Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Kesigapan Tim WRU BKSDA Kalbar Tanggapi Keberadaan Lumba-Lumba (Delphinus delphis) di Kecamatan Jawai Selatan

Sambas, 7 November 2018. Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai KSDA Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah 3 bergerak menuju Kec. Jawai Selatan pada pukul 07.00 WIB dan tiba di lokasi pukul 09.45. Setiba di lokasi, tim langsung berkoordinasi dengan Kepolisian Sektor Jawai Selatan untuk mengecek informasi adanya pedagang di pasar ikan yang menjual daging lumba-lumba. Hasil penelusuran menemukan bahwa benar adanya penjualan daging lumba-lumba pada hari selasa (6/11) oleh pedagang ikan berinisial YM. Penelusuran dilanjutkan dengan mendatangi rumah YM untuk dimintai keterangan. Sesampai dirumah YM, ia menjelaskan bahwa lumba-lumba yang ia jual berasal dari seorang nelayan bernama S. Lumba-lumba tersebut terjerat dipukat miliknya dan ditemukan sudah dalam kondisi mati. S kemudian menyerahkan kepada YM yang juga sebagai pemilik kapal yang digunakan oleh S. Bersama sang suami A, YM kemudian memotong tubuh lumba-lumba dan menjualnya. Tim kemudian meminta sisa barang bukti berupa daging lumba-lumba tersebut. Namun daging yang tersisa hanya seberat 300 gram. Selanjutnya tim beserta anggota Polsek Jawai Selatan dan PSDKP Kabupaten Sambas melakukan pembinaan dan menuangkannya dalam berita acara dan surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatannya. Barang bukti kemudian dibawa ke Polsek Jawai Selatan untuk dilakukan pemusnahan dengan cara dikubur di areal Polsek Jawai Selatan. Pada kesempatan ini tim WRU tidak lupa melakukan penyuluhan dan sosialisasi terkait tumbuhan dan satwa liar dilindungi terutama jenis-jenis ikan yang tergolong mamalia dan untuk segera menghubungi Call Center BKSDA Kalbar jika menemukan mamalia laut tersebut atau jenis lainnya. Sumber : Tim WRU SKW III, Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Perjumpaan Orangutan Sumatera dengan Tim Patroli KPHK

Takengon, 7 November 2018. Tim patroli Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHK) Lingga Isaq BKSDA Aceh yang terdiri dari 5 (Lima) orang personil beserta anggota Masyarakat Mitra Polhut (MMP) yang dipimpin oleh Kepala Resor KPHK 9 wilayah Linge Basri berjumpa dengan 2 (ekor) Orangutan Sumatera (Pongo pigmeus abelii) seekor induk dan anaknya di Taman Buru Lingga Isaq pada saat melaksanakan patroli rutin di wilayah tersebut. Orangutan Sumatera (Pongo pigmeus abelii) merupakan salah satu jenis satwa liar yang dilindungi dari Kelompok Mamalia Famili Hominidae berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.92/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Perubahan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar Yang Dilindungi. Dalam katergori IUCN Orangutan Sumatera (Pongo pigmeus abelii) berstatus kritis/critically endangered dengan penyebaran/distribusi meliputi Pulau Sumatera dengan Distribusi populasi terbesar mulai dari Provinsi Aceh meliputi Kabupaten Aceh Timur, Aceh Tengah, Aceh Tamiang, Gayo Lues, Aceh Tenggara, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Singkil dan Kota Subuluusalam sedangkan di Provinsi Sumatera Utara sendiri dsitribusi Orangutan Sumatera (Pongo pigmeus abelii) meliputi Kabupaten Langkat, Kabupaten Kabanjahe, Kabupaten Karo dan Kabupaten PakPak Barat. Jumlah Orangutan Sumatera sendiri di alam untuk saat ini diperkirakan berjumlah ± 13.846 individu dengan luasan habitat ± 16.775 km2 Berdasarakan catatan keberadaan Orangutan Sumatera (Pongo pigmeus abelii ) di Taman Buru Lingga Isaq tidak hanya dapat dijumpai di wilayah tersebut, keberadaan Orangutan Sumatera (Pongo pigmeus abelii ) juga dapat dijumpai di wilayah resor lainnya. Sumber : Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh
Baca Berita

Jajaki Peluang Kerjasama, Kepala Balai TN Babul Kunjungi Bupati Pangkep

Bantimurung, 7 November 2018. Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) kunjungi Bupati Pangkep untuk bersilaturahmi sekaligus menjajaki peluang kerjasama antara TN Babul dengan Pemerintah Kabupaten Pangkep Senin silam (5/11). Kepala Balai didampingi Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Baloccii dan beberapa staf bertemu dengan bupati di rumah jabatannya. Bupati tampak kasual didampingi Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Pangkep saat menjamu rombongan Kepala Balai TN Babul. Hasilnya, keduanya bersepakat untuk terus menjalin komunikasi. “Saya pikir TN Babul itu fungsinya hanya perlindungan saja. Saya baru tahu, kalau ternyata ada wilayah-wilayah tetentu yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat sekitarnya,” tutur Saymduddin A. Hamid, Bupati Pangkep. “Betul Pak, kami bekerja berdasarkan zonasi. Ada pembagian-pembagian wilayah. Zona pemanfaatan dan zona tradisional memungkinkan untuk kegiatan pemanfaatan hasil hutan bukan kayu, pemanfaatan jasa lingkungan seperti wisata alam. Tentunya melalui perjanjian kerjasama,” pungkas Yusak Mangetan, Kepala Balai TN Babul. Lebih lanjut Yusak memaparkan bahwa saat ini terdapat pedoman kemitraan konservasi yang diatur melalui Perdirjen Nomor P.6/KSDAE/SET/Kum.1/6/2018 tentang Petunjuk Teknis Kemitraan Konservasi pada Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam. Saat ini Balai TN Babul telah mengembangankan salah satu site wisata di Desa Biraeng, Pangkep. Nama site wisatanya adalah Kalibbong Aloa. Sebuah gua dengan mulut gua berada di ketinggian 100 meter pada dinding karst. Jadi harus manjat jika berminat menjelajahi gua dengan sajian ornamen cantiknya. Balai TN Babul selama ini telah bekerjasama dengan pemerintah Kabupaten Pangkep melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pangkep untuk pengembangannya. “Kami telah membentuk kelompok pengelola ekowisata di sana, namanya Kelompok Pengelola Ekowisata (KPE) Jene Tinaro. Anggota kelompoknya adalah pemuda Kelurahan Biraeng,” terang Iqbal Abadi Rasjid, Kepala SPTN Wilayah I Balocci. “Beberapa minggu lalu kami telah memberikan bantuan kepada KPE Jene Tinaro berupa bebarapa set alat panjat,” tambahnya. Penyerahan bantuan alat panjat tersebut dilakukan pada Jumat (19/10/2018) di kantor SPTN Wilayah I didampingi oleh Kepala Resort Minasa Tene, Chaeril. Selain itu di SPTN Wilayah I juga telah mengembangkan Desa Wisata Bonto Masunggu. Di mana telah dibentuk kelompok pengelolanya ke depan, nama kelompoknya adalah KPE Lamassua. Pesona utamanya adalah air terjun Lamassua. TN Babul mengelola Kawasan Pendakian Bulusaraung juga melibatkan pemerintah Desa Balocci dan Disbudpar Pangkep. “Ke depan moga kerjasama ini terus terjaga demi kemajuan wisata di wilayah Pangkep dan taman nasional. Tentunya masyarakat juga harus terlibat di dalamnya,” kata Ahmad Djaman, Kepala Disbudpar Pangkep. Sumber : Taufiq Ismail – PEH Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

BKSDA Jambi Terus Pantau Gajah L

Sarolangun, 3 November 2018. Tim BKSDA Jambi bersama mitra melakukan monitoring Gajah L di Lansekap PT. REKI Pos RKT 2004. 2 orang ditugaskan dari BKSDA Jambi untuk melakukan kegiatan monitoring tersebut yaitu Polhut SKW I BKSDA Jambi Sdr. Ikawa dan Fungsional Umum SKW I BKSDA Jambi Sdr. Ridwan. Kegiatan monitoring ini dilakukan selama 6 hari dari tanggal 2-7 November 2018. Kegiatan monitoring dilakukan untuk memantau situasi dan pergerakan Gajah L yang beberapa waktu lalu ditranslokasikan di kawasan Hutan Harapan PT. REKI. Pada tanggal 3 November pukul 02.27 WIB Gajah L berada di luar kawasan PT. REKi ke arah PT. BPP namun pada siang hari nya pada pukul 14.22 WIB Gajah L terpantau berada di afdeling 9 PT. ALN. Tim memutuskan untuk memeriksa lokasi Gajah L pada tanggal 4 November di afdeling 7 PT. ALN, setelah dilakukan pemeriksaan tidak ada ditemukan perusakan tanaman karet oleh Gajah L. Pada tanggal 5 November posisi Gajah L berada di Kawasan Konsesi PT. REKI Wil. Bato. Tim kemudian melakukan patroli ke Desa Pemusiran dan Desa Sepintun dan menemukan jejak serta kotoran Gajah dari kelompok Haris dan Jeni yang berjumlah 7 ekor berada di dekat kebun masyarakat. Tim melakukan sosialisasi terhadap masyarakat yang terkena terdampak kerusakan akibat kelompok Gajah Jeni dan Haris. Ketua RT 09 Sepintun Bpk. Slamet berharap ada bantuan untuk warga nya berupa meriam spritus untuk menghalau dan mengusir Gajah yang masuk ke kebun warga serta radio HT untuk mempermudah pemberitahuan kepada masyarakat desa. Pada tanggal 6-7 November posisi Gajah L terpantau masih berada dalam Kawasan PT. REKI wilayah Jambi. Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Tiga Minggu Aktif, BKSDA Sulteng Terima Sejumlah Satwa Liar

Palu, 6 November 2018. Sudah tiga minggu kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Tengah (BKSDA Sulteng) aktif Pasca Gempa, tsunami dan likuifaksi yang melanda Palu, Sigi dan Donggala. Tiga minggu bekerja, BKSDA Sulawesi Tengah telah menerima sejumlah satwa liar yang diserahkan masyarakat. Senin tanggal 5 November 2018, BKSDA Sulawesi Tengah menerima penyerahan satwa liar dari masyarakat berupa dua ekor burung Rangkong (Ryhticeros cassidix) yang terdiri dari 1 (satu) ekor betina dan 1 (satu) ekor Jantan. Berdasarkan wawancara dengan pemilik satwa liar ini bahwa burung ini diperoleh dari seorang teman dan telah dirawatnya selama 3 tahun. Pemilik satwa liar ini memutuskan untuk menyerahkan burung rangkong yang sudah lama dipeliharanya karena baru mengetahui kalo burung rangkong termasuk ke dalam satwa yang dilindungi undang-undang. Bahkan sebelumnya, sewaktu 5 hari pasca gempa tepatnya tanggal 3 Oktober 2018, BKSDA Sulawesi Tengah juga menerima 1 (satu) ekor burung kakak tua jambul kuning (Cacatua sulphurea) dari masyarakat yang mengaku melihat burung ini terbang disekitar pemukiman dan langsung menangkapnya dan menyerahkannya ke BKSDA Sulawesi Tengah. Besar dugaan burung ini lepas dari kandang dimana dia dipelihara. Burung-burung hasil penyerahan masyarakat ini untuk sementara di simpan di dalam kandang transit di kantor BKSDA Sulawesi Tengah untuk selanjutnya menungu kesiapan satwa untuk dilepasliarkan. Dengan adanya peningkatan kesadaran masyarakat yang secara sukarela menyerahkan satwa liar yang dilindungi undang-undang kepada BKSDA Sulteng, diharapkan dapat meminimalisir ancaman kepunahan tumbuhan dan satwa liar. Sumber : Balai KSDA Sulawesi Tengah
Baca Berita

Kura-kura Terbesar Se-Asia Ditemukan di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh

Tebo, 7 November 2018. Petugas lapangan Balai Taman Nasional Bukit Tiga Puluh menemukan kura baning hutan ini di zona Rimba Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT), bertepatan dengan kegiatan pemeliharaan pal batas di Resort Suo Suo, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Tebo Jambi. Kondisi vegetasi lokasi penemuan kura baning ini didominasi pepohonan dengan kondisi lingkungan lembab dan terletak pada topografi punggungan bukit. Manouria emys atau dikenal dengan nama daerah Baning Hutan, Baning Gajah atau Kura Kaki Gajah penyebarannya meliputi Sumatra dan Kalimantan. Di Sumatra dan Kalimantan, Baning Hutan dijumpai hampir di seluruh daratan di mana hutan primer masih tersisa. Jenis kura ini hidup pada hutan primer dataran rendah sampai pada ketinggian 1.000 meter dari permukaan laut. Pada ketinggian sekitar 1000 meter, Baning Hutan umumnya dijumpai pada hutan primer yang berbukit-bukit. Taman Nasional Bukit Tiga Puluh merupakan hutan dataran rendah dengan ketinggian 800 meter dengan kondisi topografi berbukit bukit sehingga sangat cocok untuk habitat Manouria emys. Manouria emys adalah jenis kura-kura darat yang berukuran tubuh paling besar di Asia. Beratnya mencapai 20-40 kg dengan rentang panjang tubuhnya 50-80 cm. Jenis ini termasuk dalam suku Testudinidae. Ciri paling utama dari anggota jenis suku Testudinidae adalah tidak dijumpai selaput renang pada jari tangan dan kaki, ciri ini menandakan bahwa semua jenis yang masuk taxon ini bersifat terestrial atau penghuni daratan. Klasifikasi dari Manouria emys adalah sebagai berikut: Kerajaan : Animalia Filum : Chordata Kelas : Reptilia Bangsa : Testudinata Suku : Testudinidae Marga : Manouria Jenis : Manouria emys Manouria emys termasuk dalam daftar perlindungan yaitu Apendik II CITES. IUCN pada saat ini memasukkan jenis ini dalam daftar merah (red list) dengan kategori Genting. Dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.92/Menlhk/Setjen/Kum.1/8/2018 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Nomor P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan Dan Satwa Yang dilindungi. Sumber : Balai Taman Nasional Bukit Tigapuluh
Baca Berita

Tiga Jenis Primata Indonesia Ada di TN Gunung Merbabu

Boyolali, 7 November 2018. Spesies prioritas yang dimiliki Taman Nasional Gunung Merbabu adalah Rek-rekan Presbytis fredericae, Elang jawa Nizaetus bartelsi dan Eidelweiss Anaphalis javanica. Pendataaan terbaru pada bulan September 2018 ditemukan 2 ekor Rek-rekan di sisi kiri blok Sikendil dan 22 ekor di blok Pandean (Ngrakah dan Dok Malang). Hal ini menunjukkan populasi Rek-rekan telah meningkat sekitar 60% dari data awal tahun 2012 (15 ekor) dan telah kembalinya Rek-rekan ke lokasi habitat di sekitar blok Sikendil. Kondisi habitat primata tersebut terdiri dari vegetasi Akasia Acacia decurens, Kina Chinchona sp., Bintami Podocarpus imbricata, Cemara gunung Casuarina junghuhniana, Sowo Engelhardia serrata, Pasang Quercus spicata, Dadap Erythrina sp., dan Wilodo Ficus fistulosa. Jenis pakan primata di TNGMb (Inventarisasi pakan dan habitat Surili jawa, 2015) antara lain Akasia Acacia decuren, Sengiran Pittosporum moluccanum, Kemlandingan gunung Mycura javanica, Dempul, Kemiren, Picis, Wuru dan Wilodo. Harapan kedepan untuk melestarikan dan meningkatkan populasi primata, khususnya Rek-rekan di kawasan TNGMb meliputi pengkayaan habitat maupun management habitat sehingga diperoleh kondisi habitat yang sesuai bagi primata untuk berkembang biak dan bertahan hidup, melakukan penelitian melengkapi data populasi (struktur dan sebaran) primata secara menyeluruh kawasan TNGMb. Menyamakan metode survei populasi tersebut sehingga diperoleh data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Mengkaji dan membangun sarana berupa Stasiun Riset primata di kawasan TNGMb dengan tujuan: monitoring populasi, melakukan riset akademis, adanya model (blok atau demplot primata), dan dapat menjadi sentra peneliti lokal maupun internasional. Selengkapnya : Tiga Jenis Primata Indonesia di TN Gunung Merbabu Sumber : Jarot Wahyudi, S.Hut - PEH Pertama Balai Taman Nasional Gunung Merbabu
Baca Berita

Takjub, Bunga Bangkai Mekar di Zona Rimba Taman Nasional Bukit Tiga Puluh

Rengat, 7 November 2018. Bunga Bangkai atau Amorphophallus dikenal memiliki bau busuk yang menyerupai bangkai. Amorphallus merupakan family suku Talas-talasan (Araceae) dimana bunga dan daunnya tumbuh secara bergantian. Bunga bangkai merupakan tumbuhan khas dataran rendah yang tumbuh di daerah beriklim tropis dan subtropis. Bunga ini dapat ditemukan pada habitat hutan tropis di Sumatera, khususnya pada ketinggian diantara 120 sampai 365 meter diatas permukaan laut. Terdapat sekitar 170 spesies bunga bangkai di seluruh dunia. Spesies yang terkenal di Indonesia diantaranya adalah : Amorphophallus titanium, A. gigas. A. decussilvae, A. beccarii, A. Campanulatus dan A. oncophyllus. Petugas lapangan Balai Taman Nasional Bukit Tiga Puluh menemukan bunga bangkai (Amorphophallus) yang diduga kuat tergolong kedalam spesies Amorphophallus decussilvae berdasarkan ciri dan morfologinya. Bunga bangkai tersebut ditemukan petugas saat melakukan kegiatan monitoring tapir, pada minggu ke-4 bulan Oktober di zona rimba yang berada di wilayah kerja Resort Suo-suo, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Tebo Jambi. Berdasarkan Made Sri Prana (2008) dalam jurnalnya “Penyerbukan Buatan pada Acung (Amorphophallus decus-silvae Back. & v.A.v.R,”Biodiversitas, Vol.9, No.4, Oktober 2008, menyatakan bahwa; Jenis bunga bangkai Amorphophallus decussilvae ini pernah ditemukan di Taman Nasional Kerinci Seblat dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang berjarak tidak jauh dari kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh. Berdasarkan temuan ini, dapat dikatakan bunga bangkai jenis Amorphophallus decussilvae ini dapat tumbuh di dalam kawasan Nasional Bukit Tiga Puluh. Saat ditemukan, bunga tersebut masih kuncup dan belum mekar, setelah 4 hari kemudian bunga tersebut mekar dan mengeluarkan bau busuk. Sebelumnya petugas mengira bau tersebut berasal dari bangkai hewan yang sudah membusuk, sehingga petugas melakukan pemeriksaan untuk memastikan sumber bau busuk tersebut. Setelah diperiksa dalam waktu yang cukup lama akhirnya petugas menyadari bahwa bau busuk tersebut berasal dari bunga bangkai tersebut. Takjud dengan mekarnya bunga bangkai ini, meskipun harus menahan bau busuk yang sangat menyengat. Adapun bau busuk yang dikeluarkan bertujuan untuk menarik kumbang dan lalat penyerbuk. Setelah masa mekarnya lewat (sekitar 7 hari), bunga bangkai akan layu dan kembali mengulangi siklus hidupnya, dengan tumbuhnya pohon baru di atas umbi bunga bangkai yang sudah mati. Meskipun begitu, petugas sangat puas dapat menemukan bunga bangkai mekar dan memiliki kesempatan untuk mendokumentasikannya. Indahnya bunga bangkai menjadi obat penawar lelah bagi petugas lapangan yang sedang bertugas. Berharap nantinya akan ditemukan bunga- bunga bangkai di lokasi lainnya di kawasan TNBT. Sumber : Balai Taman Nasional Bukit Tigapuluh
Baca Berita

BTN Rawa Aopa Watumohai Sosialisasi RPJP kepada Stakeholder Terkait

Kendari, 7 November 2018. Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai menyelenggarakan Sosialisasi Rencana Pengelolaan Jangka Panjang (RPJP) Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai tahun 2018-2027 di Hotel Swiss Bell Kendari 5 -6 November 2018. Dalam sosialisasi ini, terdapat 3 Point penting yang disampaikan diantaranya Garis Besar RPJP, Garis Besar Kegiatan TNRAW selama 2018 - 2027 oleh Kepala Balai TNRAW; Perencanaan Daerah Prov Sulawesi Tenggara oleh Bappeda Prov. Sultra dan Prospek Pengembangan Wisata Alam Oleh Nurdin Razak dari Baluran Ecolodge Dalam Sambutannya, Kepala Balai TN Rawa Aopa Watumohai menegaskan “Penyusunan RPJP ini bertujuan memberikan arah dan target capaian yang tepat untuk pelaksanaan pengelolaan Rawa Aopa Watumohai dalam kurun waktu 10 Tahun kedepan” ungkapnya Selain itu juga Kepala Balai menyampaikan “Visi yang dirumuskan dalam RPJP TNRAW adalah Mewujudkan Pengelolaan TNRAW yang Optimal Sebagai Habitat bagi Pelestarian Burung Air, Rusa, dan Satwa Prioritas Anoa, Maleo, Kakatua Kecil Jambul Kuning Menuju Pemanfaatan Kawasan yang Berkelanjutan, tentunya untuk mewujudkan visi tersebut harus mendapat dukungan dari berbagai pihak” RPJP TNRAW yang telah disahkan diarahkan untuk mencapai beberapa program unggulan dengan berbagai kegiatan prioritas. Salah satunya adalah Peningkatan Keberdayaan dan Peran Serta Masyarakat Lokal dalam pelestarian Satwa Kunci dan Prioritas Nasional. Besar harapan kami tujuan pelaksanaan kegiatan ini, yaitu Pemerintah Daerah, Masyarakat dan NGO akan lebih mengetahui arti pentingnya kawasan hutan dan berperan aktif dalam menjaganya akan tercapai, sehingga manfaat dari kawasan hutan dapat lebih optimal bagi kesejahteraan masyarakat, dan pembangunan daerah. Selain itu juga dalam sosialisasi RPJP ini, TNRAW mengundang Nurdin Razak dari Baluran Ecolodge untuk memberikan materi terkait prospek wisata alam. "Konsep ecotourism tidak memerlukan biaya mahal untuk menaikkan promosinya, yang diperlukan adalah menampilkan kesederhanaan pada potensi kawasan yang dimiliki oleh taman nasional Untuk pengembangan ecotourism yang berdampak multiefek dengan memfokuskan pada aktivitas tradisional masyarakat yang berada di sekitar kawasan" ungkapnya. Sumber : Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai
Baca Berita

TN Taka Bonerate, "The Hidden Paradise" di Ujung Semenanjung Pulau Sulawesi

Kepulauan Selayar, 7 November 2018. Pernahkah sebelumnya kalian mendengar Taka Bonerate? Yup, salah satu dari 7 Taman Nasional Laut yang dimiliki negeri kita tercinta. Berada di ujung semenanjung Pulau Sulawesi, tepatnya di Kepulauan Selayar, Taman Nasional yang terkenal dengan keindahan gugusan atol ketiga terbesar di dunia ini mampu membius siapapun yang berkunjung ke sana. Secara harfiah nama Taka Bonerate diambil dari bahasa Bugis yang memiliki arti Hamparan Karang di Atas Pasir. Yang sudah berkunjung dan melihat langsung, pasti tidak akan merasa heran mengapa dinamai seperti itu. Berkunjung ke surga tersembunyi ini sekarang tidaklah sesulit beberapa tahun yang lalu. Dari tempat asal, kita bisa memulai perjalanan dengan pesawat menuju ibukota Provinsi Sulawesi Selatan, Makassar. Dari Makassar, kita akan menuju ke Pulau Selayar. Bisa memilih perjalanan udara ataupun darat+penyeberangan laut. Untuk perjalanan udara melalui Bandar Udara Sultan Hasanuddin menuju Bandar Udara H. Aroeppala dapat ditempuh dalam waktu 35-45 menit, saat ini sudah tersedia tiga maskapai penerbangan (Wings Air, Trans Nusa dan Garuda) yang melakukan penerbangan setiap harinya. Untuk jalur darat dengan total waktu yg diempuh selama 8-9 jam dengan bus menuju Pelabuhan Bira (Kab. Bulukumba) selama 5 jam dan menyeberang dengan menggunakan kapal feri menuju pelabuhan Pamatata (Kab. Kepulauan Selayar) selama 2 jam dan kembali melanjutkan perjalanan darat menuju terminal bus kota Benteng selama kurang lebih 2 jam. Setibanya di Pulau Selayar, kita bisa berkunjung ke kantor Balai Taman Nasional Taka Bonerate untuk mencari informasi terkait kapal laut yang akan ditumpangi ke Kawasan sekaligus mengisi dan membayar SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi). Karena belum ada kapal reguler yang berangkat tiap harinya. Alternatif untuk jalur penyeberangan ada dua melalui Pelabuhan Rauf Rahman Benteng selama 8-9 jam atau melalui perjalanan darat selama 1 jam lebih menuju Pelabuhan Pattumbukang dan menyeberang selama 5 jam menuju kawasan. Sembari menunggu jadwal pemberangkatan, tidak ada salahnya untuk mencicipi kuliner khas Pulau Selayar terlebih dahulu. Makan siang dengan Nasi santan dan ikan bakar tak boleh dilewatkan begitu saja. Aroma dan rasa gurih nasi santan beradu dengan segarnya berbagai jenis ikan yang dibakar dengan sabuk kelapa plus cobek-cobek (sambal) khas dengan belimbing wuluh yang menggoda selera. Nah berikut Ada beberapa Pulau di kawasan yang wajib dikunjungi!! Pesona Pulau Jinato Pulau Jinato memang bukan primadona di kawanan TN. Taka Bonerate namun pesonanya tak kalah dengan pulau-pulau lain. Dihuni oleh suku Bugis, pulau ini menyuguhkan keramahan penduduknya. Itulah kenapa tersedia homestay untuk wisatawan di rumah-rumah penduduk. Terlebih sudah dibentuk Model Desa Konservasi (MDK) disini JADI beberapa penduduk sudah dilatih menerima dan menjadi pemandu bagi tamu yang datang. Kearifan lokal yang masih terjaga, pembuatan perahu, proses pembuatan minyak kelapa dan masih banyak lagi. Tidak hanya itu, pesona keindahan matahari terbit dan terbenam bikin kita gagal move on. Hamparan pasir putih di Bunging Jinato. Belum lagi pesona bawah lautnya dengan dua titik selam andalan yaitu Jinato Wall Paradise dan Jinato The River. Tak jauh dari pos Jagawana ada Taman Transplantasi Karang yang dikelola masyarakat dan Balai TN. Taka Bonerate Pulau Lantigiang Si Pulau Eksotik Dengan waktu tempuh 20 menit dari Pulau Jinato, kita bisa menyambangi Pulau eksotik... Lantigian. Pulau kecil tak berpenghuni di utara Pulau Jinato ini menyuguhkan keindahan pasir putih bak tepung yang menyilaukan mata. Air laut yang sangat jernih bak kolam cermin. Kita bisa berenang bebas dan snorkling disini. Menunggu matahari terbenam, berkemah untuk menikmati taburan bintang di langit dan tentu saja menikmati indahnya matahari terbit menjelang pagi. Budaya Lolo Bajo Pulau Rajuni Selain dikenal sebagai pusat kerajaan/pemerintahan kawasan Taka Bonerate pada masa lampau, Pulau Rajuni juga dikenal dengan Budaya Lolo Bajo. Terdapat beberapa tradisi unik yang masih sangat lestari di pulau ini. Salah satunya yaitu prosesi pernikahan unik Lolo Bajo. Pada saat setelah lamaran dan lamaran tersebut diterima maka dilakukan proses menaikkan bendera/panji-panji keturunan Lolo Bajo yang biasa disebut Ulla-ulla. Prosesi ini dilaksanakan bersama dengan atraksi gendang dan pencak silat serta mengenakan bambu anyaman atau disebut Wala Suji. Ulla-ulla berupa bendera berbentuk orang yang di atasnya terdapat bendera yang berwarna kuning keemasan kain tersebut terbuat dari kain sutera. Menurut kepercayaan masyarakat Bajo bahwa kain tersebut diturunkan langsung dari langit, karena pada zaman itu belum ada pembuat tenun sehalus kain tersebut. Ulla-ulla tersebut, dibawa oleh salah satu anak dari Batara Guru (manusia pertama di sulawesi selatan) dan kemudian menetap di Pulau Rajuni. Saat ini Ulla-ulla tersebut telah dibagi dua yaitu bendera yang berbentuk orang dipegang oleh bangsawan laki-laki yang tinggal di Rajuni Besar, sedang bendera kuning keemasan dipegang oleh bangsawan perempuan yang tinggal di Rajuni Kecil. Sama halnya dengan di Pulau Jinato, di Rajuni juga sudah dibentuk MDK jadi tak perlu khawatir untuk penginapan disana ada beberapa homestay yang dikelola oleh masyarakat yang tentu saja merangkap sebagai pemandu lokal. Sang Primadona, Pulau Tinabo Yaa sang primadona yang menjadi ikon Taman oiya Nasional Taka Bonerate. Surga tersembunyi yang menawarkan keindahan alam yang luar biasa. Pulau yg hanya dihuni Rangers (Jagawana) TN. Taka Bonerate ini memiliki beberapa guest house untuk pengunjung. Dan beberapa tenda untuk yang ingin merasakan sensasi berkemah di sekitar Pulau. Menjelang pagi, kita disuguhi keindahan matahari terbit. Atraksi puluhan bayi-bayi hiu jenis Black Tip yang berenang bebas di pantai tepat di depan guest house. Berenang dan snorkeling menikmati indahnya karang dan berbagai jenis biota laut di sekitar dermaga. Bagi pecinta olahraga selam di pulau ini menjadi salah satu surganya. Terdapat beberapa titik penyelaman yang patut dicoba sensasinya. Seperti Sumur Ikan, Hantu Ceria, Ibel Orange, Taman Kima dll. Jangan lupa mengunjungi Bunging Tinabo dan Pulau Gosong yaa. Jika anda pecinta pantai dan bawah laut "Jangan Ke Taka Bonerate karena pasti tidak mau pulang…" Sumber Penulis/Foto : Asri - PEH Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Berita

Pembukaan Jalur Pendakian Aik Berik dan Aplikasi Booking Online Balai TN Gunung Rinjani

Mataram, 7 November 2018. Sosialisasi pembukaan jalur pendakian Aikberik dan penggunaan aplikasi booking online Taman Nasional Gunung Rinjani bertempat di Ruang Aula kantor Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) di Mataram Provinsi NTB pada hai Rabu, 7 November 2018. Sosialisasi dihadiri para pelaku wisata khususnya Trekking Organizer (TO), dengan materi yang disampaikan tentang pembukaan jalur pendakian Aikberik oleh Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani Ir. Sudiyono, M.Si yang selanjutnya dipaparkan tentang hak dan kewajiban pemegang IUPJWA. Pada sesi terakhir dilakukan simulasi penggunaan aplikasi booking online eRinjani yang langsung dicoba oleh setiap peserta sosialisasi dengan menggunakan android masing-masing. Setelah dilakukan pemaparan dan diskusi, selanjutnya seluruh peserta memutuskan untuk dapat disepakati beberapa hal yang berketetapan menjadi keputusan akhir kegiatan meliputi Trekking Organizer (TO) meminta keringanan pembayaran pungutan hasil usaha jasa wisata alam (PHUPJWA) periode Agustus 2018 s.d adanya pembukaan jalur pendakian Senaru dan/atau Sembalun. Balai TN Gunung Rinjani akan membuka kegiatan pendakian melalui jalur pendakian Aik Berik. Berdasarkan kajian hasil survey, kondisi jalur pendakian Aik Berik dinilai relatif lebih aman dibandingkan dengan jalur pendakian lainnya. Beberapa kebijakan yang akan diberlakukan oleh Balai TN Gunung Rinjani dalam kegiatan pendakian melalui jalur pendakian Aik Berik meliputi Mekanisme booking online (pembelian tiket masuk pendakian dilakukan secara online); Pembatasan kuota pengunjung sebanyak 150 orang/hari dan Mekanisme cek in cek out (pemeriksaan barang bawaan pendaki yang berpotensi sampah, memberikan list barang berpotensi sampah yang harus dibawa oleh pengunjung saat melakukan pendakian dan diserahkan kepada petugas pada pintu keluar untuk pengecekan sampah pendakian). Balai TN Gunung Rinjani akan melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah serta instansi terkait untuk mengatasi kendala pada kegiatan pendakian di Jalur Aik Berik. Rapat Koordinasi akan dilaksanakan pada hari Kamis/08 November 2018. Balai TN Gunung Rinjani juga menyetujui dengan usulan TO untuk melakukan survey jalur pendakian Senaru dan Timbanuh secara bersama-sama. Pendanaan kegiatan survey akan ditanggung bersama oleh Balai TN Gunung Rinjani dan TO. Daftar TO yang dapat dipilih oleh pengunjung pada saat melakukan booking online disusun berdasarkan huruf awal dari nama Brand perusahaan. Apabila terdapat kendala dalam penggunaan aplikasi booking online dapat menghubungi CS melalui grup WA “Komunitas eRinjani” setiap hari s.d pukul 22.00 WITA. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Rinjani
Baca Berita

Soft Launching TWA Pulau Bakut

Marabahan, 7 November 2018 – Kegiatan soft launching TWA Pulau Bakut sebagai tujuan wisata alam telah diresmikan oleh Bupati Batola Hj. Noormiliyani AS. Noormiliyani berjanji akan memperbaiki akses jalan menuju Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Bakut yang berada di bawah Jembatan Barito Kabupaten Barito Kuala (Batola). “Iya kita akan memberikan dukungan akses jalan termasuk sarana transportasi dan tempat berjualan yang melibatkan masyarakat, khususnya warga Desa Marabahan Baru dan Beringin,” kata Noormiliyani saat melakukan soft opening TWA Pulau Bakut bawah Jembatan Barito Kabupaten Batola, Rabu (07/11/18). Bupati berharap tempat wisata ini bukan saja bermanfaat bagi pengunjung namun juga berguna bagi masyarakat sekitar dalam meningkatkan perekonomian mereka. Usai melakukan soft launching, Bupati Batola Hj. Noormiliyani AS, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan, Dr. Mahrus Aryadi, M.Sc dan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Selatan, Dahnial Kifli serta undangan meninjau titian mangrove sepanjang 630 meter. Saat mengitari jalan titian ulin (Iron wood trial), Bupati dan rombongan menjumpai gerombolan bekantan disalah satu pohon rambai sedang mencari makan dan bermain. Kemudian, dilanjutkan penanaman pohon menandai kawasan sanctuary (perlindungan) bekantan ini menjadi alternatif tempat refresing sekaligus wisata edukasi. “Saya sangat mengapresiasi upaya BKSDA Kalsel yang telah bekerja keras dalam rangka meningkatkan objek wisata Pulau Bakut ini untuk menjadi tujuan wisata menarik sekaligus tempat edukasi masyarakat, khususnya bagi para pelajar,” kata Noormiliyani. Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan, Dr. Mahrus Aryadi, M.Sc ingin lokasi TWA Pulau Bakut yang merupakan hunian bagi bekantan (Nasalis larvatus) dengan memiliki luas 15,8 hektar ini letaknya sangat setrategis selain dekat dengan pusat kota Banjarmasin, murah dan pengunjung bisa belajar. Dijelaskan Mahrus, kawasan wisata Pulau Bakut ini telah dilengkapi sejumlah sarana dengan pembiayaan BKSDA Kalsel dan PT. Adaro Indonesia dengan dukungan biaya sekitar Rp 1,6 miliar. Sedangkan fasilitas yang tersedia berupa loket karcis, mushalla, pusat informasi, titian sepanjang 630 meter, menara pandang dan WC. Mahrus menyatakan TWA Pulau Bakut ke depan akan dilengkapi daya tariknya seperti area kerajinan, kuliner, termasuk mendatangkan komunitas pegiat binatang untuk bisa ditampilkan di lokasi wisata pada hari-hari tertentu. “Harga tiket masuk TWA Pulau Bakut hari kerja hanya Rp 5.000 dan Rp 7.500 pada hari libur untuk wisatawan nusantara dan untuk wisatawan mancanegara Rp 100.000 pada hari kerja dan Rp 150.000 pada hari libur sesuai dengan PP Nomor 12 Tahun 2014, sedangkan bagi masyarakat sekitar akan dibuatkan peraturan desa (Perdes)nya yang menyesuaikan untuk harga tiket masuk,” katanya. (jrz) Sumber : Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Empat Warga Serahkan Satwa Liar kepada BBKSDA Sumut di Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional

Medan, 7 November 2018. Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) tahun ini sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kesadaran dan kepedulian masyarakat akan keselamatan dan kelestarian satwa liar khususnya yang dilindungi undang-undang semakin tumbuh. Tercatat hanya dalam 2 (dua) hari, tanggal 5 dan 6 November 2018, empat warga yang secara sukarela menyerahkan satwa yang dimiliki/dipeliharanya kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara. 1 kukang diserahkan langsung ke BBKSDA Sumut dan 3 satwa lainnya (1 buaya sinyulong dan 2 elang) diserahkan melalui call center BBKSDA Sumut dan direspon cepat oleh TRRC (Tim Respon Reaksi Cepat) BBKSDA Sumut. Budiman J Manurung, mahasiswa, warga Narumambing Desa Patane V Kecamatan Porsea Kabupaten Toba Samosir, pada tanggal 5 November 2018, menyerahkan 1 (satu) individu Kukang (Nycticebus coucang) kepada petugas di Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Saat diserahkan satwa dalam kondisi fisik sehat, diselamatkan saat memasuki perkampungan di Siatas Barita Kabupaten Tapanuli Utara. Untuk perawatan lebih lanjut, Kukang dititipkan di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) TWA Sibolangit. Suroso, wiraswasta, warga Dusun I Desa Simpang Empat, Kelurahan Sei rampah, Kabupaten Serdang Bedagai, pada tanggal 5 November 2018, menyerahkan secara sukarela kepada petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara, 1 (satu) individu buaya Sinyulong, yang telah dipeliharanya selama lebih kurang 5 tahun. Buaya ini pertama kali diperolehnya saat menjala ikan di sungai Sei Ledong Kabupaten Labuhan Batu Utara. Untuk penanganan kesehatan dan perawatannya, Buaya Sinyulong sementara dititipkan di Taman Margasatwa Medan Zoo. Kemudian Rianto H. Simanjuntak, warga Gang Batang Kuis, pada tanggal 5 November 2018, menyerahkan 1 (satu) individu Elang Bondol (Haliastur indus) kepada petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Saat ini satwa dimaksud dititipkan di PPS TWA Sibolangit. Dan terakhir, H. Hamlet Harahap, swasta, beralamat di Kelurahan Harjosari, Kecamatan Medan Amplas, Kota Medan, pada tanggal 6 November 2018, secara sukarela menyerahkan 1 (satu) individu Elang Bondol (Haliastur indus) kepada petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Untuk tindakan pemeriksaan medis dan perawatannya, satwa ini dititipkan di PPS TWA Sibolangit. Harapannya kedepan, apa yang telah dilakukan warga yang peduli terhadap kelestarian satwa liar ini menjadi inspirasi dan motivasi bagi warga lainnya yang sampai saat ini ada memiliki maupun memelihara, agar segera menyerahkan kepada petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Untuk itu, bila ada warga masyarakat yang menginginkan dan menyampaikan informasi dapat menghubungi Balai Besar KSDA Sumatera Utara di Call Center 0853 7669 9066. Kami siap membantu. Sumber : M. Ali Iqbal Nasution - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

BBKSDA Jatim Ajak Semua Stakeholder Lepasliarkan Satwa Tepat di HCPSN

Mojokerto, 5 November 2018. Bertepatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) 2018, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jawa Timur) melakukan pelepasliaran 10 ekor Rusa (Rusa timorensis) di Coban Teyeng, Tahura Raden Soerjo Mojokerto. Pelepasliaran dilakukan 2 tahap, yaitu tahap 1 pada tgl 27 Oktober sejumlah 6 ekor (3 jantan, 3 betina) dan tanggal 5 November sejumlah 4 ekor (2 jantan dan 2 betina). Pelepasliaran telah melalui tahapan pelepasliaran sesuai pedoman The International Union for Conservation of Nature (IUCN) untuk re-introduksi, mulai dari pemeriksaan medis, penilaian spesies, penilaian habitat (rehabilitasi dan habituasi), pelepasliaran dan pemantauan pasca pelepasliaran. Kegiatan Pelepasliaran dilakukan atas kerjasama dengan Dinas Kehutanan Prop. Jatim dan UPT Tahura Raden Soerjo, Perhutani, Pertamina Asset 4 Cepu, Ikatan Alumni SKMA, Pramuka Sakawanabakti Jawa Timur, Univ. Muhamadiyah Malang serta masyarakat sekitar kawasan. "Ini pertama kalinya ada rilis rusa timor hasil penangkaran, karena sependek pengetahuan kami kegiatan seperti ini memang baru pertama kali dilakukan di Indonesia, semoga ke depan para penangkar juga sadar untuk rilis 10% hasil penangkaran mereka" ucap Nandang Prihadi Kepala BBKSDA Jawa Timur pada kegiatan tersebut. Nandang juga menjelaskan kegiatan ini merupakan salah satu cara dalam pelestarian rusa, dimana rusa diambil dari hasil penangkaran (penangkaran Perhutani KPH Parengan dan Dinas Kehutanan Jawa Timur) dan pengembangbiakan oleh Lembaga Konservasi (LK) dalah hal ini Taman Satwa Sengkaling Unmuh. Ini merupakan kewajiban bagi Penangkar untuk mengembalikan 10% dari hasil Penangkarannya dan kewajiban LK untuk mengembalikan hasil pengembangbiakannya ke alam. Pada kesempatan rilis hadir juga Forkompimda Kab Mojokerto, Dinas LH Mojokerto, wakil dari Dit KKH ProFauna, Javan Langur, Jatim Park 2 SMK Kehutanan Mojokerto, Kades Pacet, Kades Wumber Brantas Unmuh Malang, IPM Malang, Unbraw, dan Yayasan Action Indonesia. Konservasi Kerja Bersama untuk Kepentingan Bersama. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Komunitas Pemerhati Burung Hadir di Kalsel

Banjarmasin, 5 November 2018. Komunitas Pemerhati Burung (KPB) Kalimantan Selatan merupakan wadah partisipasi mahasiswa dalam upaya konservasi burung yang dikukuhkan oleh Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan, Dr. Mahrus Aryadi, M.Sc bertepatan hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional, 05 November 2018 di Banjarmasin. Kegiatan utama KPB Kalsel meliputi pengembangan wawasan mahasiswa dalam hal konservasi dan perkembangan ilmiah dalam dunia burung. Menumbuhkan rasa peduli terhadap kekayaan hayati Indonesia khususnya di Kalimantan Selatan dan juga mengembangkan kemampuan di bidang wildlife photography. Kita patut berbangga, bahwa negeri kita memiliki 1.771 jenis burung dan 531 jenisnya adalah merupakan burung endemik. Di Kalsel sendiri telah teridentifikasi 176 jenis burung, dan sebanyak 65 jenis yang dilindungi. Saat ini KPB Kalsel sedang melakukan pengamatan dan mendokumentasikan sekaligus membuat daftar spesies burung yang ditemukan di Stasiun Riset Lahan Basah Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan di bawah binaan Yayasan SBI dan supervisi BKSDA Kalsel. Lebih lanjut Mahrus berharap komunitas ini bisa berkembang dan meningkatkan kepedulian terhadap burung dan habitatnya. Kami juga berterima kasih kepada Yayasan SBI Bu Amelia dan kawan2 serta parapihak yang sudah bekerjasama dalam kerja-kerja konservasi di Kalimantan Selatan. (jrz) Sumber : Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Duta Kehati Kalimantan Selatan

Banjarmasin, 5 November 2018. Duta konservasi adalah ikon generasi muda yang menyuarakan pergerakan konservasi keanekaragaman hayati Indonesia. Duta Konservasi Kehati Kalsel dikukuhkan langsung oleh Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Bapak Dr. Mahrus Aryadi, M.Sc., selaku pembina yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI), bertepatan pada hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional, tanggal 05 November 2018 di Banjarmasin. Amelia selaku ketua Yayasan SBI menjelaskan bahwa kegiatan Duta Konservasi Kehati: Secara khusus dengan adanya Duta Konservasi memiliki tugas dan fungsi yaitu: Menurut Mahrus, Duta Konservasi Kehati ini sebagai kontribusi riil dari kaum Milineal atau Gen Now terhadap perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan kawasan konservasi di Indonesia. Kerja konservasi harus melibatkan parapihak dan lintas generasi. BKSDA Kalsel atas nama KemenLHK dan Direktorat Jenderal KSDAE sangat mengapresiasi kerja2 teman2 di SBI dan pihak lainnya yang ikhlas bekerja untuk makhluk-Nya. (jrz) Sumber : Balai KSDA Kalimantan Selatan

Menampilkan 6.673–6.688 dari 11.140 publikasi