan bagian-bagiannya. Sumber : Balai KSDA Aceh
Baca Berita

BKSDA Jambi Peringati Global Tiger Day 2018

Jambi, 29 Juli 2018. Tiger Heart Jambi bersama dengan Komunitas Motor MMC Outsiders Jambi dan beberapa Komunitas Seniman Kota Jambi bersama sama BKSDA Jambi dan ZSL melakukan kegiatan dengan tema “Kearifan Lokal untuk Harimau Sumatera” dalam rangka memperingati Global Tiger Day yang jatuh setiap tanggal 29 Juli. Global Tiger Day sendiri merupakan Hari Harimau Internasional yang disepakati oleh negara negara yang memiliki harimau sebagai satwa endemik mereka. Global Tiger Day dicetuskan pada tanggal 29 Juli 2010 di Saint Petersburg, Russia. Dalam kegiatan yang berlangsung mulai pukul 07.00 pagi sampai dengan selesai, masyarakat kota Jambi tampak antusias dalam mengikuti kegiatan yang dilakukan. Kegiatan sendiri diawali dengan senam pagi bersama sama di sekitaran Tugu Keris Siginjai Kota Jambi lalu kata sambutan oleh Ka. Balai KSDA Jambi diwakilkan oleh Kassubbag TU Bpk. Teguh Sriyanto. Dalam sambutan nya, beliau mengungkapkan “Acara ini merupakan kegiatan positif yang harus dilakukan sebagai upaya meningkatkan kesadaran kita tentang keberadaan harimau yang ada saat ini, jangan sampai harimau kita tinggal kenangan dan tidak dapat lagi disaksikan oleh anak cucu kita nanti. Dulu ada 3 jenis harimau yang ada di Indonesia yaitu Harimau Bali, Harimau Jawa, dan Harimau Sumatera. Sekarang hanya tinggal Harimau Sumatera, sementara itu Harimau Bali dan Harimau Jawa telah lama dinyatakan punah. Jangan sampai hal itu terjadi ke Harimau kebanggaan kita Harimau Sumatera.” Tak ketinggalan Kepala Dinas Kehutanan, Ir. Erizal menyampaikan bahwa “Hutan merupakan rumah bagi berbagai macam satwa, termasuk juga rumah bagi Harimau kita. Maka dari itu dengan tetap menjaga hutan kita telah membantu pelestarian habitat dari Harimau itu sendiri.” Acara dilanjutkan dengan kegiatan donor darah dan cek kesehatan secara gratis oleh PMI Jambi, lalu ada lomba mewarnai untuk anak anak dengan Harimau Sumatera sebagai topik nya. Terdapat juga face painting dan photo booth yang disediakan oleh panitia kegiatan. Setelah nya acara dilanjutkan di kantor BKSDA Jambi guna meresmikan patung harimau baru yang dibangun dan mural yang dibuat oleh Komunitas Seniman. Diharapkan dengan ada nya acara Global Tiger Day setiap tahun nya akan meningkatkan kesadaran seluruh masyarakat tentang keberadaan Harimau saat ini. Yohan Dinata dari ZSL mengutarakan “Apa yang telah kami lakukan ini sebagai bentuk upaya dalam menambah kesadaran dan wawasan masyarakat tentang Harimau, kita ingin masyarakat lebih tau dan menyadari betapa penting nya Harimau ini. Harimau sendiri merupakan pemuncak rantai makanan yang ada di hutan, kalau Harimau terganggu maka rantai makanan yang ada di hutan pun juga dapat terganggu stabilitasnya.” Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Kampanye Global Tiger Day di Tapaktuan Bersama Aktivis Lingkungan

Tapaktuan, 28 Juli 2018. Gegap gempita sambutan siswa sekolah dan masyarakat menyaksikan kampanye yang dilakukan Petugas Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) bersama Aktivis Lingkungan memperingati Hari Harimau Sedunia (Global Tiger Day) di Bundaran Tugu Pala, Kota Tapaktuan, Aceh Selatan Sabtu pagi, (28/7/18). Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Kluet Utara, Teuku Irmansyah, S.Hut menjelaskan kegiatan Global Tiger Day ini diinisiasi melalui program BCCP GLE – KFW – BBTNGL dan KLHK. Selain itu kegiatan tersebut juga tidak lepas dari dukungan Organisasi Pemerhati Lingkungan seperti Wildlife Counservation Sociaty (WCS – IP), Forum Konservasi Leuser (FKL), Orangutan Information Center (OIC) dan BRI Cabang Tapaktuan. Beliau juga menjelaskan bahwa, berdasarkan data IUCN (International Union for Conservation of Nature) tinggal 400 sampai 600 ekor, disebabkan berkurangnya luas hutan sebagai habitatnya di alam. Atas kondisi itu maka Harimau Sumatera dinyatakan masuk kategori satwa lindung terancam punah. Karenanya dihimbau agar masyarakat dapat mengambil bagian terhadap perlindungan dan pelestarian habitat Satwa Kunci Sumatera tersebut tutupnya. Ketua panitia kegiatan, Sahat Alfredo Sihombing, S.Hut mengatakan bahwa dalam peringatan Hari Harimau Sedunia tersebut pihaknya menggelar sejumlah rangkaian acara yang diikuti kaum pelajar dari tingkatan pendidikan formal seperti TK dan SMA sederajat se Kota Tapaktuan. Kampanye ini untuk memikat simpati masyarakat tentang kearifan lokal terhadap keberadaan Harimau Sumatera di tengah kehidupan sosial budaya yang secara turun temurun menegaskan bahwa Harimau bukan hewan buruan dan bahan koleksian. “Kegiatan ini kami gelar mulai pukul 09.00 WIB sampai dengan selesai yaitu di dua tempat diantaranya Bundaran Tugu Pala dan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Pala. Dalam kesempatan itu beliau juga menyampaikan harapannya agar masyarakat dapat meningkatkan kepedulian terhadap satwa liar Harimau Sumatera yang kian terancam punah di alam. Para Orangtua sangat menyukai kegiatan ini dan berharap ini menjadi agenda di Tapaktuan, karena ketertarikan anaknya terhadap Satwa Harimau dalam mengikuti lomba mewarnai. Lebih lanjut, Sahad menjelaskan, sejumlah kegiatan tersebut seperti Kampanye Perlindungan Harimau, Face Painting, Lomba Mewarnai tingkat usia dini (TK), Lomba Cerita Bergambar dan Lomba Karikatur tingkat SMA sederajat. Jumlah peserta lomba secara keseluruhan ± 100 orang. Bahkan kami memberikan apresiasi terhadap mereka dalam bentuk Trophy dan Sertifikat bagi semua peserta. Selain itu, juga ada kegiatan selingan seperti membaca puisi tentang alam tandasnya. Siswa SMA Negeri 1 Tapaktuan, Dandy Alfayet menyatakan bahwa, kegiatan peringatan Hari Harimau Sumatera menurutnya baru kali ini dilaksanakan di Tapaktuan - Kabupaten Aceh Selatan. Apalagi katanya Harimau Sumatera ini adalah salah satu jenis hewan sakral dan dilindungi dan di hormati secara turun temurun oleh nenek moyang mereka. Setidaknya kegiatan tersebut dapat membangkitkan semangat konservasi masyarakat dan generasi muda akan kelestarian Satwa Primadona Indonesia tersebut. Peringatan Hari Harimau Sedunia pertama sekali ditetapkan di Tiger Summit St Petersburg, Rusia, pada tanggal 29 Juli 2010. Sedangkan di Indonesia mulai dirayakan pada tahun 2013 Sumber : Efa Wahyuni – Staf BPTN Wilayah I Tapaktuan, Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser Foto : Tim BPTN Wilayah I Tapaktuan
Baca Berita

Monitoring Nephenthes clipeata di TWA Gunung Kelam (part 1)

Sintang, 27 Juli 2018. Tim Monitoring Nephenthes clipeata memulai pendakian Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Kelam. Masuk dalam tim ini Sadtata Noor Adirahmanta Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat didampingi P. Bharata Sibarani Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Sintang. Tim akan mendaki gunung dengan ketinggian 1002 mdpl dan menuruni lerengnya untuk mengeksplor potensi kantong semar endemik TWA Gunung Kelam. Selain keunikan gunung batu monolit, kawasan TWA Gunung Kelam juga dihuni spesies endemik yang menjadi pusat perhatian para peneliti dalam dan luar negeri yaitu Nephenthes clipeata. Balai KSDA Kalimantan Barat sebagai pemangku kawasan membangun sistem pengelolaan kolaboratif bersama masyarakat. Eksplorasi kali inipun menggandeng Pemuda Sintang yang berpengalaman dalam panjat tebing. Partisipasi mereka diharapkan mampu memberikan pemahaman konservasi sumber daya alam hayati yang ada di Gunung Kelam pada generasi muda Kabupaten Sintang. Sukses Tim Ekspedisi Nephenthes clipeata. Sumber : Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Dugong di Mantehage Kembali ke Habitatnya

Minahasa Utara, 27 Juli 2018. Bertempat di perairan Desa Tinongko, Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara, dilakukan pelepasan kembali ke habitat seekor anakan duyung (Dugong dugon) betina yang memiliki panjang 135 cm, lebar dada 30 cm dan lebar ekor 26 cm. Pelepasan satwa yang masuk dalam perlindungan pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar serta Permen LHK RI NOMOR P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan Dan Satwa Yang Dilindungi, dilakukan pada pukul 14.49 wita dengan disaksikan oleh Hukum Tua Tinongko, Babinkamtibmas, anak-anak sekolah dan Masyarakat Mantehage. Penemuan satwa berawal saat keluarga nelayan mencari ikan diseputaran perairan Desa Tinongko Pulau Mantehage pada hari kamis 26 Juli 2018, adalah Bapak Cornelis Ma'ati dan Ibu Manede Ma'apo menemukan seekor duyung yang diperkirakan merupakan anakan, di sekitar rataan terumbu yang banyak ditumbuhi lamun. "Binatang ni dia so salalu mancari makang di nyare, jang kage lupa klo air turung kong mo tadampar (Satwa ini sering mencari makan di area nyare yang ditumbuhi lamun, jangan sampai dia kelupaan bahwa air surut jauh lalu terdampar)" begitu yang disampaikan Om Ma'ati. Selanjutnya oleh keluarga nelayan tersebut anakan duyung digiring ke arah laut dalam agar tidak terdampar. Masih di hari yang sama (26/07/2018) pada sore harinya warga Desa Tinongko kembali menemukan duyung lagi, yang berlokasi di rataan terumbu (nyare) sekitar penemuan duyung pertama, saat itu kondisi air laut sudah surut jauh, sehingga pergerakan duyung juga tidak leluasa lagi. Setelah di cek terdapat kemiripan dengan duyung sebelumnya, sehingga disimpulkan bisa jadi satwa yang ditemukan sore harinya masih satwa yang sama saat keluarga nelayan menggiring ke arah laut. Selanjutnya warga membawa duyung tersebut ke darat, dengan dibopong dan dimasukan dalam box ikan, perlakuan ini diambil oleh warga mengingat air semakin surut dan dikawatirkan justru duyung semakin terluka terkena batu-batu karang. Kemudian warga melaporkan pada pihak Balai Taman Nasional Bunaken dan Pemerintah Desa Tinongko. Balai Taman Nasional Bunaken setelah mendapatkan laporan segera merespon dan akan melepas pada malam harinya saat air pasang, akan tetapi berhubung satwa langka ini jarang ditemui maka inisiatif dari Pemerintah setempat akan dilepas tanggal 27 Juli 2018 sekaligus dengan Bupati Minahasa Utara. Menurut Hukum Tua Tinongko Steri Adrian, kami dari Pemerintah Desa siap berkoordinasi dengan Pihak Balai Taman Nasional Bunaken bila ditemukan kejadian serupa ataupun terkait dengan kawasan Taman Nasional. Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I, Arma Janti Massang, M.Si dalam sambutan pelepasan satwa duyung ke habitatnya menyampaikan, duyung merupakan satwa yang langka, status perlindungannya sebagaimana tertuang dalam PP 7/99 tentang Pengawetan Jenia dan Satwa Liar. Satwa ini sering mencari makan pada area yang banyak ditumbuhi lamun, utamanya pada area rataan terumbu yang sangat dipengaruhi oleh pasang surut. Sering kemunculannya pada bulan gelap dan bulan terang. Kebetulan saat ini adalah bulan pernama, sehingga satwa tersebut nampak sekaligus mencari makan diarea sekitar ini. Kemunculan duyung di sekitar perairan Desa Tinongko menandakan, wilayah jelajah satwa berada di tempat ini, baik saat bermain ataupun beraktivitas mencari makan, hal ini juga menandakan bahwa lokasi rataan terumbu yang ditumbuhi lamun masih terjaga dengan baik kelestariannya, kami menghimbau kepada masyarakat untuk bersama-sama menjaga kawasan dan satwa duyung apabila menemukan lagi, tutup Arma. Sumber : Balai Taman Nasional Bunaken
Baca Berita

Peserta Sidang ke-30 MAB-ICC UNESCO Field Trip ke Kawasan Taman Nasional Berbak dan Sembilang

Palembang, 28 Juli 2018. Palembang tuan rumah sidang The Man and Biosphere International Co-ordinating Council (MAB-ICC) UNESCO ke-30 yang diselenggarakan pada tanggal 23-28 Juli 2018. Sebagai rangkaian akhir dari kegiatan sidang dilakukan field trip ke kawasan Taman Nasional Berbak dan Sembilang di Sumatera Selatan-Jambi. Field trip ini untuk memperlihatkan kepada para peserta kondisi kawasan taman nasional berbak dan sembilang yang baru saja ditetapkan sebagai cagar biosfer. Field trip diikuti para peserta yang berasal dari 124 negara berjumlah sekitar 170 orang. Rangkaian kegiatan meliputi trip ke kawasan dengan menggunakan kapal jetfoil serta kunjungan ke desa Sungsang Kabupaten Banyuasin yang merupakan desa penyangga. Sesuai dengan jadwal yang telah direncanakan, perjalanan peserta dimulai dari hotel Novotel Palembang menuju dermaga Boom Baru menggunakan kendaraan bus, dilanjutkan perjalanan sekitar 2 jam menggunakan kendaraan air (jet foil) ke bagian paling depan dari Kawasan Taman Nasional Berbak dan Sembilang dan melihat secara langsung kondisi cagar biosfer yang baru saja ditetapkan. Pada kesempatan ini peserta diajak untuk melihat Kawasan Taman Nasional Berbak dan Sembilang yang berada di daerah pesisir pantai semenanjung Banyuasin, lokasi ini merupakan tempat alami bagi tumbuhnya tumbuhan khas hutan mangrove, serta habitat berbagai jenis satwa seperti harimau sumatera, buaya muara dan berbagai jenis burung terutama burung migran yang berasal dari Siberia. Selain menikmati keindahan hutan mangrove yang masih utuh dan terjaga dengan baik, juga melihat aktifitas para nelayan tradisional mencari ikan dan udang di sekitar lokasi tersebut. Perjalanan peserta dilanjutkan menuju ke Desa Sungsang untuk melihat aktifitas masyarakat. Beberapa hasil produksi olahan masyarakat nelayan yang menjadi perhatian para peserta diantaranya terasi udang, kerupuk ikan, kerupuk udang, pempek, dan sebagainya. Sebelumnya dalam sidang MAB-ICC, Taman Nasional Berbak dan Sembilang, Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum, Kapuas Hulu dan Taman Nasional Gunung Rinjani di Lombok telah resmi ditetapkan sebagai Cagar Biosfer. Sebelum adanya penetapan ketiga cagar biosfer tersebut, Indonesia sudah memiliki 11 lokasi cagar biosfer, sehingga pada saat ini cagar biosfer yang terdapat di Indonesia berjumlah 14 Cagar Biosfer. Sumber : Balai Taman Nasional Berbak dan Sembilang
Baca Berita

Tak Kenal Lelah, Kepala BBTN Kerinci Seblat Sambangi 3 Tempat

Sungai Penuh, 29 Juli 2018. Kepala Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BBTNKS) Tamen Sitorus melakukan kunjungan ke kantor Bidang Pengelolaan Taman Nasional (BPTN) wilayah III Curup. Pada pertemuan yang dihadiri staf BPTN Wilayah III dan Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah V dan VI, beliau berpesan agar seluruh ASN lingkup BPTN wilayah III bekerja sesuai tupoksi, selalu menjaga kekompakan, serta dapat mengaplikasikan 10 cara baru pengelolaan kawasan konservasi. Selanjutnya, Kepala Balai Besar TNKS mengunjungi kantor resort Rejang Lebong yang terletak di desa PAL VIII, kecamatan Bermani Ulu Raya. Pada kesempatan itu, Kepala Balai Besar TNKS menyempatkan diri untuk bertemu langsung dan berdiskusi dengan kelompok masyarakat yang memanfaatkan hasil hutan bukan kayu (damar dan pinus) serta kelompok perempuan peduli lingkungan yang memanfaatkan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) berupa kecombrang dan pakis dalam zona pemanfaatan hutan Madapi yang terletak di desa tersebut. Terakhir, Kepala Balai Besar TNKS menyambangi kantor SPTN V Lubuk Linggau serta meninjau langsung fasilitas sarana wisata alam yang telah dibangun oleh PT Linggau Bisa sebagai pemegang ijin usaha penyedia sarana wisata alam (IUPSWA) Bukit Sulap yang berada dalam zona pemanfaatan Taman Nasional Kerinci Seblat. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat
Baca Berita

Gaungkan Konservasi Harimau Sumatera, Balai TN Bukit Tigapuluh Mengudara

Indragiri Hulu, 28 Juli 2018. Berbeda dengan peringatan Global Tiger Day tahun sebelumnya, tahun ini talkshow radio menjadi salah satu rangkaian acara untuk memeriahkan peringatan Global Tiger Day tahun 2018. Memanfaatkan fasilitas radio milik Dinas Komunikasi dan Informatika Kab. Indragiri Hulu Radio Swara Indragiri (SWAI) FM Frekuensi 90,20 FM, talkshow digelar pada Sabtu 28 Juli 2018 pukul 10.00 WIB. Darmanto SP,M.AP selaku Kepala Balai Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) didaulat menjadi pengisi siaran bersama pihak Pemerintah Daerah Ir. Selamat, MM (Kepala Lingkungan Hidup Kab.Indragiri Hulu), Ahmad Fanani aktivis Yayasan Penyelamatan dan Konservasi Harimau Sumatera (YPKHS) serta M. Nasir selaku tokoh masyarakat desa. Talkshow radio ini disiarkan secara live di Radio Swara Indragiri 90,20 FM juga live streaming di Fan Page official Bukit Tiga Puluh National Park. Dengan digelarnya talkshow radio ini, dukungan dari berbagai pihak terkait semakin besar dan kepedulian masyarakat semakin meningkat untuk melestarikan Harimau Sumatera. Mengangkat tema Pelestarian Harimau Sumatera, talkshow berjalan dengan hangat. Suasana mencair dikala sang penyiar menggiring setiap pengisi siaran untuk menyampaikan profil dan visi misi instansi/lembaga. Kepala Balai TNBT menyampaikan bahwa visi TNBT adalah terwujudnya keutuhan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh sebagai perwakilan hutan hujan tropis perbukitan dataran rendah di Sumatera. Informasi terkait potensi keanekaragaman hayati yang tersimpan di TNBT dan upaya pelestariannya turut disampaikan Darmanto, SP.,M.AP. Beliau menambahkan adanya peringatan Global Tiger Day ini salah satunya adalah untuk menggalang dukungan dan partisipasi publik dalam upaya pelestarian Harimau Sumatera di TNBT. Pihak Pemerintah Daerah (Pemda) dalam hal ini diwakili Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kab. Indragiri Hulu menyatakan bahwa potensi kekayaan alam di TNBT wajib kita lindungi dan lestarikan dan Pemda Kab.Inhu selalu mendukung dalam upaya pelestarian Harimau Sumatera dan hutan TNBT. Dari pihak Yayasan PKHS selaku mitra kerja TNBT, menyampaikan berbagai kegiatan konservasi Harimau Sumatera yang dilakukan selama ini. Berdasarkan data hasil monitoring kamera trap, dari 348 video harimau berhasil diidentifikasi sebanyak 58 individu harimau dewasa dan 3 ekor anak yang berusia kurang dari 6 bulan. Selaku perwakilan masyarakat M.Nasir menjelaskan bahwa masyarakat yang hidup di dalam dan sekitar TNBT sudah sejak dulu menjaga Harimau Sumatera hanya saja masih terdapat oknum yang masih berniat, masyarakat hanya memanfaatkan hasil hutan yang ada di TNBT seperti petai, jernang, pinang dll. Seiring berjalannya waktu, masyarakat mulai sadar dengan pentingnya manfaat hutan, masyarakat mulai berhati-hati dalam menggunakan api untuk mengelola lahan dan Harapan M.Nasir adalah masyarakat yang hidup di dalam dan sekitar TNBT dapat maju dari segi pendidikan dan kesehatan. Sumber : Balai Taman Nasional Bukit Tigapuluh
Baca Berita

Si Cantik Kolibri Pulang ke Rumah

Jambi, 28 Juli 2018. BPPHLHK Wilayah Sumatera dan Balai KSDA serta ZSL Indonesia melepasliarkan 1380 ekor burung terdiri dari 1150 ekor Kolibri Ninja (Nectarina Jugularis); 150 Sepah Raja (Aethopyga siparaja); dan 300 Gelatik Batu (Parus Major). Burung burung ini didapatkan dari operasi TSL di Provinsi Jambi yang dilakukan tim gabungan BPPHLHK dan Balai KSDA Jambi pada tanggal 26 Juli 2018, rencananya burung burung tersebut akan dibawa ke Lampung dari Pekanbaru namun berhasil digagalkan di daerah Jambi. Burung-burung ini telah dilepasliarkan di kawasan PT REKY Kab. Batanghari dan PT. Alam Bukit Tigapuluh Kab. Tebo. Burung Kolibri Ninja (Nectarina Jugularis); Sepah Raja (Aethopyga siparaja); dan Gelatik Batu (Parus Major) masuk dalam resiko rendah menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature) yang artinya burung-burung ini populasinya tidak terancam di alam liar, meski begitu jika dilakukan perburuan terus menerus bukan tidak mungkin burung-burung ini masuk kedalam resiko tinggi karena populasi yang berkurang. Burung-burung ini sejati nya memiliki peran tersendiri bagi alam. Burung Kolibri misalnya, secara alami membantu penyerbukan tanaman karena kebiasaannya yang berpindah pindah menghisap nectar tanaman. Kabalai KSDA Jambi, Rahmad Saleh mengatakan bahwa, “Kita telah berhasil mengembalikan sekitar 1380 ekor burung yang kemarin kita dapatkan dari hasil sitaan ke habitat aslinya, burung burung ini memang jumlahnya banyak tapi tidak berarti bebas menangkapnya harus ada ijin tertentu yang diperoleh terutama dari Balai KSDA.” Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Begini Suasana Kunjungan Mantan Direktur PJLHK di Ipukan

Kuningan, 28 Juli 2018. Ipukan, salah satu obyek wisata alam di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) mendapat kunjungan Is Mugiono, seorang Widya Iswara dari Pusat Diklat Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Bogor (26/7). Is Mugiono merupakan mantan Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi (PJLHK) Direktorat teknis di Ditjen KSDAE yang mengurus perijinan pemanfaatan jasa lingkungan seperti ODTWA Ipukan. Kunjungan Is Mugiono ke Ipukan didampingi Kepala Balai TNGC beserta Kepala Seksi I Kuningan. Obrolan mantan orang nomor satu di Direktorat PJLHK bersama pengelola Ipukan berjalan dengan santai dan penuh keakraban. Jawil, pengelola Ipukan menyampaikan untuk mengelola Ipukan menjadi seperti sekarang ini bukan hal mudah tetapi telah melalui proses panjang dari mulai tahun 2013. Diawali 8 orang pengelola yang merupakan pelaku Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) eranya Perum Perhutani sampai sekarang Ipukan telah berhasil melibatkan 70 orang masyarakat sekitar kawasan hutan yang telah beralih profesi menjadi pengelola jasa lingkungan (wisata alam). Beberapa aktifitas wisata dapat dilakukan di Ipukan seperti bumi perkemahan, glamour camping, olahraga jalan kaki di alam dan menikmati Curug Cisurian sebagai habitat kodok merah. Kodok merah merupakan penciri lingkungan bersih dan saat ini mempunyai status hampir punah. Suasana diskusi semakin hangat ketika dilanjutkan sambil menikmati nasi liwet hidangan makan siang ala Ipukan yang disuguhkan oleh pengelola. Sebelum mengakhiri kunjungannya di Ipukan, Is Mugiono menyempatkan diri melihat fasilitas glamour camping yang merupakan kerjasama pengelola Ipukan dengan hotel Horison Kuningan. Selanjutnya beliau memberikan pesan kepada pengelola Ipukan untuk tetap semangat menjaga dan merawat alam ini. Tak hanya masyarakat penyangga saja yang dapat berkontribusi dalam pengelolaan taman nasional, dimanapun juga bisa dengan apapun latar belakang pendidikan dan kegemarannya. Segera merapat kepada kami, pintu kantor kami terbuka lebar. Ayo cintai alammu, nikmati keindahannya dengan tetap menjaga kelestariannya [teks & foto © asep wahyudin-BTNGC | 072018]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Hasil Pertemuan TN. Aketajawe Lolobata dengan Masyarakat Adat Kobe Sawai

Sofifi, 27 Juli 2018. Pertemuan antara Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) dengan masyarakat Desa Kobe Gunung dan masyarakat Desa Sawai Itepo berlangsung selama berjam-jam di Balai Desa Sawai itepo. Hadir dalam pertemuan tersebut adalah Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Kepala SPTN Wilayah I Weda, Kepala SPTN Wilayah III Subaim, anggota TNI dan Polri serta tokoh masyarakat kedua desa. Terdapat beberapa paparan dalam acara tersebut. Kepala SPTN Wilayah I memaparkan tentang pengelolaan TNAL yang saat ini mengedepankan kebijakan pro rakyat dengan program-program kemitraan. Begitu juga dengan paparan dari kedua pejabat eselon IV lainnya, yaitu memaparkan tentang gambaran umum TNAL dan 10 cara baru dalam pengelolaan kawasan konservasi, sesuai arahan Dirjen KSDAE, dimana salah satunya ialah menjadikan masyarakat sebagai subjek pengelolaan. Masyarakat masih memiliki kehawatiran dengan keberadaan taman nasional. Kekhawatiran tersebut antara lain dibatasinya masyarakat dalam mengelola hutan dan pemberdayaan masyarakat yang tidak berkelanjutan. Terkait hal tersebut Balai TNAL akan memberikan ruang dan dukungan terhadap pengelolaan kawasan ini dengan berkolaborasi bersama masyarakat. Meskipun masyarakat belum sepenuhnya menerima TNAL namun ada titik terang dari pertemuan ini, yaitu masyarakat mengajak TNAL turun kelapangan untuk memastikan keberadaan batas kawasan taman nasional dengan batas desa. Selain itu hampir semua peserta masyarakat bersedia menerima program dari Balai TNAL. Program yang ditawarkan dalam waktu dekat adalah studi banding. Perwakilan dari masyarakat akan diajak melihat konsep pengelolaan secara kolaboratif berbasis masyarakat. Lokasi studi banding masih dipertimbangkan, karena harus memiliki kriteria yang sesuai dengan kondisi Balai TNAL saat ini, yaitu pengelola kawasan yang telah berhasil meningkatkan ekonomi masyarakat sekitarnya dengan kegiatan kolaboratif. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra, Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Kepala BKSDA Aceh Serahkan Penghargaan Dirjen KSDAE kepada Kapolres Aceh Timur

Aceh, 27 Juli 2018. Pada hari Jumat 27 Juli 2018, Kepala BKSDA Aceh mewakili Direktur Jenderal KSDAE Ir. Wiratno, MSc dan Direktur KKH drg. Indra Exploitasia, telah menyerahkan piagam penghargaan Dirjen KSDAE kepada Kapolres Aceh Timur AKBP Wahyu Kuncoro, serta piagam Direktur KKH kepada tim penyidik atau penyelidik kasus pembunuhan gajah Bunta. Kapolres Aceh Timur dan jabjaran menyampaikan ucapan terima kasih yg sebesar-besarnya kepada Dirjen KSDAE atas apresiasi yang diberikan kepada jajarannya. Mereka berkomitmen untuk terus mendukung upaya-upaya konservasi di Aceh Timur. Penghargaan itu diberikan dalam sebuah apel khusus yang diselenggarakan di halaman Mapolres Aceh Timur. Dalam kesempatan tersebut juga diserahkan piagam dari Asian Elephant Support dan International Elephant Foundation kepada Kapolres, serta reward dari mitra2 konservasi Aceh yang terdiri dari FKL, HaKa, WCS, YEL, CRU Aceh, OIC, dan Vesswic, sebagai bentuk dukungan untuk penuntasan kasus Bunta. Sumber : Balai KSDA Aceh
Baca Berita

BKSDA Bengkulu Terima 3 Ekor Reptil

Bengkulu, 26Juli 2018. PT. Bumi Mentari Karya perusahaan yang bergerak dalam pengolahan kelapa sawit yang berlokasi di Kecamatan Pondok Suguh Kabupaten Mukomuko menyerahkan 1 ekor Buaya Muara (Crocodylus porosus) dengan panjang 2,5 meter dan berat lebih kurang 15 Kg kepada Resort KSDA Air Hitam Balai KSDA Bengkulu. Buaya tersebut ditangkap pegawai PT. BMK di dalam kolam limbah anaerobic di dalam areal pabrik, berdasarkan informasi reptil tersebut kerap mengejar dan membahayakan pegawai perusahaan yang sedang melintas di sekitar kolam. Lokasi kolam limbah yang berdekatan dengan sungai Air Hitam yang merupakan habitat buaya muara sehingga reptil tersebut terkadang dapat memasuki kolam, yang diketahui sejak Januari 2018. Pada hari yang sama Resort KSDA Air Hitam juga menerima penyerahan 2 ekor Ular Piton dari 2 warga yang berbeda. 1 ekor dengan panjang 5 m diserahkan oleh Bpk. Bardi warga Dusun Karya Desa Air Muring Kec Putri Hijau Kab. Bengkulu Utara, ditangkap sedang memangsa unggas peliharaan. Dan 1 ekor lagi dengan panjang 2,5 m dari Bpk. Predi wargaDesa Air Muring Kec. Putri Hijau Kab. Bengkulu Utara. Ucapan terima kasih disampaikan kepada warga dan pihak yang telah peduli dan mendukung upaya konservasi dengan telah menyerahkan satwa liar dilindungi maupun tidak dilindungi dan tidak melukai atau bahkan membunuh satwa liar yang telah mengancam jiwa atau merugikan mereka.Setelah dilakukan observasi untuk selanjutnya reptil-reptil tersebut dilepasliarkan lagi ke habitatnya. BKSDA Bengkulu-Lampung jugamenghimbau kepada masyarakat jika menemukan atau menjumpaitumbuhan dan satwaliar dilindungi dapat menghubungi call center BKSDA Bengkulu (+62 811-7388100) yang siaga 24 jam menerima aduan masyarakat. Sumber : Balai KSDA Bengkulu
Baca Berita

Bantu Kasus Bunta, Kapolres Aceh Timur Terima Penghargaan dari Dirjen KSDAE

Aceh Timur, 27 Juli 2018. Kapolres Aceh Timur AKBP Wahyu Kuncoro menerima piagam penghargaan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) yang diserahkan Kepala Balai KSDA Aceh Sapto Aji Prabowo mewakili Direktur Jenderal KSDAE Ir. Wiratno, M.Sc dan Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) drh. Indra Exploitasia. Sapto juga menyerahkan piagam Direktur KKH kepada tim penyidik/penyelidik kasus pembunuhan gajah Bunta. Penghargaan diberikan dalam sebuah apel khusus yang diselenggarakan di halaman kantor Mapolres Aceh Timur (27/7). Kapolres Aceh Timur dan jajarannya menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Direktur Jenderal KSDAE atas apresiasi yang diberikan kepada jajarannya. Polres Aceh Timur berkomitmen untuk terus mendukung upaya-upaya konservasi di Aceh Timur. Sebagai informasi, juga diserahkan piagam dari Asian Elephant Support dan International Elephant Foundation kepada Kapolres, serta reward dari mitra-mitra konservasi Aceh sebagai bentuk dukungan untuk penuntasan kasus Bunta seperti FKL, HaKa, WCS, YEL, CRU Aceh, OIC dan Vesswic. Sumber : Balai KSDA Aceh
Baca Berita

Direktur KKH Ajak Pemilik Konsesi Berbagi Ruang Dengan Gajah

PEKANBARU - Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH), Indra Exploitasia mengajak peserta Pelatihan Best Management Practices (BMP) Konservasi Gajah Sumatera yang multistakeholder berbagi ruang dengan gajah. Berbagi ruang hidup yang dimaksud adalah bagaimana memperlakukan satwa di habitatnya dengan arif. "Satwa tidak mengenal habitat di luar atau dalam konservasi. Mengelola gajah harus arif hingga bisa hidup berdampingan. Saat ini ruang habitat gajah sudah terfragmentasi, hingga perlu tindakan bersama untuk menjaga agar mereka tetap bisa hidup di habitatnya," jelas Indra. Direktur KKH juga berharap, praktik-pratik baik konservasi gajah di Riau bisa menjadi role model hidup berdampingan dengan gajah. "Yang kami perlukan adalah role model yang memang kelihatan. Saya mengharapkan kegiatan ini langsung bisa diaplikasi di lapangan. Peran masing-masing perusahaan yang ikut di sini akan kelihatan. Sudah banyak yang melakukan BMP-BMP, tapi belum terintegrasi. Ke depan harus terintegrasi dan menjadi role modelnya KSDA." lanjut Indra. Kepala Balai Besar KSDA Riau, Suharyono sepakat bahwa tindakan konkrit yang dilakukan perusahaan di wilayah konsesinya dijadikan sesuatu yang baku yang akan menjadi langkah bersama. "Balai Besar KSDA Riau sangat mendukung langkah-langkah BMP konservasi gajah yang telah dilakukan perusahaan. Kegiatan ini tidak hanya berhenti di sini. Saat ini kita menyamakan persepsi tentang penanganan konflik untuk kemudian menindaklanjuti dan melangkah ke depan. Kita akan sinkronkan langkah-langkah yang akan dilakukan," ungkap Suharyono. "Best practices bukan berarti praktik mitigasi konflik gajah saat ini yang paling baik sehingga kita berhenti sampai di sini. Praktik terbaik akan berkembang terus sesuai dinamika yang terjadi di lapangan," tambah Haryono. Selama dua hari pemaparan materi, sejumlah narasumber kompeten dihadirkan untuk memberi pemahaman dan motivasi kepada peserta. Tidak hanya Kepala KKH Kementerian LHK dan Balai Besar KSDA Riau saja yang tampil sebagai narasumber, tetapi juga para praktisi dan akademisi dari Universitas Riau dan Universitas Andalas Padang juga berbagi ilmu dan pengalaman mitigasi konflik satwa dilindungi tersebut. Lebih dari 35 peserta yang mengikuti antusias setiap pemaparan para narasumber. Pelatihan Best Management Practices (BMP) Konservasi Gajah yang berlangsung empat hari ini, tidak hanya pemaparan materi saja, tetapi juga praktik lapangan. Balai Besar KSDA Riau bersama- sama Yayasan Taman Nasional Tesso Nilo (YTNTN) yang didukung oleh TFCA Sumatera menyelenggarakan pelatihan ini untuk mendorong dan mendampingi sejumlah perusahaan yang beroperasi di sekitar Tesso Nilo dan GSK-Balai Raja menerapkan Better Management Practices (BMP). Kegiatan yang dimulai pada Selasa (24/7/2018) kemarin, diharapkan bisa menghasilkan perlindungan dan pengayaan koridor, populasi gajah serta mitigasi konflik gajah. Menurut Direktur Eksekutif YTNTN, Yuliantony selaku panitia pelaksana, peserta pelatihan berasal dari unsur perusahaan pemegang izin HTI dan HGU, pemerintah daerah, Balai Besar KSDA Riau, BTNTN, KPH dan sejumlah LSM di Riau. Setelah sesi penyampaian materi yang berlangsung dua hari, selanjutnya peserta akan mengunjungi salah satu perusahaan di sekitar kantong gajah yang sudah melakukan usaha-usaha konservasi gajah. "Peserta akan diajak mengunjungi aktifitas konservasi gajah dilapangan, Kita akan melihat bagaimana praktik BMP konservasi gajah di perusahaan ini," tandas Yuliantony. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Global Tiger Day 2018 : Kearifan Lokal untuk Konservasi Harimau Sumatera

Rengat, 27 Juli 2018. Sebagai salah satu habitat asli Harimau Sumatera, Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) tak henti-hentinya melakukan kampanye pelestarian satwa langka dan dilindungi ini. Peringatan Global Tiger Day (GTD) menjadi event tahunan yang pantang untuk dilewatkan. Agar lebih banyak menarik minat dan partisipasi masyarakat umum, gelaran lomba dan acara dilakukan. Sesuai dengan tema GTD yaitu kearifan lokal untuk konservasi Harimau Sumatera, TNBT mengadakan berbagai perlombaan bertemakan Pelestarian Harimau Sumatera, meliputi lomba membuat video pendek berdurasi 60 detik, lomba mengarang puisi dan lomba mewarnai untuk anak. Publikasi lomba telah dilakukan jauh-jauh hari melalui media sosial official, penyebaran leaflet dan undangan. Talkshow radio secara live turut melengkapi kampanye pelestarian Harimau Sumatera di Radio SWAI FM Kabupaten Indragiri Hulu frekuensi 90.20 FM sebagai alat media penyebaran informasi. Adapun narasumber talkshow antara lain Ir. Selamat, MM (Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kab. Inhu), Darmanto SP.,M.AP (Kepala Balai TNBT), Ahmad Fanani (Aktivis LSM Yayasan Penyelamatan dan Konservasi Harimau Sumatera), Supno Hatiro (Kepala Desa Rantau Langsat) dan M.Nasir (Tokoh Masyarakat Desa Rantau Langsat). Puncak acara pada Minggu, 29 Juli 2018 akan digelar jalan dan senam sehat, dengan door prize utama sepeda gunung sebanyak 4 (empat) unit. Pameran dan Bazaar diisi oleh berbagai produk Darmawanita Persatuan TNBT. Seluruh instansi terkait diundang untuk menyemarakkan acara, tak ketinggalan mitra Balai TNBT seperti WWF Program Sumatera, Yayasan PKHS, NGO FZS Jambi, PT.LAJ Jambi dan Cabang PT. Bank Mandiri tbk Rengat. Alunan musik gambus menjadi hiburan inti di acara GTD, dengan mendatangkan masyarakat asli suku tradisional Talang Mamak. Dengan adanya perhelatan ini, diharapkan kepedulian dan partisipasi masyarakat umum dan Pemerintah Daerah khususnya di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) semakin tinggi dalam mendukung pelestarian Harimau Sumatera. Selain itu, TNBT semakin dikenal dan menjadi kebanggaan bagi masyarakat lokal Inhu. Sumber : Balai Taman Nasional Bukit Tigapuluh

Menampilkan 7.393–7.408 dari 11.140 publikasi