Rabu, 22 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Kelanjutan Restorasi di Blok Pejaten

Kuningan, 10 Agustus 2018. Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) merupakan salah satu kawasan konservasi yang kondisi ekosistennya unik. Gunung Ciremai merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat dengan ketinggian 3.078 mdpl, gunung merapi aktif normal yang kondisinya masih stabil dibanding gunung merapi di pulau Jawa lainnya. Letusan terakhir tahun 1938 menyisakan batu-batuan elok di wilayah utara sampai dengan timur. Salah satunya adalah Blok Pejaten. Kondisi ekosistem batu bertanah menyebabkan tidak sembarang vegetasi dapat bertahan dan tumbuh. Kerjasama dengan JICS (Japan International Corporate System) sejak tahun 2015 untuk melakukan restorasi ekosistem. Restorasi ekosistem adalah upaya mengembalikan kondisi ekosistem seperti semula baik keanekaragaman hayati, struktur vegetasi dan lain sebagainya. Adapun tahapan yang sudah dilakukan hingga kini adalah penanaman di lapangan. Areal restorasi Blok Pejaten sudah mulai menguning selama satu bulan ini. Berdasarkan data forest danger rating menunjukkan extrim dengan angka yang tinggi. Beberapa bibit sudah mulai layu dan mati, hanya jenis Waru yang bertahan. Penyiraman terus dilakukan, embung air juga sudah disiapkan sebagai cadangan air. Antisipasi kebakaran hutan dan lahan juga sudah dilakukan oleh kelompok Jaya Pakuan dengan membuat sekat bakar baik pada petak kecil maupun sekeliling areal restorasi. Untuk mengatasi kematian tanaman akibat kekeringan maka akan dilakukan ujicoba teknik penambahan fiber/ serat serabut kelapa pada lubang tanam untuk mengurangi stres akar akibat panas. Namun hal ini masih dalam ujicoba dalam waktu 3 bulan sebelum musim hujan tiba.Selain itu, ketersediaan bibit terus diperbanyak untuk menyulam bibit yang mati di lapangan. [teks Nisa BTNGC & Deasy JICS, foto © JICS - BTNGC | 082018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Langkah Strategi Balai TN Wakatobi Tingkatkan Peran Masyarakat

Kaledupa, 10 Agustus 2018. Keberadaan masyarakat yang berada di dalam kawasan Taman Nasional Wakatobi (TNW) menjadikan kawasan TNW memiliki keunikan tersendiri dibanding kawasan konservasi lainnya. Sehingga diperlukan strategi dalam pelibatan masyarakat untuk ikut menjaga dan melindungi kawasan melalui pemberian hak pengelolaan kawasan pada zona pemanfaatan dan zona lainnya yang sudah di tetapkan peruntukannya. Salah satu langkah strategi yang ditempuh oleh Balai TNW melalui Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Kaledupa bekerjasama dengan FORKANI (Forum Kahedupa Toudani) dan WWF-Indonesia SES mengadakan “Pelatihan Peningkatan Peran Masyarakat Binaan di Desa Horuo Kecamatan Kaledupa Kabupaten Wakatobi, yang diikuti sebanyak 30 (tiga puluh) orang peserta dari perwakilan Kelompok Nelayan Desa Horuo dan Kampung Mantigola. Pelibatan masyarakat Desa Horuo selain wilayah desanya merupakan salah satu desa yang berada di dalam kawasan TNW, juga keberadaan salah satu komunitas masyarakatnya yang bermukim ditengah perairan laut Desa Horuo yang disebut Kampung Mantigola dan dihuni oleh Suku Bajo. Pelatihan berlangsung selama tiga hari bertempat di Balai Pertemuan Rumah Adat Mantigola mulai Jum’at (10/8) sampai dengan Minggu (12/8). Tujuan pelatihan ini untuk merangsang partisipasi aktif masyarakat desa untuk saling berbagi, menggali dan menganalisis pengetahuan masyarakat tentang kondisi dan kehidupan desa sehingga dapat membuat suatu rencana dan tindakan nyata dalam pengelolaan sumber daya alam di Desa Horuo dan pengeloaan kawasan TNW. Dalam pelatihan ini metode yang digunakan Metode PRA (Participatory Rural Appraisal) suatu metode untuk memahami desa secara partisipatif, dalam hal permasalahan dan upaya antisipasi yang dibutuhkan dengan mendasarkan pada potensi dan kendala sumberdaya yang tersedia. Melalui pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan peran serta masyarakat dalam upaya perlindungan dan pengamanan serta pemanfaatan sumber daya alam secara lestari dan berkelanjutan. Sumber : Hastuty - SPTN Wilayah II Balai Taman Nasional Wakatobi
Baca Berita

Sukseskan ASIAN Games Tim Deteksi Dini Dalkarhut TN. Way Kambas Siaga 24 Jam

Labuhan Ratu, 9 Agustus 2018. Gelaran ASIAN Games XVIII di Jakarta dan Palembang tinggal menghitung hari, Taman Nasional Way Kambas (TNWK) bertekad untuk ikut serta mensukseskan event akbar tersebut dengan melakukan pencegahan terjadinya kebakaran hutan. Kepala Balai TNWK Subakir, SH. MH. memerintahkan semua Kepala Seksi Wilayah harus meningkatkan kewaspadaan di wilayahnya agar tidak terjadi kebakaran hutan. ASIAN Games XVIII yang akan berlangsung di Jakarta dan Palembang jangan sampai terganggu dengan adanya asap kebakaran hutan. Kebakaran Hutan dan Lahan yang biasa terjadi pada musim kemarau harus dapat dihentikan. Semua pihak harus dapat mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan, terutama masyarakat dan kawasan perkebunan untuk tidak membuka lahan dengan membakar hutan. Tim deteksi sudah disiagakan di tiga Seksi Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wilayah; Seksi PTN Wilayah I Way Kanan, Seksi PTN Wilayah II Bungur dan Seksi PTN Wilayah III Kuala Penet. Tim yang beranggotakan 3-8 orang di setiap titik akan memantau dan melaporkan kepada Koordinator Dalkarhut selama 24 jam. Jika terjadi kebakaran Tim deteksi segera melakukan tindakan pemadaman dan melaporkan ke Posko Dalkarhut di Kantor Balai untuk meminta bantuan Tim jika api tidak mampu untuk dipadamkan. Subakir meminta kepada semua pemangku wilayah siaga 24 jam dan selalu berkoordinasi dengan masyarakat sekitar dan Polsek dan Koramil setempat untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan. “ Saya berharap semua wilayah meningkatkan kewaspadaan kebakaran hutan, ajak masyarakat, untuk terlibat dalam mengantisipasi dan pemadaman kebakaran hutan” tegas Subakir. TNI, Polri, Pemerintah Desa dan Masyarakat penyangga saat ini sudah bersinergi dengan Pengelola TN. Way Kambas dalam penanggulangan kebakaran hutan. Patroli Pengamanan Polhut bersama para Mitra (TNI, Polri, Masyarakat dan NGO yang ada di TNWK) diharapkan dapat meminimalisir terjadinya kebakaran hutan, mengingat sampai saat ini kebakaran hutan di TN. Way Kambas terjadi karena ulah oknum masyarakat yang melakukan aktifitas ilegal di dalam kawasan seperti perburuan liar dan pemancingan. Sumber : Humas Balai Taman Nasional Way Kambas
Baca Berita

Satuan Tugas Khusus Pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan Balai KSDA Sumatera Selatan Siap Sukseskan Asian Games 2018

Palembang, 9 Agustus 2018. Indonesia tahun ini menjadi tuan rumah yang akan kedatangan tamu dalam acara akbar Asian games 2018 di Jakarta - palembang. Palembang sedang berbenah untuk menyuguhkan hal yang sempurna pada gelaran ini. Selain infrastruktur, yang menjadi perhatian adalah kondisi lingkungan. Salah satu tugas besar yang diemban pihak-pihak yang berkepentingan di Palembang adalah memastikan lingkungannya bersih dan menarik. Baik lingkungan di tengah kota maupun lingkungan yang mendukung gelaran akbar ini. Palembang yang beberapa tahun lalu memiliki permasalahan dalam hal kebakaran hutan dan lahan dituntut untuk meminimalisir hal serupa. Balai KSDA Sumatera Selatan sebagai salah satu UPT Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan ikut ambil bagian dalam gelaran ini yaitu dengan mengamankan Kawasan Konservasi dari kebakaran hutan yang dapat mengganggu Asian Games 2018. Balai KSDA Sumatera Selatan membentuk Satuan Tugas Khusus (Satgasus) untuk menangani permasalahan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang kerap terjadi di kawasan konservasi di Sumatera Selatan dan Bangka Belitung. Satgasus Karhutla melakukan patroli rutin baik darat maupun perairan dan juga dengan memantau hotspot yang ada dengan menggunakan aplikasi android. Tim Satgasus Karhutla ini membangun posko-posko di lokasi yang sering terjadi kebaran sehingga jika terjadi kebakaran bisa langsung ditangani dengan cepat. Saat ini, sejumlah titik kebakaran hutan di wilayah kawasan konservasi telah ditangani dengan sigap. Balai KSDA Sumatera Selatan mengingatkan agar masyarakat sadar terhadap pembukaan lahan dengan cara membakar hutan sangat berbahaya terutama untuk lingkungan hidup dan kesehatan. Selain membentuk Satuan Tugas Khusus ini Balai KSDA Sumatera Selatan juga melakukan langkah antisipasi dalam menanggulangi kebakaran hutan, Balai KSDA Sumatera Selatan telah melakukan beberapa upaya. Misalnya dengan membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat dan pemerintah daerah setempat dan juga melakukan sosialisasi secara rutin bahaya dari membakar hutan dan lahan. Dengan peran aktif Balai KSDA Sumatera Selatan dan para pihak yang terlibat dalam menjaga dari kebakaran hutan dan lahan baik dikawasan konservasi maupun diluar kawasan konservasi diharapkan tidak akan ada asap yang mengganggu Asian Games 2018 sehingga gelaran akbar ini dapat berjalan dengan lancar. Sumber: Taufan Kharis, Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Kunjungan Lapangan Role Model ‘’Pertanian Sehat dan Camp Fire Care" Taman Nasional Gunung Ciremai

Kuningan, 9 Agustus 2018. Kunjungan role model pertanian sehat oleh Kepala Subdit Yayat Surya dilanjutkan dengan pertemuan dan diskusi di Gazebo Curug Cipeuteuy, 5 Agustus 2018 silam. Yayat Surya didampingi Kepala Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Kuswandono beserta jajaran struktural dan fungsional. Pertemuan tersebut juga dihadiri Kepala Desa Bantaragung, pengelola Curug Cipeuteuy Koperasi Agung Lestari, kelompok Lingga Buana pengelola "Camp Fire Care" dan kelompok Fajar Agung Mandiri pengelola "pertanian sehat". Kegiatan pertemuan dan diskusi dimoderatori oleh Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Majalengka, Jaja sekaligus memberikan gambaran singkat mengenai Role Model Pertanian Sehat dan “Camp Fire Care" TNGC. Kegiatan pertanian sehat dilaksanakan sejak bulan Juli 2018 di blok Cukang Baok, sedangkan “Camp Fire Care" tahap penguatan kelembagaan serta penataan lahan untuk dijadikan tempat “Camp Fire Care" di Bukit Batu Semar. Kepala Desa Bantaragung, Maman Surahman menyampaikan bahwa Desa Bantaragung sudah melakukan pertanian sehat dari dulu tetapi belum ada yang mendukung. "Mudah-mudahkan dengan adanya kerjasama dengan TNGC program bisa berhasil walaupun belum steril karena aliran air dari hulu masih ada pencemaran padi kimia" lanjut Maman. Sosialisasi pertanian sehat kepada petani mulai mendapat respon positif dan menyadari bahayanya zat kimia merusak unsur hara tanah. Secara cepat masyarakat desa Bantaragung merespon secara positif perubahan status Gunung Ciremai yang semula hutan produksi menjadi hutan konservasi. Sebelumnya menjadi petani, sekarang mengelola wisata alam Curug Cipeuteuy. Menjadi pioneer dalam pengelolaan wisata alam berbasis masyarakat mendapatkan banyak apresiasi dan penghargaan. "Tanpa dukungan kepala desa dan pendampingan petugas TNGC kami belum tentu bisa seperti ini" tegas Martha, ketua Koperasi Agung lestari. Begitupula harapan dari kelompok pengelola pertanian sehat, agar dapat didukung untuk meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan konservasi TNGC. Pesan yang disampaikan Yayat Surya, keberadaan Taman Nasional bermanfaat bagi masyarakat sesuai dengan tiga pilar konservasi yaitu perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan. Alam dan sumber air yang menjadi kekuatan Gunung Ciremai harus dipertahankan dan dijaga. Seperti yang sudah dilakukan Koperasi Agung Lestari, pengelolaan wisata alam tidak hanya sebatas bagaimana kunjungan meningkat namun juga dapat mempertahankan bentang alam yang ada bahkan harus lebih ditingkatkan, perlindungan terhadap ancaman kebakaran, pencurian dan perburuan liar. "Jangan pernah puas, terus berkarya dan harus ada sesuatu yang inovasi yang baru" lanjut Yayat Surya Pengunjung tidak hanya sekedar menikmati alamnya namun juga dididik agar dapat mengubah pola hidup menjadi lebih sehat. Diantaranya dengan mengurangi penggunaan sampah plastik dan mulai dengan konsumsi makanan organik dan meninggalkan makanan serba instan. Peluang terbuka lebar bagi masyarakat untuk berkontribusi di dalam kawasan tanpa harus bertentangan dengan peraturan perundangan kehutanan seperti penyediaan rumah makan di luar kawasan ataupun jasa pemanduan. Masyarakat secara mandiri menjaga alamnya bahkan sampai pada tahap mengkaji dan mempelajari apa yang ada di hutannya. Jangan hanya sekedar mengkritisi tanpa solusi ya. Salam konservasi [Teks & foto @ Gandi Mulyawan – BTNGC | 082018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Birdrace dan Lomba Foto TN Matalawa Menyedot Perhatian Turis Jerman

Waingapu, 9 Agustus 2018. Bertempat di Aula Puspas, Kecamatan Katikutana Kabupaten Sumba Tengah, secara resmi Kepala Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) Maman Surahman S.Hut., M.Si menutup kegiatan Birdrace dan Lomba Fotografi, terlihat wajah kebahagian dari peserta lomba yang usai berburu setelah tiga hari masuk keluar hutan untuk mendapatkan foto terbaiknya, riuh sorak sorai terdengar begitu hasil penilaian lomba diumumkan, pengumuman pemenang dibagai menjadi 3 kategori adapun pemenang dari masing-masing kategori lomba adalah sebagai berikut: untuk kategori Birdrace di menangkan oleh kelompok Pasya lalala, kategori lomba foto burung dimenangkan oleh Rendra Des Kurnia sedangkan untuk kategori lomba foto alam dan manusia dimenangkan oleh Arief Siswandhono, hal yang sangat luar biasa dan cukup menyedot perhatian para peserta dan panitia lomba adalah aksi sosial dari salah satu pemenang lomba yaitu mendonasikan hadiahnya untuk korban gempa Lombok. Secara keseluruhan kegiatan Birdrace dan Lomba Foto TN Matalawa Tahun 2018 berjalan dengan lancar, peserta lomba sangat puas dengan gelaran yang dilaksanakan. Lomba ini mampu menyedot perhatian banyak orang untuk berpartisipasi tidak hanya dari dalam negeri tetapi juga berasal dari luar negeri, harapannya kedepan TN Matalawa dapat menggelar kembali kegiatan Birdrace dan lomba foto di tahun mendatang. Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti
Baca Berita

Mamalia Berduri Diserahkan Masyarakat

Purwakarta, 9 Agustus 2018. Pada hari Rabu tanggal 08 Agustus 2018 sekitar pukul 09.30 WIB, Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan TSL SKW IV Purwakarta Bidang KSDA Wilayah II Soreang BBKSDA Jabar telah menerima penyerahan secara sukarela dari masyarakat yang berinisial AF, umur 54 tahun, pekerjaan karyawan swasta beralamat di Jalancagak RT 008/RW 008 Desa Jalancagak Kec. Jalancagak Kab. Subang - Jawa Barat, yang bertindak atas nama Manajemen PT. Sari Ater, kepada negara cq. Kementerian LHK melalui BBKSDA Jawa Barat Menurut kronologis yang disampaikan pihak manajemen PT. Sari Ater, satwa tersebut diperoleh dari masyarakat sekitar beberapa tahun yang lalu sebanyak 2 ekor (diperkirakan sepasang) dan pihak manajemen khawatir satwa tersebut dibunuh, maka pihak manajemen PT. Sari Ater meminta satwa tersebut untuk dipelihara (kebetulan tersedia kandang yang cukup besar), setelah berjalan dalam waktu satwa tersebut berkembang biak (beranak) sebanyak 7 ekor, sehingga total Landak saat diserahkan seluruhnya berjumlah 9 ekor. Sementara mengingat satwa-satwa tersebut merupakan jenis satwa yang dilindungi Undang-undang dan atas bantuan mitra BBKSDA Jabar (Kader Konservasi Subang) yang telah menjadi fasilitator dalam menyampaikan peraturan perundangan terkait TSL, maka satwa tersebut diserahkan kepada Negara secara sukarela. Secara penampakkan fisik, kondisi satwa tersebut cukup sehat, beberapa masih remaja namun jenis kelamin sulit untuk diidentifikasi karena sifat satwa tersebut masih sangat liar dan rawan melukai karena duri tajam pada tubuh Landak. Satwa-satwa saat ini masih diamankan di Kantor Seksi Konservasi Wilayah IV Purwakarta sambil menunggu proses translokasi ke lembaga konservasi. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

Pemusnahan Ladang Ganja di Kawasan TN Gunung Leuser

Aceh Selatan, 9 Agustus 2018. Petugas Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) bersama dengan Polri dan TNI melakukan pemusnahan ladang Ganja di kawasan TN. Gunung Leuser, Resort Bakongan, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Kluet Utara, Bidang Pengelolaan Taman Nasional (BPTN) Wilayah I Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan pada Selasa silam (7/8). Perjalanan Tim Patroli Terpadu kali ini mendapatkan temuan berupa ladang ganja di dalam kawasan TN. Gunung Leuser. Bukaan lahan illegal itu awalnya didapatkan melalui data analisa citra satelit yang dilakukan petugas TN. Gunung Leuser dibeberapa bulan terakhir. Menanggapi persoalan tersebut Ka. BPTN Wilayah I Tapaktuan, Buana Darmansyah, S.Hut. T, menugaskan anggotanya untuk melakukan pengecekan langsung ke tempat kejadian perkara (TKP) bersama dengan tim terpadu lainnya. Tim Patroli terpadu ini terdiri dari Petugas TN. Gunung Leuser, Polres Aceh Selatan dan Kodim 0107 Aceh Selatan. Kegiatan berlangsung dilapangan selama 4 hari dimulai pada hari Minggu (05 Agustus 2018) sampai dengan selesai. Hasil yang didapatkan adalah tim patroli menemukan kebun ganja dengan luas sekitar 2 hektar, sementara pemilik ladang illegal tersebut tidak dijumpai dilapangan. Jarak tempuh ke lokasi TKP (tempat kejadian perkara) dari desa terdekat yaitu 2 hari perjalanan. Desa terdekat adalah Gampoeng Seunebok Keuranji, Kecamatan Kota Bahagia, Aceh Selatan. Berdasarkan perkiraan, jumlah tanaman ganja yang dimusnahkan oleh petugas dilapangan sebanyak 2000 batang dengan usia tanaman ± 3-4 bulanan. Pemusnahan terhadap tanaman illegal tersebut berhasil dilakukan dengan cara mencabut dan membakar, sementara sebahagian barang bukti lainnya dibawa ke Polres Aceh Selatan. BBTN Gunung Leuser menyampaikan ucapan terimakasih dan apresiasi kepada Kapolres Aceh Selatan, AKBP. Dedy Sadsono, ST dan Dandim 0107 Aceh Selatan, Letkol Kav. Hary Mulyanto atas dukungan dan kerjasamanya. Sumber : Efa Wahyuni/Foto : Herman juanda - Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser
Baca Berita

Harmonisasi Pengelolaan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dengan Pemerintah Daerah Sukabumi

Sukabumi, 9 Agustus 2018. Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Wahju Rudianto, S.Pi. M.Si. beserta Kepala Bagian Tata Usaha; Kepala Bidang PTN Wilayah II Sukabumi; Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan, dan Pengawetan; Kepala Seksi Wilayah III Selabintana, dan Kepala Seksi Wilayah IV Situgunungmelakukan kunjungan silaturahmi dan koordinasi dengan Bupati Sukabumi, Drs. H. Marwan Hamami, MM. di Pendopo Kabupaten Sukabumi Jl. Siliwangi No. 10 Kota Sukabumi. Acara ini dihadiri juga tokoh ulama. Pertemuan ini merupakan menjewantahan “10 Cara Baru Kelola Kawasan Konservasi”, Kerjasama Lintas Kementerian. Materi utama yang menjadi pokok bahasan adalah: 1. Sinergitas program pengembangan wisata alam dan pemberdayaan masyarakat di Kabupaten Sukabumi. 2. Diskusi regulasi bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Pemerintah Daerah (Pemda) Sukabumi dan Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango sepakat untuk menjadikan pengembangan wisata alam sebagai lokomotif pengembangan pembangunan daerah sekitarnya terutama dalam upaya meningkatnya lapangan kerja, kesempatan berusaha, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara signifikan. Disamping itu, atraksi budaya Sunda akan dihadirkan sebagai salah satu daya tarik wisata. Kepala Balai Besar dalam pertemuan tersebut menyampaikan, bahwa “Balai Besar TNGGP secara kelembagaan yang merupakan unsur Pemerintah Pusat di daerah, sangat mendukung adanya program pengembangan wisata alam dan program peningkatan perekonomian masyarakat, khususnya di Selabintana dan Situgunung”. Pemda Kabupaten Sukabumi menyambut gembira kunjungan Balai Besar TNGGP dan mereka mengharapkan pertemuan seperti ini terus berlanjut secara rutin agar terjalin sinergitasdalam pengembangan objek wisata di Kabupaten Sukabumi dan dapat menginformasikan perkembangan regulasi bidang konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya. Sumber : Bidang Teknis Konservasi – Balai Besar TNGGP
Baca Berita

CA. Gunung Tilu Kedatangan “Patuha”

Bandung, 9 Agustus 2018. Balai Besar KSDA Jawa Barat yang diwakili Resort Konservasi Wilayah Cagar Alam Gunung Tilu bersama-sama dengan The Aspinall Foundation telah melepasliarkan 1 individu Owa Jawa (Hylobathes moloch) hasil rehabilitasi dari Pusat Rehabilitasi Primata The Aspinall Foundation Ciwidey pada Rabu silam (8/8). Owa jawa berjenis kelamin jantan yang dilepasliarkan ini biasa dipanggil dengan nama panggilan “Patuha” berumur lebih kurang 7 (tujuh) tahun dan berasal dari serahan masyarakat di Jakarta. Satwa tersebut dilepasliarkan di Cagar Alam Gunung Tilu setelah melalui masa adaptasi di kandang habituasi selama 3 (tiga) minggu dan dinyatakan sehat oleh dokter hewan baik secara medis maupun perilaku. Kegiatan pelepasliaran ini dihadiri juga oleh perwakilan dari Perkebunan Teh Dewata, anggota Resort Konservasi Wilayah Cagar Alam Gunung Tilu, The Aspinall Foundation dan mahasiswa Unpad yang sedang melakukan kuliah lapangan. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

Upaya Penyelamatan Orangutan, Balai TN Kutai Sinergi Bersama Multipihak

Bontang, 9 Agustus 2018. Berawal dari laporan yang diterima Departemen Keamanan dan Ketertiban (Kamtib) ke Departemen Lingkungan Hidup (LH) PT. Pupuk Kaltim pada 7 Agustus 2018, security PT. Pupuk Kaltim melaporkan adanya pergerakan Orangutan di sebuah pohon ketapang pada 6 Agustus 2018 malam hari yang disampaikan penjaga pos di Dermaga 4 Tursina Pupuk Kaltim. Departemen LH PT. Pupuk Kaltim selanjutnya bergegas menurunkan tim untuk mengamati lokasi munculnya Orangutan tersebut. Dikarenakan lokasi tempat ditemukannya Orangutan yang berdekatan dengan Pabrik dan dikhawatirkan ada potensi bahaya, pada akhirnya memutuskan perlu ada penanganan cepat dengan berkoordinasi dengan Balai Taman Nasional Kutai (TNK) untuk tindak lanjut dari keberadaan Orangutan di kawasan PT. Pupuk Kaltim. Selanjutnya tim dari PT. Pupuk Kaltim dan Balai TNK berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur. Pengamatan dilakukan oleh tim sampai larut malam, dikarenakan Orangutan tersebut setelah turun dari pohon di dekat pos jaga Dermaga 4 Tursina PT. Pupuk Kaltim langsung mengarah masuk ke dalam hutan. Tidak berhenti pada malam itu, tim melanjutkan pencariannya pada 8 Agustus 2018 dikarenakan menurut informasi pada saat itu Orangutan kembali terlihat di Area Dermaga Tursina PT. Pupuk Kaltim. Berkat kerjasama yang baik antara PT. Pupuk Kaltim dengan TN Kutai, pada akhirnya Orangutan berhasil di handling pada saat ingin menaiki pagar Perusahaan JVC pada pukul 11.30 Wita dengan cara memegang tangan dan kaki Orangutan tersebut secara bersamaan. Setelah berhasil diamankan, Orangutan betina tersebut diserah terimakan dari PT. Pupuk Kaltim ke Balai TN Kutai dan selanjutnya dilakukan pengecekan kesehatan oleh Drh. Vidi Saputra beserta tim dari BKSDA Kalimantan Timur. Setelah dilakukan observasi, Orangutan dinyatakan dalam kondisi baik dan sehat, serta masih terdapat sifat liar, sehingga pada 9 Agustus 2018 (3 hari setelah pengamatan) Orangutan sudah siap untuk ditranslokasi ke kawasan Taman Nasional Kutai di Resor Sangkima, SPTN Wilayah I Sangatta, yang merupakan salah satu site pengamatan dan habitat orangutan. Pada saat translokasi berlangsung, GM Umum PT. Pupuk Kaltim Nur sahid menyatakan bahwa Orangutan berhasil di tangkap dengan sangat baik tanpa menciderai primata tersebut. Nur Sahid juga menambahkan, jika orangutan sampai masuk ke dalam Pabrik, tentu akan sangat fatal dan sangat membahayakan banyak pihak, begitu juga jika sampai masuk ke rumah penduduk. Kami berharap orangutan ini dapat kembali ke habitat asalnya dengan sehat dan selamat. Selain itu, kami juga merasa bangga bahwa PT. Pupuk Kaltim dapat membantu menjaga, melindungi dan menyelamatkan salah satu primata yang dilindungi oleh Negara tutupnya. Pada kesempatan yang sama, Kepala Balai Taman Nasional Kutai Nur Patria Kurniawan,S.Hut., M.Sc melalui Dede Nurhidayat (Pengendali Ekosistem Hutan Pertama) mengucapkan terima kasih kepada PT. Pupuk Kaltim yang telah membantu menyelamatkan satwa liar, yang dalam hal ini adalah Orangutan. Pelepasan ini juga merupakan upaya penanggulangan konflik antara satwa liar dengan manusia. Selain itu dengan adanya pelepasan di kawasan TN Kutai ini juga akan menambah jumlah populasi Orangutan, terutama di kawasan Taman Nasional Kutai. Kami berharap masyarakat akan lebih sadar akan keberadaan satwa liar terutama satwa yang sangat dilindungi, bahkan satwa yang sudah menjadi ikon dunia ini. Pada kesempatan yang baik ini juga dihimbau kepada masyarakat untuk tidak melakukan upaya-upaya melukai bahkan sampai membunuh satwa yang dilindungi. #TN Kutai Sumber : Balai Taman Nasional Kutai
Baca Berita

Malaka, Sumber Kehidupan Satwa Liar Saobi

Pamekasan, 9 Agustus 2018. “Kenapa monyet matanya masuk kedalam, hayo?” tanya Pak Sahlan, seorang anggota Masyarakat Mitra Polhut kepada kami. Sayapun mengernyitkan dahi tanda tak menemukan jawabannya. Tak lama Erfan yang sedari tadi membuntuti di belakang menjawab, “ya karena kejatuhan buah Malaka, hehehe.” Meski sempat bingung hubungannya, namun saat saya melihat ke sekeliling, nyatanya memang buah Malaka disini utuh. Padahal, jumlah Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Cagar Alam Pulau Saobi terbilang cukup banyak. “Monyet disini gak ada yang doyan buah Malaka, mas. Jangankan makan, la wong manjat pohonnya saja tidak ada yang mau. Coba ingat, dari tadi pagi sampe siang kita nggak lihat ada monyet yang nangkring di Pohon Malaka kan?” Ujar Pak Sahlan sembari melemparkan pertanyaan kepada saya. Menurut Pak Sahlan, dahulu ada sekawanan monyet makan buah Malaka, satu ekor memanjat dan yang lainnya di bawah menunggu buah yang jatuh. Ternyata saat buahnya jatuh tepat di mata si Monyet. Akhirnya mereka kesakitan dan matanya masuk kedalam. “Nah, sejak saat itu-lah Monyet tidak lagi makan buah Malaka” cerita Pak Sahlan yang disambut tawa oleh semua tim patroli. Meski Saya tahu itu hanya sebuah dongeng, namun apakah memang Monyet tidak memakan Buah Malaka? “Nanti kita buktikan, apa benar Monyet nggak doyan Buah Malaka” ucap saya sambil mencoba rasa buah Malaka. Buah Obat Malaka yang bernama latin Phyllanthus emblica merupakan jenis tumbuhan yang banyak ditemui di wilayah Cagar Alam Pulau Saobi khususnya di Blok Siken, Reng, Malaka manis, Motor tarik, Saebu, dan Tanah Gugur. Tumbuhan yang buahnya dipercaya oleh masyarakat Desa Saobi dapat mengobati penyakit maag dan mual. Buahnya berbentuk bulat seperti kelereng dengan warna hijau seperti buah cerme. Memiliki rasa pahit, sepat dan asam menjadi satu, namun setelah dikunyah akan meninggalkan rasa manis di lidah. Tinggi pohon sekitar 3 – 5 meter saja dengan tajuk lebar, berjenis daun tunggal dan berukuran kecil dan berselang seling pada ranting dengan, susunan seperti daun majemuk menyirip. Malaka termasuk tanaman yang meranggas yaitu menggugurkan daun ketika musim kemarau. Malaka tersebar di India dan Asia tenggara, khususnya Pulau Jawa. Berdasarkan Mitologi Hindu, pohon Malaka disembah sebagai Earth Mother, karena buah malaka sangat bergizi bagi umat manusia. Buah malaka menjadi komoditas tanaman obat yang yang banyak digunakan penduduk India. Buah ini digunakan dalam pengobatan tradisional organisasi kesehatan tertua di India yang dinamakan Ayurvedic. Kembali dengan pembuktian hipotesis “Monyet Tidak makan Buah Malaka”, kamipun mulai melakukan pengujian sederhana dengan menyiapkan tiga jenis buah, Pisang, Jambu dan Malaka. Ketiganya kami letakan di lokasi dekat kawanan monyet yang sedang mencari makan. Hasilnya buah Pisang dan Jambu habis, sedangkan buah Malaka tetap utuh sebanyak 20 biji. Mungkin Monyet tidak makan buah Malaka, namun lain halnya dengan Rusa Timor. Buah Malaka menjadi sumber pakan bagi Rusa yang ada di cagar alam ini, khususnya di musim kemarau saat rerumputan mengering. Hal ini bisa dilhat dengan adanya biji Malaka pada kotorannya. Biji malaka yang kecil dan keras tidak dapat di cerna dengan baik oleh Rusa. Meski saya tidak suka buah Malaka, namun Malaka mampu menjadi sumber kehidupan bagi satwa liar untuk bertahan hidup di sebuah hutan yang kering bernama Cagar Alam Pulau Saobi. Sumber : Didik Sutrisno, Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Menara Pengawas Kebakaran, Bentuk Peran Serta Masyarakat Peduli Api

Kuningan, 8 Agustus 2018. Musim kemarau di tahun 2018, beberapa wilayah Utara Gunung Ciremai seperti wilayah Pasawahan dan Mandirancan sudah siaga satu ancaman kebakaran hutan. Daerah ini merupakan daerah yang rawan kebakaran karena sebagian besar tutupan lahannya didominasi semak belukar berbatu. Upaya pencegahan kebakaran hutan yang dilakukan Polisi Kehutanan di TN Gunung Ciremai yaitu dengan meningkatkan pengawasan di areal rawan kebakaran. Bentuk kegiatannya berupa sosialisasi peraturan perundangan serta patroli bersama Masyarakat Peduli Api. Sinergisitas dengan masyarakat sekitar kawasan hutan menjadi hal penting dalam rangka pencegahan kebakaran hutan. Salah satu bentuk peran serta Masyarakat Peduli Api dalam rangka pencegahan kebakaran hutan dengan membuat menara pengawas kebakaran. Kegiatan ini dilaksanakan secara swadaya dan inisiatif dari Masyarakat Peduli Api Desa Pasawahan. Hal ini merupakan bentuk nyata bahwa kesadaran masyarakat terhadap kawasan TN Gunung Ciremai sudah jauh meningkat dari sebelumnya dan perlu kita apresiasi dengan baik. Keterlibatan masyarakat dalam rangka pencegahan kebakaran hutan sangat kita harapkan untuk mencegah terjadinya bencana kebakaran hutan di TN Gunung Ciremai [teks © Oman DP – BTNGC, Foto © Dadan | 082018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Sosialisasi Pemulihan Ekosistem oleh BKSDA Jambi

Nipah Panjang, 7 Agustus 2018. BKSDA Jambi dalam rangka kegiatan pemulihan ekosistem melakukan sosialisasi kepada masyarakat Nipah Panjang I, acara sendiri bertempat di kantor lurah Nipah Panjang I. Sosialisasi sendiri dibuka langsung oleh Lurah dan Camat setempat, dan kata sambutan oleh Faried, SP selaku Kepala SKW III BKSDA Jambi kepada para peserta sosialisasi yaitu Kelompok Tani Usaha Baru. Dilanjutkan pemaparan materi oleh tim perencanaan BKSDA Jambi terkait role model yang akan dibuat. Tujuan dari BKSDA Jambi adalah untuk rehabilitasi hutan bakau yang ada di Pulau Tengah, Pantai Timur. Luas blok wilayah yang hutan bakau yang akan direhabilitasi di Pulau Tengah sekitar 1649 hektar dan wilayah yang akan menjadi role model sebanyak 508 hektar. Wilayah pertama yang akan dijadikan role model nanti nya adalah sekitar 30 hektar. Role model sendiri adalah percontohan, jikalau program berhasil pada 30 hektar pertama maka akan dilanjutkan hingga mencakup seluruh wilayah yang akan direhabilitasi. Rehabilitasi ini memiliki dampak ekonomi dan dampak sosial terhadap masyarakat sekitar. Dampak ekonomi antara lain dapat bergabung menjadi tenaga kerja dan diharapkan dapat menambah populasi biota laut sekitar pulau, untuk dampak sosial antara lain dapat meningkatkan kemitraan dengan pemerintah dan NGO (Non Government Organization) dan dapat menyalurkan aspirasi secara langsung. Acara ditutup dengn sesi tanya jawab, beberapa peserta secara antusias bertanya hal hal terkait kegiatan pemulihan ekosistem tersebut. Wazri selaku Lurah Nipah Panjang I mengungkapkan, “Kami berterimakasih kepada BKSDA Jambi yang telah datang untuk melakukan sosialisasi, kami berharap kegiatan ini akan memberikan dampak positif baik untuk masyarakat maupun BKSDA Jambi sendiri”. Di tempat terpisah, Ka Balai KSDA Jambi, Rahmad Saleh mengatakan “Alhamdulillah sosialisasi kepada Kelompok Tani Usaha Baru di Nipah Panjang I telah selesai kami laksanakan, kedepan nya ada rangkaian acara lanjutan setelah sosialisasi ini, tujuan utama kami untuk memulihkan ekosistem yang sudah rusak”. Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Ada Petugas Karantina di Kandang Transit TN. Aketajawe Lolobata

Sofifi, 8 Agustus 2018. Memiliki kandang satwa memang harus sesuai dengan kebutuhan satwa tersebut, tak terkecuali kebersihan dan keamanan kandang. Hal ini yang saat ini sedang dilakukan oleh Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) mengingat telah memiliki kandang transit dan bangunan Suaka Paruh Bengkok. Balai TNAL meminta dengan resmi Balai Karantina Pertanian di Ternate untuk melakukan pemeriksaan kelayakan kandang dan kesehatan burung. Minggu lalu (03/08), dua petugas Balai Karantina datang dan memeriksa kesehatan burung. Salah satu petugas tersebut adalah drh. Indra Wahyu. Mereka didampingi oleh Koordinator Suaka Paruh Bengkok, Gunawan Simanjuntak dan dibantu oleh penjaga kandang, Salman. drh. Indra Wahyu memeriksa seluruh burung-burung paruh bengkok di kandang transit, baik yang berasal dari luar pulau Maluku Utara maupun dari Maluku Utara. Hasil pengecekan tersebut menyatakan bahwa kondisi burung pada umumnya sehat dan dapat dilepasliarkan, kecuali jenis Nuri Bayan (Eclectus roratus) sebanyak 8 ekor masih belum bisa dilepasliarkan. Sedangkan burung-burung yang berasal dari luar Maluku Utara juga sudah dapat dikembalikan ke daerah asalnya, karena dinyatakan sehat. Jadi, Kakatua Putih (8 ekor), Kasturi Ternate (21 ekor) dan Nuri Kalung Ungu (5 ekor) dinyatakan sehat dan layak dilepasliarkan. Menurut drh. Indra Wahyu bahwa kondisi kandang masih harus dilakukan beberapa perbaikan. Beberapa perbaikan diantaranya pada gudang pakan, buangan kotoran burung, kandang individu dan sarana desinfeksi bagi pengunjung. “Ini sebagai langkah awal kita (TNAL) untuk bekerjasama dengan Balai Karantina Pertanian agar terdapat kegiatan pemeriksaan rutin pada burung-burung di TNAL”, kata Gunawan. “Mereka juga akan kita ajak pertemuan bersama nantinya”, tutupnya. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra, Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Mengenal Si Abu-Abu Maskotnya Jawa Barat

Kuningan, 8 Agustus 2018. Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) memiliki kekayaan keanekaragaman fauna salah satunya dari jenis primata. Primata di TNGC yang memiliki ciri fisik khas adalah Surili (Presbytis comata). Pendugaan populasi hasil monitoring Balai TNGC pada 2012 hingga 2017 terdapat 29 kelompok dari 177 individu. Lokasi penemuan Surili di TNGC memiliki ketinggian yang bervariasi mulai 730 meter diatas permukaan air laut (mdpl) hingga 2.015 mdpl. Surili di kawasan TNGC pada umumnya menempati tiga tipe ekosistem sebagai habitatnya, yakni hutan dataran rendah, hutan sub pegunungan, dan hutan pegunungan. Namun monitoring terakhir tahun 2017 menjumpai Surili berada pada ekosistem sub alpin diketinggian >2.400 mdpl. Satwa ini dilindungi Peraturan Pemerintah nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa dan menurut Red List IUCN berstatus Endangered (Terancam). Surili dengan melihat status konservasi dan perannya di ekosistem, merupakan salah satu satwa keystone species (spesies kunci). Surili merupakan nama dalam bahasa Indonesia dan Sunda untuk menyebutkan monyet pemakan daun yang penyebarannya hanya terbatas di Pulau Jawa bagian barat. Keterbatasan dari keberadaan populasi Surili yang terancam punah di alam inilah yang menjadikannya sebagai maskot pada penghelatan PON XIX Tahun 2016 Jawa Barat. Surili jawa termasuk ke dalam keluarga Cercopithecidae genus Presbytis. Surili jawa memiliki ukuran tubuh sedang sampai besar. Ciri-ciri khas monyet ini yang membedakan dengan primata lainnya adalah warna bulu abu-abu diseluruh bagian tubuh, namun berwarna putih di bagian dada. Rambut yang menutupi tubuh cukup panjang dan tebal, rambut di kepala memiliki jambul berujung runcing, alis meremang kaku mengarah ke depan. Sehari-harinya aktifitas Surili jawa di antaranya adalah bermain dan mencari pakan di dalam dan di luar kawasan TNGC. Jenis tumbuhan yang sering menjadi pakan antara lain Kaliandra, Pakis, Kondang, Alpukat, Kopi, Beunying, Bungbuay, Nangka, Melinjo, Nangsi dan sebagainya. Surili jawa merupakan hewan yang hidup berkelompok dan umumnya dalam satu kelompok di pimpin oleh satu jantan dewasa dengan anggota betina beserta anak-anaknya. P [teks © Andri Wahyu & Silvia Lucy – BTNGC, Foto © Andri Wahyu | 082018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai

Menampilkan 7.281–7.296 dari 11.140 publikasi