Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Penyelamatan Tiga Anak Beruang di Kandang Transit Balai Besar KSDA Riau

Pekanbaru, 8 Oktober 2018. Seekor anak beruang (Helarctos malayanus) betina berumur sekitar 2 bulan, diserahkan ke Balai Besar KSDA Riau pada pukul 15.00 Wib. Anak beruang ditemukan oleh karyawan PT. Arara Abadi di areal HTI yang sedang panen. Di Desa Dundangan, Kec. Pangkalan Kuras, Kab. Pelalawan. Pada saat ditemukan, anak beruang masih sangat kecil. Karena di areal tersebut sedang dilakukan pemanenan dan terdapat alat berat yang sedang bekerja, maka anak beruang diselamatkan terlebih dahulu setelah sebelumnya karyawan berupaya mencari dan berharap induk beruang akan datang untuk membawa anaknya. Namun induk yang diharapkan tidak terlihat. Karena karyawan takut jika anak beruang ditinggalkan akan mati atau dimangsa satwa lain, maka salah satu karyawan berinisiatif membawanya pulang untuk diberi susu kaleng. Setelah menunggu cukup lama tidak juga muncul induknya di areal tersebut, maka bayi beruang segera diserahkan ke Balai Besar KSDA Riau. Di sekitar lokasi temuan, pencarian induk beruang masih terus dilakukan. Untuk saat ini terdapat tiga ekor anak beruang di kandang transit Balai Besar KSDA Riau, setelah sebelumnya ada dua ekor anak beruang yang diserahkan. Satu ekor beruang betina berumur kurang lebih 5 bulan berasal dari penyerahan warga di Rengat, Kab. Indragiri Hulu dan satu ekor anak beruang jantan berumur sekitar 3 bulan diserahkan oleh seorang karyawan PT. Arara Abadi saat yang bersangkutan melakukan pemanenan di areal HTI di Perawang, Kab. Siak. Menurut keterangan drh. Rini Deswita, ketiga anak beruang saat ini dalam kondisi sehat dan belum dapat dilepasliarkan mengingat ketiganya masih terlalu kecil sehingga harus diberi asupan susu sampai berumur sekitar dua tahun dan betul betul siap untuk dilepasliarkan. Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Semangat Membangun Wisata Alam Dan Budaya Di Lebak Ciherang

Tapos, 9 Oktober 2018. Makin ”ngetren”, “Back to nature”, atau kembali ke alam, semakin banyak diminati masyarakat. Hal ini disebabkan karena kejenuhan dengan kehidupan perkotaan yang monoton dan kombinasi dari semakin baiknya infrastruktur dan pendapatan masyarakat kota. Persaingan pengusahaan wisata di berbagai tempat kian hari kian seru. Untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang sedang gandrung dengan ”back to nature” Balai Besar TNGGP terus mengupayakan kegiatan yang bersifat ”win-win solution” dengan masyarakat, satu diantaranya pemanfaatan potensi wisata alam di Lebak Ciherang (LBC) melalui kerjasama dengan masyarakat dan desa. Berawal dengan masuknya kawasan hutan lindung dan hutan produksi menjadi kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) tahun 2003, dimulailah perjuangan keras mengeluarkan mantan peserta Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) di blok Lebak Ciherang. Pada tahun 2015, sebanyak 22 orang, keluar meninggalkan garapannya di hutan secara sukarela dan membentuk kelompok tani hutan (KTH) LBC Lestari. Sebagai penghargaan, KTH LBC Lestari diberi bantuan bibit kambing sebanyak 18 ekor. Namun demikian usaha pembesaran kambing ini tidak mampu mendongkrak pemenuhan kebutuhan masyarakat. Perjuangan belum berakhir, karena masyarakat yang tidak punya pekerjaan tetap, berpotensi untuk kembali merambah hutan. Untuk itu dimulailah perjuangan tahap dua, penggarap yang baru “turun gunung” itu diberi pengetahuan untuk mengembangkan usaha wisata alam karena berdasarkan hasil identifikasi Potensi Sumber Daya Alam yang dilaksanakan tahun 2016 ternyata potensi wisata alam dan minat masyarakat untuk mengembangkan wisata alam digagas oleh kelompok masyakarat Setelah KTH LBC Lestari resmi dikukuhkan pada tahun 2016, dilakukan analisis Tipologi Desa pada tahun 2017, dengan tujuan untuk penajaman jenis usaha. Dengan mantapnya jenis usaha wisata alam yang dipilih, maka petugas Resort PTN Tapos dan Penyuluh Balai Besar TNGGP lebih gencar memperkenalkan usaha wisata alam kepada KTH LBC Lestari. Untuk menambah semangat, KTH diberi bantuan berupa sarana wisata alam, berupa peralatan “out door activity” , antara lain, tenda, sleeping bag dan generator . Penyuluhan yang dilakukan secara sungguh-sungguh, ulet, dan berkesinambungan, membuahkan hasil. Para mantan penggarap sadar bahwa fungsi dan manfaat hutan konservasi jauh lebih besar dari pada sekedar dipakai usahatani. Dari pada harus menggarap lahan hutan, mereka lebih memilih usaha wisata, dan mengusulkan agar kawasan LBC dikembangkan sebagai tempat wisata alam dengan harapan KTH LBC Lestari bisa ikut berkiprah didalamnya. Sebagai persiapan, serta untuk menambah semangat, memperluas wawasan dan mengasah skill anggota KTH, pada tahun 2017 Balai Besar TNGGP memberikan Pelatihan Bussines Plan serta Studi Banding ke KTH Batu Luhur dan KTH Cipeuleuy binaan Balai Taman Nasional Gunung Ceremai yang sudah lama berkiprah mengembangkan usaha wisata alam di zona penyangga. Pada tahun 2018, untuk menambah wawasan tentang pengusahaan wisata di hutan kemasyarakatan dilakukan pula studi banding ke kawasan wisata alam Kalibiru dan Mangunan Jogjakarta, serta contoh managemen pengusahaan wisata di destinasi Gua Pindul Gunung Kidul. Dengan berbagai pelatihan dan studi banding, diharapkan pengusahaan wisata alam di LBC bisa lebih baik. Sampai saat ini diketahui beberapa potensi yang harus dimanfaatkan di destinasi wisata yang berada di lereng Gn. Pangrango ini. Letaknya yang dekat dengan kota-kota besar (sekitar tujuh kilometer dari Ciawi). Disini wisatawan bisa menikmati kesejukan dan kesegaran hutan pinus, hutan rasamala dan hutan alam, beserta “view” nya yang ekslusif. Tak jauh dari pintu masuk bisa dijumpai relief batu tumpuk, berupa tebing dengan air yang mengalir di sela-sela bebantuan yang tersusun unik, menuju sungai dibawahnya yang mengalir jernih. Beberapa ratus meter dari batu tumpuk, terdapat spot untuk melakukan kegiatan camping atau fotografi di Blok Rasamala. Bila perjalanan dilanjutkan, sekitar satu kilometer dari blok Rasalama, kita sudah sampai di “Jungle Camp”. Selain berkemah, di lokasi ini bisa dinikmati keindahan air terjun Cikamar, akrobatik berbagai jenis satwa, seperti burung, monyet, tupai dan lain-lain. Dengan demikian kegiatan wisata yang bisa dinikmati di destinasi wisata ini adalah hutan hujan tropis dengan keanekaragaman hayatinya, serta budaya masyarakat seperti menanam padi, mengolah padi menjadi beras, menanam sayur organik, budidaya kelinci dan kesenian asli Desa Cileungsi. Sampai saat ini para pihak telah melakukan berbagai upaya persiapan seperti, survey potensi, memperbaiki jalan setapak dalam kawasan, memelihara kebersihan lingkungan, menyiapkan lahan yang sesuai untuk tempat berkemah, membersihkan objek wisata dari semak belukar, menyiapkan lahan parkir, dan menyiapkan MCK, serta survei budaya masyarakat yang akan dikemas sebagai produk wisata yg terkoneksi. Melihat minat dan semangat serta atas permintaan warga yang tergabung dalam KTH LBC Lestari, Kepala Desa Cileungsi Kecamatan Ciawi Kabupaten Bogor, turut berpartisipasi dalam program pengembangan wisata alam di Lebak Ciherang oleh Balai Besar TNGGP dan KTH. Tahun 2018 Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) bergabung memperkuat kedudukan KTH LBC Lestari. Tahap selanjutnya pihak Desa Cileungsi, melalui Bumdes menginginkan dibuat IUPSWA. Namun untuk menuju kesana diperlukan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, maka untuk tahap awal legalitas manajemen, sedang dipersiapkan pembuatan perjanjian kerja sama (PKS) yang akan ditindaklanjuti dengan pembuatan rencana pelaksanaan program (RPP) dan rencana keja tahunan (RKT). Dengan beralihnya pemanfaaatan hutan dari usahatani (penggarapan lahan hutan) ke pemanfaatan jasa lingkungan (ekowisata), diharapkan “era tinggal landas” bisa segera tercapai sehingga slogan “leuweung hejo masyarakat ngejo” bisa segera terwujud. Semoga ! Sumber : Resort PTN Tapos - BBTN Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Dinamika Usaha Pemanfaatan Jasa Wisata Alam Gunung Ciremai

Kuningan, 9 Oktober 2018. Salah satu cara untuk mewujudkan masyarakat setempat sebagai subyek dalam pengelolaan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) ialah melalui pemberian Izin Usaha Pemanfaatan Jasa Wisata Alam (IUPJWA). IUPJWA dapat diajukan oleh badan hukum usaha seperti Koperasi dan Perusahaan (PT, CV, Firma dan sebagainya) serta perorangan. Pemegang IUPJWA badan hukum usaha masih sedikit peminatnya. Diantaranya Koperasi Agung Lestari di wisata alam Curug Cipeuteuy, CV. Wisata Putri Mustika di Bumi Perkemahan Palutungan dan Perusahaan Daerah Aneka Usaha (PDAU) Kuningan di wisata alam Kolam Cigugur, Balong Dalem, Cibunar, Cibeureum, Paniis-Singkup, Telaga Remis dan Telaga Nilem. Sedangkan pemegang IUPJWA perorangan amat diminati masyarakat gunung Ciremai hingga mencapai lebih dari 90 orang. Jenis IUPJWA meliputi Pramuwisata, Makanan dan Minuman, Perjalanan Wisata dan Cinderamata. Masa berlaku IUPJWA yakni satu hingga dua tahun dan dapat diperpanjang setelah mendapatkan rekomendasi hasil evaluasi Balai TNGC. Dari sekian jenis IUPJWA di TNGC yang paling banyak pemegangnya yaitu Pramuwisata, makanan dan minuman. Sesuai dengan aturan yang berlaku, iuran IUPJWA perorangan yaitu seratus ribu rupiah untuk pemegang baru. Sedangkan iuran bulanannya lima puluh ribu rupiah. Jadi tiap pemegang IUPJWA memiliki beban yang wajib dibayar setiap bulan. Lho, bagaimana kalau tak laku? Layaknya usaha pada umumnya, para pemegang IUPJWA juga mengalami dinamika dalam menjalankan roda usahanya. Seperti dituturkan Esus, salah satu pedagang di wisata alam Situ Sangiang, Banjaran, Majalengka, Jawa Barat. "Alhamdulillah, usaha jualan saya lancar. Pengunjung sering membeli dagangan seperti kopi, teh, aneka keripik dan rengginang", ungkapnya saat ditemui pagi tadi (2/10) sambil mengaduk segelas kopi. Di tempat terpisah, Nana, Pramuwisata di wisata alam Puncak Sawiah, desa Sangiang, Banjaran, Majalengka, Jawa Barat, mengatakan masih sepinya pengunjung. Padahal potensi yang dimiliki tak kalah elok dengan wisata lain. "Pengunjung jarang sekali datang ke sini. Hanya warga sekitar yang berkunjung. Itu pun belum dikenakan tiket. Oleh karenanya kantin-kantin masih sering tutup", curhatnya saat tatap muka siang tadi (2/10). Ya, menjamurnya wisata alam di kaki gunung Ciremai menimbulkan "euforia" bagi masyarakat setempat karena dapat merasakan manfaat ekonomis dari aktifitas wisata alam baik di dalam ataupun di luar kawasan TNGC. Tapi banyaknya destinasi wisata alam juga telah menimbulkan persaingan yang cukup ketat sehingga pengelola "berebut" pengunjung. Sebenarnya tak masalah bila persaingan antar pengelola wisata masih dalam kewajaran yakni persaingan sehat. Menyikapi hal ini, Balai TNGC sebagai pemangku kebijakan mesti turun tangan sebagai pengadil di lapangan untuk merekatkan jurang pemisah tadi. Yup, bimbingan teknis, pembinaan, promosi dan dana stimulan mesti terus dikucurkan Balai TNGC terutama kepada pengelola wisata yang masih baru. Sobat Ciremai, kesejahteraan masyarakat gunung Ciremai harus kita gapai secara bersama-sama dan bukan masing-masing. So, salah satu cara melakukanya yaitu dengan tamasya ke wisata alam yang masih baru seperti Puncak Sawiah dan Gunung Putri [teks ©? Dodi Himawan, foto ©? Ruddy - BTNGC | 092018]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Upaya Pemadaman Api Terus Dilakukan

Kuningan, 9 Oktober 2018. Penanganan kebakaran di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) masih terus dilakukan. Kamis (4/10), pukul 16.00 WIB, api masih menyala di sekitar Blok Batu Kuda dan Batu Beuheungan. Meluas hingga perbatasan Kebun Raya Kuningan (KRK). Pukul 17.00 WIB api menjalar ke Blok Kupak, api dapat teramankan di Blok Kupak diKarenakan terdapat sekat bakar sepanjang Blok Kupak sampai Blok Sipamojok yang dibuat oleh petugas TNGC, Kelompok Masyarakat MPGC Pujangga Manik Batu Luhur dan BPBD. Kondisi api sampai malam hari tidak sampai menyebrang, sehingga Batu Luhur aman. Api dari arah Timur Blok Karang Dinding dan Blok Panjak Roma menyerang Blok Sipamojok hingga membakar Blok Leles yang masih terdapat tegakan Pinus. Dini hari Pukul 02.30 api masih menyala di Blok Leles, belum dapat dikendalikan karena keterbatasan peralatan pemadaman. Tim dari SPTN wilayah II Majalengka ikut bersiaga untuk memadamkan api, karena lokasi kebakaran di SPTN I Kuningan mendekati batas kawasan antar seksi. Tim dibagi dua, untuk memadamkan api yang ada di Blok Sibedug yang berbatasan dengan KRK melibatkan kelompok masyarakat MPGC Curug Cipeuteuy dan masyarakat Awilega. Untuk tim yang bertugas memadamkan api di Blok Situmpuk melibatkan kelompok masyarakat MPGC Buper Cidewata dan masyarakat Ciwaru. Api masih ada d Blok Legok Dulang, sehingga tim masih kesulitan untuk mendekat karena ada jurang. Malam hari tim Bagong sebanyak 15 orang dan tim kelompok masyarakat MPGC Curug Cipeuteuy sebanyak 8 orang terus bersiaga. Api sudah masuk ke Blok Legok Kerud dekat dengn Blok Situmpuk perbatasan dengan KRK dan TNGC. Untuk Blok Sibedug terpantau aman. Pukul 03.19 api dari Blok Panyerahan (bawah blok pasir ipis yang mengarah ke Majalengka sudah berhasil di padamkan tim Bagong. Jum’at (5/10), pukul 04.00 WIB personil pemadam kebakaran dari petugas TNGC dan Kelompok Masyarakat MPGC Jaya Pakuan diberangkatkan untuk memadamkan api di Blok Leles yang masih menyala. Pukul 08.00 WIB, penambahan tim pemadam dari Petugas TNGC, Polres Kuningan, TNI, BPBD, Pengelola JICS, Kelompok Masyarakat Pujangga Manik Batu Luhur, MPA Padabeunghar dan Kelompok Masyarakat Jaya Pakuan. Tim mencoba menghadang api dari Blok Gibug dengan cara menyiram supaya bahan bakar/ tanaman kering menjadi basah untuk menghindari semakin meluasnya kebakaran ke lokasi lainnya. Pukul 13.00 WIB, penambahan personil dari masyarakat Trijaya, Pecinta Alam SMA Japara, Perusahaan Daerah Aneka Usaha (PDAU), Pencinta Alam dari Cirebon dan relawan. Sore hari api yang dari arah Timur mulai menjalar ke Bukit Kahiyangan, Sumur 7 Pasawahan dan Cileutik. Sampai saat ini, api masih menyala besar. Api yang berada di Blok Leles sudah berhasil dipadamkan dan saat ini sedang dilakukan Mopping Up oleh Kelompok Masyarakat Pujangga Manik Batu Luhur, MPA Padabeunghar, Kelompok Masyarakat Jaya Pakuan dan Pengelola JICS. Mari bersama kita jaga dan melestarikan kawasan TNGC dari gangguan, terutama kebakaran hutan dan lahan. Dampak yang dirasakan mulai detik terjadinya kebakaran hingga waktu kedepan[teks & foto ©? BTNGC | 092018]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Begini Cara Mudah Kenali Jamur Beracun

Kuningan, 9 Oktober 2018. Siapa yang tidak tahu jamur? Tentunya kita telah mengenal jamur dalam kehidupan sehari-hari. Jamur adalah tumbuhan yang tidak memiliki "klorofil" (zat hijau daun,red) sehingga bersifat "heterotrof" (memperoleh makanan dari organisme lain, red). Jamur memang rendah kalori namun kaya akan protein, serat, dan vitamin, serta mineral. Selain itu, jamur juga mengandung "antioksidan", "selenium" dan "polisakarida" serta vitamin D2 (ergokalsiferol). Secara alami jamur banyak dijumpai di hutan dan pegunungan terutama pada musim hujan. Tidak semua jamur bisa dimakan karena ada sebagian diantaranya ada yang beracun dan membahayakan kesehatan. Jamur Merang (Volvariella Volvacea) dan Jamur Kuping (Auricularia polythrica) adalah sebagian dari jenis jamur yang bisa dimakan. Sedangkan "Amanita phalloides" dan "Amanita virosa" adalah sebagian dari jenis jamur beracun. Jamur "Amanita phalloides" merupakan salah satu jamur paling beracun dari jenis Jamur Payung. Racunnya dapat menyebabkan iritasi, rasa sakit yang parah serta kerusakan pada mata dan kulit. Sedangkan jamur "Amanita virosa" dapat merusak organ hati dan ginjal secara singkat. Lantas bagaimana cara membedakan jamur beracun dan tidak? Pertama, amatilah terlebih dahulu bentuk serta sifat jamur tersebut. Karena akan sangat berbahaya apabila kita tidak mengenal serta membedakan antara jamur yang beracun dan yang tidak beracun. Kedua, jamur beracun biasanya memiliki warna mencolok, bau tidak sedap dan mudah hancur apabila diraba serta memiliki bintik-bintik mencolok disekitar tudungnya. Warnanya yang mencolok terkadang membuat kita jatuh hati dan ingin mencoba mencicipinya. Padahal jamur tersebut merupakan jenis jamur beracun dan berbahaya apabila dikonsumsi. Ketiga, jangan mengambil jamur yang belum mekar dengan benar. Karena hal ini akan sulit bagi kita untuk mengetahui jenisnya. Keempat, jangan memakan jamur yang bergetah saat dipotong. Kelima, jangan mengambil jamur dari tempat yang kotor dan berbau. Waspada mengkonsumsi jamur terutama saat beraktifitas di alam. Untuk amannya, makanlah jamur yang sudah dibudidayakan. Sedangkan jamur yang beracun masih perlu penelitian untuk mengetahui fungsinya. Karena kita yakin bila tiap ciptaan Sang Khalik pasti punya kegunaan bagi makhluk lainnya. So, mari kita kenali alam untuk kebaikan sesama mahkluk [teks & foto © Aom Muhtarom | 102018]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Pangdam Brawijaya Jatim Bantu Padamkan Api Bersama Petugas BBKSDA Jatim

Sidoarjo, 9 Oktober 2018. Telah terjadi kebakaran hutan di Cagar Alam Kawah Ijen blok Pondok Bunder dan Gunung Widodaren, kebakaran terjadi pada senin sore - selasa pagi (8-9/10/18. Titik api diketahui pada senin sore (8/10) saat petugas Resort Kawah Ijen Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melakukan patroli kebakaran hutan. Selanjutnya, petugas bersama masyarakat sekitar, Masyarakat Peduli Api (MPA) dan penyedia jasa wisata melakukan pemadaman kebakaran namun api belum dapat dipadamkan dengan tuntas karena medan yang sulit dan waktu sudah malam. Upaya pemadaman kebakaran dilanjutkan kembali oleh petugas BBKSDA jatim bersama anggota kepolisian Polsek Sempol dan Licin, koramil Sempol dan Licin, MPA, Masyarakat Mitra Polhut (MMP) dan penyedia jasa wisata serta masyarakat sekitar CA/TWA Kawah Ijen (9/10). Di sela-sela upaya pemadaman, rombongan Pangdam Brawijaya Jawa Timur yang sedang melakukan kunjungan ke Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen juga ikut melakukan pemadaman/mop up. Sumber api diperkirakan merupakan api loncat dari kebakaran blok gunung papak Perum Perhutani (yang terjadi sehari sebelumnya). Luas kebakaran diperkirakan sekitar 50 (lima puluh) hektar dan yang terbakar merupakan seresah, rumput, cemara dan pohon - pohon permudaan. Saat berita ini dimuat, masih ada beberapa titik asap sisa kebakaran dikarenakan posisi yang sulit dijangkau oleh petugas (berada di ketinggian dengan kelerangan yang curam). Petugas terus berjaga di sekitar kawasan untuk upaya pemadaman, memantau, mencegah melebarnya titik asap dan melaporkan perkembangan kondisi terkini. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Musang Belang Masuk Rumah Warga

Tapaktuan, 9 Oktober 2018. Belum lama ini, Minggu (16/9) seekor Musang Belang (Hemigalus derbyanus) ditemukan warga masuk kedalam rumahnya di Gampoeng Subarang, Kecamatan Samadua, Kabupaten Aceh Selatan. Diduga satwa liar itu kesasar pada saat mencari makanan di sekitar pemukiman penduduk yang berdampingan langsung dengan kawasan hutan lindung tersebut. Selanjutnya, hewan lindung ini diserahkan warga secara sukarela kepada petugas TN. Gunung Leuser untuk dilepasliarkan kembali kehabitat alaminya. Alhamdulillah, akhirnya musang belang berjenis kelamin jantan ini berhasil dilepaskan kembali ke alam oleh petugas bersama dengan warga setempat di punggungan Gunung Lubuk Kapo, Gampoeng Subarang, Kecamatan Samadua, Aceh Selatan. Secara terpisah Kepala BPTN Wilayah I Tapaktuan, Buana Darmansyah, S. Hut. T, melalui handphon selulernya menyampaikan ucapan terimakasih atas partisipasi masyarakat terhadap pelestarian satwa lindung tersebut. menurutnya upaya yang dilakukan masyarakat bersama dengan petugas ini adalah suatu tindakan mulia, sehingga jumlah populasi satwa langka di alam dapat terus dipertahankan untuk anak cucu kita nanti di masa mendatang. Perlu sahabat konservasi ketahui, bahwa Musang Belang (Hemigalus derbyanus) adalah salah satu jenis satwa liar yang dilindungi di Indonesia. Bahkan telah masuk didalam daftar IUCN yang statusnya hampir terancam punah. Musang belang merupakan mamalia bertulang belakang (vertebrata) dan tergolong fauna berdarah panas. Wajah daripada hewan ini terlihat mancung atau lancip seperti Trenggiling (Manis javanica). Menariknya satwa liar tersebut memiliki jantung seperti manusia yang terdiri dari empat ruang, ruang atas disebut sebagai atrium dan ruang bawah dikenal sebagai ventrikel. Berdasarkan literasi, Musang Belang Sumatera (Hemigalus derbyanus) sangat mirip dengan jenis Musang Belang Kalimantan (Diplogale hosei), musang belang memiliki ukurun sebasar kucing rumahan, beratnya antara 1 – 3 kg dan dengan panjang 41 – 51 cm. Persebarannya meliputi wilayah semenanjung Malaysia, Myanmar, Thailand, dan Indonesia. Di Indonesia sebaran wilayahnya meliputi Sunda, Sumatera, dan Kalimantan. Salam Lestari.........!!!!! Sumber : BPTN Wilayah I Tapaktuan, Balai Taman Nasional Gunung Leuser (Teks dan Foto : Efa, W)
Baca Berita

HT Polhut, Tak Lekang Oleh Waktu

Kuningan, 9 Oktober 2018. Handy Talky (HT), mungkin saat ini zaman now sudah menganggap ketinggalan zaman untuk penggunaan alat komunikasi yang satu ini. HT ialah alat telekomunikasi dua arah serba guna yang menggunakan gelombang radio di sekitar kita. HT menggunakan teknologi PTT atau "Push to Talk" dimana penggunanya mesti menekan tombol untuk berkomunikasi dengan pengguna lainnya. Ada banyak keuntungan memakai HT seperti tidak perlu mengeluarkan biaya untuk beli pulsa agar bisa berkomunikasi. Bahkan tidak tergantung pada sinyal seperti layaknya Hand Phone (HP). HT dapat digunakan untuk berhubungan langsung ke semua orang dengan frekuensi yang sama. Mudah dalam penggunaan dan cepat untuk menyampaikan informasi. Selain itu tidak perlu mengetik nomor telepon serta dapat digunakan dan didengar oleh jaringan khusus yang telah di setting. HT sangat baik digunakan dalam koordinasi kegiatan karena terhubung dengan cepat. Oleh karena segala kelebihannya itu, HT sangat penting sekali dalam pelaksanaan tugas Polisi Kehutanan (Polhut) terutama untuk mendukung kelancaran komunikasi dan pergerakan di lapangan. Patroli perlindungan dan pengamanan hutan seperti "illegal logging", perburuan dan pengamanan pengunjung wisata mutlak membutuhkan alat ini. Karena dengan alat ini pergerakan petugas lebih efektif sesuai perintah. Pada saat bencana alam terjadi dimana jaringan telekomunikasi terputus, HT tetap dapat digunakan. Demikian halnya pada saat terjadi kebakaran hutan, HT memegang peran penting dalam komunikasi. Komandan Polhut dapat memerintahkan atau memantau pergerakan di lapangan dengan cepat sehingga langkah penanganan yang tepat bisa segera di lakukan. Bahkan strategi yang harus dilakukan oleh anggota di lapangan dapat diputuskan di atas meja oleh pimpinan dengan menyimak pergerakan melalui HT. Jadi HT tak ketinggalan zaman kan? "bisa di copy begitu Roger, ganti"[teks © Mendry, foto © Oman Depe - BTNGC | 102018]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Evakuasi “Si Jalak”, Buaya Muara (Crocodylus porosus) Cisadane

Jakarta, 9 Oktober 2018. Berkat informasi yang masuk melalui call center (021) 0812 8964 3727, Balai KSDA Jakarta kembali menerima penyerahan 1 (satu) ekor buaya muara (Crocodylus porosus) dengan panjang ± 2 meter dan berat ± 50 kg dari seorang warga yang bernama Drs. Masentrani Dawi, M.Si yang beralamat di RT 020/004 Kampung Bendungan Sukadiri, Tangerang. Menurut penuturannya buaya tersebut telah dipelihara selama ± 5 tahun sejak tahun 2013 silam, dahulunya diperoleh dari hasil temuan dipinggir kali Cisadane Tangerang. Selama dipelihara “Si Jalak” begitu ia biasa dipanggil selalu diberikan makanan berupa ikan Mujair dan ikan Nila. Evakuasi buaya muara tersebut dilakukan pada siang ini Senin, 8 Oktober 2018 oleh Tim Rescue dari PPS Tegal Alur yang dibantu oleh Polisi hutan dari Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II khususnya Resort Tangerang yang memangku wilayah kerja Tangerang dan sekitarnya. Sambil menunggu proses selanjutnya untuk sementara buaya tersebut akan dititiprawatkan di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tegal Alur Jakarta Barat. Sumber : Balai KSDA Jakarta
Baca Berita

Pelepasliaran seekor Gajah Jantan

Sarolangun, 8 Oktober 2018. Tim gabungan BKSDA Jambi, FZS, BBKSDA Riau, dan Pelatih Gajah dari Pelatihan Gajah Minas melepas seekor gajah liar yang baru saja dipindahkan dari daerah Suo Suo, Kabupaten Tebo. Gajah berjenis kelamin jantan tersebut dipindahkan guna menyelamatkannya dari konflik yang sering kali terjadi antara manusia dan gajah di daerah Suo Suo. Habitat Gajah yang terus berkurang membuat gajah pada akhirnya mendatangi kebun-kebun milik masyarakat. Gajah dibawa menggunakan truk fuso ke kawasan hutan PT. REKI, perjalanan memakan waktu kurang lebih 10 jam dikarenakan kondisi jalan dan mengingat bahwa yang dibawa adalah seekor Gajah liar truk tidak bisa melaju maksimal. Selama dalam perjalanan Gajah liar dibius agar tidak memberontak dan membahayakan truk pengangkutnya. Gajah liar tersebut dilepaskan di kawasan PT. REKI dengan pertimbangan hutan yang masih alami dan tidak banyak campur tangan manusia didalamnya. Gajah liar digiring menggunakan Gajah jinak milik Pelatihan Gajah Minas ke titik pelepasannya di RKT 2004 kawasan PT. REKI, tim gabungan berjalan kurang lebih 3 kilometer dari tempat Gajah diturunkan. Perjalanan menuju lokasi RKT 2004 tidak begitu mudah, medan yang sulit ditambah lagi kondisi penerangan yang seadanya membuat perjalanan memakan waktu kurang lebih 4 jam. Di titik pelepasan tersebut, Gajah liar dipasangkan GPS Collar terlebih dahulu oleh tim inti dari FZS dan dokter hewan. Gajah berhasil dilepaskan pada pukul 01.30 WIB, Gajah liar tersebut diharapkan dapat membentuk atau ikut ke dalam kelompok gajah – gajah yang ada di kawasan PT. REKI. Di dalam kawasan hutan PT. REKI saat ini sudah ada kelompok gajah berjumlah 8 ekor dimana hanya ada seekor gajah jantan. Menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature) Gajah Sumatera masuk ke dalam kategori kritis (Critically Endangered). Populasi yang terus berkurang membuat Gajah Sumatera masuk kategori kritis setelah sebelum nya ada di kategori terancam (Endangered). Berkurangnya habitat adalah faktor utama populasi Gajah Sumatera terus berkurang. Di alam liar gajah ternyata mempunyai peran penting dalam ekosistem. Gajah berfungsi sebagai penyeimbang ekosistem di alam bebas. Gajah adalah penyebar bibit tumbuhan, gajah berjalan dengan menginjak semak-semak di sekitarnya, sehingga banyak bibit tumbuhan banyak yang melekat pada kaki maupun kotorannya. Bibit-bibit tersebut mempunyai peluang untuk tumbuh di sepanjang jalur yang dilalui gajah. Semakin banyak gajah dalam satu kelompok semakin banyak pula peluang bibit-bibit itu untuk tersebar dan tumbuh. Kepala Balai KSDA Jambi Rahmad Saleh mengatakan, ”jumlah mereka kini delapan individu. Hal itu berpotensi memicu terbentuknya kantong populasi yang lebih besar.” Translokasi pun masih akan berlanjut. Seekor Gajah bernama Karina berusia sekitar 40 tahun siap menghuni kawasan baru. Saat ini, keberadaan Karina terpisah dari kelompoknya selama bertahun-tahun. ”Karina perlu disatukan dengan gajah lainnya agar dapat membentuk keturunan. Upaya ini menjadi salah satu cara menghindari kepunahan gajah,” tegasnya. Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

SRAK: Strategi dan Rencana Aksi untuk Selamatkan Rangkong Gading (Rhinoplax vigil)

Maraknya perdagangan satwa dilindungi telah mengancam kelangsungan hidup spesies unik yang berperan penting menopang ekosistem Indonesia, seperti burung rangkong gading (Rhinoplax vigil). Petani hutan menjadi sebutan yang tepat untuk rangkong gading karena kontribusinya menyebarkan biji-bijian dan meregenerasi hutan secara alami. Itu sebab, keberadaan burung yang biasa bersarang di pohon besar dan tinggi ini bisa menjadi penanda indikator hutan yang sehat. Namun, masifnya perburuan dan perdagangan, serta berkurangnya luasan hutan membuat populasi rangkong gading kian susut. Saat ini, status populasinya pun telah meloncat dari terancam (near threatened) menjadi kritis (critically endagered) atau selangkah lagi menuju punah. Untuk menekan tingginya perburuan dan perdagangan rangkong gading, para perumus yang terdiri dari LIPI, KLHK, akademisi dan segenap mitra LSM telah merampungkan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Rangkong Gading. Penyusunan SRAK ini turut didukung oleh pemerintah daerah khususnya dari Sumatra dan Kalimantan, kelompok masyarakat dan penegak hukum. Pada tanggal 2 Mei 2018, SRAK RG secara resmi telah ditetapkan sebagai pedoman bagi para pihak untuk mengimplementasikan strategi konservasi rangkong gading sebagaimana dinyatakan dalam Kepmen LHK No: SK.215/ MENLHK/ KSDAE/ KSA..2/5/2018. SRAK Rangkong Gading yang berlaku selama 10 tahun (2018-2028) mencakup lima strategi utama, yaitu: (1) penelitian dan monitoring; (2) kebijakan dan penegakkan hukum; (3) kerja sama dan kemitraan; (4) komunikasi dan penyadartahuan; dan (5) pendanaan. Diharapkan SRAK berfungsi sebagai payung pengaturan nasional terhadap lima aspek tersebut sehingga memungkinkan kolaborasi dan kerja nyata dengan berbagai pihak. Semua kehidupan di bumi saling berhubungan. Bila kerusakan alam terus berlanjut, seluruh ekosistem bisa gagal dan kelangsungan hidup manusia boleh jadi akan terancam. Kita sebagai bagian dari mahluk hidup tentunya punya tanggung jawab untuk jaga alam. Bagaimana agar rangkong tak punah? Mari samakan tujuan: stop perburuan dan perdagangan rangkong! Info lebih rinci tentang SRAK Rangkong Gading dapat Anda peroleh melalui link berikut Klik Disini . Jika Anda melihat atau menemukan kejahatan seperti membeli, memakai atau pun menjual produk rangkong gading, segera lapor ke Call Center Ditjen KSDAE di 082299351705. Terima kasih. Sumber: Direktorat KKH
Baca Berita

Bupati Kapuas Hulu Resmikan Launching Program TFCA siklus 4

Putussibau, 3 Oktober 2018. Bertempat di Aula Kantor Bappeda Kabupaten Kapuas Hulu, Bupati Kapuas Hulu, A.M Nasir meresmikan peluncuran program TFCA Siklus 4. Terdapat 5 lembaga non pemerintah (NGO) yang mendapatkan dana Hibah TFCA yakni Konsorsium Swandiri, Kompakh, Rangkong Indonesia, Pokawasmas Empangau dan Forkab dengan lingkup kegiatan yang berbeda. Bupati KH mengharapkan dengan adanya program TFCA siklus 4 dapat membantu Kabupaten Kapuas Hulu menjadi lebih maju utamanya dalam pengembangan sumber daya masyarakatnya. Banyak potensi baik itu sektor pertanian maupun perikanan yang dapat dikembangkan namun terkendala pengembangannya, faktor utamanya adalah sumberdaya manusianya. Launching kali ini hadir direktur TFCA Kalimantan Ir. Puspa Dewi Liman, M.Sc , menyatakan bahwa TFCA Kalimantan berkomitmen membantu Kabupaten Kapuas Hulu dalam kerangka Heart Of Borneo (HOB) dimana TFCA turut juga mendukung Kabupaten Kapuas Hulu sejak lama yakni sejak siklus 1. Kedepan diharapkan kerjasama ini terus berlanjut dan dikembangkan ke arah pengembangan alternatif mata pencaharian sehingga tekanan terhadap kawasan bisa berkurang. Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (Balai Besar Tana Bentarum) yang diwakili oleh Kepala Bidang Teknis Konservasi menyambut baik program TFCA siklus 4 ini, diharapkan para lembaga yang mendapatkan donor agar dapat melakukan kerjasama terlebih dahulu dengan Tana Bentarum sebelum memulai aktivitas di dalam kawasan Taman Nasional. Selain itu perlu ditekankan bahwa Zonasi di kedua taman nasional tersebut telah mengadopsi pengembangan masyarakat berupa 88% zona tradisional di Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) dan 18 % untuk Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) termasuk didalamnya juga terdapat Zona Khusus. Adapun ke lima lembaga tersebut bergerak pada a. KOMPAKH INDONESIA dengan judul program : Pengelolaan Sumber Daya alam Berbasis jasa lingkungan melalui kegiatan ekowisata oleh dan untuk masyarakat di kawasan TNBK, Program dilaksanakan selama 3 tahun, Program kegiatan utamanya adalah peningkatan wawasan masyarakat utamanya wisata alam. b. YAYASAN REKAM JEJAK ALAM NUSANTARA – UNIT PENELITIAN RANGKONG INDONESIA, dengan judul program : Konservasi Rangkong Gading di Bentang Alam Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat, Proyek ini diajukan sebagai intervensi konservasi terhadap keberadaan rangkong gading, termasuk tujuh jenis rangkong lainnya di Kalimantan. Dari tiga penyebab utama menurunnya populasi rangkong gading di alam, dua diantaranya diusulkan untuk di intervensi, yaitu: 1) Minimnya aksi konservasi dan 2) Tingkat kematian tinggi atau kelahiran yg rendah (Lihat gambar 1). Bagian dari intervensi ini mencakup: 1) Pengumpulan informasi populasi dan ekologi sebagai rujukan utama penentuan prioritas aksi di tingkat tapak. Survei akan dilakukan bersama para pihak kunci di petak hutan di bentang alam di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat; 2) Peningkatan kapasitas para pihak kunci konservasi rangkong; 3) Edukasi dan penyadartahuan bagi masyarakat di tingkat lokal, regional dan nasional. c. FORUM KONSERVASI ORANGUTAN KALIMANTAN BARAT (FOKKAB) dengan judul program : Menjaga viabilitas populasi orangutan (Pongo pygmaeus pygmaeus) di Taman Nasional Betung Kerihun dan Koridor Labian-Leboyan, Durasi Agustus 2018 – Agustus 2019 atau 1 tahun, Kegiatannya Survey Monitoring Orangutan dan survey biodiversity akan dikombinasikan dengan Smart Patrol. d. POKWASMAS DANAU LINDUNG DESA EMPANGAU : Pengelolaan Danau Lindung Empangau Sebagai Destinasi Ekowisata di Kawasan Penyangga TNDS, program selama 2 tahun di luar kawasan TNDS atau daerah penyangga TNDS. e. KONSORSIUM SWANDIRI dengan judul program : Penguatan Pengelolaan Jasa Lingkungan Berbasis Masyarakat di Bukit Tekenang TNDS Kab. Kapuas Hulu. Proyek ini dirancang untuk berkontribusi bagi Peningkatan sumber penghidupan masyarakat melalui pengelolaan jasa lingkungan yang bernilai ekonomi dan berkelanjutan di Tana Bentarum. Program ini juga dirancang untuk memberikan manfaat kepada masyarakat lokal, pemerintah desa, pemerintahan kabupaten dan Tana Bentarum. Selain itu program ini juga memberikan dampak peningkatan ekonomi secara langsung bagi pelaku jasa transportasi lokal. Untuk mencapai tujuan ini, proyek ini dikembangkan dengan pendekatan pengembangan ekowisata berbasis komunitas di kawasan Tana Bentarum yang dapat meningkatkan sumber penghidupan masyarakat, pemanfaatan jasa lingkungan air berkelanjutan melalui pembangunan instalasi pengolahan air bernilai ekonomi memanfaatkan sumber energi terbarukan di kawasan Tana Bentarum, dan Peningkatan kapasitas masyarakat dan kelembagaan desa dalam pengelolaan jasa lingkungan air dan ekowisata di dua desa di kawasan Tana Bentarum. Peluncuran program TFCA siklus 4 ini dilanjutkan dengan presentasi dari ke 5 penerima dana hibah dan dilanjutkan dengan diskusi bersama para pihak termasuk diantaranya Kepala Desa dan Camat dimana program ini berjalan. Sumber : Balai Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Api Terus Bergerak, Pemadaman Terus Dilakukan

Kuningan, 8 Oktober 2018. Rabu (3/10), Bupati Kuningan mengundang semua pihak bersinergi melakukan penanggulangan kebakaran, yang saat ini sedang terjadi di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Rapat ini dihadiri oleh Kodim 0615, Polres, Balai TNGC, Cabang Dinas Kehutanan, Perum Perhutani, BPBD, Satpol PP, para Camat serta SKPD lingkup Pemda Kuningan & pihak terkait lainnya. Hasil rapat disepakati dibentuk tim penanganan kebakaran yang di tuangkan dalam Surat Keputusan (SK) Bupati Kuningan, tentang pembagian tugas dan segera melakukan tindakan di lapangan. Bupati meminta agar kebakaran di kawasan TNGC cepat ditangani supaya tidak semakin meluas dan segera bisa dipadamkan. Kebakaran masih terus terjadi hingga saat ini. Penanganan kebakaran yang dilakukan dengan mengirim tim gabungan bergerak memadamkan api sore hari (3/10) pukul 16.00 - 23.00 WIB di sekitar Blok Karang Dinding, Blok Karang Saninten, Blok Lebak Reundeu, Blok Pangguyangan, Blok Bukit Seribu Bintang (BSB), Blok Gunung Dulang dan Blok Gunung Sumbul. Personil gabungan terdiri dari: Petugas TNGC, TNI, Polri, BPBD, MPA Padabeunghar, MPA Pasawahan, MPA Singkup, UNIKU, LSM Akar, Pecinta Alam dan Relawan. Kamis (4/10), pagi hari pukul 07.00 WIB tim gabungan bergerak untuk memadamkan api sebanyak 87 orang yang terdiri dari Petugas TNGC, MPA Pasawahan, masyarakat pengelola ODTWA Bukit Kahiyang, MPA Padabeunghar, pengelola ODTWA Batu Luhur, Polres Kuningan, BPBD, Pihak Kecamatan Pasawahan dan Pencita Alam. Personil disebar ke beberapa wilayah/ blok: Tim MPA Pasawahan dan MPGC Bukit Kahiyang masuk dari arah Cikajayaan untuk menyisir Blok Gibug, Tim MPA Padabeunghar dan MPGC Batu Luhur masuk ke Blok Panjak Roma, Tim MPA Pasawahan masuk dari Blok Lebak Reundeu, Tim Polres Kuningan masuk ke arah Pangguyangan, Tim Polisi Kehutanan TNGC masuk ke Blok Karang Saninten dan Blok Panyusupan,Tim terakhir Polisi Kehutanan TNGC masuk ke Blok Batu Arca untuk membersihkan jalan sekaligus membuat sekat bakar. Kondisi angin kencang dengan lidah api mencapai 8 meter sampai 12 meter menjadikan api terus melaju melewati sekat bakar yang telah dibuat selebar 8 meter. Lokasi yang sudah terbakar sampi saat ini mencakup wilayah Blok Leles, Blok Karang Dinding, Blok Panjak Roma, Blok Gibug, Blok Pangguyangan serta Blok BSB. Hingga pukul 18.00 WIB, api bergerak hingga kawasan Kebun Raya Kuningan (KRK), berbatasan dengan Batu Luhur. Tim gabungan bersiap di Batuluhur untuk menjaga api supaya tidak menjalar melintas jalan raya ke arah bawah/ areal Pemulihan Ekosistem Pajaten (kerjasama dg JICS). Kebakaran hutan dan lahan ini tentu sangat merugikan, tidak hanya ekologi namun juga ekonomi dan sosial. Upaya dan cepat tanggap berbagai pihak sangat luar biasa khususnya masyarakat sekitar. Bukan perkara yang mudah membangun roda-roda ekonomi masyarakat namun dalam waktu singkat hilang begitu saja. Intelejen terus kami lakukan dan banyak pihak yang mengecam ulah tangan tidak bertanggung jawab. Bukan buat kami, tapi buat kita semua [Teks & foto ©? BTNGC | 102018]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Cermat Konservasi Anak Pulau

Pulau Pramuka, 6 Oktober 2018, Dibawah rindang pepohonan dan semilir angin area konservasi mangrove Pulau Pramuka 8 (delapan) regu utusan sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI) di wilayah Kepulauan Seribu tampak antusias mengikuti acara lomba cerdas cermat konservasi tingkat Sekolah Dasar/Sederajat yang diselenggarakan oleh Taman Nasional Kepulauan Seribu. Acara dibuka secara resmi oleh Kepala SPTN Wilayah III Pulau Pramuka (Kusminardi SH.) Dalam sambutannya dihadapan peserta, guru pembimbing, juri dan penonton, beliau menegaskan bahwa diadakan lomba cerdas cermat ini bukanlah akhir dari pelajaran konservasi/muatan lokal (Mulok) di TN. Kep. Seribu namun sebagai evaluasi, membekali dan membentuk generasi penerus konservasi yang ada di pulau dalam menghadapi tantangan pelestarian alam dimasa yang akan datang. Persiapan kegiatan telah dilakukan jauh jauh hari melalui pemberitahuan kepada masing-masing sekolah, untuk mempersiapkan murid yang akan menjadi perwakilan sekolah untuk mengikuti lomba. Selama ini pendidikan dan pengetahuan konservasi telah di ajarkan oleh pihak TN. Kepulauan Seribu pada kegiatan muatan lokal pada sekolah-sekolah yang menjadi peserta. Lomba Cerdas Cermat Konservasi tingkat Sekolah Dasar/Sederajat ini diperuntukan bagi sekolah-sekolah yang berada kelurahan Pulau Panggang, Pulau Harapan dan Pulau Kelapa yang merupakan wilayah kerja Taman Nasional Kepulauan Seribu. Terdiri dari SDN Pulau Kelapa 01 Pagi, SDN Pulau Kelapa 02 Pagi, SDN Pulau Harapan 01 Pagi, Madrasah Ibtidaiyah Negeri 17 Kampus C Pulau Kelapa, SDN Pulau Panggang 01 Pagi, SDN Pulau Panggang 02 Pagi, SDN Pulau Panggang 03 Pagi, dan Madrasah Ibtidaiyah Negeri 17 Kampus B Pulau Tidung. Pada Sesi I 8 (delapan) yang menjadi peserta lomba diberikan kesempatan menjawab 8 (delapan) pertanyaan pengetahuan umum, matematika serta materi Mulok konservasi TN Kepulauan Seribu dan bila jawaban salah akan di berikan kesempatan kepada regu berikutnya untuk menjawab. Selanjutnya dilanjutkan Sesi II berupa pertanyaan Rebutan untuk menjaring 3 (tiga) regu dengan nilai tertingi yang akan masuk pada sesi final. 3 (tiga) regu yang memasuki babak final di berikan pertanyaan konservasi berupa pengenalan jenis tumbuhan dan satwa serta keterampilan mengolah sampah berupa pembuatan eco brick. Pada kesempatan ini Juara I di menangkan oleh Regu B (SDN Pulau Kelapa 01 Pagi) dengan nilai 300 point, Jura II dimenangkan Regu H (SDN Pulau Panggang 01 Pagi) dengan nilai 235 point dan Juara III dimenangkan Regu C (Madrasah Ibtidaiyah Negeri 17 Kampus B Pulau Tidung) dengan nilai 185 point. Kepada masing masing Sekolah/Regu pemenang diberikan Piala Juara I s/d III, Piagam serta semua peserta yang mengikuti mendapatkan paket bingkisan perlengkapan sekolah dan Tempat Air Minum (Tumbler). Sumber : Balai TN. Kepulauan Seribu
Baca Berita

Tana Bentarum Berangkat Pertikawan Kapuas Hulu Ke Tingkat Regional di Balikpapan

Putussibau, 5 Oktober 2018. Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (Tana Bentarum) memberangkatkan 6 anggota dan 3 pamong Saka Wana Bakti Cabang Kapuas Hulu dalam rangka penyelenggaraan Perkemahan Bakti Saka Kalpataru dan Saka Wanabakti (Pertikawan), Tingkat Nasional Regional Kalimantan Tahun 2018. Kegiatan ini akan berlangsung selama 5 hari dari tanggal 9 s/d 13 Oktober 2018, di Bumi Perkemahan Pantai Lamaru – Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur. Dalam sambutannya Kepala Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum yang dalam hal ini diwakili oleh Kepala Bidang PTN Wilayah III Lanjak, Gunawan Budi Hartono, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan Pertikawan Nasional yang pertama, sehingga harapannya adik-adik Saka Wana Bakti binaan Tana Bentarum dapat memberikan citra dan penampilan yang terbaik dalam ajang tersebut. Adik-adik harus bangga mewakili Kapuas Hulu, karena dari 375 anggota Saka Wana Bakti Cabang Kapuas Hulu hanya 6 orang yang terpilih untuk mengikuti kegiatan tersebut. Karena dedikasi, loyalitas dan kemampuan maka adik-adik dapat terpilih. Carilah ilmu dan perbanyak diskusi tentang konsep-konsep konservatif - inovatif dengan teman-teman dari daerah lain yang dapat diterapkan di tempat kita. Pak Sumardi selaku perwakilan dari orang tua dari peserta, mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Pihak Tana Bentarum karena sudah membimbing anak kami dan terpilih untuk mengikuti kegiatan Pertikawan di Balikpapan. Sementara itu, Vilar dari Saka Wana bakti Kecamatan Embaloh Hulu, mengucapkan terimakasih kepada Tana Bentarum serta Kak Mustar yang telah mengajarkan kami dan minta doanya semoga kami dapat menjadi kebanggaan Kapuas Hulu pada saat menampilkan Tari Kreasi Dayak Melayu pada tanggal 11 Oktober 2018. Dalam pesannya, Gunawan menghimbau agar adik-adik dapat menerapkan prinsip _go green_ dengan meminimalisir penggunaan peralatan plastik sekali pakai, seperti kantong plastik, styrofoam dan sedotan plastik, serta menerapkan pengelolaan sampah yang baik di seluruh bumi perkemahan. “Selain itu yang tidak kalah pentingnya adalah jaga kesehatan dan kekompakan”, pungkas Gunawan menutup sambutannya. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Selamat Jalan Kawan, Keceriaanmu Selalu Terpatri Di Hati Kami

Ampana, 06 Oktober 2018. Balai Taman Nasional Kepulauan Togean (TNKT) beserta seluruh jajarannya berduka dikarenakan kehilangan salah satu staf yang ikut menjadi korban pada kejadian gempa bumi di Palu dengan kekuatan magnitudo 7,4 SR pada Jumat, 28 September 2018 lalu. Agnes Christhina Sitorus, Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Formasi Tahun 2017 dengan jabatan Calon Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) merupakan salah satu korban yang ditemukan meninggal dunia di reruntuhan Hotel Roa Roa jalan Patimura, Palu. Jenazah Korban baru ditemukan pada Rabu, 03 Oktober 2018 pukul 10.30 WITA. Agnes Christhina Sitorus bergabung dan mengabdi di Kementerian LHK - Balai Taman Nasional Kepulauan Togean dengan penempatan pada Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Lebiti kurang lebih 7 bulan mulai Bulan Maret 2018. Almarhumah baru saja menyelesaikan pendidikan dan latihan (Diklat) Pra Jabatan sebagai syarat untuk menjadi PNS di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan di Bogor pada Bulan September lalu. Almarhumah sudah mulai aktif mengabdi di Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Lebiti sebagai Calon PEH sejak pertama kali ditugaskan dan dikenal sebagai anak yang periang, ceria, aktif, rajin serta supel. Sejak diketahui bahwa Agnes menginap di Hotel Roa-Roa pada kejadian gempa lalu, Tim Balai TNKT langsung merapat ke lokasi untuk ikut berperan aktif membantu relawan yang ada disana dalam upaya melakukan pencarian korban. Setelah kurang lebih lima hari melakukan pencarian, akhirnya pada Rabu, 03 Oktober 2018 Agnes akhirnya ditemukan dalam kondisi telah meninggal dunia. Setelah ditemukan jenazah almarhumah Agnes langsung dibawa ke Rumah Sakit Undata Palu untuk selanjutnya diberangkatkan menggunakan Hercules ke kota Balikpapan ditemani oleh Ibu, kakak dan staf Balai TNKT. Di Balikpapan, keluarga dan jenazah menginap satu malam, dan baru pada Kamis, 04 Oktober jenazah tiba di bandara Internasional Kuala Namu (KNIA), Deli Serdang. Kedatangan jenazah di bandara disambut oleh perwakilan UPT lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang ada di Propinsi Sumatera Utara, untuk selanjutnya dibawa ke rumah duka dan secara resmi diserahkan kepada keluarga. Jenazah dikebumikan pada jumat, 05 Oktober 2018. “Selamat jalan Adik, Kawan, sahabat kami Agnes Christhina Sitorus, Kami semua menyayangimu, keceriaanmu akan selalu terpatri di hati kami dan kami akan tetap mengenangmu..kini engkau telah tenang dan damai di sisiNya..” Sumber : Balai Taman Nasional Kepulauan Togean

Menampilkan 6.849–6.864 dari 11.140 publikasi