Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Review Rencana Pengelolaan TWA Pulau Kembang

Marabahan, 14 November 2018 – Balai KSDA Kalimantan Selatan mengadakan kegiatan Konsultasi Publik Review Rancana Pengelolaan TWA Pulau Kembang di ruang rapat Bahalap Setda Kabupaten Barito Kuala dengan dihadiri unsur dinas instansi terkait lingkup Pemerintah Kabupaten Barito Kuala, Uspika Kecamatan Alalak, Kepala Desa Alalak, mitra kerja/LSM, TNI/POLRI, dan BKSDA Kalsel. “Konsultasi Publik ini bertujuan memperoleh masukan serta saran guna penyempurnaan draft final review RP TWA Pulau Kembang sebagai tahapan untuk proses pengesahan oleh Direktur Jenderal KSDAE”, ujar M. Ridwan Effendi, S.Hut, M.Si Kasi Konservasi Wilayah II Banjarbaru. Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan, Dr. Mahrus Aryadi, M.Sc mengatakan, “permasalahan di TWA Pulau Kembang yang utama adalah infrastruktur yang tidak mendukung lagi karena sudah lama dan tidak terawat. Tidak terawat ini disebabkan karena infrastruktur yang dibangun itu belum diserahterimakan kepada Balai KSDA Kalimantan Selatan sehingga kita tidak bisa mengeluarkan dana untuk perawatan dan perbaikan.” “Itu sudah kita diskusikan juga dengan Pak Sekda Kab. Barito Kuala dan Kepala Bappelitbang Kab. Barito Kuala untuk bisa diselesaikan segera dengan harapan bahwa ini bisa direspon cepat oleh PUPR pusat dan kita bisa mendapatkan jawaban pasti untuk mengagendakan pembangunan maupun pengembangan infrastruktur serta tentu juga memperbaiki infrastruktur yang rusak.” “Dengan konsultasi publik ini kita juga sekaligus mensosialisasikan bahwa sekarang konservasi itu tidak hanya untuk dipandang saja tetapi juga sudah bisa melibatkan masyarakat dalam pengelolaannya melalui skema kemitraan konservasi maupun melalui skema perjanjian kerja sama”, tambah Mahrus. Sekda Kab. Barito Kuala, Ir. H. Supriyono, S.IP menyatakan bahwa Pemerintah Kabupaten Barito Kuala sangat mendukung dengan rencana pengelolaan TWA Pulau Kembang ini. Ir. H. Zulkipli Yadi Noor, M.Sc, Kepala Bappelitbang Kab. Barito Kuala pun menuturkan hal yang sama, dengan mengoptimalkan pengelolaan SDA dan sumber daya alam lainnya untuk menjamin kelanjutan pembangunan dan menjaga keseimbangan lingkungan sesuai dengan visi RPJPD Kabupaten Barito Kuala Tahun 2005 – 2025. Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kab. Barito Kuala, Dahlan juga menuturkan bahwa dengan rencana pengelolaan TWA Pulau Kembang ini bisa mewujudkan perekonomian daerah yang maju guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang berbasis pada potensi dan keunggulan lokal umumnya dan masyarakat sekitar TWA Pulau Kembang khususnya. Dari hasil konsultasi publik ini diperoleh beberapa kesimpulan bahwa Pemerintah Kabupaten Barito Kuala mendukung sepenuhnya pariwisata alam sesuai yang tertuang di dalam RPJPD Kabupaten Barito Kuala serta dalam melaksanakan kegiatan pengelolaan kawasan TWA Pulau Kembang selain memperhatikan aspek ekologi juga harus memperhatikan aspek ekonomi dan sosial masyarkat sekitar kawasan konservasi. (jrz) Sumber : Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan
Baca Berita

Konsultasi Publik Draft Desain Tapak TWA Camplong

Camplong, 14 November 2018. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Timur (BBKSDA NTT) melaksanakan kegiatan konsultasi publik draft desain tapak pengelolaan pariwisata alam pada blok pemanfaatan Taman Wisata Alam (TWA) Camplong di Aula Wisma Oemathonis Kabupaten Kupang (14/11). Acara dihadiri Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kabupaten Kupang; Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Kupang; Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Kupang; Bagian Administrasi Sumber Daya Alam Setda Kabupaten Kupang; Kecamatan Fatuleu; Kelurahan Camplong I; Desa Camplong II; Desa Oebola Dalam; tokoh masyarakat Kelurahan Camplong I; tokoh masyarakat Desa Camplong II; dan tokoh masyarakat Desa Oebola Dalam. Penyusunan draft dokumen desain tapak merupakan lanjutan dari tahapan penyusunan dokumen perencanaan kawasan TWA Camplong sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Kawasan Suaka Alam Dan Kawasan Pelestarian Alam, yaitu diawali dengan Dokumen Penataan Blok TWA Camplong yang disahkan pada tahun 2016, Dokumen Rencana Pengelolaan TWA Camplong yang disahkan pada tahun 2017, kemudian dilanjutkan dengan Draft Dokumen Desain Tapak TWA Camplong yang disusun dan di lakukan konsultasi publik pada bulan 14 November 2018. Pelaksanaan konsultasi publik draft dokumen desain tapak TWA Camplong menghasilkan beberapa kesepakatan yang tertuang dalam berita acara konsultasi publik yang ditandatangani peserta meliputi Taman Wisata Alam Camplong merupakan kawasan konservasi yang harus menjadi aset bersama sehingga perlu komitmen bersama dalam pengelolaan kawasan terutama masyarakat lokal, Pemda Kabupaten Kupang dan Balai Besar KSDA NTT; Desain tapak pengelolaan pariwisata alam pada blok pemanfaatan TWA Camplong terdiri dari ruang publik dan ruang usaha; Ruang usaha dimanfaatkan untuk kepentingan pengusahaan pariwisata alam bagi usaha penyediaan sarana wisata alam (Investor/BUMN/BUMD/BUMDes/Koperasi) yang akan mendukung pariwisata di TWA Camplong khususnya serta Kabupaten Kupang dan Provinsi NTT pada umumnya; dan Ruang publik dimanfaatkan untuk kepentingan pengunjung, pengelolaan dan pengusahaan pariwisata alam bagi usaha penyediaan jasa wisata alam serta sarana pendukung wisata alam yang akan mendukung pariwisata di TWA Camplong khususnya serta Kabupaten Kupang dan Provinsi NTT pada umumnya. Tahapan berikutnya dari penyusunan desain tapak TWA Camplong yaitu melakukan perbaikan dokumen sesuai masukan peserta konsultasi publik kemudian dilanjutkan dengan pembahasan dokumen di tingkat Pusat (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan cq. Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi). Hasil pembahasan di tingkat pusat digunakan dalam penyempurnaan dokumen guna mendapatkan pengesahan dari Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi. Desain tapak adalah pembagian ruang pengelolaan pariwisata alam di zona/blok pemanfaatan dan zona/blok perlindungan/rimba/bahari yang diperuntukkan bagi ruang publik dan ruang usaha penyediaan jasa/sarana pariwisata alam (Peraturan Direktur Jenderal PHKA Nomor: P. 3/IV-SET/2011 jo Peraturan Direktur Jenderal PHKA Nomor: P. 5/IV-SET/2015). Penyusunan dokumen desain tapak bertujuan agar pelaksanaan dan pengembangan pengelolaan pariwisata alam dapat dilakukan secara serasi dan harmonis dengan lingkungan alam sekitarnya sesuai kaidah, prinsip, dan fungsi konservasi sesuai potensi sumber daya alam, kondisi sosial dan ekonomi masyarakat, budaya dan aktivitas masyarakat sekitar TWA Camplong. Desain tapak TWA Camplong hanya dilakukan pada blok Pemanfaatan seluas 22,72 Hektar atau sekitar 3,3% dari luas seluruh kawasan 696,6 Hektar yang dibagi dalam Ruang Usaha dan Ruang Publik. Ruang Usaha adalah bagian dari zona/blok pemanfaatan taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam karena letak, kondisi dan potensinya dimanfaatkan untuk kepentingan pengusahaan pariwisata alam bagi usaha penyediaan sarana wisata alam. Adapun jenis-jenis kegiatan usaha penyediaan sarana wisata alam meliputi wisata tirta, transportasi, akomodasi, wisata petualangan dan olah raga minat khusus. Ruang Publik adalah bagian dari blok/zona perlindungan/ rimba/bahari/pemanfaatan di suaka margasatwa, taman nasional, taman hutan raya dan taman wisata alam karena letak, kondisi dan potensinya dimanf aatkan untuk kepentingan pengunjung, pengelolaan dan pengusahaan pariwisata alam bagi usaha penyediaan jasa wisata alam serta sarana pendukung wisata alam. Adapun jenis-jenis kegiatan usaha penyediaan jasa wisata alam, meliputi: informasi pariwisata, pramuwisata, transportasi, perjalanan wisata, cinderamata, serta makanan dan minuman. Sumber : Rio Duta – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Timur
Baca Berita

Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai dan Pemkab Konsel Sepakat Bangun Wisata Mangrove

Konawe Selatan, 14 November 2018. Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Konawe Selatan (Konsel) sepakat untuk membangun kawasan wisata mangrove dan rawa aopa dalam taman nasional. Komitmen tersebut tertuang dalam MoU yang disepakati kedua belah pihak dan telah ditandatangani pada tanggal 4 Juni 2018 lalu. Kemudian diperkuat lagi dengan pertemuan kedua pada tanggal 5 November 2018 silam antara pihak Pemkab Konsel dan Balai TNRAW di Rujab Bupati Konsel yang disaksikan Kepala Dinas Pariwisata Konsel yang intinya menyepakati untuk dibuatkan MoU dalam hal pengembangan ekoturisme. Lokasi pengembangannya di Desa Tatangge dan Desa Pewutaa, dimana sebelumnya juga dilakukan pertemuan dengan pihak TNRAW dalam hal mendetailkan jenis-jenis kegiatan yang akan dikembangkan. Kepala Balai TNRAW Ali Bahri menjelaskan, rencana pengembangan wisata mangrove pihaknya akan mendirikan tracking mangrove, station riset mangrove, tower pengamatan, jembatan, toilet, dan tempat penginapan. Dengan partisipati aktif masyarakat Desa Tatangge dan Muara Lanowulu. “Muara Lanowulu cocok untuk pengembangan ekowisata mangrove dengan menggunakan kapal tradisional, kuliner laut dan sekaligus minat khusus yaitu birdwatching,” kata Ali Bahri. Sementara untuk pengembangan di Rawa Aopa nantinya akan dikembangkan wisata minat khusus Birdwatching karena kawasan rawa aopa merupakan salah satu kawasan ramsar site dunia dan zona wallacea. Pemkab Konsel akan membiayai pendampingan desa sekitar TNRAW melalui kegiatan prakondisi untuk desa wisata, sementara untuk pengembangan kawasan dalam kawasan TN akan dibiayai oleh pihak Balai TNRAW. “Untuk yang tahun depan itu yang akan dibangun ya kawasan mangrove dulu, mulai dari dermaga lanowulu sampai pondok singgah di mangrove dan pusat informasi monitoring mangrove berupa station riset mangrove,” jelasnya Ali Bahri. Sementara itu, untuk mensukseskan pengembangan kawasan wisata di TNRAW, kedua pihak melibatkan salah seorang staf khusus Gugus Tugas Multipihak (GTM) Ditjen KSDAE sekaligus pendiri Baluran Ecolodge Nurdin Razak. Nurdin Razak sendiri sudah melakukan kujungan ke lapangan, setelah memberikan materi singkat mengenai ekoturisme sebelum ke Wilayah Mangrove Muara Lanowulu dan lokasi Penangkaran Rusa dan Rawa Aopa. Ia mengatakan potensi wisata di kawasan TNRAW sangat besar jika menjadi perhatian yang tentunya akan membantu perekonomian masyarakat sekitar melalui program penguatan kelembagaan, pendampingan masyarakat dan pembuatan lodge. “Saya nantinya secara khusus akan melakukan pendampingan penguatan masyarakat melalui lembaga,” kata Nurdin. Program kerja dari Nurdin Razak pun akan diusulkan dalam bentuk proposal kepada Pemkab Konsel, pasalnya Bupati Konsel Surunuddin sangat antusias dan mendukung penuh pengembangan kawasan wisata di TNRAW dan meminta Nurdin Razak untuk segera mengajukan proposal pengembangannya. Surunuddin Dangga mengungkapkan bahwa Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai sangat cocok menjadi sentra pengembangan pertanian khususnya sagu di sekitar rawa aopa, dan karamba ikan air tawar untuk budidaya dalam mendukung ekonomi masyarakat disekitar rawa aopa. “Kita akan buatkan sentra pemeliharaan ikan air tawar yang memiliki nilai ekonomis, selain itu kita kembangkan potensi pertanian seperti tanaman sagu yang sudah menjadi makanan nasional,” ungkap Surunuddin ditemui di Andoolo, Sabtu (4/11/2017) lalu. Ali Bahri juga menambahkan, jika selama ini pihaknya hanya fokus pada penanganan dan perlindungan taman nasional dari aktivitas perambahan. Tetapi, tidak pernah melihat dan mengembangkan potensi yang ada di TN Rawa Aopa Watumohai. “Kami akui selama ini kami fokus kepada pengawasan aktivitas perambahan, tapi tidak pernah melihat potensi apa yang bisa dikembang di kawasan taman nasional,” kata Ali Bahari dalam acara sosialisasi Rencana Pengelolaan Jangka Panjang (RPJP) Balai TNRAW Tahun 2018-2027, Senin (5/11/2018) di salah satu hotel di Kendari. Sumber : Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai
Baca Berita

Mahasiswa Khairun Kembali Kunjungi Resort Tayawi

Tayawi, 12 November 2018. Sebanyak 21 orang mahasiswa program studi Usaha Perjalanan Wisata Fakultas Ilmu Budaya semester I Universitas Khairun melakukan kunjungan ke Resort tayawi sebagai salah satu kegiatan observasi ekowisata. Kunjungan tersebut dihadiri oleh 1 orang dosen pendamping. Pada kesempatan tersebut, Raduan, SH selaku Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Weda memberikan penjelasan secara singkat mengenai Taman Nasional Aketajawe Lolobata serta potensi kawasan Objek Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) yang terdapat di Resort Tayawi yang nantinya akan dikembangkan. Muslim Fadel, S.S., M.Sc sebagai dosen pendamping menuturkan bahwa nantinya setelah selesai melaksanakan observasi lapang para mahasiswa akan ditugaskan membuat kreatifitas video singkat dan diharapakan dengan kegiatan ini akan menjadi bekal untuk membuat paket wisata. Sebelum para mahasiwa melakukan observasi ke beberapa Objek Daya Tarik Wisata Alam di Resort Tayawi, terlebih dahulu mereka mendapakan penjelasan singkat (briefing) tentang aktifitas yang hanya dapat dilakukan di kawasan konservasi, persiapan fisik serta informasi medan dan jarak yang akan ditempuh nantinya Dalam melihat dan mengunjungi ODTWA tersebut oleh tenaga teknis Resort, Sukardi M. Saleh S.Hut. Sumber : Nadiya Fasha Fawzi, S.Hut - Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Rapat Evaluasi Bulanan Balai TN Kutai dan Pelepasan Staf Purna Tugas

Bontang, 12 November 2018. Balai TN Kutai melaksanakan Rapat rutin dalam rangka monitoring dan evaluasi capaian kinerja Balai Taman Nasional Kutai. Sebagaimana pada bulan-bulan sebelumnya, kegiatan yang digelar di Ruang rapat Balai TN Kutai-Bontang menghadirkan Perwakilan dari masing-masing urusan di Kantor Balai TN Kutai, SPTN I dan SPTN II serta ke-enam Resort di TN Kutai. Selain diikuti oleh Staf Balai TN Kutai, pertemuan juga dihadiri oleh Mitra Kerjasama Balai TN Kutai yang pada rapat evaluasi bulan November 2018 diikuti oleh Bikal, Kerjasama PLN dan Kerjasama Mitra TN Kutai. Agenda rapat difokuskan kepada pemantauan progress pelaksanaan kegiatan dan rencana tindaklanjut dalam merealisasikan seluruh program kerja yang sudah dituangkan dalam DIPA Balai TN kutai dan Rencana Pelaksanaan program Kerjasama. Dalam arahannya Kepala Balai menghimbau seluruh staf untuk dapat bekerja lebih optimal agar target kinerja yang direncanakan dapat tercapai secara optimal. Dalam pertemuan tersebut, perwakilan dari Bikal menyampaikan progress pelaksanaan kegiatan TFCA dalam kerangka pembangunan Desa konservasi disekitar kawasan TN Kutai. Kegiatan yang akan berlangsung sampai pertengahan tahun 2019, saat ini baru melaksanakan penggalian informasi serta menyatukan persepsi dengan masyarakat. Sebagai akhir dari rangkaian rapat bulanan, Balai TN Kutai kembali melepas salah satu personil yang menjalani purna tugas . Setelah mengabdikan diri dalam pengelolaan Taman Nasional Kutai selama 32 tahun, Pak Sarju menyusul 5 rekan seperjuangannya, menjalani purna tugas. Pak Sarju yang dalam kesehariannya akrab disapa Pakde telah mengabdi di TN Kutai sebagai tenaga pengaman hutan. Selama 32 tahun menjalani tugasnya, beliau telah menjelajah hampir seluruh bagian Taman Nasional Kutai. Pak Sarju sepanjang menjalankan tugas sebagai pegawai TN Kutai, banyak meninggalkan kesan yang berarti, baik bagi pak Sarju maupun Bagi Balai Taman Nasional Kutai. Ulin raksasa di Sangkima-SPTN I Sangatta yang menjadi ikon Wisata Alam Sangkima merupakan salah satu temuan Pak Sarju, ketika sedang menjalankan tugas pendampingan penelitian. Banyak kesan yang terungkap dalam acara pelepasan dalam rangka purna tugasnya. Bukan hanya dari rekan seperjuangan di Balai TN Kutai, tetapi juga dari para mitra kerja, seperti Saka Wanabakti dan Bikal yang turut hadir dalam acara tersebut. Acara pelepasan staf Balai TN Kutai yang purna tugas tersebut, dilaksanakan dalam suasana kekeluargaan bersama seluruh staf Balai TN Kutai. Saling memberi pesan dan kesan baik dari yang purna tugas, rekan seperjuangan maupun dari Kepala Balai TN Kutai. Dalam sambutannya Kepala Balai menyampaikan agar staf yang purna tugas tidak memutus tali silaturahmi dengan TN Kutai. Pak sarju di akhir masa aktifnya sebagai staf TN Kutai, banyak melibatkan diri dalam pembenahan Bontang mangrove Park. Semoga tempat tersebut dapat selalu menjadi penyambung silaturahmi bagi seluruh pegawai baik yang aktif maupun yang purna tugas. Meskipun ada yang menjalani purna tugas, diharapkan untuk tetap menggalang rasa persaudaraan dengan Keluarga besar Balai Taman Nasional Kutai. Tak lupa, Kepala Balai mewakili seluruh keluarga besar Balai TN Kutai memberikan kenang-kenangan sebagai simbol persaudaraan dalam keluarga besar TN Kutai. Sumber : Balai Taman Nasional Kutai
Baca Berita

Kenalkan Potensi Wisata di TWA Gunung Tunak melalui Kegiatan Festival Tunak 2018

Praya,10 November 2018. Para Petugas TWA Gunung Tunak terlihat lebih sibuk dari biasanya. Para peserta sudah mulai berdatangan ke meja registrasi panitia untuk mengikuti kegiatan Festival Tunak 2018, yakni Jambore dan Jelajah Alam. Kegiatan Jambore dan Jelajah Alam TWA Gunung Tunak 2018 berlangsung selama dua hari, Sabtu hingga Minggu (10-11 November 2018) di TWA Gunung Tunak. Beberapa diantara peserta Jambore dan Jelajah Alam berasal dari Saka Wana Bhakti Lombok, Mahasiswa Universitas Mataram, Komunitas Trash Bag, Genpi Lombok Sumbawa, Lombok Phonegraphy, Tunak Besopoq, Siswa dan Siswi Sekolah sekitar TWA Gunung Tunak, Pegawai dan Staff BKSDA NTB serta Masyarakat Umum. Total peserta mencapai 200-an orang. Kegiatan juga dihadiri oleh Kepala Balai KSDA NTB, Kepala SKW I Praya serta Sekda Lombok Tengah (/yang mewakili). Tak hanya Jambore, di hari pertama kegiatan juga diisi dengan Materi Konservasi, Digital Destinasi, Teknik Fotografi menggunakan Ponsel oleh Lombok Phonegraphy serta Malam Keakraban seluruh peserta Jambore. Berlanjut pada hari kedua, terdapat tiga rute terpisah yang harus dipilih peserta untuk kegiatan Jelajah Alam. Masing-masing rute menuju destinasi wisata di TWA Gunung Tunak yang berbeda-beda, Satu rute menuju Pantai Sari Goang, Satu rute menuju Pantai Teluk Ujung dan Satu rute lagi menuju Pantai Bilasayak. Rute Pantai Sari Goang merupakan rute jelajah alam yang paling memantang karena selain terbilang cukup jauh (sekita 2800m dari pusat acara), medan yang dilalui juga berupa tanjakan dan turunan. Namun Pemandangan yang disajikan di Pantai Sari Goang lebih juara dari rute lain. Meski cuaca hari itu cukup terik, namun para peserta tetap antusias mengikuti kegiatan jelajah alam. Terlebih lagi pemandangan yang akan memanjakan para peserta ketika sampai di destinasi wisata pilihan mereka. Usai dimanjakan pemandangan Destinasi Wisata di TWA Tunak Gunung Tunak, Para peserta kemudian kembali ke Pusat Acara dan berkumpul untuk Pembagian Doorprize diantaranya kaos, sandal outdoor, drybag, hammock, kipas angin, TV serta Sepeda. TWA Gunung Tunak merupakan salah satu Kawasan Konservasi yang pengelolaanya berada di bawah Balai KSDA NTB. Terletak di Desa Mertak, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah atau sekitar 45 menit dari Bandara international Lombok. TWA Gunung Tunak merupakan Taman Wisata Alam prioritas dan andalan BKSDA NTB yang merupakan kawasan pendukung dari Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika di Wilayah Lombok Tengah. Sumber : Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

Nilai Efektifitas Pengelolaan TN Rawa Aopa Watumohai dengan Metode Penilaian METT Meningkat

Kendari, 13 November 2018. Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) melakukan penilaian Management Effectiveness Tracking Tool (METT) tahun 2018 yang dilaksanakan di Swiss Bell Hotel Kendari pada tanggal 6 s.d 8 November 2018. Kegiatan ini dihadiri oleh 34 peserta dari pihak internal pegawai TNRAW dan pihak eksternal yaitu kalangan akademisi, kecamatan yang berbatasan dengan kawasan TNRAW serta tokoh-tokoh masyarakat yang memiliki kontribusi besar dalam pengelolaan kawasan TNRAW. Dalam kegiatan ini hadir sebagai narasumber dan fasilitator adalah Wenda Yandra Komara, S.Si., M.Si dari Direktorat Kawasan Konservasi yang menyampaikan Peningkatan nilai efektivitas pengelolaan seluruh kawasan mengindikasikan adanya kegiatan-kegiatan pengelolaan yang dilakukan sesuai rencana aksi hasil penilaian pada tahun sebelumnya. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengevaluasi secara mandiri melalui self-assessment dari elemen-elemen penting yang ada pada pengelolaan taman nasional sehingga diharapkan nilai tersebut mencapai efektivitas pengelolaan TN Rawa Aopa Watumohai. Berdasarkan hasil penilaian terhadap 6 aspek penilain utama yang terdiri dari Konteks, Perencanaan, Input, Proses, Output dan Outcome diperoleh hasil indek nilai METT kawasan TNRAW sebesar 79%, terdapat peningkatan indeks nilai METT sebesar 11 % dibandingkan penilaian pada tahun 2017. Kenaikan signifikan terhadap aspek penilan utama Output yang merupakan produk dan jasa yang dihasilkan sesuai yang direncanakan dan telah direkomendasikan pada penilaian METT pada tahun 2017 berupa pembuatan atau penyusunan Rencana Pengelolaan (RPJP) TNRAW periode 2018 - 2027, RPJPn tahun 2018, Pembuatan Breeding Insitu Rusa Timor, penyusunan Desain Tapak Wisata serta perbaikan atau renovasi pondok kerja namun dalam penilaian tersebut masih terdapat kelemahan – kelemahan dalam isu prioritas dan menjadi rekomendasi perbaikan kedepannya antara lain masih minimnya partisipasi masyarakat dan stakeholder dalam pengelolaan kawasan melalui kemitraan konservasi untuk mengatasi keterlanjuran, minimnya akses oleh masyarakat sekitar untuk berbagi data dan informasi, Kapasitas pegawai yang belum optimal serta fasilitas lapangan dan kelengkapan sarpras di kantor resort dan fasilitas pengunjung yang belum memadai. Dalam penutupan acara, Kepala Balai TNRAW menyampaikan bahwa dengan meningkatnya hasil Penilaian METT ini, Balai TNRAW telah mencapai target Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) Balai TN Rawa Aopa Watumohai minimal 70 % nilai indeks efektivitas pengelolaan kawasan konservasi tahun 2019. Hal ini sesuai dengan Perdirjen No P.14/KSDAE-SET/2015 tentang indikator dan strategi pencapaian IKK berdasarkan proses peningkatan yang dilakukan, nilai METT 70% akan dicapai pada tahun 2019. Sumber : Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai
Baca Berita

Bromo Fun Bike 3 BBTNBTS

Malang, 13 November 2018. Bromo Fun Bike 3 tahun 2018 ini merupakan kegiatan tahunan TNBTS yang sudah diselenggarakan kali ke 3. Kegiatan fun bike ini merupakan kegiatan olahraga yang sangat disukai/diminati oleh masyarakat zaman now, sehingga animo masyarakat terhadap olahraga bersepeda ini sangat tinggi dan Olahraga bersepeda dijadikan gaya hidup untuk menuju hidup yang lebih sehat. Kegiatan Bromo Fun Bike TNBTS mengusung tema Bromo Fun Bike 3 Land of Edelweiss (BFB3LoE). Acara BFB3LoE diselenggarakan pada hari minggu, tanggal 11 November 2018, kegiatan ini juga merupakan salahsatu rangkaian kegiatan pendukung Festival Land of Edelweiss yang diselenggarakan pada tanggal 10 November 2018 kemarin di Desa Wonokitri, Kecamatan Pasuruan, Kabupaten Probolinggo. Acara pembukaan dan pelepasan start peserta dipimpin langsung oleh Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (Ir. John Kenedie, MM), beliau mengatakan kegiatan olah raga bersepada yang diselenggarakan oleh Balai Besar TNBTS ini merupakan kegiatan event tahunan TNBTS, kegiatan ini bukan untuk menjadi ajang perlombaaan, bukan siapa yang cepet, siapa yang datang pertama menjadi pemenang. Hadiah utama dan hadiah-hadiah lainnya nanti akan diundi. Diharapkan para peserta ketika mengelilingi Gunung Bromo ini dapat menikmati pemandangan dan keindahannya. Beliau juga mengingatkan kepada peserta untuk menjaga kebersihan lingkungan dan jangan buang sampah sembarangan. Nikmati alam Bromo ini dengan santai, ikuti jalur yang sudah ditentukan oleh panitia, jaga kesehatan dan keselamatan, ungkapnya demikian. Tempat start dan finish BFB3LoE di Bukit Savana Telletubies. Peserta menempuh jarak ± 22 Km yang di tempuh dalam waktu ± 4 Jam mengelilingi Wisata Gunung Bromo dan Laut Pasir. Peserta yang sudah tidak mampu mengelilingi Gunung Bromo dan melebihi waktu yang sudah ditentukan panitia, maka panitia menyisir rute dan mengevakuasi peserta ke tempat finish. BFB3LoE diikuti sebanyak 456 orang peserta dari 31 komunitas yang berasal dari berbagai belahan wilayah Jawa Timur (Malang, Lumajang, Probolinggo, Pasuruan, Surabaya, Batu, Blitar, Bojonegoro, Nganjuk, Kediri), 1 orang peserta dari Bogor (Jawa Barat), dan 1 orang peserta dari Propinsi Lampung. Tujuan diadakan kegiatan BFB3LoE ini salahsatunya adalah sebagai ajang promosi kawasan TNBTS dan menarik pengunjung lebih banyak lagi. Diakhir acara di bagikan door prize berupa Sepeda Gunung sebanyak 3 buah sebagai hadiah utama, TV serta aksesoris perlengkapan olah raga sepeda yang merupakan sumbangan atau partisipasi dari mitra TNBTS diantaranya Bromo Permai Hotel, Lava View Hotel, Tirta Investama, PT. Toyota Boshoku, Kaldera Adventure, Ladesta Gubuk Klakah, Paguyuban PKL Jemplang, Paguyuban Jeep Ngadas, Rani Home Stay dan Sherpa Bike. (Siti Maya) Sumber : Balai Besar Bromo Tengger Semeru
Baca Berita

Praktek Identifikasi Temukan Lebih dari 20 Jenis Herpetofauna di Sangkima

Bontang, 13 November 2018. Setelah mendapatkan teori di kelas, peserta kegiatan in house training herpetofauna di Taman Nasional Kutai melaksanakan praktek identifikasi jenis dengan metode eksplorasi di Sangkima. Peserta yang dibagi dalam tiga kelompok menyebar pada tiga lokasi dan melakukan eksplorasi jenis herpetofauna. Semua jenis yang ditemui diidentifikasi secara langsung dan beberapa sampel di koleksi sebagai bahan identifikasi lanjutan dan bahan latihan membuat specimen. Kegiatan praktek yang berlangsung pada malam hari diikuti oleh semua peserta yang berasal dari Balai TN Kutai, Balai Diklat Kehutanan Samarinda, Kader Konservasi, Pramuka Sakawanabakti, Mitra Taman Nasional Kutai (PT. Indominco Mandiri), PT. Surya Hutani jaya, PT. Badak, NGL., PT. Pupuk Kaltim dan PT. Kaltim Nitrate Indonesia. Keterlibatan para pihak dalam kegiatan ini, diharapkan dapat lebih meningkatkan upaya konservasi keanekaragaman hayati dan ekosistem di TN Kutai dan kalimantan Timur pada umumnya. Dalam pelaksanaan yang berlangsung selama 1 jam yaitu dari pukul 19.30-20.30, ditemukan lebih dari 20 jenis herpetofauna yang terdiri dari beberapa jenis reptile dan amfibi. Jenis herpetofauna yang banyak ditemukan adalah jenis katak: Amnirana nicobariensis, Kurixalus apendiculatus. Limnonectes Sp, Chalcorana Sp.; dan jenis kodok : Ingerophrynus divergens; jenis Gecko: Gecko monarchus, Ptychozoon horsfieldii, Ular dan beberapa jenis lainnya. Meskipun waktu yang digunakan cukup singkat, namun jumlah individu dengan variasi jenis yang cukup tinggi mengindikasikan kondisi ekosistem hutan Sangkima sangat sesuai untuk penelitian dan pendidikan lingkungan. Tidak hanya jenis herpetofauna, jenis tumbuhan sepanjang boardwalk dan jalur wisata juga sangat beragam. Pada jalur sepanjang 4 kilometer terdapat lebih dari 200 jenis pohon yang sudah teridentifikasi dilengkapi dengan daftar jenis yang dapat digunakan sebagai panduan dalam belajar. Materi terakhir dalam kegiatan Inhouse Training Herpetofauna, sosialisasi GO ARK yang disampaikan oleh Dr. Mirza D. Kusrini. GO ARK (Gerakan Observasi Amfibi reptil Kita) adalah gerakan yang dibuat untuk Meningkatkan peran serta masyakarat umum dalam melaporkan keberadaan amfibi dan reptil di sekitar kita melalui gerakan sains khalayak. Gerakan observasi diharapkan meningkatkan kepedulian masyarakat luas terhadap amfibi dan reptil di Indonesia. Setelah berlangsung selama 3 hari, kegiatan In House Training Herpetofauna ditutup oleh Bapak Nur Patria, Kepala Balai TN Kutai. Dalam sambutannya Kepala Balai berharap agar kerjasama yang terjalin dalam peningkatan pengelolaan keanekaragaman hayati, tidak berhenti hanya sampai pelatihan tetapi dapat ditindaklanjuti dalam program konservasi lainnya. Sebagai tindak lanjut kegiatan inhouse training, kedepan akan dilakukan identifikasi herpetofauna secara keseluruhan yang akan didokumentasikan dalam bentuk buku. Demikian juga untuk kelompok satwa lainnya. Peran serta para pihak dan dukungan dari lembaga pendidikan dan penelitian sangat diperlukan dalam upaya konservasi di Taman Nasional Kutai. Sumber : Balai Taman Nasional Kutai
Baca Berita

Pembersihan Jalur Wisata Bersama Masyarakat Di Bontang Mangrove Park

Bontang, 13 November 2018. Bersih sampah bersama masyarakat di Bontang Mangrove Park (BMP) merupakan bukti meningkatnya peran serta dan kepedulian masyarakat dalam pengelolaan wisata alam di TN Kutai. Sabtu, tanggal 10 November 2018, lebih dari 100 personal terjun secara sukarela untuk membersihkan BMP. Personil berasal dari Kelurahan Bontang Baru, kader Konservasi, Kelompok tani mangrove Lestari Indah, Babinkamtibmas Kelurahan Bontang Baru, Paguyuban parkir dan penjual BMP, masyarakat RT 9 Kelurahan Bontang Baru, dan RT 13 Kelurahan Bontang Kuala serta staf Balai Taman Nasional Kutai. Target utama kegiatan ini adalah untuk berperan bersama dalam membebaskan Bontang Mangrove Park dari sampah. Meskipun sedang berlangsung kegiatan pembersihan jalur wisata, BMP tetap dibuka seperti biasanya. Kegiatan bersih sampah yang sedang berlangsung sekaligus untuk mengedukasi pengunjung agar selalu menjaga kebersihan lingkungan, khususnya tempat wisata yang dikunjungi. Sejak dibuka sampai saat ini, BMP cukup ramai dikunjungi baik untuk sekadar berwisata, maupun yang ingin belajar tentang ekosistem mangrove dan kegiatan kelompok lainnya. Meskipun sebagian besar pengunjung sudah memiliki kesadaran tentang pentingnya manajemen sampah, namun tidak sedikit pula pengunjung yang masih mempunyai kebiasaan membuang sampah sembarangan. Pembersihan sampah dilakukan pada welcome area dan di sepanjang boardwalk, baik di atas jembatan maupun di dalam air/hutan mangrove. Keberadaan sampah di dalam areal hutan mangrove BMP bukan hanya akibat aktivitas pengunjung yang tidak bertanggung jawab, namun sebagian merupakan sampah kiriman akibat pasang surut air laut. Letak objek wisata Bontang Mangrove Park yang berseberangan dengan pemukiman semakin memperbesar potensi kiriman sampah akibat buangan limbah/sampah domestik dari rumah tangga. Sampah, dalam pengelolaan ekowisata merupakan salah satu indikator yang sudah distandarkan untuk mengukur keberhasilan pengelolaan. Pengelolaan sampah menjadi hal yang wajib untuk dilakukan dalam rangka menjaga kelestarian objek wisata. Sampah menjadi salah satu permasalahan sekaligus menjadi tantangan dalam pengelolaan wisata alam di Indonesia. Pada beberapa lokasi di Indonesia, sampah menjadi permasalahan yang berdampak pada menurunnya kualitas keindahan objek-objek wisata. Untuk mengatasi hal tersebut, selain meningkatkan kesadaran pengunjung sebagai pelaku wisata yang bertanggung jawab, melalui himbauan baik langsung maupun melalui papan-papan informasi yang diletakkan pada beberapa titik, pengelola juga melakukan manajemen sampah. Sebagai tindak lanjut, Balai TN Kutai akan bekerjasama dengan kelompok masyarakat untuk melakukan pengolahan sampah melalui Bank Sampah dan pengolahan sampah. Pengelolaan sampah yang baik, selain untuk edukasi lingkungan, juga sekaligus dapat menjadi sumber pendapatan masyarakat. Sumber : Balai Taman Nasional Kutai
Baca Berita

Balai TN Taka Bonerate Launching Aplikasi

Benteng - Kepulauan Selayar, 13 November 2018. "Simata Taka" adalah akronim kata dari Sistem Management Data Taman Nasional Taka Bonerate. Balai TN. Taka Bonerate melaunching sistem ini lobi kantor balai dan dihadiri seluruh petugas lapangan serta staf Balai TN. Taka Bonerate. Sistem ini dibuat untuk mendukung pelaksanaan Resort Based Management (RBM) tingkat tapak dan Ketatausahaan Balai TN. Taka Bonerate. Selain untuk memenuhi pengumpulan data base, sistem ini juga memenuhi pelayanan publik yang ingin mengakses tentang informasi pengelolaan bidang konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistem yang ada di Taman Nasional Taka Bonerate. "Dengan aplikasi ini teman-teman di lapangan tidak lagi menggunakan kertas tally sheet untuk mencatat segala kejadian di lapangan" ucap Kepala Balai Faat Rudhianto didepan para petugas lapangan. Selain itu aplikasi ini tetap akan jalan walaupun tidak ada sinyal dilapangan. Selain launching, aplikasi juga disosialisasikan secara detail meliputi cara menginstal dan mensimulasikan cara memasukkan data ke aplikasi. Dengan adanya aplikasi "SiMata Taka" ini pihak Balai TN. Taka Bonerate lebih meningkatkan dalam mengelolah data dan informasi bidang konservasi sumberdaya alam dan ekosistem. Sumber : Asri - Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Berita

Dar Der Dor Suara Senapan Polhut

Kuningan, 12 November 2018. Sabtu (10/11), terik matahari tak menyurutkan semangat Polisi Kehutanan (Polhut) Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) untuk latihan menembak di Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) Jawa Barat. Desing peluru senapan saling bersahutan layaknya medan pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Pelor melesat cepat memberondong target statis yang berada 20 meter di depannya. Tak kurang dari 300 amunisi digelontorkan untuk mendukung latihan tembak siang itu. Latihan tembak membuat selongsong berserakan di arah kanan penembak. Andaikan target tembak itu 'pasukan penjajah', tentu nyawa mereka sudah oncat atau lari tunggang langgang kembali ke negaranya. "Latihan tembak bertujuan untuk melatih kesabaran, konsentrasi dan menjaga keahlian menembak yang telah kita miliki", amanat Kuswandono, Kepala Balai TNGC. Latihan berlangsung dengan di dampingi beberapa instruktur dari Polda Jawa Barat. "Tenangkan diri, itulah yang dibutuhkan saat memegang senapan", ungkap salah satu instruktur. Satu persatu Polhut mencoba senapan pinggang PM. 1-A1. Sedangkan Kepala Balai mencoba senapan pistol "Ceska Zbrojovka" (CZ38 Brow). Instruktur menyarankan setiap peserta mencoba senapan tanpa amunisi sebelum menembak target. Ada dua posisi tembak pada latihan kali ini yakni berdiri dan duduk. Kedua posisi tersebut mesti membentuk kuda-kuda yang kuat baik bagian tangan maupun kaki. Masing-masing peserta punya jatah 10 butir peluru yang digunakan pada dua posisi tembak. Menembak dengan senapan ternyata gampang-gampang susah. Gampangnya ya tinggal tekan saja, maka letusan keluar. Susahnya ya harus penuh konsentrasi untuk mengenai titik tengah target. Cara menggunakan senapan yakni awali mengisi "magazen" dengan peluru lalu tarik pelatuk atau kokang. Kemudian bidik dengan pisir tepat di titik tengah target. Setelah yakin, tahan nafas bersamaan dengan langsung tembak. Salah satu hal paling krusial saat menembak ialah bidikan dengan menggunakan pisir. Pisir besi terdiri dari dua buah bagian yang terbuat dari bahan besi. Bidikan bagian belakang berdiri tegak sejajar dengan sudut pandangan mata (line of sight) biasanya berbentuk cekungan (notch) model huruf V atau U untuk bidikan tipe "open sight" atau "aperture" untuk bidikan tipe "closed sight". Sedangkan bidikan bagian depan biasanya berbentuk "post & bead" yakni bentuk sirip atau bulat dan cincin. Polhut berlatih menembak untuk olah raga dan bukan untuk arogansi. Sebab pendekatan sosial masih menjadi andalan Polhut dalam tugas di lapangan. Sobat, sebagaimana tema hari pahlawan tahun ini "Semangat Pahlawan Di Dadaku", kita mesti semangat membangun negeri ini sesuai bidangnya masing-masing. Tetap patuhi peraturan sebagai cara untuk mengisi kemerdekaan. Bersikaplah seperti para pahlawan yang setia dengan ikrar "merdeka atau mati" [teks © Aah, foto © BTNGC | 112018]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Sukses Lomba Foto Ekspedisi Burung Migran di TN Sembilang

Palembang, 12 November 2018. Balai Taman Nasional Berbak dan Sembilang (TNBS) bekerjasama dengan harian Tribun Sumsel serta didukung oleh Garuda Indonesia, Canon, Kompas Gramedia dan mitra TNBS (Konsorsium Kibass) telah mengadakan acara loma foto ekspedisi burung migran pada tanggal 10-11 November 2018. Lomba foto burung migran ini sendiri adalah yang ke 5 yang berlangsung secara berturut-turut sejak tahun 2014. Sebagai kawasan yang memiliki potensi berupa habitat yang sesuai untuk persinggahan burung migran, Taman Nasional Sembilang setiap tahunnya selama Bulan Oktober sampai dengan Februari selalu kedatangan burung migran. Terdapat 28 jenis burung migran dengan ribuan jumlah individu yang singgah dikawasan ini. Mereka berbaur dengan burung air lain yang residen yang berjumlah sekitar 44 jenis di dalam kawasan. Hadirnya burung migran menjadi atraksi wisata musiman yang sangat menarik bagi para pengunjung. Fenomena ini belum banyak masyarakat yang tahu atau sudah tahu tetapi belum paham cara menjangkaunya. Kegiatan lomba foto diikuti 28 peserta yang berasal dari Pulau Jawa dan Sumatera. Jumlah peserta dibatasi mengingat terbatasnya kapasitas sarana transportasi. Kegiatan ini juga melibatkan 3 orang yang sudah sangat berpengalaman di dunia fotografi sebagai dewan juri yaitu Regina Safri dari Jakarta, Hendi Fresco dari Jambi dan Syahrul Hidayat dari Palembang dengan total hadiah 26 juta rupiah. Sebagai awal pelaksanaan kegiatan pada tanggal 9 November peserta diajak tour di Jakabaring Sport City & Exhibition di area Bowling dan Shooting Venue untuk mengeksplor foto sekaligus sebagai ajang pemanasan sebelum melakukan kompetsi sebenarnya di kawasan taman nasional. Selanjutnya peserta diajak untuk mencoba merasakan LRT (Light Rail Transit) yang baru dibangun di Palembang. Kemudian peserta juga berkesempatan beramah tamah dan makan malam bersama di Rumah Walikota Palembang. Walikota Palembang melalui staf ahli bidang sosial masyarakat Bapak Sadaruddin menyampaikan bahwa upaya mempromosikan taman nasional ini sangat bagus agar semakin dikenal masyarakat. Tanggal 10 November peserta berangkat dari Hotel Santika Premier Palembang menuju Pelabuhan Tanjung Api-Api. Di pelabuhan terlebih dahulu mengikuti upacara hari pahlawan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Banyuasin. Keberangkatan peserta dilepas oleh Bapak Bupati Banyuasin, H. Askolani, SH, MH. Pada kesempatan tersebut Bupati mengatakan bahwa Taman Nasional Sembilang merupakan salah satu objek wisata unggulan Sumsel. Pemda Banyuasin akan mendukung pengembangan wisata di kawasan ini. Lebih lanjut dikatakan bahwa kedepan akan disiapkan infrastruktur, tempat penginapan dengan cita-cita membangun villa laut dan bus air. Peserta melanjutkan perjalanan menggunakan speedboat dari Pelabuhan Tanjung Api-Api menuju lokasi yang dapat ditempuh dalam waktu 30 menit langsung menjumpai spot foto berupa burung air migran yang berjajar di atas bagan-bagan nelayan membentuk formasi yang sangat menakjubkan. Burung berjajar mulai dari yang berukuran kecil sampai yang lebih besar. Ketika speedboat mendekat sebagian burung terbang dengan formasi yang teratur sehingga menimbulkan decak kagum para peserta. Setelah puas pengambilan objek foto burung di atas bagan nelayan selanjutnya peserta menuju spot di Semenanjung Banyuasin. Perjalanan memakan waktu 30 menit. Disini terlihat ribuan burung migran sedang berkerumun di atas pelataran pantai memakan sesuatu yang ada di tanah. Berkumpulnya burung migran ini ketika diabadikan melalui foto juga dapat meghasilkan gambar yang sangat bagus. Saat burung-burung tersebut terbang terlihat ribuan burung saling berkejaran dan beranufer secara teratur dan tidak saling bertabrakan. Hal ini membuat para peserta berteriak karena kagum. Untuk pengambilan gambar yang lebih fokus maka peserta harus terjun ke laut yang berair dangkal namun dengan lumpur yang tebal dan sangat sulit dilalui. Beberapa peserta gagal mencapai pantai untuk mendekat ke kerumunan burung migran, namun demikian kesulitan berjalan di lumpur menjadi tantangan yang menarik bagi peserta. Saat sore dan malam hari peserta beristirahat dan menginap di Kantor Resort Sembilang. Keesekan harinya peserta melakukan perjalanan pulang melewati spot burung migran sehingga bagi peserta yang belum puas mengambil foto dan menikmati pemandangan burung migran pihak panitia memberi kesempatan untuk memfoto sehingga dapat keinginan tersebut dapat terobati meskipun hanya beberapa saat. Setelah lomba selesai kemudian dewan juri menilai hasil foto yang masuk ke panitia. Hasil penilaian mendapatkan 5 orang juara, yaitu juara 1 diraih oleh Nurfikri, juara 2 Sifrado, juara 3 Harry Sanjaya, juara harapan 1 Junialdi dan juara harapan 2 Anni. Kegiatan ini memberikan hasil yang sangat positif dimana semua peserta merasa puas dengan atraksi burung migran yang dia saksikan dan sebagian peserta merencanakan akan mengajak keluarga dan rekan untuk berkunjung ke Taman Nasional Sembilang. Sumber : Balai Taman Nasional Berbak dan Sembilang
Baca Berita

Bunga Bangkai, Si Bau Cantik

Kuningan, 12 November 2018. Bunga Bangkai memiliki ciri khas yang berbeda dengan kebanyakan jenis bunga lain karena memancarkan aroma busuk seperti bau bangkai. Sangat berbeda dengan kebanyakan jenis bunga lain yang berbau harum. Soal ukuran, Bunga Bangkai memiliki postur besar dan merupakan bunga tertinggi di dunia. Bunga Bangkai adalah sekelompok tumbuhan dari "genus Amorphophallus" yang termasuk anggota dari suku talas-talasan (Araceae). Bunga ini merupakan tumbuhan khas dataran rendah yang tumbuh di daerah yang beriklim tropis dan subtropis.Terkadang banyak orang mengira kalau bunga ini hanya terdiri dari satu spesies. Padahal bunga raksasa ini memiliki sekitar 170 spesies di dunia. Di Indonesia ada beberapa spesies bunga bangkai yang terkenal diantaranya yaitu Bunga Bangkai Raksasa (Amorphophallus titanium), Bunga Bangkai Raksasa Sumatera (Amorphophallus gigas), Bunga Bangkai Jangkung (Amorphophallus decussilvae), Suweg (Amorphophallus campanulatus) dan Iles-iles (Amorphophallus oncophyllus). Sedangkan di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) dapat dijumpai Bunga Bangkai Jangkung. Bunga ini salah satu jenis flora baru yang ditemukan di gunung Ciremai tiga tahun lalu. Petugas Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) berhasil mengidentifikasi bunga tersebut di blok Situ Sangiang, Banjaran, Majalengka saat bunga ini tumbuh tinggi menjulang dengan pesona dan keunikannya. Bunga bangkai sendiri sebenarnya bukan hanya bunga. Melainkan tanaman lengkap yang tumbuh di atas umbinya sendiri. Bunga raksasa ini ternyata memilki akar, daun, batang hingga bunga. Mahkota bunga berada di balik daun yang tersembunyi selubung merah (Spathe) di bagian dasar tumbuhan ini. Bunga Bangkai menyerupai cermin. Memiliki ukuran yang kecil dan tersusun rapi di bagian dalam tanaman. Tumbuhan bau ini melewati puncak masa mekar ketika pelepah daunnya layu dan rontok. Menjelang musim penghujan ialah fase positif bunga bangkai. Inilah saat yang tepat untuk dapat melihat bunga yang bau itu secara langsung. Meski Bunga Bangkai berbau busuk, namun justru hal itulah yang menjadi daya tariknya. So, buatlah kekuranganmu menjadi kelebihanmu. Jangan lupa untuk tetap mencintai alam secara baik dan benar [Teks & Foto © Asep Uus - BTNGC | 112018]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Mewarnai TWA Sibolangit

Medan, 12 Nopember 2018. Kawasan TWA Sibolangit diramaikan dengan kedatangan serombongan pelajar-pelajar Sekolah Dasar (SD) yang berasal dari SD Swasta Darma Medan pada Selasa, 7 November 2018. Tercatat ada sekitar 190 orang siswa/pelajar serta guru pendamping, dan 70 orang orangtua siswa, memenuhi podium yang ada di pelataran parkir TWA Sibolangit. Kehadiran rombongan SD Swasta Darma Medan adalah dalam rangka wisata edukasi konservasi alam dan lingkungan (Ekoling). Jauh-jauh dari kota Medan untuk berwisata menikmati keindahan dan kesegaran udara sambil belajar konservasi di TWA Sibolangit. Selain wisata ekoling SD Darma Medan, pada saat yang bersamaan digelar juga kegiatan Lomba Mewarnai yang mengusung tema “Ayo Ke Taman Wisata Alam Sibolangit”. Lomba ini selain dimaksudkan untuk mempromosikan kawasan TWA Sibolangit sebagai Wisata Ekoling yang merupakan salah satu Role Model pengelolaan kawasan konservasi di Sumatera Utara. Disamping itu, kegiatan lomba ini juga untuk menyemarakkan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional Tahun 2018, yang setiap bulan Nopember diperingati. Sehingga melalui lomba ini diharapkan akan tumbuh kesadaran dan kepedulian generasi muda, khususnya pelajar tingkat sekolah dasar, untuk menyelamatkan puspa dan satwa dengan menjaga kelestarian habitatnya, demikian sambutan Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc.For. pada acara tersebut. Sementara itu ketua Panitia Penyelenggara, Mustafa Imran, SP., Kepala Bidang Konservasi Wilayah I Kabanjahe, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan lomba mewarnai tingkat SD ini diikuti oleh 40 orang peserta, yang berasal dari perwakilan 16 SD se-Kecamatan Sibolangit dan SD Darma Medan. Dan kepada Kepala Sekolah yang hadir pada acara tersebut serta peserta lomba diberikan juga tumbler (tempat/botol air minum). Pemberian tumbler ini merupakan media kampanye untuk mengurangi penggunaan sampah dari minuman kemasan plastik. Acara dimeriahkan juga dengan penampilan atraksi tarian seni budaya Jawa oleh SD Swasta Darma Medan. Diakhir acara diumumkan pemenang lomba mewarnai masing-masing : Juara I Khalisa dari SD Darma Medan, Juara II Chelse C.P Malau SD Masehi Sibolangit, Juara III Darma Suranta SD Negeri No. 101845 Suka Makmur, Juara Harapan I Lebyna Valentina SD Negeri No. 101837 Suka Makmur, Juara Harapan II Anastasia Chairunila Harahap SD Darma Medan dan Juara Harapan III Mila Ahdya SD 101845 Suka Makmur. Kepada para pemenang diberikan hadiah berupa alat komunikasi (HP), piala dan piagam penghargaan. Kemeriahan acara ini turut dihadiri Dinas Pendidikan Kabupaten Deli Serdang, Kepala-kepala Sekolah SD se-Kecamatan Sibolangit, Kepolisian Sektor Pancur Batu, Kelompok Sadar Wisata Sibolangit Berseri dan lembaga mitra kerjasama YEL-SOCP dan ISCP. Sumber : Evan - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

TN Bromo Launching Taman Edelweis Pertama Didunia

Wonokitri, 12 November 2018. Balai Besar TN Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS) bersama-sama dengan Pemda Pasuruan dan Probolinggo serta Desa Wonokitri dan Desa Ngadisari meluncurkan wisata Desa Edelweis pertama di dunia, hari Sabtu 10 November 2018. Acara yang dikemas dalam Festival Land Of Edelweis menampilkan harmoni antara konservasi dan budaya Tengger. Peluncuran wisata Desa Edelweis tersebut dilakukan oleh Direktur PJLHK, Dodi Wahyu Karyanto yang didampingi oleh Wakil Bupati Probolinggo, Ketua DPRD Probolinggo, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur serta Kepala Desa Wonokitri, Kepala Desa Ngadisari serta ketua Kelompok Edelweis Hulun Hyang, Teguh serta Ketua Kelompok Tani Tanalayu, Sunarip. Direktur PJLHK dalam sambutannya mengutarakan apresiasi yang sangat besar karena telah terwujud wisata Desa Edelweis, ”Dengan peluncuran wisata Desa Edelweis diharapakan terwujud konservasi edelweis melalui penangkaran, terpenuhi kebutuhan bunga edelweis untuk upacara adat Tengger, serta peningkatan kesejahraan masyarakat khususnya Wonokitri dan Ngadisari melalui wisata Desa Edelweis”. Kepala BBTNBTS, Jonh Kenedie dalam sambutannya menyatakan “Peluncuran wisata Desa Edelweis ini melalui tahapan panjang, dari pembentukan kelompok, pelatihan budidaya, pembibitan, penanaman, pemeliharaan bunga Edelweis oleh Kelompok Tani Hulun Hyang Wonokitri dan Kelompok Tani Kembang Tanalayu Ngadisari, BBTNBTS selaku pengelola Taman Nasional telah melakukan pendampingan tak kenal lelah untuk memujudkan Desa Edelweis, harapan dibukanya wisata Desa Edelweis adalah wisatawan yang selama ini hanya berkunjung ke Bromo sebagian akan berkunjung ke Taman Edelweis”.“Dengan wisata Desa Edelweis ekonomi masyarakat khususnya di wonokitri dan Ngadisari akan meningkat”, tambah John Kenedie. Wakil Bupati Probolinggo dan Kepala Dinas Pariwisata Pasuruan juga menyerahkan SK tentang wisata Desa Edelweis Ngadisari Probolinggo dan Desa Edelweis Wonokitri Pasuruan. Dengan adanya SK tersebut diharapkan bisa segera ditetapkan Peraturan Desa yang mengatur tentang pengelolaan wisata Edelweis di Ngadisari dan Wonokitri. Selain itu Kepala BBKSDA Jawa Timur juga menyerahkan izin tangkar bunga edelweiss (Anaphalis javanica) kepada Kelompok Tani Hulun Hyang Wonokitri dan Kelompok tani Kembang Tanalayu Ngadisari. Dengan adanya izin ini maka kelompok tani bisa melakukan budidaya edelweis secara legal. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Menampilkan 6.625–6.640 dari 11.140 publikasi