Rabu, 22 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Semarak Karnaval Sumba Timur, Ajang Pengenalan Satwa Dilindungi TN Matalawa

Waingapu, 15 Agustus 2018. Mengisi kemerdekaan Republik Indonesia yang ke -73, Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) ikut serta dalam karnaval pembangunan Kabupaten Sumba Timur, yang dilaksanakan pada tanggal 14 Agustus 2018. Lokasi pemberangkatan karnaval di mulai dari Lapangan Prailiu dan finish di Pendopo Rumah Jabatan Bupati Sumba Timur. Balai TN Matalawa juga menerjunkan kendaran hias dengan icon “Julang Sumba”, burung endemik Pulau Sumba dengan jumlah di alam yang terbatas dan laju pertumbuhan populasi yang rendah. Dari 57 Jenis Julang yang ada di dunia, 14 jenis diantaranya ada di Indonesia dan 3 Jenis diantaranya adalah endemik, salah satunya Julang Sumba ini. Karnaval yang diikuti oleh TN Matalawa merupakan rangkaian kegiatan dalam memperingati Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN). Antusiasme para penonton pada rombongan barisan TN Matalawa sangat lah tinggi, ada beberapa orang tua bahkan anak-anak yang semangat untuk berfoto dengan boneka kostum Burung Julang Sumba. Tidak itu saja rombongan karnaval TN Matalawa juga menggelar aksi membagikan buku informasi terkait potensi keanekaragaman hayati yang ada di TN Matalawa. Partisipasi Taman Nasional Matawala dalam karnaval pembangunan Kabupaten Sumba Timur diharapkan mampu memberikan pendidikan dan penyadaran kepada masyarakat akan pentingnya kelestarian Julang Sumba yang ada di Pulau Sumba dan untuk tidak memburunya. Sumber : Balai Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa)
Baca Berita

Owa Jawa “BORIS” Pulang Kampung

Bandung – 14 Agustus 2018, Setelah lebih dari 8 tahun berada di Lembaga Konservasi Kebun Binatang Bali Zoo, akhirnya pada kamis 9 Agustus 2018, seekor Owa Jawa (Hylobates moloch) berjenis kelamin jantan dengan nama Boris dikembalikan ke habitat aslinya, Boris tiba di Jawa Barat (Bandara Husein Sastranegara Bandung) dengan menggunakan maskapai Garuda Indonesia dengan didampingi petugas BKSDA Bali pada pukul 14.50 WIB. Kedatangan Boris ke Jawa Barat ini langsung disambut oleh Polisi Kehutanan Balai Besar KSDA Jawa Barat yang bertugas melaksanakan pengawasan peredaran Tumbuhan dan Satwa di bandara bersama dengan petugas Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) Primata Jawa The Aspinall Foundation. Dari keterangan Emma selaku Public Relation Bali Zoo menyampaikan bahwa kepulangan Boris ke habitat aslinya merupakan bentuk tanggungjawab pihak Bali Zoo dalam pelestarian satwa endemik Indonesia, dimana sebelumnya Bali Zoo telah berhasil melakukan breeding Owa Jawa melalui kerjasama dengan The Aspinall Foundation yang saat ini sedang melaksanakan program Silvery Gibbon Into The Wild. Setelah proses administrasi selesai, dengan pengawalan petugas Boris langsung dibawa ke Pusat Rehabilitasi Satwa Primata The Aspinall Foundation yang berada di Ciwidey – Bandung Selatan. Boris akan dikembalikan ke alam setelah melalui beberapa treatment oleh The Aspinall Foundation hingga dinyatakan siap untuk dilepasliarkan. Tahapan awal akan dilakukan observasi terhadap kesehatannya, selanjutnya Boris akan ditempatkan di kandang karantina dengan tujuan agar Boris dapat belajar beradaptasi dengan habitat barunya tanpa gangguan dari primata lain yang ada di The Aspinall Foundation. Pulang kampungnya Boris ke Jawa Barat diharapkan dapat menambah jumlah populasi Owa Jawa di habitat aslinya melalui program rehabilitasi. Sumber: BBKSDA Jawa Barat
Baca Berita

Menilik Aksi Damai 148 di BBKSDA Jatim

Sidoarjo, 14 Agustus 2018. Aksi Damai 148 di Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) diikuti berbagai elemen sekitar 200 orang, diantaranya Persatuan Murai Indonesia perwakilan Jatim dan Kicau Mania dari berbagai Kabupaten di wilayah Jatim yang mengatasnamakan Forum Komunikasi Murai Indonesia (FKMI). Kegiatan di hari Selasa, 14 Agustus 2018 dimulai pukul 10.00 WIB dengan penyampaian tuntutan oleh orator aksi meliputi FKMI menuntut pencabutan Permen No. 20/2018 (pengganti PP No 7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa); Permohonan FKMI diajukan dalam bentuk aksi damai penyampaian aspirasi ke Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Jakarta, pada tanggal 14 Agustus 2018. Jika tuntutan tidak dikabulkan, FKMI akan melakukan aksi damai yang lebih besar dengan tuntutan yang sama, serta melakukan upaya hukum sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Setelah pembacaan tuntutan, para peserta mendapat tanggapan umum dari BBKSDA Jatim terkait PermenLHK No. P.20/ 2018 dan SE Dirjen KSDAE No. 9 Tahun 2018 yang disampaikan oleh Kabag TU (Sihono, S.Sos., MM). Untuk mendapatkan penjelasan yang lebih komprehensif, maka diadakan dialog yang diikuti oleh perwakilan peserta sebanyak 22 orang. Dialog dipimpin secara langsung oleh Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur (Dr. Nandang Prihadi, S.Hut., M.Sc.). Dalam sesi dialog para perwakilan intinya tetap pada tuntutannya yaitu pencabutan atau revisi PermenLHK P.20/ 2018. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur menyampaikan maksud dari diterbitkannya PermenLHK tersebut, dan mekanisme pemanfaatan dari TSL yang dilindungi Undang-Undang. Dari hasil dialog disepakati beberapa point dan ditandatangani perwakilan aksi damai 148 serta Kepala BBKSDA Jatim. Adapun yang di sepakati meliputi peserta aksi damai 148 menolak PermenLHK No.20 Tahun 2018 dan meminta peraturan tersebut dicabut atau direvisi serta sambil menunggu keputusan tanggapan aspirasi, para pecinta burung dapat melakukan pendataan melalui mekanisme online di www.bksdajatim.org sub menu pendataan TSL. Sumber : Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur
Baca Berita

Begini Kesiagaan Masyarakat Peduli Api Gunung Ciremai

Kuningan, 14 Agustus 2018. Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) mengadakan Temu Masyarakat Peduli Api (MPA) di Obyek Wisata Alam Talaga Remis, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Kuningan (14/8). Kegiatan ini dihadiri 200 orang yang terdiri dari MPA SPTN Wilayah I Kuningan, MPA SPTN Wilayah II Majalengka, Muspika Kecamatan Pasawahan yakni Camat, Kapolsek dan Danramil serta Kepala Desa di sekitar TNGC. Hadir pula Forum Ciremai, Mahasiswa Praktek Kerja Lapang Universitas Sumatera Utara (USU) serta Polisi Kehutanan (Polhut) dan staf Balai TNGC. Sebelum pelaksanaan Temu MPA, kegiatan dimulai dengan simulasi sistem komunikasi pengendalian kebakaran hutan yang di peragakan Polhut bersama MPA. Pukul 09.00 WIB apel dimulai dipimpin Kepala Balai TNGC, Kuswandono. Dalam amanatnya disampaikan bahwa, perlunya meningkatkan silaturahmi antar sesama anggota MPA serta pihak terkait lainnya untuk kesiagaan dalam mencegah dan mengendalikan ancaman kebakaran hutan. Karena lebih baik mencegah dan menjaga dari ancaman kebakaran hutan dari pada harus memadamkan api. Selain itu, bencana kebakaran hutan ini merupakan isu internasional, apalagi menjelang kegiatan Asian Games 2018 yang salah satu tempat tandingnya ada di Majalengka yakni Cabang Kano. “Masyarakat diharapkan menjaga nilai sosial budaya yang hampir menurun. Apa artinya ekologi terjaga dan kelola ekonomi meningkat, apabila nilai sosial budaya ditinggalkan, maka identitas kita akan hilang tercabut,” pungkas Kuswandono. Dalam kesempatan ini Kapolsek Pasawahan ikut juga memberikan amanatnya agar waspada dan siaga terhadap ancaman kebakaran hutan serta kegiatan kriminal lainnya terutama penyalahgunaan kawasan gunung untuk kegiatan ilegal pelatihan dan doktrin terorisme. Pamungkasnya, Mitra Pengelola Taman Nasional Gunung Ciremai membacakan ikrar bersama untuk menjaga, melestarikan serta mencegah dan mengendalikan kebakaran hutan dan lahan di Gunung Ciremai. Lebih baik mencegah dari pada memadamkan [teks & foto © Mendry - BTNGC | 082018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

BKSDA Jambi Pulangkan Landak ke Habitatnya

Jambi, 14 Agustus 2018. SKW I BKSDA Jambi telah menerima seekor satwa dari masyarakat berupa Landak Sumatera (Hystrix sumatrae) pada tanggal 3 Agustus 2018. Setelah diserahkan oleh masyarakat, landak terlebih dahulu diperiksa kondisi nya oleh dokter hewan dari Dinas Peternakan Merangin. Drh. Rita Anggraini yang bertugas memeriksa landak menyatakan bahwa kondisi landak sehat dan siap untuk dilepasliarkan. Dari hasil pemeriksaan diketahui landak tersebut berjenis kelamin betina dengan berat 5 kg, panjang 60 cm, tinggi 40 cm dan usia sekitar 3 tahun. Landak Sumatera saat ini status nya belum dilindungi menurut PermenLHK No. 20 Tahun 2018 tentang TSL yang dilindungi yang merupakan pembaharuan dari lampiran PP No. 7 Tahun 1999. Namun untuk pemanfaatan satwa tersebut tetap berpedoman pada aturan yang tercantum mengenai peredaran TSL, sehingga harus memiliki dokumen perijinan yang menjelaskan pengambilan dari alam atau pengangkutan dari satu wilayah ke wilayah lain di Indonesia. Selanjutnya, pada tanggal 10 Agustus 2018 SKW I BKSDA Jambi dan Flora Fauna Internasional (FFI) melakukan pelepasliaran landak di salah satu kawasan yang dikelola BKSDA Jambi sesuai petunjuk dan arahan Ka. Balai KSDA Jambi. Tempat tersebut dianggap cocok untuk pelepasliaran landak tersebut mengingat memiliki luas wilayah yang cukup, gangguan kawasan yang rendah, jumlah predator yang sedikit, topografi yang relatif datar dan sedikit berbukit. Diharapkan pelepasliaran satwa ini dapat melestarikan populasinya di alam liar dan mampu memberikan kontribusi terhadap ekosistem. Kepala SKW I Bangko, Udin Ikhwanuddin mengungkapkan “Landak nya sudah kami lepasliarkan di Cagar Alam Durian Luncuk I, BKSDA Jambi berterimakasih atas partisipasi masyarakat dalam bentuk penyerahan satwa, ini merupakan bentuk kepedulian masyrakat terhadap kelangsungan hidup satwa tersebut”. Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

2018 Sang Merah Putih Berkibar di Laut Pasir TN Bromo Tengger Semeru

Malang, 14 Agustus 2018. Sebanyak 2018 bendera merah putih berkibar di Laut Pasir TN Bromo Tengger Semeru pada Tanggal 13 Agustus 2018. Pemasangan bendera merah putih ini diinisiasi oleh Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Probolinggo bekerja sama dengan Balai Besar TN Bromo Tengger Semeru. Camat Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo Yulius Christian, menyampaikan pemasangan bendera di Laut Pasir Bromo ini bertujuan menyambut hari Pramuka yang ke 57 dan Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 73 sekaligus untuk menumbuhkan nasionalisme dan rasa cinta Indonesia, kepada seluruh masyarakat probolinggo khususnya masyarakat Tengger dan juga pengunjung TN Bromo Tengger Semeru. Rencananya bendera merah putih akan terus berkibar sampai dengan pelaksanaan HUT RI yang ke 73 yang juga akan dilaksanakan di Laut Pasir Bromo. Kegiatan ini hanya salah satu dari wujud nasionalisme dan kecintaan pada Indonesia ditengah hegemoni dunia global yang masuk ke Indonesia ujar Yulius. Kepala Seksi PTN I Cemorolawang, Sarmin S.Hut menyambut baik pengibaran 2018 bendera merah putih di Laut Pasir Bromo ini karena selain menambah suasana meriah menyambut hari Pramuka yang ke 57 dan Kemerdekaan RI yang ke 73, juga menjadi atraksi lain di tengah wisata Alam Bromo yang sudah sangat terkenal. Dengan Pengibaran 2018 bendera di Laut Pasir Bromo ini, Kami tidak hanya mengenalkan wisata alam di kawasan konservasi, tapi juga mengenalkan rasa cinta pada Indonesia serta mengenalkan perjuangan para pahlawan dalam memperjuangkan merah putih, katika meraih dan mempertahankan kemerdekaan RI. Semoga dengan 2018 bendera di Laut Pasir ini menambah suasana wisata alam yang menjunjung nilai-nilai nasionalisme Indonesia pungkas sarmin. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru
Baca Berita

Kondisi Terkini Si Billy Putri

Cibodas, 14 Agustus 2018. Penasaran dengan perkembangan kehidupan si “Billy Putri yang Terlahir Dengan Caesar” di sanctuary owa jawa di Bodogol? 28 April 2018, jam 23.30 WIB, di sanctuary owa jawa (JGC) Bodogol, lahir seekor owa jawa melalui operasi caesar. Merupakan kebanggaan tersendiri, karena proses kelahirannya ditangani oleh putra putri NKRI, tanpa bantuan tenaga asing, sehingga Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango terdorong untuk memberi nama “Billy Putri”. Untuk bayi yang terlahir dengan caesar ini, pada bulan-bulan pertama diperlukan perawatan intensif, khususnya pada tujuh hari pertama (masa kritis) setiap 2 jam sekali selama 24 jam bayi dari pasangan Bobby (bapak) dan Jolly (ibu) diberi minum susu formula, karena ibunya belum bisa menyusui dan mengasuh secara sempurna sehubungan luka bekas operasi masih dalam masa pemulihan. Masa kritis telah lewat, si Billy Putri berkembang dengan baik dan pergerakannya semakin lincah. Menginjak bulan kedua, anak kedua hasil caesar kedua Ny. Jolly ini, terlihat sudah tidak sabar untuk bisa bergerak bebas dan bergelantungan di pepohonan. Dia sudah mulai berusaha untuk berdiri dan mengangkat tangan. Saat ini, pada umur tiga bulan, si kecil Billy sudah mulai mengasah keahlian menggunakan kedua tangannya untuk bergelantungan. Hanya saja ibu Billy masih belum bersedia mengasuhnya, karena kondisi pasca operasi tidak memungkinkan pertemuan intensif antara anak dan ibu. Ini merupakan tantangan selanjutnya bagi para pengelola sanctuary. Semangat terus! Sukses selalu! Sumber: Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Deli Pelopor Budidaya Tanaman Kelukup Emas Merah Dari Bukit Tiga Puluh

Rengat, 14 Agustus 2018. Rotan kelukup merupakan salah satu hasil hutan bukan kayu yang sedang dikembangkan di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh khususnya dalam pengelolaan potensi zona tradisional sejak 2017. Berdasarkan informasi petugas lapangan, diperoleh informasi bahwa terdapat seorang masyarakat suku tradisional Talang Mamak yang telah memiliki kebun Kelukup yang telah berbuah. Hal ini menggugah minat Kepala Balai Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) Darmanto untuk meninjau lapangan pada Selasa, 14 Agustus 2018. Adalah Deli, seorang warga masyarakat di Dusun Siamang, Desa Rantau Langsat, Kecamatan Batang Gansal, Kab. Indragiri Hulu yang menjadi pelopor dalam penanaman rotan Kelukup tersebut. Sebagaimana kita tahu, bahwa mayoritas masyarakat di sekitar TNBT menggantungkan hidupnya dari hasil hutan bukan kayu, khususnya rotan Kelukup dan Jernang. Bersama dengan petugas resort Siambul, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Belilas dan petugas fungsional Pengendali Ekosistem Hutan menuju lokasi tempat tinggal Deli. Membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam dari kantor Balai TNBT Puncak Selasih menuju Dusun Siamang yang berada di zona tradisional TNBT. Pada tengah hari sampailah tim di lokasi Deli di Dusun Siamang, tepatnya wilayah Rantau Dagang. Desa Rantau Langsat merupakan desa yang sebagian besar wilayahnya berada di dalam kawasan TNBT berupa pedusunan. Mayoritas penduduknya adalah suku tradisional Talang Mamak dan Melayu Tua. Pada tahun 2014 tanaman karetnya sebagian ditebangi "Deli" yang awalnya memiliki ketidaksukaan dengan pihak TNBT dan beradu mulut menjadi hal yang biasa. Akan tetapi petugas Polhut, PEH dan penyuluh tanpa lelah menyuruhnya untuk menanam tanaman kelukup. Dulu dia sangat antipati dengan ajakan TNBT untuk menanam rotan Kelukup, Deli bersikeras menebang kebun karetnya untuk ditanami sawit karena dianggap lebih tinggi nilai ekonominya. Berdasarkan wawancara dengan Kepala Balai TNBT, kini kebun karetnya telah ditanami rotan Kelukup seluas 2 ha dan umurnya telah mencapai hampir tahun ketiga. Deli mengatakan bahwa hasil dari rotan Kelukup cukup membantu dalam perekonomian keluarganya. Satu batang Kelukup minimal menghasilkan 3 kg biji dengan harga Rp. 60.000/ kg. Hasil Kelukup ini terbukti sangat menjanjikan bagi masa depan. Dia berencana akan menanami kebun karet miliknya seluas 5 ha dengan rotan Kelukup, ujar Deli bersemangat. Pada tahun 2018, Deli akan menambah luasan sekitar 5 Ha untuk ditanami Kelukup yang mana bibit kelukup siap tanam sudah tersedia. Penanaman akan dilakukan ketika musim hujan tiba. Deli mengucapkan terima kasih kepada TNBT karena telah mengingatkan untuk menanam rotan Kelukup ketimbang menanam sawit. Kepala Balai berharap upaya yang dilakukan Deli ini diikuti oleh masyarakat desa lainnya yang telah tergabung dalam kelompok binaan TNBT. Sumber : Balai Taman Nasional Bukit Tigapuluh
Baca Berita

Kolaborasi BKSDA Sulteng Bersama Balai Karantina Pertanian Kelas II Palu

Palu, 14 Agustus 2018. Kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Tengah (BKSDA Sulteng) menerima kunjungan Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas II Palu pada tanggal 14 Agustus 2018 dalam rangka koordinasi dan konsultasi. Kepala Balai KSDA Sulteng menerima secara langsung kunjungan tersebut. Dalam kunjungan ini baik Kepala Balai KSDA Sulawesi Tengah maupun Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas II Palu berharap koordinasi yang terjalin selama ini yang sudah cukup bagus, baik ditempat lapangan maupun pimpinan dapat terus terjalin dengan baik. Selain untuk mempererat hubungan kerja yang sudah terjalin, dalam pertemuan ini juga dibahas mengenai peredaran tumbuhan dan satwa liar di Provinsi Sulawesi Tengah khususnya terkait Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor:P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar. Kepala Balai KSDA Sulawesi Tengah juga menjelaskan telah ada Surat Edaran Nomor:SE.9/KSDAE/SET/KUM.1/8/2018 tentang Pelaksanaan terkait Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor:P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar. Dalam surat edaran tersbut telah dijelaskan langkah-langkah yang harus dilakukan oleh Balai Besar/Balai KSDA dalam menyikapi terbitnya PermenLHK Nomor :P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar salah satunya melakukan pendataan dan penandaan terhadap jenis Tumbuhan dan Satwa Liar yang semula tidak dilindungi menjadi dilindungi. Sumber : Balai KSDA Sulawesi Tengah
Baca Berita

Penjual Kulit Si Belang Diamankan

Merangin, 14 Agustus 2018. PHS (Pelestarian Harimau Sumatera) bersama dengan SKW I BKSDA Jambi dan Pihak Kepolisian berhasil membekuk 2 orang tersangka perdagangan satwa liar yang dilindungi. Tersangka ingin menjual kulit dan tulang tulang Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) kepada anggota Intel PHS yang terlebih dahulu menyamar sebagai pembeli. Intel PHS telah melakukan pengembangan dari Provinsi Bengkulu hingga Provinsi Jambi Kabupaten Merangin. Untuk memastikan kebenaran adanya barang bukti kulit harimau beserta tulang tulangnya, pada tanggal 12 Agustus 2018 Intel PHS melakukan pengecekan di Desa Beringin Tinggi Kecamatan Sungai Tenang Merangin, hasilnya adalah benar ditemukan barang bukti yang saat itu diperlihatkan sendiri oleh tersangka. Intel PHS yang menyamar sebagai pembeli melakukan tawar menawar harga dan lokasi transaksi. Di tempat lain, tim melakukan koordinasi dan diskusi dengan Ka. Seksi PTN Wilayah I Kerinci, Ka. Resort Merangin Utara, Anggota Polhut SKW I BKSDA Jambi, Kasat Reskrim, Kanit Tipiter dan Penyidik, guna melakukan penangkapan tersangka. Tersangka berhasil dibekuk pada pukul 20.16 waktu setempat di Simpang Pulau Rengas, kedua tersangka langsung diamankan di Polres Merangin. Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan hewan yang dilindungi undang undang, status Harimau Sumatera saat ini masuk ke dalam Appendix I CITES yang arti nya dilarang untuk diperdagangkan secara komersial maupun internasional. Perdagangan satwa liar yang dilindungi dapat dihukum dengan ancaman kurungan 5 tahun dan denda Rp 100.000.000,- sesuai Pasal 40 ayat 2 UU No 5 Thn 1990 tentang konservsai sumber daya alam dan ekosistem Pasal 21 ayat 2 Huruf D. Kepala SKW I BKSDA Jambi, Udin Ikhwanuddin menegaskan “Saat ini pelaku perdagangan satwa liar yang dilindungi sudah berhasil diamankan bersama barang buktinya yaitu kulit dan tulang-tulang. Perdagangan satwa liar yang dilindungi sudah jelas sangat dilarang, hukumannya berat. Kami berharap kedepannya kejadian seperti ini tidak ada lagi.” Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Balai TN Aketajawe Lolobata dan PT Antam Sepakat Lanjutkan PKS

Sofifi, 13 Agustus 2018. Setelah beberapa kali menjalin kerjasama bidang konservasi, seperti penghijauan pada lahan kritis dan pembangunan gedung pusat informasi pada Suaka Paruh Bengkok, PT Antam dan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) kembali melanjutkan kerjasama yang menguntungkan bagi kedua belah pihak dan masyarakat ini. Kesepakatan yang diperpanjang adalah kerja sama dalam penguatan fungsi Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam serta konservasi keanekaragaman hayati melalui kerjasama pemulihan ekosistem seluas 273,69 ha. Kesepakatan tersebut ditandatangani di ruang rapat Direktur Jenderal KSDAE di Jakarta (10/08) oleh Saepuloh selaku VP PM dan NPAM PT Antam dan Muhammad Wahyudi selaku Kepala balai TNAL. Penandatanganan tersebut disaksikan Sekretaris Direktorat Jenderal KSDAE dan Direktur PIKA. Sebelum penandatangan perjanjian, Direktur Jenderal KSDAE, Wiratno disela-sela kesibukannya memberikan arahan kepada kedua belah pihak. Beliau menyambut baik kerja sama yang terjalin dan berharap kerja sama tersebut bermanfaat untuk kedua belah pihak dan masyarakat. Dalam sambutannya, Sekditjen KSDAE, Herry Subagiadi mengucapkan terima kasih kepada PT Antam dan Balai TNAL beserta jajarannya yang telah melakukan beberapa perjanjian kerja sama dan selama ini berjalan dengan baik. Beliau juga berharap kedepannya (PKS) dapat lebih baik lagi. Sedangkan Direktur PIKA, Listya Kusumawardhani, selaku pemimpin dalam penandatanganan PKS ini meminta agar kedua belah pihak memenuhi hak dan kewajiban dalam perjanjian yang nantinya dituangkan dalam dokumen RPP dan RKT. PT Antam juga menyampaikan terima kasih kepada Direktorat Jenderal KSDAE terutama kepada Balai TNAL yang selama ini sangat mendukung pelaksanaan dilapangan. Pihaknya juga menyampaikan komitmen untuk melaksanakan kewajiban yang lebih baik kedepannya. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra - Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Di Hari Konservasi Alam Nasional 2018, Tim Balai Besar KSDA Riau Berhasil Menyatukan Kembali "Pulaga" Dan "Kana"

Riau, 13 Agustus 2018. Sudah hampir satu bulan, warga Desa Pulau Gelang, Kec.Kuala Cenaku, Kab Indragiri Hulu diresahkan dengan sepasang Beruang madu yang selalu menyambangi pondok dan mencakar bagian dindingnya. Jumat, 27 Juli 2018 Kabid KSDA Wilayah l menerima laporan Kades Pulau Gelang tentang gangguan sepasang Beruang Madu di kebun warga. Setelah Konsultasi ke Kepala Balai Besar KSDA Riau, Kepala Balai Besar menginstruksikan agar segera ditangani secara prosedural untuk menjamin ketenangan warga dan menyelamatkan satwa. Tanggal 28 sd 29 Juli 2018, Tim Rescue Konflik Satwa Bidang KSDA Wilayah l segera meluncur ke lokasi melakukan observasi awal untuk mengumpulkan keterangan dan informasi kondisi lapangan. Selama masa observasi sd tanggal 30 Juli, pasangan Beruang madu terus menyambangi pondok-pondok warga. Tim memutuskan untuk pemasangan perangkap. Selasa, 31 Juli 2018 pukul 17.00 WIB tugas pemasangan perangkap tuntas, sejenak tim menatap perangkap yang telah terpasang. Nuansa optimis tergambar pada wajah masing-masing, salam komando tak lupa digelorakan sebelum meninggalkan lokasi dengan perahu kembali ke kantor Bidang KSDA Wilayah l. Hari pertama hingga malam belum ada tanda-tanda. Namun di Hari kedua, dalam waktu 2 x 24 jam tepatnya hari Kamis, 2 Agustus 2018 pukul 19.20 WIB saat dilakukan pengecekan malam, terdengar suara geraman marah dan guncangan kandang besi yang kami gunakan. Tak mau lengah, tim menyinarkan senter dari kejauhan. Yakin perangkap berhasil, Tim pemantau kembali ke Kantor untuk persiapan esok hari. Evakuasi dilakukan esok harinya. Selepas Sholat Jum'at, Tim Rescue menuju lokasi perangkap. Hati-hati mengamati keadaan sebelum mendekat. Benar saja seekor Beruang madu (Helarctos malayanus) berkelamin jantan nampak setia menjaga pasangannya yang masuk perangkap. Tim menghalau dengan suara-suara tembakan ke udara. Beruang jantan dengan berat lebih kurang 50 kg itu pergi menjauh. Tim sigap bekerja memindahkan kandang ke mobil dengan bantuan warga. Sampai di tepi sungai alat transportasi berganti dengan pompong (perahu motor). Waktu tempuh 2 jam menyusuri sungai tiba di habitat alam Beruang madu yang masih alami. Setiap anggota tim waspada bersiaga dan membuka kandang. Beruang Betina yg kami beri nama "KANA" yang atinya Kuala Cenaku berlari cepat ke rumah kebebasan. Tim kembali ke desa. Hari sudah berganti malam, namun masih harus menuntaskan tugas. "KANA" tak mungkin dipisahkan dari pasangannya. Tim pun memasang kembali kandang perangkap dengan harapan bisa menyelamatkan pejantan yang diberi nama oleh Tim "PULAGA" singkatan dari Pulau Galang. 10 Agustus 2018, tepat HARI KONSERVASI ALAM NASIONAL 2018, pukul 17.00 WIB tim pemantau melaporkan "PULAGA" telah masuk kandang, Tim girang mendapat laporan ini dan langsung bersiap menuju TKP. Ini seperti kado manis bagi anggota Tim, karena tepat pada HARI KONSERVASI ALAM NASIONAL 2018, bisa menyatukan kembali Pasangan Beruang Madu "KANA dan PULAGA." Akhirnya Sabtu, 11 Agustus 2018, sehari setelah Puncak Hari Konservasi Alam Nasional 2018, "PULAGA" yang nampak gagah dievakuasi dari kebun warga untuk dipertemukan kembali dengan betina pasangannya "KANA" yang sudah lebih dahulu dilepasliarkan pada tanggal 3 Agustus 2018 yang lalu. Dengan proses evakuasi yang sama pada pukul 15.40 WIB. Begitu pintu kandang dibuka, "PULAGA" yang sebelumnya asyik bermain ranting di kandang langsung berlari ke hutan menjumpai "KANA" nya. Mereka kembali bersatu, hidup di alam bebas seperti sedia kala jauh dari bising gangguan manusia. Kepala Balai Besar KSDA Riau, Suharyono menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada warga Masyarakat Kab. Inhu, Tim Rescue Konflik Satwa Bidang Wil l dan Kodim Inhu dengan Babinsanya, atas kerjasama dan komunikasi yang efektif untuk Pelestarian Satwa Langka khususnya di Provinsi Riau. "SELAMAT HARI KONSERVASI ALAM NASIONAL 2018." Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Pembinaan Habitat Satwa di TWA Punti Kayu Bertepatan dengan HKAN 2018

Palembang, 13 Agustus 2018 - Bertepatan dengan Hari Konservasi Alam Nasional 2018, fungsional Balai KSDA Sumatera Selatan yang terdiri dari PEH, Penyuluh, dan Polhut bersama-sama melakukan pembinaan habitat satwa di Taman Wisata Alam (TWA) Punti Kayu dengan melakukan penyemaian buah pinang dan pencabutan bibit nyamplung untuk dipindahkan ke dalam polibag. Satwa-satwa yang teridentifikasi di TWA Punti Kayu antara lain monyet ekor panjang, burung but-but, babi hutan, ular hijau, ular kobra, ular sanca, biawak, kadal, kodok, burung elang bondol, elang brontok, buaya, cekakak sungai, cekakak belukar, capung, dan tonggeret. Satwa yang mendominasi yakni monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang terdiri dari sekitar 5 (lima) kelompok monyet ekor panjang. Berdasarkan laporan petugas dan masyarakat sekitar monyet ekor panjang di TWA Punti Kayu sering keluar kerumah penduduk. Kondisi tersebut dapat mengindikasikan bahwa perlu adanya pembinaan habitat monyet ekor panjang khususnya melalui tanaman pengayaan. Fungsional khususnya PEH telah melakukan inisiasi pembinaan habitat melalui pemeliharaan persemaian dengan bibit yang nantinya dapat ditanam di TWA Punti Kayu sebagai miniatur hutan dataran rendah di Kota Palembang. Taman wisata alam (TWA) Punti Kayu yang sebagian bervegetasi pinus lambat laun akan digantikan tutupan lahannya dengan jenis vegetasi hutan dataran rendah. Kini, pengumpulan bibit-bibit terus dilakukan agar semakin beragam jenis vegetasinya dan dapat mendukung hidupan satwa didalamnya berupa pakan dan tempat berlindungnya. Selamat Hari Konservasi Alam Nasional. Sumber: Agnes Indra Mahanani (Balai KSDA Sumatera Selatan)
Baca Berita

Pemetaan Partisipatif Kondisi Perikanan Berbasis Masyarakat di TN. Taka Bonerate

Taman Nasional Taka Bonerate - Kepulauan Selayar, 13 Agustus 2018. Untuk memperoleh informasi terkini terhadap persepsi masyarakat di Taman Nasional Taka Bonerate dalam rangka mengakomodir berbagai kepentingan seperti ekologi, sosial, ekonomi, pariwisata, perikanan, konservasi sehingga pengelolaan dapat berjalan dengan baik dan berkesinambungan serta mendapat dukungan dari masyarakat dan seluruh stakeholder yang ada, maka perlu dilakukan focus group discussion (FGD) dari tingkat masyarakat hingga pemerintah yang difasilitasi Mitra Balai TN. Taka Bonerate Wildlife Conservation Society - Indonesia Program (WCS-IP). Dihadiri masing-masing Kepala SPTN, kepala Resort, kepala Desa, tokoh masyarakat, pengusaha di Bidang perikanan, perwakilan nelayan, perwakilan sektor wisata dan Masyarakat Mitra Polhut. Kegiatan yang berlangsung dari tanggal 9-10 Agustus 2018 ini bertujuan untuk mengumpulkan informasi serta masukan dari masyarakat desa terkait kondisi perairan Taman Nasional Taka Bonerate sebagai area mata pencaharian serta bahan re-zonasi yang dilaksanakan tahun ini. Kegiatan tersebut dilakukan di dua lokasi yaitu di Desa Rajuni (SPTN I) dan Desa Jinato (SPTN II). "FGD ini adalah pemetaan partisipatif masyarakat nelayan di TNTBR, terutama untuk pemetaan daerah penangkapan ikan" jelas Azhar Muttaqin sebagai koordinator WCS-IP untuk Taman Nasional Taka Bonerate. Dan intinya juga mengajak masyarakat untuk terlibat dalam revisi zonasi yang direncanakan tahun ini. Taman Nasional Taka Bonerate telah ditetapkan statusnya sebagai Cagar Biosfer menjadi tantangan pengelolaan yang sangat besar. Dan hal itu mutlak mendapatkan dukungan dan keterlibatan pemerintah daerah. Status kawasan Taka Bonerate berawal dari ditunjuknya sebagai Cagar Alam laut pada tahun 1989. Wilayah tersebut ditunjuk sebagai Cagar Alam laut karena hamparan karang berbentuk cincin (atol) dan merupakan habitat berbagai jenis biota laut seperti kima raksasa Tridacna Gigas dan triton terompet (Charonia tritonis), daerah itu juga merupakan tempat peneluran penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata), sehingga perlu dipertahankan dan dibina kelestariannya untuk dimanfaatkan bagi kepentingan ilmu pengetahuan, pendidikan, kebudayaan, rekreasi dan pariwisata. Karena kekhasannya, Cagar Alam laut tersebut selanjutnya dialih-fungsi menjadi Taman Nasional Taka Bonerate berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan pada 26 Februari 1992. Setelah dilakukan tata batas, selanjutnya ditetapkan sebagai Taman Nasional Taka Bonerate berdasarkan SK Menteri Kehutanan Nomor: 92/KPTSII/200i, tanggal 15 Maret 2001 dengan luas 530.765 Ha. Sumber : Asri - PEH Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Berita

Peringati HKAN, BTNGP Kampanyekan Penggunaan Tumbler

Kayong Utara, 13 Agustus 2018. Sejak tahun 2009, Presiden RI menetapkan 10 Agustus sebagai Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) melalui Keppres No. 22 tahun 2009. Pada peringatan HKAN kesepuluh ini, Balai Taman Nasional Gunung Palung (BTNGP) mengadakan serangkaian acara peringatan yang dimulai sejak 10 Agustus 2018 hingga 16 Agustus 2018. Pembukaan peringatan HKAN ini sendiri dilaksanakan di depan kantor SPTN Wil. I Sukadana pada Jumat (10/8) dan dibuka oleh Camat Sukadana yang diwakili oleh Sekcam. Dalam sambutannya, M. Ari Wibawanto selaku Kepala BTNGP menyampaikan bahwa dalam rangka HKAN 2018 diharapkan TNGP dapat memberikan edukasi kepada masyarakat sekitar kawasan tentang arti penting kawasan TNGP dan manfaatnya bagi masyarakat. Beliau juga mengampanyekan gerakan kepedulian lingkungan dengan tidak menggunakan plastik air kemasan sekali pakai/buang. “Tugas kami adalah memberikan ilmu tentang konservasi dan lingkungan hidup. Kami berharap ilmu yang sudah kami berikan disosialisasikan atau disebarluaskan oleh rekan-rekan semua termasuk tentang penggunaan tumbler atau tempat minum sendiri,” katanya. Sedangkan dalam laporan ketua panitia, Bambang Hari Trimarsito, Ketua Panitia yang juga menjabat sebagai Kepala SPTN Wil. I Sukadana menjelaskan demi memulai aksi nyata penggunaan tumbler setiap peserta akan mendapatkan satu botol tumbler. Selain itu Balai TNGP tidak akan lagi menyediakan kemasan botol/gelas sekali pakai di kantor dan akan ada larangan membawa botol dan gelas plastik sekali pakai ke dalam kawasan TNGP. “Setelah ini (apel pembukaan, Red.) masing-masing kalian akan dapat satu botol tumbler. Silakan itu digunakan dalam kegiatan ini maupun ketika nanti kalian mau main ke taman nasional,” ujarnya. Peringatan HKAN di Balai TN Gunung Palung tahun ini dihadiri oleh masyarakat, pelajar, dan tokoh setempat, perwakilan BKSDA Kalimantan, Yayasan Alam Sehat Lestari (ASRI), Yayasan International Animal Rescue Indonesia (IARI), serta perwakilan dosen dan mahasiswa Universitas Tanjungpura. Kegiatan ini terselenggara atas bantuan banyak pihak termasuk keterlibatan Kepala Desa Sutera dan jajarannya. Sementara itu rangkaian kegiatan peringatan HKAN pada 10 Agustus 2018 di TNGP adalah apel pembukaan, aksi bersih Objek Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) Peramas, field trip ke ODTWA Bukit Mandala, pemasangan spanduk terkait pencegahan konflik antara orangutan dengan masyarakat, kuliah umum dan pemutaran film tentang TNGP, serta sosialisasi penanganan ular dan gigitan ular. Rangkaian berikutnya adalah penanaman dan diskusi ekowisata di ODTWA Riam Berasap bersama Sahabat Gunung Palung (Sagupa) pada 15 – 16 Agustus 2018. Kegiatan peringatan HKAN 2018 ini mendapat antusiasme dan apresiasi dari para peserta. Salah satu peserta, Devi Sari Wahyuni, anggota Siswa Pencinta Alam (Sispala) Grepala (Gerakan Remaja Pencinta Alam) SMAN 3 Simpang mengaku senang bisa mengikuti kegiatan HKAN 2018 untuk pertama kalinya dan berharap ilmu tentang lingkungan hidup yang telah didapat dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan Rakhmad, Pembina Sispala Grepala bahkan mengatakan bahwa Sispala Grepala dan Sispala-sispala lainnya di Kabupaten Kayong Utara siap bersinergi dan bekerja sama dalam usaha pelestarian dan konservasi alam bersama Taman Nasional Gunung Palung. Sumber : Yusuf Muhammad, Balai Taman Nasional Gunung Palung
Baca Berita

Sedia Air Sebelum Kemarau di TN Gunung Ciremai

Kuningan, 13 Agustus 2018. Pepatah "sedia payung sebelum hujan" tampaknya terbalik dengan yang terjadi di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Bersama dengan mitra masyarakat "sedia air sebelum kemarau" terus dilakukan. Pembuatan embung di berbagai lokasi rawan kebakaran dilakukan, sampai dengan pengaliran air dari mata air. Salah satunya adalah mata air Cipari. Pagi ini (13/8) mitra kelompok Pujangga Manik Batu Luhur melakukan survey untuk pemasangan pipa air dari mata air Cipari. Air tersebut akan digunakan untuk mengisi embung-embung sebagai antisipasi sumber air pemadaman kebakaran. Bersamaan dengan survey yang dilakukan, kelompok juga melakukan patroli pencegahan kebakaran hutan di beberapa titik yaitu Blok Kubang, Pejaten dan Batu Luhur yang kerap kali terbakar pada tahun-tahun sebelumnya. "Ini adalah bentuk abdi kami terhadap hutan yang telah memberikan kami kehidupan" tegas Usman, ketua Pujangga Manik Batu Luhur. Kelompok Pujangga Manik Batu Luhur juga akan melakukan temu masyarakat peduli api di Telaga Remis bersama dengan pihak terkait lain sebagai bentuk peduli terhadap kawasan hutan Gunung Ciremai. "Apalah artinya uang berlimpah, kalau sudah terjadi bencana ruginya akan berkali-kali lipat" lanjut Usman. Kelestarian hutan Gunung Ciremai tidak hanya menjadi tanggung jawab petugas TNGC tapi kita bersama yaitu masyarakat penyangga, masyarakat umum dan pemerintah daerah. Mitra pengelola wisata alam juga siap menghadiri temu masyarakat peduli api sebagai bentuk solidaritas dan tanggung jawab. [Teks ©? Nisa - TNGC; Foto ©? Usman Pujangga Manik - Batu luhur | 082018]

Menampilkan 7.249–7.264 dari 11.140 publikasi