Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Road To Festival Budaya dan Edukasi di TWA Batu Gamping

Yogyakarta 20 September 2018. Penyelenggaraan Festival Budaya dan Edukasi di TWA Batu Gamping akan berlangsung pada tanggal 6 Oktober 2018, kerjasama antara Balai KSDA Yogyakarta dengan pemerintah Desa Ambarketawang. Kegiatan akan dilangsungkan di Taman Wisata Alam Batu Gamping untuk mengenalkan TWA Batu Gamping pada khususnya dan mengenalkan konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya kepada masyarakat luas. Rangkaian kegiatan Festival Budaya dan Edukasi di TWA Batu Gamping meliputi Road to festival yang terdiri dari Gladen Jemparingan di Lapangan Delingsari dan lomba desain batik Gunung Gamping. Serta Festival Budaya dan Edukasi di TWA Batu Gamping yag terdiri dari Gladehen Jemparingan untuk anak; Pemutaran; Games konservasi; Drama Musica; dan Pementasan ketoprak. Sebagai rangkaian Road To Festival Budaya dan Edukasi TWA Batu Gamping, telah dibuka dengan pelaksanaan “Gladen Alit jemparingan Manunggal Rasa Tamtama” di lapangan Delingsari, Ambarketawang, Gamping, Sleman beberapa waktu yang lalu. Jemparingan adalah tradisi yang sudah ada sejak kerajaan ratusan tahun lalu. Jemparingan adalah seni memanah gaya Mataram yang dulu sering di gelar diseluruh wilayah kerajaan kuno Yogyakarta. Secara garis besar, olahraga jemparingan ini bukan hanya sekedar permainan namun juga merupakan olahraga yang digunakan untuk melatih ketajaman mata dan konsentrasi. Kekuatan mata, hati dan pikiran harus menyatu, karena bandul yang dituju berukuran kecil. Keberhasilan memanah biasanya tergantung pada suasana hati. Jika suasana hati sedang gembira, anak panah akan lebih mudah mengenai target. Tidak seperti permainan panahan pada umumnya, yang dilakukan dengan posisi berdiri seperti yang kita tonton, jemparingan dilakukan dengan posisi duduk bersila. Duduk bersila merupakan duduk dengan gaya mataram membentuk dua barisan dengan menghadap ke barat. Filosofi ini disebabkan karena dahulu para bangsawan biasanya memanah sambil bercengkeram membicarakan bisnis dan politik sambil menikmati makanan ringan. Oleh sebab itu posisi duduk inilah yang dirasa paling sesuai dan nyaman. Paguyuban yang mengikuti kegiatan jemparingan terdiri dari : The ark, sipas gemplong, GJS Siliran, PPGA, JP Bromonilan, Sangga, JCC, Merapi Archery, Musuk Boyolali, Langn Progo, Sambisena, Tajem, Ababil, Bantl, PAP Krido Hasto, Surya Bhirawa Archery, Surya Warastha, Suryastrawara, Kridobusara Klaten, Jkobar, Wonopati Sentolo, Yagowiyyu, Langen Astro, Parikesit, Surogeni, Bandung bondowoso, Sukoharjo, Minggir, botodiningrat, Krido Senopati, Respring, BWT Pakualam, GM, Hantu Maut Pujokusuman, Langit mlati, STW, Jogoboyo, Pathoknegoro, Atmajaya, PJP, Mlati. Sumber : Ulul Azmi S.B – Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

Regu Brigdalkarhut Balai TN Rawa Aopa Watumohai Berhasil Menangkap Pelaku Pembakaran Hutan

Tatangge, 20 September 2018. Tim Patroli Pencegahan Kebakaran Hutan Regu BRIGDALKARHUT Balai TN Rawa Aopa Watumohai berhasil menangkap seorang pelaku yang diduga dengan sengaja melakukan pembakaran hutan di dalam kawasan TN Rawa Aopa Watumohai. Kronologis kejadian (20/9), Tim patroli regu BRIGDALKARHUT Balai TN Rawa Aopa Watumohai melakukan patroli pencegahan kebakaran hutan di daerah rawan kebakaran hutan wilayah kerja SPTN II TN Rawa Aopa Watumohai. Pukul 12.30 WITA, sebuah mobil sedang parkir di pinggir jalan poros yang melintasi kawasan TNRAW, kemudian satu orang penumpang mobil tersebut keluar dari mobil dan membakar padang savana, kemudian orang tersebut bergegas ke dalam mobil dan melaju kencang meninggalkan lokasi. Melihat kejadian tersebut, Dadang (Anggota Regu BRIGDALKARHUT BTNRAW) dengan menggunakan kendaraan roda dua mengejar pelaku. Pelaku ditangkap di desa Lapoa Kec. Tinanggea Kab. Konawe Selatan 18 km dari lokasi kejadian. Pelaku bersama dengan sopir mobil tersebut langsung di bawah ke kantor Balai TNRAW dan selanjutnya di serahkan ke Polres Bombana untuk dilakukan pengembangan kasus tersebut. Dari hasil pemeriksaan sementara oleh penyidik Polres Bombana, diketahui pelaku pembakaran ini berinisial A berusia 14 tahun, yang sedang melintasi kawasan TNRAW menggunakan mobil bersama rekannya J (sopir) sekaligus bos dari pelaku A. Menurut keterangan pelaku, dia sengaja membakar kawasan savana karena melihat ada mobil lain di depannya melakukan hal yang sama. J sang sopir juga mengakui hal yang sama dan berdasarkan pengakuannya dia tidak mengetahui kalau A ikut-ikutan membakar padang savanna. J merupakan pedagang keliling yang sehari – hari berjualan di Pasar Lapoa Kec. Tinanggea Konawe Selatan dan Pasar Lantari Kec. Lantari Jaya Bombana. Sementara A merupakan anak buah J yang sehari hari membantunya berdagang. Pelaku bisa terancam pasal 78 UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dengan ancaman hukuman penjara maksimal 10 tahun dan denda paling banyak Rp 5 miliar. Lokasi kejadian merupakan padang savana wilayah kerja Resort Langkowala SPTN II TNRAW yang merupakan daerah dengan tingkat kerawanan kebakaran hutan paling tinggi karena vegetasinya didominasi alang-alang dengan luas +/- 22.000 ha. Sejak bulan Januari 2018 sampai dengan Tanggal 17 September 2018, angka kejadian kebakaran hutan di wilayah ini mencapai 43 kali dengan total luas 1.669,84 ha. Dalam mengantisipasi semakin meningkatnya angka kebakaran hutan di wilayah SPTN II TNRAW, pada bulan Agustus 2018 Balai TNRAW melakukan perekrutan tenaga kontrak Regu Brigade Pengendali Kebakaran Hutan (BRIGDALKARHUT) sebanyak 15 orang. Keberhasilan anggota regu BRIGDALKARHUT menemukan pelaku pembakaran hutan tersebut diapresiasi setinggi-tingginya oleh KepalaBTNRAW hal ini dikarenakan sebelum regu ini dibentuk, pelaku pembakaran hutan yang selama ini meresahkan tidak pernah ditemukan secara langsung atau tertangkap tangan, sedangkan petugas selalu siap 1 x 24 jam dalam hal patroli pencegahan kebakaran hutan maupun berjibaku untuk memadamkan api di dalam kawasan TNRAW. Sumber : Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai
Baca Berita

Tim Rescue Respon Cepat SKW II BKSDA Kalimantan Tengah Evakuasi Orangutan Jantan dari PLTD Kumai Hulu

Palangka Raya, 20 September 2018. Tim Rescue Respon Cepat (TRRC) SKW II BKSDA Kalimantan Tengah bersama OFI telah berhasil melakukan evakuasi Orangutan (17/9) di Desa Kumai Hulu Kec. Kumai Kab. Kotawaringin Barat. TRRC SKW II menerima laporan adanya keberadaan Orangutan pada hari Minggu tanggal 16 September 2018 Pukul 16.00 WIB, berlokasi di sekitar area PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel) Kumai Hulu yang berdekatan dengan Pemukiman Desa Kumai Hulu Kec. Kumai Kab. Kotawaringin Barat. Keberadaan orangutan yang berada di areal bertegangan tinggi ini dikhawatirkan membahayakan operasional PLTD dan mengancam keselamatan satwa tersebut. Selanjutnya Tim Rescue langsung menuju lokasi tersebut dan mencoba melakukan evakuasi saat itu juga, namun saat itu Tim kehilangan jejak, kemudian Tim memutuskan untuk melanjutkan evakuasi esok hari. Pada tanggal 17 September 2018 Tim berhasil melakukan evakuasi orangutan dilokasi tersebut, dengan identifikasi bekelamin Jantan, umur ± 30 tahun dan berat 65 Kg. Adapun kondisi lokasi di dominasi pohon akasia pada lokasi tersebut dengan Koordinat lokasi : -2.724149 111.728275. Status kawasan menurut SK 529 th 2012 : APL Selanjutnya Orangutan tersebut di translokasi di kawasan sekitar Taman Nasional Tanjung Putting Terdesaknya orangutan dari habitat alaminya karena berkurangnya areal hutan tempat mereka tinggal dan juga berakibat pada menurunnya keberadaan pakan alami mereka di alam. Hal ini berpotensi menimbulkan konflik manusia dengan orangutan yang bisa berujung pada pembantaian terhadap satwa itu. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat dan respon cepat petugas sangat diperlukan dalam Upaya penyelamatan orangutan. Sumber : Balai KSDA Kalimantan Tengah
Baca Berita

Sinergisitas BKSDA Jogja Lestarikan Gelatik Jawa bersama Hotel Melia Purosani, serta Sosialiasikan Peraturan Perundangan

Yogyakarta, 20 September 2018, Balai KSDA Jogja telah cukup lama menjalin kemitraan dengan Hotel Melia Purosani dalam upaya pelestarian Gelatik Jawa (Padda oryzivora). Pada awalnya burung Gelatik Jawa keberadaannya dianggap sebagai hama, akan tetapi sejak terbitnya Peraturan Menteri LHK Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Satwa dan Tumbuhan Dilindungi Undang-Undang, status burung Gelatik Jawa berubah menjadi spesies yang dilindungi. Seiring dengan terbitnya peraturan Menteri LHK tersebut dan lokasi Hotel Melia Purosani yang menjadi tempat tinggal bagi Burung Gelatik Jawa di pusat kota Yogyakarta, selanjutnya Balai KSDA Yogyakarta menggandeng Hotel Melia Purosani untuk bersama-sama melaksanakan kegiatan Sosialisasi Peraturan Perundangan baru-baru ini. Sebagai peserta dalam kegiatan ini adalah para siswa tingkat SLTP dan guru sebanyak 50 peserta, dengan nara sumber yang berasal dari Fakultas Teknobiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta, dan Fakultas Biologi UGM serta Balai KSDA Yogyakarta. Untuk lebih mengenalkan burung Gelatik Jawa pada peserta sosialisasi, dilakukan pengamatan burung Gelatik Jawa yang ada dan berkembang di komplek Hotel Melia Purosani Yogyakarta. Lingkungan Hotel Melia Purosani dengan atap yang tinggi menjulang dan dikelilingi pohon cemara menjadikan hotel ini sebagai habitat strategi burung Gelatik Jawa. Sumber : Titis Firtiyoso – Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

Balada Babi Hutan Gunung Ciremai

Kuningan, 19 September 2018. Ketika mendengar nama Babi Hutan (Sus scrofa), pikiran kita langsung tertuju pada mulut moncong, taring tajam, suka menyeruduk, tapi lehernya tak bisa menoleh serta hobinya berkubang. Babi Hutan kerap dianggap hama oleh sebagian masyarakat terutama pemilik lahan yang berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Indikasinya beberapa tahun lalu terdapat laporan masyarakat yang menyatakan bahwa tanamannya habis dimakan Babi Hutan seperti di blok Kubang, desa Cikaracak, Argapura, Majalengka. "Gerombolan Babi Hutan turun gunung pada sore hingga malam. Mereka tampaknya mencari makanan. Lalu mengacak-acak tanaman di ladang kami", ungkap Yono, warga desa Cikaracak. Atas dasar laporan tersebut, Balai TNGC berupaya untuk meminimalisir insiden itu dengan memasang pagar kawat di beberapa titik rawan konflik satwa. "Kami akan tindaklanjuti bersama masyarakat dan koordinasi dengan instansi terkait", tegas Jaja Suharja, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Majalengka. Memang tidak dipungkiri, binatang dari "Ordo Artidoctyla" dan "Famili Suidae" ini sangat rakus. Apa saja yang ditemuinya pasti dimakan. Buah-buahan, umbi-umbian, tikus, cacing, bangkai hingga akar pun dimakannya. Dengan daya jelajah hingga enam kilometer setiap harinya, bisa dibayangkan betapa tamaknya hewan ini. Meskipun demikian, Babi Hutan di gunung Ciremai tidak bisa sepenuhnya dianggap sebagai hama. Sebab untuk menyimpulkan "over populasi satwa" memerlukan kajian ilmiah dari para ahli dibidangnya dengan memakan waktu dan biaya yang besar. Ketika Babi Hutan berada dalam kawasan TNGC, otomatis hewan tersebut dilindungi oleh peraturan perundangan yang berlaku di kawasan konservasi. Karena secara ekologis, Babi Hutan berperan penting dalam mata rantai makanan sebagai mangsa bagi "Predator" tingkat tinggi seperti Macan Tutul (Panthera pardus) dan Ular Pithon/Sawah (Phithon molurus). Namun saat Babi Hutan tidak berada dalam taman nasional, bukan berarti kita bebas melakukan hal buruk terhadap hewan tersebut. Jadi mesti bersikap bijak. Setiap makhluk hidup pasti punya peran penting dalam keseimbangan ekosistem. Terlebih lagi ada hak untuk hidup bagi setiap makhluk bernyawa. Ayo kita jaga rantai makanan berputar sesuai hukum alamnya. Bila terdapat insiden satwa liar, mohon informasikan kepada Balai TNGC. [teks © Yaya Sutirya, foto © Yaya Sutirya & PEH - BTNGC | 092018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Summer Camp, Seru dan Ekstrim ..!

Ponorogo, 18 September 2018. Lepas Isya' seluruh peserta dan panitia Summer Camp 2018 berkumpul di Base Camp, Dusun Toyomerto, Pupus. Malam itu, dilaksanakan evaluasi dan pengolahan data yang telah dihasilkan. Mengawalinya, Andik Sumarsono, Kepala Seksi Konservasi Wilayah ll memperkenalkan struktur organisasi dan wilayah kerja BBKSDA Jatim. Tak lupa ia menjelaskan tujuan Summer Camp, yakni melengkapi data kehati pada Cagar Alam (CA) Gunung Picis, dan CA. Gunung Sigogor. "Ini menjadi masukan untuk pengelolaan kawasan ke depan. Dan Summer Camp ini menjadi kegiatan pertama di Jatim, mungkin di Indonesia," imbuhnya. Hal ini diamini Gunawan, menurutnya kegiatan seperti ini belum pernah dilakukan oleh pengelola kawasan konservasi lainnya. Dimana masyarakat bisa turut serta melengkapi data-data potensi kehati sebuah kawasan. "Bisa dibayangkan bagaimana 2 cagar alam ini diurus hanya oleh 4 petugas saja. Maka, kita sebagai masyarakat harus mulai ikut peduli terhadap pengelolaan kawasan konservasi," ujar Gunawan. Gunawan mengharapkan setelah dari kegiatan ini, peserta mulai dapat bayangan mau penelitian disini. Karena, cagar alam sangat terbuka untuk Kegiatan tersebut. Dapat Ilmu, Dapat Teman dan beberapa peserta saat memberikan pesan dan kesannya, banyak menjumpai pengalaman baru selama Summer Camp ini. Seperti Ibnu dari Saka Wana Bakti Madiun yang menceritakan betapa sulitnya mengumpulkan data dengan kondisi medan yang sulit. Berbeda dengan Jessica dari Mapalipma IPM yang sangat terkesan dengan jalannya Summer Camp. "Ini adalah kegiatan yang sangat berwawasan sekali," tambah mahasiswi asli NTT ini. Firda lsdianto dari Student English Forum UNSOED beda lagi. Ia sangat berterima kasih, karena pesertanya beragam latar belakang, bukan hanya untuk orang yang expert saja, sehingga manfaatnya semakin besar. Ini pengalaman yang berharga. Ia berharap, perlu dipertimbangkan metode yang khusus medan berat. Begitu juga peralatan yang lebih memadai guna proses identifikasi. Beberapa peserta tidak menyangka kalau kegiatan Summer Camp berupa eksplorasi di kawasan konservasi. Seperti yang disampaikan Clarissa Ruby Fortuna dari Institut Teknologi Bandung. "Seperti kuliah lapangan, namun lebih menantang dilepas, Seru dan ekstrim," kata mahasiswi asli Bogor ini. Clarissa juga ingin memperkenalkan bahwa di ITB juga ada Jurusan Kehutanan. Dan Pretty dari Medan mengumpamakan Summer Camp itu seperti perjalanan berangkat yang 2,5 jam dan pulangnya hanya 30 menit. "Bikin melorot terus pak medannya," dan disambut tawa oleh semua yang hadir. Demikian pula Edy dari KSL IPM Malang yang menyebutkan bahwa kedua cagar alam memiliki medan yang berat. Berbeda dengan Azizah, Mahasiswa Perbankan IAIN Ponorogo yang sangat terkesan dengan mendapatkan pengalaman baru, mendapatkan ilmu yang banyak, dan kenal teman-teman dari berbagai daerah. Nyomo, Kepala Resort Konservasi Wilayah 06 Ponorogo, sangat kagum dengan semangat para peserta. Namun ia tetap mengingatkan untuk tetap menjaga kesehatan selama kegiatan berlangsung. Panitia meminta agar peserta tetap melatih kemampuan yang dimiliki dan tetap menjaga tali silaturahim satu sama lain. Sebelum mengakhiri, Gunawan mengingatkan lagi bahwa apa yang disampaikan tadi menjadi masukkan bagi semua untuk perbaikan kegiatan kedepannya. Harapannya, masih ada kegiatan serupa di masa mendatang. Mewakili pihak BBKSDA Jatim, Dhany Triadi mengatakan bahwa masih ada PR bagi pelaksana kegiatan, yakni mengolah data yang masih belum matang. Sehingga diharapkan data yang ada dapat dibuat buku potensi kehati di kedua cagar alam. Ia-pun berterima kasih atas bantuan peserta Summer Camp dalam ikut mengidentifikasi kekayaan dari kedua cagar alam. Semoga pengalaman dan ilmu yang didapat dari kegiatan ini bisa ditularkan dan diterapkan di tempat asal masing-masing. Setelah makan malam bersama, peserta melanjutkan kegiatan pengolahan data hasil eksplorasi. Tak lupa saling membagi pengalaman di lapangan selama Summer Camp berlangsung. Sumber : Agus Irwanto, BBKSDA Jawa Timur
Baca Berita

Sigogor, Sumber Air Desa Sekitar

Ponorogo, 17 September 2018. Hari kelima Summer Camp, saya pergi ke Camp ll tempat Kelompok 4 dan 5 di Tlasih Growong, dan Camp lll di Watu Blandar. Camp lll ini tempat menginapnya Kelompok 6 dan 7, dan menjadi Camp terjauh dan cukup sulit dijangkau. Camp lll berada di sebelah Barat Daya Cagar Alam (CA) Gunung Sigogor, atau Camp paling selatan dibanding camp yang lain. Dan untuk mencapai camp ini, saya harus menembus hutan produksi, hutan lindung dan beberapa aliran sungai. Di Sigogor sendiri setidaknya ada 5 sumber air yang mengalir dari kawasan ke sungai Toyomerto. Ini berdasarkan identifikasi dan inventarisasi potensi jasa lingkungan di cagar alam tahun 2011. Inilah fungsi hidrologis Sigogor sebagai daerah tangkapan air bagi desa-desa di sekitarnya. Menurut Endry Wijaya, Penyuluh Kehutanan Bidang KSDA Wilayah l, aliran Sungai Toyomerto mengalir ke arah Kabupaten Madiun. "Aliran sungai tersebut ditampung oleh 2 PLTA, Gligi dan Giringan," ujar wanita berhijab ini. Berbicara sungai, CA. Sigogor cukup banyak memiliki aliran sungai. Dan sebab itu, seluruh camp terletak di sekitar aliran sungai. Selain mempermudah akses kebutuhan air bagi peserta, juga menjadi tempat bagi tim herpetofauna beraksi. Biasanya, kegiatan dilaksanakan saat malam hari tiba. Setiap camp terdapat 3-4 orang yang berspesifikasi di bidang herpetofauna. Hingga kini, Katak bertanduk menjadi temuan yang favorit di sepanjang aliran sungai. Sumber : Agus Irwanto, BBKSDA Jawa Timur
Baca Berita

TWA Madapangga menjadi Tuan Rumah Lomba Tanaman Obat Tradisional Tingkat Provinsi

Senin 17 September 2018, Bima - Bertempat di Taman Wisata Alam Madapangga dilakukan kegiatan penilaian Lomba Tanaman Obat Tradisional tingkat Provinsi. Kabupaten Bima diwakilkan oleh kelompok tanaman obat keluarga "MECI ANGI" yang merupakan kelompok masyarakat binaan SKW III Bima BKSDA NTB. Lomba Tamanam Obat Keluarga ini diikuti oleh 7 kelompok dari 7 Kabupaten/Kota di Provinsi NTB. Pemenang Lomba akan mendapat kesempatan untuk selanjutnya mewakili Provinsi NTB dalam Lomba Tanaman Obat Keluarga Tingkat Nasional. Pemenang Lomba Tanaman Obat Tradisional Tingkat Provinsi ini akan diumumkan bertepatan dengan Ulang Tahun Provinsi NTB pada tanggal 12 Desember 2018 nanti. Termasuk dalam Aspek penilaian lomba antara lain, administrasi, verifikasi dokumen, pemanfaatan obat di tingkat masyarakat, penilaian langsung ke rumah-rumah anggota dalam penanaman di pekarangan, serta faktor keterlibatan stakeholder dalam pembinaan masyarakat. Yang menarik Para peserta lomba melakukan peramuan obat-obatan tradisional yang sebagian besar berasal langsung dari dalam TWA Madapangga. Nilai tambah diberikan kepada kelompok tanaman obat keluarga MECI ANGI, karena selain untuk pemanfaatan obat tradisional, Kelompok binaan SKW III BKSDA NTB juga menjadikan tanaman obat sebagai salah satu atraksi wisata pendidik yaitu pengenalan jenis tumbuhan obat yang ada di dalam TWA.Madapangga.(Sumber : SKW III Bima BKSDA NTB) Sumber: BKSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

Summer Camp 2018 Resmi Ditutup

Ponorogo, 19 September 2018. Kegiatan eksplorasi keanekaragaman hayati Cagar Alam (CA) Gunung Picis dan CA. Gunung Sigogor, Summer Camp 2018, resmi ditutup di Dukuh Seketip, Pupus. Menurut Andik Sumarsono dalam laporannya, Summer Camp diikuti 47 peserta yang terbagi dalam 7 tim dan 3 camp. "Selama eksplorasi peserta menjumpai 3 ekor Elang Jawa serta berbagi jenis aves, mamalia, amphibi, reptilia, dan flora. Eksplorasi dilakukan lebih dari 50 grid," ujar pria yang menjabat Kepala Seksi Konservasi Wilayah ll. Sedangkan dalam sambutan Hartojo Kepala Bidang KSDA Wilayah l, banyak berterima kasih kepada panitia yang sudah bekerja dengan baik. Juga kepada peserta dan masyarakat Seketip atas kerjasamanya dalam kegiatan Summer Camp. "Semoga peserta mendapatkan pengalaman, ilmu yang baik selama kegiatan," imbuhnya. Hartojo berharap apa yang didapatkan bisa menjadi batu pijakan bagi pengelola kawasan untuk melangkah ke depan dan bisa menunjang sebagai khasanah yang baru bagi kedua cagar alam. "Semoga karya besar ini bermanfaat bagi umat manusia di kemudian hari, utamanya bagi masyarakat Desa Pupus dan Gondowido," ucap Hartojo. Usai penutupan dilakukan sesi foto dan makan bersama. Summer Camp, Joss. Sumber : Agus lrwanto, BBKSDA Jawa Timur
Baca Berita

BKSDA Bengkulu Turut Meriahkan Festival Tabut 2018

Bengkulu, 18 September 2018. Event pariwisata tahunan Provinsi Bengkulu “Festival Tabut” yang dihelat pada tanggal 10 – 20 September 2018 (1-10 Muharram) resmi dimulai. Festival ini telah masuk dalam Calendar of Event (CoE) 2018 Kementerian Pariwisata sebagai salah satu agenda 100 Wonderful Indonesia. Event ini merupakan tradisi budaya dan aset seni regional yang terus berkembang dan dipertahankan keberadaannya secara turun menurun dan setiap tahun pada awal bulan Islam Muharam. Festival itu sendiri diadakan untuk mengingat tragedi yang menimpa Hasan Husein (cucu nabi Muhammad), yang terjadi pada bulan Muharam di tahun 61 kalender Islam. Tradisi pengorganisasian festival ini dibawa ke Indonesia oleh orang India dari wilayah Punjab ke Bengkulu pada tahun 1336. Namun pasukan Gurkha Inggris juga membawa tradisi tersebut pada tahun 1685. Beberapa acara diselenggarakan selama festival Tabut antara lain: Pameran, Lomba musik dol dan tari kreasi tabut, Upacara manjara dan pagelaran ethnik budaya, rangkaian arak jari-jari dan festival ikan-ikan dan puncaknya adalah pelepasan tabut menuju karbala dan dilanjutkan dengan tabut tebuang. Sebagian besar kegiatan festival diadakan di dan sekitar Balai Raya Semarak Bengkulu, tempat tinggal gubernur, lapangan Polda Bengkulu. Memeriahkan festival ini BKSDA Bengkulu turut berpartisipasi dalam kegiatan pameran untuk mensosialisasikan dan mempromosikan kegiatan-kegiatan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya (KSDAHE) di Provinsi Bengkulu dan Lampung. Dan untuk memperkenalkan sejak dini tentang pentingnya KSDAHE, diadakan kuis dengan hadiah menarik bagi anak-anak pengunjung stand pameran BKSDA Bengkulu. Sedangkan untuk yang hobi selfie/wefie disediakan photobooth dengan latar belakang kawasan TWA Bukit Kaba dengan kawahnya, TWA Seblat dengan gajah sumateranya dan CA Danau Dusun Besar. Semoga upaya penyebaran informasi dan publikasi akan pentingnya konservasi alam di event ini dapat meningkatkan peran aktif dan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian alam. Sumber : Balai KSDA Bengkulu-Lampung
Baca Berita

Pembinaan Pegawai, Karopeg : Sebagai PNS Kita Harus Bersyukur dan Bersabar

Sofifi, 18 September 2018. Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) baru saja selesai melaksanakan pembinaan pegawai untuk ke dua kalinya dalam tahun ini. Kegiatan ini dilaksanakan mulai dari pukul 10:00 sampai dengan pukul 11:30 WIT kemarin (17/09) di ruang rapat kantor Balai di Sofifi. Pembinaan pegawai ini diberikan langsung oleh Kepala Biro Kepegawaian dan Organisasi Kementerian LHK, Abdul Hakim beserta Kepala Bagian Mutasi dan KasubBag Pemensiunan dan Pemberhentian Pegawai yang didampingi oleh Kepala Balai TNAL dan Kepala Balai BPDAS HL Ake Malamo selaku Korwil UPT Kementerian LHK Provinsi Maluku Utara. Peserta kegiatan adalah seluruh pegawai Balai TNAL beserta tenaga kontrak. Kepala Biro Kepegawaian (Karopeg) mengawali pemaparannya dengan menceritakan proses mendapatkan tunjangan kinerja pada Kementerian LHK. Pada saat proses rapat dengan Kementerian Keuangan, Tim Kementerian LHK berhasil meyakinkan bahwa Kementerian LHK layak diberikan tunjangan kinerja. “Dengan kenaikan tukin (tunjangan kinerja), kita juga harus menunjukkan kenaikan kinerja kita”, kata Karopeg. Selanjutnya, Kepala Biro Kepegawaian menjelaskan tugas dan kewajiban sebagai PNS dan beberapa program kepegawaian diantaranya E-Kinerja dan Merit Sistem. E-Kinerja wajib di isi oleh setiap pegawai sebagai indikator kinerja sebagai PNS, sedangkan Merit Sistem merupakan sebuah sistem untuk mengawal PNS atau ASN terkait prestasi kerja atau jenjang karir menuju struktural. Setelah pemaparan, peserta diberikan waktu untuk menanyakan seputar kepegawaian. Tidak sedikit peserta baik pejabat struktural maupun staff Balai TNAL yang bertanya. Beberapa pertanyaan berkaitan dengan ijin belajar dan alih jenjang jabatan untuk menaikkan grade pada tunjangan kinerja. Kepala Biro Kepegawaian berpesan bahwa semua kebijakan pemerintah dan tugas yang diberikan kepada kita (PNS) patut disyukuri dan tetap bersabar dalam bertugas walaupun ditempatkan didaerah terpencil. “Sebagai PNS, kita harus banyak bersyukur dan bersabar dalam melaksanakan tugas”, pesan Abdul Hakim. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra - Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata http://www.aketajawe.com
Baca Berita

Summer Camp di Sigogor Butuh Kesabaran Ekstra

Ponorogo, 17 September 2018. Para peserta Summer Camp lebih memilih untuk berkumpul bersama. Tak terbesit kelelahan sedikitpun di wajah mereka, yang tampak hanya gembira dan tertawa bersama. Candaan sering terselip diantara mereka saat menceritakan kegiatan hari itu. Beberapa hari bersama selama Summer Camp, membuat mereka semakin akrab dan lebih mengenal satu sama lainnya. Itu yang terlihat saat Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) ll, Andik Sumarsono mengunjungi Camp l di Blok Ngesep. Bersama Gunawan dari Yayasan Konservasi Elang Indonesia (YKEI) Andik ingin mengetahui keadaan peserta setelah 2 hari melakukan identifikasi flora dan fauna di Cagar Alam (CA) Gunung Sigogor, Ponorogo. Beberapa fauna berhasil diidentifikasi seperti Elang Jawa, Elang Ular Bido, Takur, Cucak, Kutilang, Pipit, Julang, Ayam Hutan Hijau, Bubut, Kijang, Landak, Ular Bandotan, Ular Cobra, Ular Luwuk, dan jejak yang di duga kucing besar. Namun beberapa jenis aves belum teridentifikasi, karena suara yang tidak jelas dan kerapatan tajuk yang membuat sulit proses identifikasi atau dokumentasikannya. Untuk tim flora Camp l, dijumpai pada grid 144 jenis Jurang menguasai vegetasi, dan hanya menyisakan sebuah Pohon Suren. Tim flora hanya mengidentifikasi tumbuhan jenis tiang atau pancang dan anggrek saja, karena keterbatasan waktu. Menurut Agus Sugianto, peserta Summer Camp dari Lumajang, kendala utama yang dirasakannya adalah faktor medan Sigogor. "Topografi yang rapat, dan kerapatan vegetasinya, memerlukan kesabaran yang ekstra", ujar pria berkumis ini. Gunawan menyarankan untuk pengamatan burung dilakukan di daerah peralihan hutan dengan daerah terbuka, sekitar pohon yang roboh, tempat yang memiliki paling tinggi dibandingkan daerah sekitarnya. Tak perlu ada dokumentasi untuk meyakinkan suatu jenis burung. "Jika sudah yakin, ya masukkan saja dalam data", imbuhnya. Saat berjalan bersama, ia sarankan agar tim aves sedikit menjauh dari tim yang lain. Ini untuk menghindari keriuhan yang disebabkan oleh proses identifikasi oleh tim lainnya. Dengan dijumpainya Elang Jawa di areal grid milik Camp l, membuat pembahasan range burung ini disekitar cagar alam menjadi lebih berkembang. Beberapa lokasi yang masih belum terpantau, perlu dilakukan monitoring kedepannya. Semakin malam, diskusi semakin menghangat terkait hasil temuan 2 hari eksplorasi ini. Sumber : Agus Irwanto, BBKSDA Jawa Timur
Baca Berita

Cucak Hijau, Murai Batu dan Perkutut Dilepasliarkan di Yonif 623

Banjarbaru, 19 September 2018. Dalam rangka menjaga keseimbangan ekosistem, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan (BKSDA Kalsel) kembali melepaskan burung hasil sitaan yang akan diselundupkan keluar Kalsel kembali ke alam. Setelah sebelumnya dilakukan pelepasliaran di Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam pada April 2018 yang lalu, kini pelepasliaran dilakukan di area hutan yang berada di Yonif 623 (17/09/2018). Selain untuk mengembalikan burung ke habitatnya, kegiatan ini juga bertujuan menjalin kemitraan dengan Yonif 623 dalam pelestarian satwa liar baik dilindungi maupun tidak, khususnya jenis burung. Kepala Balai KSDA Kalsel Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc menjelaskan bahwa pelepasan burung ini merupakan kelanjutan dari upaya penggagalan penyelundupan beberapa jenis burung di Pelabuhan Tri Sakti beberapa waktu yang lalu. Pelepasan burung sitaan kembali ke alam merupakan bentuk komitmen BKSDA Kalsel dalam menjaga dan melindungi satwa liar baik dilindungi maupun tidak dilindungi agar keberadaannya di alam tetap lestari. “Burung merupakan salah satu satwa yang berperan dalam meregenerasi hutan, karena burung membantu dalam menyebarkan biji-biji di dalam hutan sekaligus predator alami”, imbuhnya. Dalam kegiatan ini dilepaskan 3 jenis burung yaitu murai batu (Kittacincla malabarica) sebanyak 2 ekor, cucak hijau (Chloropsis spp) 6 ekor dan perkutut (Geopelia sp) sebanyak 23 ekor. Dari 3 jenis burung tersebut terdapat 2 jenis yang dilindungi yaitu murai batu dan cucak hijau. Pelepas-liaran ini didampingi oleh Mayor Infanteri Dedy Dwi Wijayanto selaku Wadanyonif 623/ BWU. Menurut Mayor Dedy, luas lahan yang dikelola kurang-lebih 25 Ha. Dengan adanya kegiatan pelepasan burung kembali ke habitatnya ini semoga dapat membantu dalam menjaga populasi burung di alam agar terjaga populasinya dan tidak mengalami kepunahan di habitat alaminya. Selain itu, bagi masyarakat yang ingin memanfaatkan burung baik untuk dipelihara maupun diperdagangkan, dihimbau agar tidak lagi mengambil dari alam, tetapi membeli dari para penangkar (pembudidaya) legal yang sudah terdaftar di BKSDA Kalsel. (jrz) Sumber : Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan
Baca Berita

5 Pegawai Taman Nasional Aketajawe Lolobata Diambil Sumpah

Sofifi, 19 September 2018. Hari ini sebanyak 16 pegawai lingkup UPT Kementerian LHK di Provinsi Maluku Utara telah diambil sumpah pegawainya di kantor Balai Pengelolaan DASHL Ake Malamo di Ternate. Lima diantaranya merupakan pegawai pada Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL). Selebihnya merupakan pegawai Balai Pengelolaan DASHL Ake Malamo. Acara berlangsung dengan khidmat. Sumpah tersebut diucapkan didepan Kepala Biro Kepegawaian dan Organisasi Kementerian LHK, Abdul Hakim dan disaksikan oleh Kepala Balai Pengelolaan DASHL Ake Malamo dan Kepala Balai TNAL. Masing-masing peserta sumpah pegawai didampingi oleh kerohanian, sesuai dengan agama dan kepercayaan yang dianut. Kepala Biro Kepegawaian dan Organisasi berpesan dalam acara tersebut bahwa, Pegawai Negeri Sipil (PNS) merupakan pemersatu bangsa dan tetap menjaga silsilah UUD 1945. Abdul Hakim juga meminta PNS yang telah diambil sumpahnya agar mengamalkan 10 nilai dasar PNS. “Saya merasa bangga menjadi seorang PNS yang telah diambil sumpah langsung oleh Kepala Biro Kepegawaian dan Organisasi KLHK dan saya akan bekerja dengan jujur, ikhlas dan bertanggung jawab”, kata Puji Waluyo, PEH pada Balai TNAL yang baru saja diambil sumpahnya. “Dan ini (sumpah pegawai) sangat memberikan motivasi yang lebih kepada saya”, pungkasnya. Sumber : Akhmad David Kurnia Putram, Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Belajar Budidaya Lebah Madu Bersama Suku Talang Mamak

Batang Gansal, 19 September 2018. Upaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat suku Tradisional Talang Mamak sebagai sasaran role model dalam mengembangkan lebah madu hutan maka dilakukan kegiatan peningkatan kapasitas kelompok masyarakat. Tepatnya pada tanggal 17 s.d. 19 September 2018 dilakukan kegiatan pelatihan Budidaya Lebah Madu Kelulut bertempat di Aula Serbaguna Kecamatan Batang Gansal. Mengundang masyarakat suku tradisional Talang Mamak binaan Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH) Tualang Sejahtera dan Jelemu Bengayauan dengan total sebanyak 45 orang. Peserta peningkatan kapasitas kelompok masyarakat merupakan masyarakat adat yang tinggal di zona tradisional TNBT terdiri dari 90% dari suku Talang Mamak dan 10% dari suku Melayu Tua. Acara dibuka secara resmi oleh Plt Camat Batang Gansal Fitrilison dan didampingi oleh Kepala Balai TNBT yang diwakili oleh KSPTN Wil.II Belilas. Narasumber berasal dari Balai Penelitian Teknologi Serat Tanaman Hutan (BPTSTH) Kuok, Bangkinang. Materi yang disampaikan meliputi Pengenalan lebah madu, dinamika kelompok, pengelolaan lebah madu yang berwawasan lestari, biologi dan perilaku lebah madu, tanaman pakan lebah, peralatan budidaya lebah madu, cara mendapatkan bibit, pemeriksaan koloni, manajemen koloni dan panen dan pasca panen. Sedangkan untuk meningkatkan keterampilan kelompok dilakukan praktek pembuatan gelodog dan pembuatan kotak budidaya. Mengingat sebagian besar peserta pelatihan tidak dapat membaca dan menulis maka materi yang banyak diberikan adalah video, dimana secara visual dan audio mendukung untuk mempermudah penyerapan materi. Suasana terasa hidup dan diskusi yang terbangun cukup aktif antara peserta dan narasumber. Suasana semakin hidup tatkala masing-masing kelompok kecil saling berlomba dalam membuat gelodog dan kotak budidaya. Door prize telah disediakan bagi kelompok yang paling cakap membuat gelodog dan kotak budidaya. Balai TNBT berharap setelah kegiatan pelatihan ini, diharapkan pengetahuan dan pemahaman kelompok masyarakat tradisional TNBT meningkat dalam hal budidaya lebah madu. Pada tahap selanjutnya akan diserahkan bantuan ekonomi berupa 1 paket sarana dan prasarana pendukung budidaya lebah madu, baik koloni maupun alat pengelolaan pasca panen. Dengan pengelolaan yang baik maka produksi madu dapat diperoleh secara cepat dan secara signifikan mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat tradisional suku Talang Mamak di TNBT. Petugas penyuluh akan mendampingi secara intensif agar tujuan akhir role model tercapai dan KTH. Tualang Sejahtera mampu menjadi pedoman bagi kelompok tani lainnya binaan TNBT. Role model Taman Nasional Bukit Tiga Puluh tahun 2018 adalah pengelolaan zona tradisional suku tradisional Talang Mamak. Adapun sasaran role model adalah suku Talang Mamak yang secara administratif berada di Dusun Tualang, Desa Siambul, Kecamatan Batang Gansal, Kabupaten Indragiri Hulu Riau. Komoditas Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang telah dikembangkan pada tahun 2017 adalah rotan Kelukup, dimana masyarakat suku tradisional Talang Mamak giat melakukan pembibitan dan penanaman rotan Kelukup di zona tradisional. Pada tahun 2018, potensi HHBK yang akan dikembangkan adalah lebah madu Kelulut (Trigona, sp) dimana dari hasil identifikasi potensi wilayah banyak ditemukan potensi lebah madu Kelulut di sekitaran pemukiman masyarakat dan memiliki peluang tinggi untuk dikembangkan. Madu merupakan salah satu produk HHBK unggulan yang memiliki banyak manfaat bagi manusia, diantaranya sebagai suplemen kesehatan, kecantikan, obat luka, dan sebagai bahan baku dalam industri makanan dan minuman. Sumber : Balai Taman Nasional Bukit Tigapuluh
Baca Berita

Pelibatan Masyarakat Dalam Upaya Pemulihan Ekosistem di Taman Nasional Sebangau

Di tahun 2018, Untuk mendukung kegiatan pemulihan ekosistem di kawasan konservasi, Balai Taman Nasional melaksanakan kegiatan pemulihan kawasan konservasi yang terdegradasi bersama masyarakat. Berdasarkan dokumen zonasi TN Sebangau tahun 2015 dijelaskan bahwa luas zona rehabilitasi adalah 53.286,96 ha atau 9,83% dari luas kawasan TN Sebangau. Pada tahun 2018 berdasarkan anggaran dari Balai TN Sebangau akan dilaksanakan penanaman di Resort Sebangau Hulu yang masuk ke dalam SPTN Wilayah I Palangka Raya. Luasan zona rehabilitasi untuk Resort Sebangau Hulu adalah sebesar 1.127,95 Ha, dan luasan yang telah ditanami sampai dengan akhir 2017 adalah 218,13. Resort Sebangau Hulu memiliki target rencana penanaman mulai tahun 2018 sd 2022 adalah seluas 175 Ha dan tahun 2018 akan dilaksanakan penanaman seluas 25 Ha. Dalam prosesnya, pemulihan ekosistem di TN Sebangau melibatkan partisipasi masyarakat yang berada di desa penyangga TN Sebangau mulai dari pembuatan persemaian, pengumpulan bibit alam, pengolahan media tanaman, dan penanaman bibit ke polybag. Bibit yang telah dipersiapkan oleh masyarakat untuk penanaman adalah sebanyak 4.000 bibit yang terdiri dari jenis pasir-pasir, jambu-jambu, papung, ehang, tutup kabali dan cempedak air yang mana jenis tersebut juga merupakan pakan orangutan. Seluruh bibit ini dirawat oleh masyarakat di lokasi persemaian yang terletak di Pos Sungai Koran. Tahapan selanjutnya yaitu penanaman Di Resort Sebangau Hulu akan dilaksanakan pada saat awal musim hujan. Sumber : Balai Taman Nasional Sebagau

Menampilkan 6.977–6.992 dari 11.140 publikasi