Senin, 20 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Optimalisasi Teknologi Informasi TN Matalawa dalam Pengelolaan Data Base Keanekaragaman Hayati

Waingapu 25 September 2018. Bertempat di Aula Kantor Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa), kembali Balai TN Matalawa menggelar Pelatihan Monitoring dan Pengelolaan Data Base Keanekaragaman hayati yang digelar selama 2 hari dari tanggal 22 s.d 23 September 2018. Pelatihan ini digelar dengan tujuan agar dapat membekali Sumber Daya Manusia (SDM) dalam pengelolaan kawasan konservasi khususnya dalam pengelolaan database keanekargaman hayati TN Matalawa dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi sehingga didapatkan keluaran informasi (output) yang cepat, akurat dan relevan. Adapun narasumber yang diundang adalah Swiss Winasis Bagus Prabowo S.Hut selaku founder dari aplikasi Burungnesia. Aplikasi ini sudah banyak digunakan dan dimanfaatkan oleh para pengamat burung dalam pengumpulan, penyimpanan, dan pengelola data lapangan di seluruh Indonesia. Tercatat kurang lebih ada 5000 anggota yang ikut serta dalam pengumpulan data dilapangan sejalan dengan manfaat dari aplikasi yang sudah dibuat oleh Swis TN Matalawa pun sudah membuat aplikasi terkait seluruh perdataan yang diinput secara realtime oleh petugas lapangan pada tingkat tapak.Saat ini terdapat 8 user dari aplikasi “Resmi” yang digunakan oleh TN Matalawa, 8 user ini merupakan perwakilan dari masing-masing resort. Direncanakan pada tahun depan aplikasi ini akan terus banyak mengalami penyempurnaan agar diperoleh kemudahan baik dalam penginputan dan pengolahan data lapangan. Dalam pelatihan ini juga TN Matalawa mendatangkan narasumber dari Sub Bagian Data Informasi Ditjen KSDAE. Pada kesempatan yang sama TN Matalawa bersama-sama dengan tim dari Sub Bagian Data Informasi Ditjen KSDAE membangun sitroom TN Matalawa dengan mengkolaborasikan data dari aplikasi Resmi yang sudah ada. Saat ini hampir kurang lebih enam puluh ribu data yang sudah tercatat di aplikasi Resmi TN Matalawa selama kurang lebih satu tahun setengah dalam pengumpulan data, baik itu sebaran potensi flora fauna, potensi air, gangguan kawasan dan lain sebagainya. Upaya peningkatan pengelolaan Kawasan Konservasi dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi diharapkan mampu menjawab tantangan pengelolaan kawasan konservasi secara cepat akurat di masa yang akan datang. Sumber : Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti
Baca Berita

Saka Wanabakti Kapuas Hulu Mengajak Masyarakat Bersih-Bersih Lingkungan

Putussibau, 24 September 2018. Saka Wanabakti Kapuas Hulu binaan Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun (Tana Bentarum) dan stakeholders memberikan contoh kepada masyarakat Kota Putussibau dan sekitarnya untuk peduli sampah. Hal ini didukung penuh oleh sekitar 214 peserta aksi dari Tana Bentarum, Ketua Mabi Saka, Ketua/Pamong/ Anggota Saka Wanabakti Kapuas Hulu, Saka Bhayangkara Kapuas Hulu, Saka Kalpataru, Saka Bhakti Husada, Kwarcab Putussibau, Kwarran Putussibau Selatan, Tim Reaksi Cepat Kapuas Hulu, SMAN 1 Putussibau, SMAN 2 Putussibau, SMA Muhammadiyah Putussibau, MAN 1 KH, SMK 1 Putussibau, SMK 2 Putussibau, SMA Kristen Setia, SMA Karya Budi dan Tagana Kapuas Hulu membersihkan sampah yang berserakan di Terminal Bus Putussibau, Pasar Merdeka, Pasar Pagi dan Taman Alun, Terminal Aliran Sungai Kapuas Putussibau, Kabupaten Kapuas Hulu, Minggu (23/9). Menurut Ketua Saka Wanabakti Cabang Kapuas Hulu, Ardi Andono, gerakan peduli sampah ini merupakan salah satu bagian dari rangkaian acara dalam rangka World Clean Up Day Tahun 2018 yang telah dimulai dari Jumat (21/9). Tujuan dari bersih-bersih sampah ini adalah supaya Kota Putussibau terlihat bersih, rapi dan sehat. "Kami berharap acara ini bisa dilakukan bukan hanya sekedar di kota Putussibau saja namun juga di kelurahan dan desa-desa," harapnya. Sedangkan menurut Majelis Pembimbing Saka Wanabakti, Kak Murlan, World Clean Up Day diharapkan mampu menyampaikan pesan agar semua orang lebih menghargai lingkungan. "Acaranya memang hanya satu hari. Tapi dampaknya kami harapkan bisa masuk ke hati banyak orang sehingga mendarah daging untuk menjaga lingkungan,". Menjaga lingkungan bisa dimulai dari diri sendiri, dengan tidak membuang sampah sembarangan, dan menghemat penggunaan sampah plastik. Sementara itu, Ketua Pamong Saka Kapuas Hulu, Mustarrudin, saat ini Saka Wanabakti Kapuas Hulu diakui sebagai salah satu Saka yang teraktif untuk wilayah Provinsi Kalimantan Barat. Sehingga saya berharap semakin banyak generasi muda Kapuas Hulu yang mampu berkiprah nyata dalam pengelolaan lingkungan serta menginspirasi masyarakat untuk bersama mengelola lingkungan melalui gerakan Saka Wanabakti. "Saya menikmati aktivitas bersih-bersih di Kota Putussibau ini. Namun di lain pihak, saya merasa sedih karena begitu ke sini, sampahnya cukup banyak dan terkumpul kurang lebih 200 kg, yang didominasi sampah platik," ujar Bambang Tim Reaksi Cepat Kapuas Hulu. Banyak pihak yang mendukung acara ini karena penuh aksi positif ini dan di harapakan masyarakat ikut peduli terhadap lingkungan, tidak ada lagi sampah berserakan. Sampah yang terkumpul akan diserahkan ke Dinas Lingkungan Hidup, Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman Kabupaten Kapuas Hulu. Mari kelola sampah kita dengan memulai gerakan Reduce, Reuse dan Recycle tutup “Kak Ardi” di hadapan Tim Media. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun Danau Sentarum
Baca Berita

Kepala Balai TN Bantimurung Bulusaraung Temui Kepala Balai Arkeologi Sulawesi Selatan bahas PKS

Bantimurung, 24 September 2018. Balai TN Bantimurung Bulusaraung melakukan koordinasi ke Balai Arkeologi Sulawesi Selatan (Balar Sulsel). Pertemuan ini berlangsung hangat di ruangan Kepala Balai Arkeologi Sulsel pada Senin (24/9/2018). Dua instansi lintas kementerian ini bertemu untuk membahas kemungkinan peluang kerjasama ke depannya. “Saya apresiasi inisitaif Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung menemui kami. Ini adalah langkah awal yang baik untuk menjalin kerjasama,” ujar Irfan Mahmud, Kepala Balai Arkeogi Sulawesi Selatan membuka percakapan hangat pagi itu. Pada pertemuan koordinasi itu, kedua kepala unit pelaksana teknis (UPT) ini bersepakat menjalain kerjasama. “Saya kira kita butuh kerjasama melalui perjanjian kerjasama (PKS) agar lebih terarah,” pungkas Yusak Mangetan Kepala Balai TN Bantimurung Bulusaraung. Balai Arkeologi Sulsel merupakan UPT dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Intansi ini berfokus di bidang penelitian arkeologi di wilayah kerjanya di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Menggali tinggalan budaya masa lampau. Saat ini Balai Arkeologi Sulsel dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sulsel telah menemukan hampir 300 situs gua prasejarah yang berada di wilayah Kawasan Karst Maros Pangkep. Sebagian di antaranya berada di dalam kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. “Saya kira kerjasama ini juga dibutuhkan agar dapat saling mengisi ke depannya,” tambah Irfan. Komunikasi dengan Balai Arkeologi Sulsel selama ini telah terjalin sejak tahun 2014 lalu kala peneliti arkeologi Australia, Adam Brumm menemukan bukti penghunian gua yang berumur 40.000 tahun yang lalu. Bukti berupa lukisan tangan itu ditemukan di Leang Timpuseng, Bantimurung, Maros. Begitu juga dengan hasil ekskavasi yang berlangsung di Leang Jarie beberapa bulan lalu, di mana peneliti arkeologi intansi yang berkantor di Sudiang, Makassar ini berhasil menemukan rangka manusia prasejarah. Kedua situs gua prasejah tersebut berada dalam kawasan TN Bantimurung Bulusaraung. Karennya tak salah jika kedua instansi ini bersepakat menjalin kerjasama yang lebih erat lagi. Kerjasama lintas kementerian tertuang sebagai salah satu poin dari sepuluh cara (baru) kelola kawasan konservasi oleh Ditjen KSDAE, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Panduan inovasi kerja di lingkup tata kelola kawasan konservasi tanah air. Sumber: Taufiq Ismail – PEH Balai TN Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

Tali Asih Untuk Keluarga Korban

Muara Bungo, 24 September 2018. SKW I BKSDA Jambi mendatangi kediaman Alm. sdr. Muslim bin Kadir (45thn) beralamat di Dusun Aur Gading Kecamatan Jujuhan Ilir Kab. Muara Bungo (21/09/2018). Beliau merupakan korban serangan Buaya yang meninggal beberapa hari yang lalu. Maksud kedatangan tim SKW I BKSDA Jambi ialah menyerahkan dana tali asih pada keluarga korban. Penyerahan dana tali asih disaksikan langsung oleh Kepala Desa, Ketua RT, dan para tetangga keluarga korban. Dana tali asih yang diberikan merupakan iuran sukarela lingkup pegawai BKSDA Jambi dan dari mitra BKSDA Jambi yaitu FFI. Setelah penyerahan tali asih, tim SKW I BKSDA Jambi melakukan sosialisasi kepada warga setempat tentang penanganan konflik satwa liar, terutama buaya yang dapat hidup di dua tempat. Warga menyambut baik sosialisasi yang dilakukan tim dan memperhatikan setiap arahan yang diberikan. Tim lalu memasang papan himbauan bersama Kepala Desa di tepi sungai dekat jembatan penghubung, dengan pertimbangan banyak masyarakat yang lewat dapat membacanya. Setelah melakukan pemasangan papan himbauan, tim pergi untuk mengambil sampel air sungai di tiga titik terpisah yaitu di hulu sungai, di tempat korban diserang oleh buaya, dan di hilir. Sampel nantinya akan dibawa ke laboratorium Unja atau kantor DLH Provinsi Jambi untuk mengetahui apakah air sungai Aur Gading sudah tercemar oleh limbah industri pabrik atau unsur kimia dari aktivitas PETI yang ada di desa tersebut. Kepala SKW I BKSDA Jambi, Udin Ikhwanuddin mengatakan “Kami telah menyambangi kediaman keluarga korban untuk memberikan bantuan materil, kami juga sudah lakukan sosialisasi terhadap warga setempat dan pemasangan papan himbauan. Untuk saat ini kami akan mengirim sampel air sungai setempat untuk mengetahui apakah sungai disitu sudah tercemar atau belum”. Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

TN Bromo dan Univ Brawijaya Kerja Bersama Pecahkan Sedimentasi dan Salvinia Ranupani

Malang, 24 September 2018. Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS) mengajak Universitas Brawijawa untuk menangani permasalahan sedimentasi dan Salvinia, Sabtu, 22 September 2018. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut hasil Seminar dan Lokakarya Pemulihan Ekosistem Ranupani pada tanggal 13 September 2018. Tim BBTNBTS bersama Tim Agroforestry dari Universitas Brawijaya (UB) bertolak ke Ranupani untuk melihat langsung penyebab permasalahan lingkungan dan danau Ranupani yang mengalami sedimentasi. Tim Agroforestry UB yang terdiri dari 5 (lima) orang yaitu Didik Suprayogo (Pakar Bio-Geotekstil), Syahrul Kurniawan (Dosen Kimia Tanah), Danny Dwi Saputra (Dosen Fisika Tanah), Prof. Meine van Noordwijk (ICRAF), Prof. Kurniatun Choiriyah (Guru Besar Fakultas Pertanian). Kepala Balai BTNBTS “John Kenedie” dalam kegiatan tersebut menyampaikan bahwa “TNBTS dan mitra serta volunteer berhasil membersihkan seluruh badan air dengan cara manual pada tahun 2012, namun kembali tertutup oleh gulma tersebut pada tahun 2017. Tahun 2018 TNBTS bersama mitra dan volunteer kembali berhasil membersihkan secara total badan air danau”. “Oleh karena itu, tim TNBTS dan tim Agrofrestry UB melakukan tinjauan bersama bagaimana penanganan masalah yang tepat untuk mencegah permasalahan tersebut kembali berulang. “ John Kenedie juga menambahkan “Kami akan melakukan penyusunan rencana penanganan permasalahan Ranupani pada level lanskap dan juga akan mengirimkan mahasiswa Universitas Brawijaya untuk melakukan penelitian lintas disiplin ilmu di Ranupani,” ujar Prof. Kurniatun. Adapun hasil fieldtrip tersebut adalah rencana aplikasi mulsa biogeotekstil pada lahan pertanian kentang untuk mengurangi run off dan erosi permukaan serta untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian. Mulsa tersebut dibuat dengan bahan-bahan yang terdapat di sekitar desa. Rencana aplikasi dilakukan dengan cara melakukan pendekatan kepada masyarakat melalui kelompok pengelola role model Briket Arang Desa Ranupani yang merupakan mitra TNBTS. Aplikasi biogeotekstil sudah pernah diujicobakan pada lahan pertanian kentang di DAS Rejoso dan dapat diterima dengan baik oleh petani. Selanjutnya akan dilakukan penyusunan rencana penanganan permasalahan Ranupani pada level lanskap oleh Prof. Kurniatun dan Prof. Meine. Telah diketahui sebelumnya bahwa Ranupani adalah danau yang berada dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dan merupakan cikal bakal dari keberadaan TNBTS. Ranupani-Ranu Regulo ditetapkan sebagai Cagar Alam oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1922. Permasalahan yang dihadapi saat ini adalah danau Ranupani mengalami sedimentasi akibat kegiatan pertanian kentang pada catchment area danau yang merupakan desa enclave Ranupani. Air danau juga tercemar oleh limbah pupuk dari lahan pertanian, akibatnya air danau mengalami eutrofikasi sehingga penuh dengan gulma invasif Salvinia molesta. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru
Baca Berita

Transplantasi dan Pembuatan Kebun Bibit Karang TN Kepulauan Togean

Lebiti, 23 September 2018. Balai Taman Nasional Kepulauan Togean (BTNKT) khususnya Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) wilayah II Lebiti melakukan kegiatan Transplantasi terumbu karang dan pembuatan kebun bibit karang di pulau Kadidiri tepatnya di depan reef Harmony Bay Cottage pada tanggal 18 September sampai dengan 23 September 2018. Hal ini dilakukan di lokasi dimaksud karena lokasi tersebut salah satu zona rehabilitasi di kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean khususnya di SPTN wilayah II Lebiti. Kegiatan ini juga merupakan salah satu bagian dari gerakan kampanye konservasi di tingkat tapak yang di lakukan Balai TNKT. Pada kegiatan transplantasi terumbu karang, SPTN Wilayah II Lebiti melakukan penanaman fragmen karang pada substrat dengan menggunakan metode spider. Yang mana dalam satu substrat terdapat 19 fragmen karang. Dalam kegiatan kali ini, dilakukan peletakan substrat di dasar laut sebnyak 70 substrat dengan jumlah bibit karang sebanyak 1330 bibit. Selain melakukan kegiatan Transplantasi Karang dilakukan juga kegiatan kebun bibit karang, kami meletakkan 50 media meja karang di dasar laut dimana setiap meja terdapat 50 bibit karang dengan jumlah total penanaman karang pada media meja sebanyak 2500 bibit karang. Balai TNKT melibatkan masyarakat dan wisatawan asing yang berada di sekitar lokasi penanaman bibit karang. Kebun bibit karang ini dimaksudkan agar pada saat nantinya dilakukan kegiatan transplantasi karang bibit yang akan diambil berasal dari kebun karang tersebut dan bukan berasal dari alam. Kegiatan transplantasi terumbu karang dan pembuatan kebun bibit karang merupakan salah satu kegiatan konservasi alam dalam merehabilitasi dan memulihkan kawasan yang mengalami kerusakan serta meningkatkan keutuhan koloni karang yang masih tersisa. Sumber : Balai Taman Nasional Kepulauan Togean
Baca Berita

Lutung Budeng, Si Hitam dari Gunung Ciremai yang Unik

Kuningan, 24 September 2018. Keanekaragaman hayati dan ekosistem di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) sangat beragam. Ada berbagai jenis satwa yang dapat dijumpai di TNGC, salah satunya adalah Lutung budeng. Satwa dari keluarga Cercopithecidae yang memiliki nama jenis “Trachypithecus auratus” ini memiliki rambut serta kulit yang berwarna hitam. Uniknya pada kelas umur anak, satwa ini memiliki rambut yang berwarna jingga keemasan. Di kawasan TNGC, Lutung budeng dapat dijumpai dari hutan dataran rendah sampai sub alpin. Yaitu pada ketinggian 1.000 - 2.400 meter diatas permukaan laut. Di tanah Pasundan satwa ini dikenal sebagai tokoh utama dalam legenda rakyat "Lutung kasarung". Keberadaannya sangat penting dalam menjaga kelestarian ekosistem hutan. Karena satwa ini berperan dalam penyebaran biji dan membantu penyerbukan tumbuhan di hutan. Salah satu obyek daya tarik wisata alam (ODTWA) Situ Sangiang yang berada di Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Majalengka menjadi tempat keberadaan satwa ini secara langsung. Lokasi ini merupakan salah satu tempat dimana pengunjung berkemungkinan besar bisa melihat keberadaan serta prilakunya di alam. [Teks & Foto © Robi Gumilang - BTNGC | 092018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Belajar Bareng Budidaya Lebah Madu

Batang Gansal, 24 September 2018. Pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh gencar dilakukan. Kali ini kelompok tani hutan "Tunas Harapan" yang merupakan salah satu kelompok binaan TNBT diajak untuk belajar cara budidaya lebah madu. Kelompok Tunas Harapan berada di Desa Rantau Langsat, Kec. Batang Gansal ini telah terbentuk pada Februari 2017 dengan jumlah anggota sebanyak 30 orang. Desa Rantau Langsat merupakan salah satu desa yang berada di Daerah Interaksi Utama (DIU) TNBT dan berbatasan langsung dengan kawasan. Sebagian besar masyarakatnya bermatapencaharian sebagai petani karet. Belajar bareng ini dikemas dalam bentuk pelatihan dimana komoditas Lebah madu Kelulut (Trigona,sp). Bertempat di posko serbaguna milik desa, acara ini dibuka oleh Kepala Desa Rantau Langsat Supno Hatiro dan turut hadir Kepala Balai TNBT Darmanto serta Kepala SPTN Wil 2 Belilas Lukman Hery P. Acara berlangsung selama 3 (tiga) hari dari 20 s.d 22 September 2018. Narasumber didatangkan langsung dari Balai Pengembangan Serat Kuok, Bangkinang dengan total materi sebanyak 30 JPL yang terdiri 23 JPL teori dan 7 sisanya materi Praktek. Materi yang disampaikan meliputi Dinamika kelompok, Pengenalan lebah madu, Pengelolaan lebah hutan berwawasan lestari, Biologi dan Perilaku lebah madu, Tanaman pakan lebah,Peralatan budidaya lebah madu, Cara mendapatkan bibit, Pemeriksaan koloni, Manajemen koloni, Panen dan Pasca Panen. Kelompok diajari cara membuat stup dan cara mendapatkan bibit yaitu memindahkan koloni Apis cerana masyarakat ke dalam stup yang telah dibuat sebelumnya. Materi yang disampaikan tidak hanya sebatas pengenalan kelulut (Trigona,sp) tapi juga terkait Lebah Apis cerana. Kelompok sangat antusias dan aktif mengikuti pelatihan, bagi peserta terbaik dan kelompok terbaik mendapatkan door prize dari panitia. Perwakilan peserta menyatakan sangat berterima kasih atas terlaksananya pelatihan ini dan berharap semoga kelompok dapat mempraktekkan ilmu yang telah diperoleh, begitu juga Kepala Desa yang hadir saat acara penutupan. Khusus untuk pelatihan ini, digunakan konsep bebas sampah plastik atas arahan Ibu Menteri LHK dimana masing-masing peserta mendapatkan Tumbler atau botol minum. Snack kue yang biasa disajikan dalam wadah kotak, kini cukup disajikan dalam wadah piring. Panitia tidak menyediakan air mineral gelas dan kue kotak seperti biasa. Agenda selanjutnya akan diserahkan bantuan ekonomi berupa 15 kotak topping dan bibit koloni Kelulut serta sarana prasarana pendukung budidaya kepada kelompok Tunas Harapan. Harapan dari pelaksanaan kegiatan adalah kelompok dapat mempraktekkan ilmu budidaya lebah madu tersebut dan dapat mengelola dengan baik bantuan ekonomi pendukung usaha budidaya lebah madu tersebut yang nantinya akan diserahterimakan. Output akhir kegiatan adalah meningkatkannya pendapatan dan kesejahteraan masyarakat di sekitar TNBT dan terwujudnya visi "Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera". Sumber : Balai Taman Nasional Bukit Tigapuluh
Baca Berita

Konsultasi Publik Penataan Blok SM Tasik Tanjung Padang

Pekanbaru, 24 September 2018. Dalam upaya peningkatan pengelolaan Suaka Margasatwa (SM) Tasik Tanjung padang yang berada di Kabupaten Kepulauan Meranti, Balai Besar KSDA Riau selaku Unit Pelaksana Teknis (UPT), pengelolaan kawasan tersebut, mengadakan konsultasi publik dokumen blok pengelolaan SM. Tasik Tanjung Padang di Hotel Grand Meranti Selanpanjang. Konsultasi Publik dihadiri oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Kepulauan Meranti Bapak Yulian Norwis, Asisten I dan II Pemerintah Daerah Kepulauan Meranti, Kepala BAPPEDA Kabupaten Meranti, Kepala Kantor Pertanahan Kab. Kepulauan Meranti, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kab. Kepulauan Meranti, Dinas PUPR Kab. Kepulauan Meranti, Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Kepulauan Meranti, Camat Putri Puyu Kepala Desa dan masyarakat sekitar kawasan SM. Tasik Tanjung Padang. Acara dibuka oleh Sekretaris Daerah Kabupatan Kepulauan Meranti Bapak Yulian Norwis dilanjutkan dengan pemaparan dan oembahasan dokumen blok. Tujuan secara umum diadakannya Konsultasi Publik adalah untuk meningkatkan legitimasi dan efektifitas penyusunan Dokuman Penataan Blok Suaka Margasatwa (SM) Tasik Tanjung Padang, dengan harapan Dokumen Blok yang dihasilkan memperoleh dukungan dari para stakeholder yang hadir pada acara konsultasi publik. Meningkatkan partisipasi masyarakat. Meningkatkan kualitas Dokuman Penataan Blok, Sedangkan tujuan secara khusus dari kegiatan Konsultasi Publik ini adalah untuk memperoleh masukan dan informasi tambahan secara eksternal dari instansi-instansi pemerintah terkait lainnya, dan masyarakat, berdasarkan masukan-masukan para pihak dalam konsultasi publik, untuk menjadi bahan perbaikan dokumen dan bahan konsultasi di tingkat pusat. Pembahasan dan diskusi selama Konsultasi Publik menghasilkan kesimpulan dan rekomendasi : Selanjutnya dijelaskan oleh Kabid Teknis KSDA sebagai narasumber, seteleh dilaksanakan konsultasi publik di daerah, Balai Besar KSDA Riau akan melanjutkan proses konsultasi di tingkat pusat agar memperoleh pengesahan dokumen Blok Pengelolaan Suaka Margasatwa Tasik Tanjung Padang, yang harapannya memperoleh dukungan dari semua pihak. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Polhut Sahabat Masyarakat

Kuningan, 24 September 2018. Polisi Kehutanan (Polhut) yang betugas di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang bertugas melakukan perlindungan dan pengamanan hutan. Seragam hijau-hijau adalah ciri yang melekat pada penampilan Polhut dalam tugasnya, warna hijau diambil dari warna hutan yang memang dominan memiliki warna itu. Polhut mengemban banyak tugas. Tapi secara garis besar ada tiga tugasnya. Pertama, "preemtif" yakni upaya awal untuk mencegah terjadinya tindak pidana kehutanan (tipihut). Misalnya sosialisasi, penyuluhan, pembinaan dan pendampingan masyarakat. Kedua, "preventif" yaitu upaya menutup kesempatan terjadinya tipihut. Contohnya patroli, penjagaan wilayah kerja dan identifikasi atau "groundcheck" gangguan keamanan hutan. Ketiga, "represif" adalah penegakan hukum saat terjadi tipihut seperti operasi, pengamanan barang bukti, penanggulangan konflik satwa liar serta penangkapan tersangka. Polhut memang dibentuk dengan pendidikan khusus dan pelatihan "kesamaptaan" yang setara dengan militer seperti tentara dan polisi. Namun karena organisasi tempat Polhut bertugas adalah non militer, maka fungsi sipil mesti lebih dikedepankan dalam menghadapi situasi dan kondisi di lapangan. "Membaur dalam kegiatan keseharian masyarakat adalah cara untuk mendapatkan eksistensi yang baik", ungkap Dadan, seorang Polhut yang sedang bercengkrama dengan pengrajin kuliner lokal pada hari kemarin (20/9). Memenuhi undangan hajatan, menengok yang berduka dan ikut ronda malam bersama warga desa merupakan beberapa kegiatan yang kerap dilakoni Polhut. Tak jarang mereka pun menginap di rumah warga. "Beberapa Polhut kerap berbagi cerita tentang gunung Ciremai di rumah saya pada malam hari sambil menikmati makanan ringan", seloroh Rahmat, warga desa Singkup, Pasawahan, Kuningan, Jawa Barat. Mari kita galang persahabatan yang baik untuk membuka jalan menuju "leuweung hejo, rahayat ngejo" (hutan lestari, masyarakat sejahtera) di gunung Ciremai. Meskipun terjalin keakraban antara masyarakat dan Polhut, tak lantas membuat samar penegakan hukum sebab tiap tipihut pasti ditindak sesuai ketentuan yang berlaku. Pendekatan tugas keseharian Polhut di TNGC sepertinya agak bergeser dan berbeda dengan di Taman Nasional lainnya. Tidak terlihat yang berpatroli dengan selalu menenteng senjata. Simak terus ya beritanya disini [teks & foto © Dadan-BTNGC | 092018]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Membincang Cycloop dalam Dialog Interaktif di RRI Pro 1 Jayapura

Jayapura, 23 September 2018. BBKSDA Papua bersama tokoh adat dan komunitas berkesempatan melangsungkan dialog interaktif di RRI Pro 1 Jayapura. Dialog mengusung tema Bersama Kita Selamatkan Cycloop, berlangsung Jumat pagi (21/9), sekitar satu jam dipandu penyiar Lina Umasugi. Mafhum di kalangan masyarakat, bahwa kerusakan alam terparah adalah karena ulah manusia. Contoh paling dekat dengan masyarakat Jayapura adalah Cagar Alam Pegunungan Cycloop. Berdasarkan data patroli tim resort, penyebab kerusakan terbanyak adalah pembukaan lahan untuk kebun masyarakat dan pembalakan liar. Selain itu, ada pula masyarakat yang mendirikan bivak di dalam kawasan. Hal ini mengakibatkan terjadinya degradasi kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop. Kelompok masyarakat yang tidak memiliki keterampilan bersaing di Kota Jayapura, pada akhirnya memilih mengandalkan keterampilan tradisional yang diwariskan nenek moyang, yaitu membuka kebun. Persoalan menjadi rumit ketika mereka tidak memiliki lahan. Takada jalan lain dalam hal ini, kecuali menjadikan kawasan Cycloop sebagai sasaran. Kepala Balai Besar KSDA Papua, Ir. Timbul Batubara, M.Si. menyampaikan, “Untuk saat ini kami lebih mengedepankan tindakan preemtif dan preventif. Tetapi tindakan hukum tidak dapat terhindarkan apabila terjadi pelanggaran hukum yang tertangkap tangan. Tentunya tindakan-tindakan yang diambil didahului dengan koordinasi bersama stakeholder penegak hukum.” ungkap Timbul Batubara. Beliau menambahkan, akan lebih baik lagi apabila pemerintah membuka ruang-ruang lahan yang tersedia dan legal untuk ruang kelola hidup masyarakat. Lina Umasugi kemudian menelisik peran Dewan Adat Suku (DAS) dalam hal kesejahteraan masyarakat yang selama ini merambah Cycloop. Pertanyaan ia tujukan kepada Ondoafi Daniel Toto selaku ketua Dewan Adat Suku Imbi Numbay. “Bagaimana Dewan Adat Suku mendukung pemerintah untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat sehingga perambahan tidak terjadi, atau paling tidak bisa diminimalisir?” Daniel Toto memaparkan, peran Dewan Adat Suku telah diwujudkan melalui MoU dengan pemerintah pada tahun 2016. “Sekarang kami membutuhkan komitmen semua stakeholder untuk menjaga Cycloop. Kalau berbicara menyejahterakan masyarakat perambah oleh Dewan Adat Suku, tidak mungkin. Karena itu adalah tugas pemerintah. Mengapa orang-orang harus merambah, karena mereka lapar. Di sinilah intervensi pemerintah untuk memperhatikannya,” kata Daniel Toto. Selain membicarakan masalah-masalah yang terjadi di dalam kawasan, dialog tersebut juga membincang persiapan Festival Cycloop, yang puncaknya akan dilaksanakan pada November mendatang. Diharapkan melalui Festival Cycloop masyarakat semakin memiliki kesadaran akan pentingnya menjaga kawasan cagar alam. Karena Cycloop adalah mama, yang menyediakan berbagai keperluan mendasar bagi kehidupan masyarakat Jayapura, terutama sebagai penyedia sumber-sumber air bersih. (Dzikry) Sumber : Balai Besar KSDA Papua
Baca Berita

Diving for Conservation TN Bali Barat, Bukan Sekedar Menyelam Biasa

Labuan Lalang, 22 September 2018. Balai Taman Nasional Bali Barat (TNBB) menyelenggarakan kegiatan Diving for Conservation yang berlokasi di Pulau Menjangan. Kegiatan ini merupakan agenda tahunan kali ketiga yang dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) dan World Clean Up Day yang jatuh setiap tanggal 15 September. Selain untuk promosi wisata alam, diperkenalkan juga kegiatan konservasi yang dapat melibatkan masyarakat dalam pengelolaan ekosistem perairan antara lain : Monitoring Terumbu Karang, Underwater Clean up "Dive for trash", fotografi bawah air, pengendalian hama terumbu karang " Acanthaster plancii", kampanye konservasi, transplantasi terumbu karang, dan adopsi mooring buoy. Acara dibuka Kepala Balai TNBB, Drh. Agus Ngurah Krisna K, M.Si dilanjutkan dengan adopsi mouring buoy, launching rumah pilah sampah, dan kampanye konservasi oleh Kader Konservasi TNBB. Adopsi mooring buoy secara simbolis dilakukan dengan penyerahan bola pelampung dari perwakilan Dive Center Tanjung Alam kepada Kepala Balai. Untuk rumah pilah, secara simbolis diserahkan sampah plastik hasil pilahan dari ketua badan pengelola (BP) Labuan Lalang dan ketua Friends of Menjangan kepada Kepala Balai TNBB yang didampingi oleh Ketua Pokja Role Model Pengendalian Sampah Plastik, Wiryawan, S.Hut, M.Ec.Dev, dan Kepala SPTN Wilayah III labuan Lalang, Hendra Gunawan, SP, MP. Dalam sambutannya, Agus Ngurah Krisna menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dan para pihak dalam pengelolaan taman nasional, khususnya Pulau Menjangan sebagai destinasi unggulan di Bali bagian barat. Selain itu, Agus juga menyatakan bahwa pemanfaatan potensi keindahan bawah laut Pulau Menjangan dalam kegiatan wisata alam merupakan salah satu upaya untuk memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Sebagai penutup, Agus mengajak para pihak dan masyarakat untuk terus menjaga dan melindungi segala potensi yang ada di Pulau Menjangan demi kehidupan generasi masa depan. Diving for Conservation kali ini diikuti oleh 120 peserta dari berbagai instansi dan komunitas seperti : Surabaya diving, kelompok sadar wisata (Pokdarwis), dive operator, TNI/Polri, LSM, instansi pemerintah, swasta, himpunan profesi mahasiswa (Unpad, UGM, Unud, Undhiksa), relawan, dan partisipan lain. Peserta yang dikelompokan sesuai minat dan keterampilannya, dari pelabuhan Labuan Lalang langsung menuju lokasi kegiatan masing masing. Hasil kegiatannya, underwater clean up kali ini diperoleh 3 kantong sampah dengan berat 16 Kg. Untuk pengendalian hama terumbu karang, mahkota duri yang berhasil ditangkap adalah 580 individu yang diambil dari 4 area penyelaman di sekeliling perairan Pulau Menjangan. Sementara untuk monitoring terumbu karang dilakukan di 8 titik pengamatan di sekeliling Pulau Menjangan dan Teluk Brumbun. Masing-masing lokasi diambil dua titik pada kedalaman 5 dan 10 meter dengan dua kali ulangan. Sementara itu sambil menunggu peserta berkegiatan di bawah air, sepuluh orang kader konservasi TNBB melakukan kampanye konservasi terumbu karang dengan mendatangi dan menyampaikan pesan konservasi kepada kelompok pengunjung di area Pos 1 Pulau Menjangan. Setelah semua rangkaian kegiatan terlaksana, acara ditutup dengan pembagian doorprize, penyerahan sertifikat kepada perwakilan peserta, dan sambutan penutup oleh Kepala Balai TNBB serta diakhiri dengan sesi foto bersama. Sebelum meninggalkan Pulau Menjangan, Ketut Danu perwakilan Biorock Indonesia, organisasi non pemerintah yang bergerak dalam konservasi terumbu karang, mengungkapkan apresiasinya atas terlaksananya kegiatan diving for conservation. Selanjutnya, Danu menyatakan dalam waktu dekat akan mengirim volunteer untuk membantu Balai TNBB dalam pengendalian hama karang yang merupakan ancaman utama terhadap kerusakan terumbu karang di perairan Pulau Menjangan. Sumber : Balai Taman Nasional Bali Barat
Baca Berita

Menuju Ekowisata Curik Bali Berbasis Masyarakat

Gilimanuk, 21 September 2018. Upaya kolaborasi pelestarian Curik Bali terus dilakukan beberapa pihak salah satunya adalah PT PLN (Persero) Distribusi Bali Areal Bali Utara dengan TN Bali Barat yang terjalin dalam mekanisme perjanjian kerja sama (PKS). Dengan memanfaatkan Corporate Social Responsibility (CSR), PT PLN memberikan bantuan 14 (empat belas) ekor indukan Curik Bali kepada Kelompok Masyarakat Rumah Burung Bali Jaya Lestari Gilimanuk yang tergabung dalam Forum Komunikasi Kelompok Swadaya Masyarakat Gilimanuk (FKK SMG). Kelompok ini memiliki tekad dalam mendukung terwujudnya ekowisata Curik Bali berbasis masyarakat, terutama bagi daerah penyangga TN Bali Barat khususnya di Kelurahan Gilimanuk. Manager PLN Bali Utara, I Gusti Made Aditya San Adinatha, dalam sambutannya menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada TN Bali Barat dalam memfasilitasi masyarakat untuk mengembangkan ekowisata berbasis masyarakat yang menjadikan icon Curik Bali sebagai produk utama ekowisata tersebut. "Kami berharap kedepan tidak hanya Kelurahan Gilimanuk yang mengembangkan ekowisata Curik Bali berbasis masyarakat namun banyak lagi desa yang lain" imbuhnya. Pada kesempatan ini Kepala Balai TN Bali Barat Drh. Agus Ngurah Krisna K, M.Si menyampaikan ucapan terimakasih atas partisipasi PT PLN ikut serta dalam pengembangan ekowisata Curik Bali berbasis masyarakat, dimana program ini merupakan salah satu Role Model TN Bali Barat yang diamanatkan oleh Dirjen KSDAE. Pendampingan untuk pengembangan ekowisata ke depan terus ditingkatkan oleh TN Bali Barat. Harapan dari kerjasama ini nantinya adalah terwujudnya masyarakat yang lebih sejahtera dan Curik Bali berkembang dengan baik di habitatnya tanpa gangguan dari masyarakat sekitar. Empat belas ekor indukan Curik Bali diserahkan secara simbolis kepada Ketua Kelompok Masyarakat Rumah Burung Bali Jaya Lestari yang diwakili ketuanya Muhammad Ikrom dan disaksikan oleh Balai KSDA Bali, Lurah Gilimanuk, I Gede Wariyana, dan Ali Purwanto, S.Hut, M.Sc selaku Kepala SPTN I Jembrana, TNBB. Kelompok ini merupakan Binaan TN Bali Barat. Ali Purwanto mengisahkan tentang pembentukan FKK SMG. Begitu sulit menyamakan persepsi masyarakat yang berbeda pandangan tersebut. Namun berkat kerja keras dan usaha dari para fasilitator TNBB akhirnya bisa terwujud. Untuk bisa bersinergi dengan kelompok lainya di Kelurahan Gilimanuk, kelompok burung bergabung dengan forum FKK SMG. Kedepan kami berharap bantuan 14 (empat belas) ekor Curik Bali ini benar-benar dapat dimanfaatkan dan dikembangkan untuk menunjang terwujudnya ekowisata Curik Bali berbasis masyarakat, menuju masyarakat sejahtera kawasan konservasi lestari. Taman Nasional Bali Barat (TNBB) selama ini dikenal dengan panorama alam yang indah, hamparan terumbu karang di Pulau Menjangan yang telah terkenal mendunia menjadikan puluhan ribu pasang mata ingin melihatnya setiap tahun. Dibalik keindahan alam tersebut, terdapat hidupan liar asli Pulau Dewata yaitu Curik Bali. Kecantikan Curik Bali mulai dilirik wisatawan untuk mengenal lebih dekat dengan satwa langka endemik pulau dewata ini. Melalui beberapa upaya pelestarian, kini kepakan sayap indah Curik Bali semakin banyak berterbangan di belantara TN Bali Barat. Sumber : Balai Taman Nasional Bali Barat
Baca Berita

Kelompok Tani "AULIMA POTE" Terbentuk

Weda, 20 September 2018. Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) bersama Masyarakat Desa Kobe Kecamatan Weda Tengah Kabupaten Halmahera Tengah adakan pertemuan pada 20 September 2018 di Balai pertemuan Desa Kobe, yang dihadiri perwakilan dari masyarakat, tokoh Agama, tokoh adat, tokoh pemuda, perangkat Desa dan Kepala Desa. Pertemuan ini untuk memetakan potensi sumber daya alam yang ada di Desa Kobe Gunung dan pengelolaanya serta menampung aspirasi masyarakat. Kegiatan pembentukan Kelompok masyarakat ini di pandu Penyuluh TNAL Arif Setiawan, S.Hut telah memotret beberapa Potensi Sumber Daya Alam (SDA) yang dapat dikembangkan : antara lain pertanian, pengolahan hasil pertanian, perkebunan, perikanan, kerajinan, wisata, dan peternakan. Untuk menindaklanjuti dari keputusan itu maka dibentuklah kelompok tani binaan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata dengan nama “Aulima Pote”. Acara ini di buka Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) I Weda Raduan, SH mewakili Kepala Balai TN Aketajawe Lolobata yang menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada masyarakat Desa dan Kepala Desa serta jajaranya, dimana telah bersedia menerima kehadiran Balai TNAL di tengah-tengah warga masyarakat, dan berharap ini merupakan awal permulaan yang baik dalam membangun komunikasi dengan masyarakat. Kepala Desa Kobe Mikles Kadari juga mengucapkan terima kasih kepada Tim Balai TNAL yang telah melakukan kegiatan pembentukan kelompok masyarakat di desanya, dan berharap warga desa yang ikut sebagai peserta dapat memahami dan belajar tentang apa-apa yang disampaikan Tim Balai TNAL. Harapan dari dari semua pihak, dengan terlaksananya kegiatan ini menjadi titik awal berakhirnya konflik tenurial yang terjadi antara Desa Kobe dengan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata yang sudah berlangsung lama sejak tahun 2009. Sumber: Agung Setiya Nugraha - Calon PEH Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Kemah Konservasi BBTN Kerinci Seblat

Sangir, 22 September 2018. Bidang Pengelolaan Taman Nasional (BPTN) Wilayah II Sumatera Barat bersama Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah IV Sangir Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BBTNKS) mengadakan kegiatan kemah konservasi (22-23/9). Kegiatan ini dilaksanakan di camping ground, zona pemanfaatan Danau Bukit Bontak, Sangir-Kabupaten Solok Selatan. Kemah konservasi ini diikuti oleh 36 peserta yang berasal dari beberapa siswa SMA dan SMK yang ada di Solok Selatan serta kelompok mahasiswa pecinta alam dari kampus ATIP Padang. Kegiatan kemah konservasi ini secara resmi dibuka oleh Kepala BPTN Wilayah II yang diwakili Kepala SPTN Wilayah IV. Dilakukannya kegiatan kemah konservasi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan kesadaran generasi muda terhadap nilai-nilai konservasi serta meningkatkan kepedulian mereka terhadap lingkungan sekitarnya. Sumber & Foto : Hendra Yadhi - staf Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II dan Humas Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat
Baca Berita

Kemah Saka Wanabakti Cabang Kapuas Hulu dalam Rangka World Clean Up Day Tahun 2018

Putussibau, 22 September 2018. Dalam Rangka World Clean Up Day Tahun 2018, Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (Tana Bentarum) menyelenggarakan berbagai kegiatan yang dikemas dalam Kegiatan Kemah Saka Wana Bakti Cabang Kapuas Hulu bertempat di bumi perkemahan Arboretum Tana Bentarum pada tanggal 21 – 23 September 2018. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan korsa/kebersamaan, kemandirian dan menumbuh kembangkan kepedulian terhadap lingkungan kepada para anggota Saka Wana Bakti Cabang Kapuas Hulu pada khusunya generasi muda pada umumnya. Peserta dari kemah ini adalah anggota Saka Wana Bakti dari Putussibau 60 orang, Kecamatan Embaloh Hulu 5 orang dan Kecamatan Batang Lupar 6 orang serta Melibatkan pendamping dari sekolah masing-masing. Diharapkan dengan melibatkan berbagai sekolah dapat semakin memperluas jaringan dan mampu menyebarkan menularkan konservasi kepada teman-temannya. Dalam kemah bakti ini, kegiatannya dibagi menjadi dua tema besar, yaitu penghijauan di 4 sekolah tingkat SMU sebanyak 200 tanaman, bakti lingkungan dan bakti sosial atau World Clean Up Day. Kegiatan bakti lingkungan dilakukan dengan membersihkan sungai, pasar sayur dan taman kota Putussibau. Selain berbagai kegiatan tersebut, tentunya juga ada materi yang tak kalah pentingnya mengenai 4 Krida dari Saka Wana Bakti yaitu Tata Wana, Bina Wana, Guna Wana dan Reksa Wana, Giri Wana Rally, serta pengenalan keanekaragaman hayati dan akan ditutup dengan pentas seni pada malam terakhir kegiatan. Kepala Bidang Teknis Konservasi Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum selaku Ketua Saka Wana Bakti Cabang Kapuas Hulu, Ardi Andono, S. TP., M. Sc, dalam sambutan dan pembukaannya menyatakan bahwa diharapkan dalam kegiatan ini para peserta dapat memberikan kontribusi terhadap lingkungan di sekitarnya dan menikmati seluruh rangkaian kegiatan, sehingga ilmu yang diperoleh dapat ditularkan kepada teman lainnya. Keceriaan terpancar dari setiap peserta sejak pendirian tenda dan pada upacara pembukaan. Mereka sangat antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dari awal hingga akhir. Kegembiraan juga terlihat karena mereka mendapatkan saudara-saudara baru dari berbagai sekolah. Kegiatan ini sangat diapresiasi oleh berbagai pihak,baik dari sekolah asal peserta dan lokasi tempat kegiatan. Selain itu kegiatan ini mendapat masukan dan dukungan dari Bappeda Kabupaten Kapuas Hulu dan KPH Kapuas Hulu Timur. Mereka berharap kegiatan seperti ini dapat sering dilaksanakan dan melibatkan lebih banyak peserta, tentunya juga mempertimbangkan sumber daya yang ada. Namun yang paling penting, kepedulian terhadap lingkungan dapat tersebar luas sesuai dengan semangat peringatan World Clean Up Day Tahun 2018. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum

Menampilkan 6.945–6.960 dari 11.140 publikasi