Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Jadi Pramuka itu Tak Melulu Soal Berkemah

Pangkep, 3 Agustus 2018. Kepala Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan, Ir. Thomas Nifinluri, M.Sc menyampaikan materi pengenalan kawasan konservasi dan cara pengelolaannya dengan melibatkan masyarakat pada adik-adik peserta perkemahan Bakti Saka Wanabakti dan Saka Kalpataru Regional Sulawesi Maluku. Perkemahan yang berlangsung di Bumi Perkemahan Tonasa Park Kabupaten Pangkep dikejutkan dengan video call dari Direktur Jenderal KSDAE, Ir. Wiratno, M.Sc. Adik-adik peserta pertikawan ini juga diperkenalkan dengan aplikasi ponsel pintar yang menyajikan informasi terkait Taman Nasional dan Taman Wisata Alam yang ada di Indonesia. Beliau juga memberikan apresiasi pada peserta yang bersemangat mengikuti coaching class konservasi ini. Sesi diskusi dan tanya jawab berlangsung dengan hangat, pertanyaan-pertanyaan yang bagus juga terlontar dari para peserta, membuktikan besarnya ketertarikan peserta pada pengelolaan kawasan konservasi dan pelestarian alam itu sendiri. Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan
Baca Berita

Mau Tau Rafflesia & Amorphophallus yang Mekar di Bengkulu

Bengkulu, 3 Agustus 2018. Provinsi Bengkulu dengan julukan sebagai Bumi Rafflesia, merupakan keistimewaan yang dianugerahi Tuhan dengan puspa langka tumbuh di tanahnya. Ada 5 (lima) jenis Rafflesia yang dapat ditemui yaitu: Rafflesia arnoldii, R. bengkuluensis, R. gadutensis, R. haseltii dan R. kemumu yang tersebar di beberapa daerah di Provinsi Bengkulu. Keberadaan puspa langka ini sangat dapat mendukung program pemerintah dalam peningkatan kunjungan wisata, dengan tidak mengabaikan upaya konservasi dan perlindungan terhadap habitatnya. Dengan kemajuan teknologi yang sudah berkembang, BKSDA Bengkulu menyediakan portal yang dapat diakses oleh masyarakat umum/publik mengenai lokasi habitat rafflesia. Informasi unggulannya adalah menginformasikan rafflesia yang sedang mekar saat ini dan menarik untuk dikunjungi, karena mekarnya puspa langka yang satu ini tidak menentu dan tidak dipengaruhi oleh musim. Selain rafflesia, ada juga informasi mengenai puspa langka yang satu lagi yang ada di Bengkulu yaitu Amorphophallus sp atau lebih kita kenal dengan Bunga Bangkai. Portal tersebut merupakan bagian dari website BKSDA Bengkulu (http://bksdabengkulu.id) dan untuk mengetahui Rafflesia yang saat ini sedang mekar dapat diakses melalui: https://bksdabengkulu.id/species/raflesia , sedangkan untuk Amorphophallus: https://bksdabengkulu.id/species/amorphopallus. Tampilan dari portal tersebut yang menandakan sedang ada Rafflesia atau Amorphophallus sedang mekar adalah ikon/tanda yang terdapat di peta bergerak-gerak (bounce), dan jika di klik maka akan ditampilkan informasi yang disertai juga fotonya. Informasi mekarnya puspa langka tersebut kami peroleh dari petugas Resort KSDA lingkup BKSDA Bengkulu serta dari Komunitas Pecinta Puspa Langka yang ada di Bengkulu. Dan penghargaan yang tinggi terhadap komunitas-komunitas puspa langka yang ada, karena dengan semangat dan perannya, maka keberadaan puspa-puspa langka di bengkulu masih lestari. BKSDA Bengkulu meluncurkan portal agar dapat memperkenalkan puspa langka yang menjadi ikon Bengkulu, dan mengajak masyarakat luas untuk ikut serta melestarikan puspa langka dan habitatnya tersebut. Sumber : Balai KSDA Bengkulu
Baca Berita

Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru mengikuti Pameran Cagar Biosfer di Palembang

Malang, 3 Agustus 2018. Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru mengikuti kegiatan pameran cagar biosfer. Kegiatan pameran ini merupakan salahsatu kegiatan dalam rangka menunjang Pertemuan International Coordinating Council of the Man and the Biosphere Programme (ICC MAP) – UNESCO pada tanggal 23-28 Juli 2018 di Palembang Sumatera Selatan. Sidang MAB-ICC ini merupakan pertemuan tahunan dari negara-negara anggota UNESCO yang tergabung dalam program MAB. Kegiatan pameran diikuti oleh berbagai cagar biosfer di Indonesia dan LSM diantaranya KLHK (PJLWA), DOWA (LSM), LSM Flora dan Fauna Internasional, LSM Belantara, Lore Lindu, Gunung Gede Pangrango Cibodas, Restorasi Ekosistem Riau APRIL, Bina Pengelolaan Ekosistem Esensial, LIPI, Wakatobi, TN Taka Bonerate - Kepulauan Selayar, Belambangan, Bromo Tengger Semeru - Arjuno, Tanjung Puting, Rinjani Lombok, Berbak Sembilang, Pertamina, Betung Kerihun Danau Sentarum, Kepulauan Togean, Kementerian Pariwisata dan APP Sinar Mas. Pertemuan tersebut menjadi ajang promosi bagi Indonesia dan mengenalkan kepada dunia internasional bahwa Indonesia kaya akan biodiversitas, terutama dalam pengembangan cagar biosfer. Bersamaan dengan pameran juga diadakan talkshow yang membahas berbagai isu dan dihadiri oleh pakar dari dalam dan luar negeri. Akhir acara ditutup dengan field trip ke kawasan Berbak-Sembilang yang merupakan salahsatu cagar biosfer yang baru ditetapkan kemarin. Sumber : Balai Besar TN Bromo Tengger Semeru
Baca Berita

BBTN Kerinci Seblat Aktif Bersama Mitra Melestarikan Harimau Sumatera

Sungai Penuh, 3 Agustus 2018. Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) mengadakan rapat koordinasi dengan Pelestarian Harimau Sumatera Kerinci Seblat (PHSKS) dan Monitoring Harimau Sumatera Kerinci Seblat (MHSKS). Rapat dilaksanakan di ruang rapat kantor BBTNKS yang dipimpin langsung Kepala Balai Besar TNKS, Tamen Sitorus. Tamen berpesan agar terus menjaga kekompakan tim dan berterima kasih kepada PHSKS dan MHSKS beserta anggota tim yang telah ikut aktif dalam membantu program perlindungan dan pengamanan hutan dan kawasan hutan TNKS terutama dalam pelestarian harimau sumatera. Selain itu, Tamen juga menyerahkan SK penugasan personil tim PHSKS dan MHSKS kepada tim. Sumber : Nurhamidi, Ka. SPTN Wilayah I Kerinci & Humas Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat
Baca Berita

Peran Menarik dari Pemulihan Ekosistem serta Pemeliharaannya

Kuningan, 3 Agustus 2018. Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan dalam pemulihan sumber daya alam hayati adalah melalui pemulihan ekosistem. Di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), pemulihan ekosistem merupakan salah satu upaya untuk mengembalikan tutupan lahan hutan agar mendekati kondisi aslinya. Kegiatan pemulihan ekosistem dilakukan dengan metode restorasi ekosistem yang telah dilaksanakan seluas 20 hektar pada tahun 2017. Salah satu lokasinya di blok Lempah Terong yang berada dalam wilayah Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Majalengka. Agar pertumbuhannya dapat optimal maka perlu dilakukan kegiatan pemeliharaan. Untuk tahun 2018 telah dilaksanakan pemeliharaan tanggal 9 sampai dengan 24 Juli 2018. Kegiatan pemeliharaan meliputi kegiatan pembabatan tanaman pengganggu, pemberian pupuk organik, pengangkutan bibit serta penanaman/penyulaman tanaman mati. Kegiatan pemeliharaan tanaman pemulihan ekosistem dilaksanakan oleh petugas dari Balai TNGC serta melibatkan masyarakat sekitar daerah penyangga di kawasan TNGC. Banyak manfaat yang sudah dirasakan oleh masyarakat setelah dilaksanakannya kegiatan ini diantaranya adanya pertambahan debit air pada beberapa sumber air yang mengalir sepanjang tahun serta berkurangnya aliran permukaan ketika musim hujan tiba. Hal-hal tersebut tentunya dapat memberikan manfaat langsung bagi kehidupan masyarakat dan alam dapat tetap terjaga dengan baik. [Teks & Foto ©? Aom Muhtarom - BTNGC | 082018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Polisi Kehutanan TNGC dan SPORC Jabalnusra Galakkan Operasi Pengamanan Hutan

Kuningan, 2 Agustus 2018. Upaya pencegahan perburuan liar dan pencurian hasil hutan, Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) bersama Satuan Polisi Kehutanan Reaksi Cepat (SPORC) Balai Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah I Jabalnusra (Jawa Bali Nusa Tenggara) menggalakkan operasi pengamanan hutan. Kegiatan yang dilaksanakan selama lima hari mulai tanggal 26 hingga 30 Juli 2018, diikuti sepuluh orang SPORC dan lima orang Polhut TNGC. Operasi dilakukan di daerah rawan timbulnya gangguan hutan akibat perburuan satwa dan pencurian hasil hutan di SPTN Wilayah I Kuningan. Lokasi target operasi perburuan seperti Pasawahan (Blok Cileutik), Seda (Blok Sipariuk), Palutungan (Blok Cigowong), Darma (Blok Taun Sapuluh). Untuk lokasi rawan pencurian hasil hutan difokuskan di Blok Tegal Bodas, Cileutik, Taun Sapuluh dan Cigede. Operasi bersama ini di laksanakan pada siang dan malam hari. Berdasarkan informasi dari masyarakat biasanya para pemburu masuk pada sore hari menjelang malam sekitar Pukul 17.00 WIB sampai dini hari. Target buruan mereka berupa babi hutan dan mencek/ musang. Hasil kegiatan selama operasi, tim patroli sempat melihat 2 motor dan 4 orang dengan membawa senjata laras panjang yang terbungkus. Terindikasi akan berburu di dalam kawasan hutan. Tim mengejar namun kehilang jejak. Hasil ini akan menjadi dasar pendalaman penyidikan selanjutnya. Selain itu, kegiatan juga dilakukan dengan memberikan tindakan pre-emtif berupa sosialisai kepada masyarakat dan pengelola objek wisata yang ada di kawasan TNGC [teks ©? mendry, foto - BTNGC | 082018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Lagi, Kebakaran Melanda Taman Nasional Komodo

Labuan Bajo, 2 Agustus 2018. Berawal dari laporan masyarakat pada Rabu (1/8) pukul 19.00 WIB, petugas Balai TN. Komodo berhasil memadamkan api di Gililawa Darat, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Pulau Komodo. Setalah mendapat laporan dari masyarakat, petugas dari Resort Padar, Loh Sebita dan juga dari Labuan Bajo langsung menuju lokasi untuk memadamkan api hingga akhirnya pada pukul 03.10 dinihari tadi, api berhasil dipadamkan. Kuat dugaan, api yang melanda Gililawa disebabkan ulah oknum pengunjung yang merokok di puncak Gililawa Darat. Gililawa Darat merupakan salah satu spot wisata favorit di Taman Nasional Komodo yang biasa dikunjungi wisatawan setelah menyelam, untuk menikmati sunset atau sunrise. Setelah melakukan pemadaman api, petugas kemudian melakukan pemeriksaan terhadap pengunjung dan awak kapal yang diduga menyebabkan kebakaran. Setelah diperiksa di lokasi, para terduga kemudian dibawa ke Labuan Bajo untuk diperiksa lebih lanjut di Polres Manggarai Barat. Kejadian kebakaran ini adalah kejadian kebakaran kedua yang melanda wilayah Taman Nasional Komodo pada tahun 2018. Sebelumnya pada tanggal 19 Juni 2018, api juga melanda wilayah Taman Nasional Komodo yakni di Loh Pede PulauKomodo. Wilayah Taman Nasional Komodo yang sebagian besar merupakan savanna memang sangat rentan terhadap kebakaran. Karenanya, semua pengunjung dilarang merokok selama trekking dan atau menyalakan api di dalam kawasan. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo
Baca Berita

Bersatunya Budaya dan Konservasi di Festival Danau Kelimutu “Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata”

Ende, 2 Agustus 2018. Balai Taman Nasional Kelimutu bersama Pemerintahan Kabupaten Ende akan menyelenggarakan upacara adat “Pati Ka Dua Bapu Ata Mata” yang merupakan rangkaian dari Festival Danau Kelimutu pada tanggal 14 Agustus 2018. Kegiatan ini adalah upacara memberi makan arwah leluhur masyarakat Suku Lio di Danau Kelimutu. Upacara ini merupakan budaya kepercayaan masyarakat lokal yang menganggap bahwa ketiga Danau Kelimutu yang ada merupakan tempat bersemayamnya para arwah penduduk yang telah meninggal. Festival Danau Kelimutu yang ke 10 ini akan melibatkan lebih dari 21 komunitas adat Suku Lio yang berada disekitar Kawasan TN Kelimutu. Rangkaian acara ini dimulai pukul 07.00 WITA dimulai dengan beriringan berjalan menuju mesbah tempat pemberian sesaji, pemberian makan arwah leluhur oleh mosalaki (tetua adat) dari masing-masing komunitas adat dan tarian adat Gawi bersama di mesbah Patika. Setelah upacara, kemudian diadakan acara pentasan seni budaya bersama seluruh masyarakat & wisatawan di pelataran areal wisata TN Kelimutu. Jadilah saksi sejarah tradisi budaya Suku Lio di Danau Kelimutu!! Sumber : Balai Taman Nasional Kelimutu
Baca Berita

Kejar Target Nilai METT Meningkat, Balai TN Kepulauan Togean Gelar Rapat

Ampana, 02 Agustus 2018. Balai Taman Nasional Kepulauan Togean (TNKT) menyelenggarakan Rapat Penilaian Management Effectiveness Tracking Tool (METT) di Aula Kantor Balai TNKT pada tanggal 02-03 Agustus 2018. Rapat dibuka dan dipimpin langsung Kepala Balai TNKT Ir. Bustang dan dihadiri para stakeholder yang berkepentingan seperti BP4D, Dinas Pariwisatadan Kebudayaan, Universitas Tadulako, Bagian Administrasi dan SDA Touna, KPH Sivia Patuju, LSM Toloka serta AMAN. Bapak Johanes dan Andika dari Direktorat Kawasan Konservasi Ditjen KSDAE Kementerian LHK menjadi fasilitator kegiatan ini. Ir. Bustang dalam sambutannya menyampaikan harapan agar nilai METT Balai TNKT dapat meningkat dari tahun sebelumnya dengan minimal dapat mencapai nilai 70%. Hal ini sesuai dengan Perdirjen No P.14/KSDAE-SET/2015 indikator dan strategi pencapaian IKK berdasarkan proses peningkatan yang dilakukan, nilai METT 70% akan dicapai pada tahun 2019, ujarnya. METT (Management Effectiveness Tracking Tool) ini adalah metode yang digunakan untuk menilai Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi yang dilakukan terhadap 6 aspek utama yang meliputi aspek konteks, perencanaan, input, proses, output dan outcome. Proses penilaian METT dilakukan oleh seluruh peserta yang menghadiri rapat dan diskusi yang terjadi cukup menarik dan interaktif diantara seluruh peserta. Sumber : Balai Taman Nasional Kepulauan Togean
Baca Berita

Perlindungan Kupu-Kupu Raja di Gunung Ciremai

Kuningan, 2 Agustus 2018. Troides helena merupakan serangga cantik dan lucu, kupu-kupu jenis ini termasuk dalam family papilionidae. Mempunyai perpaduan corak warna yang menarik dengan warna hitam untuk sayap bagian atas, dan sayap bagian bawah berwarna kuning terang dengan titik-titik hitam. Status Troides helena ini dilindungi berdasarkan peraturan pemerintah nomor 7 tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa, juga tercantum dalam lampiran II CITES. CITES adalah Convention On International Trade in Endangered Species of wild fauna and flora atau konvensi perdagangan internasional tumbuhan dan satwa liar yang terancam punah, troides helena ini keberadaannya termasuk dalam daftar Apendix II CITES yang artinya jika perdagangan (dalam hal ini juga pengawetan) terhadap Troides helena tidak diatur, maka troides helena semakin cepat menuju kepunahan. Dalam IUCN (International Union For Concervation of nature)biasa disebut dengan World Concervation Union yaitu organisasi dunia yang di dedikasikan untuk konservasi sumber daya alam, Troides helena ini masuk kedalam daftar Satwa yang terancam dari kepunahan (Red list). Troides helena ini juga masuk kedalam daftar satwa yang dilindungi menurut Peraturan Menteri lingkungan hidup dan kehutanan nomor 20 tahun 2018 tentang jenis tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi. Tidak semua wilayah di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) dapat kita jumpai kupu-kupu jenis ini, hanya di beberapa wilayah saja yaitu Cilengkrang, Seda, Linggasana, Palutungan, Awi Lega, Batu Asahan, Cipeuteuy dan Tutupan Teja. Troides helena ini bersifat “dimorfis” dimana jenis kelamin jantan dan jenis kelamin betina coraknya berbeda. Troides helena ini juga bersifat “monopagus” dimana hanya memakan satu jenis tumbuhan saja pada saat menjadi larva, yaitu tumbuhan Aristolochia tagala. Tumbuhan jenis ini merambat dan biasa disebut dengan Sirih hutan karena dari bentuk daun dan urat urat daun nya mirip sekali dengan daun sirih, akan tetapi dari bau nya daun Aristolochia tagala ini tidak berbau seperti daun sirih pada umumnya. Setelah melakukan proses perkawinan, kupu-kupu Raja ini akan meletakan telurnya hanya pada daun muda Aristolochia tagala. Kupu-kupu berfungsi sebagai indikator untuk mengetahui seberapa parah kerusakan hutan. Kupu-kupu juga berfungsi sebagai “pollinator”, yaitu membantu penyerbukan tumbuhan berbunga. Hampir 2/3 dari seluruh tumbuhan berbunga memerlukan peran serangga untuk penyerbukan dan menghasilkan biji yang optimal. Perlindungan kupu-kupu Troides helena ini sudah dilakukan oleh Polisi Kehutanan Balai TNGC, melalui patroli tematik, sosialisasi kepada masyarakat akan pentingnya peran Troides helena ini. Perbanyakan pakan dengan cara membuat persemaian tumbuhan pakan larva sebanyak 500 polibag di Blok Tutupan Teja. Juga penanaman pakan larva Triodes helena di beberapa blok yang dijumpai kupu-kupu tersebut. Penanaman pakan yang disukai kupu kupu Troides helena yaitu bunga Pagoda dan Bunga Asoka. [Teks & foto ©? Oom Mukaromah. A – BTNGC | 072018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Terima Kunjungan PPNS Polda Sulteng, Kepala Balai KSDA Sulteng Dukung Kerjasama Tipihut

Palu, 2 Agustus 2018. Kantor Balai KSDA Sulawesi Tengah (BKSDA Sulteng) menerima kunjungan Korwas PPNS Polda Sulawesi Tengah dalam rangka koordinasi dan konsultasi pada tanggal 1 Agustus 2018. Kepala Balai KSDA Sulteng didampingi PPNS BKSDA Sulteng menerima secara langsung Korwas PPNS Bapak Kompol Djonny Sampelan dan dua orang penyidik/staf dari Polda Sulteng. Dalam kunjungan ini, Kompol Djonny Sampelan menyampaikan bahwa hal yang perlu diperhatikan dalam Penyidikan Tindak Pidana dalam Bidang Kehutanan antara lain barang bukti, Berita Acara Pemeriksaan, waktu penyampaian SPDP serta Batas waktu penyidikan. Pihak Korwas PPNS Polda Sulteng juga menyampaikan siap membantu dalam proses penyidikan dalam Tindak Pidana Bidang Kehutanan di Lingkup Wilayah BKSDA Sulteng. Kepala Balai KSDA Sulteng Ir. Noel Layuk Allo, MM sangat mendukung bentuk kerjasama dalam Penyelesaian Tindak Pidana di Bidang Kehutanan ini. Karena untuk saat ini jika terdapat bentuk tindak pidana di wilayah kerja Balai KSDA Sulteng, pihak BKSDA Sulawesi Tengah hanya membuat Berita Acara Pemeriksaan dan Penahanan Barang Bukti kemudian kasus tersebut dilimpahkan ke BPPHLHLK Seksi Wilayah II Palu untuk dilakukan penyidikan perkara. Adapun beberapa mekanisme yang dapat dilakukan adalah PPNS KLHK dapat meminta bantuan personil penyidik POLDA untuk bersama - sama melakukan penyidikan karena untuk saat ini PPNS KLHK di Sulteng sangat kurang; ketika terjadi Kasus Tindak Pidana yang lokasinya jauh dari kota Palu dan Penyidik GAKKUM berhalangan atau tidak berada ditempat berkas perkara dapat dilimpahkan ke Polres/Polsek terdekat; untuk beberapa kasus tempat pemeriksaan dapat dilakukan di Polda dan di fasilitasi oleh Korwas PPNS. Untuk kedepannya Kepala Balai berharap adanya pertemuan/ Rapat Koordinasi PPNS yang dihadiri oleh semua Instansi di bidang Kehutanan serta Pihak yang terkait untuk dapat duduk bersama membahas permasalahan dan mencari solusi dalam penanganan tindak pidana di bidang Kehutanan. Sumber : Balai KSDA Sulawesi Tengah
Baca Berita

Belajar Pemulihan Ekosistem dari Suaka Margasatwa Paliyan

Yogyakarta, 2 Agustus 2018. Belajar dari kunjungan Tim Subdit Pemulihan Ekosistem Kawasan Konservasi di Paliyan, beberapa kunci-kunci sukses yang patut dikloning dan diadaptasikan pada site lain yang relevan diantaranya berupa Komitmen kuat pengelola; Dukungan kemitraan para pihak; Berbasis ilmu dan teknologi; Pengakuan kawasan oleh masyarakat, Partisipasi dan Reward. Suaka Margasatwa (SM) Paliyan di wilayah pengelolaan Balai KSDA Yogyakarta berawal dari lahan kosong berbatu yang disulap menjadi hutan yang rimbun. Kawasan SM Paliyan merupakan kawasan karst dengan penciri berupa batuan kapur, kering dan panas. Suatu pekerjaan yang tidak gampang memang, untuk merubah dari kawasan non hutan kritis menjadi hijau. Tentunya, terdapat kerja keras dan strategi yang spesifik dan tepat. Kontribusi masyarakat sebagai wujud partisipasi pengelolaan tentunya harus diimbangi dengan reward. Dalam hal ini, masyarakat diperkenankan memanfaatkan lahan dibawah tegakan lokasi pemulihan ekosistem dengan menanam tanaman penghidupan. Namun harus tetap jelas bahwa kondisi yang akan dicapai bersama adalah kondisi ekosistem mapan, klimaks yang sesuai atau mendekati kondisi aslinya. Beberapa hal yang perlu menjadi catatan adalah pemulihan ekosistem adalah proses bertahap yang tidak hanya berjalan satu tahun, dua tahun, lima tahunan akan tetapi dapat lebih dari 20, 30, 40 tahun dan bahkan lebih lama lagi. Selengkapnya dapat lihat di link sebagai berikut : Belajar Pemulihan Ekosistem dari SM Paliyan Sumber : Gunawan, S.Hut., M.Sc. - Direktorat Kawasan Konservasi
Baca Berita

Petugas Resort Di SPW II Baserah Resort Tesso Situgal Pasang Sosialisasi Dan Pasang Papan Informasi

Baserah, 2 Agustus 2018. Petugas resort SPW II Baserah Resort Situgal laksanakan monitoring kawasan pada tanggal 2 Agustus 2018 Bertempat di resort Situgal. Monitoring dilaksanakan secara gabungan oleh petugas dari TN Tesso Nilo, Yayasan TN Tesso Nilo serta masyarakat sekitar. Petugas TN Tesso Nilo dan tim melakukan kegiatan pengecekan untuk menindak lanjuti laporan masyarakat terkait pembukaan dan penyerobotan lahan yang dilakukan oleh salah satu masyarakat yang berdomisili di sekitar kawasan. Pada lokasi tim menemukan pondok di lahan yang ditanami oleh tanaman sawit. Petugas TN Tesso Nilo dan tim langsung melakukan penindakan kepada terduga penyerobotan lahan. Petugas memberi peringatan keras secara lisan untuk tidak melanjutkan aktifitas di lokasi tersebut. Kurang lebih 3 jam tim melakukan sosialisasi dan penyadaran dengan masyarakat untuk keluar dari lokasi dan tidak melakukan penyerobotan. Setelah kegiatan sosilasisasi dan penyadartahuan tersebut petugas melakukan pemasangan papan informasi kawasan TN Tesso Nilo di lokasi, terang ketua tim Bapak Amir Hamzah, A.Md. Sumber : Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Berita

Pendekatan Masyarakat Desa Penyangga SM Isau Isau dengan Dialog Interaktif

Germidar Ilir, 2 Agustus 2018. Pendekatan skema mengelola masyarakat dalam pengelolaan kawasan konservasi dilakukan oleh Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Lahat, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan (BKSDA Sumsel) dengan mengelola komitmen masyarakat terutama pengguna kawasan secara non prosedural untuk mendukung upaya perlindungan dan rehabilitasi kawasan SM Isau-Isau. Upaya tersebut dilakukan terhadap pengguna kawasan secara non prosedural di wilayah Desa Germidar Ilir Kecamatan Pagar Gunung Kabupaten Lahat melibatkan pengguna kawasan secara non prosedural di Ataran Curup Betung, Ataran Sialang,Talang Gambir,dan Ataran Teluk Lempaung. Dialog interaktif yang dihadiri oleh Kepala Desa Germidar Ilir, perangkat desa, tokoh masyarakat, dan pengguna kawasan secara non prosedural berjalan dengan baik dimana masyarakat sangat antusias untuk terlibat aktif melindungi dan merehabilitasi kawasan SM Isau-Isau. Hasil kegiatan berupa kesepakatan tertulis terkait komitmen bersama antara SKW II Lahat BKSDA Sumsel dengan para pihak yang terdiri dari Kepala Desa Germidar Ilir, perangkat desa, tokoh masyarakat, dan 25 orang perwakilan pengguna kawasan secara non prosedural di Ataran Curup Betung, Ataran Sialang,Talang Gambir,dan Ataran Teluk Lempaung. Komitmen tertulis tersebut pada prinsipnya merupakan upaya bersama dalam mengupayakan rehabilitasi kawasan yang selain berfungsi ekologis juga bermanfaat bagi masyarakat (jenis-jenis tanaman MPTS), peran aktif masyarakat dalam upaya menurunkan tingkat kerusakan dengan tidak melakukan pembukaan lahan dalam kawasan, keterlibatan para pihak dalam perlindungan kawasan terutama menahan laju tekanan dan gangguan kawasan, dan bagi masyarakat yang mengunakan kawasan secara non prosedural untuk tidak melakukan pembukaan lahan dalam kawasan, aktivitas mandiri untuk membongkar pondok (batas waktu sampai dengan bulan desember 2018 dimana akan dilakukan evaluasi capaian pelaksanaannya) dan merehabilitasi kawasan,terlibat aktif dalam perlindungan kawasan,serta secara bertahap meninggalkan aktivitasnya dalam kawasan. Melalui pengelolaan komitmen, penyadartahuan dan penyamaan cara pandang akan nilai penting kawasan menjadi langkah strategis dalam upaya perlindungan dan rehabilitasi kawasan konservasi dengan mengajak masyarakat untuk mulai terlibat aktif memikirkan kelestarian SM Isau-Isau. Harapan yang dibangun bersama masyarakat adalah bagaimana upaya yang dilakukan agar kelestarian kawasan dapat memberikan manfaat bagi generasi berikutnya karena SM Isau-Isau adalah titipan anak cucu yang harus dijaga bersama-sama dengan baik. Degradasi kawasan Suaka Margasatwa (SM) Isau-Isau akan bergerak pada tingkatan yang mengkhawatirkan apabila pemerintah, masyarakat, dan elemen lain yang terkait tidak bergerak secara bersama-sama untuk terlibat aktif dalam melindungi dan merehabilitasi kawasan. Penggunaan kawasan secara non prosedural untuk pengembangan tanaman kopi semakin masif menekan kawasan SM Isau-Isau yang dominan dilakukan oleh masyarskat desa penyangga. Sebuah tantangan untuk mencari solusi melalui strategi pengelolaan kawasan yang menempatkan masyarakat menjadi bagian penting dan strategis untuk dilibatkan secara aktif dalam merencanakan upaya perlindungan dan rehabilitasi kawasan SM Isau-Isau Sumber : Wahid Nurrudin - Pengendali Ekosistem Hutan Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Pemanfaatan Zona Tradisional TN Matalawa Melalui Perjanjian Kerjasama

Waingapu, 2 Agustus 2018. Aula kantor Balai Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) menjadi tempat penandatanganan perjanjian kerjasama (PKS) antara Kepala Balai Taman Nasional Matalawa dengan 4 Kelompok Masyarakat Pelestari Hutan (KMPH) dan 1 Kelompok Tani Hutan (KTH). Perjanjian tersebut terkait dengan pemanfaatan di zona tradisional, dengan luasan 240,44 ha. Pertemuan ini juga dihadiri oleh Judi Aries Mulik STP selaku kepala SPTN IILewa dan perwakilan dari SPTN III Matawai Lapau. Dalam pelaksanaannya, Forum Jamatada merupakan perwakilan dari Balai TN Matalawa dalam mengawal masyarakat terhadap pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) di zona tradisional. Dalam pengawalannya Forum Jamatada bersama KMPH dan KTH melakukan tindak lanjut dengan melakukan penyusunan rencana pelaksanaan program selama 5 tahun kedepan. Kepala Balai TN Matalawa, Maman Surahman S.Hut., M.Si menyampaikan bahwa sinergitas pengelolaan antara Taman Nasional dengan masyarakat harus dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya kepada kesejahteraan masyarakat dengan tetap memperhatikan mekanisme dan aturan yang berlaku, demi menjaga kelestarian kawasan Taman Nasional Matalawa. PKS ini merupakan tindak lanjut dari kesepahaman bersama yang dilakukan pada akhir tahun 2017 yang dituangkan dalam nota kesepahaman tentang kegiatan pemungutan hasil pada zona tradisional. Penyusunan dan penandatanganan PKS ini didasari telah terbitnya peraturan Direktur Jenderal KSDAE nomor : P.6/KSDAE/SET/Kum.1/6/2018 tentang petunjuk teknis kemitraan konservasi pada kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam. Sumber : Balai Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti (TN Malatawa)
Baca Berita

Penandaan Spesimen Bulu Merak

Sidoarjo, 2 Agustus 2018. Pernah melihat Barongan Dadak Merak pada atraksi Reog Ponorogo? Salah satu bahan berupa bulu Merak. Jangan membayangkan jika bulu merak pada Barongan Reog itu diperoleh dari mencabuti bulu-bulu pada ekor merak, seperti mencabuti bulu ayam. Merak jantan memiliki bulu hias yang panjang dan indah. Bulu hiasnya memiliki 2 motif. Motif Plolong berupa lingkaran-lingkaran hijau biru berbentuk mata dengan panjang antara 60-130 cm. Sedangkan motif Cawang sebagai bulu penutup ekor dapat mencapai panjang 120-170 cm. Pada saat musim berbiak, bulu ekor Merak jantan akan dibuka seperti kipas. Ini untuk memikat Merak betina. Saat musim berbiak usai, bulu ekor merak jantan akan mengalami siklus rontok secara alami. Jumlah bulu yang rontok ini bisa mencapai 100-150 helai. Dan, siklus ini akan berulang secara alami setiap tahunnya. Salah satu penangkar Merak Hijau (Pavo muticus) yang sudah berhasil bernama Surat Wiyoto. Setelah mengantongi izin pengedar dalam negeri dari Balai Besar KSDA Jawa Timur, Surat Wiyoto dapat menjual anakan meraknya. Bonusnya, bulu ekor merak jantan yang rontok pun bisa dijual. Biasanya sehelai bulu merak dihargai 10 ribu rupiah. Wow... jika 100 helai saja sudah dapat mengantongi nominal sejuta rupiah dari seekor merak jantan. “Lumayan, bisa dapat 3 sak pakan Merak,” ujar pria berusia 61 tahun itu Sesuai dengan amanat Keputusan Menteri Kehutanan tahun 2003, setiap spesimen tumbuhan dan satwa liar yang hidup maupun yang mati dan atau bagian daripadanya atau turunannya wajib dilakukan penandaan. Ini berlaku juga pada bulu merak yang rontok di penangkaran merak milik Surat Wiyoto. Penandaan spesimen bulu merak dilakukan dengan pemberian label berisi informasi nomor urut, identitas nomor tagging merak dan tahun rontok. Menurut Surat, selain untuk bahan pembuatan barongan Reog, biasanya juga untuk aksesoris, hiasan rumah, atau sovenir. Sumber : Endry Wijayanti, Tri Wahyu Widodo, BJ Anang Prasetya - Bidang KSDA Wilayah I Madiun Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 7.345–7.360 dari 11.140 publikasi