Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Balai Taman Nasional Bunaken Tingkatkan Kapasitas Kelompok Masyarakat Melalui Pelatihan Menyelam

Manado, 31 Juli 2018. Bertempat di Dragonets Dive Center Malalayang Kota Manado, sebanyak 12 orang pemuda dan pemudi yang tergabung dalam kelompok masyarakat ditingkatkan kompetensinya dalam pelatihan selam open water. Keterwakilannya antara lain 5 orang dari Kelompok Cahaya Tatapaan Popareng, Kabupaten Minahasa Selatan, 5 orang dari Kelompok Cahaya Trans Poopoh Kabupaten Minahasa, 1 orang dari Pulau Bunaken dan 1 orang dari Pulau Mantehage. Pelatihan menyelam kelompok masyarakat dibuka langsung oleh Kepala Balai Taman Nasional Bunaken Dr. Farianna Prabandari, S.Hut, M.Si serta turut dihadiri oleh Aspotmar Lantamal VIII, Dinas Perikanan dan Kelautan Daerah Provinsi Sulawesi Utara, Dinas Pariwisata Kabupaten Minahasa Selatan, Camat Tatapaan, Sekretaris Kecamatan Tombariri, dan Hukum Tua Poopoh. Dalam sambutan dan arahannya Kepala Balai Taman Nasional Bunaken menyampaikan Desa Popareng dan Desa Poopoh merupakan desa yang dikembangkan sebagai role model ekowisata, sehingga perlu dipersiapkan masyarakat yang tergabung dalam kelompok masyarakat untuk dapat ditingkatkan kompetensinya dalam menunjang aktivitas tersebut. Aspotmar Lantamal VIII Kol. Laut Rumpoko, menambahkan bahwa potensi maritim Negara Kesatuan Republik Indonesia sangat luas, kami sangat mengapresiasi kegiatan Balai Taman Nasional Bunaken meningkatkan dan melatih Sumber Daya Manusia (SDM) yang berada diwilayah pesisir dan kepulauan, kedepan kami akan menginventarisir masyarakat yang dapat menyelam untuk membantu memberikan informasi dalam menunjang pertahanan negara. Selanjutnya penyampaian dari Dinas Pariwisata Kabupaten Minahasa Selatan yang diwakili oleh Sekretaris Dinas Pariwisata Romal Massie, ST menyambut baik langkah-langkah yang telah dilakukan, saat ini Desa Popareng beserta beberapa Desa Penyangga dibagian selatan Taman Nasional Bunaken telah ditetapkan oleh Bupati Minahasa Selatan menjadi Desa Wisata, tentunya kegiatan peningkatan kapasitas kelompok masyarakat dalam bentuk pelatihan menyelam memberikan keuntungan, sehingga dapat membawa dampak signifikan dalam pengembangan wisata desa kedepan. Dari Kabupaten Minahasa yang diwakili oleh Sekretaris Kecamatan Tombariri Daniel Ratag mengharapkan agar masyarakat dapat mengikuti pelatihan dengan baik, kita berharap kedepan untuk dapat mengembangkan diri serta berkontribusi dalam pariwisata utamanya di Kecamatan Tombariri. Kepala Subbagian Tata Usaha Nikolas Loli, SP dalam sambutan saat pembukaan, menyelam merupakan kegiatan yang dilakukan untuk berbagai macam tujuan antara lain olahraga, rekreasi, penelitian, monitoring ekositem perairan, fotografi bawah air dan tujuan lainnya. Menyelam membutuhkan kemampuan dan kapasitas berupa pelatihan yang khusus yang intensif, terkontrol dan berkelanjutan. Dalam hal ini menyelam bukan hanya sekedar menggunakan alat-alat selam untuk kemudian turun ke dalam air, namun harus mengikuti aturan-aturan yang benar dan aman agar resiko dari kegiatan penyelaman dapat diminimalkan. Untuk dapat melakukan aktifitas penyeleman dengan baik dan benar, dibutuhkan pelatihan selam secara komprehensif dan berjenjang. Pada kesempatan kali ini Balai Taman Nasional Bunaken melakukan kegiatan pelatihan menyelam kepada masyarakat anggota kelompok binaan dalam rangka meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) untuk melakukan kegiatan pemantauan dan kegiatan lain yang menunjang pengelolaan khususnya kegiatan di bawah air seperti pengembangan ekowisata. Tujuan kegiatan adalah memperoleh Sumber Daya Manusia (SDM) dari kelompok binaan Balai Taman Nasional Bunaken yang memiliki keahlian dalam melakukan aktifitas penyelaman yang bersertifikasi organisasi penyelaman profesional, tutup Niko. Sumber : Eko Wahyu Handoyo - PEH Balai Taman Nasional Bunaken
Baca Berita

Tertangkap Kamera : Dua Generasi Keluarga Harimau Sumatera, Berhasil Berkembang Biak dengan Baik

Pekanbaru, 31 Juli 2018. Merayakan Global Tiger Day 29 Juli 2018, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau dan WWF Indonesia merilis video langka yang menunjukkan Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) sukses berkembang biak di alam liar yang merupakan habitatnya. Sebagai predator utama pada rantai makanan, Harimau di alam berperan penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem yang mendukung kelangsungan hidup spesies lainnya dan manusia. Namun keberadaan Harimau saat ini berstatus kritis, hanya tersisa sekitar 3.900 individu harimau liar di dunia. Itu berarti hanya bisa ditemukan sekitar 5% dari jangkauan mereka, jika dibandingkan dengan seabad lalu. Video ini adalah bukti yang mengagumkan dan membuktikan bahwa Harimau sumatera berkembang biak seperti kucing, jika saja mereka memiliki habitat yang terlindungi, memiliki cukup mangsa dan tidak diburu. Untuk mencapai TX2 atau menambah jumlah dua kali lipat, kita sangat membutuhkan bantuan masyarakat lokal dan setiap orang yang peduli Harimau untuk mendukung usaha-usaha konservasi Harimau. Kepala Balai Besar KSDA Riau, Suharyono mengatakan bahwa perkembanganbiakan Harimau sumatera yang tertangkap kamera ini adalah kabar baik, karena kita punya target meningkatkan populasi Harimau yang merupakan salah satu diantara 25 satwa terancam punah hingga 10% sesuai dengan indikator kinerja Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan seperti yang dimandatkan oleh Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya. Begitupun dengan Direktur Sumatera dan Wildlife WWF Indonesia, Suhandri menyampaikan bahwa adanya video ini membuktikan Harimau sumatera yang sehat ini dapat berkembang biak dengan baik di Sumatera Tengah. Hal ini juga menunjukkan komitmen yang kuat dari Pemerintah Indonesia untuk menyelamatkan Harimau dan habitatnya. Perdagangan ilegal tetap menjadi salah satu ancaman terbesar dan paling cepat terhadap Harimau di alam liar. Rantai perdagangan yang panjang dari Sumatera Barat sampai kepada tujuan akhir. Hukum harus ditegakkan, kejahatan terhadap satwa liar harus dihentikan. Inisiatif-inisiatif yang bertujuan mengubah perilaku dibutuhkan untuk mengurangi permintaan terhadap bagian-bagian tubuh Harimau dan produk-produknya. Untuk menaikkan populasi Harimau Sumatera Balai Besar BKSDA Riau telah bekerja sama dengan banyak pihak, diantaranya dengan WWF Indonesia, Para pemerhati Harimau, dan masyarakat lokal. Video Tiger Family in Sumatera : https://www.youtube.com/watch?v=l68yKhrjmtQ Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Pendidikan Konservasi di Rejang Lebong

Rejang Lebong, 31 Juli 2018. Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) VI Rejang Lebong Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BBTNKS) kembali hadir dengan kegiatan lapangannya. Kali ini memberikan pendidikan konservasi bagi siswa sekolah SMU Negeri 3 Rejang Lebong. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 31 Juli 2018 di Hutan Madapi dan diikuti oleh 30 orang siswa. Selain siswa SMU 3 Rejang Lebong tersebut juga dihadiri langsung Kepala Bidang (Kabid) Wilayah 3 Curup dan Kepala SPTN Wilayah 6 Rejang Lebong, serta petugas resort Rejang Lebong yang akan menjadi pemandu dan pengisi materi. Beberapa materi yang disampaikan adalah pengenalan tentang Taman Nasional Kerinci Seblat, seperti sejarah, potensi keanekaragaman hayati, beberapa peraturan pokok terkait taman nasional, pengelolaan kawasan serta perlindungan dan pengamana kawasan hutan TNKS. Selain materi tentang TNKS, peserta juga diberikan pengetahuan tentang pentingnya kepedulian, kerjasama dan kepemimpinan. Penyampaian materi diberikan di ruang terbuka dengan metoda yang sangat menarik berupa permainan yang memancing antusias peserta, sehingga diharapkan para siswa mampu menyerap bekal ilmu pendidikan konservasi tersebut dengan maksimal. Kegiatan ditutup dengan jelajah hutan Madapi, yang menambah pengalaman baru siswa tentang hutan, lingkungan dan pelestariannya. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat
Baca Berita

Mahasiswa Bandung Angkat Masyarakat Tobelo Dalam di Penelitian Ilmiah

Sofifi, 31 Juli 2018. Balai TN. Aketajawe Lolobata kedatangan 5 mahasiswa Sekolah Tinggi Pariwisata NHI Bandung dalam rangka mempresentasikan proposal penelitian ilmiah mereka terkait pelibatan Masyarakat Tobelo Dalam (MTD) dalam pelaksanaan ekowisata di Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL). Didampingi oleh Dosen Pembimbingnya, mereka menjelaskan bahwa penelitian ini bertujuan untuk melihat kesesuaian kondisi riil karakteristik masyarakat adat dengan teori-teori yang telah di telaah sebelumnya. Kepala Balai TN. Aketajawe Lolobata, Muhammad Wahyudi, sangat mengapresiasi judul penelitian ini, dengan harapan hasil penelitian tersebut akan berguna untuk manajemen. "Kami TNAL pada tahun 2019 akan membuat master plan pemberdayaan Masyarakat Tobelo Dalam yang ada dalam dan sekitar kawasan TNAL, untuk teman-teman fungsional Balai TNAL akan mengkaji judul penelitian ini, dan memberikan masukan terkait metodenya. Lebih lanjut Wahyudi juga berkomentar "bahwa sampai saat ini, TNAL belum punya data yang lengkap tentang Masyarakat Tobelo Dalam, dan mulai tahun ini baru akan di lihat lebih detail lagi, salah satunya dengan ekspedisi TNAL 2018 nanti. Untuk itu kami akan melibatkan 5 mahasiswa ini dalam kegiatan Ekspedisi TNAL nanti yang akan dilaksanakan pada tanggal 15 s/d 30 Agustus 2018". Sumber : Ais Rafli - PEH Balai TN Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Semarak Global Tiger Day di Medan

Medan, 30 Juli 2018. Setelah sukses melaksanakan aksi mural di Kantor Dinas Kehutanan Propinsi Sumatera Utara, pada Rabu, 25 Juli 2018, kali ini puncak acara peringatan Hari Harimau Sedunia Tahun 2018 dilaksanakan di halaman Kantor Dinas Kehutanan Propinsi Sumatera Utara, pada Minggu, 29 Juli 2018. Perayaan tahun ini mengusung tema “Kearifan Lokal Untuk Harimau Sumatera”. Dalam sambutannya, Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc.For., menyampaikan bahwa tema ini mengandung pesan perlunya mengembalikan marwah Harimau Sumatera sebagai raja hutan selain sebagai satwa yang dilindungi, juga menjadi satwa yang punya posisi penting dalam ekologi dan kehidupan sosial budaya masyarakat. “Sejak dulu masyarakat Tapanuli yang tinggal disekitar kawasan hutan punya kearifan lokal, dimana satwa harimau mereka sebut juga dengan Ompung. Gelar “Ompung” bagi masyarakat suku batak merupakan posisi yang sangat dihormati, dan begitu jugalah bentuk penghormatan masyarakat terhadap harimau. Karena harimau tidak akan menyerang manusia sepanjang kehidupannya juga tidak diganggu ” ujar Hotmauli. Oleh karena itu, lanjut Hotmauli, momentum Global Tiger Day 2018 ini menjadi penting artinya dalam mensosialisasikan perlunya perlindungan dan penyelamatan satwa Harimau Sumatera, yang saat ini populasinya di Sumatera Utara diperkirakan tinggal 400 ekor lagi. “Kita tentunya tidak ingin nasib Harimau Sumatera mengalami nasib yang tragis seperti Harimau Bali dan Harimau Jawa yang telah lebih dahulu punah. Untuk itu mari terus kita kampanyekan upaya penyelamatan Harimau Sumatera, seperti yang kita lakukan saat ini, meskipun sederhana tetapi tidak mengurangi maknanya serta bermanfaat,” tegas Hotmauli. Lebih lanjut Hotmauli mengatakan bahwa Beberapa faktor penyebab menurunnya populasi Harimau Sumatera adalah berkurangnya habitat asli yang disebabkan alih fungsi kawasan dan perambahan hutan, terfragmentasinya habitat asli sehingga menyebabkan Harimau Sumatera kekurangan makanan, faktor genetik dan perburuan liar serta konflik manusia dengan Harimau Sumatera. Konflik menyebabkan kerugian dipihak manusia dan harimau itu sendiri. Peringatan Global Tiger Day 2018, kali ini diisi berbagai kegiatan seperti senam bersama, lomba mewarnai dan menggambar untuk tingkat taman kanak-kanak (TK) dan sekolah Dasar (SD), serta lomba cipta puisi untuk tingka SD dan SMP. Peringatan Hari Harimau Sedunia Medan 2018, dihadiri Plh. Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, Joko Iswanto, SP., Kepala Seksi Balai Pengamanan dan Penegakkan Hukum LHK Wilayah Sumatera, pejabat lingkup Dinas Kehutanan Propinsi Sumatera Utara, Komunitas Tiger Heart Medan, siswa/pelajar dan masyarakat. (Evan). Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Sinergisitas Patroli bersama dalam Pencegahan Karhutla di TN Way Kambas

Labuhan Ratu, 30 Juli 2018. Menghadapi musim kemarau tahun ini Balai Taman Nasional Way Kambas menggandeng beberapa pihak dalam upaya pencegahan maupun pemadaman kebakaran hutan. Hari ini Senin, 30 Juli 2018 Kepala Balai TN. Way Kambas, Subakir, SH. MH. didampingi Kapolres Lampung Timur, AKBP. Taufan Dirgantoro, memimpin langsung Apel Siaga dan Patroli Pencegahan Karhutla di Resort Susukan Baru Seksi PTN Wilayah I Way Kanan. Apel Siaga dan Patroli ini diikuti oleh 50 orang personil yang terdiri dari unsur Polhut dan staf Balai TN. Way Kambas, Polres Lampung Timur, Kodim 0411/ LT dan Masyarakat Mitra Polhut (MMP). Kepala Balai dalam arahannya menyampaikan bahwa, dalam menghadapi musim kemarau tahun ini Kebakaran hutan harus diminimalisir dan kitaharus upayakan zero asap. “Dalam gelaran Asian Games ke XVIII tahun 2018 Bu Menteri melalui pak Dirjen KSDAE meminta seluruh kawasan taman nasional agar meminimalisir kebakaran hutan dan mengupayakan Zero asap”, tegas Kepala Balai. Setelah melakukan Apel bersama, Kepala Balai langsung memimpin Patroli di wilayah Resort Susukan Baru dan Resort Rawa Bunder. Disekitar Resort Susukan Baru tim Patroli berhasil mengamankan 35 buah jerat satwa yang dipasang oleh oknum masyarakat. Dalam mengantisipasi kebakaran Hutan dan Lahan, pada tanggal 27 Juli 2018 Polda Lampung melakukan Sosialisasi Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan Kepada Pengelola Hutan dan Lahan Perkebunan di Wilayah Polda Lampung. Kapolda minta kepada para pengelola Hutan dan Lahan Perkebunan untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Selama gelaran Asian Games XVIII propinsi Lampung diharap tidak mengirimkan asap ke Palembang maupun Jakarta. Kita harus turut serta mensukseskan penyelenggaraan Asian Games dengan cara mencegah terjadinya Kebakaran Hutan dan Lahan. Sumber: Balai Taman Nasional Way Kambas
Baca Berita

Warga Selamatkan Bayi Orangutan yang Terpisah dari Induknya

Ketapang, 30 Juli 2018. Tim Wildlife Rescue Unit Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang kembali menerima satwa dari masyarakat 1 ( satu) individu jantan Orangutan (Pongo pygmaeus) berumur ± 1 tahun dari sdr. Rahman warga Desa Tanjung Pasar Kec. Muara Pawan Kab. Ketapang. Berawal dari mendengar suara tangisan orangutan pukul 07.00 WIB di semak-semak yang berada di sekitar PT. SKM (Sinar Karya Mandiri) saat ia memanen buah sawit milik perusahaan. Sambil melakukan pemantauan dari pagi hari dengan harapan induk Orangutan akan muncul dan mengambil anaknya, ia memberikan makanan berupa daun pucuk sawit dan tetap memantau hingga malam harinya. Keesokan harinya, karena sang induk tak kunjung muncul, akhirnya sdr. Rahman mengambil inisiatif untuk menyelamatkan anak orangutan dan melaporkannya kepada sdr. Veri Agustin Mandor PT. SKM, yang selanjutnya melaporkan ke Yayasan IAR Ketapang. Yayasan IAR Ketapang segera berkoordinasi ke SKW I Ketapang dan Tim Wildlife Rescue Unit segera menuju tempat lokasi yang dimaksud. Saat ini satwa tersebut dirawat di Pusat Rehabilitasi YIARI Ketapang, hingga dapat dilepasliarkan kembali di habitat aslinya. Sadtata Noor adirahmanta selaku kepala Balai KSDA Kalimantan Barat menyampaikan bahwa “banyaknya kegiatan pembukaan lahan membuat orangutan terfragmentasi hingga sulit memperoleh pakan, akibatnya banyak orangutan yang masuk ke area aktifitas manusia. Sinergitas antara pihak pemerintah, masyarakat, hingga private sector perlu kita jalin dengan baik agar kelestarian satwa liar tetap terjaga." "Tingginya kesadaran masyarakat tentang arti pentingnya kelestarian keanekaragaman hayati terutama pada satwa orangutan merupakan hal yang harus terus kita bina dan jaga demi lestarinya orangutan dan habitatnya di Pulau Borneo", tambahnya. (PR) Sumber : Tim WRU Seksi Wilayah I Ketapang, Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

PKEK, Kiriman Mencurigakan di Minggu Pagi

Bandung, 30 Juli 2018. Pada hari Minggu 29 Juli 2018 sekitar pukul 07.00 WIB, Pusat Konservasi Elang Kamojang (PKEK) yang berada di kawasan Taman Wisata Alam Kamojang telah menerima sebuah bingkisan misterius, tepatnya di gerbang areal PKEK yang pada awalnya dikira sampah, namun setelah diamati oleh pengelola PKEK bingkisan kardus tersebut bergerak sendiri dan memancing kecurigaan pengelola. Dengan penuh kehati-hatian, akhirnya bingkisan tersebut dibuka dan setelah dibuka hasilnya sangat mengejutkan karena didalamnya terdapat seekor Elang jawa muda (Nizaetus bartelsi). Selanjutnya dilakukan tindakan terhadap anakan Garuda tersebut dengan melakukan pemeriksaan kondisi fisik dan menempatkannya pada ruang penghangat di klinik PKEK. Berdasarakan hasil pemeriksaan, diperkirakan Elang jawa tersebut berumur kurang dari setahun dan sayap kirinya patah. Tindakan pemeriksaan dan evakuasi ini dibantu oleh mahasiswa jurusan kesehatan hewan IPB yang saat ini sedang melaksanakan praktek lapangan di PKEK. Informasi tersebut diatas diperoleh dari Kepala Bidang KSDA Wilayah III Ciamis yang sebelumnya menerima laporan melalui pesan Whatsapp dari pengelola PKEK, Sdr. Zaini Rakhman : “Pagi ini ada kejadian yang unik... Sekitar jam 7:00, ketika kami duduk-duduk, ngobrol sambil berjemur ditemukan kardus tergeletak tepat digerbang pkek... awalnya kami pikir mungkin sampah, tapi kemudian kardus itu bergerak dan terguling sendirinya... segera kami cek dan ternyata isinya.... seekor elang jawa muda!” Kejadian ini sangat langka terjadi, menimbulkan dugaan bahwa Elang tersebut diletakkan oleh masyarakat karena ketakutan terhadap konsekuensi hukum jika memelihara satwa liar yang Dilindungi Undang-undang. Bercermin dari kejadian diatas, kami menghimbau agar masyarakat jangan ragu-ragu melaporkan jika memiliki informasi tentang keberadaan satwa liar yang Dilindungi Undang-undang atau menyerahkan satwa liar yang Dilindungi Undang-undang jika memeliharanya secara tidak sah kepada BKSDA setempat, jangan takut… Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

Petani Serahkan Trenggiling (Manis javanica) Ke Petugas BPTN Wil I Tapaktuan

Tapaktuan, 30 Juli 2018. Sarbiadi (42) seorang petani asal Desa Lhouk Aman, Kecamatan Meukek, Kabupaten Aceh Selatan menyerahkan seekor satwa lindung berupa Trenggiling (Manis javanica) secara sukarela kepada petugas TN. Gunung Leuser. Menurut penuturannya, Trenggiling tersebut ia temukan sekitar pukul 22.15 WIB masuk kios di halaman rumahnya. Selanjutnya Sarbiadi menemui saudara Herman Juanda yang merupakan salah seorang petugas Resort Krueng Baro, SPTN Wilayah II Kluet Utara, BPTN Wilayah I Tapaktuan, Aceh Selatan. Sekitar pukul 09.15 WIB, petugas TN. Gunung Leuser menjemput satwa lindung itu langsung ke rumah yang bersangkutan untuk dievakuasi. Prosesi penyerahan satwa yang gemar makan semut dan rayap ini dilakukan di Desa Lhouk Aman, Kecamatan Meukek, Aceh Selatan Minggu, (29/7/18). Pada hari yang sama sekitar pukul 11.00 WIB, hewan bersisik keras tersebut kembali dilepasliarkan ke kawasan hutan konservasi TNGL yaitu didalam blok hutan dataran rendah Rantau Sialang, Desa Pasie Lembang, Kecamatan Kluet Selatan, Kabupaten Aceh Selatan.si Manis javanica itu diperkirakan berukuran ± 10 Cm dengan berat ± 3 kg dan berjenis kelamin betina. PEH BPTN Wilayah I Tapaktuan Soloon Syahruddin Tanjung, S.Hut membenarkan bahwa mamalia bersisik ini diserahkan warga secara sukarela tanpa adanya tekanan dari pihak terkait. Soloon mengapresiasi itikad baik dari masyarakat terhadap pelestarian satwa lindung. [teks ©efa wahyuni, foto © Musrizal| 21072018] Sumber : Balai TN Gunung Leuser
Baca Berita

BKSDA Sumatera Selatan Peringati Global Tiger Day 2018

Palembang, 30 Juli 2018. Balai KSDA Sumatera Selatan berpartisipasi dalam peringatan Global Tiger Day 2018 yang diinisiasi oleh Forum Harimau Kita melalui relawan Tigerheart Palembang. Tema Global Tiger Day 2018 yaitu “Kearifan Lokal untuk Harimau Sumatera”. Tema ini sesuai dengan kearifan lokal bagaimana masyarakat memandang harimau sumatera. Di berbagai daerah harimau sumatera dianggap sebagai “nenek”, “datuk”, “penjaga hutan” dan berbagai sebutan lainnya. Jika ditelaah mendalam, tradisi masyarakat yang demikian dapat berguna sebagai bentuk konservasi Harimau Sumatera. Peringatan Hari Harimau Sedunia atau Global Tiger Day dilaksanakan setiap tanggal 29 Juli, sejak disepakati pada pertemuan tingkat tinggi di Saint Petersburg dalam Tiger Summit pada tanggal 29 Juli 2010, dilandasi dengan kondisi populasi harimau yang hampir punah. Salah satu tujuan peringatan Global Tiger Day, sebagaimana tercantum dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 45 tahun 2007 tentang Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Harimau Sumatera adalah untuk untuk meningkatkan dukungan masyarakat terhadap upaya konservasi harimau baik di dalam maupun pada tataran global. Rangkaian kegiatan Global Tiger Day 2018 yang telah dilaksanakan Tigerheart Palembang bersama dengan Balai KSDA Sumatera Selatan dan ZSL Indonesia yaitu Visit School ke Sekolah Alam Indonesia Palembang, Talkshow Radio di RRI Pro 1 Palembang, dan Ngopi Bareng di OTW Foodstreet Palembang. Kegiatan tersebut disambut baik masyarakat melalui partisipasi aktif selama mengikuti kegiatan. Selain itu, dibagikan bahan publikasi berupa poster beberapa kucing dilindungi yang diketahui keberadaannya di Sumatera Selatan, stiker, gantungan kunci, dan kaos “preserving biodiversity”, buku informasi kawasan konservasi pada Balai KSDA Sumatera Selatan, buletin Rimau Kito, dan paper craft harimau selama kegiatan berlangsung. Sumber : Julita Pitria - Penyuluh BKSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

In House Training Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan Tumbuhan dan Satwa Liar BBKSDA Jabar

Bandung, 30 Juli 2018. Sejak awal tahun 2017, Balai Besar KSDA Jawa Barat telah membentuk Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan Tumbuhan dan Satwa Liar yang tersebar di seluruh Seksi Konservasi Wilayah lingkup Balai Besar KSDA Jawa Barat. Pada hari Kamis dan Jumat (26-27 Juli 2018) bertempat di Hotel De Java Bandung, Balai Besar KSDA Jawa Barat telah mengadakan kegiatan dalam upaya meningkatan kapasitas sumber daya manusia Tim Gugus Tugas yaitu dengan melaksanakan In House Training Pengenalan Jenis Dan Penanganan Tumbuhan Dan Satwa Liar yang dihadiri oleh 35 peserta yang terdiri dari unsur BBKSDA Jawa Barat, Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat, Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Barat & Banten dan Balai Tahura Ir. Djuanda. Kegiatan ini menghadirkan 7 (tujuh) narasumber dari berbagai stakeholder yang berkompeten dalam mendukung pengelolaan TSL di Jawa Barat, diantaranya: Selain penyampaian materi diatas, pada kesempatan yang sama peserta juga dikenalkan mengenai teknik handling satwa berikut pengenalan perlengkapan peralatan handling oleh pihak Kebun Binatang Bandung. In house training ini dilaksanakan mengingat akan tugas dari Tim Gugus Tugas Evakuasi Dan Penyelamatan Tumbuhan dan Satwa Liar, dimana Tim Gugus Tugas ini sedikitnya mempunyai 3 tugas utama antara lain melakukan Pra-kondisi yang meliputi Sosialisasi dan edukasi, tugas kedua yaitu pelaksanaan yang mencakup evakuasi, translokasi, penitipan dan realease, serta tugas ketiga yaitu melakukan publikasi dan pengelolaan data base. Sehingga untuk mendukung pelaksanaan ketiga tugas tersebut dibutuhkan personil-personil yang mempunyai kemampuan dalam pengenalan jenis dan penanganan tumbuhan dan satwa liar. Dengan demikian diharapkan dengan adanya in house training ini diharapkan peserta yang sebagian besar sebagai anggota Tim Gugus Tugas dapat melaksanakan tugas di lapangan lebih professional lagi. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

Ternak Itik dan Kesetaraan Gender

Waingapu, 30 Juli 2018. Kesetaraan gender di Pulau Sumba boleh dibilang masih sangat kecil. Hal ini dapat terlihat dari pola kehidupan sehari-hari yang masih mengutamakan laki-laki. Contohnya saat makan, perempuan Sumba akan mendahulukan laki-laki untuk makan. Menyadari hal itu serta mensejajarkan peran serta perempuan dalam peningkatan perekonomian, Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) membuat program pemberdayaan masyarakat berupa ternak itik yang dilakukan oleh kelompok perempuan di salah satu desa penyangga kawasan TN, Desa Padaritana. Dengan nama kelompok Rambu Langgaliru, para perempuan diberikan bantuan berupa 1500 ekor day old duck (DOD, anak itik umur sehari) yang dibagi ke 3 dusun. Kegiatan ini mendapat pengawalan penuh dari para Penyuluh Kehutanan serta dari jajaran pejabat struktural TN Matalawa. Kepala Balai, Maman Surahman, S.Hut, M.Si dan Plt. Kasubag Tata Usaha, Hastoto Alifianto, S.Hut, M.Si, dalam kegiatan supervisi dan diskusi dengan para anggota kelompok pada tanggal 30 Juli menyatakan bahwa, para anggota harus tetap semangat dalam menjalankan program ini. Segala kekurangan dan kebutuhan akan diupayakan untuk diperbaiki sehingga para anggota berdaya dan tujuan program ini yaitu kesetaraan gender dalam peningkatan perekonomian dapat tercapai.(dpn/mtlw) Sumber: Balai Taman Nasional Matalawa
Baca Berita

Pemandu Wisata Kami, Pemandu Bersertifikat dan Kompeten

Pulau Harapan, 30 Juli 2018. Balai TN Kepulauan Seribu mengapresiasi komitmen para pemandu wisata lokal yang memiliki IUPJWA dalam bentuk peningkatan kapasitas dan pendampingan. Salah satu wujud apresiasi adalah fasilitasi peningkatan kemampuan pemandu wisata dalam menyelam dan memandu snorkeling yang baik.. Sebanyak 20 orang pemegang IUPJWA dan anggotanya mengikuti pelatihan selam dengan jenjang yang bervariasi, mulai A1 (Open Water), A2 (Advanced) dan A3 (Rescue) pada tanggal 24 sampai denga 26 Juli 2018. Mereka berasal dari Pulau Kelapa, Pulau Kelapa Dua, dan Pulau Harapan. Para pengajar dan pembimbing praktek memiliki lisensi sebagai Instruktur dan Dive Master serta berpengalaman memberikan pelatihan di area Taman Nasional Kepulauan Seribu. Berbekal banyak pilihan lokasi diving yang aman untuk pelatihan, pelaksana dan pengajar memutuskan lokasi praktek bertempat di perairan Pulau Sepa. Sementara itu, pemberian teori secara paparan dan tampilan video disampaikan di kantor SPTN Wilayah II Pulau Harapan. Dalam kegiatan ini, pelaksana juga tidak lupa mengingatkan kepada peserta untuk membawa botol minum untuk mengurangi produksi sampah plastik dari kemasan air minum. Pelatihan berjalan dengan lancar, para peserta mengikuti pelatihan dengan fokus tapi santai. Pelatihan diitutup dengan penyerahan sertifikat secara simbolis oleh Kepala SPTN Wilayah II Pulau Harapan, Mufti Ginanjar, S.Pi.,MT.,M.Sc selaku perwakilan Balai TN Kepulauan Seribu. Kegiatan ini diadakan untuk mendukung Role Model TN Kepulauan Seribu di bidang Ekowisata Bahari. Dalam waktu dekat, terkait role model, Balai TN Kepulauan Seribu memiliki agenda lain bersama pemandu wisata pemegang IUPJWA, antara lain pelatihan lanjutan pemandu wisata, identifikasi spot selam dan diskusi menegnai panduan/rekomendasi stadar pelayanan ekowisata bagi pelaku usaha jasa wisata. Pemandu wisata yang memiliki pengetahuan, kemampuan dan kesadaran akan ekowisata menjadi salah satu kunci menuju terwujudnya ekowisata bahari. “Laut adalah modal utama dalam ekowisata bahari” Sumber : Yuniar Ardianti - Balai TN Kepulauan Seribu
Baca Berita

Global Tiger Day : Upaya Kampanye Pelestarian Harimau Sedunia

Riau, 30 Juli 2018. Global Tiger Day atau Hari Harimau Sedunia dideklarasikan pada Pertemuan International Tiger Forum di Saint Petersburg, Rusia Tahun 2010 dan diperingati setiap tanggal 29 Juli setiaptahunnya. Tema Global Tiger Day tahun 2018 adalah “Kearifan Lokal untuk Konservasi Harimau Sumatera” dengan tagar #science, nature, culture. Tema ini memiliki makna yaitu harapan kepada masyarakat untuk dapat mempertahankan dan mengembangkan kearifan lokal yang ada di kehidupan masyarakat dalam interaksinya dengan alam dan hutan, dimana secara tidak langsung berdampak pada kelestarian habitat Harimau Sumatera. Masyarakat diharapkan lebih arif dan bijak mengingat bahwa kita hidup berdampingan dengan Harimau Sumatera. Bentuk kegiatan peringatan Global Tiger Day tahun 2018 ini antara lain : (1) Sosialisasi ke desa dan sekolah di daerah penyangga, dilaksanakan pada bulan Mei s.d Juni 2018; (2) Patroli sapu jerat dengan masyarakat mitra Polhut, dilaksanakan dari bulan Januari s.d sekarang; (3) Lomba membuat video pendek, dilaksanakan pada 18 s.d 28 Juli 2018; (4) Lomba mengarang puisi dilaksanakan pada 18 s.d 28 Juli 2018; (5) Talkshow di stasiun Radio Swara Indragiri (Swai) pada Sabtu 28 Juli 2018 jam 10.00 s.d 13.00 WIB. Narasumber yaituKepala Balai TNBT Darmanto, SP.,M.AP, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kab. Indragiri Hulu Ir. Selamat MM, Aktivis Yayasan Penyelamatan dan Konservasi Harimau Sumatera Ahmad Fanani dan Tokoh Masyarakat Desa Rantau Langsat M. Nasir; (6) Jalan dan senam sehat, orasi, Lomba mewarnai untuk anak,pameran dan bazaar, dilaksanakan pada hari Minggu 29 Juli 2018 sebagai puncak peringatan GTD 2018, tempatpelaksanaan kegiatan di Ruang Terbuka Hijau Rengat, dengan melibatkan segenap mitra kerja TNBT yaitu Yayasan PKHS (Penyelamatan dan Konservasi Harimau Sumatera), WWF Program Sumatera, FZS Jambi, Cabang PT. Bank Mandiri tbk. Rengat, PT. LAJ ( Lestari Asri Jaya ) Jambi dan Pemerintah Daerah terkait; (7) Penandatanganan komitmen bersama (Pemda, TNBT, Polri, TNI, mitra TNBT dan segenap masyarakat) yang dituangkan dalam bentuk penandatanganan spanduk sebagai wujud komitmen bersama untuk melestarikan harimau; (8) Untuk memeriahkan acara kampanye pelestarian alam (Harimau Sumatera) dihadirkan grup seni tradisional gambus suku Talang Mamak dari Desa Rantau Langsat, Kec. Batang Gansal. Acara ini dihadiri oleh : Bupati Indragiri Hulu yang diwakili oleh Asisten Ekonomi Pembangunan Sekretariat Daerah Kab. Indragiri Hulu, Ketua DPRD Kab. Inhu, Kapolres Inhu yang diwakili oleh Kasat Narkoba, Danramil 01 Rengat, Kelompok Jantung Sehat Inhu dan segenap masyarakat Kab. Indragiri Hulu yang diperkirakan mencapai ± 1.100 orang. Balai Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (BTNBT) akan terus berupaya untuk melestarikan keberadaan Harimau Sumatera, baik melalui upaya preventif, pre-emtif, persuasif maupunrepresif sesuai kaedah - kaedah yang diatur dalam UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Sumber : Balai TN Bukit Tiga Puluh
Baca Berita

Spesies Baru Kodok Merah Ciremai

Kuningan, 29 Juli 2018. Kabar mengejutkan datang dari dunia penelitian Amphibi, dimana telah ditemukan jenis baru dari genus Leptophryne di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) yaitu Leptophryne javanica sp. Selama ini spesies amphibi ini dikenal sebagai kodok merah. Di TNGC pertama kali dijumpai secara tidak sengaja oleh peserta lomba foto flora fauna di kawasan Blok Ipukan pada tahun 2012. Penamaan spesies hasil temuan tersebut ditentukan sebagai Kodok Merah dengan nama ilmiah Leptophryne creuntata, Tschudi, (1838) yang berdasarkan pada bentuk morfologi yang sesuai dengan dideskripsikan oleh T. Iskandar dalam bukunya Amfibi Jawa Bali halaman 42 yang mengatakan bahwa ”warna kodok merah; hitam dengan bercak merah dan kuning dengan dua macam bentuk. Bentuk pertama terdiri dari individu-individu dengan tanda jam pasir; pinggiran merah dan kuning di tengah-tengah hitam. Jenis kedua terdiri dari individu-individu dengan bercak kuning tersebar di seluruh warna hitam. Bagian bawah berwarna kemerahan atau ke kuningan”. Temuan spesies yang diduga kodok merah ini membuat pihak Balai TNGC bekerja sama dengan PILI yang juga didukung oleh Pertamina EP pada tahun 2013 mengadakan kegiatan Survey Biodiversitas di Taman Nasional Gunung Ciremai kabupaten Kuningan dan kabupaten Majalengka, Jawa Barat pada empat lokasi habitatnya, yaitu aliran Paderek (Curug Cilutung, Curug Cisurian dan Curug Batu Nganjut), aliran Kopi Bojong. Kemudian pada tahun 2017 dilanjutkan kegiatan monitoring habitat dan populasi kodok merah oleh PEH Balai TNGC dan ditemukan lokasi baru yaitu aliran Ciinjuk, mata air Cadas Belang dan mata air Sigedong. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada tahun 2017 melakukan pengambilan sampel kodok merah yang berada di Aliran Padarek. Melalui artikel ZOOTAXA nomor 4450 (4): 427-444, LIPI memberikan hasil pengujian labotarium terhadap genetik, suara dan morfologi, bahwa kodok merah yang di gunung Ciremai adalah spesies baru yang berbeda dengan kodok merah yang ada di gunung Halimun dan gunung Gede Pangrango. Spesies yang ada di gunung Ciremai sama dengan yang ada di gunung Slamet. Spesies baru tersebut di namakan Leptophryne javanica sp. Penamaan ini berdasarkan kesamaan genus Leptophryne, sedangkan nama javanica ditemukan di Pulau Jawa yaitu Jawa Barat di gunung Ciremai dan Jawa Tengah di gunung Slamet. Temuan jenis baru ini tidak hanya menambah kekayaan jenis di TNGC tapi juga di Indonesia pada umumnya. Walaupun TNGC kehilangan kodok Merah-nya, tetapi TNGC menemukan jenis baru yaitu Leptophryne javanica sp. dan memberikan nama lokalnya menjadi Kodok Merah Ciremai. [teks ©? Azis Abdul Kholik - BTNGC; sumber ©? ZOOTAXA nomor 4450 (4): 427-444; foto ©? ??? | 072018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Peringatan Global Tiger Day Merangin

Merangin, 29 Juli 2018. Auumm... SKW I BKSDA Jambi bersama Pemko Merangin dan Fauna Flora Internasional (FFI) memperingati Global Tiger Day yang jatuh pada hari Minggu 29 Juli. Acara ini sendiri dibuka langsung oleh Sekda Kabupaten Merangin, Drs. Sibawahi, ME. dilakukan di area Kantor Bupati Merangin. Global Tiger Day merupakan Hari Harimau Internasional yang diperingati untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan keberadaan harimau. Sibawahi mengatakan, “Acara Global Tiger Day ini merupakan sejarah baru karena untuk pertama kali nya dilaksanakan di Kabupaten Merangin. Acara ini sangat bagus bagi masyarakat Merangin dalam rangka meningkatkan kepedulian terhadap Harimau Sumatera dan menambah wawasan.” Beliau menambahkan, “Merangin merupakan kabupaten yang memiliki kawasan hutan yang relatif luas baik itu hutan konservasi, hutan lindung, cagar alam, hutan produksi, dan hutan adat. Diharapkan semoga Global Tiger Day akan rutin dilaksanakan tiap tahun di Merangin untuk ke depannya, tak terkecuali untuk acara-acara serupa.” Harimau Sumatera sendiri saat ini masuk ke dalam Appendix 1 CITES yang arti nya segala bentuk perdagangan internasional dan komersial nya dilarang, keberadaan Harimau Sumatera sendiri saat ini dalam titik yang cukup mengkhawatirkan menurut IUCN sejak tahun 1996. Indonesia tercatat pernah memiliki 3 dari 8 Sub Species Harimau yang ada di dunia. Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan satu-satu nya jenis Harimau yang masih ada Indonesia setelah Harimau Bali (Panthera tigris balica) dan Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) dinyatakan punah sejak 1940an dan 1980an. Global Tiger Day di Merangin sendiri cukup banyak diikuti oleh masyarakat yang sangat antusias mengingat ini merupakan pertama kali nya Global Tiger Day dilaksanakan di Kabupaten Merangin. Kegiatan diawali dengan jalan santai dimulai dari Kantor Bupati dan diakhiri di tempat yang sama. Kabalai KSDA Jambi, Rahmad Saleh memberikan kata sambutan pada kegiatan yang berlangsung dari pagi hari ini, “Global Tiger Day merupakan kegiatan yang sangat positif, kegiatan sebagai bentuk kepedulian kita terhadap alam dan terhadap keberadaan Harimau. Kita harus tingkatkan terus kesadaran kita terhadap satwa yang satu ini. Jumlah harimau kita sangat sedikit populasinya dan cukup mengkhawatirkan. Apa kita mau jika Harimau itu nanti hanya tinggal kenangan saja, hanya bisa lihat gambar nya saja tanpa tau bentuk asli nya ? kan tentu kita tidak ingin seperti itu.” Untuk memeriahkan acara Global Tiger Day ini dilanjutkan dengan berbagai lomba yaitu lomba lukis wajah untuk tingkat SMP dan SMA, lomba membuat kue untuk Dharmawanita Pemko Merangin dan lomba desain poster digital, pameran konservasi dan HHBK, dan pembagian bibit MTPs gratis untuk masyarakat. Terdapat juga panggung hiburan yang dilengkapi dengan doorprize menarik untuk peserta. Penyerahan hadiah bagi para pemenang lomba sendiri dilakukan oleh Sekda Merangin, Kabalai KSDA Jambi, Kababes TNKS, dan pimpinan FFI Merangin projek dan pusat. “Kami senang bisa melaksanakan acara Global Tiger Day untuk pertama kali nya di Kabupaten Merangin. Antusiasme masyarakat membuat kami senang, itu menandakan bahwa masih banyak masyarakat yang peduli dengan lingkungan sekitarnya. Kami akan berupaya agar acara ini dapat rutin dilaksanakan setiap tahunnya disini”, ungkap pimpinan FFI Merangin. Sumber : Balai KSDA Jambi

Menampilkan 7.377–7.392 dari 11.140 publikasi