Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Membekali Pemandu Wisata Air Terjun Lapopu dengan Penampilan Prima

Waingapu. 6 November 2018. Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Waibakul Abdul Basit Nasrianto, S.Hut., M.Sc yang didampingi Kepala Resort Waimanu Bayu Kurniwan, S.Hut melakukan Pembinaan untuk Kelompok Pemandu Wisata (Kompepar) Air Tejun Lapopu sekaligus membekali mereka dengan seragam berupa rompi lengkap dengan identitas sebagai pemandu di shelter wisata air terjun Lapopu. Bekal tersebut didasari arahan Kepala Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) Maman Surahman S.Hut., M.Si, bahwa selain syarat fisik atau penampilan, seorang pemandu juga harus memenuhi syarat kepribadian seorang Pemandu yang harus memiliki kecakapan dalam berkomunikasi, kesopanan, keramahan, senyum kepada para pengunjung sehingga para wisatawan akan merasa aman dan nyaman. Selain membekali penampilan para pemandu wisata, Tim juga melakukan pendampingan dalam mengawal pembuatan Ijin Usaha Penyedia Jasa Wisata Alam (IUPJWA) tentunya dengan beberapa syarat teknis yang perlu dipenuhi oleh para anggota Kompepar Lapopu diantaranya adalah anggota Kompepar wajib mempunyai NPWP yang pada kesempatan anggota Kompepar langsung mengisi formulir pengajuan NPWP secara bersama-sama didampingi petugas Resort, selain itu juga diperlukan adanya surat permohonan IUPJWA dan rekomendasi dari pihak terkait, ditargetkan nantinya akan ada 20 IUPJWA dari anggota Kompepar Lapopu serta 1 sampai dengan 3 penyedia jasa makanan/minuman/souvenir. Pesan yang terus digulirkan kepada para Pemandu Wisata Lapopu adalah untuk selalu menjaga dan menata lingkungan lokasi wisata agar tetap asri dan menjaga keamanan, ketertiban. Pemandu wisata memegang peran penting dalam kegiatan berwisata dan pada umumnya wisatawan cenderung mengandalkan pemandu untuk memperoleh informasi dan pengalaman dalam hidupnya apa yang belum pernah didengar atau dirasakan, oleh karena itu seorang pemandu wisata harus memiliki kecakapan tertentu dalam melakukan pekerjaannya, minimal ada dua syarat yang harus dipersiapkan dalam melakukan pemandu wisata, yaitu: syarat fisik atau penampilan. Kesan seseorang terhadap orang lain biasanya pertama-tama dipengaruhi oleh penampilan. Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa)
Baca Berita

Talkshow & Launching Buku Konservasi Burung Air

Banjarmasin, 5 November 2018 – Memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 2018 Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan (BKSDA Kalsel) bersama-sama Sahabat Bakantan Indonesia (SBI), Universitas Lambung Mangkurat, Fakultas Kehutanan IPB, Pemda Kab. Tapin, dan PT. Antang Gunung Meratus (AGM) melaksanakan kegiatan talksow tentang burung dan launching Buku Konservasi Burung Air yang disampaikan langsung oleh penulisnya Prof. Dr. Ir. Hadi S. Alikodra, MS. Kepala BKSDA Kalsel, Dr. Mahrus Aryadi, M.Sc memaparkan tentang keberadaan burung yang ada di alam di Kalimantan Selatan teridentifikasi sekitar 176 jenis dan yang dilindungi sekitar 65 jenis. “Burung air sendiri memang tidak menjadi perhatian saat ini, tetapi dengan keberadaan informasi yang detail dari buku yang ditulis oleh Prof. Dr. Ir. Hadi S. Alikodra, MS, saya kira tidak ada alasan bagi BKSDA Kalsel untuk mengabaikannya dan BKSDA Kalsel siap untuk membantu memfasilitasi Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) yang diinisiasi oleh IPB, Pemda Kab. Tapin, dan PT. AGM sebagai locus sekitar 90 Ha untuk bekantan dan burung air”, tutur Mahrus. “BKSDA Kalsel siap untuk memfasilitasi itu dan tentu juga ini menjadi role model bagi BKSDA Kalsel untuk tahun 2019”, tambah Mahrus. (jrz) Sumber : Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Taman Nasional

Kuningan, 6 November 2018. Selain mengurusi Pertanian Sehat, Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) juga mengadakan Mobil Sampah. Masalah terbesar dari "mass tourims" adalah sampah yang ditimbulkan aktifitas pengunjung wisata alam. Contohnya, sampah pendakian dari empat jalur setara dengan kapasitas angkut empat truk. Bila ditambah dengan lokasi wisata lain, tentu jumlahnya akan menggunung. Penanganan sampah organik mungkin lebih mudah dilakukan dengan memendam dalam tanah saja sudah tidak ada masalah. Sedangkan sampah anorganik yang mengandung bahan kimia cukup sulit dilakukan. Apalagi berada diketinggian yang cukup jauh. Bisa saja dibakar atau dipendam kalau sekedar tidak terlihat. Namun dampak lain akan muncul, yaitu tercemarnya ekosistem kawasan dan tercemarnya air di hulu. Melihat masalah ini, Balai TNGC mengambil langkah strategis dengan meningkatkan kapasitas masyarakat mitra yang mengusahakan jalur pendakian dan wisata alam lainnya dengan izin usaha penyedia jasa wisata alam yang mereka kantongi. Sejak tahun 2016 masyarakat mitra tersebut melakukan peningkatan pelayanan pengunjung wisata dengan penyesuaian harga tiket masuk. Ternyata strategi ini berhasil mengurangi tingkat sampah di jalur pendakian hingga mendapat predikat gunung terbersih di Indonesia. Plus pemerintah serta lembaga lain tidak perlu mengeluarkan anggaran untuk “acara bersih gunung”. Proses pengendalian sampah yang dilakukan Mitra Pengelola Wisata Gunung Ciremai (MPGC) dengan memilah sampah dan membawa sampah anorganik dari puncak gunung ke pos tiket dibatas kawasan. Hal ini dilakukan rutin setiap bulan dan khususnya setelah momen ramai pendakian pada hari – hari libur nasional. Ternyata masalah sampah belum selesai sampai gunung bersih karena sampah berpindah tempat dari gunung ke pos-pos pendakian di pintu masuk kawasan. Pos tersebut berada di ujung desa dekat batas kawasan yang tidak dijangkau oleh mobil pengangkut sampah instansi terkait. Protes warga sekitar pun menjadi masalah baru akibat bau dan pemandangan tidak sedap dari sampah yang menggunung dan semua menyalahkan pengelola wisata tentunya. Dari hal tersebut di atas akhirnya Balai TNGC mengajukan pengadaan kendaraan yang dapat mengangkut sampah dari pos pendakian ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah. Mekanisme pengangkutan sampah dikoordinasikan oleh Forum Ciremai di Kabupaten Kuningan dan Majalengka. Ternyata tidak hanya sampah yang berasal dari wisata pendakian saja yang diangkut, sampah di wisata lain pun ikut mendapat layanan pengangangkutan sampah tersebut. Proses pengadaan melalui e-katalog LKPP dengan pemilihan spesifikasi yang sesuai dengan akses jalan di kawasan taman nasional. Pengadaan tersebut termasuk jenis belanja barang yang akan diserahkan kepada masyarakat sebagai bentuk apresiasi pemerintah atas kepedulian kelompok masyakat yang telah ikut menjaga dan melestarikan taman nasional. Seperti pertanian sehat yang bakterinya bersumber dari dalam taman nasional tengah diterapkan untuk menjaga kesehatan ekologi kawasan, maka mobil pengangkut sampah juga ditujukan untuk menjaga kesehatan ekologi gunung Ciremai. Ayo kita buang sampah pada tempatnya untuk menggapai lingkungan hidup yang memiliki ekologi sehat, ekonomi sehat dan sosial sehat sehingga menjadi “budaya konservasi" [Teks © ISO; Foto & Video © Mufrizal & ISO - BTNGC | 112018]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Semarak Peringatan Hari Cinta Puspa Dan Satwa BKSDA Yogyakarta Melepasliarkan Elang Kembali Ke Habitatnya

Gunungkidul, 6 November 2018. Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta melepasliarkan sepasang Elang Ular Bido (Spilornis cheela) di komplek Stasiun Flora Fauna (SFF) yang termasuk bagian kawasan Taman Hutan Raya Bunder Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta pada hari Senin 5 November yang bertepatan dengan peringatan hari cinta puspa satwa nasional. Asal usul dari elang bido tersebut dari penyerahan masyarakat pada bulan April dan Oktober tahun 2016 silam. Raptor berjenis kelamin jantan dan betina ini sebelumnya direhabilitasi di Pusat Rehabilitasi Raptor SFF Bunder milik Balai KSDA Yogyakarta kurang lebih dua tahun. Setelah sekian lama direhabilitasi dan diobservasi baik kesehatan dan perilakunya, akhirnya kedua satwa tersebut direkomendasikan untuk bisa dikembalikan ke alam. Sebelumnya pada tanggal 30 Oktober 2018 juga dilakukan penandaan (tagging) pada elang tersebut sebagai tahap akhir sebelum dilepasliarkan. Penandaan menggunakan cincin/ ring pada kaki, sementara itu elang juga dipasang potongan kain kuning di bagian sayap lengkap dengan ID BKSDA Yogyakarta beserta nomor Handphone Quick Response. Proses penandaan digunakan untuk memudahkan monitoring pasca pelepasliaran, tutur Andie Chandra Herwanto Fungsional PEH BKSDA Yogyakarta. Kepala BKSDA Yogyakarta Ir. Junita Parjanti, MT mengatakan sangat mengapresiasi salah satu tujuan utama dari rehabilitasi satwa, yaitu pengembalian satwa liar ke alam. “Ini salah satu harapan dari kegiatan konservasi satwa liar, bahwa satwa dapat kembali lagi ke alam”, tuturnya. Lebih lanjut Ir. Junita mengatakan bahwa kegiatan pelepasliaran merupakan upaya pengawetan satwa. Selain itu Raptor merupakan top predator sehingga diharapkan akan membantu keseimbangan ekosistem. Pertimbangan pemilihan kawasan Tahura sebagai lokasi pelepasliaran tentunya juga menggunakan studi habitat meliputi ketersediaan pakan, kesesuaian habitat, keberadaan competitor dan potensi ancaman. Dari hasil pengamatan langsung di lapangan dan wawancara dengan masyarakat bahwa keragaman jenis pakan cukup melimpah meliputi dar kelompok burung, reptile dan mamalia. Lokasi pelepasliaran juga menyediakan pohon-pohon yang cukup besar untuk dpat digunakan sebagai tempat membangun sarang bagi elang ular bido. Selain itu walaupun di kawasan tahura bunder ada jenis raptor lain yang kadang melintas, kawasan tersebut masih cukup layak untuk menjadi lokasi pelepasliaran. Sementara itu untuk memantau pergerakan elang sudah dipersiapkan tim untuk monitoring pasca release secara periodik. Sumber : Andie Chandra Herwanto - PEH Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

Peringati Hari Cinta Puspa Dan Satwa, BBKSDA Jatim Lepasliarkan Rusa Timor

Sidoarjo, 6 November 2018. Dalam rangka memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasionan Tahun 2018, Balai Besar KSDA Jawa Timur melepasliarkan 4 ekor Rusa Timor (­Cervus timorensis) di Taman Hutan Raya (Tahura) R. Soerjo, 5 November 2018. Ini menjadi pelepasliaran tahap kedua setelah tahap pertama dilakukan pada 20 Oktober yang lalu sebanyak 6 ekor. Kesepuluh rusa merupakan hasil penangkaran KPH. Parengan dan Pertamina EP Asset 4 Cepu sebanyak 4 ekor, Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur 2 ekor, serta 4 ekor hasil pengembangbiakan Taman Sengkaling Unmuh Malang. Sebelum dilakukan pelepasliaran, rusa-rusa tersebut telah menjalani cek kesehatan, masa rehabilitasi, dan habituasi di lokasi pelepasliaran. Dalam sambutannya Kepala Balai Besar KSDA Jatim, Dr. Nandang Prihadi, S.Hut, M.Sc, mengatakan bahwa tujuan pelepasliarn ini untuk meningkatkan potensi konservasi jangka panjang dan mengembalikan fungsi ekologisnya. Selain itu, kegiatan ini menjadi promosi penyadartahuan kepada masyarakat bahwa satwa itu hidupnya di alam, dan mereka akan hidup bebas di habitatnya jika habitanya tetap terjaga dengan baik. “Pelepasliaran Rusa Timor menjadi contoh keterlibatan multi pihak baik itu pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN, civitas akademika, sektor swasta dan masyarakat dalam mendukung upaya pengawetan spesies satwa liar,” tambahnya. Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, Ir. Dewi J Putriatni, M.Sc. meminta keberadaan Tahura R. Soerjo harus dijaga bersama. Menurutnya, fungsi dan manfaat Tahura sangat besar, tidak hanya sebagai sarana pendidikan dan penelitaian, juga wisata yang bersifat edukatif. “Sebagai ikon tahura, pelepasliaran ini dapat menjadi informasi bahwa Tahura telah menjadi lokasi pelepasliaran rusa,” ujar wanita berkacamata ini. Sebelum prosesi pelepasliaran, dilakukan terlebih dahulu penandatanganan Berita Acara Pelepasliaran oleh Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur bersama berbagai pemangku kebijakan yang hadir. Selanjutnya, pelaksanaan pelepasliaran dilanjutkan di lokasi habituasi yang berada di Coban Watu Teyeng. Kepala BBKSDA Jatim bersama-sama Kepala Dinas Kehutan Provinsi, Kasdim Mojokerto, Kapolsek Pacet, dan Legal & Relation Manager PT. Petamina EP Asset 4 Cepu melakukan penarikan tali untuk membuka pintu kandang habituasi. Tak berapa lama 4 ekor Rusa Timor berlari keluar kandang dan masuk ke kawasan hutan Tahura. Muhammad Ibnu Wardhana, Legal and Relation Manager PT. Petamina EP Asset 4 Cepu, mengatakan bahwa program keanekaragaman hayati yang digagas pertamina untuk mensupport program pengembangbiakan Rusa Timor di KPH. Parengan. Juga untuk melestarikan satwa langka yang dilindungi, sehingga pengembangbiakannya menjadi lebih baik. “Harapannya, anak cucu kita tetap dapat melihatnya dan ikut melestarikan rusa-rusa ini,” ujarnya. Sumber : Agus Irwanto, Analis Data - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Elang Brontok Hadir Sebagai Kado Terindah

Kuningan, 6 November 2018. Elang brontok (Nisaetus cirrhatus) adalah salah satu jenis burung yang dapat dijumpai di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Burung ini jenis pemangsa dari family "Accipitridae". Oktober 2018, kehadiran Elang Brontok muda terdokumentasi di site Gunung Larang. Lokasi tersebut berada di Wilayah Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Majalengka. Site Gunung Larang merupakan salah satu lokasi pengamatan untuk jenis-jenis burung pemangsa (raptor) di TNGC seperti Elang Brontok, Elang Jawa (Nisaetus bartelsi), Elang Ular Bido (Spilornis cheela) dan Elang Hitam (Ictinaetus malayensis). Saat musim migrasi, jenis "raptor migran" pernah terdokumentasi sedang melintas yakni Sikep Madu Asia (Pernis ptilorhynchus), Alap Jepang dan Alap Cina (A. gularis). Elang Brontok sendiri merupakan salah satu jenis burung pemangsa yang telah terdokumentasi di lokasi ini. Sarangnya telah dijumpai serta dilakukan pengamatan secara terus menerus oleh Pengendali Ekosistem Hutan (PEH). Keberadaan pohon sarang di lokasi ini mulai tercatat pada tahun 2013 dimana saat itu sarang telah ditinggalkan. Lalu di 2014 tidak ada aktifitas burung ini yang teramati di sarang tersebut. Pengamatan yang dilakukan pada 2015 teramati keberadaan lokasi sarang yang baru dan keberadaan anaknya setelah sang elang muda meninggalkan sarang. Selama pengamatan 2016 tidak dijumpai adanya aktifitas di sarang yang telah ditinggalkan itu. Di pengamatan yang dilakukan pada 2017 ternyata sarang berpindah ke lokasi baru yang masih berada di Site Gunung Larang, sekitar 500 meter ke arah Barat. Pohon yang digunakan sebagai tempat sarang dalah pohon Pingku yang tumbuh di pinggiran jurang dan berbatasan dengan lahan perkebunan masyarakat. Sejak saat itu sarang kembali ditinggalkan. Namun selama pengamatan yang dilakukan di tahun 2017 sampai dengan pertengahan tahun 2018, aktifitas Elang brontok mulai terlihat kembali dan sering terdengar suara anaknya yang bersahutan dengan induknya. Akhirnya burung ini kembali terdokumentasi pada tanggal 19 Oktober 2018 sedang belajar terbang di sekitar site Gunung Larang dengan lokasi sarang baru yang berjarak sekitar 500 meter ke arah Selatan dari pohon sarang yang sudah teramati pada tahun 2017. Pohon yang digunakan sebagai pohon sarang adalah pohon Pinus dengan ketinggian sarang sekitar 20 meter dari atas permukaan tanah. Kehadiran sang Elang Brontok muda pada 19 Oktober 2018 bertepatan dengan hari ulang tahun TNGC yang ke 14. Hal ini menjadi kado terindah dari alam [Teks & Foto © Robi Gumilang-BTNGC| 112018]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Tersisip Diantara Keranjang Sayur, BKSDA NTB Amankan 21 Keranjang berisi Satwa Liar

Mataram, 6 November 2018. Berdasar kepada informasi dari Masyarakat, Pukul 3 Dini hari Petugas Pengamanan TSL Polhut BKSDA NTB menunggu kedatangan satu angkutan truk di Pelabuhan Lembar yang akan berangakat menuju Bali. Berdasar informasi bahwa truk membawa muatan sayur telah disisipi dengan keranjang-keranjang lain yang berisi satwa liar. Dalam perjalanan Truk menuju Pelabuhan Lembar, Truk diminta untuk berhenti oleh Petugas BKSDA NTB yang kemudian melakukan pemeriksaan yang dibantu oleh satu personil Kepolisian Pelabuhan Lembar. Sopir yang berinisial RR warga Kediri pun tak bisa mengelak ketika petugas benar menemukan keranjang yang berisi satwa liar jenis burung diantara tumpukan keranjang-keranjang sayur. Tak hanya sampai disitu, masih dihari yang sama setelah pengamanan truk. Petugas BKSDA NTB kembali memeriksa satu bus antar provinsi yang juga di dalamnya ditemukan satu keranjang yang juga berisi satwa liar. Dan dari Pengamanan dua kendaraan tersebut, total berhasil diamankan 21 keranjang dengan jumlah burung 308 ekor, dengan rincian satwa liar yang dilindungi berjumlah39 ekor, dengan rincian Poksai 6 keranjang dengan jumlah 33 ekor dan Jalak Suren 1/2 keranjang isi 6 ekor (satu keranjang dengan kacer). Sedangkan jumlah satwa liar yang tidak dilindungi berjumlah 269 ekor, dengan rincian Parkit 5 keranjang jumlah 100 ekor; Jalak Kebo 6 keranjang jumlah 120 ekor; Jalak Nias 1 keranjang jumlah 15 ekor; Puyuh 2 keranjang jumlah 30 ekor; dan Kacer 1/2 keranjang jumlah 4 ekor ( satu keranjang dengan Jalak Suren) Sumber : Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

BKSDA Kalsel Kembali Lepasliarkan Burung

Banjarbaru, 5 November 2018 – Dari hasil pengamanan teman-teman di Pelabuhan Trisakti ditemukan minimal ada 4 jenis burung yang merupakan temuan tanpa surat resmi (SATS-DN) sehingga dilakukan penyitaan burung tersebut dan segera dilepasliarkan karena kondisi burung cukup sehat. Jenis burung yang dilepasliarkan antara lain cucak ijo 5 ekor, cucak gantung 9 ekor, murai batu 5 ekor, dan kembang kapas 21 ekor. Pelepasliaran berada di lokasi Yonif 623 dihadiri oleh Wakil Komandan Dedy, Kepala BKSDA Kalsel, Dr. Mahrus Aryadi, M.Sc yang didampingi KSBTU BKSDA Kalsel, Suwandi, S.Hut, M.A, dan Kepala SKW II Banjarbaru, Mokh. Ridwan Effendi, S.Hut, M.Si. Kepala BKSDA Kalsel, Dr. Mahrus Aryadi, M.Sc mengharapkan pelepasliaran ke alam ini bisa terjaga oleh teman-teman Yonif 623 yang mempunyai kawasan luasnya sekitar 25 Ha. “Kami yakin teman-teman Yonif 623 akan menjaga keberadaan burung yang dilepasliarkan ini dan menjadikan kawasan mereka lebih asri, sejuk, dan dihadiri oleh bunyi-bunyi serta warna-warni jenis burung yang kita lepas di sana”, tutur Mahrus. (jrz) Sumber : Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Seekor Kukang (Nycticebus coucang) diserhakan oleh seorang pegawai Bank di Banda Aceh

Banda Aceh, 6 November 2018. Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh menerima seekor Kukang (Nycticebus coucang) yang diserahkan oleh Yaskur warga Komplek Geuce Kota Banda Aceh yang berprofesi seorang karyawan Bank di Kota Banda Aceh. Penyerahan satwa ini diterima oleh Drh Taing Lubis, MM merupakan staf BKSDA Aceh yang bertanggung jawab terhadap kesehatan satwa hasil penyelamatan yang ada di BKSDA Aceh yang didampingi oleh Rahmat, SH. Kukang (Nycticebus coucang) yang diserahkan berjenis kelamin betina perkiraan umur ± 3 (tiga) tahun dalam kondisi sehat dan saat ini satwa tersebut di tempatkan di kandang sementara di Kantor Balai BKSDA Aceh sebelum dilepasliarkan di habitatnya. Kukang (Nycticebus coucang) merupakan salah satu jenis satwa liar yang dilindungi dari Kelompok Mamalia Famili Lorisidae berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.92/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Perubahan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar Yang Dilindungi. Dalam katergori IUCN Kukang (Nycticebus coucang) berstatus rentan/vunreable (resiko tinggi terhadap kepunahan di alam liar) dengan penyebaran/distribusi meliputi Indonesia (Sumatera), Malaysia (Pulau Tioman), Thailand (Kra Southward) dan Singapura. Kami sangat mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh saudara Yaskur yang turut berkontribusi terhadap upaya perlindungan satwa liar untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Mengingat upaya perlindungan dan pelestarian keanekaragaman hayati yang ada di Provinsi Aceh khususnya dan di Indonesia bukan semata mata hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan akan tetapi menjadi amanah bagi seluruh warga negara sebagaimana yang diamanatkan di Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya. Sumber : Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh
Baca Berita

Upaya Penyelamatan Gajah Sumatera, Kepala BKSDA Aceh Beberkan Fakta Terkini

Banda Aceh, 6 November 2018. Bertempat di Aula FKIP Baru Universitas Syah Kuala Banda Aceh diselenggarakan Acara Seminar Nasional Lingkungan “Aktualisasi Peran Pemuda Dalam Upaya Penyelamatan Gajah Sumatera” yang diselenggarakan oleh UKM PERS DETak Unsyiah. Pada acara tersebut Kepala BKSDA Aceh Sapto Aji Prabowo, S.Hut, M.Si mewakili unsur pemerintah menjadi salah satu narasumber terkait Peran Pemerintah dalam Upaya Konservasi Gajah. Diharapkan melalui kegiatan ini, peran serta masyarakat khususnya para pemuda sebagai generasi penerus dapat lebih menyuarakan/mengkampanyekan upaya konservasi keanekaragaman hayati khususnya Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) baik di Provinsi Aceh maupun di Provinsi lain yang ada di Pulau Sumatera. Dalam paparannya Kepala Balai BKSDA Aceh menyampaikan penyelenggaraan fungsi Balai Konservasi Sumber Daya Alam di wilayah kerja salah satunya Pengelolaan jenis tumbuhan dan satwa liar beserta habitatnya serta sumberdaya genetik dan pengetahuan tradisional termasuk upaya konservasi Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) didalamnya. Selain hal-hal tersebut dalam paparannya Kepala BKSDA Aceh menyampaikan fakta-fakta terkini kondisi Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) khususnya yang ada di Provinsi Aceh diantaranya : Habitat gajah semakin berkurang dan terfragmentasi ; 85% (Delapan Puluh Lima Persen) populasinya berada diluar kawasan konservasi bahkan kawasan hutan ; Konflik antara manusia dan gajah liar hampir terjadi setiap hari ; Masyarakat menganggap gajah sebagai hama ; Perburuan gading gajah semakin marak. Serta tidak lupa dalam paparannya Kepala BKSDA Aceh menyampaikan beberapa upaya yang telah dilakukan dalam upaya konservasi Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) di Provinsi Aceh seperti : Konsep Sanctuary di Habitat Gajah Sumatera Saat ini ; Pemasangan Global Positioning System (GPS) Collar pada Kelompok Gajah Liar di Cot Girek Kabupaten Aceh Utara, Mila Kabupaten Pidie dan Sampoinet Kabupaten Aceh Jaya ; Pembentukan Conservation Response Unit (CRU) untuk penanganan Konflik Gajah dengan Manusia ; Pembangunan Barrier pada Koridor Gajah Sumatera di beberapa Kabupaten) ; Memberi Masukan kepada para petani yang berada disekitar habitat gajah liar untuk memilih jenis tanaman yang tidak disenangi oleh gajah. Sumber : Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh
Baca Berita

Balai Besar KSDA Riau Bersama Packard Foundation Kunjungi TN Zamrud

Pekanbaru, 1 November 2018. Beberapa personil Seksi Konservasi Wil. IV Balai Besar KSDA Riau dipimpin langsung oleh Kepala Seksi, M. Zanir mendampingi Tim Packard Foundation turun ke TN, Zamrud, Desa Dayun dan Pemkab Siak. Packard Foundation adalah suatu yayasan swasta internasional yang memberikan hibah kepada organisasi nirlaba dimana salah satunya bertujuan untuk melestarikan dan memulihkan sistem alami bumi. Sambil menikmati keindahan alam TN Zamrud, rombongan mendapat penjelasan tentang sejarah, potensi kawasan, masyarakat sekitar kawasan dan langkah-langkah pengelolaan kawasan yang telah dilakukan oleh Balai Besar KSDA Riau. Kemudian rombongan berkunjung ke Desa Dayun salah satu Desa Penyangga TN Zamrud/Desa Binaan Balai Besar KSDA Riau. Selain mendapatkan informasi tentang upaya-upaya yang telah dilakukan oleh desa dalam penanganan karhutla, Desa Dayun juga telah bekerjasama dengan beberapa LSM/NGO dan telah meningkatkan ekonomi masyarakat dengan tetap menjaga kelestarian TN Zamrud sebagai salah satu tempat pencaharian ekonomi masyarakat desa. Untuk kedepannya, bersama Pemkab Siak akan mengembangkan sektor pariwisata dengan konsep tetap mengedepankan kelestarian lingkungan TN Zamrud. Salam Lestari! Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Dirjen KSDAE Hadiri Gelaran Kemitraan Konservasi TN Bantimurung Bulusaraung

Camba, 5 November 2018. Bertempat di lapangan SD Negeri 247 Pattiro, Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung gelar pertemuan dengan kelompok tani hutan zona tradisional taman nasional di Dusun Pattiro. Dusun ini secara administrasi berada di Desa Labuaja, Kecamatan Cenrana, Maros. Kegiatan penandatanganan perjanjian kerjasama ini berlangsung pada Sabtu (3/11/2018). Kegiatan yang dihadiri Direktur Jenderal (Dirjen) KSDAE ini berlangsung meriah, mengingat pengesahan perjanjian kerjasama kemitraan konservasi ini telah lama ditunggu oleh banyak pihak. Kemitraan konservasi ini telah ditunggu sejak pengesahan zonasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung pada tahun 2011. Tak hanya masyarakat Dusun Pattiro, sejumlah masyarakat dari desa penyangga taman nasionalpun turut hadir. Masyarakat Desa Patanyamang, Desa Barugae, Desa Bontomasunggu adalah beberapa di antaranya. Tak kurang dari 300 orang hadir di ruang terbuka ini. Tokoh masyarakat, Muspika Kecamatan Cenrana, Muspika Kecamatan Camba turut hadir memenuhi undangan. Masyarakat yang bermukim di Dusun Pattiro juga berbondong-bondong mengikuti rangkaian acara. Dirjen KSDAE, Wiratno, didampingi Direktur Kawasan Konservasi, Tandya Tjahyana bersama rombongan antusias mengikuti acara yang digelar di daerah penyangga taman nasional ini. Tak ketinggalan kepala unit pelaksana teknis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di lingkup Sulawesi Selatan turut hadir. Hadir juga Prof. Yusran Yusuf, Dekan Fakultas Kehutanan Univeritas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Direktur TLKM Unhas, Ketua FK2TN Babul, dan Sekjen Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat. Juga hadir Kepala Dinas Pertanian Maros mewakili Bupati Maros. Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung menyampaikan laporannya selaku ketua pelaksana. “Kami sampaikan selamat datang pada acara penandatanganan perjanjian kerjasama (PKS) antara Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dengan kelompok tani hutan yang berada di sekitar kawasan taman nasional,” sambut Yusak Mangetan, Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Saat ini Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung memiliki luasan 4.374,05 hektar zona tradisional. Pada zona ini memungkinkan masyarakat turut serta melakukan budidaya tradisional. Tentunya melalui mekanisme perjanjian kerjasama. Taman nasional ini mememiliki sedikitnya 48 desa penyangga yang dihuni sedikitnya 25.000 kepala keluarga. Kemitraan konservasi pada zona tradisional taman nasional tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintahan Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo. Di mana kabinet ini menargetkan pemberian akses kelola kepada masyarakat dan pemanfaatan sumberdaya alam yang tersedia di dalam kawasan konservasi. Kemitraan konservasi juga seiring dengan kebijakan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta regulasi Direktur Jenderal KSDAE tentang Kemitraan Konservasi. “Bekerjasama dengan TLKM dan Food and Agriculture Organization kami telah membentuk dan meningkatkan kapasitas kelompok masyarakat ini,” tambah Yusak. Pada moment berharga ini dilakukan sejumlah penandatanganan dokumen PKS antara Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dengan sejumlah kelompok tani hutan. Setidaknya ada 11 dokumen PKS yang ditandatangani. Kelompok yang bekerjasama dengan kawasan konservasi ini di antaranya: Kelompok Tani Hutan (KTH) Bukit Harapan, KTH Bulu Tanete, KTH Pattiro Bulu, KTH Tunas Muda, KTH Banga-banga, KTH Labongke, KTH Patanyamang I, KTH Patanyamang II, KTH Sonrae, KTH Wanua Deceng, dan Kelompok Pengelola Ekowisata (KPE) Lamassua. Ke-11 proposal yang diajukan kelompok telah melalui tahapan verifikasi sesuai dengan aturan yang berlaku. Fokus pemanfaatan kelompok-kelompok yang berada di zona tradisional ini di antaranya: pemanfaatan madu, bambu, aren, kemiri, getah pinus, pakan ternak, budidaya palawija, dan tanaman obat. Terdapat satu kelompok yang berfokus mengelola jasa wisata terbatas yakni KPE Lamassua. Dirjen KSDAE, Wiratno, berkesempatan memberikan arahan sekaligus mengajak diskusi dengan kelompok tani hutan yang hadir. Dengan gaya khasnya, Dirjen mulai memanggil anggota kelompok, kepala resor hingga kepala sekolah yang menjadi lokasi penyenggaraan acara untuk berdiskusi. “Kami berharap pihak taman nasional mau mengambil peran mendidik siswa-siswi kami tentang pendidikan konservasi. Kami bisa memfasilitasi melalui muatan lokal,” harap Abidin, Kepala SD Negeri 247 Pattiro. “Saya kira ini memungkinkan bagi teman-teman Bantimurung Bulusaraung. Para siswa perlu mengetahui bahwa dahulu salah seorang ilmuan besar Inggris, Alfred Russel Wallace, pernah bertandang ke Bantimurung dan sekitarnya. Mempelajari alam dan kupu-kupu di sini. Ia menginspirasi Charles Darwin dengan temuannya mengelilingi Nusantara. Yang pada akhirnya tercetuslah ‘teori seleksi alam’ berkat suratnya yang terkenal dengan ‘the letter of Ternate’,” pungkas Wiratno. Melalui diskusi spontan tersebut, Dirjen mampu memberikan solusi yang dihadapi kelompok tani hutan ini. Sebut saja seperti kendala bibit yang dihadapi oleh salah satu kelompok tani, dengan kesediaan Kepala BPTH Sulawesi memenuhi permintaan bibit tersebut. “Kami memiliki persediaan bibit pada persemaian permanen di Desa Samangki. Kami bisa memenuhi permintaan kelompok tani di sini,” ujar Joko Irianto, Kepala BPTH Sulawesi. Kepala P3E Sulawesi Maluku dan Kepala Balai PSKL Sulawesi juga menyampaikan kesediaannya untuk memberikan bantuan kepada kelompok tani hutan dan SD 247 Pattiro. “Kami siap membantu program pendidikan konservasi di sekolah ini,” tutur Dharhamsah, Kepala P3E Sulawesi Maluku. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung juga memiliki program visit to school. “Kami akan menyasar sekolah-sekolah yang berada di daerah penyangga untuk memberikan didikan konservasi bagi para siswa,” kata Husain, Kepala SPTN Wilayah II Camba. Saat kepala resor dan kepala seksi lingkup taman nasional tampil di depan umum bersama Dirjen, ia mengenalkannya kepada masyarakat yang hadir. “Ini adalah teman-teman dari Bantimurung Bulusaraung. Jika butuh informasi tentang kawasan taman nasional, jangan segan-segan bertanya kepada mereka. Petugas taman nasional harus dekat dengan masyarakat,” tegas Wiratno. “Saya berharap kemitraan konservasi ini terus berlanjut dan kedua belah pihak memperoleh manfaat. Instansi lain yang mampu memberikan sumbangsih juga bisa berperan,” tambahnya. Penandatanganan dokumen antara pihak taman nasional dengan sejumlah kelompok tani hutan pun dilakukan secara bergantian hingga berjalan tertib. Pada acara penutup sejumlah pejabat yang hadir melakukan penanaman pohon di halaman sekolah dasar ini. Semoga dengan terjalinnya kerjasama ini mampu mendongkrak pendapatan masyarakat sekitar hutan. Dengan begitu masyarakat juga turut serta menjaga hutan karena telah mendapat manfaat akan kehadirannya. Sumber: Taufiq Ismail – PEH Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

Balai TN Kayan Mentarang Berikan Pembinaan dan Penyegaran Terhadap MMP di 3 Resort

Malinau, 6 November 2018. Upaya perlindungan dan pengamanan kawasan konservasi Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) terus di galakan bersama masyarakat adat secara kolaboratif oleh Balai Taman Nasional Kayan Mentarang, di samping juga keterlibatan Pemerintah Daerah bersama DP3K TNKM dalam skema pengelolaan kolaboratif ini. Dengan luas kawasan 1,27 Hektar sangat di butuhkan kerjasama para pihak dalam upaya pengamanan dan perlindungan kawasan. Oleh karena itu Balai TNKM memberdayakan masyarakat adat disekitar kawasan TNKM melalui kemitraan konservasi berupa Masyarakat Mitra Polhut (MMP) yang telah terbentuk sejak tahun 2008 lalu. Hingga saat ini, tercatat jumlah MMP BTNKM sebanyak 96 orang yang bertugas di 3 Seksi Pengelolaan TN Kayan Mentarang. Penyegaran dan pembinaan pun di laksanakan untuk meningkatkan kemampuan masing-masing MMP dalam melaksnakan tugas di lapangan. Seperti kegiatan Pembinaan dan penyegaran MMP yang telah di laksnakan pada pertengahan bulan oktober lalu, yang kegiatannya di pusatkan di kantor Balai TNKM dan di Pusat Informasi TNKM di Kilometer 8. Kegiatan yang berlangsung selama kurang lebih 3 hari itu di hadiri oleh 25 orang peserta dari 3 (tiga) wilayah resort. Yakni Resort Sungai Tubu, Resort Long Berang dan Resort Tau Lumbis. Dalam kegiatan tersebut disampaikan beberapa materi pelajaran di ruangan seperti pengelolaan kolaboratif TNKM, Patroli Perlindungan dan Pengamanan hutan, Nilai-nilai budaya adat istiadat dalam kegiatan konservasi, pembinaan masyarakat dalam Kamtibmas, dan tindak pidana kehutanan. Kemudian di lanjutkan materi praktek meliputi kesamaptaan, simulasi patroli hutan, dan pembuatan laporan patroli. Pemateri selain berasal dari internal BTNKM, juga dari FoMMA (Forum Musyawarah Masyarakat Adat) TNKM, dan Polres Malinau (Satuan Binmas dan Satuan Tipidter). Kegiatan Pembinaan dan penyegaran MMP di lakukan secara bertahap, baik di laksanakan di masing-masing SPTN maupun di Balai TNKM dengan melihat kebutuhan kegiatan. Di harapkan dari kegiatan ini masing-masing MMP mampu melaksanakan patroli perlindungan dan pengamanan kawasan TNKM serta mampu berkoordinasi baik ke BTNKM maupun aparat keamanan setempat. TNKM merupakan kawasan hutan yang terbentang luas di sepanjang garis perbatasan Indonesia-Malaysia di Provinsi Kalimantan Utara yang selama ini kelestariannya di jaga oleh suku dayak yang berada di sekitar kawasan penyangga. Bagi suku Dayak di kawasan penyangga TNKM, hutan merupakan sumber penghidupan, yang artinya hutan memberikan dan menyediakan segala kebutuhan manusia, baik sumber protein nabati maupun protein hewani. Oleh karena itu pemberdayaan masyarakat adat sebagai MMP adalah upaya strategis dalam mengoptimalkan perlindungan dan pengamanan kawasan. di samping keterbatasan tenaga pengamanan hutan serta keterbatasan aksesibilitas menuju kawasan. Sumber : Balai Taman Nasional Kayan Mentarang
Baca Berita

Menyambut Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional, Resort Konservasi Wilayah XV Pusat Latihan Gajah Padang Sugihan Jalur 21 Mendapat Keluarga Baru

Padang Sugihan, 6 November 2018. Menyambut Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional, Satu ekor anak Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) kembali lahir secara alami di Resort Konservasi Wilayah XV Pusat Latihan Gajah (PLG) Padang Sugihan Jalur 21, Sumatera Selatan. Berjenis kelamin jantan, gajah ini dilahirkan di di kawasan PLG Padang Sugihan jalur 21 yang merupakan bagian dari Suaka Margasatwa Padang Sugihan yang dikelola oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), hari sabtu yang lalu yang lalu (3/11/2018). Dengan adanya kelahiran gajah ini menandakan keberhasilan upaya konservasi oleh Balai KSDA Sumatera Selatan ,kondisi habitat dan sumber pakan yang terpenuhi sehingga dia mampu berkembangbiak dengan baik . Kelahiran gajah ini, menambah jumlah jumlah gajah di RKW XV PLG Padang Sugihan Jalur 21 menjadi 31 ekor. Saat ini kondisi anak gajah dalam kondisi sehat, aktif dan sudah langsung menyusu pada induknya. Anak gajah yang berasal dari indukan betina Ronika dan indukan jantan Jimmy ini, memiliki berat badan 98 kg tinggi badan 90 cm dan lingkar dada 107 cm. Dengan adanya kelahiran gajah ini menambah semangat Balai KSDA Sumatera Selatan untuk meningkatkan upaya konservasi Gajah Sumatera khususnya di Resort Konservasi Wilayah XV Pusat Latihan Gajah Padang Sugihan Jalur 21. Harapan besar Balai KSDA Sumatera Selatan sematkan di kawasan ini dalam upaya konservasi sehingga kedepan gajah yang berada di RKW XV PLG Padang Sugihan Jalur 21 ini dapat dilepasliarkan dan mampu bertahan hidup serta berkembang biak di Suaka Margasatwa Padang Sugihan. Saat ini BKSDA Sumatera Selatan mengelola dua lokasi konservasi gajah yaitu Resort Konservasi Wilayah XV Pusat Latihan Gajah Padang Sugihan Jalur 21 Kabupaten Banyuasin dengan jumlah Gajah 31 Ekor dan Resort Konservasi Wilayah IX Pusat Latihan Gajah Bukit Serelo di Kabupaten Lahat dengan jumlah 10 Ekor. Seperti yang kita ketahui Gajah Sumatera merupakan ‘spesies payung’ di Suaka Margasatwa Padang Sugihan bagi habitatnya dan mewakili keragaman hayati di dalam ekosistem yang kompleks tempatnya hidupnya. Gajah Sumatera merupakan satwa dilindungi, dan berstatus Kritis (Critically Endangered) menurut IUCN, serta tercantum dalam lampiran I CITES. Hilangnya habitat menjadi ancaman utama menurunnya populasi gajah, selain perburuan, dan konflik manusia dan satwa liar gajah. Semoga dengan upaya yang terus menurus dan berkesinambungan gajah sumatera mampu bertahan hidup dan berkembang biak di alam. Sumber : Taufan Kharis - PEH BKSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Monitoring Gajah Sumatera oleh BKSDA Jambi dan Mitra

Sarolangun, 5 November 2018. Selama tanggal 17-23 Oktober 2018 Tim BKSDA (Polhut Sdr. Asib dan Agus Tubel) bersama Tim FZS dan YKSLI melakukan monitoring terhadap Gajah Sumatra (elephas maximus sumatrensis) berinisial L yang telah di translokasi di Lansekap Hutan Harapan PT. REKI. Pada tanggal 17 Oktober Gajah terpantau oleh tim masih berada di dalam kawasan PT. REKI dan berada di lokasi yang aman sehingga tim hanya melakukan monitoring posisi Gajah pada hari itu. Keesokan hari pada tanggal 18-19 Oktober tidak ada update lokasi Gajah L sehingga tim hanya melakukan kegiatan patroli dan sosialisasi terhadap masyarakat yang bermukim disekitar lokasi pelepasan gajah. Pada tanggal 20 Oktober, Gajah L masih belum mengirim koordinat lokasi maka tim dari FZS dan YKSLI mengusulkan untuk pengecekan langsung ke lapangan terhadap posisi terakhir Gajah L yang terekam. Tim khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terhadap Gajah L mengingat bahwa masayarakat daerah tersebut banyak memiliki senjata api rakitan jenis kecepek. Menanggapi usulan tersebut, tim BKSDA Jambi berkonsultasi dengan Kepala SKW I dan Koordinator Polhut Balai KSDA Jambi mengingat posisi Gajah masuk kedalam Provinsi Sumatera Selatan (di luar wilayah kerja Balai KSDA Jambi). Tim mendapatkan arahan untuk tidak bergerak dahulu sebelum ada konfirmasi antara Balai KSDA Jambi dan Balai KSDA Sumatera Selatan. Pada tanggal 21 Oktober akhirnya Gajah L mengirimkan koordinat lokasi. Pada malam sebelumnya terjadi hujan lebat di kawasan PT. REKI dan sekitarnya, perkiraan tim adalah radio collar yang dipasang pada Gajah L tertutup lumpur sehingga mengganggu fungi dari GPS tersebut sehingga tidak bisa mengirim koordinat. Selanjutnya tim melakukan patroli ke arah Gajah L namun tidak sampai bertemu dikhawatirkan akan mengganggu satwa tersebut. Pada tanggal 22-23 Oktober posisi Gajah L terpantau berada dikawasan PT. REKI sehingga tim hanya melakukan patroli dan sosialisasi ke masyarakat. Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa TN Matalawa Menggandeng Laskar Matalawa Untuk Melakukan Kampanye di Jalan.

Sumba, 5 November 2018. Hari cinta puspa dan satwa dimaknai sebagai hari yang bertujuan untuk meningkatkan kepedulian, perlindungan, pelestarian puspa dan satwa nasional sekaligus menumbuhkan, dan meningkatkan akan pentingnya puspa dan satwa dalam kehidupan manusia.Peringatan ini dilaksanakan tepat pada hari ini, dan diikuti oleh 100 pegawai dan staff TN Matalawa, tamu undangan baik Camat, Kepala Desa sekitar Kambatawundut, Ketua KMPH, Forum Jamatada, Burung Indonesia dan juga sekolah sekolah sekitar kawasan baik SD, SMP, dan SMA yang dinobatkan sebagai laskar Matalawa. Kampanye ini dilakukan dijalan sekitar kawasan TN Matalawa khususnya di depan resort Kambatawundut. Selain melakukan kampanye dijalan juga dilakukan kegiatan penanaman pada lahan yang gundul sehingga diharapkan lahan tersebut kembali hijau sekaligus menjadi habitat bagi satwa -satwa nantinya. Pentingnya memperkenalkan puspa dan satwa kepada khayalayak ramai oleh generasi muda adalah capaian yang ingin dilakukan TN Matalawa. Hal ini pun membuktikan bahwa bibit bibit baru dalam menjaga lingkungan sudah mulai terpatri pada anak anak usia dini untuk menyebarkan virus mencintai lingkungan. Sehingga bisa menjadi contoh yang baik dalam lingkungan sekitarnya untuk menjaga dan melestarikan puspa dan satwa alam Sumba. Sumber : Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti

Menampilkan 6.689–6.704 dari 11.140 publikasi