Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Dua Orangutan Penyerahan Masyarakat Direhabilitasi

Medan, 2 Agustus 2018. Beberapa waktu yang lalu Taman Hewan Pematangsiantar (THPS) menerima 2 individu Orangutan Sumatera (Pongo abelii), yaitu 1(satu) individu umur betina 9 tahun 1 (satu) individu jantan umur 4 tahun dari masyarakat Sidikalang Kabupaten Dairi. Keberadaan dua individu orangutan tersebut sudah dilaporkan oleh TPHS kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Berdasarkan laporan TPHS langsung dilakukan pengecekan dan pemeriksaan kesehatan Orangutan Sumatera dan kesimpulannya adalah bahwa dua orangutan tersebut masih dapat dilepasliarkan kehabitatnya. Semua jenis Orangutan adalah satwa dilindungi sesuai peraturan terbaru dari KLHK yaitu P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018. Awalnya pihak THPS sangat berharap 2 Orangutan Sumatera tersebut dapat dipelihara di Lembaga Konservasi yang dikelolanya dengan pertimbangan telah memiliki sumber daya yang mumpuni untuk melakukan perawatan. Mengingat bahwa populasi Orangutan Sumatera menurun maka Balai Besar KSDA Sumatrera Utara akan merehabilitasi dan melepasliarkan satwa ini ke habitat alaminya. Pertimbangan lainnya adalah adanya mitra konservasi Yayasan Ekosistem Lestari yang telah berpengalaman dalam melakukan rehabilitasi dan reintroduksi Orangutan Sumatera sejak tahun 2002. Setelah mendapat penjelasan, kemudian pihak Taman Hewan Pematangsiantar (THPS) menyatakan dukungan terhadap upaya pelestarian Orangutan Sumatera dan bersedia menyerahkan kedua orangutan dimaksud kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Proses penyerahan Orangutan Sumatera ini berlangsung pada Rabu 1 Agustus 2018, bertempat di kantor Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara menerima langsung penyerahan orangutan dari pihak Taman Hewan Pematangsiantar (THPS) yang diwakili oleh Khoeruddin,S.H,MM selaku manager Taman Hewan Pematangsiantar (THPS). Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc,For, Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara mengatakan “Sesuai arahan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 57/Menhut-II/2008 tentang Arahan Strategis Konservasi Spesies Nasional 2008-2018 bahwa Orangutan Sumatera (Pongo abelii) termasuk dalam katergori “Prioritas Sangat Tinggi” dengan arahan pengelolaan pelestarian “Insitu”. Dengan demikian 2 (dua) Orangutan tersebut harus dilepasliarkan ke habitat alaminya setelah melalui proses rehabilitasi”. Lebih lanjut Kepala Bidang Teknis KSDA BBKSDASU Ir. Irzal Azhar, M.Si menambahkan “Orangutan yang masuk ke Pusat Karantina Orangutan Sumatera akan dilakukan pemeriksaan kesehatan, perawatan dan dilatih untuk dipulihkan sifat liarnya. Ketika dinyatakan layak oleh tim medis maka orangutan akan dilepasliarkan ke habitan alaminya. Harapannya orangutan tersebut dapat berkembangbiak dihabitat alaminya dan populasinya bertambah ”. Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Pembekalan Teknis Evaluasi Kerjasama Internasional LHK

Jambi, 2 Agustus 2018 Balai KSDA Jambi bersama dengan Perwakilan Biro Kerja Sama Teknik Luar Negeri Kementerian Sekretariat Negara, melakukan rapat pembekalan teknis evaluasi kerjasama internasional. Bertempat di kantor Balai KSDA Jambi, rapat dihadiri oleh Ka. Balai KSDA Jambi, perwakilan Biro Kerja Sama Teknik Kemen. SetNeg, perwakilan Taman Nasional yang ada di Provinsi Jambi. Rapat sendiri dibuka langsung oleh Ka. Balai KSDA Jambi, Rahmad Saleh. Acara dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Ka. Balai KSDA Jambi. Rahmad Saleh memaparkan kerjasama yang terjalin antara BKSDA Jambi dan NGO (Non Government Organization) dan beberapa masalah yang dihadapi terkait kerjasama yang dilakukan dengan pihak luar. Dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh perwakilan Biro KTLN, Biro KTLN juga memberi masukan dan arahan kepada BKSDA Jambi terkait masalah yang dihadapi. Acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab oleh Biro KTLN kepada peserta rapat yang hadir, beberapa pertanyaan muncul dari perwakilan Taman Nasional. Biro KTLN menjelaskan satu per satu pertanyaan yang diajukan dan memberi arahan terkait kerjasama baik yang belum maupun sudah dilakukan. Acara lalu diakhiri dengan makan siang bersama seluruh peserta rapat pembekalan teknis. Ka. Balai KSDA Jambi, Rahmad Saleh mengatakan “Rapat pembekalan teknis ini kita lakukan demi mengatasi masalah yang kita hadapi saat ini dan kita undang langsung tamu kita dari Biro KTLN pusat untuk memberi arahan dan masukan kepada kita. Alhamdulillah acara berjalan lancar sesuai jadwal”. Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Publikasi Tiada Henti, TN Matalawa Hadir di Pameran Pembangunan Sumba Timur

Waingapu 2 Agustus 2018. Untuk kesekian kalinya Balai Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) turut serta memeriahkan pameran pembangunan Kabupaten Sumba Timur. Pameran ini merupakan rangkaian kegiatan memperingati Hari UlangTahun Tahun Republik Indonesia yang ke 73. Pameran pembangunan ini berlangsung sejak tanggal 1 hingga 16 Agustus 2018 di Taman Wisata Matawai-Waingapu Kabupaten Sumba Timur. Kurang lebih 38 peserta pameran memeriahkan acara yang berasal dari Organisai Perangkat daerah (OPD), Instansi vertikal, BUMN/BUMD, Lembaga Pendidikan, LSM dan UKM. Pembukaan pameran, booth TN Matalawa mendapat kunjungan dari Bupati, Wakil Bupati dan Ketua DPRD Kabupaten Sumba Timur beserta seluruh rombongannya. Kepala Balai Taman Nasional Matalawa Maman Surahman S.Hut., M.Si memaparkan terkait upaya TN Matalawa dalam mempromosi Objek dan Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) di Pulau Sumba khususnya di wilayah TN Matalawa. Hal ini tertuang melalui gelaran-gelaran pameran Nasional, acara akbar bertaraf Internasional seperti bird watching dan lomba Fotografi. Bupati Sumba Timur Drs. Gidion Mbiliyora, M.Si. menorehkan pesan konservasi pada sebuah bingkai berlukiskan pemandangan alam untuk “menjaga anugerah SDA yang luar biasa demi keberlangsungan hidup anak cucu”. Kehadiran TN Matalawa dalam gelaran pameran pembangunan tersebut, secara tidak langsung menyadarkan masyarakat akan pentingnya peranan kawasan konservasi dalam menjaga keanekaragaman hayati yang ada didalamnya. Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti
Baca Berita

Kepala BBKSDA Papua Dampingi Dua Dirjen KLHK pada Kunjungan Kerja DPR RI di Papua

Merauke, 30 Juli 2018. Kepala Balai Besar KSDA Papua Ir. Timbul Batubara, M.Si beserta Sekretaris Daerah Kabupaten Merauke dan jajarannya serta Kepala Balai Taman Nasional Wasur menyambut kedatangan tim Komisi IV DPR RI yang di pimpin oleh Dr. Michael Watimena, SE. MM dan Dirjen KSDAE Ir. Wiratno, M.Sc. Kedatangan rombongan sebagai bentuk kunjungan kerja untuk menjalankan fungsi pengawasan terhadap kegiatan pemerintahan dengan tujuan untuk melihat secara langsung pembangunan yang dibiayai oleh APBN. Mengawali kunjungan kerja komisi IV DPR RI, tim mendatangi stasiun karantina pertanian Kelas I Merauke. Pada pertemuan tersebut Komisi IV DPR RI menampung masukan yang berkaitan dengan optimalisasi pelaksanaan tugas di lapangan dengan penambahan SDM. Setelah melakukan pertemuan di Stasiun Karantina, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Balai TN Wasur yaitu di Pusat Informasi Bomisai. Kedatangan rombongan langsung disambut tarian adat N’Gatsi (Tarian adat untuk menyambut tamu agung) oleh suku yang mendiami TN Wasur yaitu suku Marory Men Gey yang di pimpin ketua suku Bapak Lemos Gebze dan Bapak Jeremias Dima. Mereka menyematkan pakaian adat dan pengalungan noken sebagai tanda bahwa keduanya sudah diterima oleh suku Marory Men Gey kepada ketua tim komisi IV DPR RI dan Bapak Ditjen KSDAE. Selesai prosesi adat, rombongan diajak berkeliling lokasi Pusat Informasi Bomisai, rombongan diperkenalkan tentang potensi Tumbuhan dan Satwa Liar yang ada di Kabupaten Merauke, melalui perusahaan yang bergerak di bidang pemanfaatan TSL dalam hal ini adalah Reptil yang tidak dilindungi yang wilayah pengumpulannya di Kabupaten Merauke (CV. Flora Fauna Interprize). Selanjutnya rombongan menuju tempat penangkaran Taman Nasional Wasur untuk melepaskan salah satu jenis satwa endemik yang ada di Kabupaten Merauke Kanguru tanah (Thylogale brunii). Jenis ini dalam nama lokalnya disebut dengan saham dimana jenis ini merupakan hasil dari penyerahan masyarakat yang sudah mulai memahami untuk melestarikan kekayaan alam berupa keanekaragaman hayati yang mereka miliki. Rombongan kemudian melanjutkan kunjungan ke lokasi penangkaran anggrek binaan TN Wasur dimana terdapat satu jenis anggrek yang memiliki kekhasan yang tidak dimiliki oleh anggrek yang lainnya. Dendrobium discolor nama latinnya untuk jenis anggrek yang memiliki wangi menyerupai bunga melati. Bapak Dirjen KSDAE menghimbau untuk dilakukan pengembangan terhadap jenis ini agar menjadi salah satu produk unggulan penangkaran tersebut. Selain itu, terdapat jenis tumbuhan lainnya yang mempunyai potensi nilai ekonomi yang tinggi. Jenis tersebut adalah minyak kayu putih yang berasal dari Melaleuca leucadendra. Pengembangan jenis tumbuhan ini dapat membantu meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar kawasan hutan. Esok harinya tanggal 31 Juli 2018, di waktu yang hampir bersamaan rombongan komisi IV DPR RI bersama Bapak Dirjen KSDAE bertolak ke Jakarta, Kepala Balai Besar KSDA Papua menuju Jayapura untuk dapat bergabung pada rombongan Komisi VII DPR RI. Turut hadir dalam rombongan tersebut antara lain Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) Ibu Rosa Vivien Ratnawati, SH., MSD beserta jajarannya. Pada kunjungan kerja komisi VII di awali dengan pemantauan di Danau Sentani, untuk selanjutnya melakukan kunjungan ke PLTMG di Holtekam. Setelah makan siang dilanjutkan dengan pertemuan di Sasana Krida kantor Gubernur Provinsi Papua bersama dengan kelembagaan terkait lainnya. Rabu, tanggal 1 Agustus 2018 rombongan komisi VII bertolak ke Jakarta, namun Dirjen PSLB3 menyempatkan bersilaturahmi ke kediaman Baltazar Kambuaya (mantan Menteri Lingkungan Hidup). Dalam perjalanan menuju Bandara Sentani, Kepala Balai Besar KSDA Papua melaporkan kepada Ibu Dirjen PSLB3 terkait dengan kegiatan Festival Cycloop yang nantinya akan diselenggarakan pada tanggal 18 November 2018. Ibu Dirjen sangat men-support kegiatan tersebut dengan memberikan bantuan berupa tempat sampah yang nantinya akan ditempatkan di sekitar kawasan TWA Teluk Youtefa dan CA Pegunungan Cycloop. Bantuan lainnya pun diberikan dalam bentuk jaring yang berfungsi untuk menyaring sampah pada muara-muara kali yang mempunyai potensi penimbunan sampah. Sumber : Balai Besar KSDA Papua
Baca Berita

Menghadapi Musim Kemarau TN Bromo Tengger Semeru Gelar Apel Siaga Dalkarhut

Malang, 1 Agustus 2018. Selasa 31 Juli 2018 bertempat di Laut Pasir, TN Bromo Tengger Semeru melaksanakan apel siaga pengendalian kebakaran hutan (Dalkarhut) 2018. Apel siaga Dalkarhut diikuti 245 personil terdiri dari unsur TNBTS, Masyarakat Peduli Api TNBTS, TNI, Polri, Satpol PP, BPBD, dan Polhut Perhutani. Tri Cahya Nugroho menyampaikan apel siaga ini dimaksudkan untuk mengecek kesiapan personil TNBTS, personil pendukung dan kesiapan sarpras pengendalian kebakaran hutan dalam menghadapi musim kemarau 2018. Apel siaga juga menjadi indikator komunikasi dan kordinasi yang dibangun TNBTS dengan stakeholders terkait dalam menghadapi musim kemarau dan antisipasi terjadinya kebakaran hutan di TNBTS. lebih lanjut di sampaikan Cahyo ditahun 2017 pernah terjadi kebakaran di TNBTS tepatnya di lokasi savana dan areal sekitarnya, namun dengan kesigapan dan kordinasi efektif dengan stakeholders kebakaran tersebut berhasil dipadamkan. Kita berharap di tahun 2018 ini TNBTS zero kejadian kebakaran hutan. Lebih jauh dalam sambutan apel Kepala Balai Besar TN Bromo Tengger Semeru menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada semua komponen yang sudah hadir serta dukungan yang sudah diberikan selama ini kepada TNBTS dalam Dalkarhut, seraya berharap agar komunikasi dan kordinasi yang efektif dan sudah terbangun tetap dipertahankan bahkan ditingkatkan di semua lini TNBTS. Menghadapi musim kemarau 2018 ini John berharap pos-pos siaga Dalkarhut diaktifkan dan ditingkatkan kesiapsiagannya sehingga jika diperlukan dapat bergerak cepat dan efektif dalam Dalkarhut. Kepada personil MPA yang merupakan perwakilan dari tiap-tiap resort yang ada di TNBTS John berharap bisa membantu dan menjadi kepanjangan tangan TNBTS dalam mencegah dan antisipasi kejadian kebakaran hutan di wilayahnya masing-masing. Apel diakhiri dengan simulasi penanganan kebakaran hutan untuk mengecek kesiapan personil dan sarpras dalkarhut yang dimiliki TNBTS dalam Pengendalian Kebakaran Hutan di wilayah kerja TNBTS. Sumber : Balai Besar TN Bromo Tengger Semeru
Baca Berita

Penyelamatan Pendaki di Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani “Pasca Gempa Bumi Lombok 29 Juli 2018”

Sembalun, 1 Agustus 2018. Seluruh pendaki dan Tim Evakuasi sudah keluar dari kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) pad atanggal 31 Juli 2018 pukul 1950 WITA. Pendaki TNGR per 1 Agustus yang telah berhasil dievakuasi sebanyak 1.226 orang terdiri dari WNA 696 orang dan WNI 530 orang. WNA terbanyak berasal dari Thailand 358 orang (54,88%), Perancis 68 orang (9,77%), Belanda 43 orang (6,17%), Jerman 25 orang (3,59%) dan Swiss 21 orang (3,01%). Satu orang WNI meninggal dunia akibat terkena batu longsoran di KM 10 jalur pendakian Sembalun a.n. Moch. Ainul Taksim umur 26 tahun, berasal dari Makassar. Penyelamatan pendaki TNGR dibawah kendali Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR), dengan anggota Balai TNGR (23 orang), Ditjen Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (8 orang), Balai Konservasi Sumberdaya Alam NTB (8 orang), BASARNAS (49 orang), KOPASSUS (40 orang), KOREM 162 Wirabhaktidan KORAMIL Sembalun (20 orang), BRIMOB POLDA NTB, SABHARA dan DALMAS POLRES Lombok Timur (19 orang), TIM MEDISEdelweis Medical Health Center(6 orang), GRAHAPALA UNRAM (18 orang). Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan Direktur Jendral Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem (KSDAE) menyampaikan terimakasih dan penghargaan kepada semua pihak yang terlibat dalam proses penyelamatan pendaki akibat bencana gempa bumi di TN. Gunung Rinjani. Dirjen KSDAE juga telah menginstruksikan untuk menutup seluruh jalur pendakian sejak 29 Juli 2018 sampai dengan waktu yang belum ditentukan. Tim Tanggap Bencana di kawasan TNGR tetap bersiaga hingga 6 Agustus 2018. Apabila terjadi keadaan darurat dapat menghubungi Call Centre Balai TN Gunung Rinjani, dengan nomor 0811283939. Selengkapnya di link sebagai berikut : Siaran Pers - Penyelamatan Pendaki di Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani “Pasca Gempa Bumi Lombok 29 Juli 2018” Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Rinjani
Baca Berita

Sustainable Ocean Initiative (SOI) Subregional Capacity-Building Workshop for the Coral Triangle

Jakarta, 31 Juli 2018. Direktur Konservasi Keanakaragaman Hayati – Ditjen KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mewakili National Focal Point Convention on Biological Diversity (NFP CBD) Indonesia menyampaikan sambutan pembukaan pada acara Sustainable Ocean Initiative (SOI) Subregional Capacity-Building Workshop for the Coral Triangle di Hotel Gran Melia Jakarta pada tanggal 31 Juli 2018. Workshop yang akan dilaksanakan selama 4 (empat) hari ini dihadiri oleh lebih kurang 50 peserta dari perwakilan 6 (enam) negara anggota Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries, and Food Security (CTI-CFF) yaitu Indonesia, Malaysia, Papua New Guinea, Philippines, Solomon Islands, dan Timor-Leste serta organisasi global maupun regional yang aktif di dalam region tersebut (CTI-CFF, PEMSEA, RAMSAR Secretariat, the International Coral Reef Initiative). Penyelenggaraan Subregional Workshop ini merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Indonesia (melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan selaku National Focal Point, Kemenko Bidang Kemaritiman, dan Kementerian Kelautan dan Perikanan) dengan Sekretariat CBD, sebagai tindak lanjut dari mandat Conference of the Parties (COP) CBD pada sidang ke-12 yang meminta Sekretariat CBD untuk melaksanakan kegiatan capacity building dengan fokus pada upaya pencapaian Aichi Biodiveristy target ke-10 yaitu terkait dengan dengan pengurangan gangguan anthropogenik pada terumbu karang dan ekosistem terkait (seperti bakau dan lamun). Pelaksanaan kegiatan ini juga tidak terlepas dari posisi strategis Indonesia yang secara biodiversity memiliki sekitar 14% dari luasan karang di dunia dengan luas lebih kurang 2,5 juta hektar. Selain itu, Indonesia juga menjadi Sekretariat dari CTI-CFF yang diharapkan dapat berperan menjadi lead sector secara regional dalam mendukung pencapaian aichi target dimaksud. Upaya Indonesia dalam konservasi dan pengelolaan karang dilakukan melalui berbagai kegiatan seperti kegiatan transplantasi dan restocking, penanganan kejadian coral bleaching, penetapan kawasan konservasi laut serta monitoring terumbu karang. Sesuai kajian LIPI tahun 2017, kondisi karang Indonesia menuju perbaikan, saat ini tercatat 65% karang di areal kajian dalam kondisi baik. Dalam kesempatan tersebut, Direktur KKH juga menekankan bahwa tantangan dalam implementasi di lapangan selalu ada dan terdapat hal-hal yang dapat menjadi perhatian bersama, oleh karena itu dengan kegiatan workshop ini diharapkan dapat memperkuat jaringan dan kemitraan yang telah ada diantara perwakilan negara-negara dan institusi yang hadir untuk saling bertukar informasi dan teknologi serta meningkatan kapasitas dalam pengelolaan terumbu karang dan ekosistemnya. Dalam sambutannya, perwakilan Sekretariat CBD menyampaikan tujuan dari penyelenggaran workshop ini adalah untuk mengidentifikasi cara dan pendekatan dalam mendukung pengelolaan lintas sektoral untuk menangani berbagai tekanan pada terumbu karang dan ekosistem terkaitnya. Dengan fokus pada 5 hal yaitu (i) fasilitasi dialog dan berbagi informasi terkait konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan: (ii) menilai upaya implementasi yang telah dilakukan dan gaps yang ada; (iii) mengidentifikasi tantangan yang dihadapi bersama; (iv) mengidentifikasi cara-cara dalam pendekatan secara lintas sektoral untuk menangani tekanan yang ada; dan (v) mengidentifikan aksi konkret untuk meningkatakan kolaborasi lintas sektor untuk mengimplementasikan target-target yang telah ditetapkan baik ditingkat nasional, regional maupun global. Sumber : Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati
Baca Berita

Penyelamatan Tapir (Tapirus indicus) oleh Petugas Dan Warga Dari Kubangan

Rokan Hulu, 1 Agustus 2018. Penanganan penyelamatan satwa jenis Cipan (Tapirus indicus) dilakukan petugas Balai Besar KSDA Riau, Bidang KSDA Wilayah III di Dusun Kubang Buaya, Desa Cipang Kanan, Kec. Rokan IV Koto, Kab. Rokan Hulu. Dusun Cipang Kanan merupakan desa yang berbatasan langsung dengan Kab. Pasaman, Sumatera Barat dan dibatasi pegunungan Bukit Barisan. Desa ini dulunya hanya dapat dijangkau melalui angkutan sungai dari Ujung Batu dengan waktu tempuh satu hari. Namun saat ini telah dapat dijangkau dengan jalan darat walaupun sulit untuk dilalui. Jarak tempuh dari Pekanbaru kurang lebih enam sampai tujuh jam. Pada hari Sabtu, 21 Juli 2018 sekitar pukul 04.00 Wib, Kepala Desa Cipang Kanan bernama bapak Abadi melaporkan bahwa ada seekor Cipan yang terjebak di dalam lubang pembuangan (WC) yang baru digali dengan kedalaman kurang lebih 2,5 m. Secara umum, pengetahuan warga desa terhadap satwa Cipan ini sangat minim. Di desa tersebut, satwa ini merupakan salah satu satwa yang dihormati selain Harimau. Warga desa secara umum sangat takut terhadap satwa Cipan, dikarenakan cerita turun temurun yang mengatakan bahwa Cipan adalah satwa berhantu. Sebelum petugas Balai Besar KSDA Riau datang, satwa Cipan ini telah berada dalam lubang pembuangan kurang lebih lima hari. Kondisi Cipan tetap sehat karena warga memberinya makan daun-daunan. Akhirnya, berkat koordinasi petugas Balai Besar KSDA Riau dengan aparat pemerintah desa Cipang Kanan yang baik, satwa Cipan dapat dikeluarkan dari lubang pembuangan dengan cara menggali bagian pinggirnya, sehingga dengan kemiringan tertentu Cipan dapat berjalan naik keluar dari lubang tersebut. Pada malam harinya sekitar pukul 21.00 WIB, Cipan ini pun keluar sendiri dari dalam lubang tanpa merasa terganggu karena warga masyarakat telah terlebih dahulu diminta untuk mengosongkan area tersebut. Kepala Balai Besar KSDA Riau, Suharyono sangat mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh aparat dan masyarakat Desa Cipang Kanan, Kec. Rokan IV Koto, Kab Rokan Hulu dengan telah membantu petugas Balai Besar KSDA Riau menyelamatkan satwa Cipan atau Tapir yang merupakan salah satu satwa dilindungi berdasarkan PP No. 7 Tahun 1999. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Si Tutul Berhasil Diselamatkan

Jambi, 31 Juli 2018. Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Balai KSDA Jambi menerima laporan dari Tim Satgas Mitigasi Konflik Satwa KPHP Bungo Unit II dan III melalui telpon dan WA berupa video ditemukannya seekor Kucing Hutan (Felidae) oleh seorang warga bernama Junaedi. Setelah mendapatkan informasi tersebut, pihak SKW I BKSDA Jambi langsung berkoordinasi dengan kepala KPHP Bungo dan pihak terkait. Satgas Mitigasi konflik KPHP Bungo dan Satgas SKW I BKSDA Jambi diutus untuk turun ke lapangan memastikan kebenaran laporan yang diperoleh. Setelah tiba di lokasi, ternyata benar telah ditemukan Kucing Hutan oleh seorang warga. Junaedi. Warga yang menemukan Kucing Hutan tersebut mengatakan “Saya lihat dia (kucing hutan) pingsan didepan rumah, sepertinya terserempet sepeda motor. Langsung saya ambil dan sementara ditaruh dikandang ayam saya”. Tim Satgas langsung melakukan observasi terhadap satwa Kucing Hutan tersebut, dengan hasil jenis satwa yang ditemukan adalah 1 ekor Kucing Hutan (Felidae) sehat berjenis kelamin betina dengan umur sekitar 3 tahun dan mempunyai panjang sekitar 50-60 cm. Status satwa tersebut dilindungi undang undang. Setelah dilakukan observasi oleh Tim Satgas, Junaedi melakukan serah terima secara suka rela kepada Tim Satgas Mitigasi Konflik SKW I BKSDA Jambi dan Satgas KPHP Bungo. Tim Satgas menyempatkan diri melakukan sosialiasi kepada masyarakat sekitar tentang tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi undang undang dengan tujuan menambah wawasan dan kepedulian terhadap alam sekitar serta ikut menjaga, melindungi, dan melestarikan semua jenis TSL yang dilindungi. Kucing Hutan tersebut dibawa ke kantor KPHP Bungo untuk dilakukan pemeriksaan kesehatan lebih lanjut oleh Drh. Togu Permadi Samosir dari klinik hewan A.Y.E Muaro Bungo. Berdasarkan pemeriksaan, Kucing Hutan tersebut dinyatakan sehat dan dibuat surat keterangan pemeriksaan oleh dokter hewan. Setelah dinyatakan sehat, Kepala Balai KSDA Jambi Rahmad Saleh menyampaikan “Kalau memang kondisi satwa tersebut sehat dan siap untuk dilepasliarkan, sebaik nya segera dilakukan pelepasliaran nya, jangan ditunda”. Setelah menerima arahan dari Ka. Balai KSDA Jambi, Tim Satgas meminta saran dari Kepala KPHP Bungo selaku penanggung jawab wilayah kawasan hutan di Muaro Bungo. Kepala KPHP Bungo menyarankan agar satwa tersebut dilepaskan di kawasan hutan lindung Bukit Panjang Rantau Bayur, Kampung Tengah. Tim langsung bergegas menuju kawasan hutan lindung Bukit Panjang Rantau Bayur. Pelepasliaran dilakukan pada hari yang sama tanggal 31 Juli 2018 pukul 22.30 waktu setempat. Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Pembersihan Alur Sungai Punggu Alas, SPTN Wilayah Kasongan

Palangka Raya – 01 Agustus 2018, Memasuki musim kemarau, kawasan Balai TN Sebangau yang sebagian besar didominasi oleh hutan rawa gambut mengalami penurunan tinggi muka air. Perubahan yang signifikan akibat hal tersebut adalah kondisi sungai-sungai menjadi surut, sehingga akses menuju dalam kawasan menjadi sulit. Salah satu tindakan yang dilakukan oleh BTN Sebangau untuk mengatasi permasalahn tersebut adalah dengan pembersihan alur sungai. Pembersihan alur sungai Punggu Alas menjadi kegiatan prioritas karena Sungai Punggu Alas merupakan satu satunya akses menuju Danau Punggualas dan sekitarnya yang menjadi salah satu tujuan wisata alam di SPTN Wilayah III Kasongan. Pada tanggal 28 Juli 2018, Resort Baun Bango, SPTN Wilayah III Kasongan bersama dengan anggota simpul wisata, kelompok getek, WWF dan pemerintah Desa Karuing melakukan pembersihan alur sungai Punggu Alas. Adanya kerjasama ini merupakan contoh nyata kolaborasi antara TN Sebangau, khususnya SPTN Wilayah III Kasongan dengan masyarakat Desa Karuing yang merupakan desa yang paling dekat dengan sungai Punggu Alas dalam menjaga TN Sebangau dan dukungan untuk wisata alam. Realisasi kegiatan pembersihan alur sungai ini adalah dengan memotong batang kayu yang relative besar menggunakan chain saw, menepikan batang-batang kayu serta menancapkan tongkat-tongkat agar batang-batang kayu tersebut tidak berpindah posisi menuju tengah sungai sehingga bagian tengah menjadi bersih dari batang-batang kayu dan bisa di lalui oleh klotok atau getek. Dengan demikian memudahkan pengunjung yang akan datang ke kawasan Punggu Alas. Kegiatan pembersihan alur sungai bukan merupakan kegiatan yang mudah dan tidak bisa diselesaikan sekaligus dalam satu hari sehingga harus dilakukan secara bertahap. Kedepannya direncanakan pembersihan alur sungai tahap kedua agar Sungai Punggualas benar-benar menjadi bersih dari kayu sehingga kegiatan wisata alam tidak terkendala oleh musim kemarau. (tinuk) Sumber: Balai Taman Nasional Sebangau
Baca Berita

Kunjungan Tim Sosialisasi Proyek “Improving Community Fire Management and Peatland Restoration in Indonesia” ke Kantor Balai Taman Nasional Sebangau

Palanga Raya - 30 Juli 2018, Balai TN Sebangau berkesempatan menerima kunjungan dari Tim Sosialisasi Proyek. “Improving Community Fire Management and Peatland Restoration in Indonesia”. Tim sosialisasi terdiri dari : Ir. Tjuk Sasmito Hadi, M.Sc, (Kepala BPPLHK Banjarbaru), Dr. Niken Sakuntala Dewi (Peneliti P3SEKPI), Dr. Daniel Mendham (SCIRO), Dr. Laura Graham (BOSF), Gatot Ristanto, S.H, MM (Kabid Kerjasama dan Diseminasi), Dra. Lilis Kurniawati (Kasi DIK BPPLHK Banjarbaru), Dr. Doni Rachmanadi, M.Si dan Triwira Yuwati, M.Si (Peneliti BPPLHK Banjarbaru). Tim disambut oleh Ka Balai TN Sebangau, Ir. Anggodo, MM, Kepala Sub Bagian Tata Umum Doni Maja Perdana, S.Hut, dan staf. Dr. Daniel Mendham selaku pimpinan proyek menjelaskan bahwa proyek “Improving Community Fire Management and Peatland Restoration in Indonesia” merupakan proyek penelitian dan pengembangan yang bersifat multi-disiplin dan multi-pihak dibawah kerjasama Pemerintah Australia melalui Australian Centre for International Agricultural Research/ACIAR) dan Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan/Badan Litbang dan Inovasi/Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim. Jangka waktu proyek ini yaitu tiga tahun yaitu dari 2018 s.d. 2021. Secara umum tujuan jangka pendek proyek ini adalah untuk meningkatkan penghidupan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan gambut dan mendukung upaya restorasi gambut di Indonesia melalui dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi terkait restorasi gambut. Sedangkan tujuan jangka panjang adalah untuk mendukung program dan kegiatan restorasi di Indonesia. Output utama yang diharapkan dari proyek ini antara lain menyediakan tool untuk mengurangi factor biofisik dan antrhopogenik yang beresiko menyebabkan kebakaran dan penyebaran api di lahan gambut khususnya kebakaran di bawah permukaan, menyediakan rekomendasi terkait opsi mata pencaharian yang berkelanjutan, menguntungkan dan terukur untuk masyarakat agar dapat beradaptasi dengan lahan gambut yang sudah di restorasi, dan menyediakan tool untuk memperbaiki system pengelolaan informasi dan pengetahuan terkait gambut yang dilakukan oleh seluruh pemangku kepentingan. Ir. Anggodo, MM, selaku Ka Balai TN Sebangau dalam sambutannya menyatakan bahwa proyek ini nilainya sangat penting karena mendukung kegiatan restorasi kawasan TN Sebangau serta meningkatkan kapasitas masyarakat sekitar TN Sebangau. Pada akhirnya Ka Balai berharap bahwa setelah sosialisasi ini, langkah selanjutnya segera bisa direalisasikan sehingga output dan tujuan yang diharapkan segera bisa di capai. (tinuk). Sumber: Balai Taman Nasional Sebangau
Baca Berita

Edukasi Konservasi di Sekolah Dasar No. 095186

Tanjung Dolok, 31 Juli 2018. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, melalui Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar, baru-baru ini menyelenggarakan kegiatan Visit to School di Sekolah Dasar (SD) Negeri No. 095186 Tanjung Dolok, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai upaya edukasi dan penyadartahuan sejak dini akan pentingnya konservasi. SD Negeri No. 095186 dipilih menjadi tujuan dari Visit to School mengingat lokasinya yang berdekatan dengan Pusat Konservasi Gajah Jinak Aek Nauli atau yang lebih dikenal dengan Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC). Kegiatan edukasi ini diikuti 40 (empat puluh) orang siswa/i, gabungan dari kelas I s/d kelas VI, dan didampingii oleh guru pendamping dari SD Negeri No. 095186 Tanjung Dolok sebanyak 8 (delapan) orang, diantaranya Kepala Sekolah, 2 (dua) orang guru tetap/PNS , dan 5 (lima) orang guru honorer. Pelaksanaan kegiatan Visit to School dibagi atas 2(dua) bagian yaitu, kegiatan di dalam kelas (materi ruang) dan di luar kelas (materi pengenalan/praktek). Kegiatan di dalam kelas, diantaranya berupa pemberian materi tentang satwa-satwa yang dilindungi, memperkenalkan Ekowisata ANECC beserta gajah-gajah yang ada di lokasi tersebut, dengan menggunakan slide dan diskusi. Sedangkan untuk kegiatan di luar kelas (studi lapangan) tim Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar mengajak ke 40 (empat puluh) orang siswa/i beserta guru pendamping, melihat langsung Ekowisata ANECC dan aktivitas dari gajah jinak, yang jumlahnya ada 4 (empat) individu. Guna memotivasi dan mengapresiasi peran aktif siswa/i , Tim Edukasi Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar memberikan door prize (hadiah), berupa kotak pensil yang bertuliskan pesan-pesan pelestarian lingkungan, pensil, pena/pulpen dan stiker. Pelaksanaan kegiatan Visit to School direspon dengan baik oleh Kepala Sekolah SD. Negeri No. 095186 Tanjung Dolok, Lesteria Simamora, S.Pd,. “Kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas kegiatan Visit to Schoolserta kunjungan dari Tim Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar ke SD Negeri No. 095186 Tanjung Dolok. Kami berharap pengetahuan dan informasi yang sudah disampaikan atau diberikan kepada anak didik kami dapat dimengerti dan dipahami. Kedepannya siwa/i SD Negeri No. 095186 Tanjung Dolok, dapat ikut berpartisipasi dalam upaya menjaga dan melestarikan hutan dan lingkungan hidup,” ujar Lesteria Simamora, S.Pd. (Meilinda Lumban Toruan) Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Lagi, BKSDA Sulteng Evakuasi Buaya Muara

Palu, 31 Juli 2018. Balai KSDA Sulawesi Tengah (BKSDA Sulteng) kembali mengevakuasi seekor buaya muara dengan panjang 4,76 m yang ditangkap warga Desa Buga Kecamatan Ogodede Kabupaten Tolitoli. Kronologis penangkapan buaya muara ini bermula pada hari Selasa (24/7/18) sekitar pukul 03.00 wita, warga Desa Buga berhasil menangkap seekor buaya, setelah umpan yang dengan sengaja dilepas warga berhasil tersangkut di mulut buaya. Warga Desa Buga kemudian melaporkan penangkapan buaya ke pihak Polsek Ogodede. Pada hari yang sama, setelah Kapolsek Ogodede melakukan koordinasi dengan pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tolitoli dan Balai KSDA Sulawesi Tengah, buaya tersebut dievakuasi menggunakan kendaran operasional BPBD ke Kota Tolitoli dengan jarak tempuh ±100 Km. Setelah sampai di Kota Tolitoli, buaya diamankan di kantor BPBD selama 2 hari kemudian dipindahkan ke kantor Resort Balai KSDA Sulawesi Tengah selama 1 hari. Pemindahan buaya dari kantor BPBD ke kantor resort BKSDA dilakukan dengan alasan keamanan, karena warga sangat antusias menyaksikan secara langsung buaya muara tersebut dari jarak dekat. Sebagai informasi, pada hari jumat (27/7/18) buaya muara tersebut dievakuasi dan diamankan menuju kandang satwa kantor BKSDA Sulteng di Palu. Sumber : Balai KSDA Sulawesi Tengah
Baca Berita

WSC Berpeluang Menjadi Nomor Satu Dalam Pengelolaan Hiu Paus

Manokwari, 31 Juli 2018. Whale Shark Centre sebagai Role Model pembangunan TNTC diharapkan dapat menjadi nomor satu di dunia soal pengembangan hiu paus. Saat ini hanya Honduras yang memiliki pusat penelitian hiu paus, bedanya di Honduras dicari dengan menggunakan aplikasi untuk menemukan hiu paus sedangkan di TNTC dapat dilihat setiap hari. Seluruh tahapan perencanaan pembangunan sudah tuntas, 2019 proyek ini akan mulai dilelang sehingga dapat dikerjakan oleh kontraktor yang berkompoten. Whale shark Centre ini nantinya menjadi pusat kegiatan mulai dari pembinaan masyarakat, pariwisata hingga menampung hasil tangkapan nelayan. “Whale shark Centre di Kwatisore dirancang secara lengkap dan multifungsi”, kata Ben Gurion Saroy, Kepala Balai Besar TNTC. “Disitu kita juga akan memanfaatkan untuk pembinaan nelayan serta BUMDES (Badan Usaha Milik Desa) yang akan menjalankan usaha jasa pariwisata”, lanjutnya. Hiu paus sebagai objek wisata mengundang begitu banyak wisatawan. Jumlah wisatawan yang mengunjungi TNTC meningkat tajam beberapa tahun belakangan ini. Disisi lain, informasi mengenai mamalia laut ini masih sangat minim. Balai Besar TNTC, WWF, CI, dan UNIPA terus melakukan penelitian untuk menggali informasi tentang spesis hiu terbesar ini. Potensi keberadaan hiu paus perlu mendapat perlindungan agar kelestariannya tetap terjaga sehingga dapat dimanfaatkan pada sektor pariwisata dan ilmu pengetahuan. Whale Shark Centre merupakan model pemanfaatan hiu paus yang dapat memberikan perlindungan terhadap hiu paus serta dapat berkontribusi dalam peningkatan ekonomi daerah terutama kesejahteraan masyarakat lokal. Sumber : Balai Besar TN Teluk Cenderawasih
Baca Berita

Kemah Cinta Lingkungan Saka Wanabakti Se-Sumba

Waingapu, 31 Juli 2018. Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) bersama Kwartir Cabang (Kwarcab) Pramuka Se-Sumba mengadakan fun camping dalam rangka memperingati satu windu berdirinya Saka Wanabakti Kwarcab Sumba Barat. Acara ini diadakan pada tanggal 27-29 Agustus 2018 di camping ground objek wisata alam (OWA) Air Terjun Lapopu didalam kawasan TN Matalawa. Dengan mengangkat tema ‘Peduli Alam, Selamatkan Masa Depan’, fun camping ini diikuti 156 peserta dari 15 SMA dan 14 SMP se-Sumba. Selain anggota Saka Wanabakti, kegiatan juga diikuti Saka Bhayangkara binaan Polres Sumba Barat. Seluruh peserta dilepas melalui apel pelaksanaan kegiatan yang dipimpin oleh Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I. Beragam kegiatan dan materi turut mengisi hari-hari para peserta camping. Diantaranya adalah pemeliharaan ekosistem kawasan TN Matalawa melalui kegiatan restorasi oleh JICS, tali temali dan single rope technique (SRT), lomba baris-berbaris, dan lari lintas alam. Dalam maklumat yang disampaikan pada apel penutupan acara, Kepala Balai TN Matalawa, Maman Surahman, S.Hut, M.Si menyampaikan pesan kepada para anggota Saka, bahwa kelestarian TN Matalawa di Sumba perlu dilestarikan karena merupakan satu-satunya benteng terakhir tutupan hutan di Pulau Sumba. Banyak dampak positif yang akan didapat dari melestarikan lingkungan yaitu udara yang bersih, air yang mengalir sepanjang tahun, dan perekonomian masyarakat akan meningkat seiring naiknya kunjungan wisata.(dpn/mtlw) Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa)
Baca Berita

Pemulihan Ekosistem di Suaka Margasatwa Pinjan Tanjung Matop

Palu, 31 Juli 2018. Menyambut Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) tahun 2018, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi (BKSDA Sulteng) melaksanakan kegiatan Pemulihan Ekosistem (PE) seluas 50 hektar di kawasan Suaka Margasatwa Pinjan Tanjung Matop Kabupaten Tolitoli. Jenis pohon yang ditanam berupa pohon nantu, palapi dan kemiri masing-masing sebanyak 20.000 batang pohon. Kegiatan pemulihan ekosistem ini diawali dengan penanaman perdana yang dihadiri Camat Tolitoli Utara, Kepala BKSDA Sulawesi Tengah yang diwakili Kepala Seksi Konservasi Wilayah I, Danramil Tolitoli Utara, Kapolsek Tolitoli Utara,serta Kepala Desa dan Tokoh Masyarakat di sekitar kawasan SM Pinjan Tanjung Matop. Camat Tolitoli Utara mengapresiasi kegiatan pemulihan ekosistem di SM Pinjan Tanjung Matop dan berharap kegiatan pemulihan ekosistem ini berjalan lancar, pohon yang ditanam tumbuh subur sehingga ekosistem hutan tetap terjaga dengan baik, karena fungsi dan manfaat hutan banyak sekali diantaranya sebagai paru-paru dunia dan juga sebagai tempat berlindung satwa-satwa dilindungi seperti burung maleo yang ada di SM Pinjan Tanjung Matop. Selain itu Camat Tolitoli Utara juga siap mendukung dan bekerja sama dalam melindungi kawasan SM Pinjan Tanjung Matop. Kepala Seksi Konservasi Wilayah I dalam sambutannya menjelaskan tujuan dan alasan dipilihnya jenis pohon nantu, palapi dan kemiri tersebut karena merupakan pohon lokal yang ada di kawasan SM Pinjan Tanjung Matop yang berfungsi sebagai perlindungan serta berfungsi sebagai sumber pakan burung maleo. Sumber : Balai KSDA Sulawesi Tengah

Menampilkan 7.361–7.376 dari 11.140 publikasi