Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

SPW II Baserah Balai TN Tesso Nilo Langsungkan Penyegaran Masyarakat Mitra Polhut

Baserah, 29 Agustus 2018. SPW II Baserah, Balai TN Tesso Nilo laksanakan kegiatan penyegaran Masyarakat Mitra Polhut (MMP) desa penyangga TN Tesso Nilo yakni desa Gunung Melintang dan desa Situgal pada hari Selasa tanggal 28 s.d 30 Agustus 2018. Penyegaran MPP diselenggarakan di kantor SPTN Wilayah II Baserah TN Tesso Nilo. Kegiatan ini diikuti oleh 30 orang peserta dari MMP yang terdiri dari 10 anggota MMP desa Gunung Melintang, dan 20 anggota MMP desa Situgal. Kegiatan penyegaran dibuka oleh Kepala Balai TN Tesso Nilo diwakilkan oleh Kepala Sub Bag TU Delfi Andra S.P. Dibuka pada tanggal 28 Agustus, penyegaran dilaksanakan 3 hari penuh hingga tanggal 30 Agustus 2018. Kegiatan penyegaran MMP ini bertujuan untuk meningkatakan pengetahuan dan kemampuan MMP dilapangan, sehingga dapat berperan aktif membantu Balai TN Tesso Nilo dalam melaksanakan pengelolaan dan pengamanan kawasan hutan. Untuk mendukung kegiatan ini Balai TN Tesso Nilo mendatangkan narasumber yang terdiri dari Kepala Sub Bag Balai TN Tesso Nilo, yayasan TN Tesso Nilo, Seksi Wilayah II Pekanbaru Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum LHK wilayah Sumatera, dan Kepala Urusan Perlindungan dan Pengamanan Balai TN Tesso Nilo. "Kita berharap usai penyegaran yang sudah kita selenggarakan ini, MMP binaan dari desa penyangga dapat memberi kontribusi besar dalam membantu kita untuk menjaga kawasan hutam TN Tesso Nilo", ungkap Kepala Sub Bag TU Balai TN Tesso Nilo Delfi Andra, S.P. Sumber : Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Berita

Kontingen TN Aketajawe Lolobata Tiba di Puncak HKAN

Sofifi, 28 Agustus 2018. Hari ini adalah rangkaian acara puncak Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) yang diselenggarakan di Taman Wisata Alam (TWA) Batu Putih, Bitung Sulawesi utara. Menyambut kemeriahan acara tersebut Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) mengirimkan kontingennya sebanyak 2 orang kader konservasi dan satu pegawai Balai TNAL sebagai pendamping. Kader konservasi yang dilibatkan adalah ketua kelompok Rimbawan Pecinta Alam Aketajawe Lolobata (RIMPAL) dan ketua kelompok Sanggar Wisata Alam Tayawi (SWAT). Kedua kelompok tersebut merupakan kelompok binaan Balai TNAL pada kawasan wisata di Resort Binagara dan Resort Tayawi. RIMPAL merupakan kumpulan anak muda dan siswa sekolah di Resort Binagara yang cinta akan petualangan khususnya panjat tebing dan selusur goa. Kelompok ini diinisiasi oleh Rudi (ketua) yang notabene merupakan kader yang selalu diajak oleh TNAL untuk membantu setiap kegiatan inventarisasi di dalam kawasan. Anak-anak muda ini dipilih karena sudah menunjukkan komitmennya dibidang konservasi alam, salah satunya adalah mengajak dan melatih anak-anak usia dini panjat tebing dan turut mempromosikan kawasan TNAL. Kelompok SWAT merupakan kelompok pemandu dan jasa penyiapan wisata alam di Resort Tayawi. Selain telah berhasil membantu menyiapkan acara HKAN tahun lalu, kelompok ini juga telah melakukan kegiatan-kegiatan sosial diantaranya adalah turut menyusun program kurikulum pengajaran lingkungan di sekolah di desa Koli. “Saya sangat terkesan dan bersyukur bisa diikutkan dalam kegiatan (HKAN) ini dan ini pertama kali bagi saya”, kata Rudi, ketua RIMPAL saat dikonfirmasi lewat telpon (28/08). “Saya mendapat banyak cerita pengalaman dan masukan dari berbagai kader dari seluruh Indonesia”, tutupnya. “Kedua utusan tersebut merupakan kader terbaik yang akan membantu TNAL dalam pelestarian kawasan kedepannya“, ungkap Wahyudi, Kepala balai TNAL. “Di acara ini pula akan kami putarkan perdana video klip lagu TNAL yang berjudul Aketajawe Se Lolobata”, tambahnya. Sumber : Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata Akhmad David Kurnia Putra (Polisi Kehutanan)
Baca Berita

Direktorat PIKA Ajak ASN nya Belajar Pemanfaatan Hutan dari Masyarakat

Jakarta, 28 Agustus 2018. Direktorat Pemolaan dan Informasi Konservasi Alam (PIKA) Kementerian LHK, pada tanggal 23 s.d 25 Agustus 2018 mengadakan pembinaan pegawai di Yogyakarta berupa kunjungan ke lokasi pemanfatan hutan, outing (aktivitas diluar ruangan) dan wisata bagi para karyawannya. Ir. Listya Kusumawardhani, M.Sc selaku Direktur PIKA memberikan arahannya di Hotel Peson Malioboro Yogyakarta bahwa “Kinerja Direktorat PIKA sudah baik dengan capaian target kinerja setiap tahunnya selalu baik. Selain itu, tidak ada tunggakan pekerjaan dan capaian kinerja melewati target Renstra Lima Tahun”. Listya juga berpesan tetap mengutamakan kebersamaan, sengaja kita ke Yogyakarta untuk mengunjungi beberapa contoh pemanfaatan hutan untuk masyarakat yaitu di Wisata Kalibiru dan Hutan Mangunan jelasnya. “Saya berharap semua dapat mempelajari pengelolaan wisata hutan oleh masyarakat yang telah berhasil di kawasan hutan dan juga semangat kerja para pengelola wisata yang ada di lokasi outing, sehingga dapat diimplementasikan dalam pekerjaan kita sehari hari” ujar Listya. Desa wisata Kalibiru, Hargowilis,Kokap, Kulonprogo yang berada sekitar 2 Km dari tempat wisata Waduk Sremo menjadi pilihan lokasi pembinaan pegawai Direktorat PIKA. Pelaksanaan outing dilaksanakan di depan rumah Joglo Wisata Kalibiru yang dimulai dengan salam semangat. Selanjutnya peserta diajak mengikuti permainan yang melatih konsentrasi, fokus pikiran, berlatih berpikir cepat dan tepat, berlatih menyeimbangkan kerja otak kanan dan kiri, hingga permainan yang mengutamakan kerjasama tim. Selain outing, rombongan Direktorat PIKA juga berkesempatan berbincang - bincang dengan Pak Parjan yang mengelola Wisata Kalibiru. Rombongan Direktorat PIKA mengunjungi lokasi pemanfaatan hutan yang dikelola masyarakat ke Puncak Becici, Hutan Pinus Mangunan dan Wisata Seribu Watu Songgolangit Kabupaten Gunung Kidul dan Kabupaten Bantul Provinsi Yogyakarta. Menutup kunjungan, rombongan juga bersilaturahmi dengan Bapak Ipung sebagai pengelola Wisata Seribu Watu Songgolangit. Sumber : Mugiharto HP, S.Hut, MSi – PEH Muda Direktorat PIKA
Baca Berita

3 Ekor Buaya Dilepasliarkan BKSDA Jambi

Tanjabtim, 25 Agustus 2018. BKSDA Jambi melakukan pelepasliaran terhadap 3 ekor satwa Buaya Muara (Crocodylus porosus). Satwa satwa ini didapatkan dari hasil penanganan konflik di daerah kota Jambi sebanyak 1 ekor, di daerah Desa Simp Jelita Kec. Nipah Panjang 1 ekor dengan panjang sekitar 2,8 meter dan di daerah Geragai Tanjung Jabung Timur 1 ekor dengan panjang 3,3 meter. BKSDA Jambi bersama dengan ZSL memutuskan untuk melakukan pelepasliaran di dalam kawasan Taman Nasional Berbak dan Sembilang. Pelepasliaran ini merupakan kerjasama antara BKSDA Jambi, Balai Taman Nasional Berbak dan Sembilang, ZSL, dan Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Kepala Seksi SKW III BKSDA Jambi, Faried S.P mengungkapkan, “Satwa hasil penanganan konflik yang berjumlah 3 ekor telah kami lepasliarkan di Taman Nasional Berbak Sembilang, ini merupakan bentuk kerjasama beberapa pihak terkait. Untuk kedepan nya BKSDA Jambi akan terus siap apabila sewaktu waktu mendapatkan laporan konflik satwa dari masyarakat Jambi.” Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Bujangga Manik Batu Luhur Berjuang Mengalirkan Air

Kuningan, 28 Agustus 2018. Keberadaan sumber mata air menjadi salah satu parameter rusak tidaknya hutan. Potensi sumber mata air yang melimpah di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) menjadikan kawasan Gunung Ciremai menyandang predikat menara air besar untuk kawasan Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan (Ciayumajakuning). Batu Luhur yang merupakan kawasan berbatu di ujung utara Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Kuningan, TNGC merupakan kawasan unik bebatuan hanya ditumbuhi semak berakar pendek. Sedikit pohon Sonokeling menunjukan kawasan ini teramat gersang, panas dan rawan kebakaran. Tetapi dengan semangat dan tekad luar biasa dari masyarakat mitra pengelola wisata yang tergabung dalam kelompok Bujangga Manik Batu Luhur pada saat ini telah berhasil menyalurkan air melalui kegiatan pipanisasi sepanjang 4000 meter dari sumber mata air blok Pari Bukit Seribu Bintang. "Alhamdulillah" demikian terucap Ketua Kelompok Pujangga Manik Batu Luhur, Usman, melihat pertama kalinya air mengalir deras sampai di batu luhur. "Allah Maha Besar" tambahnya. Pemanfaatan air melalui kegiatan swadaya itu akan dimanfaatkan untuk pengisian embung yang lebih dulu dibangun sebagai cadangan pengendalian kebakaran hutan dan sebagai sarana penunjang wisata alam juga sebagai penunjang pelayanan kepada pengunjung wisata alam Batu Luhur Betapa luar biasa perjuangan kelompok Bujangga Manik Batu Luhur ini, setelah hampir sembilan bulan mereka berswadaya mengumpulkan dana dan tenaga untuk menyalurkan air, hari ini sudah terlaksana. Bantuan yang mereka terima sebelumnya berupa kincir air sebagai alat pompa air memerlukan biaya perawatan yg cukup tinggi. Dengan demikian petugas dan mitra akan mengalirkan air dengan biaya yang relatif terjangkau untuk mengisi embung dan sarana wisata alam di Batu Luhur dan sekitarnya. Dengan mengalirnya air ke Batu Luhur akan memberi manfaat lain bagi satwa dan tumbuhan untuk minum dan pertumbuhannya. Sepanjang pipa yg mengalirkan air, telah dibangun embung kecil setiap 100 meter. Sehingga total embung kecil yg dibangun berjumlah 40 embung. Ini berfungsi pula sebagai sarana pemeliharaan dan pemulihan ekosistem yg sedang digalakan di TNGC. Melalui kegiatan swadaya tersebut, pihak TNGC memberikan apresiasi tinggi bagi kelompok pengelola wisata alam Bujangga Manik Batu Luhur, semoga kepedulian mereka kepada kawasan dapat menjadi contoh bagi kelompok lainnya. [teks & foto ©? Sirod Somantri-BTNGC | 082018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Peringatan Hari Konservasi Alam Nasional 2018 Dimulai

Tangkoko, 28 Agustus 2018. Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) ditetapkan setiap tanggal 10 Agustus, merupakan upaya untuk menjaga kesinambungan kegiatan konservasi alam, memasyarakatkannya, dan menjadikan konservasi alam sebagai bagian dari sikap hidup dan budaya bangsa. Dengan mengusung tema: Harmonisasi Alam dan Budaya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dan Pemerintah Kota Bitung, melaksanakan kegiatan peringatan HKAN 2018 di Taman Wisata Alam (TWA) Batu Putih, Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara. Dalam kegiatan yang berlangsung dari tanggal 28-31 Agustus 2018 ini, diikuti oleh ± 3.000 orang peserta. Rangkaian kegiatan Peringatan HKAN Tahun 2018, akan diawali dengan Jambore Nasional dan Pameran Konservasi Alam, sebagai ajang berbagi ilmu dan pengalaman, serta pendalaman makna peringatan HKAN, sehingga menjadi tambahan spirit dan bekal dalam melakukan upaya konservasi alam. Pembukaan Jambore dan Pameran Konservasi Alam akan dilaksanakan tanggal 28 Agustus 2018. Sebanyak kurang lebih 400 peserta mengikuti Jambore ini, yang terdiri dari perwakilan pegiat konservasi dari seluruh Indonesia, masyarakat pelaku pemanfaatan jasa air dan wisata alam, Masyarakat Mitra Polhut (MMP), Masyarakat Peduli Api (MPA), Santri, Karang Taruna, dan Pramuka Saka Wanabakti serta Saka Kalpataru, termasuk para penerima Apresiasi Konservasi Alam Tahun 2018. Sementara Pameran Konservasi Alam akan ditampilkan dalam 42 stand, dengan peserta yang berasal dari UPT Direktorat Jenderal KSDAE dan mitra KSDAE, perwakilan kementerian/lembaga, Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Utara, Pemerintah Daerah Kota Bitung, dan LSM. Undangan pembukaan Jambore Nasional dan Pameran Konservasi Alam ini selain dihadiri ole peserta jambore juga hadir dari perwakilan 140 instansi. Beberapa mitra dan pihak swasta juga turut meramaikan pembukaan ini, antara lain dariKIFC,TFCA Kalimantan, USAID, WRI, Star Energy Geothermal, PT. Indonesia Power, PT. Pertamina Geothermal Energy dan Eiger. Selain Jambore dan Pameran Konservasi Alam, pada peringatan HKAN 2018 ini juga akan dilaksanakan peluncuran Situs Web Balai Kliring Keanekaragaman Hayati Indonesia, Talkshow Harmonisasi Alam dan Budaya, Coaching Clinic etika berkunjung di kawasan konservasi, Workshop mengenai Kewirausahaan dan kepemanduan wisata alam, Penyelamatan satwa, Fotografi dan jurnalistik alam, dan Membangun kemitraan konservasi dan pengelolaan kawasan konservasi. Pada kesempatan yang sama, juga akan dilaksanakan Saresehan kepala UPT Ditjen KSDAE dengan topik ?Membangun Kemitraan Konservasi?, Talkshow Pemulihan Ekosistem dan Pelestarian Hidupan Liar, Fieldftrip, Penampilan kesenian daerah, serta Saresehan ?Peran Serta Generasi Muda dalam Bidang KSDAE?. Pembukaan Jambore akan dilaksanakan pada tanggal 28 Agustus 2018, dilanjutkan dengan berbagai acara talkshow, workshop, dan fieldtrip pada tanggal 29 Agustus. Sementara itu, upacara puncak Peringatan HKAN akan dilaksnakan pada tanggal 30 Agustus 2018, yang akan dihadiri oleh Menteri LHK, Siti Nurbaya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, serta Gubernur Sulawesi Utara. Bersamaan dengan puncak peringatan HKAN 2018, Menteri LHK, Siti Nurbaya akan memberikan Apresiasi Konservasi Alam dan KALPATARU, yang dilanjutkan dengan pelepasliaran satwa, dan penanaman pohon bersama para peserta Jambore. Setelah acara puncak, para peserta Jambore berkesempatan untuk mengikuti Safari pengamatan satwa di sore hari. Sebagaimana disampaikan oleh Direktur Jenderal KSDAE, Wiratno, dalam pembukaan Jambore dan Pameran Konservasi Alam, saat ini upaya konservasi alam masih menghadapi banyak tantangan. "Tantangan itu antara lain yaitu 1) Berkurangnya tutupan vegetasi alami di kawasan konservasi terrestrial seluas 10% karena penggunaan lain; 2) Usulan wilayah adat di kawasan konservasi seluas 1,6 juta hektar, dimana 1,3 juta hektar berada di taman-taman nasional; 3) Kerusakan terumbu karang karena mass tourism, penggunaan bom, dan kegiatan destruktif lainnya; dan 4) Meningkatnya konflik manusia-satwa liar, perburuan dan perdagangan satwa, terutama gajah, harimau sumatera, orang-utan, berbagai jenis burung", jelas Wiratno, di TWA Batu Putih, Bitung (28/08/2018) Wiratno juga menuturkan, Pemerintah berkomitmen untuk menjaga kawasan konservasi bukanlah pekerjaan yang mudah, karena mensyaratkan leadership yang kuat dan konsisten, menyeimbangkan antara kepentingan pembangunan dan konservasi, dan membangun kesadaran kolektif sebagai dasar kerja-kerja kolektif multipihak dan lintas generasi. Merespon berbagai perkembangan tersebut di atas, Wiratno memberikan arahan kepada 74 UPT Ditjen KSDAE, untuk menerapkan 10 Cara Baru Kelola Kawasan Konservasi dan penerapan Kemitraan Konservasi. "Mitra utama kita adalah pemerintah daerah dan 6.831 desa, termasuk masyarakat hukum adat, yang berada di daerah penyangga kawasan konservasi. Hanya dengan cara ini, kita akan dapat meningkatkan kinerja pengelolaan kawasan konservasi sekaligus bermanfaat nyata bagi masyarakat", pesan Wiratno.(*) Sumber : Biro Humas KLHK, Direktorat PJLHk dan Datin KSDAE
Baca Berita

BKSDA Kalsel Menerima Penyerahan Buaya Muara

Banjarbaru, 28 Agustus 2018. Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan melakukan evakuasi 2 ekor satwa liar yang dilindungi undang – undang jenis Buaya Muara ( Crocodylus porosus ) dari Taman Satwa Jahri Saleh Banjarmasin (28/8). Buaya tersebut merupakan penyerahan dari warga. Berdasarkan informasi warga melalui call center dan media sosial BKSDA Kalimantan Selatan, bahwa ada satwa liar jenis buaya di Taman Satwa Jahri Saleh yang masih ditempatkan pada kandang penampungan sementara. Menindaklanjuti informasi tersebut Balai KSDA Kalimantan Selatan melalui tim satuan tugas penanganan konflik satwa SKW II Banjarbaru melakukan koordinasi dengan pihak Taman Satwa Jahri Saleh Banjarmasin untuk melakukan evakuasi satwa tersebut ke kandang transit BKSDA Kalsel di Banjarbaru dan dilakukan pengecekan kesehatan oleh dokter hewan sebelum dilepasliarkan ke habitatnya. Penyerahan Buara Muara ( Crocodylus porosus ) dilakukan oleh Kepala UPT. Poliklinik Hewan Dan Taman Satwa Jahri Saleh Banjarmasin Bapak Abdul Muis kepada Bapak Rewaller Simbolon mewakili tim dari BKSDA Kalimantan Selatan. Berdasarkan hasil pengecekan kesehatan oleh tim dan dokter hewan, kondisi Buaya Muara ( Crocodylus porosus ) dinyatakan sehat dan layak untuk dilepasliarkan ke habitat di SM. Pelaihari Kabupaten Tanah Laut. Sumber : TIM SKW II Banjarbaru - Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Keberhasilan Pengembangbiakan Satwa di Lembaga Konservasi

Jakarta, 28 Agustus 2018. Dalam rangka peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) tahun 2018 pelestarian eksitu ikut memeriahkan dengan kabar gembira tentang berita kelahiran satwa-satwa dilindungi di beberapa lembaga konservasi baik untuk kepentigan umum dan kepentingan khusus di Indonesia. Lembaga Konservasi adalah lembaga yang bergerak di bidang konservasi tumbuhan dan atau satwa liar di luar habitatnya (ex-situ), baik berupa lembaga pemerintah maupun non pemerintah yang berfungsi untuk pengembangbiakan dan atau penyelamatan tumbuhan dan atau satwa, dengan tetap menjaga kemurnian jenis guna menjamin kelestarian keberadaan dan pemanfaatannya. Fungsi utama lembaga konservasi adalah pengembangbiakan terkontrol dan/atau penyelamatan tumbuhan dan satwa dengan tetap mempertahankan kemurnian jenisnya. Fungsi tambahan lembaga konservasi adalah sebagai tempat pendidikan, peragaan, penitipan sementara, sumber indukan dan cadangan genetik untuk mendukung populasi in-situ, sarana rekreasi yang sehat serta penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan. Saat ini terdapat 71 unit lembaga konservasi untuk kepentingan umum yang telah memiliki izin definitif dan 13 unit masih persetujuan prinsip serta terdapat 27 unit lembaga konservasi untuk kepentingan khusus. Kelahiran satwa dilindungi pada lembaga konservasi tahun 2018 diantaranya adalah: Sumber : Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati
Baca Berita

Dua Perguruan Tinggi Presentasi Hasil Penelitian di Balai TN. Aketajawe Lolobata

Sofifi, 27 Agustus 2018. Adalah mahasiswa dari Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung dan mahasiswa Universitas Halmahera (Uniera) Tobelo yang baru saja selesai melakukan presentasi hasil penelitian mereka di kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL). presentasi tersebut dilaksanakan di ruang rapat kantor Balai TNAL yang dihadiri langsung oleh Kepala Balai TNAL dan Dosen Pembimbing STP Bandung dengan Kepala SPTN Wilayah I Weda sebagai moderator acara. Mahasiswa STP Bandung mempresentasikan hasil penelitian meraka tentang pelibatan Masyarakat Tobelo Dalam (MTD) dalam kegiatan pariwisata. Lima mahasiswa ini menjelaskan bahwa MTD di Resort Tayawi sudah dilibatkan dalam beberapa kegiatan, antara lain sebagai penyedia jasa antar dan tergabung dalam keanggotaan kelompok Sanggar Wisata Alam Tayawi (SWAT). “Ini adalah tahap awal bagi mahasiswa kami (STP Bandung), karena masih dua tahap lagi, yaitu penelitian yang bersifat teknis dan bersifat aplikatif seperti pemberdayaan masyarakat”, kata Dosen Pembimbing STP Bandung. “Semoga kami masih bisa bergabung dengan TNAL”, lanjutnya. Pemaparan selanjutnya adalah dari mahasiswa Uniera Tobelo. Judul yang diambil dalam penelitiannya adalah nilai manfaat langsung TNAL kepada masyarakat. Lokus penelitian adalah di Desa Bukit Durian. Hasil pemaparan mahasiswa tersebut bahwa, manfaat sumber daya alam hayati yang dimanfaatkan masyarakat Desa Durian yaitu Rp.112.382.680/tahun. Dalam sesi tanya jawab, kedua pergutuan tinggi tersebut mendapatkan masukan yang penting dari para peserta yang merupakan pengelolan kawasan TNAL. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra - Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata http://www.aketajawe.com
Baca Berita

Penyelamatan Seekor Gajah dari Jerat oleh Tim Rescue Balai Besar KSDA Riau

Pekanbaru, 27 Agustus 2018. Call Center Balai Besar KSDA Riau menerima laporan dari PT. RAPP bahwa di sekitar Estate Mandau HTI PT RAPP, Kec. Sungai Mandau, Kab. Siak terdapat satu ekor Gajah (Elephas maximus sumatranus) yang terjerat. Setelah mendapat laporan, Kepala Balai Besar KSDA Riau segera memerintahkan Tim Rescue (Quick Respon) yang terdiri dari dua Dokter Hewan, satu Paramedis, dua mahout, Kepala Resort Siak dan seorang anggota KPHK Siak untuk segera melakukan penyelamatan terhadap satwa dilindungi tersebut. Jum'at, 24 Agustus 2018 setelah berjalan sekitar 300 meter dari bibir jalan, Tim yang didampingi pihak PT RAPP menemukan satwa dimaksud. Berdasarkan informasi yang didapat dari pihak PT RAPP, Gajah betina berumur kurang lebih 4 tahun tersebut terpisah dari kelompoknya yang berjumlah sekitar 10 sampai 15 ekor dikarenakan luka yang dideritanya akibat terkena jerat di kaki depan sebelah kanan. Setelah melakukan observasi terutama dari perkiraan berat gajah, tanpa menunggu waktu tim yang dipimpin oleh drh. Rini Deswita segera mengambil tindakan medis dengan melakukan pembiusan, pemberian infus, pelepasan jerat, pengobatan luka, pemberian obat anti peradangan, antibiotik dan sekaligus pemberian vitamin serta obat cacing. Penanganan dilakukan dari sekitar pukul 13.00 s.d. 15.00 wib. Setelah selesai, gajah kembali disadarkan. Saat tersadar satwa tambun tersebut langsung berdiri serta berusaha untuk mengejar petugas yang berada disekitarnya. Berkat kesigapan Tim dan petugas, hal yang tidak diinginkan dapat terhindarkan dan penyelamatan terhadap satwa dapat berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Ketua Tim, drh. Rini Deswita menyampaikan bahwa pasca pengobatan akan tetap dilakukan pemantauan terhadap satwa tersebut oleh pihak PT RAPP bekerjasama dengan Balai Besar KSDA Riau. Kepala Balai Besar KSDA Riau, Suharyono menyampaikan apresiasi kepada Tim yang bertugas atas penyelamatan yang telah dilakukan dan kepada PT RAPP atas kepeduliannya terhadap satwa yang dilindungi. Diharapkan kepada pihak pemegang konsesi perusahaan yang berbatasan dengan habitat satwa untuk ikut serta dalam penanganan penyelamatan satwa yang dilindungi sebagaimana yang telah dilakukan oleh PT RAPP tersebut. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Rescue Bekantan di Babirik

Babirik, 26 Agustus 2018 − Kabupaten Hulu Sungai Utara, Babirik, 25 Agustus 2018. Tot provinsi. Namun meskipun demikian, dua status perlindungan tersebut belum cukup ampuh menjadi payung untuk melindungi keberadaannya di Banua. Hal ini jamak terjadi bagi bekantan yang berada di luar kawasan konservasi. Areal tempat tinggalnya sangat rentan dikonversi menjadi peruntukan lain. Disisi lain kehadiran mereka di lahan budidaya dianggap mengancam ladang ekonomi masyarakat, sehingga menimbulkan konflik dengan manusia. Melalui layanan pengaduan (call center) BKSDA Kalsel, telah dilaporkan oleh anggota Polsek Babirik, sekitar pukul 15.30 WITA, perihal bekantan yang ditangkap warga Desa Murung Kupang, Kec. Babirik, Kab. Hulu Sungai Utara. Menurut informasi bekantan tersebut terperangkap jaring warga, yang sengaja dipasang untuk melindungi tanaman. Bekantan yang terperangkap jaring tersebut kemudian dievakuasi warga dan dibawa ke Polsek Babirik. Berdasarkan informasi tersebut, Kepala BKSDA Kalsel, menurunkan Tim yang beranggotakan Suhindra Wijaya, S.H, Aris Fadillah, A.Md dan Zida Rahman, S. Hut untuk melakukan kegiatan evakuasi. Selanjutnya pada pukul 20.30 WITA Tim BKSDA Kalsel dari Resort Banua Anam tiba di kantor Polsek Babirik dan melakukan pengecekan kondisi satwa. Berdasarkan hasil pengecekan diketahui bahwa pada saat pemindahan dari bak mobil patroli Polsek Babirik ke kandang angkut keadaannya sudah lemas dan tidak sadar (pingsan). Sesuai arahan Kepala SKW I, Mirta Sari, S.Hut, M.T bekantan dievakuasi ke Pos Kandangan dan dilakukan pengecekan kondisi sebelum dilakukan tindakan lebih lanjut sampai dengan keesokan harinya. Setibaanya di Pos Kandangan kondisi bekantan terlihat lemas tidak bergerak dan nafasnya tersendat. Pada pukul 02.45 WITA petugas kembali memeriksa kondisi bekantan dan terlihat sudah tidak bernafas serta kaku. Pada pagi hari sekitar pukul 06.15 WITA satwa tersebut dinyatakan mati dengan kondisi badan yang sudah kaku lalu dilakukan penguburan. “Kasus penyerahan bekantan dalam kondis stres dan atau mengalami luka adalah kasus ke-5 yang pernah dialami BKSDA Kalsel”, kata Kepala BKSDA Kalsel, Dr. Mahrus Aryadi, M.Sc. “Oleh karenanya dihimbau kepada masyarakat untuk tidak menangkap, melukai, membunuh dan atau memperdagangkan satwa dilindungi baik hidup maupun mati, karena ada ancaman pidana 5 tahun dan denda 100 juta rupiah”, imbuhnya. Kasus bekantan penyerahan warga Babirik yang akhirnya mati ini, semoga menjadi kasus terakhir dan tidak ada kasus serupa yang terjadi di lain waktu. Perlu ada kegiatan edukasi kepada warga yang tinggal berdekatan dengan habitat satwa. Edukasi kepada warga bertujuan memberikan pemahaman yang benar bahwa bekantan bukan ancaman, melainkan aset berharga yang harus dijaga. Selain itu, edukasi juga bertujuan untuk menciptakan harmoni antara manusia dan alam. (jrz) Sumber : Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Balai KSDA Bali Gelar Pembinaan TSL

Denpasar, 27 Agustus 2018. Bertempat di Prime Plaza Hotel, Sanur, Denpasar, Balai KSDA Bali melakukan kegiatan Pembinaan dan Verifikasi Terhadap Mitra Kerja di Bidang Tumbuhan dan Satwa Liar yang merupakan binaan Balai KSDA Bali. Acara ini diselenggarakan untuk melaksanakan tugas dan fungsi pokok Balai KSDA Bali sebagai instansi pembina Lembaga Konservasi, Pengedar dan Penangkar TSL Lingkup Provinsi Bali. Selain dihadiri oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Balai KSDA Bali dan Kepala Seksi Karantina Hewan Balai Karantina Pertanian Kelas 1 Denpasar sebagai narasumber, acara ini juga dihadiri oleh Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas 1 Denpasar sebagai bentuk koordinasi lintas sektor. Dalam acara ini dibahas terkait pembinaan dan kewajiban LK, Pengedar dan Penangkar TSL sebagai pemegang izin usaha Bidang TSL, Tata Usaha Peredaran dan Pemanfaatan TSl, Serta Kebijakan Karantina Pertanian terkait Pemanfaatan TSL. Acara ini juga membahas terkait sistem aplikasi pemanfaatan TSL (Si Mantan) yang sedang dibangun Balai KSDA Bali sebagai aplikasi online dalam pengajuan Form C (Rekomendasi Ekspor) dan SATS DN dalam rangka pengembangan web-based integrated service system. Melalui aplikasi ini diharapkan dapt mempermudah mitra kerja dalam pengajuan permohonan pemanfaatan TSL. Kegiatan pembinaan ini nantinya akan dilanjutkan dengan kegiatan pelatihan kepada mitra kerja dalam penerapan aplikasi tersebut. Sumber : Balai KSDA Bali
Baca Berita

BBKSDA Papua Bersama Stakeholder Memulangkan Kura-Kura Moncong Babi ke Rumah Aslinya

Jayapura, 27 Agustus 2018. Balai Besar KSDA Papua kembali mendapatkan momentum memulangkan satwa asli Papua, yaitu kura-kura moncong babi (Carettochelys insculpta), dari Hong Kong ke habitat aslinya di Papua, Indonesia. Ratusan kura-kura endemik Papua itu diselundupkan oleh warga negara Indonesia ke Hong Kong Januari 2018 lalu. Setelah proses yang cukup panjang, akhirnya sebanyak 595 ekor kura-kura moncong babi tiba di Merauke, Papua pada 25 Agustus 2018. Penanganan pertama kura-kura moncong babi setibanya di Merauke dilakukan di Stasiun Karantina Ikan Kelas II Mopah. Hewan-hewan mungil itu mendapatkan pengawasan dan pemeriksaan selama satu malam. Tanggal 26 Agustus 2018 pihak Karantina Ikan mengeluarkan Sertifikat Kesehatan Ikan, KI-D12, yang menandai ratusan kura-kura moncong babi itu siap dilepasliarkan. Selanjutnya kura-kura moncong babi harus menempuh delapan jam perjalanan dari Merauke ke Boven Digul. Di sana, tim advance yang terdiri dari Balai Besar KSDA Papua, WWF, dan Yayasan IAR Indonesia melakukan koordinasi dengan Pemerintah Daerah Boven Digul, dan diterima langsung oleh Kepala Bapeda Boven Digul. Selanjutnya tim melakukan survei di beberapa lokasi sungai. Akhirnya, pilihan dimantabkan di Sungai Digoel, Kampung Sokanggo, Distrik Mandobo, Kabupaten Boven Digul sebagai lokasi pelepasliaran. Keadaan Sungai Digoel dinilai paling representatif. Ratusan kura-kura moncong babi menjalani proses habituasi selama satu malam, sebelum momentum pelepasliaran pada 27 Agustus 2018. Tepian Sungai Digoel hari itu tampak tenang. Kecipak air yang dingin di tengah cuaca redup menandai kepulangan sekawanan kura-kura moncong babi ke habitat aslinya. Nyata mereka disambut dan dilepas kembali ke alam dengan suka cita. Saksi-saksi pada momentum pelepasliaran antara lain Niken Wuri Handayani, perwakilan Direktur KKH-KLHK, Dominicus S. Wiwaron, ST. MT, perwakilan Pemda Kab. Boven Digul, Maikel Yunus Adadikam, perwakilan Bea Cukai, Nikolaus Bembi Kaat, perwakilan kampung, dan perwakilan-perwakilan lain. Kepulangan 595 kura-kura moncong babi ke habitatnya diharapkan dapat menjaga dan melestarikan keanekaragaman hayati Papua. Sehingga warisan-warisan berharga ini tetap dapat disaksikan dan dimiliki oleh generasi di masa depan. Sumber : Balai Besar KSDA Papua
Baca Berita

BKSDA Kalsel Tingkatkan Pengembangan Usaha Ekonomi di Desa Sembilang

KOTABARU, 26 Agustus 2018. Pukul 08:05 WITA tim dari Seksi Konservasi Wilayah III Batulicin BKSDA Kalimantan Selatan tiba di Desa Sembilang Kecamatan Kelumpang Tengah Kabupaten Kotabaru dalam rangka penyerahan 200 ekor bebek petelur jenis Mojosari Alabio kepada Kelompok Masyarakat Desa Konservasi Al-Barokah yang dibentuk pada bulan Mei 2018 oleh BKSDA Kalimantan Selatan. Penyerahan 200 bebek ini diharapkan dapat meningkatkan usaha ekonomi dan mengurangi ketergatungan masyarakat terhadap Cagar Alam Teluk Kelumpang dalam hal perambahan kawasan. Sebelum penyerahan 200 bebek petelur kepada masyarakat, tim kembali mensosialisasikan dan berdiskusi dengan kelompok Masyarakat Desa Konservasi yang dipimpin oleh Karta Manadi sebagai ketua kelompok terkait teknis pengelolaan kelompok, pembuatan RKL dan RKT Kelompok. Adapun hasil dari diskusi bahwa Kelompok harus melaksanakan AD/ART yang telah mereka sepakati; Terkait adanya anggota kelompok yang kurang serius dalam melaksanakan tugas harian, akan diselesaikan secara kekeluargaan; Lokasi kandang disepakati menjadi satu kandang besar sehingga dapat mudah untuk dilakukan minitoring dan pengawasan; Pihak BKSDA Kalimantan Selatan akan terus melakukan pemantauan terkait pelaksanaan kegiatan kelompok budidaya dan RKL dan RKT akan diselesaikan oleh kelompok dalam waktu yg tidak terlalu lama. Masyarakat dapat memahami apa yang disampaikan oleh Tim dari SKW III BKSDA Kalimantan selatan dengan antusias yang sangat tinggi dan respon positif diharapkan usaha kelompok ini akan sukses dan berkembang. Setelah diskusi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan serah terima barang berupa 200 ekor bebek petelur jenis Mojosari Alabio kepada ketua kelompok. Kegiatan berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan. (jrz) Sumber : Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Taman Nasional Kutai Rumah Kita

Bontang, 27 Agustus 2018. Balai Taman Nasional Kutai bekerjasama dengan PT. Kaltim Nitrat Indonesia (PT. KNI) mengadakan kegiatan pendidikan lingkungan di Bontang Mangrove Park, Taman Nasional Kutai. Kegiatan yang bertema "TN Kutai rumah kita" belajar, bermain dan bertualang di TN Kutai diikuti oleh pelajar SMP Se-Kota Bontang dengan masing-masing sekolah terdiri dari 3 orang peserta dan guru pendamping. Kegiatan ini juga dihadiri tamu undangan dan mitra TN Kutai. Kegiatan dilaksanakan atas kepedulian dan komitmen PT. KNI terhadap lingkungan khususnya Taman Nasional Kutai. Program ini tidak bisa hanya dilakukan sekali saja tetapi harus berkesinambungan. Dukungan kerjasama dari guru di sekolah juga diperlukan untuk tetap menerapkan cinta lingkungan kepada siswa-siswi ungkap Bapak Rheza Zacharias selaku Goverment Community Relation and General Affair Departemen Head PT. KNI. Selanjutnya Kepala Balai TN Kutai Bapak Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc. menyatakan TN Kutai adalah milik kita bersama. TN Kutai memberikan kontribusi edukasi kepada siswa-siswi di Kota Bontang dan nantinya akan merambah ke Kutai Timur dan Kutai Kartanegara sehingga TN Kutai menjadi icon bagi Kalimantan Timur bahwa edukasi lingkungan dimulai dari TN Kutai sehingga TN Kutai atau lingkungan yang ada bisa dijaga oleh masyarakat yang ada di dalamnya. Selama satu hari kegiatan, siswa-siswi dibimbing oleh Nina Amban dari Bumi Edukasi Bogor untuk belajar, bermain dan bertualang di TN Kutai serta menanamkan kepada peserta bahwa TN Kutai adalah rumah sendiri yang harus dikenal dan dijaga. Dengan metode belajar yang sangat menarik dan kreatif, seluruh peserta sangat antusias untuk belajar baik indoor maupun outdoor. Hasil dari pendidikan lingkungan ini adalah terbentuknya laskar TN Kutai yang nantinya akan selalu menjadi agen konservasi untuk menyuarakan konservasi kepada masyarakat luas. Sumber : Balai Taman Nasional Kutai
Baca Berita

Erpangir, Harmonisasi Alam dan Budaya

Medan, 27 Agustus 2018. Taman Wisata Alam (TWA) Lau Debuk-debuk, Desa Doulu, Kecamatan Brastagi, Kabupaten Karo, pada Sabtu 24 Agustus 2018 melakukan ritual Erpangir. Erpangir mengandung arti mandi keramas atau istilah sekarang mandi kembang. Sebelum Erpangir, ritual didahului dengan Ercibal, yaitu memasang sesajen, berupa bunga (kembang), jeruk purut, buah-buahan, makanan, ayam hidup, dan sesajen lainnya. Jadi Ercibal ras Erpangir (memasang sesajen dan mandi keramas) ini pada dasarnya merupakan ritual yang diyakini dan dilakukan oleh sekelompok masyarakat yang menginginkan sesuatu terjadi dalam hidupnya, mulai dari kesehatan, kesembuhan sakit penyakit, rezeki dan keberuntungan usaha, sampai kepada masalah perjodohan. Menariknya, ritual ini telah menjadi budaya/tradisi bagi masyarakat penganut yang meyakininya. Pada awalnya budaya Erpangir ini tumbuh dikalangan masyarakat etnis/suku Karo. Namun dalam perkembangannya, ritualisasi Erpangir juga diikuti oleh masyarakat berbagai suku/etnis, dan bahkan juga dari berbagai latarbelakang agama maupun keyakinan. Penganut/pelakunya pun tidak hanya berasal dari masyarakat sekitar kawasan TWA Lau Debuk-debuk, melainkan juga masyarakat dari luar kota Brastagi, Kabupaten Karo sampai luar Propinsi Sumatera Utara. Keberadaan ritual Erpangir merupakan salah satu kearifan lokal yang menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung kawasan TWA Lau Debuk-debuk dan patut untuk terus dijaga serta dipertahankan. Budaya Erpangir ini juga memberi dampak yang positif terhadap keberadaan dan keberlangsungan kawasan TWA Lau Debuk-debuk. Dengan ritual yang dilaksanakan pada hari-hari tertentu setiap bulan (menurut kalender Karo), ada edukasi dan penyadaran (awarness) yang bisa dipetik manfaatnya. Pertama, setiap pelaku ritual diingatkan untuk menjaga kesakralan dan etika selama berada dilokasi kawasan TWA Lau Debuk-debuk. Peserta ritual dan pengunjung wajib menjaga sopan santun terutama dalam bertutur kata. Bahkan penganut tradisi ini saat akan mandi di kolam, sebelumnya mengucapkan “santabi” (kata permisi untuk mandi) kepada leluhur yang diyakini ada disekitar kawasan TWA Lau Debuk-debuk. Kedua, dengan kesakralan serta pentingnya keberadaan kawasan yang menjadi pusat ritual, tentunya akan memperkuat posisi kawasan TWA Lau Debuk-debuk agar tetap dipertahankan serta dijaga kelestariannya. Ketiga, dengan ritual Erpangir, juga memposisikan kawasan TWA Lau Debuk-debuk sebagai pusat berkumpul dan bersatunya masyarakat. Rasa kekeluargaan dan persatuan terlihat kental disaat acara ritual, meskipun mereka masing-masing datang dari daerah yang berbeda-beda, suku yang beragam dan agama yang tidak sama. Energi positif yang dihasilkan dari budaya/tradisi Erpangir ini terhadap keberadaan kawasan TWA Lau Debuk-debuk, sejatinya harus terus dijaga dengan membenahi kawasan konservasi dimaksud. Balai Besar KSDA Sumatera sangat memahami hal ini, sehingga selama 2 (dua) tahun berturut-turut (tahun 2017 s.d 2018) dilakukan berbagai pembenahan berupa pembangunan fasilitas pendukung yang diharapkan memberi kenyamanan bagi pengunjung, seperti pembangunan gapura, shelter, pondok kerja, MCK, penataan kolam mandi dan berbagai fasilitas lainnya. Sosialisasi keberadaan kawasan TWA Lau Debuk-debuk juga terus dilakukan dalam upaya meningkatkan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP). Peringatan Hari Konservasi Alam Nasional Tahun 2018, yang mengangkat tema : “Harmonisasi Alam dan Budaya”, diharapkan menjadi momentum dan event penting dalam memasyarakatkan Harmonisasi TWA Lau Debuk-debuk dengan Budaya Erpangir. Sehingga budaya Erpangir tetap eksis dan TWA Lau Debuk-debuk tetap lestari. (Evansus Renandi Manalu). “Ayo ke TWA Lau Debuk-debuk” Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara

Menampilkan 7.137–7.152 dari 11.140 publikasi