Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Meningkatkan Kapasitas SDM Kelompok Tani

Tanjabtim, 5 September 2018. SKW III BKSDA Jambi mengadakan kegiatan berupa Peningkatan Kapasitas SDM dalam Rangka Pemulihan Ekosistem Cagar Alam Hutan Bakau Pantai Timur. Kegiatan ini merupakan lanjutan dari kegiatan sebelumnya yaitu Sosialiasi Pemulihan Ekosistem. BKSDA Jambi mengikutsertakan beberapa narasumber terkait untuk menyampaikan materi pada kegiatan pelatihan tersebut. Narasumber yang diundang antara lain perwakilan Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Jambi, perwakilan BPDAS Jambi, dan Polisi hutan SKW III BKSDA Jambi. Pada kegiatan ini, kelompok tani yang datang diajarkan cara cara mengambil bibit mangrove yang benar, pemilihan bibit, penanaman dan perawatan. Kegiatan berjalan dengan lancar disertai antusiasme peserta dari kelompok tani. Beberapa perwakilan dari kelompok tani juga tak melewatkan kesempatan untuk bertanya kepada narasumber pada sesi tanya jawab setelah pemaparan materi. Kepala SKW III BKSDA Jambi, Faried, SP mengungkapkan “Kegiatan peningkatan kapasitas SDM telah kami laksanakan, alhamdulillah lancar sesuai rencana. Kita harapkan kegiatan ini bisa membantu para kelompok tani kedepannya dalam membantu kegiatan kami yaitu pemulihan ekosistem di Cagar Alam Hutan Bakau Pantai Timur”. Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Bersih Gunung Merapi Bersama Masyarakat

Yogyakarta, 5 September 2018. Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) memiliki dua jalur pendakian, yakni jalur Selo di Boyolali dan Sapuangin di Klaten Provinsi Jawa Tengah. Antusiasme pendaki pada dua jalur pendakian tersebut sangat besar. Secara berkala tiga kali dalam setahun, yakni saat 17 Agustus, 1 Muharam, dan Tahun Baru, jalur pendakian Gunung Merapi cukup ramai. Sebelum momen perayaan tersebut TNGM melaksanakan kegiatan bersih gunung untuk menyiapkan jalur pendakian agar aman dan nyaman dilewati pendaki. Akan tetapi untuk tahun 2018 ini Gunung Merapi kembali aktif, tepatnya tanggal 11 Mei 2018 erupsi freatik yang disusul dengan beberapa kali erupsi. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) selaku institusi resmi pemerintah di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menentapkan status Gunung Merapi pada tingkat Waspada (level II). Masyarakat dilarang untuk melakukan aktivitas dalam radius 3 Km dari Puncak Gunung Merapi, sehingga jalur pendakian Selo dan Sapuangin ditutup oleh Balai TNGM. Oleh karena itu, kegiatan bersih gunung tahun 2018 ini dilaksanakan di jalur pendakian Selo dan Sapuangin yang berada di luar radius 3 km sesuai rekomendasi BPPTKG. Bersih gunung dilaksanakan pada jalur pendakian bawah yang masuk zona pemanfaatan wisata alam. Tujuan bersih gunung selain membersihkan jalur dari sampah plastik, juga penataan jalur dari pohon tumbang yang menghalangi jalur dan menimpa shelter, perbaikan sarana prasarana wisata, serta pemasangan papan petunjuk. Tujuan lebih luas adalah untuk meningkatkan pelayanan TNGM kepada wisatawan, terutama yang berwisata di zona pemanfaatan wisata Selo dan Sapuangin di luar zona bahaya erupsi. Perbaikan sarana prasarana meliputi penggantian bagian yang rusak, penambahan rambu-rambu petunjuk jalur, juga pembenahan jalur yang longsor. Petugas Balai TNGM bersama SAR Barameru Selo dan SAR Sapuangin selama 3 hari mulai tanggal 4 s.d. 6 September 2018 bersama-sama membersihkan jalur pendakian dengan cara memungut sampah plastik ke dalam trash bag. Bersih gunung juga merupakan pelajaran berharga untuk mencintai alam, sehingga dapat hidup harmoni bersamanya. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Merapi Nurhandoyo
Baca Berita

Selamatkan Burung Maleo Tanpa Pamrih, Ka Jaka Terima Penghargaan dari Menteri

Gorontalo, 4 September 2018. Djakaria Katuma alias Ka Jaka (64) tidak menyangka akan bertemu dan mendapat penghargaan dari Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Siti Nurbaya. Warga Desa Bangio Kecamatan Pinogu yang berada di dalam hutan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Gorontalo ini mendapat apresiasi atas dedikasinya melakukan konservasi burung maleo (Macrocephalon maleo) tanpa pamrih. “Saya bahagia, apa yang saya kerjakan mendapat penghargaan dari pemerintah,” kata ka Jaka, Sabtu (1/9/2018). Penghargaan itu diterimanya saat peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) di Tangkoko, Bitung, 10 Agustus 2018 lalu. Ka Jaka adalah petani. Setelah mengurus kebunnya, dia meluangkan waktu untuk mengelola ladang peneluran maleo di Pohulongo, yang termasuk kawasan taman nasional. Setiap hari, dia mengumpulkan telur burung endemik Sulawesi dari alam untuk dipindahkan ke kotak penetasan yang dibuatnya. Pemindahan ini dilakukan untuk menghindari risiko telur dimangsa predator atau diambil orang yang tidak bertanggung jawab. Pemindahan telur maleo dilakukan dengan hati-hati. Kedalaman dan suhu tanah harus diperkirakan agar telur dapat menetas. Ladang peneluran maleo ini berada di daerah yang terdapat panas bumi (geotermal). Anakan maleo yang sudah menetas kemudian dilepas ke alam. Ladang peneluran maleo dikelola Ka Jaka dan sejumlah warga Desa Bangio sejak akhir tahun lalu. Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Selamatkan Burung Maleo Tanpa Pamrih, Ka Jaka Terima Penghargaan dari Menteri", https://regional.kompas.com/read/2018/09/04/15570631/selamatkan-burung-maleo-tanpa-pamrih-ka-jaka-terima-penghargaan-dari-menteri. Penulis : Kontributor Gorontalo, Rosyid A Azhar Editor : Khairina
Baca Berita

Giat Saka Wanabakti Kapuas Hulu Peringati HKAN 2018

Martinus, 4 September 2018. Saka Wanabakti Cabang Kapuas Hulu Kalimantan Barat bersama Gugus Depan Natasusuma – Putri Dara Nante, SMAN 1 Embaloh Hulu Serta SMPN 1 Embaloh Hulu melaksanakan kegiatan Perkemahan Jumat, Sabtu, dan Minggu (Perjumsami), dalam rangka Penerimaan Tamu Ambalan (PTA) serta peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) tahun 2018. Kegiatan berlangsung selama 3 hari, mulai 31 Agustus sampai dengan 2 September, berlokasi di bumi perkemahan SMPN 1 Embaloh Hulu (Martinus), peserta dalam kegiatan tersebut adalah para pelajar SMP, SMA, dan Mahasiswa yang berjumlah lebih dari 380 orang. Kepala Sekolah SMAN 1 Embaloh Hulu selaku Ketua Majelis Pembimbing Gugus Depan SMAN1, Anisia Tumbi mengatakan “saya sangat senang dan sangat mendukung dengan adanya kolaborasi dari beberapa organisasi dalam melaksanakan kegiatan yang baik dan mendidik para generasi muda dalam kecintaannya terhadap alam, hutan, dan lingkungannya”. Selama 3 hari para peserta di bekali materi yaitu Prinsip Dasar dan Metode Pendidikan Kepramukaan (PDMPK), Gerakan dan sejarah Pramuka, Saka Wanabakti. Sedangkan praktek antara lain yaitu Penguasaan bahasa SANDI, MORSE, dan SIMAPORE, bakti sosial yang dilaksanakan di sekolah SMPN 1 Embaloh Hulu dengan membersihkan seluruh area lapangan dan ruang sekolah, serta penghijauan melakukan penanaman pohon sebanyak 350 batang pohon di SMAN 1 Embaloh Hulu dan SMPN 1 Embaloh Hulu. Jenis pohon yang di tanam yaitu, Mahoni, Trembesi, Sengon, Pete, dan Jengkol. Giat Perkemahan ini bertujuan sebagai pembekalan ilmu pengetahuan tentang kepramukaan dan ilmu pendidikan kesakaan serta cinta alam dan kasih sayang sesama manusia seperti yang tercantum dalam butir Norma seorang pramuka yaitu Dasa Darma pramuka, agar setiap anggota pramuka Saka Wanabakti dapat mempraktekkan semua materi yang mereka dapatkan di kehidupan sehari- hari baik di rumah,di sekolah maupun di masyarakat. Ketua Saka Wanabakti Cabang Kapuas Hulu, Ardi Andono yang juga kabid Teknis dalam kesempatan tersebut beliau memotivasi seluruh anggota pramuka umumnya, anggota Saka Wanabakti khususnya supaya membuat kegiatan penuh aksi, dan berkontribusi penuh di setiap kegiatan untuk TNBKDS. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Penandatanganan Kerjasama BTS di Kawasan Tanabentarum

Jakarta, 24 Agustus 2018. Bertempat di Gedung PT. Indosat Tbk, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang diwakili oleh Kepala Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BBTNBKDS) melakukan penandatanganan kerjasama dengan PT Indosat Tbk diwakili oleh Bapak Gamareza R Gandjar selaku Group Head Tower Manajemen PT Indosat Tbk, tentang Pembangunan Strategis dalam rangka pemasangan menara komunikasi/ base transceiver station (BTS) di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum Kabupaten Kapuas Hulu Kalimantan Barat. Kegiatan penandatangan ini disaksikan oleh Sekretaris Direktorat Jenderal KSDAE yang diwakili ibu Retno Surati dari Bagian Hukum dan Kerjasama Teknis, perwakilan Direktorat Bina Pengelolaan Ekosistem Esensial, Pihak Balai Besar TNBKDS, Perwakilan PT Sonokeling selaku mitra konsultan, dan DH Tower Operation Outside Java PT Indosat Tbk. Dalam sambutannya, Arief Mahmud menyatakan bahwa upaya penandatangan ini merupakan kerjasama berupa penempatan Base Tranceiver Station (BTS) di kawasan konservasi. Perjanjian kerjasama ini diharapkan bisa memberikan manfaat untuk masyarakat dan juga dalam upaya promosi Festival Danau Sentarum pada tanggal 25-28 Oktober 2018. Mengingat Festival Danau Sentarum ini merupakan salah satu dari 100 Wonderful event di Indonesia. Dilain pihak, Retno Surati selaku perwakilan Setditjen KSDAE menyampaikan bahwa sarana komunikasi merupakan bagian penting dalam pengelolaan konservasi dan mudah-mudahan Perjanjian Kerja Sama ini dapat meningkatkan pengelolaan Taman Nasional Danau Sentarum . Selain itu, sarana komunikasi sangat penting untuk keperluan pengelola taman nasional maupun untuk kepentingan masyarakat, sahut Retno. Dalam diskusinya Gamareza R Gandjar selaku Group Head Tower Manajemen PT Indosat Tbk menyatakan bahwa komunikasi sangat penting dalam pembangunan konservasi dan berharap bisa membantu dalam pembangunan pengelolaan Taman Nasional Danau Sentarum sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Kalimantan Barat, khususnya di bidang komunikasi. Ruang lingkup perjanjian kerjasama ini meliputi (1) Pemanfaatan dan pengembangan sarana komunikasi dan pendukungnya; (2) Perlindungan kawasan; (3) Pemberdayaan masyarakat; (4) Pemulihan kawasan; dan (5) Pencegahan kebakaran hutan. Perjanjian kerjasama ini berlaku selama 10 tahun sejak ditandatangi, selain itu juga ditandatangani RPP (Rencana Pelaksanaan Program), RKL (Rencana Kerja Lima Tahun) dan RKT (Rencana Kerja Satu Tahun) yang memuat program dan kegiatan pada tahun 2018. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Pengembangan Pariwisata Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai dengan Pemkab Konawe Selatan

Konawe Selatan, 4 September 2018. Rawa Aopa merupakan salah satu kawasan di Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) yang berdekatan dengan desa Pewutaa, Kecamatan Angata Kab. Konawe Selatan. Wilayah tersebut saat ini menjadi salah satu daerah prioritas sehingga Pemkab Konawe Selatan bersama dengan Balai TNRAW memprakarasi masterplan pengembangan wisata dengan tujuan utama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan. Tema pengembangan pariwisata yang disepakati Pemkab Konawe Selatan dan Balai TNRAW sesuai dengan tema Hari Konservasi Alam Nasional tahun ini "Hamonisasi Alam dan Budaya". Sebelum penyusunan masterplan pariwisata, telah dilaksanakan Penandatanganan Memorandum Of Understanding (MoU) pada tanggal 4 Juli 2018 yang mencakup pengembangan di tiga sektor yaitu bidang pertanian, bidang perikanan dan wisata. Adapun luas areal yang akan dikembangkan menjadi destinasi wisata Rawa Aopa secara keseluruhan yaitu 30 Ha, dimana 12 hektar masuk kedlam Kawasan TNRAW. Rawa Aopa terletak di zona tradisional yang didalamnya terdapat aktifitas masyarakat untuk memanfaatkan potensi sumber daya alam secara tradisional seperti penangkapan ikan dan pengambilan tumbuhan rawa (totole) untuk bahan anyaman tikar. Keberadaan site yang seluruhnya merupakan badan air, menyebabkan kecilnya kemungkinan peruntukkan Ruang Usaha dalam konteks pengembangan wisata, sehingga lokasi untuk mengakomodir kegiatan wisata yang terletak pada zona pemanfaatan dan zona tradisional seluruhnya berada pada Ruang Publik. Tipe ekosistem Rawa Aopa merupakan tipe vegetasi rawa gambut terluas di daratan Sulawesi. Kombinasi unsur lingkungan yang terdapat pada Rawa Aopa meliputi penutupan badan air oleh vegetasi yang lebih dari 90%, material dasar rawa yang bergambut dan topografi disekitarnya yang berupa gugusan perbukitan, secara akumulatif telah menciptakan kondisi pengendalian tata air (hidrologi) yang sempurna bagi keseimbangan ekosistem daratan Sulawesi Tenggara secara umum. Kondisi tersebut juga merupakan habitat ideal bagi berbagai jenis burung air dan burung migran yang berjumlah 23 spesies. Bagi masyarakat sekitar, keberadaan rawa secara tidak langsung telah memberi warna berbeda dalam tatanan sosial, budaya dan ekonomi sehingga menjadi karakter pembeda dengan masyarakat lainnya. Dalam tatanan sosial, seiring dengan perubahan waktu jumlah masyarakat yang mengakses sumber daya alam semakin meningkat sehingga tercipta komunitas dengan aturan atau kearifan lokal tertentu. Hingga saat ini, keberadaan rawa dapat mempengaruhi terbentuknya komunitas masyarakat diantaranya: perajin tikar pandan rawa (totole), nelayan, pengasapan ikan air tawar (skala rumah tangga), pembudidaya ikan air tawar dan pengusaha warung. Dari unsur budaya, keberadaan rawa banyak memberi pengaruh dalam hal pemanfaatan sumber daya alam. Dengan pengetahuan local yang dimiliki, rutinitas penangkapan ikan secara tradisional telah membudaya secara turun temurun seperti teknik memancing (molonduri), membubu, memukat, menjala dan menangkap langsung dengan tangan (mekaroro). Hasil tangkapan umumnya dijual langsung melalui pengepul atau diecer, namun tidak sedikit pula yang melakukan pengolahan setengah jadi melalui teknik pengasapan dengan tujuan meningkatkan nilai jual dan pengawetan. Jenis budaya lain yang tidak kalah uniknya adalah melalui kerajinan tikar pandan rawa, masyarakat menjadikan tikar tersebut sebagai salah satu persyaratan dalam prosesi pernikahan. Sumber : Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai Photo by Putu Sutarya
Baca Berita

Noken Dan Taman Nasional Lorentz, Dua Warisan Asal Papua Untuk Dunia

Jayapura, 4 September 2018. Balai Besar KSDA Papua menjadi salah satu Narasumber dalam kegiatan “Rapat Koordinasi Pelestarian dan Pengelolaan Noken sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia dan Taman Nasional Lorentz sebagai Warisan Alam Dunia Tahun 2018”. Kegiatan tersebut berlangsung di Hotel Grand Abe, Distrik Abepura, Kota Jayapura pada tanggal 28 Agustus lalu. Acara dibuka oleh Kepala Biro Kesra Provinsi Papua, Naftali Yogi, S.Sos., pada pukul 09:00 WIT. Para narasumber adalah Kepala Pusat Pengembangan Kawasan Strategis Kementerian PUPR, Ir. Kuswardono, MCP, Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Kemendikbud, Dr. Nadjamuddin Ramly, M.Si., Kepala Balai Taman Nasional Lorentz, Anis Acha Sokoy, S. Hut., Kepala Balai Besar KSDA Papua, Ir. Timbul Batubara, M.Si., Asisten Deputi Warisan Budaya dari KemenkoPMK, Dr. Ir. Pamuji Lestari, M. Sc., dan seorang desainer bernama Sonny Muchlison, M. Sn. Turut hadir pula pada acara tersebut perwakilan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua, LSM Wildlife Conservation Society, dan perwakilan dari akademisi Universitas Cenderawasih. Dua hal penting yang menjadi poros pada rapat koordinasi tersebut tentu saja noken dan Taman Nasional Lorentz. Keduanya merupakan kebanggaan terbesar bagi Indonesia, khususnya Papua. Noken dinobatkan sebagai Warisan Dunia Takbenda oleh UNESCO pada 4 Desember 2012, sementara TN. Lorentz ditetapkan sebagai Situs Warisan Alam Dunia pada tahun 1999. Mengenai noken, filosofinya sangat penting bagi kehidupan masyarakat Papua. Noken merupakan simbol kehidupan yang baik, perdamaian, dan kesuburan bagi perempuan. Noken ibarat rahim seorang mama, tempat asal-muasal cinta, kasih sayang, dan kehidupan. Pada rapat koordinasi tersebut, Sonny Muchlison memaparkan berbagai gaya masa kini yang dapat dipadu-padankan dengan noken. Hal itu akan menumbuhkan kreatifitas para pembuat noken, khususnya mama-mama Papua agar noken memiliki nilai jual yang lebih tinggi dan dapat meningkatkan taraf ekonomi mereka. Sementara mengenai Taman Nasional Lorenzt, Anis Acha Sokoy menyampaikan kondisi terkininya. Kekayaan berharga yang terkandung dalam Taman Nasional Lorentz memenuhi kriteria VIII, IX, dan X WHC-UNESCO. Di dalamnya terkandung berbagai contoh menonjol dan signifikan yang mewakili kejadian-kejadian besar dari sejarah bumi. Dalam hal ini, Taman Nasional Lorenzt mewakili semua tipe ekosistem di Pulau Papua. Pada ujungnya, Taman Nasional Lorenzt dinilai memiliki ekosistem yang paling lengkap di dunia. Bagaimanapun, peran pemerintah sangat penting dalam proses pengelolaan dua warisan dunia tersebut. Harapan ke depan, semua hal yang telah diperjuangkan pemerintah Indonesia di tingkat dunia dapat menunjang kehidupan yang lebih sejahtera, terutama bagi masyarakat Papua. [] Sumber : Balai Besar KSDA Papua - Kurnianingsih, A.Md.
Baca Berita

Tanpa Mengenal Lelah, Mendampingi Ibu-Ibu dalam Pemberdayaan Itik Petelur

Waingapu, 4 September 2018. Bertempat di Desa Padiratana Kepala Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti Maman Surahman S.Hut., M.Si bersama Kepala SPTN II Lewa Judy Aries Mulik STP, melakukan pemantauan langsung pengembangan usaha itik petelur yang dilakukan oleh ibu-ibu yang tergabung pada kelompok Rambu Langgaliru. Pengembangan itik petelur yang diberikan saat DOD (day old duck) yaitu pada Bulan Juli 2018, kini tiga bulan berjalan itik telah tumbuh besar, perawatan itik yang dilakukan oleh ibu-ibu penuh dengan kasih saying, hal ini terlihat pada cara salah satu ketua pokja dalam merawat itik petelur secara rajin dan tekun (hal ini dilihat dari cara mengajak itik-itik tersebut ke sungai setempat untuk bermain air dan mencari makanan secara alami), semangat ibu tersebut kelihatan sangat senang, demikian pula dengan kami (Kepala Balai). Dalam kesempatan ini Kepala Balai meminta agar ibu-ibu tetap semangat dalam menjaga dan merawat itik sampai itik tersebut bertelur dan sampai menjalankan kelangsungan usaha tersebut. ]Harapan kami, usaha itik petelur tersebut dapat membantu meningkatkan perekonomian keluarga dan tumbuhnya pengusaha - pengusaha baru yang bergerak di Desa Padiratana. Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti
Baca Berita

Operasi Malam Perburuan Liar

Kuningan, 4 September 2018. Polisi Kehutanan (Polhut) Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) Seksi wilayah I Kuningan menindaklanjuti laporan adanya kegiatan perburuan liar di sekitar daerah Mandirancan pada tanggal 7 Agustus 2018 silam. Informasi ini disampaikan oleh Masyarakat Mitra Polhut (MMP) dan segera ditindaklanjuti Polisi Kehutanan TNGC dengan melakukan pertemuan di Markas Komando (mako) Polisi Kehutanan di Cibeureum. Hasil pertemuan akan dilakukan operasi di malam hari. Setelah semua persiapan matang dan lengkap, operasi dilaksanakan pukul 18.30 Wib dengan jumlah personil sebanyak 8 orang Polisi Kehutanan. Tempat Kejadian Perkara (TKP) pertama kami adalah Blok Sipangpung. Demi pelaksanaan operasi senyap, jalan yang dilalui kami tidak pada jalan biasanya tetapi memutar melalui jalur Lambosir. Setelah tiba di TKP, kami mulai melakukan penyisiran dan dibagi menjadi dua tim. Tim pertama melakukan penyisiran didalam kawasan, kemudian tim kedua melakukan penutupan jalur akses masuk ke dalam kawasan yang biasa di lalui para pemburu. Tim pertama mendengar satu kali letusan senjata api dan segera menghubungi tim kedua untuk menutup jalur keluar. Namun rupanya sang pemburu mengetahui keberadaan kami dan kabur melalui jalur lain. Sebagai Polisi Kehutanan tidak akan pernah lelah untuk selalu memburu si pemburu liar, baik siang atau malam, Polhut selalu siap siaga untuk mengamankan kawasan TNGC dari para pemburu liar. Berperan aktif dalam menuntaskan para pemburu liar dengan cara melapor kepada Balai TNGC apabila ada orang yang mencurigakan membawa senapan masuk ke dalam kawasan TNGC. [Teks & foto © Oman Depe – BTNGC | 092018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Sosialiasi Pengendalian Si Jago Merah Di Tengah Hutan

Sarolangun, 4 September 2018. SKW I BKSDA Jambi melakukan kegiatan sosialisasi pengendalian kebakaran hutan pada tanggal 27-29 Agustus 2018. Hari pertama, tim melakukan rapat internal di kantor balai membahas teknis keberangkatan ke masing-masing desa dan persiapan spanduk serta poster himbauan. Hari kedua, tim berangkat menuju ke Desa Taman Dewa Kec. Mandiangin, Kab. Sarolangun, tim berkoordinasi dengan kepala desa Bpk. Bonito mengenai kegiatan yang akan dilaksanakan. Pada hari ketiga, tim melakukan kegiatan sosialisasi pada siang hari pukul 14.00 WIB waktu setempat, sosialisasi dihadiri sekitar 30 orang yang terdiri dari perangkat desa dan masyarakat yang memiliki lahan di sekitar kawasan Cagar Alam Durian Luncuk 1. Tim memberikan sosialisasi berupa pengenalan terkait tupoksi BKSDA Jambi dan penyampaian materi berupa faktor penyebab kebakaran hutan, dampak akibat kebakaran hutan, pasal, dan sanksi apabila melakukan pembakaran lahan secara sengaja maupun tidak sengaja serta 7 arahan dari Presiden dan Menteri LHK mengenai kebakaran hutan dan lahan. Masyarakat yang antusias dengan adanya sosialisasi ini menyarankan agar pembentukan MPA (Masyarakat Peduli Api) di daerah yang rawan kebakaran dan berharap kegiatan sosialisasi ini dilakukan berkelanjutan. Kepala SKW I, Udin Ikhwanuddin mengungkapkan, “Alhamdulillah sosialisasi telah kami lakukan dan berjalan dengan baik, masyarakat juga antusias dan berharap kegiatan ini akan terus berlanjut. Diharapkan sosialisasi ini menambah wawasan masyarakat dan mengurangi potensi kebakaran hutan.” Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Sukses Hkan 2018 di TWA Batu Putih Menuai Sejumlah Pujian

Bantimurung, 4 September 2018. Pagelaran Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) tahun 2018 di Taman Wisata Alam (TWA) Batu Putih, Bitung, Sulawesi Utara terbilang sukses. Karena sejumlah kalangan memberikan ucapan selamat dan pujian. Rangkaian puncak peringatan HKAN berlangsung meriah. Sejumlah pejabat turut hadir. Bupati Bitung, Gubernur Sulawesi Utara hingga dua menteri sekaligus, Menteri Koordinator Perekonomian dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan sendiri. Pada penutupan Kamis (30/8/2018), seorang perwakilan peserta jambore konservasi alam mendapat kesempatan menyampaikan pesan dan kesan selama mengikuti rangkaian kegiatan HKAN 2018 ini. Adalah peserta asal Papua Barat menyampaikan dengan lugas apa yang ia rasakan selama berlangsungnya kegiatan kampanye akbar konservasi alam pada tanggal 28 – 30 Agustus 2018. Ia menyampaikan terima kasih kepada penyelenggara kegiatan HKAN 2018. Tak hanya ucapan, ia juga mewujudkannya melalui sebuah hadiah berupa topi anyaman dan ikat kepala khas Papua. Ketua Kelompok Ekowisata Beberin Aisadami Taman Nasional Teluk Cenderawasih ini menyampaikan terima kasihnya kepada instansi tertentu. Pertama-tama ia menyerahkan topi anyaman kepada Direktur Jenderal KSDAE sebagai perwujudan rasa terima kasihnya kepada penyelenggara. Hadiah kedua berupa ikat kepala ia sematkan kepada salah seorang pemandu wisata TWA Batu Putih. Dan hadiah terakhir yang tak terduga ia berikan kepada petugas dapur. “Saya sangat senang di sini. Makanannya enak dan melimpah. Saya ucapkan terima kasih kepada petugas dapur,” ujar Tonji Samisa, Kader Konservasi Balai Besar Teluk Cenderawasih. Betapa tidak dapur umum tak membatasi siapa saja yang mau bersantap. Petugas dapur dengan ramah menyambut para peserta jambore, pemandu pameran, hingga pengunjung sekalipun. “Mereka begitu bersahabat, berasa di rumah sendiri,” tambahnya. Panitia lokal dalam hal ini Balai KSDA Sulawesi Utara telah menerapkan kerja kolektif. Begitu baik kerjasama Balai KSDA Sulawesi Utara dengan pemerintah daerah baik Kota Bitung, Propinsi Sulawesi Utara maupun PJLHK sendiri. Event organizer dalam hal ini PT. Sumando Adya Prima dari Jakarta ini telah berkerja dengan begitu baiknya. Melengkapi kebutuhan-kebutuhan panitia dan peserta selama acara berlangsung. Hingga pada akhirnya acara berjalan tertib sesuai rencana. Pada grup aplikasi daring dan media sosial peserta jambore dan pemandu pameran konservasi alam menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan kepada penyelenggara baik untuk PJLHK, BKSDA Sulawesi Utara hingga kepada event organizer. “Terima kasih untuk teman-teman BKSDA Sulawesi Utara yang telah menyelenggarakan HKAN 2018 dengan baik. Salut,” tulis Johanes Wiharisno, pemandu pameran Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango pada akun Facebook miliknya. Satu lagi hal positif yang berhasil digaungkan dalam pegelaran akbar ini adalah program less plactic. Panitia membagikan ratusan tumbler untuk peserta jambore dan pemandu pameran konservasi alam. Beberapa stan pameran juga malah membagikan tumbler kepada pengunjungnya. Panitia juga menyediakan air mineral untuk isi ulang pada setiap sudut Camping Ground TWA Batu Putih. Karenanya sampah plastik dari botol mineral tak banyak yang bisa dijumpai selama acara berlangsung. Petugas kebersihan pun senang karenanya. Moga penyelenggaraan HKAN ke depan terus membaik. Semoga konservasi alam terus bergaung hingga pada akhirnya menjadi jati diri dan budaya bangsa. Salam konservasi .... Sumber: Taufiq Ismail – PEH Balai TN Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

Pemantauan Tindak Lanjut Itjen KLHK di BBKSDA Sumut

Medan, 4 September 2018. Pemantauan Tindak Lanjut Hasil Audit Inspektorat Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada Unit Pelaksana Teknis (UPT)/Satker di Provinsi Sumatera Utara, melalui surat Sekretaris Inspektorat Jenderal Kementerian LHK No. ST.377/Setitjen/PTL/Was.6/8/2018 telah menugaskan Tim Inspektorat Jenderal untuk melakukan pemantauan dimaksud. Pertemuan dilakukan pada Senin, 3 September 2018, bertempat di ruang rapat Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Pemantauan ini Tindak Lanjut Hasil Audit Inspektorat Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada Unit Pelaksana Teknis (UPT)/Satker di Provinsi Sumatera Utara, akan berlangsung selama 5 (lima) hari, dari tanggal 3 s.d 7 September 2018 Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, selaku Koordinator Wilayah UPT lingkup Kementerian LHK Propinsi Sumatera Utara, yang diwakili Kepala Bidang Teknis, Ir. Irzal Azhar, M.Si., menyampaikan selamat datang kepada Tim dan mempersilahkan Tim untuk memberikan penjelasan/pemaparan tentang rencana Pemantauan Tindak Lanjut Hasil Audit Inspektorat Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Widodo, S.Hut., selaku Ketua Tim, menyampaikan bahwa Pantauan Tindak Lanjut Hasil Audit Itjen dilakukan pada 11 UPT/Satker yang ada di Provinsi Sumatera Utara, masing-masing : Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Balai Besar TN Gunung Leuser, Balai TN Batang Gadis, Balai PDASHL Wampu Sei Ular, Balai PDASHL Asahan Barumun, BPKH Wilayah I Medan, BPPHLHK Wilayah Sumatera, BPPLHK Pematangsiantar, BPPLHK Aek Nauli, Balai PSKL Wilayah Sumatera dan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Utara. Diingatkan juga kepada perwakilan UPT/Satker akan ada sanksi yang diberikan bila tidak menindak lanjuti Laporan Hasil Audit (LHA). Bila dalam waktu satu bulan tidak ada tindak lanjut, maka sesuai dengan ketentuan Satker akan diperingati. Selanjutnya bila sampai waktu 3 bulan tidak juga ditindak lanjuti, maka akan dilakukan Audit Investigasi terhadap UPT/Satker tersebut. Dan jika tetap juga tidak ada tindak lanjut, maka satker akan dikenakan sanksi administrasi. Ir. Irzal Azhar, M.Si., berharap agar UPT/Satker yang dalam Pantauan Tindak Lanjut Hasil Audit Itjen, dapat menyelesaikan segala kewajibannya, sehingga terhindar dari sanksi. (Evan) Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Sosialisasi Kemitraan Konservasi di TWA Pleihari

BATAKAN, 3 September 2018 − Guna percepatan Skema Kemitraan Konservasi (Mitkon) sesuai PermenLHK 83/2016 dan Perdirjen 6/2018, pada hari Minggu 2 September 2018, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan (BKSDA Kalsel) telah melaksanakan sosialisasi kepada beberapa tokoh masyarakat Desa Batakan. Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan dari penyelesaian konflik di kawasan TWA Pleihari. Sosialisasi dilaksanakan langsung oleh Kepala Balai KSDA Kalsel Dr. Mahrus Aryadi, M.Sc yang didampingi Kepala SKW 1 Pelaihari, Mirta Sari dan Kepala Resortnya, Alfredo De Araujo. Pemaparan berkaitan dengan tujuan Mitkon, kelompok yang terlibat, macam kegiatan dan masa waktunya. Menurut Fauzi, salah satu tokoh muda bahwa Mitkon sangat dibutuhkan masyarakat. Mereka butuh lapangan kerja karena di laut ikan sudah berkurang dan mencari kayu semakin jauh. Beberapa kegiatan yang bisa dikembangkan antara lain Mitkon Agroforestri dan Mitkon Pariwisata. Kahfi sebagai Babinsa yang turut hadir sangat antusias dengan skema Mitkon ini, “sudah ada jalan keluar untuk melibatkan masyarakat setempat di dalam kawasan konservasi”, timpalnya. Sosialisasi dengan tokoh masyarakat ini sebagai jenjang untuk kemasyarakat secara luas. Membangun saling kepercayaan (mutual trust) menuju saling menguntungkan (mutual benefit) merupakan pesan penting dari Dirjen KSDAE Ir. Wiratno, M.Sc untuk dilakukan dalam skema Mitkon ini. Kegiatan diakhiri dengan kesepakatan untuk bertemu lagi dengan kelompok masyarakat sasaran potensial dalam skema Mitkon. (jrz) Sumber : Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Road to Festival Taka Bonerate, Rapat Khusus Digelar

Benteng - Kepulauan Selayar, 03 September 2018. Kalender Pariwisata Kepulauan Selayar terdiri dari beberapa event besar dan menarik, dan yang paling ditunggu-tunggu adalah Festival Taka Bonerate yang akan diselenggarakan pada tanggal 24-27 Oktober 2018. Kepala Balai TN Taka Bonerate (TNTBR)melaksanakan rapat bersama dengan Dinas Kepariwisataan terkait Pelaksanaan Festival Taka Bonerate di kantor Balai TNTBR pada Senin, 3 September 2018. Kepala Balai TN. Taka Bonerate Faat Rudhianto membahas secara detail event yang akan dilaksanakan di tiga pulau dalam kawasan TN Taka Bonerate yakni Pulau Jinato, Pulau Tinabo, dan Pulau Rajuni. Hadir dalam rapat ini, Tim dari Dinas Kepariwisataan Andi Abdurahman Kepala Dinas, Kepala Bidang Pariwisata Sri Nurnaningsih, Kepala Seksi Pengembangan Event Pariwisata Edison dan beberapa staf Dispar Kepulauan Selayar serta Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I dan II Muhammad Hasan dan Abdul Rajab serta staf Balai TN Taka Bonerate. "Kegiatan event Kalender Wisata ini wajib melibatkan masyarakat binaan TN Taka Bonerate" Ucap Andi Abdurahman kadis Pariwisata Kepulauan Selayar dalam rapat. Pelibatan masyarakat setempat ini dimulai dari homestay hingga pemandu wisata. Setelah rapat ini diharapkan ada komunikasi intens via media sosial WhatsApp demi kelancaran event Wisata ini. Sumber : Asri - PEH Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Berita

Keluar Kawasan, Ini Hasil Ekspedisi TN. Aketajawe Lolobata Tahun 2018

Sofifi, 3 September 2018. Setelah sepuluh hari berjalan mencari data keanekaragaman hayati di dalam kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL), akhirnya pada tanggal 28 Agustus 2018 Tim Ekspedisi TNAL sampai di kantor SPTN Wilayah III Subaim. Tim ekspedisi dipisah menjadi dua kelompok untuk pengambilan data di lokasi yang berbeda, yaitu Beringin Lamo dan Tukur-tukur. Sampai di Subaim, tim bermalam di kantor SPTN III dan esok harinya (29/08) menuju kantor Balai TNAL di Sofifi. Setibanya di Sofifi, dengan tertib dan bersuka ria, tim ekspedisi langsung membuka perlengkapan pribadi untuk dibersihkan. Setelah itu beberapa kelompok pemerhati satwa mengeluarkan spesimen atau awetan mereka untuk diidentifikasi. Kegiatan rekap data dan persiapan presentasi hasil sementara Ekspedisi TNAL Tahun 2018 dilakukan sampai tanggal 30 Agustus 2018. Saatnya presentasi hasil. Tepat pukul 14.15 WIT, setelah Salat Jum’at (31/8), tim ekspedisi yang terdiri dari mahasiswa Himakova IPB, Spektakel dan Indonesia Dragonfly Society (IDS) mempresentasikan hasil sementara mereka selama di lapangan. Sebagai pimpinan presentasi, Kepala Balai TNAL, Muhammad Wahyudi mengapresiasi tim ekspedisi yang telah bekerja keras sampai berhari raya idhul adha dilapangan. Selanjutnya Kepala Balai mempersilahkan ketua Surili yang merupakan program Himakova ini, Ramdani untuk melakukan presentasi hasil. “Saya berterima kasih dan mengapresiasi adik-adik mahasiswa dan seluruh Tim Ekspedisi TNAL yang telah bekerja keras mengambil data dan semua panitia yang telah mensukseskan acara ini”, Kata Muhammad Wahyudi. Hasil yang didapatkan tim dari Himakova antara lain terdapat perjumpaan tupai di dalam kawasan oleh Kelompok Pemerhari Mamalia (KPM) yang selama ini belum pernah dijumpai oleh Balai TNAL. Temuan lainnya datang dari Kelompok Pemerhati Burung (KPB), yaitu hampir seluruh burung endemik telah dijumpai diantaranya adalah Tiong Lampu Ungu, yang merupakan endemik Maluku Utara yang juga jarang dijumpai. Total jenis burung yang dijumpai dalam kegiatan ini sebanyak 67 jenis. Kelompok Pemerhati Herpetofauna (KPH) mendapatkan data amfibi sebanyak 21 jenis dan 9 jenis diantaranya telah teridentifikasi. Sedangkan data perjumpaan reptil sebanyak 13 jenis dan sudah teridentifikasi semuanya. Hasil dari Kelompok Pemerhati Kupu-Kupu (KPK) didapatkan perjumpaan kupu-kupu sebanyak 41 jenis di Tukur-Tukur dan 27 jenis di Beringin Lamo, sedangkan yang belum teridentifikasi sebanyak 15 jenis. Kelompok Pemerhati Flora (KPF) mendapatkan data berbagai jenis tumbuhan, mulai dari semak, pohon, tumbuhan merambat, palem, pandan sampai anggrek, yang menarik adalah data anggrek, yaitu sebanyak 68 jenis anggrek yang telah dijumpai dan 24 jenis diantaranya belum teridentifikasi. Kelompok Pemerhati Goa (KPG) belum mendapatkan data potensi goa didalam kawasan TNAL di Tukur-Tukur, akhirnya mereka mendapatkan goa di luar kawasan, yaitu goa Paniki yang kemudian dipetakan. Kajian tentang ekowisata dari Kelompok Pemerhati Ekowisata adalah ditemukannya beberapa air terjun yang dapat dijadikan objek wisata alam akan tetapi memiliki akses yang cukup jauh. Kelompok sosial budaya mengkaji budaya Masyarakat Tobelo Dalam (MTD) di Dusun Tukur-Tukur, Dusun Beringin Jaya dan Dusun Titipa. Beberapa data kajian yang didapat seperti seni berbalas pantun atau salombe yang saat ini hanya bisa didengar dari warga yang sudah tua. Selain itu terdapat larangan untuk memakan beberapa jenis burung, seperti burung Nuri, Kakatua Putih dan Kasturi Ternate karena mereka (MTD) menganggap burung tersebut dapat berbicara layaknya manusia. Mereka juga tidak memakan burung elang, karena menganggap elang itu jahat dan suka makan burung lainnya. Data historis atau sejarah MTD di Desa Tukur-Tukur dimulai pada tahun 1960 an, dimana mereka mulai keluar dari hutan dan tahun 1987 berdirilah Dusun Tukur-Tukur sampai sekarang. Kajian sosial budaya ini kemudian dilanjutkan oleh tim dari Spektakel. Mereka menyatakan bahwa istilah Masyarakat Tobelo Dalam merupakan istilah yang diberikan oleh orang lain, karena MTD tersebut tidak tahu kalau mereka disebut MTD. Masyarakat ini menyebut dirinya sebagai suku Togutil dan sebagian lagi sebagai O Hongana Manyawa, yang berarti orang dari hutan. Keberadaan seni budaya mereka lambat laun akan punah, karena yang dapat melakukan tarian-tarian dan lagu-lagu adat hanya para orang tua dan para pemudanya sudah mulai meninggalkan kebiasaan tersebut. Terdapat empat kriteria O Hongana Manyawa, yaitu kelompok yang sudah bermukim, kelompok yang masih di kawasan hutan tetapi sering datang ke perkampungan, kelompok yang sudah di luar kawasan tetapi masih beraktifitas di dalam kawasan dan kelompok yang masih asli yang ada di dalam kawasan hutan. Kelompok yang masih asli merupakan kelompok adat yang rentan, yaitu rentan terhadap perubahan pola hidup dari orang luar (pengunjung). “TNAL beserta instansi Pemda yang terkait dapat turut melestarikan budaya mereka dengan membuat kelompok pemuda yang kemudian aktif dalam acara penerimaan tamu kunjungan, dan lainnya”, kata Suryo, Tim Spektakel. “Kami bukan tidak berani untuk mengunjungi kelompok yang masih asli, tetapi kami tidak mau membawa dampak negatif buat mereka, seperti gaya berpakaian, makan dan gaya hidup lainnya karena mereka masih rentan terpengaruh pola hidup dari luar”, imbuhnya. Presentasi terakhir dari tim IDS. Tim yang bergelut dibidang capung tersebut menemukan sebanyak 36 jenis, 18 jenis diantaranya ditemukan di luar kawasan taman nasional, yaitu di lokasi kemah konservasi di gunung Uni-Uni. Hal ini dikarenakan di Uni-Uni terdapat kolam air yang jernih di tempat terbuka. Terdapat catatan baru sebanyak 3 jenis. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra - Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata http://www.aketajawe.com
Baca Berita

Lomba Lintas Alam di Hutan Madapi TN Kerinci Seblat

Bengkulu, 3 September 2018. Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah VI Bengkulu Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BBTNKS) selenggarakan kegiatan Lomba Lintas Alam (LLA) Hutan Madapi 2018. Kegiatan LLA dilaksanakan tanggal 1-2 September 2018 silam di desa Pal.8 Kecamatan Bermani Ulu Raya, Kabupaten Rejang Lebong, Propinsi Bengkulu. Acara LLA dibuka secara resmi oleh Bupati Rejang Lebong, serta dihadiri Kepala Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat, Dandim 0409/Rejang Lebong, Kapolres Rejang Lebong, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Propinsi Bengkulu, Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (PDASHL) Ketahun, serta Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Rejang Lebong. Sebanyak 125 peserta mengikuti LLA yang berasal dari beberapa organisasi, seperti ; Komunitas Pencinta Alam, Mapala, Saka Wana Bhakti, karang taruna, Sispala dan para pencinta lingkungan lingkup propinsi Bengkulu. LLA ini merupakan kegiatan besar pertama yang dilaksanakan di hutan Madapi. LLA dengan tema "Melalui Lomba Lintas Alam Hutan Madapi TNKS, Kita wujudkan harmonisasi alam yang berkualitas" ini menyediakan hadiah-hadiah yang menarik bagi peserta, seperti tropi, uang pembinaan, personel use, doorprize dan sertifikat. Hutan Madapi ini merupakan salah satu objek wisata alam yang berada pada wilayah SPTN Wilayah 6, Balai Besar TNKS. Saat ini SPTN Wilayah 6 terus membenahi Hutan Madapi dengan dukungan pemerintahan daerah Kabupaten Rejang Lebong dan propinsi Bengkulu. Diharapkan Hutan Madapi akan terus berkembang menjadi tujuan wisata utama di propinsi Bengkulu. Sumber : Zainuddin - Kepala SPTN Wilayah 6 dan Humas Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat

Menampilkan 7.089–7.104 dari 11.140 publikasi