Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

BBKSDA Sumut Ajarkan Konservasi Sejak Dini di SDN 030293 Lae Hole

Lae Hole II - Pancur Nauli 31 Agustus 2018. Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah I Sidikalang, kembali menyambangi/mengunjungi Sekolah Dasar Negeri (SDN) 030293 Lae Hole, pada Rabu, 29 Agustus 2018. Kunjungan kali ini dalam rangka kegiatan visit to school untuk penyebarluasan dan penyadartahuan Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya sejak dini bagi anak di tingkat sekolah dasar. Sekedar informasi, bahwa SDN 030293 Lae Hole, sejak tahun 2015 telah menjadi binaan Resort TWA Danau Sicike-cike. Sasaran kegiatan ini adalah siswa/i yang duduk di kelas 1 dan kelas 2, yang sejak masuk sekolah belum pernah mendapatkan pengetahuan tentang Konservasi. Kegiatan visit to school ini pada dasarnya merupakan salah satu kegiatan pendidikan lingkungan yang ditujukan bagi para pelajar, dilakukan dengan cara mendatangi sekolah sasaran dan menggunakan metode kolaborasi antara ceramah dan simulasi/eksperimen. Melalui kegiatan ini diharapkan generasi muda khususnya para pelajar dapat lebih mencintai alam dan lingkungannya sedini mungkin. Disamping itu melalui kegiatan visit to school ini juga para pelajar mendapatkan tambahan berbagai informasi dan pengetahuan tentang konservasi sumber daya alam hayati dan lingkungan hidup sehingga mereka dapat berperilaku selaras dengan alam lingkungannya. SDN 030293 Lae Hole menjadi tujuan utama dilaksanakannya kegiatan ini, mengingat sekolah yang terletak di Dea Sae Hole II, Kecamatan Parbuluan Kabupaten Dairi tersebut selain sebagai salah satu sekolah binaan, juga karena posisi letak sekolah yang berada dekat dengan kawasan Taman Wisata Alam Danau Sicike-cike. Kegiatan diikuti siswa/i kelas 1-2 yang berjumlah 80 (delapan puluh) orang, didampingi Guru Pembimbing dan Kepala Sekolah. Beberapa materi Pembelajaran Konservasi yang disampaikan mentor Samuel Siahaan, SP dibantu Senang Sigiro Kepala Resort TWA Sibolangit dan Staf Resort Bergiat Sembiring serta Tenaga Pengaman Hutan Lainnya Hotber Sianturi, berupa materi Pengenalan Hutan berikut Fungsi dan Manfaatnya, pemutaran video kawasan TWA Danau Sicike-cike, kampanye pengurangan penggunaan air botol isi ulang, dan ditutup dengan Yel-yel Salam Konservasi serta slogan promosi wisata alam untuk mengajak masyarakat datang berkunjung ke TWA Danau Sicike cike. Dalam sambutannya Kepala Sekolah SDN 030293 Lae Hole, Yanty Rosdiana Berutu, menyatakan sangat mendukung kegiatan seperti ini dan diharapkan kelanjutan Program dapat berlangsung secara berkala dengan menjadikan sekolah ini menjadi salah satu Sekolah berwawasan Konservasi dan Lingkungan (Adiwiyata), mengingat Ibu Kepala Sekolah sudah pernah mengikuti Pendidikan Lingkungan bagi Guru-guru Sekolah dasar di Balai Pendidikan dan Latihan Kehutanan beberapa waktu lalu. Pada akhir sambutannya, beliau juga menyampaikan beberapa aktivitas kegiatan kedepan dari SDN 030293 Lae Hole, yaitu melaksanakan penanaman pohon (penghijauan di lingkungan sekolah), pembuatan Biopori, penanaman bunga dan pembuatan kompos. Kegiatan visit to school akan berlanjut kedepannya dengan bimbingan Resort TWA Danau Sicike-cike, tandas Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Sidikalang, Tuahman Raya, S.Sos., pada arahannya, sehingga Kegiatan visit to school nantinya akan memberikan pengetahuan, wawasan dan pengalaman yang menyenangkan dalam kehidupan di alam sehingga dapat memotivasi atau menimbulkan minat para siswa sekolah untuk mencintai alam dan meningkatkan apresiasi/kesadaran khususnya yang berorientasi dengan program konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Sumber : Samuel Siahaan, SP - PEH Pertama Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Pengamatan Sampah Laut di Pulau Selayar

Benteng - Kepulauan Selayar, 31 Agustus 2018. Letaknya yang melintang dari Utara ke Selatan membuat Pulau Selayar menjadi sasaran empuk pendaratan sampah-sampah laut. Dan sudah bisa dipastikan kondisi pantai bagian barat Kepulauan Selayar tepatnya di saat musim Angin Barat (Munson), dipenuhi sampah laut berupa plastik, botol, stirofom juga kayu. Sampah ini merupakan sampah kiriman dari berbagai tempat. Hal ini berlangsung selama beberapa bulan, sampah menumpuk di sepanjang bibir pantai bagian barat pulau. Hal tersebut membuat Direktorat Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Pesisir dan Laut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melakukan pengumpulan dan analisis data untuk menyusun baseline data sampah laut di Pulau Selayar. Pengumpulan data ini dilakukan bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Kelautan Perikanan Unhas dan Balai TN Taka Bonerate menggunakan metoda survey yang mengacu pada guidelines yang telah disusun oleh UNEP (united nation enviroment program) dan NOAA. Kegiatan pengumpulan data ini berlangsung selama 2 (dua) hari, 29 sampai dengan 30 Agustus 2018 dengan dua sebaran titik stasiun Utara dan Selatan. Dengan adanya baseline data ini diharapkan menjadi dasar data series kedepan sehingga diketahui jumlah dan jenis sampah yang sering mendarat di sepanjang pantai Pulau Selayar. Sumber : Yasri Tahir - POLHUT Balai TN. Taka Bonerate Editor : Asri PEH TN. Balai TN. Taka Bonerate
Baca Berita

Balai KSDA Sumsel Berhasil Gagalkan Pengiriman Kura-Kura Bergerigi

Palembang, 31 Agustus 2018. Balai KSDA Sumsel khususnya Polisi Kehutanan yang bertugas di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang berhasil menggagalkan pengiriman illegal kura-kura bergerigi (Cyclemys dentate) di akhir Agustus 2018. Hal ini dilakukan bersama dengan instansi Balai Karantina Ikan Kelas I Sultan Mahmud Badaruddin Palembang. Kura-kura bergerigi (Cyclemys dentata) sebanyak 6 ekor yang diselundupkan tanpa dokumen dengan menggunakan salah satu jasa pengiriman. Kura-kura bergerigi (Cyclemys dentata) bukan satwa yang dilindungi menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan P.20 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Yang Dilindungi, namun demikian berstatus konservasi hamper terancam/Near Threatened (NT). Selanjutnya kura-kura bergerigi tersebut, dilepasliarkan di habitatnya. Salah satu kawasan konservasi yang menjadi habitatnya yakni di TWA Punti Kayu. Pelepasliaran dilakukan oleh Polhut Balai KSDA Sumatera Selatan, Kepala Stasiun Karantina Ikan, Pengendali Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan, dan staf PT. Indosuma Putra Citra selaku pemegang IPPA di TWA Punti Kayu. Semoga sang kura-kura akan terus berkembangbiak di habitatnya. Sumber: M. Andriansyah, Agnes Indra Mahanani (Fungsional Balai KSDA Sumatera Selatan)
Baca Berita

Rumah Pintar Dongan Kedatangan Tamu

Lobu Rappa, 31 Agustus 2018. Pertama kalinya Rumah Pintar Dongan mendapat kunjungan dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Asahan. Rumah Pintar Dongan merupakan wadah dan tempat berkumpul jaringan pemangku kepentingan kawasan SM Dolok Surungan I, khususnya bagi mereka yang peduli dengan kelestarian kawasan ini dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya yang dikelola oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Lestari Dongan yang merupakan Kelompok Binaan Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Tanggal 2 Pebruari 2011 disepakati sebagai momen berdirinya Rumah Pintar Dongan, namun secara praktik sebagian kegiatan Rumah Pintar Dongan sudah berjalan sejak awal tahun 2010 lalu. Rumah baca anak-anak sendiri baru dimulai pada awal bulan Maret 2011. Kunjungan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Asahan yang diwakili Kepala Bidang Perpustakaan, Drs. Kasian, MM, sangat mengapresiasi keberadaan Rumah Pintar Dongan. “Kami tidak menyangka di Dusun kecil Salipotpot, yang untuk menuju dusun ini tergolong sulit, ternyata ada sebuah rumah baca yang didirikan oleh masyarakat secara swadaya. Dalam koordinasi Bidang KSDA Wilayah II Pemtangsiantar tanggal 13 Agustus 2018 ke kantor kami merupakan awal pertama kami mengetahui tentang Rumah Pintar Dongan, dan ternyata Rumah Pintar Dongan ini merupakan satu-satunya Taman Baca Masyarakat (TBM) yang ada di Kecamatan Aek Songsongan Kabupaten Asahan,” ujar Kasian mengapresiasi Rumah Pintar Dongan. Pada kesempatan ini Rumah Pintar Dongan mendapatkan pembinaan dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Asahan tentang manajemen perpustakaan berkaitan dengan pembuatan daftar inventaris buku secara lengkap, daftar pengunjung untuk dapat melihat berapa banyak pengunjung setiap bulannya dan membuat rekap pertahun. Untuk lebih memahami bagaimana manajemen perpustakaan terutama dalam hal membuat daftar dan melabelin buku, dijadwalkan tanggal 29 – 30 Agustus 2018 Pengelola Perpustakaan Rumah Pintar Dongan akan belajar langsung ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Asahan. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Asahan juga siap melatih Pengelola Perpustakaan Rumah Pintar Dongan dalam manajemen perpustakaan dan akan memberikan bantuan buku-buku, rak buku dan meja belajar, dengan syarat Rumah Pintar Dongan mengajukan proposal terlebih dahulu. Saat ini Rumah Pintar Dongan sudah memiliki koleksi buku yang beraneka warna menggambarkan ragam ilmu yang kesemuanya dimaksudkan untuk meningkatkan wawasan dan kreatifitas masyarakat. Buku aneka warna ini juga simbol bagi kemajemukan sosial yang menjadi khalayak sasaran Rumah Pintar Dongan mulai dari anak-anak, pemuda, petani, bapak-bapak, dan ibu-ibu dari berbagai suku dan agama. Rumah Pintar Dongan sekarang menjadi tempat bagi anak-anak Dusun V Salipot-pot dalam belajar dan bermain. Untuk pengembangan selanjutnya, Rumah Pintar Dongan sangat mengharapkan bantuan buku-buku guna menambah koleksi Rumah Pintar Dongan terutama agar lebih lagi meningkatkan dan menumbuhkan minat baca anak-anak dan masyarakat yang ada disekitar Rumah Pintar Dongan.(Lisbeth Manurung/Penyuluh). Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Jaya Selalu Indonesiaku

Ambon, 17 Agustus 2018. Bertempat di lapangangan kewang pawamanahu, kegiatan memperingati hari kemerdekaan 17 Agustus 2018 yang ke-73 dilaksanakan tepat pada hari Jumat, 17 Agustus 2018 pukul 08.00 sd. selesai. Sang merah Putih dikibarkan dengan iringan lagu kebangsaan Indonesia raya yang dikumandangkan oleh seluruh peserta upacara yang terdiri dari Dinas Kehutanan Propinsi Maluku dan UPT Lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. BKSDA Maluku Bersama dengan UPT Kemen-LHK se-propinsi Maluku dan Dinas Kehutanan Propinsi Maluku melaksanakan kegitan upacar bendera memperingati hari kemerdekaan 17 Agustus 2018 secara hikmat. Bertindak sebagai Inspektur upacara adalah Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Maluku, Bapak Sadli lee, "Upacara ini dilaksanakan sebagai bentuk rasa cinta kita kepada Negara Indonesia yang telah bebas dari penjajah dan merdeka pada 73 tahun yang silam", tuturnya. Setelah upacara bendera dilaksanakan dilanjutkan dengan pemotongan nasi tumpeng oleh kepala dinas kehutanan propinsi Maluku dan diserahkan kepada Kepala Balai KSDA Maluku bapak Mukhtar Amin Ahmadi, SH, M.Si. Sebagai Bangsa Indonesia yang baik, sudah sepatutnya kita merayakan hari kemerdekaan Negara kita dengan penuh rasa bangga Karena para pahlawan kita telah mengorbankan seluruh jiwa raganya demi negara kita tercinta Republik Indonesia. Oleh karena itu, kita sebagai penerus bangsa ini wajib menghargai jasa para pahlawan yang telah gugur mendahului kita demi keutuhan NKRI. Jaya selalu Negeriku Indonesia Tercinta... Sumber : Sendian Anugerah Rupilu, S.Hut. PEH Pertama - BKSDA Maluku
Baca Berita

Secercah Harapan Perempuan Sumba dari Ternak Itik

Waingapu, 27 Agustus 2018. Bantuan berupa 1500 ekor day old duck (anak itik umur sehari) yang diberikan Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) kepada kelompok perempuan Sumba di Desa Padiratana saat ini telah cukup dewasa. Para Penyuluh Kehutanan yang turut aktif menjadi pendamping kelompok mengambil keputusan untuk memperluas kandang yang telah ada agar resiko kematian itik dapat dihindari. Plt. Kasubag Tata Usaha, Hastoto Alifianto, S.Hut. M.Si yang hadir untuk melakukan supervisi juga turut membantu para Penyuluh Kehutanan dan anggota kelompok untuk memperluas kandang serta memindahkan sementara itik-itik kedalam mobil. Selain melakukan perluasan kandang, distribusi pakan, vitamin, dan suplemen juga turut diberikan. Sejumlah itik yang telah diberikan vitamin dan suplemen dipindahkan ke kandang sub kelompok yang berada di Dusun 2 dan 3. Para anggota kelompok terlihat sangat antusias dalam mengerjakan program ini. Melihat kondisi itik-itik yang semakin besar dan sehat, mereka sudah membayangkan bahwa akan ada tambahan penghasilan dari kegiatan ini. Para anggota kelompok berharap bahwa nantinya mereka dapat mengerjakan ini secara mandiri sehingga tujuan kemandirian ekonomi kelompok perempuan di Desa Padiratana dapat terwujud. Sumber: Balai TN Matalawa
Baca Berita

Jangan Menyerah Membersihkan Sampah di Pulau Karimunjawa

Karimunjawa, 30 Agustus 2018. Sampah di Pulau Karimunjawa berasal dari rumah tangga masyarakat Karimunjawa, Pariwisata, serta sampah yang terbawa oleh arus gelombang laut kemudian terdampar di Pulau Karimunjawa. Jenis sampah an-organik seperti plastik, kertas, kaca, seng, besi, kain lebih mendominasi volume sampah daripada sampah organik seperti kayu, bambu, dan daun pohon. Arus laut juga membawa sampah dan terdampar di Pulau Karimunjawa menambah usaha kerja keras dalam penanganan sampah, sampah yang terdampar di pesisir pantai mengganggu keindahan dan aktivitas pariwisata, arus pantai pada musim barat antara bulan desember samapai maret membawa sampah yang lebih banyak daripada musim timur pada bulan juni sampai agustus. Sampah yang terbawa arus musim barat dan musim timur juga terdiri dari sampah organik dan an-organik. Selengkapnya dapat diklik link sebagai berikut : Sampah di Pulau Karimunjawa Sumber : Achmad Syaf'aat - Balai Taman Nasional Karimunjawa
Baca Berita

Peningkatan Kapasitas MMP oleh BKSDA Jambi

Muara Sabak, 27 Agustus 2018. SKW III Balai KSDA Jambi melakukan Peningkatan Kapasitas MMP (Masayarakat Mitra Polhut) melalui Pelatihan Pengawasan dan Perlindungan Kawasan Hutan Berbasis Masyarakat pada tanggal 25 s.d 26 Agustus 2018. Acara dibuka oleh Koordinator Polisi Kehutanan, Jefrianto S.H. Kegiatan ini diikuti oleh 10 orang MMP yang terdiri dari perwakilan beberapa desa yaitu, Kelurahan Mendahara Ilir, Kelurahan Tanjung Solok, Desa Alang Alang, Desa Sungai Ular, Desa Sinar Kalimantan, dan Desa Pangkal Duri Ilir. MMP dibentuk dengan tujuan membantu polisi kehutanan dalam melakukan perlindungan dan pengamanan kawasan Cagar Alam. Keberadaan Polhut selama ini tidak sebanding dengan luas wilayah yang harus dilindungi, maka dari itu dibentuk lah MMP yang terdiri dari masyarakat sekitar kawasan. Keterlibatan masyarakat sekitar sangat membantu Polhut BKSDA Jambi dalam melakukan kegiatan patroli, sosialisasi, penyebarluasan informasi mengenai arti penting kawasan. Materi kegiatan disampaikan langsung oleh Kepala Seksi Konservasi Wilayah III serta Polisi Kehutanan BKSDA Jambi yang terdiri dari 4 orang narasumber. Materi kegiatan meliputi Dasar Dasar Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Tupoksi BKSDA Jambi dan KPHK Hutan Bakau Pantai Timur, Peraturan Perundang Undangan, Pengamanan dan Perlindungan Hutan Konservasi, Survival, Peran Serta MMP, Teknik Penyuluhan, Penyusunan Laporan MMP, Pengenalan Aplikasi GPS Berbasis Android, dan Kesamaptaan. Materi yang disampaikan diharapkan dapat meningkatkan kapasitas Masyarakat Mitra Polhut dalam pelaksanaan tugasnya dilapangan. Kepala Seksi Konservasi Wilayah III BKSDA Jambi, Faried S.P mengungkapkan “Alhamdulillah kegiatan peningkatan kapasitas MMP sudah selesai kami laksanakan, MMP yang datang terlihat antusias dengan kegiatan yang kami selenggarakan. Keterlibatan masyarakat perlu kami lakukan untuk membantu pengamanan kawasan, sehingga dapat mencegah terjadi nya gangguan terhadap kawasan yang kita punya.” Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Bertani Sehat Ala TN Gunung Ciremai

Kuningan, 30 Agustus 2018. Akhir Agustus ini sampai dengan Desember 2018, Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) bekerja sama dengan Kelompok Tani Bakti Mandiri Desa Bandorasa Kulon, Cilimus, Kuningan, Jawa Barat sedang melaksanakan pembuatan plot percontohan pengembangan pertanian sehat. Lho kok bisa TNGC mengurusi pertanian sehat? Keberadaan Gunung Ciremai telah banyak membawa pengaruh terhadap segala bentuk kehidupan bagi sekitarnya sebagai keatuan ekosistem, baik ekologi, hidrologi maupun kehidupan sosial serta budayanya. Salah satu aktifitas kehidupan sosial dan budaya yang dipengaruhi keberadaan Gunung Ciremai adalah sistem pertanian masyarakat, mulai dari cara bercocok tanam, mengolah lahan, musim tanam, jenis tanam, pola tanam, sistem pengairan, irigasi dan lain-lain. Begitu pula sebaliknya, kegiatan pertanian yang tidak sehat di sekitar Gunung Ciremai dapat mempengaruhi kelestarian ekologi flora dan fauna yang ada di dalam kawasan Gunung Ciremai. Serangga yang kabur akibat pengendalian hama di lahan pertanian masuk ke dalam kawasan Gunung Ciremai dan dimakan oleh fauna yang ada di dalam kawasan hutan Gunung Ciremai. Fauna tersebut lalu di makan oleh satwa pemangsa lainnya. Jadilah satwa-satwa yang ada di dalam hutan Gunung Ciremai teracuni pestisida. Jadi pertanian di sekitar kawasan TNGC harus sehat. Gunung Ciremai sebagai gunung api aktif telah membawa kesuburan tanah bagi sekitarnya. Hal ini sangat menguntungkan para petani sekitarnya. Sebelum ada pabrik pupuk kimia buatan, para petani cukup mengambil dari dalam hutan Gunung Ciremai berupa ”topsoil” dan serasah (sampah-sampah organik yang berupa tumpukan dedaunan kering, rerantingan, dan berbagai sisa vegetasi lainnya di atas lantai hutan yang sudah mengering dan berubah dari warna aslinya) menjadi pupuk tanaman oleh para petani tempo dulu di sekitar Gunung Ciremai. Diilhami dari cara bercocok tanam dengan menggunakan pupuk dari serasah tersebut, Balai TNGC mengadakan penelitian terhadap “topsoil” dan seresah tersebut sebagai penyubur tanaman. Balai TNGC berkerjasama dengan Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Insitut Pertanain Bogor (IPB), dengan tujuan untuk mendapatkan “beneficial microbes” bagi tanaman untuk patogen serangga, PGPR (“Plant Growth Promoting Rhizobacteria”/ bakteri pemacu pertumbuhan) dan “anti frost”. Hasil penelitian tersebut, berdasarkan hasil isolasi, uji “hemolisis” dan uji “hipersensitif“ menemukan bakteri PGPR yang dapat memacu pertumbuhan akar 3 kali lebih cepat dengan daya kecambah 60 persen di banding dengan “isolat control” dan terdapat 3 cendawan patogen serangga dari jenis Hirsutella, Lecanicillium, Noumurea. Cendawan ini berguna untuk mengendalikan penyakit wereng yang menyerang tanaman. Serta hasil uji tersebut juga menemukan mikroba “anti frost” sebanyak 27 bakteri. Namun setelah diuji “hemolisis” dari 27 tersisa 21 bakteri. Setelah diuji “hepersensitif” lagi hanya tersisa 8 bakteri “anti frost”. Mikroorganisme yang akan diuji coba ini salah satu plasma nutfah merupakan sumber daya genetik dari dalam kawasan konservasi TNGC yang mempunyai prospek menguntungkan bagi masa depan atau lebih dikenal dengan istilah bioprospekting. Bakteri hasil uji coba laboratorium kemudian diuji coba pada kondisi lapangan di plot percontohan (demplot). Plot percontohan ini untuk menunjukan cara penerapan inovasi baru dan untuk membuktikan bahwa inovasi tersebut mengandung hal pembaharuan dan mempunyai manfaat bagi kemajuan teknologi pertanian di sekitar Gunung Ciremai khususnya dan Indonesia pada umumnya. Plot percontohan ini ingin menampilkan pola pertanian sehat ala TNGC dengan ilham cara bertani masyarakat sekitar Gunung Ciremai sebelum ada pabrik pupuk dengan menggunakan zat kimia buatan. Pertanian sehat ala TNGC merupakan kegiatan yang mendorong produktifitas lahan pertanian tanpa pupuk dan obat-obatan kimia buatan, yaitu dengan mikroba yang mempercepat dekomposisi bahan organik dari sisa tanaman dan pupuk kandang menjadi kompos. Hal itu menyediakan unsur hara, memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kemampuan memegang air, dan aktivitas biologi tanah. Jadi pertanian sehat ala TNGC adalah kegiatan meningkatkan dan memperbaiki daya dukung tanah dan lingkungan bahkan disertai dengan konservasi sehingga sumberdaya tanah dan lingkungan tidak mengalami degradasi untuk dapat digunakan secara berkelanjutan. Plot percontohan yang sedang dibuat untuk mengamati pengaruh bakteri baik terhadap tanaman cabe rawit, tomat, kentang dan bawang daun. Untuk bergabung mengamati pertanian sehat ala TNGC terhadap komiditas cabe rawit, tomat, kentang dan bawang daun, bisa menghubungi kami atau kontak langsung kepada petugas TNGC, saudara Idin Abidin di nomor telepon 085320300598, atau langsung ke Kelompok Tani Bakti Mandiri Desa Bandorasa Kulon dengan ketuanya, saudara Nasir. [teks & foto ©? Idin Abidin - BTNGC | 082018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Intip Yuk Cerita BBKSDA Sumut Jadi Satker Terbaik Keempat

Medan, 30 Agustus 2018. Kabar gembira, Balai Besar KSDA Sumatera Utara terpilih dan ditetapkan sebagai terbaik keempat Satker Kinerja Terbaik Semester I Tahun 2018, oleh Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Sumatera Utara, dan atas prestasi tersebut telah pula menerima penghargaan yang diserahkan langsung oleh Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Sumatera Utara, Bakhtaruddin, pada Rabu 29 Agustus 2018. Balai Besar KSDA Sumatera Utara bersaing dengan 152 instansi/institusi dan lembaga negara/pemerintahan yang ada di Provinsi Sumatera Utara. Penilaian dilakukan dengan mengacu kepada 4 kategori indikator kinerja pelaksanaan anggaran, yaitu : (1) kesesuaian antara perencanaan dan penganggaran, (2) efektivitas pelaksanaan kegiatan, (3) kepatuhan terhadap regulasi, dan (4) efisiensi pelaksanaan kegiatan. Dari 4 kategori ini ditetapkan 12 indikator kinerja yang dijadikan dasar untuk penilaian. Dan hasilnya, Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan Provinsi Sumatera Utara menetapkan 5 satker terbaik untuk pengelolaan DIPA diatas Rp. 10 miliar, berturut-turut : Balai Pendidikan dan Latihan Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kesdam I Bukit Barisan, Universitas Negeri Medan, Balai Besar KSDA Sumatera Utara dan Badan Pusat Statistik Sumatera Utara. Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Propinsi Sumatera Utara dalam arahannya mengingatkan seluruh satker untuk mulai membenahi pengelolaan anggaran maupun kegiatan agar lebih baik lagi. “Jadikan 4 kategori indikator kinerja pelaksanaan kegiatan menjadi acuan kerja di satker masing-masing,” ujar Bakhtaruddin. Lebih lanjut Kepala Kanwil menekankan, bahwa prinsip pengukuran kinerja adalah keterbukaan, efisiensi dan akuntabel, dan kelima satker yang terpilih sebagai yang terbaik telah berusaha mencoba untuk menerapkan kategori indikator kinerja serta prinsip-prinsip pengukuran kinerja. Penghargaan bagi Balai Besar KSDA Sumatera Utara diterima Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, yang diwakili Kepala Bagian Tata Usaha, Teguh Setiawan, S.Hut., yang didampingi Kepala Sub Bagian Program dan Kerjasama Elvina Rosinta Dewi, S.Hut.,MIL serta staf Subbag Program dan Kerjasama Irma Yanti N., S.Kom. (Evan) Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Koperasi Agung Lestari Berbagi Pengalaman di HKAN 2018

Bitung, 30 Agustus 2018. Kegiatan Hari Konservasi Nasional Alam (HKAN) Tahun 2018 dilaksanakan di Taman Wisata Alam Batu Putih, Tangkoko Bitung, Sulawesi Utara. Bersamaan dengan pemberian apresiasi desa binaan terbaik, Koperasi Agung Lestari berbagi pengalaman apa yang telah disumbangsihkan untuk hutan dan masyarakatnya. Panggung utama menjadi saksi perhelatan diskusi yang menarik pada rabu (29/8) pukul 19.30-21.30 WITA. Mengusung tema "peran serta generasi muda dalam bidang konservasi sumber daya alam hayati", kegiatan diikuti 400 orang yang berasal dari unit pelaksana teknis Direktorat Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem, Konsistennya di seluruh indonesia. Moderator Rully Prayoga Selain Koperasi Agung Lestari, pembicara lain yang hadir yaitu Hampar (Habitat Masyarakat Peduli Alam Raya) Medina Kamil (presenter (Jejak Petualang) dan Dodi Johanjaya (produser Jejak petualang). Dalam kesempatan tersebut, Salikin selaku pengurus Koperasi Agung Lestari menceritakan awal mula peran serta dalam pengelolaan kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai sejak tahun 2011 melalui wisata alam Curug Cipeuteuy. Hal yang menjadi pegangan kelompok adalah memahami dan mematuhi aturan, menjaga keutuhan dalam kebersamaan anggota kelompok, kordinasi dengan pemerintah, dan komitmen, bahwa hutan itu milik kita dan kita wajib menjaga dan melestarikannya. Medina kamil selaku presenter Jejak Petualang yang sudah berpengalaman memasuki hutan di seluruh Indonesia mendecak kagum bahwa kawasan konservasi tidak selamanya hanya menjadi momok permasalah sosial. "Justru sosial dan budaya yang ada di sekitar kawasan konservasi menjadi kekuatan, bagaimana memeditasi antara aturan yang ada dengan teknis di lapangan" tambahnya. Hal yang sama juga dilontarkan pembicara jalannya acara Hampar (habitat masyarakat peduli alam raya), Telungagung Jawa Timur bahwa masalah itu ada karena memang tidak mau dihadapi melainkan dihindari. Bukan perkara mudah untuk membuat paradigma masyarakat yang sudah sekian lama dan turun menurun bahwa pemanfaatan hutan hanya dengan mengambil apa yang ada di hutan. Perlu proses yang cukup panjang dan terus menerus. Balai TNGC hadir untuk menjabarkan secara ringkas, mudah dipahami dan sederhana kepada masyarakat sehingga lambat lain masyarakat menyadari Gunung Ciremai memberikan manfaat yang luar biasa. Tidak hanya dari sisi ekologi, namun juga ekonomi dan sosial. [Teks © Gandi Mulyawan – BTNGC ; foto© Gandi Mulyawan - BTNGC & Simon Onggo - BIro Humas KLHK | 082018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Pelatihan Kelompok Masyarakat Desa Binaan TN Tesso Nilo

Lubuk Kembang Bunga, 29 Agustus 2018. Dalam rangka memberdayakan masyarakat di desa-desa penyangga TN Tesso Nilo, Balai TN Tesso Nilo selenggarakan pelatihan kelompok masyarakat desa binaan TN Tesso Nilo pada tanggal 25 sampai dengan 26 Agustus 2018. Pelatihan untuk masyarakat tersebut dilaksanakan di kantor Seksi Pengelolaan Wilayah I Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan. Pelatihan diberikan kepada kelompok Perempuan Batang Nilo (PERBANI) Desa Lubuk Kembang Bunga, yang berjumlah 30 orang. Instruktur dan narasumber pelatihan ini didatangkan langsung dari yayasan Talang Anak Negeri. Ketua panitia, Bapak Fauzan Kahfi, S.Hut, M.Sc menyatakan bahwa kawasan hutan Tesso Nilo dan juga desa-desa di sekitarnya memiliki potensi madu hutan yang sangat besar. "Besarnya potensi tersebut membuat kami dan masyarakat berinisiatif untuk memberi nilai lebih dari madu hutan tersebut dengan memberikan praktek pembuatan minuman kemasan berbahan utama madu hutan. Minuman tersebut nantinya akan di pasarkan di desa-desa sekitar kawasan. Pemberdayaan ini diharapkan dapat menjadi sumber alternatif tambahan penghasilan bagi masyarakat, khususnya ibu-ibu dari PERBANI", terang beliau. Kegiatan pelatihan ini dilaksanakan 2 hari penuh di kantor SPW I Lubuk Kembang Bunga. Pelatihan dilaksanakan dengan teknik parsitipatif yang mengakomodir keinginan dari kelompok perbani tersebut. Pelatihan hari pertama memfokuskan untuk penguatan kelembagaan/kelompok PERBANI. Kemudian hari kedua dilanjutkan dengan teori dan praktek pembuatan minuman kemasan berbahan madu. "Pelatihan kita laksanakan dengan tujuan memberdayakan masyarakat dan lembaga/kelompok masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan lingkungan hidup dan kehutanan, selain itu ini juga merupakan upaya dari TN Tesso Nilo untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat terkait pemberdayaan dan program pengembangan kemitraan pemanfaatan potensi kawasan TN Tesso Nilo", jelas panitia dan Penyuluh Kehutanan Asih Kartika Listiyandari, S.Hut. Sumber : Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Berita

Balai KSDA Sumatera Selatan Lakukan Supervisi Satgassus Karhutla di SM Padang Sugihan

Palembang, 29 Agustus 2018. Balai KSDA Sumatera Selatan terus meningkatkan kesiapsiagaan dalam upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan konservasi. Posisi yang siap tentunya akan mendukung sistem mekanisme pengendalian karhutla secara optimal sehingga jika terjadi karhutla maka dapat ditangani secara cepat. Salah satunya bentuk kesiapsiagan kerhutla yaitu melalui supervisi yang dipimpin oleh Kepala Balai KSDA Sumatera Selatan. Supervisi diberikan kepada tim Satgassus dan petugas lapangan yang merupakan ujung tombak pengendalian kebakaran hutan dan lahan. Kegiatan ini dimulai dengan kunjungan langsung lapangan oleh tim Balai KSDA Sumatera Selatan pada posko-posko Satgassus Karhutla di SM Padang Sugihan. Tim supervisi melakukan pemeriksaan kepada seluruh bagian, fungsi sesuai tugas sehari-harinya yang telah dilaksanakan serta mengecek pertanggung jawaban tugas. Beberapa aspek dalam penilaian yaitu aspek perencanaan dan aspek pengorganisasian Dalam supervisi, Genman S Hasibuan selaku Kepala Balai KSDA Sumatera Selatan menyebutkan pentingnya kekompakan antar anggota tim, menjaga semangat dan juga menjaga alat-alat untuk selalu siap digunakan. Selain menyampaikan pentingnya kesiapsiagaan maka penting juga menjalin hubungan baik dengan masyarakat sekitar kawasan, memberikan sosialisasi dan berkomunikai tentang pentingnya menjaga kawasan konservasi dari kebakaran hutan dan lahan. Diharapkan dengan adanya pemahaman yang sama antara petugas dan masyarakat maka saat terjadi kebakaran hutan dan lahan masyarakat dapat ikut membantu untuk memadamkannya. Pencatatan data, pelaporan, dan pendokumentasian menjadi penting untuk dilakukan karena akan menjadi dasar untuk perencanaan dan aksi selanjutnya Dalam kegiatan ini juga dilakukan diskusi interaktif oleh tim Balai KSDA Sumatera Selatan dengan tim Satgassus Karhutla. Tim Satgassus Karhutla menyampaikan pentingnya dukungan sarana dan prasara sehingga tim mampu bertugas dengan optimal. Tim juga menyampaikan perlunya dukungan instansi terkait yang juga berkompeten dalam bidang karhutla. Dalam arahannya Kepala Balai KSDA Sumatera Selatan mengatakan semoga dengan adanya kegiatan supervisi ini dapat tim Satgassus karhutla mampu memahami lebih jauh lagi tentang kewajiban dan tanggungjawab yang harus dilakukan, ketika ada didapati temuan kekurangan agar sesegera mungkin untuk memperbaiki dan membenahi serta kebakaran hutan dan lahan mampu ditekan. Sumber : Taufan Kharis - PEH Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Pelepasliaran Kura Ambon (Coura amboinenses) di Danau Sibili

Palu, 29 Agustus 2018. UD. Lestari melakukan pelepasliaran kura ambon (Cuora amboinensis) dalam rangka memenuhi kewajiban restocking 10% dari pemanfaatan kura-kura ambon yang telah dilakukan oleh UD. Lestari dengan disaksikan oleh Pihak Balai KSDA Sulawesi Tengah. UD Lestari merupakan perusahaan penangkar kura-kura yang terdaftar pada Balai KSDA Sulawesi Tengah. Pelepasliaran tersebut dilakukan pada hari Jum’at tanggal 24 Agustus 2018 di Danau Sibili, Kelurahan Pantoloan Kecamatan Palu Utara, Kota Palu. Kegiatan ini merupakan upaya konservasi kura-kura ambon di alam agar kelestariannya tetap terjaga dan diharapkan dengan pelepasliaran ini kedepannya dapat berkembangbiak dan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar Danau Sibili dalam upaya peningkatan ekonomi masyarakat. Satwa liar merupakan salah satu kekayaan alam yang perlu dijaga kelestariannya, melalui upaya konservasi yang dilaksanakan di dalam (in-situ) maupun di luar (eks-situ) habitat aslinya. Salah satu bentuk pemanfaatan satwa liar yaitu melalui penangkaran. Penangkaran merupakan konservasi eks-situ yang meliputi semua kegiatan yang berkaitan dengan budidaya tumbuhan dan satwa liar dan pengelolannya menyangkut usaha pengumpulan bibit, pengembangbiakan, memelihara, membesarkan dan restocking, yang bertujuan untuk mempertahankan kelestarian/eksistensi TSL maupun memperbanyak populasinya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sumber : Balai KSDA Sulawesi Tengah
Baca Berita

Pendampingan Pemulihan Ekosistem Taman Nasional Lore Lindu

Jakarta, 29 Agustus 2018. Sub Direktorat Pemulihan Ekosistem Kawasan Konservasi melakukan pendampingan pemulihan ekosistem di Taman Nasional Lore Lindu pada tanggal 14-16 Agustus 2018 di Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu. Pendampingan dimaksudkan untuk percepatan pelaksanaan pemulihan ekosistem di TN Lore Lindu yang merupakan salah satu lokasi target pemulihan ekosistem nasional. Dalam kesempatan ini, tim dari subdit PEKK adalah Gunawan, S.Hut., M.Sc. dan Rini Rismayani, S.Hut., M.Si. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai upaya terpadu dalam rangka pengendalian Schistosomiasis yang diintegrasikan dengan kegiatan pemulihan ekosistem. Mengingat bahwa penyakit dimaksud berpotensi menyerang manusia dan satwa liar di kawasan TN Lore Lindu. Schistosomiasis merupakan penyakit yang ditimbulkan oleh cacing jenis Schistosoma japonicum dengan hospes perantara keong Oncomelania hupensis lindoensis. Penularan terjadi pada manusia dapat disebabkan oleh kontak langsung serkaria pada kulit maupun secara oral. Jenis penyakit ini juga menyerang jenis-jenis mamalia lainnya dan menjadi satu ancaman terhadap kelestarian jenis satwa liar mamalia di TN Lore Lindu, seperti rusa, tikus liar, dan anoa. Pengendalian schistosomiasis juga merupakan program nasional yang masuk dalam roadmap eradikasi penyakit demam keong Schistosomiasis tahun 2018 – 2025 yang diusung oleh Bappenas. Dengan demikian, dibutuhkan keterpaduan program antara pemerintah pusat meliputi Bappenas, KemenLHK, KemenkoPMK, Kemendagri, Kemkes, KemPU&PR, Kemtan, KemendesPDTT, KKP, Kemenpar, Kementerian ATR/BPN, TNI, dan POLRI, sedangkan pemerintah daerah utamanya adalah Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, Kabupaten Poso, dan Kabupaten Sigi dalam mengambil langkah-langkah penting dan perlu dilakukan dalam mendukung eradikasi schistosomiasis. Berdasarkan mandat tersebut, maka KemenLHK yang dimotori oleh Subdit PEKK melakukan kegiatan pendampingan dan penguatan dalam pelaksanaan program tersebut. Dalam pendampingan ini dilakukan pembahasan dan diskusi terkait mekanisme penyusunan rencana pemulihan ekosistem, perumusan jenis-jenis perlakuan pemulihan ekosistem dan tindak lanjut pendampingan selanjutnya. Output yang diharapkan dari kegiatan ini adalah implementasi pemulihan ekosistem di TN Lore Lindu dapat berjalan dengan baik sehingga dapat meminimalisasi kerusakan kawasan konservasi lebih lanjut. Kegiatan akan dilakukan secara bertahap sampai terwujudnya kemantapan pelaksanaan pemulihan ekosistem di Taman Nasional Lore Lindu. Sumber : Gunawan, S.Hut., M.Sc. - PEH Muda Subdit Pemulihan Ekosistem Kawasan Konservasi, Direktorat Kawasan Konservasi
Baca Berita

Training Workshop Hidrologi untuk Pengelola Lahan Basah Suaka Margasatwa Rawa Singkil BKSDA Aceh di TN Sebangau

Aceh Singkil, 29 Agustus 2018. Pemerintah Amerika Serikat melaui The Department of the Interior’s International Technical Assistance Program (DOI-ITAP) telah membangun kerjasama dengan Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam proyek perlindungan satwa liar dan meningkatkan pengelolaan taman nasional di Indonesia sejak tahun 2013. Di level unit pelaksana teknis kerjasama tersebut terimplementasi dalam sister’s protected area antara Balai Taman Nasional Sebangau dengan Great Dismal Swamp National Refuge, Virginia. Kegiatan sister’s protected area antara lain melalui training/workshop hidrologi kepada staf Balai TN Sebangau yang telah dilaksanakan 2 kali yakni tahun 2015 dan 2016 di Palangka Raya. Dalam rangka pembelajaran tentang hidrologi serta untuk memperluas kemitraan antara DOI ITAP dan KLHK, pada tanggal 13 s..d. 18 Agustus 2018, dilakukan workshop hidrologi untuk pengelola Suaka Margasatwa Rawa Singkil BKSDA Aceh di TN Sebangau. Para staf TN Sebangau yang telah mengikuti workshop hidrologi pada tahun 2015 bertindak sebagai co-instructors dari para ahli dari DOI-ITAP. Peserta training workshop ini terdiri dari Kepala SKW II Subulussalam, Hadi Sofyan dan 12 staf SM Rawa Singkil. Acara dibuka secara resmi oleh Plh. Kepala Balai yakni KSBTU BTN Sebangau, Doni Maja Perdana dan dihadiri oleh Mr. Jason Riley, U.S.DOI-ITAP Project Manager, Mr. Sean Lawlor, U.S.DOI-ITAP Assistant. Project Manager, instruktur dari DOI-ITAP yaitu Mr. Fred Wurster, Great Dismal Swamp National Wildlife Refuge U.S. Fish and Wildlife Service dan Mr. Peter Sharpe, U.S. National Park Service serta Kepala BKSDA Aceh Sapto Aji Prabowo. Training workshop ini terdiri dari materi kelas yang meliputi presentasi dan diskusi antara lain mengenai : Konsep dari Dasar-Dasar Hidrologi (Hidrologi dan Keseimbangan Air, Kualitas Air, Dampak Pemanfaatan Lahan pada Kualitas Air), Lahan Basah : Fungsi dan Restorasi, Isu-Isu Pengelolaan dan Kegiatan Restorasi di TN Sebangau dan SM Rawa Singkil, Perencanaan Restorasi Hidrologi, Pengumpulan Data, Teknik Pemantauan Air dan Analisa Data Ketinggian Air. Pada hari ketiga, para peserta melakukan praktek lapangan di Sungai Koran yang merupakan bagian dari Resort Sebangau Hulu, SPTN Wilayah I. Para peserta melakukan pengamatan terhadap salah satu dam di Sungai Koran serta melakukan praktek pembuatan tabat/dam sederhana setelah sebelumya melakukan survey ke salah satu kanal yang ada di Sungai Koran untuk mencari lokasi yang tepat untuk dilakukan penabatan. Pada hari keempat para peserta melakukan pembuatan sumur pantau untuk mengukur tinggi air tanah serta pengukuran kualitas air dengan menggunakan YSI. Setelah kegiatan dilapangan selesai, pada hari berikutnya para peserta melakukan banyak diskusi dengan Mr. Fred Wurster dan Mr. Peter Sharpe terkait permasalahan restorasi di SM Rawa Singkil serta kontruksi dam yang sesuai dengan SM Rawa Singkil maupun kualitas air air di SM Rawa Singkil. Pada acara penutupan, para peserta menyatakan bahwa training workshop ini sangat penting dan bermanfaat karena para peserta bisa belajar mengenai hidrologi maupun restorasi. Sumber : Kartini dan Suyoko - Balai Taman Nasional Sebangau

Menampilkan 7.121–7.136 dari 11.140 publikasi