Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

BKSDA NTB Pelepasliaran Penyu Hijau dan Diskusi Bersama Kerabat Penyu Lombok

Kuranji, 12 September 2018. Balai KSDA Nusa Tenggara Barat (BKSDA NTB) bersama dengan Kerabat Penyu Lombok, masyarakat setempat, dan wisatawan melepasliarkan sejumlah tukik jenis Penyu Hijau (Chelonia mydas) di Pantai Kuranji, Lombok Barat. Kerabat Penyu Lombok merupakan komunitas binaan BKSDA NTB yang terdiri dari masyarakat setempat yang secara sukarela bersedia berkontribusi dalam usaha konservasi penyu di Kuranji sebagai salah satu Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Penyu di NTB. Kegiatan pelepasliaran tukik dilanjutkan dengan acara diskusi bersama terkait aktivitas konservasi penyu di Kuranji. Kepala Sub Bagian Tata Usaha BKSDA NTB, Lugi Hartanto mengapresiasi komitmen Komunitas Kerabat Penyu Lombok yang terus dipertahankan dalam kegiatan pelestarian penyu. Beliau menyebutkan bahwa organisasi ini merupakan sentra konservasi penyu di luar kawasan konservasi. Aktivitas ini sungguh mulia karena telah berkontribusi pada lingkungan dan juga Negara. “Kalau dulu kita masih sangat sering menemukan telur penyu beredar di pasar, sekarang sudah mulai jarang” tambahnya. Fakta ini menunjukkan bahwa keberadaan komunitas ini juga mampu mengedukasi masyarakat sekitar terkait satwa dilindungi, khususnya penyu. Sementara itu, komunitas ini merupakan komunitas masyarakat yang non-profit. Hal ini menjadi salah satu keluhan dari anggota komunitas dan masyarakat setempat yang memang berada di kelas ekonomi menengah ke bawah. Kegiatan yang dilakukan oleh komunitas ini jelas tidak dapat dijadikan sebagai sumber mata pencaharian. Penyu merupakan satwa dilindungi dan diatur dalam perundangan dan peraturan pemerintah yaitu UU No.5/1990 dan PP No.7/1999. Oleh karenanya, segala bentuk perdagangan dari setiap bagian dari Penyu, termasuk telurnya tidak diperkenankan. Sebagai solusi, BKSDA NTB telah mengupayakan sistem insentif terhadap kegiatan patroli yang dilakukan oleh komunitas, sebagai bentuk apresiasi dalam usaha pelestarian penyu di luar kawasan konservasi. “Yang jelas, BKSDA NTB tidak memaksakan harus menemukan telur berapa banyak setiap patroli, karena apresiasinya bukan pada jumlah telurnya melainkan terhadap jerih payah pelestarian penyu yang komunitas lakukan”, terang Lugi. Kegiatan pelepasliaran penyu ini ditutup dengan menyerahkan rompi dan senter kepada komunitas, yang diserahkan langsung oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha BKSDA NTB, Lugi Hartanto. Sumber : Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

Penguatan Kelembagaan Kelompok Tani Sebagai Upaya Penanganan Penggarapan Di Sarongge dan Gunung Putri

Cianjur, 12 September 2018. Kepala Bidang Pengelolaan TN Wilayah I Cianjur, Ir. V. Diah Qurani Kristina, M.Si. beserta jajaran Bidang Pengelolaan TN Wilayah I Cianjur menghadiri kegiatan penguatan kelembagaan kelompok tani desa Sukatanidan desa Galudra di Aula Perkebunan Teh Maleber. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut perjanjian kerjasama antara Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dengan PT. Alas Tiara Lestari yang ditanda tangani pada tanggal 3 April 2018 dan merupakan rangkaian kegiatan yang telah tertuang dalam Rencana Kerja Tahunan Tahun 2018. Kegiatan ini dihadiri oleh pimpinan PT. ATL, Hendri Adrianto, Kepala Desa Sukatani, perwakilan aparat Desa Galudra, kelompok tani Desa Galudra dan kelompok tani Desa Sukatani dengan jumlah peserta sekitar 50 (lima puluh) orang. Hadir juga dalam kegiatan ini sebagai narasumber yaitu kang Rahmat yang mengenalkan istilah PATANJALA dan kang Bayan sebagai motivator sekaligus expert di bidang pendampingan pemberdayaan masyarakat dengan DAWUH PASUNDAN nya. Materi utama yang menjadi pokok kegiatan penguatan kelembagaan adalah: 1. Sosialisasi program kerjasama antara Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dengan PT. Alas Tiara Lestari. 2. Mengenalkan istilah PATANJALA, yaitu sebuah istilah karuhun sunda tentang sebuah landasan pemikiran (konsep) mengenai pengelolaan air sebagai sumber kehidupan seluruh makhluk di muka bumi dengan adat/budaya/kearifan lokal masyarakat setempat. 3. Peluang pengembangan usaha ekonomi masyarakat, khususnya yang akan dilaksanakan oleh kelompok tani desa Galudra dan desa Sukatani. Pada pertemuan tersebut Kepala Desa Sukatanimenyampaikan persetujuannya dan mendukung apa yang telah dilakukan oleh Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dalam mengatasi permasalahan penggarapan dengan menggandeng mitra ini. PT. ATL dan Balai Besar TNGGP telah bersepakat untuk mengurangi ketergantungan masyarakat menggarap kawasan hutan TNGGP melalui program adopsi pohon, dimana dengan program ini penuh dengan nilai nilai pemberdayaan masyarakat. Kang Rahmat sebagai narasumber menerangkan lebih lanjut tentang PATANJALA, dimana Patanjala adalah urat-urat air yang mengaliri raga-tubuh Ibu Agung (bumi), dari hulu ke hilir dan kembali berulang, siklus tersebut telah terjadi sejak milyaran tahun yang lalu. Urat-urat bumi yang mengalir dari puncak-puncak gunung turun membawa berbagai mineral dan sari-pati makanan yang dibutuhkan oleh hewan, tumbuhan serta manusia, hingga kelak melahirkan berbagai "peradaban". Patanjala secara mendasar terbagi dalam 3 kewilayahan yang sangat erat berkaitan dengan "gunung & hutannya"; 1. Wilayah Larangan - Hutan Larangan --> Sumber / Wiwitan 2. Wilayah Tutupan - Hutan Tutupan --> Cadangan 3. Wilayah Baladaheun - Hutan Baladaheun / Hutan Olahan (Perkebunan & Pertanian). Ketiga wilayah ini harus dijaga dengan baik (terjaga "kesuciannya"), oleh sebab itu sering disebut sebagai "tanah suci" dan wilayah paling sakral (dikeramatkan) disebut sebagai "kabuyutan"(Wilayah Larangan) yang hanya boleh dimasuki oleh orang tertentu saja (*orang 'suci'), pun jika terjadi kerusakan secara alami. Berdasarkan tata-wilayah/tata-ruang, maka selayaknya aliran sungai itu dikelola oleh masing-masing kelompok masyarakatnya (tata-kelola/tata-kuasa) dan karena setiap daerah memilik ruang kebutuhan yang berbeda-beda maka tatanannya pun akan beragam, menyesuaikan diri dengan sendirinya. Oleh sebab itu penataan air yang paling ideal tentu tidak memusat, apalagi bersifat penguasa tunggal (monopoly) dengan demikian setiap kelompok masyarakat dituntut "bertanggung-jawab" terhadap wilayah airnya masing-masing. Berbagai contoh pengembangan usaha ekonomi masyarakat pun disampaikan dengan cukup detil pada kegiatan ini, misalnya usaha pemberdayaan masyarakat dengan menanam rumput pakan sapi, penggemukan anakan sapi, hingga ke budidaya kopi. Tentu berbagai jenis pemberdayaan masyarakat ini hanyalah contoh, dan apapun nanti jenis pemberdayaan yang akan dilakukan haruslah melalui kajian, tidak hanya ekonomi namun juga ekologi dan karakteristik masyarakat setempat. Perlu dicatat juga bahwa satu kelompok tani tidak harus homogen jenis pemberdayaannya, dapat juga bervariasi sesuai dengan minat dan kebutuhan anggota kelompok. Kepala Bidang Pengelolaan TN Wilayah I Cianjur, Ir. V. Diah Qurani Kristina, M.Si. dalam pertemuan tersebut menyampaikan, bahwa “Balai Besar TNGGP secara kelembagaan yang merupakan unsur Pemerintah Pusat di daerah, sangat mendukung adanya program programkerjasama seperti ini, selain dapat meningkatkan perekonomian masyarakat, juga merupakan sebuah solusi dalam penanganan masalah penggarapan khususnya di wilayah Resort Gunung Putri dan Resort Sarongge”. Perlu diketahui bahwa desa Sukatani merupakan desa yang termasuk wilayah Resort Gunung Putri sedangkan desa Galudra merupakan desa yang termasuk wilayah Resort Sarongge. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini, seluruh anggota kelompok tani khususnya memiliki pemahaman yang sama tentang pentingnya menjaga kelestarian hutan, sebagaimana prinsip prinsip menjaga kelestarian alam telah ada sejak leluhur mereka ada dan kita sebagai anak cucunya patut menjaga adat/budaya/kearifan tersebut. Sumber Informasi: Bidang PTN Wilayah I Cianjur – Balai Besar TNGGP
Baca Berita

Menggali Pengembangan Produk dan Promosi Wisata Alam TWA Gunung Tunak bersama GenPI LS

Tunak, 15 September 2018. Hari Sabtu dan Minggu bukanlah hari libur bagi pagi pegiat wisata. Cuaca Tunak yang sedikit mendung, mengingatkan kami ketika melakukan survey bersama Jeju Olley Trail, KIFC, dan BKSDA NTB, 5 Agustus lalu dimana gempa 7 SR mengagetkan Pulau Lombok. Tak biasanya Tunak seteduh ini, demikian celetuk kami. Tapi segera kami tepis prasangka buruk kami sendiri, Lombok kembali bangkit, gempa sudah mulai berhenti. Memang minggu-minggu ini kami sedang giat melakukan pertemuan untuk menggali ide, memotivasi, dan mulai bergerak agar Lombok, khususnya TWA Gunung Tunak segera bangkit. Setelah sebelumnya pertemuan membedah ODTWA dan penguatan kelembagaan, akhir pekan ini bersama Habib perintis Desa Wisata Mas-Mas membahas pengembangan produk dan Zakaria dari Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Lombok Sumbawa membahas promosi wisata melalui media offline dan online. Acara dibuka oleh Kepala Desa Mertak, H. Bangun. Beliau membuka wacana dan wawasan bagi Tunak Besopoq untuk mencoba berfikir dengan cara wisatawan, melihat sesuatu yang menarik dari perspektif pengunjung, mengidentifikasi kuliner unik setempat, misalnya gurita bakar, siput, olahan lobster, dan segarnya kelapa muda disajikan di pinggir pantai pasir putih yang indah. "Tunak memiliki hasil laut yang kaya, jangan hanya menjadi konsumen bagi produk-produk olahan laut, tetapi mulailah menjadi produsen", tegas H. Bangun memotivasi. Selanjutnya H. Habib, memberikan inspirasi pengalaman Desa Mas-Mas membuka paket wisata bersepeda di sepanjang sawah, dan kegiatan menanam hingga panen padi di sawah, dan mengikuti kegiatan pembelajaran di sekolah. Beliau juga menceritakan di daerah di kaki Gunung Slamet dengan kopi tubruknya yang mampu mengundang wisatawan berdatangan mengunjungi daerah tersebut. Tunak memiliki keindahan landscape bukit dan tebing yang bertemu dengan indahnya samudera Hindia yang mempesona, apabila dikemas dengan paket yang menarik seperti bersepeda di bukit Tunak, sensasi tidur di hutan sekaligus forest healing, memancing, dan cliff jumping akan melengkapi paket camping yang sudah dioperatori Tunak Besopoq. Kurniasih Nur Afifah (PEH BKSDA NTB) memfasilitasi sesi diskusi dengan membuat list produk wisata yang bisa ditawarkan, beserta skenario program, hal-hal yang dibutuhkan, berikut kendala yang mungkin dihadapi. Diskusi berjalan hangat, sebagian besar anggota, memberikan tanggapan dan masukan teknis dalam masing-masing rencana produk. Setidaknya akan ada 5 paket wisata menarik bagi wisatawan apabila berkunjung ke TWA Gunung Tunak apabila Tunak Besopoq berhasil mengembangkan rencana produk wisata tersebut. Zakaria bersama 2 orang Tim dari GenPI LS memaparkan cara promosi yang efektif, beberapa hal yang dikupas adalah mengapa perlu promosi?; Melalui media apakah yang paling efektif?; Bagaimana membuat branding?; Kapan waktu yang tepat until promosi?; Targeting konsumen?; Dan bagaimana casual liker dan quite reader bisa menjadi deal customer?. Suasana hangat di Hari kedua ini, karena hal yang baru bagi Tunak Besopoq meskipun sehari-hari mulai berkenalan dengan Facebook, Instagram, dan beberapa social media sebagai wadah promosi. Semoga TWA Gunung Tunak bersama Tunak Besopoq dan Desa Mertak bisa maju bersinergi bersama, dan Ekowisata berkelanjutan dapat terwujud mendukung berkembanganya Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika. Sumber : Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

Bantuan Ekonomi Produktif, Kuatkan Daerah Penyangga Gunung Ciremai

Kuningan, 15 September 2018. Agustus 2018, Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) memberikan bantuan ekonomi produktif bagi kelompok masyarakat di Majalengka. Bantuan tersebut diberikan kepada pengelola wisata alam Bumi Perkemahan Leles, Desa Padaherang, Sindangwangi berupa seperangkat pembangkit listrik tenaga mikro hidro. Di wisata alam Bukit Merkuri Sayang Kaak, desa Tejamulya, Sindangwangi berupa "Gasebo" dan "Coffee Shop". Di wisata alam Curug Sawer, desa Argalingga, Argapura berupa Mushola dan Toilet. Sedangkan di lokasi "Role Model Camp Fire Care" Bukit Batu Semar, desa Bantaragung, Sindangwangi memperoleh pipanisasi, embung air dan pos jaga. Program bantuan ekonomi produktif masyarakat Balai TNGC tidak hanya menyentuh wilayah kerjanya saja. Pertanian Sehat yang merupakan salah satu "Role Model" di Ciboer Pass, Kelompok Fajar Agung Mandiri, desa Bantaragung, Sindangwangi turut mendapat bantuan berupa alat-alat pertanian dan bibit unggul. Bakteri baik dari gunung Ciremai yang telah mendapatkan perlakuan ilmiah dipergunakan untuk pertanian sehingga menghasilkan produk pertanian sehat. Berbagai program direncanakan, tak lain dan tak bukan bertujuan untuk meningkatan pendapatan masyarakat di daerah penyangga, tentunya selaras dengan terwujudnya kelestarian gunung Ciremai yang memperhatikan nilai-nilai sosial, budaya serta kearifan setempat. Gunung Ciremai memegang peran penting dalam pembangunan wilayah Kabupaten Kuningan dan Majalengka, Jawa Barat terutama potensi sumber daya alam yang terkandung di dalamnya. Masyarakat setempat telah memanfaatkan potensi tersebut menjadi kegiatan produktif melalui usaha Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hidup dan Kehutanan (PJLHK). Geliat usaha pemanfaatan jasa wisata alam merupakan wujud PJLHK yang paling kentara di kaki gunung Ciremai. Ya, wisata alam memang terbukti mampu menggenjot aktifitas ekonomi masyarakat setempat. Meskipun swakelola PJLHK oleh masyarakat telah berjalan baik, namun pemerintah tetap perlu memberikan arahan dan dukungan melalui program stimulus peningkatan ekonomi masyarakat. Ayo kita bahu-membahu menjaga kelestarian alam agar dapat kita nikmati manfaatnya bersama. [teks & foto © Gandi Mulyawan - BTNGC | 092018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Menjadi TWA, Danau Tes Ditata Blok

Bogor, 14 September 2018, Perubahan fungsi kawasan Cagar Alam (CA) Air Ketebat Danau Tes seluas 2.724,46 Ha menjadi Taman Wisata Alam (TWA) Danau Tes berdasarkan SK. Menteri LHK Nomor: SK.3558/MENLHK-PKTL/KUH/PLA.2/5/2018 dilanjutkan dengan penataan blok pengelolaannya. Bertempat di Ruang Rapat Komodo Ditjen KSDAE Jl. Ir. H. Juanda Nomor 15 Bogor, perwakilan BKSDA Bengkulu menghadiri Rapat Penetapan Blok Pengelolaan TWA Danau Tes dipimpin oleh Ir. Ary Sri Lestari, MM (Kasubdit Penataan Kawasan Konservasi, Dit. PIKA) dan juga dihadiri oleh Tim Pokja yang terdiri-dari perwakilan Dit. KK, Dit.KKH, Dit. PJLHK, Dit. BPEE, dan Dit. Pengukuhan dan Penatagunaan Kawasan Hutan-Ditjen PKTL, serta perwakilan dari Pemerintah Kabupaten Lebong Provinsi Bengkulu sebagai pengamat. Dimana secara administrasi pemerintahan TWA Danau Tes terletak di wilayah Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu. Penetapan Blok Pengelolaan TWA Danau Tes adalah untuk mengakomodir semua kondisi yang ada di dalam kawasan, dengan mempertimbangkan kesesuaian fungsi dimana di dalam kawasan juga terdapat dua desa definitif yang telah ada sejak jaman penjajahan Belanda, serta juga terdapat desa transmigrasi. Selain terdapat jalan provinsi dan jalan kabupaten yang melintasi kawasan. Keindahan Danau Tes menjadi obyek wisata unggulan Kabupaten Lebong. Masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan memiliki ketergantungan terhadap hutan dan hasil danau Tes untuk keberlangsungan hidupnya. Sedangkan di sisi lain TWA Danau Tes juga merupakan habitat berbagai jenis keanekaragaman hayati yang perlu dilindungi termasuk harimau sumatera, beruang madu, macan dahan dan lain-lain. Terdapat 6 (enam) blok pengelolaan TWA Danau Tes yang direncanakan, yakni Blok Perlindungan seluas 559,50 Ha; Blok Pemanfaatan seluas 325,30 Ha; Blok Tradisional seluas 100,76 Ha; Blok Khusus seluas 254,31 Ha; Blok Religi seluas 0,57 Ha; Blok Rehabilitasi seluas 1484,12 Ha. Diharapkan dengan adanya penataan zona/blok pengelolaan kawasan konservasi TWA Danau Tes kedepannya bisa lebih terarah dan lestari sesuai dengan fungsinya seta dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Sumber : Balai KSDA Bengkulu
Baca Berita

Pendidikan Karakter Pada Generasi Muda Pulau Sumba

Waingapu, 14 September 2018. Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) mengadakan pertemuan dengan generasi muda yang ada di Kabupaten Sumba Barat dan Sumba Barat Daya. Pertemuan ini dihadiri oleh 40 generasi muda yang berasal dari siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kehutanan Mawodana-Sumba Barat Daya dan anggota Saka Wanabakti yang ada di Sumba Barat. Generasi muda merupakan komponen penting pembangunan suatu daerah sebagai roda penggerak, oleh karena itu peran Taman Nasional sebagai institusi pemerintah yang membidangi konservasi hutan tergerak untuk membekali generasi muda sejak dini agar dapat menumbuhkan Sumber Daya Manusia yang memiliki karakter dan kepribadian yang cinta terhadap kelestarian alam dan lingkungan. Pada pertemuan ini, tema yang diangkat adalah “Kepunahan Biodiversitas Pulau Sumba” yang dibawakan adalah Agus Kusumanegara S.Hut., M.Si selaku Pejabat Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan (PEH). Potensi keanekaragaman hayati TN Matalawa sangatlah tinggi, tercatat tidak kurang dari 158 jenis burung, 94 jenis kupu-kupu, 42 jenis capung, 28 jenis mamalia, 6 jenis amphibi, 30 jenis reptile, 375 jenis tumbuhan berkayu dan 70 jenis tumbuhan paku hidup di hutan TN Matalawa. Tingginya potensi keanekaragaman hayati tersebut akan terus mengalami penurunan apabila generasi muda sendiri tidak dibekali dengan karakter cinta terhadap alam dan lingkungan sekitar. Melalui media pemutaran film dan diskusi diharapkan dapat memberikan pemahaman dan kesadaran kepada generasi muda akan pentingnya kelestarian sumber daya alam yang ada di Pulau Sumba, salah satu unsur kehidupan hilang maka akan berdampak langsung pada unsur yang lain. melalui pertemuan ini diharapkan mampu membangun karakter dan kepribadian yang positif sehingga mampu mendukung pembangunan di sektor kehutanan yang berkelanjutan. Sumber : Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti
Baca Berita

Sosialisasi TN Kutai di SMP Bahrul Ulum Bontang

Bontang, 14 September 2018. Mengisi akhir pekan, Jumat, 14 September 2018, Balai TN Kutai melaksanakan sosialisasi ke SMP Bahrul Ulum Bontang. SMP Bahrul ulum merupakan salah satu sekolah di Bontang yang sangat memperhatikan kegiatan pengenalan lingkungan bagi siswa. Pendidikan lingkungan yang diterapkan sejak dini, diharapkan akan membentuk kepribadian yang lebih mandiri dan peduli, oleh sebab itu kegiatan pendidikan lingkungan menjadi agenda yang rutin dilakukan di sekolah tersebut. Kegiatan yang dikuti lebih dari 200 pelajar, diisi dengan penyampaian informasi tentang Taman Nasional Kutai antara lain memperkenalkan peran dan fungsi keberadaan TN Kutai sebagai penyangga kehidupan, juga tentang potensi keanekaragaman hayati dan ekosistem, serta potensi wisata alam. Kegiatan yang berlangsung di lapangan utama, SMP Bahrul Ulum tersebut diikuti oleh para pelajar dengan sangat antusias. Hadiah bagi yang menjawab kuis dengan benar berupa boneka bekantan, beruang madu dan orangutan, menjadi magnet untuk menarik minat dan perhatian para siswa. Selain memberikan hadiah boneka satwa prioritas TN Kutai, juga diberikan buku dan leaflet tentang potensi TN Kutai. Taman Nasional Kutai memegang peranan yang sangat penting dalam menjaga kelangsungan hidup manusia khususnya yang hidup disekitar kawasan. Keberadaan Taman Nasional menjadi sangat penting dan strategis sebagai penyangga bagi masyarakat dan perusahaan-perusahaan yang ada di sekitar kawasan, sehingga menjaga kelestarian kawasan menjadi mutlak untuk dilaksanakan. Selain memperkenalkan Taman Nasional melalui sekolah-sekolah Balai TN Kutai secara rutin juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat yang ada di sekitar kawasan. Program sosialisasi Taman Nasional Kutai bagi sekolah, sudah menjadi agenda rutin bagi Pengendali Ekosistem Hutan di Balai TN Kutai. Selain program KRS (Kunjungan regular Sekolah), terdapat program KRTNK (Kunjungan regular TNK), untuk lebih mengenalkan TN Kutai secara lebih dekat. Program sosialisasi menjadi aspek yang sangat penting dalam kerangka meningkatkan pengetahuan dan kepedulian masyarakat sehingga kegiatan menjaga dan melestarikan kawasan konservasi menjadi gerakan bersama masyarakat. Sumber : Balai Taman Nasional Kutai
Baca Berita

Pembelajaran Konservasi untuk Generasi Jaman Now di UNIKU

Kuningan, 14 September 2018. “Sampurasun” demikian kata pembuka yang disampaikan Kuswandono, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) sebagai narasumber pada kuliah umum mahasiswa baru fakultas Kehutanan UNIKU (Universitas Kuningan). Hari Kamis siang, 13 September 2018 sekitar 80 orang rimbawan-rimbawan muda dengan penuh semangat mengikuti kuliah umum dengan tema “Konservasi Sumberdaya Hutan” di Gedung Fakultas Kehutanan UNIKU. Menarik, pada awalnya sebagian besar mahasiswa baru menganggap bahwa kegiatan konservasi hanya merupakan kegiatan perlindungan dan pengawetan saja. Ternyata kegiatan konservasi bukan hanya perlindungan dan pengawetan saja tetapi ada satu kegiatan yang sangat penting, yaitu pemanfaatan secara lestari. Ketika kegiatan pemanfaatan secara lestari di laksanakan di kawasan konservasi maka secara otomatis perlindungan dan pengawetan bisa berjalan. Sebagai generasi jaman now kita harus mengetahui kegiatan pemanfaatan apa saja yang bisa dilakukan di kawasan konservasi. Pemanfaatan yang boleh dilakukan adalah pemanfaatan jasa lingkungan, diantaranya pariwisata alam, pemanfaatan masa air dan energi air, bahkan juga kita boleh memanfaatkan energi panas bumi. Tentunya semua ini harus melalui prosedur dan peraturan perundang undangan. Diskusi dan tanya jawab antara narasumber dan mahasiswa diselingi dengan pemberian hadiah beberapa cenderamata TNGC kepada mahasiswa yang dapat menjawab pertanyaan dari narasumber, menjadikan rimbawan jaman now ini semakin semangat mengikuti kuliah umum. Seiring perjalanan waktu, bentuk pengelolaan TNGC telah menjadikannya banyak dikunjungi instansi lain untuk “sharing” dan lokasi tujuan “benchmarking” mengenai manajemen yang telah berjalan di kawasan TNGC. Mahasiswa dari luar Kuningan bahkan luar Jawa juga ada yang datang untuk belajar di TNGC. Suasana semakin hangat ketika tim TNGC mengajak para rimbawan muda itu untuk nonton bareng trilogi film pendek pengelolaan TNGC bertemakan kelola ekologi, ekonomi masyarakat dan sosial budaya, “Aku Ciremai”, “Pendaki 10 Langkah” dan “Alunan Ciremai”. UNIKU sebagai perguruan tinggi lokal yang posisinya sangat dekat dengan TNGC, bahkan bisa dikatakan TNGC merupakan halaman rumahnya UNIKU. Menjadikan TNGC sangat potensial untuk tempat belajar pengelolaan hutan konservasi bagi calon rimbawan dari generasi jaman now ini. "Kawasan TNGC tidak akan pindah kemana-mana, UNIKU juga tetap akan ada di Kuningan. Tinggal apakah adik-adik sebagai generasi jaman now mau bijak memanfaatkan ini untuk tempat belajar atau tidak," tutup Kuswandono mengakhiri kuliah umum. Kawasan TNGC mempunyai peran yang sangat penting dalam sistem penyangga kehidupan. Sebagai generasi jaman now banyak peran yang dapat dilakukan untuk ikut berpartisipasi dalam mengelola kawasan TNGC, diantaranya menjadi voulunter membantu masyarakat dalam pengelolaan wisata. Atau contoh kecil dengan mengunjungi medsos TNGC dan membantu untuk “share” terkait informasi promosi pariwisata alam yang dikelola masyarakat. Sejarah penunjukan TNGC menjadi Taman Nasional yang merupakan perubahan fungsi dari Hutan Produksi dan Hutan Lindung, merupakan sesuatu yang unik dan menarik untuk sebuah kawasan konservasi. Pada awal penunjukan TNGC tahun 2004 terjadi “konflik” sosial ekonomi dari masyarakat pelaku Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM). Pada masa Perum Perhutani masyarakat melalui kegiatan PHBM boleh mengusahakan dan memanfaatkan hasil hutan. Sementara setelah menjadi TN secara otomatis PHBM tidak diperbolehkan lagi. Hal ini menjadi tantangan besar bagi pengelolaan TNGC. Setelah melalui konsolidasi dan proses panjang dan didukung adanya dinamika perubahan peraturan perundangan, akhirnya masyarakat mulai menerima hadirnya TNGC. Salah satunya melalui penerbitan Ijin Usaha Pemanfaatan Jasa Wisata Alam (IUPJWA) kepada kelompok-kelompok masyarakat tersebut. Balai TNGC hadir sebagai sentral aktivitas manajemen ramah lingkungan yang memelihara interaksi positif antara masyarakat dengan kawasan taman nasional melalui integrasi secara proporsional tiga pilar pengelolaan, yaitu kelola: ekologi, sosial budaya dan ekonomi masyarakat untuk mencapai tujuan bersama yaitu alam yang lestari dan masyarakat yang sejahtera. Saat ini sudah ada 64 Objek Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) di TNGC yang sebagian besar dikelola kelompok masyarakat sekitar kawasan TNGC melalui IUPJWA. Masyarakat sekitar kawasan hutan telah menjadi bagian dalam pengelolaan TN. Ayo datang dan kunjungi TNGC untuk belajar konservasi sumberdaya hutan dan ikut berperan aktif dalam pengelolaannya. [teks & foto © Asep Wahyudin - BTNGC | 092018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Peserta Summer Camp Terima Materi Metode Identifikasi

Sidoarjo, 14 September 2018. Sebanyak 50 peserta Summer Camp 2018, akan menerima beberapa materi teori di Balai Desa Pupus, 13 September 2018. Materi yang diberikan antara lain Flora, Mamalia, Burung, Serangga, Herpetofauna, Survival, dan Orientasi Lapangan. Materi-materi tersebut diberikan oleh pemateri dari berbagai disiplin ilmu. Adalah Hariyawan Agung dari Kopenhagen Zoo, Asman Adi Purwanto dari BISA Indonesia, Sungkono dari Matala Biogama, Nugroho dari PHI, Gusbiyanto dari YAI, dan BBKSDA Jatim. Menurut Gunawan dari Yayasan Konservasi Elang Indonesia, materi yang diberikan sebagai bekal dalam kegiatan eksplorasi yang dimulai Sabtu, 15 September 2018. "Eksplorasi disini maksudnya adalah kegiatan identifikasi dan pengumpulan data pada kedua cagar alam ini," jelasnya. Agung dari Kopenhagen Zoo dalam materinya banyak memberikan penjelasan cara pengenalan jejak mamalia di hutan. Misalnya bagaimana peserta membuat minimum information required saat menjumpai jejak. Agung juga mengingatkan untuk mengenali behavior satwa sehingga tidak mudah tertipu saat menjumpai mereka di alam. Nugroho dalam materi Herpetofauna, menekankan kesiapan kesehatan dan keselamatan peserta serta peralatan yang akan digunakan. Adapun demikian dengan dokumentasi untuk membantu proses identifikasi. Sedangkan Tri Wahyu Widodo, PEH dari Bidang KSDA Wilayah l lebih menjelaskan mengenai kondisi cagar alam melalui peta kawasan. Tri juga menjelaskan jalur treking dan titik-titik lokasi camp setiap harinya. Sebelum menerima materi, peserta terlebih dahulu diberikan ice breaking untuk saling mengenal satu sama lain. Seperti diketahui, Summer Camp 2018 telah dibuka oleh Kepala Balai Besar KSDA Jatim, Nandang Prihadi pada 13 September 2018 pagi. Sumber : Agus Irwanto, Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Pelatihan Budidaya Lebah Madu di desa Penyangga TNBG Pastap Julu dan Hutabaringin Maga

Mandailing Natal, 14 September 2018. Budidaya lebah madu adalah segala upaya memelihara dan mengatur kehidupan lebah dengan tehnik tertentu yang disesuaikan dengan syarat – syarat lebah sehingga diperoleh produksi madu dan pendapatan yang maksimal. Budidaya lebah madu bermanfaat menambah pendapatan masyarakat dari hasil produksi lebah madu. Menambah kesempatan kerja berupa kerja sambilan di daerah pedesaan. Ikut membantu terjadinya penyerbukan bunga sehingga dapat meningkatkan berbagai jenis tanaman. Dengan keperluan pakan lebah untuk budidaya lebah madu diharapkan masyarakat dapat menyadari untuk menanam dan memelihara pakan lebah sehingga lingkungan jenis lestari dan hijau sebagaimana dengan vegetasinya. Desa Pastap Julu dan Hutabaringin Maga sebagai salah satu desa penyangga di sekitar Taman Nasional Batang Gadis yang memperoleh peningkatan kapasitas sumberdaya manusia terkait peningkatan usaha ekonomi produktif berupa Pelatihan budidaya lebah madu . Kegiatan pelatihan budidaya ini selain upaya untuk menciptakan kelestarian konservasi melalui aktifitas pengamanan hutan dan hasil hutan, kegiatan ini juga menempatkan masyarakat sebagai sasaran pengelolaan yang dapat mewujudkan sebuah kemandirian ekonomi. Kegiatan budidaya lebah madu ini mendapat apresiasi dari Ketua TP. PKK Kabupaten Mandailing Natal, Ny. Ika Desika Dahlan Hasan Nasution. "Saya mengucapkan rasa bangga dan apresiasi atas kegiatan budi daya lebah madu yang dilaksanakan Balai TNBG didaerah penyangga ini," kata Ketua TP. PKK Kabupaten Mandailing Natal, Ny. Ika Desika Dahlan Hasan Nasution pada saat pelatihan budidaya lebah madu didesa Hutabaringin Kecamatan Puncak Sorik Marapi. Sumber : Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Berita

Koordinasi WCS-IP Untuk Selenggarakan Pelatihan Satgas Penanggulangan Konflik Satwa Liar

Bengkulu, 14 September 2018. Bertempat di Kantor BKSDA Bengkulu, LSM ‘Wildlife Conservation Society–Indonesia Program (WCS-IP) berkoordinasi dengan BKSDA Bengkulu sehubungan dengan rencana kegiatan Pelatihan Satgas Penanggulangan Konflik antara Manusia dengan Satwa Liar bagi masyarakat di bentang alam (landscape) Bukit Barisan Selatan (BBS) dan Bukit Balai Rejang Selatan (BBRS) yang merupakan wilayah pengelolaan Seksi Konservasi Wilayah II Balai KSDA Bengkulu dan Seksi Konservasi Wilayah IV Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan di Provinsi Bengkulu. Bentang alam BBRS merupakan salah satu dari 12 bentang alam konservasi harimau (Tiger Conservation Landscape/ TCL) yang menjadi prioritas regional untuk Indonesia. Pada bentang alam BBS dan BBRS yang berada di tiga provinsi, yakni Bengkulu, Lampung dan Sumatera Selatan, jumlah desa terdampak konflik sebanyak 23 desa. Berdasarkan data WCS-IP bahwa selama periode tahun 2008-2018 telah terjadi konflik harimau sebanyak 208 kali, mengakibatkan korban manusia meninggal 5 orang, korban ternak 297 ekor serta korban harimau yang mati karena konflik sebanyak 3 ekor dan 2 ekor ditangkap dari habitat untuk dievakuasi. Guna memperkuat implementasi Permenhut Nomor: P.48/Menhut-II/2008 tentang Pedoman Penanggulangan Konflik antara Manusia dan Satwa Liar maka pemberdayaan, pelatihan dan penyadartahuan masyarakat di daerah rawan konflik satwa liar menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung keberhasilan mitigasi konflik antara manusia dengan satwa liar. BKSDA Bengkulu sangat mendukung rencana kegiatan pelatihan bagi masyarakat dari 12 desa terdampak konflik harimau tersebut, yang rencananya akan dilaksanakan di Desa Mekarjaya, Kecamatan Ulu Talo, Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu pada tanggal 25 – 27 September 2018 dengan narasumber dari BKSDA Bengkulu, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Provinsi Bengkulu, WCS-IP dan Praktisi Medik Veteriner. Diharapkan output dari pelatihan penanggulangan konflik satwa liar terhadap masyarakat dapat menjadi model kemandirian masyarakat desa, serta berpartisipasi aktif menanggulangi konflik satwa liar di wilayahnya. Selain itu pelatihan ini juga mendorong untuk pembentukan satgas penanggulangan konflik menjadi kelembagaan formal di tingkat desa sebagai akses untuk mendapatkan dukungan teknis dan non teknis dari internal dan eksternal desa. Sehingga kemandirian yang telah terbangun dalam penanggulangan konflik satwa liar bisa berkelanjutan. Sumber : Balai KSDA Bengkulu
Baca Berita

Seminar dan Lokakarya Merancang Pemulihan Ekosistem Ranu Pani Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Malang - 13 September 2018, bertempat di Hotel Aria Mall Olympic Garden Kota Malang Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menyelenggarakan seminar dan lokakarya meramu strategi pemulihan ekosistem Ranu Pani. Seminar dan Lokakarya Pemulihan ekosistem Ranu Pani diikuti oleh 55 peserta dari berbagai stakeholders diantaranya dari TNBTS, BPDASHL Brantas Sampeyan, LIPI, SKPD Pemerintah Daerah Lumajang, Perwakilan Mahasiswa Universitas Brawijaya, Tokoh Adat Masyarakat Tengger Ranu Pani, Perwakilan Pemerintah Desa Ranu Pani, perwakilan komunitas Gimbal Alas, SAVER dan Forum Sahabat Gunung. Sebelum sessi diskusi dan rumusan hasil rencana pemulihan ekosistem Ranu Pani, disampaikan pemaparan materi masing-masing oleh Ir. Pujiati dari TNBTS yang menyampaikan kondisi terkini mengenai dinamika kondisi Ranu Pani; Andi Iskandar Zulkarnaen (perwakilan JICS & aktivis lingkungan Gimbal Alas) yang menyampaikan “Sudut Pandang Pihak Ketiga Terhadap Degradasi Ekosistem Ranupani”; Dr. Ir. Titik Setyawati, M.Sc dari Puslitbang Kementerian LHK yang memaparkan mengenai Solusi Penanganan Salvinia molesta dan Prof. Ir. Kurniatun Hairiah, Ph.D dari Universitas Brawijaya yang berkenan menyampaikan materi “Pengelolaan lahan pertanian di areal dengan kelerengan tinggi (Agroforestry lahan pegunungan)”. Semiloka Pemulihan Ekosistem Ranupani dibuka oleh Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Ir. John Kenedie, MM. Dalam kesempatan sambutannya John Menyampaikan bahwa : “Ranupani merupakan salah satu danau yang berada dalam wilayah pengelolaan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, yang saat ini danau tersebut mengalami degradasi lingkungan yang cukup berat akibat dari aktivitas manusia pada lanskap disekitarnya. Ranupani mengalami dua permasalahan lingkungan yang cukup serius, pertama adalah permasalahan sedimetasi danau dan kedua permasalahan penutupan badan air oleh tumbuhan air Salvinia molesta. Kedua permasalahan tersebut jika tidak ditangani secara integral akan mengancam keberadaan danau dalam skala waktu yang cukup singkat. Akibat persoalan sedimentasi, luas Danau Ranupani berkurang sekitar 50 persen dalam kurun waktu 10 tahun. Luasan awal yang terdokumentasikan adalah sekitar 8 hektar, dan saat ini luasan danau hanya tersisa sekitar 4 hektar. Upaya pengendalian sedimen yang masuk ke badan danau dilakukan secara mekanis dengan membangun dam penahan serta membuat bak penampung sedimen (sediment trap) pada inlet (masukan) aliran air di sekitar danau. Karena laju sedimentasi yang cukup tinggi, dam penahan dan penampung sedimen tidak dapat menampung sedimen yang mengalir ke dalam danau. Penanganan permalahan sedimentasi memerlukan kombinasi pemecahan solusi jangka panjang dan jangka pendek dari berbagai stakeholders tidak bisa dilakukan oleh Taman Nasional Bromo Tengger Semeru saja. Semiloka ini juga di harapkan oleh John mampu menghasilkan rumusan strategi penanganan melalui peran stakeholders dalam penanganan pemulihan ekosistem Ranu Pani sehingga terpetakan peran apa dan dilakukan oleh siapa.“ Sementara itu Tri Cahya Nugraha selaku Kepala Seksi Perencanaan, Perlidungan dan Perpetaan menyampaikan bahwa maksud diselenggarakannya Semiloka ini adalah untuk mendapatkan solusi penanganan sedimentasi dan pembersihan Salvinia Ranupani. Sedangkan tujuan yang ingin dicapai adalah sebagai forum, wahana atau media stakeholders untuk mengidentifikasi peluang, permasalahan dan tantangan dalam pelestarian Ranupani; mempertemukan berbagai pihak yang berkepentingan terhadap pelestarian Ranupani; menggali solusi permasalahan kerusakan ekosistem Ranupani; dan Menentukan peran para pihak dalam upaya pemulihan ekosistem Ranupani. Lebih jauh Cahyo berharap bahwa Semiloka Pemulihan Ekosistem Ranu Pani mampu menggali dan mengetahui berbagai macam informasi diantaranya “mengenai permasalahan, tantangan dan peluang pelestarian Ranupani; informasi mengenai situasi terkini dari kerusakan ekosistem Ranupani; berbagai alternatif solusi penanganan kerusakan ekosistem Ranupani serta hal penting lainnya yaitu para pihak mengetahui peran dan posisi yang dapat diambil penanganan pemulihan ekosistem Ranupani” pungkas Cahyo. Sumber: Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru
Baca Berita

Evakuasi Anak Gajah Liar Yang Terjerat

Riau, 14 September 2018. Evakuasi satwa Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) dilakukan Tim Balai Besar KSDA Riau tanggal 13 September 2018. Bermula dari laporan masyarakat pada tanggal 23 Agustus 2018, melalui call center Balai Besar KSDA Riau bahwa ada seekor anak gajah liar yg terperangkap dalam jeratan babi hutan di kebun masyarakat sekitar areal konsesi HTI PT. RAPP wilayah Mandau Kab. Siak. Pada hari itu juga, Kepala Balai Besar KSDA Riau memerintahkan Tim Rescue untuk turun menangani dan berhasil melepaskan jeratan serta melakukan pengobatan pada kaki kanan anak gajah yg terluka akibat jeratan tersebut. Setelah pengobatan, anak gajah dilepaskan kembali di lokasi semula dengan harapan dapat bergabung dengan kelompoknya. Namun selama dua minggu pengamatan, anak gajah hanya berputar putar di lokasi semula, sementara kelompoknya telah berada di lokasi lain dengan perkiraan jarak 57 km dari keberadaan anak gajah yg tertinggal. Berdasarkan laporan petugas yg mengamati keberadaan anak gajah, terdapat kecenderungan berat badan satwa makin menurun serta diare yg terlihat dari kotorannya, sehingga dikhawatirkan anak gajah akan semakin memburuk kondisinya. Mempertimbangkan kondisi anak gajah di atas, melalui rapat internal lingkup Balai Besar KSDA Riau tanggal 12 September 2018 yang dipimpin Kepala Balai Besar KSDA Riau, memutuskan untuk segera mengevakuasi dan membawa anak gajah tersebut ke PLG Riau di Minas untuk pengobatan dan perawatan lebih lanjut. Tim evakuasi dan pengobatan yg dikoordinir Kepala Bidang KSDA Wil. II, Heru Sutmantoro dengan didampingi drh. Rini Deswita, drh. Danang dan dibantu seorang dokter hewan dari Yayasan Asyari, drh. Dita serta beberapa perawat satwa, mahout, PEH, Polhut dan personil RAPP, dengan menggunakan satu gajah binaan bernama Indah segera melakukan penggiringan. Tepat pukul 17.00 Wib, anak gajah telah naik di atas truk. Evakuasi berjalan lancar dan tiba di Pusat Latihan Gajah Riau di Minas pada pukul 21.00 Wib. Kepala Balai Besar KSDA Riau pada saat menerima Tim evakuasi di PLG Riau menyampaikan apresiasi terhadap tim yg telah bekerja keras dengan hasil maksimal, serta mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yg telah membantu kelancaran evakuasi anak gajah tersebut. Selanjutnya akan dilakukan pengobatan lanjutan dan perawatan intensif terhadap anak gajah yang diberi nama Intan di PLG Riau di Minas untuk memulihkan kesehatannya. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Studi Banding Kelompok Masyarakat Binaan Balai T.N Wakatobi Ke Perusahan Khansa Food-Yogyakarta

Wakatobi - 14 September 2018, Aura bahagia bercampur semangat terpancar dari wajah para peserta studi banding kelompok masyarakat binaan Balai Taman Nasional Wakatobi. Untuk pertama kalinya 4 (empat) orang perwakilan kelompok Sentra Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) Benteng Wacu Awa, Desa Jaya Makmur, Kecamatan Binongko binaan Balai Taman Nasional Wakatobi dapat menginjakkan kakinya ke kota yang terkenal karena ke-“istimewaannya”, yakni Yogyakarta. Selama 2 (dua) hari yakni tanggal 6 s.d 7 September, perwakilan kelompok telah mempelajari lebih mendalam pengolahan produk olahan ikan di Perusahaan Khansa Food. Khansa Food dipilih sebagai lokasi studi banding didasarkan pada beberapa hal diantaranya industri ini telah mampu memproduksi abon ikan hingga dipasarkan di pasar Asia seperti Malaysia, Singapura dan Jepang. Selain itu, pada tahun 2009, industri ini berhasil mendapatkan penghargaan dan dinobatkan sebagai juara 1 UKM Pengolahan Ikan tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Adapun materi/pengalaman yang diperoleh selama 2 (dua) hari di Khansa Food-Yogyakarta antara lain: Harapan besar Balai T.N Wakatobi titipkan kepada kelompok ini. Semoga kedepannya, kekompakkan dan kemandirian kelompok semakin tercipta sehingga kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pendapatan ekonomi lewat usaha pengolahan sumber daya alam dapat semakin dirasakan. Sumber info : Parulian Situmorang (Pendamping/fasilitator desa binaan)
Baca Berita

Buaya Lagi, Tim BKSDA Jambi Turunkan Satgas Mitigasi Konflik Satwa

Muara Bungo, 14 September 2018. Tim satgas mitigasi konflik satwa SKW I BKSDA Jambi dan tim Satgas KPHP unit II dan III Muara Bungo mendatangi Dusun Aur Gading Kec. Jujuhan Ilir Kab. Bungo untuk mendatangi rumah duka salah seorang warga yang menjadi korban di terkam Buaya.(9/9). Pada tanggal 8 September 2018, korban bernama Muslim mandi di Sungai Jujuhan yang berada di belakang rumah nya pada pukul 18.30 WIB. Ketika sedang membersihkan kaki di sungai korban disambar oleh seekor Buaya dan korban sempat ditarik ke dalam sungai. Korban lalu berteriak dan berusaha melepaskan diri dari gigitan Buaya. Warga yang mendengar teriakan korban langsung datang dan mengangkat korban dari sungai. Korban sempat dibawa ke tukang urut patah tulang di Kab. Darmasraya dan kondisi mulai membaik. Pada pukul 01.00 dini hari korban di bawa ke Puskesmas Sungai Rumbai Darmasraya dikarenakan kondisi yang melemah dan lemas, di puskesmas korban sempat mendapatkan penanganan medis selama 30 menit sebelum akhir nya meninggal dunia pada pukul 02.30 waktu setempat. Korban lalu dibawa ke rumah duka di Dusun Aur Gadung. Diduga kuat habitat Buaya tercemar oleh aktivitas PETI di hulu sungai mengakibatkan Buaya jauh berenang ke arah pemukiman warga. Warga berharap agar BKSDA jambi dapat membantu untuk menangkap buaya tersebut dan berharap ini merupakan kejadian terakhir. Kepala SKW I BKSDA Jambi, Udin Ikhwanuddin mengatakan “Tim sudah turun untuk mengecek lokasi dan mendatangi rumah duka, untuk sementara kami akan lakukan hal sesuai prosedur yang berlaku untuk membantu masyarakat disini”. Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Workshop Penanggulangan Satwa dan Penyelamatan Gajah Oleh BKSDA Jambi

Jambi, 13 September 2018. BKSDA Jambi mengadakan Workshop Penanggulangan Satwa dan Rencana Penyelamatan Gajah di Provinsi Jambi . Kegiatan workshop diadakan di Hotel Odua Weston dari jam 09.00 WIB sampai dengan 16.30 WIB. Acara sendiri dibuka langsung oleh Kepala Balai KSDA Jambi, Rahmad Saleh. Kegiatan workshop ini juga turut mengundang beberapa narasumber terkait antara lain perwakilan Bupati Tebo, perwakilan Bupati Sarolangun, perwakilan Bupati Batanghari, perwakilan Dirjen KSDAE, Dirjen Pengelolaan Hutan Produk Lestari, Direktur Bina Pengelolaan Ekosistem Esensial, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, beberapa NGO seperti FFI (Fauna & Flora Internasional) FZS (Frankfurt Zoological Society) ZSL (Zoological Society of London), dan beberapa perwakilan Universitas di Indonesia. Narasumber yang hadir satu persatu memberikan materi terkait tema workshop. Tak hanya materi yang disampaikan namun juga ada sesi tanya jawab dan pemberian masukan dari peserta yang hadir. Workshop ini dilakukan akibat sering kali terjadi nya interaksi antara manusia dan hewan di Provinsi Jambi dan juga rencana penyelamatan Gajah. Gajah yang rencana nya akan diselamatkan saat ini sering terlibat interaksi dengan manusia, diantara nya merusak perkebunan warga dan masuk kedalam pemukiman. Terdapat juga seekor Gajah yang terpisah sangat jauh dari kelompok nya sehingga harus dikembalikan lagi. Menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature) Gajah Sumatera masuk ke dalam kategori kritis (Critically Endangered). Populasi yang terus berkurang membuat Gajah Sumatera masuk kategori kritis setelah sebelum nya ada di kategori terancam (Endangered). Berkurang nya habitat adalah faktor utama populasi Gajah Sumatera terus berkurang. Di alam liar Gajah ternyata mempunyai peran penting dalam ekosistem. Gajah berfungsi sebagai penyeimbang ekosistem di alam bebas. Gajah adalah penyebar bibit tumbuhan, Gajah berjalan dengan menginjak semak-semak di sekitarnya, sehingga banyak bibit tumbuhan banyak yang melekat pada kaki maupun kotorannya. Bibit-bibit tersebut mempunyai peluang untuk tumbuh di sepanjang jalur yang dilalui gajah. Semakin banyak gajah dalam satu kelompok semakin banyak pula peluang bibit-bibit itu untuk tersebar dan tumbuh. Ada 3 tujuan yang ditetapkan dari workshop ini antara lain yaitu tujuan jangka pendek kegiatan yaitu mempersiapkan penyelamatan Gajah ke habitat lain yaitu Hutan Harapan REKI, tujuan jangka menengah kegiatan yaitu meningkatkan keanekaragaman genetik populasi Gajah, tujuan jangka panjang kegiatan yaitu kelestarian Gajah. “Acara workshop sudah selesai kita laksanakan dan menghasilkan beberapa poin penting hasil dari keputusan bersama. Terima kasih banyak untuk kerjasama pihak pihak yang terlibat dalam workshop ini”, tutur Kepala Balai KSDA Jambi, Rahmad Saleh. Sumber : Balai KSDA Jambi

Menampilkan 7.025–7.040 dari 11.140 publikasi