Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

BAPPENAS RI Melihat Pembelajaran Kemitraan Konservasi di Dua Desa Penyangga TN Bunaken

Minahasa, 6 Oktober 2018. Bertempat di Desa Popareng, Kecamatan Tatapaan, Kabupaten Minahasa Selatan dan Desa Poopoh, Kecamatan Tombariri, Kabupaten Minahasa, Direktur Kelautan dan Perikanan - Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) RI - Dr. Ir. Sri Yanti JS, MPM melihat langsung pembelajaran kemitraan konservasi di kelompok Cahaya Tatapaan Popareng dan Kelompok Cahaya Trans Poopoh. Ibu Yanti terkesan dengan aktivitas dalam Pengelolaan Akses Area Perikanan (PAAP) di zona tradisional. Aktivitas yang dilakukan kelompok Cahaya Tatapaan dan Cahaya Trans antara lain melakukan pengukuran panjang dan berat ikan, membatasi waktu tangkapan anggota kelompok dan ukuran alat tangkap. Kelompok pionir ini memberikan masukan kepada Desa dalam kemitraan diwilayah penyangga Taman Nasional Bunaken bagian selatan. Pemberian Akses Area Perikanan pada zona tradisional pada kedua kelompok tersebut oleh Balai Taman Nasional Bunaken telah ditandatangani pada tanggal 29 Nopember 2017 di Manado. Tindaklanjutnya dengan menjadikan Desa Popareng dan Desa Poopoh sebagai Role Model Ekowisata dan Desa Wisata Bersama Masyarakat dan telah di launching pada bulan Agustus 2018 lalu. Dalam kesempatan pembelajaran di Desa Popareng dan Desa Poopoh turut mendampingi Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Utara - Ir. Ronald Sorongan, M.Si dan jajarannya, serta dari Rare Indonesia. Tidak hanya mendiskusikan program kerja dan pembelajaran, tetapi juga melakukan snorkelling dengan dipandu langsung oleh Cahaya Tatapaan dan konsorsium. Mengakhiri kunjungan pembelajaran rombongan memberikan tali kasih kepada Cahaya Tatapaan dan Cahaya Trans serta sertifikat menyelam open water kepada pemuda yang telah dilatih dan dipersiapkan menjadi buddy dan pemandu wisata alam. Sumber : Balai Taman Nasional Bunaken
Baca Berita

Aksi Bersih Sampah Balai Taman Nasional Komodo bersama Mitra

Labuan Bajo, 5 Oktober 2018. 317 kg sampah plastik dikeluarkan dari Taman Nasional Komodo dalam kegiatan bersih sampah oleh Balai Taman Nasional Komodo (4/10). Sampah tersebut diambil dari tiga lokasi yakni Padar Selatan, Pink Beach dan Gililawa, dengan melibatkan beberapa mitra antara lain Trash Hero, P2L, WWF, TNI, Pemda Mabar, masyarakat, serta didukung oleh Ditjen PSLB3. Tidak hanya di daratan, aksi bersih sampah juga dilakukan di bawah laut yakni di perairan Pantai Merah. Sampah-sampah yang dikumpulkan dari bawah laut sebagian besar merupakan pecahan gelas dan botol. Sampah-sampah yang dikumpulkan dalam kegiatan ini dipilah menurut jenisnya dan dibawa ke Labuan Bajo. Sampah-sampah daur ulang seperti botol plastik kemudian dibawa ke TPS 3R sedangkan sampah yang tidak bisa didaur ulang langsung dibawa ke TPA. Selain merupakan kegiatan rutin yang dilakukan oleh Balai Taman Nasional Komodo bersama mitra, kegiatan bersih pantai ini juga dilakukan dalam rangka menyambut kunjungan peserta IMF-WB ke Taman Nasional Komodo pada pertengahan bulan Oktober ini. Kepala Balai TN Komodo Budhy Kurniawan menyampaikan apresiasinya kepada mitra yang ikut terlibat dan berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kepedulian dan kesadaran terhadap lingkungan. "Kami berterimakasih kepada kita semua yang hari ini ikut terlibat dan kami berharap semoga apa yang kita lakukan hari ini dapat meningkatkan kesadaran kita terhadap lingkungan. Taman Nasional Komodo milik kita bersama jadi mari kita tunjukkan kepedulian demi kelestariannya". Bersih sampah bersama mitra merupakan salah satu skema penanganan sampah di Taman Nasional Komodo. Skema lain dilakukan dengan membentuk masyarakat peduli sampah (MPS) di Desa Komodo, Pasir Panjang dan Papagarang yang bertanggung jawab terhadap penanganan sampah di desa dan lokasi wisata terdekat. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo
Baca Berita

Selamat Jalan Rimbawan Muda

Medan, 5 Oktober 2018. Bencana gempa bumi bermagnitudo 7,4 di Palu, Sulawesi Tengah, pada Jumat, 28 September 2018, menimbulkan rasa duka yang mendalam buat masyarakat, termasuk juga dirasakan oleh jajaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, mengingat salah seorang rimbawan ikut menjadi korban dari gempa bumi tersebut. Cuaca mendung menyelimuti rumah duka di kompleks perumahan Bali Indah No. 14, Jalan Aribawana Utama, Medan, saat menyambut kedatangan jenazah Agnes Christina Sitorus. Rumah duka tidak hanya dipenuhi keluarga, tetapi juga tetangga dan masyarakat yang ingin melihat langsung. Agnes Christina Sitorus, Calon Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) pada Balai Taman Nasional Kepulauan Togean, Sulawesi Tengah, merupakan salah satu korban yang ditemukan tewas di reruntuhan Hotel Roa Roa di Jalan Patimura, Palu. Jasad korban baru ditemukan pada Selasa, 2 Oktober 2018, yang lalu. Agnes, yang baru sekitar 7 bulan bergabung di Balai Taman Nasional Kepulauan Togean, masih berstatus sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dan sebelum peristiwa gempa bumi terjadi, almarhum baru saja menyelesaikan pendidikan dan latihan (Diklat) Pra Jabatan, sebagai syarat untuk diangkat menjadi PNS. Sebagai bentuk kepedulian dan empati terhadap korban, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Ir Wiratno, M.Sc., beserta jajarannya, membantu memfasilitasi pemulangan jenazah korban kepada keluarga di Medan. Jenazah, diberangkatkan dari Palu, pada Selasa, 2 Oktober 2018, melalui Balikpapan. Di Kota Balikpapan menginap satu malam, dan baru pada Rabu, 4 Oktober jenazah tiba di Bandara Internasional Kuala Namu (KNIA), Deli Serdang. Kedatangan jenazah di bandara disambut oleh perwakilan UPT lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang ada Propinsi Sumatera Utara, untuk selanjutnya membawa kerumah duka dan secara resmi menyerahkan kepada keluarga. Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Teguh Setiawan, S.Hut., mewakili UPT lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Propinsi Sumatera, dalam kata penghiburannya kepada keluarga, menyampaikan salam dan turut berdukacita dari Dirjen KSDAE beserta seluruh jajaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, atas meninggalnya almarhum. “Kami merasa kehilangan salah seorang rimbawan terbaik, dan berharap semoga keluarga sabar dan tabah dalam menghadapi cobaan ini. Bapak Direktur Jenderal KSDAE, memberi perhatian khusus, mulai dari pemulangan jenazah almarhumah dari Palu, Sulawesi Tengah, dan sampai saat ini kami ditugaskan untuk menyerahkan langsung kepada keluarga,” ujar Teguh, sembari menyerahkan uang duka dari Ketua Dharma Wanita Direktorat Jenderal KSDAE, Ny. Wiratno, dan dari lingkup UPT Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Propinsi Sumatera Utara. Pihak keluarga pun menerima dengan baik serta menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Dirjen KSDAE beserta seluruh jajarannya, yang telah membantu proses pemulangan jenazah. Keluarga merencanakan pemakaman almarhum akan dilaksanakan pada Jumat, 5 Oktober 2018. “Selamat jalan buat sahabat kami, rimbawan AGNES CHRISTINA SITORUS, kami akan tetap mengenangmu….” Sumber : Evansus Renandi Manalu - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Dua Orang Staf TN Bromo Menghadiri Seminar on Protection of Cultural Heritage for Developing Countries di China

Malang, 4 Oktober 2018. Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS) mendapatkan kesempatan untuk mengikuti "2018 Seminar on Protection of Cultural Heritage for Developing Countries" di China pada tanggal 22 Agustus – 13 September 2018. BBTNBTS mengirimkan 2 (dua) orang perwakilan, yaitu Bidhin Lintang Anggraheni, S.Hut., M.P. (Kepala Seksi PTN Wilayah III Senduro) dan Bambang J.S. Purnama, S.Hut (Pengendali Ekosistem Pertama). Seminar yang diadakan oleh Central Academy of Cultural Administration (CACA) yaitu lembaga pendidikan dan pelatihan dibawah Kementerian Budaya dan Pariwisata Republik Rakyat China juga dihadiri oleh perwakilan dari beberapa negara, seperti Pakistan (2 orang), Srilanka (1 orang), Azerbaijan (1 orang), Malta (2 orang), Iran (1 orang), Ethiopia (9 orang), Erithrea (2 orang), Libya (4 orang), Mesir (2 orang), Tanzania (1 orang), Suriname (1 orang), Sudan Selatan (4 orang). Kegiatan seminar di China tersebut diisi dengan materi dalam kelas mengenai perlindungan dan pelestarian warisan budaya baik benda maupun tak benda. “Kami juga berkesempatan untuk mempresentasikan warisan budaya benda dan tak benda serta pengelolaannya di Indonesia, selain itu dari masing-masing perwakilan negara juga berbagi kesepahaman antara para peserta,” ujar Bidhin. Selain materi di dalam kelas, kegiatan juga dilakukan dengan melakukan kunjungan ke lapangan untuk mengetahui pengelolaan warisan cagar budaya yang ada di China. Kunjungan tersebut diantaranya : Tembok Besar China di Beijing, Museum Beijing Capital, Kota Terlarang di Beijing, Gunung Huang (Yellow Mountain) di Huangshan, Pabrik Ink Stone di Huangshan, Museum Keramik di Jingdezhen, Museum Teh di Anhui. Bidhin menjelaskan bahwa kegiatan seminar dilaksanakan di 3 (tiga) tempat yaitu di Daxing District, Beijing untuk materi dalam kelas, sedangkan kunjungan ke lapangan dilaksanakan di Huangshan, Propinsi Anhui dan Jingdezhen, Propinsi Jiangxi. Menurut John Kenedie (Kababes TNBTS), “Saat ini BBTNBTS telah menjalin kerjasama yang sangat baik dengan Konsulat Jenderal Republik Rakyat China di Surabaya dan kesempatan kunjungan BBTNBTS ke China ini merupakan undangan yang kedua kalinya dari Pemerintah Republik Rakyat China.” Sumber : Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru
Baca Berita

Seminar Kirab Pemuda

Polewali, 05 Oktober 2018. Rombongan Kirab Pemuda zona 2 telah tiba di Polman Sulawesi Barat mengikuti seminar sehari pengenalan potensi kegiatan kepemudaan wilayah Polewali Mandar (5/10), diibuka oleh Asisten II Pemkab. Polewali Mandar, Drs. Darwin Baharuddin, M.Pd. Kegiatan ini diharapkan mampu membuka wawasan pelestarian alam bagi pemuda penerus bangsa Indonesia, demi kesejahteraan anak cucu kita dimasa yang akan datang. Pemuda asli Polewali Mandar, Yusri seorang pengelola komunitas Sahabat Penyu mengawali seminar ini dengan berbagi cerita tentang pengalamannya merubah persepsi masyarakat di wilayahnya yang dahulu terbiasa mengkonsumsi telur penyu hingga kini akhirnya berhasil menekan angka konsumsinya. Materi tentang pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) menjadi santapan kedua, materi ini disampaikan oleh Kepala Balai Pengelolaan DAS Lariang Mamasa, Ir. Daniel Lebang, MM. Pengenalan Kawasan Konservasi, Kehati dan sosialisasi P.92 tahun 2018 tentang tumbuhan dan satwa liar (TSL) dilindungi kemudian disampaikan oleh Edy Santoso, S.Hut, M.Si dari Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan dan tema pengelolaan Sampah disampaikan oleh kepala Sub Bidang Tindak Lanjut pusat Ekoregion Sulawesi Maluku Ellyana Said S.Pi. Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan
Baca Berita

Misi Tatap Muka Kepala Balai TN Taka Bonerate

Pasimasunggu - Kepulauan Selayar, 05 Oktober 2018. Kepala Balai Taman Nasional Taka Bonerate (TNTBR) Faat Rudhianto dan Tim bertolak menuju Kecamatan Pasimasunggu Kab. Kepulauan Selayar dengan ditemani cuaca yang kurang bersahabat (4/10) untuk melakukan melakukan pendekatan ke masyarakat sekitar kawasan. Misi yang dibawa kali ini melakukan tatap muka dengan warga Kecamatan Pasimasunggu yang juga masuk dalam daerah Penyangga TN Taka Bonerate. Tatap muka ini merupakan bagian dari agenda kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan di aula pertemuan kecamatan. Camat Pasimasunggu Siregar, S.STP,.M.Si membuka kegiatan ini yang dihadiri staf pemerintah Kecamatan Pasimasunggu, Tripika Pasimasungu para Kepala Desa, Tokoh Masyarakat, Tokoh Pemuda dan Tokoh Agama. Materi sosialisasi yang disampaikan diantaranya Kebijakan Pengelolaan Taman Nasional Taka Bonerate dan Undang-Undang No.45 Tahun 2009 tentang perubahan atas Undang-Undang Nom31 Tahun 2004 tentang Perikanan. Selain pemaparan materi juga dilakukan diskusi yang berlangsung secara interaktif. "Kompresor adalah salah satu biang terjadinya kerusakan potensi bawah laut kita" jelas Kepala Balai Faat Rudhianto. Jika kita sama-sama melarang penggunaannya sebagai alat bantu menangkap ikan, kerusakan bawah laut kita bisa minimalisir, tambahnya. Sosialisasi ini ditutup dengan penandatanganan Piagam Kesepakatan pelarangan kompresor sebagai alat bantu tangkap dalam wilayah Kecamatan Pasimasunggu. Sumber : Asri - PEH Penyelia Balai TN. Taka Bonerate Foto : Irfandy Aznur - Penyuluh Kehutanan Balai TN. Taka Bonerate
Baca Berita

2 Ekor Elang Bondol dan 1 Ekor Nuri Kepala Hitam Diamankan Tim BKSDA dan GAKKUM NTB

Lombok Tengah, 4 Oktober 2018. Menindaklanjuti laporan masyarakat mengenai kepemilikan satwa oleh seorang warga Praya, Lombok Tengah, Tim Gabungan Balai KSDA dan GAKKUM NTB langsung bergerak menuju lokasi. Di TKP, berhasil ditemukan 1 ekor Elang Bondol. Bapak MR, selaku pemilik mengaku bahwa Satwa didapat melalui transaksi jual-beli dengan seorang warga lain yang juga berdomisili daerah Praya. Terhitung sejak membeli, Bapak MR mengaku sudah tiga bulan merawat Elang Bondol tersebut. Tak sampai disitu, menindaklanjuti keterangan yang diperoleh dari Bapak MR, Tim BKSDA dan GAKKUM NTB bertindak cepat dengan mendatangi langsung rumah si penjual, Bapak B dan kembali berhasil menjumpai lagi 1 ekor Elang Bondol dan 1 ekor Nuri Kepala Hitam. Bapak MR dan Bapak B mengaku tidak mengetahui bahwa yang mereka miliki termasuk dalam jenis Satwa yang dilindungi. Tim pun menggunakan kesempatan untuk memberikan sosialisasi dan penjelasan mengenai PP Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar dan P.92/2018 yang merupakan revisi P.20/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang di lindungi. Dan dengan itikad baik, 2 Ekor Elang Bondol (Haliastur indus) dan 1 Ekor Nuri Kepala Hitam (Lorius domicella) diserahkan secara sukarela oleh sang pemilik dan telah diamankan di Kantor BKSDA NTB. Sumber : Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

Benchmarking Pengelolaan Wisata Berbasis Budaya dan Masyarakat Tahun 2018

Ende, 5 Oktober 2018. Selain alamnya yang indah, TN Kelimutu juga sangat erat kaitannya dengan budaya lokal masyrakat di sekitarnya. Di sekitar TN Kelimutu terdapat 21 komunitas adat, yang memiliki kehidupan dan ritual adat istiadat yang tidak bisa dilepaskan dengan keberadaan Danau Tiga Warna Kelimutu yg ada di dalam kawasan taman nasional dan sangat menarik untuk dikembangkan menjadi alternatif objek wisata bersama dengan alamnya. Untuk mendorong pengembangan ekowisata tersebut, pada bulan Agustus – September Balai Taman Nasional Kelimutu melaksanakan kegiatan Benchmarking ke dua lokasi yaitu Tim Pertama ke Kawasan Adat Jerebu’u Kabupaten Ngada dan Tim Kedua ke Kalibiru Jogjakarta dan TN Ciremai di Kuningan Jawa Barat. Dalan Benchmarking Pengelolaan Wisata Berbasis Budaya ke Kawasan Adat Jerebu’u Kabupaten Ngada, Peserta Benchmarking Budaya melibatkan perwakilan masyarakat dari komunitas adat dan desa penyangga TN Kelimutu. Perwakilan masyarakat ini terdiri Mosalaki (Tetua adat), perwakilan pemerintah desa (kepala desa, ketua BPD) dan perwakilan kelompok pemberdayaan masyarakat. BTN Kelimutu sebagai pendamping bersama perwakilan masyarakat mengunjungi 3 (tiga) kampung adat yang telah terkenal di kalangan wisatawan yaitu Kampung Adat Bena, Kampung Adat Tololela dan Kampung Adat Gurusina. 3 kampung adat ini dipilih karena telah memiliki manajemen dan tata kelola wisata budaya yang membuat 3 kampung ini sangat dikenal di kalangan wisatawan baik itu nusantara maupun mancanegara. Dalam kegiatan ini, peserta Benchmarking berbagi pengalaman dan cerita melalui diskusi/sharing seputar pengelolaan wisata budaya di setiap kampung adat. Selanjutnya, untuk mendorong pengembangan ekowisata di TN Kelimutu, pada kegiatan Tim Benchmarking kedua tanggal 7-11 September 2018, dilaksanakan Benchmarking Pengelolaan Wisata Berbasis Masyarakat ke Objek Wisata Kalibiru di Jogjakarta dan TN Gunung Ciremai di Jawa Barat. Kegiatan Benchmarking ini juga melibatkan masyarakat dengan perwakilan dari unsur Pemerintah Desa (Kepala Desa), Tokoh Adat (Mosalaki), perwakilan kelompok pemberdayaan masyarakat dan Mitra Pemerhati Wisata (DMO). Dalam kegiatan ini, tim berdikusi dan belajar bersama pengelola wisata di lokasi tujuan terkait dengan manajemen dan tata kelola wisata berbasis masyarakat. Point penting dari kegiatan ini adalah : komitmen, kemauan, kekompakan, kesadaran, ketokohan (leadership) dan komunikasi. Harapan dari kegiatan ini agar dapat meningkatkan wawasan dan ide bagi masyarakat dalam mengembangkan potensi alam dan budaya untuk pengembangan wisata dalam konteks pemberdayaan masyarakat di wilayah desa masingmasing, yang dapat berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dan sebagai atraksi wisata pendukung di TN Kelimutu. Sumber : Balai Taman Nasional Kelimutu
Baca Berita

Pembentukan Masyarakat Peduli Api Taman Nasional Kelimutu Tahun 2018

Ende, 5 Oktober 2018. Sebagai salah satu upaya peningkatan peran serta masyarakat dalam pengendalian karhutla di kawasan konservasi, Balai TN Kelimutu melaksanakan Pembentukan Masyarakat Peduli Api (MPA). Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 1 - 2 Oktober 2018 di Ende. Kelompok MPA ini berjumlah 30 orang yang dibagi dalam 2 regu. Anggota MPA merupakan masyarakat desa penyangga TN Kelimutu dari Kecamatan Detusoko. Pengajar dalam kegiatan ini adalah Ibu Ni Nyoman Yeni Susanti yang berasal dari Balai Pengendalian Perubahan Iklim LHK Wilayah Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, Bapak Joko Waluyo dari BTN Kelimutu dan Bapak Yohanes Hebi yang merupakan Camat Detusoko. Pembentukan MPA ini diawali dengan pembekalan teknis yang menitikberatkan pada pembentukan kelompok, penguatan kelembagaan, dan pengenalan teori terkait mitigasi, kebakaran hutan dan lahan serta pencegahannya, pengenalan sarana prasarana terkait dalkarhutla, dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anggota MPA dalam bidang dalkarhutla. Sumber: Balai Taman Nasional Kelimutu
Baca Berita

Komitmen Bersama Menuju Program Hutan Lestari

Probolinggo, 5 Oktober 2018. Pertemuan Stakeholder Meeting Forum dengan tema "Masyarat Desa Hutan dan Perhutani Dalam Komitmen Bersama menuju Pengelolaan Hutan Lestari" diselenggarakan oleh LSM Perisai (Pecinta Rimba dan Satwa Liar Indonesia) pada tanggal 5 Oktober 2018 di RM. Paiton Permai. Kegiatan ini dihadiri perwakilan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) yang di wakili Kepala Seksi Konservasi Wilayah VI Probolinggo. Kapolsek Paiton, ADM Perhutani KPH Probolinggo, Kepala Desa dari 6 Desa yang terdiri dari; Desa Binor, Desa Sumberejo, Desa Kotaanyar, Desa Curah Temu, Desa Banyuglugur dan Desa Selobanteng, LSM beserta Elemen masyarakat juga turut hadir. Tema yang disampaikan dari BBKSDA Jawa Timur diantaranya Simbiosis Mutualisme Dalam Pengelolaan Hutan Lestari sekaligus Sosialisasi PermenLHK P.92 tahun 2018. Sedangkan dari pihak Perhutani membawakan materi dengan tema Sosialisasi tentang Visi Misi PHT dan Komitmen Pengelolaan Hutan Lestari Dalam 3 Aspek Ekologi, Produksi dan Sosial. Pertemuan ini juga dilaksanakan Penandatanganan Nota Kesepakatan antar pihak terkait dan menyatakan Kesepahaman Komitmen Bersama Program Hutan Lestari. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Penguatan Kelembagaan Petani Nelayan di Swarangan

Pelaihari, 4 Oktober 2018 – Monitoring dan pendampingan kelompok usaha perikanan “Kelompok Laksmana Bahari” di Desa Swarangan, Jorong bertujuan menjaga semangat kebersamaan di antara anggota kelompok dan pengurus terhadap kegiatan yang sudah mereka laksanakan antara lain membuat ikan kering dalam paket-paket tertentu dan dibungkus yang rapi serta menarik. Selama ini sudah mulai dipasarkan melalui pertemuan-pertemuan di tingkat Kabupaten Tanah Laut dan juga melalui media sosial. “Selain penguatan tentu dalam rangka untuk pengembangan kegiatan”, kata Dr. Mahrus Aryadi, M.Sc, Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan. Masyarakat berharap kegiatan ini dikembangkan dalam hal pemasaran. “Sedangkan bahan baku jika pada bulan-bulan tertentu misalnya mulai bulan Januari sampai Juni ikan sangat berlimpah dan perlu ada pemasaran yang lebih baik lagi sehingga nanti hasil dan nilai jualnya menjadi lebih tinggi”, tambah Mahrus. Sekdes Swarangan, Hamdani berharap ada lagi kegiatan selain ini yaitu pengembangan jasa wisata untuk camping ground di Pantai Swarangan. “Karena di sana sudah tumbuh banyak pohon cemara laut yang indah dan pantainya yang cukup landai sehingga bisa menjadi tempat bermain bagi anak-anak jadi perlu dikembangkan”, tuturnya. Ketua Kelompok Laksmana Bahari, Taibani berharap perlu ditingkatkan lagi dalam hal kualitas sehingga nantinya harga bisa menjadi lebih bersaing. Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Pelaihari, Mirta Sari, S.Hut, M.P yang didampingi oleh Kepala Resort Suaka Margasatwa Pelaihari, Akhmad Fauzan, S.Hut mengatakan, “Kegiatan di SKW I Pelaihari ini bukan hanya di Desa Swarangan tetapi juga dilaksanakan di Desa Sabuhur yaitu pengembangan lebah madu sehingga dua desa ini diharapkan nanti bisa bersama-sama dengan SKW I Pelaihari melaksanakan kegiatan lainnya seperti perlindungan kawasan dalam hal patroli dan tentu menjaga jangan sampai kawasan konservasi itu dijarah oleh orang luar. (jrz) Sumber : Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan
Baca Berita

Sarasehan Pemberdayaan Masyarakat Melalui Kolaborasi, Konservasi dan Seni

Dukun – Magelang, 4 Oktober 2018. Guna melaksanakan fungsi pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan hutan di Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), Balai TNGM menggelar Sarasehan Pemberdayaan Masyarakat Melalui Kolaborasi, Konservasi dan Seni. Sarasehan ini dilaksanakan pada hari Kamis, 4 Oktober 2018 di kantor Resort Dukun Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I, Balai TNGM, desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Dukun. Lokasi ini berada di sisi barat Gunung Merapi. Sarasehan merupakan pertemuan yang dilaksanakan untuk mendengarkan pendapat seseorang yang ahli di dalam bidang tertentu, dimana kegiatan ini akan dilaksanakan dengan cara mengundang atau menghadirkan sekelompok undangan tertentu. Sehingga tepatlah jika pada sarasehan kali ini menghadirkan narasumber Kepala Balai TNGM. Ir Ammy Nurwati, M.M, Edy Susanto selaku Pelaksana Tugas Harian Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang, serta Joko Sudibyo, selaku Sekretaris Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Magelang. Sarasehan juga dihadiri Camat Dukun, Kepala Kepolisian Sektor Dukun, Komandan Rayon Militer (Danramil) Dukun, para Kepala Desa di daerah penyangga TNGM, Ketua KTH, Ketua SPKP, dan berbagai ketua Lembaga Organisasi Masyarakat di lingkup Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang. Sarasehan ini sekaligus meresmikan Pendopo “Sasana Kridha Bhakti” yang berada di lingkungan kantor resort Dukun, SPTN Wilayah I, dengan lokasi di desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang. Pendopo ini akan difungsikan sebagai tempat pertemuan para pihak mitra Balai TNGM. Inilah bentuk kepedulian Balai TNGM yang berangkat dari kesamaan harapan dan cara pandang antara Pengelola Kawasan Taman Nasional dan para pihak (stakeholder), terutama masyarakat umum lokal terhadap pentingnya melestarikan Gunung Merapi guna menjamin kelestarian manfaat bagi masyarakat sekitar kawasan konservasi. Pengelolaan Kawasan Taman Nasional Gunung Merapi tidak akan optimal jika tidak melibatkan para pihak, baik dari unsur masyarakat, Pemerintah (Pusat dan Daerah), lembaga, individu, dan lain-lain. Pelibatan para pihak akan semakin memberi dampak positif terhadap pengelolaan jika para pihak tersebut semakin berdaya dan terpadu. Kemudian, melalui kolaborasi antar pihak yang baik dan terus menerus maka hal tersebut akan lebih menjamin peningkatan keberdayaan para pihak dalam berpartisipasi pengelolaan kawasan TNGM. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Merapi
Baca Berita

Mencari Solusi Masalah, Direktur KKH Kunjungi Lokasi Konflik Gajah

Kotaagung, 4 Oktober 2018. Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) Indra Exploitasi kunjungi Desa Karang Agung dan Desa Tulung Asahan Kecamatan Semaka Kabupaten Tanggamus, lokasi yang sering terjadi konflik Gajah Sumatera dengan masyarakat 1 tahun terakhir ini, pada hari Rabu 3 Oktober 2018. Kelompok Gajah ini kerap kali menimbulkan konflik dengan masyarakat dan telah menyebabkan 2 korban jiwa, yaitu Suriptini (70 tahun) tanggal 3 Juli 2018 dan Saudah (53 tahun) tanggal 15 Agustus 2018. “Kunjungan lapangan ini bertujuan untuk melihat langsung kondisi di lapangan, agar kita dapat mengambil langkah yang tepat untuk penanganannya”, ujar Kepala Balai Besar TNBBS Ir. Agus Wahyudiyono saat mendampingi Direktur KKH meninjau lokasi konflik. Sebelum melakukan kunjungan lapangan, Tim KKH yang dipimpin langsung oleh Direktur KKH Indra Exploitasi mengadakan rapat membahas perkembangan penanganan konflik gajah dan manusia di Kantor Balai Besar TNBBS Kotaagung. Rapat dihadiri oleh berbagai pihak antara lain: Sekda Kabupaten Tanggamus; Dandim 0424 Tanggamus; Kepala Kejaksaan Negeri Tanggamus; Kepala Pengadilan Tanggamus; Badan Penanggulangan Bencana Daerah; Dinas Kehutanan Provinsi Lampung; KPHL Kotaagung Utara; Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia; Polres Tanggamus; Camat Semaka; RPU YABI; WWF; WCS-IP, Repong Indonesia. Memetakan kejadian konflik, sosialisasi mengenai konflik gajah, informasi yang terkoordinasi dan peningkatan kapasitas aparat pemerintah dalam upaya mitigasi konflik gajah dan manusia merupakan langkah-langkah penanganan konflik yang disampaikan oleh Dandim 0424 Tanggamus Letkol Anang Hasto Utomo. Project Leader WWF BBS Job Charles menyampaikan bahwa pihak WWF telah memasang GPS collar pada kelompok gajah konflik untuk memantau pergerakan gajah, akan tetapi sudah tidak berfungsi lagi dan diperlukan GPS Collar yang baru untuk menggantikannya. Masalah yang ditemui dalam proses pembelian GPS Collar adalah perijinannya, khususnya di bagian bea cukai yang memakan waktu berbulan-bulan. “Kami mengharapkan bantuan Direktorat KKH untuk dapat memperlancar proses pembelian GPS Collar”, kata Job. “Gajah dan manusia sama pentingnya. Kita punya icon gajah, patung gajah,baju gajah, tapis gajah, tapi kalau sampai tidak ada gajah di Lampung ini, bapak-bapak bisa ditanya oleh anak cucu. Untuk itu, gajah harus diselamatkan di Lampung. Kalau ditanya, bagaimana solusinya, kita memang telah rapat beberapa kali tetapi kenapa tidak jalan. Satgas telah terbentuk dan perlu dilakukan evaluasi. Masalah utama adalah pendanaan, kita semua terbatas tetapi kalau kita bersama kita dapat mengatasinya. Untuk itu marilah kita berbagi ruang dan saling berkoordinasi. Kita kelapangan untuk mencari akar masalahnya”, papar Direktur KKH Indra Exploitasi. “Permasalahan yang tidak kalah pentingnya adalah ada kelompok masyarakat yang bertempat tinggal di dalam kawasan hutan Hutan Lindung Kotaagung Utara. Gajah maupun masyarakat sama pentingnya, untuk itu bagaimana kita dapat berbagi ruang, gajah terselamatkan dan di pihak masyarakat tidak ada jatuh korban lagi”, tambah Kepala Balai Besar TNBBS Ir. Agus Wahyudiyono. Mari berbagi ruang hidup secara seimbang, Gajah Lestari Masyarakat Sejahtera… Sumber : Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan
Baca Berita

Balai TN Bukit Duabelas Wujudkan Orang Rimba Sehat

Muara Tabir, 3 Oktober 2018. Bertempat di Desa Sungai Jernih , Kecamatan Muara Tabir dilakukan pemberian imunisasi MR (Measless dan Rubella) kepada 36 orang anak Orang Rimba yang diinisiasi oleh Dinas Kesehatan Provinsi Jambi dan Dinas Kesehatan Kabupaten Tebo. Selain pemberian imunisasi MR dilakukan juga pengobatan gratis serta pemberian paket bantuan kepada kurang lebih 79 Orang Rimba Tumengung Ngadap. Kesehatan merupakan suatu pekerjaan dalam pengelolaan kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas yang dihuni oleh Orang Rimba. Perubahan pola hidup Orang Rimba yang dahulunya hidup dengan cara berburu dan meramu makanan yang terdapat di dalam hutan kini mulai berubah. Mereka mulai hidup dengan bercocok tanam dengan pola hidup yang masih berpindah-pindah. Contoh penyakit yang mereka derita saat kegiatan pengobatan diantaranya adalah: Demam, penyakit kulit, batuk, serta kurang gizi. Orang Rimba pada umumnya belum mengenal dan tidak divaksin. Mereka melakukan pengobatan dengan ramu-ramuan tumbuh-tumbuhan yang terdapat di alam. Kegiatan pemberian imunisasi MR (Measless dan Rubella) serta pengobatan pada Orang Rimba merupakan kegiatan positif dan didukung oleh Taman Nasional Bukit Duabelas. Harapannya agar Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten serta Taman Nasional Bukit Duabelas dapat bersinergi dalam mewujudkan Orang Rimba yang sehat. Semoga!!! Salam Lestari!! Sumber : Ganda Josua Samosir, S.Hut - Penyuluh Kehutanan Taman Nasional Bukit Duabelas
Baca Berita

Sinau Bareng Cak Nun, “Kolaborasi Konservasi Ngramut Merapi”

Magelang, 4 Oktober 2018. Berangkat dari kesamaan harapan dan cara pandang antara Pengelola Kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) dan para pihak (stakeholder), terutama masyarakat umum lokal terhadap pentingnya melestarikan Gunung Merapi guna menjamin kelestarian manfaat bagi masyarakat sekitar kawasan konservasi. Pengelolaan Kawasan Taman Nasional Gunung Merapi tidak akan optimal jika tidak melibatkan para pihak, baik dari unsur masyarakat, Pemerintah (Pusat dan Daerah), lembaga, individu, dan lain-lain. Pelibatan para pihak akan semakin memberi dampak positif terhadap pengelolaan jika para pihak tersebut semakin berdaya dan terpadu. Kemudian, melalui kolaborasi antar pihak yang baik dan terus menerus maka hal tersebut akan lebih menjamin peningkatan keberdayaan para pihak dalam berpartisipasi pengelolaan kawasan TNGM. Dibutuhkan pendekatan lain secara kultural, melalui dialog budaya dengan harapan akan lebih mudah diterima dan dimaknai oleh para pihak, agar dapat menumbuhkan kesadaran para pihak terutama masyarakat di lereng Merapi untuk sama-sama memiliki Merapi secara bijak dan lestari. Dalam fungsi pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan hutan di Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), maka Balai TNGM menyelenggarakan Sarasehan Pemberdayaan Masyarakat Melalui Kolaborasi, Konservasi dan Seni, pada hari Kamis tanggal 4 Oktober 2018, di kantor Resort Dukun SPTN Wilayah I Magelang Sleman, kemudian dilanjutkan dengan Sinau Bareng Cak Nun dan Kyai Kanjeng pada malam harinya, di lapangan desa Dukun, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang. Kegiatan ini diselenggarakan atas kerjasama Balai TNGM dengan Pemerintah Desa Dukun, dalam bentuk pagelaran seni budaya “Sinau Bareng Cak Nun dan Kyai Kanjeng” yang dihadiri oleh sekitar 6000 orang audiens, yang berbagai kalangan masyarakat sekitar wilayah Dukun, Magelang. Mengambil tema “Kolaborasi Konservasi Ngramut Merapi” menjadi tema yang menarik untuk disajikan dan menjadi bahan diskusi antara Cak Nun dengan para audiens. ‘Ngramut’ dapat diartikan sebagai bekerjasama mengerjakan, merawat serta mengelola untuk meraih cita-cita dan tujuan bersama. Dalam kesempatan ini juga disampaikan beberapa sudut pandang Merapi dari para pihak, diantaranya Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang, Camat Dukun, Danramil Dukun, Kapolsek Dukun, para alim ulama, tokoh agama, tokoh budaya lokal pada diskusi bersama Cak Nun. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Merapi
Baca Berita

Penyelenggaraan Pertikawan Regional Sumatera Tahun 2018

Riau - 3 Oktober 2018, Penyelenggara perkemahan bakti Saka Kalpataru dan Saka Wanabakti, tingkat Nasional Regional Sumatera Tahun 2018 dengan tema, "Cinta Hutan, Lestari Hutan" berlangsung selama 6 hari mulai tanggal 1 s.d 6 Oktober 2018, di Bumi Perkemahan Tengku Buwang Asmara Kab. Siak Sri Indrapura, Prov. Riau. Kegiatan perkemahan bakti Saka Kalpataru dan Saka Wanabakti atau dikenal dengan PERTIKAWAN diikuti oleh 637 orang. Tujuan dilaksanakan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan peran serta anggota dalam mengatasi permasalahan lingkungan hidup dan kehutanan serta menumbuhkan kepedulian anggota pramuka dalam penanggulangan dan pencegahan kerusakan hutan serta pelestarian lingkungan hidup, disamping meningkatkan pengetahuan wawasan, pengalaman, ketrampilan, bakti sosial anggotanya. Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong tumbuhnya kader pembangunan yang memiliki jiwa kepemimpinan yang sehat, handal, tangguh dan terpercaya serta sanggup membangun jiwa dan raganya untuk kepentingan masyarakat dan bangsa Indonesia. Kegiatan yang mengusung moto "Setyaku kudarmakan, Darmaku kubaktikan," diikuti oleh peserta dari 8 Provinsi yang berada di Pulau Sumatera, yaitu : Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kep. Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu dan Lampung. Selama pelaksanaan, berbagai kegiatan akan ditampilkan, yaitu Jumpa Tokoh, Penyampaian Materi Terkait Kebijakan LHK, Pengetahuan Kesakaan, Kegiatan Bakti Masyarakat, Wisata Budaya dan Industri, Kegiatan Seni dan Budaya serta Kegiatan Pinkonda dan Bindamping. Dalam pembukaan kegiatan ditampilkan 3 Gajah bernama Budi, Vera dan Doni yang ditunggangi oleh masing masing Mahoutnya dan membawa petugas untuk membaca Pancasila, UUD Dasar 1945 dan Satya Dharma Pramuka. Gajah tersebut berasal dari Pusat Latihan Gajah Minas di Riau di bawah pengelolaan Balai Besar KSDA Riau. Adapun tujuan ditampilkannya satwa Gajah adalah untuk mengedukasi dan mensosialisasikan bahwa Gajah merupakan salah satu satwa yang dilindungi dan menyampaikan bahwa satwa tersebut juga sering dipergunakan untuk penanggulangan konflik yang terjadi di Prov. Riau. Pembukaan didahului dengan acara Adat, Devile peserta dan sambutan dari Bupati Siak Syamsuar, plt. Gubernur Riau Wan Thamrin, plh. Sekjen Kwartir Nasional Abdul Sobur dan Sekretaris Jenderal Kementerian LHK selaku Ketua Umum Saka Kalpataru dan Saka Wanabakti, Bambang Hendroyono. Setelah itu dilakukan penanaman bersama di lingkungan Istana Siak, Konferensi Pers dan diteruskan dengan Jumpa Tokoh. Di depan awak media, Bambang Hendroyono menyampaikan bahwa akan mendorong Saka Kalpataru dan Saka Wana Bakti menjadi pendamping masyarakat dalam pengelolaan kehutanan sosial yang akhirnya bertujuan untuk membangun ekonomi kerakyatan serta menjadi gerakan muda yang giat mendukung pembangunan hutan dan kehutanan serta pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Sumber: Bid. Informasi, Komunikasi, Humas dan Dokumentasi Pertikawan 2018

Menampilkan 6.865–6.880 dari 11.140 publikasi