Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Kemana Perangkap Milik BKSDA Jambi ?

Sarolangun, 23 Agustus 2018. Anggota Resort melaporkan pada Kepala Seksi SKW I bahwa ada perangkap harimau dan beruang yang telah dipasang sejak tahun 2015 di Desa Pulau Salak Baru dan Desa Muara Air Dua sebanyak 2 unit dinyatakan hilang. Pemasangan perangkap tersebut dilakukan karena adanya pengaduan dari masyarakat sekitar tentang harimau dan beruang yang masuk ke dalam perkampungan dan mengganggu masyarakat. Untuk menenangkan masyarakat saat itu, SKW I turun ke lapangan untuk melakukan pengusiran dan penangkapan satwa tersebut dengan memasang perangkap di kedua desa. Saat tim berkunjung ke kedua desa tersebut, satwa yang dimaksud sudah tidak berada disitu dan bahkan jejaknya pun tidak ditemukan. Karena kondisi yang sudah kondusif saat itu, tim memutuskan untuk pulang ke kantor SKW I namun perangkap dibiarkan tetap dipasang karena warga masih khawatir apabila satwa tersebut sewaktu waktu kembali. Awal Agustus 2018, perangkap dinyatakan hilang lalu tim dari SKW I bersama seorang anggota DAOPS Sarolangun turun ke lapangan untuk mengecek lokasi perangkap. Setelah tiba, tim tidak menemukan perangkap yang seharus nya berada di tempat. Tim mencoba mencari informasi dan menemukan bahwa perangkap telah disimpan oleh masing masing perangkat desa di gudang desa masing masing. Perangkap yang berada di Desa Muara Air Dua telah diambil, namun untuk perangkap yang ada di Desa Pulau Salak Baru akan diambil diminggu terakhir Agustus 2018. Kepala SKW I BKSDA Jambi, Udin Ikhwanuddin menyatakan “Alhamdulillah perangkap sudah kami temukan kembali berdasarkan informasi yang kami dapatkan dari kedua desa. Untuk perangkap yang dari Desa Muara Air Dua sudah kami amankan saat ini, perangkap di Desa Pulau Salak Baru akan menyusul.” Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Pawai 73 Balai TN Matalawa di Sumba Barat

Waingapu, 20 Juli 2018. Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke 73 Republik Indonesia di Kabupaten Sumba Barat disemarakkan dengan adanya pawai kemerdekaan dari seluruh elemen masyarakat. Berbagai macam unit kerja, suku, golongan, organisasi kemasyarakatan, dan peminatan olahraga turut ambil bagian dalam perayaan ini. Tak ketinggalan, Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) melalui Kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I turut ambil bagian dalam kegiatan ini. Kehadiran TN Matalawa dalam iring-iringan pawai cukup menyita perhatian masyarakat karena hiasan burung kakatua dan tunggak terbakar pada 2 mobil yang cukup atraktif. Tak ayal, banyak masyarakat yang bertanya lebih jauh tentang seluk beluk TN Matalawa selama perjalanan. Selain menjawab secara lisan, materi-materi promosi berupa leaflet, buku, dan sticker juga diberikan kepada masyarakat. Selama lebih dari 2 jam peserta pawai berjalan kaki menuju gelanggang olahraga Kabupaten Sumba Barat untuk akhirnya diterima oleh Bupati Sumba Barat beserta seluruh pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Bupati berpesan kepada seluruh peserta pawai agar terus menjaga kerukunan dan persatuan sehingga tercapai kemakmuran bersama di Kabupaten Sumba Barat (dpn/mtlw). Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti
Baca Berita

Berjibaku Amankan Rimba dari Amukan Si Jago Merah

Karimunjawa, 23 Agustus 2018. Siang hari di tanggal 22 Agustus 2018 bersamaan dengan perayaan Idul Qurban di Karimunjawa, para Ranger Taman Nasional Karimunjawa (TNKj)dikejutkan oleh keributan warga yang melihat asap membumbung tinggi di sisi timur Karimunjawa arah Kapuran - Legon Lele. Dengan sigap, Bapak Amin Irsyad segera mengumpulkan para Ranger serta dengan persiapan pakaian lapangan dan golok segera bergegas menuju lokasi sumber asap. Pak Amin khawatir telah terjadi kebakaran lahan yang pasti akan mengancam ke arah kawasan Zona Rimba Taman Nasional Karimunjawa Resort Legon Lele Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Karimunjawa. Ternyata telah terjadi kebakaran lahan, diperkirakan lokasi berjarak 250 meter dari kawasan tepatnya dari pal batas TN. 237, lokasi di sekitar titik koordinat S 05°52'35,0" dan E 110°26' 32,4". Diperkirakan api membesar mulai pukul 14.00 WIB (22/8). Bersama dengan 6 Ranger TNKj, 3 personil Koramil, Polsek Karimunjawa, BPBD SAR Karimunjawa dan 4 warga Karimunjawa, dengan menggunakan peralatan golok dan gepyok segera dilakukan pembersihan areal di sekitar titik api untuk melokalisir api agar tidak meluas ke arah kawasan. Kebakaran diduga disebabkan aktifitas pembukaan lahan oleh warga dengan cara di babat lalu di bakar, api menjadi semakin menjadi tidak terkendali karena kencangnya angin timur. Sehingga pelaku melarikan diri dengan meninggalkan barang bukti satu buah kapak, satu buah batu asahan dan 2 botol air mineral di lokasi kejadian, selanjutnya barang bukti tersebut di amankan di kantor SPTN Wilayah Karimunjawa. Pada pukul 17.20 WIB api berhasil di lokalisir dan padam. Kemudian malam harinya di pantau oleh Pak Kanan masih terlihat beberapa titik bara api yang terlihat membara di kegelapan. Selanjutnya akan di adakan mooping up dengan menggunakan jet shooter oleh para Ranger bersama dengan dinas instansi terkait (23/8). Pusdalops BPBD SAR Jepara, Dinas Perhubungan Jepara, Kecamatan Karimunjawa, Polsek Karimunjawa dan Radar Kudus telah menghubungi Kepala SPTN Wilayah II Karimunjawa untuk klarifikasi kejadian tersebut. Sumber : Amin Irsyad, photo & videographer by Hary S, foto drone by Kecamatan Karimunjawa, mapgrapher Sobirin
Baca Berita

BBKSDA Jatim Ajak Kicau Mania Pendataan Satwa Online

Bojonegoro, 22 Agustus 2018. Hari Selasa tanggal 21 Agustus 2018 bertempat di ruang rapat Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bojonegoro telah diadakan rapat koordinasi sebagai tindak lanjut dari aksi damai penolakan PermenLHK No 20 tahun 2018 tanggal 14 Agustus 2018. Rapat koordinasi dipimpin Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bojonegoro Dra.Nurul Azizah, MM, dihadiri Seksi Konservasi Wilayah (SKW) 2 Bojonegoro, Perwakilan Polres Bojonegoro dan perwakilan paguyuban Kicaumania Kabupaten Bojonegoro. Pihak paguyuban Kicaumania kabupaten Bojonegoro merasa dirugikan dengan terbitnya Permen LHK No 20 tahun 2018 dan mengharapkan permen tersebut dicabut/direvisi, utamanya jika untuk mengurus Surat Angkut Tumbuhan dan Satwa Liar Dalam Negeri (SATS DN) karena dianggap rumit dan menghambat perekonomian. Balai Besar KSDA Jawa Timur menyatakan bahwa pemilik satwa diharapkan melakukan pendataan secara online di www.bbksdajatim.org sub menu pendataan Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) dan dapat didaftarkan secara manual ke kantor Seksi Konservasi Wilayah 2 Bojonegoro. Sumber : Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur
Baca Berita

Peran

Kuningan, 22 Agustus 2018. Jalur pendakian gunung Ciremai mempunyai tantangan tersendiri baik medan dan kondisi alamnya. Dibalik keindahan sepanjang jalur dan sensasi panorama, puncak gunung tertinggi di Jawa Barat ini membuat semua orang ingin menaklukannya. Ada beberapa ancaman bahaya yang perlu diwaspadai pada saat melakukan pendakian diantaranya tersesat, terkilir, hyportemia, dan dehidrasi. Di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) ada bagian dari Mitra pendakian Gunung Ciremai (MPGC) yang menamakan dirinya "Ranger". Ranger sendiri beranggotakan masyarakat sekitar kawasan yang dulunya berprofesi penggarap lahan, pemburu dan aktivitas lainnya dalam kawasan hutan. Sedangkan tugas utama dari Ranger adalah sebagai Tim SAR sekaligus pengawasan dari setiap pos yang lalui para pendaki. Suka dan duka dari profesi Ranger begitu banyak. Menurut Saei'n, Ranger Apuy, "Kami sedih apabila ada pendaki yang kena musibah akibat kelalaian tidak mengindahkan peraturan dan lebih sedih lagi apabila para pendaki membuang sampah sembarangan. Jadi tugas kami juga mengingatkan para pendaki untuk tidak membuang sampah sembarangan. Kalau ada sampah di jalur kami juga kumpulin untuk diamankan". Sedangkan sukanya apabila kami berhasil mengevakuasi pendaki dengan selamat yang kena musibah. "Walaupun kami harus menggendong ataupun menandu sampai pos satu, tapi lebih senang lagi para pendaki turun dengan selamat dan puas dengan jalur pendakian" pungkasnya. Saat ini jumlah anggota komunitas Ranger di Pendakian Gunung Ciremai berjumlah 35 orang tersebar di empat jalur pendakian. Selain sebagai tim SAR, Ranger juga berperan sebagai porter maupun guide bagi para pendaki. Balai TNGC sebagai Unit Pelaksana Teknis pengelola kawasan TNGC selalu berusaha untuk meningkatkan kapasitas para mitra pengelola. Salah satunya dengan mengadakan pelatihan SAR dasar dan lanjutan bagi mereka yang telah dilaksanakan pada tahun lalu. [teks © Agus Yudantara, foto © BTNGC | 082018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Bibit Pala Untuk MTD di Hari Kemerdekaan RI

Sofifi, 21 Agustus 2018. Sebanyak 135 anakan Pala dan 125 anakan cengkeh dari BPDASHL Ake Malamo telah diserahkan kepada Masyarakat Tobelo Dalam (MTD) yang telah bermukim di Dusun Titipa, Halmahera Timur oleh Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah III Subaim, Junesly F. Lilipory. Penyerahan bibit tersebut dilakukan setelah upacara bendera dan pelepasliaran burung paruh bengkok (19/08). Kegiatan ini juga termasuk dalam rangkaian kegiatan HKAN Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL). Masyarakat tersebut tampak senang menerima bibit yang nantinya akan menjadi salah satu sumber ekonomi keluarga. Mereka mengucapkan terimakasih kepada Balai TNAL yang telah memberikan bibit-bibit tersebut dan akan segera memindahkan ke lahan kebun mereka. “Semoga mereka (MTD) mendapatkan manfaat dari bantuan bibit produktif bagi lahan-lahan mereka”, kata Junesly F. Lilipory. “Mereka berharap TNAL dapat memberikan bibit-bibit tersebut lebih banyak lagi, namun akan dilakukan setelah kita evaluasi pertumbuhan bibit pala dan cengkeh yang telah mereka dapatkan”, imbuhnya. Oleh : Akhmad David Kurnia Putra - Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Mengelola Taman Sorga Bersama Masyarakat Adat Di Tanah Papua

Pasir 6, 20 Agustus 2018. Dalam suatu wawancara antara Infis dengan Kepala Balai Besar KSDA Papua Ir. Timbul Batubara, M. Si, Saat ini BBKSDA Papua mengelola 19 Kawasan Konservasi dengan luas keseluruhan yaitu 4,1jt hektar yang terdiri dari 8 Cagar Alam, 7 Suaka Margasatwa, 3 Taman Wisata Alam, dan 1 KSA (kawasan belum penetapan). Luasan tersebut sangat tidak sebanding dengan jumlah pegawai pada BBKSDA Papua yg hanya sebanyak 97 orang PNS dan 40 tenaga kontrak. Maka 1 orang mengelola kawasan seluas 30 ribu hektar. Pada acara tersebut hadir pula Kepala Dewan Adat Suku Imbi Numbay, Bapak Daniel Toto. Ir. Timbul Batubara, M.Si juga mengatakan bahwa sumber daya alam adalah milik bersama, sehingga semua pihak termasuk masyarakat harus ikut andil dalam upaya pelestariannya. Dalam pengelolaan konservasi perlu menerapkan keseimbangan antara perlindungan alam dan budaya agar terciptanya keharmonisan. Masyarakat sudah menerapkan konservasi dari jaman dahulu yang dikenal dengan kearifan lokalnya, dalam hal ini terkait dengan aturan-aturan adat yang sangat kental dengan nuansa budaya (culture) dan alam (nature). Lebih lanjut Beliau mengatakan bahwa dalam pengelolaan kawasan konservasi, masyarakat bukan sebagai objek melainkan sebagai subjek sehingga masyarakat dapat terlibat langsung dalam mengelola lingkungannya sendiri dan juga berperan dalam peningkatan perekonomian untuk menunjang kehidupannya (di daerah penyangga CA). Salah satu peran masyarakat terlibat secara langsung dalam pengelolaan kawasan adalah melalui pengembangan ekowisata. Dimana saat ini akan dikembangkan ekowisata diantaranya 3 lokasi di daerah penyangga CA. Cycloop dan 1 lokasi di Taman Wisata Alam (TaWA) Teluk Youtefa yaitu : Disisi lain Bapak Daniel Toto juga menyampaikan bahwa rencana pengembangan ekowisata di kawasan penyangga CA. Peg Cycloop merupakan perencanaan yang baik dan tepat karena kawasan penyangga CA. Cycloop mempunyai potensi wisata alam yang tidak kalah menariknya dengan daerah lainnya. Rencana ini harus didukung oleh semua pihak karena akan berdampak pada kelestarian CA. Peg Cycloop yang mana masyarakat turut serta dalam pengelolaan dan menjaganya. Pengelolaan yang berbasis masyarakat adat akan membantu dalam hal peningkatan perekonomian masyarakat di sekitar kawasan karena eksistensi dan pemanfaatannya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Sumber : Balai Besar KSDA Papua
Baca Berita

Call Center BBKSDA Sumut Selamatkan Kukang di Pemukiman

Langkat, 20 Agustus 2018. Call Center Balai Besar KSDA Sumatera Utara (085376699066) menerima laporan dari warga masyarakat, Samsul Bahri, tentang keberadaan 1 (satu) individu kukang (Nycticebus coucang) di pemukiman pada Kamis, 26 Juli 2018. Lebih detailnya disampaikan bahwa kukang tersebut berada di halaman rumahnya di Pasar 3 Tanjung Beringin Langkat. Petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDA Sumut) melalui Bidang Teknis bergerak cepat ke lokasi yang diinfokan sebagai respon cepat adanya laporan Call Center. Setibanya di lokasi, benar ditemukan 1 (satu) individu kukang dalam keadaan hidup dan masih kelihatan sehat. Petugas langsung mengevakuasi kukang tersebut dan selanjutnya dititipkan ke Pusat Rehabilitasi Kukang Indonesia Indonesia Species Conservation Program (ISCP) di Sibolangit untuk mendapat pengecekan kesehatan dan perawatan lebih lanjut. Kukang ini nantinya akan dirawat dan direhabilitasi. Setelah itu akan dilepasliarkan ke habitat alaminya setelah dinyatakan layak oleh Tim Medis. Kedepan Balai Besar KSDA Sumatera Utara mengharapkan partisipasi aktif masyarakat untuk melapor ke call center terkait adanya satwa liar yang ke luar habitatnya untuk memudahkan proses evakuasi sehingga upaya mencegah konflik manusia dengan satwa liar dapat dilaksanakan secara lebih cepat dan tepat, guna meminimalisir kerugian baik pada manusia maupun pada satwa itu sendiri. Peran serta masyarakat ini sangat membantu upaya perlindungan dan pelestarian satwa liar khususnya di Provinsi Sumatera Utara. Sumber : Balai Besar Konservasi Sumber Daya Sumatera Utara
Baca Berita

Menjaga Hijaunya TWA Punti Kayu, Balai KSDA Sumatera Selatan Membangun Persemaian

Palembang, 20 Agustus 2018. Kawasan Konservasi TWA Punti dengan luas 50 ha, merupakan Hutan Tropis Dataran Rendah dengan vegetasi dominan Dipterocarpaceae dan Pinus mercusii yang sudah berumur tua. Permudaan yang cukup lama megakibatkan kondisi vegetasi dalam keadaan kritis. Hal ini memberikan tantangan yang cukup berat dan memerlukan sumber daya yang sangat besar untuk dapat memulihkannya kembali melalui upaya rehabilitasi. Metode rehabilitasi hutan tropis dataran rendah baik melalui reforestasi maupun pengayaan, memerlukan ketersediaan bibit yang cukup banyak dan sesuai dengan kondisi areal setempat serta memiliki kualitas yang bagus sehingga rehabilitasi berhasil ke depannya. Persemaian merupakan tempat atau areal untuk kegiatan memproses benih atau bagian tanaman lain menjadi bibit siap ditanam ke lapangan. Benih yang baik apabila diproses dengan teknik persemaian yang baik akan menghasilkan bibit yang baik pula, begitu sebaliknya. Bibit yang berkualitas dalam jumlah yang cukup dan tepat waktu akan diperoleh apabila teknik persemaian yang dilakukan sesuai dengan prosedur yang sudah baku. Untuk itu, pengadaan bibit yang dapat memenuhi persyaratan baik dari aspek teknis seperti jumlah, kesesuaian dan keragaman jenis maupun kualitasnya, merupakan tahapan yang sangat menentukan atas keberhasilan program rehabilitasi. Sehingga untuk itu, dalam program rehabilitasi Hutan Dataran Rendah di TWA Punti Kayu, Balai KSDA Sumatera Selatan melakukan persemaian tanaman hutan dataran rendah. Maksud dan Tujuan pembuatan persemaian di TWA Punti Kayu ini adalah untuk mendukung pelaksanaan rehabilitasi Hutan dataran rendah yang dapat memberikan manfaat langsung terhadap penyediaan bibit dalam rangka rehabilitasi TWA Punti Kayu. Dalam persemaian yang telah dibentuk oleh Balai KSDA Sumatera Selatan terdapat beberapa jenis tanaman yaitu Pulai, Bambang, Sirsak, Jelutung, Meranti, Salam, Gaharu dan Nyamplung. Pengadaan bibit ini berasal dari cabutan di TWA Punti Kayu, Persemaian BPTH Wilayah Sumatera di Sukomoro dan Persemaian di Indralaya. Dengan adanya persemaian ini diharapkan ketersediaan bibit dalam rangka rehabilitasi TWA Punti Kayu dapat terpenuhi dan Hutan TWA Punti Kayu tetap mampu memberikan kesegaran di tengah Kota Palembang. Sumber : Taufan Kharis, Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Direktur KKH di HKAN Balai TN Aketajawe Lolobata

Sofifi, 20 Agustus 2018. Disambut dengan nyanyian burung-burung, hari terakhir rangkaian acara Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) terasa lebih spesial karena turut hadir Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati, Indra Eksploitasia. Staf ahli Bupati Halmahera Timur yang mewakili Plt. Bupati, perwakilan TNI, Polri dan tentu saja Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Halmahera Timur juga hadir dalam acara yang telah berlangsung selama dua hari tersebut. Agenda terakhir HKAN Balai TNAL yaitu pelepasan burung paruh bengkok, penanaman, pemutaran perdana lagu TNAL dan pelepasan peserta Ekspedisi Taman Nasional Aketajawe Lolobata tahun 2018.(17/8) Dalam sambutannya, Staf Ahli Bupati Halmahera Timur, Harun Fabanyo, menyatakan apresiasi dan dukungannya terhadap kegiatan yang telah digagas oleh Balai TNAL ini. Beliau juga menuturkan bahwa saat ini pemerintah daerah Halmahera Timur sedang melakukan peningkatan keterampilan dan pembinaan terhadap bibit-bibit muda Halmahera Timur, salah satunya adalah dengan kegiatan kemah seperti ini. “Mungkin lokasi ini dapat dipertimbangkan menjadi lokasi kemah di Halmahera Timur”, kata Harun Fabanyo. Direktur KKH juga menyatakan apresiasi terhadap kegiatan ini, dimana bisa melibatkan banyak pihak terutama masyarakat sekitar. Acara selanjutnya adalah pelepasliaran burung paruh bengkok. Burung yang dilepasliarkan sebanyak 23 ekor yang terdiri dari Kakatua Putih, Kasturi Ternate dan Nuri Kalung Ungu. Sebagian dari burung tersebut merupakan penyerahan dari SKW I Ternate, Balai KSDA Maluku. Sebelumnya, burung tersebut telah ditempatkan di kandang habituasi yang sudah dibuat di lokasi pelepasliaran beberapa hari yang lalu. Hal ini dimaksudkan agar burung-burung endemik ini dapat menyesuaikan diri terhadap lokasi pelepasliaran. Pelepasan peserta ekspedisi ditandai dengan penyematan tanda peserta oleh Direktur KKH, Kepala Balai TNAL dan Staf Ahli Bupati Halmahera Timur kepada perwakilan peserta ekspedisi. Acara terakhir adalah pemutaran perdana lagu resmi Taman Nasional Aketajawe Lolobata yang dibuat oleh komunitas lokal Ternate,Timur Jauh. Seluruh peserta termasuk para undangan dengan mudah menghafal bagian reff lagu yang sedang dibuatkan video klipnya ini. “Saya sangat senang dan mengapresiasi usaha kreatif Balai TNAL. Dan saya akan mengajak pencipa lagu ini (Timur Jauh) ke Jakarta untuk membuatkan lagu di KKH”, apresiasi Indra Eksploitasia. “Kegiatan beginilah yang seharusnya kita lakukan, kegiatan langsung dikawasan dan mengajak masyarakat agar kita lebih menjiwai rasa konservasi seperti pesan Dirjen KSDAE”, kata Wahyudi, Kepala Balai TNAL. “Dan kegiatan ini sukses karena kerja keras teman-teman (Balai TNAL) yang selalu kerja sama dan kompak”, tutupnya. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra, Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Wisata Ekoling MTs Miftahussalam Medan ke TWA Sibolangit

Sibolangit, 20 Agustus 2018. Masih dalam suasana Peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) Tahun 2018 serta Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 73, kembali Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit dikunjungi 161 orang siswa/siswi Sekolah MTs Miftahussalam Medan didampingi 13 guru pembimbing pada hari Sabtu 18 Agustus 2018. Rombongan dipimpin langsung Kepala Sekolah Miftahussalam Medan Ibu Ruhama, S.Pd.I dan Ketua rombongan sekaligus Guru Romi Aswandi Sinaga. Ruhama, S.Pd.I menjelaskan bahwa kegiatan kunjungan TWA Sibolangit adalah dalam rangka wisata sambil belajar tentang Pengelompokan Jenis-jenis Tumbuhan Monokotil atau Dikotil. Diharapkan dengan kegiatan pembelajaran ini siswa/siswi dapat lebih mengenal tumbuhan monokotil dan dikotil melalui praktek langsung dilapangan (TWA. Sibolangit) Kegiatan yang berlangsung selama 2 (dua) jam, dimulai dari pukul 09.30 dan berakhir pada pukul 11.30 wib, mendapat sambutan dan respon yang baik dari seluruh peserta siswa/siswi MTs Miftahussalam Medan. Proses pembelajaran dengan praktek langsung dilapangan menyenangkan bagi peserta. Di lapangan peserta didampingi oleh 6 Petugas Resort CA/TWA Sibolangit, masing-masing Zakia Sheila Paradilla S.KH, Drh Tia Zalia Btb, Musim Ketaren, Mastria Ivit Jawak, Sangap, Samuel Siahaan, SP. Diakhir kegiatan Kepala Resort Konservasi Wilayah CA/TWA Sibolangit, Samuel Siahaan, SP mewakili Balai Besar KSDA Sumatera Utara, menyerahkan berbagai bahan/materi informasi berupa : Buletin Beo Nias, Buku tentang konservasi, Booklet, DVD Kawasan TWA Sibolangit dan Stiker. Pada kesempatan itu Kepala Resort juga mempersilahkan para Siswa yang ingin berkunjung kembali ke TWA Sibolangit untuk belajar lebih dalam lagi tentang potensi keanekaragaman hayati di kawasan TWA Sibolangit. Saat berbincang dengan Kepala Sekolah MTs Miftahussalam Medan, Kepala Resort CA/TWA Sibolangit mensosialisasikan Program Pendidikan dan Penyuluhan KSDA yang sedang dikembangkan di TWA Sibolangit sebagai bagian dari Dokumen Pelaksanaan Role Model BBKSDASU Tahun 2018 ini. “Keberlanjutan Role model Pengembangan TWA Sibolangit untuk Edukasi Konservasi dan Lingkungan (EKOLING) sangat diperlukan kerjasama dengan para stakeholder. Kerjasama itu dimulai dari tingkatan Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas,” ujar Samuel Siahaan. Pada akhir Acara Kepala Sekolah MTs Miftahussalam Medan berharap segera terjalin kerjasama dan segera mungkin tim Balai Besar KSDA Sumatera Utara datang berkunjung kesekolah MTs Miftahussalam Medan dan pihak sekolah siap menfasilitasinya. Sumber : Samuel Siahaan - PEH Pertama Balai Besar KSDA Sumut
Baca Berita

Tingkatkan Kewaspadaan Selama Asian Games, BBTN Bromo Tengger Semeru Cek Senpi

Malang, 20 Agustus 2018. Balai Besar Taman Nasional Bromo Tenger Semeru (TNBTS) melakukan pengecekan fisik senjata sebagai bentuk partisipasi pengamanan gelaran Asian Games. Sebanyak 4 orang Anggota Satuan Intelkam Polres Malang Kota dipimpin oleh Kasat Intelkam Resort Malang kota AKP H Triyono Susanto S.Pd melakukan kegiatan rutin pengecekan fisik senjata di Kantor Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS Kota Malang). Kasub Bagian Umum TN Bromo Tengger Semeru Sumarsono menyampaikan bahwa pemeriksaan fisik senjata oleh Satintelkam Polres Malang Kota merupakan kegiatan rutin yang di lakukan setiap tahun untuk mengecek kondisi dan jumlah fisik senjata api yang ada di TNBTS, tetapi tahun ini lebih istimewa karena bersamaan dengan gelaran Asian Games, sebagai bentuk partisipasi pengamanan di Kawasan TNBTS sekaligus dalam rangka Pengawasan, Pengendalian, Pengamanan dan pembinaan penggunaan bahan senjata api dan peledak yang ada di wilayah hukum Polres Malang Kota kepada institusi yang diberi kewenangan menggunakan senjata berdasarkan undang-undang yang berlaku. Sementara itu Kasat Polhut TNBTS RM Agus Setya Basuki menyampaikan bahwa jumlah senjata yang ada di TNBTS berjumlah 19 pucuk terdiri dari 15 Puncuk senjata jenis PM1A1 kaliber 32 dan 4 pucuk Senjata Kaliber 7.65 jenis Czeska Brojovska. Senjata-senjata tersebut di gunakan oleh Polhut dan Pejabat yang diberi wewenang untuk menggunakan senjata dalam mendukung pengelolaan TNBTS, khususnya pelaksanaan tugas-tugas Perlindungan dan Pengamanan Kawasan TNBTS baik dalam tugas-tugas yang bersifat Represif maupun preventif, ujar Agus. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru
Baca Berita

Keong, Binatang Kecil Yang Memiliki Peran Penting Di Alam

Kuningan, 20 Agustus 2018. Di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), ada beberapa jenis keong yang sudah teridentifikasi. Diantaranya adalah dari jenis Elaphroconcha patens, Helicarion perfragilis dan Amphidromus perpersus. Ketiga jenis keong ini mudah dijumpai dalam kawasan TNGC, dengan habitat di serasah dan tempat yang lembab. Untuk jenis Amphidromus parpersus, lendirnya dapat digunakan untuk mengobati luka. Keong hutan merupakan seekor binatang kecil berlendir yang memiliki cangkang menempel di belakang tubuhnya serta berjalan sangat pelan di hutan. Tapi ternyata hewan ini memiliki peranan penting di alam. Keong merupakan salah satu jenis fauna dalam filum Mollusca yang termasuk dalam kelas Gastropoda. Mollusca adalah kelompok hewan yang tubuhnya lunak dan umumnya hidup di perairan. Kebanyakan Mollusca masih hidup di laut, tetapi beberapa jenis siput dan keong telah berevolusi untuk hidup di darat. Hewan ini memiliki peranan penting pada interaksi dalam ekosistem. Selain itu juga memiliki peran untuk menjaga ekosistem tanah. Peranannya dalam menjaga ekosistem tanah adalah karena hewan ini memakan dedaunan. Yang pada akhirnya akan menyumbangkan bahan organik hasil pencernaannya ke permukaan tanah. Sehingga organisme lain seperti cacing dan mikroorganisme (makhluk hidup sederhana yang terbentuk dari satu atau beberapa sel dan hanya dapat dilihat dengan mikroskop) tanah lainnya dapat memanfaatkannya. Selain itu juga karena tubuhnya mengandung air dan mikroorganisme. Maka secara otomatis akan membantu penyebaran mikroorganisme di sepanjang lintasan tempatnya berjalan. Itulah diantaranya penjelasan singkat tentang keong serta perannya di alam. Hal ini bisa memberikan kita gambaran bahwa semua makhluk hidup, memiliki peranannya masing - masing di alam. Mari kita cintai dan jaga alam ini, maka alam akan memberikan lebih dari yang kita butuhkan [Teks & Foto © Taufikurohman - BTNGC | 082018]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Misi Zero Waste TN Bromo Tengger Semeru

Malang, 20 Agustus 2018. Tim Sapu Bersih (Saber) Sampah Resort Coban Trisula (RCT) kembali melakukan aksi bersih sampah di wilayah Savana Watu Gede sampai dengan Jemplang (20/8). Kepala Resort Coban Trisula Bambang Rudiyanto menyampaikan kegiatan sapu bersih sampah merupakan agenda rutin RCT untuk mendukung misi zero waste di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) yang banyak dikunjungi wisatawan baik asing maupun mancanegara. Aksi bersih sampah melibatkan 18 orang dari petugas RCT dan perwakilan dari komunitas Pedagang Asongan, PKL, Komunitas Kuda, Jeep dan Ojeg yang ada dalam pembinaan RCT. Hasil mengevakuasi sampah dari wilayah watu gede dan jemplang menghasilkan sampah seberat 337 Kg yang terbagi dalam 23 Karung sampah jenis botol beling, botol plastik dan bekas makanan (snack). "Bersih sampah di lokasi wisata yang ada di Wilayah SPTN II menjadi suatu hal yang wajib dilakukan", ujar Tatag Hari Rudhata Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wilayah II TNBTS. Tatag menambahkan dalam mendukung zero waste TNBTS ini selain kegiatan bersih sampah, tim SPTN II juga melakukan himbauan-himbauan kepada pengunjung agar tidak membuang sampah sembarangan di kawasan TNBTS, melakukan pemantauan dengan menempatkan petugas dilokasi-lokasi yang menjadi titik keramaian pengunjung sekaligus memasang papan himbauan mengenai tidak membuang sampah dan kegiatan-kegiatan merusak lainnya di dalam kawasan TNBTS. Namun demikian upaya tersebut masih perlu ditingkatkan mengingat masih adanya sampah yang selalu ada pada saat kegiatan sapu bersih dilakukan. Kami berharap di masa-masa yang akan datang kesadaran pengunjung pada persoalan sampah dan kelestarian TNBTS semakin meningkat sehingga sampah tidak menjadi momok dalam pengelolaan wisata di TNBTS pungkas Tatag. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru
Baca Berita

Menelisik Sisi Lain Artis Penyayang Satwa Manohara Mengantarkan Kasuari ke Hutan Nimbokrang Papua

Jayapura, 20 Agustus 2018. Manohara turut menorehkan sejarah kepulangan delapan anakan kasuari gelambir ganda (Casuarius casuarius) ke habitat asalnya di Papua. Delapan anakan kasuari tersebut merupakan barang bukti percobaan perdagangan satwa ilegal, yang berhasil digagalkan tim Polisi Kehutanan BBKSDA Jatim pada Nopember 2017. Rencananya satwa endemik Papua yang dilindungi itu akan dikirim ke Pangkal Pinang, Kepulauan Riau. Namun tertangkap di Bandara Juanda, Surabaya. Pukul 15.00 WIT di hari Kemerdekaan RI ke-73, Jumat (17/8) Manohara bersama rombongan BBKSDA Jatim dan JAAN (Jakarta Animal Aid Network) mendarat di Bandara Sentani, Jayapura. Mereka menggunakan maskapai Sriwijaya Air. Manohara tampak bersuka cita saat tiba di ujung timur Indonesia, dan disambut oleh Kepala BBKSDA Papua, Ir. Timbul Batubara, M.Si. bersama para staf. Pada acara seremonial penyambutan delapan anakan kasuari di kantor Polisi Kehutanan Bandara Sentani, Jayapura, Manohara menyampaikan sambutan penuh santun dan bersahaja. Di hadapan para pejabat pemerintah daerah Kabupaten Jayapura dan UPT lingkup KLHK Papua, Manohara menjelaskan, “Saya bukan sebagai sponsor, tapi relawan. Saya peduli terhadap satwa, dan itu sudah muncul dalam diri saya sejak kecil.” Usai penandatanganan berita acara penyerahan delapan anakan kasuari dari BBKSDA Jatim kepada BBKSDA Papua, delapan anakan kasuari tersebut langsung diantarkan ke kandang habitusi. Pukul 17.30 WIT rombongan bergerak dari Kantor Polisi Kehutanan Bandara Sentani menuju Kampung Rhepang Muaif, Distrik Nimbokrang, Kabupaten Jayapura. Manohara tetap dengan senyumnya yang lembut tidak tampak lelah berada dalam semua prosesi itu. Perjalanan dari Bandara Sentani ke Rhepang Muaif memerlukan waktu sekitar dua jam. Hari sudah gelap saat Manohara harus memasuki hutan adat milik keluarga Alex Waisimon, seorang tokoh lingkungan yang meraih penghargaan kalpataru tahun 2017. Ia bersama tim BBKSDA Jatim dan Papua, juga Balai Karantina Pertanian Kelas I Jayapura, melangkah tanpa ragu di jalan setapak menuju kandang habituasi. Seperti telah menyatu dengan alam, Manohara duduk di lantai hutan beralas rumput dan daun-daun kering tepat di depan kandang. Ia dan Femke den Haas dari JAAN lalu sibuk memotong pisang, tomat, dan jambu biji untuk makan malam delapan anakan kasuari. Setelah kandang dinyatakan siap, kasuari satu per satu dikeluarkan dari kotak-kotak kayu raksasa, dilepaskan di dalam ruang terbuka berdinding kayu berukuran sekitar 100 meter persegi. Manohara menunggu sampai kasuari benar-benar aman dan nyaman, barulah ia meninggalkan kandang. Bersama semua rombongan, Manohara menuju aula, tempat Alex Waisimon biasa melakukan berbagai kegiatan lingkungan. Manohara membaur bersama semua yang hadir, baik dari kalangan UPT KLHK maupun masyarakat adat. Ia menikmati menu makan malam khas Papua, papeda dengan sayur kangkung-bunga papaya, sayur lilin, dan ikan kuah kuning. Malam itu Manohara menginap di kediaman Alex Waisimon, lalu paginya masih menyempatkan diri meninjau kasuari di kandang habituasi bersama Kepala Balai Besar KSDA Papua. [] Sumber : Balai Besar KSDA Papua
Baca Berita

Mempererat Tali Silahturahmi dengan Kegiatan Dharmawanita

Jambi, 20 Agustus 2018. BKSDA Jambi mengadakan kegiatan Dharmawanita yang dihadiri oleh istri istri pegawai BKSDA dan pegawai wanita yang bekerja di BKSDA. Acara dibuka oleh istri Kepala Balai KSDA Jambi, Ibu Relasari. Acara ini turut mengundang pembicara dari Dinas Lingkungan Hidup, Ibu Nova. Ibu Nova menjelaskan tentang tata cara pengolahan sampah yang baik dan benar untuk mengatasi masalah sampah yang selama ini. Acara dilanjutkan dengan kegiatan arisan oleh ibu ibu Dharmawanita dan pembagian doorprize. Ketua Dharmawanita BKSDA Jambi, Relasari mengutarakan “Kegiatan dharmawanita ini bertujuan untuk lebih mengenal lingkungan kerja suami dan memperat tali silahturahmi sesama anggota dharmawanita, kegiatan ini akan terus rutin kita laksanakan.” Sumber : Balai KSDA Jambi

Menampilkan 7.169–7.184 dari 11.140 publikasi