Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Tentang Kandasnya Kapal Crystal 7 Di Perairan Pulau Bunaken

Manado, 15 Oktober 2018. Kapal Crystal 7 yang dioperasikan oleh PT Manado Maju Wisata membawa wisatawan di Pulau Bunaken, mengalami kandas di Ron's point divespot perairan Pulau Bunaken, 6 Oktober 2018. Atas kejadian tersebut, Balai Taman Nasional Bunaken melakukan cek lapangan serta pengumpulan data, lokasi kandas kapal berada pada titik koordinat N : 01°36'23,75 dan E : 124°44'09,29" dan kapal menggerus rataan terumbu dengan luas ± 198 m2. Akibat gerusan kapal Crystal 7 di lokasi Ron's point divespot telah terjadi kerusakan ekosistem terumbu karang pada tingkatan kelompok dan koloni dengan klasifikasi sedang dan besar. Karang yang rusak termasuk dalam kategori massive dan sub massive. Kepala Balai Taman Nasional Bunaken, Dr. Farianna Prabandari menyampaikan atas kejadian ini tindakan kami pertama-pertama memberikan pemberitahuan kepada PT Manado Maju Wisata selaku pengoperasi kapal wisata tersebut melalui surat tanggal 8 Oktober 2018, sekaligus surat ini merupakan laporan kepada Gubernur Sulawesi Utara dan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) - Kementerian LHK serta SKPD dan instansi terkait. Kita ketahui bersama karang memiliki pertumbuhan yang sangat lambat, apalagi yang mengalami kerusakan adalah karang massive dan sub massive. Dampak yang ditimbulkan atas kerusakan karang itu akan terganggunya keseimbangan ekosistem serta mempengaruhi tingkat kepuasan wisatawan. Pulau Bunaken masih menjadi primadona wisata alam minat khusus (selam) di Sulawesi Utara dan barometer kunjungan serta promosi kepariwisataan. Kami menghimbau kepada pihak PT Manado Maju Wisata untuk memberikan sanksi kepada motoris kapal Crystal 7 dan tidak memperkenankan kapal berlayar di kawasan Taman Nasional Bunaken serta bertanggung jawab atas kerusakan terumbu karang yang ditimbulkan pada areal gerusan kapal dan sekitarnya. Untuk selanjutnya agar berhati-hati dalam mengelola tour wisata di kawasan Taman Nasional Bunaken, patuhi aturan untuk tidak menginjak karang, tidak membuang jangkar di terumbu karang, tidak membuang sampah sembarangan, melakukan kegiatan diving dengan baik, aktivitas snorkeling, dan Discovery Scuba Dive pada lokasi yang ditentukan serta tidak melakukan pelayaran pada rataan terumbu. “Sampai sejauh ini, kami masih melakukan kajian lebih lanjut, telaah teknis akan dilakukan dengan melibatkan Perguruan Tinggi sesuai dengan bidang keahlian dan kompetensinya yang ditunjuk oleh pejabat paling tidak Eselon II, adapun saat ini kami terus berkonsultasi ke Pusat untuk petunjuk dan arahan Bapak Dirjen KSDAE terkait proses pemulihan dan tindakan lain yang dipandang perlu dilakukan sesuai Peraturan di bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan”, tutup Farianna. Sumber : Balai Taman Nasional Bunaken
Baca Berita

Pemadaman Kebakaran Hutan Gunung Ciremai, Upaya Optimal Buahkan Hasil

Kuningan, 15 Oktober 2018. Dua minggu sudah api melahap dengan rakus area batu bertanah, semak belukar, ilalang, dan vegetasi hutan gunung Ciremai sejak 30 September lalu hingga kemarin (13/10) dengan perkiraan luas hampir seribu hektar. Cuaca panas dituding salah satu penyebab terciptanya kebakaran hutan gunung Ciremai. Meskipun demikan, upaya menemukan penyebab secara hukum masih dalam investigasi pihak berwajib. Gunung Ciremai telah menyatukan kami dalam mengatasi bencana itu. Kami bahu membahu memadamkan kebakaran hutan yang terjadi di wilayah utara gunung Ciremai. Yang membuat terharu, kami menjumpai ratusan wajah dengan ikhlas dan tanpa mengenal lelah membantu memadamkan api siang dan malam. Raut muka ratusan wajah tersebut banyak yang tidak kami kenal dan baru jumpa saat memadamkan api. Mereka yang ikhlas itu berasal dari puluhan kelompok, lembaga, organisasi, dan bahkan ada atas nama pribadi yang merasa terpanggil jiwa rimbawannya ketika bencana itu melanda gunung Ciremai. Mereka berbeda-beda, bukan hanya berasal dari mitra Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) melainkan ada dari kalangan pecinta alam, dunia usaha, pelajar, dan mahasiswa, Instansi Pemerintah Daerah seperti desa hingga dinas-dinas terkait serta Pemerintah Pusat seperti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Aparat TNI dan Polri pun tak luput ikut berpartisipasi. Ujung tombaknya ada di tangan Pemerintah Desa yang berduyun menghimbau warga untuk memadamkan api yang menerjang tumbuhan dan satwa liar di gunung Ciremai. Mereka rela meninggalkan pekerjaannya selama berhari-hari demi menjaga gunung Ciremai. Rela meninggalkan ternak peliharaan, pekerjaan di ladang, bahkan seorang Manager sebuah perusahaan mau bermalam di hutan dan berjibaku bersama memadamkan api serta meninggalakan order perusahaan yang bernilai besar. Mereka yang tidak sempat terjun ke lapangan, memilih mengirimkan doa dan logistik yang berlimpah untuk menunjang upaya pemadaman. Mereka hadir dengan menyiapakan logistik masing-masing, bahkan juga transportasinya. Di lokasi pemadaman, kami saling berbagi makanan dan minuman. Ego kami tidak ada lagi yang ada hanyalah ingin api cepat padam. Intinya, mereka terpanggil hatinya oleh lara gunung Ciremai. Tentunya Balai TNGC tidak akan mampu membalas jasa para "Satria Rimbawan" dengan materi. Namun manfaat kelestarian dan kekayaan sumber daya alam gunung Ciremai patut kita rasakan bersama. Sejak kemarin (13/10) hingga hari ini asap sudah tak tampak di lereng utara gunung Ciremai. Namun "mop up" terus dilakukan pesawat Mi8 BNPB. "Water Boombing" tersebut dilakukan dengan pengambilan air dari Situ Cipariuk, Pasawahan, Kuningan lalu menyiramkannya di titik dan area potensi api agar benar-benar padam. Atas nama seluruh kehidupan yang ada di gunung Ciremai, kami mengucapkan apresiasi, penghargaan dan terima kasih tak terhingga kepada seluruh #sobatCiremai yang tak bisa kami sebut satu persatu. [teks © Idin, image © BTNGC | 102018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunug Ciremai
Baca Berita

Kampanye "Senandung Kakatua at Moyo Island" oleh World Parrot Trust dan SKW II BKSDA NTB

Pulau Moyo, 15 Oktober 2018. World Parrot Trust, lembaga amal internasional menggandeng BKSDA NTB melalui perwakilan Kantor SKW II Sumbawa untuk menyelenggarakan Pengamatan Kakatua dan Kampanye "Senandung Kakatua at Moyo Island" pada tanggal 13 dan 14 Oktober 2018 di Pulau Moyo, Sumbawa. Kegiatan kampanye dan pengamatan Kakatua turut mengundang dari Sumbawa Biodiversity, Birding Indonesia, Universitas Teknologi Sumbawa dan Masyarakat Mitra Polhut dengan jumlah partisipan sebanyak 20 orang. Tak lupa para peserta yang merupakan siswa dan siswi SD/SMP Satu Atap Labuan Aji, Pulau Moyo yang mejadi lokasi kegiatan Kampanye, termasuk juga masyarakat sekitar. Sementara itu pada hari sebelumnya, pengamatan kakatua kecil jambul kuning mengambil lokasi disekitar 1.7 km dari air terjun Matajitu. Pada saat pengamatan (pukul 17.18 WITA) ditemukan 3 ekor kakatua, dimana 2 ekor dari kakatua tersebut sempat masuk kedalam lubang yang diduga merupakan sarang. Pada saat perjalanan pulang pukul 17.28 WITA, tim kembali menemukan 6 ekor kakatua terbang berputar-putar disekitar lokasi pengamatan. Berlanjut kembali, pengamatan kakatua kecil jambul kuning kembali dilakukan dalam perjalanan pulang menuju sumbawa oleh Komunitas World Parrot Trust yang didampingi Tim SKW II BKSDA NTB melalui atas kapal di site Brang Sedo, dan ditemukan 13 ekor kakatua (diduga 3 kelompok) terbang berpindah-pindah pada beberapa pohon. World Parrot Trust adalah lembaga amal internasional yang didedikasikan untuk menyelamatkan burung beo, dan dalam hal ini burungKakatua Kecil Jambul Kuning di Pulau Moyo yang habitatnya tersebar di beberapa site di Pulau Moyo. Kampanye kali ini merupakan kerjasama yang kesekian kali dengan Balai KSDA NTB guna pelestarian dan penyelamatan Kakatua Kecil Jambul Kuning di Pulau Moyo. Sumber : Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

Pelepasliaran Satwa Liar Jenis Burung Ke Habitat Asal di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur

Sidoarjo, 12 Oktober 2018. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur bersama instansi terkait melaksanakan kegiatan pelepasliaran satwa liar jenis burung ke habitat asal, yaitu Pangkalanbun Kalimantan Tengah dan Balikpapan Kalimantan Timur. Ratusan Ekor Burung akan Menghirup Napas Kebebasan di Habitatnya Dalam Peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional Satwa liar jenis burung yang akan dilepasliarkan merupakan hasil giat bersama antara para pihak dalam melaksanakan pengawasan terhadap peredaran satwa khususnya burung yang berasal dari alam di wilayah kerja Balai Besar KSDA Jawa Timur. Setelah melalui proses penanganan satwa yang cukup panjang dan mengacu pada prosedur pelepasliaran satwa, ditetapkan jumlah satwa yang layak untuk dikembalikan ke habitat asal adalah berjumlah 210 ekor. 170 ekor akan dikembalikan ke Balikpapan Kalimantan Timur yang terdiri dari 50 ekor murai batu, 109 ekor cucak hijau dan 11 ekor cucak jenggot. Sedangkan 40 ekor yang terdiri dari 20 ekor murai batu dan 20 ekor cucak hijau dikembalikan ke Pangkalanbun, Kalimantan Tengah. Proses pelepasliaran di habitat asal telah melalui prosedur pelepasliaran satwa yang diantaranya adalah pengecekan kesehatan satwa, kemurnian jenis, penentuan lokasi, rehabilitasi dan habituasi satwa serta langkah-langkah teknis lainnya sesuai standar IUCN. Hal tersebut tentunya akan dilakukan oleh BKSDA Kalimantan Tengah dan BKSDA Kalimantan Timur selaku penerima satwa. Burung adalah bagian integral dari rantai makanan dan jaring-jaring makanan. Dalam ekosistem hutan beberapa burung mengambil makanan terutama dari tanaman. Selain itu burung juga memakan satwa kecil seperti serangga yang secara langsung berfungsi sebagai pengendali hama secara alami. Hubungan antara makanan semua satwa dalam ekosistem membantu mencegah satu spesies menjadi terlalu banyak. Burung memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan alam ini. Selain menjadi bagian penting dari jaring-jaring makanan, burung memainkan peran lain dalam ekosistem. Kegiatan pelepasliaran satwa hasil penertiban ke habitat asal merupakan bentuk komitmen Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk melaksanakan pengelolaan insitu dalam kerangka road map pengelolaan spesies, sekaligus merupakan rangkaian memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional yang jatuh pada tanggal 5 November 2018. Pelepasliaran 210 ekor burung ke habitatnya merupakan hasil kerja bersama antar para pihak yaitu Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Tengah, Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, Balai Besar Karantina Pertanian Jawa Timur, Dit Polair Polda Jatim, Dinas Peternakan Prov. Jawa Timur, Balai Pengamanan dan Penegakkan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah Jawa Bali Nusa Tenggara, Taman Safari Indonesia II Prigen, Pro Fauna, JAAN, FK3I dan pihak- pihak lain yang mendukung kegiatan ini. Semoga satwa burung tersebut dapat berkembang biak di alam dan lestari di habitatnya. Salam Konservasi ! Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur Informasi lebih lanjut bisa menghubungi: Drh. Indra Exploitasia, M.Si. (Direktur KKH) Dr. Nandang Prihadi, S.Hut, M.Sc (Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur) Ir. Sunandar Triguna Jasa, MM. (Kepala Balai KSDA Kalimantan Timur) Ir. Adib Gunawan (Kepala Balai Kalimantan Tengah) Call Center Balai Besar KSDA Jawa Timur (082232115200) Call Center Dit KKH Kementerian LHK (081315003113)
Baca Berita

Tim Gabungan Masih Berjuang Padamkan Api

Kuningan, 13 Oktober 2018. Perjuangan petugas dan masyarakat masih belum berakhir. Upaya pemadaman api masih terus dilakukan. Lokasi api di blok panyusupan, arca dan arah bintangot Kamis (11/10). Upaya pemadaman dibagi dua tim, satu pemadaman langsung dan satu lagi pembuatan sekat bakar. Tim pemadam terdiri dari MPA Desa Seda sebanyak 25 orang, Desa Cibuntu 7 orang, Desa Bandorasa 5 orang, Desa Padabeunghar 9 orang dan tim Akar yang dipimpin Amalo dan Maman Mezik sebanyak 16 orang relawan BPBD Kab. kuningan dan petugas TNGC langsung dikomandoi Kepala SPTN Wilayah I Kuningan. Antisipasi dari petugas dan masyarakat pada titik-titik tertentu sudah dilakukan namun api tetap saja berkobar. Usaha tidak sampai berhenti disini, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Ciremai, Kuswandono berkoordinasi dengan Direktur Jenderal KSDAE dan Direktur Jenderal PPI (Pengendalian Perubahan Iklim) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk meminta bantuan water bombing guna mematikan api yang lokasinya sulit untuk dijangkau. Ditjen PPI meneruskan permintaan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana permintaan terkait bantuan water bombing. Sore ini akan dikirim Heli water bombing BNPB jenis Mi-8 untuk pemadaman api di Gunung Ciremai. Mari sama-sama kita doakan agar api segera padam. Tentu bukan hal yang mudah bagi alam merecovery setelah kerusakan terjadi. Cukupkanlah yang sudah terjadi satu bulan ini. Semoga dengan apa yang terjadi saat ini menjadi refleksi bersama [Teks © Nisa Syachera F – BTNGC ; Foto © Agus yudantara – BTNGC | 102018]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Hari Berbusana Adat di Balai TN Bali Barat

Gilimanuk, 11 Oktober 2018. Balai Taman Nasional Bali Barat (TNBB) terlihat berbeda karena seluruh pegawainya berbusana adat. Inilah Hari Penggunaan Busana Adat Bali serentak di seluruh provinsi Bali, yang mulai diberlakukan melalui Pergub Bali Nomor 79 Tahun 2018. Busana adat dikenakan setiap hari Kamis, hari jadi Provinsi Bali, hari jadi Kabupaten/Kota, dan hari besar umat Hindu. Bagi masyarakat nusantara yang tinggal dan bekerja di Bali, selain busana adat Bali, di perbolehkan memakai busana adat daerahnya masing-masing. Kepala Balai TNBB, Drh. Agus Ngurah Krisna K., M.Si, sebelumnya telah berkoordinasi dengan kepala P3E Bali Nusra sebagai korwil UPT KLHK di Bali terkait hal ini. Tidak hanya busana adat, penggunaan bahasa Bali menjadi point peraturan dalam Pergub ini. Pertimbangannya adalah busana adat dan bahasa, merupakan bagian dari kekayaan budaya nasional yang perlu dilestarikan dalam rangka pembinaan dan pengembangan budaya nasional. Arahan memakai busana adat ditujukan khususnya untuk pegawai kantor balai dan seksi. Sedangkan untuk petugas lapangan, tetap memakai pakaian seragam biasa untuk menunjang tugas pekerjaan di lapangan. Beberapa poin dalam Pergub Bali meliputi Etika pengguna busana adat Bali sesuai dengan nilai kesopanan, kesantunan, kepatutan, dan kepantasan yang berlaku di masyarakat. Busana adat Bali digunakan oleh pegawai di lingkungan lembaga pemerintahan, pendidik, tenaga pendidik, peserta didik, dan pegawai lembaga swasta. Penggunaan busana adat Bali dikecualikan bagi pegawai lembaga pemerintahan, lembaga swasta dan lembaga profesional, yang oleh karena tugasnya mengharuskan untuk menggunakan seragam khusus tertentu atau karena alasan keagamaan. Bagi masyarakat nusantara lainnya yang tinggal di wilayah Provinsi Bali dapat menggunakan busana adat Bali atau busana adat daerah masing-masing. Sumber : Balai Taman Nasional Bali Barat
Baca Berita

Pesona Anggrek dan Tanaman Hias di TWA Danau Sicike - Cike

Sicike-cike, 11 Oktober 2018. Pernahkah anda merasakan sensasi berada ditengah kawasan hutan yang dipenuhi dengan berbagai koleksi tanaman anggrek hutan, kantong semar dan tanaman hias ? kalau belum, ikuti laporan reportase kami di TWA Sicike-cike berikut ini. Cuaca pagi yang cerah mengiringi langkah memasuki kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Danau Sicike-cike, yang terletak di Kecamatan Parbuluan, Kabupaten Dairi, pada Selasa 26 September 2018. Kicauan burung-burung dan deru air sungai Pandaroh (Lae Pandaroh), menyambut seolah ingin menyatakan selamat datang. Tiga jembatan beton dilalui, untuk dapat sampai di jalan trail yang menjadi penghubung jalan menuju ke Danau I. Jalan trail sepanjang ± 748 meter, terbuat dari papan-papan, yang tersusun rapi, menjadi jalan utama untuk dapat menikmati perjalanan sambil mengamati sensasi potensi yang ada di kawasan. Jalan yang dibangun pada tahun 2017 dan 2018, dimaksudkan untuk memanjakan dan memberikan rasa nyaman bagi pengunjung. Baru ± 50 meter perjalanan, pemandu/petugas Resort TWA Danau Sicike-cike, pak Bergiat Sembiring, memperkenalkan salah satu bunga anggrek yang tumbuh disebelah kanan jalan. Anggrek yang bernama latin Pabihiopedilum tonsum dengan tinggi batang sekitar 1 meter dari permukaan tanah. Kuntum anggrek yang sedang mekar ini sangat menawan. Pabihiopedilum tonsum Tidak jauh dari tumbuhnya anggrek Pabihiopedilum tonsum, berdiri tegar pohon kemenyan, yang ternyata multi manfaat, dimana getahnya bisa digunakan sebagai obat, dan bunganya oleh kelompok etnis sulang silima sipitu marga dipakai sebagai salah satu bahan pemujaan saat melakukan acara ritual, karena mengeluarkan aroma wewangian. Bahan-bahan yang di gunakan ketika melakukan acara ritual di TWA. Sicike cike Oh..ya, kawasan TWA Danau Sicike cike, memiliki 3 danau, dan keberadaan danau-danau ini oleh suku/etnis masyarakat Pakpak Bharat, yang dikenal dengan Sulang Silima Sipitu Marga, meyakini memiliki historis asal muasal etnis tersebut, sehingga keberadaannya dijaga dan pada waktu-waktu tertentu kelompok-kelompok etnis ini melakukan acara ritual di Danau I. Danau I yang terdapat di TWA. Sicike cike Semakin ke dalam memasuki kawasan, semakin beragam tumbuhan (flora) yang dijumpai. Sejumlah anggrek baik yang besar maupun kecil tumbuh menempel pada beberapa pohon yang ada, seperti : Dendrobium cannatum Eria sp Bulbopholyum sp Calanthe pulchara dan jenis-jenis lainnya. Tidak jauh dari Danau I, giliran tumbuhan Kantong Semar (Nephentes) yang dominan ditemukan. Ada yang tumbuh menjulur/menggantung di ranting-ranting pohon, dan ada juga yang tumbuh dilantai (ditanah) diantara tumbuhan lumut-lumutan. Merasa betah, sehingga butuh waktu yang cukup lama untuk menikmati keindahan tumbuhan yang beragam warna dan corak ini. Nepenthes spectabilis Danser Tidak hanya itu, tanaman hias dan tanaman obat-obatan, juga melengkapi keragaman flora yang ada di kawasan, beberapa diantaranya adalah Pakurani (tanaman hias sekaligus tanaman obat yang digunakan sebagai minyak urut bagi masyarakat suku Karo), Bunga Kiong (tanaman hias yang juga tanaman obat untuk sesak napas), Gagatan Harimau (tanaman yang digunakan untuk menambah energi/tenaga), dan yang lainnya, sebagaimana dijelaskan pemandu, bapak Hotber Sianturi. Dihampir sepanjang jalan, juga tertanam rapi lumut-lumutan dengan berbagai warna, seperti : hijau, putih, orange, dan merah. Keberadaan lumut yang beragam warna ini memberikan pesona tersendiri. Lumut (Licen) Berburu pesona anggrek dan tanaman hias ini, meskipun telah menyita waktu ± 5 jam, namun sedikitpun tidak merasa bosan dan lelah. Kekaguman akan keragaman potensi tersebut membuat rasa penat terobati. Ingin rasanya melanjutkan, namun menimbang cuaca, yang setiap sore hari turun hujan, menyebabkan perburuan dihentikan. Untuk mendukung kunjungan ke TWA Danau Sicike-cike, menurut penjelasan Kepala Resort Konservasi Wilayah TWA Danau Sicike-cike, Senang Sigiro, didalam kawasan dilengkapi fasilitas sarana prasarana, selain jalan/jembatan trail, ada juga gapura, kamar mandi dan shelter. Perburuan pesona anggrek dan tanaman hias ini bukanlah yang terakhir, tetapi merupakan awal untuk menjadwal kembali kunjungan berikutnya. Kalau anda juga ingin merasakan sensasi pesona keragaman hayati di TWA Danau Sicike-cike, tunggu apalagi… segeralah kunjungi kawasan TWA Danau Sicike-cike… AYO NIKMATI KEINDAHAN TWA DANAU SICIKE-CIKE… Sumber : Evansus Renandi Manalu - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Peringati Animal World Day, Balai KSDA Bengkulu Lepas Tukik

Bengkulu, 10 Oktober 2018. Hari Satwa Sedunia atau World Animal Day yang diperingati setiap tanggal 4 Oktober, pada awalnya peringatan ini dimulai di Florence, Italia tahun 1931 yaitu pada konvensi para ahli ekologi. Tanggal 4 Oktober dipilih sebagai Hari Satwa Sedunia karena pada tanggal itu diadakan pesta perjamuan Francis of Assisi, seorang pecinta alam dan pelindung satwa dan lingkungan. Saat itu, perayaan Hari Satwa Sedunia dirayakan oleh seluruh penyayang satwa dari seluruh agama dan kepercayaan, kebangsaan, dan latar belakang. Tim penyelamat satwa dan berbagai organisasi satwa liar melakukan kegiatan pengumpulan dana, bazaar, dan sebagainya di berbagai sekolah dan tempat kerja. Di hari itu, mereka juga memberikan penghargaan terhadap individu, sekelompok orang, atau lembaga yang dianggap telah memberikan kontribusi terbaik pada dunia satwa. Untuk turut memperingati hari tersebut BKSDA Bengkulu melepasliarkan 100 ekor tukik penyu jenis Lekang (Lepidochelys olivacea) yang berlokasi di pantai Taman Wisata Alam (TWA) Air Hitam. Pelepasan tukik oleh Plt. Kepala Balai KSDA Bengkulu bersama Gerakan Pramuka SMA 04 Mukomuko, didampingi oleh Polsek Pondok Suguh Mukomuko, Kepala Desa Se-Kecamatan Pondok Suguh, Kepala KPHK Seblat, Kepala Resort KSDA Air Hitam, Kepala Resort KSDA Seblat, Kepala Resort KSDA Air Rami, Kepala Resort KSDA Mukomuko, Kepala Urusan Program dan Kerjasama Balai KSDA Bengkulu, dan Kelompok Pemuda Pemudi Peduli Alam dan Lingkungan Hidup (KP3ALH) Air Hitam. Tukik yang dilepasliarkan merupakan hasil dari program konservasi penyu di TWA Air Hitam yang dikemas dalam perjanjian kerjasama antara BKSDA Bengkulu dengan Yayasan SIPEF Indonesia Nomor: PKS.577/K.10/TU/PKS/03/2018 dan Nomor: 01/ENC-YSI/HO-III-2018 tentang Penguatan Fungsi kawasan melalui Konservasi Penyu di TWA Air Hitam Kabupaten Mukomuko Provinsi Bengkulu yang ditandatangani para pihak pada tanggal 14 Maret 2018 yang lalu, dengan kelompok masyarakat KP3ALH Air Hitam menjadi motor penggerak program ini. Sumber : Balai KSDA Bengkulu-Lampung
Baca Berita

Bintan si Bayi Orangutan Kalimantan di Taman Safari Lagoi

Batam, 01 Oktober 2018. Kelahiran bayi Orangutan dari induk bernama Barito setelah sekira 34 minggu (250 hari) pada hari Senin, 1 Oktober 2018 pukul 15.00 WIB menjadi kabar yang sangat menggembirakan terutama bagi pencinta konservasi satwa. Sampai hari kesepuluh dari tanggal kelahirannya, "BINTAN" nama bayi Orangutan Kalimantan berjenis kelamin jantan yang lahir dengan berat 2 (dua) kilogram dan dalam kondisi sehat terlihat selalu digendong induknya di Taman Safari Lagoi - Bintan, Kepulauan Riau. Semoga keberhasilan konservasi eksitu yang telah diupayakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagaimana kelahiran " BINTAN" dapat diikuti oleh Lembaga Konservasi yang lainnya. Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Mengkonservasikan Masyarakat dengan Belajar Membatik

Sumenep, 4 Oktober 2018. Seksi Konservasi Wilayah IV menggelar latihan membatik bagi ibu-ibu PKK di Pulau Masakambing, Kecamatan Masalembu, Kabupaten Sumenep. Bertempat di rumah Kepala Desa Masakambing, latihan membatik dilaksanakan di sela-sela kegiatan monitoring Kakatua Kecil Jambul Kuning yang rutin dilakukan BBKSDA Jatim di Masakambing. Sebanyak 20 orang ibu-ibu PKK belajar menggambar dan mencanting disebuah kain dengan ukuran 30 x 30 cm. Seluruh peserta terlihat serius dan sangat antusias mengikuti kegiatan yang baru pertama kali di desa tersebut. Keseruan terlihat saat peserta mulai menggambar desain dan mencantingnya menggunakan malam yang telah dicairkan, beberapa berhasil menggambar dengan baik namun beberapa terlihat acak-acakan. Menurut Dini Suryandari (Penggagas Kegiatan Pelatihan Membatik) “Membatik memang bukan pekerjaan mudah, dibutuhkan kesabaran dan ketenangan saat menggoreskan ujung canting yang berisi cairan malam di atas kain agar tidak menetes, belum lagi penyesuaian dengan cairan malam yang menimbulkan efek panas. Posisi yang baik dan benar saat mencanting akan memudahkan pergerakan tangan mencoretkan canting di atas kain.” Batik motif Kakatua sepertinya akan menjadi ciri khas dari batik Masakambing, hal ini dikarenakan Pulau Masakambing menjadi Habitat terakhir Kakatua Kecil Jambul Kuning (Cacatua sulphurea abbotti) yang saat ini kondisinya sangat terancam punah. Selain unik diharapkan Batik Kakatua juga mampu memberikan edukasi Konservasi pada masyarakat luas terkait keberadaan kakatua di Pulau Masakambing. Tujuan utama pelatihan membatik ini adalah dalam rangka pemberdayaan masyarakat. Melalui ketrampilan membatik diharapkan batik yang dihasilkan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat apabila benar-benar ditekuni. Selain itu kesadaran masyarakat untuk menjaga Burung Kakatua di habitatnya juga akan semakin meningkat. Berkenaan pemasaran produk Kepala Desa Masakambing akan meminta fasilitasi dari pemerintah daerah serta akan menitipkan pada beberapa toko batik yang siap memasarkan apabila hasilnya cukup bagus. Selain itu adanya wacana Pulau Masakambing sebagai tujuan Ecotourism juga menjadi peluang pasar yang bagus. Sumber: Didik Sutrisno – Penyuluh Kehutanan SKW IV, Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Wajah Baru TWA Bukit Kaba

Bengkulu, 11 Oktober 2018. Taman Wisata Alam (TWA) Bukit Kaba yang terletak di Kabupaten Rejang Lebong dan Kabupaten Kepahiang, merupakan aset wisata berharga Provinsi Bengkulu. Keunikan utama kawasan wisata yang merupakan satu-satunya destinasi wisata alam berbasis fenomena vulkanis di Provinsi Bengkulu. Nilai keindahan suasana pegunungan yang didukung kondisi ekosistem hutan dan hidupan tumbuhan satwa liar yang masih alami, menjadi daya tarik tersendiri dan perlu terus untuk dikembangkan dan ditingkatkan pengelolaannya. Untuk meningkatkan kunjungan wisata Balai KSDA Bengkulu selaku pengelola kawasan, pada tahun 2018 ini ada beberapa peningkatan/penambahan sarana dan prasarana pendukung yang dibangun yaitu Giant Text (bertuliskan: Taman Wisata Alam Bukit Kaba) dan Pondok Wisata yang dibangun di puncak Bukit Kaba, serta dibangunnya Pusat Informasi TWA Bukit Kaba yang berlokasi di pintu masuk menuju puncak. Wajah baru dari puncak Bukit Kaba dengan dipasangnya giant text sehingga puncak Kaba terlihat lebih ikonik, diharapakan dapat membuat destinasi/spot baru bagi para/calon pengunjung atau pendaki khususnya penghobi dunia fotografi. Upaya-upaya tersebut merupakan pengembangan ekowisata Bukit Kaba ke arah program wisata yang lebih variatif, dimana peningkatan sarana prasarana, menggiatkan promosi secara efektif dan terprogram dengan baik, serta melakukan koordinasi dan kerja sama yang lebih bermutu dan efektif antar para pihak dapat menjadikan TWA Bukit Kaba sebagai salah satu destinasi wisata eksotis yang mendunia. Sumber : Balai KSDA Bengkulu-Lampung
Baca Berita

Tingkatkan PNBP, Balai KSDA Bengkulu Tambah Sarpras Wisata di TWA Pantai Panjang dan Pulau Baai

Bengkulu, 04 Oktober 2018. Secara geografis Provinsi Bengkulu berada di pesisir barat Pulau Sumatera, menjadikan Bengkulu kaya akan objek wisata pantai salah satunya Taman Wisata Alam (TWA) Pantai Panjang dan Pulau Baai. Didukung dengan lokasi yang berada di Ibukota Provinsi Bengkulu, potensi kunjungan wisata ke TWA Pantai Panjang dan Pulau Baai tinggi. Khususnya bagi masyarakat Kota Bengkulu dan sekitarnya yang ingin menikmati suasana alami pantai dengan hutan cemara dan hutan mangrove yang tumbuh di dalamnya serta tidak mengeluarkan kocek yang besar untuk mengunjunginya, maka TWA ini solusinya. Melihat potensi dimasa yang akan datang untuk peningkatan PNBP dari sektor wisata yang cukup menjanjikan, maka BKSDA Bengkulu terus berupaya meningkatkan fasilitas dan sarana prasarana wisata di dalamnya. Peningkatan fasilitas dan sarpras wisata yang ditingkatkan dan ditambah di tahu 2018 ini adalah sarpras pada Camping Ground berupa pembangunan pentas pertunjukan yang dapat dimanfaatkan bagi yang melakukan aktifitas di areal camping, dan juga dibangunnya mangrove track yang melintasi hutan mangrove yang tumbuh alami di sekitar muara sungai Jenggalu. Dengan penambahan atau peningkatan fasilitas/sarpras wisata ini para pengunjung yang hobi dengan dunia fotografi dapat lebih dimanjakan dalam menikmati dan mengabadikan suasana alami dari TWA. Harapan kedepannya semua masyarakat khususnya pengunjung dapat menjaga dan merawat fasilitas yang telah dibangun agar TWA Pantai Panjang dan Pulau Baai sehingga bisa menjadi salah satu icon wisata yang dapat membanggakan Bengkulu. Sumber : Balai KSDA Bengkulu-Lampung
Baca Berita

Pesona Puncak Sawiah Gunung Ciremai

Kuningan, 12 Oktober 2018. Puncak Sawiyah adalah sebuah blok perkebunan yang terletak di desa Sangiang, Banjaran, Majalengka, Jawa Barat. Puncak Sawiyah berada tepat berbatasan langsung dengan hutan konservasi Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Jarak menuju Puncak Sawiyah dari pusat kota Majalengka sekitar 25 kilometer dan dapat ditempuh kurang lebih 1 jam perjalanan. Tidak ada transportasi umum menuju Puncak Sawiyah. Hanya bisa di akses menggunakan kendaran pribadi atau sewaan. Nama obyek wisata alam ini berasal dari kebun warga sekitar yang disebut perkebunan Sawiah. Kemudian pemberian nama puncaknya sendiri berasal dari ketinggiannya yang berada tepat diatas perkebunan Sawiah itu. Toponimi Puncak Sawiah itulah yang dijadikan sebagai nama objek wisata. Jadi, Puncak Sawiah bukan puncaknya gunung Ciremai. Selain view yang sangat memanjakan mata dari ketinggian 1.300 meter diatas permukaan air laut, terdapat pula Curug Remis. Curug ini berada 1 kilometer dari Puncak Sawiah dan dapat digapai dengan berjalan kaki. Tinggi air terjun ini mencapai 100 meter. Percikan air dan hembusan anginya pasti bisa membuat sejuk tubuh kita. Disekitar curug ini juga terdapat flora seperti Kantong Semar dan fauna seperti Kijang. Destinasi Puncak Sawiah memang menawarkan spot selfie yang "anti mainstream". Ayo jelajahi wisata alam Puncak Sawiah. Janji pecinta alam. Jangan ambil apapun kecuali gambar, jangan tinggalkan apapun kecuali jejak kaki dan jangan bunuh apapun kecuali waktu [teks & foto © Gandi - BTNGC | 102018]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Reaksi Cepat, Balai KSDA Kalimantan Barat Gagalkan Pengiriman Sisik Trenggiling

Pontianak, 10 Oktober 2018. Belum lama ini tersiar berita di media Pedagang Sisik Trenggiling divonis 2 tahun di Pengadilan Negeri Sintang. Pukul 10.15 WIB, Balai KSDA Kalimantan Barat melalui petugas Pos Pandara Internasional Supadio bersama-sama dengan petugas cargo PT. Angkasa Pura II berhasil menggagalkan pengiriman sisik trenggiling yang direncanakan akan dikirim ke Jakarta. Berat sekitar ± 20 Kg sisik trenggiling terbungkus dengan rapi menggunakan kardus. Dalam menjalankan aksinya, pemilik yang berinisial R, menggunakan modus memalsukan identitas barang dalam resi dengan mencantumkan “makanan kucing“. Sadtata Noor Adirahmanta, Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat mengatakan bahwa, “upaya penyelamatan akan terus ditingkatkan melalui penjagaan dan pemeriksaan di pintu bandara untuk mencegah agar tidak ada lagi pengiriman satwa dilindungi maupun bagian-bagiannya”. Saat ini barang temuan tersebut telah diserahkan ke Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah Kalimantan melalui Seksi Wilayah III Pontianak. Jaga dan Lestarikan Tumbuhan dan Satwa di Habitatnya, kalau bukan kita siapa lagi? Sumber: Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Strategi Balai Besar Tana Bentarum Tingkatkan Dalkahutla

Lanjak, 11 Oktober 2018. Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (Tana Bentarum) menerapkan strategi pengembangan teknik pembukaan lahan tanpa bakar sebagai upaya meningkatkan pengendalian kebakaran hutan dan lahan (dalkarhutla). Strategi ini dikemas dalam bentuk Pelatihan Keteknikan untuk Menunjang Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) di Balai Adat Bersatu Kecamatan Batang Lupar selama 2 (dua) hari terhitung dari tanggal 10 s/d 11 Oktober 2018. Sasaran pelatihan ini Masyarakat Peduli Api (MPA) yang berada di dalam kawasan Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) sebanyak 20 orang (Desa Vega, Desa Sekulat, Dusun Semangit Desa Nanga Leboyan, Desa Laut Tawang) dan masyarakat yang berada di wilayah penyangga kawasan TNDS berjumlah 10 orang (Desa Sepandan dan Desa Lanjak Deras). Masyarakat diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan peserta di bidang pengendalian kebakaran hutan dan lahan serta dapat menjadi upaya alternatif di dalam pembukaan lahan yang ramah lingkungan sehingga dapat mencegah atau paling tidak dapat meminimalisir kejadian kebakaran hutan dan lahan. "Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan solusi bagi masyarakat dalam kegiatan pembukaan lahan tanpa bakar yang ramah lingkungan karena penyebab utama kebakaran hutan dan lahan selama ini adalah faktor kesengajaan yang bertujuan untuk pembukaan lahan" ungkap Kepala Bidang PTN Wilayah III Lanjak Gunawan Budi H. dalam sambutannya. Gunawan menambahkan "Masyarakat Peduli Api (MPA) yang hadir di dalam kegiatan ini diharapkan nanti menjadi pionir dan kader yang dapat memberikan contoh bagi masyarakat lainnya dalam upaya dalkarhutla yang salah satunya adalah melalui pembukaan lahan tanpa bakar dengan pembuatan cuka kayu". Hal senada juga diungkapkan Camat Batang Lupar, Rusdy Hartono "kegiatan ini sangat tepat dilaksanakan di Kecamatan Batang Lupar karena selain ditetapkannya wilayah ini sebagai daerah yang rawan karhutla juga hampir setiap tahun terjadi kebakaran di wilayah ini dengan penyebab menyebarnya api akibat pembukaan lahan oleh oknum masyarakat". Output pelatihan ini nantinya bisa menjadi solusi bagi masyarakat yang akan membuka lahan, sehingga dapat meminimalisir kejadian karhutla dan juga dapat meningkatkan pendapat masyarakat melalui pembuatan cuka kayu yang ramah lingkungan. Ditambahkan Rusdy bahwa dengan mencegah terjadinya karhutla di wilayah ini maka akan turut serta menjaga kelestarian kawasan konservasi Tana Bentarum, karena wilayah ini merupakan daerah penyangga yang berbatasan langsung dengan kawasan konservasi sekaligus merupakan koridor utama penghubung dua kawasan yang masuk dalam status Cagar Biosfer. Kegiatan pelatihan ini meliputi pemberian materi kelas dan praktek lapangan dengan narasumber dari Balai Besar Tana Bentarum dan Manggala Agni Brigdalkarhut yang dipimpin Kepala Bidang PTN Wilayah III Lanjak. Materi yang disampaikan meliputi Kebijakan Pemerintah dan Strategi Pengendalian Karhutla, Strategi dan Teknik Pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan, Pembukaan Lahan Tanpa Bakar Melalui Cuka Kayu. Untuk materi praktek meliputi praktek pembuatan alat pembuat cuka kayu dan simulasi pemadaman kebakaran. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Penandatanganan Perjanjian Kerjasama Kemitraan Konservasi antara Balai Besar TNGL dengan 13 Kelompok Tani Hutan Konservasi

Medan, Oktober 2018.Bertempat di kantor Balai Besar TN Gunung Leuser digelar agenda Penandatanganan Perjanjian Kerjasama Kemitraan Konservasi antara Balai Besar TN Gunung Leuser dengan 13 Kelompok Tani Hutan Konservasi (KTHK). Acara dibuka secara resmi oleh Plt. Kepala Balai Besar TN Gunung Leuser, Dr.Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc.For pada Selasa (9/10) siang. Acara dihadiri lebih dari 50 orang undangan dari berbagai instansi/lembaga, yaitu UPT Kementerian LHK provinsi Sumatera Utara (Balai PSKL Wilayah Sumatera, Balai PDASHL Wampu Sei Ular dan Balai Gakkum Wilayah Sumatera), Ketua Pokja Percepatan Perhutanan Sosial Sumut, Kepala Desa PIR ADB, Kepala Desa Lawe Malum, mitra NGO, awak media dan tentu saja 13 orang Ketua KTHK yang didampingi 2 orang fasilitator. Tiga belas KTHK yang melakukan kerjasama kemitraan konservasi terdiri dari 11 KTHK dari desa PIR ADB, kabupaten Langkat dan 2 KTHK dari desa Lawe Malum, kabupaten Aceh Tenggara. Sebelas KTHK desa PIR ADB yaitu KTHK Bamban Sejahtera, KTHK Bina Lestari, KTHK Sejahtera, KTHK Makmur Tani, KTHK Cinta Makmur, KTHK Bamban Makmur, KTHK Bina Lingkungan, KTHK Mekar, KTHK Karya Lestari, KTHK Mandiri dan KTHK Mawar. Fasilitator kesebelas KTHK ini Ilham Iskandar Zein, seorang kader konservasi. Sedangkan 2 KTHK di desa Lawe Malum, Aceh Tenggara adalah KTHK Marsada dan KTHK Tenda Biru yang didampingi fasilitator Taufik Ramadhan. Kemitraan Konservasi diinisiasi Direktur Jenderal KSDAE Ir. Wiratno, M.Sc sebagai salah satu bentuk paradigma baru dalam pengelolaan kawasan konservasi. Direktur Jenderal KSDAE sendiri telah turun langsung dalam berbagai momen penting perjalanan kemitraan konservasi di TN Gunung Leuser, yaitu pada Deklarasi di Ketambe (September 2017), Penetapan 3 lokasi pemulihan ekosistem sebagai role model di TNGL (Januari 2018) dan Kongres KTHK di Sekoci (Februari 2018). Penandatanganan perjanjian kerjasama dengan 13 KTHK ini menurut Hotmauli Sianturi merupakan langkah awal, bukan tujuan akhir. “Justru dengan ini kita bersama-sama punya komitmen dalam implementasi kemitraan konservasi melalui pemulihan ekosistem” jelasnya. Kerjasama yang akan berlangsung selama 5 tahun ini melibatkan sebanyak 460 orang KK dengan luas areal kemitraan 860 hektar. Teknis kegiatan disusun dalam Rencana Pelaksanaan Program (RPP) dan Rencana Kerja Tahunan (RKT). Hal ini disambut baik oleh masyarakat KTHK dan semua pihak. Semoga pelibatan masyarakat dalam ruang lingkup kerjasama yang disepakati memberikan dampak positif bagi berbagai pihak dan kawasan TN Gunung Leuser. Sumber: Balai Besar TN Gunung Leuser

Menampilkan 6.817–6.832 dari 11.140 publikasi