Rabu, 22 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Fenomena Embun Es Di Kawasan Bromo Tengger Semeru

Malang, 8 Agustus 2018. Hamparan es atau embun es di areal terbuka muncul di TN Bromo Tengger Semeru. Kepala Seksi PTN I TNBTS Sarmin, S.Hut menyampaikan bahwa “akhir-akhir ini muncul fenomena menarik di kawasan Taman Nasional Gunung Bromo Tengger Semeru (TNBTS) yaitu munculnya embun es atau masyarakat lokal sering menyebutnya embun “Upas”. Embun es ini muncul tiap tahun dikawasan TNBTS pada saat puncak kemarau dimana suhu dikawasan ini mencapai titik terendah 0º C atau bahkan dibawah 0º C”. Lebih lanjut Sarmin menyampaikan bahwa “Fenomena embun es muncul pertama kali dilaporkan di Ranu Pani pada hari minggu 29 Juli 2018. Kemudian di kawasan Laut Pasir dan sekitarnya embun es muncul sekitar tanggal 4 Agustus 2018. Untuk wilayah lainnnya di sekitar TNBTS belum dilaporkan adanya embun es, hanya cuaca ekstrim (dingin) yang terjadi tidak seperti hari-hari biasanya.” Berdasarkan release Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Kelas I Juanda Surabaya yang menyebutkan bahwa di bulan Agustus 2018 seluruh wilayah Jawa timur memasuki musim kemarau yang terpengaruh oleh angin muson timur yang membawa massa udara dari Benua Australia yang saat ini menghadapi musim dingin. Kondisi ini mengakibatkan cuaca di Jawa Timur bersifat panas dan kering pada siang hari dan dingin pada malam hari yang oleh masyarakat sering disebut dengan istilah “bediding”. Kepala Resort PTN Tengger Laut Pasir, Subur Hari Handoyo menyebutkan bahwa fenomena embun es ini ternyata menarik juga bagi para wisatawan yang berkunjung ke TNBTS, fenomena es ini menjadi sensasi tersendiri atau menjadi atraksi wisata lainnya di TNBTS. Subur menghimbau bagi pengunjung yang akan berwisata ke Bromo mengantisipasi cuaca ekstrim tersebut, untuk menghindari kedinginan bahkan hypothermia agar mepersiapkan diri dengan baju hangat, jaket, minuman atau makanan bahkan obat-obatan yang dibutuhkan pada saat berkunjung ke TNBTS. Sementara untuk masyarakat lokal Subur juga menghimbau agar mempersiapkan diri dengan kebutuhan untuk menghilangkan atau meminimalisir dampak dari cuaca ekstrim tersebut. Khusus mengenai suplly air yang terganggu akibat saluran air yang membeku/ menjadi es, Subur menghimbau agar masyarakat bijaksana menggunakan air menurut kebutuhan masing-masing sampai dengan cuaca ekstrim berakhir sehingga masyarakat dapat menggunakan air untuk kebutuhan sehari-hari seperti biasanya. BMKG Kelas I Juanda Surabaya memperkirakan fenomena suhu dingin yang terjadi di Jawa Timur ini berlangsung sampai tanggal 10 Agustus 2018 semenjak release di keluarkan tanggal 3 Agustus 2018. Sumber : Balai Besar TN Bromo Tengger Semeru
Baca Berita

Si Lincah Berduri Diamankan

Merangin, 8 Agustus 2018. Anggota Sat. Reskrim Polres Merangin menemukan seekor satwa jenis landak dirumah salah satu warga bernama Muhammad alias Mad Buncul. Awalnya Sat. Reskrim Polres Merangin ingin meringkus yang bersangkutan dikarenakan tersangkut kasus pencurian. Namun ketika menggeledah rumah tersangka, anggota Sat. Reskrim menemukan seekor landak, selanjutnya landak dibawa ke Polres Merangin untuk dilakukan pemeriksaan. Selanjutnya, landak tersebut diserahkan oleh Anggota Polres Merangin ke Satgas Mitigasi Konflik Satwa SKW I BKSDA di Bangko. Saat Ini kondisi landak sehat dan telah diamankan di kandang satwa sementara SKW I BKSDA sebelum dilakukan pelepasliaran ke habitatnya. Landak Sumatera (Hystrix sumatrae) adalah pengerat endemik pulau Sumatera, landak memiliki ciri-ciri fisik yang khas yaitu rambut tebal yang berbentuk duri tajam di bagian belakang punggungnya. Untuk saat ini, jenis landak yang dilindungi adalah landak jawa (Hystrix javanica) menurut PermenLHK No 20 tahun 2018 tentang jenis TSL yang dilindungi yang merupakan pembaruan dari PP. No 7 Tahun 1999 tentang pengawetan jenis TSL. Namun, untuk landak sumatera tetap mengacu pada aturan yang tercantum mengenai peredaran TSL, sehingga harus ada dokumen berupa perizinan yang menerangkan pengambilan dari alam atau pengangkutan dari satu wilayah ke wilayah lain di dalam Indonesia. Ka. Balai KSDA Jambi, Rahmad Saleh menegaskan “Semua sedang kita proses, untuk saat ini satwa tersebut sudah kami amankan dan kondisi nya sehat. Untuk masyarakat yang memiliki atau ingin memelihara sebaik nya punya izin terlebih dahulu”. Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Si Beruang Madu Datang, BKSDA Sumsel Lakukan Evakuasi

Palembang, 8 Agustus 2018. Sekitar akhir bulan Juli warga Desa Sumber Bahagia, Kecamatan Lubuk Batang, Kabupaten OKU kedatangan satwa beruang madu (Helarctos malayanus) sebanyak 3 (tiga) ekor 1 anakan, 1 induk dan 1 dewasa jantan. Desa ini berbatasan dengan perkebunan karet dan perkebunan sawit. Perilaku beruang yang datang cukup meresahkan warga karena si beruang masuk dapur milik warga setempat dan merusak tanaman. Setelah mendapatkan laporan tersebut, pihak Balai KSDA Sumatera Selatan, SKW III Baturaja segera turun lapangan dan berkoordinasi dengan Polsek Lubuk Batang dan segenap perangkat desa dan masyarakat Desa Sumber Bahagia. Balai KSDA Sumatera Selatan membawa peralatan dan tenaga dokter hewan untuk mengetahui kondisi dan perilaku satwa beruang madu. Aksi pun segera dilakukan dengan menempatkan perangkap kandang dengan harapan beruang madu akan masuk dalam perangkap. Akhirnya 2 ekor beruang madu berhasil tertangkap yakni 1 ekor induk dan 1 ekor anakan jantan. Kondisi kedua beruang madu cukup sehat sehingga menurut pengamatan tim di lapangan bisa segera dilakukan relokasi dan pelepasliaran. Suaka Margasatwa (SM) Gunung Raya merupakan lokasi yang dipilih untuk dilakukan pelepasliaran dengan pertimbangan sebagai habitat asli beruang madu. Lokasi pelepasliaran di Mandoriang (dalam kawasan SM Gunung Raya). Kondisi habitat bagus, dengan ketersediaan pakan dan sumber air yang cukup serta jauh dari pemukiman masyarakat. Kejadian konflik satwa beruang madu di Sumatera Selatan tak hanya ini. Kedepan langkah yang akan segera Balai KSDA Sumatera Selatan lakukan, berkoordinasi dengan Camat, Kepala Desa, Masyarakat, perusahaan yang berada di lokasi rawan konflik satwa secara intensif serta melakukan pelatihan handling/penanganan dini konflik satwa sehingga dapat meminimalisir korban baik korban fisik, material maupun sosial. Sumber : Agnes Indra Mahanani dan Herman - Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

BBKSDA Sumut Libatkan Semua Pihak Atasi Permasalahan Ikan Berbahaya

Medan, 8 Agustus 2018. Upaya mengantisipasi perkembangan peredaran ikan berbahaya dari luar negeri ke wilayah Republik Indonesia khususnya di Propinsi Sumatera Utara, Balai Besar KSDA Sumatera Utara (BBKSDA Sumut) pada Jumat 3 Agustus 2018 melaksanakan Rapat Koordinasi pihak-pihak terkait tentang permasalahan Ikan Arapaima, Lele Amazone, Ikan Piranha dan Aligator di Sumatera Utara. Rapat yang diadakan di ruang rapat kantor BBKSDA Sumut dipimpin Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc.For, yang dihadiri Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Sumatera Utara, Kepala Balai Karantina dan Pengendalian Mutu Hasil Perikanan Kelas I Kuala Namo, utusan dari Dinas Lingkungan Hidup Propinsi Sumatera Utara, Dinas Kehutanan Propinsi Sumatera Utara, Kepala Stasiun KIPM Medan II, Kepala Stasiun KIPM Tanjung Balai Asahan dan Stasiun Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Belawan. Rapat menghasilkan beberapa rumusan/kesepakatan, diantaranya akan memetakan penyebaran kepemilikan dan lokasi jenis ikan Arapaima, Lele Amazone, Piranha dan Aligator di Sumatera Utara untuk dilakukan pemusnahan terhadap keempat jenis ikan tersebut. Apabila ada permintaan satwa tersebut untuk tujuan edukasi sebaiknya diserahkan ke Balai Besar KSDA Sumatera Utara yang selanjutnya diserahkan ke Lembaga Konservasi, tapi harus ditetapkan standar minimal kesejahteraan satwa. Perlunya menyusun SOP pengawasan dan standar minimal kesejahteraan satwa bagi pemeliharaan di lembaga konservasi untuk kedua jenis tersebut serta pemusnahan harus memperhatikan etika pemusnahan satwa. Selanjutnya akan dibentuk Satgas Penanganan Permasalahan Satwa Jenis Invasif yang melibatkan para pihak (Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Sumatera Utara, Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Balai Karantina dan Pengendalian Mutu Hasil Perikanan Kelas I Kuala Namo, Stasiun Pengawasan Sumber Daya Kelautan Perikanan Belawan dan Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah Sumatera). Rapat ini juga menindaklanjuti Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 41/PERMEN-KP/2014 tanggal 17 September 2014, tentang Larangan Pemasukan Jenis Ikan Berbahaya Dari Luar Negeri ke Dalam Wilayah Negara Republik Indonesia serta Paeraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.94/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2016 tanggal 6 Desember 2016 tentang Jenis Invasif. (Evan) Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Aketajawe Lolobata Membantu KSDA Maluku Evakuasi Buaya

Sofifi, 8 Agustus 2018. Setelah terdapat kabar kemunculan buaya di Pulau Hiri sebelah utara Pulau Ternate, pada tanggal 6 Agustus 2018 kembali tersiar kabar bahwa buaya terlihat di sungai yang berada di samping pasa Weda, Kabupaten Halmahera Tengah. Buaya dengan panjang 3,5 meter tersebut kemudian di tangkap oleh masyarakat di Desa Fidi Jaya. Berita ini juga berasal dari kelompok Pecinta Alam, CIPAL. Melalui media sosial, mereka juga meminta agar petugas yang berwewenang segera menindaklanjuti kabar tersebut agar buaya dapat penanganan yang lebih baik. Merespon hal tersebut, Kepala Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL), Wahyudi, langsung menawarkan bantuan personil Polisi Kehutanan kepada Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ternate, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Maluku. Abas Hurasan, Kepala SKW I pun menyambut baik bantuan tersebut. Sempat menjadi objek tontonan warga, buaya tersebut akhirnya kembali dilepaskan petugas SKW I yang dibantu oleh petugas SPTN Wilayah I Weda, Balai TNAL. Pelepasan tersebut juga disaksikan oleh warga setempat. Lokasi pelepasan berada di wilayah Gane Timur yang jauh dari pemukiman masyarakat. Kepala SKW I Ternate mengucapkan terima kasih kepada Balai TNAL yang telah membantu dalam evakuasi buaya di Weda. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra - Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata http://www.aketajawe.com
Baca Berita

Seni Budaya Masyarakat Pantai Selatan Leuser

Aceh Selatan, 8 Agustus 2018. Penggalian potensi seni budaya masyarakat sekitar kawasan ekosistem leuser (KEL) akhirnya membuahkan hasil Senin, (6/8). Peluang ekonomi masyarakat sekitar hutan tidak harus bertumpu pada sektor kehutanan semata, bahkan masih banyak ruang lain tentunya mampu menjawab persoalan tersebut tanpa harus mengorbankan keutuhan kawasan hutan misalnya melalui sektor pariwisata dan seni budaya lokal. Bidang Pengelolaan Taman Nasional (BPTN) Wilayah I Tapaktuan – Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) melirik dan mengangkat potensi seni budaya lokal tersebut kepermukaan dengan harapan menjadi suatu solusi terhadap percepatan pertumbuhan ekonomi daerah, khususnya masyarakat yang berada di sekitar kawasan konservasi. Ka. SP. Penyu Rantau Sialang, Soloon Syahruddin Tanjung, S.Hut memaparkan, bahwa rencana kedepannya BPTN Wilayah I Tapaktuan akan menyelenggarakan kegiatan pelepasan tukik penyu di sekitar pantai Singgah Mata Rantau Sialang. Pada kesempatan itu nantinya berbagai bentuk kreasi seni tangan masyarakat muncul sebagai bahan souvenir, dalam mendukung daerah wisata edukasi di wilayah tersebut. Lanjutnya, sebagai upaya menekan kerusakan di bidang kehutanan, program pemberdayaan ekonomi masyarakat, diharapkan dapat memberi dampak positif terhadap mereka yang bergantung hidup dengan hasil hutan pungkasnya. Salah seorang pengrajin benang kasab, Yusniar antusias dan merasa senang karena kerajinan tangan mereka dapat dipergunakan sebagai souvenir di acara itu, sehingga hal ini tentunya menjadi ajang promosi terhadap produk yang mereka hasilkan. Yusniar, mengakui hanya mampu membuat dalam jumlah kecil dikarenakan keterbatasan mereka akan dana dan peralatan. Secara terpisah, Ka. BPTN Wilayah I Tapaktuan, Buana Darmansyah, S.Hut. T mengharapkan kedepannya lembaga mitra TN. Gunung Leuser maupun Pemerintah Daerah agar dapat menjadi orang tua asuh dalam hal pembinaan terhadap masyarakat. Setidaknya dengan adanya pembinaan yang dilakukan, pengrajin mampu menghasilkan produksi yang lebih baik lagi. Apalagi didukung dengan peralatan khusus seperti mesin dan peralatan lainnya. selanjutnya dengan membantu pemasaran hasil produk tersebut dapat menjadikan komoditas ekonomi kerakyatan tutupnya. Sumber : Efa Wahyuni/Foto : Ulul Azmi - Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser
Baca Berita

Stop Kekang Kukang, KSDA Jambi Terima Kukang dari Warga

Jambi 8 Agustus 2018. Balai KSDA Jambi menerima penyerahan seekor satwa kukang (Nyctecebus coucang) secara sukarela oleh seorang warga. BKSDA Jambi langsung melakukan pemeriksaan kondisi kukang bersama dengan dokter hewan dari ZSL, Drh. Bambang Setiawan. Setelah dinyatakan sehat, satwa tersebut langsung dibawa ke Hutan Lindung Gambut Londrang untuk pelepasliaran nya. Kukang sendiri merupakan jenis satwa primata dengan ciri khas gerakan yang lambat. Warna bulu nya bervariasi diantara nya kelabu keputihan, kecoklatan, hingga kehitaman. Kukang memiliki penampilan yang lucu sehingga banyak diinginkan sebagai peliharaan. Status kukang saat ini masuk dalam Appendix I CITES yang berarti bahwa satwa ini dilarang untuk diperdagangkan secara komersil dan internasional karena jumlah nya yang sedikit di alam liar. Ka. Balai KSDA Jambi, Rahmad Saleh mengungkapkan “BKSDA Jambi berterimakasih atas partisipasi warga yang secara sukarela menyerahkan satwa yang dilindungi, itu membuktikan bahwa warga peduli dengan kelangsungan hidup satwa tersebut. Bagi warga yang menemukan satwa yang dilindungi dapat menghubungi call center kami di 0823-7779-2384”. Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Tips Pengendalian Kebakaran Hutan Melalui Sosialisasi Oleh BKSDA Jambi

Jambi, 8 Agustus 2018. Balai KSDA Jambi dalam rangka partisipasi menyambut Asian Games 2018 dimana Indonesia menjadi tuan rumah, melakukan Sosialisasi Pengendalian Kebakaran Hutan. Sumatera Selatan yang menjadi salah satu daerah yang menjadi penyelenggaraan event tersebut, merupakan daerah yang rawan terjadi kebakaran hutan dan lahan. Provinsi Jambi yang bersebelahan dengan Sumatera Selatan juga merupakan daerah yang rawan akan kebakaran hutan dan lahan, untuk itu Balai KSDA Jambi kembali melakukan kegiatan sosialisasi terkait kebakaran hutan. Balai KSDA Jambi ingin mengingatkan kembali dan memberikan informasi kepada masyarakat untuk tidak membakar hutan atau membuka lahan dengan cara dibakar terutama lahan yang bersinggungan langsung dengan kawasan konservasi, serta memberikan penjelasan kepada masyarakat tentang dampak kebakaran hutan dan lahan. Pada awal bulan Agustus tahun 2018 telah dilakukan sosialiasi di 10 tempat berbeda antara lain Desa Guruh Baru, Desa Petiduran Baru, Desa Tiangko, Desa Jangga Baru, Desa Terentang, Desa Betung Bedarah Timur, Desa Betung Bedarah Barat, Desa Sungai Dualap, Kel. Nipah Panjang II dan Desa Pangkal Duri Ilir. Oleh petugas Balai KSDA Jambi, masyarakat diberitahu tentang Peraturan Perundangan yang terkait dengan kebakaran hutan dan lahan. Peserta sosialisasi yang ditunjuk oleh Ketua Desa setempat adalah perangkat desa dan masyarakat yang mempunyai lahan yang berbatasan langsung dengan kawasan konservasi. Masyarakat sendiri terlihat antusias dengan arahan dan penjelasan yang disampaikan petugas. Kegiatan sosialisasi telah dilakukan tiap tahun di Desa Penyangga Kawasan Konservasi, dalam 5 tahun terakhir tidak pernah terjadi kebakaran hutan di kawasan Cagar Alam sehingga dapat dikatakan sosialiasi yang dilakukan cukup berhasil dan akan terus dilakukan. Beberapa masyarakat sempat meminta solusi kepada petugas tentang cara membuka lahan tanpa harus membakar, petugas sendiri menyarankan membuka lahan di musim hujan. Ka. Balai KSDA Jambi, Rahmad Saleh mengungkapkan “Kita menyebutnya Desa Peyangga yaitu desa yang berbatasan langsung dengan kawasan konservasi, jadi desa desa ini yang perlu kita beritahu dan sosialiasikan terkait kebakaran hutan kawasan konservasi. Alhamdulillah mereka menyambut dengan terbuka sosialiasi yang dilakukan dan kegiatan berjalan lancar”. Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

32 Hari Mahasiswa Kehutanan IPB Belajar di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Cibodas, 8 Agustus 2018. Bertempat di ruang rapat Mandalawangi Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP), sebanyak 10 mahasiswa IPB mengikuti presentasi hasil Praktik Kerja Lapang Profesi (PKLP). Para mahasiswa telah melaksanakan kegiatan praktik lapang selama 32 hari (6 hari di kantor Balai, 10 hari di lapangan, dan 16 hari di desa penyangga). Terbagi ke dalam dua kelompok lokasi di Bidang PTN Wilayah I Cianjur (Resort Tegalega, Seksi Wilayah II Gedeh) dan Bidang PTN Wilayah III Bogor (Resort Tapos, Seksi Wilayah VI Tapos). Kegiatan ini adalah bentuk pemanfaatan kawasan taman nasional untuk pendidikan dan penelitian. Tujuan kegiatan PKLP: mendapat pengalaman terkait manajemen kawasan konservasi, pengalaman bersosialisasi dengan masyarakat di desa penyangga kawasan konservasi, serta mengidentifikasi potensi dan manfaat kawasan konservasi. Secara garis besar kegiatan praktik lapang tersebut dibagi ke dalam beberapa fokus kajian, yaitu: manajemen kawasan konservasi, monitoring satwa prioritas, ekploitasi tumbuhan sebagai obat yang dimanfaatkan masyarakat, manajemen ekowisata, jasa lingkungan hidrologi, serta pemberdayaan masyarakat di desa penyangga. Pelaksanaan PKLP menggunakan metode, penelusuran dokumen, diskusi/ wawancara, dan observasi lapang. Dalam pelaksanaannya kegiatan tersebut dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang telah dirancang. Potensi wisata yang disarankan dalam praktik lapang ini di antaranya wisata LBC (Lebak Ciherang), wisata Desa Cileungsi, wisata Curug Go’ong, wisata Kampung Paprika, dan wisata Desa Gekbrong. Setiap potensi wisata dikemas sesuai dengan potensi alam yang terdapat di setiap lokasi. Hasil yang dipresentasikan merupakan hasil wawancara dengan masyarakat, peninjauan lapang dalam menentukan fasilitas pendukung objek wisata, hingga analisis kendala yang kemungkinan akan muncul saat membangun sarana dan prasarana wisata. Selain itu, peserta juga memaparkan hasil kegiatan cameratrap, eksplorasi Rafflesia rochussenii, pengamatan potensi flora dan fauna lainnya, identifikasi pakan satwa prioritas Macan tutul (Panthera pardus melas), identifikasi tumbuhan obat, pemanfaatan jasa lingkungan hidrologi, serta pemberdayaan masyarakat di desa penyangga. Data yang dihasilkan dari kegiatan tersebut akan dihimpun dan dijadikan masukan bagi pengelolaan Taman Nasiona Gunung Gede Pangrango. Pada acara penutupan dilaksanakan diskusi dan tanya jawab kepada seluruh peserta. Kepala Sub Bagian Program dan Kerjasama mewakili Balai Besar TNGGP berpesan, “Kegiatan PKLP dapat dijadikan sebagai kawah candradimuka bagi para peserta dalam menentukan jenjang karir pasca kampus kelak”. Sumber: Fauziyyah Amatullah Lamis - Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Polhut TNBKDS Digembleng Fisik dan Mental dalam Kesamaptaan dan Penyegaran Polisi Kehutanan

Putussibau , 7 Agustus 2018. Sebanyak 25 orang Polisi Kehutanan (POLHUT) dan 3 orang Tenaga Pengamanan Hutan Lainnya (TPHL) digembleng fisik dan mental selama 3 hari di Markas Komando Daerah Militer 1206 Putussibau. Selama 3 hari (7 s/d 9 Agustus) Polhut akan di dibekali materi-materi fisik dan mental yang dilakukan di kelas dan lapangan. Untuk materi-materi kelas meliputi ; Penyuluhan dan Komunikasi massa, Alur Penanganan Tindak Pidana Kehutanan, Olah TKP, Teknik Intelijen, Teknik Penangkapan, Penggeledahan, Pengawalan dan Pengamanan Tersangka, Pengamanan Objek Vital. Sedangkan untuk praktek lapangan meliputi : Penyegaran Fisik, Pelatihan Baris Berbaris (PBB), Beladiri Yongmoodo, Teknik Penangkapan, Penggeledahan, Pengawalan dan Pengamanan Tersangka, Halang Rintang. “Pelatihan Kesamaptaan dan Penyegaran Polisi Kehutanan merupakan suatu keharusan agar POLHUT menjadi lebih profesional, trengginas, disiplin dan cerdas. Kerjasama dengan jajaran TNI dalam hal ini Kodim 1206 telah terjalin beberapa tahun yang lalu dan kedepannya terus ditingkatkan guna terjaganya dan meningkatnya kemampuan POLHUT TNBKDS kedepan”, jelas Ardi Andono selaku Kepala Bidang Teknis Konservasi BBTNBKDS dalam apel pembukaan acara tersebut. Sebagaimana diketahui luas kawasan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) dan Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) kurang lebih 1 (satu) juta hektar untuk memerlukan cara pengamanan yang khusus dan strategi khusus. Tantangan kedepan dalam pengamanan hutan adalah dititikberatkan pada pengamanan secara bersama dengan masyarakat, kelompok masyarakat adat dan juga kalangan lainnya. Dengan demikian kemampuan POLHUT dalam berkomunikasi dan pendekatan masyarakat perlu ditingkatkan. Maksud dari Kegiatan Kesamaptaan dan Penyegaran Polisi Kehutanan yaitu mengoptimalkan tugas pokok dan fungsi polhut dalam rangka menurunkan ganguan kehutanan di kawasan TNBKDS. Tujuan dari kegiatan ini yaitu meningkatkan kemampuan dan keterampilan setiap anggota Polhut sehingga dapat meningkatkan motivasi kerja dan pengetahuan guna menunjang tugas pokok dan fungsi perlindungan hutan. Narasumber dalam kegiatan Kesamaptaan dan Penyegaran Polisi Kehutanan ini berasal dari pihak-pihak yang kompeten dalam bidangnya yaitu dari Kodim 1206 Putussibau, Polres Kapuas Hulu dan Kejaksaan Negeri Putussibau. Sedangkan instruktur lapangan berasal dari Kodim 1206 Putussibau. Kasat Polhut Balai Besar TNBKDS, Ade Arief, A.Md cukup senang akan memulai berlatih di Markas Kodim 1206 Putussibau karena akan mendapatkan ilmu dan meningkatkan kekompakan tim, “Saya cukup senang dengan kegiatan ini, kegiatan yang menjadi favorit saya adalah praktek teknik halang rintang, penangkapan, penggeledahan, pengawalan dan pengamanan tersangka karena kegiatan tersebut pastinya menegangkan”, tuturnya. Sedangkan Kepala Balai Besar TNBKDS, Ir. Arief Mahmud, M.Si, berpesan untuk para peserta, agar lebih disiplin, kompak, dan selalu bekerja sama. Polhut harus berbenah diri dalam setiap perencanaan perlindungan dan pengamanan hutan sehingga pencapaian misi perlindungan hutan dapat terlaksana. Selain itu Kepala Balai Besar juga mengucapka terimakasih kepada Kodim 1206 Putussibau yang berkenan dan mneerima dengan baik sebagai tempat ajang untuk berlatih. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Gema Sapa Alam Bersama Taman Nasional Gunung Palung

Ketapang, 6 Agustus 2018. Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) mendampingi geladian bersama Siswa Pencinta Alam (Sispala) dengan nama kegiatan Gema Sapa Alam Tingkat SMA/SMK se-Kabupaten Kayong Utara. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Gerakan Siswa Pencinta Alam (GESPALA) SMA Negeri 1 Seponti pada Kamis (2/8/2018) – Minggu (5/8/2018) bertempat di SMA Negeri 1 Seponti Kabupaten Kayong Utara. Adapun peserta kegiatan ini adalah Siswa Pencinta Alam berjumlah 50 orang yang berasal dari 10 SMA/SMK di Kabupaten Kayong Utara. Kegiatan ini bertujuan untuk menjalin silaturahmi dan persaudaraan sesama Siswa Pencinta Alam dan merealisasikan program kerja GESPALA SMA Negeri 1 Seponti Kegiatan ini dibuka oleh Camat Seponti. Dalam sambutannya, Pak Camat berpesan kepada para peserta agar tetap menjaga kesehatan selama kegiatan ini berlangsung mengingat agenda yang cukup padat. Agenda dari kegiatan Gema Sapa Alam antara lain pemberian materi, field trip, penanaman mangrove, latihan panjat tebing, rapelling, prusiking, flying fox, dan pemutaran film TNGP. Materi yang disampaikan mengenai kawasan konservasi TNGP, Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI), kebijakan wisata di Lubuk Baji seperti harga tiket masuk dan kampanye untuk menggunakan tumbler sebagai tempat air minum. Kampanye penggunaan tumbler ini sesuai dengan arahan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang menginstruksikan untuk beralih menggunakan tumbler dan mulai meninggalkan air minum dalam kemasan plastik. Pihak TNGP mendampingi kegiatan ini sampai akhir yang diwakili oleh Nur Rahman dari SPTN Wilayah I Sukadana dan Gerhana Palung (Rama dan Ramadhan). Salah satu pembina sispala yaitu Faisal berkeinginan untuk dapat berdiskusi dengan TNGP terkait pembinaan kegiatan sispala. “Saya berharap pihak TNGP mau bekerja sama menjadi pembina bagi kegiatan sispala, karena kegiatan seperti ini akan rutin kami laksanakan setiap tahun” ujarnya. Kegiatan geladian tahun depan rencananya akan dilaksanakan di Pulau Maya Karimata. Kepala SPTN 1 Sukadana, Bambang HT menyampaikan bahwa TNGP sangat mendukung kegiatan-kegiatan pendidikan yang berkaitan dengan konservasi. “TNGP sangat mendukung kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh sispala. Kami juga bersedia apabila diminta untuk menjadi pembina. Diharapkan para sispala ini dapat menularkan semangat konservasi ke siswa lainnya, baik yang tergabung dalam sispala maupun yang tidak” ujar Bambang. Sumber: Balai Taman Nasional Gunung Palung
Baca Berita

BKSDA Sumsel Giat Edukasi Konservasi

Pseksu, 7 Agustus 2018. Membangun generasi konservasi merupakan sebuah upaya untuk menjaga asa akan masa depan kawasan konservasi. Asa akan terjaganya nilai penting dan fungsi kawasan agar selalu dapat memberi manfaat bagi manusia. Edukasi konservasi merupakan strategi yang menjadi sebuah keharusan dengan menempatkan anak-anak menjadi bagian penting dalam upaya membangun generasi konservasi. Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Lahat Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan (BKSDA Sumsel) menjadikan upaya membangun generasi konservasi sebagai salah satu cara dalam membangun karakter masyarakat melalui strategi mengelola masyarakat dalam pengelolaan kawasan konservasi. Masyarakat desa penyangga merupakan sasaran yang diharapkan melalui kegiatan pendidikan konservasi dapat membentuk generasi konservasi masa depan yang berkarakter dan berkomitmen menjaga kelestarian kawasan konservasi. Pendidikan konservasi yang dilakukan oleh Resort Konservasi Wilayah (RKW) 8 Tebing Tinggi, SKW II Lahat BKSDA Sumsel di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 Pseksu merupakan sebuah upaya membangun generasi konservasi di desa penyangga kawasan Hutan Suaka Alam Kelompok Hutan (HSA KH) Gumai Tebing Tinggi. Keberadaan dan nilai penting serta fungsi kawasan konservasi menjadi fokus materi yang disampaikan. Selain itu juga disampaikan kondisi dan kekritisan kawasan serta potensi bencana yang dapat ditimbulkan akibat degradasi kawasan konservasi yang terus terjadi. Harapannya bahwa siswa-siswi SDN 2 Pseksu akan menjadi generasi yang mengupayakan pemulihan ekosistem kawasan HSA KH Gumai Tebing Tinggi di masa yang akan datang dan tidak mengikuti jejak masyarakat yang saat ini terus menekan kawasan. Anak-anak adalah kunci dan edukasi konservasi sebagai sarana dalam membangun generasi konservasi untuk menjaga asa akan kelestarian kawasan konservasi. Sumber : Wahid Nurrudin - Pengendali Ekosistem Hutan Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

“Super Global High School Program” di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Selasa 7 Agustus 2018. Bertempat di ruang film Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), sebanyak21 siswa, mengikuti acara penutupan kegiatan International Field Work 2018 dalam Program Super Global High School Sakado Jepang. “Field work” yang dimulai tanggal 31 Juli sampai 6 Agustus 2018 dilaksanakan dalam rangka mendukungvisi TNGGP “Taman Nasional Gunung Gede PangrangoMenjadi Pusat Pendidikan Konservasi Kelas Dunia”. Jauh hari sebelum pelaksanaan field work, dilakukan diskusiantara pihak Sakado, Badan Penyuluhan dan PengembanganSumber Daya Manusia (BP2SDM), serta Balai Besar TNGGP sebagai persiapan untuk membicarakan tempat pelaksanaaan, peserta, dan materi yang akan disampaikan. Dari diskusiditetapkan tempat kegiatan di Resort PTN Sarongge DesaCiputri, Peserta berasal dari Senior High School at Sakado(Jepang), Lab. School Kornita IPB, dan Sekolah MenengahKehutanan (SMK) Kadipaten, Pekanbaru, Samarinda, sertaMakassar. Peserta terbagi dalam tiga kelompok dengan tema, yaitu: Pendidikan Lingkungan (Environmental Education), Pemberdayaan Masyarakat (Community Development), danEkowisata (Ecotourism). Pada acara penutupan dilakukan evaluasi, setiap kelompokmempresentasikan hasil kegiatan lapang yang telahdilaksanakan. Namun sebelum evaluasi terlebih dahuludisampaikan sambutan dari Kepala Bagian Program danKerjasama, BP2SDM (Ir. M. Tangkas, M.Sc.) serta sambutanKepala Balai Besar TNGGP (Wahju Rudianto, S.Pi. M.Si.). Pada acara evaluasi masing-masing kelompokmempresentasikan kegiatannya. Kelompok Ekowisata(Ecotourism) merancang program berupa penyusunan guidebookmengenai potensi wisata yang ada di Desa Ciputri. KelompokPendidikan Lingkungan (Environmental Education) mempresentasikan gerakan 3R (Reduce, Reuse, dan Recyle). Kelompok Pemberdayaan Masyarakat (Community Development) mempresentasikan kegiatan promosi ProdukSaung Sarongge. Acara dilanjutkan dengan diskusi dan KepalaBalai Besar TNGGP menyampaikan pesan kepada ketigakelompok yang telah tampil agar kegiatan yang sudah dirancangbisa terus dilaksanakan secara berkelanjutan. Selain itu, kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya memberikanmanfaat bagi kelestarian lingkungan, namun juga memberikanmanfaat untuk masyarakat di sekitar kawasan TNGGP. Kegiatan International Field Work 2018 dalam Program Super Global High School Sakado Jepang kali ini merupakan kegiatanyang kelimakalinya. Pertama kali dilakukan pada tahun 2014 dan terus berlanjut setiap tahunnya Sumber: Fauziyyah Amatullah Lamis - Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Resort Tepera, BBKSDA Papua Selenggarakan Evaluasi dan RKT Desa Binaan Kenanembey

Jayapura, 7 Agustus 2018. Resort Tepera, Balai Besar KSDA Papua, menggelar Kegiatan Monitoring Evaluasi Rencana Kerja Tahunan Desa Binaan Kena Nembey pada Senin, (6/8). Kegiatan dimulai pukul 11.00 WIT, bertempat di Balai Kampung Tablasupa, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Papua. Kegiatan ini dihadiri oleh Ibu Kepala Kampung Tablasupa, Salonika Kisiwaituo, dan Penyuluh Kehutanan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam, Chandra Irwanto Lumban Gaol. Selain itu, hadir pula ketua dan sekretaris KPA Amemay, Ketua PKK Kampung Tablasupa, Bamuskam Kampung Tablasupa, pengurus dan anggota Desa Binaan Kena Nembey, Badan Pengawas Desa Binaan, dan anggota Resort Tepera Yewena Yongsu. Dalam Kegiatan ini para pengurus Desa Binaan Kena Nembey, yang terdiri atas sekretaris dan bendahara memaparkan laporan kegiatan dan laporan keuangan kelompok Desa Binaan. Laporan tersebut menjadi acuan dalam melakukan rencana-rencana kegiatan ke depan. Secara umum masyarakat antusias dalam menjalankan program-program Desa Binaan. Mereka juga menaruh harapan terhadap kinerja Desa Binaan ini, seperti ungkapan Ibu Kepala Kampung saat memberikan sambutannya “Kelompok Desa Binaan Kena Nembey ini menjadi salah satu harapan bagi Pemerintah Kampung, supaya keberadaannya dapat meningkatkan kesejahteraan masayarakat, khususnya di Kampung Tablasupa.” Salonika berharap agar Desa Binaan Kena Nembey memiliki peran dalam meningkatkan pendapatan Pemerintah Kampung, yang nantinya dapat disalurkan kembali kepada masyarakat dalam bentuk beasiswa bagi anak-anak sekolah, atau bentuk-bentuk penyaluran yang bermanfaat lainnya. Ia juga menghimbau agar masyarakat Kampung Tablasupa, khususnya yang tergabung dalam kelompok Desa Binaan Kena Nembey, terus memperkuat semangat dan tanggung jawab dalam bekerja bersama untuk memberi manfaat bagi Masyarakat Kampung Tablasupa. Sumber : Chandra I. L. Gaol, Mutiatul & Dzikry, Balai Besar KSDA Papua
Baca Berita

Kesiapsiagaan Brigdalkarhut SKW V Garut

Garut, 6 Agustus 2018. Pada hari Sabtu tanggal 4 Agustus 2018 sekira pukul 12.20 WI, telah terjadi kebakaran hutan yang terjadi di Cagar Alam Kawah Kamojang (Kompleks Gunung Guntur) sebagaimana terlihat pertama kali oleh salah seorang anggota Brigdalkarhut Seksi Konservasi Wilayah V Garut Bidang KSDA Wilayah III Ciamis BBKSDA Jawa Barat yang sedang piket di Posko Brigdalkarhut Kantor SKW V Garut Sesuai dengan SOP, sebelum berangkat ke lokasi kejadian, Tim telah menyiapkan peralatan Damkarhut dan memakai APD (Alat Pelindung Diri) serta dilakukan briefing terlebih dahulu oleh Dan Brigdalkarhut SKW V Garut agar tuntas dalam memadamkan api dan menjaga keselamatan/ kesehatan kerja. Lokasi kejadian berada di Blok Naringgul/Tegal Malaka, Kampung Naringgul, Desa Rancabango, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut dengan titik koordinat 07°10.737' LS dan 107°52.064' BT. Luas areal yang mengalami kebakaran kurang lebih 1,5 Ha dengan vegetasi yang terbakar berupa tegakan pinus, kaso, saliara, kirinyuh, kaliandra, rumput dan alang-alang. Pemadaman kebakaran hutan tersebut dilakukan oleh sebanyak 9 orang terdiri dari Tim Brigdalkarhut SKW V Garut sebanyak 5 orang dan 4 orang warga masyarakat Desa Rancabango. Pemadaman api dilakukan dengan bantuan 1 unit mobil GALAAG dan 1 unit sepeda motor, serta perlengkapan pendukung berupa mesin pompa air beserta selang sepanjang 100 m, 5 buah jetshooter dan Alat Pelindung Diri (APD) untuk anggota yang menjalankan tugas berupa seragam dalkar, sepatu boot, helm, kaca mata, sarung dan masker, serta alat komunikasi. Warga masyarakat membantu secara manual dengan menggunakan ranting pohon. Api berhasil dipadamkan pada pukul 13.35 WIB dan kebakaran tidak sampai meluas. Namun demikian selama satu Tim Brigdalkarhut SKW V Garut tetap melakukan penyisiran untuk memastikan sisa-sisa api yang masih menyala benar-benar padam karena dikhawatirkan akan dapat membesar kembali. Dampak kerusakan yang diakibatkan oleh kebakaran hutan ini berupa rusaknya vegetasi di permukaan tanah sehingga tanah menjadi terbuka. Sebagai langkah antisipasi untuk pencegahannya Tim Brigdalkarhut SKW V Garut tetap memonitor dan melakukan patroli di sekitar lokasi kejadian dan lokasi lainnya yang rawan kebakaran hutan. Penyebab kebakaran hutan ini masih dalam penyelidikan, meskipun sebelumnya Tim Brigdalkarhut SKW V Garut sudah memasang spanduk peringatan/himbauan untuk menjaga dan melindungi kawasan dari kebakaran hutan di lokasi kejadian. Sumber : Balai Besar KSDA Jabar
Baca Berita

Monitoring Gajah Sumatera dengan menggunakan Camera Trap di Suaka Margasatwa Padang Sugihan

Sebokor, 8 Agustus 2018. Kawasan SM Padang Sugihan ditunjuk menjadi suaka margasatwa berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 76/Kpts-II/2001 tanggal 15 Maret 2001 dengan luas yaitu 86.932 Ha, kemudian ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Penetapan Menteri Kehutanan No. SK.2858/Menhut-VII/KUH/2014 tanggal 16 April 2014 dengan luas kawasan 88.148,05 Ha dan SK Menteri Kehutanan No.SK.866/Menhut/II/2014, tanggal 29 September 2014 Tentang Kawasan Hutan dan Konservasi Perairan Sumatera Selatan. Secara administratif SM Padang Sugihan berada di Kabupaten Banyuasin dan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). SM Padang Sugihan merupakan habitat alami gajah sumatera yang merupakan species terancam punah di Provinsi Sumatera Selatan. Banyaknya gangguan kawasan dan kebakaran hutan menjadikan penting untuk dilakukan kegiatan monitoring secara berkala .Monitoring Gajah Sumatera sangat penting dilakukan untuk mengetahui kondisi gajah yang ada didalam kawasan. Balai KSDA Sumatera Selatan, Seksi Konservasi Wilayah III Juli 2018 melakukan monitoring Gajah Sumatera dengan pemasangan camera trap. Lokasi pemasangan camera trap berapa pada jalur jelajah gajah yang telah diketahui sebelumnya dan lokasi yang berpotensi dilalui gajah. Adanya sekat kanal pada tiap jalur di padang sugihan sedikit banyak berpengaruh pada jalur jelajah gajah sehingga pemasangan camera trap pun menyesuaikan dengan kondisi yang ada di lapangan. Data yang nantinya dihasilkan dari camera trap ini akan dilakukan identifikasi foto/gambar satwa yang tertangkap kamera jebakan dan pengolahan data dari hasil analisis foto independen dengan analisis Capture Recapture. Hasil analisis Capture Recapture menunjukkan jumlah individu satwa yang tertangkap oleh Kamera Jebakan. Tingkat perjumpaan (jumlah foto/100 hari) di dapat dari perhitungan total jumlah foto dibagi total hari kamera aktif dikali seratus. Faktor pembagi 100 hari untuk menyamakan waktu satuan usaha yang di gunakan (O’Brien et al.2003). Sumber : Taufan Kharis, Balai KSDA Sumatera Selatan

Menampilkan 7.297–7.312 dari 11.140 publikasi