Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Giat BKSDA Sulteng Hapus Buta Aksara di Hutan Adat Wana Posangke

Palu, 18 September 2018. Tim pendamping Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Tengah (BKSDA Sulteng) untuk Hutan Adat Wana Posangke melaksanakan kegiatan belajar mengajar di sekolah Lipu Sumbol pada Senin, 17 September 2018. Kegiatan ini sebagai upaya percepatan salah satu Program Prioritas Nasional Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yakni, Perhutanan Sosial dengan skema Hutan Adat. Lokasi pemukiman Sumbol merupakan bagian dari wilayah Hutan Adat Wana Posangke yang berada dalam kawasan Cagar Alam Morowali. Adapun sasaran didik dari kegiatan belajar mengajar ini adalah anak-anak suku wana yang berada dalam Hutan Adat Wana Posangke khususnya yang bermukim di wilayah Sumbol, Salisarao dan Likubae. Melalui kegiatan belajar mengajar ini, BKSDA Sulteng berharap dapat memutus mata rantai buta aksara generasi muda suku wana untuk ke depannya, kegiatan diakhiri dengan pemberian susu kemasan, alat tulis dan buku tulis kepada anak didik yang merupakan hasil dari donasi karyawan BKSDA Sulteng. Sumber : Balai KSDA Sulawesi Tengah
Baca Berita

Tujuh Ekor Burung Endemik Maluku Diserahkan Balai TN Aketajawe Lolobata ke BKSDA Maluku

Ambon, 14 September 2018. Sebanyak 7 ekor Satwa Burung Paruh Bengkok Endemik Provinsi Maluku diserahkan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam Maluku (BKSDA Maluku). Ke-7 ekor satwa burung diantaranya Kakatua Koki (Cacatua galerita) sebanyak 1 (satu) ekor, Nuri Maluku (Eos bornea) sebanyak 2 (Dua) ekor, dan Perkici Pelangi (Trichoglossus haematodus) sebanyak 4 (empat) ekor yang semuanya dalam kondisi sehat. Penyerahan ini diwakili Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) I Weda -Balai TNAL, Bapak Raduan SH dan Kepala SPTN III Subaim, Bapak Junesly F.Lilipory, S.Pi. dan diterima oleh perwakilan BKSDA Maluku l, Bapak Denny Soewarian selaku Polhut Pelaksana Lanjutan yang disaksikan Ibu Cindy Musila. Keseluruhan jenis burung yang diserahkan memiliki status dilindungi dan merupakan hasil pengamanan Polhut Balai TN Aketajawe Lolobata yang bermula dari informasi masyarakat di sekitar Sofifi tepatnya di sekitar Pelabuhan Besar Sofifi pada tahun 2017. Selanjutnya satwa burung diamankan di kantor Balai TNAL di Sofifi dan dirawat sekitar kurang lebih satu tahun sampai hasil pengamatan petugas teknis bahwa burung-burung tersebut siap dilepasliarkan. Karena burung berasal dari Pulau Seram Provinsi Maluku, maka BTNAL berkoordinasi dengan BKSDA Maluku untuk diserahkan/dilepasliarkan dihabitatnya. Untuk memastikan kondisi kesehatan dan menghindari penularan penyakit, burung-burung tersebut telah diperiksa kesehatannya oleh dokter hewan dari Balai Karantina Pertanian Kelas II Ternate. Keseluruhan burung sebanyak 7 (Tujuh) Ekor siap untuk dilepasliarkan kembali ke alam dengan terlebih dahulu mendapatkan sertifikat kesehatan hewan dan Surat Angkut Tumbuhan dan Satwa Dalam Negeri (SATS -DN) dari BKSDA Maluku. Pelepasliaran satwa ini harus dilakukan di habitat aslinya. Burung-burung yang memiliki wilayah persebaran di daerah tertentu, tidak boleh dilepasliarakan di daerah lain yang bukan merupakan wilayah persebaran aslinya apalagi burung paruh bengkok endemik. Terdapat beberapa alasan untuk tidak melepasliarkan burung sembarangan diantaranya dapat menjadi target buruan, media penyebaran penyakit, menjadi spesies invasif, terjadi perkawinan silang di alam liar serta burung sulit bertahan hidup. Sumber : Nadiya Fasha Fawzi, S.Hut - Calon PEH Pertama Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

BTN Kepulauan Seribu adakan FGD Penetapan Alur Pelayaran dan Zona Labuh

Jakarta, 17 September 2018. Bertempat di Ruang Rapat Balai Konservasi Sumber Daya Alam DKI Jakarta Focus Group Discusion FGD Penetapan Alur Pelayaran dan Zona Labuh di kawasan Taman Nasional Kepulauan Seribu, dibuka secara resmi oleh Ir. Evi Haerliana selaku kepala Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu. Beliau berharap dari FGD yang dilaksanakan ada langkah tindak lanjut untuk Penetapan Alur Pelayaran dan Zona Labuh di kawasan Taman Nasional Kepulauan Seribu. Turut hadir dalam acara FGD yaitu : Dr.Rusdi Ridwan Tenaga Ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan bidang Marine Ecosystem, perwakilan dari Setditjen KSDAE Kementreian LHK, Perwakilan Kemenko Kemaritiman, Disnav Kelas I Tg.Priok Kementerian Perhubungan, Pusat Hidro Oceanografi TNI AL, Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Seribu, Kepala SPTN Lingkup TNKpS dan tim survey penataan alur dan perlintasan Taman Nasional Kepulauan Seribu Adapun maksud diadakan FGD untuk menggali lebih evaluasi teknis terkait keselamatan pelayaran serta situasi dan kondisi perairan sehubungan rencana kegiatan penataan alur dan area labuh di perairan Taman Nasional Kepulauan Seribu. Sehingga dapat terlaksananya penetapan alur untuk menjamin keamanan dan keselamatan berlayar, serta memenuhi berbagai aspek kepentingan dan kelancaran berlayar serta efisien melalui sistem penetapan alur peraiaran untuk melindungi sumber daya alam hayati terumbu karang dan ekosistem mangrove dari hasil tim survey penataan alur dan perlintasan Taman Nasional Kepulauan Seribu yang telah dilakukan pada bulan Agustus 2018 Hasil diadakan FGD adalah untuk mendapatkan kesepakatan bersama pada rencana dibangunnya alur pelayaran dan zona labuh di kawasan TN. Kepulauan seribu dengan harapan : Sumber: Balai Taman Nasional Kep.Seribu
Baca Berita

Raising Awareness on Climate Change

Makassar, 17 September 2018. Suhu Kota Makassar beberapa hari terakhir terasa berbeda, sempat mencapai 38 derajat celcius. Panas? Pasti, perubahan yang sangat terasa bahkan bagi masyarakat yang sudah hapal dengan cuaca Kota ini yang dari dulu memang sudah panas dikarenakan letaknya yang berada dekat selat Makassar. Dalam rangka kampanye peningkatan kesadaran perubahan iklim di Kota Makassar, Balai PPI Regional Sulawesi bersama Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan, Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung bekerjasama dengan Forum Komunitas Hijau Makassar, S’Palacipa Makassar dan Bakorpala Sulawesi Selatan melaksanakan kegiatan kampanye perubahan iklim dengan membagikan bibit tanaman peneduh berupa ketapang kencana, rambutan, durian dan bidara di Area Car Free Day di jalan Boulevard Kota Makassar pada hari Minggu 16 September 2018, dalam kegiatan ini juga dibagikan kantong belanja berbahan kain untuk mengurangi penggunaan plastik sehingga dapat menekan volume sampah yang tidak dapat terurai. Acara ini berlangsung sukses dengan tingginya animo masyarakat yang berkunjung dan meminta bibit tanaman peneduh. Kepala Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan, Ir. Thomas Nifinluri, M.Sc berharap kegiatan ini dapat terus terlaksana dengan rutin sehingga animo masyarakat untuk turut berkontribusi bagi lingkungan hidup dan kehutanan dapat dijembatani oleh UPT KLHK sebagai perwujudan Kerja Bersama yang dicetuskan oleh Presiden RI, Ir. Joko Widodo. Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan
Baca Berita

Sekditjen KSDAE Release Bekantan Hasil Rescue TRRC BKSDA Kalteng

Palangka Raya, 14 September 2018. Sekditjen KSDAE, Ir. Herry Subagiadi, M.Sc, merelease 1 individu Bekantan (Nasalis larvatus) di Taman Nasional Sebangau. Tepatnya di Wooden trail Rosdy Abaza di Sungai Koran Resort Sebangau Hulu, SPTN 1. Release satwa dilindungi tersebut juga disaksikan Kepala Balai KSDA Kalimantan Tengah dan Kepala Balai Taman Nasional Sebangau beserta tim. Bekantan berkelamin Jantan yang diperkirakan berusia ± 5 tahun itu merupakan hasil penyelamatan Tim TRRC SKW I – BKSDA Kalimantan Tengah, di Desa Hampalit Kereng Pangi, Jalan Baun Bango km 12 Kabupaten Katingan, Kalteng pada tanggal 12 September 2018. Sebelumnya, ‌Tim TRRC SKW I – BKSDA Kalteng mendapat laporan dari masyarakat Desa Hampalit A.n Anggie yang menyampaikan bahwa masyarakat desa Hampalit telah menangkap satwa Bekantan yang menyasar masuk kedalam pondok/rumah masyarakat. Satwa Bekantan tersebut berada di tempat masyarakat selama 2 hari sejak ditangkap. Kemudian melihat kondisi bekantan terikat rantai besi, maka selanjutnya petugas dari Tim TRRC melepaskan ikatan tersebut dan kemudian membawa satwa tersebut ke Klinik BOSF Nyaru Menteng untuk diperiksa kondisinya. Dan setelah kondisi kesehatannya dinyatakan siap release, maka bekantan tersebut direlease oleh Sekditjen KSDAE 2 hari setelahnya. Seiring dengan ancamannya yang semakin tinggi, lembaga konservasi internasional juga memberikan perhatian terhadap primata yang khas dengan hidung besarnya ini. IUCN menetapkan status Bekantan ke dalam kategori Terancam (Endangered/ EN). Sedang dalam CITES, Bekantan masuk ke dalam kategori Appendix I, yang artinya ini merupakan spesies dilindungi dan tidak boleh dibunuh dan diperjualbelikan. Tidak hanya di ranah internasional, status Bekantan juga dilindungi dalam hukum nasional Indonesia, yakni dalam UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta dalam PP Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Dalam peraturan tersebut, disebutkan bahwa Bekantan merupakan spesies dilindungi dan dilarang untuk dilukai, dibunuh, diperjualbelikan. Jika terjadi pelanggaran, maka pelakunya akan dikenakan hukuman berupa penjara maksimal lima tahun kurungan, dan denda maksimal Rp 100 juta. Kita perlu memberikan perhatian kepada kelestarian Bekantan. Penyelamatan Bekantan perlu dilakukan dan didukung oleh setiap pemangku kepentingan. Sumber : Balai KSDA Kalimantan Tengah
Baca Berita

Membangun Karakter Konservasi di TWA Sibolangit

Medan, 17 September 2018. Meskipun pencanangan kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit sebagai salah satu role model pengembangan wisata Edukasi, Konservasi dan Lingkungan (Ekoling) baru resmi dimulai pada bulan Januari 2018, namun geliatnya terasa begitu dinamis. Berbagai aktivitas ekoling pun rutin dilakukan dan nyaris tiada hentinya. Setelah sukses dalam penyelenggaraan peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) Tahun 2018, pada tanggal 10 Agustus 2018, berbagai kegiatan edukasi pun masih terus berlanjut. Kali ini rombongan siswa/siswi Sekolah Dasar (SD) Negeri 101833 Sibolangit, sebanyak 20 orang dan didampingi oleh 5 orang guru pendamping menyambangi kawasan TWA Sibolangit, pada Sabtu 15 September 2018. Meskipun letak sekolah ini tidak jauh dari lokasi TWA Sibolangit, namun kunjungan kali ini terasa istimewa, karena baru yang kedua kali inilah rombongan SD Negeri 101833 Sibolangit, Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang, berkesempatan memasuki kawasan untuk belajar tentang konservasi. Kepala Sekolah SD Negeri 101833 Sibolangit yang ikut dengan rombongan, Hermina Tarigan, dalam penjelasannya menerangkan bahwa kegiatan kunjungan ke TWA Sibolangit ini merupakan proses pembelajaran dan pengembangan karakter pelajar untuk peduli dengan konservasi alam. Kedatangan rombongan pelajar ini pun disambut baik oleh tuan rumah, Kepala Resort Konservasi CA/TWA Sibolangit besarta Staf. Beragam kegiatan pun digelar mulai dari aksi bersih di kawasan TWA Sibolangit, pemutaran film dan diskusi serta kuis konservasi. Khusus untuk aksi bersih, menurut penjelasan Kepala Resort, Samuel Siahaan, SP. dirangkaikan dengan peringatan World Claneup Day (WCD). “WCD merupakan gerakan global yang menghubungkan orang-orang dan organisasi di seluruh dunia dengan tujuan membuat planet bersih dari sampah. Disamping itu pelaksanaan perayaan WCD ini juga memenuhi kewajiban TWA Sibolangit sebagai role model, yaitu dengan melakukan kegiatan-kegiatan seperti : pembangunan sarana prasarana wisata, MoU dengan sekolah-sekolah, aksi pungut sampah, kerjasama paket wisata, pelatihan fotografer dan interpreter, serta peringatan hari-hari lingkungan hidup dan kehutanan,” ujar Samuel. Sementara itu Kepala Sekolah SD Negeri 101833 Sibolangit merespon positif kegiatan aksi bersih yang dilakukan, karena hal ini sejalan dengan program Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Deli Serdang yang mencanangkan gerakan OPUNG SARI, yaitu Operasi Pungut Sampah Setiap Hari. Kunjungan yang berlangsung selama lebih kurang 3 jam, memberi kesan tersendiri bagi pelajar maupun guru pendamping. Ada keinginan untuk berkunjung kembali ke kawasan TWA Sibolangit, dan sebaliknya juga diharapkan petugas Resort CA/TWA Sibolangit berkenan mengunjungi SD Negeri 101833 Sibolangit. Harapan ini tentunya membuka peluang untuk melanjutkan dengan membangun kerjasama antar SD Negeri 101833 Sibolangit dengan Resort CA/TWA Sibolangit dalam pengembangan Program Pendidikan dan Penyuluhan KSDA. (Evan) Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Sigogor : Selamat Datang Peserta Summer Camp

Ponorogo, 17 September 2018. Saat mentari mulai terlihat di ufuk Timur, kesibukan semakin terlihat di Camp Panitia yang terletak di Kampung Seketip, Ngebel, Ponorogo. Tenda, peralatan memasak, logistik telah siap di angkut menuju lokasi-lokasi peserta menginap. Summer Camp berlangsung tanggal 16 September 2018 hingga 3 hari kedepan, peserta akan menginap di batas kawasan. Di hari keempat, lokasi kegiatan identifikasi akan pindah ke Cagar Alam (CA) Gunung Sigogor. Kawasan konservasi ini memiliki luas 190,5 ha dengan tipe ekosistem kawasan hutan hujan tropis. Terletak di ketinggian 1.087,5 – 1.675 mdpl, Sigogor masih rangkaian gugusan pegunungan Wilis bagian barat. Camp l terdiri dari kelompok 1-3 di Blok Ngesep, Camp ll, kelompok 4 dan 5 di Blok Tlasih Growong, serta Camp lll, kelompok 6 dan 7 di Blok Watu Blandar. Setengah hari peserta mempersiapkan camp, mendirikan tenda, dan mempersiapkan segala sesuatunya. Setiap kelompok didampingi oleh 4 orang panitia dan warga setempat. Lepas Dhuhur, Kelompok 1-3 telah melakukan briefing untuk kegiatan identifikasi siang ini. Titik-titik lokasipun dimasukkan ke dalam GPS dan HP masing-masing peserta. Siang ini identifikasi flora dan fauna dilaksanakan di sekitar pal 37 grid C dan H. Untuk mencapai lokasi yang dituju, peserta dihadapkan pada kontur yang rapat dengan kemiringan tanah diatas 60°. Beberapa lokasi terpaksa menggunakan tali untuk naik, namun tetap saja memakan korban. Seorang peserta putri, Karisma, sempat terperosok sejauh 6 meter, namun masih sanggup melanjutkan kegiatan. Kondisi cagar alam yang cukup berat ini memakan waktu yang lama untuk mencapai grid yang dituju. Namun peserta Summer Camp mampu menggunakan waktu untuk melakukan identifikasi. Sore harinya, peserta juga banyak belajar dari pendamping tentang jenis-jenis flora yang khas Sigogor. Diskusi selama kegiatan identifikasi menjadi sarana yang baik untuk saling berbagi ilmu. Saat berjalan kembali ke Camp, Kelompok l berhasil menjumpai feses dan bekas cakaran yang diduga kucing besar, di grid 71. Perjumpaan ini seolah-olah ucapan selamat datang kepada kami dari CA Gunung Sigogor. (Agus Irwanto) **Catatan : Gogor dalam bahasa Jawa berarti anak Macan. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Masyarakat Lakukan Permudaan Alam Gunung Ciremai

Kuningan - 17 September 2018, Sobat Ciremai, menurut cara tumbuhnya, hutan dapat dibedakan menjadi tiga yakni hutan permudaan alam, buatan dan campuran. Permudaan alam merupakan proses peremajaan kembali secara alami terhadap pohon-pohon penyusun tegakan yang telah mati. Kegiatan pemeliharaan permudaan alam dilakukan dengan pembabadan "gulma" (tumbuhan pengganggu, red) dan menggemburkan tanah (pendangiran, red) yang dilakukan sekitar anakan alami dari tumbuhan tersebut. Kedua hal tadi dilakukan agar tumbuhan mendapatkan ruang cahaya dan terbebas dari persaingan "zat hara" serta gangguan "gulma". Selain itu juga untuk mempermudah monitoring dan menganalisa "vegetasi" hasil permudaan alam. Di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), kegiatan ini dilaksanakan oleh petugas dan melibatkan peran aktif masyarakat setempat. Kegiatan pemeliharaan permudaan alam meliputi beberapa tahapan yakni "survey" lokasi, pengukuran luas, penentuan lokasi, "inventarisasi" jenis tumbuhan, pembabadan "gulma", pendangiran dan pembuatan sekat bakar. Pelaksanaan kegiatan ini pada Juli hingga September 2018. Salah satu lokasinya berada di area kerja Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Majalengka yakni Sangiang, Argalinga, Gunungwangi dan Bantaragung. Sobat Ciremai, saat ini tingkat kesadaran masyarakat sekitar TNGC untuk ikut menjaga keutuhan hutan sudah cukup tinggi. Hal ini dapat dilihat dari peranserta masyarakat secara sukarela untuk memelihara permudaan alam di dalam dan luar TNGC. Sobat Ciremai, hutan yang hijau pasti memberikan banyak manfaat positif bagi masyarakat sekitarnya. So, mari kita tingkatkan kesadaran untuk terus menjaga hutan agar tetap lestari. [teks & foto © Yusuf Hernawan - BTNGC | 092018]
Baca Berita

Hari Ketiga Summer Camp, Jumpai Elang Jawa

Ponorogo, 17 September 2018. Kampung Seketip, Ngebel, Ponorogo, pagi ini lebih riuh dari biasanya. Seluruh peserta yang terbagi dalam 7 kelompok telah siap simulasi identifikasi lapangan. Kegiatan ini dilaksanakan di Cagar Alam (CA) Gunung Picis, dan berlangsung pada tanggal 15 September 2018. Setiap kelompok telah diberikan titik awal mulai dan akhir lokasi simulasi identifikasi. Masing-masing telah dilengkapi dengan GPS, HT, peta kawasan, dan peralatan identifikasi lainnya. Selain GPS, setiap peserta menggunakan HP yang dilengkapi aplikasi Avenza Maps dan berisi peta cagar alam. Kelompok 7 berada paling Barat dan kelompok 1 di sisi paling Timur cagar alam. Kontur kawasan yang sangat curam menjadi tantangan tersendiri dalam simulasi hari ini. Dalam satu kelompok terdiri atas anggota yang memiliki spesifikasi berbeda. Mulai dari yang mengidentifikasi jenis burung, mamalia, herpetofauna, flora, dan insecta. Namun dalam proses identifikasi mereka saling bantu satu sama lain. Pada identifikasi flora, peserta menentukan jenisnya, diameter batang, daun, dan tinggi pohon, serta tentu dokumentasinya. Tidak jarang peserta harus ekstra hati-hati dalam mengukur diameter batang, karena letak pohon di pinggir jurang. Ada catatan menggembirakan dari simulasi ini, beberapa kelompok melihat keberadaan Elang Jawa (Nisaetus bartelsi). CA Gunung Picis memang menjadi salah satu side monitoring Elang Jawa di wilayah BBKSDA Jatim. (Agus Irwanto) Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Meriahnya Sepeda Gunung Induro Seda 2018

Kuningan, 17 September 2018. Indonesia Enduro (Induro) sebagai salah satu organisasi olahraga balap sepeda gunung di Indonesia yang menggabungkan keterampilan menanjak (“uphill”) dan turunan (“downhill”). Setelah sukses menyelenggarakan seri ketiga, di Patuha Jawa Barat kini perhelatan Indonesia Enduro (Induro) memasuki seri berikutnya yang diselenggarakan di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), tepatnya di Desa Seda, Kuningan, Jawa Barat yang berlangsung pada 15 - 16 September 2018 Kolaborasi antara kelompok masyarakat Giri Waluya, dari Seda dengan Balai Taman Nasional Gunung Ciremai. Induro seri 4 ini merupakan bagian dari kegiatan memperingati Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2018 dan “Road to” Festival Gunung Ciremai 2018. “Race Director” Induro AT Wiryaman mengungkapkan, pada seri ke 4 kejuaraan bergengsi ini dihadiri oleh beberapa atlet dari dalam negeri maupun luar negeri seperti Singapore, Malaysia, Brunei, Jepang dan New Zealand, membuat perhelatan semakin ketat di antara para riders. Peserta balap sepeda Induro di lepas langsung oleh Kepala Balai Taman Nasional Gunung Ciremai Kuswandono. Dari 290 peserta terdaftar dibagi dalam delapan kelas atau kategori yaitu: Man Elite, Man Open, Man Junior, Man Master A, Man Master B, Man Master C, Women Elite dan Women Open. Dari delapan kelas yang diikuti hanya diambil lima pembalap tercepat di setiap kelasnya, dengan penentuan pemenang berdasarkan waktu tercepat dari akumulasi perhitungan waktu di setiap “special stage”. Beberapa peserta Induro salah satunya atlet nasional seperti Nining Porwaningsih peraih mendali perunggu kejuaraan Asian Games 2018 dari cabang “Women Downhill”, menuturkan bahwa trek yang disuguhkan sangat menantang dan membutuhkan tingkat kecermatan dan tehnik yang tinggi dan berharap Taman Nasional Gunung Ciremai menambah jalur-jalur sepeda gunung dan membuat event yang lebih besar lagi. Kegiatan balap sepeda Induro di tutup sekitar pukul 16.15 WIB dengan pemberian hadiah kepada para pemenang yang di serahkan oleh pihak Balai Taman Nasional Gunung Ciremai bersama panitia. Seorang pembalap dari New Zealand ketika finish di lapangan desa Seda sempat mengungkapkan, “Trek di sini sangat keren”. Ketika ditanyakan apakah kamu tahu bahwa jalur yang kamu lalui ini berasa di kawasan Taman Nasional? “Ya, saya tahu, hutan yang kami lalui sangat cantik dan luar biasa. Akan saya ajak kawan-kawan saya bila diadakan kegiatan seperti ini lagi”. Hal yang sama juga diungkapkan oleh salah satu atlet sepeda downhill nasional Nining Porwaningsih "Terima kasih kepada Taman Nasional Gunung Ciremai yang telah mensuport tempat yang luar biasa bagus dan indah , semua track lintasan lengkap, dari yang biasa sampai yang ekstrim dan berharap tahun depan track Seda bisa kembali menjadi ajan seri lomba sepeda" Kegiatan sepeda ini termasuk kegiatan ramah lingkungan. Diperkenankan dilakukan di dalam kawasan hutan konservasi seperti Taman Nasional. Tentunya jalur yang dibuat untuk dilalui harus memperhatikan kaidah konservasi, diantaranya harus berada di zona pemanfaatan. Kegiatan seperti ini juga bermanfaat untuk mempromosikan keindahan alam serta lebih mencintai lingkungan kita. Ayo sobat Ciremai ikut berperan aktif dalam setiap kegiatan yang di selenggarakan oleh Taman Nasional Gunung Ciremai. Sampai jumpa di Festival Gunung Ciremai Tahun 2018 pada bulan Desember nanti. Hasil akhir dari Induro #4 Seda dapat dilihat pada tautan berikut. www.indonesiaenduro.com/results/2018/4sed/final [teks © AT & Mendri; foto © hendra & koesz & Induro | 092018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Kunjungan Dirjen PSLB3 ke Balai Besar KSDA Papua

Jayapura, 16 September 2018. Rossa Vivien Ratnawati, Dirjen PSLB3 (Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Berbahaya dan Beracun), menyempatkan berkunjung ke BBKSDA Papua pada Jumat pagi (14/9). Meski keperluan utamanya ke Papua dalam rangka penyusunan Kebijakan dan Strategi Daerah Pengelolaan Sampah, namun Rossa mengaku sangat senang dapat mengunjungi Balai Besar KSDA Papua, sebagai mitra dalam satu Kementerian LHK. Kepala Balai Besar KSDA Papua, Ir. Timbul Batubara, M.Si., menggelar diskusi singkat di ruang rapat balai untuk menyambut kehadirannya. Mungkin belum terlintas di pikiran sebagian besar masyarakat Indonesia mengenai rumitnya persoalan sampah di negeri ini, bahkan di dunia. Rossa membagikan hal-ihwal sampah yang ditanganinya, dan dengan sedikit sesal mengabarkan bahwa pada 2017 Indonesia menghasilkan 65 juta ton sampah setahun. “Freeport saja menghasilkan 240.000 ton tailing per hari. Itu juga termasuk sampah yang harus kami tangani. Makanya membuat Road Map pengelolaan tailing”, kata Rossa. Menurutnya, untuk saat ini topik yang sangat mengemuka adalah sampah plastik. Rossa menyarankan dua hal dalam menanganinya, yaitu mengurangi penggunaan dan memilah jenis-jenis sampah. Tujuan pemilahan adalah untuk mengelompokkan sampah organik dan plastik. Dengan demikian, sampah-sampah yang dapat didaur ulang dapat dikirim ke bank sampah untuk diolah. “Jadi yang dibuang ke TPA itu hanya sampah yang benar-benar sudah tidak dapat diolah lagi. Itu bisa mengurangi jumlah sampah secara keseluruhan”, ungkap Rossa. Sumber : Balai Besar BKSDA Papua
Baca Berita

Pengembangan Pola Kemitraan Kolaboratif di Zona Tradisional TN Bromo Tengger Semeru

Malang, 15 September 2018. Bertempat di kantor Resort PTN Coban Trisula, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menyelenggarakan kegiatan peningkatan kapasitas kelompok masyarakat Desa "Enclave" Ngadas yang diikuti oleh anggota kelompok "Adas Mulyo" sebanyak 80 orang. Kegiatan pembinaan kapasitas kelompok ini juga dihadiri oleh Kepala Bagian Tata Usaha, Kepala Bidang PTN I Pasuruan, Kepala Seksi PTN 2 Tumpang, Sub Bagian Data Evaluasi Pelaporan dan Humas, Kepala Resort dan staf Resort Coban Trisula. Novita Kusuma Wardani selaku Kepala Bagian Tata Usaha, mewakili TNBTS menyampaikan apresiasi yang tinggi atas partisipasi dan terbentuknya kelompok masyarakat Desa Ngadas yang tergabung dalam kelompok "Adas Mulyo". Kelompok "Adas Mulyo" merupakan kelompok binaan TN Bromo Tengger Semeru yang akan berkolaborasi untuk mengembangkan pengelolaan Zona Tradisional TNBTS. Lebih lanjut Novita menyampaikan bahwa pelaksanan kegiatan ini merupakan salah satu tahapan implementasi bentuk kerjasama kolaboratif di Zona Tradisional TNBTS khususnya di Desa Ngadas Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang dengan fokus pada peningkatan ekonomi kreatif khususnya buah Terong Belanda dan Carica yang ditanam di Zona Tradisional TNBTS menjadi berbagai produk olahan menarik (sirup, selai, dan berbagai produk olahan lainnya) yang dapat di produksi masal, serta diharapkan dapat di terima oleh masyarakat luas khususnya pengunjung wisata Bromo dan Semeru. Sementara itu Murdiono selaku Kepala Bidang PTN 1 menyampaikan maksud diselenggarakannya kegiatan ini adalah untuk meningkatkan keterampilan serta pendapatan ekonomi masyarakat sekitar khususnya masyarakat Desa Ngadas dengan memanfaatkan HHBK yang ada di Zona Tradisional TNBTS, sehingga ekonomi masyarakat meningkat yang pada akhirnya dapat mengurangi tekanan terhadap kawasan TNBTS. Pertemuan tersebut juga diisi materi "proses pembuatan dan strategi pemasaran produk olahan buah-buahan" dengan narasumber Bapak Kris pemilik usaha home industri makanan olahan "So Kressh". Bambang Rudi selaku Kepala Resort Coban Trisula menyampaikan bahwa kegiatan berikutnya, kelompok "Adas Mulyo" akan di ajak mengunjungi showroom atau pabrik olahan "So Kresh" pada hari Selasa, tanggal 18 Sptember 2018. Kunjungan langsung ke pabrik olahan ini di harapkan Rudi mampu menambah wawasan dan keterampilan Kelompok tersebut dalam pengolahan Terong Belanda dan Carica. Selanjutnya BBTNBTS juga akan memberikan bantuan peralatan dan mesin pengolahan Terong Belanda dan Carica untuk kelompok masyarakat tersebut. Rudi berharap kelompok "Adas Mulyo" ini akan menjadi pionir sekaligus contoh keberhasilan pengelolaan Zona Kolaboratif di TNBTS, pungkasnya. Sumber : Balai Besar TN Bromo Tengger Semeru
Baca Berita

Diskusi Pengembangan Ekowisata TWA Gunung Tunak Bersama Kelompok Tunak Besopoq

TWA Gunung Tunak, 12 September 2018 - Pertemuan perdana bersama kelompok Tunak Besopoq pada siang hari yang cerah setelah sekitar satu bulan pasca gempa bumi yang terjadi di pulau lombok tercinta. Bahagia bercampur haru, dengan semangat baru untuk bangkit kembali membangun Wisata Alam di Lombok khususnya TWA Gunung Tunak. Pada pertemuan mengembangkan ekowisata berbasis masyarakat kali ini fokus membahas lebih detail obyek daya tarik wisata alam yang ada di TWA Gunung Tunak. Acara dibuka oleh Plh. Kepala SKW I Lombok, Putu Sujana, dengan menyelipkan motivasi bagi masyarakat. Bersama fasilitator Dosen dari Sekolah Tinggi Pariwisata Mataram, Sri Susanty, S.ST,Par., M.Par. dan owner Lombok Hidden Trip, yang akrab disapa Mas Eka ini berjalan seru. Focus Grup Discussion (FGD) dibagi kedalam 3 kelompok materi diskusi. Kelompok pertama dipandu Dosen STP Mataram, membahas obyek daya tarik di dalam kawasan. Setidaknya ada 15 site yang menarik dijadikan obyek daya tarik wisata. Dalam diskusi selain dibahas mengenai hal-hal yg menarik dan unik di setiap obyek, juga dibahas kegiatan atraksi wisata yang bisa dilakukan di lokasi tersebut, aksesibilitas serta hambatan dan kendala apabila dilakukan aktivitas wisata. Kelompok kedua membahas mengenai atraksi seni yang dapat ditawarkan oleh kelompok Tunak Besopoq ketika menyambut tamu. Dalam diskusi, masyarakat sepakat untuk membuat konsep special dinner setiap minggu disajikan dengan atraksi wisata, berupa kesenian gambus dengan tarian diiringi lagu-lagu yang khusus dibuat untuk TWA Gunung Tunak, diantaranya lagu berjudul : Gunung Raden (salah satu lokasi di Gunung Tunak), Tunak Besopoq (nama kelompok masyarakat), Inaq dan beberapa lagu berdasarkan request dari tamu. Sedangkan kelompok terakhir membahas manajemen keuangan dan budgeting. Agenda pertemuan selanjutnya akan membahas mengenai pengembangan produk paket wisata dan promosi melalui media offline maupun online. Sumber : Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

Hari Kedua Summer Camp, Peserta Simulasikan Metode Identifikasi

Ponorogo, 15 September 2018. Sebanyak 50 peserta Summer Camp 2018 laksanakan simulasi dan pematangan metode. Kegiatan ini dilaksanakan di sekitar Kampung Seketip, Dusun Toyomerto, Desa Pupus, Ponorogo, 14 September 2018. Pada simulasi ini peserta dibagi ke dalam masing-masing spesifikasi : mamalia, burung, flora, herpetofauna, dan insecta. Setiap kelompok didampingi oleh pemateri dan petugas BBKSDA Jatim. Beberapa kelompok langsung melakukan simulasi saat pagi hari, namun ada juga yang lebih mendalami materi dengan Focus Discussion Group. Seperti kelompok flora dan insecta yang mendiskusikan hal-hal yang menjadi dasar dalam identifikasi jenis. Selepas Sholat Jum'at dan makan siang, setiap tim sudah kembali melakukan simulasi di sekitar Seketip. Tim burung, mamalia, dan herpetofauna memilih tempat batas hutan lindung dan Cagar Alam (CA) Gunung Sigogor. Setiap anggota tim mulai memasang mata dan pendengaran untuk menangkap kehadiran satwa di sepanjang jalur. Seperti tim herpetofauna yang memilih sepanjang aliran sungai untuk mencari keberadaan satwa jenis amphibi dan reptil. Lokasi seperti rumpun bambu, aliran sungai kecil, di bawah batu dan potongan kayu, menjadi tempat-tempat favorit satwa amphibi atau reptil. Saat mendapatkan "buruannya", anggota tim segera mendokumentasikan dan mengidentifikasi. Lalu dilepaskan kembali ke tempat semula. Tim burung yang digawangi Asman, melakukan simulasi di sekitar lokasi pelepasliaran Elang Jawa. Selain mengisi tallysheet hasil pengamatan, anggota tim juga mencocokkan dengan buku burung yang mereka bawa. Berbeda dengan tim herpetofauna dan insecta yang aktif bergerak mencari, tim burung lebih berdiam diri dengan tetap melakukan pengamatan menggunakan kamera dan binokular. Saat istirahat biasanya dibuat waktu untuk berdiskusi oleh peserta Summer Camp. Namun, dalam sekejap diskusi mereka bisa bubar saat seekor Elang soaringdiatas. Segera kamera diambil dan mengambil momen indah yang tersaji saat itu. Sumber : Agus Irwanto - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Ditemukan Kembali Lokasi Baru Sang Bunga Langka di TNGGP

Cibodas, 13 September 2018. Lokasi baru sebaran bunga langka yaitu Rafflesia rochussenii ditemukan kembali di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Momen menggembirakan ini ditemukan pertama kali oleh personil Resort Cimande yang sedang melaksanakan patroli bersama masyarakat. Ade Frima seorang Polhut Resort Cimande tidak sengaja melihat knop yang awalnya tidak yakin bahwa itu merupakan knop dari Rafflesia rochussenii. Setelah diperhatikan, Ade dan tim meyakini bahwa itu merupakan bunga langka yang selain ditemukan di TNGGP juga pernah ditemukan di Gunung Salak dan Gunung Leuser (Zuhud dkk, 1998). Ade mencatat terdapat 7 knop hidup, 2 knop busuk, dan 1 mekar busuk di lokasi baru tersebut. Pada tahun sebelumnya tepatnya awal bulan Juli 2017 di wilayah Resort Tapos telah ditemukan juga lokasi baru Rafflesia rochussenii. Pertama kali ditemukan oleh Komar yang sedang melaksanakan kegiatan patroli bersama tim. Komar secara tidak sengaja terpeleset dan jatuh disekitar lokasi dimanaditemukannya Rafflesia rochussenii. Menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi menyebutkan bahwa jenis Rafflesia rochussenii statusnya adalah dilindungi bersama dengan 12 jenis Rafflesia lainnya. Rafflesiarochussenii memiliki sejarah panjang. Tahun 1941 sempat dinyatakan punah karena sering terjadi pengambilan di alam. Pada tahun 1990 jenis ini ditemukan kembali oleh sekelompok mahasiswa pencinta alam dari IPB (Lawalata IPB) di Gunung Gede. Pernah juga ditemukan di Gunung Salak dan Gunung Leuser (Zuhud dkk, 1998). Jenis ini mempunyai sedikit informasi struktur morfologi dan populasinya. Jenis inupun paling dikhawatirkan sedang menuju kepunahan. Pertumbuhan Rafflesia rochusseniidiperkirakan membutuhkan waktu selama 27,3 bulan untuk sebuah kuncup sampai mekar dengan waktu mekar yang singkat yaitu selama 7 hari (Zuhud dkk, 1994). Monitoring Rafflesia rochussenii di TNGGP dilakukan secara rutin setiap tahun khususnya oleh Bidang PTN Wilayah III Bogor. Keberadaan bunga langka ini tidak menutup kemungkinan untuk dijadikan sebagai objek wisata minat khusus seperti yang sudah dilakukan di Bengkulu yang melibatkan masyarakat lokal sebagai interpreter. Dengan menggeliatnya kembali skema RBM (Resort Based Managament) yang menuntut eksplorasi pada grid-gridpengelolaan, diharapkan tidak ada sejengkalpun kawasan yang tidak terdata baik data pamhut, potensi alam, dan keanekaragaman hayati. Semoga akan terus menemukan sesuatu yang baru dan menggembirakan lagi di TNGGP dan di kawasan konservasi lainnya. “Jadikan Biodiversitas sebagai panglima untuk kesejahteraan masyarakat” Salam konservasi! Sumber: Ade Frima Nurcahya Intan (POLHUT TNGGP) Tulisan: Agung Gunawan (PEH TNGGP)
Baca Berita

Tim Survei Sanctuary Orangutan Balai Besar TaNa Bentarum Alami Musibah

Putussibau, 15 September 2018. Tim survei sanctuary Orangutan yang dipimpin oleh Alexander Melat petugas Pengendali Ekosistem TaNa Bentarum mengalami musibah kecelakaan pada saat melaksanakan tugas. Menurut informasi dihimpun dari berbagai sumber menyebutkan pada saat tim telah selesai melaksanakan Survei Sanctuari Orangutan di Bukit Semujan Taman Nasional Danau Sentarum, pada saat perjalanan ke Lanjak menggunakan perahu mengalami kecelakaan. Perahu yang mengangkut 1 orang personil dan 1 orang motoris karam karena gelombang tinggi, pada saat karam perahu mengangkut sepeda motor (Kawasaki KLX) sebanyak 3 unit yang digunakan untuk survey. Tim Surevi Sanctuary Orangutan yang dipimpin oleh Saudara Alexander Melat berangggotakan 4 orang personil melakukan survei lokasi pembangunan sanctuary Orangutan di Bukit Semujan kawasan Taman Nasional Danau Sentarum pada Minggu 9 September 2018. Tim berangkat menggunakan 3 unit sepeda motor (Kawasaki KLX) dikarenakan kondisi danau yang kering dan tidak dimungkinkan menggunakan perahu. Sepeda Motor yang digunakan untuk mencapai Kantor Resort Semangit, dan kemudian menuju Bukit Semujan. Kantor resort semangit yang merupakan lokasi terdekat dengan bukit semujan menjadi home base tim. Namun pada pelaksanaanya Survey lokasi Sanctuary yang direncanakan dilaksanakan hingga hari Kamis 13 September 2018 mengalami kendala. Pada selang waktu tanggal 9 s/d 11 September 2018 di beberapa lokasi di Kabupaten Kapuas Hulu di guyur hujan dengan intensitas sedang, sehingga mengakibatkan kenaikan permukaan air di Danau Sentarum. Kenaikan permukaan air ini menyebabkan jalur darat yang semula digunakan tidak dapat dilalui lagi. Selasa 11 September 2018 tim yang berada di Bukit Semujan tidak bisa kembali ke Kantor Resort Semangit, sehingga tim memutuskan menginap di Bukit Semujan. Setalah sempat bermalam di Bukit Semujan, pada 12 September 2018 tim memutuskan untuk kembali ke Lanjak, karena akses ke Kantor Resort Semangit sudah tidak bisa dilalui oleh sepeda motor. Kondisi lapangan yang berat dan kondisi permukaan air yang semakin mempersulit perjalanan ke lanjak, sehingga hanya mencapai jarak tempuh yang sedikit. Rabu, 13 September 2018 tim mencoba kembali untuk melanjutkan perjalanan menuju lanjak, namun karena kondisi lapangan yang semakin tidak memungkinkan Ketua Tim memutuskan untuk meminta bantuan dari Manggala Agni dan personil Resort Tekenang untuk mengevakuasi Tim. Jumat 14 September 2018, tim berhasil dievakuasi menuju Kantor Resort Semangit. Pada hari sabtu, 15 September 2018, tim diangkut dengan 2 perahu (1 perahu mengangkut personil, 1 perahu mengangkut sepeda motor) menuju ke Lanjak sebelum pulang ke Putussibau. Naasnya belum 100 meter dari hilir kampung semangit, perahu yang mengangkut 1 orang personil dan 1 orang motoris serta 3 unit sepeda motor oleng dan karam. Diduga akibat arus dan angin mengakibatkan perahu oleng dan langsung karam. Sontak personil pada perahu satunya langsung memberikan pertolongan dan meminta bantuan warga Desa Semangit untuk melakukan pertolongan pertama dan mengevakuasi perahu beserta muatannya. Gunawan Budi Hartono atau biasa disapa Gunawan, Kepala Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III menyampaikan bahwa tidak ada korban jiwa dan perahu beserta muatannya telah berhasil dievakuasi. “Alhamdulillah, semuanya selamat dan tidak ada korban jiwa. Terima kasih kepada warga yang telah membantu proses evakuasi”, imbuh Gunawan. “Kebetulan saya sedang berada di bukit tekenang pada saat kejadian, sehingga kami bisa segera merapat dan mengevakuasi teman-teman beserta perahu yang karam. Prioritas selanjutnya segera mengevakuasi tim ke lanjak terus ke putussibau, dan segera dilakukan medical checkup”, pungkas Gunawan. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun Danau Sentarum

Menampilkan 7.009–7.024 dari 11.140 publikasi