Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Balai TN Bunaken dan Lantamal VIII Gelar Penyegaran Masyarakat Mitra Polhut (MMP)

Manado, 8 November 2018. Balai TN Bunaken bersama Lantamal VIII menggelar Pembinaan/ Penyegaran Masyarakat Mitra Polhut (MMP). Lokasi kegiatan bertempat di Tasik Ria Resort, Kec. Mandolang Kab. Minahasa dan Mako Lantamal VIII Manado. Sudirman dan Nadjamuddin (2007) dalam Sukarman (2018) pada jurnal Sylva Lestari Vol. 6 No. 1, mengungkapkan konsep pengamanan hutan berbasis partisipasi masyarakat setempat dilandasi pemahaman bahwa masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan telah memahami karakteristik potensi kawasan hutan, dapat hidup selaras dan serasi, menikmati dan menjaga tempat tinggalnya dari kerusakan. Sebanyak 33 peserta dari 25 Desa/ Kelurahan di dalam dan luar kawasan Taman Nasional Bunaken terlibat dalam kegiatan tersebut. Pembinaan MMP dimaksudkan untuk menyegarkan kembali, peran dan fungsi masyarakat yang tergabung dalam mitra pemerintah dalam hal ini Polisi Kehutanan. Untuk mendukung hal tersebut para masyarakat mitra polhut diberikan pembekalan materi teori, praktek kesemaptaan dan SAR. Adapun pengampu materi teori dari Balai TN Bunaken dan PolsekTombariri serta instruktur Lantamal VIII. Kepala Balai TN Bunaken, Dr. Farianna Prabandari dalam arahan penyegaran MMP berpesan saudara-saudara adalah masyarakat terpilih yang menjadi mitra pemerintah, jadilah masyarakat MMP yang peduli, disiplin, dan bertanggung jawab dalam peran dan fungsi. Mari kita tunjukan jiwa konservasi yang tinggi untuk kelestarian lingkungan hidup, demi kehidupan mendatang. Dalam kesempatan tersebut diserahkan pula piagam penghargaan kepada 3 orang perwakilan MMP teladan, yakni dalam pelaksanaan peran dan fungsi pro aktif dan loyal kepada instansi pembina. Ketiga orang MMP tersebut adalah ; Aco Harindah dari Desa Tangkasi Pulau Mantehage, Feldy Wongso dari Kelurahan Tongkaina Kota Manado, dan Decky Lombo dari Desa Rap- Rap Kab. Minahasa Selatan. Kita berharap dengan menjunjung tinggi kehormatan dan peran aktif sebagai MMP dapat melestarikan kawasan Taman Nasional Bunaken yang kita cintai, tutup Farianna. Sumber : Engelin Senny Pomantow, SH - Polhut Ahli, Dan Satgas Balai Taman Nasional Bunaken
Baca Berita

Evakuasi Dan Translokasi Orangutan Sumatera Oleh Resor Wilayah 12 Langsa

Aceh Tamiang, 9 November 2018. Seekor Orangutan Sumatera (Pongo pigmeus abelii) yang terisolir berumur ± 15 Tahun berjenis kelamin Betina dengan kondisi terdapat 2 buah peluru senapan angin di bagian dagu dan 1 buah peluru di bagian kaki kanan bekas tembakan, bagian mata buta hal ini diduga disebabkan oleh bekas tembakan. Evakuasi dilakukan oleh Tim Resor Wilayah 12 Langsa Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh yang dipimpin Azharuddin dibantu oleh personil mitra Orangutan Information Centre (OIC) di areal perkebunan karet (Havea brasiliensis) status Areal Penggunaan Lain Desa Perkebunan Kecamatan Tamiang Hulu. Berdasarkan hasil pemeriksaan dan pengamatan tim yang melakukan penyelamatan kondisi orangutan masih dengan peregerakan yang agresif sehingga diputuskan untuk dilakukan pemindahan lokasi ke Desa Tenggulun Kecamatan Tenggulun Kabupaten Aceh Tamiang Status Hutan Lindung. Menurut perkiraan tim selain keberadaan seekor orangutan yang berhasil dievakuasi tersebut masih ada beberapa ekor orangutan dalam kondisi terisolir di wilayah tersebut. Orangutan sumatera (Pongo pigmeus abelii) merupakan salah satu jenis satwa liar yang dilindungi dari kelompok Mamalia, Famili Hominidae berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.92/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Perubahan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar Yang Dilindungi. Dalam katergori IUCN Orangutan Sumatera (Pongo pigmeus abelii) berstatus kritis/critically endangered dengan penyebaran/distribusi meliputi Pulau Sumatera dengan Distribusi populasi terbesar mulai dari Provinsi Aceh meliputi Kabupaten Aceh Timur, Aceh Tengah, Aceh Tamiang, Gayo Lues, Aceh Tenggara, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Singkil dan Kota Subuluusalam. Jumlah Orangutan Sumatera sendiri di alam untuk saat ini diperkirakan berjumlah ± 13.846 individu dengan luasan habitat ± 16.775 km2. Penyelamatan Orangutan Sumatera yang terisolir dilaksanakan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh berpedoman kepada Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P.53/MENHUT-II/2014 Perubahan Atas Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.48/MENHUT-II/2008 Tentang Pedoman Penanganan Konflik Antara Manusia Dan Satwa Liar dalam upaya mewujudkan tujuan dan target yang tertuang dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P.53/MENHUT-IV/2007 Rencana Aksi Orangutan Indonesia Tahun 2007-2017. Sumber : Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh
Baca Berita

Tingkatkan Profesionalisme melalui Inhouse Training Herpetofauna

Bontang, 9 November 2018. Kualitas SDM merupakan potret kualitas pengelolaan sebuah organisasi. Kemampuan SDM akan berkorelasi secara positif dengan kualitas penyelenggaraan organisasi dan pencapaian kinerja. Oleh sebab itu peningkatan kualitas SDM harus terus menerus dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi. Dalam kerangka tersebut Balai TN Kutai, menyelenggarakan berbagai kegiatan yang terkait dengan upaya peningkatan kualitas SDM. In House Training Herpetofauna merupakan salah satu bentuk kegiatan yang diselenggarakan di Kantor Balai Taman Nasional Kutai-Bontang pada tanggal 7-9 November 2018. Penyelenggaran inhouse training sekaligus untuk menjawab permasalahan konservasi berupa keterbatasan data kawasan, baik data jenis keanakeragaman hayati maupun data potensi yang dimiliki. Secara khusus kegiatan inhouse training Herpetofauna dilaksanakan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan para Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Balai TN Kutai dalam melakukan upaya konservasi kehati, khususnya satwa herpetofauna yaitu Reptil dan amfibi. Data herpetofauna yang dimiliki Taman Nasional Kutai masih sangat minim, oleh sebab itu melalui kegiatan ini, diharapkan para PEH mampu melakukan pengambilan data untuk reptil dan amfibi (herpetofauna), termasuk pengetahuan mengenai biologi dan ekologi herpetofauna sebagai dasar untuk pengumpulan data yang benar, berbagai macam metoda pengambilan, pengolahan dan analisa data dan selanjutnya akan memahami dan mengerti tentang keanekaragaman herpetofauna di Indonesia dan masalah yang berhubungan dengan konservasi herpetofauna. Materi yang disampaikan berupa teori dan praktek lapangan dengan narasumber yang kompeten yaitu ahli herpetofauna Dr. Mirza D.Kusrini dari Institut Pertanian Bogor, Tim Universitas Mulawarman dan Balai Penelitian Teknologi KSDA Samboja. Materi yang disampaikan berupa teknik pengenalan jenis, bio-ekologi herpetofauna, zoonosis dan upaya konservasi. Kegiatan yang berlangsung selama 3 (tiga) hari ini diikuti oleh 30 peserta yang berasal dari Balai TN Kutai, Balai Diklat Kehutanan Samarinda, Kader Konservasi, Pramuka Sakawanabakti, Mitra Taman Nasional Kutai (PT. Indominco Mandiri, PT. Badak, NGL., PT. Pupuk Kaltim dan PT. Kaltim Nitrate Indonesia). Keterlibatan para pihak dalam kegiatan ini, diharapkan dapat lebih meningkatkan upaya konservasi keanekaragaman hayati dan ekosistem di TN Kutai dan kalimantan Timur pada umumnya. Menurut Dr. Mirza D Kusrini, peran serta masyarakat sangat penting dalam konservasi jenis. Dalam upaya konservasi staf lapangan adalah ujung tombak peningkatan pengetahuan dan pengelolaan lestari dari keanekaragaman hayati di Indonesia. Konservasi jenis tidak dapat dilakukan tanpa pengertian mendalam mengenai jenis itu sendiri. Oleh karena itu dirasakan perlu untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat, terutama staf lapangan mengenai konservasi keanekaragaman herpetofauna dan juga meningkatkan kemampuan mereka dalam melakukan survei herpetofauna. Sumber : Balai Taman Nasional Kutai
Baca Berita

Burung Gosong Pilipina Teridentifikasi di TN Babul

Pangkep, 9 November 2018. Merayakan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung merilis foto perjumpaan pertama gosong filipina (Megapodius cumingii gilbertii G.R. Gray, 1862). Perjumpaan burung yang berkerabat dekat dengan maleo ini terekam di wilyah Resor Tondong Tallasa melalui kamera jebak (trap). Kamera ini dipasang pada salah satu lokasi diduga sebagai habitat satwa ini. Keberadaan burung penimbun telur ini berdasarkan informasi dari masyarakat setempat. Kepala SPTN Wilayah I Balocci kemudian menanggapainya dengan menugaskan personil Resor Tondong Tallasa untuk melakukan pengamatan burung ini di lokasi dugaan habitatnya. Dugaan habitatnya berada di bawah kaki Gunung Tondong Karambu, gunung tertinggi di kawasan konservasi ini. Personil resor mengamati satwa ini selama sebelas hari dimulai tanggal 29 Oktober 2018 sampai dengan 8 November 2018. Selama beberapa hari tim ini melakukan pencarian di hutan, namun tak membuahkan hasil. Satwa ini terkenal cukup pemalu sehingga sulit menjumpainya secara langsung. Dengan bantuan kamera trap akhirnya mereka pun berhasil memperoleh dokumentasi sang burung abu-abu ini. “Hasil analisis foto, terdapat dua ekor burung gosong filipina yang tertangkap kamera,” terang Abdul Rasyid, Kepala Resor Tondong Tallasa. Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI nomor 92 tahun 2018, seluruh jenis burung gosong (Famili Megapodidae) dikategorikan sebagai jenis satwa yang dilindungi. Burung gosong mirip seperti ayam ukuranya sekitar 35 cm. Berwarna coklat zaitun dan abu-abu dengan bagian muka berwarna merah tua. Hampir tidak berjambul dan memiliki ekor yang pendek. Jantan dan betina memiliki perawakan yang mirip (Kutilang Indonesia 2013). Burung ini memiliki suara yang unik. Suaranya seperti suara ratapan berulang ”miaouw” seperti kucing. Burung ini sering bersuara pada malam hari sehingga terdengar sedikit menakutkan. Burung ini hidup di belukar pantai hingga hutan pegunungan. Pelari cepat yang hidup di lantai hutan. Beberapa populasi membangun sarang gundukan yang sangat besar, tetapi di Sulawesi jenis ini kebanyakan menggali liang di antara akar-akar pepohonan hutan. Ia lebih menyukai pohon-pohon mati dan membusuk (Holmes dan philipps 1999). “Perjumpaan gosong pilipina yang tertangkap kamera trap ini adalah informasi yang baik bagi TN Babul. Keberadaan jenis ini belum pernah teridentifikasi sebelumnya. Karenanya menjadi tambahan data spesies satwa di kawasan TN Babul,” pungkas Kepala SPTN Wilayah I, Iqbal Abadi Rasjid. “Dengan perjumpaan burung gosong ini TN Babul memiliki 155 jenis burung,” tambahnya. Berkurangnya habitat, perburuan, dan pengambilan telur adalah ancaman berkurangnya populasi burung ini. Pengambilan telur adalah ancaman terbesarnya karena masih menjadi primadona masyarakat untuk dikonsumsi sehingga proses regenerasinya terhambat. Upaya perlindungan melalui bekerjasama dengan sejumlah pihak perlu ditingkatkan. Organinsasi kompeten seperti Burung Indonesia, pemerhati burung, dan masyarakat lokal tentunya perlu dijalin dengan semangat kerja bersama untuk menjaga kelestraian burung gosong ini. Sumber : Ramli - PEH Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

BKSDA Jambi Pererat Kebersamaan Bersama MMP

Jambi, 9 November 2018. SKW I BKSDA Jambi melakukan kegiatan pembinaan Masyarakat Mitra Polhut (MMP) . Kegiatan pembinaan dilakukan selama dua hari pada tanggal 9-10 November bertempat di Desa Guruh Baru Kec. Mandiangin Kab. Sarolangun. Desa Guruh Baru sendiri merupakan desa penyangga yang berbatasan langsung dengan CA Durian Luncuk I. Jumlah MMP SKW I berjumlah 10 orang yang semuanya berasal dari Desa Guruh Baru. Narasumber yang hadir untuk melakukan pembinaan berjumlah 4 orang yang berasal dari SKW I BKSDA Jambi. Materi kegiatan adalah teori dan praktek sebanyak 16 Jpl. Kegiatan pembinaan dibuka langsung oleh Sekdes Guruh Baru dan dilanjutkan oleh kata sambutan oleh Kepala SKW I yang diwakilkan oleh Kepala Resort CA Durian Luncuk I. Peserta MMP terlihat sangat antusias mengikuti pembinaan terutama materi praktek penggunaan GPS dan navigasi dengan menggunakan android. Secara keseluruhan kegiatan berjalan lancar dan sesuai rencana. Para peserta mengharapkan kegiatan pembinaan dapat dilakukan secara rutin dan untuk menjalin kebersamaan antara BKSDA Jambi dan masyarakat. Kepala SKW I BKSDA Jambi, Udin Ikhwanuddin mengatakan “Alhamdulillah telah selesai kami lakukan kegiatan pembinaan terhadap MMP yang berada di Desa Guruh Baru, mereka berharap kegiatan ini akan rutin kami laksanakan dan kami juga akan berupaya untuk menwujudkan nya kedepan nanti.” Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

BBKSDA Jatim Adakan Inhouse Training SMART - RBM

Sidoarjo, 9 November 2018. Kepala Balai Besar KSDA Jatim, Dr. Nandang Prihadi, S.Hut, M.Sc. resmi membuka Inhouse Training Implementasi SMART-RBM di Swiss Bell In Hotel – Sidoarjo, 8 hingga 9 November 2018. Kegiatan ini diikuti 60 peserta yang berasal dari anggota resort-resort pemangku kawasan konservasi lingkup BBKSDA Jatim dan 4 orang dari Balai Tahura R. Soerjo. Dalam sambutannya, Nandang berharap teman-teman resort pemangku kawasan dapat mengambil inti sari dan menerapkannya di 23 kawasan konservasi. Ia juga menambahkan bahwa sebagai pemangku kawasan dapat mengalirkan data dari tingkat tapak se-valid mungkin ke wali data yang berada di bidang Teknis. “Target Desember 2018 dapat mulai di uji coba, dan resmi mulai kita implentasikan SMART - RBM per 1 Januari 2019 di 23 kawasan konservasi,” ujar Nandang. Diakhir sambutannya, nandang mengharapkan agar teman-teman di resort tetap bersemangat sehingga SMART – RBM dapat dilaksanakan di BBKSDA Jawa Timur, untuk kelestarian kawasan konservasi di Jawa Timur. Selama 2 hari inhouse training, peserta akan menerima materi-materi berupa Pengelolaan Kawasan Konservasi, Pengenalan RBM, pengenalan Aplikasi SMART-RBM, dan praktik Implentasi SMART-RBM. Narasumber kegiatan ini berasal dari Pokja SMART-RBM Direktorat Jenderal KSDAE dan Direktorat Kawasan Konservasi. (Agus Irwanto, Analis Data) Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Mandi Safar - Kearifan Lokal Masyarakat Bajo Nain Di Taman Nasional Bunaken

Nain, 5 November 2018. Ratusan masyarakat suku Bajo yang bermukim di Pulau Nain berbondong - bondong untuk melakukan mandi safar, tak hanya dari masyarakat setempat, Pemerintah Desa Nain juga mengundang dari masyarakat yang berada di Pulau Gangga, Pulau Bangka dan Kota Manado untuk menyaksikan tradisi unik ini. Mandi safar dalam masyarakat Bajo - Nain ditujukan untuk mensyukuri nikmat Allah SWT atas anugerah, risky dan karunianya serta diyakini dapat menghilangkan penyakit yang ada dalam tubuh dan hati, serta perasaan iri dan dengki kepada sesama umat. Dalam perayaan mandi safar kali ini selain diikuti oleh masyarakat Bajo Nain juga mengundang berberapa masyarakat yang bermukim di Manado, bahkan beberapa wisatawan mancanegara dari Amerika dan Tiongkok ikut menyaksikannya. Pelaksanaan mandi safar didahului dengan doa yang dipimpin oleh Imam Masjid Miftahul Jannah Nain Bapak Asnani Juma, selanjutnya beberapa Jaga (Lingkungan) digabung menjadi 1 group dan dilakukan mandi, dalam pelaksanaan ini terdapat 4 group dari 13 Jaga di Desa Nain. Tahun 2018 merupakan untuk kedua kalinya, kegiatan mandi safar pertama dilakukan tahun 2017 lalu. Menurut Sindrang Hamid panitia acara pengatur jaga dalam mandi safar, sebenarnya dahulu kala di awal tahun 1980 an kami sering menggelar acara ini, tetapi berjalannya waktu tahun belakangan mandi safar sudah lama tidak dilakukan lagi. Tahun ini merupakan tahun kedua gelaran mandi safar bagi masyarakat Bajo - Nain. Pulau Nain merupakan salah satu wilayah kepulauan di Taman Nasional Bunaken, secara administratif terapat 3 Desa yaitu Desa Nain, Desa Nain I dan Desa Tatampi Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa. etnis paling besar yang bermukim di Pulau Nain merupakan masyarakat Suku Bajo dan selanjutnya diikuti Suku Sanger, Suku Talaud, Suku Minahasa dan Gorontalo. Aktivitas mandi safar yang dilakukan oleh masyarakat Suku Bajo Nain terletak pada wilayah bungin, yang masyarakat setempat menyebutnya pasir timbul, yaitu suatu daerah di area laut yang pada saat surut terendah memunculkan pasir yang berwarna putih, suatu fenomena alam yang menyatu dalam kearifan lokal masyarakat setempat dalam melestarikan sumber daya alam dan budaya. Sumber : Eko Wahyu Handoyo, S.Hut - PEH pada Balai Taman Nasional Bunaken
Baca Berita

Balai TN Kayan Mentarang Berikan Pelatihan Pengendalian Karhutla Kepada Perusahaan Anggota APHI Komda Kaltara

Bulungan, 9 November 2018. Pelatihan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (DALKARHUTLA) kembali dilaksanakan oleh Balai Taman Nasional Kayan Mentarang. Kali ini Balai TNKM bekerjasama dengan Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Komisariat Daerah Kalimantan Utara. Kegiatan yang berlangsung di Kabupaten Bulungan ibukota Provinsi Kalimantan Utara pada tanggal 5 hingga 6 November 2018 ini di hadiri oleh 47 peserta yang berasal dari 8 perusahaan kayu yang beropersi diwilayah Provinsi Kalimantan Utara baik perusahaan dengan bidang usaha Hutan Tanaman Industri (HTI) maupun Hutan Alam (HA). Dan tambahan peserta pada saat simulasi Karhutla sebanyak 25 orang dari Kodim Bulungan. Menurut Eddy Zulkarnain selaku Ketua APHI KOMDA Kaltara, Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan pengetahuan terkait KARHUTLA terutama pada perusahaan kayu yang berada di wilayah Kalimantan Utara. "Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan SDM perusahaan dalam pengendalian Karhutla serta tidak lupa pula tiap anggota APHI KOMDA KALTARA taat dan patuh terhadap setiap peraturan dari negara/Pemerintah seperti INPRES Nomor 11 Tahun 2015 dan PermenLHK Nomor 32 tahun 2016 tentang pengendalian Karhutla serta peraturan lainnya" ungkap Eddy Zulkarnain Sementara itu, Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang Johnny Lagawurin melalui Misoniman (Polhut BTNKM) dan Hendriadi Dasra (PEH BTNKM) selaku Narasumber pada kegiatan tersebut mengungkapkan bahwa kesadaran akan bahaya Karhutla di lingkungan pelaku usaha kayu tersebut sangat penting dan peranannya pun sangat vital. "Peranan perusahaan kayu ini sangat vital dalam urusan karhutla, sehingga penting bagi mereka untuk mendapatkan pengetahuan tentang pencegahan dan pengendalian karhutla." Ungkap Misoniman di dampingi Hendriadi Dasra. Selain perusahaan kayu, sebelumnya Balai TNKM juga telah banyak melaksanakan sosialisasi kepada masyarakat sekitar kawasan penyangga TNKM dan masyarakat umum terkait bahaya karhutla. Baik sosialisasi berupa kegiatan maupun dalam pergaulan sosial dari masing-masing pegawainya agar pencegahan terhadap karhutla dapat berjalan efektif. Sumber : Balai Taman Nasional Kayan Mentarang
Baca Berita

Kampanyekan Melawan Sampah Plastik Untuk Ubah Menjadi Nilai Ekonomi Tinggi

Manado, 9 November 2018. Bertempat di Bahowo, Kelurahan Tongkaina Kec. Bunaken, Kota Manado. Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Berbahaya dan Beracun (PSLB3) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengadakan kampanye melawan sampah plastik. Kampanye ini diikuti oleh lebih dari 250 perwakilan masyarakat baik dari warga sekitar, aparat kelurahan Tongkaina dan Kecamatan Bunaken, Polsek Bunaken serta Lantamal VIII, hingga dari perwakilan perguruan tinggi di Manado (Universitas Della Sale Manado). Turut hadir dalam acara kampanye Bara K. Hasibuan Walewangko, anggota DPR RI Komisi VII dapil Sulawesi Utara. Ibu Dirjen PSLB3 Rosa Vivien Ratnawati, SH., M.Sc dalam sambutannya, tujuan kegiatan kampanye ini agar masyarakat melawan sampah plastik dengan melakukan pengelolaan sampah serta memanfaatkan sampah plastik sebagai bank sampah yang berpotensi hingga miliaran rupiah per tahun. Selain itu beliau juga berpesan mengurangi penggunaan sampah plastik sekali pakai seperti plastik botol mineral dan sedotan plastik. Bara K. Hasibuan Walewangk wakil rakyat komisi VII DPR RI yang membidangi lingkungan hidup, bahwa polusi sampah plastik ini sangat mengancam kehidupan masyarakat, dan beliau akan mendukung upaya perbaikan lingkungan hidup di Sulawesi Utara salah satunya dengan membentuk bank sampah di sekitar mangrove park Bahowo ini. Puncak acara bertajuk “Let’s Song and Beat Plastic Pollution” ini berupa kegiatan pengumpulan sampah plastik di sekitar area Mangrove Park Bahowo secara bersama oleh seluruh perwakilan masyarakat dengan aba-aba dari Kepala Balai Taman Nasional Bunaken, Dr. Farianna Prabandari, S.Hut., M.Si. Pada kesempatan ini Kepala Balai TN Bunaken menyampaikan penunjukan lokasi acara di Bahowo, sengaja dipilih karena pemukimannya berdekatan dengan kawasan TN Bunaken, sehingga kami berharap muncul kepedulian masyarakat terkait sampah plastik. Lokasi mangrove park Bahowo dapat dijadikan starting point untuk menuju ke Taman Nasional Bunaken. Kami ucapkan terima masih kepada seluruh pihak yang terlibat, terutama Dirjen PSLB3 dan Komisi VII DPR RI atas terselenggaranya acara ini, tutur Farianna. Aksi kampanye melawan sampah plastik, juga dilakukan pembersihan area sekitar lokasi bersama perwakilan masyarakat dan tercatat sebanyak 361,32 kg sampah plastik terkumpul. Sumber : Balai Taman Nasional Bunaken
Baca Berita

Pengamatan Burung Migran Di Pantai Cemara

Jambi, 9 November 2018. Indonesia diketahui sebagai salah satu negara penting dalam hal tersedianya habitat yang mendukung kehidupan burung air pendatang. Jumlah panjang total pantai di Indonesia diperkirakan lebih dari 80.000 km, dimana sebagian diantaranya ditumbuhi oleh mangrove serta hamparan lumpur yang sangat potensial untuk mendukung sejumlah besar burung pantai yang bermigrasi. Kehadiran burung air merupakan suatu indikator penting dalam pengkajian mutu dan produktivitas suatu lingkungan lahan basah, apalagi setelah diikrarkannya Konvensi Ramsar pada tahun 1971. Pantai Cemara di Desa Sungai Cemara Kecamatan Sadu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, diidentifikasi sebagai salah satu lokasi persinggahan burung air/pantai migran di Indonesia. Pantai Cemara merupakan bagian dari situs Ramsar kawasan TN Berbak yang berada di bawah pengelolaan Pemerintah Daerah Provinsi Jambi dengan status sebagai Kawasan Ekosistem Esensial. Gubernur Jambi menetapkan kawasan ini melalui Keputusan Gubernur Nomor 425 Tahun 1996 tentang Penetapan Kawasan Pantai Cemara sebagai Kawasan Perlindungan Burung Air, Burung Pantai dan Daerah Persinggahan Burung-burung Migran. Burung Air/Pantai migran mendapat perhatian masyarakat di dunia karena keberadaan populasi burung migran ini bersifat lintas regional/negara. Oleh karena itu kegiatan pengamatan dan monitoring Burung air migrat diminati oleh para pengamat burung dan menjadi event tahunan dunia. Balai TN Berbak dan Sembilang yang didukukng oleh Tiger Project GEF-UNDP Transforming Effectiveness of Biodiversity Conservation in Sumatera Priority Landscape mendorong pengelolaan konservasi Burung Air/Pantai Migran yang merupakan destinasi wisata Kabupaten Tanjung Jabung Timur dengan melakukan monitoring Burung Air/Pantai Migran di Pantai Cemara kerjasama antara Pemerintah Daerah Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Balai KSDA Jambi, Balai Taman Nasional Berbak Sembilang, dan masyarakat (Kelompok Pemerhati Burung di Jambi). Kegiatan monitoring burung air migran yang dilakuakn pada tahun 2018 dikombinasikan dengan kegiatan Lomba Foto dalam rangka festival Mandi Syafar yang merupakan rangkaian kegiatan Fam Trip Dinas Pariwisata Kabupaten Tanjung Jabung Timur tahun 2018. Kegiatan yang dilakukan pada tangal 5-7 November 2018 ini diikuti oleh 40 (empat puluh) orang peserta yang berasal dari Balai TNBS sebanyak, BKSDA Jambi, Universitas Jambi dan Asosiasi Profesi Fotografi Indonesia. Hasil pengamatan lapangan dijumpai 514 individu burung migran yang berasal dari Myanmar, Mongolia dan dari Sumatera sendiri yang pernah dilakukan pemasangan cincin”. Terdapat 19 species yang dijumpai pada saat pengamatan antara lain jenis burung Cerek, White, Gajahan, Biru Laut, Trinil dan Dara Laut Kuntul Besar, untuk Burung Dara Kuntul Besar merupakan spesies lokal/menetap. Kegiatan ini selanjutnya akan dikembangkan menjadi event tahunan monitoring Burung Air/Pantai Migran sebagai kegiatan wisata yang dapat berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat sekitar kawasan TNBS. Sumber : Balai TN Berbak dan Sembilang
Baca Berita

TN Matalawa Turut Serta dalam Aksi Bersih Pantai Rua

Waingapu, 9 November 2018. Bupati Sumba Barat, para pimpinan SKPD serta ratusan orang lainnya turun ke Pantai Rua untuk melakukan aksi bersih pantai dalam rangka pekan Lingkungan Hidup di Kabupaten Sumba Barat. Tidak ketinggalan pula para pegawai Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) yang turut serta membantu membersihkan area sekitar pantai dari sampah dan lumut. Pantai Rua merupakan salah satu objek wisata di Kabupaten Sumba Barat yang cukup banyak dikunjungi wisatawan. Letaknya yang tidak jauh, kurang lebih 30 menit dari pusat kota Waikabubak, membuat destinasi wisata ini menarik banyak wisatawan domestik maupun mancanegara. Saat ini, gerakan-gerakan peduli Lingkungan di Kabupaten Sumba Barat sudah banyak dilakukan diantaranya, relokasi pasar dan penataan tempat sampah pada fasilitas umum. Hal ini merupakan rangkaian kegiatan menuju Kabupaten Sumba Barat Bebas Sampah tahun 2020 yang telah dicanangkan oleh Bupati. Kegiatan ini sejalan dengan apa yang telah dilakukan oleh Balai TN Matalawa dalam lingkungan kerja sehari-hari melalui instruksi Kepala Balai. Maman Surahman, selaku Kepala Balai menyampaikan bahwa mengurangi jumlah sampah berarti membuat lingkungan menjadi lebih bersih. Dan lingkungan yang bersih akan membuat kita sehat sehingga dapat beraktifitas dan bekerja secara maksimal serta lebih produktif.(dpn/mtlw) Sumber: Balai TN Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Waggameti
Baca Berita

Menuju Masyarakat Sejahtera Melalui Kemitraan Konservasi

Waingapu 8 November 2018. Dalam rangka mewujudkan tugas pokok dan fungsi Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) menuju masyarakat sejahtera melalui kemitraan konservasi di zona tradisional bersama-sama Kelompok Masyarakat Peduli Hutan (KMPH) Ngadu Praing Desa Umamanu, Kecamatan Lewa Tidahu, Kabupaten Sumba Timur melakukan peningkatan kapasitas kelompok yaitu dengan melakukan pengolahan hasil hutan bukan kayu, dalam hal ini adalah pengolahan rotan dengan bambu yang dilakukan pada tanggal 7 November 2018 di rumah ketua kelompok,Pak Zet. Adapun rangkaian kegiatan ini diawali dengan pemaparan materi mengenai kelanjutan kegiatan dari kemitraan konservasi yang dibangun bersama kelompok, selanjutnya adalaha pengenalan jenis produk turunan dari bambu dan rotan serta praktik pengolahan bambu dan rotan, yang di mulai pukul 11.30 wita dan diikuti oleh 20 (dua puluh) anggota kelompok, sedangkan pengajar dalam melakukan praktek pengolahan tersebut mengajak pengrajin lokal untuk melatih kelompok masyarakat dalam pembuatan kursi bambu dikombinasikan dengan rotan. Kegiatan praktek ini awali dengan pengenalan teknis pengukuran bambu sesuai dengan produk yang diinginkan, teknik pemotongan bambu, teknik pemahatan bambu, teknik penyambungan bambu dengan rotan dan finishingnya. Peserta yang hadir sangat antusias dalam melakukan praktek tersebut, hal ini dilihat dari cara memperhatikan narasumber, berpartisipasi secara bergantian dalam melakukan pengolahan serta melakukan praktek sendiri dalam pembuatan kursi tersebut, hingga akhirnya kegiatan praktek berakhir pada pukul 19.30 wita. Mengakhiri kegiatan ini, selanjutnya tim dari TN Matalawa mengarahkan masyarakat agar dari peningkatan kapasitas ini, mereka segera memproduksi pengolahan bambu dan rotan dan mengenai pemasaran mereka tidak perlu khawatir, karena Balai TN. Matalawa sudah menyiapkan 3 (tiga) kios di 3 (tiga) kabupaten yaitu Sumba Barat, Sumba Tengah dan Sumba Timur, selanjutnya Taman Nasional Matalawa akan terus melakukan pendampingan untuk memantau perkembangan dari hasil peningkatan kapasitas yang telah dilakukan. Sumber : Balai Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa)
Baca Berita

Wani Kerora, Madu Hutan dari TN. Komodo

Labuan Bajo, 8 November 2018. Selain dikenal karena dua primadona yang dimilikinya, yakni Biawak Komodo dan Pari Manta, TN. Komodo juga kaya akan keanekaragaman hayati, salah satunya adalah madu hutan. Madu hutan di TN. Komodo sudah lama dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai salah satu hasil hutan bukan kayu. Di Kampung Kerora salah satu kampung dalam wilayah TN. Komodo misalnya, terdapat sepuluh kepala keluarga yang mengambil madu hutan dari jenis Apis dorsata. Masyarakat yang tergabung dalam kelompok tani hutan “Wani Kerora” ini mengambil madu hutan dari kawasan hutan di sekitar Kampung Kerora yakni di zona pemanfaatan tradisional daratan. Pengambilan madu dilakukan secara tradisional sebanyak dua kali dalam setahun yakni pada bulan Maret-April dan bulan September-Oktober. Dalam satu musim panen, satu kepala keluarga bisa menghasilkan 24.000-36.000 ml madu. Jika sebelumnya madu yang dihasilkan dijual langsung ke pengumpul di Labuan Bajo, saat ini kelompok tani hutan “Wani Kerora” mulai mengemas madu yang dihasilkan, sementara pemasarannya dibantu oleh Koperasi TN. Komodo. Djunius Boeky, Kepala Seksi PTN Wil. I Pulau Rinca, saat mendampingi kegiatan kelompok tani ini pada hari rabu (8/11) mengungkapkan harapannya agar upaya yang dilakukan TN. Komodo ini dapat membantu meningkatkan nilai jual madu. “madu ini kita kemas dengan baik sehingga nilai jualnya akan meningkat”. Lebih jauh Boeky juga menyampaikan harapannya agar madu kelompok tani hutan “Wani Kerora” bisa menjadi salah satu souvenir khas TN. Komodo. “Jika selama ini pengunjung lebih banyak mencari patung komodo sebagai souvenir, kedepannya kita ingin madu “Wani Kerora” juga menjadi salah satu souvenir khas TN. Komodo”, ungkapnya. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo
Baca Berita

Dua Polhut TNAL Raih Juara Harapan dan Juara Favorit Lomba Foto KLHK

Sofifi, 8 November 2018. Baru saja Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengadakan lomba foto satwa yang bertajuk “Satwa Liar Kebanggaan Indonesia” yang terbuka untuk umum pada Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional. Pada kesempatan tersebut dua orang anggota Polisi Kehutanan (Polhut) pada Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) meraih juara harapan dan juara favorit. Kedua Polhut tersebut sama-sama ditugaskan pada Resort Binagara, Halmahera Timur. Juara Harapan diperoleh Akhmad David Kurnia Putra yang juga sebagai Koordinator Resort Binagara dan juara Favorit diperoleh Adriel L. Muda sebagai petugas Resort Binagara. Resort Binagara merupakan kawasan yang selalu dijadikan target oleh para pengamat dan fotografer burung baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Oleh karena itu, kedua Polhut tersebut pada saat melakukan patroli rutin pada wilayah kerjanya, mereka selalu membawa peralatan fotografi burung. Foto yang menjadi juara Harapan adalah foto burung Bidadari Halmahera yang sedang mengepakkan sayapnya. Burung ini merupakan burung endemik dan menjadi ikon Maluku Utara dan Balai TNAL itu sendiri. Sedangkan burung yang ditampilkan oleh Adriel adalah burung Raja Udang Merah Kerdil (Mollucan Dwarf-kingfisher). Burung ini memiliki kebanggaan tersendiri di Resort Binagara, pasalnya setiap fotografer satwa liar terutama burung selalu ingin memiliki foto burung ini. “Saya merasa tersanjung, senang dan tidak menyangka bisa menjadi salah satu juara Harapan”, papar Koordinator Resort Binagara. Selain mengucapkan selamat, Kepala Balai TNAL juga mengapreaiasi hasil karya kedua Polhutnya tersebut dan meminta kepada semua staf baik Polhut, PEH dan Penyuluh tetap bekerja dengan semangat, kerja keras, cerdas dan ikhlas. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra - Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata http://www.aketajawe.com
Baca Berita

Balai TN Gunung Rinjani Sosialisasi Pembukaan Jalur Pendakian Aik Berik

Mataram, 8 November 2018. Berkaitan dengan akan dibukanya jalur pendakian Aik Berik maka pada Hari Kamis Tanggal 08 November 2018 pukul waktu 09.00 WITA bertempat di Hotel Puri Indah, Mataram Telah diselenggarakan sosialisasi kebijakan pengelolaan kawasan mengenai pembukaan jalur pendakian Aik Berik yang dihadiri oleh berbagai instansi dan pelaku wisata serta pihak-pihak terkait baik dari kalangan swasta maupun pemerintahan. Pada sosialisasi tersebut disampaikan tentang Manajemen Pengunjung oleh Kepala Balai TN Gunung Rinjani Ir. Sudiyono, M.Si dan jalur pendakian alternatif pasca gempa yaitu jalur pendakian Aikberik mengenai kondisi medan, peluang dan hambatannya serta mekanisme penentuan/penetapan Pendapatan Asli Daerah. Setelah dilakukan pemaparan dan diskusi, terdapat beberapa kesepakatan yaitu Kegiatan sosialisasi kebijakan pengelolaan kawasan mengenai pembukaan jalur pendakian Aik Berik TN Gunung Rinjani dilaksanakan dengan tujuan untuk menginformasikan rencana pembukaan jalur pendakian Aik Berik kepada para pihak. Jalur pendakian Aik Berik dibuka dengan pertimbangan bahwa berdasarkan kajian hasil survey yang telah dilakukan pasca gempa, kondisi jalur pendakian Aik Berik dinilai relatif lebih aman dibandingkan dengan jalur pendakian lainnya. Pembukaan jalur pendakian Aik Berik secara resmi akan dilakukan oleh Bapak Bupati Lombok Tengah pada hari Senin tanggal 19 November 2018 dan digratiskan untuk umum pada hari tersebut. Beberapa kebijakan yang akan diberlakukan oleh Balai TN Gunung Rinjani dalam kegiatan pendakian melalui jalur pendakian Aik Berik adalah : Mekanisme booking online (pembelian tiket masuk pendakian dilakukan secara online), Pembatasan kuota pengunjung sebanyak 150 orang/hari, Mekanisme chek in chek out (pemeriksaan tiket masuk dan barang bawaan pendaki yang berpotensi sampah, memberikan list barang berpotensi sampah yang harus dibawa oleh pengunjung saat melakukan pendakian dan diserahkan kepada petugas pada pintu keluar untuk pengecekan sampah pendakian). Peserta rapat sosialisasi menyepakati pembukaan jalur pendakian Aik Berik dengan tetap melibatkan stakeholders terkait dan masyarakat di sekitar jalur pendakian Aik Berik dalam pengelolaannya. Kesepakatan untuk menyusun MoU dan Perjanjian Kerja Sama antara Balai TN Gunung Rinjani dan Pemerintah Daerah akan dilaksanakan secepatnya. Balai TN Gunung Rinjani akan melakukan koordinasi intensif dengan para pihak serta membentuk tim kecil untuk menyusun rencana pengembangan dan penataan jalur pendakian Aik Berik. Kebijakan yang berlaku di kawasan HKm terkait dengan kegiatan pendakian akan diserahkan sepenuhnya kepada KPH Rinjani Barat, Tastura dan Pelangan dengan pihak-pihak terkait. Hasil kebijakan tersebut disampaikan kepada pihak Balai TN Gunung Rinjani untuk disebarluaskan kepada calon pendaki. Promosi objek wisata serta potensi yang ada di sekitar jalur pendakian Aik Berik dapat dilakukan melalui aplikasi booking online eRinjani, ASITA (Asosiasi Biro Perjalanan Wisata), BPPD (Badan Promosi Pariwisata Daerah) dan media lainnya. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Rinjani
Baca Berita

Pelepasliaran Satwa Dilindungi di Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional

Pekanbaru, 7 November 2018. Pelepasliaran satwa dilindungi yang telah beberapa saat berada di kandang transit satwa Balai Besar KSDA Riau dilakukan pada hari Senin, 5 November 2018 bertepatan dengan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional. Pelepasliaran dilakukan di kawasan konservasi dalam pengelolaan Balai Besar KSDA Riau yang jauh dari pemukiman penduduk dan merupakan habitatnya. Dua ekor Beruang Madu (Helarctos malayanus), satu ekor Macan akar (Felis bengalensis); dan satu ekor Kukang (Nycticebus coucang) dilepasliarkan untuk kembali ke alam bebas. Tim terdiri dari 6 orang yang dipimpin oleh drh Rini Deswita bersama Polisi Kehutanan, paramedis, perawat satwa, dan anggota tim berangkat dari kantor Balai Besar KSDA Riau dengan menggunakan dua kendaraan yang masing masing membawa satu ekor beruang dan satwa lainnya. Satwa yang berada di kandang transit Balai Besar KSDA Riau berasal dari penyerahan warga, penyitaan maupun temuan yang sebelum dilepasliarkan telah dilakukan pengecekan kesehatan dan observasi. Apabila dinilai siap dilepaskan ke alam bebas maka akan segera dilakukan pelepasliaran ke habitatnya. Adapun tujuan pelepasliaran adalah selain mengembalikan satwa tersebut ke habitatnya juga agar satwa dapat berkembangbiak secara alami untuk menghindari kepunahan dan terjaganya ekosistem yang ada. Sumber : Balai Besar KSDA Riau

Menampilkan 6.657–6.672 dari 11.140 publikasi