Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Begini Serunya Latihan Disiplin Polhut Gunung Ciremai

Kuningan, 12 November 2018. Polisi Kehutanan (Polhut) ialah kepolisian khusus. Melakukan upaya perlindungan dan pengamanan hutan merupakan tugas Polhut. Dalam menjalankan tugas di lapangan, Polhut kerap menghadapi situasi dan kondisi yang sulit diduga. Bahaya sering mengancam hutan beserta isinya termasuk keselamatan diri seorang Polhut. Jumat (9/11), Polhut Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) menyelenggarakan latihan kesamaptaan di #StarCampIpukan. "Pendekatan sosial mesti kita kedepankan dalam pengelolaan taman nasional. Namun kita tak boleh lupa untuk meningkatkan disiplin sebagai petugas keamanan", amanat Kuswandono, Kepala Balai TNGC dalam apel pagi (9/11). Ya, keahlian teknis dan disiplin Polhut dalam upaya perlindungan dan pengamanan memang harus terus diasah. Untuk menjaga disiplin dapat dilakukan dengan latihan baris berbaris dan bela diri. Dedi Supriadi, instruktur dari Kepolisian Resor (Polres) menyampaikan materi dasar baris-berbaris. Hadap kanan, hadap kiri, hadap serong kiri atau kanan, jalan di tempat dan langkah tegap ialah gerakan yang harus dilakukan peserta. "Saat baris-berbaris, badan harus tegap dan pandangan lurus ke depan", perintah instruktur. Peserta serius mengikuti setiap arahan instruktur. Bila ada kesalahan gerakan, langsung ditegur untuk diperbaiki sesuai gerakan yang semestinya. Latihan baris-berbaris ini cukup menguras tenaga. Tapi peserta merasa senang karena teringat kembali saat pelatihan dan pelatihan pembentukan Polhut beberapa tahun lalu. Acara berlanjut dengan latihan bela diri yang disampaikan Mulyana, instruktur dari Polres Kuningan. Bela diri yang dipraktekkan yakni bela diri tangan kosong khas Kepolisian. "Bela diri praktis digunakan satu lawan satu. Gerakannya sederhana namun dilakukan dengan cepat sehinga efektif melumpuhkan lawan", ungkap Mulyana. Kuda-kuda, pukulan, tendangan, tangkisan dalam dan luar adalah beberapa gerakan dalam bela diri praktis. Instruktur memberikan jurus untuk melumpuhkan lawan dalam situasi satu lawan satu. Dekati lawan, posisikan diri dalam kuda-kuda. Raih salah satu tangan lawan kemudian tekuk sedemikian rupa sehingga lawan meringis kesakitan. Selepas rehat siang, kegiatan dilanjutkan dengan materi peraturan perundangan terkait Kepolisian Khusus yang disampaikan Komisaris Polisi Agus Syafrudin, Wakil Kepala Polres Kuningan. "Jangan ragu untuk melakukan tindakan hukum karena kita diberi kewenangan untuk itu", tegas Wakil Kepala Polres Kuningan. Latihan disiplin ini dilakukan untuk melakukan pembelaan diri dalam situasi terdesak yang mengancam jiwa Polhut. So, tak perlu takut karena Polhut tetap sahabat masyarakat [teks © Agus Darmawan, foto © Rudi, Agus Y & Kuswandono - BTNGC | 112018]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

BBKSDA Sumut Menimba Ilmu di BBKSDA Jabar

Medan, 9 November 2018. Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Tiongkok…, nasehat bijak ini pula yang melatar belakangi kegiatan Peningkatan Kapasitas Pengelolaan Wisata Alam Personil Balai Besar KSDA Sumatera Utara di Balai Besar KSDA Jawa Barat, pada tanggal 2 s.d 5 Nopember 2018. Rombongan Tim Balai Besar KSDA Sumatera Utara, yang dipimpin Kepala Bagian Tata Usaha, Teguh Setiawan, S.Hut., berkekuatan 15 orang, disambut baik oleh Plh. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Barat, Yani Turniati, pada Jumat 2 Nopember 2018, di aula Balai Besar KSDA Jawa Barat. Yani Turniati, yang didampingi Kepala Sub Bagian Program dan Kerjasama, Vitriana Yulaita M., M.S.Pi, MP., berbagi informasi tentang Progres dan Potensi Kerjasama Kemitraan Lingkup Balai Besar KSDA Jawa Barat serta Pengelolaan Wisata di Kawasan Wisata Alam Lingkup Balai Besar KSDA Jawa Barat. Berbekal informasi awal ini, pada hari kedua, Sabtu, 3 Nopember 2018, Tim Balai Besar KSDA Sumatera Utara mengunjungi dan belajar pengelolaan kawasan TWA Tangkuban Perahu, salah satu kawasan TWA di Indonesia yang sukses menyumbang PNBP tertinggi. Ada banyak pembelajaran yang didapat dalam pengelola wisata dari PT. Graha Rani Putra Persada (GRPP), pemegang Ijin Pengusahaan Pariwisata Alam (IPPA). Di hari ketiga, Minggu, 4 Nopember 2018, Tim Balai Besar KSDA Sumatera Utara, melanjutkan kunjungan berturut-turut ke Kampung Cai Rancaupas untuk melihat kegiatan wisata penangkaran rusa, kemudian ke Situ Patenggang dan terakhir ke kawasan Kawah Putih. Ketiga lokasi wisata konservasi alam tersebut menjadi alternatif liburan bukan hanya bagi masyarakat kota Bandung dan sekitarnya, tetapi juga bagi masyarakat kota Jakarta dan kota-kota lainnya di luar Propinsi Jawa Barat. Pengelolaan objek wisata alam yang sungguh-sungguh, kreatif dan profesional menjadikan kawasan ini sangat dirindukan oleh masyarakat pengunjung. Kunjungan Tim ke Kawah Putih Perjalanan yang hanya 4 hari, terasa sangat singkat, ada banyak hal yang semestinya perlu digali untuk mencapai keberhasilan pengelolaan wisata alam di kawasan konservasi Balai Besar KSDA Jawa Barat, namun waktu jualah yang membatasinya, sehingga Tim harus mengakhiri kunjungan dan kembali ke Medan, pada Senin, 5 Nopember 2018. Hatur nuhun Balai Besar KSDA Jawa Barat, terima kasih kota Bandung yang telah memberi informasi, pengetahuan dan inspirasi. Nantikan kunjungan kami berikutnya …… Sumber : Evansus Renandi Manalu - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Tata Kelola Lokasi Peneluran Maleo

Gorontalo, 12 November 2018. Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (Balai TNBNW) bekerja sama dengan Wildlife Conservasion Society (WCS) dan EPASS Bogani menyelenggarakan kegiatan Sosialiasasi Prosedur Tata Kelola Lokasi Peneluran Maleo di TNBNW pada tanggal 8-11 November 2018. Kegiatan ini untuk memperkenalkan dan menyeragamkan pemahaman akan isi prosedur tata kelola lokasi peneluran maleo kepada petugas-petugas di lapangan yang bekerja di lokasi peneluran atau terkait dengan pengelolaan areal-areal peneluran maleo di Propinsi Sulawesi Utara dan Gorontalo, Kegiatan yang dilaksanakan selama 4 hari di lokasi peneluran maleo Hungayono, wilayah kerja Resort Tulabolo-Pinogu SPTN Wilayah I Limboto, BTNBNW ini diikuti 25 orang peserta yang terdiri dari para pengelola lokasi peneluran maleo di Tambun, Muara Pusian, Hungayono dan Pohulongo TNBNW, pengelola lokasi peneluran maleo di Tangkoko BKSDA Sulut, pengelola lokasi peneluran maleo di Tanjung Binerean Sulut, Asosiasi Konservasi Tompotika (ALTO) Sulawesi Tengah, Peneliti BP2LHK Manado, Kepala Balai TNBNW, Kepala Resort dan Anggota Resort Tulabolo-Pinogu, PEH BTNBNW, Staf WCS dan EPASS Bogani. Sosialisasi prosedur tata kelola lokasi peneluran maleo ini dibuka oleh Yulian Sadono, S.Hut, MP (Kepala SPTN Wilayah III Maelang) yang mewakili Kepala Balai TNBNW. “Maleo merupakan satwa endemik Sulawesi yang dilindungi, pengelolaan lokasi peneluran yang baik dan benar menjadi salah satu factor yang mendukung kelestarian maleo di alam. Oleh karena itu, perlu adanya prosedur tata kelola lokasi peneluran maleo sebagai bahan pembelajaran untuk pengelolaan maleo yang lebih baik” ucap Yulian Sadono dalam sambutannya. Acara sosialisasi diisi dengan pemaparan isi dokumen prosedur tata kelola serta praktek langsung isi prosedur tata kelola di lokasi peneluran maleo Hungayono terkait isi dokumen prosedur tata kelola. Selain itu, dalam acara ini juga diisi dengan sharing dari peserta tentang pengalaman pengelolaan lokasi peneluran maleo di wilayah kerjanya masing-masing sehingga dapat memperkaya pembelajaran pengelolaan lokasi peneluran maleo menjadi lebih baik. Banyaknya pembelajaran penting dalam pengelolaan maleo di lokasi-lokasi peneluran yang ada di kawasan TNBNW, mendorong Balai TNBNW bersama WCS dan EPASS Bogani untuk menyusun panduan atau prosedur tata kelola dalam pengelolaan lokasi-lokasi peneluran maleo. Prosedur tata kelola yang dituangkan dalam Surat Keputusan Kepala Balai TNBNW Nomor: SK.2396/BTNBNW-1/2018 disusun agar dapat menjadi pedoman atau acuan bagi pengelolaan lokasi-lokasi peneluran maleo khususnya bagi Balai TNBNW sehingga dapat mendukung upaya-upaya peningkatan populasi maleo di alam. Sumber : Dini Rahmanita, S.Hut - PEH Muda Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone
Baca Berita

Spot Instagramable ala Majalengka

Kuningan, 12 November 2018. Majalengka, satu dari dua kabupaten Tatar Pasundan di kaki dataran tertinggi Jawa bagian barat, gunung Ciremai. Majalengka berbatasan langsung dengan Cirebon, Kuningan, Ciamis, Tasikmalaya dan Sumedang. Untuk mencapai Majalengka, pengunjung bisa menempuh jalur darat via bus atau kereta api di Cirebon yang dilanjutkan ke tujuan. Khusus jalur udara bisa langsung mendarat di Kertajati, Majalengka. Kabupaten ini punya potensi wisata alam, budaya dan kuliner khas yang bisa jadi daya tarik pelancong. Dari ketiga potensi tadi, wisata alam gunung Ciremai menjadi yang terdepan mengangkat citra Majalengka di dunia pariwisata. Banyak tempat wisata Majalengka yang masih tergolong baru sehingga belum banyak diketahui wisatawan.Tak heran jika Majalengka jadi destinasi wisata yang tak boleh dilewatkan saat berlibur ke Bumi Pasundan. Wisata alam memang tak pernah bosan menyajikan pemandangan yang sangat menakjubkan. Kali ini, Majalengka menawarkan berbagai keindahan alam yang sangat sayang untuk dilewatkan. Yup, ada 13 lokasi wisata alam Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Majalengka. Jumlah tersebut belum ditambah dengan lokasi wisata yang berada di luar Taman Nasional Gunung Ciremai. Wisata "tirta" atau air, pesawahan, situ atau danau, bumi perkemahan, situs sejarah, pendakian gunung Ciremai dan menyaksikan fauna seperti elang Jawa, Surili dan Landak serta flora Anggrek, Kantong Semar dan Edelweis. Ditambah kuliner lokal Emping, Wedang Serenut, Sari Kapundung, Madu, Kurupuk Kuli dan Pisang. Semua yang enak itu menunggu kedatangan kita disini. Majalengka juga gudangnya "spot selfie instagramable" yang sudah pasti anti "mainstream", tempatnya di Situ Sangiang, Bumi Perkemahan Gunung Putri, Puncak Sawiyah, Bukit Mercury Sayang Kaak, Jalur Pendakian Apuy, Bumi Perkemahan Panten, Curug Sawer, Gunung Ciwaru, Batu Nyongclo, Bumi Perkemahan Cidewata, Curug Cipeuteuy, Bumi Perkemahan Awi Lega, Ekologi Batu Asahan, Bukit Batu Semar dan Bumi Perkemahan Leles. Untuk informasi lengkap destinasi tersebut, bisa langsung "search & follow" akun instagram mereka dan @gunung_ciremai. Ayo kunjungi wisata alam Majalengka di akhir pekan ini. "Upload" foto yang keren dengan "hastag" #gunungciremai. Jangan lupa, tetap jaga kebersihan "spot selfie" ya sobat! [teks © Gandi, foto © MPGC Bukit Merkuri Sayang Kaak-BTNGC | 112018]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Pengabdian Saka Wanabakti TN Matalawa Meneruskan Perjuangan Para Pahlawan

Waingapu, 11 November 2018. Memperingati Hari Pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November Tahun 2018, Satuan Karya Pramuka Wanabakti Laiwangi Wanggameti Kwartir Cabang (Kwarcab) Sumba Timur binaan Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) melaksanakan Bakti Kebersihan Pantai dengan pemungutan sampah-sampah plastik, yang kali ini berlokasi di seputaran Dermaga Lama Waingapu. mengingat sampah plastik pada lokasi tersebut cukup banyak dan dampak kesehatan bagi lingkungan hingga dampak yang menghancurkan kehidupan laut cukup tinggi, maka Kepala Balai TN Matalawa Maman Surahman S.Hut M.Si selaku Ketua Majelis Pembimbing Satuan Karya Wanabakti Matalawa menerjunkan personil sebanyak 31 orang yang terdiri dari anggota dan calon anggota Wanabakti didampingi 10 orang pamong-instruktur Wanabakti. Usai bakti kebersihan pimpinan Wanabakti Laiwangi Wanggameti yakni Kakak Marjono Merrapu menyampaikan arahan agar kegiatan ini tidak hanya dilaksanakan dilingkup organisasi namun juga dilingkungan keluarga seluruh anggota Wanabakti. Sampah yang terkumpul ditimbang dan dilombakan per Krida dimana Krida yang memperoleh sampah terbanyak diberikan hadiah dari kakak pamong dan juga diberikan Buletin TN Matalawa kepada seluruh peserta Bakti Kebersihan yang terlibat. Upaya bersih pantai ini merupakan karya nyata sebagai sumbangsih generasi muda dalam meneruskan perjuangan pahlawan yang gugur di medan perang. Kegiatan ditutup dengan kegiatan Team Building dan makan bersama seluruh anggota dan pamong. Sumber : Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti.
Baca Berita

Peresmian Kaombo dan Launching Produk Masyarakat Binaan di Taman Nasional Wakatobi

Wakatobi, 10 November 2018. Dalam upaya implementasi salah satu dari 10 (sepuluh) cara baru mengelola kawasan konservasi yaitu Penghormatan Nilai Budaya dan Adat, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Ir. Wiratno, M.Sc berserta rombongan melaksanakan kunjungan kerja di Taman Nasional Wakatobi dalam rangka peresmian Kaombo pada tanggal 10 November 2018. Kaombo merupakan sistem tata kelola wilayah adat yang diatur berdasarkan norma adat yang berlaku di lembaga Adat Sarano Wali. Norma ini sejalan dengan tujuan pengelolaan kawasan Taman Nasional Wakatobi di bidang konservasi, seperti larangan mengambil/merusak Kima, Penyu, Lumba-Lumba, Akar Bahar, larangan penggunaan bom ikan/bius, kompresor, menebang mangrove, penambangan pasir, dll. Kaombo merupakan salah satu hasil inisiasi Taman Nasional Wakatobi yang tertuang dalam Perjanjian Kerjasama (PKS) dengan lembaga Adat Sarano Wali dalam Penguatan Fungsi Kawasan Pelestarian Alam melalui Pemberiaan Akses Kelola Wilayah Adat oleh Lembaga Adat di Pulau Binongko Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah III Taman Nasional Wakatobi. "Seperti kita, alam juga butuh istirahat untuk pemulihan sehingga dapat memberikan hasil yang baik dan terjaga kelestariannya", ujar Dirjen KSDAE dalam sambutannya. Kegiatan peresmian ini dirangkaikan pula dengan pemberian gelar kehormatan oleh lembaga adat kepada Dirjen KSDAE sebagai La Ode Ma'asi Alamu yang berarti Raja Penyayang Alam Semesta. Gelar ini sejalan dengan peran beliau sebagai pemimpin di bidang konservasi yang menjaga kelestarian alam. Selain itu, kegiatan ini dirangkaikan pula peresmian produk Kelompok Masyarakat berupa abon sebagai produk olahan ikan yang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di desa penyangga kawasan Taman Nasional Wakatobi. Hal ini berpedoman pada cara pengelolaan kawasan konservasi yang menjadikan masyarakat sebagai subyek pengelola. Sumber : Balai Taman Nasional Wakatobi
Baca Berita

Para Kukang pun Akhirnya Kembali ke Habitatnya

Ketapang, 10 November 2018. Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang bersama Yayasan IAR Indonesia (YIARI) kembali melepasliarkan tiga ekor kukang di Hutan Lindung Gunung Tarak terletak di Desa Pangkalan Teluk, Kecamatan Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang (10/11). Tiga ekor kukang bernama Popon, Aim dan Gendut merupakan hasil serahan masyarakat kepada pihak BKSDA Kalimantan Barat. Ketiganya diserahkan sepanjang tahun 2018. Tragisnya, kukang - kukang tersebut diserahkan dalam kondisi gigi taring yang terpotong. November 2018, akhirnya ketiga kukang - kukang tersebut dinyatakan siap oleh tim medis untuk dilepasliarkan setelah melalui serangkaian proses rehabilitasi, untuk mengembalikan sifat liar dan kemampuan bertahan dihabitat aslinya. Pelepasliaran satwa hasil sitaan atau serahan masyarakat ke habitatnya merupakan salah satu upaya yang hingga saat ini dilakukan oleh BKSDA Kalbar. Pelepasliaran kukang ini merupakan pelepasliaran yang ke 6 kalinya di tahun 2018 dimana sudah 17 ekor kukang yang dilepasliarkan di Kawasan Hutan Lindung Gunung Tarak Desa Pangkalan Teluk Kec. Nanga Tayap Kab. Ketapang. Banyaknya masyarakat yang masih memburu dan memelihara satwa terutama yang dilindungi menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi seluruh pihak. Kesadaran masyarakat terhadap konservasi perlu terus ditingkatkan, jangan sampai alasan ekonomi dan kesenangan semata membuat hak satwa untuk hidup di habitatnya menjadi hilang. Untuk yang ke sekian kali pelepasliaran satwa liar dilakukan. Layak disyukuri dan diapresiasi. Tapi kerja konservasi belum selesai. Kerja-kerja konservasi akan terus dilakukan hingga saatnya nanti tidak perlu lagi ada pelepasliaran satwa ke habitatnya karena semua satwa sudah ada di tempatnya dan hidup sebagaimana mestinya mereka hidup, demikian disampaikan Kepala Balai KSDA Kalbar, Sadtata Noor Adirahmanta, S.Hut, MT. Sumber : Tim WRU SKW I Ketapang, Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Jelajah Konservasi sebagai Langkah Strategis Inovasi Konservasi di Masa Depan

Kotaagung, 10 November 2018. Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) dalam lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bekerja sama dengan Forum Komunikasi Konservasi Indonesia (FKKI) menyelenggarakan kegiatan Jelajah Konservasi pada tanggal 1 hingga 10 November 2018 di Provinsi Banten dan Lampung. Jelajah Konservasi atau Traveling Seminar adalah sebuah konsep pembelajaran melalui perjalanan (travel) ke beberapa kawasan konservasi dalam rangka peningkatan pengetahuan dan kapasitas kepemimpinan staf eselon menengah di KLHK, terutama di bawah Direktorat Jenderal KSDAE. Selain diikuti 12 peserta dari berbagai unit pelaksana teknis KSDAE di penjuru Nusantara, terdapat pula 4 peserta dari unsur FKKI. Forum Komunikasi Konservasi Indonesia (FKKI) sendiri merupakan sebuah koalisi sepuluh kelompok masyarakat sipil yang bersama-sama mengusung misi di bidang konservasi serta tata kelola sumber daya alam. Kesepuluh organisasi ini, yakni Burung Indonesia, Conservation International Indonesia, Greenpeace Indonesia, Yayasan KEHATI, The Nature Conservancy, Transformasi, Wetlands International, Wildlife Conservation Society, World Resources Institute Indonesia, dan WWF Indonesia, sangat mendukung upaya pemerintah, dalam hal ini KLHK, untuk mengoptimalkan pengelolaan kawasan konservasi, terutama melalui upaya pembelajaran secara berkesinambungan. Pelestarian kawasan konservasi Indonesia yang meliputi Kawasan Suaka Alam (KSA) dan Kawasan Pelestarian Alam (KPA) sangat penting, karena fungsi, nilai, serta manfaat yang diberikan kawasan konservasi begitu tinggi dan beraneka ragam. Atas dasar misi bersama tersebut, FKKI menggagas kegiatan Jelajah Konservasi. Tema-tema besar dalam Jelajah Konservasi didasarkan pada sebuah kurikulum yang mencakup berbagai dimensi pengelolaan kawasan konservasi seperti ekologi, ekonomi, kelembagaan, hingga sosial-budaya. Kegiatan Jelajah Konservasi ini diproyeksikan untuk terus dilakukan secara berkesinambungan oleh FKKI dan KLHK, di mana edisi pertama Jelajah Konservasi diselenggarakan di beberapa lokasi KSA dan KPA di Provinsi Banten dan Lampung. Pada acara pembukaan kegiatan Jelajah Konservasi di Wisma Tamu Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan, 1 November lalu, Direktur Jenderal KSDAE, Ir. Wiratno, M.Sc., menekankan kontribusi para pihak terhadap pengembangan dan penyadartahuan ilmu konservasi. Utamanya, para peserta Jelajah Konservasi diminta menyebarluaskan informasi yang didapat serta mengembangkan konsep konservasi secara inovatif di masa mendatang. I Nyoman Suryadiputra, Direktur Wetlands International Indonesia, juga memberikan gambaran mengenai dukungan FKKI terhadap pemerintah dalam berbagai upaya konservasi alam, baik di ekosistem terestrial mapupun laut, selain menjelaskan nilai strategis dari kegiatan Jelajah Konservasi ini. Sementara sebagai pemateri pembuka, Ir. Wahjudi Wardojo, M.Sc., Senior Advisor for Conservation Policy, The Nature Conservancy (TNC) memberikan uraian mengenai pola kepemimpinan atau leadership pattern, dimana sangat penting bagi pemimpin untuk memiliki jiwa kepemimpinan di samping juga kelebihan dalam hal kecerdasan, visi, maupun mental dan kepribadian dibandingkan mereka yang dipimpinnya. Hal tersebut dikaitkan dengan latar belakang para peserta kegiatan Jelajah Konservasi, yakni staf eselon 3 dan 4 dari KSDAE-KLHK yang terseleksi secara ketat, dan oleh karenanya diproyeksikan untuk menjadi jajaran pimpinan di masa depan. Beberapa pegiat senior FKKI juga memaparkan berbagai materi lain, seperti pentingnya kolaborasi, falsafah ekonomi konservasi dan valuasi jasa ekosistem, serta penanganan konflik tenurial. Dari hari kedua hingga kesembilan pelaksanaan kegiatan Jelajah Konservasi ini, para peserta diajak untuk melihat dan merasakan langsung aplikasi dari materi teoretis yang diperoleh di kelas, di lokasi-lokasi di Banten dan Lampung, yakni: Cagar Alam (CA) Pulau Dua, Taman Nasional (TN) Bukit Barisan Selatan (termasuk Stasiun Penelitian Way Canguk serta beberapa resor di dalamnya), dan Hutan Kemasyarakatan Beringin Jaya. Lokasi-lokasi tersebut juga menjadi area wilayah kerja atau dampingan beberapa organisasi anggota FKKI. 1. Pengamatan burung di Kawasan Penyangga Cagar Alam Pulau Dua, Banten 2. Peserta menggunakan motor yang telah dimodifikasi untuk mengunjungi lokasi Hutan Kemasyarakatan dengan komoditas kopi di Tanggamus, Lampung 3. Peserta berpose setelah praktek SMART Patrol di dekat Stasiun Penelitian Way Canguk di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Lampung 4. Peserta menyeberangi sungai dalam perjalanan dari desa terdekat menuju Stasiun Penelitian Way Canguk di dalam Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Lampung Para peserta menyatakan kesan dan pembelajaran yang positif. Misalnya, salah satu peserta dari Balai TN Gunung Leuser, Karyadi, S.Hut., M.I.L. terkesan dengan materi tentang penggunaan geotagging untuk memonitor pemulihan ekosistem, yang menurutnya sangat mungkin untuk diaplikasikan di tempat lain, selain juga terkesan akan materi teori dan praktek mengenai mitigasi konflik manusia dan satwa, terutama gajah. Peserta lain dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat, P. Bharata Sibarani, S.H., menyampaikan pengalamannya akan pembelajaran lapangan tentang kehidupan masyarakat di sekitar kawasan TN Bukit Barisan Selatan, terutama kisah sukses kolaborasi yang diinisiasi pemerintah dalam pemberdayaan masyarakat supaya turut melestarikan kawasan konservasi. Pada tanggal 9 November, sehari sebelum peserta beranjak menuju Jakarta untuk kembali ke area kerja masing-masing, Jelajah Konservasi ditutup secara resmi oleh Plt. Direktur Kawasan Konservasi, Ir. Tandya Tjahjana M.Si di Kantor Balai Besar TN Bukit Barisan Selatan di Kotaagung, Lampung. Penutupan dilakukan setelah masing-masing peserta mempresentasikan ide mengenai inovasi yang akan dijalankan di unit kerja masing-masing. Tandya menguraikan bahwa tantangan pengelolaan kawasan konservasi berbeda di setiap fungsi kawasannya. Jelajah Konservasi telah mengajak peserta untuk mengeksplorasi tantangan secara kritis, dan menumbuh-temukan gagasan solusi dari pembelajaran di dua fungsi kawasan, yakni di KSA yang berfungsi sebagai cagar alam yaitu CA Pulau Dua, dan di KPA yang berfungsi sebagai taman nasional, yaitu TN Bukit Barisan Selatan. Pengalaman yang diperoleh peserta Jelajah Konservasi ini, tambah Tandya, telah memicu munculnya inovasi yang bermanfaat besar bagi alam dan masyarakat di wilayah kerja masing-masing peserta. Inovasi penuh manfaat yang didukung kolaborasi kuat antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga non-pemerintah akan menghasilkan win-win solution dalam pengelolaan kawasan konservasi ke depan. Sumber : Direktorat Kawasan Koservasi
Baca Berita

FGD Tata Kelola PNBP TWAL Teluk Maumere Secara Partisipatif

Maumere, 09 November 2018, Seksi Konservasi Wilayah (SKW) IV Maumere melaksanakan Focus Grup Discusion (FGD) bersama stakeholders di Sylvia Hotel, Maumere pada tanggal 8 November 2018 guna membahas Draft Pedoman Kerja Tata Kelola PNBP Kawasan Konservasi TWAL Teluk Maumere sekaligus membangun kesepahaman antarpihak yang berkepentingan agar berperan secara partisipatif dalam tata kelola PNBP pada TWAL Teluk Maumere. Stakeholders yang hadir dalam kesempatan tersebut terdiri dari stakeholders eksternal dan internal. Stakeholders eksternal terdiri dari pelaku usaha wisata, asosiasi, perwakilan kader konservasi, Masyarakat Mitra Polhut (MMP), dan beberapa instansi teknis lingkup Pemerintah Kabupaten Sikka. Sedangkan stakeholders internal terdiri dari Bidang KSDA Wilayah II Ruteng dan Bidang Teknis pada Balai Besar KSDA NTT FGD dibuka secara resmi oleh Kepala Bidang Konservasi Wilayah II Ruteng dimana dalam sambutannya dinyatakan bahwa pengelolaan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya bersifat holistik sehingga perlu melibatkan para pihak (stakeholders). Permasalahan dalam tata kelola PNBP pada TWAL Teluk Maumere yaitu kawasan yang open access, adanya benturan kepentingan dari berbagai pihak terkait, serta keterbatasan dukungan (sarana prasarana, SDM, dan anggaran). Lebih lanjut lagi, Kepala Bidang Konservasi Wilayah II berharap agar melalui FGD tersebut terjadi diskusi untuk memperoleh masukan konstruktif dari parapihak, membangun komitmen dan kesepahaman dalam mendukung tatakelola PNBP pada kawasan TWAL Teluk Maumere, serta menghindari terjadinya benturan kepentingan pada tataran operasional dilapangan. Rancangan Tata Kelola PNBP TWAL Teluk Maumere merupakan sebuah inovasi baru yang digagas oleh Kepala SKW IV, Agustinus Djami Koreh, SST., M.Si dalam rangka proyek perubahan Diklat Kepemimpinan Tingkat IV angkatan ke-30 yang diselenggarakan oleh BP2SDM kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Dalam paparannya, Kepala SKW IV selaku project leader, menyampaikan bahwa kawasan TWAL Teluk Maumere potensinya tinggi untuk dikembangkan. Akan tetapi disisi lain masih dijumpai permasalahan yang menghambat pembangunan konservasi. Oleh karena itu sangat dibutuhkan komitmen kerjasama antar semua stakeholders yang berkepentingan terhadap TWAL Teluk Maumere. Akhir dari FGD ini adalah penandatanganan rumusan kesepakatan para pihak yang akan dituangkan dalam Komitmen Kerjasama dalam Pelaksanaan Tata Kelola PNBP Kawasan TWAL Teluk Maumere. Keberhasilan gagasan proyek perubahan ini tentunya memerlukan dukungan dan kerjasama dari parapihak. Harapan akhirnya tidak lain adalah optimalisasi PNBP TWAL Teluk Maumere yang berjalan secara efektif dan efisien. Sumber : BBKSDA NTT_Martinus Raya Sili
Baca Berita

Pengecekan Lokasi Konflik Gajah dengan Manusia di Aceh Jaya

Aceh Jaya, 9 November 2018. Merespond laporan masyarakat Gampong Tuwiripa dan Lhok Guci Kecamatan Teunom Kabupaten kepada Petugas Resor 13 Meulaboh. Petugas Resor bersama personil CRU Alue Kuyun Aceh Barat, personil Kepolisian Resot Aceh Jaya didampingi oleh masyarakat turun ke lokasi untuk melakukan pengecekan lokasi konflik gajah liar yang dilaporkan. Adapun lokasi konflik yang dilaporkan merupakan areal perkebunan kelapa sawit yang letaknya jauh dari pemukiman penduduk adapun dari hasil pengecekan tanaman kelapa sawit berumur ± 2 tahun sebanyak ± 150 Batang tanaman. Wilayah ini sendiri merupakan salah satu wilayah yang sering terjadi konflik gajah liar dengan manusia mulai dari sampoinet sampai ke wilayah perbatasan antara Kabupaten Aceh Barat dengan Kabupaten Nagan Raya hampir setiap tahun dipastikan adanya laporan masyarakat terkait konflik gajah liar baik itu kawasan gajah liar yang masuk ke areal pemukiman, perkebunan masyarakat maupun perkebunan swasta yang memang banyak diwilayah tersebut. Penanganan konflik gajah liar dengan manusia dilaksanakan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh berpedoman kepada Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.48/MENHUT-II/2008 Tentang Pedoman Penanganan Konflik Antara Manusia Dan Satwa Liar dalam upaya mewujudkan tujuan dan target yang tertuang dalam Rencana Aksi Konservasi Gajah Sumatera dan Kalimantan Tahun 2007-2017. Sumber : Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh
Baca Berita

Mewujudkan Keselarasan melalui Kegiatan Penanaman pohon Bersama Masyarakat di TN Bali Barat

Gilimanuk, 9 November 2018. Sebanyak 150 orang lebih yang terdiri dari unsur Muspika, Forum Komunikasi Kelompok Swadaya Masyarakat GIlimanuk, Kelompok Nelayan Karang Sewu, Kelompok Nelayan Segara Merta, para pelajar di Gilimanuk, pondok pesantren Yayasan Almansyur Klatakan, Forum umat beragama, Kelurahan Gilimanuk, PT. Shorea Barito Wisata, bersama-sama dengan petugas TN Bali Barat melakukan kegiatan penanaman pohon bersama dalam rangka memperingati hari Pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 Nopember 2018. Penanaman pohon dilakukan di Objek Wisata Karang Sewu, Resort Gilimanuk, SPTN WIlayah I Jembrana, Taman Nasional Bali Barat. Drh Agus Ngurah Krisna K, M.Si selaku kepala balai TN Bali Barat menyampaikan dalam sambutannya saat membuka acara, perjuangan pahlawan kita dulu merebut kemerdekaan dari penjajahan tapi sekarang bentuk perjuangan kita adalah berjuang melestarikan lingkungan. Ide kegiatan penanaman bersama ini di inisiasi oleh kelompok masyarakat yang langsung direspon positif oleh Ali Purwanto, S.Hut, M.Si selaku kepala seksi PTN wilayah I Jembrana. Jenis bibit pohon yang ditanam adalah ketapang, sawo kecik, kwanji, dan intaran. Objek wisata alam Karang Sewu merupakan salah satu tujuan wisata di kawasan TNBB. Hamparan padang rumput luas di tambah dengan panorama pantai dan hutan mangrove menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Kegiatan penanaman bersama ini diharapkan bisa memberikan kenyamanan kepada pengunjung sebagai tempat istirahat sambil menikmati panorama alam Pantai Karang Sewu. Penanaman ini direspon sangat baik oleh stakeholder dan masyarakat setempat. Kebersamaan ini merupakan langkah nyata dalam pengelolaan kawasan konservasi pada masa saat ini maupun yang akan datang. Sumber : Balai TN Bali Barat
Baca Berita

BBKSDA Jatim Luncurkan Tiket Online Ijen Blue Fire

Sidoarjo, 9 November 2018. Bagi kamu yang punya hobi berwisata alam dan mendaki gunung, kini sudah tidak ribet saat ingin mengunjungi beberapa lokasi wisata di bawah pemangkuan Balai Besar KSDA Jawa Timur. Pasalnya, telah diluncurkan aplikasi online berbasis telepon pintar untuk memesan tiket online masuk kawasan tersebut.dan aplikasinya dapat di unduh langsung di Google Play. Aplikasi ini melayani pemesanan tiket secara online di 3 kawasan taman wisata alam (TWA), yakni TWA. Kawah Ijen, TWA. Tretes, dan TWA. Gunung Baung. Selain itu tiket pendakian ke Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang (Gunung Argopuro) juga dapat dilakukan pada aplikasi ini. Baik yang melalui Pos Baderan maupun Pos Bremi. Meski demikian, aplikasi ini tidak melulu berisikan pemesanan tiket online. Pemegang smartphone juga dapat mengakses informasi dan galeri foto-foto terkini dari keempat kawasan konservasi tersebut. Pun demikin dengan berita-berita terbaru mengenai BBKSDA Jatim dapat dinikmati pada saat yang sama. Namun pelayanan tiket di lokasi wisata atau pos pendakian tetap dilayani seperti biasanya. Nah, tunggu apalagi, segera pasang aplikasi ini di gadget kamu dan langsung deh rencanakan liburanmu. (Agus Irwanto, Analis Data) Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Monitoring, Transplantasi, dan Pembibitan Karang SPTN Wilayah I Wakai TN Kepulauan Togean

Ampana, 9 November2018. SPTN Wilayah I Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) wilayah I Wakai TN Kepulauan Togean telah melaksanakan Kegiatan Monitoring, Transplantasi dan Pembibitan terumbu karang pada tanggal 15-31 Oktober2018. Kegiatan ini dilaksanakan anggota SPTN I bersama dengan masyarakat yang berada disekitar lokus kegiatan. Lokasi pelaksanaan kegiatan transplantasi karang dan pembibitan ini, yaitu di Sebelah Utara Pulau Siatu dekat dengan Menara. Kegiatan pembibitan dilakukan di tempat yang sama dengan kegiatan transplantasi karang harapannya adalah akan terbentuk komunitas hamparan karang hasil kegiatan yang dapat digunakan untuk mengambil bibit dan kedepannya dapat digunakan untuk menjadi spot dive dan snorkling dalam kegiatan wisata. Sedangkan kegiatan monitoring terumbu karang di lakukan pada Titik Pulau Taupan, Pinekel, Siatu, Menara Una-Una, Lumotok, dan Bomba. M. Ardiyanto selaku Ketua Tim Kegiatan menyatakan bahwa pemilihan lokasi di Desa Siatu Kecamatan Batudaka karena lokasi tersebut merupakan salah satu zona rehabilitasi di kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean, khususnya di SPTN wilayah I Wakai. Selain itu, Kegiatan inijuga merupakan salah satu bagian dari gerakan kampanyekonservasi di tingkat tapak yang di lakukan BTNKT, ujarnya. Penanaman fragmen karang pada substrat dilakukan dengan menggunakan metode spider web dimana dalam satu substrat terdapat 19 fragmen karang. Dalam kegiatan kali ini, secara keseluruhan, substrat yang ditanam di dasar laut sebanyak 186 substrat dengan total jumlah bibit karang sebanyak 3.534 bibit. Menurut Iksan Tengkow, SH selaku Kepala SPTN I, “Kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan konservasi alam dalam rangka merehabilitasi dan memulihkan kawasan yang mengalami kerusakan akibat kegiatan illegal fishing dengan cara meningkatkan keutuhan koloni karang yang masih tersisa”. Tidak lupa, Dalam kegiatan kali ini Balai TNKT juga melibatkan sejumlah masyarakat Desa di sekitar lokasi transplantasi karang. Diharapkan dengan adanya partisipasi masyarakat dalam kegiatan kali ini, kedepannya masyarakat dapat ikut serta dalam menjaga dan memelihara karang hasil transplantasi tersebut. Sumber : Balai Taman Nasional Kepulauan Togean
Baca Berita

Penggiringan Gajah Sumatera Kembali ke Habitatnya di Geumpang Pidie

Pidie, 9 November 2018. Merespon laporan masyarakat Gampong Leupu Kecamatan Geupang Kabupaten Pidie via Call Center BKSDA Aceh terkait turunnya kawasan gajah liar ke pemukiman yang mengakibatkan 4 pelajar madrasah pingsan karena kaget dengan kejadian tersebut. Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh bersama personil dari CRU Mila dibantu oleh masyarakat melakukan respon penanganan konflik Gajah dengan Manusia dengan melakukan upaya penggiringan kawasan gajah sumatera tersebut ke areal Hutan Lindung. Tim penggiringan yang terdiri dari 8 personil dipimpin oleh Azanudin melakukan upaya penggiringan dengan upaya mengarahkan kawanan gajah liar kembali ke kawasan Hutan lindung dengan suara meriam maupun petasan yang memang kerap digunakan untuk melakukan upaya penggiringan kembali kawanan gajah yang turun ke pemukiman. Upaya penggiringan dengan cara yang paling maksimal dilakukan untuk saat ini mengingat intensitas terjadinya konflik gajah liar dengan manusia di Provinsi Aceh berdasarkan laporan yang diterima Call Center maupun petugas di seksi maupun resor hampir setiap minggu ada laporan masyarakat terkait hal tersebut. Penanganan konflik gajah liar dengan manusia dilaksanakan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh berpedoman kepada Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.48/MENHUT-II/2008 Tentang Pedoman Penanganan Konflik Antara Manusia Dan Satwa Liar dalam upaya mewujudkan tujuan dan target yang tertuang dalam Rencana Aksi Konservasi Gajah Sumatera dan Kalimantan Tahun 2007-2017. Sumber : Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh
Baca Berita

Penyerahan “Lucas” Si Elang Brontok

Bandung, 9 November 2018. Dijembatani oleh Komunitas Pemerhati Kelestarian Satwa Rumah Singgah Satwa (RSS) yang merupakan komunitas generasi muda yang konsen terhadap upaya penyelamatan satwa di Kabupaten Majalengka, kemarin 7 November 2018 kembali Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan Tumbuhan dan Satwa Liar Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat (BBKSDA Jawa Barat), Bidang KSDA Wilayah III Ciamis, Seksi Konservasi Wilayah VI Tasikmalaya, Resor KSDA Wilayah Cirebon menerima penyerahan secara sukarela 1 (satu) ekor satwa langka dilindungi jenis Elang Brontok Hitam (Spizaetus cirrhatus) dari masyarakat. Elang tersebut oleh pemilik diberi nama “Lucas” seperti halnya nama pemain sepakbola dunia dikarenakan, semenjak menetas Elang ini memiliki sifat gesit dan ganas dalam memakan mangsanya. “Elang ini saya rawat dari mulai telur sampai menetas hingga umur 5 bulan berada dalam perawatan saya, dan saya berpikir “Lucas” tidak seharusnya dipelihara seperti ini harus kembali ke alam habitatnya dimana saya dulu menemukan telurnya, karena khawatir kalau dilepas begitu saja malah ada yang memburu saya menghubungi komunitas pemerhati satwa di Majalengka” jelas MSP selaku pemilik Elang. Melalui Call Center BBKSDA Jawa Barat, RSS selaku komunitas penyelamat satwa segera meneruskan laporan dari masyarakat kepada anggota Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan Tumbuhan dan Satwa Liar Seksi Konservasi Wilayah VI Tasikmalaya untuk segera melaksanakan evakuasi dan penyelamatan satwa tersebut. “saya disini hanya sebagai fasilitator yang menjembatani masyarakat yang ingin menyerahkan satwa ke pihak berwenang dalam hal ini BBKSDA Jawa Barat untuk segera diselamatkan dievakuasi agar satwa tersebut dapat hidup layak dihabitatnya dan berkembang biak di alam” tutur Wawan Suhermawan selaku Ketua RSS. “kami ucapkan terimakasih dan apresiasi kepada RSS yang sudah menjembatani proses serah terima ini, diharapkan kedepannya para generasi muda ini bisa menjadi pelopor generasi yang peduli terhadap kelestarian keberlangsungan kehidupan satwa di alam karena memelihara satwa liar di rumah itu sangat berbahaya bisa membahayakan diri kita sebagai pemiliknya karena suatu waktu sifat liarnya akan muncul, dapat menyebarkan penyakit, mengganggu keseimbangan ekosistem dan punahnya satwa liar di alam, mengekang kebebasan satwa liar yang seharusnya hidup di alam serta melanggar hukum dan mendapatkan sanksi pidana” tegas Ade Kurniadi Karim selaku Polisi Kehutanan BBKSDA Jawa Barat. Proses serah terima secara sukarela Elang tersebut disaksikan oleh beberapa anggota Masyarakat Pecinta Gunung Ciremai sebagai bentuk media sosialisasi dan edukasi secara luas ke kalangan masyarakat agar tidak memelihara/memiliki satwa dilindungi. “setiap orang dilarang untuk menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperdagangkan satwa yang dilindungi oleh Undang-undang sesuai dengan ketentuan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya pada Pasal 21 Ayat 2. Oleh karena itu apabila ada masyarakat atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang memiliki informasi terkait hal tersebut tadi agar jangan sungkan untuk melaporkan ke kami melalui Call Center Balai Besar KSDA Jawa Barat dan akan secepatnya kami tindak lanjuti laporan tersebut” pungkas Ade Kurniadi Karim. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan bisa menjadi penyadartahuan kepada masyarakat akan pentingnya satwa liar hidup bebas di alam agar jenis-jenis satwa khususnya yang dilindungi oleh Undang-undang tidak mengalami kepunahan sehingga generasi mendatang masih dapat melihat dan menjumpai satwa-satwa tersebut yang tetap terjaga kelestariannya. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

Senyum Manis Si Cantik Rafflesia

Bogor, 7 November 2018. Langit tidak secerah biasanya, mungkin karena Bulan November sudah masuk musim penghujan sehingga matahari enggan tersenyum dan malas menampakkan diri. Meskipun cuaca tidak mendukung, petugas tetap melakukan patroli yang menjadi tugas dan kewajiban. Kegiatan patroli ini bersifat rutin untuk pengamanan kawasan dari berbagai bentuk gangguan terutama perburuan satwa dan perambahan kawasan untuk dijadikan lahan pertanian. Kali ini patroli dilakukan di Blok Ciparay ditempuh menggunakan kendaraan roda dua melalui Kampung Leuwi Sapi, Desa Lemah Duhur. Suasana berangsur hangat dengan adanya tegur sapa dan senyum ramah dari penduduk yang dilewati, itulah ciri khas keramahtamahan masyarakat di perkampungan yang menimbulkan rasa kenyamanan tersendiri bagi kami. Habis perkampungan masuk ke lahan pertanian milik masyarakat yang ditanami sayur-mayur. Di sini petugas juga disambut tegur sapa dari petani yang sedang beraktifitas di ladangnya. Petugas tidak ingin kehilangan moment yang bagus ini untuk melakukan penyadartahuan kepada mereka untuk ikut berperan serta menjaga keamanan kawasan hutan dengan tidak memperluas lahan pertanian masuk ke dalam kawasan hutan dan tidak melakukan perburuan di dalam kawasan hutan. Menjadi petugas Polisi Kehutanan masih berkesanmenyeramkan bagi masyarakat, apabila ada yang melakukan pelanggaran di dalam kawasan hutan akan diproses secara hukum sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Hal ini cukup menjadi beban kami, agar mereka mempunyai kesadaran bahwa tugas menjaga keamanan kawasan hutan adalah menjadi tanggung jawab bersama. Mengingat begitu pentingnya menjaga kelestarian hutan dan keseimbangan ekosistemnya untuk kelangsungan hidup manusia. Keringat mengalir jatuh ke bumi rasa lelah mulai terasa tapi kami tetap melangkah melanjutkan perjalanan dan mengamati sekitar kawasan untuk mengetahui ada tidaknya gangguan, sampai di satu lokasi ditemukannya habitat baru “Si Cantik“ primadona Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Rafflesia rochussenii, ternyata ada satu knop yang tersenyum merekah. Pertengahan September lalu, tepatnya tanggal 13 September 2018 saat petugas Resort PTN Cimande – Bidang PTN Wilayah III Bogor, TNGGP melakukan kegiatan patroli bersama masyarakat, menemukan habitat baru Rafflesiarochussenii. Saat itu tercatat sebanyak 7 knop hidup, 2 knop busuk, dan 1 mekar busuk. Rasa lelah yang dirasa terbayarkansaat melihat “Si Cantik“ berwarna merah. Petugas setidaknya mencatat ada 6 buah knop baik, 2 knop busuk, dan 1 mekar baik. Semoga Taman Nasional Gunung Gede Pangrango tetap menjadi habitat yang baik bagi “Si Cantik“ Rafflesia rochussenii Sumber : Ade Frima Nurcahya (Polhut Pelaksana) - Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Menampilkan 6.641–6.656 dari 11.140 publikasi