Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Apuy, Siap Tingkatkan Layanan Pendakian Gunung Ciremai

Kuningan, 29 Oktober 2018. Gunung Ciremai, atap Jawa Barat. Gunung setinggi 3.078 meter di atas permukaan laut ini primadona para penakluk puncak gunung di tingkat nasional. Gunung Ciremai memiliki empat jalur pendakian yakni Apuy di Kab Majalengka. Sedangkan Linggasana, Palutungan, dan Linggajati ada di Kuningan. Apuy, jalur pendakian yang populer dan menjadi salah satu favorit bagi para pendaki. Selain jalur yang tidak terlalu panjang dan trek yang tidak terlalu ekstrim, panorama yang tersaji sepanjang trek juga sangat memanjakan mata. Akses menuju jalur pendakian Apuy tidaklah sulit. Biasanya tempat yang pertama dituju yakni perempatan Kadipaten atau terminal Majalengka. Transportasi selanjutnya bisa naik Angkot, Minibus Elf atau angkutan lain menuju Pasar Maja. Dari situ dilanjutkan dengan kendaraan carteran yang tersedia. Mitra Pendakian Gunung Ciremai (MPGC) Apuy mulai merintis dan membenahi serta mensosialisasikan peningkatan layanan pendakian sejak awal Oktober ini. Pos V atau biasa disebut Sanghyang Rangkah disediakan sebagai lokasi "Rest Area" bagi pendaki Apuy sebelum menggapai puncak. MPGC Apuy telah menata pos ini dengan menyiapkan 74 plot tenda kapasitas empat orang. Disini tersedia sarana penunjang seperti Mushola dan Toilet. Personil MPGC pun "standby" 24 jam di Sanghyang Rangkah ini. Penataan Pos V merupakan bagian dari sistem "booking online" pendakian gunung Ciremai yang saat ini sedang di godok Balai Taman Nasional Gunung Ciremai. Nantinya, calon pendaki mesti daftar melalui aplikasi online yang bisa di akses lewat "smartphone". Caranya amat mudah. Calon pendaki harus mengisi formulir online tersebut dan mengunggah foto dokumen persyaratan yang diminta seperti kartu identitas dan keterangan kesehatan dari dokter. Jangan lupa memilih plot lokasi untuk kemping. Lalu bayarlah tarif pendakian dengan transfer bank atau pada konter "minimarket". Saat di pos tiket, sobat hanya tinggal menunjukan "booking code" atau "barcode" kepada petugas. #sobatCiremai ingin mendaki tanpa beban di punggung? Ya, sistem "booking online" tadi juga menyediakan opsi paket pendakian yang disesuaikan dengan kantong pendaki. Gambaran mudah sistem tadi persis seperti kita mau memesan tiket Kereta Api, Pesawat dan Hotel pada aplikasi online yang kini banyak tersedia. Melalui aplikasi ini, monitoring aktifitas wisata pendakian akan lebih mudah dilakukan. Petugas dapat memastikan data pendakian yang "on time every time". Rencana besar tadi akan di uji coba pada akhir tahun ini dan berlaku efektif pada tahun depan. Selain aplikasi online, sumber daya manusia pengelola pendakian pun telah ditingkatkan. Porter dan Guide MPGC Apuy yang telah bersertifikat siap melayani pendakian sesuai standar yang telah ditetapkan. Tentu hal ini juga berlaku pada tiga jalur pendakian lain di gunung Ciremai. #sobatCiremai, semua itu dilakukan demi terciptanya keamanan, kenyamanan dan kepuasan para penakluk gunung dan alam itu sendiri. So, ayo mendaki dengan mematuhi ketentuan yang ditetapkan. [teks & foto © Gandi - BTNGC | 102018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Role Model : Peningkatan Kapasitas Kelompok Melalui Pembuatan Garam Dalam Upaya Mewujudkan Ketahanan Pangan Lokal Di Kawasan TN Taka Bonerate

Latondu, 28 Oktober 2018. Kawasan TN Taka Bonerate merupakan kawasan pelestarian alam dengan karakteristik pulau-pulau kecil yang dikelilingi oleh perairan. Status sebagai kawasan dengan karang atoll terbesar ketiga di dunia, menjadikan TN Taka Bonerate memiliki potensi sumberdaya perikanan yang tinggi. Kondisi ini menjadikan masyarakat dalam kawasan yang lebih dari 90% penduduknya adalah nelayan kecil, sangat bergantung kepada laut. Namun letak kawasan TNTBR yang terpencil menjadikan nelayan-nelayan lokal tidak memiliki akses terhadap teknologi penangkapan dan pengolahan hasil tangkapan yang memadai. Fasiitas/infrastruktur yang mendukung dalam hal pengawetan dan pengolahan ikan masih sangat minim. Ketiadaan pabrik es menjadikan nelayan lokal langsung menjual hasil tangkapannya sepulang dari melaut kepada kapal-kapal pang es dari luar Kabupaten Selayar yang membawa dan memiliki es sebagai pengawet ikan hasil tangkapan. Jikapun harus membeli es, nelayan lokal dalam kawasan harus mengambil es di Ibukota Kabupaten Selayar yang berjarak 5-6 jam perjalanan laut, dan itu tentu saja akan menambah biaya operasional mereka. Selama ini, salah satu aktivitas pengawetan dan pengolahan ikan yang banyak dilakukan oleh masyarakat lokal dalam kawasan TN Taka Bonerate adalah dengan cara mengeringkan ikan dengan menggunakan garam sebagai bahan baku utamanya. Hal ini terutama dilakukan supaya ikan yang ditangkap dapat lebih awet sebelum dijual, dan juga sebagai bahan lauk pauk konsumsi pribadi masyarakat terutama ketika tiba musim di mana nelayan tidak melaut dan sulit mendapat ikan tangkapan. Namun kendala yang selama ini dirasakan oleh masyarakat adalah ketersediaan garam sebagai bahan utama pengeringan ikan masih harus mereka pasok dari luar Selayar, yaitu dari NTB (Nusa Tenggara Barat) dan atau dari daerah Flores, dengan harga yang tidak murah yaitu Rp 130.000 – 150.000 per karung, dengan kualitas garam yang kurang bersih. Berangkat dari permasalahan tersebut, Balai TN Taka Bonerate melakukan upaya peningkatan kapasitas kepada kelompok masyarakat mitra Balai TN Taka Bonerate. Bersama Kelompok Forum Peduli Laut Rajuni-Latondu, Balai TN Taka Bonerate mencoba melakukan terobosan dengan membuat/produksi garam secara mandiri untuk kebutuhan pengawetan ikan dan mendukung ketahanan pangan di tingkat lokal. Kelompok Forum Peduli Laut Rajuni-Latondu sendiri merupakan kelompok yang turut menopang pelaksanaan role model pengelolaan akses area perikanan berbasis masyarakat lokal dalam kawasan melalui upaya pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan TN Taka Bonerate, dengan memperhatikan aspek konservasi, sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat setempat. Upaya peningkatan kapasitas kelompok ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan anggota kelompok pada khususnya dan masyarakat dalam kawasan pada umumnya. Mengambil lokasi percontohan di Desa Latondu, pada tanggal 17 – 20 September 2018 Balai TN Taka Bonerate bersama kelompok Forum Peduli Laut Rajuni-Latondu melakukan upaya peningkatan kapasitas kelompok melalui pelatihan dan pembuatan kolam ujicoba pembuatan garam dengan menggunakan terpal dan rumah prisma. Alasan dibalik penggunaan sistem terpal dan rumah prisma ini adalah karena kondisi tanah lokasi dalam kawasan adalah pasir yang memiliki permeabilitas yang tinggi sehingga air laut yang akan dijadikan garam tidak dapat ditampung dan akan cepat terserap ke dalam tanah/pasir. Dengan penggunaan terpal, air laut akan dapat ditampung dan tidak meresap ke dalam tanah/pasir. Selain itu, dengan menggunakan rumah prisma, proses penguapan air laut menjadi garam akan lebih cepat dan kolam akan terlindung jika turun hujan. Saat ini, kolam ujicoba garam dikelola oleh kelompok Forum Peduli Laut Rajuni-Latondu dan dapat memproduksi garam 1-3 karung dalam satu minggu untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan ikan kering/ikan asin. Walaupun sudah dapat memproduksi garam, namun upaya ini masih perlu pengembangan lebih lanjut supaya kolam garam dapat menghasilkan produk garam yang lebih banyak dan dapat memenuhi kebutuhan garam serta mendukung ketahanan pangan di tingkat lokal dalam kawasan TN Taka Bonerate. Kendala yang dihadapi utama nya adalah bahan terpal yang mudah bocor dan perlu diganti secara berkala. Perlu dicari solusi kebutuhan bahan terpal yang tahan lama dan tidak mudah bocor. Harapan ke depannya dari upaya peningkatan kapasitas kelompok melalui pembuatan kolam garam adalah upaya pemenuhan kebutuhan garam secara mandiri ditingkat lokal ini mendapatkan dukungan pengembangan dari berbagai pihak, dan dapat diadopsi oleh desa lain di dalam kawasan TN Taka Bonerate. Sumber : Asep Pranajaya, S.Pi (Penyuluh Kehutanan) - Balai TN Taka Bonerate
Baca Berita

Sumpah Pemuda Gunung Ciremai

Kuningan, 28 Oktober 2018. Mafhum hari sakral dimana 90 tahun lalu para pemuda Indonesia berkumpul dalam sebuah majelis. Kongres itu menelurkan kesepakatan pemuda Indonesia yang mengaku bertumpah darah dan berbangsa satu serta menjunjung bahasa persatuan yakni Indonesia. Ada banyak cara untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda (HSP) seperti upacara kenegaraan, berbagai lomba atau mendaki gunung. Apa yang #sobatCiremai lakukan saat HSP? Kelompok Penggerak Pariwisata (Kompepar) Linggajati, Cilimus, Kuningan, Jawa Barat, pengelola jalur pendakian Linggajati menyelenggarakan pendakian bersama pada hari besar nasional ini. Tak kurang dari 70 pendaki hadir di jalur yang terkenal ekstrim itu pagi tadi (27/10). Acara tersebut diserbu pendaki dari berbagai kota seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek). Peserta terjauh terdaftar berasal dari Madura. "Sebenarnya antusias pendaftar event ini lebih dari jumlah tadi. Namun kami batasi saja sesuai kemampuan", ungkap Kewer, panitia pelaksana. Acara semacam ini memang membutuhkan pengorganisasian yang baik secara teknis dan non teknis. Kesiapan alat, personil penyelenggara dan keutuhan ekologi trek pendakian menjadi hal yang mesti diperhatikan. "Ini moment pemuda untuk tetap semangat membangun negeri. Bangun pemuda, satukan Indonesia", tegas San Andre Jatmiko, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Kuningan mewakili Kepala Balai saat pelepasan peserta pagi tadi (27/10). San Andre juga berpesan pada peserta agar berhati-hati dalam penggunaan api supaya tidak menimbulkan kebakaran hutan. Selain ajang silaturahmi antar pendaki, event ini juga kesempatan yang baik untuk sosialisasi penerapan sistem "booking online" pendakian gunung Ciremai. Aplikasi berbasis "smartphone" ini akan di uji coba akhir tahun nanti dan berlaku efektif tahun depan. Calon pendaki akan mudah memesan opsi paket pendakian dalam genggamannya. Kenyamanan, keamanan dan kepuasan terhadap pendaki, pengelola dan ekologi jalur diharapkan dapat terwujud melalui penerapan sistem "booking online". Tentu saja rencana ini mesti mendapat dukungan dari berbagai pihak. #sobatCiremai, sebagai pendaki gunung dan pemuda Indonesia harus ikut andil dalam pembangunan negeri yakni mencintai alam dengan baik dan benar. So, bangun pemuda, satukan Indonesia! [teks & foto © Idin, image © Adit - BTNGC | 102018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

BCA TNTBR : Pramuka dan Pelajar Berkumpul di Tinabo

Pulau Tinabo - Kepulauan Selayar, 28 Oktober 2018. Dalam menjaga kawasan Taman Nasional Taka Bonerate dapat dilakukan secara preventif maupun persuasif. Salah satu cara yang dapat dilakukan dengan cara mencegah pengrusakan ekosistem oleh masyarakat di sekitar Kawasan. Sejalan dengan hal tersebut, Balai Taman Nasional Taka Bonerate sebagai institusi yang mengelola dibidang konservasi menempuh upaya Bina Cinta Alam (BCA) dengan memberi pelatihan/pembinaan pendidikan lingkungan pada masyarakat dengan tujuan membentuk karakter pemuda yang peduli lingkungan. Bertempat di Resort Pulau Tinabo Besar, Kawasan Taman Nasional Taka Bonerate, kegiatan BCA dilaksanakan pada tgl 25 s.d 27 Oktober 2018. "Peserta yang hadir berasal dari perwakilan Saka Wanabakti, Saka Kalpataru, Saka Wirakartika, Saka Bhayangkara, Siswa & Siswi SLTP yang berada di dalam Kawasan Taman Nasional Taka Bonerate, total keseluruhan 60 (enam puluh) orang peserta" Jelas Irfandy Aznur Ketua Panitia BCA 2018. Pemaparan materi dari Direktorat Pemanfaatan Jasa LingkunganHutan Koonservasi, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sulsel, Balai Taman Nasional Taka Bonerate, Balai Diklat Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kab. Kepulauan Selayar. Selain materi terkait Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Pengelolaan Taman Nasional Taka Bonerate , kegiatan ini Pentas Seni dari Peserta, Penanaman Pohon (Sebuah nama untuk Pulau Tinabo), Transplantasi Karang dan Bersih Pantai. "BCA Kali ini dirangkaikan dengan Hari Sumpah Pemuda dan mendukung kalender event pariwisata pemerintah daerah Kab. Kepulauan Selayar, Festival Taka Bonerate 2018" Ucap Faat Rudhianto Kepala Balai TN. Taka Bonerate. Dengan terlaksananya kegiatan ini masyarakat diharapkan akan lebih mengerti dan paham manfaat dan arti penting pelestarian sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Pelajar dan Pramuka sebagai komponen generasi muda mempunyai peranan yang sangat penting dalam menunjang program kegiatan pelestarian alam dan lingkungan hidup. Sumber : Asri - PEH Penyelia Balai TN. Taka Bonerate Foto : Fahmi Syamsuri - POLHUT Balai TN. Taka Bonerate
Baca Berita

Pelepasliaran Satwa di Wilayah Balai Taman Nasional Halimun salak

Sukabumi, 26 Oktober 2018. Direktur KKH yang diwakili oleh Kepala Subdit Penangkaran Ir. Puja Utama didampingi Kepala Balai Balai Taman Nasional Halimun Salak Ir. Awen Supranata, Kepala Balai KSDA Jakarta Ahmad Munawir, S.Hut dan Direktur PT. Strar Energy Geothermal Salak, serta dihadiri Pejabat Fungsional melaksanakan kegiatan pelepasliaran Satwa –satwa hasil penyerahan Masyarakat di Kawasan Hutan Balai Taman Nasional Halimun Salak yang berada didalam hutan yang dikelola PT. Stra Energy Geothermal SalakSukabumi Jawa Barat. Adapun Satwa dimaksud antara lain adalah: Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) dan Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus) serta beberapa jenis satwa dari Balai KSDA Jakarta antara lain: 2 (dua) ekor Landak Jawa (Hystrix javanica), 4 (empat) ekor Kucing Hutan (Prionailurus bengalensis), 6 (enam) ekor Ular Sanca Batik (Python reticulatus), dan 1 (satu) ekor Musang (Paradoxurus sp). “Akhir-akhir ini masyarakat cenderung lebih peduli dan lebih mendukung pemahaman yang disampaikan oleh Petugas Polisi Kehutanan sebagai kepanjangan kebijakan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan khususnya mengenai kehidupan satwa-satwa Liar yang dilindungi, hal ini dibuktikan dengan banyaknya penyerahan satwa yang dilindungi Undang-undang kepada kami” begitu sekilas sambutan yang diberikan oleh Kepala Balai KSDA Jakarta kepada awak media yang hadir. Harapan terbesar dari kegiatan seperti ini adalah semoga satwa liar yang memang seharusnya hidup di alam liar sebagai habitat aslinya akan semakin sejahtera dan dapat berembangbiak secara alami, sehingga kelestariannya terjaga. (gie) Sumber : Balai KSDA Jakarta
Baca Berita

Pulihkan Ekosistem Terumbu, Balai Taman Nasional Bunaken Ajak Para Pihak Lakukan Tanam Karang

Bunaken, 27 Oktober 2018. Bertepatan dengan penunjukan 27 tahun Taman Nasional Bunaken, lebih dari 75 orang dari 32 lembaga secara serentak tergabung dan melakukan penanaman karang dalam rangka pemulihan ekosistem terumbu karang di Pulau Bunaken. Balai Taman Nasional Bunaken mengajak para pihak baik dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Pemerintah Kota Manado, Lantamal VIII, Polsek Bunaken Kepulauan, Babinsa, LSM, Dive center dan Perguruan Tinggi serta Masyarakat bersama-sama dalam penanaman karang di peraiaran Pulau Bunaken. Lokasi kegiatan difokuskan pada perbaikan ekosistem terumbu yang berada di Fukui, Alban dan Tawara divespot, sebanyak 40 media tanam karang melalui perlakuan asesual dilepaskan serta tanam karang langsung dilakukan dengan mentransplantasi fragmen/anakan karang pada substrat alami karang mati dengan bantuan epoxy A-B untuk menempelkan. Fragmen diambil dari patahan karang serta indukan di Tawara. Kepala Balai Taman Nasional Bunaken Dr. Farianna Prabandari menyampaikan kegiatan penanaman karang, selain mengajak komitmen para pihak untuk bersama-sama dalam pelestarian kawasan, upaya pemulihan ekosistem ini juga ajang edukasi lingkungan agar kita bisa berwisata alam yang baik, dengan tidak berdiri menginjak karang, mematahkan dan mengambil spesimen serta mempertahankan keutuhan habitat. Selama ini banyak yang menyampaikan bahwa karang di wilayah perairan Pulau Bunaken rusak, untuk itu kali ini mari kita bersama-sama memperbaiki dan kita pulihkan ekosistemnya, kita tunjukan komitmen dan mari kita berwisata dengan ramah, bila bukan kita siapa lagi yang akan melakukannya. Kegiatan penanaman karang ini serentak dilaksanakan juga di bagian selatan Taman Nasional Bunaken, laporan yang hadir dalam kegiatan penanaman karang di selatan sebanyak 25 org yang berasal dari anggota SPTN 2, kelompok mitra Cahaya Trans, Cahaya Tatapaan, anggota kader konservasi, kelompok sadar wisata dan dive center pesisir selatan. Jumlah bibit yg ditanam 750 fragmen pada 50 media transplant. Penanaman dengan media berupa ram besi yang telah dilumuri dengan pasir. Dalam hal ini bertepatan dengan Ulang Tahun ke 27 Taman Nasional Bunaken serta dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke 90, sehingga semangat juang para pendahu dapat terpatri pada diri kita menjadi semangat juang untuk pelestarian lingkungan. Kegiatan penanaman karang bisa dilakukan kapan saja, tanpa harus melalui kegiatan yang diselenggarakan Balai TN Bunaken, siapa saja dapat berpartisipasi dengan terlebih dahulu berkoordinasi dengan TN Bunaken untuk menentukan jenis dan lokasi, tutur Farianna. Gubernur Sulawesi Utara dalam sambutan Pembukaan kegiatan penanaman karang yang dibawakan oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Prov. Sulawesi Utara Ir. Ronald Sorongan, mengapresiasi positif kepada semua pihak atas dukungan dan terselenggaranya kegiatan ini. Taman Nasional Bunaken memegang 3 fungsi strategis dalam konteks pembangunan Daerah dan Bangsa, yakni fungsi pelestarian keanekaragaman hayati pesisir dan laut, mendukung kehidupan dan penghidupan masyarakat setempat, serta pengembangan pariwisata alam. Guna mengoptimalkan manfaat positif dari ketiga fungsi tersebut dibutuhkan pola pengelolaan secara terpadu dan sinergis dari segenap stakeholders terkait pengelolaannya. Dalam konteks itulah, terselenggaranya agenda saat ini, memegang manfaat dan substansi penting yang wajib kita sukseskan bersama. Disamping menjaga kualitas dan kuantitas lingkungan, juga stimultan positif bagi masyarakat. Kami juga menghimbau kepada masyarakat untuk terus meningkatkan kepedulian dan rasa memiliki terhadap kelestarian karang di Taman Nasional Bunaken. Perlu saya ingatkan, jangan jadikan kegiatan ini sebagai agenda seremonial semata, tetapi jadikanlah sebagai pemenuhan tanggung jawab terhadap kelestarian Taman Nasional Bunaken kedepan, tutup Ronald Sorongan. Sumber : Balai Taman Nasional Bunaken
Baca Berita

BKSDA Aceh Selamatkan Rangkong Papan

Pidie, 28 Oktober 2018. Seekor Rangkong Papan atau juga dikenal dengan Enggang Papan (Bucerosbicornis) diselamatkan oleh Tim BKSDA Aceh yang didampingi oleh personil POLRES Pidie dari seorang warga di Desa Pulo Mesjid Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie Provinsi Aceh, saat ini satwa yang dilindungi tersebut langsung dibawa ke Kantor Balai KSDA Aceh di Banda Aceh untuk diperiksa terlebih dahulu kondisi kesehatanannya oleh Tenaga Medis Kesehatan Satwa. Upaya penyelamatan ini menindaklanjuti laporan Kepala Resor BKSDA Wilayah Pidie Bapak Agusmi kepada Kepala Saksi Konservasi Wilayah I Lhokseumawe Bapak Dedi Irvansyah, SP pada tanggal 27 Oktober 2018 yang melaporkan adanya seorang warga yang memelihara salah satu jenis burung yang dilindungi Rangkong Papan (Bucerosbicornis) yang telah dipelihara oleh yang bersangkutan ± 6 (enam) bulan lamanya. Rangkong Papan/Enggang Papan (Bucerosbicornis) merupakan salah satu jenis satwa liar yang dilindungi dari Kelompok Burung (Aves) Famili Bucerotidae berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.92/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Perubahan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar Yang Dilindungi. Upaya penyelamatan ini merupakan bagian dari upaya perlindungan dan mempertahankan populasi habitat Rangkong Papan/Enggang Papan (Bucerosbicornis) stabil di habitatnya serta bentuk sosialisasi dan penyadartahuan bagi masyarakat akan pentingnya keberadaan satwa liar dihabitatnya untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Sumber : Balai KSDA Aceh
Baca Berita

Aulima Pote Dapat Pelatihan Pengembangan Usaha Ekonomi Produktif

Kobe Gunung, 25 Oktober 2018. Pelatihan Pengembangan Usaha Ekonomi Produktif di Desa Kobe, Kec. Weda Tengah, Kab. Halmahera Tengah (Resort Akejira, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Weda, Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata) telah selesai digelar (26/10). Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut kegiatan sebelumnya, yaitu kegiatan Pembentukan Kelompok Tani "Aulima Pote" di Desa Kobe. Aulima Pote sendiri berarti "mari kesini". Kepala Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL), Muhammad Wahyudi, S.P., M.Sc membuka kegiatan didampingi oleh Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I weda, Raduan SH serta Kepala Desa Kobe, Milkes Kadari. Wahyudi menyampaikan bahwa kedepannya antara Balai TNAL dan kelompok tani "Aulima Pote" perlu dibuatkan perjanjian kerjasama, sehingga kelompok tani melalui desanya bisa mendapatkan "kulin" (pengakuan dan perlindungan) sebagai legalitas dalam setiap aktivitasnya dari Ditjen PSKL. Dengan adanya kulin, kelompok tani juga memiliki kesempatan untuk mendapatkan berbagai bantuan. Raduan, SH selaku Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional WiLayah I Weda menambahkan bahwa pemberdayaan masyarakat merupakan kegiatan yang bertahap, sehingga membutuhkan waktu dan kesabaran. Namun, Balai TNAL akan melaksanakan pemberdayaan masyarakat semaksimal mungkin. Dalam kegiatan Pelatihan Pengembangan Usaha Ekonomi Produktif turut mengundang narasumber yang ahli dalam bidangnya yaitu Dr. Wawan Sulistiyono, SP., MP (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian/ BPTP Prop. Maluku Utara) dan Faisal Muhtar, S.ST (Dinas Pertanian dan Perkebunan, Kab. Halmahera Tengah). Materi yang disampaikan terkait budidaya pertanian tanaman tomat dan cabai dan dilanjutkan dengan sesi diskusi dengan kelompok tani hutan "Aulima Pote" Terdapat beberapa poin hasil diskusi diantaranya, perlu pelatihan kembali agar anggota kelompok tani benar-benar paham dalam budidaya tanaman cabai dan tomat karena kegiatan pertanian merupakan hal baru bagi kevanyakan warga Desa Kobe, lahan yang digunakan sebagai lahan usaha kelompok adalah lahan kebun atau pekarangan milik anggota, bukan lahan di kawasan TNAL, Kelompok tani hutan "Aulima Pote" dapat melaporkan ke Dinas Pertanian dan Perkebunan Kab. Halmahera Tengah agar terdaftar untuk dapat menerima bantuan dengan berdasar SK Kepala Desa tentang pembentukan kelompok tani, narasumber dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Prop. Maluku Utara mempersilahkan kelompok tani "Aulima Pote" untuk mengajukan bantuan bibit tanaman ke BPTP berkoordinasi dengan Balai TNAL, kelompok tani hutan menginginkan adanya pendampingan yang berkelanjutan sehingga perlu PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) di Desa Kobe. Narasumber dari Dinas Pertanian berencana mengusulkan adanya PPL untuk Desa Kobe; kepala Desa berharap Balai TNAL tetap mendampingi kelompok tani meskipun telah terdapat pendampingan dari Dinas Pertanian dan Perkebunan, Balai TNAL, BPTP, dan Dinas Pertanian Perkebunan perlu adanya jalinan kerjasama dalam pemberdayaan dan pendampingan kelompok tani hutan "Aulima Pote". Untuk itu, perlunya sinergi antara Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata dengan instansi yang terkait serta diharapkan sinergi yang telah terbangun dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Maluku Utara dan Dinas Perkebunan dan Pertanian Kabupaten Halmahera Tengah ini dapat terus berlanjut. Sumber : Arif Setiawan, S.Hut, M.Ling - Penyululuh Kehutanan dan Nadiya Fasha Fawzi, S.Hut - Calon Pengendali Ekositem Hutan Pertama Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Kirab Pemuda 2018 di TWA Pelaihari, Pantai Batakan

Pelaihari, 25 Oktober 2018 – Sebanyak 50 orang pemuda dan pemudi yang tergabung dalam “Kirab Pemuda 2018” menyambangi TWA Pelaihari, Pantai Batakan. Program dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) melalui Kirab Pemuda 2018 se-Indonesia telah berada di Kabupaten Tanah Laut untuk beberapa hari. Kabupaten Tanah Laut merupakan daerah ke-13 yang mereka kunjungi. Peserta didampingi oleh Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi Kalimantan Selatan Kabid Pemberdayaan Pemuda, Dra.Hj. Siti Adawiyah, MM. Pada kesempatan sambutan Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan, Dr. Mahrus Aryadi, M.Sc menyampaikan bahwa TWA Pelaihari seluas ± 1.500 Ha dengan jenis tanaman cemara laut, paku-pakuan, dan galam. Harapan dari Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan bahwa pemuda bisa menjadi pelopor dalam melaksanakan konservasi terhadap keanekaragaman hayati yang ada di Indonesia yaitu kegiatan untuk melindungi, mengawetkan sekaligus juga memanfaatkan secara lestari potensi-potensi yang ada di kawasan konservasi di sekitar tempat tinggal para pemuda-pemudi peserta Kirab Pemuda 2018. Camat Panyipatan Muhammad Syaid, S.STp, M.AP juga menjelaskan dalam sambutannya bahwa Pantai Batakan dinobatkan sebagai “Bottom of Borneo”, titik terendah dari Pulau Kalimantan. Sebagai kenang-kenangan bahwa pemuda-pemudi peserta Kirab Pemuda 2018 pernah datang ke TWA Pelaihari, Pantai Batakan dengan menanam berbagai pohon diantaranya trembesi, mahoni, dan angsana sekitar 200 batang yang ditanam sepanjang jalan masuk ke TWA Pelaihari. Dilanjutkan dengan bersih-bersih pantai yang juga melibatkan 50 personil TNI. (jrz) Sumber : Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Kapolda Kalbar Nobatkan Duta Danau Sentarum

Lanjak, 25 Oktober 2018. Puncak Pemilihan Duta Danau Sentarum digelar dengan meriah dan menampilkan kesepuluh finalis yang muda dan berbakat. Seleksi akhir para finalis diberikan pertanyaan seputar pelestarian Taman Nasional Danau Sentarum sebagai potensi ekowisata unggulan di Kabupaten Kapuas Hulu. Dari hasil penilaian tim juri, terpilihlah Duta Danau Sentarum tahun 2018 yaitu Suganda Prapagama Untung berasal dari Kecamatan Putussibau Selatan dan Theressa Delfiyanti yang berasal dari Kecamatan Semitau. Piala untuk para juara diserahkan oleh Bapak Kapolda Kalimantan Barat didampingi oleh Bupati Kapuas Hulu, Deputi Pemasaran Pariwisata Kementerian Pariwisata, Sekretaris Daerah Kapuas Hulu serta Kepala Balai Besar Tana Bentarum. Pemilihan Duta Danau Sentarum 2018 ini merupakan kegiatan perdana yang diprakarsai oleh Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (Tana Bentarum) bekerja sama dengan Dinas Kepemudaan, Olah Raga dan Pariwisata Kab. Kapuas Hulu, Dinas Lingkungan Hidup, Perumahan Rakyat dan Pemukiman Kab. Kapuas Hulu serta Jainur TIM dan merupakan rangkaian dari Festival Danau Sentarum. Sasaran kegiatan ini adalah Putra Putri Kabupaten Kapuas Hulu dari kalangan mahasiswa, pelajar dan umum. Jumlah peserta yang mendaftar awalnya berjumlah 52 orang yang berasal dari Kecamatan Putussibau Selatan dan Putussibau Utara, Bika, Kalis, Mentebah, Hulu Gurung, Semitau dan Batang Lupar. Sedangkan tujuannya adalah memilih Putra Putri terbaik dari Kabupaten Kapuas Hulu untuk membantu Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum beserta Pemerintah Daerah Kabupaten Kapuas Hulu dalam mewujudkan Taman Nasional Danau Sentarum sebagai pusat pelestarian keanekaragaman hayati Ramsar Site dan destinasi ekowisata unggulan di Jantung Borneo (Heart of Borneo). Selain itu kegiatan ini juga merupakan bagian dari pembinaan generasi muda agar lebih cinta lingkungan, budaya dan keanekaragaman hayati Kabupaten Kapuas Hulu pada umumnya dan Taman Nasional Betung Kerihun dan Taman Nasional Danau Sentarum pada khususnya. Keberhasilan dalam menjaga potensi alam dan budaya salah satunya ditentukan oleh keberhasilan dalam membina generasi mudanya. Selama kurang lebih seminggu 52 peserta digembleng, dilatih serta diseleksi oleh para mentor sehingga tersisa 5 kandidat putri dan 5 kandidat putra. Para mentor yang digawangi oleh Muhamad Ilyas, Imam Buhari, Jainur Santoso dan Khotilde, memberikan bimbingan, mengasah dan meningkatkan potensi diri masing-masing peserta sehingga diharapkan mampu menjalankan tugasnya sebagai Duta Danau Sentarum Penobatan Duta Danau Sentarum dilaksanakan oleh Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Barat Irjen. Pol. Didi Haryono kepada Theressa Delfiyanti dan Sugandha sebagai Duta Danau Sentarum 2018. Theressa Delfiyanti Duta Putri Danau Sentarum, menyatakan bahwa Dia merasa bangga terpilih menjadi Duta Danau Sentarum dan berharap kedepannya dapat menjadi inspirator bagi generasi muda yang peduli akan kelestarian TNDS dalam menuju destinasi ekowisata berkelas dunia. Hal yang sama juga dirasakan oleh Sugandha merasa bangga karena dipercayai menjadi Duta Putra Danau Sentarum 2018. Pada kesempatan terpisah, Kepala Balai Besar TaNa Bentarum, Arief Mahmud menyampaikan bahwa kegiatan Pemilihan Duta Danau Sentarum sangat baik karena nantinya Duta Danau Sentarum secara garis besar tugas yang harus dilakukan adalah menyebarkan isu pelestarian Danau Sentarum yang penting kepada masyarakat yang lebih luas dan mempromosikan kegiatan ekowisata Danau Senatrum. Taman Nasional Danau Sentarum merupakan salah satu Kawasan Strategis Pariwisata Nasional sehingga perlu kita jaga, oleh sebab itu dengan terpilihnya Duta Danau Sentarum, maka harapannya dapat menjadi penyambung lidah Tana Bentarum dan Pemerintah Daerah kepada masyarakat luas khususnya tentang wisata dan pelestarian danau, pungkas Arief. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Sertifikat Cagar Biosfer Betung Kerihun Danau Sentarum Kapuas Hulu

Putussibau, 25 Oktober 2018. Penyerahan sertifikat Cagar Biosfer ini cukup unik mengingat diadakan di lokasi Cagar Biosfer di Kecamatan Batang Lupar Kabupaten Kapuas Hulu, dan pada acara pembukaan Festival Danau Sentarum 2018, dimana Festival tersebut merupakan bukti dari harmonisnya hubungan manusia, lingkungan dan pembangunan. Penyerahan ini dimulai dari Direktur MAB-LIPI Indonesia menyerahkan kepada Dirjen KSDAE yang kemudian diserahkan kembali kepada Gubernur Kalbar, Bupati Kapuas Hulu dan Kepala Balai Besar Tana Bentarum. Bupati Kapuas Hulu A.M. Nasir menyampaikan bahwa Kabupaten Kapuas Hulu sangat berterima kasih kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) yang telah dan akan memberikan dukungan terhadap pembangunan di Kapuas Hulu. “Status cagar biosfer menegaskan pengakuan dunia internasional dan penyemangat bagi kami untuk terus melestarikan dan menjaga Bumi Uncak Kapuas dari kerusakan akibat ulah manusia. Semoga Program-Program GIZ Forclime yang dilaksanakan bisa memberikan manfaat maksimal untuk masyarakat Kapuas Hulu” imbuh Nasir. Dalam sambutannya Dirjen KSDAE yang dibacakan oleh Fifin Afiana Jogasara bahwa Indikator keberhasilan pengelolaan suatu Cagar Biosfer ditunjukan dengan adanya keselarasan hubungan antara pembangunan ekonomi, pemberdayaan masyarakat dan perlindungan lingkungan, melalui kemitraan antara manusia dan alam, hal ini dibuktikan disini dengan Festival Danau Sentarum 2018. Kami berharap agar FDS ini dijadikan agenda tahunan yang berkesinambungan sehingga mampu mendiring pembangunan yang lestari di Kabupaten Kapuas Hulu. Arief Mahmud, Kepala Balai Besar TaNa Bentarum mendukung kegiatan-kegiatan dalam Cagar Biosfer Betung Kerihun Danau Sentarum Kapuas Hulu. “Menyandang Status Cagar Biosfer diharapkan menjadi magnet bagi lembaga-lembaga internasional untuk memberikan dukungan terhadap Kabupaten Kapuas Hulu” Pungkas Arief. Cagar Biosfer Betung Kerihun Danau Sentarum Kapuas Hulu (BKDSKH) dikukuhkan di Palembang, 25 Juli 2018 pada sidang ke 30 International Coordinating Council (ICC) Man and Biosphere (MAB) Unesco. Ditetapkannya Betung Kerihun Danau Sentarum Kapuas Hulu sebagai Cagar Biosfer bersama dengan 23 Cagar Biosfer lainnya dari 19 Negara. Sebagai mana diketahui bahwa Kabupaten Kapuas Hulu berada di Propinsi Kalimantan Barat Indonesia, telah ditetapkan sebagai Kabupaten Konservasi pada tahun 2003 dimana memiliki areal kurang lebih 65% adalah hutan baik hutan konservasi, lindung maupun hutan produksi. Ratusan ribu penduduk di Kapuas Hulu sangat menggantungkan kehidupannya terhadap kelestarian hutan, baik pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK) seperti gaharu, madu, maupun potensi satwanya seperti ikan awana, hingga potensi airnya serta wisata. Keterpaduan hidup antara masyarakat Kapuas Hulu dengan Taman Nasional baik Betung Kerihun maupun Danau Sentarum sebagai Zona Inti Cagar Biosfer, Hutan Lindung dan Hutan produksi sebagai Zona Penyangga, serta kawasan Areal Pengunaan Lainnya sebagai Zona Transisi sangatlah harmonis, dimana masyarakat dapat memanfaatkan dan mengelola hutan konservasi tersebut sesuai kaidah konservasi sehingga lestari. Keharmonisan ini patut diapresiasi oleh berbagai kalangan baik nasional maupun internasional dan kedepannya Kabupaten Kapuas Hulu dapat dijadikan contoh bagi kabupaten lain untuk keterpaduan pembangunan ini. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Disiplin dan Kehormatan di Pembinaan Pegawai SPTN I Weda TN Aketajawe Lolobata

Weda, 23 Oktober 2018. Seksi Pengelolaan Taman Nasional wilayah I Weda Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) gelar Pembinaan kepada seluruh staf dan tenaga teknis di kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I, Jalan Kapita Sinotok, Weda, Halmahera Tengah. Raduan SH. Kepala SPTN I Weda menyampaikan dan menekankan beberapa point antara lain mengingatkan kembali tentang pengertian Pegawai Negri sipil (PNS) berdasarkan undang-undang nomor 43 tahun 1999, Hak dan Kewajiban PNS berdasarkan Peraturan Pemerintah . Nomor 53 tahun 2010 tentang disiplin pegawai negeri sipil yang mutlak untuk dipedomani Pegawai Negeri Sipil lingkup SPTN I Weda. ”Cintai pekerjaan dan profesi kita, maka kita akan selalu senang bersamanya dan selalu bersemangat dalam mengemban tugas yang diberikan pimpinan” tambah Raduan memotivasi. Raduan juga menyampaikan dua landasan utama profesionalisme dalam bekerja yaitu Disiplin dan Kehormatan yang harus selalu diterapkan dimana pun kita bekerja, entah itu di resort, suaka, kantor seksi maupun kantor balai, dan mencintai pekerjaan dengan sungguh-sungguh. Santa Wijaya PEH terampil pada SPTN I Weda dan Johan Limahelu selaku Polhut pelaksana berharap pertemuan berikutnya akan melakukan sharing menyangkut pembuatan laporan kegiatan teknis dan administrasi. Seluruh pegawai berharap agar kedepannya Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Weda menjadi lebih baik lagi. Sumber : Nadiya Fasha Fauzi - Calon PEH Ahli Pertama Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Festival Danau Sentarum 2018 Resmi Dibuka

Pustussibau. 25 Oktober 2018. Gelaran Festival Danau Sentaum (FDS) resmi dibuka oleh Bupati Kapuas Hulu A.M .Nasir di Desa Lanjak, Kecamatan Batang Lupar Kabupaten Kapuas Hulu Kalimantan Barat. FDS merupakan salah satu dari 100 Wonderful Events Indonesia 2018 yang diselenggarakan pada 25 – 28 Oktober 2018. FDS 2018 merupakan kegiatan hasil kolaborasi antara Pemda, Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BB TaNa Bentarum), dan para NGO/ LSM yang bekerja di Kapuas Hulu. Dalam pembukaan FDS Bupati Kapuas Hulu menyampaikan bahwa kegiatan ini untuk mempertegas kawasan Taman Nasional Danau Sentarum sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), sebagai wilayah Heart of Borneo,, sebagai Kabupaten Konservasi dan sebagai Cagar Biosfer. “Sebagaimana diketahui bahwa kawasan Taman Nasional Danau Sentarum merupakan kawasan konservasi dan salah satu dari 25 kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN)oleh Kementerian Pariwisata” Imbuh Nasir Kepala Balai Besar TaNa Bentarum berharap selain mempromosikan Danau Sentarum sebagi tujuan wisata, kegiatan FDS juga memberikan manfaat bagi masyarakat, dari segi ekomomi diharapkan menjadi salah satu sumber pendapatan masyarakat melalui industri – industri kreatif masyarakat seperti tenun, anyaman tradisional, manik – manik dan kerajinan lainnya, serta ari segi sosial budaya diharapkan menjadi sarana pelestarian budaya etnis lokal. “Rangkaian acara FDS 2018 menampilkan beberapa acara yang mengandung unsur budaya seperti penampilan Arwana Band (Duta TaNa Bentarum), penampilan musik sape, tarian etnik, lomba sumpit, lomba gasing, Sentarum Cruise, lomba perahu dan lomba memasak masakan tradisional. Semoga keunikan dan kekayaan budaya yang ada di sekitar kawasan dapat menjadi salah satu pemicu meningkatnya wisatawan ke Kapuas Hulu khususnya Taman Nasional Danau Sentarum.” Imbuh Arief FDS merupakan even rutin tahunan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu dengan BB TaNa Bentarum beserta mitra mitra dan LSM yang ada di Kabupaten Kapuas Hulu. Pada tahun 2018 FDS Masuk dalam kalender even Kemeterian Pariwisata “100 Wonderful Events Indonesia 2018”. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Masyarakat Ikut Pelihara Pal Batas TN Gunung Ciremai .

Kuningan, 25 Oktober 2018. Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) dikelilingi wilayah desa kabupaten Kuningan, Cirebon dan Majalengka, Jawa Barat. Ketiga wilayah tadi punya pengaruh multi dimensi terhadap gunung tertinggi di Jawa bagian barat ini. Oleh karenanya disebut daerah penyangga. Sekat daerah penyangga dan TNGC ditandai oleh tanda batas yang disebut Pal Batas. Pal Batas, suatu tanda pembatas kawasan hutan dengan areal penggunaan lain yang berbentuk silinder dan atau kotak memanjang terbuat dari beton rangka tulang besi. Ukurannya 10 x 10 x 130 centimeter yang ditanam 60 centimeter dan tampak diatas tanah 70 centimeter. Bagian atasnya sepanjang 20 centimeter di cat putih dan ditulisi huruf dan nomor pal. Inventarisasi pal batas TNGC perlu dilakukan untuk memastikan apakah pal dalam kondisi bagus, bergeser atau hilang akibat faktor alam seperti iklim, "edafis" dan perbuatan manusia. Selama lima hari sejak 4 hingga 8 Oktober 2018, Balai TNGC melalui Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Kuningan melakukan inventarisasi dan pemeliharaan batas di sekitar daerah penyangga. Ahmad Fuad (46), Ketua Tim kegiatan tersebut mengatakan, "inventarisasi batas kawasan meliputi 300 pal yang terdapat di kecamatan Pasawahan mulai desa Paniis, Singkup, Pasawahan sampai Padabeunghar. Nomor pal TN 690 hingga TN 990". Sementara di tempat terpisah, Kahid (50), warga Pasawahan mengungkapkan keikutsertaan dirinya dan masyarakat lainnya dalam kegiatan ini. "Pal Batas harus berada di posisinya. Tidak boleh bergeser apalagi rusak dan hilang agar ada kejelasan batas TNGC dan tanah milik", ungkapnya saat ditemui sedang beraktifitas di kebun. Cara melakukan inventarisasi pal batas cukup sederhana yakni dengan melakukan pengambilan ulang titik koordinat dengan bantuan "Avenza Map" pada "smartphone". Pada aplikasi "smartphone" ini telah terdapat peta TNGC yang meliputi koordinat wisata alam, mata air dan Pal Batas. Masyarakat dan petugas hanya tinggal mengikuti "navigasi" ke arah "waypoint" Pal Batas tersebut. Setelah menemukan pal yang dituju, "marking" ulang di atas pal tersebut sehingga memperoleh koordinat baru. Lalu bandingkan antara koordinat lama dan koordinat baru tadi. Jika titik tersebut berbeda, artinya pal bergeser dan pergeseran tersebut dapat dikatakan sebagai "jarak error". Besarnya "jarak error" akibat tutupan tajuk yang lebat di atas pal saat melakukan "marking" ulang sehingga sinyal sedikit terganggu. Setelah inventarisasi, masyarakat dan petugas bersama-sama melakukan pemeliharaan Pal Batas dengan cara mengecat ulang tubuh pal, huruf dan nomornya. "Terdapat sebagian kecil Pal Batas yang rusak dan hilang. Hal ini akan dilaporkan ke pimpinan untuk ditindak lanjuti", tegas Ahmad Fuad. Selain kegiatan ini rutin dilakukan Balai TNGC, masyarakat daerah penyangga pun kerap melakukan pemeliharaan Pal Batas secara sukarela. "Bila menemukan pal yang miring atau berlumut, saya bersihkan dan kembalikan ke posisi tegak", ujar Kahid. Keberadaan Pal Batas yang sesuai pada posisinya sangat penting untuk kepastian hukum antara tanah milik dan TNGC. So, mari kita jaga keutuhan teritorial kedua wilayah tadi dengan tidak mengusik Pal Batas [teks © Andri Wahyu, foto © BTNGC | 102018]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Smartphone Plat Merah, Si Mungil Yang Vital

Kuningan, 25 Oktober 2018. Inovasi merupakan satu keharusan dalam menghadapi tantangan dalam meraih peluang. Sebagaimana Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) lakukan dalam menghadapi tantangan ketersediaan data yang "valid and reliable" serta peluang meningkatkan nilai ekonomi kawasan dari data yang diperoleh dan diolah menjadi sebuah produk yang dapat "dijual" dan dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar kawasan. Upaya mendapatkan data yang "valid and reliable" merupakan tantangan tersendiri di lingkungan kerja yang areal kerjanya kawasan taman nasional. Bagaimana data yang diperoleh dari kawasan merupakan data yang benar dan sesuai dengan fakta lapangan, waktu yang sesuai. Untuk melaksanakan itu semua diperlukan sebuah alat yang canggih dan umum digunakan di zaman now. Apakah itu?. Ya, handphone android merupakan pilihan Balai TNGC dalam menghadapi tantangan akan kebutuhan data yang "valid and reliable" tadi. "Smartphone" memiliki kecanggihan untuk data spasial dan non spasial dalam penggunaan aplikasi Avenza map. Bahkan untuk mengetik seperti aplikasi pengolah "Microsoft word" dan "spreadsheet" atau untuk mempresentasikan hasil data dan informasi hasil kegiatan lapangan dengan "Powerpoint". Selain itu terdapat aplikasi photo dan video yang dapat merekam kegiatan secara "on time". Siapa yang mengoperasikan alat canggih ini?. Mereka ialah petugas lapangan dan tim pendukung basis data. Petugas lapangan Pengendali Ekosistem Hutan (PEH), Polisi Kehutanan (Polhut) dan Penyuluh Kehutanan akan mendapat peta yang berbeda sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing jabatan. So, bagaimana prosedurnya? Handphone yang telah dilengkapi dengan nomor, email dan peta tematik TNGC digunakan dalam pengambilan data lapangan. Data yang diambil antara lain jenis kegiatan, lokasi, data numerik lokasi koordinat radius 20 meter (sampai 2000 karakter), foto atau video dan data minimal lainnya sesuai ketentuan. Setelah data dianggap lengkap, lalu dikirim ke Admin data di tingkat Resor, Seksi dan Balai. Data yang telah terkumpul di Seksi dan Balai akan diklasifikasi dan dianalisa untuk bahan informasi yang dapat digunakan dalam mengambilan kebijakan pimpinan. Waktu pengambilan data disesuaikan dengan kegiatan petugas lapangan, baik dalam tugas maupun dalam pelaksanaan tugas mandiri sebagai seorang Pejabat Fungsional. Fungsi lain dari "Smartphone" ini untuk Tim Medsos menyusun dan menyajikan konten Instgramm, Facebook, Whatsapp, Youtube, Twitter dan tentunya website www.tngciremai.com. Penyusunan dan pembuatan tulisan dapat menggunakan aplikasi "Microsoft word" maupun "Powerpoint" dengan mudah dan cepat dalam genggaman. Ide kreatif dalam menulis akan langsung dapat dituangkan dalam bentuk ketikan tanpa harus membuka Komputer atau Laptop di kantor maupun dirumah. Manfaatkan kemajuan teknologi untuk menjadi alat kerja yang mudah dan simpel dalam menunjang pengelolaan TNGC. Sayang rasanya kalau alat yang modern dan mahal harganya hanya digunakan untuk hal-hal pribadi dan tidak menunjang kinerja kita. Karena setiap anggaran negara yang dikeluarkan harus mendapat nilai atau "output" yang jelas dan bernilai lebih tinggi dari harga barang tersebut. Kelebihan lain dari "Smartphone" tentang data spasial atau terkait posisi adalah bagaimana data yang diambil merupakan data asli teman-teman di lapangan. Bukan data spasial hasil pengolahan di atas meja kerja. Peta tematik yang dibuat oleh ahli peta Balai TNGC merupakan peta tematik sesuai kebutuhan yang dilengkapi dengan batas kawasan, zonasi kawasan, grid per 100 hektar dan data numerik lain sesuai aturan ilmu kartografi. Selamat bekerja dengan penuh keikhlasan karena rezeki tidak hanya berbentuk materi seperti uang dan barang. Namun kesehatan dan kebahagiaan hidup termasuk rezeki juga. So, manfaatkan alat yang kita punya untuk kebaikan dan menunjang pekerjaan [teks © ISO, foto © BTNGC | 102018]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Kontes Arwana Super Red Resmi Dibuka Bupati Kapuas Hulu

Putussibau, 25 Oktober 2018. Bupati Kapuas Hulu A.M. Nasir membuka Kontes ikan arwana super red di Kapuas Hulu wilayah Kalimantan Barat yang diikuti lima negara pada tanggal 25 - 26 Oktober 2018. "Sampai saat ini sudah ada 80 peserta dari lima negara yang akan ikut dalam kontes Arwana Super Red," kata Bupati saat diwawancarai. Ia menjelaskan lima negara yang akan ikut kontes arwana tersebut yaitu China, Singapura, Malaysia, Korea dan Indonesia. Imbuh Nasir. Kepala Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNaBentarum) Arief Mahmud menyampaikan "Kontes arwana ini diselenggarakan dalam rangkaian Festival Danau Sentarum ". Ikan Arwana Super Red habitat aslinya adalah di danau sentarum. "Kalau kerennya Kontes arwana ini seperti "Arwana Super Red isComingHome"" imbuh arief. Pada kontes Arwana Super Red yang diselenggarakan ada beberapa kategori yang akan dilombakan diantaranya kategori 20 - 30 cm (small), 31 - 40 cm (Medium), 41 - 50 cm (Large), lebih dari 51 cm (XL), Unik (ukuran bebas) dan SB lebih dari 12 cm. Salah satu tujuan kontes arwana dilaksanakan untuk mempromosikan potensi wisata di Kapuas Hulu sekaligus mengenalkan habitat asal ikan arwana dari Danau Sentarum. Diharapkan dengan dilaksanakan kontes ArwanaSuperRed itu orang tahu bahwa habitat asli ikan Arwana Super Red itu di wilayah Kapuas Hulu. Selain itu tidak kalah penting adalah agar habitat alami Arwana SuperRed ini selalu terjaga kelestariannya dan populasi ikan di alam tetap lestari. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum

Menampilkan 6.753–6.768 dari 11.140 publikasi