Senin, 25 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Satwa Liar Hidup Berdamai Dengan Cagar Alam Dolok Sipirok

Harimau Sumatera terpantau dari camera trap menjelajahi kawasan CA. Dolok Sipirok Sipirok, 2 Desember 2024. Cagar Alam (CA) Dolok Sipirok masih menjadi habitat dan tempat hidup yang aman dan nyaman bagi beragam satwa liar yang hidup di dalamnya, setidaknya itulah kesimpulan yang diambil ketika Tim Seksi Konservasi Wilayah V Sipirok bersama dengan lembaga mitra Center Orangutan Project (COP) melakukan kegiatan bersama Patroli Pengamanan Habitat Orangutan, pada tanggal 26 s.d 30 November 2024. Giat patroli yang dilaksanakan di Desa Rambasihasur, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, selain dimaksudkan untuk pemantauan dan pengamanan habitat Orangutan Tapanuli, mengingat kawasan ini juga termasuk rumah dari satwa endemik ini, juga untuk memantau keberadaan satwa liar lainnya di dalam kawasan melalui camera trap yang telah dipasang. Dalam beberapa titik lokasi pemasangan camera trap, terpantau beragam keanekaragaman hayati baik yang dilindungi maupun yang tidak dilindungi, seperti : Harimau Sumatera, Beruang Madu, Kijang, Kuau, Beruk, Babi Hutan dan Musang. Selain itu giat patroli juga menemukan tanda satwa, tumbuhan pakan satwa dan fitur alami. Sedangkan untuk tumbuhan terpantau Kantong Semar, tanaman obat dan beragam jenis tanaman lainnya. Penampakan Beruang madu di dalam kawasan CA. Dolok Sipirok Masih ditemukannya beberapa satwa liar di dalam kawasan, mengindikasikan bahwa kawasan masih menjadi tempat yang layak untuk didiami. Saat kawasan masih aman dari gangguan ataupun aktivitas illegal, maka dipastikan satwa liar akan hidup dengan tentram dan berkembang biak dengan baik serta alami di kawasan tersebut. Kondisi kawasan konservasi yang aman dan terjaga menjadi syarat mutlak untuk dipertahankan agar kehidupan keragaman hayati bisa terjamin. Oleh karena itu, petugas Seksi Konservasi Wilayah V Sipirok berkomitmen akan terus melakukan dan meningkatkan pengamanan kawasan secara optimal, tentunya dengan melakukan berbagai cara atau upaya. Selain patroli pengamanan, dilakukan juga pemasangan papan informasi kawasan agar masyarakat mengetahui status dan keberadaan kawasan konservasi. Petugas juga pro aktif menyampaikan edukasi dan penyuluhan berupa pesan-pesan konservasi kepada masyarakat. Kolaborasi dengan berbagai lembaga dan mitra terus dibangun, karena Balai Besar KSDA Sumatera Utara menyadari tugas pengamanan dan perlindungan kawasan konservasi tidak dapat dilakukan sendiri dan membutuhkan sinergitas dengan berbagai komponen. Berbagai upaya akan terus dilakukan untuk memberi kenyamanan kehidupan tumbuhan dan satwa liar yang ada di kawasan CA. Dolok Sipirok. Petugas saat pemasangan papan informasi kawasan di Desa Sampean Sumber : Martono Gurusinga (Staf Resort CA. Dolok Sipirok) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Lepas Liar Kasuari Selatan di Hutan Tinaruma

Casuari selatan (Casuarius casuarius) dewasa yang dilepasliarkan di Hutan Tinaruma, Kampung Kamora, Distrik Mimika Tengah, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, pada 30 November 2024. Foto: Dok. BBKSDA Papua/DDCJ Jayapura, 30 November 2024 – Kasuari selatan, yang dikenal juga dengan sebutan kasuari gelambir ganda (Casuarius casuarius) termasuk spesies yang dilindungi undang-undang di Indonesia. Satwa endemik Papua ini terbilang masyhur dan telah banyak mendapatkan ulasan dari para ahli. Spesies yang memiliki rentang generasi 12.5 tahun ini telah dinilai oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) pada 9 Agustus 2018, dan masuk dalam kategori Least Concern/LC (risiko rendah). Untuk saat ini, kasuari selatan tidak terdaftar dalam Lampiran Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES). Meski demikian, status perlindungan kasuari selatan di Indonesia adalah mutlak. Sebagai upaya perlindungan dan pelestarian kasuari selatan di habitat alaminya, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua melepasliarkan tiga individu kasuari selatan di sekitar Hutan Tinaruma, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah. Dua individu kasuari berasal dari Jayapura, yang ditranslokasi pada 9 November 2024. Sementara satu individu merupakan penyerahan dari Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Papua Tengah. Lepas liar berlangsung pada Sabtu, 30 November 2024, dilaksanakan oleh Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Timika bersama PT. Freeport Indonesia, Yayasan Hutan Biru, Pemerintah Kampung Kamora, dan Kelompok Jaga Hutan Mioko. Casuari selatan (Casuarius casuarius) remaja yang dilepasliarkan di Hutan Tinaruma, Kampung Kamora, Distrik Mimika Tengah, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, pada 30 November 2024. Foto: Dok. BBKSDA Papua/DDCJ. Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Timika, Bambang H. Lakuy, menjelaskan alasan ditetapkannya Hutan Tinaruma sebagai lokasi lepas liar. Pertama, terkait kesesuaian habitat. Berdasarkan hasil identifikasi potensi tumbuhan dan satwa liar di Hutan Tinaruma pada tahun 2024, dijumpai jejak kasuari selatan yang berkaki raksasa. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa Hutan Tinaruma adalah habitat kasuari selatan. Kedua, terkait ketersediaan pakan alami. Kondisi Hutan Tinaruma sangat heterogen. Hal ini dapat menjamin kesejahteraan satwa dengan pilihan pakan alami yang beragam. Ketiga, terkait keamanan dari gangguan manusia. Hutan Tinaruma dikeramatkan oleh masyarakat adat setempat sehingga mereka tidak melakukan aktivitas di sana. Kearifan lokal terkait hutan keramat yang berkembang di kalangan masyarakat Papua secara umum dapat menjadi benteng yang kuat untuk menjaga kelestarian satwa liar dan habitatnya. “Kita semua berharap satwa yang pulang ke habitat alaminya hari ini dapat berkembang biak, lestari, dan memerankan tugasnya dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Tiga satwa ini sudah mendapatkan pemeriksaan, semua dalam kondisi sehat, dan siap dilepasliarkan,” kata Bambang. Menuju Hutan Tinaruma hanya dapat ditempuh melalui jalur sungai. Foto: Dok. BBKSDA Papua/DDCJ. Sementara itu, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Papua, A.G. Martana, menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat dalam kegiatan lepas liar ini. “Kepada PT. Freeport Indonesia, Yayasan Hutan Biru, Balai Karantina Hewan Ikan dan Tumbuhan Papua Tengah, Pemerintah Kampung Kamora, Kelompok Jaga Hutan Mioko, dan berbagai pihak lainnya yang telah memberikan kontribusi dalam kegiatan ini, kami sampaikan terima kasih. Kerja sama yang baik ini semoga berdampak baik pula bagi kelestarian alam Papua sampai jauh ke masa depan,” ungkap Martana. Pelepasliaran satwa ini dihadiri oleh para pihak, antara lain, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Mimika, KPHL Wilayah VI Mimika, Balai Karantina Hewan Ikan dan Tumbuhan Papua Tengah, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Balai Taman Nasional Lorentz, pemerintah terkait, serta para mitra konservasi di Kabupaten Mimika, Papua Tengah.(dd) Sumber: Balai Besar KSDA Papua Call Center BBKSDA Papua: 0823 9770 9728
Baca Berita

Balai TN Bukit Tiga Puluh Bersama Mitra Latih Suku Anak Dalam Budidaya dan Pengolahan Kopi

Tebo Tengah, 29 November 2024. Balai Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) bersama mitra PT. Lestari Asri Jaya (LAJ) melaksanakan pelatihan budidaya dan pengolahan kopi bagi masyarakat Suku Anak Dalam (SAD). Kegiatan ini merupakan bagian dari kerja sama antara kedua belah pihak dalam ruang lingkup Pemberdayaan Masyarakat SAD. Pelatihan ini dilaksanakan selama tiga hari pada tanggal 26 s.d 28 November 2024 yang dilaksanakan di Wilayah Kerja Resort Suo Suo, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Tebo Tengah tepatnya di Balai Pertemuan Masyarakat SAD. Peserta pada pelatihan ini adalah masyarakat SAD yang tinggal di daerah penyangga kawasan TNBT atau di konsesi PT. LAJ yang saat ini mengelola tanaman kopi dan juga masyarakat SAD yang berminat untuk mengelola tanaman kopi. Kepala SPTN Wilayah I, Hendra Koswandi, S. Hut., M. Si menyampaikan bahwa pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat SAD dalam teknik budidaya tanaman kopi dan pengolahan kopi pasca panen. Dalam pelatihan ini peserta diberikan pengetahuan tentang budidaya dan pengolahan kopi melalui praktek langsung oleh narasumber dari Lembaga Non Pemerintah Frankfurt Zoological Society (FZS), mitra Balai TNBT; Bapak Syamsul Bahri. Beberapa materi yang diajarkan kepada peserta yaitu bagaimana cara melakukan perawatan tanaman kopi sehingga produksi buah kopinya meningkat dan berkualitas baik. Selain itu peserta diajak berfikir oleh narasumber untuk mengubah kebiasaan menjual buah kopi merah/cherry dengan menjual kopi yang sudah menjadi greenbean yang mempunyai harga jual tinggi. Peserta diajarkan teknik pengolahan kopi dari buah merah/cherry menjadi greenbean dengan menggunakan mesin Pulper dan Huller yang sudah disediakan oleh PT. LAJ. Diharapkan setelah pelatihan ini masyarakat SAD sudah mampu menjual kopi dalam bentuk greenbean dengan memanfaatkan mesin – mesin tersebut yang sudah diberikan PT. LAJ untuk masyarakat SAD. Pasca pelatihan ini Petugas Balai TNBT bersama dengan PT. LAJ akan terus melakukan pendampingan kepada masyarakat SAD dalam budidaya dan pengolahan kopi sampai masyarakat SAD mampu melakukannya secara mandiri. Sumber: Balai Taman Nasional Bukit Tiga Puluh
Baca Berita

Peringati HMPI Tahun 2024, Balai TNGC bersama Mitra Tanam Bibit 1.189 Pohon Endemik Gunung Ciremai

Kuningan, 29 November 2024. Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) yang diperingati setiap 28 November, menjadi ajang penting untuk mendorong gerakan bersama dalam mengembalikan fungsi lingkungan yang lebih baik dan memberikan kesadaran dan kepedulian kepada masyarakat tentang pentingnya pemulihan kerusakan sumber daya hutan dan lahan melalui penanaman pohon. Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) bersama mitra serentak tanam bibit pohon endemik Gunung Ciremai, Kamis (28/11). Penanaman pohon di pusatkan di Pajaten (Zona Rehabilitasi TNGC), wilayah administratif Desa Kaduela, Kec. Pasawahan, Kab. Kuningan. Peserta yang hadir sebanyak 154 orang berasal dari Pegawai Balai TNGC, DWP Balai TNGC, PT. Pertamina EP Zona 7 Jatibarang Field, PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, PLN UIT Jawa Bagian Tengah, PDAM Tirta Kemuning Kab. Kuningan@tirtakemuning, UNIKU, PT. BSI Tbk Area Cirebon, BRI Cabang Kuningan, GYM, Sakawanabakti Kab. Kuningan, Kader Konservasi dan Koperasi Jaya Pakuan tanam 110 bibit pohon endemik jenis : Pangsor (Ficus Callosa), Picung (Pangium edule), Salam (Syzygium polyantum), Parengpeng (Croton argyratus), Beringin (Ficus benjamina), Ki Teja (Cinnamomum iners), Peutag (Accemena accuminatissina), Ki Hujan (Samanera saman), Saga (Abrus precatorius). Sementara pada waktu yang sama di masing-masing lokasi pelaku jasa wisata alam baik di Kuningan dan Majalengka secara serentak juga menanam bibit pohon jenis endemik sebanyak 1.079 bibit pohon sehingga total ditanam sebanyak 1.189 bibit pohon. Turut serta penanaman di ODTWA Buper Palutungan dari TK Alam Terpadu Al Ghifari Kuningan dan di sekitar Sumber Mata Air Cipujangga dari PDAM Tirtajati Kab.Cirebon. "Bibit pohon yang kita tanam untuk dipelihara sampai tumbuh dengan baik sehingga memberikan kehidupan bagi manusia dan alam" tegas Kepala Balai Toni Anwar, S.Hut., M.T dalam apel sebelum penanaman. Yukk Galakan Tanam Pohon Untuk Hari Esok Yang Lebih Baik Sumber: Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

BKSDA Kalsel Selamatkan Satwa Owa Kalimantan di Kandangan Hulu Sungai Selatan

Kandangan, 28 November 2024 – Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan (BKSDA KALSEL) melakukan evakuasi penyelamatan satwa endemik Kalimantan berupa satu ekor Owa Kalimantan (Hylobates albibarbis). Resor Banua Anam Seksi Konservasi Wilayah I (SKW I) Pelaihari BKSDA Kalsel menerima informasi adanya masyarakat yang memelihara satwa liar di Desa Gambah Luar Muka Kecamatan Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Satwa Liar dilindungi Undang-Undang tersebut berupa Owa Kalimantan. Sebagai tindaklanjut, pada Senin 25 November 2024 anggota Resort Banua Anam melakukan pengecekan ke lapangan dan memang benar adanya satwa Owa Kalimantan sebagaimana informasi yang diterima. Berdasarkan keterangan pemilik, satwa Owa Kalimantan berjenis kelamin jantan tersebut sudah dipelihara sejak masih kecil sekitar lima tahun yang lalu. Petugas memberikan sosialisasi dan himbauan mengenai larangan serta sanksi hukum terkait konservasi Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) dilindungi sebagimana tertuang dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Setelah diberikan pemahaman dan penyadartahuan akan pentingnya konservasi tersebut pemilik satwa secara sukarela bersedia menyerahkan satwanya kepada pihak BKSDA Kalsel. Sebelum dilakukan evakuasi penyelamatan satwa, terlebih dahulu dilakukan penandatanganan Berita Acara Penyerahan Satwa antara pemilik dan pihak BKSDA Kalsel. Satwa kemudian dibawa ke Kantor Pos Jaga BKSDA Kalsel di Kandangan untuk diamankan sementara dan diobservasi kesehatannya. Pada Selasa 26 November 2024 satwa kemudian dibawa oleh Tim dari SKW I Pelaihari menuju kandang transit BKSDA Kalsel di Banjarbaru untuk proses habituasi. (Ryn) Sumber: M. Amin Badali, S.P - PEH Seksi Konservasi Wilayah Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Mapala Unimed Medan, Eksplorasi TWA Danau Sicike cike

Sidikalang, 29 November 2024. Untuk pemantapan Anggota Baru Kelompok Pecinta Alam Mapala Universitas Negeri Medan (Unimed), dilaksanakan beberapa kegiatan di Taman Wisata Alam (TWA) Danau Sicike cike Kabupaten Dairi pada tanggal 23-24 Nopember 2024 lalu. Ada 21 orang mahasiwa yang tergabung dalam Unit Kegiatan (UKM) Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Universitas Negeri Medan Periode 2024-2025 yang mengikutinya, dikoordinir oleh Ketua Panitia Muhammad Irfan. Kegiatan yang dilaksanakan Anggota Mapala Unimed kali ini merupakan pendidikan lanjutan eksplorasi hutan dan gunung, camping serta latihan pemantapan dasar pengenalan tumbuhan dan satwa bagi semua anggota. TWA Danau Sicike-cike dipilih karena memiliki tantangan tersendiri yaitu alam yang cukup menarik dijelajahi sekaligus untuk mengenal potensi keanekarakagaman hayati dan obyek wisata alam yang sangat menarik, diantaranya danau dan air terjun yang unik, berada di dataran tinggi dengan ekosistem gambut. Lokasi ini sangat cocok dijadikan tempat kegiatan pengenalan konservasi alam bagi generasi muda, khususnya anggota mapala. Selain itu kawasan ini juga menjadi tujuan penelitian (riset) bagi mahasiswa maupun peneliti. Menariknya di kawasan ini terdapat salah satu bunga Rafflesia terkecil, yaitu Rafflesia meijerii serta aneka jenis anggrek alam dan Kantong Semar (Nephentes). Disamping keragaman jenis tumbuhan, kawasan ini juga menjadi tempat hidup berbagai satwa yang tak kalah menariknya, seperti Siamang (Symphalangus syndactylus), Mentok Rimba/Itik Liar (Cairina scutulata), Burung Enggang (Buceros sp.) dan Musang (Paradoxurus hermaprodicus). Salah satu jenis satwa liar yang kerap juga muncul adalah Belibis Batu (Dendrocygna javanica). Selama pelaksanaan kegiatan Mapala Unimed di TWA Danau Sicike cike, didampingi langsung petugas Resort TWA Danau Sicike-cike, Hotber Sianturi. Kunjungan dan kehadiran Tim Mapala Unimed memberikan kontribusi melalui pembayaran retribusi/tiket masuk kawasan sebagai Penerimaan Negera Bukan Pajak (PNBP) yang diserahkan kepada petugas pemungut tiket. Semoga kunjungan ini menjadi pembelajaran bagi anggota Mapala Unimed dalam memahami dan menumbuhkan kepedulian terhadap kawasan konservasi. Ayo… mari melaksanakan kegiatan alam bebas dengan ikut serta melestarikan sumber daya alam dan ekosistemnya. Sumber : Samuel Siahaan, SP. (PEH dan Ketua Tim Kerja Bina Cinta Alam) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara.
Baca Berita

Gunakan Burung Raptor, BBKSDA Jatim Atasi Bird Strike di Bandara Juanda

Sidoarjo, 29 November 2024. Resort Konservasi Wilayah (RKW) 08 Bandara Juanda bersama Tim penyelamatan satwa (Wildlife Rescue Unit/ WRU) Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) dan Airport Safety Bandara Juanda melaksanakan Wildlife Hazard Management dalam rangka penanggulangan bird strike di Bandara Internasional Juanda. Bird Strike sendiri merupakan tabrakan antara burung dengan pesawat terbang yang sedang take off, terbang, maupun landing. Umumnya gangguan ini terjadi di lingkungan bandara dengan ketinggian. Untuk itu tim menggunakan metode penempatan burung pemangsa (raptor) untuk mengatasi bird strike tersebut. Dengan metode ini diharapkan dapat memecah konsentrasi burung-burung air yang sering mencari makan di pond yang terdapat dalam areal Bandara Juanda. Sebagai informasi, pada 28 November 2024, tim telah menempatkan 3 ekor burung pemangsa dari jenis Elang brontok (Nisaetus cirrhatus) pada 2 lokasi. Masing-masing seekor Elang brontok fase gelap di kandang sisi Pond Barat, dan 2 ekor Elang brontok fase terang di area dekat unit PMK dan Pond sisi Timur. Sesuai arahan Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, penggunaan burung elang dalam penanggulangan bird strike tahap awal ini dilaksanakan dalam kurun waktu 2 bulan. Selama waktu itu, akan dilakukan pemantauan efektifitasnya dan pemeriksaan kesehatan satwa setiap 2 pekan sekali. Setelah 2 bulan, akan dievaluasi kembali terhadap penempatan elang di Bandara Juanda guna rekomendasi penanganan bird strike selanjutnya. Sumber : Agus Irwanto - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Nervilia punctata, Anggrek Tanah Menyambut Hujan di Tambora

Bima, 29 November 2024. Musim hujan sudah tiba, sebagain besar kawasan tambora sudah di guyur hujan. Intensitas hujan yang tinggi membuat tanah lantai hutan sudah basah kembali. Tanah dan seresah yang basah memancing beberapa anggrek tanah muncul ke permukaan. Tambora merupakan rumah untuk berbagai jenis anggrek tanah. Anggrek tanah yang dijumpai di tambora sebagian berada di lantai hutan yang tertutup vegetasi, seperti di hutan sekitar pos 2 Dorocanga. Salah satu anggrek tanah yang muncul pada saat hujan mulai turun adalah anggrek Nervilia punctata. Anggrek ini adalah anggrek tanah berukuran kecil dengan daun bentuk bulat, 5 sampai 7 lobus, lobus apikal berbentuk lancip berwarna hijau mengkilap. Daun membentuk hati di bawah ke dalam daun pangkal yang lonjong. Perbungaan tegak, panjang 10 sampai 15 cm, bunga tunggal dengan bunga tumbuh menyamping. Saat menyusuri hutan, anggrek N. punctata ini sering teramati tumbuh di seresah yang tebal. Terlihat mencolok dengan warna cerah diantara gelapnya lantai hutan. Biasanya jenis ini dijumpai tumbuh sendiri atau berkelompok. Tumbuhan ini tidak tersebar merata di dalam hutan, hanya pada titik-titik tertentu saja. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, jenis ini memiliki tiga fase pertumbuhan, yaitu fase generatif, fase vegetatif dan dorman. Saat awal musim hujan (November-Desember) tumbuhan ini memasuki fase generatif, dimana hanya bunga saja yang teramati di lantai hutan. Setelah fase ini, anggrek akan muncul daun (vegetatif) tanpa terlihat bunganya. kemudian saat musim kemarau jenis ini memasuki fase dorman, hingga masuk musim hujan berikutnya. Di Tambora Jenis ini di jumpai di hutan musim pada ketinggian 100 mdpl hingga hutan tropis pada ketinggian 1500 mdpl. Secara global jenis ini Ditemukan di India, Kepulauan Nicobar, Thailand, Vietnam, Malaysia, Papua Nugini dan Fiji di hutan pegunungan di ketinggian sekitar 1200 hingga 2000 meter Anggrek merupakan indikator kondisi lingkungan. Jenis ini dijumpai pada titik-titik kawasan tambora dengan tutupan yang cukup baik serta kelembaban yang cukup. Oleh karena itu keberadaanya dapat dijadikan mengindikasikan bahwa hutan tambora masih mampu menyediakan ruang tumbuh untuk jenis ini. Sumber: Samsul Maarif - PEH Balai Taman Nasional Tambora
Baca Berita

Tanam Pohon Sekarang Untuk Indonesia Emas 2045

Medan, 28 November 2024. Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) diperingati setiap tanggal 28 November. Penetapan tanggal 28 November berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 24 Tahun 2008. Sejarah mencatat peringatan HMPI berawal dari aksi penanaman serentak dan pekan pemeliharaan pohon yang diadakan di Desa Cibadak, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, pada 28 November 2007. Kegiatan ini menjadi awal pergerakan Bulan Menanam Pohon Nasional (BMPHN) yang dilaksanakan pada bulan November 2007. Peringatan HMPI ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya konservasi hutan dan pelestarian lingkungan, mengurangi emisi karbondioksida, memperkuat upaya restorasi hutan, serta menjaga keanekaragaman hayati dan sumber daya alam. Lalu apa hubungannya HMPI dengan Indonesia Emas 2045 ? Pada tahun 2045 mendatang, Indonesia genap 100 tahun alias satu abad. Pada tahun tersebut, ditargetkan Indonesia sudah menjadi negara maju, modern dan sejajar dengan negara-negara adidaya di dunia. Bukan hanya target, tapi ada usaha yang terus diupayakan agar bisa sampai kesana. Inilah yang jadi salah satu alasan munculnya ide, wacana dan gagasan Generasi Emas 2045. Usia 100 tahun itu artinya Indonesia akan mengalami usia emas pada tahun itu (https://indonesiabaik.id ) Generasi Emas 2045 adalah wacana dan gagasan dalam rangka mempersiapkan generasi muda Indonesia yang berkualitas, berkompeten dan berdaya saing tinggi. Generasi yang cerdas dan mau menerima perubahan harus diupayakan sejak dini menuju impian Indonesia menjadi Generasi Emas 2045, yakni : memiliki kecerdasan yang komprehensif, produktif dan inovatif, damai dalam interaksi sosialnya dan berkarakter yang kuat, sehat dan menyehatkan dalam interaksi alamnya, dan berperadaban unggul (Apa Yang Dimaksud Dengan Generasi Emas 2045?, https://www.kompas.com) Anak muda dari generasi sekarang hingga beberapa tahun mendatang harus berupaya memiliki kompetensi, kreativitas dan inovasi yang tinggi. Sehingga pada momentum satu abad Indonesia kelak, target menjadi negara maju dapat terwujud secara bertahap. Dengan demikian gagasan Generasi Emas 2045 dapat terealisasi dengan generasi muda yang berkualitas, berdaya saing, dan tentunya mempunyai rasa nasionalisme yang tinggi. Penyiapan dan pelibatan peran generasi muda untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045, utamanya kepedulian terhadap lingkungan alam sekitar, tentunya juga menjadi bagian penting dari agenda Generasi Emas 2045. Keberhasilan dan kemajuan suatu negara salah satu tolok ukurnya adalah pada kemampuan negara tersebut merawat dan mengelola alam dan lingkungan hidupnya dalam menunjang dan mendukung pembangunan serta kesejahteraan masyarakat. Sehingga peran generasi muda sangat krusial sejak dini terlibat langsung merawat bumi melalui kegiatan menanam pohon. Oleh karena itu, gerakan menanam pohon harus menjadi perhatian serius dan penting dilakukan secara rutin, karena akan memberi efek dan dampak luar biasa bagi pembangunan serta kemakmuran dan kesejahteraan. Selain itu, penanaman pohon juga merupakan bagian dari Mitigasi Bencana dan Tanggap Bencana, karena akan menyelamatkan dan mengkondisikan bumi dalam mengantisipasi perubahan iklim yang saat ini cenderung mengalami anomali. Akhirnya dengan menyadari dan menempuh langkah-langkah kongkrit, yang dimulai dari sekarang (sedini mungkin), maka tidak diragukan lagi Indonesia siap untuk memasuki gerbang Emas yang maju dan sejahtera di tahun 2045. Ayo tanam pohon sekarang untuk Indonesia Emas 2045… Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

BBKSDA Sumut Bekali Pengetahuan Konservasi Anggota Mapala

Narasumber Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Samuel Siahaan, SP. berbagi pengetahuan konservasi kepad peserta Medan, 28 November 2024. Bertempat di Fakultas Pertanian Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Medan, pada Minggu (24/11), Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Bidang Teknis pada Tim Kerja Bina Cinta Alam, Samuel Siahaan, SP (Pengendali Ekosistem Hutan) dan didampingi Penyuluh Kehutanan, Inggrid Tarihoran, S.Hut. memberikan pembekalan kepada anggota baru mahasiswa pencinta alam Genetika Fakultas Pertanian UISU Angkatan XXXIV. Pembekalan ini merupakan persyaratan yang harus diikuti oleh calon anggota baru dalam memahami tentang konservasi alam, sebelum resmi dilantik menjadi anggota. Kedua narasumber menyampaikan materi terkait Dasar-dasar Konservasi serta Keanekaragaman Hayati di Sumatera Utara. Kepada peserta selain membagikan ilmu juga diajak untuk ikut peduli baik terhadap keragaman hayati yang ada, terutama jenis yang dilindungi. Peserta dimotivasi untuk ambil bagian dalam upaya konservasi alam melalui potensi dan kapasitas yang masing-masing dimiliki. Selain itu narasumber Inggrid Tarihoran, S.Hut., Penyuluh Kehutanan, secara khusus menyampaikan materi tentang media sosial yang sangat berperan dan efektif saat ini dalam penyebarluasan informasi konservasi alam dan mampu menjangkau audiens dalam jumlah yang cukup besar serta cakupan yang luas. Media sosial sekarang ini menjadi penting peranannya, oleh karena itu diharapkan dan didorong agar Mapala Genetika Fakultas Pertanian UISU dapat membantu Balai Besar KSDA Sumatera Utara dalam menyiapkan konten dan tulisan menarik yang berisikan pesan-pesan konservasi alam. Tradisi pembekalan Konservasi ini menjadi agenda rutin yang dilaksanakan oleh Mapala Genetika Fakultas Pertanian UISU disetiap penerimaaan anggota baru, dimana ada kewajiban untuk mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Dasar Kepencinta-alaman guna menambah wawasan dan pengetahuan tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya. Materi konservasi ini menjadi urgen dan relevan untuk dibekali bagi setiap anggota Mapala, mengingat kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh kelompok pecinta alam masih berdekatan dan bersinergi dengan aktifitas Konservasi. Kelompok Pecinta Alam Mapala Genetika Fakultas Pertanian UISU merupakan salah satu binaan Balai Besar KSDA Sumatera Utara yang cukup aktif dan rutin setiap tahun mengadakan pembekalan materi konservasi melalui kegiatan penerimaan anggota baru. Untuk tahun ini 2024, Angkatan XXXIV, ada sebanyak 5 orang yang direkrut melalui proses seleksi dan layak memenuhi persyaratan sebagai anggota baru Mapala Genetika FP UISU. Pada pembekalan Konservasi ini terlihat juga hadir senioran serta anggota tetap Mapala Genetika Fakultas Pertanian UISU. Semoga kelak anggota baru ini dapat berperan aktif dalam kegiatan konservasi alam. Sumber : Samuel Siahaan, SP. (PEH dan Ketua Tim Kerja Bina Cinta Alam) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Peningkatan Konservasi TN Gandang Dewata Dengan Penguatan Kapasitas Kelompok Pemberdayaan Masyarakat

Mamasa, 22 November 2024 – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan (BBKSDA Sulsel) bekerja sama dengan para pihak sukses menyelenggarakan kegiatan Pembentukan Kelompok dan Peningkatan Kapasitas Kelompok Pemberdayaan Masyarakat. Kegiatan dilaksanakan pada 20–21 November 2024 di Hotel Al-Ikhsan dan Gedung Serbaguna Kelompok Tani Hutan (KTH) Botani Gandang Dewata, Desa Tondok Bakaru, Kabupaten Mamasa. Kegiatan yang dirancang untuk memperkuat peran masyarakat sebagai mitra strategis dalam pelestarian kawasan Taman Nasional Gandang Dewata (TNGD) ini, melibatkan berbagai pihak, antara lain Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Barat, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, serta masyarakat dari Desa Tondok Bakaru dan Desa Taupe. Perwakilan dari Pemerintah Kecamatan Mamasa bertugas sebagai moderator dan memandu kegiatan, dengan narasumber dari Tim Layanan Kehutanan Masyarakat (TLKM), serta pengajar dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Program Magister Universitas Sulawesi Barat (LPPM PM Unsulbar). Materi yang disampaikan mencakup tiga topik utama, yaitu: Penguatan Kelembagaan Kelompok Pemberdayaan Masyarakat oleh Tim Layanan Kehutanan Masyarakat (TLKM), Panduan Penyelesaian Usaha dan Kegiatan Terbangun di Kawasan Suaka Alam dan Taman Buru berdasarkan Peraturan Menteri LHK No. 14 Tahun 2023 serta Teknik Pembuatan Peta Persil Penggunaan Lahan Masyarakat di kawasan TNGD, kedua materi tersebut disampaikan oleh LPPM PM Unsulbar. Kegiatan ini menghasilkan beberapa hal penting yang diharapkan berdampak langsung pada upaya konservasi melalui pemberdayaan masyarakat. Salah satu hal penting yang telah dihasilkan adalah terbentuknya dua KTH dari Desa Tondok Bakaru dan Desa Taupe sebagai calon mitra konservasi TNGD di bawah binaan BBKSDA Sulsel. Kedua KTH ini diperkuat kapasitasnya melalui pembekalan mengenai kelembagaan kelompok dan kemitraan konservasi. Selain itu, telah dilakukan proses verifikasi data untuk memastikan aktivitas masyarakat di kawasan TNGD sesuai ketentuan, khususnya untuk usaha yang terbangun setelah tahun 2020. Hal ini diperkuat dengan dokumen kerja sama kemitraan konservasi yang telah disusun berdasarkan Peraturan Menteri LHK No. 14 Tahun 2023. Terakhir, kegiatan ini mendorong kolaborasi erat antara pemerintah desa, masyarakat, dan BBKSDA Sulsel, dalam menciptakan sinergi yang kuat dalam menjaga dan melestarikan kawasan konservasi TNGD. Kegiatan ini merupakan langkah nyata BBKSDA Sulsel dalam mewujudkan pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan konservasi. Melalui inisiatif ini, masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi mitra dalam pelestarian kawasan TNGD, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan mereka secara berkelanjuta. Sumber: Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan (Siaran Pers Nomor : SP.53/K.8/TU/Humas/11/2024) Call Center BBKSDA Sulsel: 08114600883
Baca Berita

Kader Konservasi Sumatera Utara dan GRAS Tanam Pohon di HMPI 2024

Nurhabli Ridwan, Kader Konservasi Alam serta anggota GRAS menanam pohon aren di bantaran Sungai Deli, Medan. Medan Marelan, 26 November 2024. Kader Konservasi Alam Sumatera Utara, Nurhabli Ridwan dan Perhimpunan Penjelajah Alam Bencana dan Konservasi (GRAS) mengikuti kegiatan penanaman 1.000 batang pohon di bantaran sungai Deli, tepatnya di Jln. Ileng, Kelurahan Rengas Pulau, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan, dalam rangka memperingati Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) Tahun 2024, pada Minggu (24/11). Kegiatan yang diselenggarakan oleh Yayasan Budaya Hijau Indonesia bersama Bank Sumut, diikuti lebih kurang 450 orang peserta dari beberapa komunitas penggiat lingkungan hidup dan dihadiri Plt Walikota Medan diwakili Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Medan, Konsul Kehormatan Thailand untuk Provinsi Sumut, Direktur Bank Sumut, Tokoh Masyarakat Ir Akhyar Nasution serta Perwakilan Perhimpunan Penjelajah Alam Bencana dan Konservasi (GRAS), Green Ambasador Green Youth Movement (GYM) Sumut dan Alumni Green Leadership Indonesia (GLI). Nurhabli Ridwan yang merupakan kader konservasi alam binaan Balai Besar KSDA Sumatera Utara dan juga Koordinator Daerah Green Youth Movement Angkatan 2 Sumatera Utara, mengapresiasi kegiatan yang positif ini dan mengingatkan bahwa kegiatan tanam pohon sangat mudah dilaksanakan, namun setelah ditanam cenderung dibiarkan tanpa ada perawatan dan pemeliharaannya, sehingga sering gagal atau tidak berhasil. Oleh karena itu Nurhabli berharap usai kegiatan penanaman, masyarakat sekitar melanjutkannya dengan merawat dan memelihara tanaman yang telah ditanam tersebut agar mendapatkan manfaat, diantarnya membuat daya tarik terhadap keberadaan bantaran sungai yang tertata rapi dengan ditumbuhi pohon produksi seperti pohon aren. Selain itu, dengan adanya penghijauan diharapkan juga dapat mengurangi resiko bencana di sekitar bantaran sungai. Rangkaian kegiatan meliputi penanaman 230 pohon melinjo, 460 pohon aren, dan 350 pohon bougenville, untuk estetika keindahan di area sekitar benteng Sungai Deli. Setiap organisasi diberikan 30 pohon untuk ditanam di tempat yang sudah ditentukan panitia. Disamping itu, dilakukan penuangan 500 liter eco enzyme ke sungai sebagai upaya meningkatkan kualitas air dan pelepasan 4.000 ekor bibit ikan untuk mendukung kelestarian ekosistem perairan. Ketua Yayasan Budaya Hijau Indonesia, Bathara Surya Yusuf, mengatakan tujuan kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap masalah lingkungan dan mendorong masyarakat menjadi agen aktif pembangunan berkelanjutan dan adil. Dari pohon yang ditanam tersebut kelak akan menghasilkan buah yang dapat dinikmati oleh masyarakat setempat. Selain menghadirkan kehidupan baru di atas benteng (burung, serangga dan lainnya) juga menyerap karbondioksida (CO²) yang berasal dari industri di sekitaran Medan Utara. Daerah Jln Ileng adalah zona rawan bencana. Bencana banjir selalu menghantui masyarakat karena posisi Jln Ileng berada di bawah Sungai Deli. Itu sebabnya kegiatan yang dirangkaikan dengan HMPI ini mengusung tema “Mitigasi Bencana dan Tanggap Bencana”, dengan melakukan kegiatan konservasi secara bersama. Direktur Utama Bank Sumut, Babay Parid Wazdi, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bukti nyata dalam melestarikan lingkungan sekaligus memperingati momen penting, yaitu Hari Menanam Pohon Indonesia. Babay Parid Wazdi berharap kegiatan ini dapat membawa dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat sekitar dan semoga gerakan ini menginspirasi masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan. Kegiatan ini juga sebagai bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-63 Bank Sumut. Dengan mengusung semangat kolaborasi, Bank Sumut terus berkomitmen menjadi pelopor gerakan hijau yang berkelanjutan demi masa depan lingkungan yang lebih baik. Kadis lingkungan Hidup Kota Medan, Muhammad Husni dalam sambutannya mengatakan "Mari kita jadikan Hari Menanam Pohon Indonesia ini sebagai momentum untuk menumbuhkan kesadaran kolektif, bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab kita bersama. Semoga langkah kecil yang kita ambil hari ini dapat memberi dampak yang besar bagi kelestarian alam Indonesia, serta menginspirasi lebih banyak orang untuk berpartisipasi dalam gerakan penghijauan". Sumber : Nurhabli Ridwan (Kader Konservasi Alam/GRAS) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Saya Bangga (Pernah) Jadi Guru

Interaksi dengan peserta didik memberi kesan menyenangkan dalam membangun komunikasi dan kolaborasi memahami dan menjabarkan materi pembelajaran Medan, 25 November 2024. Hari Guru Nasional tahun ini kembali diperingati. Pemerintah melalui Keputusan Presiden RI Nomor 78 Tahun 1994 menetapkan tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional. Hari guru dirayakan sebagai apresiasi terhadap peran guru atau pendidik dalam membentuk generasi penerus. Sosok guru dipandang tidak hanya mengajar tetapi juga mendidik, membimbing dan menginspirasi generasi muda. Peringatan tahun ini menjadi spesial bagi saya, karena membuka kembali lembaran kenangan lama saat menjadi guru pada program Pendidikan dan Penyuluhan KSDA yang merupakan Kerjasama Balai Besar KSDA Sumatera Utara dengan SMP Negeri 2 Sibolangit, pada tahun ajaran (TA) 2017/2018 sampai dengan 2019/2020 yang lalu. Program ini merujuk kepada amanat dari pasal 37 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, yang mengatur bahwa peran serta rakyat dalam konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya diarahkan dan digerakkan oleh Pemerintah melalui berbagai kegiatan yang berdaya guna dan berhasil guna. Dalam mengembangkan peranserta rakyat tersebut Pemerintah menumbuhkan dan meningkatkan sadar konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya di kalangan rakyat melalui pendidikan dan penyuluhan. Selanjutnya, dalam upaya menumbuhkan dan meningkatkan sadar konservasi di kalangan rakyat, maka perlu ditanamkan pengertian dan motivasi tentang konservasi sejak dini melalui pendidikan sekolah dan luar sekolah. Amanat undang-undang inilah yang kemudian menginspirasi saya untuk menggagas dan melahirkan ide Program Pendidikan dan Penyuluhan KSDA dengan pilot projeknya SMP Negeri 2 Sibolangit. Kenapa SMP Negeri 2 Sibolangit ? Ada beberapa pertimbangan saat itu, yaitu : sekolah ini berada berdampingan langsung dengan kawasan TWA. Sibolangit, dan respon positif datang dari pihak sekolah melalui kepala sekolah, yang menyatakan kesediaan dan kesiapan untuk merealisasikan program tersebut. Untuk mewujudkan gagasan ide ini, saya merangkul 2 (dua) tenaga muda energik, tenaga fungsional tertentu pada Balai Besar KSDA Sumatera Utara, yang mempunyai mimpi dan komitmen yang sama, ingin mewujudkan program Pendidikan dan Penyuluhan KSDA. Keduanya adalah Samuel Siahaan, SP. (Pejabat Fungsional PEH sekaligus Kepala Resort CA./TWA. Sibolangit saat itu) dan Eva Suryani Sembiring, S.Hut (Pejabat Fungsional Penyuluh Kehutanan). Harmonisasi aransemen musik dan lagu serta koreografi peserta didik berisi edukasi ajakan untuk belajar konservasi alam . Singkat cerita program pun dijalankan dan jadilah kami sebagai guru, yang bukan hanya mengajar tentang konservasi alam dan lingkungan hidup, tetapi juga menyiapkan 7 topik materi pembelajaran yang dituangkan dalam kurikulum, silabus dan modul pembelajaran. Tidak cukup sampai disitu, model-model pembelajaran ikut juga diracik dan dibuat semenarik mungkin. Berbeda dengan model pembelajaran yang ada di sekolah, kegiatan belajar selama 3 (tiga) tahun full dilaksanakan di lingkungan Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit. Semua dirakit dan diracik secara otodidak, artinya ketiga kreator awalnya tidak punya modal pengetahuan dan hanya bermodalkan semangat juang dan keinginan untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi edukasi konservasi alam. Mulanya yang ada dipikiran, program ini akan berjalan dengan mulus, namun ternyata untuk menjadi guru tidak semudah yang dibayangkan dan tidak cukup hanya bermodalkan semangat. Diperlukan kreatifitas dan inovasi agar peserta didik yang berjumlah 30 orang tersebut benar-benar mendapatkan manfaat ilmu pengetahuan, pengalaman serta motivasi diri guna mengembangkan pengetahuannya ke depan. Untuk menarik minat belajar dari peserta didik agar lebih menyenangkan, interaktif dan jauh dari membosankan, dikemas paket “Harmonisasi Seni dan Edukasi Konservasi Alam”, yaitu : program yang diharapkan dapat membangun pemahaman dan kesadaran peserta didik tentang arti penting konservasi alam melalui pengembangan kegiatan/aktivitas di bidang seni. Awalnya saya membuatkan 2 lirik lagu “Mari Belajar Konservasi Alam” dan “Konservasi Alam Konservasi Kita”. Tak terbayangkan bahwa kemudian lirik lagu tersebut dikemas secara apik (aransemen) dengan alat musik sederhana (gitar dan botol plastik minuman mineral sebagai gendang) dikombinasikan dengan koreografi (gerakan gestur tubuh) oleh seluruh peserta didik, menjadi sajian yang mengedukasi dan menghibur. Klimaks serta akhir dari proses pembelajaran ketika peserta didik menampilkan teatrikal musikal dengan topik “Selamatkan Harimau Sumatera Dari Jerat” secara apik dan sempurna sehingga memukau pengunjung di 9th Indonesia Climate Change Forum & Expo 2019 Tidak cukup sampai disitu, peserta didik pun mendalami serta mengaktualisasikan pengetahuannya tentang konservasi alam melalui teatrikal musikal, dan sudah tampil di even tingkat nasional 9th Indonesia Climate Change Forum & Expo 2019, dirangkai dengan kegiatan Pekan Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Utara di Hotel Santika Dyandra Medan, 5-7 September 2019. Even ini diselenggarakan oleh Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Utara. Teatrikal musikal mengusung pesan-pesan konservasi alam dengan topik “Selamatkan Harimau Sumatera Dari Jerat”. Seluruh peserta menampilkan kemampuan terbaiknya masing-masing secara totalitas, dengan baik dan sempurna di even tersebut. Banyak lagi sebenarnya catatan yang bisa digoreskan di lembaran tulisan ini, namun biarlah itu menjadi catatan tersendiri bagi saya. Satu hal yang saya rasakan dan ingin saya sampaikan bahwa guru itu sejatinya sebuah tugas yang mulia. Guru tidak sekedar membagi ilmu pengetahuan tetapi juga bertanggung jawab dalam membangun karakter (caracter building) yang menginspirasi anak didik untuk memiliki jati diri yang kuat, tangguh dan peduli dengan lingkungan sekitar. Saya bangga bisa menjalankan peran sebagai guru terhadap 30 orang siswa selama 3 tahun pembelajaran. Saya merasakan aura kebahagiaan saat berada di tengah-tengah peserta didik. Kenikmatan hidup yang tidak bisa diuraikan dengan kata-kata, tetapi dirasakan dan menyentuh ke relung hati yang paling mendalam. Ketika melihat peserta didik merasakan sukacita dan bahagia menikmati pelajaran, ada kepuasan dan kebanggaan tersendiri. Sayangnya, seiring usia dan di penghujung pengabdian, kenikmatan sebagai guru tak akan pernah lagi dirasakan. Saatnya memang tongkat estafet diwariskan kepada generasi penerus. Dengarlah hai Rimbawan Muda, alam merindukan dan memanggilmu untuk menaburkan benih-benih konservasi alam kepada generasi muda….. Selamat Hari Guru Nasional 2024 “Guru Hebat Indonesia Kuat” Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Kembali Polda Sumut Gagalkan Perdagangan Satwa Dilindungi

Nuri Bayan yang berhasil diamankan petugas Polda Sumut Medan, 25 November 2024. Tim Penyelidik Unit 2 Subdit IV Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sumatera Utara bersama petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara kembali berhasil menggagalkan perdagangan satwa liar dilindungi jenis Burung Nuri Bayan (Eclectus roratus) dan Baning Coklat (Manouria Emys). Petugas melakukan tangkap tangan terhadap pelaku inisial SDB alias Evan, 25 tahun, mahasiswa, yang membawa 2 (dua) ekor Burung Nuri Bayan, dimuat dalam sangkar besi, diangkut dengan menggunakan 1(satu) unit Innova warna hitam. Pelaku hendak memperdagangkan satwa yang dilindungi tersebut dalam keadaan hidup, pada Jumat (15/11) sekira pukul 17.00 Wib, di Jalan Berdikari, Kelurahan Padang Bulan Selayang I, Kecamatan Medan Selayang, Kota Medan. 1 (satu) ekor burung Nuri Bayan dihargai sebesar Rp 4.000.000,-(empat juta rupiah) sehingga nilai jual 2 (dua) ekor burung Nuri Bayan tersebut sebesar Rp 8.000.000 (delapan juta rupiah) yang rencananya akan dibayar secara COD, namun transaksi pembayaran belum terjadi pelaku keburu diamankan petugas kepolisian. Kemudian pelaku SDB alias Evan berikut barang bukti diamankan petugas ke Polda Sumatera Utara guna penyidikan selanjutnya. Berdasarkan hasil pemeriksaan oleh petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Muhammad Ali Iqbal Nasution, terhadap barang bukti diketahui benar bahwa ada 2 ekor Burung Nuri Bayan (Eclectus roratus) merupakan satwa yang dilindungi. Selanjutnya Tim Penyelidik Subdit IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Sumut bersama dengan petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara melakukan pengembangan asal usul kedua ekor burung Nuri Bayan tersebut dengan memeriksa lokasi pemeliharaan hewan milik SDG alias Evan yang terdapat disamping rumah orang tuanya di Jalan Berdikari Baru, Kelurahan Padang Bulan Selayang I, Kecamatan Medan Selayang, Kota Medan. Di lokasi pemeliharaan kembali ditemukan satwa yang dilindungi, terdiri dari 3 (tiga) ekor burung Nuri Bayan yang sedang bertelur yang ditempatkan dalam kandang burung dan 2 (dua) individu Baning Coklat. Dua individu Baning Coklat ikut diamankan Kemudian petugas Subdit IV/Tipiter Unit 2 Ditreskrimsus Polda Sumut mengamankan 5 (lima) ekor satwa yang dilindungi jenis burung Nuri Bayan (Eclectus roratus) dengan jenis kelamin jantan sebanyak 3(tiga) ekor warna hijau dan jenis kelamin betina sebanyak 2(dua) ekor warna merah yang seluruhnya masih dalam keadaan hidup, Terdapat juga 2 (dua) butir telur Burung Nuri Bayan dalam keadaan utuh (tidak pecah) dan 2 (dua) individu satwa yang dilindungi jenis Baning Coklat atau Kura - Kura Kaki Gajah (Manouria Emys) juga masih dalam keadaan hidup. Bersamaan dengan Burung Nuri Bayan, turut diamankan telurnya Petugas Polda Sumatera Utara kemudian melakukan pemeriksaan saksi, meminta keterangan Ahli dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Dede Syahputra Tanjung, SP. dan melakukan gelar perkara yang dihadiri Unit 2 Subdit IV Tipidter, Bagian Pengawasan Penyidik dan Balai besar KSDA Sumatera Utara. Penyidik menyimpulkan diduga telah terjadi Tindak Pidana “Setiap orang dilarang untuk memburu, menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan/atau memperdagangkan Satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup dan setiap orang dilarang untuk mengambil, merusak, memusnahkan, memperdagangkan, menyimpan, dan/atau memiliki telur dan/atau sarang satwa yang dilindungi", sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40A ayat (1) huruf (d) dan (g) Jo. Pasal 21 ayat (2) huruf (a) dan (d) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Proses pemeriksaan masih terus berlangsung di Polda Sumatera Utara, dan barang bukti dititipkan ke petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara untuk dirawat dan direhabilitasi di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Sibolangit sampai ada keputusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap terhadap barang bukti tersebut. Penitipan barang bukti Sumber : M. Ali Iqbal Nasution – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Musim Semi Dambu Kahbrai

Kunjungan Menteri Kehutanan ke Kelompok Desa Binaan Dambu Kahbrai, di Kampung Dosay, Distrik Sentani Barat, Kabupaten Jayapura, Sabtu, 23 November 2024. Foto: Dok. BBKSDA Papua. Jayapura, 25 November 2024 – Musim semi dapat dikatakan sebagai waktu terindah, ketika bunga-bunga bermekaran, dedaunan bertumbuh, pepohonan menampilkan kesegaran, dan hari-hari menjadi cerah. Meski musim semi tidak ada di Indonesia, tetapi kata ‘semi’ yang berarti tunas adalah simbol harapan baik. Begitulah yang sedang dialami oleh Kelompok Dambu Kahbrai. Kelompok Desa Binaan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua itu sedang menikmati masa-masa bersemi setelah perjuangan panjang. Kelompok Desa Binaan di Kampung Dosay, Distrik Sentani Barat, Kabupaten Jayapura, berdiri pada tahun 2021, dengan fokus kegiatan budidaya anggrek. Para petani anggrek di Kampung Dosay terbilang sangat gigih. Dulu, sebelum Dambu Kahbrai berdiri, sebagian petani mencari anggrek sampai jauh ke Lembah Grime, Kabupaten Jayapura. Masyarakat Lembah Grime kala itu belum memahami nilai ekonomis anggrek dan menyebutnya sebagai tumbuhan tali. Maka, ketika masyarakat Lembah Grime membuka lahan untuk berkebun, dan banyak anggrek dari pepohonan yang ditebang, petani anggrek Kampung Dosay memungutinya. Namun, saat ini sudah berbeda cerita. Hampir semua masyarakat di Jayapura sudah memahami potensi anggrek untuk meningkatkan taraf perekonomian. Dari perjalanan panjang mengumpulkan anggrek batang demi batang, rumpun demi rumpun, para petani anggrek di Kampung Dosay memegang ketekunan, meski saat itu pemasaran anggrek juga belum stabil. Mereka mengakui bahwa merawat anggrek adalah panggilan jiwa. Saat ini, melalui Kelompok Desa Binaan Dambu Kahbrai, para petani anggrek di Kampung Dosay telah meraih beberapa prestasi penting. Kelompok Dambu Kahbrai mendapatkan penghargaan sebagai Desa Binaan Terbaik II tingkat nasional, dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, tahun 2023. Kemudian, pada tahun 2024, kelompok Desan Binaan Dambu Kahbrai juga membawa Kampung Dosay meraih penghargaan Kampung Iklim Utama dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Lebih dari itu, satu hal yang sangat menggembirakan adalah pada Oktober 2024 Kelompok Desa Binaan Dambu Kahbrai telah mendapatkan izin penangkaran dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. “Izin penangkaran ini menjadi dasar bagi Kelompok Dambu Kahbrai bisa melakukan budidaya anggrek secara legal, dan nantinya bisa mengajukan izin edar,” kata Zsa Zsa Fairuztania, Penyuluh Kehutanan pada BBKSDA Papua, sekaligus pendamping Kelompok Desa Binaan Dambu Kahbrai. Zsa Zsa menjelaskan, proses mendapatkan izin penangkaran dimulai dari mendampingi kelompok menyusun AD/ART, mengajukan Akta Koperasi, menyusun proposal, dan melengkapi berkas, seperti NIB dan NPWP. Setelah semuanya lengkap, barulah izin penangkaran diajukan melalui aplikasi Online Single Submission (OSS). Setelah pengajuan berkas, Kelompok Dambu Kahbrai harus bersabar menunggu selama proses verifikasi. Sekarang izin penangkaran sudah diperoleh. Zsa Zsa mengharapkan ini menjadi pemacu semangat untuk terus berjuang, berkarya, dan mendukung berbagai kegiatan konservasi, terutama dalam hal keanekaragaman hayati tumbuhan anggrek endemik Jayapura dan Papua. Semangat itu semakin nyata, dan musim semi kian semarak ketika Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, berkunjung ke Kelompok Desa Binaan Dambu Kahbrai. Kunjungan berlangsung pada Sabtu, 23 November 2024. Sosok Menteri yang bersahaja dan inspiratif itu menyampaikan pesan berisi semangat, juga terima kasih kepada Kelompok Desa Binaan Dambu Kahbrai yang telah memberikan dedikasi terhadap konservasi. Sementara itu, Kepala Balai Besar KSDA Papua, A.G. Martana, mengungkapkan apresiasi dan rasa syukur atas semua pencapaian Kelompok Desa Binaan Dambu Kahbrai. “Terima kasih kepada Bapak Menteri Kehutanan beserta rombongan, atas kunjungan dan pesan-pesan semangat yang disampaikan kepada Kelompok Dambu Kahbrai. Kami berharap, semua hal baik ini terus dipertahankan dan ditingkatkan. Ini menjadi salah satu bukti bahwa masyarakat memang berperan penting sebagai ujung tombak konservasi,” ungkap Martana.(dd) Sumber: Balai Besar KSDA Papua Call Center BBKSDA Papua: 0823 9770 9728
Baca Berita

Gawe Kader Konservasi Rinjani 2024

Mataram, 25 November 2024. Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) bersama Forum Kader Konservasi Balai TNGR (FK2BTNGR) melaksanakan kegiatan "Gawe Kader Konservasi Rinjani 2024" di destinasi wisata alam non pendakian Otak Kokok Joben Resort Tetebatu, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II, Taman Nasional Gunung Rinjani, Sabtu (23/11). Giat ini dihadiri langsung Kepala Balai TNGR sebagai upaya penyadartahuan konservasi kepada masyarakat. Adapun salah satu bentuk rangkaian kegiatan Gawe Konservasi ini berisikan lomba mewarnai satwa dengan peserta berasal dari PAUD/TK/RA, games edukasi, senam, serta sosialisasi peduli sampah, lingkungan dan pelestarian satwa. Ragam kegiatan ini diharapkan mampu mengedukasi sejak dini untuk mencintai tumbuhan dan satwa yang ada di alam serta mewujudkan Taman Nasional Gunung Rinjani yang lestari dan zero waste. Sumber: Balai Taman Nasional Gunung Rinjani

Menampilkan 657–672 dari 11.141 publikasi