Rabu, 22 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Yuk Jelajah Hutan TWA Gunung Permisan

Bangka, 13 Agustus 2018. Bagi pecinta wisata petualangan, menjelajahi hutan sambil mengamati ekosistem yang ada di dalamnya tentu menjadi aktivitas yang menyenangkan. Indonesia sebagai salah satu negara dengan kawasan hutan yang sangat luas dan menjadi habitat dari berbagai flora dan fauna langka, kerap menjadi salah satu tujuan wisata petualangan tak terkecuali hutan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Permisan di Kecamatan Simpang Rimba, Kabupaten Bangka Selatan. Luas TWA Gunung Permisan berdasarkan SK Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : SK. 580/ Menlhk/ Setjen/PLA.2/7/2016 tanggal 27 Juli 2016 tentang Penetapan fungsi dalam fungsi pokok kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam sebagai Hutan Taman Wisata Alam Gunung Permisan, di Kabupaten Bangka Selatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung seluas ± 3.149.69 hektar. Desa yang berbatasan langsung dengan TWA Gunung Permisan yaitu Desa Sebagin, Desa Rajik, Desa Permis, Desa Gudang, dan Desa Simpang Rimba. Aksesibilitas untuk mencapai lokasi TWA Gunung Permisan dari Kota Pangkal Pinang menuju ke Kabupaten Bangka Selatan sejauh 1 jam sampai Desa Gudang. Jarak Desa Gudang ke batas kawasan sejauh 500 m Kawasan TWA Gunung Permisan memiliki 5 (lima) bukit yaitu Bukit Nenek, Bukit Nangka, Bukit Meninjen Tua, Bukit Meninjen Muda, dan Bukit Jering. Selain itu terdapat gua sebagai tempat wisata religi oleh beberapa masyarakat sekitar. Potensi jasa lingkungan berupa jasa lingkungan air yaitu terdapat beberapa anak sungai di dalamnya. Potensi wisata yang dapat dikembangkan kawasan ini yaitu wisata gua di puncak Bukit Nenek yang sering dikunjungi masyarakat sekitar. Tracking untuk mencapai Puncak Bukit Nenek cukup terjal dengan berjalan kaki ± 1 Jam. Disekeliling track pendakian ditumbuhi berbagai jenis pohon seperti nyatoh (Palaquium spp.), jelutung (Dyera sp.), medang (Cinnamomum spp.), melanding, embacang (Mangifera foetida), dan pelawan (Tristaniopsis merguensis) yang membuat udara sangat segar. Pengunjung yang melakukan tracking pada pagi hari akan menemui kabut dingin nan sejuk di dalam kawasan TWA Gunung Permisan. Selain itu, masih banyak dijumpai fauna seperti ekor panjang (Macaca fascicularis), lutung (Trachypithecus sp.), tarsius (Tarsius bancanus), beruk (Macaca nemestrina) dan berbagai jenis burung yang akan menemani perjalanan pengunjung menuju puncak Bukit Nenek. Sesampainya di puncak Bukit Nenek, pengunjung akan disuguhi pemandangan alam yang sangat indah. Hamparan Hutan di depan puncak Bukit Nenek sangat hijau dan udara yang sangat segar. Menjelajahi Hutan TWA Gunung Permisan khususnya di puncak Bukit Nenek memang menjadi aktivitas yang menyenangkan. Tidak heran jika para peneliti dan pecinta wisata petualangan, baik dari dalam maupun luar negeri, berbondong-bondong ingin menjamah dan mengagumi hutan Indonesia. Sudah selayaknya masyarakat Indonesia menjadikan hutan sebagai bagian penting dalam kehidupan, dengan selalu menjaga dan melestarikannya. Sumber : Taufan Kharis - Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Rangga, Si Penabur Biji Hutan yang Kian Hilang di TN Batang Gadis

Panyabungan, 13 Agustus 2018. Rangga atau Rangkong gading (Rhinoplax vigil) merupakan salah satu jenis burung berukuran besar dari keluarga Bucerotidae yang ada di Taman Nasional Batang Gadis selain Rangkong Badak (Buceros rhinoceros) dan Rangkong Julang Emas (Aceros undulatus). Rangga dapat teridentifikasi dengan ciri-ciri yang spesifik. Untuk Rangga jantan, memiliki leher tidak berbulu dan berwarna merah, warna biru pucat pada betina. Rangga sangat muda dikenali karena memiliki ukuran tubuh yang besar (panjang dapat mencapai 120 cm), ekor putih dengan garis hitam melintang dan garis putih lebar pada sayap. Tanduk kuning-merah, tinggi berbentuk kotak, paruh kuning dan merah dengan kaki berwarna coklat. Untuk suara Rangga itu sendiri sangat khas, umumnya Rangga mengeluarkan suara atau bunyi dengan intonasi "juguk...juguk...juguk" dilanjutkan dengan suara seperti tertawa yang cukup panjang dengan bunyi "kwak...kwak...kwak". Menurut pengakuan beberapa masyarakat yang sering masuk hutan Taman Nasional Batang Gadis, mereka sering mendengar suara Rangga pada pohon-pohon besar dipuncak bukit dan pohon Beringin (Ficus sp). Keberadaan suara burung Rangga di Taman Nasional Batang Gadis sudah jarang terdengar, namun dari informasi yang didapat dari masyarakat sekitar kawasan Taman Nasional Batang Gadis bahwa ada sekelompok orang berburu burung Rangga. Kelompok pemburu burung Rangga berdalih hendak mencari damar atau gaharu didalam hutan. Namun pada kenyataannya, peralatan yang digunakan tidak sesuai dengan apa yang mereka (pemburu) cari. Peralatan yang dibawa para pemburu burung Rangga berupa tali yang panjang dan senapan. Kelompok pemburu burung Rangga berburu dari Sumatera Barat hingga pedalaman hutan di provinsi Aceh untuk mendapatkan tanduknya (gading). Perburuan burung Rangga dipicu daya beli yang tinggi. Maraknya perburuan burung Rangga menyebabkan menurunnya populasi disamping lambatnya perkembangbiakan burung Rangga. Salah satu indikator menurunnya populasi burung Rangga saat ini adalah sudah jarang terdengar lagi suara burung Rangga yang khas. Saat ini, belum diketahui berapa jumlah burung Rangga di kawasan Taman Nasional Batang Gadis. Hal ini disebabkan karakter burung Rangga yang hinggap dipepohonan tinggi dan terbang jauh sehingga sulit untuk mendeteksi, identifikasi dan inventarisasi populasi. Selain perburuan, perambahan hutan atau illegal logging merupakan salah satu ancaman bagi Rangga. Perambahan hutan kawasan Taman Nasional menyebabkan hilang atau sulitnya Rangga untuk tinggal dan berkembangbiak. Hilangnya tempat tinggal atau sarang Rangga berarti membunuh Rangga betina dan anak Rangga. Terbunuhnya satu ekor Rangga jantan ditangan pemburu sama halnya membunuh satu keluarga Rangga, karena tidak ada lagi yang mengantarkan makanan kepada Rangga betina dan anak Rangga. Betapa penting peran Rangga terhadap kawasan hutan, memberikan kontribusi dengan menaburkan biji ke segala penjuru hingga tumbuh. Sudah seyogyanya kita menjaga dan melestarikan Rangga, karena tanpa disadari keberadaan Rangga sangat dibutuhkan. Rangga butuh hutan, hutan butuh Rangga. kita butuh hutan, hutan butuh kita. lestarikan Rangga dan hutan seperti halnya kita melestarikandan diri kita. Selengkapnya dapat download di link sbb : Rangga, Si Penabur Biji Hutan yang Kian Hilang di TNBG Sumber : Mulliyadi - PEH Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Berita

Visit to Tepera Resort, Spirit Kelola Tapak

Jayapura, 11 Agustus 2018. Kepala Balai Besar KSDA Papua, Ir. Timbul Batubara, M.Si bersama staf melakukan kegiatan lapangan ke Resort Tepera demi menggali dan memaksimalkan semua potensi yang terdapat disana. Secara Adminisratif, Resort Tepera terletak pada Kampung Tablasupa Distrik Depapre Kabupaten Jayapura Provinsi Papua. Bila dilihat dari posisi C.A. Pegunungan Cycloop, Resort Tepera berada di ujung paling barat. Kampung Tablasupa lebih dikenal sebagai Kampung Amay. Daya tarik utama Kampung Tablasupa adalah keindahan alamdan keunikan budaya masyarakatnya. Tablasupa memiliki berbagai spot objek wisata alam, seperti Pemandangan Alam Pantai Amay, Pantai Harlem, Pantai Sarebo dan Tanjung Tanah Merah. Selain itu, site monitoring atau Titik Pengamatan Cenderawasih merupakan bagian penting dari kekayaan alam di Kampung Tablasupa. Di samping wisata alam, juga terdapat Wisata Sejarah, Wisata Religi, Wisata Bahari, Wisata Budaya, dan Wisata Kuliner di sana. Kepala Balai Besar KSDA Papua menemui tokoh-tokoh adat dan pemerintahan untuk menyinergikan pengelelolaan sumberdaya alam berbasis resort dan kearifan lokal. Kunjungan ini merupakan yang ketiga setelah Resort Youtefa dan Ravanirara, dari enam resort yang terdapat di sekitar C.A. Pegunungan Cycloop. Di antara tokoh yang hadir dalam pertemuan tersebut adalah Kepala Kampung Tablasupa dan Ketua Kelompok Pencinta Alam A'Memay beserta masyarakat adat termasuk pemilik hak ulayat. Hadir pula Kepala Resort Tepera sebagai pengelola wilayah. Dalam pertemuan tersebut menyepakati beberapa hal, antara lain mengenai pengembangan Ekowisata di Kampung Tablasupa yang harus melibatkan Toga, Tomas, dan Todat. Dengandemikian, semua tokoh masyarakat dapat terlibat dalam berbagai pengambilan keputusan. Kemudian, hal lainnya berkaitan dengan pengelolaan wisata di Kampung Tablasupa dilakukan satu pintu, khususnya yang berkaitan dengan pengelolaan karcis masuk wisata. Mengenai fasilitas pendukung wisata, masyarakat memiliki keterlibatan dalam penataan home stay di setiap rumah warga, baik di Rumah Berlabuh maupun di Pantai Amay. Ide dasar yang dicetuskan Kepala Balai Besar KSDA Papua adalah pengelolaan kawasan C.A. Pegunungan Cycloop berbasis kearifan lokal. Dalam rangka mewujudkan ide tersebut, beliau memberikan alat ukir kepada Bapak Anton Demetou, salah satu seniman ukir di Kampung Tablasupa. ”Banyak yang bisa kita lakukan untuk melestarikan kawasansekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat. Misalnya, dalam konteks Ekowisata di Kampung Tablasupa, masyarakat bisa berkreasi dengan ukiran-ukiran khas yang bernilai budaya tinggi, melakukan penangkaran Tumbuhan dan Satwa Liar. Cycloop ini kaya dengan jenis-jenis anggrek, burung, dan sebagainya yang memiliki nilai ekonomi tinggi”. Demikian pernyataan Kepala Balai Besar KSDA Papua. Hal lain yang tak kalah penting dalam pengembangan Ekowisata di Kampung Tablasupa adalah sosialisasi danpromosi, baik dalam bentuk media cetak maupun online. Bila semua komponen telah berjalan seiring, diharapkan akan tercipta harmonisasi alam dan manusia, yang pada ujungnya adalah kelestarian kawasan Cagar Alam dapat terwujud. [] Sumber : Balai Besar KSDA Papua
Baca Berita

Formatani Wilayah Kerja 3 Melaksanakan Kerja Bakti Bersihkan Tangga Bromo

Malang, 12 Agustus 2018. Sebanyak 110 Mahasiswa Forum Mahasiswa Agrotani (Formatani) Wilayah Kerja 3 yang terdiri dari perwakilan Mahasiswa Pertanian Universitas Merdeka Pasuruan, Perwakilan Faperta Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, perwakilan Faperta Universitas Tanjungpura Samarinda, perwakilan Faperta Halu O Leo Kendari, perwakilan Faperta Universitas Mataram NTB, Perwakilan Faperta dari Jember, Jombang, dan wilayah Sumatera melakukan aksi bersih tangga menuju kawah Bromo di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Maslukhi mewakili forum menyampaikan aksi sosial ini merupakan salah satu program kerja Formatani Wilayah Kerja 3. Tangga Bromo di pilih agar mahasiswa dari fakultas pertanian yang mengikuti pertemuan dapat menghormati dan memahami budaya dan kearifan lokal "Wong Tengger" yang masih menjunjung tinggi budaya luhur dan mampu merawat kelestarian Bromo sampai dengan sekarang. Dengan aksi bersih anak tangga menuju Bromo ini diharapkan pengunjung mampu termotivasi dan terhindar dari kecelakaan terpeleset akibat banyaknya debu yang menutupi anak tangga Bromo tersebut. Murdiono selaku Kepala Bidang PTN Wilayah I Pasuruan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada Formatani Wilayah Kerja 3 yang sudah melakukan aksi bersih anak tangga bromo dan diharapkan mampu meningkatkan kepedulian dan kecintaan Formatani pada kawasan taman nasional dan budaya adiluhung yang ada di Indonesia. Aksi bersih anak tangga Bromo ini juga diharapkan menjadi motivasi sekaligus Formatani dan mahasiswa lainnya untuk cinta akan kelestarian kawasan konservasi taman nasional dan budaya adiluhung yang dimiliki bangsa Indonesia di daerah-daerah lainnya. Sumber : Balai Besar TN Bromo Tengger Semeru
Baca Berita

Ayo Menanam, untuk Konservasi Alam, untuk Masa Depan

Biha, 12 Agustus 2018. “Kabupaten Pesisir Barat terkenal dengan Repong Damarnya dan sudah mendunia, tidak mungkin ada Repong Damar di Krui kalau nenek moyang kita tidak menanamnya”, kata Wakil Bupati Pesisir Barat Erlina, S.P.,M.H, sesaat sebelum melakukan penanaman simbolis bibit pohon yang telah disediakan oleh panitia penyelenggara di sempadan Sungai Way Biha. Kegiatan penanaman ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Peringatan Global Tiger Day dan Hari Konservasi Alam Nasional tanggal 11 – 12 Agustus 2018 di Biha Kabupaten Pesisir Barat, yang diselenggarakan oleh Balai Besar TNBBS, bekerja sama dengan mitra – mitra kerja, antara lain Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat; GEF; UNDP; Sumatran Tiger Project; YABI; WCS; WWF; Artha Graha Peduli; TWNC; TFCA Sumatra; Pundi Sumatra; PILI; Repong Indonesia; dan Saka Wana Bakti TNBBS. Seperti yang kita ketahui bersama, Repong Damar adalah sebutan untuk hutan damar yang dikelola oleh masyarakat Pesisir Barat secara tradisional dan turun temurun. Dengan keberadaan Repong Damar maka dapat menjaga konservasi tanah dan air, serta konservasi alam. Di tahun 2018 ini, Balai Besar TNBBS memiliki 1 program Role Model, yaitu Pengembangan dan Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (Damar Mata Kucing) di Zona Pemanfaatan Tradisional Taman Nasional Bukit Barisan Selatan oleh masyarakat Kabupaten Pesisir Barat. Balai Besar TNBBS bersama mitra – mitra kerja penyelenggara kegiatan ini, ikut ambil bagian dalam kegiatan penanaman di lokasi yang sama. Penanaman secara simbolis oleh Balai Besar TNBBS dilakukan oleh Plh Kepala Balai Besar TNBBS Heru Rudiharto, S.Si.,M.P bersama dengan Kepala BPTN II Liwa Amri, S.H.,M.Hum. “Mari kita galakkan kegiatan menanam, untuk konservasi alam. Sesuai dengan tema Hari Konservasi Alam Nasional, yaitu Harmonisasi Alam Dengan Budaya. Kita harus bisa mengharmonisasikan pemanfaatan sumber daya alam secara lestari dengan budaya, mengangkat budaya nasional menjadi ikon bangsa, aplikasi nyatanya adalah Repong Damar pada masyarakat Pesisir Barat”, ujar Heru. hari konservasi alam nasional 2018 semangat hu ha… Sumber : Balai Besar TN Bukit Barisan Selatan
Baca Berita

Selamatko Lemaong Sumatera Nyin Dang Bela, Kebanggaan Kita

Biha, 12 Agustus 2018. Wakil Bupati Pesisir Barat Erlina, S.P.,M.H. menghadiri acara puncak peringatan Global Tiger Day dan Hari Konservasi Alam Nasional 2018 tanggal 12 Agustus 2018 di Bendungan Way Biha Kabupaten Pesisir Barat. Dalam orasinya, Erlina menyampaikan dukungannya dalam program konservasi Harimau Sumatera. “Mari kita jaga Harimau Sumatera, kebanggaan kita. Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat sangat mendukung Program Konservasi Harimau Sumatera dan kelestarian alam. Di Pesisir Barat, jarang terjadi konflik Harimau Sumatera dengan manusia, karena masyarakat peduli, menjaga dan tidak mengganggu keberadaan Harimau Sumatera. Selain itu, Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat mendukung pengembangan Ekowisata Way Biha, untuk peningkatan ekonomi masyarakat”, papar Erlina. Peringatan Global Tiger Day dan Hari Konservasi Alam Nasional tanggal 11 – 12 Agustus 2018 di Biha diselenggarakan oleh Balai Besar TNBBS, bekerja sama dengan mitra – mitra kerja, antara lain Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat; GEF; UNDP; Sumatran Tiger Project; YABI; WCS; WWF; Artha Graha Peduli; TWNC; TFCA Sumatra; Pundi Sumatra; PILI; Repong Indonesia; dan Saka Wana Bakti TNBBS. Kegiatan yang dihelat selama 2 hari ini diisi oleh berbagai kegiatan, yaitu : Lomba Lukis untuk siswa SMP dan SMA; Kemah Konservasi / Tiger Day Camp, penanaman, pentas seni; Fun Bike; Lomba mewarnai untuk siswa Sekolah Dasar; Lomba Penyajian Kuliner Daerah untuk Tim Penggerak PKK Pekon Paku Negara; Bazar Ekonomi Kreatif; Stand Kampanye Penyadartahuan. “Kami mendukung program konservasi TNBBS, dan mengharapkan partisipasi semua pihak, untuk mencegah terjadinya perburuan liar dan perambahan hutan, masyarakat Pesisir Barat turut berbangga sebagai bagian dari masyarakat yang hidup di sekitar kawasan hutan”, tambah Erlina. Setelah melakukan orasi, Wakil Bupati Pesisir Barat membubuhkan tanda tangan pada spanduk deklarasi mendukung program konservasi Harimau Sumatera yang telah disiapkan oleh panitia penyelenggara. Plh. Kepala Balai Besar TNBBS Heru Rudiharto, S.Si.,M.P mengaku gembira mendengar pernyataan yang disampaikan oleh Ibu Wakil Bupati melalui orasinya. “Program konservasi Harimau Sumatera merupakan amanah berat yang di emban Balai Besar TNBBS, namun, dengan dukungan semua pihak dan kepedulian masyarakat, mudah – mudahan kita dapat melaksanakannya, sebagaimana yang telah disampaikan Ibu Wakil Bupati, Harimau Sumatera kebanggaan kita bersama”, ungkap Heru. Selamatko Lemaong Sumatera Nyin Dang Bela... Selamatkan Harimau Sumatera, Harimau Kita, Harimau Indonesia… Sumber : Balai Besar TN Bukit Barisan Selatan
Baca Berita

Kelola Ekologi, Ekonomi dan Sosial SMA BPK Penabur Cirebon

Kuningan, 12 Agustus 2018. Hari Jum'at lalu (10/8) telah dilaksanakan penanaman pohon oleh siswa/i kelas sepuluh SMA BPK Penabur sebanyak seratus orang. Siswa/i yang didampingi pembimbing dua orang guru melakukan penanaman di Bumi Perkemahan Palutungan dengan jumlah bibit sebanyak 200 batang dengan jenis peutag, huru, kedoya dan salam. "Anak-anak belajar mengenal dan bertanggung jawab terhadap alam dan lingkungan" jawab Philip, guru SMA BPK Penabur ketika ditanya tujuan melakukan kegiatan penanaman pohon. Ini adalah salah satu bentuk kolaborasi tiga kelola di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) yaitu kelola ekologi, ekonomi dan sosial. Kelola ekologi bagaimana ekosistem di kawasan TNGC terjaga atau terpelihara, kelola ekonomi bagaimana pelibatan masyarakat penyangga sebagai penyedia bibit yang dibeli oleh siswa/i, dan kelola sosial bagaimana terjalin hubungan antara pelajar dengan masyarakat penyangga. Kegiatan penanaman pohon ini didampingi Fungsional Penyuluh Kehutanan dan Polisi Kehutanan TNGC. Banyak orang berfikir bahwa ketika status kawasan hutan berubah menjadi taman nasional, menjadi steril tidak boleh dilakukan kegiatan apapun kecuali pendidikan dan penelitian. Paradigma inilah yang terkadang membuat kawasan konservasi selalu berhadapan dengan masalah sosial, terutama masyarakat penyangga atau setempat. Aturan yang terkesan saklek tidak mengakomodir kebutuhan masyarakat penyangga yang secara ekonomi masih relatif rendah atau ketergantungan terhadap kawasan. Inilah mengapa setiap kawasan taman nasional ada unit pelaksana teknis yang mengelola, agar menyampaikan pesan bahwa manfaat keberadaan kawasan taman nasional tidak hanya ekologi namun juga ekonomis dan sosial. Pihak yang berperan didalamnya tidak hanya akademisi namun juga masyarakat dari berbagai lapisan. Kalau masih ada yang bilang bahwa manusia terpinggirkan dengan adanya kawasan taman nasional berarti baru mendengar informasi sepotong. Justru keberadaan kawasan taman nasional menghadirkan manfaat yang besar untuk kehidupan manusia terutama penyediaan air dan oksigen. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai [teks © Nisa & Agus Setia, foto © BTNGC | 082018]
Baca Berita

Mengisi Hari Konservasi Alam Nasional 2018, BBTN. Gunung Leuser Lepasliarkan Tukik di Stasiun Pelestarian Penyu Rantau Sialang

Aceh Selatan, 12 Agustus 2018. Mendukung Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2018 dengan tema “Harmonisasi Alam dan Budaya”, Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) lakukan pelepasliaran 150 ekor tukik (anak penyu) dari jenis penyu abu-abu (Lepidochelys olivacea) di Stasiun Pelestarian Penyu Rantau Sialang (12/8), Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Kluet Utara, Bidang Pengelolaan Taman Nasional (BPTN) Wilayah I Tapaktuan. Kegiatan pelepasliaran dilakukan pada sore hari di Pantai Rantau Sialang, Desa Pasie Lembang, Kecamatan Kluet Selatan, Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh. Sebelum pelepasliaran tukik dilakukan, berbagai macam kegiatan diselengarakan mulai dari pertunjukan Seni Tari Ranup Lampuan dan Rapa’i Geleng dari pelajar Sekolah Dasar (SD) di sekitar kawasan TNGL sebagai bentuk pertunjukkan Budaya Aceh hingga berbagai macam perlombaan seperti lomba makan kerupuk, memasukkan paku kedalam botol, dan panjat pinang. Hal ini dilakukan sekaligus dalam rangka menyambut dan memeriahkan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-73. Acara dibuka langsung Kepala Balai Besar TNGL yang diwakili Kepala Bidang Teknis Konservasi, Adhi Nurul Hadi, S.Hut M.Sc. dan dihadiri beberapa instansi di Kabupaten Aceh Selatan seperti POLRES Aceh Selatan, KODIM 0107 Aceh Selatan, Balai KSDA Aceh, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pariwisata, Dinas Perikanan dan Kelautan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kecamatan Kluet Selatan, dan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah VI Subulussalam, serta BRI Cabang Tapaktuan. Selain itu, turut hadir juga Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Mitra TNGL seperti Wildlife Conservation Society (WCS), Forum Konservasi Leuser (FKL), Orangutan Information Center (OIC), Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA), Yayasan Scorpion Indonesia (YSI), Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), dan USAID Lestari. Selain itu acara juga dihadiri ratusan masyarakat yang berasal dari penjuru Aceh Selatan dan Kota Subulussalam. Tak hanya pertunjukan seni budaya dan perlombaan, ada juga door prize dan souvenir menarik bagi masyarakat yang ikut serta dalam kegiatan. Souvenir yang diberikan merupakan kerajinan masyarakat sekitar kawasan TNGL seperti kerajinan benang kasab khas Aceh Selatan, gantungan kunci dan bros bertemakan penyu yang terbuat dari batok kelapa. Adanya hasil kerajinan masyarakat lokal tersebut dapat meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat setempat dan sekaligus menjadi ajang promosi kerajinan masyarakat lokal, inilah perwujudan Harmonisasi Alam dan Budaya di Aceh Selatan. Kegiatan ini hasil inisiasi Balai Besar TNGL BPTN Wilayah I Tapaktuan dan Biodiversity Conservation and Climate Protection in the Gunung Leuser Ecosystem Project (BCCPGLE-KFW). Pelepasliaran tukik ini menjadi momentum yang baik untuk memberi edukasi dan peran aktif masyarakat dalam melestarikan penyu sebagai satwa yang dilindungi yang kini terancam kelestariannya. Peran tersebut bisa dilakukan dengan tidak membuang sampah ke pantai atau laut, tidak memburu telur penyu, dan tidak memperjualbelikan bagian-bagian tubuh penyu. Karena kita fahami dan sadari atau tidak, satwa ini memiliki peran yang sangat penting di alam. Sehingga gangguan terhadap populasinya, akan juga berdampak pada keseimbangan ekosistem. Secara langsung ataupun tidak, pasti berdampak juga kepada kita manusia, pungkas Kepala BPTN Wilayah I Tapaktuan TNGL, Buana Darmansyah, S.Hut.T. Hari Konservasi Alam Nasional merupakan salah satu upaya kampanye kepada masyarakat akan pentingnya konservasi alam bagi kesejahteraan masyadapat bena-benar terwujud di rakat. Hari Konservasi Alam Nasional sendiri diperingati setiap tanggal 10 Agustus. Peringatan HKAN pertama kali diselenggarakan pada tahun 2009 berdasarkan Keppres No.22 Tahun 2009 tanggal 10 Agustus 2009. Peringatan HKAN merupakan bagian tak terpisahkan dari pembangunan nasional yang berkelanjutan yang harus terus dilaksanakan dan dipertahankan dalam upaya perlindungan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya sebagai sistem penyangga kehidupan. Peringatan HKAN bertujuan untuk memasyarakatkan konservasi alam secara nasional sebagai sikap hidup dan budaya bangsa. Sumber : Arif Saifudin, S.Si - PEH Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser Foto : Ulul Azmi
Baca Berita

Kepala Balai TN Taka Bonerate Pimpin Bersih Pantai Tinabo

Pulau Tinabo, TN. Taka Bonerate - Kepulauan Selayar, 11 Agustus 2018. Pulau-pulau di dalam kawasan Taman Nasional Taka Bonerate (TNTBR) tak luput dari sampah kiriman berupa plastik bahkan botol kaca bekas minuman dan obat yang tentunya susah terurai. Puncak kiriman sampah dimulai pada bulan Desember hingga bulan Juli tiap tahunnya. Dan pada bulan-bulan akhir kiriman sampah tersebut, pihak Balai TN. Taka Bonerate rutin melaksanakan bersih pantai yang melibatkan kelompok masyarakat, pelajar, pemerintah setempat dan komunitas. Kepala Balai Taman Nasional Taka Bonerate, Faat Rudhianto melakukan kegiatan bersih pantai Tinabo sekaligus pembinaan pegawai Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Tarupa (11/8). Kepala Balai mengajak seluruh personil SPTN I Tarupa yang berada di lapangan serta mahasiswa PKL/KKN (Universitas Brawijaya, Universitas Padjajaran, Universitas Muslim Indonesia) untuk ikut berpartisipasi. "Selain ilegal dan destruktif fishing, permasalahan di TNTBR adalah sampah kiriman” ujar Faat Rudhianto. Karena letak pulau banyak yang melintang dari Utara ke Selatan maka pulau-pulau di TN. Taka Bonerate menjadi sasaran empuk musim angin barat (munson) yang membawa sampah kiriman. Begitupun musim angin timur, sampah-sampah kiriman kerap memenuhi bibir pantai. Kepala SPTN I Tarupa, Muh. Hasan menambahkan, "Salah satu upaya yang rutin di lakukan adalah kegiatan bersih-bersih pantai, khususnya di pulau Tinabo yang menjadi ikon wisata di TNTBR". Untuk meminimalisir sampah bawaan pengunjung/wisatawan, Balai TNTBR akan mulai menerapkan SOP Pelayanan wisata di mana salah satunya adalah "Garbage in, Garbage Out". Dimana barang bawaan wisatawan yang akan menjadi sampah (khususnya plastik), harus dibawa keluar dari dalam kawasan. Sampah Plastik, Sampah Laut sudah menjadi isu dunia karena kian hari kian bertambah banyak dan mengancam kehidupan biota laut. Selain itu, adapula isu yang mengancam kesehatan manusia dimana mikro plastik akan masuk ke dalam tubuh ikan yang nantinya bisa jadi santapan manusia. Sumber : Asep Pranajaya - Penyuluh Balai TN. Taka Bonerate Editor : Asri - PEH Balai TN. Taka Bonerate
Baca Berita

BBKSDA Jatim Sosialisasi TSL di Mall

Surabaya, 12 Agustus 2018. Peraturan pemanfaatan dan peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) menjadi bahan obrolan pintar dalam talkshow kontes arwana bersama Arwana Club Surabaya di Mall Pakuon Trade Center Surabaya (12/8). Nandang Prihadi Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama Yarman Kepala Bidang KSDA Wilayah 2 menjadi pembicara dalam talkshow tersebut. Talkshow atau ngobrol pintar ini selalu dimanfaatkan BBKSDA Jatim sebagai ajang untuk meningkatkan sosialisasi TSL, terlebih setelah terbitnya PermenLHK Nomor 20. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Peningkatan SDM Jabfung BKSDA Bengkulu

Bengkulu, 11 Agustus 2018. Sesuai amanah peraturan menteri pendayagunaan aparatur negara dan reformasi birokrasi Nomor 17 Tahun 2011, Nomor 50 Tahun 2012 dan No. 27 Tahun 20113 tentang Jabatan Fungsional Polisi Kehutanan, Pengendali Ekosistem Hutan dan Penyuluh Kehutanan, bahwa pejabat fungsional yang akan naik jenjang jabatan setingkat lebih tinggi harus lulus uji kompetensi. Bertempat di Kantor Balai KSDA Bengkulu pada 9 Agustus 2018 Pelaksana tugas Kepala Balai KSDA Bengkulu Bpk. Jaja Mulyana, S.Sos membuka secara resmi kegiatan Uji Kompetensi bagi pejabat fungsional yang diadakan oleh Pusat Perencanaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia BP2SDM Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Uji kompetensi ini dilaksanakan sejak tanggal 9 s.d. 11 Agustus 2018. Peserta uji kompetensi pada kesempatan ini berjumlah 32 peserta yang berasal dari beberapa Unit Pelaksana Teknis antara lain: BKSDA Bengkulu 14 peserta, BBTN Kerinci Seblat 11 peserta, BPPILHK 4 peserta, BPDASHL Baturusa Cerucuk 1 peserta, dan BPKH XIII Pangkal Pinang 2 peserta, dengan didampingi 5 assessor yang ditugaskan untuk menguji. Pelaksanaan uji kompetensi ini terdiri dari beberapa sesi diantaranya tes tertulis (kompetensi Manajerial dan teknis), Pengecekan dokumen portofolio, tes wawancara, kesamaptaan bagi Polisi Kehutanan, simulasi / demo dan pemberkasan dokumen uji. Uji kompetensi ini merupakan bentuk perhatian pemerintah akan pentingnya kompetensi SDM yang semakin tinggi, serta issu tentang kualitas SDM dalam mendukung pembangunan juga semakin gencar. Sehingga harapannya dalam pembangunan kehutanan bukan hanya ditentukan oleh potensi sumber daya hutan, tetapi juga ditentukan oleh peran serta dan kualitas SDM-nya. Sumber : Balai KSDA Bengkulu
Baca Berita

Kemeriahan Hari Konservasi 2018 BBKSDA Sumut

Sibolangit, 10 Agustus 2018. Balai Besar KSDA Sumatera Utara menyelenggarakan peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) Tahun 2018 dengan mengangkat tema “Harmonisasi Alam dan Budaya”. Berbagai kegiatan (Road to HKAN) yang sudah dimulai dari bulan Juli 2018, seperti : pelepasliaran (release) satwa liar pada tanggal 12 Juli 2018 di kawasan TWA Sicike-cike Kabupaten Dairi, Kegiatan visit ti school team Bidang Konservasi Wilayah II Pematangsiantar masing-masing ke SMP Negri 3 Muara Kabupaten Tapanuli Utara pada tanggal 21 Juli 2018 dan SD Negri No. 095186 Tanjung Dolok Kecamatan Girsang Sipangan Bolon Kabupaten Simalungun pada tanggal 31 Juli 2018. Kemudian penyerahan dua individu Orangutan Sumatera (Pongo abelii) dari masyarakat Kabupaten Dairi yang dititipkan melalui Taman Hewan Pematangsiantar ke Pusat Karantina Orangutan Sumatera (PKOS) Batu Mbelin Sibolangit pada tanggal 2 Agustus, aksi bersih kawasan TWA Sibolangit bernama Kelompok Sadar Wisata Sibolangit Berseri pada tanggal 29 Juli 2018, 5 Agustus 2018 dan 8 Agustus 2018, serta Lomba Lagu Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) dan Pentas Seni Budaya (Lagu/Tarian) pada tanggal 9 Agustus 2018. Puncak HKAN Tahun 2018 dilaksanakan di Taman Wisata Alam Sibolangit pada tanggal 10 Agustus 2018 dengan berbagai kegiatan, seperti : Pentas Seni Budaya, Launching Program pendidikan dan penyuluhan KSDA Tahun ke 2, penyerahan burung dilindungi berupa satu individu Kakak Tua Jambul Kuning (Cacatua galerita) dan satu individu Elang Bondol (Haliastur indus) dari warga pematangsiantar ke pusat penyelamatan satwa (PPS) Sibolangit, penyerahan obsetan Beo Nias dari masyarakat melalui lembaga Indonesia Species Concervation Program (ISCP) dan pelepasan burung serta penyerahan hadiah kepada pemenang lomba lagu HKAN dan pentas seni budaya. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara Dr. Ir. Homauli Sianturi,M.Sc,For, dalam sambutannya menyatakan bahwa kegiatan peringatan HKAN Tahun 2018 kali ini Balai Besar KSDA Sumut didukung oleh lembaga mitra, Kelompok Sadar Wisata Alam Sibolangit Berseri, dan masyarakat, termasuk dari kalangan generasi muda, dengan harapan semangat “Harmonisasi Alam dan Budaya” dapat di implementasikan dalam upaya konservasi di tengah-tengah masyarakat. Lebih lanjut Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara menjelaskan, disamping itu momen HKAN Tahun 2018 juga dijadikan sebagai ajang promosi kawasan TWA Sibolangit sebagai salah satu role model pengembangan untuk wisata edukasi konservasi dan lingkungan (ekoling) melalui kegiatan pembangunan sarana prasarana wisata, MoU dengan sekolah-sekolah, aksi pungut sampah, kerjasama paket wisata, pelatihan photografer dan interpreter, serta peringatan hari-hari lingkungan hidup dan kehutanan. Dengan promosi ini diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan dan penerima PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak). “Harapan kami, melalui kegiatan HKAN Tahun 2018 ini akan memberi edukasi, pencerahan dan motivasi serta inspirasi warga masyarakat, guna berperan aktif dalam upaya konservasi alam di Sumatera Utara, dan menjadikan kawasan TWA Sibolangit sebagai salah satu tujuan wisata unggulan di propinsi Sumatera Utara berbasis konservasi,” Ujar Hotmauli mengakhiri sambutannya. (Evan) Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Dibalik Keindahan Bunga Edelweis Yang Memukau

Kuningan, 11 Agustus 2018. Edelweis memiliki peran sebagai tumbuhan pioner (pelopor) bagi tanah vulkanik muda pegunungan. Jenis edelweis yang umum dapat dijumpai di Indonesia adalah edelweis jawa (Anaphalis javanica). Di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) terdapat empat jenis spesies edelweis yang dapat dijumpai yaitu Anaphalis javanica, Anaphalis longifolia, Anaphalis viscida dan Anaphalis maxima. Di tanah yang miskin hara dan terganggu akibat kebakaran, edelweis jawa memiliki peran yang sangat penting yaitu berperan sebagai tanaman penutup yang mampu menahan aliran permukaan serta hempasan air hujan sehingga dapat meminimalkan terjadinya erosi. Edelweis selain memiliki peran ekologis juga memiliki daya tarik yang tinggi. Karena bunganya sangat indah dan mampu mekar dalam waktu yang lama sehingga dijuluki sebagai bunga abadi. Namun dibalik keindahannya, beredar mitos yang dipercaya bahwa bunga edelweis adalah simbol keabadian cinta sehingga menyebabkan banyak orang yang berusaha mengambil bunga ini di alam. Hal ini menjadi salah satu penyebab terus berkurangnya populasi edelweis di alam. Salah satu upaya yang telah dilakukan oleh Balai TNGC untuk menjaga kelestariannya adalah dengan membuat plot percontohan budidaya edelweis, salah satunya di Bumi Perkemahan Cidewata yang berada di wilayah Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Majalengka, Balai TNGC. Saat ini salah satu dari empat jenis edelweis yang telah dibudidayakan sudah berbunga yaitu jenis Anaphalis longifolia. [Teks & foto ©? Hendri Heryadi – BTNGC | 082018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Tergiur Mendapatkan Uang, Mardiyansah CS Berburu Beruang di Kawasan TNBBS

Bengkunat, 11 Agustus 2018. Tim Gabungan yang terdiri dari Tim Reaksi Cepat (TRC : ILEU/YABI, WCU/WCS) Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS),Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Ditjen PHLHK) Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC), Kepolisian Sektor (Polsek) Bengkunat,pada hari Sabtu tanggal 11 Agustus 2018 sekira Jam 00.30 WIB melakukan penangkapan terhadap Sdr. Hendra (63), warga Pekon Sukamaju Kecamatan Ngaras Kabupaten Pesisir Barat. Penangkapan dilakukan saat Sdr. Hendra akan menjual 1 (satu) buah Opsetan Satwa Beruang Madu dan 2 (dua) buah kulit satwa Beruang Madu kepada pihak TNBBS yg melakukan penyamaran sebagai pembeli dengan harga senilai Rp 150.000.000,- (Seratus Lima Puluh Juta Rupiah). Setelah penangkapan, Tim Gabungan melakukan pengembangan dan menangkap 3 orang tersangka lainnya, antara lain ARONI alias INDAY (60), Mardiyansah (38) dan Fahrizal Husin (54). Ketiganya merupakan warga Pekon Penyandingan Kecamatan Bengkunat Kabupaten Pesisir Barat. Kapolsek Bengkunat Iptu Ono Karyono, S.H., M.H. menyatakan bahwa keempat tersangka diduga telah melakukan Kasus Tindak Pidana Kehutanan "Setiap Orang dilarang untuk Menyimpan, Memiliki, Memelihara, Mengangkut, Memperniagakan Kulit, Tubuh, atau bagian- bagian lain Satwa yang dilindungi", sebagaimana di Maksud Pasal 40 Ayat (2) Jo Pasal 21 Ayat (2) huruf b dan d UU RI No. 05 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati Dan Ekosistemnya. Berdasarkan keterangan tersangka HENDRA (63), 1 (satu) buah opsetan satwa Beruang Madu diperoleh dari Fahrizal Husin. Untuk 2 buah kulit Beruang Madu, tersangka Hendra mendapatkannya dari Aroni, dan Aroni mendapatkannya dari Mardiyansah. Dua buah kulit Beruang Madu masih mengeluarkan bau busuk. Menurut keterangan tersangka Mardiyansah, 2 (dua) kulit Beruang Madu tersebut merupakan Hasil Berburu bersama dengan Sdr Heri (DPO) dan Rudi (DPO). Perburuan tersebut dilakukan pada Hari Jumat tanggal 3 Agustus 2018 sekira jam 14.00 WIB dalam Kawasan TNBBS Reg. 22B pekon Sumber Rejo Kecamatan Bengkunat Kabupaten Pesisir Barat, dan pada Hari Minggu tanggal 5 Agustus 2018 sekira jam 14.00 WIB di Kebun Kopi Lada Kawasan Hutan Marga yang berada di Pekon Bumi Ratu Kecamatan Ngambur Kabupaten Pesisir Barat. Pelaku melakukan perburuan dengan menggunakan alat Senapan Angin, Pisau, dan alat penerang senter. Setelah pelaku mendapatkan hewan yang telah diburu, pelaku mengkuliti satwa buruan tersebut dengan menggunakan pisau, Lalu dikeringkan dengan cairan kimia jenis spritus sebagai pengawet atau dijadikan opset. Kemudian pelaku menjual hasil buruan tersebut untuk mendapatkan uang. Plh Kepala Balai Besar TNBBS Heru Rudiharto, S.SI.,M.P prihatin atas masih terjadi perburuan liar di kawasan TNBBS. “Saya sangat mengapresiasi hasil kerja kawan – kawan di lapangan, dan kita mengharapkan perburuan atas satwa mamalia besar yang menjadi logo dari TNBBS ini tidak terjadi lagi” ujar Heru, saat menghadiri acara Global Tiger Day dan Peringatan Hari Konservasi Alam Nasional di Biha Kabupaten Pesisir Barat. Saat ini, 4 orang tersangka dan barang bukti diamankan di Polres Lampung Barat guna proses penyidikan oleh PPNS Balai Penegakan Hukum LHK Wilayah Sumatera dan PPNS Balai Besar TNBBS, serta dibantu oleh Penyidik Polres Lampung Barat. Hari konservasi alam nasional 2018 semangat hu ha… Sumber : Balai Besar TN Bukit Barisan Selatan
Baca Berita

Balai TN Matalawa Peringati Hari Konservasi Bersama Pejuang Konservasi Usia Dini

Waingapu, 11 Agustus 2018. Di lapangan Swembak Waingapu, Kabupaten Sumba Timur Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) menggelar lomba mewarnai untuk seluruh TK di Waingapu. Kegiatan yang digelar merupakan rangkaian memperingati Hari Konservasi Alam Nasional yang jatuh pada tanggal 10 Agustus. Maman Surahman, S.Hut., M.Si Kepala Balai TN Matalawa hadir pada acara pengumuman juara lomba mewarnai sekaligus menyerahkan hadiah beserta trofi kepada juara. Adapun juara pertama untuk lomba mewarnai jatuh pada TK Negeri Pembina Waingapu, sementara juara dua dan tiga jatuh pada TK Matawai Amahu. Tidak hanya lomba mewarnai, ada pemutaran film terkait pengenalan keanekaragaman jenis fauna yang menempati kawasan hutan TN Matalawa, seperti jenis burung-burung endemik sumba (Julang Sumba dan Kakaktua jambul jingga). Selain itu, ada pengenalan berbagai jenis dan karakter ular dengan kehadiran ahli ular dari TN Matalawa Safaat Nurhidayat S.Hut. Pendidikan lingkungan pada usia dini mampu menanamkan sikap dan karakter untuk menjaga dan melestarikan lingkungan. Usia dini merupakan usia emas dalam masa pembentukan karakter dan masa mengenali dirinya sendiri, kegiatan ini memberikan pengaruh positif terhadap terbentuknya karakter dengan sikap-sikap cinta lingkungan pada usia dewasa nanti. Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa)
Baca Berita

Pendataan Pengguna Lahan Di Resort Air Hitam TN. Tesso Nilo Dilanjutkan

Air Hitam, 10 Agustus 2018. Pendataan pengguna lahan di kawasan Tn.Tesso Nilo tepatnya di daerah Air Hitam menemukan titik terang. Setelah beberapa kali berdiskusi dan konsultasi bersama perangkat desa dan tokoh masyarakat, pada tanggal 08 Agustus 2018 sudah didapatkan pastisipasi aktif dari Kepala Desa Air Hitam untuk kembali melanjutkan Pendataan Pengguna Lahan di wilayah Desa Air Hitam. Dukungan dari Kepala Desa Air Hitam dibuktikan menyerahkan nama-nama masyarakat yang memiliki lahan di wilayah Desa Air Hitam yang sudah dikumpulkan dalam 2 minggu terakhir. Saat penyerahan nama nama pengguna lahan tersebut, petugas TN.Tesso Nilo bersama Kepala Desa Air Hitam juga menyepakati bahwa data tersebut akan dilakukan proses verifikasi objek lahan dimulai pada Kamis, 09 Agustus 2018. Proses verifikasi juga akan melibatkan Kepala Dusun , RT/RW dan masyarakat. Keterangan dari kepala Resort Air Hitam Ahmad Gunawan, S.Hut, dari data yang diserahkan oleh Kepala Desa Air Hitam tersebut diketahui bahwa data pengguna lahan yang sudah terdata sebanyak 370 orang dengan luas lahan bevariatif. Sumber : Balai Taman Nasional Tesso Nilo

Menampilkan 7.265–7.280 dari 11.140 publikasi