Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

SKW IV Maumere Dapati Daging Penyu dan Lumba-lumba dalam Operasi Pasar

Maumere, 3 September 2018. Sebagai tindak lanjut terhadap info perdagangan daging penyu di Pasar Wairkoja, Maumere yang diunggah melalui media sosial, pada tanggal 31 Agustus 2018 jajaran dari Seksi Konservasi Wilayah (SKW) IV bersama tim terpadu dari unsur BPSPL Denpasar dan Dinas Perikanan Kabupaten Sikka melakukan operasi pasar untuk melakukan pemantauan perdagangan satwa liar termasuk bagian-bagian tubuh yang dilindungi sekaligus melakukan sosialisasi kepada pedagang ikan atau nelayan. Dalam operasi tersebut didapati oknum nelayan atau pedagang ikan yang sedang menjual daging penyu dan daging lumba-lumba. Saat akan dilakukan penindakan, suasana sempat memanas dan jumlah petugas tidak berimbang sehingga diputuskan kepada yang bersangkutan hanya sebatas diberikan sosialisasi dan peringatan. Tim juga meminta agar oknum tersebut membuat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatan. Daging penyu dan daging lumba-lumba kemudian disita untuk selanjutnya dimusnahkan. Langkah lanjutan yang akan diagendakan adalah melakukan operasi gabungan dengan melibatkan unsur kepolisian dan TNI. Sumber : Balai Besar KSDA Nusa Tenggara Timur
Baca Berita

Wiratno : Keindahan Perlu Diwariskan!

Banyuwangi, 3 September 2018. Dalam rangka meningkatkan kualitas pengelolaan Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen, Balai Besar KSDA Jawa Timur bersama Pemerintah Daerah Banyuwangi, PT Telkomsel, dan PT Mitratel melakukan penandatanganan dokumen kerjasama serta serah terima aset dari BNI 46. Acara yang diadakan di Paltuding pada 1 September 2018 tersebut juga dihadiri oleh Direktur Jenderal KSDAE, Ir. Wiratno, M.Sc., Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Dr. Nandang Prihadi, S.Hut, M.Sc, para mitra, serta pemangku kepentingan lainnya. Dalam sambutannya, Wiratno menyampaikan pentingnya menjaga kelestarian alam, karena keindahan perlu kita wariskan untuk generasi yang akan datang. Dan dalam pengelolaan kawasan wisata alam perlu adanya keterlibatan dan dukungan dari berbagai pihak. Sehingga dapat menciptakan keselarasan dalam mencapai tujuan bersama yaitu meningkatkan kesejahteraan dan ekonomi masyarakat dengan tetap menjaga kelestarian alam yang berkesinambungan. “Keamanan dan kenyamanan pengunjung di TWA. Kawah Ijen menjadi prioritas utama dalam pengelolaan",imbuhnya. Pembangunan tower pemancar Telkomsel juga untuk memberikan kenyamanan bagi para pengunjung Kawah Ijen. Hal tersebut seperti yang disampaikan oleh Ade Mulyono dari PT. Telkomsel. “Pembangunan Tower Telkomsel juga untuk mensukseskan acara Annual Meeting World Bank IMF 2018 nanti", ujar Ade. Dengan keterlibatan BNI 46 yang ikut andil dalam memberikan bantuan bangunan toilet di TWA. Kawah Ijen diharapkan dapat memberikan manfaat untuk menunjang kegiatan wisata alam. Hal tersebut diungkapkan Indra Purnama dari BNI 46 dalam sela-sela penandatanganan kerjasama tersebut. Setelah itu acara dilanjutkan dengan pengecekan bangunan tower yang dalam proses pembangunan dan bangunan toilet yang terletak sebelum pondok Bunder. Dalam kesempatan tersebut, Wiratno melakukan dialog dengan penambang belerang dan penyedia jasa troli. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur (Dedy Setiawan, Bakti Rimbawan di Seksi Konservasi Wilayah V Banyuwangi)
Baca Berita

Kisah Gua Ibrani dari Patroli Resort Ravenirara

Jayapura, 3 September 2018. Kepala Balai Besar KSDA Papua, Ir. Timbul Batubara, M.Si. melakukan kunjungan ke Resort Ravenirara, bagian timur laut Cagar Alam Pegunungan Cycloop pada Kamis (30/8). Hari itu Kepala Resort Ravenirara, Andi Yance Rumbrapuk bersama tim Masyarakat Mitra Polhut (MMP) baru tiba dari patroli. Timbul Batubara bersama rombongan dan perwakilan USAID Lestari, Herumina Wakum, menyambut kedatangan tim patroli di Pantai Pasir 6, Jayapura. Di antara kisah yang dapat dituai dari perjalanan patroli Resort Ravenirara adalah hal-ihwal Gua Ibrani. Secara administratif, Gua Ibrani terletak di Kampung Ormu Wari, Distrik Ravenirara, Kabupaten Jayapura, sebuah kampung eksotis di sebelah utara Cagar Alam Pegunungan Cycloop. Konon, berdasarkan cerita turun-temurun yang diwariskan secara adat, Gua Ibrani merupakan tempat tinggal Suku Nari. Salah satu anggota MMP dari Suku Nari menjelaskan, sukunya merupakan salah satu suku tertua di Ormu Wari selain Suku Yakadewa dan Ikari. Tetapi Suku Nari sendiri terbagi dua, yaitu Nari Tua dan Nari Muda. Suku Nari Tua merupakan pemilik hak ulayat terbanyak di wilayah hutan. Sebab itulah mereka disebut suku pengusa wilayah hutan, dan memiliki wewenang mengatur perekonomian. Di antara hal-hal terkait ekonomi yang diberlakukan secara adat adalah mengenai denda. Apabila seseorang di Kampung Ormu melanggar aturan adat, hukumannya adalah berburu babi dengan tangan kosong, tanpa dilengkapi senjata apa pun. Lalu hasil buruan tersebut harus dimasak untuk dimakan bersama warga satu kampung. Selain babi, seseorang yang melanggar adat juga harus menyerahkan manik-manik, tomako batu (kapak batu sebagai alat tukar resmi masyarakat Ormu dan Sentani, dan biasanya digunakan untuk membayar maskawin), juga sejumlah uang. Harta benda dari pembayaran denda adat tersebut kemudian dikelola secara adat pula. Hal ini masih berlaku di Kampung Ormu, sejak zaman nenek moyang dahulu hingga sekarang. Suku Nari dan Gua Ibrani memiliki keterikatan adat yang kuat. Sebagai penguasa, hanya Suku Narilah yang berhak mengizinkan atau menolak orang di luar suku mereka untuk memasuki Gua Ibrani. Siapa pun yang ingin pergi ke sana harus seizin Suku Nari. Merekalah yang berhak membuka jalan menuju Gua Ibrani, sekaligus menjadi pemandu perjalanan hingga tiba di sana. Gua Ibrani dihiasi tetesan stalaktit yang memukau pada dinding-dindingnya. Tentu keindahan dan keunikan Gua Ibrani dapat menarik minat para peneliti untuk mengetahui proses alam. Karena lokasinya di dalam kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop, Gua Ibrani hanya dapat dikunjungi untuk keperluan pendidikan dan ilmu pengetahuan. Kiranya sepenggal kisah Gua Ibrani semakin melengkapi kekayaan yang dikandung Cycloop. Seperti sumber-sumber air yang mengalir dari jajaran puncaknya, semakin kita rawat, kekayaan Cycloop akan semakin berlimpah. (Dzikry & Pandu) Sumber : Balai Besar KSDA Papua
Baca Berita

Hutan untuk Kemakmuran Rakyat

Kotaagung, 3 September 2018. "Selamat kepada Pak Purwanto penerima apresiasi untuk kategori pemegang Izin Pemanfaat Energi Air, Pak Joko Sutrisno penerima apresiasi untuk kategori Izin Usaha Pemanfaatan Jasa Wisata Alam pada HKAN 2018 di Manado. Selamat juga buat teman-teman staf teknis, Kasie P2, Kabidtek, para penyuluh, Kasi dan Kabid Wilayah yang telah bersinergi bekerjasama, mendampingi, membimbing dan membina sehingga yang bersangkutan dapat meraih penghargaan tersebut. Salam konservasi Huha....!!!!, Semoga tahun depan kita dapat mempertahankan dan bahkan meningkatkan prestasi yangg sudah diraih”, kata Plh Kepala Balai Besar TNBBS Heru Rudiharto, S.Si.,M.P, di Kantor Balai Besar TNBBS Kotaagung, setelah pulang dari menghadiri acara Peringatan Hari Konservasi Alam Nasional 2018, tanggal 28-31 Agustus 2018 di TWA Batu Putih, Kota Bitung Provinsi Sulawesi Utara minggu lalu. Puncak Peringatan HKAN tahun 2018 dilaksanakan di TWA Batu Putih, Bitung Sulawesi Utara pada tanggal 28 s.d 31 Agustus 2018 dengan tema Harmonisasi Alam dan Budaya. Pada tanggal 30 Agustus dilakukan penyerahan apresiasi kepada masyarakat yang mempunyai kontribusi terhadap lingkungan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan menteri koordinator bidang perekonomian. Masyarakat pemanfaat jasa lingkungan BBTNBBS mendapat apresiasi dari 2 kategori, yaitu: Purwanto mewakili Kelompok Tani Arjuna dari Desa Tembelang, Kec Bandar Negeri Suoh Lampung Barat sebagai penerima apresiasi kategori izin pemanfaatan energi air dan joko sutrisno dari forum wisata tunas harapan danau asam suoh sebagai penerima apresiasi izin usaha penyedia jasa lingkungan bidang jasa transportasi. Hari Konservasi Alam Nasional Tahun 2018 di Bitung, selain disemarakkan dengan partisipasi Direktorat Jenderal KSDA beserta jajarannya, juga dihadiri oleh Gubernur Sulawesi Utara dan Forkopimda, serta diikuti oleh Walikota Bitung dan jajarannya selaku tuan rumah HKAN 2018. Hutan untuk kemakmuran rakyat, salam konservasi hu ha hu ha hu ha… Sumber : Balai Besar TNBBS
Baca Berita

2019, Wairundi akan di Sasi

Manokwari, 3 September 2018. Kepala Kampung Isenebuay, Ambrosius Orgenes Kayukaituy, mengatakan akan mengusulkan pulau Wairundi, Zona Inti Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC), untuk di Sasi pada tahun 2019 kepada Pemerintah. Hal tersebut disampaikan pada saat Tim Monitoring Penyu Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih (BBTNTC) menemuinya di Kampung Isenebuay sebelum ke pulau Wairundi pada 24 Agustus 2018. “Saya sebagai pimpinan kampung di sini, bersama Aparat Kampung, Tokoh Adat, Tokoh Masyarakat, Tokoh Pemuda, Tokoh Perempuan dan Tokoh Agama, ajukan pengusulan BAMUSKAM (Badan Musyawarah Kampung) ke Pemerintah Daerah untuk Kami Sasi Wairundi selama lima tahun, kemudian zona pemanfaatan satu tahun”, jelas Ambrosius. Dia mengkhawatirkan akan kondisi Wairundi yang semakin terancam saat ini, karena seringnya nelayan dari Ransiki mencari ikan di pulau tersebut, bukan hanya ikan namun telur dan penyu juga mereka ambil. Masyarakat Isenebuay yang memiliki hak atas pulau Wairundi merasa tidak memiliki lagi. “Saya berharap Wairundi bisa pulih kembali untuk kami dan anak cucu kami ke depan”, harapan Ambrosius jika Wairundi di Sasi. Masyarakat kampung Isenebuay sering ke Wairundi untuk menjaga pulau itu dari nelayan illegal. Jika menemukan nelayan dari luar, mereka mengusirnya. Namun hal tersebut tidak bisa dilakukan setiap saat karena jarak dari kampung Isenebuay ke Wairundi satu jam perjalanan laut menggunakan perahu bermotor 40 PK. Gerardus Sawasemariay, Kader Konservasi Kampung Isenebuay sangat mendukung jika Wairundi di Sasi, “masyarakat Isenebuay sangat mendukung Wairundi ini di Sasi oleh Bapak Kepala Kampung”, katanya. Menurutnya, tidak masalah Wairundi di Sasi selama lima tahun karena masyarakat masih bisa mencari di sekitar kampung Isenebuay. Sasi merupakan tradisi lokal masyarakat pesisir Papua dalam mengelola sumber daya alamnya. Sasi ini dimaksudkan agar sumber daya alam di suatu tempat tidak habis dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Lama waktu Sasi tergantung dari kesepakan masyarakat itu sendiri. Karena Wairundi itu zona Inti jadi bagi masyarakat tidak masalah di Sasi selama lima tahun, toh juga tidak bisa melakukan aktifitas apa-apa selain penelitian di pualu Wairundi itu. Apresiasi dan dukungan diberikan Ben Gurian Saroy, Kepala Balai Besar TNTC. Beliau mengatakan, masyarakat sudah sangat paham akan pentingnya konservasi. Mengenai nelayan Ransiki yang sering mengambil hasil di Wairundi, pihak BBTNTC akan menyiapkan kerja sama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Manokwari Selatan agar dapat menekan nelayan beraktifitas di Zona Inti Taman Nasional Teluk Cenderawasih. Pulau Wairundi merupakan habitat penyu di TNTC. Pasirnya yang putih dan lembut sangat cocok untuk penyu bertelur. BBTNTC melakukan monitoring penyu setiap tahunnya, tanggal 23-29 Agustus 2018 dilakukan monitoring kedua untuk tahun ini. Ancaman paling serius terhadap pulau Wairundi adalah sampah plastik dan nelayan yang mencari hasil laut di pulau ini. Penyu merupakan satwa yang dilindungi. Pelakunya, baik itu penjual maupun pembeli, akan dikenakan hukuman pidana. Namun hal itu tidak menyurutkan niat nelayan untuk menangkap penyu dan telurnya kemudian dijual di pasar. Dengan akan di-Sasi-nya Pulau Wairundi, diharapkan tidak ada lagi nelayan yang melakukan aktifitas di pulau tersebut yang dapat merusak habitat penyu dan satwa lainnya. Sumber : Balai Taman Nasional Teluk Cenderawasih
Baca Berita

BBKSDA NTT Menerima Penyerahan Satwa Secara Sukarela di Maumere

Maumere, 3 September 2018. Balai Besar KSDA (BBKSDA) Nusa Tenggara Timur melalui Seksi Konservasi Wilayah (SKW) IV Maumere pada tanggal 31 Agustus 2018 menerima satwa liar secara sukarela dari masyarakat sebanyak 3 (tiga) ekor, yang terdiri dari 1 (satu) ekor Nuri merah kepala hitam (Lorius lory) dan 2 ekor Nuri merah Ternate (Lorius garrulus). Lorius Lory merupakan salah satu burung endemik Papua dan pulau kecil disekitarnya. Burung cantik ini banyak digemari untuk dijadikan satwa peliharaan karena kecantikan bulu dan kepintarannya. Sedangkan Lorius garrulus merupakan salah satu jenis burung endemik indonesia yang memiliki habitat terbatas hanya terdapat di beberapa pulau di Maluku Utara. Burung-burung tersebut diserahkan secara sukarela oleh seorang warga masyarakat Kota Larantuka bernama Faisal Karim kepada petugas dari SKW IV Maumere. Penyerahan tersebut berlangsung di Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur. Menurut penuturaannya, ketiga satwa itu dibeli pada tanggal 15 Januari 2018 dari seorang warga di Pasar Baru Larantuka untuk dipelihara karena melihat kecantikan warna bulunya. Namun setelah mendapat informasi dari berbagai media massa bahwa status satwa adalah dilindungi maka tergerak hatinya untuk menyerahkan secara sukarela kepada pihak BBKSDA NTT. Saat ini satwa-satwa tersebut dititip-rawatkan pada kantor SKW IV Maumere sambil menunggu proses selanjutnya. Sebelumnya SKW IV Maumere menerima penyerahan satwa liar secara sukarela pada tanggal 28 Juni 2018 berupa : 6 (enam) ekor satwa liar yang dilindungi dan tidak dilindungi berupa Koakiu (Philemon buceroides) sebanyak 1 ekor, Merpati Hutan (Columba vitiensis) sebanyak 4 ekor dan Kepodang (Oriolucus chinensis) sebanyak 1 ekor dari seorang warga Maumere, Kabupaten Sikka, Provinsi NTT bernama Simeon Naga. Menurut penuturan Simeon Naga, burung-burung tersebut dibeli dari seorang warga Desa Hale Hebing, Kecamatan Mapitara, Kabupaten Sikka pada tanggal 27 Juni 2018 dan hendak dijual kembali di Pasar Alok, namun sebelum melakukan penjualan yang bersangkutan memperoleh arahan dari anggota Masyarakat Mitra Polhut (MMP) bahwa satwa tersebut dilindungi dan tidak boleh diperdagangkan secara bebas. Keinginan Simeon untuk menjual satwa-satwa tersebutpun berubah untuk menyerahkan secara sukarela kepada pihak SKW IV Maumere. Kemudian atas inisiatifnya sendiri, Simeon mencari Kantor SKW IV Maumere dan menyerahkan satwa-satwa tersebut. Penyelamatan satwa-satwa liar tidak lepas dari hasil sosialisasi dan pengembangan informasi via media sosial yang diberikan oleh BBKSDA NTT dan ditindak lanjuti oleh SKW IV dengan melakukan penyebaran brosur dan leaflet kepada warga masyarakat pada wilayah kerja Seksi Konservasi Wilayah IV Maumere. Di sisi lain, pembentukan MMP telah nyata membantu tugas tenaga pengamanan hutan, khususnya terkait peredaran satwa. MMP menjadi agen efektif dalam penyebaran informasi mengenai konservasi sumber daya alam. Semoga kedepan warga masyarakat NTT yang memiliki dan memelihara satwa-satwa liar dilindungi tersebut mengambil langkah serupa dengan menyerahkan secara sukarela kepada BBKSDA NTT baik melalui Kantor SKW I,II,III dan IV maupun Bidang KSDA Wilayah I dan II ataupun langsung ke Kantor BBKSDA NTT di Kupang. Sumber : Dewi Indriasari - Balai Besar KSDA Nusa Tenggara Timur
Baca Berita

Sharing Informasi dan Motivasi Pengelolaan ODTWA bersama SPEKTAKELL ID

Tayawi, 3 September 2018. Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Weda Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL)telah melaksanakan diskusi santai mengenai pengelolaan Obyek Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) Tayawi dalam Pengembangan SWAT (Sanggar Wisata Alam Tayawi). SWAT berdiri sejak 20 Agustus 2018, diketuai oleh Sofyan Barakati, S.Pd, M.Pd yang beranggotakan 17 orang. Kelompok sadar wisata merupakan salah satu alternatif pengembangan pariwisata terkait dengan kampanye sadar wisata. SWAT terbentuk dari semangat untuk mengembangkan wisata alam serta ingin memajukan daerah dengan berkecimpung di wisata alam yang didukung oleh Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Penyampaian materi ini diberikan langsung teman-teman dari SPEKTAKEL ID yang merupakan salah satu peserta dalam Ekspedisi TNAL yaitu Suryo Agung Sumarahadi dan Agung Triyono. SPEKTAKEL ID merupakan platform yang mengumpulkan, memilih dan mengelola kegiatan aktual seni budaya dari kota besar hingga pelosok desa. Mas Suryo dan Mas Agung telah berkecimpung dalam kegiatan dibidang seni budaya ini selama 10 tahun sehingga telah banyak pengalaman yang didapatkan. Oleh karena itu, kegiatan diskusi (sharing) ini dimaksudkan sebagai langkah awal dalam mengelola wisata alam oleh Sanggar Wisata Alam Tayawi.Turut hadir dalam diskusi ini perwakilan anggota SWAT, Kepala SPTN I Weda, dan Kepala Resort Tayawi. Raduan, SH selaku kepala seksi wilayah I Weda menyampaikan bahwa anggota swat memiliki peran penting dalam mengelola wisata alam disekitar Taman Nasional Aketajawe Lolobata dan diharapkan dengan adanya diskusi ini dapat menjadi gambaran program kerja SWAT kedepan agar bisa lebih mandiri. DiHarapkan kedepannya pengunjung/wisatawan yang datang nantinya akan dihandel langsung oleh masyarakat dalam hal ini SWAT SPEKTAKEL ID menjelaskan 3 faktor dalam mengelola wisata dan pembagian tugas dalam mengelola wisata alam, 3 faktor dalam mengelola wisata diantaranya : Keselamatan, Pelayanan dan Kreatifitas. Keselamatan merupakan dasar utama dalam mengelola wisata. Dijelaskan pula pembagian tugas dalam mengelola terdapat Trip Leader, Guide, Cook/ Jungle Chef, Asisten Cook dan Porter. Pembagian tugas ini tergantung dari jumlah tamu untuk itu perlu dipetakan minat untuk masing-masing anggota SWAT. Dalam memulai pengembangan SDM SWAT ini diperlukan modal awal diantaranya Desa, Kas anggota, dan Dinas Pariwisata. Menurut Suryo, dibanyak tempat kelompok sadar wisata merupakan perpanjang tanganan desa, oleh karena itu, pentingnya prngembangan desa dan wisata alam yang ada di desa. Desa merupakan salah satu modal terpenting dalam mengelola kawasan wisata, karena secara tidak langsung desa akan selalu berhubungan langsung dengan swat. Sumber : Nadiya Fasha Fawzi - Calon PEH Pertama Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Memantau Buaya Muara Dalam Gelapnya Malam

Jambi, 3 September 2018. Balai KSDA Jambi melakukan Survey Buaya Muara (Crocodylus porosus) pada tanggal 8-14 Agustus 2018 di Kabupaten Tanjung Jabung Timur khususnya pada aliran sungai di Kecamatan Dendang. Survey ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui dan mendapatkan data terkait kepadatan populasi pada habitat buaya yang didasari oleh data sebaran habitat, data konflik manusia dan buaya, serta informasi yang di dapatkan dari masyarakat sekitar. Survey ini merupakan kegiatan survey pada tahun pertama dan akan menjadi plot pengambilan data pada 3 tahun ke depan agar mendapatkan perkiraan kepadatan populasi di habitat buaya muara dengan harapan mendapatkan analisis data yang bisa bermanfaat untuk mengambil keputusan maupun tindakan di kemudian hari. Survey ini dilakukan menggunakan metode hitung malam (night count) dengan menyusuri sungai dan anak sungai pada malam hari menggunakan perahu. Kondisi lingkungan sekitar pada saat dilakukannya survey adalah bulan yang terlihat gelap, langit cerah, dan kondisi air sedang surut terendah. Lokasi yang dipilih untuk pengambilan data adalah lokasi yang masih terpengaruh pasang surut air laut khususnya pada aliran Sungai Dendang dan beberapa anak sungai sekitar. Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Kampanye Cegah Kebakaran Hutan dan Lahan

Kuningan, 3 September 2018. Pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya pengawasan atau patroli di daerah-daerah rawan kebakaran hutan saja. Tapi salah satunya juga dengan kampanye. Kampanye pencegahan karhutla sebagai salah satu upaya pengendalian karhutla dengan cara sosialisasi baik secara langsung maupun menggunakan media seperti spanduk, poster, stiker dan alat peraga lainnya yang berisi konten pencegahan karhutla. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) pada 10 Agustus 2018 yang bertepatan dengan Hari Konservasi Alam Nasional. Selain MPA, hadir pula perwakilan Mitra Pengelola Wisata Gunung Ciremai (MPGC) lingkup Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Majalengka. "Dengan melibatkan perwakilan MPGC, diharapkan informasi tentang pencegahan karhutla juga akan tersampaikan kepada pengunjung wisata", ucap Kepala SPTN Wilayah II Majalengka, Jaja Suharja dalam arahannya. MPA mesti meneruskan materi sosialisasi kepada lingkungan sekitarnya. Sedangkan MPGC menyampaikan ulang bahan kampanye kepada pengunjung wisata. Dua hal ini dilakukan untuk mempercepat penyebaran informasi pencegahan karhutla. Penyebarluasan informasi tersebut diharapkan akan menciptakan opini publik yang melahirkan kepedulian terhadap upaya pencegahan karhutla khususnya di Taman Nasional Gunung Ciremai. Mari tingkatkan kesadaran pencegahan karhutla agar hutan kita tetap lestari. [teks © Jojo Suparjo, foto © Agus Darmawan - BTNGC | 092018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Gunung Ciremai dalam Cerita Sukses Kabupaten Kuningan

Kuningan, 3 September 2018. 1 September, 520 tahun yang lalu Raden Arya Kamuning atau Suranggajaya dinobatkan sebagai anak angkat Sunan Gunung Jati yang kemudian menjabat sebagai Adipati Kuningan pertama yang bertahta di Kajene, Dayeuh Kuningan." Cerita Penjabat Sekretaris Daerah, Dadang Supardan pada Hari Jadi Kuningan ke 520 dalam Sidang Paripurna Istimewa DPRD Kuningan. Sementara Rana Suparman, Ketua DPRD Kuningan ketika membuka Sidang Paripurna Istimewa dalam sambutannya menyampaikan Gunung Ciremai merupakan "Pasek" bagi Kabupaten Kuningan. "Pasek" dalam bahasa Indonesia berarti patok/tiang pengikat. Ini menandakan pentingnya keberadaan Gunung Ciremai dalam perkembangan Kuningan dari masa ke masa dan telah menjadi pusat keseimbangan dalam menjaga perabadan masyarakat sekitarnya. Acep Purnama, Bupati Kuningan dalam sambutannya menyampaikan, "Kuningan telah banyak memperoleh penghargaan. Salah satunya wisata alam Bukit Seribu Bintang (BSB) yang meraih Juara II Dataran Tinggi Terpopuler pada Malam Anugerah Pesona Indonesia 2017 yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata". BSB yang berada di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) merupakan salah satu kebanggaan Kuningan karena telah menjadi tujuan utama destinasi wisata alam. Wisata alam TNGC telah mampu menggerakkan aktifitas ekonomi bagi masyarakat sekitarnya. Kuliner, penginapan dan souvenir merupakan peluang usaha lainnya yang menunjang aktifitas wisata alam. Ya, wisata alam dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Ayo sinergikan energi kita untuk bersama kelola potensi sumber daya alam dan ekosistem TNGC terutama wisata alam sebagai salah satu cara untuk menggapai Kuningan MAS (Mandiri, Agamis, Sejahtera). Selamat hari jadi Kabupaten Kuningan ke 520, semoga semakin berkarya dan berprestasi, masyarakatnya semakin sejahtera dan Gunung Ciremainya semakin lestari. [teks & foto © Idin Abidin-BTNGC | 082018 ]
Baca Berita

Taman Safari Indonesia, UAE Zoo, dan Australia Zoo Kunjungi TN Tesso Nilo

Pelalawan, 1 September 2018. Kepala Balai TN Tesso Nilo menerima kunjungan dari Taman Safari Indonesia, UAE Zoo, dan Australia Zoo. Sebanyak 6 orang tamu yang terdiri dari 3 orang staf Taman Safari Indonesia, 2 orang staf UAE Zoo, dan 1 orang staf Australia Zoo sengaja hadir untuk berkunjung ke TN Tesso Nilo. Tujuan kunjungan ini adalah untuk melihat pengelolaan gajah jinak di TN Tesso Nilo. Kunjungan dan Pertemuan dilakukan di kantor Balai TN Tesso Nilo disambut langsung Kepala Balai TN Tesso Nilo, Bapak Supartono, S.Hut, MP. beserta jajaran. Usai diskusi di kantor balai, kunjungan dilanjutkan dengan mengunjungi Klinik Gajah di kawasan TN Tesso Nilo, tepatnya di Resort Air Hitam Bagan Limau, SPW I Lubuk Kembang Bunga. Saat kunjungan di klinik gajah, pihak Balai TN Tesso Nilo bersama para tamu berdiskusi mengenai pengelolaan klinik gajah. Balai TN Tesso Nilo bersama tamu juga menyepakati mengenai pengelolaan kolaboratif klinik gajah yang berada di Resort Air Hitam. Tidak berhenti sampai disitu, setelah mengunjungi klinik gajah, Kepala Balai bersama para tamu kemudian berkunjung ke lokasi penggembalaan gajah untuk melihat kondisi gajah jinak (gajah tim flying squad) bernama Indro. Sumber : Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Berita

Polresta Kota Bima dan Kantor Seksi SKW III Bima BKSDA NTB amankan Cangkang dan Daging Penyu

Bima, 1 September 2018. Polresta Kota Bima yang berkoordinasi dengan Kantor SKW III Bima BKSDA NTB melakukan penindakan pengamanan TSL, yakni penyu yang diperniagakan dan dimiliki Satwa yang dilindungi Undang-undang. Dua orang pelaku telah diamankan yakni seorang wiraswasta (56) asal Desa Bugis, Kecamatan Sape Kabupaten Bima dan Seorang Nelayan (46) yang merupakan warga Desa Sabalana, Kecamatan Sapuka, Sulawesi Selatan. Dari hasil pemeriksaan sementara, terungkap bahwa penangkapan penyu terjadi di perairan Pulau Mata Laang - Sulawesi Selatan. Barang Bukti yang diamankan termasuk Daging penyu segar sebanyak13 box, Cangkang punggung penyu 31 buah, Cangkang dada penyu 3 buah dan Sisik cangkang penyu sebanyak 14 kantong plastik. Hingga berita ini diturunkan Pihak Polresta Bima telah melakukan gelar perkara untuk melakukan proses penyidikan serta meminta kesediaan saksi ahli dari Pihak BKSDA NTB. Untuk selanjutnya akan direncanakan pemusnahan daging penyu sedangkan barang bukti yang lain akan diamankan untuk proses penyidikan lebih lanjut. Sumber : Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

Sertifikasi Kompetensi Pemanduan Pariwisata Gunung oleh Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia

Kuningan, 2 September 2018. Tuntutan utama dari pengelola kawasan konservasi berupa bentang alam pegunungan adalah pemenuhan pelayanan dalam hal keamanan, keselamatan dan kenyamanan (K3) diantaranya Gunung Ciremai. Oleh karena itu Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) mengadakan bimbingan teknis dan sertifikasi kompetensi ini. Kegiatan berlangsung selama dua hari, tanggal 29 hingga 30 Agustus 2018 bertempat di Aula Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Kegiatan ini diikuti oleh 30 orang dari jumlah kuota keseluruhan 50 orang peserta, yang terdiri dari Brimob Cirebon, BPBD Kuningan, petugas TNGC, pengelola pendakian Gunung Ciremai dan pecinta alam yang berasal dari wilayah Bandung, Tegal, Brebes dan Semarang. Hari Pertama, kegiatan diisi dengan bimbingan teknis terkait pengenalan organisasi APGI, manajemen perjalanan dalam mengelola wisata gunung, penjelasan tentang Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) untuk pemandu gunung, teknik hospitaly serta sekilas penjelasan proses uji kompetensi dan penyiapan berkas sertifikasi. Hari Kedua, kegiatan berupa uji kompetensi yang di uji oleh Asesor dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Pramindo. Hasil dari uji kompetensi ini dijadikan sebagai bahan masukan untuk mendapatkan sertifikat kompeten atau belum kompeten. Dengan mempunyai sertifikat kompetensi ini, pemandu gunung sudah mendapatkan bukti yang diakui dan memiliki kemampuan gabungan dari pengetahuan, keterampilan dan sikap yang di terapkan secara efektif dalam melaksanakan pekerjaannya sesuai standar kerja yang di persyaratkan dalam pemanduan gunung. Menyambut hari jadi Kabupaten Kuningan, kami petugas TNGC beserta masyarakat pengelola jalur pendakian siap menjadi pemandu Gunung Ciremai yang handal. [teks © Indra Permana, foto © Koeszky - BTNGC | 092018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Partisipasi Aktif Balai TN Gunung Merapi di HKAN 2018

Yogyakarta, 1 September 2018. Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) menjadi salah satu UPT Kementerian LHK yang ikut berpartisipasi dalam peringatan Puncak HKAN Tahun 2018 di Tangkoko, Bitung beserta UPT lain lingkup Dirjen KSDAE. TNGM turut membuka stand pameran diantara 40 (empat puluh) stand pameran yang menjadi bagian dari rangkaian acara puncak peringatan HKAN Tahun 2018. TNGM mengirimkan 8 (delapan) orang utusan yang terdiri dari Kepala Balai, 2 (dua) orang personil pameran, 3 (tiga) orang wakil masyarakat mitra binaan TNGM dan 2 (dua) orang sebagai pendamping masyarakat. Hari konservasi Alam Nasional (HKAN) merupakan salah satu hari peringatan untuk konservasi alam dan lingkungan hidup di Indonesia. HKAN diperingati setiap tanggal 10 Agustus berdasarkan keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 tentang Hari Konservasi Alam Nasional. Tujuan utama peringatan HKAN adalah meningkatkan kesadartahuan mengenai pentingnya upaya konservasi alam dan meningkatkan penyebarluasan gerakan konservasi alam melalui civil society yang kuat dengan dukungan media, pelaku usaha, LSM/NGO atau masyarakat luas. Tahun 2018 ini kegiatan Jambore dan Puncak peringatan HKAN dilaksanakan di Taman Wisata Alam Batuputih, Tangkoko, Bitung, Sulawesi Utara. Kegiatan yang berlangsung selama 4 (empat) hari yaitu tanggal 28 - 31 Agustus 2018 dengan mengusung tema “Harmonisasi Alam dan Budaya : Satu Abad Konservasi Alam Indonesia”. Kegiatan dalam rangkaian peringatan HKAN tahun 2018 meliputi kegiatan aksi, edukasi, publikasi dan dukungan para pihak terkait konservasi sumber daya alam dan ekosistem di Indonesia. Untuk puncak acara HKAN Tahun 2018 diselenggarakan kegiatan berupa keteladanan, aksi dan komitmen nyata bagi penerapannya dalam skala luas meliputi Pameran, Talkshow, Coaching clinic, Sarasehan dengan tema seputar masalah Pelestarian lingkungan hidup dan Harmonisasi alam dan budaya, Fieldtrip ke lokasi wisata alam dan pelestarian satwa, Aksi nyata berupa penanaman pohon dan pelepasan liaran tukik. Pemberian apresiasi konservasi alam, Kalpataru 2018, Pernyataan Konservasi Alam serta pentas seni budaya yang menampilkan kesenian budaya dari masing-masing daerah di Indonesia. Peringatan HKAN di hadiri oleh Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution dan Menteri Lingkunga Hidup dan Kehutanan Dr. Ir. Siti Nurbaya bakar, M.Sc serta pejabat lingkup Kementerian LHK, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dan Pemerintah Daerah Kabupaten Bitung. Acara ini diikuti oleh peserta sebanyak 3000 orang yang terdiri dari mitra binaan, penggiat konservasi, instansi terkait, pemerintah daerah dan masyarakat umum. Dalam sambutannya Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyampaikan pentingnya harmonisasi alam dan budaya, menjaga pentingnya mengingat kembali unsur-unsur budaya yaitu bahasa, pengetahuan, sistem organisasi sosial, mata pencaharian, kesenian dan teknologi sebagai alat dalam menyelamatkan alam, rusaknya salah satu unsur baik budaya maupun alam akan berdampak buruk pada alam dan manusia. Bahwa konservasi memiliki 3 unsur penting yaitu melindungi sistem penyangga kehidupan rantai makanan dan energi. Unsur kedua adalah pengawetan sumber daya genetik dan ketiga adalah pemanfaatan alam secara lestari. Rusaknya salah satu bagian dari unsur-unsur tadi akan berdampak pada rusaknya seluruh sistem kehidupan, maka alam akan terganggu dan manusia juga akan terganggu. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Merapi
Baca Berita

Ditangkap, Pemburu Burung di Zona Inti Taman Nasional Gunung Leuser

Medan, 31 Agustus 2018. Tim Patroli Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), bersama tim Orangutan Information Centre (OIC), menangkap tiga pemburu burung yang beraksi di zona inti TNGL. Para pelaku SS (51), L (36), dan H (33) diamankan petugas bersama 55 individu burung berbagai jenis beserta barang bukti lainnya yaitu 54 karung, 9 jaring, dan 6 sangkar. “Benar, pada 18 Agustus 2018, tiga pemburu burung ditangkap,” jelas Palber Turnip, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah V Bukit Lawang, BBTNGL. Palber mengatakan, bersama penyidik PamGakkum KLHK Wilayah Sumatera, pihaknya sudah melakukan penggeledahan di kediaman para pelaku, untuk mendapatkan barang bukti lain. Sebelum pengungkapan kasus ini, menurut dia, pihaknya juga menangkap pemburu lain. Ada 90 ekor burung berbagai jenis yang diamankan, beserta sepeda motor dan alat jerat milik pelaku.”Kami masih sidik lebih dalam lagi siapa aktornya. Sepeda motor dan barang bukti lain ada di Kantor BBTNGL di Medan,” jelasnya. Kepala Balai PamGakkum KLHK Wilayah Sumatera, Edward Sembiring, menyatakan pihaknya akan mengusut kasus ini hingga tuntas. Pelaku akan dibawa ke pengadilan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya dan sejumlah nama dari jaringan perburuan satwa liar telah dikantongi. “Sebanyak 50 ekor burung telah dilepaskan kembali ke habitatnya. Tiga ekor yang merupakan burung pemancing masih diamankan sebagai barang bukti, sementara dua ekor yang mati sudah dikubur. Burung pemancing ini sudah dipelihara pelaku selama dua tahun,” jelas Edward di markas komando SPORC Brigade Macan Tutul, Jum’at (24/8/18). Sumber : Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser
Baca Berita

Petugas Taman Nasional Gunung Leuser Gelar Kegiatan Bina Cinta Alam di SP. Penyu Rantau Sialang

Aceh Selatan, 30 Agustus 2018. Puluhan pelajar SD Negeri Ujung Padang, Kecamatan Kluet Selatan mengikuti kegiatan Bina Cinta Alam di ruang Aula Kantor SPTN Wilayah II Kluet Utara, BPTN Wilayah I Tapaktuan, Aceh Selatan. Kegiatan Bina Cinta Alam ini tujuannya adalah menempah semangat konservasi anak ditingkat pendidikan formal, sekitar kawasan TN. Gunung Leuser di bahagian pantai Barat, Selatan Aceh. Rangkaian kegiatan di mulai dari pembukaan acara, penyampaian materi konservasi, diskusi, pemutaran filem konservasi, game konservasi dan berakhir dengan menanam pohon di Kawasan Pantai Singgah mata Rantau Sialang. Memancar keceriaan diraut wajah peserta, salah satunya adalah Sayed Fadhil, menurutnya banyak pengalaman dan pengetahuan tentang konservasi alam, mereka dapatkan selama mengikuti kegiatan ungkapnya. Kepala Stasiun Pembinaan Populasi Penyu Rantau Sialang, Soloon Syahruddin Tanjung, S.Hut menjelaskan bentuk aktivitas pengelolaan di SP. Penyu Rantau Sialang yang berjalan selama ini diantaranya seperti ; monitoring habitat, pendataan administrasi pengelolaan, pengumpulan telur, penetasan telur secara semi alami, pemeliharaan anakan di bak pembesaran dan selanjutnya pelepasliaran tukik penyu ke laut lepas jelasnya. Dalam sambutannya Kepala SPTN Wilayah II Kluet Utara, Teuku Irmansyah, S. Hut menyatakan bahwa kegiatan kunjungan edukasi kaum pelajar tersebut, dilaksanakan di tingkat sekolah formal mulai dari SD, SMP dan SMA sederajat. Disamping itu sasaran kegiatan merupakan wilayah dampingan program BCCPGLE (KFW) – (BBTNGL) serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Lanjutnya acara yang diselenggarakan petugas TN. Gunung Leuser ini diharapkan dapat membawa dampak positif terhadap Generasi Muda di masa mendatang, setidaknya pemahaman lingkungan hidup yang didapatkan mampu diimplementasikan dalam kehidupan keseharian mereka, baik dilingkungan sekolah maupun dilingkungan keluarga dan masyarakat pungkasnya. Kepala SD Negeri Ujung Padang, Bapak Ali Akbar, S.Pd, dikesempatan itu menyampaikan ucapan rasa terimakasihnya kepada petugas Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) atas kesempatan yang diberikan terhadap siswa (i) nya untuk ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Harapannya kegiatan Bina Cinta Alam dapat terus dilakukan dan berjalan secara berkelanjutan tutupnya. Sumber: Tek. Efa Wahyuni – Foto. July (BBTN Gunung Leuser)

Menampilkan 7.105–7.120 dari 11.140 publikasi