Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Penyerahan Lomba Fotografi Menutup Rangkaian Festival Danau Sentarum

Putussibau, 16 November 2018. Bertempat di Kantor Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum penyerahan lomba fotografi dalam rangka Festival Danau Sentarum 2018 dilaksanakan kepada 3 pemenang katagori umum dan 3 pemenang katagori pelajar. Lomba ini di laksanakan oleh Komunitas Fotografi Kapuas Hulu (KFKH) selama kurang lebih satu bulan setengah dengan obyek biodeversity, landscape, budaya dan juga acara Festival Danau Sentarum itu sendiri. Lomba ini diikuti oleh 100 karya kategori umum dan 35 karya Kategori pelajar. Adapun daftar pemenang kategori umum adalah Agus Triyanto untuk peringkat pertama, Gradius Bima Valian peringkat kedua dan Sabar Minsyah pada peringkat ke tiga. Untuk kategori pelajar para pemenangnya adalah C. Kalo Bello.P untuk peringkat pertama, Dodi Riski pada peringkat kedua, dan Lilis Oktaviana pada peringkat ke tiga. Ketiga pemenang kategori pelajar tersebut berasal dari SMA Negeri 1 Putussibau. Adi Winarto yang mewakili KFKH bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan yang sangat penting untuk mempromosikan Kabupaten Kapuas Hulu dari sisi Fotografi, selain itu sebagai wadah kegiatan positif bagi generasi muda Kapuas Hulu. Sementara Drs. H. Junaidi selaku Kepala Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Disporapar Kab Kapuas Hulu menyatakan bahwa fotografi merupakan aspek penting dalam mendorong Pariwisata Kapuas Hulu, meskipun saat ini hanya sebagai salah satu pelengkap FDS 2018 kedepannya akan ditingkatkan lagi menjadi lomba per-kegiatan FDS, seperti lomba foto Arwana Super Red, lokasi /destinasi wisata, dan juga budaya. Karena itu semua adalah kekuatan wisata Kabupaten Kapuas Hulu. “generasi muda adalah penerus penyelamatan kawasan, budaya, biodeversity dan potensi lainnya di Kabupaten Kapuas Hulu, tanpanya kedepan potensi kapuas hulu akan musnah. Untuk itu BBTNBKDS sangat mendukung kegiatan yang besifat pembinaan generasi muda. Diharapkan kegiatan ini bukan hanya sampai disini saja, namun dapat dikembangkan menjadi Jambore Fotografi Kapuas Hulu dimana didalamnya ada kegiatan pelatihan fotografi, sekaligus perlombaan fotografi on the spot tertentu. Kita manfaatkan taman nasional sebagai arena untuk berlomba, dan berwisata kebetulan kita memiliki banyak fasilitas wisata salah satunya perahu Bandong Wisata yang baru” ujar Ardi Andono selaku Kepala Bidang Teknis Konservasi BBTNBKDS. Acara Penyerahan Hadiah ini merupakan acara penutup dari seluruh rangkaian Kegiatan Festival Danau Sentarum 2018, dan dihairi juga dari TFCA Kalimantan, WWF Kalimantan, Kompakh dan seluruh anggota KFKH. Sumber : Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

BKSDA Sulteng Ajak Masyarakat Pelatihan Produk Kerajinan dari Batok Kelapa

Kaluku Tinggu, 18 November 2018. Upaya pengembangan wisata berbasis masyarakat yang merupakan tujuan dari Role Model, Balai KSDA Sulawesi Tengah melakukan peningkatan kapasitas kelompok dengan melakukan pelatihan produk kerajinan/souvenir dari batok kelapa selama 3 hari (16 – 18 November 2018) di Balai Desa Kaluku Tinggu. Adapun rangkaian kegiatan selama 3 hari diawali dengan sambutan dan pembukaan oleh Kepala Balai KSDA Sulawesi Tengah, Ir. Noel Layuk Allo, MM. Kepala Balai berharap agar anggota kelompok benar-benar menyerap semua materi yang diberikan selama pelatihan dan segera menerapkannya agar bisa meningkatkan pendapatan masyarakat desa. Materi-materi yang diberikan berupa pengenalan jenis produk, pengenalan alat, pemilihan bahan baku yang baik sampai kepada strategi pemasarannya. Pada hari kedua dan ketiga dilakukan praktek langsung pembuatan souvenir dari batok kelapa yang diikuti oleh 30 (tiga puluh) orang anggota kelompok. Tim pengajar berasal dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulawesi Tengah dan dari Kaluku Carft. Peserta yang hadir sangat antusias mengikuti pelatihan tersebut, dilihat dari antusiasme anggota kelompok dalam mempelajari dan mempraktekkan langsung pembuatan kerajinan dari batok kelapa ini. Alhasil, setiap peserta menghasilkan suatu kerajinan yang berbeda dengan peserta yang lain sesuai dengan hasil kreasi masing-masing. Ada yang membuat gelang, gelas, mangkok, tas, vas bunga kecil dan lain-lain. Selanjutnya Balai KSDA Sulawesi Tengah secara rutin akan melakukan pendampingan kepada kelompok tersebut guna memantau perkembangan dari hasil pelatihan yang telah dilaksanakan. Sumber : Amelia - Balai KSDA Sulawesi Tengah
Baca Berita

Cerita Mistis Pendakian Gunung Ciremai

Kuningan, 17 November 2018. Gunung Ciremai, dataran tertinggi Jawa bagian barat yang termasuk favorit tujuan pendakian. Kunjungan pendaki kerap melonjak saat musim liburan serta dua momen penting yakni agustusan dan tahun baru. Tatkala pendakian, tubuh dipaksa bekerja keras berjalan dan menahan beban logistik hingga batas maksimal kemampuannya. Lelah, letih dan lemas pasti menghinggapi pendaki. Saat inilah pikiran kosong yang terkadang mendatangkan halusinasi. Tak ayal banyak sekali kisah mistis yang menyelimuti gunung Ciremai. Baik cerita mistis yang dialami oleh para pendaki mau pun cerita yang kita dengar dari warga setempat. Seperti yang dituturkan Abah Indi (60), pengelola jalur pendakian Apuy, Argamukti, Argapura, Majalengka kerap menerima "laporan" dari pendaki yang mengalami kejadian ganjil. "Dari Pos V, Sanghyang Rangkah memang kerap terdengar sayup-sayup suara gamelan", ungkap Abah Indi saat ditemui di pos pendakian, kemarin (9/11). "Banyak pendaki merasa heran dengan bunyi gamelan tersebut. Padahal di sekitar ini tidak ada hajatan", seloroh Abah Indi melanjutkan ceritanya. Abah Indi juga bercerita tentang banyaknya korban jiwa manusia dan hewan akibat kerja paksa di perkebunan sekitar Apuy pada masa penjajahan Belanda dan Jepang. Mayat mereka tak dikuburkan melainkan dibiarkan tergeletak hingga membusuk. Berbeda dengan Arjuna (20), pendaki asal Cirebon yang tidak mendengar alunan gamelan misterius tadi. Tapi dirinya mengaku mengalami kejadian aneh saat menapaki jalur pendakian Apuy dengan tiga temannya dini hari kemarin (8/11). "Seekor burung hitam dan tawon hitam mengikuti kami dari pos VIhingga hampir ke puncak. Sungguh aneh dan sedikit menakutkan karena ini pengalaman pertama mendaki dengan ditemani satwa. Mereka seolah menunjukkan jalan", tutur Arjuna. juga mengalami kejadian aneh saat menapaki jalur pendakian Apuy beberapa waktu lalu. Kejadian itu membuat bulu kuduk Arjuna dan kawan-kawannya berdiri ketakutan sekaligus pengalaman yang mengesankan. "Insiden" tersebut juga pasti menjadi kisah menarik yang di ceritakan kembali kepada pendaki lain sehingga timbulah mistis. Burung hitam yang dimaksud tadi ialah Anis Gunung (Turdus poliochephalus), burung jenis pemakan cacing. Banyak cacing bermunculan akibat sisa makanan yang ditinggalkan pendaki. Kelelahan saat mendaki kadang mengakibatkan otak kita sulit berpikir jernih. Nah, hal semacam inilah buah pikir "fatamorgana" yang luar nalar dan logika. Meski demikian, kehidupan alam gaib yang berbeda dimensi, ruang dan waktu dengan kita memang benar-benar ada [teks © Gandi, foto © koeszky - BTNGC | 112018]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Polrestabes Medan Titip Satwa Sitaan

Medan, 14 Nopember 2018. Kepolisian Resort Kota Besar (Polrestabes) Medan, pada Senin, 12 November 2018, menitipkan sejumlah satwa sitaan yang dilindungi undang-undang, ke Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Sebanyak 23 individu jenis burung yang dititipkan, terdiri dari : 7 (tujuh) individu Kakatua Molukan (Cacatua moluccensis), 3 (tiga) individu Kakatua Jambul Kuning besar (Cacatua gelerita), 2 (dua) individu Nuri Bayan (Ecletus rorantus) dan 11 (sebelas) individu Nuri Sayap Hitam/Nuri Merah Biak (Eos cyanogenia). Dalam keterangan resmi melalui surat Nomor B/14.561/XI/RES.5.2/2018/Reskrim tanggal 12 November 2018 yang ditujukan kepada Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Kasat Reskrim Polrestabes Medan, AKBP Putu Yudha Prawira, S.I.K,. M.H., menjelaskan bahwa Penyidik Unit Tipiter Polrestabes Medan sedang menangani kasus tindak pidana Setiap orang dilarang untuk menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup, yang diduga dilakukan oleh Khafidz Nur Huda als Hafis dkk, pada hari Selasa tanggal 06 November 2018 sekira pukul 13.30 Wib di Jalan Bintang samping gedung Eks RRI Kel. Pusat Pasar Kecamatan Medan Kota. Oleh karena itu, untuk kepentingan penyidikan mengingat bahwa Sat Reskrim Polrestabes Medan tidak memiliki tempat untuk menyimpan barang bukti berupa satwa yang hidup, maka barang bukti dimaksud dititipkan kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara, mohon Kasat Reskrim. Ke 23 individu burung dilindungi tersebut diterima oleh staf Balai Besar KSDA Sumatera Utara, M. Ali Iqbal Nasution, dan selanjutnya dititipkan ke Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) TWA Sibolangit. Sumber : M. Ali Iqbal Nasution - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

BKSDA Jambi Lakukan FGD Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi

Jambi, 16 November 2018. BKSDA Jambi melakukan Focus Group Discussion (FGD) untuk Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi / METT. Kegiatan ini diselenggarakan di Swiss-Bel Hotel Jambi. Dimulai pada pukul 09.00 WIB kegiatan ini dibuka langsung oleh Kepala Balai KSDA Jambi Bpk. Rahmad Saleh. Kegiatan penilaian ini bertujuan untuk mengetahui sudah sejauh mana efektivitas dalam melakukan pengelolaan kawasan sejauh ini. Peserta yang hadir dalam kegiatan penilaian ini antara lain para pegawai BKSDA Jambi, mitra NGO, tim penilai, dan pejabat terkait. Ada 3 kawasan yang dinilai pada kegiatan penilaian kali ini yaitu Cagar Alam Durian Luncuk I yang berada di kawasan SKW I BKSDA Jambi, Cagar Alam Durian Luncuk II yang berada di kawasan SKW II BKSDA Jambi, dan Cagar Alam Hutan Bakau Pantai Timur yang berada di kawasan SKW III BKSDA Jambi. Penilaian dilakukan berdasarkan konteks, perencanaan, input, proses dan output dari tiap tiap kawasan yang dikelola selama tahun berjalan. Untuk Cagar Alam Durian Luncuk I mendapatkan skor penilaian 71%, Cagar Alam Durian Luncuk II mendapatkan skor sebesar 73% dan Cagar Alam Hutan Bakau Pantai Timur mendapatkan skor 69%. Ketiga kawasan tersebut mengalami peningkatan skor dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kepala BKSDA Jambi, Rahmad Saleh mengatakan “Alhamdulillah kegiatan penilaian kawasan sudah selesai dilaksanakan, kawasan yang kita kelola mendapatkan peningkatan nilai dibanding sebelum nya dan kedepan nya kita akan coba terus tingkatkan.” Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

BKSDA NTB Amankan Satwa Liar Titipan yang Akan Dijual Online

Praya, 15 November 2018. Tim TSL BKSDA NTB menindaklanjuti laporan masyarakat mengenai kepemilikan Satwa Liar di daerah Praya Lombok Tengah atas nama Bapak MF. Bergerak menuju lokasi di daerah Lombok Tengah, Tim mendapati dua satwa yakni satu ekor Elang Tikus dan satu ekor Elang Bondol. Sang pemilik, MF mengaku bahwa kedua satwa adalah titipan dan diminta bantuan untuk diperjual-belikan secara online melalui group Facebook. Tim TSL BKSDA NTB akhirnya mencoba melakukan pendekatan dengan memberikan penjelasanan bahwa satwa yang dimiliki termasuk kedua satwa yang dilindungi. Tim juga memberikan sosialisasi mengenai PP. 7 Tahun 1999 Tentang Pengawetan jenis Tumbuhan dan Satwa Liar dan P.92 revisi P. 20 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang di lindungi. Akhirnya dengan itikad baik, MF menyerahkan kedua satwa secara sukarela. Hingga berita ini diturunkan, kedua satwa telah diamankan di kantor BKSDA NTB untuk segera direncanakan pelepasliaran. Sumber : Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

Bunga Bangkai Mekar di Manggis Gadungan

Sidoarjo, 16 Oktober 2018. Hujan pertama turun membasahi Cagar Alam (CA) Manggis Gadungan, panasnya udara didinginkan oleh rintik hujan yang tak terlalu deras. Turunnya hujan pertama tersebut ternyata mampu memicu bunga bangkai memulai fase generatif. Kuncup bunga Amorphophallus paeniifolius atau biasa disebut sebagai Suweg oleh masyarakat lokal muncul di dekat pal 3. 10 hari kemudian kuncup menjadi mekar sempurna. Amorphophallus adalah salah satu nama marga tumbuhan dari keluarga talas-talasan (Araceae). Ciri utama keluarga talas-talasan adalah berbatang basah (herba) dan bunga terdiri atas seludang (spatha) dan tongkol (spadix). Amorphophallus sendiri berasal dari bahasa Yunani kuno “Amorphos” yang berarti “cacat, tanpa bentuk” dan “phallos” yang berarti “penis”. Beranggotakan sekitar 200 jenis, Amorphophallus merupakan tumbuhan khas dataran rendah yang tumbuh di daerah beriklim tropis dan subtropis mulai dari kawasan Afrika Barat hingga ke Kepulauan Pasifik termasuk Indonesia. Banyak jenisnya yang bersifat endemik, dari sekitar 25 jenis yang tumbuh di Indonesia, 18 diantaranya endemik. Ada beberapa pemahaman keliru, diantaranya menyamakan Amorphophallus dengan bunga Rafflesia. Padahal antara Amorphophallus dan Rafflesia adalah dua bunga yang berbeda meskipun sama-sama berukuran raksasa dan mengeluarkan bau busuk. Sesungguhnya Raflesia dan Amorphophallus memiliki beberapa perbedaan yaitu klasifikasi biologi, bentuk, warna, cara hidup maupun siklus hidupnya. Amorphophallus mengalami dua fase dalam hidupnya, generatif dan vegetatif yang bergantian secara terus menerus. Pada fase vegetatif di atas umbi Amorphophallus tumbuh batang semu dan daun. Bagian yang tampak seperti batang sesungguhnya adalah tangkai daun, maka disebut batang semu. Tangkai daun biasanya panjang, halus, jarang-jarang kasar berbintil, biasanya dengan pola-pola loreng dari berbagai warna dan bentuk. Helaian daun sekilas tampak mirip daun pepaya. Berakhirnya fase vegetatif ditandai dengan layunya batang semu dan daun, menyisakan umbi di dalam tanah. Apabila kondisi memungkinkan dan cadangan energi mencukupi, fase generatif segera muncul yaitu dengan munculnya bunga majemuk yang menggantikan batang semu dan daun yang layu tadi. Saat bunga bangkai mengalami fase generatif (mekarnya bunga), bunganya mengeluarkan bau menyengat seperti bau bangkai. Bau busuk ini berfungsi sebagai pemikat bagi lalat dan kumbang yang akan membantu proses penyerbukan. Apabila selama masa mekarnya terjadi pembuahan, maka akan terbentuk buah-buah berwarna merah dengan biji pada bagian bekas pangkal bunga. Dan bunga bangkai kemudian kembali memasuki fase vegetatif. Kedua fase ini terjadi bergantian, berulang dan terus menerus. Beberapa ciri Suweg diantaranya batang semu (tangkai daun) tumbuh tegak, lunak, dan berwarna hijau (mulai dari muda hingga gelap) berbelang-belang putih; permukaan tangkai daun Suweg kasar bila diraba, tangkai daun pada ketinggian tertentu (dapat mencapai 1,5 m) menjadi tiga cabang sekunder dan akan mencabang lagi sekaligus menjadi tangkai helai daun; helai daun ada yang menyatu pada tangkai daun. Suweg tidak memiliki tonjolan berwarna cokelat kehitam-hitaman (disebut bulbil) pada bagian percabangan tangkai daun. Bunga muncul apabila simpanan energi berupa tepung di umbi sudah mencukupi untuk pembungaan. Sebelum bunga muncul, seluruh daun termasuk tangkainya akan layu. Bunga tersusun majemuk berupa struktur khas Araceae, yaitu bunga-bunga tumbuh pada tongkol yang dilindungi oleh seludang. Kuntum bunga tidak sempurna, berumah satu, berkumpul di sisi tongkol, dengan bunga jantan terletak di bagian distal (lebih tinggi) daripada bunga betina. Struktur generatif ini pada saat mekar mengeluarkan bau bangkai yang memikat lalat untuk membantu penyerbukannya. Amorphophallus paeniifolius (Suweg) merupakan satu dari 3 jeni Amorphophallus yang dapat dijumpai di CA. Manggis Gadungan. Dua jenis Amorphophallus lain adalah Amorphophallus variabilis (Gaceng) dan Amorphophallus muelleri (Iles Iles). Setelah Suweg pertama di dekat pal 3 layu, muncul fase generatif Suweg lainnya di dekat pal 8. Suweg kedua yang berbunga ini pertama kali dijumpai pada awal bulan November dan mekar sempurna 8 hari kemudian, serta mulai membusuk pada November. (Siti Nurlaili, PEH Pertama pada RKW 03) Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Balai TN Babul Latih Kelompok Tani Hutan Patanyamang Kemas dan Promosi Produk Madu Karst

Maros, 15 November 2018. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) melatih Kelompok Tani Hutan Patanyamang sebanyak 30 orang di ruang pertemuan kelompok tani untuk mengemas dan promosi madu karst. Kelompok tani hutan ini secara administratif berada di Desa Patanyamang, Camba, Maros. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari: 12 – 13 November 2018. Madu yang dihasilkan oleh masyarakat berasal dari hasil budidaya dan lebah yang hidup secara liar di dalam hutan kawasan taman nasional. Masyarakat banyak yang menggantungkan diri dari TN Babul karena berada di wilayah enclave. “Ini adalah salah satu tindak lanjut dari penandatangan perjanjian kerjasama kemitraan konservasi dengan masyarakat sekitar kawasan hutan beberapa waktu lalu. Semoga pelatihan ini bermanfaat,” tutur Yusak Mangetan, Kepala Balai TN Babul saat membuka acara peningkatan kapasitas sekaligus menyerahkan bantuan untuk mendukung budidaya madu di desa ini secara simbolis. Bantuan tersebut berupa botol kemasan, stiker, alat penurun kadar air hingga website untuk pemasaran. Beberapa narasumber kompeten memberikan materi. Pemateri berasal dari Balai TN Babul, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, KPH Bulusaraung, Unhas Makassar, dan Tim Layanan Kehutanan Masyarakat Unhas. Materi yang diberikan di antaranya: kebijakan dan kolaborasi stakeholder mendukung upaya pemberdayaan masyarakat, manajemen kelompok, pengelolaan hasil, kemasan, hingga pemasaran produk lebah madu. “Budidaya lebah madu ini bisa menjadi sumber penghasilan tambahan bagi masyarakta di Desa Patanyamang,” pungkas Kevin Falensia Fatlan, fasilitator TLKM Unhas di sela-sela materinya. Pelatihan ini penting untuk mengajari masyarakat bagaimana mengemas produk menjadi lebih menarik. Setelah mendapatkan produk yang layak jual maka perlu mempelajari sasaran pasar serta arah produk ini akan dijual dan berapa harga yang cocok itu produk yang telah diproduksi. Karenanya upaya promosi diperlukan. Semoga dengan pelatihan ini dapat mendorong kelompok masyarakat lebih mandiri. Sumber: Muasril – PEH Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

BBKSDA Riau Rescue Si Belang Terjebak di Dalam Kota (part 1)

Pekanbaru, 15 November 2018. Balai Besar KSDA Riau mendapat laporan bahwa ada seekor Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang terjebak diantara ruko warga di areal pasar yang padat penduduk di Kec. Pulau Burung, Kab. Indragiri Hilir, Prov. Riau (14/11). Kepala Balai Besar KSDA Riau segera menurunkan Tim Rescue untuk melakukan evakuasi. Tim dipimpin langsung oleh Kepala Bidang KSDA Wil. I, Mulyo Hutomo. Akses menuju TKP harus di tempuh dengan kendaraan darat dan Air. Jalur darat via Teluk Meranti terputus di Pulau Muda, Kab. Pelalawan sehingga Tim memutar bergerak melalui Tambilahan, Kab. Indragiri Hilir. Kendala ditemui karena sore hari speed menuju lokasi sudah tidak ada lagi. Aksesibilitas menuju dan keluar dari TKP menjadi tantangan terberat Tim untuk bisa cepat berada di lokasi. Terpaksa Tim menunggu hingga pagi untuk sampai ditujuan. Namun berbagai upaya dikomunikasikan oleh Tim dengan aparat keamanan maupun aparat pemerintahan di TKP guna menjamin keberadaan Harimau tersebut dan keamanan warga yang selalu harus mengambil jarak dari si belang untuk keselamatan keduanya. Jaring ditebar diantara kayu kayu bawah ruko warga untuk mengupayakan Harimau tidak lari walaupun memang pada saat itu si belang tidak dapat bergerak maju maupun mundur dari sela ruko. Sesampainya ditujuan, Tim segera menyusun strategi. Bersama BPBD, Polsek, Koramil, aparat Kecamatan dan warga setempat Tim melakukan pemetaan ruko 4 blok tersebut. Harimau yang telah lolos dari celah ruko masuk ke kolong bawah ruko dimana ketinggian kolong ruko kurang dari 75 cm. Pada sekitar pukul 13.00 WIB didapat gambar satwa tersebut dari celah pipa lobang pembuangan kamar mandi. Tim menunggu posisi tembak bius yang tepat. Sekitar 25 menit kemudian tembakan pertama dilakukan, setelah menunggu 15 menit, Tim memasuki kolong ruko. Penyisiran seluruh sudut dilakukan saat efektif bius berkisar kurang lebih 2 jam, Harimau tidak ditemukan. Berselang 60 menit kemudian, Tim baru menemukan celah perselisihan pondasi ruko tempat satwa masuk dan bersembunyi terkurung. Tim kembali memulai membuat lebih luas pipa pembuangan kamar mandi tempat terkurungnya Harimau tersebut untuk memasukkan lampu dan video agar dapat memastikan posisi tembak yang ke 2. Hingga berita ini diturunkan Tim masih bergantian melakukan penjagaan untuk melanjutkan kegiatan evakuasi hari berikutnya. Sumber : Balai Besar Konservasi Sumber Daya Riau
Baca Berita

Kembali Mahasiswa IPB Sambangi Bukit Seribu Bintang, Belajar Perlindungan Kawasan Hutan

Kuningan, 15 November 2018. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata IPB melalui mata kuliah Manajemen Kawasan Konservasi mengajak 29 mahasiswa yang terdiri dari jurusan Ilmu Tanah, Meteorologi dan Geofisika, Ilmu gizi Masyarakat, Kimia, dan Manajemen Hutan berkunjung ke Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Sabtu (10/11). Didampingi dosen Arzyana Sunkar, mahasiswa diperkenalkan pengelolaan kawasan hutan konservasi. Setelah perjalanan panjang dari Bogor, rombongan istirahat sejenak di Batu Luhur dan melanjutkan ke Desa Padabeunghar. "Kebetulan mahasiswa ini diluar jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, mereka antusias mengunjungi kawasan hutan pegunungan", ucap Arzyana. Nisa, Penyuluh Kehutanan juga turut mendampingi. Menjelaskan sejarah pengelolaan kawasan hutan mulai dari zaman belanda hingga dikelola Perum Perhutani. Pengelolaan kawasan hutan dengan sistem zonasi dan implementasi tiga kelola konservasi yaitu perlindungan dan pengamanan kawasan, pelestarian plasma nutfah dan pemanfaatan sumber daya alam hayati. "Kebakaran hutan merupakan salah satu gangguan kawasan yang kerap kali terjadi setiap tahun. Salah satu upaya penanganannya adalah dengan program "Camp Fire Care" di blok Kubang yang dikenal Bukit Seribu Bintang yang nanti akan teman-teman lihat karena akan menginap disana", jelas Nisa. Pertanyaan demi pertanyaan disampaikan, antusias mahasiswa terlihat dari banyaknya pertanyaan yang dilontarkan seperti,"Sangat rugi ya Bu kalau terjadi kebakaran hutan. Bagaimana proses kembalinya hutan setelah terbakar atau kenapa lahan yang terbakar menjadi subur". Disamping ada yang berdiskusi lebih lanjut, ada pula yang bertugas berbincang dengan masyarakat sekitar. Setelah observasi masyarakat, rombongan mahasiswa menuju Batu Luhur untuk persiapan ke Bukit Seribu Bintang. Naik Jeep sepertinya hal pertama yang dialami mahasiswa sehingga terlihat guratan wajah "excited". Tak lupa eksplorasi kawasan, berjalan-jalan sambil bercerita dengan kelompok masyarakat termasuk kejadian kebakaran hutan dan lahan yang beberapa waktu lalu terjadi dan menghabiskan fasilitas yang ada di Bukit Seribu Bintang. Malam hari terlihat mendingan sehingga bintang terlihat pada dini hari. Esok harinya, rombongan mahasiswa diajak melihat lokasi obyek daya tarik wisata alam 1001 Manguntapa yang merupakan salah satu zona pemanfaatan yang dikelola masyarakat. Kini, keberadaan TNGC begitu nyata, dengan sukarela dan penuh tanggung jawab masyarakat turut menjaga kawasan [teks © Nisa, foto © BTNGC | 112018]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Yuk Kenali Ijin Usaha Pemanfaatan Wisata Alam di Taman Nasional Gunung Ciremai

Kuningan, 15 November 2018. Kalau bicara tentang taman nasional, pasti yang terbayang adalah hal-hal yang tidak boleh dilakukan. Ini dilarang, itupun dilarang. Namun sebenarnya, manfaat hutan taman nasional manfaat bagi makhluk hidup terutama manusia tidak hanya secara ekologi namun juga ekonomi. Salah satunya melalui pemanfaatan kawasan hutan di bidang wisata alam. Setiap pengusahaan wisata alam di kawasan taman nasional dilegalisasikan dengan ijin usaha baik usaha penyediaan jasa wisata alam (IUPJWA) atau usaha penyediaan sarana wisata alam (IUPSWA). Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) sebagai pengelola kawasan hutan Gunung Ciremai mempunyai kewenangan penuh kepada siapa ijin akan diberikan. Ijin dapat diberikan kepada perorangan atau badan usaha (koperasi, BUMD, swasta), tentu akan diutamakan masyarakat sekitar kawasan. Untuk Ijin Usaha Pemanfaatan Jasa Wisata Alam (IUPJWA) dapat diberikan langsung oleh Kepala Balai, namun untuk Ijin Usaha Penyediaan Sarana Wisata Alam (IUPSWA) diusulkan langsung kepada Menteri Kehutanan setelah mendapat pertimbangan teknis (Pertek) atas usulan mohon IUPSWA dari Kepala Balai. Pertimbangaan teknis merupakan kajian dari pengelola kawasan atas setiap permohonan IUPSWA untuk memastikan secara teknis jenis sarana yang akan diusahakan, lokasi yang dimohon, siteplan sarana prasarana yang akan dibangun, dan yang utama adalah penempatan ruang publik dan ruang usaha. IUPSWA merupakan usaha jangka panjang (bisa diberikan selama 55 tahun) maka pertimbangan teknis dari Balai TNGC harus dilakukan dengan cermat dan teliti dengan pertimbangan teknis yang berkaitan dengan zonasi kawasan, ekologi, sosial dan ekonomi masyarakat sekitar kawasan. Bagi yang berminat mengajukan IUPSWA di kawasan TNGC bisa lho apabila persyaratan sudah terpenuhi. Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.48 tahun 2010 yang telah diubah dengan Peraturan Menteri Kehutanan nomor P.4 tahun 2012, IUPSWA dapat diajukan dengan melengkapi persyaratan administrasi dan teknis. Persyaratan teknis yaitu pertimbangan teknis dari kepala Balai TNGC dan SKPD yang membidangi kepariwisataan di provinsi, kabupaten/kota. Permohonan IUPSWA yang sudah dilengkapi dengan persyaratan administrasi maupun teknis diajukan kepada Menteri selanjutnya dinilai untuk mendapatkan Persetujuan Prinsip (PP). Pemohon IUPSWA juga mempunyai kewajiban membuat peta areal rencana kegiatan usaha yang akan dilakukan, membuat rencana pengusahaan pariwisata alam (RPPA) yang disahkan Dirjen KSDAE, melakukan pemberian tanda batas serta menyusun dan menyampaikan dokumen upaya pengelolaan lingkungan dan upaya pemantauan lingkungan. Ketika kewajiban pemohon telah dipenuhi, Dirjen KSDAE menerbitkan Surat Perintah Pembayaran Iuran IUPSWA (SPP-IIUPSWA) yang harus dilunasi oleh pemohon, selanjutnya Menteri menerbitkan IUPSWA dengan jangka waktu 55 tahun. Lumayan lama kan? dan inipun masih dapat diperpanjang dua kali untuk jangka waktu masing masing 20 tahun berdasarkan hasil evaluasi kegiatan tentunya. Permohonaan IUPSWA badan usaha terdiri dari kualifikasi badan usaha dan usulan teknis pengusahaan pariwisata alam di kawasan konservasi TNGC. Salah satu badan usaha yang saat ini sedang melakukan proses permohonan IUPSWA adalah Perusahaan Daerah Aneka Usaha (PDAU) Kuningan. Sejak 2010 sudah mengajukan permohonan bahkan sudah ada ijin prinsip, namun sepertinya masih ada beberapa hal yang perlu dilengkapi. Lokasi yang diajukan sebanyak lima lokasi wisata alam yang ada di kawasan TNGC. Ke lima lokasi tersebut adalah obyek wisata alam Balong Cigugur, Balong Dalem, Cibeureum, Paniis Singkup dan Talaga Remis. Selasa (13/11), Balai TNGC melakukan pembahasan atas permohonan IUPSWA PDAU Kuningan. Pembahasan dilakukan secara “marathon” karena dalam mengkaji permohonan IUPSWA dengan pertimbangan berbagai hal seperti yang sudah disebutkan diatas, terlebih sebagai instansi pemerintah yang wajib memberikan pelayanan prima kepada siapapun. Pemanfaatan kawasan hutan taman nasional bukan barang “haram” untuk dilakukan. Pengelola kawasan harus memberikan wawasan baru untuk generasi muda, pengusaha, atau calon pengusaha yang tertarik dengan dunia pariwisata alam di kawasan taman nasional. Pengusahaan dengan IUPJWA maupun IUPSWA di kawasan taman nasional harus berazaskan lestari yaitu harus seimbang antara kepentingan ekologi kawasan, sosial dan ekonomi [teks © ISO, Asep W & Nisa. foto © Rudi & Asep W-BTNGC | 112018]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Makhluk Tak Kasatmata Penghuni Ciremai

Kuningan, 15 November 2018. Cerita keangkeran Gunung Ciremai sudah tidak asing lagi, khususnya bagi para pendaki gunung yang pernah menggapai puncak tertinggi di Jawa Barat ini. Namun cerita yang akan kita bahas kali ini bukan tentang makhluk gaib dari kerajaan jin atau Nini Lampir, tapi makhluk gaib yang tak kasatmata dari kerajaan "bakteria". Kita akan mencoba memahami sebuah konsep tentang nilai penting "mikroba" atau bakteri. Makhluk yang tidak terlihat dengan kasat mata dan berada tersembunyi di akar "epifit" di antara tajuk dan lantai hutan serta di tanah dan di akar tumbuhan di bawah lantai hutan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Seperti yang sering diungkapkan Padmo Wiyoso, Kepala Balai TNGC 2015-2017, “Potensi keanekaragaman hayati kawasan konservasi itu sangat tinggi baik di tajuk pohon, antara tajuk dan lantai hutan, di lantai hutan dan yang tidak terlihat di bawah lantai hutan. Baik yang besar seperti Gajah atau Paus di lautan dan satwa yang kecil. Semua diciptakan tidak sia-sia dan tidak ada yang salah Yang Maha Berkehendak menciptakan semua makhluk yang ada di bumi”. Sebuah kawasan yang terfragmentasi oleh manusia dan soliter dengan luasan yang kurang dari 15.000 hektar, termasuk kawasan konservasi yang kecil dibandingkan dengan kawasan konservasi lain yang luas mencapai ratusan ribu bahkan jutaan hektar, dan ini akan lebih cepat mengalami bahaya kepunahan. Dengan lingkungan sekitar yang di isi oleh pertanian dengan penggunaan pestisida dan pupuk kimia tentunya dalam jangka waktu tertentu akan mengakibatkan menurunnya kualitas tanah dan lingkungan. Lebih parah lagi dapat menimbulkan pencemaran dan terkontaminasinya serangga "polinator" dan jenis-jenis satwa pemakan serangga. Tahun 2018, Balai TNGC melalui kegiatan eksplorasi bakteri dan mikroba untuk mengatasi kekeringan, "frost" dan bakteri peningkat daya tahan tumbuhan, telah berhasil mendapatkan beberapa jenis bakteri atau mikroba untuk permasalahan pertanian tersebut. Proses eksplorasi dan pengambilan sampel dilakukan pada daerah dataran rendah 200 meter diatas permukaan laut (mdpl) sampai puncak gunung Ciremai 3.078 mdpl. Sampel yang didapat dikirim ke laboratorium Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk dilakukan proses mikrobiologi. Alhamdulillah, mendapatkan hasil yang memuaskan serta menjanjikan untuk pengembangan "bioprospeksi" dari kawasan konservasi. Setelah mendapatkan mikroba tersebut dilakukan ujicoba di beberapa lahan pertanian sekitar TNGC dengan jenis tanaman pertanian yang biasa di budidayakan masyarakat setempat. Daerah penyangga yang sehat akan membantu proses kawasan menjadi sehat. Itulah harapan warga konservasi TNGC. Satwa melata pemakan serangga atau "herpetofauna" yang berasal dari luar kawasan akan terjaga kesehatan tubuhnya. Ketika masuk ke dalam kawasan dan menjadi mangsa penghuni Ciremai tidak akan menimbulkan dampak bagi sang pemangsa. Ketika kita menggunakan rumus rantai makanan, maka "top predator" yang memakan mangsa yang telah terkontaminasi racun pestisida tentunya akan menimbulkan masalah bagi proses kehidupan satwa tersebut. Apabila "top predator" terancam hilang dari TNGC maka sudah dapat diduga over populasi jenis mangsa akan terjadi dan hal itu akan mempengaruhi ekologi dan tentunya waktu kepunahan akan lebih cepat. Selain itu, apabila serangga polinator hilang dari kawasan dan daerah penyangga kawasan, maka tidak akan ada lagi “tukang penyerbuk”. Banyak kembang tak jadi buah, tak ada buah tak ada semai, tak ada semai tak ada pacang, tiang dan pohon, tak ada pohon tak ada hutan, tak ada hutan tak ada penyimpan air, tak ada air uang tak berarti, tak ada arti seperti mati, yang mati tinggal di kuburan. Ternyata salah satu makhluk tak kasatmata penghuni gunung Ciremai itu bernama bakteri atau mikroba. Kerajaan yang tidak terlihat oleh mata, namun dapat melindungi kawasan konservasi yang cukup luas dan soliter. Ada istilah, “Kecil kecil kuda Kuningan, tidaklah terbuat dari Kuningan. Walaupun kecil tetaplah kuda yang punya manfaat bagi kehidupan”. Mari kita gunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan demi kelestarian alam sekitar kita [teks © ISO, image © BTNGC | 112018]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Quick Respon, BBKSDA Riau Selamatkan Beruang Madu

Pekanbaru, 14 November 2018. Quick Respon Balai Besar KSDA Riau menerima laporan bahwa seekor Beruang Madu (Helarctos malayanus) terjerat di Dusun Kenanga, RT 04, Desa Batang Duku, Kec. Bukit Batu, Kab.Bengkalis (12/11). Informasi yang di dapat, Beruang masuk jerat babi yang sengaja dipasang masyarakat Batang Duku di areal kebunnya. Pada umumnya, masyarakat di daerah tersebut suka menjerat babi dan di jual belikan kepada komunitas tertentu disana. Kepala Balai Besar KSDA Riau, Suharyono segera memerintahkan Tim Penyelamatan satwa Balai Besar KSDA Riau bergerak menuju TKP untuk mengamankan satwa tersebut. Tim pun berkoordinasi dengan pemerintah desa agar sebelum Tim evakuasi tiba, Beruang Madu tidak dilukai maupun disakiti. Namun diberikan makan dan minum serta tetap menjaga jarak dari keramaian untuk menghindari satwa sress. Setelah sampai di TKP, Tim melakukan langkah langkah tindakan evakuasi. Drh. Deni dengan sigap melakukan pengecekan kesehatan dibantu anggota Tim yang lain. Drh. Deny Ramdani adalah seorang dokter yang diperbantukan dari Yayasan Arshari. Hasil pemeriksaan menyatakan bahwa Beruang dalam kondisi sehat dan layak untuk langsung dilepasliarkan. Berhubung hari sudah malam, akhirnya Tim memutuskan untuk melakukan pelepasliaran keesokan harinya. Tak lupa Tim menyampaikan sosialisasi kepada masyarakat yang hadir untuk tidak memasang jerat di sekitar kawasan walaupun di areal perkebunan sehingga kejadian serupa tidak terulang kembali. Tim juga meminta kepada pemerintah setempat untuk ikut mensosialisasikan kepada masyarakat lainnya. Akhirnya pada tanggal 13 November 2018 pagi, tanpa ada kendala si Beruang Madu di lepasliarkan ke habitatnya di suatu kawasan konservasi yang jauh dari pemukiman penduduk. Semoga untuk kedepannya kesadaran melestarikan satwa liar makin tumbuh di masyarakat dan pemasangan jerat tidak lagi dilakukan sehingga anak cucu kita masih dapat melihat keanekaragaman satwa di Pulau Sumatera. Pelaksanaan penyelamatan satwa liar ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan Balai Besar KSDA Riau dalam rangka tanggap darurat penanggulangan konflik antara manusia dan satwa liar. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Hadir di Inhouse Training BKP Banjarmasin I, BKSDA Kalsel Beberkan Peredaran TSL di Kalimantan Selatan

Banjarmasin, 14 November 2018 – Balai Karantina Pertanian mengadakan kegiatan Inhouse Training “Tindakan Karantina Hewan Terhadap Satwa Liar” yang bertempat di ruang rapat Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin (BKP Banjarmasin I). Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan, Dr. Mahrus Aryadi, M.Sc berkesempatan menjadi narasumber dengan materi “Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) di Kalimantan Selatan”. Mahrus menerangkan berbagai macam jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi khususnya yang ada di Kalimantan Selatan. Mahrus juga menerangkan ketentuan dan prosedur penerbitan Surat Angkut Tumbuhan dan Satwa Liar - Dalam Negeri (SATS-DN) serta rute rawan akan penyulupan TSL di Kalimantan Selatan. “Inhouse training ini sangat penting dalam rangka membangun kebersamaan dengan Kementerian Pertanian khususnya untuk karantina tumbuhan atau pun satwa. Kita telah menyampaikan Permenlhk Nomor P.92/MENLHK/SETJEN/KUM.1/8/2018 tentang jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi dan juga bagaimana prosedur pemberian ijin untuk souvenir dan jenis niaga. Kita juga menyampaikan kepada komunitas satwa dalam perijinan penangkaran bagi teman-teman komunitas yang ingin menangkarkan satwa atau pun tumbuhan yang dilindungi maupun yang tidak dilindungi dalam rangka untuk membantu peredarannya”, jelas Mahrus. Mahrus menambahkan, “khusus untuk kerja sama dengan Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin, kita akan mempererat silaturahmi agar nanti dalam tugas-tugas di lapangan bisa terjalin dengan baik terutama pada hari-hari libur yang mana saat ini Balai KSDA Kalimantan Selatan keterbatasan tenaga sampai-sampai hari libur tidak ada yang bertugas sehingga nanti ke depan kita akan atur secara baik namun tidak akan merugikan staf kita dalam pemanfaatan waktu liburnya.” Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin, drh. H. Achmad Gozali, MM berharap nantinya ada perijinan satu atap antara Balai KSDA Kalimantan Selatan dengan Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin sehingga pelayanan kepada masyarakat bisa lebih mudah dan perlindungan terhadap satwa atau tumbuhan yang dilindungi maupun tidak dilindungi bisa terkontrol. (jrz) Sumber : Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan
Baca Berita

Menilik Role Model Anggrek Balai TN Berbak dan Sembilang

Jambi, 14 November 2018. Kegiatan konservasi jenis anggrek tidak hanya dilakukan oleh petugas namun dengan melibatkan masyarakat di sekitar kawasan Taman Nasional Berbak. Dengan kegiatan ini diharapkan dapat melestarikan anggrek langka sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat. Selain masyarakat dapat berpartisipasi secara aktif dalam pengelolaan kawasan Taman Nasional Berbak dan Sembilang, juga dapat merasakan manfaat secara langsung. Oleh sebab itu program ini dijadikan sebagai salah satu Role Model Balai Taman Nasional Berbak dan Sembilang yaitu Peningkatan Peran Serta Masyarakat disekitar kawasan Dalam Upaya Konservasi Anggrek Spesies di Taman Nasional Berbak dan Sembilang. Dalam upaya peningkatan SDM masyarakat sekitar kawasan Balai TN. Berbak dan Sembilang melaksanakan kegiatan pelatihan pengenalan anggrek dan cara budidaya anggrek yang dilaksanakan pada minggu pertama bulan November di Desa Simpang dan Desa Petanang, kegiatan ini diikuti oleh anggota kelompok masyarakat anggrek dari Desa Petanang yakni Kelompok Tani Anggrek Al Anwar yang berasal dari Pondok Pesantren Al Anwar Desa Petanang dan Kelompok Kemuning Kelurahan Simpang yang dibentuk oleh Balai TN Berbak dan Sembilang. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan role model peningkatan Peran Serta Masyarakat Dalam Upaya Konservasi Anggrek Spesies di Taman Nasional Berbak dan Sembilang tahun 2018 yang melibatkan masyarakat dalam pelestarian anggrek. Pada kegiatan pelatihan anggota kelompok diberikan materi mengenai pengenalan anggrek dan cara budidaya anggrek, karena nantinya kelompok tersebut yang akan mengelola demplot anggrek yang akan dibangun dari dana bantuan BTNBS yang telah diberikan pada kegiatan sebelumnya. Selain itu juga dijelaskan mengenai pelibatan masyarakat dalam upaya pelestarian anggrek, yang diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kelestarian anggrek pada khususnya dan kelestarian kawasan TNBS pada umumnya. Pemateri pada kegiatan ini yakni Bapak Arief Adiputra (Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai TNBS), Bapak Syamsul Bahri (Kepala SPTN Wilayah I TNBS), dan GMB (Gerakan Muaro Jambi Bersakat). Pelatihan yang dilaksanakan di SPTN Wilayah I TNBS ini berjalan lancar dan peserta begitu antusias dalam setiap materi yang diberikan. Walaupun anggrek merupakan hal yang sudah tidak asing lagi bagi para peserta, ternyata masih banyak hal-hal yang belum diketahui oleh peserta. Selain mendapatkan materi secara teori, peserta juga praktek di demplot anggrek. Disana peserta dapat secara langsung melihat beragam anggrek dari kawasan TNBS. Peserta sangat antusias dengan kunjungan ke demplot anggrek SPTN Wilayah I TNBS, dapat dilihat dari banyaknya pertanyaan-pertanyaan teknis perawatan anggrek yang langsung disampaikan kepada pemateri. Kemudian peserta juga diajak ke trail wisata TNBS untuk secara langsung melihat tempat hidup anggrek di alam. Secara tidak langsung juga peserta dihimbau untuk menjaga kelestarian kawasan taman nasional agar anggrek pun tetap lestari. Taman Nasional Berbak memiliki kekayaan flora yang tinggi diantaranya terdapat 27 jenis Palem, 10 jenis Pandan dengan jumlah yang sangat banyak. Selain itu terdapat pula jenis-jenis pohon, seperti : Ramin (Gonystylus bancanus), Jelutung (Dyera costulata), Durian (Durio carinatus), Pulai (Alstonia pneumatophora). Jenis-jenis vegetasi yang menarik dari hutan tepi sungai adalah jenis Nipah (Nypa fruticans) dan Pandan (Pandanus sp.). Selain itu di kawasan ini terdapat pula berbagai jenis anggrek hutan. Anggrek alam atau anggrek hutan biasanya dikenal sebagai anggrek spesies. Anggrek-anggrek spesies ini biasanya tumbuh secara alami ditempat-tempat yang tidak dipelihara oleh manusia. Anggrek-anggrek spesies ini memegang peranan penting sebagai induk persilangan (Holtum,1972). Tanaman anggrek termasuk kedalam daftar tumbuhan Indonesia yang dilindungi yang tertuang dalam lampiran Peraturan Pemerintah No. 07 Tahun 1999 tentang Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa. Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 4/1993 Indonesia memiliki tiga bunga nasional yaitu bunga melati (Jasminum sambac) sebagai puspa bangsa, bunga padma raksasa (Rafflesia arnoldii) sebagai puspa langka, dan bunga anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis) sebagai puspa pesona. Sumber : Balai TN Berbak dan Sembilang
Baca Berita

BBKSDA Jatim Ikuti Seminar Jenis Ikan Bersifat Invasif

Surabaya, 13 November 2018. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) mengikuti Seminar Hasil Pemantauan Penyakit Ikan Karantina (PIK), pemetaan jenis ikan bersifat invasif (JABI) dan monev Hama Penyakit Ikan Karantina (HPIK) di Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) I Surabaya I (13/11). Seminar dibuka Kepala BKIPM Surabaya I Bapak Muhlin, S.Pi, M.Si dengan peserta perwakilan dari Dinas/Instansi Pusat dan Daerah yang ada di Provinsi Jawa Timur. BBKSDA Jatim bersama dengan stakeholder terkait melakukan pengendalian dan monitoring terkait jenis invasif sebagaimana yang tercantum dalam Permenlhk Nomor 94 tahun 2016 dan Permen KKP Nomor 41 tahun 2014 mengingat fungsi BKIPM lebih mengarah ke pencegahan JABI di bandara dan pelabuhan-pelabuhan. Pemetaan sebaran ikan yang bersifat invasif (JABI) dilakukan sebagai upaya pemerintah dalam mencegah kerusakan keanekaragaman ikan lingkungannya. Hasil pemetaan sebaran ikan invasif di Jawa Timur tahun 2018 dengan mengambil sampling di dua Kabupaten yaitu Malang dan Sidoarjo, yang diketahui sedikitnya terdapat 6 jenis ikan berpotensi invasif di Indonesia dari 15 jenis ikan asing bersifat invasif dan 1 jenis ikan lokal bersifat invasif. Adapun sebagai informasi, saat ini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sedang membahas regulasi hukum terkait jenis invasif sebagai upaya untuk merivisi aturan KKP sebelumnya (Permen KKP No. 41 tahun 2014). Selain itu, dalam rangka pengendalian sebaran jenis ikan bersifat invasif (JABI) perlu kiranya dibentuk Satuan Tugas yang melibatkan instansi terkait mengingat fungsi pengawasan perikanan adalah kewenangan dinas terkait dan Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP). Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 6.609–6.624 dari 11.140 publikasi