Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Potret Kerjasama Apik Balai TN Bukit Baka Bukit Raya Dengan BOSF

Palangkaraya, 4 September 2018. Bertempat di Visitor Center Pogram Rehabilitasi Orangutan Kalimantan Tengah Nyaru Menteng (PROKT-NM) Palangka Raya, Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) dan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) melaksanakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Kerja Tahunan (RKT) Semester I Kerjasama. Kegiatan ini merupakan Evaluasi Tahap II setelah sebelumnya dilakukan Evaluasi kerjasama Tahap I yang telah dilaksanakan pada tanggal 27 Februari 2018 di Sintang, Kalimantan Barat. Kegiatan diawali dengan kunjungan ke Kantor PROKT BOSF Nyaru Menteng dimana perwakilan dari pihak TNBBBR melihat proses dan fasilitas reintroduksi Orangutan yang ada disana sebelum dilepaskan ke kawasan TNBBBR. Selain itu juga dilakukan kunjungan ke lokasi Karantina Orangutan rilis nyaru Menteng III dan dilanjutkan kunjungan ke lokasi pulau pra rilis Kaja dan Bangamat di Desa Wisata Sei Gohong. Di Pulau Pra Rilis Pulau Kaja saat ini terdapat 52 Orangutan yang sedang dipersiapkan untuk mengalami proses peliaran kembali setelah lulus dari sekolah di Nyaru Menteng. Kegiatan dilanjutkan dengan agenda utama yaitu Evaluasi RKT Pelestarian Orangutan Kalimantan dan Habitatnya di Kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya Kerjasama antara TNBBBR dengan BOSF Tahap II di ruang Visitor Center PROKT BOSF Nyaru Menteng. Kegiatan bertujuan ini untuk mengukur capaian kinerja dan bahan perbaikan pelaksanaan kegiatan sampai pada bulan Desember 2018. Rapat dihadiri Kepala Balai TNBBBR sekaligus membuka acara, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Kasongan, Bagian Kerjasama, Pelayanan Simaksi Balai TNBBBR, staf Fungsional PEH, Polhut , Penyuluh dan administrasi SPTN Wilayah II Kasongan. Perwakilan dari BOSF dihadiri oleh Program Manager PROKT-NM, Deputi Manager Bidang Pra Rilis NM, Kepala Biro Monitoring dan Evaluasi BOSF Bogor, Humas BOSF NM, Koordinator Camp TNBBBR PROKT-NM BOSF, Staf Comdev, Bagian Karantina BOSF, Dokter Hewan BOSF dan staf BOSF NM. Adapun kegiatan ini untuk mengevaluasi kegiatan kerjasama yang telah dilaksanakan selama rentang RKT periode Agustus 2017 s.d. Desember 2018. Selain itu dilakukan penelaahan hal-hal yang masih kurang, apa yang perlu yang diperbaiki dan apa yang ke depan harus segera dilaksanakan. Pada evaluasi tahap I sebelumnya telah dilakukan addendum terhadap jangka waktu RKT yang sebelumnya 1 tahun dimulai pada Agustus 2017 dan berakhir pada Agustus 2018 menjadi berakhir pada bulan Desember 2018. Sehingga kedepannya bisa dilakukan sikronisasi kegiatan antara TNBBBR dan BOSF Nyaru Menteng lebih baik lagi. Selengkapnya dapat diklik sbb : Monitoring dan Evaluasi Kerjasama Balai TNBBBR dan BOSF Sumber : Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya
Baca Berita

Cantiknya, Keanekaragaman Anggrek Gunung Ciremai

Kuningan, 11 September 2018. Potensi keanekaragaman anggrek alam di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) cukup tinggi. Anggrek dari jenis "Vanda tricolor Lindl" dan "Vanda tricolor var", "suavis Lindl" merupakan sebagian dari berbagai jenis anggrek yang dapat dijumpai di TNGC. Anggrek ini biasa tumbuh menempel pada pohon dengan cabang atau ranting yang tidak terlalu rimbun. Habitatnya di TNGC berada pada ketinggian 700 sampai dengan 1600 meter diatas permukaan laut. Anggrek jenis ini memiliki bunga yang sangat indah. Bunganya berwarna dasar antara putih dan kuning dengan corak totol berwarna coklat. Tipe pertumbuhannya "monopodial" (batang utama jelas) dan memiliki daun berbentuk pita berdaging. Tangkai bunga keluar dari ketiak daun dengan jumlah bunga bisa mencapai 15 kuntum. Pada umumnya anggrek ini berbunga pada September sampai Oktober. Namun terkadang anggrek ini sewaktu-waktu bisa berbunga diluar bulan tersebut. Di TNGC telah dilakukan pengembangan pada kedua jenis anggrek ini. Diantaranya adalah dengan pemeliharaan indukan yang dilakukan di plot percontohan koleksi anggrek Argalingga, yakni "polinasi" (penyerbukan), perbanyakan secara konvensional serta "kultur jaringan". Metode "kultur jaringan" dikembangkan untuk membantu memperbanyak tanaman. "Kultur embrio" merupakan salah satu tipe dari "kultur jaringan". "Kultur embrio" dilakukan secara "in vitro" dengan tujuan untuk meningkatkan keberhasilan pertumbuhan "embrio" sehingga diperoleh tanaman yang lengkap. Perbanyakan menggunakan metode ini telah dilaksanakan dari awal tahun 2018. Kerjasama dalam pengembangan anggrek dengan metode kultur jaringan. Dilakukan bersama SMK Negeri 1 Maja dan Balai Diklat Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BDLHK) Kadipaten. Perbanyakan telah berhasil dilakukan dan individu mudanya sudah mulai tumbuh pada akhir Juli 2018. Setelah 14 minggu dari kegiatan penaburan biji yang telah dilakukan sebelumnya. Yang bertempat di mini laboratorium kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Majalengka dan laboratorium SMK Negeri 1 Maja. Hingga saat ini upaya pengembangan jenis anggrek lainnya terus dilakukan di TNGC. Pengembangan anggrek yang berkelanjutan akan sangat bermanfaat untuk kepentingan penelitian, pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan dan menunjang budidaya untuk pengembangan ekonomi masyarakat. [teks & foto©Hendra Purnama - BTNGC | 092018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Menghilang Lebih Dari 24 jam, Wisatawan Perancis Ditemukan Selamat.

Pangkalanbun, 11 September 2018. Libur tahun baru hijriyah tahun 2018, rutinitas aktifitas wisata alam Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) tercela dengan kejadian wisatawan yang tersesat. Dua orang wisatawan asal Perancis yang merupakan paman dan keponakan, Alban Dudek, dan Jean Luc Dudek sejak siang tanggal 10 September 2018 belum kembali ke klotok, transportasi wisata khas Tanjung Puting yang mereka sewa. Terakhir, pukul 10.00 WIB mereka terlihat berjalan mengarah ke hutan didampingi guide lokal, tetapi belum kembali hingga senja. Karena kuatir keselamatan klien, kru klotok melaporkan kepada Tur Operator yang melayani kunjungan wisatawan tersebut dan kemudian diteruskan kepada pihak Balai Taman Nasional Tanjung Puting. Segera, koordinasi upaya pencarian dilakukan. Sekitar pukul 21.00 WIB (10/9/2018) 16 orang yang terdiri dari personil HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia) dan Balai TNTP serta Staf OFI mitra Balai TNTP melakukan penyisiran disekitar Pondok Tanggui, TNTP. Pencarian tidak mendapatkan hasil hingga dinihari, hingga pencarian sementara dihentikan. Menjelang pagi (11/9/2018), pencarian dilanjutkan dengan melibatkan personil lebih besar, tak kurang dari 50 orang yang berasal dari Polsek Kumai, Basarnas, Polairud serta masyarakat desa Sekonyer. Pukul 11.30, pencarian membuahkan hasil, wisatawan dan guide yang tersesat ditemukan tak jauh dari lokasi feeding Orangutan Pondok Tanggui. Seluruh korban selamat, hanya mengalami luka-luka ringan di kaki dan tangan karena tergores duri, serta mengalami kelelahan karena kehabisan makanan dan air. Ir. Helmi, Kepala Balai TNTP berharap kejadian serupa tidak terjadi lagi di masa yang akan datang. "Sangat disesalkan kejadian seperti ini terjadi, semua karena kelalaian dan kurangnya pengetahuan guide tentang kawasan TNTP serta kurang koordinasi dengan petugas Taman Nasional. Pembenahan dan evaluasi akan dilakukan segera agar kedepan tidak ada lagi kejadian serupa", imbuh beliau. Sumber : Balai Taman Nasional Tanjung Puting
Baca Berita

Warga Serahkan Kucing Hutan

Kerinci, 11 September 2018. Warga Desa Sungai Jernih Kecamatan Pondok Tinggi Kota Sungai Penuh Kabupaten Kerinci, telah menyerahkan secara suka rela satwa yang dilindungi Undang-undang berupa 1 ekor kucing hutan (Felidae Prionailurus bengalensis) dengan jenis kelamin jantan berumur kurang lebih 7 bulan dalam kondisi sehat kepada Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BBTNKS)- Nurhamidi, SH. Selanjutnya pada tanggal 5 September 2018 kucing hutan tersebut resmi diserahkan kepada Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I BKSDA Jambi (H.Udin Ikhwanuddin, SP,ME) di kantor Perlindungan Harimau Sumatera (PHS) di kota Sungai Penuh. Selanjutnya kucing hutan dibawa ke Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) kantor SKW-I BKSDA Jambi yang berada di Kabupaten Merangin Bangko. Setelah tiba di PPS, Kucing langsung dilakukan pengecekan kondisi kesehatanya oleh dokter hewan Dinas Peternakan Kabupaten Merangin. Hasil pemeriksaan dokter bahwa kucing hutan dianjurkan untuk dirawat secara intensif kurang lebih 2 bulan sebelum dilepasliarkan ke habitatnya di alam, karena kucing saat ini mengalami stress ringan sehingga tidak mau makan. PPS (pusat penyelamatan satwa) merupakan tempat transit satwa penyerahan dari masyarakat atau sitaan yang dilindungi undang-undang, serta tempat utk merawat satwa yang bersifat sementara. Ketika satwa di PPS telah dinyatakan sehat oleh dokter hewan, langsung dapat dilepasliarkan ke alam, agar berkembang biak secara alamiah dan populasinya meningkat di habitatnya. Kucing hutan merupakan genus Prionailurus, spesies Prionailurus bengalensis sumatranus Horsfield 1821. Kucing hutan sumatera memiliki wilayah sebaran di pulau sumatera khususnya menempati habitat pada wilayah Provinsi Jambi, ciri satwa jenis ini ialah memiliki ukuran tubuh yang sedikit lebih besar dari jenis-jenis kucing domestik lainnya, memiliki bulu pada tubuhnya yang pendek tetapi halus dengan warna kuning kecoklatan dengan ciri khas pada bagian kepala sampai ekor berbelang hitam. Satwa jenis ini merupakan spesimen yang dilindungi undang-undang sesuai Permenlhk No.20 tahun 2018 tentang Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) jenis dilindungi yang merupakan pembaharuan dari lampiran PP.7 tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa. Pada beberapa kasus satwa jenis ini kerap dimanfaatkan sebagai hewan peliharaan (pet) secara illegal karena ditangkap pada areal kebun milik masyarakat, hal ini juga tidak terlepas dgan hilangnya habitat maupun degradasi pada wilayah yang sebelumnya berhutan menjadi wilayah perkebunan masyarakat. untuk itu perlu adanya peningkatan pengawasan lintas sektoral dalam rangka perlindungan dan pengawetan terhadap jenis kucing hutan sumatera ini serta sosialisasi penyadartahuan kepada masyarakat luas. Sumber : H. Udin Ikhwanuddin - Kepala Seksi Wilayah I Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Seren Taun Kasepuhan Ciptagelar: Nyoreang Alam Ka Tukang Nyawang Alam Nu Bakal Datang

Kabandungan, 10 September 2018. Seren taun Kasepuhan Ciptagelar ke-650 tahun ini diselenggarakan pada 6 s/d 9 September 2018. Selain sebagai bentuk rasa syukur masyarakat kasepuhan kepada Sang Pencipta atas hasil bumi yang melimpah, Seren Taun Ciptagelar juga merupakan wadah pelestarian seni dan budaya asli Jawa Barat, seperti Wayang Golek, Jaipongan, Dogdog Lojor dan sebagainya. Dalam kesempatan ini, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (BTNGHS) bersama tim Direktorat Kawasan Konservasi (KK) dan Direktorat Pemolaan dan Informasi Konservasi Alam (PIKA) kembali hadir memenuhi undangan masyarakat kasepuhan untuk memberikan dukungan terhadap kegiatan Seren Taun sekaligus sebagai ajang silaturahmi dan sosialisasi hal-hal penting terkait pengelolaan TNGHS. Acara ini juga diisi dengan sarasehan adat yang dihadiri oleh Bupati Sukabumi, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lebak dan Ibu Dewi sebagai anggota DPR RI yang memiliki kepedulian terhadap Kasepuhan Adat. Isu hangat yang disoroti adalah pengakuan wilayah adat Ciptagelar secara legal oleh pemerintah serta kemungkinan peningkatan akses jalan existing menuju Ciptagelar. Mewakili KLHK, Bpk Aswan dari Direktorat Kawasan Konservasi menyampaikan bahwa peran pemerintah daerah Sukabumi sangat penting untuk segera mengesahkan Perda Pengakuan Adat Kasepuhan Ciptagelar. Pembangunan jalan untuk kepentingan kesejahteraan masyarakat sangat dimungkinkan melalui mekanisme kerjasama. Hal ini sudah menjadi komitmen Balai TNGHS, oleh karenanya jalur menuju wilayah ini telah direvisi menjadi zona khusus. Sumber : Erlan Sodahlan - Balai Taman Gunung Halimun Salak
Baca Berita

Karhut Kembali Terjadi di TN Rawa Aopa Watumohai, Kepala Balai Pantau Langsung

Tatangge, 10 September 2018. Kebakaran Hutan kembali terjadi di kawasan TN Rawa Aopa Watumohai. Kali ini kebakaran terjadi di Blok Hutan Hukaea Resort Langkowala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) II pada Senin (10/9). Api mulai membakar kawasan savana hingga merembet ke semak - semak dan hutan. Sedikitnya 122,17 Ha kawasan hutan TN Rawa Aopa Watumohai ini terbakar dengan tipe vegetasi alang - alang dan semak belukar. Regu Brigdalkahut bersama Personel SPTN II, Manggala Agni Daops Tinanggea, Polsek Lantari Jaya dan MPA telah berupaya untuk mengendalikan kebakaran tersebut, namun dengan kondisi cuaca yang panas dan angin yang kencang menyulitkan proses pemadaman. Adapun kronologis kejadian tersebut bermula, pada Senin (10/9/2018) sekira pukul 13.30 WITA Empat personil Brigdalkarhut BTNRAW melakukan patroli pencegahan kebakaran di wilayah Resort SPTN 2. Saat itu tim melihat adanya api yang membakar semak belukar yang berada Blok Hutan Hukaea sehingga tim segera menghubungi Posko Brigdalkarhut dan melaporkan ke Daops Tinanggea. Sebelum bantuan datang di lokasi kejadian tim berupaya memadamkan api dengan peralatan seadanya agar api tidak menjalar lebih luas sampai menunggu mobil pemadam daops tinanggea dan peralatan mekanik serta manual pemadaman kebakaran. Kepala Balai TN Rawa Aopa Watumohai, Ali Bahri S.Sos.,M.Si yang memantau langsung proses pemadaman kebakaran ini mengungkapkan bahwa "Luasnya kebakaran dipengaruhi oleh faktor bahan bakar yang mudah terbakar dan faktor suhu serta kecepatan angin yang kencang sehingga api sulit dikendalikan serta penyebab kebakaran ini masih dalam proses penyelidikan dan akan terus ditindaklanjuti hingga tuntas". Sumber : Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai
Baca Berita

Koordinasi Antisipasi Pengambilan Bahan Galian C di Kawasan TN Aketajawe Lolobata

Tidore, 10 September 2018. Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) I Weda Balai Taman Nasional Aketjawe Lolobata (TNAL), Raduan SH beserta beberapa staf bersilahturahmi sekaligus berkoordinasi ke Dinas Lingkungan Hidup Kota Tidore Kepulauan yang belokasi di Kelurahan Gamtufkange, Soa sio. Kunjungan diterima langsung Kepala Dinas Lingkungan Hidup Tidore Kepulauan, Ibu Dra. Nurbaity Fabanyo. Raduan menyampaikan aktifitas pengambilan bahan galian golongan bebatuan galian C di sungai Tayawi sudah mengkhawatirkan, karena aktifitas pengambilan batu kali sudah berada di sekitar pintu angin yang merupakan batas menuju ke dalam kawasan taman nasional, padahal telah terpasang papan informasi mengenai himbauan pelarangan pengambilan bahan galian C berupa batu kali yang dibuat Pemda Tidore Kepulauan (Dinas Lingkungan Hidup Tidore Kepulauan). Ibu Dra. Nurbaity Fabanyo sangat mendukung Pengelolaan Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Mengingat kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata (kelompok hutan Aketajawe) sebagian besar wilayahnya berada di Kota Tidore Kepulauan, apalagi saat ini Taman Nasional dan Dinas Lingkungan Hidup dinaungi oleh KLHK. Harapannya Balai TNAL dan Dinas Lingkungan Hidup Tidore Kepulauan dapat bersinergi untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat dan pihak organda (angkutan truk) untuk tidak melakukan aktifitas galian C di dalam kawasan Taman Nasional, nantinya sosialisasi ini akan difokuskan di wilayah Oba dan Oba Utara yang terindikasi adanya aktifitas galian C yang illegal. Beliau juga berharap dengan adanya sosialisasi, masyarakat maupun pihak organda (angkutan truk) dapat menyadari pentingnya keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya seefisien mungkin dengan mengedepankan nilai lingkungan. Kepala SPTN I Raduan, SH menginformasikan bahwa Resort Tayawi yang berada di kelompok hutan Aketajawe (Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Weda) memiliki luas 20.634,46 Ha secara administratif masuk ke dalam wilayah Kecamatan Oba, Kota Tidore Kepulauan. Di dalam Resort Tayawi terdapat Sungai Tayawi yang merupakan salah satu sungai terbesar di dalam kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Kawasan ini merupakan tempat tinggal beberapa spesies dilindungi dan terdapat banyak Obyek Daya Tarik wisata Alam (ODTWA) yang akan dikembangkan. Untuk itu, SPTN I Weda, Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata sangat konsen dengan menempatkan beberapa petugas polisi kehutanan dan beberapa tenaga teknis untuk menjaga kelestarian kawasan ini. Sumber : Nadiya Fasha Fawzi - Calon PEH Pertama Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Centigi, Pesona lain Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang

Proboliggo, 10 September 2018. Centigi, mungkin bagi beberapa orang, terutama pendaki sudah mengenal tumbuhan jenis ini. Tumbuhan centigi merupakan salah satu tumbuhan yang dapat dijumpai di puncak-puncak gunung serta mampu hidup di tanah kawah dengan kadar belerang yang tinggi. Dengan ciri khas yang mencolok, ia memiliki karakteristik yang tidak dimiliki oleh tumbuhan lainnya. Warna daunnya muda dan cerah, terlihat kontras dengan lingkugan sekitar. Terkadang tumbuh pada celah bebatuan dengan bentuk perdu yang kokoh. Hingga saat ini baru teridentifikasi 2 jenis yang dijumpai di Dataran Tinggi Yang. Yakni Vaccinium lucidum dan Vaccinium varingiaefolium. Mereka dapat dijumpai di areal Puncak Rengganis dan Kawah Panas Dingin. Centigi Vaccinium lucidum (BL) Miq. umumnya berupa perdu epifit yang memiliki tinggi 0,5 sampai 6 meter. Jika tumbuh terestrial, jenis ini tumbuh seperti sapu tegak dan kaku dengan tinggi 2-3 meter. Panjang daunnya antara 1.5-2,5 cm dan lebar 0,5-1,25 cm. Buah buni berbentuk bulat kira-kira 5-6 mm dengan bunga berwarna merah. Ia terlihat cukup dominan di sekitar Puncak Rengganis. SedangkanVaccinium varingiaefolium (81.) Miq. berbentuk perdu atau pohon yang selalu terestrial. Bentuknya seperti sapu kebanyakan benjol-benjol dengan tinggi dapat mencapai 10 meter. Kayunya sangat keras dengan diameter 50 cm. Jika dibandingkan dengan V. Lucidum, jenis ini terlihat memiliki daun lebih besar dan tinggi tumbuhan yang lebih tinggi. Daun mudanya berwarna merah mencolok. Jika pada umumnya pendaki mengidolakan bunga Edelweis, Centigi tidak kalah indah. Dengan pucuk daun berwarna cerah serta bentuk tumbuhan yang unik dapat dijadikan sebagai latar foto saat mendaki, terutama di kompleks Rengganis. Di bekas reruntuhan situs ini, Centigi terihat seperti bonsai alami raksasa. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur Samsul Maarif, Bakti Rimbawan di Resort Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang
Baca Berita

Dirjen KSDAE Sambangi BKSDA Jambi

Jambi, 8 September 2018. BKSDA Jambi kedatangan tamu kehormatan sang Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Dirjen KSDAE) Bpk. Ir. Wiratno, M.Sc dalam acara Pembinaan Pegawai (In House Training) Tenaga Fungsional Lingkup Balai KSDA Jambi di Kantor Balai KSDA Jambi (8/9). Turut hadir Kepala Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat, Kepala Balai Taman Nasional Berbak Sembilang dan Kepala Balai KSDA Jambi. Acara ini dilakukan berbarengan dengan kunjungan kerja Dirjen KSDAE ke Balai KSDA Jambi sekaligus melakukan pembinaan terhadap pegawai yang bekerja di Balai KSDA Jambi. Pemaparan materi diberikan masing - masing Balai terkait kinerja yang dilakukan selama ini, pengenalan kawasan, pelaporan konflik dan lain-lain. Dirjen KSDAE pun tak lupa memberikan arahan dan instruksinya terkait pemaparan yang dilakukan masing-masing Balai. Acara dilanjutkan dengan sesi ramah tamah dan foto bersama dengan Dirjen KSDAE dan berlanjut di Kantor Balai Taman Nasional Berbak Sembilang serta peninjauan lokasi. Kepala Balai KSDA Jambi, Rahmad Saleh mengatakan, “Acara pembinaan pegawai hari ini sudah selesai dilaksanakan dan berjalan lanncar, ini untuk pertama kali nya Dirjen KSDAE melakukan kunjungan ke KSDA Jambi dan kami harap pembinaan yang dilakukan dapat diterapkan dengan baik”. Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Cegah Kebakaran Hutan di Kawasan TNGC, Galakan Camp Fire Care

Kuningan, 9 September 2018. Kegiatan "Camp Fire Care" dilaksanakan di Bukit Batu Semar, desa Bantaragung, Sindangwangi dengan tujuan mengajak partisipasi masyarakat (pengunjung) ikut serta mencegah dan menanggulangi kebakaran hutan dan lahan. Harapannya agar meningkatkan kesadaran pengunjung dan masyarakat sekitar tentang bahaya kebakaran. Kegiatan ini telah berjalan selama dua bulan yang dikelola kelompok Lingga Buana. Pengunjung juga antusias dengan adanya kegiatan "Camp Fire Care". Sudah seratus orang pengunjung yang berkontribusi dalam kegiatan tersebut. Kasduri, ketua Lingga Buana menyebutkan animo pengunjung sangat positif. "Kemah dengan konsep yang berbeda ini membuat pengunjung merasakan bagaimana perjuangan petugas dan mitra masyarakat dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Dalam hal ini pengunjung belum begitu banyak karena lokasi masih dalam tahap penataan " tambahnya. Salah satu pengunjung, Roni juga berucap "Susah ya ternyata. Apalagi kalau api sudah besar, yang ada malah kita panik tapi so far kita seneng banget dapat pengalaman baru. Kemah dengan konsep yang keren banget." Menurut Badan Meteorologi dan Geofisika, musim kemarau tahun ini lebih panjang dari sebelumnya. Gunung Ciremai dengan karakteristik batu bersavana pada bagian utara, kerap kali mendapat gangguan kebakaran hutan dan lahan. Penyebabnya tentu ulah tangan manusia. Akses terbuka dan mudah dilalui orang dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Hal ini yang menjadi dasar Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) bekerjasama dengan mitra masyarakat melakukan upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Salah satunya adalah "Camp Fire Care". Memasuki bulan September adalah masa musim penghujan, namun sampai sekarang sekarang hujan masih belum pasti turunnya. [teks © Agus Darmawan, foto © Abudin-BTNGC | 092018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Mencetak Generasi Konservasionis, BBTN Bromo Tengger Semeru Gelar Kemah Konservasi

Lumajang, 9 September 2018. Bertempat di Bumi Perkemahan Ranu Linngorekisi Resort PTN Darungan Seksi PTN IV Prono Jiwo Bidang PTN II Lumajang, Balai Besar Taman Nasional Bromo mengadakan Kemah Konservasi dari tanggal 7 sd 8 September 2018. Kemah Konservasi di buka oleh Kepala Bidang PTN Wilayah II Lumajang Ir. Gendreh Marawayan dan diikuti oleh 60 orang siswa siswi SMP dan SMU se Kecamatan Pronojiwo Lumajang. Selain peserta dan panitia dari TNBTS, Pembukaan Kemah Konservasi juga di hadiri tamu Undangan dari Muspika Kecamatan Pronojiwo yaitu Perwakilan Camat Pronojiwo, Polsek Pronojiwo, Koramil Pronojiwo dan Desa Darungan. Dalam kesempatan sambutan Wayan menyampaikan bahwa “generasi muda merupakan pelopor dan penggerak pembangunan Indonesia, sehingga di harapkan mampu menjadi motivator sekaligus dinamisator di bidang konservasi. Peserta Kemah Konservasi diharapkan mampu berperan aktif dalam mewujudkan masyarakat yang sadar konervasi dengan menjadi agen penyambung lidah TNBTS berupa penyampai pesan-pesan konservasi pada masyarakat lainnya.” Joko Priyono S.P selaku Kepala Seksi PTN Wilayah IV Pronojiwo sekaligus sebagai ketua pelaksana Kemah Konservasi TNBTS di Kabupaten Lumajang menyampaikan bahwa tujuan dari kegiatan Kemah Konservasi ini adalah : “untuk memupuk dan menumbuhkembangkan rasa cinta serta tanggung jawab bagi upaya pelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya; meningkatkan kepedulian generasi muda dan masyarakat untuk menjaga kualitas dan keseimbangan alam ; meningkatkan peran generasi muda dan masyarakat untuk lebih berkiprah dalam menjaga kelestarian alam khususnya kelestarian TN Bromo Tengger Semeru”. Dalam pelaksanaanya peserta Kemah Konservasi diberikan materi dan praktek tentang dunia konservasi oleh mentor-mentor dari TN Bromo Tengger Semeru dan tentang kedisiplinan dengan mentor dari Polsek dan Koramil Pronojiwo. Dengan mengusung thema “ Aksi Kemah Konservasi Untuk Penyadaran Masyarakat Hutan Dan Konservasi, Kemah Konservasi ini diharapkan Joko dapat berdampak manfaat berupa : “meningkatkatnya keimanan, ketaqwaan dan rasa syukur pada Sang Pencipta dengan mengamati dan mengagumi alam sebagai ciptaan Nya; menambah pengetahuan, kesadaran dan motivasi peserta tentang upaya Konservasi Sumber Daya alam dan Ekosistemnya; menambah pengalaman dan kesan menarik selama mengikuti kemah konservasi; tersebarluasnya informasi konservasi di kalangan generasi muda dengan kesan dan pesan yang telah diperoleh selama berkemah serta peserta mau berperan secara langsung dalam upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekositemnya khususnya Taman Nasional Bromo Tengger semeru”, demikian pungkas Joko. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru
Baca Berita

Penangkapan Pelaku Perburuan dan Perdagangan Harimau Sumatera

Sungai Penuh, 9 September 2018. Tim Pelestarian Harimau Sumatera Kerinci Seblat (PHSKS) bekerjasama dengan Polres Mukomuko Provinsi Bengkulu, telah berhasil menangkap pelaku perburuan dan perdagangan harimau sumatera pada Rabu, 5 September 2018. Tersangka yang tertangkap bernama Heri alias Ujang, merupakan warga desa Bunga Tanjung Kecamatan Teramang Jaya Kabupaten Mukomuko. Bersama tersangka didapatkan beberapa barang bukti berupa 1 lembar kulit Harimau Sumatera dengan panjang 135 cm, tulang belulang harimau seberat 4 kg dan 1 unit sepeda motor Honda Vario. Lokasi penangkapan di jalan lintas Bengkulu - Padang, tepatnya di Desa Bunga Tanjung, Kab. Muko Muko. Selanjutnya untuk proses hukum dan pengembangan kasus ini tersangka dibawa ke Polres Mukomuko. Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan salah satu satwa kunci Taman Nasional Kerinci Seblat. Harimau ini terancam punah karena rusaknya hutan sebagai habitatnya, masih adanya perburuan dan perdagangan kulit harimau beserta bagian-bagian tubuhnya. Seperti kita ketahui, harimau sumatera memiliki nilai penting dalam menjaga ekosistem hutan, diantaranya sebagai satwa predator penyeimbang populasi satwa-satwa lain. Dengan kata lain melindungi harimau dapat melindungi hutan dan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Kepala Balai Besar TNKS, Drs. Tamen Sitorus, M.Sc, mengungkapkan bahwa TNKS merupakan salah satu kantung habitat harimau sumatera yang diharapkan menjadi tempat pelestarian populasi harimau sumatera di Indonesia. Apabila perdagangan harimau terus terjadi di sekitar wilayah TNKS, ini akan menjadi kerugian bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan TNKS khususnya, dan masyarakat Sumatera pada umumnya. Oleh sebab itu, saya meminta dukungan kepada seluruh masyarakat dan para pihak terkait untuk bersama-sama melestarikan satwa yang terancam punah dan dilindungi undang-undang ini. Sumber : Nurhamidi, Field Manager PHSKS/Ka. SPTN Wilayah 1 dan Humas Balai Besar TN Kerinci Seblat
Baca Berita

Foto Orangutan Tapanuli Diserahkan BBKSDA Sumut di HKAN 2018

Medan, 7 September 2018. Konservasi Alam merupakan bagian integral dari Pembangunan Nasional yang harus terus dilaksanakan dan dipertahankan sebagai upaya untuk meningkatkan kesadartahuan mengenai pentingnya upaya Konservasi Alam dan penyebarluasan gerakan Konservasi Alam melalui civil society yang kuat dengan dukungan semua lapisan masyarakat luas. Oleh karena itu berdasarkan keputusan Presidan RI no.22 Tahun 2009 di tetapkan lah peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN). Isu harmonisasi antara Alam dan Budaya menjadi sangat penting dalam peringatan HKAN 2018 yang diselenggarakan di Taman Wisata Alam Batu Putih – Tangkoko Kota Bitung Sulawesi Utara, di Wilayah Kerja Balai KSDA Sulawesi Utara dari tanggal 27-31 Agustus 2018. Tema yang diusung dalam peringatan HKAN 2018 adalah : “Harmonisasi Alam dan Budaya : Satu Abad Konservasi Alam Indonesia” Penghormatan terhadap nilai budaya dan adat yang sejalan dengan upaya-upaya Konservasi Sumber Daya Alam harus dijaga dan dipelihara dengan baik dan merupakan suatu kekuatan dan cara dalam pengelolaan Sumber Daya Alam yang bertanggung jawab. Disisi lain keperluan untuk memenuhi kebutuhan budaya/adat akan Sumber Daya Alam yang cendrung semakin sulit diperoleh dari Alam harus dicarikan solusi dan upaya pemecahannya. Balai Besar KSDA Sumatera Utara dalam event Hari Konservasi Alam Nasional dengan ikut sertanya berpartisipasi Kader Konservasi Alam (KKA) dan Kelompok Pecinta Alam (KPA) atau MAPALA dari Sumatera Utara, baik dalam kegiatan HKAN maupun Jambore Konservasi Alam. Utusan Balai Besar KSDA Sumatera Utara di pimpin langung kepala Balai Besar KSDA Sumatera Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc.For. Stand Pameran Balai Besar KSDA Sumatera Utara membagikan bahan-bahan informasi berupa : Buku Orangutan, Stiker, Post Cart, Buletin Beo Nias, Brosure dan Leaflet. Juga kepada pengunjung di bagikan kuis berkaitan dengan KSDA Hayati dan Ekosistimnya dan memberi doorprize bagi pengunjung yang menjawab pertanyaan dengan benar. Pelaksanaan Pameran Jambore Konservasi Alam, ini terlaksana atas kerjasama BBKSDA Sumatera Utara dengan mitra. HKAN kali ini Balai Besar KSDA Sumatera Utara memperkenalkan Orangutan Tapanuli yang baru ditemukan kembali di akhir tahun 1990an. Spesies kera besar terbaru ini di deskripsikan dengan nama latin (Pongo tapanuliensis), dan hanya di temukan di ekosistem Batang Toru, yang meliputi hutan dataran tinggi yang tersebar di tiga kabupaten yakni : Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera Utara. Pada puncak Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) tahun 2018 turut dihadiri Menteri Kordinator Perekonomian, Darmin Nasution dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya. Kehadiran Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution pada saat itu menjadi momen menarik dimana beliau menerima penyerahan foto Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) dari Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara – Hotmauli Sianturi. “Saya baru tahu ada spesies Orangutan di kampung saya Tapanuli Selatan, dari foto terlihat satwa tersebut berwibawa seperti pada umumnya orang Batak. Saya berharap spesies ini bisa dijaga kelestariannya dan menjadi kebanggaan warga Sumatera Utara” ujar Darmin Nasution. Sebagaimana diketahui bahwa Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution berasal dari Kabupaten Mandailing Natal Provinsi Sumatera Utara. Hotmauli Sianturi menjelaskan bahwa “Populasi Orangutan Tapanuli tak lebih dari 800 Individu yang terdapat di ekosistem Batang Toru termasuk Cagar Alam Dolok Sibualbuali, Cagar Alam Dolok Sipirok dan Suaka Alam Lubuk Raya. Perlu upaya-upaya bersama dari Pemerintah, Dunia usaha dan masyarakat untuk menjaga kelestariannya”. Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Penyu Hijau Pulang Kampung

Jayapura, 7 September 2018. Peristiwa tragis kembali menimpa keluarga penyu hijau (Chelonia mydas). Jumat, 7 September 2018 sekitar pukul 07.15 WIT tim Satuan Polisi Perairan (Polair) Polresta Jayapura dan Satwas SDKP (Satuan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan) menemukan seekor penyu hijau di Pangkalan Pendaratan Ikan Hamadi, Jayapura. Berdasarkan data di lapangan, penyu hijau tersebut dijual oleh seorang nelayan dari Dok 9, Jayapura dan akan dibeli oleh warga Hamadi berinisial CM. Penyu hijau kemudian ditahan di Pos Polair. Selanjutnya tim Polair melakukan koordinasi dan menyerahkan penyu hijau tersebut kepada BBKSDA Papua untuk dilepasliarkan. Pukul 14.00 WIT semua tim menuju Pantai Hamadi, Jayapura, untuk melangsungkan prosesi pelepasliaran. Tenaga medis BBKSDA Papua, drh. Cyntia M. Sihombing, telah memeriksa kondisi penyu hijau tersebut. Ukuran lebarnya 50 cm dan panjang 85 cm. Cyntia menyatakannya dalam keadaan sehat serta siap dilepasliarkan. Matahari garang dan angin cukup deras memicu besarnya gelombang siang itu. Usai seremonial singkat dan penandatananganan berita acara di dermaga Pantai Hamadi, tim kemudian menaiki speed boat menuju ke tengah perairan. Di sanalah penyu hijau akan dikembalikan, diantarkan dengan perasaan suka cita kembali ke habitatnya. Berbagai pernyataan terkait pelepasliaran tersebut dilontarkan, antara lain oleh Bripka Imron Kurniawan dari Polair Polresta Jayapura. “Kami selalu keras menindaklanjuti pelanggaran terhadap hewan dilindungi. Berharap ke depan tidak ada lagi kejadian seperti ini, karena generasi ke depan harus melihat penyu ini juga,” kata Imron saat menyampaikan sambutan dalam seremonial singkat mewakili para saksi. Harapan serupa disampaikan oleh Taufik Laima dari Satwas SDKP menyatakan, “Semoga ini yang terakhir, tidak ada lagi kejadian seperti ini. Semoga masyarakat semakin sadar. Saya juga berharap koordinasi dan komunikasi tetap dijaga, supaya ke depan lebih kuat lagi.” Pada saat yang sama, masyarakat di sekitar Pantai Hamadi, tempat pelepasliaran penyu hijau juga menyatakan komitmen, yang diwakili seorang warga bernama John Maniagasi. “Kami sangat mendukung. Kami bangga melihat petugas yang membantu kami dalam melestarikan hewan di laut. Penyu ini di tengah laut, tidak di pinggir. Kami tidak pernah melihat hewan ini. Kalau ada penyu hijau di sekitar sini berarti masyarakat yang tangkap. Kami siap membantu. Kalau menemukan hewan dilindungi di pasar atau di sekitar sini, kami siap melapor,” ungkap John. Melakukan kerja konservasi akan lebih ringan apabila bersinergi dengan orang-orang atau pihak-pihak yang memiliki kesadaran, visi, dan misi yang sejalan. (Dzikry) Sumber : Balai Besar KSDA Papua
Baca Berita

Selangkah Lagi Menuju Lahirnya Standard Kepemanduan Geowisata

Jakarta, 6 September 2018. Setelah melalui proses yang cukup panjang, yaitu awal februari 2018, penyusunan Rancangan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (RSKKNI) Bidang Kepemanduan Geowisata yang disusun oleh 10 orang anggota tim perumus, hari Kamis (6/9/2018) telah memasuki tahap pra konvensi. Bertempat di AONE Hotel Jakarta, sidang pleno pra konvensi RSKKNI Bidang Kepemanduan Geowisata dihadiri oleh 36 orang peserta dengan komposisi: 6 orang dari pakar/narasumber, 9 orang dari lembaga pendidikan, 9 orang dari asosiasi industri, 5 orang dari asosiasi profesi dan 7 orang dari pemerintah. Penyusunan RSKKNI Bidang Kepemanduan Geowisata ini sendiri diinisiasi oleh Masyarakat Geowisata Indonesia (MAGI) dan Kementerian Pariwisata. Hal ini sebagai upaya membangun sumber daya manusia (SDM) yang kompeten di sektor Kepemanduan Geowisata. Geowisata sebagaimana dipaparkan ketua tim perumus Oki Oktariadi, adalah pariwisata yang memanfaatkan seluruh pengetahuan dasar geologi, mencakup bentuk, proses geologi, “geohistory”, konservasi geologi, dan faktor pendukungnya, termasuk keanegaragaman hayati dan budaya yang terkait dengan geologi. Hal ini ditekankan kembali oleh ketua MAGI Rachmat Heryadi pada sidang pleno pra konvensi. Prinsip geowisata itu sendiri adalah harus melibatkan masyarakat setempat, memberikan kontribusi positif bagi konservasi alam dan budaya, peserta mendapatkan pengalaman yang menyenangkan dan positif secara budaya serta dapat meminimalkan dampak negatifnya. Dan dalam pelaksanaannya ditekankan pada nilai-nilai konservasi, edukasi, kualitas layanan dan lama tinggal. Bukan pada jumlah wisatawan. Walaupun ada beberapa kali interupsi dan perdebatan, namun sidang pleno pra konvensi yang dipimpin oleh perwakilan tim perumus Deni Sugandi dan Reza Permadi berjalan cukup lancar dan menghasilkan kesepakatan bersama. Kehadiran peserta dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang dalam hal ini diwakili Balai Taman Nasional Gunung Ciremai dan dari Direktorat Konservasi Kawasan, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) tentu mempunyai nilai sendiri. Utamanya menyangkut daya tarik geowisata yang memang banyak berada dalam kawasan konservasi, seperti di taman nasional dan beberapa wilayah hutan konservasi yang dikelola oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Dengan berakhirnya sidang pleno pra konvensi RSKKNI Bidang Kepemanduan Geowisata, artinya tinggal selangkah lagi SKKNI Kepemanduan Geowisata akan lahir. Melihat hal ini, diharapkan balai taman nasional dan Balai KSDA siap bekerja sama melahirkan pemandu geowisata yang berkompeten dan menyambut kehadiran para geowisatawan di wilayah pengelolaanya masing-masing. Dan atau wilayahnya dapat menjadi role model pengembangan geowisata. Sobat Ciremai, tahukah kalian, sepertinya Taman Nasional Gunung Ciremai akan menjadi lokasi “pilot project” penerapan kepemanduan geowisata di taman nasional yang pertama di Indonesia. [teks & foto © Harley & Koeszky | 06092018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Balai TN Kayan Mentarang Siaga Karhutla Bersama TNI, POLRI dan Pemkab Malinau

Malinau, 8 September 2018. Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) kian marak terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Kenekaragaman hayati pun kini terancam keberlangsungan hidupnya oleh Karhutla yang dapat merusak ekosistem dan merugikan banyak pihak. Untuk mensiasati itu Balai Taman Nasional Kayan Mentarang bersama Komando Distrik Militer 0910 Malinau serta beberpa instansi pemerintah Kabupaten Malinau dan perusahaan swasta menggelar Apel Kesiapsiagaan Karhutla. Menurut Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang Johnny Lagawurin, Karhutla sudah seharusnya di waspadai bersama. Bukan hanya Pemerintah, TNI dan Polri saja. Dalam hal ini masyarakat juga harus berperan aktif dalam mencegah Karhutla. "Apel Kesiapsiagaan Karhutla ini salah satu kegiatan penting untuk menyatukan visi dan misi dalam mencegah karhutla di kawasan kita. Tapi yang lebih penting adalah peran aktif masyarakat dalam mencegah karhutla. Karena interaksi masyarakat terhadap ancaman itu lebih besar dari pada kita." Ungkap Johnny Selain di hadiri oleh Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang dan Sekretaris Daerah Kabupaten Malinau, Apel Kesiapsiagaan Karhutla di laksanakan di Markas Kodim 0910 Malinau pagi tadi di pimpin oleh Komandan Kodim 0910 Malinau yang di ikuti oleh beberapa perwakilan dari TNI, Polri, Polhut Balai Taman Nasional Kayan Mentarang, Satpol PP , Linmas, BNPB Malinau, Dinkes Malinau, Gerakan Pramuka juga Beberpa perusahaan swasta seperti PT. Inhutani II dan PT. MA. Sumber : Balai Taman Nasional Kayan Mentarang

Menampilkan 7.057–7.072 dari 11.140 publikasi