Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Promosi Wisata Alam TWA Sibolangit

Medan, 11 Oktober 2018. Balai Besar KSDA Sumatera Utara melaksanakan acara promosi wisata alam TWA Sibolangit, pada Senin, 8 Oktober 2018, bertempat di kawasan TWA Sibolangit. Acara ini memenuhi amanat dari pelaksanaan tugas dan fungsi Balai Besar KSDA Sumatera Utara, sebagaimana yang diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.8/Menlhk/Setjen/OTL.OI/2016 tanggal 29 Januari 2016 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Konservasi Sumber Daya Alam, yaitu melakukan promosi dan pemasaran konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. TWA Sibolangit pada tahun 2018 ini merupakan salah satu dari 3 kawasan konservasi di propinsi Sumatera Utara yang ditetapkan sebagai role model dengan prioritas program Wisata Edukasi Konservasi dan Lingkungan (Wisata EKOLING). Sebagai role model ini, maka rangkaian kegiatan yang dilaksanakan pada acara promosi wisata alam TWA Sibolangit, meliputi : penandatanganan Rencana Kegiatan Tahunan (RKT) Tahun II tindak lanjut dari Perjanjian Kerjasama antara Balai Besar KSDA Sumatera Utara dengan SMP Negeri 2 Sibolangit dalam pengembangan Program Pendidikan dan Penyuluhan KSDA, wisata ekoling SMP Swasta Islam Terpadu Siti Hajar Medan dan lomba foto promosi wisata alam TWA Sibolangit. Acara promosi wisata alam TWA Sibolangit yang difasilitasi Bidang Konservasi Wilayah I Kabanjahe beserta jajarannya, dihadiri Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc.For., Kepala Bidang Konservasi Wilayah I Kabanjahe, Mustafa Imran Lubis, SP., Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Stabat, Herbert BP Aritonang, S.Sos., MH., Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Sibolangit, Drs. Marumbal Siahaan, M.Pd., mewakili Kepala Sekolah SMP Swasta Islam Terpadu Siti Hajar, mewakili Kepala Kepolisian Sektor Pancur Batu, Direktur Eksekutif lembaga mitra kerjasama ISCP serta Penyuluh Kehutanan dari UPT KPH Langkat Deli Serdang. Dalam arahan dan bimbingannya Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara mengharapkan kepada pelajar baik dari SMP Negeri 2 Sibolangit maupun SMP Swasta Islam Terpadu Siti Hajar untuk terus belajar dan menggali ilmu pengetahuan tentang konservasi alam yang berguna sebagai bekal bagi pengembangan diri. “Kawasan TWA Sibolangit selain sebagai kawasan wisata, juga dapat dimanfaatkan untuk kegiatan edukasi mengenal keanekaragaman hayati beserta potensi lainnya,” ujar Hotmauli. Demikian juga kepada peserta lomba foto promosi wisata alam TWA Sibolangit, Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara berharap agar peserta dapat menghasilkan karya foto terbaik yang nantinya akan sangat membantu dalam mempromosikan kawasan TWA Sibolangit kepada masyarakat luas. Disela-sela acara, Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara menyerahkan baju kaos (t-shirt) kepada siswa/siswi SMP Negeri 2 Sibolangit peserta Program Pendidikan dan Penyuluhan KSDA, serta menerima penyerahan 1 (satu) individu burung hantu (Tyto alba) dari warga masyarakat yang peduli kepada penyelamatan satwa. (Evan) Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Paku Pedang, "Sang Predator Polutan"

Kuningan, 11 Oktober 2018. Keanekaragaman hayati di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) sangatlah unik dan menarik. Salah satu jenis flora yang mudah dijumpai di gunung Ciremai adalah dari kelompok paku. "Nephrolepis" atau lebih dikenal dengan nama Paku Pedang merupakan kelompok tumbuhan paku yang mudah dikenali. Karena "entalnya" (daun yang tumbuh dengan proses yang khas tumbuhan paku, red) memanjang berbentuk seperti pedang. Tepi daunnya sedikit bergerigi dan memiliki batang yang menjalar diatas atau dibawah permukaan tanah. "Nephrolepis exaltata" yakni satu dari sekian banyak jenis tumbuhan Paku Pedang yang memiliki peran penting dalam ekosistem. Paku Pedang mampu berperan sebagai penyerap zat "polutan". Polutan yakni bahan yang dapat mengakibatkan pencemaran lingkungan seperti air dan udara. Pada habitatnya, tumbuhan ini efektif menyerap "karbon monoksida" di udara sekitarnya akibat pembakaran tidak sempurna seperti asap rokok, asap kendaraan bermotor serta asap kebakaran hutan dan lahan. Sedangkan dalam kehidupan sehari-hari, tumbuhan ini mampu menyerap bau cat tembok dan kayu yang sangat menyengat. Jadi tumbuhan ini dapat menetralkan zat "polutan". Zat berbahaya tersebut diubah menjadi "oksigen" melalui proses "fotosintesis" sehingga menghasilkan udara yang aman untuk dihirup makhluk hidup lainnya. Selain itu, Paku Pedang mudah beradaptasi dengan lingkungannya karena bersifat "epifit" (tumbuh menumpang pada tumbuhan lain, red) serta memiliki "rhizoma" atau rimpang atau batang menjalar yang tahan kering dan menjalar kemana-mana. Di gunung Ciremai, sejak tahun 2015, Paku Pedang sudah diidentifikasi oleh petugas Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Balai TNGC. Habitat tumbuhan ini umumnya di dataran tinggi, daerah kering, daerah berair dan area terbuka. Selain itu, Paku Pedang dijumpai mulai di hutan rindang yang memiliki celah permukaan berkarang, khususnya yang terlindung dari sinar matahari hingga daerah rawa dan tergenang air serta tumbuh sebagai "epifit". Jadi bila mengacu pada uraian tadi, Paku Pedang bisa tumbuh dimanapun dan termasuk tumbuhan perintis. Penasaran melihat langsung tumbuhan ini? Berkunjunglah ke wisata alam Batu Nyongclo, Curug Cipeuteuy dan Bumi Perkemahan Leles. Lantas hiruplah "oksigen" hasil kerja Paku Pedang sepuasnya disana. So, ayo lestarikan alam gunung Ciremai agar kita dapat terus menikmati udara sehat yang berasal dari keanekaragaman hayatinya [Teks © Asep Uus, Foto © Robi Gumilang-BTNGC | 092018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Peningkatan Kapasitas Polhut dan MMP Taman Nasional Aketajawe Lolobata

Sofifi, 10 Oktober 2018. Sebanyak 12 (dua belas) anggota Masyarakat Mitra Polhut (MMP) saat ini mengikuti kegiatan peningkatan kapasitas di kantor Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL). Anggota MMP tersebut berasal dari masing-masing wilayah Seksi Pengelolaan Taman Nasional. Masing-masing SPTN mengirimkan 4 (empat) anggota MMP. Acara ini di buka secara resmi oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha mewakili Kepala Balai TNAL. Sebelum di buka secara resmi, Kepala Sub Bagian Tata Usaha menyampaikan permohonan maaf karena Kepala Balai tidak dapat hadir dalam acara ini. Dalam sambutan Kepala Balai yang disampaikan oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha bahwa, salah satu tujuan dari kegiatan ini yaitu untuk mempererat kesatuan dan persaudaraan antara anggota MMP dengan Polisi Kehutanan Balai TNAL, dan juga karena kegiatan ini merupakan tupoksi Balai TNAL. Selesai pembukaan, acara dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh masing-masing Kepala SPTN Wilayah I, I dan III. Kepala SPTN Wilayah I Weda, Raduan menyampaikan peta kawasan hutan di Maluku Utara dan peta kawasan TNAL beserta zonasinya. Selain itu Raduan juga menyampaikan manfaat langsung yang bisa didapatkan masyarakat sekitar kawasan yaitu kegiatan wisata alam. “Sebagai contoh kegiatan wisata yaitu di tempat wisata di Kobe yang dikunjungi sebanyak 400 wisatawan setiap tahunnya, wisatawan tersebut hanya melihat burung-burung yang unik di Halmahera dan mereka (wisatawan) membayar ke pengelola wisata tersebut”, kata Raduan. “Burung-burung itu juga ada di dalam kawasan TNAL”, imbuhnya. Kepala SPTN Wilayah II dan Wilayah III juga menyampaikan hal yang sama, yaitu tentang batas kawasan TNAL yang terdapat pada peta kawasan TNAL serta keinginan untuk memperbaiki citra Balai TNAL di mata masyarakat. “Kami (Balai TNAL) sangat ingin bermitra dengan masyarakat sekitar dalam mengelola kawasan”, kata Birawa, Kepala SPTN Wilayah II. Kepala SPTN Wilayah III, Junesly F. Lilipory menambahkan bahwa MMP yang diundang juga berasal dari desa-desa yang masih berkonflik dengan TNAL, untuk itu harapannya agar para anggota MMP dapat menjadi fasilitator dan pelopor bagi desa agar dapat menyampaikan dengan baik tentang manfaat adanya Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Kegiatan yang juga di ikuti oleh anggota Polisi Kehutanan Balai TNAL ini akan dilaksanakan selama 2 (dua) hari. Pada hari kedua (11/10) seluruh peserta akan mengikuti pelatihan PBB yang akan di bimbing oleh anggota TNI dari Kompi Senapan D di Sofifi. Sumber: Akhmad David Kurnia Putra, Polihut Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Begini Upaya Kami Padamkan Api yang Muncul Lagi di Gunung Ciremai

Minggu 30 September 2018, kebakaran kembali terjadi di TNGC sekitar Pukul 10.15 WIB. Kebakaran kali ini terjadi di sekitar Blok Cengkok Desa Cibuntu Pasawahan, api pertama kali terlihat oleh Polisi Kehutanan Seksi Pengelolaan Taman Nasional wilayah I Kuningan yang sedang bertugas piket. Pihak Desa Cibuntu beserta masyarakatnya sebanyak empat puluh orang tanpa diminta bantuan langsung bergerak untuk memadakan api bersama satu orang TNI dan petugas TNGC sebanyak empat belas orang. Untuk menghindari api melintas ke Blok Karang Dinding dan keterbatasan personil pemadaman, maka petugas langsung meminta bantuan Masyarakat Peduli Api (MPA) Desa Pasawahan dan MPA Desa Singkup. MPA Desa Pasawahan memberangkatkan anggota sebanyak dua puluh orang dan MPA Desa Singkup sebanyak dua puluh lima anggota. Informasi kebakaran yang terjadi di TNGC sangat cepat tersebar sehingga ada tambahan kiriman dukungan dari MPA Desa Padabeunghar sebanyak tiga orang, pengelola JICS satu orang, Perusahaan Daerah Aneka Usaha (PDAU) sebanyak enam orang, BPBD, LSM Akar, Pecinta Alam, MPA Desa Setianegara sebanyak lima orang, MPA Desa Seda sebanyak lima orang dengan sarana tiga mobil, Jet Shooter, Bak Air, Mesin Air dan lain-lain. Senin 1 Oktober 2018, kondisi api masih menyala hingga Pukul 04.00 WIB. Hal ini perlu antisipasi agar tidak melebar ke arah Blok Karang Dinding dan menjalar ke Blok Bukit Seribu Bintang (BSB), maka subuh ini Pukul 06.00 WIB kami mengontak kepada seluruh mitra TNGC untuk bergerak ikut serta memadamkan api. Kodisi terkini sampai Pukul 13.00 WIB kebakara masih terjadi, untuk mengejar pemadaman api di wilayah paling atas sekitar Blok Panyusupan, tim di berangkatkan ke wilayah ini di pimpin oleh Polisi Kehutanan TNGC Bapak Aah Hidayatullah bersama enam orang MPA Desa Pasawahan, satu orang MPA Bandorasa Kulon, empat orang MPA Desa Setianegara dan tiga orang Mapala. Sedangkan kondisi api di bawah masih menyala di sekitar Blok Jalan Maling, yang di jaga oleh petugas TNGC dan MPA Manguntapa Desa Singkup. Api sampai saat ini mengarah ke timur yang berbatasan dengan perkebunan karet milik PT. Gegerhalang. Ayo sobat Ciremai, bantu bersama-sama kita padamkan kebakaran yang terjadi di TNGC. Ingat TNGC merupakan sumber air dan kehidupan masyarakat yang ada di Kuningan dan Sekitarnya, maka sayangilah hutanmu jangan sampai membakarnya [teks © Mendry – BTNGC ; foto. © BTNGC | 102018]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Penegakkan Hukum Pelaku Perdagangan dan Perburuan Beruang Madu

Gambar : Pelimpahan Tersangka dan Barang Bukti ke Kejaksaan Negeri Lampung Barat, 9 Oktober 2018. Kotaagung, 11 Oktober 2018. Kepala Balai Besar TN Bukit Barisan Selatan (BBTNBBS) Ir. Agus Wahyudiyono mengungkapkan telah mendapatkan laporan dari Tim Reaksi Cepat Balai Besar TNBBS (TRC BBTNBBS) mengenai proses penegakkan hukum terhadap Pelaku Tindak Pidana Kehutanan perburuan dan perdagangan satwa dilindungi Beruang Madu (Helarctos malayanus). “Sampai dengan saat ini tersangka berjumlah 10 orang, hasil penyidikan telah dinyatakan lengkap tanggal 3 Oktober lalu, dan seluruh tersangka beserta barang bukti telah dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Lampung Barat tanggal 9 Oktober kemarin”, papar Agus. Bulan Agustus lalu, Tim Gabungan yang dipimpin oleh Balai Pengamanan dan Penegakkan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BPPHLHK) Wilayah Sumatera yang terdiri dari Tim Reaksi Cepat Balai Besar TNBBS (BBTNBBS, ILEU/YABI, WCU/WCS), Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC), dan Kepolisian Sektor (Polsek) Bengkunat pada hari Sabtu tanggal 11 Agustus 2018 sekira Jam 00.30 WIB melakukan penangkapan terhadap Sdr. HENDRA (63), warga Pekon Sukamaju Kecamatan Ngaras Kabupaten Pesisir Barat. Setelah penangkapan, Tim Gabungan melakukan pengembangan dan menangkap 3 orang tersangka lainnya, antara lain ARONI alias INDAY (60), MARDIANSYAH (38) dan FAHRIZAL HUSIN(54). Ketiganya merupakan warga Pekon Penyandingan Kecamatan Bengkunat Kabupaten Pesisir Barat. Pengembangan kasus terus dilakukan hingga keseluruhan tersangka yang ditangkap berjumlah 10 orang. Kepala Balai Pengamanan dan Penegakkan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah Sumatera Edward Sembiring, S.Hut, M.Si memerintahkan Tim Penyidik yang terdiri dari Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Kehutanan BPPHLHK Wilayah Sumatera dan PPNS Kehutanan Balai Besar TNBBS yang berjumlah 11 orang untuk menangani kasus perburuan dan perdagangan Beruang Madu yang merupakan satwa yang dilindungi. “Selanjutnya Kami berharap proses persidangan dapat dilaksanakan secepatnya untuk memberikan kepastian, kemanfaatan dan keadilan hukum. Semoga putusannya nanti memberikan efek jera bagi pelaku dan juga pihak-pihak lain yang selama ini terlibat”, ujar Edward dalam menanggapi perkembangan kasus Tipihut perburuan dan perdagangan Beruang Madu di Provinsi Lampung saat ini. Kepala Balai Besar TNBBS Ir. Agus Wahyudiyono menyampaikan apresiasinya pada Tim Penyidik dan Balai Pengamanan dan Penegakkan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah Sumatera, atas kemajuan proses penegakkan hukum yang telah dilakukan. “Mari kita sama-sama melindungi kelestarian keanekaragaman hayati TNBBS, dan terus mengkampanyekan program-program konservasi pada masyarakat. Dukungan Balai Pengamanan dan Penegakkan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BPPHLHK) Wilayah Sumatera sangat diperlukan dalam upaya perlindungan dan pengamanan hutan TNBBS”, kata Agus saat berada di Kantor Balai Besar TNBBS Kotaagung, Kamis 11 Oktober 2018. Melalui koordiansi Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan Balai Besar TNBBS dengan Kepala Balai Pengamanan dan Penegakkan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah Sumatera Edward Sembiring, S.Hut, M.Si, BPPHLHK tetap akan mendukung proses penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana kehutanan yang terjadi di wilayah TNBBS. Sumber: Humas Balai Besar TN Bukit Barisan Selatan
Baca Berita

Musda Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia Wilayah Jambi Bersama BKSDA

Jambi, 10 Oktober 2018. FK3I bersama BKSDA Jambi melakukan Musda Pembentukan dan Penyusunan Pengurus Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I). Acara dimulai pukul 09.00 WIB, acara dibuka oleh Kabid Wilayah I BBTNKS Bpk. Jaya Sumpena dan Kasubbag Tata Usaha BKSDA Jambi Bpk. Teguh Sriyanto. Acara dihadiri peserta dari berbagai wilayah yang memiliki kader konservasi di Provinsi Jambi. Acara dilanjutkan dengan pembentukan rencana kerja FK3I untuk periode 2018-2022. Dipimpin oleh 3 orang sebagai perwakilan dari peserta yang hadir. Rencana kerja menghasilkan beberapa poin yang disetujui oleh semua peserta setelah melakukan perundingan dan dialog antar wilayah. Lalu dilanjutkan dengan pemilihan suara oleh para peserta untuk memilih Ketua FK3I masa jabatan 2018-2022. Setelah melakukan pemilihan suara akhirnya terpilih Bpk. Nursoleh dari Desa Guruh Baru SKW I BKSDA Jambi sebagai Ketua FK3I yang baru. Ketua FK3I yang baru langsung melakukan pembentukan dan penyusunan pengurus dibantu dengan beberapa wakil dari tiap wilayah. Acara selesai pada pukul 16.00 WIB dengan terpilihnya Ketua FK3I yang baru dan pengurus FK3I untuk periode 2018-2022. Faried, S.P Kepala SKW III BKSDA Jambi mewakili Kepala Balai KSDA Jambi mengatakan, “Alhamdulillah acara hari ini sudah selesai dengan terpilihnya ketua dan pengurus baru untuk masa bakti 2018-2022, dalam hal ini BKSDA Jambi sebagai wadah FK3I merasa puas dengan apa yang dicapai hari ini, semoga ketua dan pengurus baru mampu memegang amanat dan menyukseskan FK3I kedepannya”. Sumber: BKSDA Jambi
Baca Berita

Kelahiran Bayi Harimau Sumatera, Angin Segar Bagi Upaya Konservasi Satwa di Indonesia

Lamongan. Upaya konservasi satwa di eksitu kembali memperoleh hasil yang menggembirakan. Kabar bahagia disampaikan dari salah satu Lembaga Konservasi (LK) Maharani Zoo dan Goa di Lamongan, Jawa Timur yang memiliki izin sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK. 448/Menhut-II/2008 tentang kelahiran 2 (dua) individu anak harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) di LK tersebut. Kedua anak harimau sumatera lahir pada tanggal 03 Oktober 2018 dini hari dengan jenis kelamin betina dari induk jantan bernama Bhaki dan induk betina bernama Gendis. Pengelola Taman Satwa Maharani Zoo dan Goa memberi nama anak harimau sumatera tersebut “Okta” dan “Via”. Kelahiran kali ini merupakan kelahiran ketiga bagi Gendis. Dua kelahiran sebelumnya, bayi harimau sumatera tidak berhasil hidup dikarenakan induknya (Gendis) memakan anaknya sendiri. Pada kelahiran pertama, Gendis memakan anaknya saat usia anaknya 7 hari. Sedangkan pada kelahiran kedua, Gendis memakan anaknya pada saat usia anaknya 6 hari. Berkaca pada pengalaman sebelumnya dan belajar dari LK lain yang memiliki kasus serupa, akhirnya setelah hari ke-3 pasca melahirkan, Gendis dipisah dengan kedua anaknya dan ditempatkan di ruang Nursery Maharani Zoo dan Goa dengan pengawasan selama 24 jam. Seperti diketahui, harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) menjadi top predator pengisi keanekaragaman hayati di pulau Sumatera yang perlu diperjuangkan kelestariannya. Harimau sumatera saat ini termasuk dalam kategori genting dan dilindungi oleh Undang-undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Anoa juga digolongkan sebagai satwa terancam punah dalam IUCN Red List of Threatened Animal dan masuk ke dalam Appendix I CITES. Kelahiran anoa ini tentu saja membawa angin segar dan harapan baru bagi konservasi mengingat populasinya di alam yang terus menurun. Lahirnya anak harimau sumatera di LK Maharani dan Goa menunjukkan bahwa LK di Indonesia telah berhasil melakukan upaya breeding harimau sumatera dan turut mendukung pemerintah dalam upaya konservasi jenis satwa tersebut. KLHK terus melakukan pembinaan dan koordinasi dengan lembaga konservasi Maharani Zoo dan Goa dalam rangka memastikan kondisi satwa, sarana prasarananya telah sesuai dengan kaidah dan etika kesejahteraan satwa. Sumber: Direktorat Konservasi Keanekaragaman hayati
Baca Berita

Tithonia Serbu Cagar Alam !!!

Kediri, 10 Oktober 2018. Tithonia diversifolia atau Paitan/ Plok Plik merupakan jenis tumbuhan berbunga famili Asteraceae yang dikenal di Meksiko sebagai bunga matahari (Mexican Sunflower). Bercabang sangat banyak dan dalam waktu yang singkat dapat membentuk semak yang lebat. Seperti di Cagar Alam (CA) Manggis Gadungan, awalnya Paitan hanya dijumpai di luar pal batas 7 sampai pal 9, namun saat musim hujan tiba dengan cepat tumbuh kembali diluar pal 7 hingga pal 15. Selain sifat pertumbuhannya yang sangat agresif, sifat invasifnya juga didukung tidak adanya musuh alami di sekitar cagar alam. Sehingga tak ada yang menghambat pertumbuhan dan penyebarannya. Tidak mengherankan spesies ini termasuk dalam daftar jenis asing invasif dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Nomor.P.94/Menlhk/Setjen/Kum.1/12/2016 tentang jenis invasif. Saat patroli menyusuri bekas jalan aspal, 45 meter masuk dari gapura timur, ternyata dijumpai Paitan telah tumbuh di dalam kawasan, dan telah memakan seluas 21 m2. Khawatir akan semakin menyebar dan menghambat regenerasi tumbuhan asli saat musim hujan tiba, personil RKW 03 segera melakukan tindakan. Rabu, 10 Oktober 2018 dilakukan pengendalian populasi Paitan dengan mencabut seluruh Paitan yang tumbuh di dalam kawasan. Diduga Paitan masuk ke dalam kawasan melalui bijinya yang terbawa air hujan dari luar pal 14. Satu kuntum bunga Paitan dapat menghasilkan 119 biji yang siap menyebar dan tumbuh secara agresif di musim hujan. Selain bereproduksi secara generatif dengan biji, Paitan dapat juga bereproduksi secara vegetatif. Batang paitan tergolong lembut, berkayu, tumbuh tegak, tetapi jika berbunga lebat maka batang akan rebah dan merunduk bahkan bisa mencapai tanah, tunas-tunas baru dapat muncul hampir diseluruh batang Paitan. Dengan temuan Paitan di dalam cagar alam, membuktikan sifat invasif spesies ini. Sehingga keberadaannya di sekitar CA. Manggis Gadungan perlu segera diantisipasi dan dikendalikan. Sumber: Siti Nurlaili. PEH Wilayah 03 Cagar Alam Manggis dan Cagar Alam Besowo Gadungan, Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Tim Gabungan Berhasil Mengevakuasi Orangutan Sumatera di Desa Ujung Padang Bakongan

Tapaktuan, 9 Oktober 2018. Tim Hocru OIC (orangutan information center) bersama BKSDA Aceh, TNGL dan Masyarakat, berhasil mengevakuasi Orangutan Sumatera (Pongo abelii) dari lahan perkebunan warga Gampoeng Padang, Kecamatan Bakongan, Kabupaten Aceh Selatan. Diduga Orangutan Sumatera ini terisolasi disebuah hutan kecil di sekitar desa tersebut. Kenyataan itu menjadi keterbatasnya untuk mendapatkan sumber makanan, sehingga terpaksa harus merusak tanaman budidaya perkebunan masyarakat sekitar. Melihat kondisi yang terjadi, warga bergegas memberikan informasi kepetugas dan akhirnya berhasil dievakuasi oleh tim gabungan dilapangan. Berdasarkan informasi yang didapatkan, kedua individu Orangutan Sumatera tersebut merupakan ibu dan anak dengan perkiraan usia indukan ± 25 tahun. Sementara anaknya berjenis kelamin jantan berumur ± 1,5 tahun dalam kondisi sehat. Selanjutnya, Orangutan Sumatera ini dilepasliarkan kembali ke alam yaitu di dalam block hutan rawa gambut Rantau Sialang, SPTN Wilayah II Kluet Utara, BPTN Wilayah I Tapaktuan, Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL). Pada kesempatan itu juga Ka. BPTN Wilayah I Tapaktuan, Buana Darmansyah, S. Hut. T mengapresiasi masyarakat atas laporan gangguan satwa liar tersebut, setidaknya dengan adanya informasi yang diberikan, tentunya dapat mencegah ancaman kepunahan terhadap satwa lindung di alam. Sumber: Balai Besar TN Gunung Leuser
Baca Berita

BKSDA NTB Menyelenggarakan Pelatihan Penyusunan Dokumen Perencanaan dan Laporan Kegiatan Teknis

Mataram, 9 Oktober 2018. Guna meningkatkan kapasitas para Pengendali Ekosistem Hutan (PEH), Balai KSDA NTB menyelenggarakan Pelatihan Penyusunan Dokumen Perencanaan dan Laporan Kegiatan Teknis yang mengundang seluruh Pejabat Teknis di UPT Lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di NTB. Kegiatan berlangsung di Mataram selama dua hari pada tanggal 8 dan 9 Oktober 2018 yang dihadiri oleh kurang lebih 30 peserta yang berasal dari BKSDA NTB selaku Korwil, Balai TN Tambora, Balai TN Gunung Rinjani, BPDAS HL Dodokan Moyosari, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Propinsi NTB dan Balai Penelitian Hasil Hutan Bukan Kayu Mataram. Acara dibuka oleh Kepala Balai KSDA NTB, Ir. Ari Subiantoro, M.P., beliau berharap melalui pelatihan ini kekayaan hayati dan potensi kawasan konservasi di NTB mampu direncanakan dan dikembangkan dengan lebih baik, terutama ditekankan terhadap masalah perlindungan, pemulihan ekosistem dan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan konservasi. Hari pertama Pelatihan, para peserta mendapat materi yang diantaranya Pengelolaan Kawasan Konservasi di NTB oleh Bapak Ir. Ari Subiantoro, M.P. yang dilanjutkan dengan Membangun Kedekatan dengan Masyarakat Sekitar Kawasan Konservasi oleh Bapak Dr. Markum (Dosen Universitas Mataram) yang menggunakan referensi dari kasus Penyelesaian Konflik Masyarakat di TWA Bangko-bangko. Dalam materinya, Bapak Dr. Markum mengatakan bahwa belakangan masalah utama yang dihadapi pengembangan kawasan hutan sebenarnya bukan masalah terkait dengan ekosistem alami hutan itu sendiri, melainkan masalah sosial ekonomi dimana masyarakat menggantungkan keberlangsungan ekonomi hidup mereka dari kawasan hutan, sehingga penting untuk mencarikan solusi "win-win" bagi kedua pihak, masyarakat dan kawasan hutan. Selanjutnya Bapak Drs. I Gde Mertha, M.Si dalam materi jenis-jenis tumbuhan Invasif di NTB. Beliau mengatakan "Suatu spesies tumbuhan dikatakan invasif ketika pernyebarannya sangat cepat sekali dan mengganggu pertumbuhan spesies tumbuhan yang lain. Tetapi ada yang menarik, dimana kasus satu jenis tumbuhan termasuk invasif di daerah lain, tetapi di NTB tidak. Tumbuhan tidak akan invasif ketika tumbuhan tersebut memiliki predator alami di habitatnya, sehingga penyebaran tumbuhan tersebut bisa dikendalikan." Tak lupa Bapak Abdul Basith, S.Hut., M.Sc. selaku Kepala SPTN I TN Matalawa membagikan pengalaman kesuksesan Restorasi di Kawasan Musson Area di Taman Nasional Matalawa dan Bapak Muhammad Faisyal My, S.P. tentang Pemberdayaan Masyarakat dalam kegiatan Wisata Alam di Taman Nasional Gunung Rinjani. Diakhir penyampaian materi, Pada sesi diskusi para peserta diberikan kesempatan untuk berbagi cerita dan bertanya terutama mengenai masalah yang dihadapi masing-masing UPT di lingkungan kerja masing-masing kepada para pemateri. Pada hari kedua, acara ditutup oleh Bapak Lalu Yuhaidir M., P.Si yang memberikan materi tentang motivasi dalam bekerja dan pengembangan diri. Terutama ditekankan pada etos kerja, niat yang ikhlas dalam melakukan pekerjaan serta bagaimana memunculkan niat bekerja dengan tujuan yang lebih tinggi. Sumber: Balai KSDA NTB
Baca Berita

TN Sebangau Kenali Lebih Jauh TN Gunung Ciremai

Kuningan, 10 Oktober 2018. "Orang yang mau maju adalah orang yang mau keluar dari zona nyaman", kutipan singkat Andy, salah satu presenter acara yang menginspirasi banyak orang, Kick Andy. Begitu pula dengan Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Tidak hanya menjalankan tugas pokok dan fungsinya, namun bagaimana menjadikan "sudut masalah" menjadi kekuatan. Bukan hal yang aneh apabila suatu kawasan konservasi khususnya taman nasional pasti memiliki masalah sosial dengan masyarakat sekitar. Gangguan terhadap kawasan kian hari semakin meningkat, mulai dari illegal logging, perburuan liar, ataupun perambahan. Manusia yang hidup di sekitar kawasan taman nasional selalu dianggap menjadi "permasalahan" yang tidak akan berakhir, apabila tidak ada strategi bagaimana membuat mereka menjadi penguat bagi pengelolaan kawasan. Hal sederhana inilah yang dilakukan oleh Balai TNGC, yang berdampak positif khususnya bagi masyarakat sekitar. Proses yang memerlukan waktu yang cukup panjang bagaimana meyakinkan masyarakat bahwa kawasan TNGC tidak hanya bermanfaat secara ekologi namun ekonomi dan sosial. Selama masalah ekonomi dan sosial tidak terselesaikan maka yakinlah akan terus ada masalah terhadap kawasan. Pagi ini, (29/9) Balai TNGC kembali didatangi tamu dari TN Sebangau sebanyak 17 orang yang terdiri dari staf Balai TN Sebangau, "World Wide Fund for Nature" (WWF) dan masyarakat pengelola wisata alam TN Sebangau. "Kalau semua masalah hanya dihindari, bukan dihadapi yang kita lakukan adalah mengumpulkan bom yang suatu saat akan meledak. Memang harus sabar untuk menghadapi masyarakat maupun stakeholder yang belum memahami pengelolaan kawasan taman nasional", ucap Rizal, Kepala Sub Bagian Tata Usaha pada saat menyambut tamu dari TN Sebangau. Pembelajaran dua arah ini dilakukan selama dua hari. Setelah diskusi di kantor Balai TNGC, peserta akan diajak diskusi langsung dengan pelaku pengelola wisata alam oleh masyarakat sekitar di Curug Cipeuteuy, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Majalengka. Curug Cipeuteuy merupakan pioner wisata alam yang dikelola oleh masyarakat sekitar. Pengelolaan dilakukan sejak tahun 2011 yang sebelumnya status pengelola adalah kelompok yang disahkan Kepala Desa Bantaragung. Namun saat ini sudah berubah menjadi badan usaha koperasi. Bahkan beberapa bulan lalu, menerima peringkat pertama desa binaan terbaik pada Hari Konservasi Alam Nasional Tahun 2018. Hari berikutnya, peserta diajak ke lokasi wisata alam yang baru ditata secara swadaya tahun 2018 oleh masyarakat sekitar yaitu Bukit Kahiyang, yang merupakan salah satu kawasan rawan kebakaran di SPTN Wilayah I Kuningan. Kemudian dilanjut kunjungan ke Bumi Perkemahan Ipukan yang menampilkan spot indah dan satwaliar key spesies "Surili" dan "Kodok Merah Ciremai". Pembelajaran dua arah ini tentunya berdampak positif, baik masyarakat pengelola wisata alam selaku tuan rumah maupun tamu yang datang dari TN Sebangau. Khususnya bagi masyarakat sekitar kawasan TNGC saat ini sudah "percaya diri" sebagai tuan rumah bahwa perjuangan yang telah mereka lakukan tidak sia-sia. "Kami bangga menjadi bagian dari TNGC, siapa saja yang mengusik TNGC akan berhadapan dengan kami terlebih dahulu" ucap Martha, ketua Koperasi Agung Lestari yang juga diamini seluruh masyarakat pengelola wisata alam lainnya. [teks © Nisa, foto © Agus Y-BTNGC | 092018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Siaga Kebakaran Hutan dan Lahan di Taman Nasional Gunung Ciremai

Kuningan, 10 Oktober 2018. Pantauan api oleh tim pengendali sudah dapat diatasi di Blok Licin, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Majalengka Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) dan berhasil dipadamkan pukul 13.40 (5/10). Masyarakat melaporkan secepatnya setelah kebakaran terjadi pukul 09.00, Tim bersama dengan MPA Batu Nyongclo, MPGC Ciwaru, Koperasi Agung Lestari dan muspika setempat bahu membahu memadamkan api. Selanjutnya Tim gabungan dari mapala wilayah 3 Cirebon di pimpin oleh kang Mejik sebanyak 21 orang (posisi di Blok Leles) memantau perkembangan di lapangan bersama masyarakat Pasawahan, masyarakat Padabeunghar dan petugas TNGC (6/10). SPTN Wilayah II Majalengka saat ini tetap siaga, khususnya pada titik api yang sewaktu-waktu akan muncul. Tim bersiaga di beberapa titik, yaitu blok Situmpuk, Batu Kongkorong, Cikuda, Padaherang dan BBS (Bukit Batu Semar). MPA blok Batu Kongkorong, MPGC Gunung Ciwaru, dan MPGC Cidewata bersiaga di blok Batu Kongkorong, sementara MPA desa Bantaragung (tim Bagong), MPGC Curug Cipeuteuy, MPGC Awi Lega dan MPGC Leles) bersiaga di sekitar BBS ( Bukit Batu Semar). Sekitar pukul 10.00 WIB MPGC Awilega menerima informasi dari Saudara Dodo (Padabeunghar) terlihat titik api di kawasan TNGC wilayah Liang kerud. Pada pukul 11.20 WIB Tim gabungan dalkarhut Majalengka terdiri dari petugas, MPA Bantaragung, MPGC Awilega, MPGC Curug Leles dan MPGC Curug Cipeuteuy bergerak menuju lokasi target. Pada pukul 12.20 WIB tim tiba di lokasi dan melakukan titik pantau di Blok Liang kerud pada koordinat 213366/ 9244002. Pada azimuth 42 derajat, titik api terlihat pada jarak sekitar 200 meter dari lokasi target dimana tutupan kawasan yang terbakar berupa tegakan pinus. Tim bergerak ke lokasi titik api yaitu Blok Lempong Cikole (213444/ 9244274) yang berada di wilayah SPTN I Kuningan. Kegiatan pengendalian karhut yg dilaksanakan yaitu pemadaman langsung Dan pembuatan sekat bakar. Sekitar pukul 17.15 WIB api berhasil dipadamkan dengan kisaran area terbakar 5 ha. Mari bersama kita jaga dan melestarikan kawasan TNGC dari gangguan, terutama kebakaran hutan dan lahan. Dampak yang dirasakan mulai detik terjadinya kebakaran hingga waktu kedepan [teks & foto ©? BTNGC | 092018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Para Pengunjung Konservasi Cilik

Pontianak, 9 Oktober 2018. Sebanyak 35 siswa (i) Play Group dan TK Kinderworld berkunjung ke studio 121 yang berada di Kantor Balai KSDA Kalimantan Barat Jl. Ahmad Yani No. 121 Pontianak. Raut wajah ceria terlihat dari mereka, “hai, ada Monkey “ Ucap salah seorang siswa ketika melihat gambar di Mobil Konservasi sesaat sebelum memasuki kantor Balai KSDA Kalimantan Barat. Para murid TK dan Play Group tampak kagum ketika memasuki kantor Balai KSDA Kalimantan Barat deretan Galery Foto terpasang disetiap sudut ruangan. Film dan video pun tak luput disajikan sebagai bahan pembelajaran dengan tema pengenalan jenis Tumbuhan dan Satwa liar dan TWA Baning. Pengetahuan mengenai Tumbuhan dan Satwa liar saat ini sudah sampai pada tingkat Play Group dan TK, hal ini terlihat pada saat permainan tebak gambar yang membuat para murid antusias menjawab, suasana pun menjadi riuh di Studio 121. Kunjungan ini merupakan harapan terbesar kepada generasi cilik di era milenial untuk dapat menjaga keberagaman dan kelestarian biodiversitas di Kalimantan Barat. “ Kalo bukan kita yang menjaga, siapa lagi ??? “ Yok kawan mari berkunjung ke Studio 121 Balai KSDA Kalimantan Barat! Sumber: Tim Penyuluh (PR) dan Tim Publikasi, Balai KSDA Kalimantan Barat.
Baca Berita

Yuk Trekking di Wologai Tengah - Danau Kelimutu

Ende, 9 Oktober 2018. Pelaksanaan Role Model Balai TN Kelimutu pada tahun 2018 telah dilakukan pengembangan dan penataan jalur trekking baru ke Danau Kelimutu yaitu jalur Wologai, Niowula dan Sokoria. Untuk menguji kelayakan pada setiap jalur trekking baru, Pada tanggal 3-6 Oktober 2018, Balai TN Kelimutu (Balai, Seksi & Resort Wilayah) bersama para stakeholder SAR Ende, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kab. Ende, Himpunan Pemanduan Indonesia (HPI) Ende dan masyarakat mitra pengelolaan jalur trekking setempat melaksanakan kegiatan monitoring dan uji coba Kelayakan di tiga jalur trekking baru ke Danau Kelimutu. Ini merupakan kelanjutan dari rangkaian pengembangan jalur trekking yang merupakan bagian dari Role Model TN Kelimutu dari mulai perencanaan, survei kelayakan, penataan jalur, pembangunan fasilitas dan pelatihan masyarakat pemanduan jalur trekking. Kegiatan uji coba jalur trekking ini dilaksanakan secara komprehensif baik dari aspek kelayakan, keamanan dan keselamatan. Sumber : Balai Taman Nasional Kelimutu
Baca Berita

BBKSDA Jawa Timur Bantu Usaha Ekonomi Produktif Desa Penyangga Cagar Alam

Gondowido, 9 Oktober 2018. Nampak kesibukan yang tidak biasa di aula Balai Desa Gondowido. Hadir wajah-wajah ceria anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) “Picis Makmur” Desa Gondowido, Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo. Hari itu, akan diserahkan bantuan kepada KTH tersebut guna kegiatan ekonomi produkstif. Sesuai dengan proses tahapan dan perencanaan yang telah dilakukan bersama, KTH Picis Makmur berhak menerima bantuan usaha ekonomi produktif senilai Rp 50.000.000,- sebagai upaya untuk meningkatkan pendapatan masyarakat di desa penyangga. Sesuai rencana, bantuan usaha yang diberikan akan digunakan untuk ternak ayam Jowo Super dan budidaya tanaman Merica. Bantuan usaha secara simbolis diserahkan oleh Kepala Bidang Wilayah I Madiun, Ir. Hartojo, kepada KTH Picis Makmur melalui rekening kelompok. Ia berharap bantuan usaha yang diberikan merupakan stimulus bagi kelompok, agar dapat dimanfaatkan secara optimal. “Tentunya peran aktif masyarakat untuk turut menjaga kelestarian kawasan Cagar Alam Gunung Picis dan Cagar Alam Gunung Sigogor sangat diperlukan,” ingat Hartojo disela-sela sambutannya. Acara penyerahan bantuan juga dihadiri oleh pejabat eselon BBKSDA Jawa Timur, Muspika Ngebel, Kepala Desa dan fasilitator pendamping kelompok. Kepala Desa Gondowido, Baskoro, menyampaikan ucapan terima kasih kepada pemerintah melalui Balai Besar KSDA Jawa Timur yang telah memberikan bantuan modal usaha kepada masyarakat Desa Gondowido. “Program kegiatan yang akan dikembangkan kelompok diharapkan dapat mendukung dan bersinergi dengan program pembangunan desa,” tambah pria yang beberapa waktu yang lalu dilantik menjadi Kepala Desa Gondowido. Baskoro juga berjanji akan turut mengawasi langsung pelaksanaan pengelolaan dana bantuan usaha tersebut. Sumber: Endry Wijayanti. Penyuluh Kehutanan Wilayah I Madiun, Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Kukang Albino Korban Perdagangan Siap Dilepasliarkan

Bengkulu, 9 Oktober 2018. Kukang sumatera albino yang menjadi korban perdagangan dan kepemilikan ilegal di Lampung akhirnya siap dilepasliarkan kembali ke habitatnya di Kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Provinsi Lampung, Senin (8/10/2018). Sebelumnya, kukang ini telah menjalani pemeriksaan di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu - Seksi Konservasi Wilayah (SKW) III di Bandar Lampung. Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) III Lampung BKSDA Bengkulu, Teguh Ismail mengatakan Sejak penyelamatannya, Jum’at (31/08/2018) lalu, kukang malang ini dirawat secara intensif untuk memulihkan kondisinya. Disamping itu, aktivitas, perilaku serta pakannya juga diamati untuk memastikan keadaannya pulih dan siap hidup bebas kembali di habitatnya. Dan berdasarkan pemeriksaan akhir tim medis, kukang sudah dalam kondisi baik dan siap di translokasi untuk menjalani habituasi di kawasan TNBBS. Paska lepasliar, kukang juga tetap dipantau untuk mengetahui pekembangan perilakunya hingga benar-benar bertahan hidup di alam. Untuk memudahkan pemantauan, kukang terlebih dahulu dipasang radio collar di bagian leher. Radio collar berfungsi sebagai pengirim sinyal yang nantinya ditangkap oleh antena dan menimbulkan bunyi di receiver. Bunyi yang keluar dari receiver itu membantu tim di lapangan untuk menemukan keberadaan kukang di alam. Pelepasliaran kukang albino ini dilakukan atas inisiasi SKW III BKSDA Bengkulu bersama Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dengan mendapatkan arahan dari Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati Ditjen KSDAE demi keberlangsungan dan kelestarian kukang di alam. Upaya ini juga dilakukan untuk memberikan kesempatan satwa korban perdagangan untuk kembali ke habitat aslinya sesuai dengan prinsip kesejahteraan satwa. Meski kukang albino ini termasuk unik dan langka, dia tetap memiliki hak yang sama dengan satwa liar lainnya, yaitu berhak untuk hidup bebas di habitat alaminya. Tak hanya itu, dengan kembalinya kukang ke alam dapat memberikan manfaat dan menjalankan fungsi ekologis di suatu habitat sebagai mana mestinya sebagai pengendali hama dan penyerbuk alami. Sumber : Balai KSDA Bengkulu-Lampung

Menampilkan 6.833–6.848 dari 11.140 publikasi