Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Pengawasan Pendakian Gunung Ciremai

Kuningan, 20 Agustus 2018. Mendaki gunung merupakan aktivitas yang sangat diminati kalangan remaja bahkan usia dewasa, walaupun sebenarnya mendaki gunung bukan perkara yang mudah. Tidak hanya sekedar berjalan, membawa perlengkapan dan perbekalan seadanya, atau bahkan menggunakan pakaian sekedarnya. Namun perlu direncanakan dan dipersiapkan secara matang. Bagi usia dewasa, pendaki sudah belajar bagaimana mempersiapkan perbekalan namun bagi usia remaja masih banyak yang melakukan pendakian dengan modal "nekat". Inilah yang dilakukan petugas Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) bersama mitra pengelola jalur pendakian untuk mengedukasi pendaki. Jangan sampai kita membawa diri dalam situasi yang berbahaya pada saat mendaki. Setiap tahun, Gunung Ciremai kerap didatangi pendaki dengan jumlah yang besar pada momen memperingati 17 Agustus dan akhir tahun. Biasanya pendaki sudah mulai berdatangan dua atau tiga hari sebelumnya. Jalur pendakian Gunung Ciremai meliputi Linggajati, Linggasana, Palutungan dan Apuy. Petugas dan mitra pengelola jalur pendakian sudah bersiap di pos pendakian pada masing-masing jalur untuk menyambut pendaki. Hal pertama yang dilakukan adalah pemeriksaan perlengkapan yang dibawa para pendaki. Apabila ada yang belum membawa perlengkapan sekedarnya, maka pendaki diharuskan untuk melengkapi demi keselamatan selama mendaki, seperti perbekalan yang tidak cukup. Dilanjut dengan doa bersama agar selamat hingga puncak Ciremai dan kembali turun. Kondisi para pendaki mulai dari naik hingga turun semua dalam keadaan sehat dan selamat. Petugas dan pengelola memastikan pengecekan mulai dari pos pertama hingga puncak agar kejadian yang tidak diinginkan tidak terjadi. Alam sangat bersahabat apabila kita memperlakukannya sebagai sahabat, namun akan melawan apabila kita memperlakukannya sebagai musuh atau obyek yang ingin ditaklukan. Tahukah sobat mengapa ketika mendaki kebanyakan akan menundukkan wajahnya bukan mengangkatnya?agar saat berhadapan dengan alam tidak boleh sombong. Selain itu, banyak makna kehidupan yang dapat dipetik dari mendaki gunung. Empati, tidak sombong, ringan tangan, gotong royong, dan saling membantu sesama hanya sepenggal makna yang tersimpan [teks © Nisa - BTNGC ; foto © PPGC & BTNGC | 082018]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Hari Orangutan Internasional: Mari Bergerak Bersama Selamatkan Orangutan Kalimantan

Pontianak, 20 Agustus 2018. Hari Orangutan Internasional diperingati setiap tanggal 19 Agustus sejak 2013. Sejalan dengan itu, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama mitra kerja seperti; Yayasan TITIAN LESTARI, WWF-Indonesia Kalimantan Barat, Forum Orangutan Kalimantan Barat (FOKKAB), Yayasan Palung dan Yayasan Planet Indonesia (YPI) menyelenggarakan kegiatan Peringatan Hari Orangutan Internasional 2018 bertema “Kalimantan Barat ‘Rumah’ Bagi Orangutan, Mari Bergerak Bersama Selamatkan Orangutan Kalimantan”. Adapun rangkaian kegiatan yang dilaksanakan yaitu; lomba mewarnai dan menggambar tingkat TK dan SD bertempat di Kantor BKSDA Kalimantan Barat serta kampanye/aksi damai di area Car Free Day (CFD) dengan rangkaian acara Pembagian Hadiah, Pengumpulan tanda tangan, Pembagian Doorprize, fresh drink dan tumbler, Cindera Mata dan acara hiburan bersama masyarakat di Jl. Ahmad Yani Pontianak (Mega Mall Pontianak - Perguruan Mujahidin) Orangutan adalah satu-satunya kera besar di Benua Asia dan merupakan satwa endemik yang hanya dijumpai di pulau Kalimantan dan Sumatera, terdiri dari tiga spesies yaitu; Pongo pygmaeus (Orangutan Kalimantan), Pongo abelii (Orangutan Sumatera) dan Pongo tapanuliensis (Orangutan Tapanuli) spesies orangutan baru yang dirilis pada tahun 2017. Saat ini, diperkirakan hanya terdapat 57.350 individu Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) di habitat seluas 181.692 km2 (PHVA, 2016), mencakup wilayah Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur dan Sarawak – Malaysia. Di Kalimantan Barat, diperkirakan terdapat ±20.330 individu orangutan terdiri dari Pongo pygmaeus pygmaeus sebanyak ±4.520 individu dan Pongo pygmaeus wurmbii sebanyak ±15.810 individu yang tersebar di dalam dan di luar kawasan konservasi. Sadtata Noor Adirahmanta selaku Kepala BKSDA Kalimantan Barat mengatakan “memang sudah waktunya kampanye konservasi, khususnya mengenai penyelamatan Orangutan, kita lakukan secara lebih masif dan berskala luas sehingga dapat menyentuh segala lapisan masyarakat, termasuk generasi muda. Ajak mereka dan libatkan mereka dalam kegiatan-kegiatan penyelamatan Orangutan. Beri pemahaman kepada masyarakat pentingnya satwa ini di dalam ekosistem. Hingga suatu saat nanti seluruh masyarakat menyadari bahwa sesungguhnya manusia bisa hidup berdampingan dengan Orangutan”. Sementara itu, Rangga Irawan dari Yayasan TITIAN LESTARI sebagai penanggungjawab kegiatan mengatakan “tujuan utama dari peringatan Hari Orangutan Internasional ini adalah untuk memperkenalkan orangutan kepada publik dengan harapan akan timbul kepedulian terhadap lingkungan terutama pentingnya melestarikan habitat dan populasi orangutan di Kalimantan Barat”. “Kita ketahui bersama bahwa hampir 70% populasi orangutan berada di luar kawasan konservasi. Diantaranya metapopulasi di bagian utara pesisir Kalimantan Barat, tepatnya di sekitar Kabupaten Sambas dan metapopulasi di bagian selatan Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Mempawah dan Kubu Raya. Keberadaan metapopulasi ini dalam kondisi kritis karena jumlahnya yang kecil dan habitatnya terfragmentasi. Dalam kesempatan ini, kami mengajak seluruh elemen masyarakat, swasta dan pemerintah untuk turut serta menjaga dan melestarikan orangutan. Besar harapan kami kedepannya tidak terjadi lagi konversi hutan, terutama pada kawasan-kawasan yang menjadi habitat orangutan. “Kelestarian orangutan dan habitatnya, pada akhirnya akan memberikan manfaat bagi manusia” ujar Albertus Tjiu, Manajer Program Kalimantan Barat, WWF-Indonesia “Populasi Orangutan Kalimantan khususnya yang ada di Kalimatan Barat tidak luput dari ancaman seperti; berkurangnya habitat akibat dari fragmentasi habitat karena konversi hutan menjadi perkebunan, kebakaran hutan dan penebangan liar, berkurangnya habitat ini berdampak seringnya terjadi konflik antara manusia dengan orangutan yang pada akhirnya sering menyebabkan kematian orangutan. Ancaman lainnya adalah perburuan orangutan untuk diperdagangkan maupun dipelihara, berkurangnya populasi orangutan yang lebih dari 50% menjadikan status orangutan Kalimantan naik statusnya dari genting (Endangered) menjadi kritis (Critically Endangered) berdasarkan daftar merah (red list) IUCN tahun 2016”, ujar Syamsuri Ketua Forum Orangutan Kalimantan Barat (FOKKAB). Lebih lanjut dia mengatakan “diperlukan kepedulian dan sinergi bersama antara pemerintah, swasta, masyarakat, akademisi, dan NGO untuk menjaga agar orangutan Kalimantan tetap lestari dan bertahan hidup di alam bebas di tengah berbagai ancaman kerusakan lingkungan.” Sumber : Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Penemuan Buaya Muara Oleh Warga di Taman Nasional Danau Sentarum

Putussibau, 20 Agustus 2018. Penemuan buaya muara oleh Tim Patroli Masyarakat Desa Sepandan di wilayah Tanjung Temiang, Danau Sentarum pada minggu 19 Agustus 2018 sekitar jam 14:15. Buaya Muara tersebut dalam kondisi hidup dan tidak terjerat, kondisi sekitar Buaya Muara kurang air dan berlumpur. Buaya muara atau buaya bekatak (Crocodylus porosus) adalah jenis buaya terbesar di dunia. Dinamai demikian karena buaya ini terutama hidup di sungai-sungai dan di dekat laut (muara). Buaya ini juga dikenal dengan nama buaya air asin, buaya laut, dan nama-nama lokal lainnya. Panjang tubuh buaya ini (termasuk ekor) biasanya antara 2,5 sampai 3,3 meter, namun hewan dewasa bisa mencapai 12 meter seperti yang pernah ditemukan di Sangatta, Kalimantan Timur. Bobotnya bisa mencapai 200 kg. Moncong spesies ini cukup lebar dan tidak punya sisik lebar pada tengkuknya. Buaya ini aktif pada siang dan malam hari. Spesies ini adalah salah satu dari jenis buaya yang berbahaya bagi Manusia. Buaya muara mampu melompat keluar dari air untuk menyerang mangsanya. Bahkan bilamana kedalaman air melebihi panjang tubuhnya, buaya muara mampu melompat serta menerkam secara vertikal mencapai ketinggian yang sama dengan panjang tubuhnya. Saat ini telah dibentuk tim khusus dari TNBKDS untuk menangani buaya tersebut. Tim awal telah bergerak dan menuju lokasi untuk melihat kondisi dan lokasi ditemukanya buaya tersebut. Upaya sosialiasi kepada masyarakat akan dilakukan agar tidak menggangu Buaya muara dan habitatnya. Tim akan melakukan langkah-langkah awal dengan cara menggiring ke tempat yang masih terdapat air dan memasang papan peringatan habitat buaya. Pantauan hari ini tanggal 20 Agustus 2018 di lokasi, buaya muara tersebut sudah tidak berada di Danau Luar, menurut keterangan nelayan setempat buaya tersebut bergerak ke daerah yang masih terdapat air di daerah sengirin. Kondisi air di daerah sengirin masih terdapat air, perairan di daerah tersebut adalah perairan dalam. Saat ini Tim sedang bergerak menuju daerah sengirin. Dimohon kepada masyarakat yang menjumpai Buaya muara tersebut agar menghindar dan segera melaporkan ke call center BBTNBKDS dengan nomor 082158794140 atau ke aparat setempat. Sumber : Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Bloking SM Gunung Raya, Balai KSDA Sumsel Melakukan FGD Internal

Baturaja, 20 Agustus 2018. Salah satu komponen yang penting dalam bloking adalah proses pengumpulan data baik data primer maupun data sekunder. Kesalahan yang dilakukan dalam proses pengumpulan data akan membuat proses analisis menjadi sulit. Selain itu hasil dan kesimpulan yang akan didapat pun akan menjadi rancu apabila pengumpulan data dilakukan tidak dengan benar. Masing-masing pengelola memiliki proses pengumpulan data yang berbeda, tergantung dari jenis kawasan yang akan dilakukan bloking. Pengumpulan data kualitatif pastinya akan berbeda dengan pengumpulan data kuantitatif. Pengumpulan data statistik juga tidak bisa disamakan dengan pengumpulan data analisis. Secara teknis penataan kawasan konservasi dilakukan dengan membagi kawasan ke dalam zona atau blok pengelolaan sesuai kriteria yang didasarkan pada hasil inventarisasi potensi kawasan dan kajian kondisi dan status terkini nilai penting kawasan serta mempertimbangkan prioritas pengelolaan kawasan. Balai KSDA Sumatera Selatan melakukan pengumpuan data melalui Forum Group Discussion Internal yang dihadiri oleh Tim Bloking SM Gunnung Raya, Petugas Seksi Konservasi Wilayah III, Petugas Resort SM Gunung Raya dan Tenaga Pengaman Hutan Lainnya. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan dapat menjaring sebanyak mungkin data sehingga proses penataan blok sesuai dengan kondisii riil yang ada di lapangan. Dalam FGD tersebut petugas lapangan menyebutkan masih banyak potensi keanekaragaman hayati yang ada didalam kawasan seperti air terjun, perjumpaan satwa seperti rusa, beruang, siamang, dan beraneka ragam burung. Namun demikian banyak gangguan yang berada didalam kawasan seperti perambahan berupa kebun kopi, illegal logging, dll. Data yang masuk kemudian direkam dan dikumpulkan agar nantinya dianalisis dan dijadikan bahan pertimbangan blok apa yang sesuai untuk kawasan tersebut. Pada akhirnya bloking merupakan salah satu bentuk pengelolaan kawasan konservasi secara efektif dan efisien yang diharapkan akan membantu pengelola kawasan konservasi dalam setiap pengambilan keputusan dalam pengelolaannya. Sumber : Taufan Kharis, Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Untuk Pertama Kalinya Buaya Muncul di Sungai Asam Kota Jambi

Jambi, 20 Agustus 2018. BKSDA Jambi menerima laporan dari masyarakat bahwa terdapat Buaya Muara (Crocodylus porosus) di Sungai Asam Kota Jambi, pada pukul 16.00 WIB waktu setempat. Tim BKSDA Jambi langsung menuju lokasi pada pukul 18.00 WIB mengecek TKP dan menemui masyarakat. Pada tanggal 14 Agustus 2018 pukul 09.00 WIB tim kembali ke TKP untuk melakukan evakuasi terhadap buaya. Untuk saat ini buaya muara tersebut dititipkan sementara di ZSL Dari informasi yang diterima dari masyarakat, belum pernah ditemukan buaya muara sebelum nya di daerah Sungai Asam Kota Jambi. Tim memutuskan mengamati kualitas air sekitar yang telah tercemar oleh limbah rumah tangga dan pabrik sehingga membuat air berwarna kehitaman. Buaya muara yang ditemukan di Sungai Asam berada di kedalaman 1-2 meter dan lebar sungai 5-6 meter, dengan vegetasi rerumputan, pisang pisangan, dan semak belukar. Kepala SKW II selaku ketua tim evakuasi, Wawan Gunawan mengutarakan “Buaya muara yang dilaporkan warga sudah berhasil kami evakuasi dan kami titipkan sementara di ZSL, dugaan sementara buaya ini mungkin tersesat saat air Sungai Batanghari sedang naik dan nyasar masuk ke Sungai Asam. Mungkin juga ada oknum yang sengaja membuang buaya tersebut disini, masih kami selidiki untuk lebih lanjut.” Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Berkat Operasi TSL Si Tutul Berhasil Diselamatkan

Bungo, 20 Agustus 2018. Seorang warga di Danau Buluh Muaro Bungo bernama Jamil menemukan seekor satwa kucing hutan (Felidae) selanjutnya beliau memposting di halaman facebook miliknya bahwa beliau ingin menjual kucing hutan yang ditemukannya. Mengetahui adanya penjualan satwa kucing hutan tersebut di facebook, Kepala Seksi I memerintahkan kepada Kepala Resort Bungo SKW I BKSDA Jambi untuk bertindak bersama Komandan Satgas Mitigasi Konflik Satwa UPTD KPHP Unit II dan III Muaro Bungo dan Kanit Tipiter Polres Bungo. Tanggal 20 Agustus, tim bergerak ke TKP untuk memastikan keberadaan satwa tersebut dan berhasil menemukan satwa kucing hutan berjumlah 1 ekor. Tim kemudian membawa Jamil beserta kucing hutan tersebut ke Polres Bungo untuk dilakukan pemeriksaan. Oleh tim dijelaskan tentang Peraturan Menteri LHK No. 20 Tahun 2018 tentang jenis TSL yang dilindungi di wilayah NKRI. Setelah itu yang bersangkutan membuat pernyataan tidak mengulangi perbuatannya. Karena Permen LHK No. 20 Tahun 2018 masih tahap sosialisasi, yang bersangkutan dipersilahkan untuk pulang (tidak ditahan). Satwa kucing hutan kemudian diserahkan kepada Kepala Resort Bungo SKW I BKSDA. Dikarenakan kucing hutan tersebut baru berumur sekitar 2 bulan maka untuk sementara dibawa ke PPS Kantor SKW I BKSDA Jambi untuk mendapatkan perawatan sebelum dilepasliarkan. Kepala Seksi I, Udin Ikhwanuddin mengungkapkan, “Operasi TSL diwilayah Kabupaten Bungo akan terus kami lanjutkan hingga tanggal 25 Agustus 2018 karena disinyalir masih ada oknum dan pengaduan atau informasi dari masyarakat tentang TSL dilindungi yang diperjualbelikan baik secara langsung maupun via online.” Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Cagar Alam Cycloop dan Merah Putih sebagai Wajah Paling Depan Indonesia

Jayapura, 20 Agustus 2018. Balai Besar KSDA Papua membentangkan sang merah putih di pinggiran Cagar Alam Cycloop pada Jumat, (17/8). Acara tersebut digelar setelah upacara peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-73 di halaman kompleks UPT KLHK, Kotaraja, Jayapura. Menurut Kepala Balai Besar KSDA Papua, Ir. Timbul Batubara, M.Si., target kegiatan tersebut adalah meningkatkan kekompakan di lingkup UPT KLHK di Jayapura dalam menjaga Cycloop. Tampaknya target tersebut telah tercapai dengan baik. Hal ini dibuktikan dengan kehadiran pihak-pihak yang mendukung giat merah putih di pinggiran Cycloop tersebut. Di antaranya adalah Kepala BPPHP Wilayah XVII Jayapura, Kepala BPDASHL Memberamo, dan Kepala BPKH Wilayah X Jayapura. Mereka bukan hanya hadir sepintas lalu dalam sebuah event kemerdekaan Republik Indonesia. Namun lebih dari itu juga siap dan kompak menjaga C.A. Cycloop beserta seluruh kearifan lokal yang terkandung di dalamnya. Selanjutnya Ir. Timbul Batubara, M.Si. mengungkapkan tentang eksistensi BBKSDA Papua sebagai bagian dari Pemerintah Republik Indonesia. Menurutnya, Cycloop dan Papua adalah wajah paling depan Indonesia. Demikian pula semua pegawai yang bertugas di wilayah ini, menunjukkan Indonesia hadir di sini. Di bawah terik matahari yang menyengat siang itu, di sisi bendera raksasa yang terbentang, Ir. Timbul Batubara, M.Si. membuat pernyataan, “Tentu, wajah itu harus dipoles supaya rapi. Kita harus tunjukkan kinerja yang penuh tanggung jawab, bersatu dengan rasa cinta tanah air yang lebih baik. Ini merupakan bagian dari program pemerintah. Seperti yang kita tahu, wajah paling depan Indonesia saat ini, wilayah-wilayah perbatasan sudah jauh lebih baik dibandingkan dulu.” Ia mengharapkan bukan hanya pegawai saja yang melakukan pekerjaan menjaga Cycloop dan memoles wajah Indonesia. Namun seluruh masyarakat secara bersama-sama mestinya melakukan hal yang sama, menegakkan rasa nasionalisme dan cinta tanah air. Dalam konteks konservasi di Papua, harapannya semua pegawai pemerintahan dan masyarakat dapat bersama-sama membangun manusia Indonesia seutuhnya tanpa mengorbankan alam yang sedemikian rupa indahnya. Sumber : Dzikry el Han, Balai Besar KSDA Papua
Baca Berita

Patroli Gabungan Ditpolaruid Polda Jateng & Balai TN Karimunjawa

Semarang, 19 Agustus 2018. Kegiatan patroli gabungan menggunakan Kapal Polisi Ix-2008 yang dilakukan Ditpolairud Polda Jateng di Karimunjawa bersama Balai Taman Nasional Karimunjawa dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 7 Agustus 2018 dengan sasaran kapal besar seperti Tugboat dengan tongkangnya dan kapal LCT (Landing Craft Tank) yang berlabuh di sisi barat pulau Karimunjawa dan pulau Kemujan yang berada zona perikanan tradisional Taman Nasional Karimunjawa. Patroli ini dibawah komando Komandan Kapal Polisi Ix-2008 Ditpolairud Polda Jateng bapak Brigadir Polisi Kepala Jemiyo dan Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Karimunjawa bapak Sutris Haryanta, S.H dengan target pemberian peringatan dan informasi kepada nahkoda dan kru kapal besar untuk segera meninggalkan kawasan Taman Nasional Karimunjawa dikarenakan telah memasuki perairan Kawasan Konservasi Taman Nasional Karimunjawa yang merupakan daerah terlarang dan bukan merupakan alur laut serta tempat labuh jangkar bagi kapal kapal besar sesuai Peta Laut tahun 1998 dan Undang Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Untuk rekan-rekan pegawai Taman Nasional Karimunjawa selain memberikan surat peringatan juga melakukan pengecekan Tumbuhan dan Satwa Liar yang dibawa oleh kru kapal sesuai dengan PermenLHK nomor 20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa dilindungi, tidak ditemukan satwa dan tumbuhan dilindungi di kapal. Sedangkan rekan-rekan Ditpolairud Polda Jateng melakukan tugas sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Diketemukan 9 kapal besar yang labuh di zona perikanan tradisional Taman Nasional Karimunjawa yang berada di wilayah Resort Legon Lele dan Resort Telaga. Selengkapnya dapat di klik link sbb : Pantau Kapal Sumber : Kristiawan, PEH Muda SPTN II Karimunjawa - Balai Taman Nasional Karimun Jawa
Baca Berita

Empat Kegiatan Kepala Balai TN Tesso Nilo Dalam Satu Waktu

Pelalawan, 15 Agustus 2018 – Kepala Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) Supartono, S.Hut, M.P. hadiri Penutupan Penyegaran Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Bagan Limau pada Rabu, 15 Agustus 2018. Supartono juga melakukan Shooting video dokumenter bersama TVRI Riau, untuk program Pesona Indonesia dan Penanaman Pohon Dalam Rangka HUT RI Ke 73 di Desa Bagan Limau. Dalam sambutan pada penutupan penyegaran MMP, Supartono menyampaikan bahwa Balai TN.Tesso Nilo sangat serius dalam membesarkan peran MMP sebagai mitra melindungi kawasan TN.Tesso Nilo. Bukti dari keseriusan itu Balai TN.Tesso Nilo telah memenuhi segala kelengkapan dasar dari MMP. Supartono juga menegaskan harapan kepada MMP untuk menjaga nama baik, kehormatan dan kebesaran MMP Bagan Limau. Usai hadiri penutupan penyegaran MMP Bagan Limau, Supartono kunjungi Pembibitan, Hasil Kerajinan Tangan dan Pembangunan Rumah Jamur Tiram yang dilakukan masing - masing Pokja Kelompok Pemuda Konservasi (KPK) Desa Bagan Limau. Selanjutnya beliau berkunjung ke kantor desa Bagan Limau yang disambut Sekdes Bapak Lahmudin Harahap dan Ketua MMP Bali Bapak M. Firdaus. Disana, Supartono diminta untuk memberikan edukasi dan motivasi kepada mahasiswa KKN, Siswa SD dan Pemuda Desa Bagan Limau serta memberikan hadiah kepada anak-anak SD yang bisa menjawab pertanyaan dari beliau. Sesi shooting video dokumenter dengan media nasional TVRI, Supartono menjelaskan bahwa kawasan TNTN sesungguhnya memiliki nilai jual untuk industri ekowista. Ada banyak potensi yang bisa dikelola lebih baik agar memiliki daya saing dipasar wisata, baik Nasional maupun Internasional, selain itu adanya keunikan Gajah Sumatera yang berada di Camp Flying Squad. “Jika anda ingin memahami kekuasaan Allah SWT maka salah satunya dari makhluk yang satu ini (gajah)” ungkap Supartono serius. Terakhir Supartono menanam pohon di areal pasar desa. “Kedatangan saya dan langsung ikut menanam disini bersama masyarakat adalah bukti bahwa BTNTN sangat mendukung niat baik dari masyarakat Bagan Limau. Inilah bentuk nyata masyarakat berbuat dalam mengisi kemerdekaan Negara kita” tutup Supartono. Sumber : Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Berita

Merdeka dari Sampah

Semarang, 19 Agustus 2018. Pulau Katang adalah pulau cantik yang terletak di sebelah barat Pulau Nyamuk, pulau paling barat dari Kepulauan Karimunjawa. Pulau Katang masuk dalam wilayah administratif Desa Nyamuk Kecamatan Karimunjawa Kabupaten Jepara, sedangkan perairan disekitarnya merupakan Zona Pemanfaatan Wisata Bahari Resort Nyamuk SPTNW II Karimunjawa. Pada hari Minggu tanggal 19 Agustus 2018, nampak puluhan pemuda, orang tua, pria dan wanita semuanya adalah warga Desa Nyamuk tengah berjalan menyisir pantai Pulau Katang sembari memungut dan mengumpulkan sampah yang dijumpai. Angin selatan yang cukup kencang tak menyurutkan semangat para warga desa tersebut untuk membersihkan pantainya. Ya, kegiatan itu merupakan kegiatan bersih-bersih pantai di pulau Katang yang diselenggarakan oleh Resort Nyamuk SPTNW II Karimunjawa dan Pemerintah Desa Nyamuk dalam upaya merdeka dari sampah, sekaligus memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-73 dan Hari Konservasi Alam Nasional tahun 2018. Kegiatan tersebut diikuti oleh 30 Pemuda Desa Nyamuk, 5 perwakilan tetua dari masing-masing 4 Rukun Tetangga, 5 Perangkat Desa dibawah pimpinan Plt. Desa Nyamuk Sekdes Lulik Krismanto, Ranger Resort Nyamuk dan Seksi sebanyak 10 petugas. Sehingga lebih dari 65 orang bahu membahu membersihkan pantai Pulau Katang. Kegiatan aksi bersih dilaksanakan mulai dari pukul 08.30 - 11.00 WIB, dengan panjang garis pantai yang dibersihkan sepanjang ± 1.750 meter (keliling pantai di Pulau Katang) dengan cara meyisir pantai sambil mengambil dan mengumpulkan sampah yang dijumpai, sekaligus dipisah sesuai dengan kategori sampah an organik meliputi Plastik, Kaca/beling/botol kaca, Styrofoam, busa, karet dan lain-lain (jaring, besi, seng/kaleng, pampers). Untuk jenis sampah plastik diperoleh hasil seberat 25 kg didominasi oleh botol minuman, botol kaca seberat 14 kg, busa dan karet seberat 33 kg, dan jaring seberat 38 kg. Untuk sampah organik didominasi oleh kayu kering yang terbawa ombak dan serasah kelapa seberat 1 ton lebih. Kegiatan aksi bersih pantai ini merupakan kegiatan pertama kalinya yang di adakan di Desa Nyamuk, acara ini diprakarsai oleh Kepala Resort Nyamuk Bapak Sukir dan Ketua Pemuda Desa Nyamuk Saudara Azis dan didukung penuh oleh para tokoh masyarakat Nyamuk, jajaran perangkat desa Nyamuk dan Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Karimunjawa. Sebagai salah satu bentuk kegiatan untuk membangkitkan kearifan lokal, bagi masyarakat Nyamuk guna menjaga kelestarian alam dan lingkungan hidup. Resik Becik Apik - Alam Lestari, Sedulur Nyamuk Mukti - Merdeka! Sumber : Kristiawan - PEH SPTNW II Karimunjawa - Balai Taman Nasional Karimunjawa
Baca Berita

Balai TN. Taka Bonerate Ikut Gerakan

Pantai Pa'badilang - Kepulauan Selayar, 19 Agustus 2018. Serentak di 73 pantai seluruh Indonesia dilaksanakan bersih-bersih pantai dengan tajuk "Menghadap Ke Laut" (19/8). Di Kepulauan Selayar sendiri, laporan dari panitia ada 26 instansi dan komunitas seperti TNI, Polisi sampai Komunitas Vespa yang turut serta dalam kegiatan ini. Kegiatan bersih pantai ini berlangsung di Pantai Wisata Pa'dilang (sekitar lokasi tenggelamnya kapal KM. Lestari Maju) dengan dua kegiatan utama bersih pantai dan bersih bawah laut. Para pecinta bawah laut Kepulauan Selayar (Diver Peduli Laut) melakukan pembersihan bawah laut di lokasi tenggelamnya kapal KM.Lestari Maju. Tak mau ketinggalan, Balai TN. Taka Bonerate juga mengirimkan Pramuka Saka Wanabakti dan 2 orang Tim selamnya, masing-masing dipimpin Saleh Rahman (PEH) dan Fahmi Syamsuri (POLHUT) bergabung di kegiatan ini. Dengan ombak yang lumayan mendera Tim Diver tetap melaksanakan tugas pembersihan di areal bangkai kapal KM. Lestari Maju. Kegiatan ini diakhiri di Kampung Penyu dengan melepaskan 110 ekor tukik ke habitatnya. Sumber Teks & Foto : Asri - PEH Balai TN. Taka Bonerate
Baca Berita

Tesso Nilo FGD Pemberdayaan Masyarakat Daerah Penyangga

Pelalawan, 14 Agustus 2018 - Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) dalam upaya pemberdayaan masyarakat, bersama para mitra dan tim tenaga ahli dari fakultas kehutanan UGM laksanakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dalam rangka Pembuatan Masterplan Pemberdayaan Masyarakat Daerah Penyangga (PMDP) Taman Nasional Tesso Nilo 2018-2022. FGD dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 14 Agustus 2018 di Ruang Auditorium Kantor Bupati Pelalawan. Dihadiri 40 undangan dari 27 instansi yang diundang, FGD dilaksanakan untuk memaparkan rancangan pembuatan masterplan PMDP kepada mitra, instansi dan pemerintah daerah dengan tujuan penyempurnaan rancangan. Berdasarkani FGD yang dilaksanakan bersama seluruh undangan, Balai TN.Tesso Nilo mengungkapkan delapan (8) desa yang menjadi sasaran pada pembuatan masterplan PMDP diantaranya desa Lubuk Kembang Bunga kab. pelalawan , desa Air Hitam kab. Pelalawan, desa Kesuma kab.Pelalawan, desa Bagan Limau kab. Pelalawan, desa Lubuk Batu Tinggal kab. INHU, desa Rambahan kab. kuantan singingi, desa Situgal kab Kuantan singingi, desa Gunung Melintang kab. Kuansing. "Sudah kita laksanakan pemaparan FGD masterplan pemberdayaan masyarakat daerah penyangga Tn.Tesso Nilo pada hari ini di kantor Bupati Pelalawan. Dalam pemaparannya Balai Tn.Tesso Nilo mengundang 27 instansi sebagai upaya penyempurnaan rancangan dengan menerima masukan dari seluruh pihak. untuk kedepannya semoga berjalan sesuai dengan rancangan yang sudah kita susun" ungkap Kepala Balai bapak Supartono, S.Hut, MP. Sumber : Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Berita

Launching Role Model Ekowisata dan Wisata Popareng Minahasa Selatan

Minahasa Selatan, 18 Agustus 2018. Sembari merayakan gempita Dirgahayu Republik Indonesia ke 73, Balai Taman Nasional Bunaken telah melaunching Role Model Ekowisata Bersama Masyarakat dan Desa Wisata Popareng. Puncak peluncuran dan acara bertempat di Pantai Popareng, yang dikemas dalam Kampanye Kelompok Cahaya Tatapaan sebagai kelompok mitra Taman Nasional Bunaken yang mengembangkan ekowisata di zona tradisional. Beberapa agenda kegiatan seperti pemberian bantuan kepada kelompok Cahaya Tatapaan dalam bentuk motor katinting dari Balai Taman Nasional Bunaken dan Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Provinsi Sulawesi Utara, pemberian bantuan bibit tanaman buah-buahan dari Lantamal VIII, peralatan tangkap jaring ikan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Minahasa Selatan serta penyerahan Surat Keputusan Bupati Minahasa Selatan Nomor 37 Tahun 2017 tanggal 3 Juli 2017 tentang penetapan Desa Wisata dari Dinas Pariwisata Kabupaten Minahasa Selatan ke Pemerintah Desa Popareng. Dalam kegiatan launching tema yang diangkat adalah "Harmonisasi Alam dan Budaya sebagai rangkaian Hari Konservasi Alam Nasional (road to HKAN) serta memperingati Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia ke 73. Obyek wisata di Desa Popareng antara lain wisata menyusuri mangrove, wisata snorkelling dan diving, pengamatan burung (birdwatching), wisata budaya batu tada, batu tumanik, waruga serta ketersediaan homestay pada rumah-rumah penduduk yang bertarif Rp. 300.000 per malam. Adapun jasa yang tersedia layanan mengantarkan wisatawan dengan perahu katinting dan masakan tradisional. Bupati Minahasa Selatan dalam sambutannya yang disampaikan oleh Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Minahasa Selatan, mengapresiasi dan ucapan terima kasih kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia melalui Balai Taman Nasional Bunaken bersama Lantamal VIII, Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Prov. Sulawesi Utara dalam upaya mewujudkan Desa Popareng sebagai Role Model. Kiranya akan memberikan dampak nyata bagi pembangunan daerah yang berbasis lingkungan serta berbudaya dan berkepribadian. Ekowisata adalah salah satu kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial budaya ekonomi masyarakat lokal, serta aspek pembelajaran dan pendidikan. Menutup sambutan Bupati Minahasa Selatan menyampaikan 8 hal yang harus diperhatikan untuk mewujudkan ekowisata, yaitu Meminimalkan dampak fisik, sosial, perilaku, psikologis; Membanguna kesadaran lingkungan budaya dan rasa hormat; Memberikan pengalaman positif bagi pengunjung dan tuan rumah; Memberikan manfaat keuangan langsung bagi konservasi atau pelestarian lingkungan; Menghasilkan keuntungan finansial bagi masyarakat lokal; Memberikan pengalaman interpretatif yang mengesankan bagi pengunjung untuk meningkatkan sensitivitas terhadap iklim politik, lingkungan, sosial tempat tujuan wisata; Membangun, mengoperasikan fasilitas atau Insfrastruktur dengan meminimalkan dampak lingkungan, serta Mengakui hak-hak, keyakinan spiritual komunitas adat dan memberdayakannya. Dr. Farianna Prabandari, S.Hut, M.Si Kepala Balai Taman Nasional Bunaken dalam sambutannya menyampaikan Launching Role Model Ekowisata Bersama Masyarakat dan Desa Wisata Popareng guna memacu kesiapan kelompok Cahaya Tatapaan dan Desa Popareng dalam mengembangkan ekowisata. Bulan April 2018, kami telah menyampaikan pembelajaran penting dalam menggerakan komunitas, khususnya Desa Popareng dalam pertemuan BIMP-EAGA di Kinabalu Malaysia. Harapan kami terhadap Pemerintah Desa utamanya dapat mendorong serta memanfaatkan potensi-potensi yang ada. Dalam rangka menyiapkan role model ekowisata bersama masyarakat kami telah menguatkan kapasitas kelembagaan kelompok masyarakat melalui pendampingan intensif, pengembangan ekonomi kreatif, promosi usaha dan produk serta mengkomunikasikan pada berbagai pihak dalam pengembangan ekowisata, tutur Farianna. Acara launching dihadiri berbagai perwakilan dari Pemerintah dan masyarakat, Aspotmar Lantamal VIII, Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Provinsi Sulawesi Utara, Dinas Pariwisata Kabupaten Minahasa Selatan, Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Minahasa Selatan, Camat Tatapaan serta Hukum Tua Popareng selaku tuan Rumah acara serta Tokoh agama. Menandai Launching Role Model para pihak melepaskan burung dara secara bersama-sama . Dalam kegiatan tersebut disempatkan mengunjungi homestay yang ada di Popareng serta dilaksanakan beberapa perlombaan seperti lomba memasak ibu-ibu, panjat batang pisang, dan menggambar untuk anak SD, serta menampilkan produk-produk lokal masyarakat seperti bakso ikan, keripik dan abon ikan. Sumber : Eko Wahyu Handoyo, S.Hut - PEH Balai Taman Nasional Bunaken
Baca Berita

Penyegaran Masyarakat Mitra Polhut

Pelalawan, 13 – 16 Agustus 2018 – Balai Taman Nasional Tesso Nilo telah laksakan penyegaran untuk Masyarakat Mitra Polhut (MMP) selama tiga hari penuh dimulai pada tanggal 13 s.d 16 Agustus 2018 di kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Lubuk Kembang Bunga (LKB) di Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan. Dari keterangan Ketua Panitia Asari, S.Hut, penyegaran dilaksanakan untuk mengingatkan kembali ilmu yang telah di berikan dan meng “upgrade” ilmu anggota MMP sebagai peningkatan peran dan partisipasi masyarakat dalam upaya perlindungan dan pengamanan hutan, khususnya kawasan TN.Tesso Nilo. Penyegaran diikuti 30 orang anggota MMP diantaranya 10 orang dari Desa Lubuk Kembang Bunga, 10 orang dari Desa Air Hitam, dan 10 orang dari Desa Bagan Limau. Penyegaran diberikan dengan menggunakan metode pendidikan in door dan Out door “Diharapkan kelompok masyarakat mitra Polhut dari tiga desa yang sudah dibentuk dan telah melaksanakan penyegaran MMP menjadi masyarakat yang dapat memainkan perannya dalam mendukung dan membantu pemerintah khususnya pengelola kawasan TN.Tesso Nilo untuk secara bersama dan aktif dalam pelaksanaan perlindungan dan pengamanan kawasan hutan, khususnya kawasan TN.Tesso Nilo” Ungkap Ketua panitia Asari, S.Hut. Sumber : Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Berita

Komunitas Murai Banyuwangi Sambut Baik Permenlhk No. 20

Banyuwangi, 18 Agustus 2018. Silaturahmi dan Sosialisasi terkait PermenLHK No.20 /2018 kepada Komunitas Murai Banyuwangi (KMB) dilakukan Balai Besar KSDA Jawa Timur pada Sabtu tanggal 18 Agustus 2018. Pertanyaan - pertanyaan yang ditampung mayoritas bagaimana nasib dan status satwa burung yang dimiliki setelah adanya Permenlhk tersebut. Bagaimana ijin untuk memiliki, adanya aturan baru apakah memberatkan, bagaimana jika akan memperniagakannya, bagaimana jika satwa mati dan sebagainya. Untuk mengakomodir berbagai pertanyaan terkait Permenlhk Nomor 20, maka terbitlah Surat Edaran (SE) Dirjen KSDAE No.9/2018, semua pertanyaan yang disampaikan anggota komunitas telah terjawab seperti langkah - langkah apa yang harus dilakukan. Kekhawatiran para komunitas burung akibat diundangkannya aturan baru seketika musnah setelah tim menyampaikan langkah - langkah sebagai jalan keluar yang sesuai dengan Surat Edaran Dirjen KSDAE No.9/2018 tentang Petunjuk Pelaksanaan Permenlhk No.20/2018. Komunitas Murai Banyuwangi menyambut baik Permenlhk no 20 /2018 dan patut dijadikan contoh oleh komunitas pecinta satwa lain. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Tak Sekedar Karnaval

Selo, 18 Agustus 2018. Kecamatan Selo mengadakan karnaval sebagai rangkaian kegiatan memperingati hari kemerdekaan RI ke-73. Setiap dukuh dan desa di Kecamatan Selo mengirimkan perwakilan yang mengusung sebuah tema menarik seperti kemerdekaan, pahlawan, dll guna mengikuti iring-iringan karnaval. Dari sekian banyak perwakilan yang mengikuti karnaval terdapat 2 dukuh yang cukup mencolok karena mengusung tema yang unik. Perwakilan dari Dukuh Plalangan, Desa Lencoh mengusung tema “dampak penebangan liar” dan dari Desa Tarubatang mengusung tema “raksasa perusak alam”. Iring-iringan pohon yang berukuran super besar langsung menarik perhatian setiap pengunjung karnaval, dikelilingi para pencuri dan penebang pohon lengkap dengan chainsaw dan kapak menggambarkan adanya penebangan liar dan pencuriankayu. Selanjutnya terdapat iring-iringan masyarakat yang menderita akibat dampak dari penebangan. Diakhir rombongan terdapat berbagai elemen masyarakat yang bersatu-padu guna memberantas penebangan liar dan mengembalikan kelestarian hutan. Yang cukup menarik adalah ikut berpartisipasinya“mantan pelaku penebang liar” yang saat ini justru menjad iaktivis yang memberikan penyuluhan untuk tidak menebang dan mencuri kayu. Model berupa raksasa yang berukuran super besar dan seorang pangeran yang diperankan seorang anak kecil yang lucu membuat penonton karnaval antusias. Ditambah anak kecil tersebut diarak menaiki kuda buatan yang dibuat dengan baik. Inilah wujud partisipasi sekaligus ajakan dari warga Tarubatang pada semua warga Kecamatan Selo untuk bersama menjaga dan melestarikan alam. Tidak hanya menarik, kreatif dan jenaka tetapi juga mendidik. Itulah yang dirasakan pengunjung karnaval, melihat iring-iringan perwakilan dari kedua desa tersebut. Mengisi kemerdekaan diwujudkan dengan mengajak semua orang menjaga hutan dan lingkungan dengan cara yang unik dan kreatif. Bapak Ahmadi selaku perwakilan dari Balai Taman Nasional Gunung Merapi yang menghadiri karnaval menyempatan diri untuk berbincang danberfoto bersama perwakilan kedua desa tersebut. Bapak Ahmadi berpendapat “Hal ini perlu diapresiasi dan disebarluaskan guna menularkan semangat mereka kepada pihak-pihak lain”. Salut untuk kedua desa tersebut tutup Ahmadi. Sumber : Wahid Adi Wibowo - Balai Taman Nasional Gunung Merapi

Menampilkan 7.185–7.200 dari 11.140 publikasi