Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Festival Land of Edelweis TN Bromo Tengger Semeru Didukung Bupati Pasuruan

Malang, 23 Oktober 2018. Bertempat di Ruang Kerja Kantor Bappeda Kab. Pasuruan, Kepala Balai Besar TN Bromo Tengger Semeru (TNBTS) Ir. John Kenedie didampingi Kabidwil I Pasuruan, Kepala Seksi I Cemoro Lawang, Kasie P3, serta Muspika Kecamatan Tosari (Camat Kecamatan Tosari, Koramil Tosari, Kepala Desa Wonokitri, Kepala Desa Podokoyo, dan Kepala Desa Sedaeng) diterima oleh H. Irsyad Yusuf selaku Bupati Pasuruan (22/10/2018). Kunjungan tersebut bertujuan untuk meningkatkan koordinasi dan sinergi antara Balai Besar TN Bromo Tengger Semeru, Muspika Kecamatan Tosari dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Pasuruan. Pada kesempatan itu Ir. John Kenedie MM menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang setingi-tingginya kepada Pemerintah Daerah Pasuruan dan Muspika Kecamatan Tosari yang telah mendukung program dan pengelolaan TN Bromo Tengger Semeru. Pertemuan tersebut dimanfaatkan John untuk menyampaikan beberapa program TNBTS diantaranya Launching Wisata Desa Edelweis yang rencananya akan di resmikan pada acara Festival Land of Edelweis di Desa Wonokitri Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan tanggal 10 November 2018 serta penataan kantong parkir di view Penanjakan TN Bromo Tengger Semeru untuk mendukung pemberdayaan masyarakat sekaligus peningkatan ekonomi masyarakat sekitar. Pada kesempatan tersebut Bupati Pasuruan mengapresiasi pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh TN Bromo Tengger Semeru melalui Ikon “Wisata Desa Edelweis” di Wonokitri. Bentuk apresiasi tersebut akan di implementasikan melalui Surat Keputusan Bupati mengenai Desa Wisata Edelweis yang rencana akan ditandatangani pada saat acara Festival Land Of Edelweis. Sebagai tindak lanjut dukungan tersebut Pemerintah Daerah akan ikut mempromosikan Desa Edelweis di Pameran Piatex (Pasuruan Industri Agro Tourisme Expo) di Jakarta 11 s.d 17 November, sekaligus memperkenalkan “Branding Wisata Desa edelweiss” sebagai wisata unggulan Kabupaten Pasuruan, selain dukungan pemasaran terhadap produk-produk unggulan Kabupaten Pasuruan diantaranya Kopi Kapiten, Mangga Alpukat yang merupakan produk desa-desa sekitar TN Bromo Tengger Semeru. Bupati Pasuruan juga bersedia hadir dan menjadi narasumber dalam talkshow di Festival Land Of Edelweis yg bertema " Desa Edelweis, Harmoni Konservasi dan Budaya Masyarakat Tengger di TNBTS”. Pada tataran teknis untuk menyukseskan pelaksanaan Festival Land Of Edelweis Bupati Pasuruan menginstruksikan Tim Teknis Pemda di Pendopo Kantor Bupati Pasuruan agar berkoordinasi dengan panitia TNBTS untuk suksesnya penyelenggaraan Festival Land Of Edelweis tersebut. Berkaitan dengan pelayanan pengunjung wisata di View Point Penanjakan Bupati juga mengapresiasi upaya yang telah dilakukan oleh TNBTS yaitu penataan parkir view poin dengan harapan penataan lokasi parkir tersebut akan memberikan kenyamanan dan ketertiban transportasi bagi wisatawan yang melakukan kunjungan ke lokasi tersebut. Dukungan Pemerintah Daerah Kabupaten Pasuruan terhadap pengembangan program dan pengelolaan TNBTS tersebut diharapkan mampu mendongkrak peningkatan ekonomi masyarakat Kecamatan Tosari sekaligus jadi pemicu dan pemacu Pemerintah Daerah lain sekitar TNBTS (Kabupaten Malang, Kabupate Lumajang, dan Kabupaten Probolinggo) untuk bersama-sama bersinergi dengan TNBTS untuk meningkatkan pengelolaan kawasan konservasi sekaligus mampu meningkatkan sosial ekonomi dan budaya masyarakat sekitar TN Bromo Tengger Semeru. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru
Baca Berita

Wisata Alam Terbatas Untuk Edukasi Konservasi di SM Kerumutan

Pekanbaru, 22 Oktober 2018. Sebanyak kurang lebih 40 anak SD dan SMP di Desa Kp. Pulau berkunjung ke Kawasan Suaka Margasatwa (SM) Kerumutan Selatan Sungai Mengkuang. Mereka datang dalam rangka wisata alam terbatas, sosialisasi sekaligus pengenalan kawasan konservasi alam. Hal ini dirasa sangat penting dilakukan untuk membina agar anak-anak sebagai generasi penerus bangsa berperan aktif dan peduli konservasi serta bersahabat dengan alam dan lingkungan. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Pelarangan Alat Bantu Tangkap Kompressor, Balai TN Taka Bonerate Dengar Aspirasi Masyarakat

Benteng - Kepulauan Selayar, 23 Oktober 2018. Rapat bersama Komisi II DPRD Kab. Kepulauan Selayar dihadiri Balai TN. Taka Bonerate, Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Kepulauan Selayar dan perwakilan masyarakat Desa Nyiur Indah Kayuadi dan Desa BT Jati Jampea terkait tindak lanjut aspirasi masyarakat tentang pelarangan alat bantu kompressor untuk menangkap ikan di Ruang Rapat Komisi II DPRD Kab. Kepulauan Selayar tanggal 22/10. Beberapa nelayan kedua desa ini terjaring oleh Patroli Gabungan yang terdiri dari unsur Balai TN.Taka Bonerate, Polres, Kodim 1415 Selayar dan TNI AL karena membawa/memiliki kompressor sebagai alat bantu penangkapan ikan dalam kawasan TN. Taka Bonerate beberapa minggu lalu. Sebagaimana dalam Undang Undang No. 45 Tahun 2009 tentang perubahan atas Undang Undang No. 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan, pada Pasal 9 yang berbunyi "Setiap orang dilarang memiliki, menguasai, membawa, dan/atau menggunakan alat penangkapan dan/atau alat bantu penangkapan ikan yang mengganggu dan merusak keberlanjutan sumber daya ikan di kapal penangkapan ikan di wilayah pengelolaan perikanan negara Republik Indonesia". Dalam rapat bersama ini, Kepala Balai TN Taka Bonerate Faat Rudhianto menjelaskan bahwa alat bantu penangkapan dengan kompressor ini melanggar undang-undang. Selain disebutkan dalam Undang Undang 45 Tahun 2009 tersebut bahwa, alat bantu ini dapat merusak keberlanjutan sumber daya ikan, alat bantu penangkapan ikan ini juga dapat merusak kesehatan nelayan itu sendiri yang berakibat kelumpuhan permanen dan kematian. Sudah banyak korban nelayan kita baik lumpuh seumur hidup (dekompresi) bahkan meninggal ditempat akibat menggunakan kompressor sebagai alat bantu tangkap ikan. Hasil dari rapat tersebut dicapai kesepakatan dan kesepahaman larangan penggunaan kompressor sebagai alat bantu tangkap. Selain itu anggota Komisi II DPRD Kab. Kepulauan Selayar akan mendorong adanya deklarasi bersama pelarangan kompressor sebagai alat bantu tangkap ikan di Kecamatan Taka Bonerate. Sumber : Asri - PEH Penyelia Balai TN. Taka Bonerate Foto : Yasri Tahir - POLHUT Pelaksana Lanjutan
Baca Berita

Sosialisasi Perundangan di Desa Teluk Singkama

Sangata, 23 Oktober 2018. Dalam rangka meningkatkan kualitas pengelolaan TN Kutai, Balai TN Kutai melaksanakan kegiatan rutin berupa sosialisasi ke desa-desa di sekitar kawasan TN Kutai. Kegiatan sosialisasi dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang keberadaan dan fungsi Taman Nasional Kutai bagi masyarakat sekitar dan dunia secara global. Tanggal 23 Oktober 2018, Balai TN Kutai melakukan sosialisasi peraturan perundangan dan pengelolaan kawasan Konservasi di Desa Teluk Singkama, Kecamatan Sangata Selatan, Kabupaten Kutai Timur. Kegiatan sosialisasi diikuti oleh lebih dari 30 orang yang terdiri dari warga dan tokoh masyarakat serta aparat desa. Materi yang disampaikan adalah peraturan terkait kawasan konservasi dan pertanahan, serta pengelolaan Taman Nasional Kutai. Secara khusus disampaikan pula tentang pengelolaan Taman Nasional Kutai, batas kawasan, dan sistem zonasi dalam pengelolaan kawasan. Hadir sebagai nara sumber Kepala Balai TN Kutai dan Staf serta tim dari Badan Pertanahan Kabupaten Kutai Timur. Sosilisasi peraturan perundangan diharapkan akan semakin meminimalkan kejadian tindak pidana kehutanan, sedangkan sosialisasi pengelolaan dan sistem zonasi Taman nasional Kutai diharapkan dapat lebih meningkatkan pemahaman dan peran serta masyarakat dalam upaya konservasi di Taman nasional Kutai. Beberapa peluang yag dapat dimanfaatkan oleh masyarakat antara lain pengelolaan wisata alam di zona pemanfaatan dan pemanfaatan hasil hutan non kayu. Dengan semakin meningkatnya pemahaman dan peran masyarakat dalam menjalankan fungsi dan peran TN Kutai diharapkan akan semakin memperkuat upaya konservasi karena sistem pengelolaan yang didukung oleh masyarakat. Sumber : Balai Taman Nasional Kutai
Baca Berita

Translokasi Bekantan ke Hutan Panjaratan

Banjarbaru, 19 Oktober 2018 − Warga Banua baru baru ini sempat dikejutkan oleh video tentang penangkapan seekor bekantan (Nasalis larvatus) di Desa Kurau, Kec. Bumi Makmur, Tanah Laut yang diunggah di dunia maya. Dalam unggahan tersebut nampak warga setempat sedang berusaha mengikat seekor bekantan, yang kebetulan berada di sekitar desa dan mencari makan. Setelah mendapatkan informasi tersebut melalui layanan Call Center, BKSDA Kalsel kemudian menugaskan Tim untuk turun melakukan tindakan penyelamatan. Setibanya dilokasi diketahui bahwa berita tentang penangkapan bekantan oleh warga tersebut memang benar adanya. Petugas kemudian melakukan wawancara dengan warga yang telah menangkap bekantan tersebut untuk mengatahui kronologi kejadian hingga bekantan akhirnya ditangkap. Berdasarkan informasi warga, diketahui bahwa bekantan yang saat itu sedang haus datang ke rumah salah satu warga untuk minum. Saat itu pula kemudian warga secara spontan menangkapnya. Petugas dalam kesempatan itu juga mengingatkan warga untuk tidak lagi menangkap bekantan yang melintas di desa. Karena bekantan merupakan satwa dilindungi undang-undang. Tindakan warga menangkap satwa dilindungi merupakan tindakan melanggar hukum dan dapat dikenai hukuman. Kepala BKSDA Kalsel, Dr. Mahrus Aryadi, M.Sc., mengingatkan agar warga membiarkan saja ketika ada satwa yang melintas. Namun jika aktivitasnya telah mengganggu warga, maka dapat dilaporkan kepada kami, imbuhnya. Oleh petugas BKSDA Kalsel, kemudian bekantan dicek kondisinya. Dari hasil pengecekan fisik diketahui bahwa ternyata bekantan liar berjenis kelamin jantan, dengan umur sekitar 7-8 tahun itu berada dalam kondisi sehat. Berdasarkan pertimbangan kondisi kesehatan, keamanan dan kondisi habitat yang tidak mendukung, serta koordinasi dengan Kepala SKW 1, Tim akhirnya memutuskan untuk mentranslokasi bekantan tersebut ke hutan di Desa Panjaratan, Kec. Takisung. Kondisi hutan di wilayah Panjaratan tersebut masih bagus dan aman bagi bekantan. Setelah menempuh perjalanan darat selama 1 jam dan dilanjutkan perjalanan melalui sungai selama 30 menit, tepat pada jam 17.00 WITA akhirnya bekantan jantan yang diberi nama “Hendra” tersebut ditranslokasi ke hutan Desa Panjaratan, Kec. Takisung, Tanah Laut. (jrz) Sumber : Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Tingkatkan Layanan Pengunjung, Kelompok Ekowisata Jene Tinaro Terima Paket Alat Panjat

Bantimurung, 22 Oktober 2018. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung menyerahkan sejumlah bantuan kepada Kelompok Ekowisata (KPE) Jene Tinaro. Melalui Kepala SPTN Wilayah I Balocci memberikan bantuan berupa paket alat panjat single rope technique (SRT) kepada KPE Jene Tinaro. Ketua KPE Jene Tinaro didampingi beberapa anggotanya menerima secara langsung bantuan tersebut pada Jumat (19/10/2018). KPE Jene Tinaro merupakan kelompok pengelola wisata Gua Kalibbong Aloa. Kelompok ini terbentuk pada bulan November 2017 lalu. Terbentuknya pengelola wisata Gua Kalibbong Aloa ini sebagai wujud pelibatan masyarakat dalam tata kelola wisata minat khusus di Taman Nasional Bantimrung Bulusaraung. “Kami sampaikan terima kasih kepada Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung atas bantuan yang diberikan kepada kami. Ini adalah amanat untuk kami laksanakan,” ujar Maudu, Ketua KPE Jene Tinaro. Gua Kalibbong Aloa terletak di Dusun Belae, Kelurahan Biraeng, Kabupaten Pangkep. Site wisata yang menawarkan selusur gua ini dapat ditempuh dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin sekitar 60 menit. Kalibbong Aloa sedikit berbeda dengan gua pada umumnya. Letak mulut gua berada pada ketinggian sekitar seratus meter. Karenanya butuh perjuangan menuju pintu masuk gua. Hal ini tak menjadi halangan bagi petualang untuk mendakinya, justru menjadi tantangan untuk ditaklukkan. Karenanya pendampingan sangat dibutuhkan selama menjelajah di gua yang berada di dinding gugusan batu karst ini. Ornamen gua alam ini tak diragukan lagi. Berbagai bentukan alam begitu memesona saat berada di dalam gua. stalaktit, satalakmit, godam hingga pilar yang memancarkan kilauan kristal saat terkena alat penerang. Kelompok ekowisata ini telah terlatih. Sebanyak 14 orang anggota kelompok ini berasal dari pemuda Kelurahan Biraeng, salah satu desa penyangga taman nasional. “Kami telah melatih kelompok ini mulai dari teknik SRT, interpretasi wisatawan, hingga dasar-dasar selusur gua. Karenanya wisatawan tak perlu khawatir saat berkunjung,” pungkas Chaeril, Kepala Resor Minasa Tene. Selama ini KPE ini hanya meminjam alat milik taman nasional saat kedatangan wisatawan. Bantuan berupa peralatan alat panjat ini menjadi berkah bagi kelompok. Seat harnes, helm, jumar, autostop, webbing hingga carabiner snap adalah beberapa paket bantuan yang diterima kelompok ekowisata ini. “Kami berharap dengan bantuan peralatan panjat dan selusur gua ini akan membantu kelompok untuk memandu wisatawan. Dengan begitu kami berharap kelompok ini bisa mandiri dan pendapatan mereka bisa meningkat,” terang Iqbal Abadi Rasjid, Kepala SPTN Wilayah I Balocci saat serah terima. Saatnya masyarakat menjadi subjek pengelola. Hutan lestari masyarakat sejahtera. Sumber : Taufiq Ismail – PEH Balai TN Bantimrung Bulusaraung
Baca Berita

Jangan Remehkan Palem!

Kuningan, 22 Oktober 2018. Palem termasuk dalam famili pinang-pinangan atau "Arecaceae". Tumbuhan ini salah satu kelompok tumbuhan yang termasuk tumbuhan dengan biji berkeping satu atau monokotil. Palem sangat mudah dikenali karena memiliki ciri khas dan banyak digunakan sebagai tanaman hias. Tanaman ini memiliki batang yang jarang bercabang dan tumbuh tegak ke atas. Akarnya tumbuh dari pangkal batangnya dan biasanya menghujam ke dalam tanah sehingga dapat menopang batangnya yang tumbuh menjulang tinggi. Buahnya biasa memiliki kulit luar yang relatif tebal yang menutupi bagian dalam (mesokarpim) yang berair atau berserat. Palem merupakan salah satu komponen penyusun vegetasi hutan. Tumbuhan ini merupakan jenis tumbuhan yang sangat menarik baik dari segi bentuk, keragaman jenis serta manfaatnya. Palem Hutan atau Bingbin (Pinanga coronata) merupakan salah satu jenis pohon Palem yang banyak dijumpai di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) yang tersebar baik pada daerah dataran rendah sampai dataran tinggi. Di alam, Palem memiliki peran yang sangat penting. Tumbuhan ini mampu menyerap polusi sehingga dapat meningkatkan kualitas udara di sekitarnya. Selain itu dapat menyerap air 10 persen lebih banyak dibandingkan dengan tumbuhan lain. Flora ini memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan sangat baik di tiap lingkungannya karena tahan terhadap cuaca panas. Buah Palem dapat diolah sebagai bahan obat untuk meningkatkan vitalitas tubuh manusia. Ekstrak buah ini sudah banyak beredar di pasaran. Dalam kehidupan ini banyak hal yang bisa kita petik dari Palem. Satu diantaranya, untuk menjadi tinggi kita memerlukan akar yang kuat serta kemampuan adaptasi yang baik. Akar bisa dimaknai sebagai kerja keras, keimanan serta dukungan semua pihak. Walaupun akar yang berada di dalam tanah tidak pernah terlihat tetapi perannya dalam kehidupan sangatlah penting. So, tetap cintai alam dengan cara baik dan benar [Teks & foto © Taufikurohman - BTNGC | 102018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

BBKSDA Jatim Terima Satwa Liar Hasil dari Polres Lamongan

Lamongan, 22 Oktober 2018. Satreskrim Polres Lamongan pada tanggal 22 Oktober 2018 menangkap pedagang satwa liar dilindungi undang-undang jenis kasturi kepala hitam (Lorius lory) sebanyak 3 ekor dan perkici pelangi (Trichoglossus haematodus) sebanyak 3 ekor. Satwa -satwa tersebut masuk dalam satwa dilindungi sesuai lampiran peraturan Menteri LHK nomor: P.92/MenLHK/Setjen/kum.1/8/2018 tentang perubahan peraturan menteri LHK nomor:p.20/MenLHK/Setjen/kum.1/6/2018 tentang jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi. Satwa kemudian diserahkan kepada Balai Besar KSDA Jawa Timur melalui Bidang KSDA Wilayah II. Menurut keterangan tersangka, satwa kasturi kepala hitam dijual dengan harga 2 jutaan sedangkan perkici pelangi dengan harga kisaran 300 rb-an. Selanjutnya satwa - satwa tersebut akan di bawa ke kandang transit Balai Besar KSDA Jawa Timur untuk dilakukan observasi. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Pasca Gempa Lombok, Begini Jalur Pendakian & Sarpras TN Gunung Rinjani

Mataram, 22 Oktober 2018. Pada tanggal 3 s.d 5 Oktober 2018 telah dilaksanakan kegiatan survey jalur pendakian Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) pasca gempa di jalur pendakian sembalun, senaru dan jalur budaya torean. Kegiatan survey melibatkan beberapa pihak antara lain TNGR, TNI, POLRI, BASARNAS, Dinas Pariwisata Provinsi NTB, Dinas Pariwisata Kab. Lombok Utara dan Lombok Timur, BPBD Kabupaten Lombok Utara dan Lombok Timur, Perwakilan Trek Organizer Senaru dan Sembalun, Perwakilan Guide dan Porter serta EMHC (Edelweis Medical Help Center). Survey ini untuk mengetahui kondisi jalur pendakian dan sarana prasarana pasca gempa Lombok. Pembahasan hasil kegiatan survey pendakian TNGR telah dilaksanakan pada tanggal 08 Oktober 2018 dengan melibatkan BASARNAS, Balai Wilayah Sungai dan Ahli Geologi dari Dinas ESDM Provinsi NTB. Dilaporkan bahwa kondisi sarana prasarana dan jalur pendakian Sembalun meliputi Kantor TNGR Resort Sembalun dalam kondisi rusak sedang sampai berat. Sepanjang jalur pendakian Sembalun terdapat 14 titik dalam kondisi longsor dan 11 titik tanah retak. Shelter di jalur pendakian Sembalun dalam kondisi baik 12 unit, 1 unit rusak ringan, 1 unit rusak sedang, 1 unit rusak berat. Mata air di Pos II Sembalun dalam kondisi baik, satu unit Pos Jaga di Pos II Sembalun dalam kondisi rusak ringan dan sebuah jembatan beton dengan rantai besi dalam kondisi rusak berat namun masih dapat dilewati. Tim mampu melaksanakan survey sampai dengan km 7.8. Jalur pendakian Sembalun terputus akibat longsor di Bukit Penyesalan (sekitar 120 m sebelum Pelawangan Sembalun). Menurut pantauan di lapangan, kondisi sarana prasana dan jalur pendakian Senaru bahwa Kantor TNGR Resort Senaru dalam kondisi rusak berat. Gapura pendakian di Jebag Gawah Senaru dalam kondisi rusak ringan, pos Jaga dan toilet di Jebag Gawah Senaru dalam kondisi rusak berat serta sepanjang jalur pendakian Senaru terdapat 14 titik longsor & retakan. Beberapa shelter di jalur pendakian Senaru dalam kondisi rusak ringan hingga berat, tersedia mata air di Pos II namun di Pos III dan Cemara Lima tidak tersedia air serta jalur pendakian Senaru terputus akibat longsor di bawah Pelawangan Senaru. Tim juga melaporkan kondisi Jalur Budaya Torean yang sepanjang jalur budaya Torean terdapat 12 titik longsor dan retakan tanah. Jalur pendakian terputus di jalur sebelum Air Terjun Penimbungan akibat longsor Berdasarkan hasil survey dan pembahasan maka dapat disimpulkan Jalur pendakian Sembalun, Senaru, dan Torean belum dapat dibuka untuk pendakian dikarenakan kondisi jalur pendakian yang belum aman. Longsoran di Gunung Rinjani tersebut patut dijadikan bahan pertimbangan bagi pihak terkait dalam rangka antisipasi bencana bagi masyarakat di sekitar daerah aliran sungai yang berhulu di Gunung Rinjani ketika musim hujan yang akan datang. Survey rencana rehabilitasi jalur pendakian dan fasilitas pendukung dimungkinkan dapat dilakukan setelah musim hujan selesai (diperkirakan sekitar bulan Mei 2019). Dalam kondisi normal pembukaan jalur pendakian Gunung Rinjani menuju Danau Segara Anak diperkirakan dapat dilakukan pada tahun 2020. Dalam rangka memberikan alternatif wisata bagi para pelaku wisata Rinjani yang menggantungkan mata pencahariannya dari wisata pendakian Rinjani, Balai TN Gunung Rinjani berencana untuk melakukan survey jalur wisata alternative dengan melibatkan pihak terkait. Survey jalur wisata alternatif tersebut rencana akan dilaksanakan mulai tanggal 15 Oktober 2018. Apabila membutuhkan informasi dan data kondisi jalur pendakian serta sarana prasarana di kawasan TNGR pasca Gempa Lombok dapat menghubungi kami melalui Call Centre Balai Taman Nasional Gunung Rinjani dengan nomor 0811283939 atau media sosial di twitter:@tnrinjani, instagram: gunungrinjani_nationalpark, Facebook: Taman Nasional Gunung Rinjani, dan website: tngr.menlhk.go.id. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Rinjani
Baca Berita

Mengenalkan Fungsi Taman Nasional Matalawa Melalui Sosialisasi ke Desa

Waingapu, 20 Oktober 2018. Kegiatan pengenalan Taman Nasional kepada masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satu diantaranya adalah sosialisasi ke masyarakat desa. Desa Malinjak sebagai salah satu desa yang berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) berkesempatan mendapat kunjungan sosialisasi dari tim Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Waibakul. Sosialisasi yang bermaterikan pengenalan 3 pilar Taman Nasional yaitu Perlindungan, Pengawetan, dan Pemanfaatan, langsung dipimpin oleh Kepala SPTN I, Abdul Basit Nasriyanto, S.Hut, M.Sc, serta turut didampingi pejabat fungsional Penyuluh Kehutanan dan Pengendali Ekosistem Hutan. Selain materi 3 P tersebut, Abdul Basit juga menyampaikan bahwa kawasan hutan di Taman Nasional merupakan warisan yang akan diberikan kepada anak dan cucu kita. Sudah selayaknya kita bersama-sama jaga kelestarian hutan sehingga manfaat hutan seperti keersediaan air yang cukup, juga akan dirasakan anak dan cucu kita. Tak lupa disampaikan kepada masyarakat agar tidak membakar padang rumput karena dikhawatirkan apinya akan merambat ke dalam kawasan taman nasional, terlebih lagi bahwa bulan ini merupakan puncak musim kemarau di daerah Nusa Tenggara Timur. Untuk menghindari rasa bosan para peserta sosialisasi, tim juga menyajikan film dokumenter bertema konservasi sehingga bahasa-bahasa dalam materi yang telah disampaikan lebih mudah dicerna dengan melihat film tersebut. (abn/mtlw) Sumber : Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti
Baca Berita

Perhutanan Sosial Kemitraan Konservasi Desa Cibuntu Penyangga TN Gunung Ciremai

Cibuntu, 20 Oktober 2018. Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) pada Sabtu (20/10) bertempat di daerah penyangga desa wisata Cibuntu didaulat sebagai tuan rumah pada acara “Gerakan Aksi Mitra Lingkungan untuk Perhutanan Sosial” yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (PSKL). Dalam kegiatan tersebut hadir Direktur Jenderal PSKL, Dr. Bambang Supriyanto, Direktur Kemitraan Lingkungan Jo Komaladewi, Kepala Balai TNGC Kuswandono, unsur Pemerintah Daerah, Perhutani, para penggiat lingkungan sewilayah tiga Cirebon, LSM dan Mitra Pengelola Gunung Ciremai serta tuan rumah, Kepala Desa Cibuntu. Dalam kesempatan pertama Kepala Balai TNGC menyampaikan di kawasan TNGC bentuk kolaborasi pengelolaan dengan masyarakat telah terjalin dengan baik. Salah satu bentuk perhutanan sosial adalah dengan memberikan ijin jasa kepada 64 pengelola wisata di sekitar desa penyangga. Diharapkan pola kemitraan pemberian ijin jasa ini memperoleh pengakuan perlindungan kemitraan konservasi (KULIN KK) di kawasan konservasi karena dalam pengelolaan aspek ekologis, sosial budaya dan ekonomi telah berjalan. Direktur Jenderal PSKL, Dr. Bambang Supriyanto dalam sambutan dan arahannya, merasa sangat gembira karena aplikasi perhutanan sosial di desa Cibuntu telah berjalan dengan baik dan patut dicontoh bagi wilayah lain. Aspek konservasi merupakan bagian dari pengelolaan perhutanan sosial dan telah memberi manfaat bagi masyarakat. Selain itu disampaikan juga isu lingkungan yang harus kita perhatikan yaitu “Green dan Brown”. "Green" merupakan bagian hulu, yaitu kawasan hutan yang harus tetap terjaga kelestarianya baik sebagai fungsi perlindungan, pengawetan "flasma nutfah" agar memberi manfaat bagi daerah sekitarnya. "Brown" merupakan bagian hilir atau daerah penyangga di luar kawasan hutan. Hal ini terkait dengan prilaku masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan. Sebagai contoh, pengelolaan sampah harus lebih bijak dan lebih efektif. Ada tiga kiat bagi masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang lebih ramah yaitu "reduce". Meminimalkan atau mengurangi penggunaan bahan yang berpotensi menimbulkan sampah terutama plastik. "Reuse" atau menggunakan kembali bahan bahan yang telah ada dan "Recycle" penggunaan bahan bahan yang mudah di daur ulang. Semoga dengan kegiatan ini kesadaran masyarakat akan lingkungan lebih meningkat, mulai dari diri sendiri. Dari hari ini dan dari yang hal kecil. "Head, heart, and hand". Ayo kita jaga kelestarian alam dengan melakukan hal yang baik dan benar. Salam lestari [teks © Agus Yuda, foto © koesky - BTNGC, video © Ditjen PSKL | 102018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

PT. PLN Serahkan Si Malumalu Hasil Evakuasi Dari Jalur Listrik

Bengkulu, 22 Oktober 2018. Beberapa waktu yang lalu BKSDA Bengkulu (Seksi Konservasi Wilayah III Lampung) menerima penyerahan 5 ekor Kukang sumatera (Nycticebus coucang). Satwa dilindungi yang disebut juga si malumalu ini diperoleh dari hasil patroli petugas Unit Layanan Pelanggan (ULP) PT. PLN Pringsewu bersama mitra PLN PT. Sarwa Karya Wiguna di Kabupaten Pringsewu dan Pesawaran, Provinsi Lampung. “Menurut penuturan tim patroli PLN, kukang-kukang tersebut dievakuasi dari jalur/kabel listrik karena berpotensi menimbulkan kerusakan yang dapat berujung pada pemadaman di sejumlah wilayah,” kata Teguh Ismail (Kepala SKW III). Kejadian kukang tersengat listrik sering terjadi di sejumlah lokasi pada beberapa kabupaten di Provinsi Lampung. Berkenaan hal tersebut koordinasi dilakukan dengan pihak PT. PLN dan Yayasan IAR Indonesia sebagai NGO yang peduli pada konservasi satli kukang, guna mendapatkan solusi terbaik bagi satwa liar itu sendiri serta pelayanan kelistrikan kepada masyarakat tetap terpenuhi. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal setelah diserahterimakan kukang dalam kondisi sehat, baik secara fisik maupun perilaku dan untuk selanjutnya akan direhabilitasi sebelum dilepasliarkan ke lokasi habitat yang lebih aman. Sumber : Balai KSDA Bengkulu-Lampung
Baca Berita

Ijen Harus Bebas Sampah

Sidoarjo, 22 Oktober 2018. Balai Besar KSDA Jawa Timur menyelenggarakan Deklarasi “Ijen Rijik” di Paltuding pada 21 Oktober 2018 yang lalu. Tujuannya untuk mengajak semua pemangku kepentingan untuk ikut berkomitmen dalam menjaga kebersihan Tawan Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen Zero waste serta menerapkan hidup sehat. Sebagai salah satu kawasan wisata bertaraf internasional, TWA Kawah Ijen dituntut untuk memiliki pengelolaan kawasan wisata yang lebih baik, terutama dalam kebersihan. Maka, Balai Besar KSDA Jawa Timur sebagai pengelola kawasan terus berkomitmen meningkatkan kualitas pengelolaan kebersihan terutama dalam penanganan sampah. Acara ini melibatkan Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) dari Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso, Mitra Kerja Mitratel, Muspika setempat, serta seluruh penyedia jasa di Kawah Ijen. Dr. Nandang Prihadi, S.Hut, M.Sc, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, dalam arahannya meminta seluruh pengelola dan pengunjung untuk membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat selama berkunjung di Kawah Ijen. “Ijen harus bebas sampah” tegas Nandang. Hal tersebut guna mewujudkan kawasan Taman Wisata Alam Kawah Ijen sebagai kawasan ekowisata yang bersih dari sampah. “Sebagai manifestasi dari Gerakan Ijen Rijik, akan dilakukan pembersihan sampah setiap minggu III bulan berjalan”, ujar Nandang. Untuk itu dukungan, keterlibatan, dan keikutsertaan seluruh pihak sangat diperlukan dalam mewujudkan TWA Kawah Ijen yang bebas dari sampah. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Camp Fire Care Bukit Batu Semar, Gunung Ciremai

Kuningan, 22 Oktober 2018. Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) merupakan permasalahan yang kerap terjadi pada setiap musim kemarau. Karhutla yang terjadi pada beberapa hari lalu sangat berdampak buruk pada ekologi lingkungan seperti rusaknya ekosistem hutan. Melihat kerugian yang sangat besar tersebut, perlu adanya upaya yang serius dalam pengendalian Karhutla di gunung Ciremai. #sobatCiremai, kegiatan tersebut di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) diarahkan untuk melakukan tindakan pencegahan, pemadaman serta penanganan pasca kejadian. Kegiatan pencegahan dini Karhutla lebih diutamakan melalui sosialisasi, kampanye dan diskusi bersama masyarakat untuk memperoleh upaya pengendalian yang paling efektif yakni bagaimana caranya suatu kawasan hutan tidak terbakar. Berdasarkan informasi dan pencermatan, penyebab kebakaran hutan di gunung Ciremai hampir semuanya disebabkan oleh manusia. Kecil sekali kemungkinannya oleh faktor alam seperti halilintar, gunung api, batu bara. #sobatCiremai, bila memperhatikan faktor penyebab Karhutla tadi, maka sebenarnya gunung Ciremai tidak perlu terbakar bila kita bisa mengendalikan prilaku menyimpang terhadap lingkungan. Salah satu upaya yang dilakukan untuk menyalurkan aktifitas positif masyarakat yakni dengan "Camp Fire Care". "Camp Fire Care" ialah satu dari dua Role Model dalam pengelolaan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) Tahun 2018. #sobatCiremai, program ini dilaksanakan dalam upaya pencegahan, "ground check" dan "mop up" Karhutla. "Camp Fire Care" Bukit Batu Semar (BBS), desa Bantaragung, Sindangwangi, Majalengka, Jawa Barat yang dikelola kelompok Lingga Buana bertujuan untuk pelestarian hutan yang diutamakan pada upaya pencegahan kebakaran hutan dan pemulihan ekosistem. Wujud dari kegiatan ini yakni perkemahan yang memiliki atraksi kegiatan pencegahan kebakaran hutan, ekowisata, pendidikan lingkungan dan restorasi kawasan dengan melibatkan peran aktif masyarakat luas. Melindungi kawasan hutan dari bahaya Karhutla yang bisa mengakibatkan kerugian baik secara ekologi maupun ekonomi merupakan tujuan dari program ini. #sobatCiremai, sebenarnya kelompok masyarakat ini telah eksis dalam upaya pengendalian Karhutla dari dulu hingga kini. Namun baru pada tahun inilah mereka mendapatkan "packing" aktifitasnya. Lingga Buana yang memiliki julukan "Tim Bagong" berkomitmen sigap mematikan api dengan reaksi cepat dan tidak mengenal medan yang terjal dan pantang mundur sebelum api padam. Komitmen tadi bukan isapan jempol semata. Mereka telah membuktikannya pada saat kejadian Karhutla yang melanda lereng utara gunung Ciremai beberapa waktu lalu. BBS sebagai lokasi pemantauan titik api berada pada ketinggian 1.800 meter diatas permukaan air laut merupakan "markas" dari Tim Bagong. Untuk mendukung kegiatan ini, terdapat sarana berupa Menara Pemantau, Embung Air, Pos Jaga dan Toilet. Di musim hujan, dimana potensi Karhutla pada titik terendah, BBS dapat menjadi destinasi wisata alam yang menawarkan panorama indah. Kebetulan lokasi BBS tak jauh dari Bumi Perkemahan Awi Lega. Perlu sobat ketahui, toponimi BBS terkait dengan penemuan Arca Batu Semar oleh komunitas sejarawan yang bergabung dalam Grup Majalengka Baheula (Grumala) pada Januari lalu. Arca tersebut kini disimpan di Museum Talaga Manggung, Majalengka. #sobatCiremai, kita mesti terus mengupayakan pencegahan Karhutla untuk membuka jalan menuju "leuweung hejo, rahayat ngejo" (hutan lestari, masyarakat sejahtera, red). So, tetap cintai alam dengan cara baik dan benar. [teks © Gandi, foto © SPTN II Wilayah Majalengka-BTNGC | 102018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Behind The Scenes of Internal Management Success

Kuningan, 22 Oktober 2018. Sebagaimana kendaraan, organisasi internal Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) juga merupakan sebuah sistem yang terdiri dari sub sistem yang saling terkait dan saling menguatkan. Kalau salah satu sub sistem mengalami kerusakan maka akan menimbulkan pengaruh terhadap jalannya organisasi, baik mengganggu atau bahkan akan mengakibatkan organisasi terhenti dalam melayani masyarakat. Di balik kesuksesan tugas teman-teman Polisi Kehutanan (Polhut), Pengendali Ekosistem (PEH), maupun Penyuluh Kehutanan terdapat sub sistem lain yang sangat mensuport kelancaran dalam menjalankan tugas dan fungsi organisasi. "Who are they?" Mereka adalah tenaga pelaksana atau disebut juga staff. Kadang ada yang menyebut fungsional umum atau non struktural. Namun bukan berarti di luar struktur, sobat. Mereka merupakan para pelaksana di Bagian Perencanaan, Keuangan, Perlengkapan, Kepegawaian, Evaluasi dan Pelaporan, bagian Umum, Pelayanan Perizinan serta bagian Hubungan Kemasyarakatan (Humas). #sobatCiremai, pada momen hari jadi TNGC ke-14 ini, kami akan membuka rahasia peran mereka yang kasat mata dalam mensuport kegiatan di lapangan. "Check it out, guys!" Bagian yang paling utama dari semua sub sistem non struktural adalah bagian Perencanaan Program dan Anggaran. Perencanaan, secara teknis diusulkan atas dasar Rencana Pengelolaan Jangka Panjang (RPJP) dan Rencana Strategis (Renstra) yang disusun berdasarkan usulan Tim Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN). Sedangkan secara program dan penganggaran, perencanaan disusun oleh Tim Sub Bagian Tata Usaha (SBTU). Kedua hal tadi merupakan langkah awal suatu kegiatan dapat dilaksanakan. Tentu keberhasilan kegiatan menelurkan "output" yang menjawab tujuan tergantung kegiatan apa yang direncanakan dan dilaksanakan. Next, #sobatCiremai. Bagian Keuangan merupakan jantungnya organisasi. Karena jika bagian ini macet, walaupun anggaran sudah di rencanakan dan tersedia maka kegiatan tidak akan mulus berjalan sesuai rencana apabila bagian ini mengalami kendala. Di samping itu bagaimana bagian keuangan selalu menjamin "revolping" anggaran persediaan selalu tepat waktu. Walaupun kadang harus menunggu kelengkapan administrasi dari para pelaksana kegiatan lapangan. So, teman-teman pelaksana kegiatan jangan lama-lama mengajukan tagihan karena "revolping" anggaran dibutuhkan untuk kegiatan lain. Bila rencana pelaksanaan kegiatan telah di setujui dan keuangan sudah siap, namun perlengkapan barang untuk kerja tidak ada, maka kegiatan akan mandek juga. Nah, disini peran Bagian Perlengkapan yang mensuport tim dalam ketersediaan alat, kondisi alat dan penatausahaan alat selalu dalam keadaan siap pakai. Kepegawaian Balai TNGC mempunyai peran yang vital juga, khususnya dalam membantu tenaga fungsional dan pegawai lainnya dalam kenaikan pangkat, jabatan, simpeg, kehadiran dan kesejahteraan pegawai melalui proses pengajuan gaji, uang makan dan tunjangan kinerja yang setiap bulan dinantikan keluarga para pegawai. Sub sistem lain yang tidak kalah penting antara lain Bagian Umum, Sekretaris, Arsiparis, Pustakawan, Perizinan, Kerjasama, dan yang terakhir adalah Bagian Evaluasi dan Pelaporan (Evlap). Bagian Evlap merupakan bagian yang bertugas menghimpun hasil kegiatan dan mengolahnya menjadi sebuah informasi yang akan menjadi bahan laporan organisasi. Ditambah dengan menganalisa hasil semua kegiatan dan memberikan umpan balik terhadap perencanaan apakah hasil kegiatan telah menjawab tujuan atau belum. #sobatCiremai, terakhir bagaimana peran Humas atau Tim Media Sosial (Medsos) yang begitu "on time" dan selalu dikejar "deadline" dalam menerima, menyusun, mengoreksi dan mengedit berita. Bahkan menyusun sendiri berita yang akan "publish" di Medsos Balai TNGC. Intinya, para "Abdi Dalem" senantiasa terus berinovasi dalam mendukung organisasi dengan meningkatkan kompetensi dan keterampilan sesuai bidangnya dengan harapan kendaraan tidak mogok di tengah jalan hanya karena salah satu sub sistem mengalami kerusakan. Semua yang dikerjakan yakni dalam rangka menjalankan tugas pelayanan mengelola aset publik berupa kawasan konservasi taman nasional. Kami berharap dan senantiasa berdoa, apa yang dilakukan akan memberi manfaat dan berkah bagi masyarakat setempat pada khususnya dan masyarakat luas pada umumnya. Berkah untuk generasi saat ini dan generasi berikutnya. #sobatCiremai, kami berharap apa yang dikerjakan jadi ladang ibadah dan tercatat sebagai amal shalih. So, ayo dukung terus pengelolaan gunung Ciremai ke arah yang lebih baik. Kerja kita prestasi bangsa! [teks © ISO, foto © BTNGC | 102018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Yuk Lihat Terobosan Tata Kelola Ekowisata TWA Kawah Ijen

Jakarta, 20 Oktober 2018. Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) Nandang Prihadi memaparkan terobosan dalam pengelolaan ekowisata Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen yaitu dengan berbasis masyarakat pada Rapat Kordinasi Teknis (Rakornis) Bidang KSDAE Tahun 2018 di Crowne Hotel Kamis silam (18/10/18). Nandang menggabungkan berbagai faktor dan unsur kebaruan (Role Model) guna terwujudnya ekowisata TWA Kawah Ijen yang dapat memberikan manfaat signifikan dari segi finansial untuk masyarakat di sekitar sekaligus terjaganya kelestarian dan ekosistem di TWA Kawah Ijen. BBKSDA Jatim berkomitmen bersama masyarakat dan mitra/stakeholder bahwa dibutuhkan pemenuhan sarpras, peningkatan kompetensi petugas disetiap sektor (pemandu & penyedia jasa lainnya), adanya manajemen pengunjung (online ticket, SOP pendakian, Ijen Rijik, promosi yang optimal di medsos) serta usulan perubahan peraturan/kebijakan. Itulah strategi pengelolaan ekowisata TWA Kawah Ijen berbasis masyarakat yang juga diapreasi dan didukung peserta Rakornis Bidang KSDAE Tahun 2018. Hal ini juga terlihat bahwa beberapa perubahan pengelolaan di TWA Kawah Ijen bahkan menjadi rumusan dan rekomendasi Rakornis Bidang KSDAE Tahun 2018. Bekerja tanpa diawasi, Disiplin tanpa diperintah menjadi motto BBKSDA Jatim yang selalu menjadi penyemangat bahwa TWA Kawah Ijen akan memberikan manfaat jika terjaga kelestariannya. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 6.785–6.800 dari 11.140 publikasi