Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Respon Cepat Polisi Kehutanan TNGC Kendalikan Kebakaran Lahan di Perbatasan Hutan

Kuningan, 27 Agustus 2018. Polisi Kehutanan Seksi Wilayah Pengelolaan Wilayah I Kuningan mendapat informasi telah terjadi kebakaran hutan (20 Agustus 2018 Pukul 12.30 WIB). Informasi yang didapat kebakaran tersebut terjadi di Blok Lambosir kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Untuk mengecek kebenaran informasi tersebut, maka segera dibentuk dua tim. Tim pertama bertugas melakukan pemantau melalui jalur Lambosir, tim kedua melakukan penyisiran di batas kawasan TNGC dengan lahan perkebunan PT. Gegerhalang. Dari hasil pantauan tim pertama di Blok Lambosir, terlihat lokasi kebakaran berada di luar kawasan TNGC. Tepatnya berada di lahan perkebunan PT. Gegerhalang. Tim kedua yang melakukan penyisiran memastikan bahwa kebakaran berada di batas kawasan TNGC di lahan perkebunan PT. Gegerhalang. Walaupun tempat kejadian berada di luar kawasan TNGC, namun Polhut bersama dengan para pekerja PT. Gegerhalang dan aparat TNI Koramil Mandirancan bekerja bahu membahu untuk memadamkan api. Menurut informasi bahwa api mulai berkobar pukul 11.30 WIB di sisi kiri dekat dengan lahan milik masyarakat. Setelah 3 jam berjibaku memadamkan api, pada pukul 15.30 kebakaran bisa diatasi dengan baik. Penanganan kebakaran hutan adalah menjadi tanggungjawab bersama. Walaupun terjadi di luar kawasan TNGC sudah selayaknya saling membantu. Apabila tidak segera ditangani bukan tidak mungkin dapat merembet ke kawasan TNGC [Teks & foto ©? Oman Depe – BTNGC | 082018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Tampilkan Prestasi, Stand TN Matalawa di Pameran Pembangunan Ramai Dikunjungi

Waingapu, 27 Agustus 2018. Lazimnya pameran-pameran pembangunan yang diselenggarakan di kota-kota besar, penyelenggaraan pameran di Kota Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat juga terlihat sangat meriah. Replika rumah adat Sumba yang berjejer rapih menjadi desain utama masing-masing stand peserta pameran yang telah disiapkan oleh panitia. Pameran ini diselenggarakan dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke 73 Republik Indonesia dan dibuka seminggu penuh sejak 23 Agustus 2018 di Lapangan Pacuan Kuda, Weekarou. Dengan tema HUT ke 73 RI yaitu ‘Kerja Kita, Prestasi Bangsa’, Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) turut berpartisipasi dengan memamerkan capaian-capaian yang telah diraih selama setahun terakhir. Prestasi yang ditunjukkan diantaranya adalah: pembukaan kios pemberdayaan masyarakat di Langgaliru, keberhasilan meningkatkan populasi satwa prioritas terancam punah (Kakatua Jambul Jingga dan Julang Sumba), dan sederet prestasi lainnya. Selama pameran berlangsung, para pengunjung cukup antusias mengunjungi stand TN Matalawa. Mereka memiliki kepedulian tinggi terhadap kelestarian hutan dan satwa di Pulau Sumba. Selain itu, mereka juga tertarik akan objek-objek wisata alam yang ada didalam kawasan TN Matalawa.(dpn/mtlw) Sumber: Balai Taman Nasional Matalawa
Baca Berita

BTN Bukit Baka Bukit Raya berpartisipasi dalam Pameran Pembangunan dan Sintang Expo Tahun 2018

Sintang, 26 Agustus 2018. Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) kembali berpartisiapasi dalam kegiatan Pameran Pembangunan dan Sintang Expo 2018. Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan peringatan HUT RI ke-73 dengan tema “Melalui Pameran Pembangunan dan Sintang Expo 2018 kita Tingkatkan Kerja Bersama Guna Mewujudkan Kabupaten Sintang yang Maju dan berprestasi”. Berkenan membuka acara yaitu Wakil Bupati Sintang Askiman bersama Sekretaris Daerah Kabupaten Sintang Yosepha Hasnah pada Sabtu (25/08/2018) sore. Ketua Panitia penyelenggara yang juga Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan dan UKM H. Sudirman menyampaikan bahwa “Tujuan Pameran dan Expo ini adalah untuk mensosialisasikan program dan keberhasilan pembangunan yang telah dicapai Pemerintah Daerah dan merupakan wahana promosi untuk berbagai bidang juga aspek kehidupan masyarakat Sintang”. Selain itu Ketua Panitia juga menyampaikan jumlah peserta Pameran Pembangunan dan Sintang Expo tahun 2018 terdiri dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sebanyak 32 stand, Instansi Vertikal sebanyak 2 stand, dan ditambah stand POLRI dan Perguruan Tinggi, selain itu juga terdapat 111 stand pelaku usaha UKM dan 51 stand Kuliner dan PKL yang ikut terlibat. Setelah acara pembukaan dilanjutkan dengan kunjungan ke stand-stand yang ada termasuk stand TNBBBR. Saat mengunjungi stand TNBBBR, Wakil Bupati tertarik dan sempat bertanya tentang satwa Kubung (Tupai Terbang) yang ada di kawasan TNBBBR ketika melihat gambar satwa tersebut pada display di stand TNBBBR. Dalam kegiatan yang dilaksanakan di kompleks Stadion Baning Sintang, Kalimantan Barat, Balai TNBBBR berusaha seefisien dan semaksimal mungkin menampilkan display yang menarik dan informatif yang dituangkan dalam stand berukuran 3 x 4 meter. Dengan mengusung tema alam bebas Balai TNBBBR menampilkan berbagai kegiatan yang telah dilakukan selama selama ini. Saat berada di luar stand keunikan sudah mulai terlihat dengan adanya jembatan gantung yang menghubungkan dua menara yang seakan menjadi gerbang masuk stand. Di bagian depan pengunjung disambut hijaunya tumbuhan ficus, Pasak bumi dan Ulin serta pohon Agathis yang tidak banyak diketahui oleh generasi muda sekarang, lalu juga ada kolam mini yang berisi beberapa jenis ikan di dalamnya. Masuk ke dalam stand, pada dinding kiri dan kanan tersaji foto satwa unik mulai dari mamalia, burung, hingga kupu-kupu yang ada di kawasan TNBBBR serta kegiatan pengelolaan yang telah dilaksanakan. Terdapat pula elektronik standing poster yang menampilkan secara audio visual beberapa kegiatan yang dilakukan di kawasan TNBBBR seperti pendakian Seven Summit of Indonesia di Puncak Bukit Raya 2278 mdpl dan pelepasliaran orangutan di kawasan TNBBBR oleh Yayasan IAR Indonesia dan Yayasan BOS. Pada bagian backdrop terdapat panorama Sungai Ella Hulu yang menjadi ajang untuk kegiatan arung jeram, dengan pemandangan aliran air sungai yang putih bagaikan kapas serta bebatuannya. Suasana alam semakin terasa dengan nuansa hijau dari hiasan daun pada cabang dan ranting pohon dikiri dan kanan backdrop yang mewakili kondisi pohon yang ada di hutan. Pengunjung diperbolehkan untuk berswafoto dengan latar belakang pemandangan tersebut, alhasil pada malam hari setelah pembukaan tidak kurang dari 150 pengunjung yang mengunjungi stand TNBBBR. Moment seperti ini menjadi salah satu ajang bagi TNBBBR untuk mempromosikan kegiatan maupun objek wisata alam yang ada di kawasan TNBBBR kepada masyarakat, termasuk juga sebagai pendidikan tentang lingkungan hidup, pentingnya kawasan konservasi dan pentingnya menjaga hutan dan isinya. Kedepannnya diharapkan kegiatan yang akan berlangsung hingga tanggal 8 September 2018 ini dapat memberikan manfaat bagi berbagai kalangan masyarakat dan semua pihak. Sumber: Dodi Marsaidi (PEH) - Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya
Baca Berita

Kisah Penjagaan Jalur Pendakian [2]

Kuningan, 26 Agustus 2018. Kisah lainnya datang dari jalur pendakian Linggajati. Siapa yang tidak tahu jalur ekstrim di gunung Ciremai. Dari awal mulai mendaki sudah di suguhkan dengan tanjakan yang melihatnya saja bikin merinding. Matahari begitu menyengat, tapi tidak mengendurkan semangat untuk mendaki. Kelompok Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) yang berjumlah tujuh orang mendaki dengan membawa seutas tali sepanjang 50 meter untuk mengukur jarak tempuh dari titik awal sampai puncak. Sampai di pos 6 (Pamerangan) tim Balai TNGC bermalam. Jika di gunung lain ada satu tanjakan legendaris, Gunung Ciremai mempunyai tiga tanjakan legendaris sekaligus (Bingbin, Sareuni, dan Bapa Tere). Setelah pos Pamerangan, Tim berhadapan dengan tanjakan pertama, Tanjakan Bingbin. Tidak terlalu panjang dan terjal memang. Sekitar 45 menit, Tim tiba di Tanjakan Sareuni yang lebih terjal dan panjang. Hampir sekitar satu setengah jam kemudian barulah kami tiba di Tanjakan Bapa Tere yang bukan terjal lagi melainkan vertikal. Dengan dibantu seutas tali kami pun naik tanjakan demi tanjakan. Setelah melalui beberapa pos, akhirnya Tim sampai di pos terakhir yaitu pos 12 (Pangasinan), yang di kelilingi banyak bunga Edelweis. Menuju puncak, Tim dihadapkan dengan debu di sepanjang jalur yang membuat Tim harus berhenti sejenak untuk menghela napas dan bergantian dengan pendaki yang turun. Semua rasa lelah, rasa haus hilang seketika tatkala Tim di suguhi dengan pemandangan yang menakjubkan inilah puncak tertinggi Jawa barat. Di sela persiapan untuk turun gunung, satu dari tim Balai TNGC, Aah seorang Polisi Kehutanan melihat ada asap di bawah. “Itu ada asap dibawah sepertinya” kata Aah. Tim segera melakukan pengecekan dengan berjalan beberapa meter di bawah pos Sangga Buana 1 dan api mulai menjalar dari sisa api unggun yang di tinggal begitu saja oleh pendaki. Kemudian Tim segera memadamkan api tersebut sampai benar-benar tidak ada bara lagi. Perjalanan Tim dilanjutkan menuju pos Pamerangan dimana tenda Tim Balai TNGC berada untuk bermalam. Keesokan harinya Tim bergegas merapihkan tenda dan tidak lupa membawa sampah dari sisa-sisa makanan. [teks © Yaya Sutirya, Lili Suryadi & Aditya – BTNGC ; Foto © Awan Suwandi, Rudi | 082018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Ekspose Hasil Penelitian Fahutan UGM di TN Aketajwe Lolobata

Sofifi, 25 Agustus 2018. Bertempat di kantor Balai TN. Aketajawe Lolobata (TNAL), diselenggarakan Ekspose hasil penelitian lapangan tentang "Distribusi Spasial dan Faktor Pembatas Distribusi Kakatua Putih (Cacatua alba) di kawasan TNAL". Penelitian ini merupakan bentuk kerja sama Balai TN. Aketajawe Lolobata dengan Laboratorium Satwa Liar Fakultas Kehutanan UGM. Ekspose hasil penelitian ini dihadiri langsung oleh Kepala Balai TNAL Muhammad Wahyudi, Kepala SPTN I Weda, beserta beberapa pegawai fungsional PEH dan POLHUT. Sedangkan dari Fahutan UGM sendiri, dihadiri oleh Dr. Muhammad Ali Imron dan salah satu Mahasiswanya Muhammad Tafrichan sebagai presenter, serta hadir pula dari Mitra TNAL yaitu Burung Indonesia. Dr. Muhammad Ali Imron menyatakan bahwa salah satu kendala di banyak kawasan konservasi adalah banyaknya data yang dikumpulkn oleh petugas lapangan namun belum dioptimalkan untuk tujuan pengelolaan dikarenakan data tersebut tidak diolah lebih lanjut. Penelitian ini memanfaatkan data kehadiran (presents only) yang diolah dengan sofware Maxent untuk membuat peta potensi distribusi burung kakaktua (cacatua alba). Data dikumpulkan dari berbagai sumber dan menggunakan berbagai peta yang tersedia untuk memprediksi dimana burung ini bisa ditemukan yang selanjutnya hasil olahan ini bisa dimnfaatkan untuk membuat batasan wilayah untuk monitoring populasinya atau bisa digunakan sebagai rekomendasi untuk zonasi. Lebih lanjut, hasil Penelitian yang dibiayai oleh DIPA Balai TNAL 2018 ini, sangat di apresiasi oleh Kepala Balai dengan harapan data ini akan menjadi dasar dalam pengambilan kebijakan kedepannya karena Satwa Kakaktua adalah termasuk satwa prioritas TNAL. Kegiatan ekspose hasil penelitian ini pun diisi dengan dialog santai antara Balai TN. Aketajawe Lolobata, Fahutan UGM dan Burung Indonesia tentang rencana Burung Indonesia untuk melakukan studi populasi burung paruh bengkok di TNAL. Pada akhir kegiatan, Dr. Muhammad Ali Imron memberikan buku Asas-Asas Pengelolaan Satwa Liar kepada Kepala Balai TN. Aketajawe Lolobata dan juga kepada Burung Indonesia. Buku tersebut merupakan buah pemikiran Almarhum Prof. Djuwantoko, Guru Besar Fahutan UGM yang telah dirampungkan bersama oleh tim editor. Sumber : Ais Rafli - PEH Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Festival Orangutan 2018 : “Orangutan’s Guardian”

Medan, 21 Agustus 2018. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, tahun 2018 ini Balai Besar KSDA Sumatera Utara (BBKSDASU), Balai Besar TN. Gunung Leuser (BBTNGL), Orangutan Information Centre (OIC) dan Forum Konservasi Orangutan Sumatera (FOKUS) menyelenggarakan peringatan Hari Orangutan Internasional bertajuk Orangutan Festival 2018 dengan tema “Orangutan’s Guardian” (Pelindung Orangutan). Kegiatan berlangsung dari tanggal 18 – 19 Agustus 2018 berlokasi di Kolam Taman Sri Deli Kota Medan rangkaian kegiatan yang dilaksanakan yaitu Apresiasi Musik dan Seni, Lomba Menggambar, Lomba Mewarnai, Orangutan and Forest Fashion Carnaval, On The Spot Photo Competition, Nonton Bareng Film Konservasi, dan Talkshow, Stand/Bazar. Ir. Irzal Azhar, M.Si. sebagai Kepala Bidang Teknis BBKSDASU dalam sambutan dan pembukaan acara menyatakan bahwa perlindungan terhadap Orangutan sangat tegas dituangkan dalam peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor. P.20/MenLHK-Setneg Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/MenLHK/Setjen/Kum.1/ 6/2018 tanggal 29 Juni 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Yang Dilindungi, dan mengharapkan momen peringatan Hari Orangutan Internasional 2018 ini dapat memberikan kemaslahatan bagi Orangutan dan Habitatnya. Adapun Direktur OIC Panut Hadisiwoyo, MA menyampaikan bahwa data Population dan Habitat Viability Assesment (PHVA) 2016 terkait kajian populasi dan distribusi bahwa populasi Orangutan Sumatera (Pongo abelii) tidak lebih dari 15.000 individu dengan 10 metapopulasi diantaranya di TN. Gunung Leuser dan Ekosistem Batang Toru. Spesies baru yang telah di lounching pada akhir 2017 Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) saat ini populasinya diperkirakan tidak lebih dari 800 individu terhampar di satu ekosistem hutan Batang Toru di wilayah Tapanuli Provinsi Sumatera Utara. Pada hari kedua tanggal 19 Agustus 2018 terdapat kegiatan talkshow yang menghadirkan 6 (enam) orang narasumber yakni Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, MSc,For (Ka. BBKSDASU), Suhut Hesaki, M.Si (Balai Penagakan Hukum LHK Sumatera), Wanda Kuswanda, M.Si. (Peneliti Balai Litbang Kehutanan Aek Nauli), Panut Hadisiswoyo, MA. (Diretur OIC), Kusnadi (Ketua FOKUS) dan Melanie Subono (Artis/Aktifis). Talkshow membahas isu-isu terkini terkait konservasi Orangutan di Sumatera Utara menurut sudut pandang para narasumber yang mempunyai latar belakang yang berbeda. Menjawab pertanyaan masyarakat yang mengikuti talkshow Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc,For. menyampaikan bahwa pemerintah telah mencanangkan pembangunan diberbagai sector yang mungkin bersinggungan dengan konservasi, untuk itu Balai Besar KSDA Sumatera Utara sesuai kewenangannya akan tetap mengawal peraturan perundangan yang ada termasuk menjaga dan melindungi keanekaragaman hayati yang terdapat di wilayah izin konsesi. Di akhir acara panitia penyelanggara menghadirkan artis dan musisi ibukota yang juga merupakan aktivis lingkungan hidup dan konservasi Melanie Subono yang menjadi narasumber talkshow dan sebelum penutupan acara membawakan 3 (tiga) buah lagu bertema kebangsaan. Sebelum ditutup dilakukan pemberian hadiah lomba-lomba, penampilan musisi kota Medan dan beberapa penampilan teater bertemakan konservasi Orangutan dan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Penilaian METT Kawasan TN Sembilang

Palembang, 27 Agustus 2018. Balai Taman Nasional Berbak dan Sembilang melalui pendanaan Tiger Project GEF UNDP METT telah melakukan penilaian METT yang ke tiga tahun 2018 untuk kawasan TN Sembilang yang dilaksanakan di The 101 Hotel Palembang pada tanggal 24-25 Agustus 2018, penilaian yang dilakukan melalui forum diskusi terbuka yang terdiri dari Balai TN Berbak dan Sembilang dan pihak-pihak pemangku kepentingan antara lain Dinas Kehutanan Provisi Sumatera Selatan, BKSDA Sumsel, BPKH Wilayah II Palembang, Balai PPI Wilayah Sumatra, Seksi Wilayah III Balai Gakum Sumatera, Prodi Biologi Universitas Sriwijaya, Kepala Desa Sekitar Kawasan TN Sembiang, Zoogical Society Of London (ZSL), Wetland Internasioal Indonesia, Konsorsium Bentang Alam Sembilang Sumatera Selatan (Kibass) dan Perusahaan Konsesi disekitar kawasan TN Sembilang yang merupakan mitra kerja BTNBS (PT. Tripupa Jaya, PT. Sumber Hijau Permai dan PT. Rimba Hutani Mas). Berdasarkan hasil penilaian terhadap 6 aspek penilain utama yang terdiri dari Konteks, Perencanaan, Input, Proses, Output dan Outcame diperoleh hasil indek nilai METT kawasan TN Sembilang sebesar 75 %, terdapat peningkatan indeks nilai METT sebesar 9 % dibandingkan penilaian pada tahun 2017. Terdapat kenaikan signifikan terhadap aspek penilan utama Output yang merupakan produk dan jasa yang dihasilkan sesuai yang direncanakan dan telah direkomendasikan pada penilaian METT pada tahun 2017 berupa pembuatan atau penyusunan Rencana Pengelolaan Jangka Pendek (RPJPn) Balai TN Berbak dan Sembilang tahun 2018, namun dalam aspek ini masih terdapat kelemahan dalam penilaian isu fasilitas pegunjung yang belum memadai. Berdasarkan hasil penilaian tersebut diperoleh rekomendasi untuk meningkatkan efektifitas pengelolan dalam bentuk membangun fasilitas pengunjung yang memadai termasuk akomodasi, sanitasi, komunikasi (HP satelit dan radio komunikasi), dan sarana penunjang pengamatan spesies satwa dan mengoptimalisasikan fasilitas yang telah tersedia. Selain itu juga telah dilakukan upaya-upaya untuk meningkatkan efektifitas pengelolaan dengan menindaklanjuti beberapa kegiatan sebagaimana direkomendasikan pada penilaian tahun 2017 antara lain, Evaluasi dan Review Zonasi TNBS, optimalisasi kerjasama dengan mitra kerja berupa pembanguanan kantor SPTN Wilayah II dan Pos Jaga Resort Sembilang serta penelitian-penelitian yang dilaksanakan mitra kerja BTNBS. Hasil penilaian METT ini diharapkan menjadi bahan evaluasi pengambilan kebijakan dalam pengelolaan TN Berbak dan Sembilang kedepannya. Sumber : Balai Taman Nasional Berbak dan Sembilang
Baca Berita

Aksi Nyata Generasi Muda Lestarikan Kawasan Hutan TN Matalawa

Waingapu. 25 Agustus 2018. Sebagai rangkaian kegiatan dalam rangka memperingati Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN), Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) bekerja sama dengan SMKN I Mbilur Pangadu-Sumba Tengah, menggelar aksi bersih sampah di sepanjang ruas jalan utama Pulau Sumbayang membelah Kawasan TN Matalawa. Gerakan aksi bersih sampah ini dikomandani langsung oleh Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Lewa, Judy Aries Mulik STP. Begitu semangatnya mereka (Siswa/siwi SMKN I Mbilur Pangadu dan para petugas) bergotong royong membersihkan sampah yang berserak disepanjang jalan poros utama yang membelah kawasan Taman Nasional. TN Matalawa yang berada pada wilayah Kepulauan Wallacea, merupakan kawasan dengan keanekaragaman jenis flora dan fauna yang khas dan tidak dapat dijumpai di tempat lainnya dan merupakan habitat bagi 158 jenis burung 12 diantaranya adalah endemik, 94 spesies kupu-kupu 4 diantaranya adalah endemik, 42 jenis capung 8 jenis diantaranya adalah endemik, 28 jenis mamalia, 6 jenis amphibi, 30 jenis reptil dan 375 jenis tumbuhan. Oleh karena itu dengan gelaran aksi ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran bagi generasi muda penerus bangsa akan pentingnya kelestarian keanekaragaman hayati yang ada di Taman Nasional Matalawa. Sumber : Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti
Baca Berita

Kisah Penjagaan Jalur Pendakian [1]

Kuningan, 25 Agustus 2018. Jalur pendakian di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) ada empat yaitu jalur Palutungan, Linggajati, Linggasana dan Apuy. Di antara empat jalur pendakian tersebut, ada juga jalur yang tidak resmi (ilegal) yang kerap kali dilewati pendaki yang tidak bertanggung jawab yaitu Sadarehe. Dalam rangka pelayanan, Balai TNGC menugaskan stafnya untuk mengawal para pendaki di setiap jalur pendakian, terhitung mulai tanggal 15 sampai dengan 18 Agustus 2018. Ketika ingin mendaki ada beberapa prosedur yang harus ditempuh, diantaranya melakukan pembelian tiket masuk di setiap pos jalur pendakian, pemeriksaan perbekalan dan perlengkapan yang dibawa serta kesehatan. Bagi yang dianggap layak oleh petugas dan mitra pengelola pendakian maka dipersilahkan melanjutkan perjalanan menuju puncak. Tujuannya adalah demi keselamatan para pendaki itu sendiri. Kisah suka, duka, lucu dan mencengangkan pun dirasakan para petugas yang berjaga. Seperti yang ditemui di blok Sadarehe. Ditemukan pendaki yang jumlahnya tidak sedikit melalui jalur ini, mereka tidak pikir panjang akan keselamatan dirinya. Kebanyakan dari mereka adalah pelajar SMP, dengan modal nekat dan peralatan seadanya. Ketika kami tanya alasannya kenapa memilih jalur yang tidak resmi, karena tidak memiliki biaya untuk membeli tiket. Padahal kalau terjadi apa-apa, materi yang dikeluarkan akan melebihi nominal tiket yang dikenakan. Nominal tiket yang dibebankan kepada pendaki akan balik untuk pendaki itu sendiri karena ada beberapa pelayanan yang diberikan mitra pengelola pendakian, diantaranya makan dan tempat istirahat. Bahkan ketika kami periksa perbekalannya pun sangat minim. Tidak dilengkapi dengan perlengkapan pelindung badan (body safety) seperti tenda, matras, sleeping bag, dll, padahal cuaca di puncak gunung tidak dapat ditebak. . . (Bersambung) Nantikan kelanjutannya yah ???? [Teks © Yaya Sutirya - BTNGC & Lili Suryadi - BTNGC ; Foto © awan Suwandi – BTNGC | 082018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

BKSDA Maluku Melaksanakan Kampanye Tumbuhan Dan Satwa Liar Yang Dilindungi Dalam Rangka Hari Konservasi Alam Nasional Tahun 2018

Ambon, 24 Agustus 2018. Bertempat di depan Gong Perdamaian Ambon, Balai KSDA Maluku melaksanakan kampanye Tumbuhan dan Satwa Liar Dalam Rangka Hari konservasi Alam Nasional Tahun 2018. Penanganan Peredaran TSL yang dilindungi tidak hanya melalui kegiatan pengawasan atau patroli di daerah-daerah saja tapi salah satunya juga dengan melalui kegiatan kampannye. Kampanye Tumbuhan dan Satwa Liar merupakan salahsatu kegiatan dalam bentuk sosisalisasi kepada masyarakat dengan cara langsung menggunakan media spanduk, stiker, poster, dan alat peraga lainnya. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh pegawai KSDA Maluku, dan Seluruh Anggota FK3I Propinsi Maluku. Dengan adanya kampanye TSL Yang dilindungi ini diharapkan agar informasi tentang TSL Yang dilindungi dapat menyebar luas secara cepat sehingga masyarakat/ publik memiliki kepedulian terhadap pencegahan peredaran TSL Yang dilindungi. Mari tingkatkan kesadaran peredaran Tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi agar tetap lestari demi masa depan anak cucu kita. Sumber : Sendian Anugerah Rupilu, S.Hut - PEH Pertama Balai KSDA Maluku
Baca Berita

Langkah Festival Cycloop Menuju Puncak

Jayapura, 24 Agustus 2018. Sebagai langkah taktis mewujudkan suksesnya Festival Cycloop November mendatang, Kepala Balai Besar KSDA Papua, Ir. Timbul Batubara, M.Si. melakukan konsultasi dan koordinasi kepada Bupati Kabupaten Jayapura, Mathius Awoitauw, SE. M. Si. di kantor Bupati Kabupaten Jayapura. Pertemuan ini diterima langsung oleh Bpk Mathius Awoitauw, SE. M. Si pada hari Kamis, 23 Agustus 2018. Hadir dalam pertemuan tersebut diantaranya Plt Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jayapura, Benyamin Yarisetouw, SE. M.Par. Ide dasar Festival Cycloop ini adalah bagaimana memfasilitasi agar masyarakat berdaya upaya untuk menggalakkan ekowisata mengingat masyarakat adat memiliki potensi kekayaan alam dan ragam budaya yang luar biasa. Pada pertemuan tersebut disepakati akan adanya pertemuan teknis lebih lanjut mengenai detail Festival Cycloop. Bupati Jayapura juga menyampaikan agar Festival Bahari Teluk Tanah merah dapat diintegrasikan bersamaan dengan Festival Cycloop. Bagaimana sejarah dan karakter masing–masing suku yang merupakan lokal genius diangkat menjadi wisata kultur yang merupakan suatu kesatuan dalam bentuk sajian wisata yang terintegrasi. Berbagai renik budaya itu hendaknya segera dipetakan, untuk ditampilkan dalam Festival Cycloop. Selanjutnya bapak Bupati menugaskan Benyamin Yarisetouw untuk menindaklanjuti gagasan-gagasan Festival Cycloop yang disampaikan Kepala Balai Besar KSDA Papua. Sejatinya dalam hal konservasi, semua pihak memiliki tujuan yang sama: menyejahterakan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian kawasan cagar alam. [] Sumber : Balai Besar KSDA Papua
Baca Berita

Asyiknya Belajar di Alam

Kuningan, 24 Agustus 2018. Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) setiap tahunnya menjadi lokasi tujuan pembelajaran lapangan para mahasiswa perguruan tinggi dalam mempraktekkan teori-teori yang diperoleh di kampus. Salah satunya adalah mahasiswa dari Universitas Sumatera Utara (USU) yang pada Agustus 2018 ini berkesempatan melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di TNGC. Salah satu materi yang diberikan kepada mahasiswa adalah bagaimana cara mengetahui debit air sungai. Pengalaman menarik diperoleh mahasiswa USU dalam melakukan penghitungan debit air secara manual. Sebelum praktek langsung, mahasiswa diberikan pendahuluan dan metode yang akan dilakukan oleh pendamping praktek, Azis Abdul Kholik. Azis yang merupakan fungsional Pengendali Ekosistem Hutan menambahkan "tenang saja, ini gampang kok". Maklum latar belakang jurusan para mahasiswa ini adalah dari jurusan THH (Teknologi Hasil Hutan) yang cenderung kegiatan mereka tentang pemanfaatan hasil hutan kayu. Mahasiswa sempat kebingungan dengan peralatan yang dibawa oleh pendamping lapangan untuk praktek pengukuran debit air. Pendamping lapangan hanya membawa peralatan berupa bola pingpong (bola tenis meja), meteran kain dan stop watch. Blok Sumur, Sayana, Jalaksana, menjadi lokasi pengukuran debit air. Disana Azis menjelaskan beberapa tahapan dalam penghitungan debit air yang lokasi pengambilan datanya di aliran. Materi & praktek perhitungan debit air ini menjadi salah satu materi khusus dari Balai TNGC yang diberikan kepada mahasiswa yang melakukan praktek di TNGC. Hal ini mengingat TNGC memiliki puluhan sumber mata air yang harus terus dipantau debitnya. Perhitungan debit air ini dilakukan untuk mendapatkan data yang lebih akurat. Keberadaan sumber air dapat menjadi salah satu parameter rusak tidaknya suatu kawasan hutan antara lain dilihat dari besar kecilnya debit air. Potensi sumber mata air yang melimpah di kawasan TNGC menjadikan gunung tertinggi di Jawa Barat ini sebagai salah satu “menara air” yang potensial. Fungsi hidrologis kawasan sebagai suplai air bersih dan pengatur tata air bagai masyarakat. Selain itu, berfungsi juga sebagai komponen habitat dari tumbuhan dan satwa liar yang hidup di sekitar mata air. Setelah mendapatkan penjelasan dari pendamping lapangan, mahasiswa menjadi mengerti tantang fungsi dari alat-alat yang mereka bawa tadi, dan cukup memahami mengapa TNGC sangat menjaga kelestarian dari keberadaannya fungsi dan manfaat air. Bagi mereka kegiatan tadi merupakan pembelajaran alam seperti bermain-main di hutan, tetapi memiliki manfaat yang penting bagi masyarakat di lereng Gunung Ciremai. [Teks & foto © Azis AK – BTNGC | 082018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Pengelolaan Sampah di Jalur Pendakian Palutungan

Kuningan, 24 Agustus 2018. Memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia ke 73 di puncak gunung menjadi kebanggaan tersendiri bagi sebagian orang. Gunung Ciremai sebagai gunung tertinggi di Jawa Barat menjadi salah satu tujuan dalam merayakan hari kemerdekaan. Geliat para pendaki sudah terlihat dari tanggal 15 Agustus 2018 dan puncak kedatangan para pendaki tanggal 16 Agustus 2018 dari siang sampai sore hari. Pengelola Pendakian Gunung Ciremai (PPGC) di pos jalur pendakian Palutungan bersama petugas Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) memberi arahan kepada para pendaki sebelum mendaki terkait sampah. Setiap pendaki diberi satu trash bag sebagai tempat untuk buang sampah dan kembali membawa pulang sampah tersebut. Antusias pendakian khususnya di jalur pendakian Palutungan untuk tahun ini meningkat dibanding tahun lalu. Hal ini menjadi tantangan bagi PPGC dan Balai TNGC khususnya dalam penanganan masalah sampah. Himbauan disampaikan kepada para pendaki agar mereka bisa mengatur barang bawaan terutama bisa mengurangi penggunaan plastik yang dapat menimbulkan sampah. Dari hasil pantauan petugas Balai TNGC di jalur pendakian Palutungan sampai tanggal 19 Agustus 2018, sikap para pendaki terkait sampah sudah semakin baik. Mereka dengan kesadaran yang tinggi membawa sampah kembali turun. Hal ini juga disampaikan oleh anggota PPGC Palutungan, Endun Abdullah "Sejauh ini kesadaran para pendaki khususnya di jalur pendakian Palutungan sudah semakin baik terkait masalah sampah, mereka membawa turun kembali sampahnya. "Sampah yang dibawa pendaki dikumpulkan menjadi satu dan akan dibawa ke tempat pembuangan akhir" lanjutnya. Untuk mempermudah pengelola jalur pendakian atau lokasi obyek wisata lainnya, tahun ini TNGC menyediakan dua mobil khusus angkutan sampah. Selanjutnya koordinasi dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan untuk masalah pembuangan sampah akhir menjadi tugas kami dari Balai TNGC. Ayo kendalikan sampah di jalur pendakian dengan membawa turun kembali sampah. Ciptakan kondisi zero sampah untuk kenyamanan di jalur pendakian. [teks & foto © Oman DP - BTNGC | 082018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Bersih Sampah Gunung Guntur Garut

Garut, 23 Agustus 2018. “Volunteer Gunung Guntur Garut” telah menyelenggarakan kegiatan Peringatan Hari Ulang Tahun RI ke-73 dan Operasi Bersih (Opsih) Gunung Guntur yang diikuti berbagai komunitas pada Kamis - Jum’at tanggal 16 - 17 Agustus 2018 silam. Kegiatan Operasi Bersih (Opsih) Gunung Guntur diikuti sebanyak 141 orang dari 13 kalangan komunitas dan 26 orang dari kalangan perorangan (non komunitas). Sampah yang dikumpulkan seberat 373,24 kg yang terdiri dari material sampah berupa botol minuman/kaca, botol kemasan air minum/plastik, kantong plastik, bungkus mie instan, puntung rokok, bungkus permen, dan sampah an organik lainnya. Di akhir acara ada pemberian hadiah kepada komunitas dan perorangan dengan sampah terberat. Kegiatan ini sebagai bentuk refleksi Kemerdekaan RI, membangun jiwa nasionalisme di kalangan para pecinta alam, penggiat alam, pendaki maupun traveller dalam rangka kelestarian alam, dan membangun komitmen moral bahwa tanggung jawab sampah Gunung Guntur merupakan tanggung jawab bersama. Pada kesempatan upacara, Kepala Seksi Konservasi Wilayah V Garut Balai Besar KSDA Jawa Barat selaku inspektur upacara menyampaikan arahan dan memberi amanah kepada para peserta agar selain upacara HUT RI ke-73 yang diikuti, setiap pendaki wajib membawa kembali sampah bawaan dan sampah lainnya yang ditinggalkan pengunjung dalam operasi bersih (opsih) ini karena gunung bukan tempat sampah. Operasi bersih (opsih) ini kiranya tidak hanya menjadi acara ceremonial saja, namun harus menjadi karakter yang selalu tertanam dan menjiwai para pendaki untuk selalu memberi perhatian pada sampah bawaannya agar gunung terbebas sampah. Mengingat musim kemarau, setiap pendaki dilarang keras membuat api unggun atau perapian yang beresiko menyebabkan kebakaran hutan. Harapannya agar orang semakin mencintai dan menghargai alam lingkungan, serta tidak merusaknya seperti corat coret/vandalisme, menebang pohon, membuang, dan meninggalkan sampah sembarangan di gunung, serta mematuhi setiap peraturan/ketentuan yang berlaku. Setiap pendaki hendaknya menjaga keselamatan diri dan kelompoknya, serta tidak melakukan perbuatan yang dapat mengganggu dan merusak lingkungan. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

Menyingkap Tabir Misteri Cycloop: Catatan Pertemuan Kepala Balai Besar KSDA Papua dengan MMP Moy

Jayapura, 23 Agustus 2018. Penetapan Cycloop sebagai cagar alam telah menorehkan sejarah sangat panjang. Kepala Balai Besar KSDA Papua, Ir. Timbul Batubara, M.Si. sering menyampaikan statemen bahwa keutuhan Cycloop yang dapat dilihat saat ini adalah berkat kearifan lokal masyarakat di sekitarnya. Mereka masih sangat erat menjaga adat dan nilai-nilai yang diwariskan nenek moyang. Atas dasar itu, Ir. Timbul Batubara, M.Si. menunjukkan totalitas menggali nilai kearifan lokal untuk diterapkan dalam pengelolaan C.A. Cycloop, beriring dengan penerapan ilmu konservasi modern. Salah satu yang dilakukan adalah bertemu dengan masyarakat untuk saling bercerita, memetakan segala potensi yang terkandung di tubuh Cycloop, serta menyentuh hati mereka agar tetap semangat melakukan kerja-kerja konservasi di lapangan yang senyatanya tidak cukup mudah. Pada Kamis (23/8), Ir. Timbul Batubara, M.Si. mengundang Kepala Resort bersama MMP Moy untuk makan siang bersama di ruang rapat Balai Besar KSDA Papua. Dalam suasana kekeluargaan diselingi kelakar yang hangat, sangat banyak informasi dari lapangan yang dapat tertampung dan menjadi data penting bagipegelolaan C.A. Cycloop. Hadir dalam pertemuan tersebut antara lain Samjar Manobi, Kepala Resort Moy, Tete Embun, tokoh adat wilayah Moy, serta ketua dan anggota MMP Moy. Hanya dari satu kawasan Resort Moy, betapa banyak misteri Cycloop yang merupakan kekayaan tiada tara. Bila semua itu dikelola dengan baik, sangat besar kemungkinan Cycloop menjadi incaran mata dunia. Sepenggal cerita yang memungkinkan diugkap dalam tulisan ini adalah mengenai sejumlah gua di kawasan Resort Moy, C.A. Cycloop. Hingga saat ini dapat diidentifikasi delapan gua di kawasan Resort Moy. Semua gua tersebut mengandung cerita mitologi, juga fungsi-fungsi adat yang dipegangi oleh masyarakat di lingkup Dewan Adat Suku Moy Dapat kita ambil satu contoh, Gua Dmudewari. Dalam bahasa Moy, dmu berarti batu, sedangkan dewariadalah burung rangkong (Rhyticeros plicatus). Dahulu kala Gua Dmudewari berfungsi sebagai tempat penyimpanan hewan buruan. Hutan Cycloop yang demikian lebat dan kaya akan keanekaragaman hayati merupakan lumbung pangan, juga obat-obatan bagi masyarakat trdisional di sekitarnya. Masyarakat dahulu melakukan perburuan dengan mempertimbangkan segala sisi kelestarian. Misalnya, perburuan besar hanya dilakukan saat mejelang pesta adat, pengangkatan kepala suku, atau pernikahan anak kepala suku. Masyarakat menyimpan hewan-hewan buruan yang telah tertangkap itu di Gua Dmodewari sebelum membawanya ke perkampungan. Sepenggal cerita itu merupakan gambaran, betapa Cycloop merupakan puzzle surga yang membentang dari Kota Jayapura hingga Distrik Depapre, tak kurang dari 100 km panjangnya. Sangat banyak hal yang dimiliki Cycloop, yang memungkinkannya menjadi permata ilmu pengetahuan bagi dunia. [] Sumber : Dzikry el Han - Balai Besar KSDA Papua
Baca Berita

Kokosrek “Trashbag Community” di Gunung Guntur Garut

Garut, 23 Agustus 2018. Jum’at - Sabtu tanggal 17 - 18 Agustus 2018 “Trashbag Community” (Komunitas Peduli Sampah Gunung) DPC Bekasi telah menyelenggarakan kegiatan Pendidikan dan Latihan Kokosrek Gunung (Sapu Bersih) dan Edukasi Pendaki di TWA Gunung Guntur dan CA Kawah Kamojang pada tanggal 17-18 Agustus 2018 silam. Acara dibuka Kepala Bidang KSDA Wilayah III Ciamis disertai pemberian sambutan sebelum pendaki diberangkatkan ke Gunung Guntur. Sebanyak 80 (delapan puluh) orang peserta dan panitia ikut berpartisipasi. Dalam kegiatan ini juga dilakukan diskusi/dialog dan sharing pengalaman dengan Volunteer Gunung Guntur mengenai topik dan narasumbernya mengenai minimalisir penggunaan barang yang menghasilkan sampah dan dampak untuk konservasi alam (Farwiza Farhan - Yayasan Hutan, Alam dan Lingkungan Aceh). Sebagai wujud kepedulian dan komitmen moral bahwa tanggung jawab sampah Gunung Guntur merupakan tanggung jawab bersama, karena Gunung Bukan Tempat Sampah. Dari kegiatanitu berat sampah yang terkumpul sebanyak 90,48 kg dengan komposisi plastik kemasan (40%), botol plastik (30%), tisue basah (6%), puntung rokok (10%), kertas (8%), botol kaca (1%), stereofoam (1%), kaleng (2%), dan kain (2%). Lokasi yang menjadi sasaran operasi sapu bersih (opsih) yaitu Puncak 1 (1 trashbag), Pos 3 (10 trashbag), Pos 2 (6 trashbag), dan Pos 1 (12 trashbag) yang menjadi tempat konsentrasi pengunjung, ditambah dari sampah yang terkumpul di sepanjang jalur sebanyak 6 trashbag. Dengan demikian total terkumpul 35 trashbag yang terdiri dari 20 kantong plastik dan 15 karung. Kegiatan ini untuk mensupport Balai Besar KSDA Jawa Barat (BBKSDA Jabar) dalam memperingati Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) yang mendapat dukungan dan partisipasi dari Direktorat Pengelolaan Sampah, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan menghadirkan personilnya di lokasi. Acara ditutup Kepala Seksi Konservasi Wilayah V Garut disertai penyampaian ucapan dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada pihak penyelenggara atas kepeduliannya terhadap sampah pengunjung di Gunung Guntur. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Barat

Menampilkan 7.153–7.168 dari 11.140 publikasi