Senin, 20 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Baku diamankan BKSDA NTB

Bima, Senin 01 Oktober 2018 - Balai KSDA NTB melalui perwakilan Kantor SKW III Bima melakukan proses evakuasi Satwa Liar Buaya Muara (Croc Porosus) dari Masyarakat Dusun Baku, Desa Sumi, Kecamatan Lambu, Kabupaten Bima. Masyarakat yang ketika itu terkejut dengan penemuan 1 (satu) ekor buaya di pantai Baku yang berjarak kurang 1 (satu) kilometer dari pemukiman warga. Satwa pun teridentifikasi sebagai Buaya Muara (Croc porosus). Ketika itu satwa sempat ditangkap dan diamankan di pekarangan rumah warga, karena masyarakat merasa khawatir akan mengancam keselamatan warga yang akan beraktivitas di pantai tersebut. Setelah diamankan warga, kepala lingkungan bersama warga melaporkan hal penemuan buaya yang panjangnya 3,2 meter ke POS Pengawasan lalu lintas TSL SKW III Bima di Pelabuhan Sape.Tak lama, Tim SKW.III Bima melakukan evakuasi satwa di lokasi kejadian pada tanggal 2 okt 2018 dan menerima penyerahan dari masyarakat untuk dibawa dan diserahkan ke kantor Balai KSDA NTB di Mataram Sesuai rencana satwa akan dititipkan di Lembaga Konservasi yang ada di NTB. Masyarakat yang menyerahkan meminta agar buaya muara tersebut diberi nama "BAKU", sesuai dengan nama lokasi ketika ditemukan. Terima kasih untuk kesadaran dan niat baik Masyarakat Dusun Baku! Sumber: Balai KSDA NTB
Baca Berita

Kunjungan Para Pejuang Konservasi Masa Depan

Pontianak – 2 Oktober 2018, Riuh rendah suara anak-anak di Kantor BKSDA Kalbar, tepatnya di Studio 121 kali ini berasal dari SD Salomo Pontianak. Diawali dengan berkendara bersama Mobil Konservasi, sebuah mobil bernuansa tumbuhan dan satwa liar. Mobil ini cukup menyita perhatian pasalnya satwanya digambarkan lucu berkarakter vektor kartun hasil karya Tezar PS. Selain menarik bagi kaum muda, design ini juga terbukti menarik bagi anak-anak. Media kampanye yang murah dan efektif. Gallery Photo dan film bertema TWA Gn Kelam dan TWA Baning lengkap disajikan bersama potensi flora faunanya. Legenda Gn Kelam disajikan dalam bentuk dongeng menjadi pembuka pemutaran film tentang TWA Gn Kelam. Pengunjung kecil ini pun larut dalam keseruan dongeng yang diikuti dengan taburan hadiah kuis. Tidak disangka, pengetahuan konservasi para pengunjung cilik dari SD Salomo ini sangat baik. Kepada merekalah kelak tongkat estafet konservasi akan dilanjutkan dan harapan kelestarian biodiversitas borneo. Mari bersama menjaga kelestarian keanekaragaman hayati terutama yang ada di Kalimantan Barat. Work fun, stay productive Sumber: Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Monitoring Lokasi Pemulihan Ekosistem di SM Padang Sugihan dengan Menggunakan Gajah Sumatera

Sebokor, 3 September 2018. Pemulihan ekosistem adalah kegiatan pemulihan ekosistem KSA/KPA termasuk didalamnya pemulihan terhadap alam hayatinya sehingga terwujud keseimbangan alam hayati dan ekosistemnya dikawasan tersebut. Ada beberapa bentuk kegiatan dalam hal pemulihan ekosistem yaitu dengan mekanisme alam, rehabilitasi dan restorasi. Sebelum menentukan lokasi ataupun mekanisme yang akan dilakukan proses pemulihan ekosistem ini maka perlu dilakukan juga inventarisasi pada lokasi ekosistem referensi yang nantinya akan digunakan untuk mengevaluasi hasil dari pemulihan ekosistem tersebut. Ekosistem referensi merupakan ekosistem tak terganggu yang berada di sekitar areal yang akan dipulihkan atau deskripsi ekologis berupa laporan survey, jurnal, foto udara atau citra satelit, suatu ekosistem yang memiliki kemiripan ekologis dengan ekosistem yang akan dipulihkan dan merupakan referensi sementara untuk mencapai tujuan pemulihan, dimana unsur-unsur ekosistem referensi dapat menjadi contoh (template) bagi kegiatan pemulihan. SM Padang sugihan menetapkan beberapa lokasi untuk dilakukan pemulihan ekosistem melalui mekanisme alam. Pemulihan Ekosistem Melalui Mekanisme alam adalah suatu tindakan pemulihan terhadap ekosistem yang terindikasi mengalami penurunan fungsi melalui tindakan perlindungan terhadap kelangsungan proses alami, untuk tujuan tercapainya keseimbangan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya mendekati kondisi aslinya. Kegiatan Moniroting dalam rangka pemulihan ekosistem melalui mekanisme alam dilakukan oleh Tim PEH Balai KSDA Sumatera Selatan dengan Tim Resort Air Padang diawali dengan melakukan tracking dan penandaan batas batas lokasi serta pendokumentasian awal lokasi pemulihan ekosistem. Penggunaan Gajah Sumatera dari PLG Jalur 21 sangat membantu dalam melakukan tracking dan penandaan batas karena kondisi lokasi yang berawa gambut sedang hingga dalam serta rumput ilalang yang sangat tinggi akan sangat susah untuk dilalui dengan berjalan kaki. Setelah dilakukan tracking, penandaan serta pengambilan dokumentasi awal maka lokasi dapat dianalisis dan dipetakan sehingga program selanjutnya akan dapat dilakukan dengan lebih focus agar didapat hasil sesuai Kondisi asli yaitu kondisi alamiah dari suatu ekosistem yang belum mengalami perubahan atau kerusakan serta komponen-komponennya berada dalam kondisi yang seimbang dan dinamis. Sumber : Taufan Kharis,A.Md / PEH BKSDA Sumsel
Baca Berita

BBTN Bromo Tengger Semeru Realisasikan Bantuan Alat Pembuat Briket Arang di Ranu Pani

Lumajang, 2 Oktober 2018. Bertempat di Aula Desa Ranu Pani Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menyerahkan bantuan 2 set alat dan mesin pembuatan briket arang kepada 2 kelompok binaan TN Bromo Tengger Semeru di Desa Ranu Pani masing-masing kelompok Rukun Mandiri dan Ikatan Peduli Lingkungan. Penyerahan bantuan alat dan mesin pencetak briket arang di sampaikan langsung kepada ketua kelompok Rukun Mandiri yaitu Sutono dan Ikatan Peduli Lingkungan diwakili oleh Mistani. Penyerahan bantuan tersebut di saksikan juga oleh pejabat esselon III, IV dan staff TNBTS, Perwakilan PEMDA Lumajang yang diwakili oleh Agus Bambang DH Kepala Seksi Peran Serta Masyarakat Dinas Lingkungan Hidup , Perwakilan Dinas Pemberdayaan masyarakat, Kecamatan Senduro, Polsek dan Koramil Senduro, Komunitas Gimbal Alas, Komunitas Saver, tokoh masyarakat Desa Ranu Pani dan tamu undangan lainnya. Dalam kesempatan sambutan Kepala Balai Besar TN Bromo Tengger Semeru, Ir. John Kenedie, MM menyampaikan bahwa bantuan alat dan mesin pencetak briket ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan role model di Bidang PTN 2 Lumajang yaitu pengembangan kolaboratif zona tradisional bersama masyarakat Desa Enclave Ranu Pani yang di gagas sejak tahun 2017. Harapannya alat dan mesin ini selain bisa menjadi solusi masyarakat sekitar akan kebutuhan arang untuk penghangat juga mampu mengurangi ekspansi tumbuhan Ki Rinyuh yang merupakan bahan baku briket arang dan melimpah di dalam kawasan TN Bromo Tengger Semeru. Mudah-mudahan bantuan ini bisa di manfaatkan seoptimal mungkin, dirawat, dijaga dan di pelihara oleh kelompok sehingga terjadi sinergi antara kelestarian kawasan TNBTS dengan kebutuhan masyarakat Ranu Pani akan arang sebagai penghangat ruangan dalam mendukung aktivitas sehari-harinya. John juga berharap bantuan stimulan dari TN Bromo Tengger Semeru kepada masyarakat merangsang Pemerintah Daerah Lumajang untuk memberikan bantuan yang sama kepada masyarakat Ranu Pani mengingat kebutuhan akan briket arang sangat besar sementara bantuan alat yang dapat diberikan TN Bromo Tengger Semeru masih terbatas kepada dua kelompok tersebut. Himbauan Kepala Balai Besar tersebut TNBTS mendapat sambutan positif oleh perwakilan Pemda Lumajang dan berjanji diteruskan ke Bupati Lumajang. John juga berharap masyarakat Desa Enclave Ranu Pani bisa bersinergi dengan TN Bromo Tengger Semeru dalam pengelolaan kawasan sehingga kelestarian kawasan dari segala bentuk tindak destruktif dapat di eliminir di masa yang akan datang. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru
Baca Berita

Setelah 18 Tahun, Buaya Pak Hadi Diserahkan

Banjarbaru, 2 Oktober 2018 − Kesadaran seseorang untuk peduli terhadap konservasi satwa liar memang seringkali memerlukan proses yang panjang dan berliku. Hal ini seperti yang terjadi pada salah seorang warga Desa Birayang Timur, Kec. Barabai, Kab. Hulu Sungai Tengah. Bapak Hadi, begitu beliau biasa disapa, mendapatkan buaya muara (Crocodylus porosus) dari Batulicin. Saat itu buaya yang ditemukan di salah satu sungai di Batulicin masih berukuran kecil. Buaya tersebut kemudian dibawa dan dipelihara di Barabai. Kini setelah 18 tahun, buaya itu tumbuh besar dengan panjang mencapai 3 meter lebih. Pemilik sudah merasa kewalahan untuk memenuhi kebutuhan makannya. Bagaimana tidak setiap bulan pemilik harus menyediakan paling tidak 4 ekor ayam untuk mencukupi kebutuhan pakannya. Dalam kondisi tersebut, akhirnya pemilik menyerahkan hewan dilindungi tersebut ke BKSDA Kalsel. Buaya tersebut kemudian dievakuasi petugas dan kemudian dititipkan di lembaga konservasi yang ada di Kota Batulicin. Kepala BKSDA Kalsel, Dr. Ir Mahrus Aryadi, M.Sc., menyampaikan apresiasinya kepada warga Birayang Timur yang telah menyerahkan buaya muara kepada BKSDA. Tindakan memelihara satwa dilindungi merupakan tindakan melanggar hukum, tambah Mahrus. Lebih jauh dijelaskan, bahwa buaya merupakan hewan predator bagi beberapa jenis satwa. Ketika buaya jumlahnya tidak proporsional atau bahkan tidak ada, maka hewan yang menjadi mangsa buaya akan melimpah jumlah populasinya. Ini akan mengganggu keseimbangan ekosistem, tambahnya. Bagi siapa saja yang memiliki keinginan untuk memelihara satwa dilindungi hendaknya segera mengurungkan niatnya. Hal ini karena pertama tindakan tersebut melanggar Undang-undang No.5 Tahun 1990 tentang KSDAE jo Peraturan Pemerintah No.7 Tahun 1999 Tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa Liar. Berdasarkan ketentuan peraturan tersebut, setiap orang yang melanggar baik dengan sengaja maupun karena kelalaian, akan dikenakan sanksi pidana 5 Tahun dan denda 100 juta rupiah (jrz). Sumber : Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan
Baca Berita

Selamat! Bayi Orangutan Kalimantan Lahir di Bintan

Bintan, 01 Oktober 2018. Berita bahagia disampaikan dari salah satu lembaga konservasi di Kepulauan Riau tentang kelahiran satu individu anak orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus). Anak orangutan tersebut lahir dengan jenis kelamin jantan pada tanggal 01 Oktober 2018 pukul 15.00 WIB di Taman Safari Lagoi Bintan, Kepulauan Riau. Pengelola Taman Safari Lagoi Bintan memberi nama anak orangutan “Bintan” sesuai dengan nama tempat dilahirkannya. Bintan merupakan hasil anakan dari ayah “Kapuas” yang berusia 15 tahun dan Ibu “Barito” dengan usia 10 tahun, yang keduanya merupakan hasil repatriasi dari Thailand. Kelahiran Bintan menunjukkan bahwa lembaga konservasi di Indonesia telah berhasil dalam melakukan upaya breeding orangutan yang telah dikembalikan dari luar negeri (repatriasi). Saat ini, jumlah populasi orangutan di Taman Safari Lagoi Bintan berjumlah 5 (lima) ekor, dengan tiga ekor orangutan kalimantan dan dua ekor orangutan sumatera. Selain orangutan, jenis satwa lainnya yang terdapat di Taman Safari Lagoi Bintan diantaranya burung Nuri Bayan (Lorius roratus), Rusa totol (Axis axis), Trenggiling (Manis javanica), Gajah sumatera (Elephas maximus), Komodo (Varanus komodoensis) dan lainnya. Taman Safari Lagoi Bintan merupakan lembaga konservasi yang telah terdaftar di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sesuai dengan Surat Keputusan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Nomor: 1/1/ILK/PDMN/2015. Sumber: Direktorat KKH
Baca Berita

BKSDA Kalsel Pemberdayaan Masyarakat Lebah Madu

Kotabaru, 3 Oktober 2018 – Pembentukan kelompok masyarakat budidaya lebah madu di desa Betung Kecamatan Pulau Laut Timur Kabupaten Kotabaru merupakan salah satu kegiatan pemberdayaan masyarakat bagian dari kinerja yang harus di laksanakan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan. Kepala BKSDA Kalsel, Dr. Mahrus Aryadi, M.Sc menjelaskan bahwa tujuan pembentukan kelompok masyarakat budidaya lebah madu untuk meningkatkan produktifitas hutan konservasi yang ada. Selain itu kelompok masyarakat juga mendapatkan penghasilan dari lebah madu dengan menjual madunya. “Dalam rangka konservasi tanaman yang sebagai sumber pakan lebah madu, dengan sendirinya akan menanam tanaman kaliandra, kapuk , buah buahan dan tanaman hias pekarangan sehingga selain sebagai pengindah pekarangan juga sebagai sumber pakan lebah madu”, lanjut Kepala BKSDA Kalsel. Sekretaris Desa Betung Bapak Syahransyah menyambut baik kegiatan pemberdayaan masyarakat di desanya. Beliau berharap kegiatan ini berkelanjutan, dapat memberi manfaat bagi masyarakat dan hutan terpelihara. Lebah madu yang akan di kembangkan ada dua jenis, yaitu jenis kelulut (Trigona sp.) dan lebah (Apes cerana). Materi budidaya lebah dalam pembentukan kelompok kali ini di sampaikan oleh Bapak Abdul Basit selaku masyarakat pembudidaya lebah madu maupun kelulut yang berhasil dari Kabupaten Tanah Laut. Pembentukan kelompok yang telah diberi nama Madu Betung Mandiri di dampingi oleh penyuluh dari KPH Pulau Laut dan Sebuku Ibu Rohimah, S.Hut. Kepala KPH Pulau Laut dan Sebuku juga turut hadir dalam pembentukan kelompok budidaya sangat mendukung kegiatan pemberdayaan masyarakat ini, adapun harapan Ibu Dewi Wulansari, S.Hut kegiatan ini tidak hanya di Desa Betung saja tetapi dilaksanakan juga di desa-desa lainnya sekitar hutan. Pembentukan kelompok Madu Betung Mandiri diakhiri dengan penyerahan sarang lebah madu cerena dan sarang lebah madu kelulut secara simbolis oleh Kepala BKSDA didampingi KSBTU Suwandi, S.Hut, MA dan Kepala SKW III Batulicin Nikmat Hakim Pasaribu, S.P, M.Sc didampingi Kepala Resort Cagar Alam Selat Laut dan Selat Sebuku Yofi Azhar kepada kelompok Madu Betung Mandiri untuk dibudidayakan di Desa Betung. (jrz) Sumber : Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan
Baca Berita

Kemah Konservasi 2018 di Aras Napal 242

Medan, 3 Oktober 2018. Balai Besar KSDA Sumatera Utara kembali menyelenggarakan kegiatan Kemah Konservasi Tahun 2018, yang berlangsung selama 3 hari dari tanggal 27 s/d 29 September 2018, di Aras Napal 242 Desa Bukit Mas Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Acara dibuka Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara pada Kamis, 27 September 2018, dihadiri Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, UPT. KPH Wilayah I Langkat/Deli Serdang, Camat Besitang, Kepala Desa Bukit Mas, Ketua BKPM Bukit Mas, Ketua LPMD Bukit Mas, tokoh masyarakat, dan peserta Kemah Konservasi baik Kader Konservasi Sumatera Utara maupun dari Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) serta Siswa Pencinta Alam (Sispala). Dalam sambutannya, Hotmauli menyampaikan pentingnya mengendalikan sampah plastik mengingat sampah plastik sangat berbahaya dan sulit terurai. Dalam kesempatan ini juga peserta diberikan botol minum yang bisa di isi ulang untuk meminimalisir adanya sampah plastik. Dijelaskan juga lokasi Kemah Konservasi di Aras Napal 242 karena lokasi ini memiliki luasan 242 hektar. “Kelompok Pecinta Alam (KPA) umumnya merupakan generasi muda, sebagai sumber daya manusia yang potensial sehingga perlu mendapat perhatian dan bimbingan, guna meningkatkan dan mengembangkan dirinya untuk berperan dalam Program Pembangunan Nasional, khususnya program pelestarian sumber daya alam dan ekosistemnya. Ada 3 pilar dari Konservasi, yaitu Perlindungan, Pengawetan, dan Pemanfaatan. Perlu diingat, memanfaatkan itu harus bijaksana dan lestari. Jangan sampai sungai yang ada di Besitang ini tidak dapat lagi dinikmati oleh cicit kita nantinya, karena pemanfaatan yang tidak bijaksana.. Untuk itulah kegiatan kemah konservasi yang berlangung selama 3 hari ini, ingin kami tanamkan kepada generasi muda guna memahami konservasi dengan sebaik-baiknya”. Ujar Hotmauli Lebih lanjut Hotmauli mengingatkan, bahwa Konservasi di Indonesia saat ini mengalami permasalahan yang sangat serius, terutama adanya aktivitas perambahan, alih fungsi lahan, perburuan tumbuhan maupun satwa liar, serta permasalahan-permasalahan lainnya. Oleh karena itu, Balai Besar KSDA Sumatera Utara sebagai UPT Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, berupaya untuk menggandeng para kader konservasi dan kelompok pecinta alam untuk bersinergi dalam upaya konservasi sumber daya alam di Sumatera Utara. Harapannya Kemah Konservasi ini mampu membuka cakrawala generasi muda untuk ikut serta melestarikan hutan dan satwa-satwa liar. Dan semoga peserta Kemah Konservasi pulang dengan membawa segudang informasi yang bermanfaat untuk diterapkan nantinya. Materi Kemah Konservasi Balai Besar KSDA Sumatera Utara Tahun 2018 selama 3 hari, meliputi : pemaparan materi oleh beberapa narusumber yang dilanjutkan dengan diskusi, pemutaran film konservasi, lomba lintas wisata alam, games, sharing pengalaman, penanaman pohon dan aksi bersih, serta pemberian hadiah Lomba Penghijauan dan Konservasi Alam Tahun 2018. Dalam rangkaian Kemah Konservasi juga dilaksanakan pelepasliaran satwa liar yang dilindungi jenis Kukang Sumatera (Nycticebus coucang ) sebanyak 4 individu yang terdiri dari 2 individu Jantan dan 2 individu betina. Sumber : Ade Yunita - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Sumatera Utara
Baca Berita

Yuk Berwisata Alam Dan Sejarah di Tahura Gunung Menumbing Bangka Barat

Bogor, 2 Oktober 2018. Taman Hutan Raya (Tahura) Gunung Menumbing terletak di Kabupaten Bangka Barat dapat menjadi salah satu destinasi wisata yang tak boleh dilewatkan saat berkunjung ke Bangka Belitung. Di Taman Hutan Raya Gunung Menumbing ini menawarkan wisata alam sekaligus wisata sejarah, karena selain terdapat hutan dengan fungsi Taman Hutan Raya tetapi terdapat pula tempat pengasingan Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno saat zaman penjajahan Belanda. Pada tanggal 19 s.d 22 September 2018 tim dari Sub Direktorat Penataan kawasan konservasi Direktorat PIKA berkesempatan mengunjungi Taman Hutan Raya Gunung Menumbing di Kabupaten Bangka Barat. Tim tidak hanya sekedar berkunjung saja tetapi mempunyai misi percepatan penyelesaian dokumen blok pengelolaan Tahura Gunung Menumbing. Di lokasi Taman Hutan Raya Gunung Menumbing ini terdapat Gunung Menumbing atau juga biasa disebut Bukit Menumbing. Tempat ini berlokasi di sebuah bukit di wilayah Kota Muntok, Kabupaten Bangka Barat. Di puncak bukit ini terdapat Wisma Menumbing atau Pesanggerahan Menumbing yang merupakan tempat pengasingan mantan presiden Indonesia, Soekarno. Wisma ini memiliki satu bangunan utama dengan beberapa fasilitas umum lainnya. Bangunan tersebut dibangun pada masa penjajahan Belanda, sekitar tahun 1928 sampai 1933. Selain menikmati wisata sejarah di wisma pesanggarahan, Tim Sub Direktorat Penataan Kawasan Konservasi juga menikmati keindahan dan kesejukan hutan Tahura Gunung Menumbing yang berada di sekeliling wisma pesanggarahan Menumbing. Selain itu, di belakang wisma terdapat panorama yang indah, yang di mana saat anda naik ke atas akan terlihat pemandangan hutan yang sangat hijau dan kota Bangka Barat dari ketinggian. Semoga dengan terselesaikannya dokumen blok pengelolaan Tahura Gunung Menumbing dan segera disahkan oleh Dirjen KSDAE, sehingga dapat mendukung kegiatan wisata alamnya. Sumber: Mugiharto HP, S.Hut, MSi - PEH Muda Direktorat PIKA
Baca Berita

TWA Sibolangit Kembali Dikunjungi Siswa Berwisata Ekoling

Sibolangit, 2 Oktober 2018. Kembali Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit dikunjungi Sekolah MTs. Swasta Darul Ulum Budi Agung Medan, pada Sabtu 22 September 2018. Kunjungan kali ini dalam rangka Study Pembelajaran atau disebut Wisata Edukasi Konservasi dan Lingkungan (EKOLING) dimana kegiatan dilakukan wisata sambil belajar. Sebanyak 100 orang siswa/i didampingi 15 guru pembimbing, diajak untuk mengenali berbagai jenis tumbuhan yang berada di kiri kanan jalur interpretasi sepanjang dua kilometer, oleh Kepala Resort TWA Sibolangit Samuel Siahaan, SP bersama staf Resort yang dibantu tim Relawan Ekoling Alumnus FMIPA Biologi USU, Saudari Erfina Rahmadani Damanik, Khairani dan Fitriana. Siswa/i sangat antusias mendengar dan mencatat setiap Jenis tumbuhan yang dikenalkan. Pokok Bahasan Ekoling kali ini adalah pengenalan jenis tumbuhan pada bagian tertentu tumbuhan, yaitu bagian Daun. Siswa/i diberikan tugas pengukuran daun berupa lebar, panjang, luas permukaan, bentuk ujung daun dan sifat permukaan daun. Ada sebanyak sepuluh jenis tumbuhan yang diambil sampel, yang mewakili tumbuhan tingkat bawah sampai pohon. Selain itu pengenalan jenis tumbuhan, seperti berbagai jenis rotan, bunga bangkai, bambu dan pohon yang bernilai ekonomi tinggi seperti sungkai, trembesi, duku, mahoni dll. Disamping pengenalan berbagai jenis tumbuhan, disela sela interpretasi kawasan, Kepala Resort menjelaskan akan fungsi dan manfaat hutan bagi kehidupan manusia terutama bagi masyarakat sekitar hutan. Manfaat yang bisa dirasakan langsung oleh siswa/i di Kawasan TWA Sibolangit adalah udara yang segar dan bersih. TWA Sibolangit bermanfaat juga sebagai lokasi wahana wisata, pendidikan dan penelitian, mencegah banjir/longsor dan mengatur tata air. Kunjungan wisata ekoling kali ini didampingi langsung Kepala Sekolah Madrasah Swasta Darul Ulum Budi Agung Medan, Sudarmawansyah, M.Pd, yang dalam ungkapannya menyampaikan banyak terima kasih dan berharap kegiatan ini akan selalu rutin dilaksanakan guna memberi pengetahuan lebih dalam kepada siswa tentang Hutan. Direncanakan pada bulan November saat bersamaan dengan Puncak Peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) 2018, rombongan MTs. Swasta Darul Ulum Budi Agung Medan akan datang kembali bersama siswa/i lainnya. Kehadiran sekolah ini di TWA Sibolangit disamping untuk mendukung program sekolah, juga untuk mendukung Role Model Wisata Ekoling TWA Sibolangit, sembari berharap Balai Besar KSDA Sumatera Utara bekerjasama dalam kegiatan ini secara rutin yang dilaksanakan setiap tahun. Disamping itu, Kepala Sekolah Madrasah Swasta Darul Ulum Budi Agung Medan menyarankan adanya penambahan nama-nama ilmiah tumbuhan dan taksonomi tumbuhan dijalur Interpretasi. Sumber : Samuel Siahaan - PEH Pertama Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Balai KSDA Sumatera Selatan Lakukan Konsultasi Publik Penataan Blok SM Gunung Raya

Baturaja, Oktober 2018. Dalam proses penataan blok, dilakukan konsultasi publik guna menampung aspirasi dan masukan dari tingkat tapak. Konsultasi publik Penataan Blok Suaka Margasatwa Gunung Raya Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Provinsi Sumatera Selatan, yang berlangsung 27-29 September 2018 dihadiri Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kab. OKU Selatan, Bappeda Kab.OKU Selatan, Universitas Baturaja, 4 Kecamatan dan 15 Kepala Desa disekitar kawasan, melahirkan tujuh kesepakatan. Konsultasi publik ini diawali dengan pembukaan Kepala Balai KSDA Sumatera Selatan Genman S Hasibuan, S.Hut.,M.M. Kemudian dilanjutkan Paparan dari Subdit PIKA (Pemolaan Informasi dan Konservasi Alam) Mugiharto Hari P ,S.Hut.,M.Si, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kab. Oku Selatan Umar Safari,S.ST dan terakhir paparan terkait bloking SM Gunung Raya oleh Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Azis Abdul Latif,S.Hut.T. Dari hasil pembahasan bahwa SM Gunung Raya dengan luasan 44.996,11 Ha dibagi menjadi 2 (dua) Blok yaitu Blok Perlindungan dan Blok Rehabilitasi. Pembagian blok ini didasarkan pada kondisi tapak SM Gunung Raya dengan data yang ada dilakukan penilaian yaitu sensitifitas ekologi dan sinsitifitas sosial. Dengan dilakukan analisis ini didapatkan luasan Blok Perlindungan seluas 14.406,76 Ha dan Blok Rehabilitasi seluas 30.559,35 Ha. "Hasil dari konsultasi publik ini nanti setelah diperbaiki sesuai masukan, akan dibahas lagi di Jakarta, baru kemudian disahkan oleh Dirjen (Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem/KSDAE)," kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan Genman S Hasibuan, S.Hut.,M.M pada saat diskusi dengan para peserta. Hasil dari ini diskusi pada kegiatan konsultasi publik ini didapatkan 7 (tujuh) kesepakatan yaitu Tahun 2018 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mendorong Unit Pelaksana Teknis baik Taman Nasional maupun Balai KSDA di setiap daerah menyelesaikan peta zonasi atau blok untuk menata dan mengelola kawasan konservasi dalam upaya menjaga hutan agar tetap lestari Hal ini didasarkan pada Peraturan Presiden No. 9/2016 yang menugaskan Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem untuk menata 521 unit kawasan konservasi (KK) dari luasan 527 juta hektar seluruh Indonesia dengan peta skala 1:50.000. Sumber : Taufan Kharis - PEH Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Tingkatkan Profesionalisme, Tana Bentarum Gelar Latihan Menembak

Putussibau, 2 Oktober 2018. Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum) bekerjasama dengan Polres Kapuas Hulu mengadakan Pelatihan Menembak untuk Polisi Kehutanan dan Pejabat Struktural lingkup Balai Besar Tana Bentarum. Peserta berjumlah 31 orang dan dipandu oleh 14 instruktur dari Polres Kapuas Hulu. Pelatihan Menembak dilaksanakan di lapangan Tembak Polres Kapuas Hulu di Nanga Kalis. Dalam sambutannya Balai Besar TaNa Bentarum yang dalam hal ini diwakili oleh Kepala Bidang Teknis Konservasi Taman Nasional, Ardi Andono, menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan kegiatan rutin tahunan untuk meningkatkan kemampuan dan profesionalisme Polisi Kehutanan dalam menggunakan senjata api. Latihan ini juga dimaksudkan untuk meminimalisir pelanggaran serta kesalahan prosedur penggunaan senpi selama anggota bertugas dalam penyelenggaraan perlindungan dan pengamanan hutan. Sementara itu menurut Slamet Riyadi selaku instruktur menembak, latihan ini sangat bagus dilaksanakan secara continue supaya setiap personil dapat lebih memahami karakteristik senjata yang digunakan. Senjata api yang digunakan dalam pelatihan menembak terbagi menjadi dua yaitu Senjata Non Organik TNI/Polri yaitu senjata api bahu jenis PM1-A1 yang merupakan senjata pegangan Polisi Kehutanan Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum dan Senjata Api Organik TNI/Polri yaitu senjata api bahu jenis SS1 V1 dan senjata genggam jenis Revolver. Pelaksanaan menembak dengan mengunakan PM1A1 dan SS1 V1 dilakukan dengan jarak 25 meter dari target sasaran sedangkan Senjata Revolver berjarak 15 meter dari target sasaran. Diakhir kegiatan dilakukan perhitungan untuk masing-masing kategori. Dari hasil penilaian, kategori Polisi Kehutanan diperoleh 3 (tiga) peringkat terbaik dari dua jenis senjata api yang digunakan PM1-A1 dan SS1 V1 yaitu Juara I Suka Prandika, Juara II Muslim dan Juara III Ferdiyansyah. Kategori Pejabat Struktural diperoleh 3 (tiga) peringkat terbaik dengan menggunakan senjata api jenis PM1-A1, SS1 V1 dan Revolver yaitu Juara I Junaidi , Juara II Wahyu Setiyakusumo dan Juara III Fery AM. Liuw. Melalui pelatihan ini diharapkan Polisi Kehutanan mampu menggunakan senjata api sesuai prosedur sehingga dapat mendukung tugas pokok dan fungsi perlindungan hutan. Ardi juga menegaskan “Selain itu menumbuhkan mental dan keberanian untuk mengambil keputusan dengan cepat dan self control yakni kesabaran, ketenangan dan konsentrasi”, pungkasnya. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Sinergitas Polhut Taman Nasional Kepulauan Seribu

Jakarta, 2 Oktober 2018. Pada tanggal 24 sampai dengan 27 September 2018, sebanyak 30 (tiga puluh) personel Anggota Polisi Kehutanan lingkup Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu bersama dengan anggota SPORC Balai Pencegahan dan Pengamanan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Seksi 1 Jakarta melakukan patroli bersama, kegiatan ini sebagai tindak lanjut pengumpulan Bahan Keterangan yang telah dilaksanakan pada Bulan Mei 2018 lalu. Patroli bersama ini sebagai bentuk kerjasama lintas eselon I di lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang dilaksanakan di Kawasan TN. Kepulauan Seribu pada dua wilayah Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) yaitu SPTN wilayah I Pulau Kelapa dan SPTN Wilayah II Pulau Harapan mengingat lokasi tersebut diindikasikan banyak terdapat kerusakan ekosistem sumber daya alam, target patroli adalah penanganan indikasi pelanggaran perusakan ekosistem, reklamasi dan pengambilan biota laut dilindungi, patroli dengan sifat pre emtif dan preventif merupakan cara efektif dalam upaya mencegah dan menekan laju kerusakan yang terjadi di wilayah Taman Nasional Kepulauan Seribu. Rute yang dilalui selama 4 (empat) hari, oleh tim Patroli bersama ini melalui keterwakilan zona yang ada di wilayah Taman Nasional Kepulauan Seribu yaitu Zona Inti II (Pulau Penjaliran), zona perlindungan (Pulau Sebaru Besar), dan pulau- pulau di Zona Pemanfataan Wisata. Permasalahan yang ditemui pada saat kegiatan patroli bersama ini yaitu adanya penimbunan pantai Timur Pulau Harapan oleh masyarakat Pulau Harapan (Zona Pemanfaatan Wisata) oleh 15 (lima belas) orang warga, menggunakan karang mati dan pasir laut sebagai upaya reklamasi pantai untuk dijadikan rumah tinggal. Dari 15 orang warga masyarakat tersebut ada 4 (empat) kapling hasil reklamasi mengajukan proses sertifikasi ke PTSP (Pelayanan Terpadu Satu Pintu) di Kelurahan Pulau Harapan untuk mendapatkan pengakuan sertifikat hak milik (SHM). Kegiatan tersebut berpotensi melanggar Undang – undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya Pasal 19 ayat (1) Menyatakan bahwa setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan kawasan suaka alam sedangkan ayat (3) Menyebutkan perubahan terhadap keutuhan kawasan suaka alam yang dimaksud dalam ayat (1) meliputi : mengurangi, menghilangkan fungsi dan luas kawasan suaka alam, serta menambah jenis tumbuhan dan satwa lain yang tidak asli. Dampak akibat adanya pengambilan pasir laut akan menyebabkan kerusakan ekosistem laut, abrasi pantai,kelangkaan ikan serta hancurnya terumbu karang, selain itu pengambilan pasir laut menyebabkan terjadinya perubahan pola arus dan perubahan stuktur geomorfologi pantai. Upaya yang dilakukan oleh Tim Patroli adalah melakukan pendataan, identifikasi dan rekomendasi kepada Kepala SPTN Wilayah II Pulau Harapan untuk dilakukan Rapat koordinasi dengan Pemerintah Daerah setempat, tokoh masyarakat dan warga yang melakukan kegiatan reklamasi agar dicarikan solusi permasalahan tersebut. Sumber : M. Firdiansyah - Polisi Kehutanan Pelaksana Lanjutan Balai TN Kepulauan Seribu
Baca Berita

7 Ekor Gajah Sumatera Tertangkap Kamera Trap di SM Padang Sugihan

Sebokor, 2 Oktober 2018. Tim monitoring Gajah Balai KSDA Sumatera Selatan melakukan pemasangan kamera trap selama 2 (dua) bulan di Suaka Margasatwa (SM) Padang Sugihan. Dalam perencanaan awal memang satwa target yang ditetapkan oleh tim adalah Gajah Sumatera, akan tetapi terdapat juga satwa lain seperti rusa, monyet ekor panjang, babi, burung, dan musang. Dari 6 lokasi pemasangan kamera trap terdapat 2 kamera trap yang menangkap keberadaan Gajah Sumatera sejumlah 4 ekor pada kamera yang dipasang di jalur 4 dan 3 ekor pada kamera yang dipasang di jalur 6. Terdapat 1 ekor anakan yang berusia kurang lebih 1 tahun. Hal ini sangat mengembirakan karena terjadi reproduksi yang baik pada gajah liar di SM Padang Sugihan. Dengan diketahuinya anakan tersebut Balai KSDA Sumatera Selatan mempunyai harapan yang besar Gajah Sumatera di SM Padang Sugihan akan berkembangbiak dengan baik. Penggunaan kamera trap sangat efektif dalam pemantauan satwa liar di alam. Guna mendapatkan hasil yang berkualitas dari pemasangan camera trap diperlukan pengetahuan yang memadai mengenai jenis-jenis satwa liar yang diketahui keberadaannya, perkiraan besarnya populasi satwa di lingkup daerah tertentu dan pemantauan manajemen habitat. Pada umumnya satwa dapat mendeteksi keberadaan manusia jauh sebelum manusia mendeteksi mereka. Camera trap mampu memberikan gambaran secara sekilas tentang kehidupan satwa yang tertutup. Meski mendapatkan foto dari kumpulan spesies yang sama berulang kali, tetapi sesekali kita mungkin mendapatkan gambaran perilaku yang istimewa dari kehidupan satwa di alam liar. Dari hasil kamera trap juga tim menemukan penampakan orang yang ada didalam kawasan baik untuk kegiatan memancing ataupun kegiatan illegal lainnya. Hal ini akan menjadi tindak lanjut dari hasil camera trap dengan melakukan patrol secara lebih intens sehingga kawasan yang khususnya banyak ditemukan satwa akan terjaga dengan baik. Sumber : Taufan Kharis - PEH Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Rencana Kurikulum Belajar Suku Anak Dalam

Muara Tabir, 29 September 2018. Bertempat di Desa Sungai Jernih Resort II. D Muara Tabir di dekat kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas, diinisiasi oleh PKBM Amanah diadakan pertemuan dengan Suku Anak Dalam Tumenggung Ngadap yang dihadiri oleh: BP - PAUD, DAN DIKMAS Prov Jambi, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN. Pertemuan ini membahas rencana kurikulum belajar bagi Suku Anak Dalam yang disusun oleh pihak Keguruan UIN Jambi. Sebelumnya kegiatan belajar mengajar ini telah berlangsung semenjak Februari 2018 pada kelompok Tumenggung Ngadap. Kegiatan belajar mengajar ini fokus pada membaca dan berhitung, dari usia anak - anak sampai dewasa. Kegiatan belajar mengajar yang berkolaborasi ini merupakan kegiatan positif agar Suku Anak Dalam dapat membaca dan menulis. Dalam kesempatan tersebut, disampaikan kepada mitra agar menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan Suku Anak Dalam. Taman Nasional Bukit Duabelas yang di dalamnya terdapat Suku Anak Dalam memiliki karakteristik khusus dalam pengelolaannya dibanding Taman Nasional pada umumnya. Banyak pekerjaan rumah yang berhubungan dengan Suku Anak Dalam yang harus dikerjakan dalam pengelolaannya. Semoga kegiatan ini membawa manfaat bagi Suku Anak Dalam serta kelestarian Taman Nasional Bukit Duabelas. Salam Lestari! Sumber : Ganda Josua Samosir, S. Hut - Penyuluh Kehutanan Taman Nasional Bukit Duabelas
Baca Berita

Polhut Matalawa Sahabat Anak

Waingapu, 1 Oktober 2018. Bertempat di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Hambala, digelar acara outbond konservasi bertemakan “Kujaga Alamku Kokoh Imanku” bagi siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyah (MI) Plus Insani Rabbani untuk kelas 1, acara ini melibatkan berbagai pihak diantaranya adalah para ustadz/ustadzah Madrasah Ibtidaiyah Plus Insani Rabbani, para dokter muda dari Rumah Sakit Umbu Rara Meha Waingapu dan petugas Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti. Polhut TN Matalawa Andri Martha Supriatama, A.Md dan Suyatno S.Hut dengan antusias mendampingi anak-anak SD MI selama melaksanakan outbond, suasana penuh keceriaan yang diwarnai dengan semangat para siswa/siswi MI menyanyikan yel-yel outbond menggema di atas tanah seluas 558 Ha. berbagai permainan dikemas dalam bentuk yang mengasikan diantaranya halang rintang di ilustrasikan dengan burung julang yang bekerja keras untuk mendapatkan makanan, penyusunan puzzle berupa sepasang burung kakatua yang diciptakan Tuhan berpasang-pasangan dan menjaga kelestarian hutan untuk tidak merusaknya, diilustrasikan dengan sebuah pohon mara sebagai habitat berbagai burung sumba dengan segala manfaatnya dan yang terakhir adalah mengenal rusa timor dan habitatnya. Di akhir acara kegiatan tersebut digelar dongeng konservasi yang diberikan oleh Kepala Sekolah MI dengan menggabungkan ke empat unsur permainan yang sudah digelar yakni: hutan, rusa, kakatua, dan julang. Outbond konservasi yang digelar ini diharapkan mampu memberikan warna tersendiri dalam menumbuhkan kesadaraan akan pentingnya kelestarian lingkungan para anak-anak usia dini terhadap semua ciptaan Tuhan. Sumber : Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti

Menampilkan 6.881–6.896 dari 11.140 publikasi