Senin, 20 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

TN Aketajawe Lolobata Turut Memeriahkan Senam Sehat Malut

Sofifi, 28 September 2018. “Di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat”, ungkapan itu yang disampaikan Wakil Gubernur Maluku Utara (Malut), M. Natsir Thaib saat diwawancarai oleh tim humas Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) setelah kegiatan (26/09). Wakil Gubernur juga tak segan-segan untuk ikut senam bersama para peserta. Dalam rangka memperingati hari ulang tahun Provinsi Maluku Utara ke 19, provinsi yang terkenal dengan rempah-rempah dan wisata pantai yang indah ini menyelenggarakan kegiatan senam bersama dan pemeriksaan kesehata secara gratis. Kegiatan yang mengeluarkan banyak keringat ini dilaksanakan di halaman upacara kantor Gubernur Malut, Gosale Puncak bersama seluruh SKPD, TNI, Polri dan instansi vertical seperti BPTP Malut, Kementerian Agama dan tentu saja Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Acara ini terselenggara atas kerjasama antara Balitbangda, RSU Sofifi, dan Biro Umum Provinsi Maluku Utara. Kepala Balai TNAL memerintahkan langsung agar seluruh pegawai dan tenaga kontrak hadir dalam acara tersebut. “Teman-teman, kita harus mengikuti dan mendukung acara ini (senam bersama)”, perintah Kepala Balai TNAL kepada seluruh staf dalam grup WhatsApp. Senam yang di pandu oleh beberapa instruktur ini mengajak peserta yang memenuhi lapangan upacara untuk meloncat dan berteriak dengan semangat. “Whooooiiiii……” teriakan para peserta senam. Tak lupa, mendekati akhir senam, instruktur juga mengajak goyang poco-poco dan goyang Tobelo yang diikuti oleh seluruh peserta senam bersama dengan Wakil Gubernur Maluku Utara. Setelah acara senam berakhir, peserta dipersilahkan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara gratis, diantaranya pemeriksaan tensi darah, gula darah, kolesterol dan pemeriksaan asam urat. “Saya mengapresiasi dan berterima kasih kepada Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata yang telah mengikuti dan meliput acara ini”, kata M. Natsir Thaib. Kepala Balitbangda, sebagai ketua panitia juga menyampaikan hal yang sama saat dikonfirmasi melalui pesan singkat. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra - Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Kembali BKSDA Kalbar dan Mitra Melepasliarkan Orangutan dan Kukang

Ketapang, 28 September 2018. Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang bersama Yayasan IAR Indonesia (YIARI) kembali melepasliarkan satu individu orangutan dan tiga ekor kukang di Hutan Lindung Gunung Tayap Pangkalan Teluk, Kecamatan Nanga Tayap Kabupaten Ketapang (26/9). Orangutan bernama Bunga merupakan peliharaan masyarakat di Desa Kampung Arab yang diserahkan kepada BKSDA Kalbar tanggal 8 November 2009. Setelah dipelihara selama tiga bulan, pemilik kemudian menyerahkannya kepada pihak BKSDA Kalbar dan dititiprawatkan di YIARI. Tiga ekor kukang bernama Acong, Yulia dan Yuyun juga merupakan hasil serahan masyarakat kepada pihak BKSDA Kalbar. Ketiganya diserahkan pada tahun 2017 berasal dari Kota Pontianak dan Temajuk Kabupaten Sambas. Pelepasliaran saat dinyatakan siap oleh tim medis setelah melalui serangkaian proses rehabilitasi, untuk mengembalikan sifat liar dan kemampuan bertahan dihabitat aslinya merupakan salah satu upaya yang hingga saat ini dilakukan oleh BKSDA Kalbar bekerjasama dengan mitra. Banyaknya masyarakat yang masih memburu dan memelihara satwa terutama yang dilindungi menjadi pe-er tersendiri bagi instansi terkait. Kesadaran masyarakat terhadap konservasi perlu terus ditingkatkan, jangan sampai alasan ekonomi membuat hak satwa untuk hidup di habitatnya menjadi hilang karenanya. "Untuk yang ke sekian kali pelepasliaran satwa liar dilakukan. Layak disyukuri dan diapresiasi. Tapi kerja konservasi belum selesai. Kerja-kerja konservasi akan terus dilakukan hingga saatnya nanti tidak perlu lagi ada pelepasliaran satwa ke habitatnya karena semua satwa sudah ada di tempatnya dan hidup sebagaimana mestinya mereka hidup", demikian disampaikan Kepala Balai KSDA Kalbar, Sadtata Noor Adirahmanta, S.Hut, MT. Sumber : Tim WRU SKW I Ketapang, Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Bincang Hangat Samakan Persepsi di Studio 121

Pontianak, 27 September 2018. Balai KSDA Kalimantan Barat mengadakan bincang hangat dan santai guna menyamakan persepsi antar instansi di wilayah Kalimantan. Diskusi diikuti oleh Polda Kalbar, TNI, Balai Karantina Pertanian, Bea Cukai wilayah Kalbar, Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Wilayah Kalimantan, Dinas Pangan Peternakan & Kesehatan Hewan Propinsi Kalimantan Barat, dan Perusahaan dibidang pengiriman barang terkait dengan keluarnya PermenLHK No. 92 Tahun 2018 mengenai perubahan PermenLHK No. 20 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Persamaan persepsi guna memberi solusi bagi masyarakat dalam memanfaatkan tumbuhan dan satwa yang dimiliki sebelum keluarnya PermenLHK No. 20 Tahun 2018. Peran seluruh instansi terkait untuk bergerak cepat baik itu melakukan sosialisasi, dan koordinasi dalam mencari solusi dalam melihat permasalahan ini. Sumber : Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Asyiknya Kemping Di Bumi Perkemahan Leles

Kuningan, 28 September 2018. Sungai kecil mengalir deras, airnya begitu jernih. Deretan pepohonan Pinus diterpa angin seakan melambaikan tajuknya. Hening, hanya ada suara serangga yang saling bersahutan. Letaknya yang diapit bukit dan pesawahan membuat suasana pengunjung "tiis ceuli, herang mata" (tentram dan damai, red). Itulah imanijasi yang terpampang sebagai wajah Bumi Perkemahan (buper) Leles. Buper Leles kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai dapat dijangkau dari desa Padaherang, Rajagaluh, Majalengka. Buper Leles dikelola masyarakat setempat eks penggarap hutan secara swadaya. Fasilitas destinasi wisata alam ini sudah lengkap. Kantin, "gazebo", mushola, parkir, listrik "microhidro" dan bahkan ruang pertemuan pun tersedia. Tak hanya itu, buper Leles juga memiliki atraksi air terjun atau curug. Jadi, Leles sangat cocok untuk acara kemah Pramuka, "family camping" dan kemping ceria bagi siapapun. Bayangkan, pada malam hari saat langit cerah. Pengunjung bisa mengintip taburan bintang di balik tajuk Pinus. Di pagi hari yang sejuk, pengunjung dapat menceburkan diri di sungai atau bermain air di curug. Soal kapasitas, buper Leles sanggup menampung 2000 pengunjung. Jadi, bagi rombongan Pramuka tak perlu khawatir tak kebagian tempat. Harga tiketnya mahal? Jelas tidak. Pengunjung hanya perlu merogoh kocek sama dengan semangkuk Baso untuk menikmati fasilitas di buper Leles. Tak melulu soal wisata, pengelola buper Leles juga menyelenggarakan pendidikan konservasi seperti penanaman pohon dan pengamatan satwa liar. Buper Leles patut dijajal oleh sobat Ciremai yang memiliki hobi kemping dan cinta alam [teks & foto © Gandi - BTNGC | 092018]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Api Hampir Lalap Besowo

Kediri, 28 September 2018. Sore itu (27/9) sekitar pukul 15.30, Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) l beserta staf segera meluncur ke Cagar Alam (CA) Besowo Gadungan. Supardi, Masyarakat Mitra Polhut dari dusun Besowo Timur mengabarkan adanya kebakaran di sebelah barat cagar alam. Letaknya hanya berjarak 200 meter saja dari pal 17, tepatnya di hutan lindung petak 144b dengan tegakan Pinus dan tanaman kopi. Api dengan cepat merambat hingga membakar 2,5 hektar kawasan hutan lindung karena ketersediaan serasah dan kayu kering yang melimpah. Jenis tumbuhan yang terbakar meliputi pinus, kopi, dan tumbuhan bawah. “Awalnya, saya membuat sekat bakar dibantu 2 kerabat saya, menggunakan peralatan seadanya sambil menunggu tim dari SKW I tiba”, ujar Sukardi. Saat tim tiba sekitar pukul 17.00, langsung melakukan pemadaman api yang masih melalap pohon pinus. Beberapa anggota tim yang lain mengangkut air dari dusun terdekat dengan sepeda motor, keterbatasan sarpras pemadaman, medan yang curam, serta angin yang kencang, hingga pukul 18.30 api belum juga dapat dipadamkan. Tim pemadam bertahan di lokasi dan terus berupaya memadamkan api hingga pukul 23.00 WIB. Kebakaran di petak 144b dekat cagar alam merupakan 1 dari 4 kebakaran di kawasan hutan lindung sekitar Besowo. Tim pemadam kebakaran SKW L1 bertahan di petak 144a karena merupakan area kebakaran yang terdekat dengan kawasan. Kebakaran lainnya terjadi di selatan cagar alam, termasuk di objek wisata ongak'an. Tim dari Perhutani dan muspika sedang melakukan upaya pemadaman di 3 lokasi kebakaran lainnya. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Peningkatan Kelompok Tani Binaan SKW I BKSDA Jambi

Sarolangun, 28 September 2018. Balai KSDA Jambi lagi - lagi melalui Seksi Konservasi Wilayah I lakukan penyerahan bantuan ekonomi terhadap desa penyangga CA Durian Luncuk 1 di Desa Petiduran Baru Kec. Mandiangin Kab Sarolangun. Sebelum bantuan disalurkan, anggota Kelompok Tani Hutan terlebih dahulu dibekali pengetahuan dan keterampilan yang mendukung dan sesuai dengan rencana usaha yang akan mereka jalankan, dengan cara melakukan Pelatihan Peningkatan kapasitas anggota kelompok Tani Hutan (KTH) pada tanggal 5 September 2018. Peserta pelatihan peningkatan kapasitas kelompok Tani Hutan ini, terdiri dari Anggota Kelompok Tani Hutan Rimba Lestari (Desa Petiduran Baru) sebanyak 22 orang dan dari Kelompok Tani Hutan Hijau Lestari (Desa Guruh Baru) sebanyak 8 org. Kedua desa ini prioritas penerima bantuan, karena statusnya merupakan desa penyangga Cagar Alam Durian Luncuk 1, yang wilayah desanya berbatasan langsung dengan kawasan cagar alam. Lima narasumber menjadi pengisi kegiatan pelatihan, tema Budidaya Gaharu disampaikan Usman Mansur (Petani Gaharu), tema Budidaya Gambir oleh Baban Taufik (Petani Gambir), tema Arah Kebijakan Pemberdayaan Masyarakat Lingkup KSDA Jambi oleh H. Udin Ikhwanuddin,SP, ME (Kepala Seksi Wilayah I BKSDA Jambi), tema Mekanisme penyaluran dana dan Pelaporan Keuangan oleh Purwanto,SH (PPK Balai KSDA Jambi), terakhir tema Administrasi dan pendamping Kelompok Tani oleh Desi Anggraini,S.Hut ( Penyuluh Kehutanan Seksi KW I). Dengan bantuan yang mereka terima, diharapkan terjadi perubahan peningkatan pendapatan (value added) ekonomi secara dinamis dan berkelanjutan pada kedua kelompok tani dan mereka dapat memberikan kontribusi dalam menjaga dan melestarikan Sumber Daya Alam Cagar Alam Durian Luncuk 1. Sumber : H. Udin Ikhwanuddin, SP,ME - Kepala Seksi Wilayah I Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Mobil Konservasi, Sarana Pelestarian Keanekaragaman Hayati di Kalimantan Barat

Pontianak, 25 September 2018. Dalam rangkaian acara peresmian Studio 121 Balai KSDA Kalimantan Barat oleh Sekretaris Direktorat Jenderal KSDAE Bapak Ir. Herry Subagiadi, M.Sc, salah satu yang di launching adalah “Mobil Konservasi”. Mobil operasional Balai KSDA Kalimantan Barat dimodifikasi menjadi mobil konservasi dengan branding tumbuhan dan satwa dilindungi undang-undang yang difungsikan untuk memberikan edukasi, penyadartahuan bagi masyarakat akan pentingnya menjaga keanekaragaman hayati di Provinsi Kalimantan Barat. Branding mobil ini terselenggara dengan menggandeng mitra-mitra konservasi lingkup Balai KSDA Kalimantan Barat diantaranya, Yayasan Titian untuk mobil konservasi yang akan melayani wilayah Kota Pontianak dan sekitarnya; Yayasan IAR Indonesia untuk mobil konservasi yang akan melayani wilayah kerja SKW I Ketapang, Yayasan Sintang Orangutan Center untuk mobil konservasi yang akan melayani wilayah kerja SKW II Sintang serta Yayasan Planet Indonesia untuk mobil konservasi yang akan melayani wilayah kerja SKW III. (YS). Sumber: Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Peningkatan Kapasitas Kelompok Masyarakat dalam Pengendalian Acacia nilotica di Taman Nasional Baluran

Baluran, 26 September 2018. Salah satu upaya pemulihan ekosistem di Taman Nasional Baluran adalah penanganan tanaman akasia berduri (Acacia nilotica) yang telah menginvasi lebih dari setengah luas savana Baluran. Pada tahun ini, kegiatan pengendalian akasia berduri juga dilakukan melalui mekanisme kerjasama dengan masyarakat. Hal ini dilakukan untuk menambah effort dalam upaya pengendalian tanaman invasi Acacia nilotica di Taman Nasional Baluran, juga memberikan dampak peningkatan secara ekonomi bagi masyarakat melalui pemanfaatan limbah eradikasi Acacia nilotica. Untuk mendukung hal itu masyarakat perlu dibekali dengan pengetahuan tentang bagaimana cara pengendalian akasia berduri melalui kegiatan “Peningkatan kapasitas kelompok masyarakat dalam pengendalian Acacia nilotica”. Pelatihan yang dilaksanakan selama 4 hari mulai tanggal 24 September 2018 di wisma cinta alam, bertujuan untuk memberikan keterampilan kepada masyarakat dalam melakukan eradikasi akasia dalam berbagai kelas umur. Kelompok masyarakat juga diberikan wawasan terkait peraturan tentang kemitraan dengan masyarakat dalam kerangka pemulihan ekosistem. 2 (dua) orang narasumber yang dihadirkan dalam kegiatan ini antara lain Dr. Titiek Setyowati dari Puslitbang Hutan Bogor dan Rumchani Agus Sulistyo dari Direktorat Kawasan Konservasi Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem. Masing-masing narasumber memberikan materi mulai dari pengenalan Acacia nilotica dan invasinya di TN Baluran, tehnik eradikasi dan pemanfaatan Acacia nilotica hingga sosialisasi peraturan terkait kemitraan dengan masyarakat. Selain menerima materi di ruangan para peserta juga melakukan praktek lapangan pengenlana dan pengukuran areal kerja serta praktek tehnik eradikasi. Sumber : Balai Taman Nasional Baluran
Baca Berita

From Zero to Hero

Kuningan, 27 September 2018. Bagi Aang, warga dusun Palutungan, Cisantana, Cigugur, Kuningan, Jawa Barat, profesi sebagai pemburu bukan merupakan suatu pilihan pekerjaan. Namun karena keterbatasan kepemilikan lahan, lantas dengan penuh keterpaksaan pekerjaan itu menjadi alternatif tambahan penghasilan bagi keluarganya. Kejar-kejaran dengan petugas Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) ia lakoni bertahun-tahun. Rasa tidak nyaman, takut dari petugas, malu ketika tertangkap ketika melakukan perburuan satwa di gunung Ciremai. Tapi itu dulu. Kini, Aang bersama 10 orang kawannya yang dulu sama-sama sebagai pemburu burung telah bergabung dalam kelompok "Porter" Arban. Mereka beralih profesi sebagai penyedia jasa "Porter" di jalur pendakian Palutungan. Pekerjaan itu mereka dapatkan atas tawaran Balai TNGC untuk menjadi penyedia jasa layanan wisata alam. Tawaran itu langsung disambut hangat oleh Aang dan kawan-kawan karena merasa dari kegiatan berburu tidak pernah mencukupi kebutuhan hidupnya meski mendapat banyak hasil buruan. "Ada pergolakan batin saat menjadi pemburu. Itu pekerjaan yang kurang baik dan tidak ada berkahnya bagi alam dan diri saya ", ungkap Aang. Alih profesi pun berjalan sekitar Februari 2015 hingga saat ini dan semoga seterusnya. Idin Abidin, Kepala Resor saat itu mengatakan, "geliat wisata alam TNGC memang mempengaruhi sosial budaya masyarakat setempat sehingga menyebabkan alih profesi antar sektor". Dengan demikian, perburuan satwa gunung Ciremai diharapkan mampu ditekan lantaran masyarakat berbondong-bondong mengalihkan aktifitasnya ke sektor usaha jasa wisata alam. Sekarang, Aang yang usianya memasuki 47 tahun merasa mendapatkan berkah dari profesi "Porter" pendakian Palutungan. Tugas "Porter" yakni membawa perlengkapan pendaki dari pos tiket hingga puncak gunung dan turun lagi. "Porter" juga biasanya memiliki pengetahuan pendakian dan keterampilan memasak yang bisa diandalkan. Tarif "Porter" Aang cs yakni lima ratus ribu rupiah dalam sekali pendakian dengan durasi dua hari satu malam atau 36 jam. Beban bawaan seorang "Porter" antara 25 hingga 30 kilogram yang di packing dalam tas ransel atau "carrier". Dalam sebulan, biasanya tidak kurang satu kali Aang mendapat orderan. Dengan uang yang diperolehnya itu sudah bisa membuat dapur ngebul. Selain jasa "Porter", Aang dan kawan-kawan juga punya jasa pertolongan bagi para pendaki yang mengalami cedera, hipotermia dan kendala lain ketika melakukan pendakian. Kegiatan ini oleh para pendaki di sebut "Ranger". "Ranger" Palutungan memiliki "sharing" pemasukan dari tiket masuk pendakian. Lima ribu rupiah Aang cs dapatkan dari selembar tiket pendakian. "Sharing" pendapatan itu sah sesuai dengan kesepakatan Pengelola Pendakian Gunung Ciremai (PPGC) Palutungan. Tiap bulan, tak kurang dari satu juta rupiah, seorang "Ranger" Palutungan mengantongi uang. Tak hanya itu, Aang cs pula berjualan aneka makanan di Cigowong dengan keuntungan yang lumayan besar. Penghasilan Aang cs dari kegiatan "Porter", "Ranger" dan dagang bisa dikatakan jauh lebih baik bila dibandingkan dengan hasil berburu satwa yang hanya seratus lima puluh ribu tiap bulannya. Itu pun bila dapat mangsa. Pengalaman Aang cs adalah pelajaran yang berharga agar kita bisa berubah ke arah yang lebih baik. Kita harus membiarkan satwa liar hidup bebas di alamnya. Jika ingin mendaki tanpa beban, mari gunakan jasa Porter. "Please contact", Oyo, 082319629063 "and enjoy your adventure". [teks © Idin, foto © Ranger Palutungan-BTNGC | 092018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Penanganan Si Belang di Muara Lembu Kab. Kuantan Sengingi

Pekanbaru, 27 September 2018. Pada Selasa (25/9) pukul 10.30 WIB, Kepala Seksi Konservasi Wilayah 1 menerima laporan dari masyarakat tentang adanya harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang terjerat di perbatasan Desa Muara Lembu dan Pangkalan Indarung. Kepala Balai Besar KSDA Riau segera memerintahkan tim Rescue Bidang KSDA Wilayah 1 menuju TKP. Tim Rescue segera bergerak ke lokasi yang berjarak kurang lebih 2 jam dari Resort Petai menggunakan kendaraan roda 2. Kemudian tim menyisir lokasi sampai pada titik jerat. Satwa harimau sumatera tidak di temukan lagi di TKP jerat. Namun, ?i TKP tersebut ditemukan 2 jerat yang terbuat dari tali nilon. Setelah tim menelusuri sekitar lokasi ditemukan adanya tanda-tanda satwa yang dilindungi berhasil meloloskan diri. Di sekitar lokasi TKP tim tidak menemukan jejak aktifitas manusia, karena hari telah gelap, penyisiran dilakukan keesokan harinya. Tim kembali melakukan penyisiran hari berikutnya (26/9), pada pukul 12.30 WIB tim menemukan bangkai harimau sumatera menggantung dipinggir jurang dengan tali jerat sling membelit pada pinggangnya. Jarak dari TKP hanya berkisar 100 m saja. Diperkirakan harimau tersebut berhasil meloloskan diri dari jerat namun tali jerat tersangkut di semak dan membelit pinggangnya sehingga menggantung di tepi jurang dan membuatnya mati. Segera Tim membebaskan Harimau betina dewasa tersebut dan membawa bangkainya untuk dilakukan nekropsi di klinik transit satwa Balai Besar KSDA Riau. Kepala Balai Besar KSDA Riau, Suharyono sangat menyayangkan kematian satwa yang dilindungi tersebut, apalagi satwa betina dewasa yang siap untuk melahirkan anak-anak harimau selanjutnya. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Memetik Ilmu Langsung di Lapangan

Waingapu, 27 September 2018. Berlokasi di blok hutan Taman Mas termasuk kedalam kelompok hutan Manupeu Tanah Daru. Petugas Lapangan Gaudencio Gabriel S.ST selaku Kepala Resort Taman Mas melakukan pengecekan pilar batas kawasan yang dilakukan bersama-sama dengan Siswa-siswi SMK Kehutanan Mawodana-Sumba Barat Daya. Kegiatan pengecekakan pilar batas kawasan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan pengetahuan kepada siswa-siswa SMK Kehutanan terkait upaya pengukuhan kawasan hutan yang ada di Kawasan Hutan TN Matalawa. Pengukuhan kawasan hutan merupakan kegiatan yang sangat penting dan menjadi dasar dalam penentuan status hukum hutan, apakah menjadi kawan hutan produksi, lindung maupun konservasi. Secara umum pengukuhan kawasan hutan dilakukan melalui beberapa proses diantaranya: penunjukan kawasan hutan, penataan batas kawasan, pemetaan batas kawasan dan penetapan kawasan hutan. Pada kondisi saat ini di TN Matalawa pada kelompok hutan Manupeu Tanah Daru telah selesai di lakukan penataan batas kawasan (telah temu gelang) satu tahap lagi terhadap upaya penetapan kawasan hutan, sementara pada kelompok hutan Laiwangi Wanggameti telah selesai dilakukan penetapan kawasan hutan. Kemantapan batas kawasan hutan berdampak terhadap efektifitas pengelolaan kawasan hutan itu sendiri, baik terhadap upaya perlindungan, pengawetan keanekaragaman hayati serta pemanfaatan secara lestari, tentunya secara langsung maupun tidak langsung kelestarian kawasan hutan yang mantap akan memberikan efek positif bagi kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan. Sumber : Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti
Baca Berita

Bubu dan Son-Son Diserahkan BTN Kayan Mentarang ke BKSDA Kaltim

Malinau, 27 September 2018. Setelah berada selama kurang lebih 69 hari di kandang transit satwa di Balai Taman Nasional Kayan Mentarang, akhirnya 2 ekor satwa liar diserahkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Kalimantan Timur. Tepatnya di Seksi Wilayah I Berau. Kedua satwa tersebut adalah “Bubu” si Beruang Madu (Helarctor malayanus) dan “Son-son” si Owa-owa (Hylobates sp.). Keduanya diserahkan untuk mendapatkan penanganan langsung dari BKSDA Kaltim sebelum dilepasliarkan ke habitatnya. Secara status konservasi, Beruang Madu (Helarctor malayanus) terdaftar dalam status Rentan oleh Appendix I CITES. Sementaran Owa-owa (Hylobates sp.) di kategorikan dalam status Genting oleh IUCN. Dan menurut Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekositemnya, kedua satwa itu terdaftar sebagai satwa liar yang dilindungi. Menanggapi ini, Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang Johnny Lagawurin menyebutkan bahwa Kesadaran Masyarakat akan Konservasi satwa liar di wilayah kerjanya sudah mulai terbangun. Itu dapat dilihat pada saat Yanti Halim salah seorang warga Kabupaten Malinau yang menyerahkan Beruang Madu dan Owa-owa ke Balai Taman Nasional Kayan Mentarang. “Kemarin pemilik satwa ini tanpa kita minta mereka melaporkan sendiri keberadaan Beruang Madu dan Owa-owa itu ke Balai Taman Nasional Kayan Metarang. Ya, harapan kita sikap positif ini tertular ke masyarakat lainnya, khususnya masyarakat yang berada di seputaran wilayah kerja kita.” Ungkap Johnny belum lama ini. Untuk di ketahui, Balai Taman Nasional Kayan Mentarang tidak memiliki wewenang untuk mengeksekusi penanganan terhadap satwa liar yang di lindungi namun sebagai UPT dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Balai Taman Nasional Kayan Metarang memiliki tanggung jawab terhadap konservasi kedua satwa liar itu. Oleh karenanya, di harapkan masyarakat dapat bersikap partisipatif dalam melestarikan satwa dan tumbuhan yang ada di sekitaran kawasan maupun yang berada di luar kawasan, terutama satwa dan tumbuhan yang berstatus di lindungi. Sumber : Balai Taman Nasional Kayan Mentarang
Baca Berita

Menjawab Tantangan Konservasi yang Semakin Berat, BKSDA Kalbar Launching STUDIO 121

Pontianak, 25 September 2018. Balai KSDA Kalimantan Barat saat ini berupaya untuk mengembangkan metode sosialisasi dan kampanye konservasi dan keanekaragaman hayati yang ada di wilayah Kalimantan Barat. Setelah branding mobil konservasi, kini Studio 121 menjadi terobosan BKSDA Kalbar dalam upaya kampanye konservasi. Dengan sasaran utama generasi muda dan anak-anak sekolah, pembangunan Studio 121 diharapkan mampu meningkatkan kepedulian generasi muda terhadap konservasi. Sadtata Noor Adirahmanta selaku kepala Balai KSDA Kalimantan Barat menyampaikan “pembangunan Studio 121 ini sebagai dukungan terhadap upaya konservasi serta pengembangan dalam pengelolaan kawasan konservasi oleh BKSDA Kalbar”. Ia menambahkan, visit to office secara terjadwal menjadi program utama dalam pembangunan Studio 121 ini. Diiringi gerimis hujan, selasa (25/9) Studio 121 diresmikan oleh Sekretaris Direktorat Jenderal KSDAE, Bapak Ir. Heri Subagiadi, M.Sc. Beliau berharap, inovasi yang telah dilakukan BKSDA Kalbar ini mampu direplikasi oleh UPT KSDAE lain, baik Balai KSDA maupun Taman Nasional lain. Persembahan untuk konservasi, sebuah terobosan konservasi dalam menyebarkan virus kepada generasi muda untuk lebih mencintai dan ikut andil dalam upaya konservasi. Demi menjangkau seluruh lapisan generasi, pendidikan konservasi berbasis multimedia ini diharapkan mampu menarik minat serta menanamkan semangat konservasi. Sumber : Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Petugas SKW I BKSDA Jambi Dampingi Kelompok Tani Pembuatan Proposal Bantuan Ekonomi

Sarolangun, 27 September 2018. Sebelum bantuan diberikan kepada kelompok tani hutan (KTH) binaan Balai KSDA Jambi, setiap KTH harus membuat proposal bantuan ekonomi yang diajukan ke Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I BKSDA Jambi yang didampingi Penyuluh SKW-I BKSDA Jambi. Selanjutnya Kepala Seksi melakukan penilaian terhadap proposal yang diajukan, apabila sudah sesuai dan dipenuhi semua persyaratanya, maka Kepala Seksi merekomendasikan kepada Kepala Balai untuk meminta persetujuan, bahwa KTH tersebut layak menerima dana bantuan dari BKSDA Jambi. Proposal dilampiri dengan berita acara kesepakatan tentang bentuk bantuan yang diketahui oleh ketua kelompok, anggota kelompok, kepala desa dan pendamping desa binaan. Selain itu, proposal juga dilampiri RAB, daftar hadir anggota kelompok dalam menentukan bentuk bantuan, rekening ketua kelompok dan SK Kelompok. Apabila proposal telah disetujui kepala Balai KSDA Jambi dan kegiatan peningkatan kapasitas kelompok sudah dilaksanakan, selanjutnya dana bantuan ekonomi bisa cairkan oleh bendahara pengeluaran atas persetujuan pejabat pembuat komitmen (PPK) melalui mekanisme pembayaran langsung Bendahara ke rekening pengurus KTH. Kelompok tani dan PPK Balai KSDA Jambi harus membuat PKS ( Perjanjian Kerjasama) dalam rangka penyelesaian administrasi keuangan untuk proses pencairan dana bantuan tahap 1 (yaitu berupa penandatanganan PKS, SPBY dan kwitansi tanda terima pembayaran Tahap I). Setelah administrasi selesai, selanjutnya bendahara pengeluaran akan mentransfer dana bantuan tahap I langsung ke rekening KTH. Semoga dana bantuan ekonomi yang diberijan pada KTH dapat memberikan manfaat dan dampak yang besar pada peningkatan ekonomi dan kesejahteraan anggota . Sumber : H. Udin Ikhwanuddin, SP,ME - Kepala Seksi Wilayah I Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Dirjen KSDAE Kunjungi Kalsel

Banjarbaru, 27 September 2018. Kalimantan Selatan mendapat kesempatan dikunjungi Direktur Jenderal (Dirjen) KSDAE Bapak Ir. Wiratno, M.Sc. Berawal di Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat, Ir. Wiratno, M.Sc memberikan kuliah umum kepada mahasiswa/i Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat pada 26/09/2018. Sebelum memberikan kuliah umum Ir. Wiratno, M.Sc menyaksikan penandatanganan kerja sama antara BKSDA Kalimantan Selatan dengan Universitas Lambung Mangkurat serta BKSDA Kalimantan Selatan dengan Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan. Mahasiswa/i Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat mengikuti kuliah umum dengan penuh antusias yang dapat dirasakan dari atmosfer di dalam Aula Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat. Dalam kuliah umum Ir. Wiratno, M.Sc mebeberkan berbagai permasalahan dan bagaimana cara mengatasi atau pun solusi terbaik untuk hutan dan masyarakat sekitar hutan. “Generasi muda adalah harapan untuk generasi selanjutnya dalam menjaga hutan”, ujar Wiratno. Setelah memberikan kuliah umum, Ir. Wiratno, M.Sc bertolak ke kantor BKSDA Kalimantan Selatan untuk memberikan pembinaan kepada Aparatur Sipil Negara Lingkup BKSDA Kalimantan Selatan. Beliau berharap agar semua Aparatur Sipil Negara tetap kompak dan semangat dalam bekerja khususnya untuk tingkat resort. Destinasi terakhir Ir. Wiratno, M.Sc ialah Taman Wisata Alam Pulau Bakut yang merupakan role model sanctuary bekantan. Ir. Wiratno,M.Sc bertolak menggunakan kelotok (perahu bermotor.red) untuk menyebrang ke TWA Pulau Bakut. Di dermaga TWA Pulau Bakut Ir. Wiratno, M.Sc disambut dengan alunan musik panting (alat musik yang dipetik yang berbentuk seperti gambus Arab.red) serta dikalungi karangan bungan. Beliau ingin melihat habitat bekantan di pulau tersebut sebagai area konservasi. Menurut Ir. Wiratno, M.Sc, Pulau Bakut sebagai lokasi pendidikan konservasi alam yang penting bagi generasi muda. Selain Pulai Bakut, ia mengatakan ada sekitar 123 TWA di Indonesia. Namun, Ir. Wiratno, M.Sc mengakui masih banyak TWA yang belum dioptimalkan. Meskipun TWA Pulau Bakut seluas 15,8 Hektare, Ir. Wiratno, M.Sc berharap mampu meningkatkan minat generasi muda tentang wisata alam dan mengenali jenis flora yang terdapat di lokasi TWA Pulau Bakut. “Ini akan dikembangkan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA),” kata Wiratno di sela peninjauan lokasi TWA Pulau Bakut, Rabu (26/9/2018). Ir. Wiratno, M.Sc berharap masyarakat merespon positif atas pengembangan TWA Pulau Bakut karena bermanfaat bagi kepentingan wisata berbasis konservasi. Menurut beliau, Ditjen KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan terus melakukan pembenahan terhadap sarana dan prasarana TWA Pulau Bakut. Kepala BKSDA Kalimantan Selatan Dr. Mahrus Aryadi, M.Sc mengungkapkan BKSDA Kalimantan Selatan berusaha mempromosikan TWA Pulau Bakut sebagai destinasi wisata alam agar lebih dikenal diberbagai kalangan masyarakat. “Dengan dibangunnya menara pantau akan memudahkan wisatawan memantau aktifitas bekantan di TWA Pulau Bakut”, katanya. Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Banjarbaru, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan, Mokh. Ridwan Effendi, S.Hut, M.Si mengungkapkan TWA Pulau Bakut merupakan lokasi role model pengembangan wisata alam dan bekantan berbasis masyarakat yang ditentukan oleh BKSDA Kalimantan Selatan. Sebelum ditetapkan TWA, kata Ridwan, Pulau Bakut merupakan lokasi pembuangan sampah dari atas Jembatan Barito. Melihat kondisi itu, BKSDA berinisiatif membangun TWA Pulau Bakut dengan membangun beberapa fasilitas di antaranya dermaga, musala, pusat informasi, klinik satwa, dan pintu gerbang. Dalam kurun Januari-September 2018, ia melibatkan mitra swasta untuk ikut membangun sarana dan prasarana, selain dana internal BKSDA Kalimantan Selatan. Pada 2017, pembangunan dermaga menelan dana Rp 216 juta. Kemudian toilet, mushola, klinik satwa dan pusat informasi sekitar Rp 100 juta serta adanya penambahan dari Adaro Indonesia sekitar Rp 1,7 miliar. “Panjang titian mangrove sekitar 630 meter dengan menara, loket karcis serta gerbang keluar,” katanya. Ridwan melihat masih ada beberapa hal yang harus dibenahi, seperti gazebo untuk pusat pertemuan sekaligus menampilkan film dokumenter. Menurut dia, fasilitas tersebut suatu standar dari sarana dan prasarana wisata. “Kemudian wisata-wisata lain yang merupakan standar dari adanya pengembangan wisata alam suatu wilayah,” tegasnya. (jrz) Sumber : Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan
Baca Berita

Tana Bentarum Bina MMP di Lanjak

Lanjak, 26 September 2018. Dalam rangka meningkatkan kapasitas dan pengetahuan anggota Masyarakat Mitra Polisi Kehutanan (MMP), Bidang PTN Wilayah I Mataso Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TanaBentarum) gelar kegiatan Pembinaan MMP. Kegiatan ini dilaksanakan selama 3 hari Lanjak pada tanggal 26 – 28 September 2018. Peserta yang mengikuti kegiatan ini adalahmasyarakat anggota MMP yang sudah dibentuk dan ditetapkan dalam Surat Keputusan (SK) dari Balai Besar Tana Bentarum. Peserta yang mengikuti kegiatan pembinaan MMP sebanyak 10 orang yang berasal dari 3 dusun di Desa Mensiau, Kecamatan Batang Lupar, Kabupaten Kapuas Hulu. Desa Mensiau merupakan salah satu desa penyangga kawasan Taman Nasional Betung Kerihun di wilayah bagian barat. Peserta pembinaan mendapatkan beberapa materi yang terdiri dari dasar-dasar perlindungan dan pengamanan hutan, tugas dan fungsi MMP, tindak pidana kehutanan : macam, mekanisme, dan sanksinya, pembuatan laporan informasi (LI), praktek penggunaan GPS, dan praktek pembuatan laporan informasi (LI). Kegiatan diakhiri dengan penutupan berupa pemberian sertifikat dan kartu anggota MMP kepada para peserta pembinaan. Seperti yang sudah diketahui bahwa Masyarakat Mitra Polisi Kehutanan (MMP) merupakan kelompok masyarakat sekitar hutan dengan nama tertentu yang dibentuk atas inisiatif dari masyarakat dan /atau atas inisiatif dari instansi pusat atau daerah yang membidangi bidang perlindungan hutan, yang berkedudukan di desa yang berada di daerah penyanggakawasan hutan. Dengan adanya kegiatan pembinaan MMP diharapkan dapat meningkatkan pola perlindungan dan pengamanan kawasan hutan secara maksimal antara pihak Balai Besar Tana Bentarum dan masyarakat sekitar hutan, khususnya yang tergabung dalam kelompok MMP Desa Mensiau. Sumber : Ahmad Rindoan, S.Hut - Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum

Menampilkan 6.913–6.928 dari 11.140 publikasi